Anda di halaman 1dari 20

Asuhan Keperawatan Lansia dengan Stroke

BAB 1
PENDAHULUAN
Lansia adalah periode dimana organisme telah mencapai kemasakan dalam ukuran
dan fungsi dan juga telah menunjukkan kemunduran sejalan dengan waktu. Ada beberapa
pendapat mengenai usia kemunduran yaitu ada yang menetapkan 60 tahun, 65 tahun
dan 70 tahun. Badan kesehatan dunia (WHO) menetapkan 65 tahun sebagai usia yang
menunjukkan proses menua yang berlangsung secara nyata dan seseorang telah disebut
lanjut usia. Dari 19 juta jiwa penduduk Indonesia 8,5% mengalami stroke yaitu lansia.
Stroke adalah suatu penyakit gangguan fungsi anatomi otak yang terjadi secara tiba-
tiba dan cepat, disebabkan karena gangguan perdarahan otak. Insiden stroke meningkat
secara eksponensial dengan bertambahnya usia dan 1,25 kali lebih besar pada pria
dibanding wanita.
Kecenderungan pola penyakit neurologi terutama gangguan susunan saraf pusat
tampaknya mengalami peningkatan penyakit akibat gangguan pembuluh darah otak,
akibat kecelakaan serta karena proses degenerative system saraf tampaknya sedang
merambah naik di Indonesia. Walaupun belum didapat data secara konkrit mengenai hal
ini.
Faktor penyebab munculnya masalah ini adalah adanya perkembangan ekonomi dan
perubahan gaya hidup terutama msayarakat perkotaan. Kemampuan masyarakat untuk
memenuhi kebutuhan hidup terlihat semakin mudah sehingga meningkatkan hasrat
mereka untuk terus berjuang mencapai tujuan dengan penuh persaingan dalam perjuangan
tersebut, benturan-benturan fisik maupun psikologis tidak pernah dipikirkan efek bagi
kesehatan jangka panjang. Usia harapan hidup di Indonesia kian meningkat sehingga
semakin banyak terdapat lansia. Dengan bertambahnya usia maka permasalahan
kesehatan yang terjadi akan semakin kompleks. Salah satu penyakit yang sering dialami
oleh lansia adalah stroke. Usia merupakan factor resiko yang paling penting bagi semua
jenis stroke.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Lansia
1. Definisi
Lansia adalah periode dimana organisme telah mencapai kemasakan dalam
ukuran dan fungsi dan juga telah menunjukkan kemunduran. Menurut Badan
kesehatan dunia (WHO) menetapkan 65 tahun sebagai usia yang menunjukkan
proses menua yang berlangsung secara nyata dan seseorang telah disebut lanjut
usia.
Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Menurut
James C. Chalhoun (2003) masa tua adalah suatu masa dimana orang dapat
merasa puas dengan keberhasilannya.
Sedangkan menurut Prayitno (2004) mengatakan bahwa setiap orang yang
berhubungan dengan lanjut usia adalah orang yang berusia 56 tahun ke atas, tidak
mempunyai penghasilan dan tidak berdaya mencari nafkah untuk keperluan pokok
bagi kehidupannya sehari-hari.
Menurut Saparinah (2003) lansia dimana berusia 55 sampai 65 tahun
merupakan kelompok umur yang mencapai tahap penisium, pada tahap ini akan
mengalami berbagai penurunan daya tahan tubuh atau kesehatan dan berbagai
tekanan psikologis. Dengan demikian akan timbul perubahan-perubahan dalam
hidupnya.
Dari berbagai penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa lanjut usia
merupakan periode di mana seorang individu telah mencapai kemasakan dalam
proses kehidupan, serta telah menunjukan kemunduran fungsi organ tubuh sejalan
dengan waktu, tahapan ini dapat mulai dari usia 55 tahun sampai meninggal.
2. Ciri-ciri Lansia
Menurut Hurlock (Hurlock, 2004) terdapat beberapa ciri-ciri orang lanjut usia,
yaitu :
a. Usia lanjut merupakan periode kemunduran
Kemunduran pada lansia sebagian datang dari faktor fisik dan faktor
psikologis. Kemunduran dapat berdampak pada psikologis lansia. Motivasi
memiliki peran yang penting dalam kemunduran pada lansia. Kemunduran
pada lansia semakin cepat apabila memiliki motivasi yang rendah, sebaliknya
jika memiliki motivasi yang kuat maka kemunduran itu akan lama terjadi.
b. Lanjut usia memiliki status kelompok minoritas
Lansia memiliki status kelompok minoritas karena sebagai akibat dari sikap
sosial yang tidak menyenangkan terhadap orang lanjut usia dan diperkuat oleh
pendapat-pendapat klise yang jelek terhadap lansia. Pendapat-pendapat klise
itu seperti : lansia lebih senang mempertahankan pendapatnya daripada
mendengarkan pendapat orang lain.
c. Perubahan peran
Perubahan peran tersebut dilakukan karena lansia mulai mengalami
kemunduran dalam segala hal. Perubahan peran pada lansia sebaiknya
dilakukan atas dasar keinginan sendiri bukan atas dasar tekanan dari
lingkungan.
d. Penyesuaian yang buruk pada lansia
Perlakuan yang buruk terhadap orang lanjut usia membuat lansia cenderung
mengembangkan konsep diri yang buruk. Lansia lebih memperlihatkan bentuk
perilaku yang buruk. Karena perlakuan yang buruk itu membuat penyesuaian
diri lansia menjadi buruk.
3. Cara Menjaga Hidup Sehat Pada Lansia
Cara hidup sehat adalah cara-cara yang dilakukan untuk dapat menjaga,
mempertahankan dan meningkatkan kesehatan seseorang. Adapun cara-cara
tersebut adalah:
a. Makan makanan yang bergizi dan seimbang
Banyak bukti yang menunjukkan bahwa diet adalah salah satu faktor yang
mempengaruhi kesehatan seseorang. Dengan tambahnya usia seseorang,
kecepatan metabolisme tubuh cenderung turun, oleh karena itu, kebutuhan gizi
bagi para lanjut usia, perlu dipenuhi secara adekuat. Kebutuhan kalori pada
lanjut usia berkurang, hal ini disebabkan karena berkurangnya kalori dasar
dari kegiatan fisik. Kalori dasar adalah kalori yang dibutuhkan untuk
melakukan kegiatan tubuh dalam keadaan istirahat, misalnya : untuk jantung,
usus, pernafasan, ginjal, dan sebagainya. Jadi kebutuhan kalori bagi lansia
harus disesuaikan dengan kebutuhannya.
b. Minum air putih 1.5 2 liter
Air sangat besar artinya bagi tubuh kita, karena air membantu
menjalankan fungsi tubuh, mencegah timbulnya berbagai penyakit di saluran
kemih seperti kencing batu, batu ginjal dan lain-lain. Air juga sebagai pelumas
bagi fungsi tulang dan engselnya, jadi bila tubuh kekurangan cairan, maka
fungsi, daya tahan dan kelenturan tulang juga berkurang, terutama tulang kaki,
tangan dan lengan. Padahal tulang adalah penopang utama bagi tubuh untuk
melakukan aktivitas. Manfaat lain dari minum air putih adalah mencegah
sembelit. Untuk mengolah makanan di dalam tubuh usus sangat membutuhkan
air. Tentu saja tanpa air yang cukup kerja usus tidak dapat maksimal, dan
muncullah sembelit..
c. Olah raga teratur dan sesuai
Usia bertambah, tingkat kesegaran jasmani akan turun. Penurunan
kemampuan akan semakin terlihat setelah umur 40 tahun, sehingga saat lansia
kemampuan akan turun antara 30 50%. Oleh karena itu, bila usia lanjut ingin
berolahraga harus memilih sesuai dengan umur kelompoknya, dengan
kemungkinan adanya penyakit. Olah raga usia lanjut perlu diberikan dengan
berbagai patokan, antara lain beban ringan atau sedang, waktu relatif lama,
bersifat aerobik dan atau kalistenik, tidak kompetitif atau bertanding.
Olahraga yang sesuai dengan batasan diatas yaitu, jalan kaki, dengan
segala bentuk permainan yang ada unsur jalan kaki misalnya golf, lintas alam,
mendaki bukit, senam dengan faktor kesulitan kecil dan olah raga yang
bersifat rekreatif dapat diberikan. Dengan latihan otot manusia lanjut dapat
menghambat laju perubahan degeneratif.
d. Istirahat, tidur yang cukup
Sepertiga dari waktu dalam kehidupan manusia adalah untuk tidur.
Diyakini bahwa tidur sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan dan proses
penyembuhan penyakit, karna tidur bermanfaat untuk menyimpan energi,
meningkatkan imunitas tubuh dan mempercepat proses penyembuhan penyakit
juga pada saat tidur tubuh mereparasi bagian-bagian tubuh yang sudah aus.
Umumnya orang akan merasa segar dan sehat sesudah istirahat. Jadi istirahat
dan tidur yang cukup sangat penting untuk kesehatan.
e. Menjaga kebersihan
Yang dimaksud dengan menjaga kebersihan disini bukan hanya
kebersihan tubuh saja, melainkan juga kebersihan lingkungan, ruangan dan
juga pakaian dimana orang tersebut tinggal. Yang termasuk kebersihan tubuh
adalah: mandi minimal 2 kali sehari, mencuci tangan sebelum makan atau
sesudah mengerjakan sesuatu dengan tangan, membersihkan atau keramas
minimal 1 kali seminggu, sikat gigi setiap kali selesai makan, membersihkan
kuku dan lubang-lubang ( telinga, hidung, pusar, anus, vagina, penis ),
memakai alas kaki jika keluar rumah dan pakailah pakaian yang bersih.
Kebersihan lingkungan, dihalaman rumah, jauh dari sampah dan genangan air.
f. Minum suplemen gizi yang diperlukan
Pada lansia akan terjadi berbagai macam kemunduran organ tubuh,
sehingga metabolisme di dalam tubuh menurun. Hal tersebut menyebabkan
pemenuhan kebutuhan sebagian zat gizi pada sebagian besar lansia tidak
terpenuhi secara adekuat. Oleh karena itu jika diperlukan, lansia dianjurkan
untuk mengkonsumsi suplemen gizi. Tapi perlu diingat dan diperhatikan
pemberian suplemen gizi tersebut harus dikonsultasikan dan mendapat izin
dari petugas kesehatan.
g. Memeriksa kesehatan secara teratur
Pemeriksaan kesehatan berkala dan konsultasi kesehatan merupakan
kunci keberhasilan dari upaya pemeliharaan kesehatan lansia. Walaupun tidak
sedang sakit lansia perlu memeriksakan kesehatannya secara berkala, karena
dengan pemeriksaan berkala penyakit-penyakit dapat diketahui lebih dini
sehingga pengobatanya lebih mudan dan cepat dan jika ada faktor yang
beresiko menyebabkan penyakit dapat di cegah. Ikutilan petunjuk dan saran
dokter ataupun petugas kesehatan, mudah-mudahan dapat mencapai umur
yang panjang dan tetap sehat.
h. Mental dan batin tenang dan seimbang
Untuk mencapai hidup sehat bukan hanya kesehatan fisik saja yang
harus diperhatikan, tetapi juga mental dan bathin.
i. Rekreasi
Untuk menghilangkan kelelahan setelah beraktivitas selama seminggu
maka dilakukan rekreasi. Rekreasi tidak harus mahal, dapat disesuaikan denga
kondisi dan kemampuan. Rekreasi dapat dilakukan di pantai dekat rumah,
taman dekat rumah atau halaman rumah jika mempunyai halaman yang luas
bersama keluarga dan anak cucu, duduk bersantai di alam terbuka. Rekreasi
dapat menyegarkan otak, pikiran dan melemaskan otot yang telah lelah karena
aktivitas sehari-hari.
j. Hubungan antar sesama yang sehat
Pertahankan hubungan yang baik dengan keluarga dan teman-teman,
karena hidup sehat bukan hanya sehat jasmani dan rohani tetapi juga harus
sehat sosial. Dengan adanya hubungan yang baik dengan keluarga dan teman-
teman dapat membuat hidup lebih berarti yang selanjutnya akan mendorong
seseorang untuk menjaga, mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya
karena ingin lebih lama menikmati kebersamaan dengan orang-orang yang
dicintai dan disayangi.
k. Back to nature (kembali ke alam)
Seperti yang telah terjadi, gaya hidup pada zaman modern ini telah
mendorong orang mengubah gaya hidupnya seperti makan makanan siap saji,
makanan kalengan, sambal botolan, minuman kaleng, buah dan sayur awetan,
jarang bergerak karena segala sesuatu atau pekerjaan dapat lebih mudah
dikerjakan dengan adanya tekhnologi yang modern seperti mencuci dengan
mesin cuci, menyapu lantai dengan mesin penyedot debu, bepergian dengan
kendaran walaupun jaraknya dekat dan bisa dilakukan dengan jalan kaki. Gaya
hidup seperti itu tidak baik untuk tubuh dan kesehatan karena tubuh kita
menjadi manja, karena kurang bergerak, tubuh jadi rusak karena makanan
yang tidak sehat sehingga tubuh menjadi lembek dan rentan penyakit.

B. Stroke
1. Definisi
Stroke adalah suatu penyakit gangguan fungsi anatomi otak yang terjadi secara
tiba-tiba dan cepat, disebabkan karena gangguan perdarahan otak.
Stroke atau Cerebro Vasculer Accident (CVA) adalah kehilangan fungsi otak
yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak ( Brunner dan
Suddarth, 2002 ).
Stroke adalah cedera otak yang berkaitan dengan obstruksi aliran darah otak (
Elizabeth J. Corwin, 2002 ).
Stroke adalah sindrom yang awal timbulnya mendadak, progresif cepat,
berupa deficit neurologis fokal atau global yang langsung 24 jam atau lebih atau
langsung menimbulkan kematian, dan semata-mata disebabkan oleh gangguan
peredaran otak non traumatic (Mansjoer 2002)
Stroke adalah gangguan neurologik fokal yang dapat timbul sekunder dari
proses patologis pada pembuluh darah serebral, misal: Trombosis, embolis,
ruptura dinding pembuluh atau penyakit vaskuler dasar (Prince, 2002).
Menurut Lumbantobing (2002) kelainan yang terjadi akibat gangguan peredaran
darah. Stroke dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu :
a. Infark Ischemik (Stroke non Hemoragi). Hal ini terjadi karena adanya
penyumbatan pembuluh darah otak. Infark iskemic terbagi menjadi dua yaitu :
stroke trombotik, yang disebabkan oleh thrombus dan stroke embolik, yang
disebabkan oleh embolus.
Harsono (2002) membagi stroke non haemoragi berdasarkan bentuk klinisnya
antara lain :
1) Serangan Iskemia sepintas atau transient ischemic Attack (TIA). Pada
bentuk ini gejala neurologik yang timbul akibat gangguan peredaran darah
di otak akan menghilang dalam waktu 24 jam.
2) Defisit Neurologik Iskemia Sepintas/ Reversible Ischemic Neurologik
Defisit (RIND). Gejala neurologik timbul 24 jam, tidak lebih dari
seminggu.
3) Stroke Progresif (Progresive Stroke/ Stroke in evolution).
Gejala makin berkembang ke otak lebih berat.
4) Completed Stroke
Kelainan saraf yang sifatnya sudah menetap, tidak berkembang lagi.
b. Perdarahan (Stroke Hemoragi)
Terjadi pecahnya pembuluh darah otak.
2. Etiologi
Stroke non haemoragi merupakan penyakit yang mendominasi kelompok usia
menengah dan dewasa tua karena adanya penyempitan atau sumbatan vaskuler
otak yang berkaitan erat dengan kejadian.
a. Trombosis Serebri
Merupakan penyebab stroke yang paling sering ditemui yaitu pada 40% dari
semua kasus stroke yang telah dibuktikan oleh ahli patologis. Biasanya
berkaitan erat dengan kerusakan fokal dinding pembuluh darah akibat
anterosklerosis.
b. Embolisme
Kebanyakan emboli serebri berasal dari suatu flowess dalam jantung sehingga
masalah yang dihadapi sesungguhnya merupakan perwujudan dari penyakit
jantung.
Sedangkan menurut prince (2002) mengatakan bahwa stroke haemoragi
disebabkan oleh perdarahan serebri. Perdarahan intracranial biasanya
disebabkan oleh ruptura arteria serebri. Ekstravasali darah terjadi dari daerah
otak dan atau subaracnoid, sehingga jaringan yang terletak di dekatnya akan
tergeser. Perdarahan ini dibedakan berdasarkan tempat terjadinya perdarahan.

3. Faktor Risiko
Harsono (2002) membagi faktor risiko yang dapat ditemui pada klien dengan
Stroke yaitu:
a. Faktor risiko utama
1) Hipertensi
Hipertensi dapat mengakibatkan pecahnya maupun menyempitnya
pembuluh darah otak. Apabila pembuluh darah otak menyempit maka
aliran darah ke otak akan terganggu dan sel-sel otak akan mengalami
kematian.
2) Diabetes Mellitus
Debetes mellitus mampu, menebalkan dinding pembuluh darah otak yang
berukuran besar. Menebalnya pembuluh darah otak akan menyempitkan
diameter pembuluh darah yang akan menggangu kelancaran aliran darah
ke otak, pada akhirnya akan menyebabkan kematian sel- sel otak.
3) Penyakit Jantung
Beberapa Penyakit Jantung berpotensi menimbulkan strok. Dikemudian
hari seperti Penyakit jantung reumatik, Penyakit jantung koroner dengan
infark obat jantung dan gangguan irana denyut janung. Factor resiko ini
pada umumnya akan menimbulkan hambatan atau sumbatan aliran darah
ke otak karena jantung melepaskan sel- sel / jaringan- jaringan yang telah
mati ke aliran darah.
b. Faktor Resiko Tambahan
1) Kadar lemak darah yang tinggi termasuk Kolesterol dan Trigliserida.
Meningginya kadar kolesterol merupakan factor penting untuk terjadinya
asterosklerosis atau menebalnya dinding pembuluh darah yang diikuti
penurunan elastisitas pembuluh darah.
2) Kegemukan atau obesitas
3) Merokok
Merokok dapat meningkatkan konsentrasi fibrinogen yang akan
mempermudah terjadinya penebalan dinding pembuluh darah dan
peningkatan kekentalan darah.
4) Riwayat keluarga dengan stroke
5) Lanjut usia
Penyakit darah tertentu seperti polisitemia dan leukemia. Polisitemia dapat
menghambat kelancaran aliran darah ke otak. Sementara leukemia/ kanker
darah dapat menyebabkan terjadinya pendarahan otak.
6) Kadar asam urat darah tinggi
7) Penyakit paru- paru menahun.

4. Maifestasi Klinis
Stroke ini menyebabkan berbagai defisit neurologik, bergantung pada lokasi
lesi (pembuluh darah mana yang tersumbat), ukuran area yang perfusinya tidak
adekuat, dan jumlah aliran darah kolateral (sekunder atau aksesori).
a. Kehilangan motorik : hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi) karena lesi
pada sesi otak yang berlawanan, hemiparesis atau kelemahan salah satu sisi
tubuh.
b. Kehilangan komunikasi : disartria (kesulitan bicara), disfasia atau afasia
(bicara defektif atau kehilangan bicara), apraksia (ketidakmampuan untuk
melakukan tindakan yang dipelajari sebelumnya)
c. Gangguan persepsi: disfungsi persepsi visual, gangguan hubungan visual-
spasial, kehilangan sensori
d. Kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologis
e. Disfungsi kandung kemih

Gejala - gejala CVA muncul akibat daerah tertentu tidak berfungsi yang
disebabkan oleh terganggunya aliran darah ke tempat tersebut. Gejala itu muncul
bervariasi, bergantung bagian otak yang terganggu. Gejala-gejala itu antara lain
bersifat:
a. Sementara
Timbul hanya sebentar selama beberapa menit sampai beberapa jam dan
hilang sendiri dengan atau tanpa pengobatan. Hal ini disebut Transient
ischemic attack (TIA). Serangan bisa muncul lagi dalam wujud sama,
memperberat atau malah menetap.
b. Sementara, namun lebih dari 24 jam
Gejala timbul lebih dari 24 jam dan ini dissebut reversible ischemic neurologic
defisit (RIND)
c. Gejala makin lama makin berat (progresif)
Hal ini desebabkan gangguan aliran darah makin lama makin berat yang
disebut progressing stroke atau stroke inevolution
d. Sudah menetap/permanent
(Harsono, 2003).

5. Patofisiologi
a. Stroke Hemoragic
Perdarahan serebri termasuk urutan ketiga dari semua penyebab utama
kasus gangguan pembuluh darah otak. Perdarahan serebral dapat terjadi di luar
duramater (hemoragi ekstradural atau epidural), dibawah duramater,
(hemoragi subdural), diruang subarachnoid (hemoragi subarachnoid) atau di
dalam substansi otak (hemoragi intraserebral).
1) Hemoragi ekstradural (epidural) adalah kedaruratan bedah neuro yang
memerlukan perawatan segera. Ini biasanya mengikuti fraktur tengkorak
dengan robekan arteri dengan arteri meningea lain.
2) Hemoragi subdural (termasuk hemoragi subdural akut) pada dasarnya
sama dengan hemoragi epidural, kecuali bahwa hematoma subdural
biasanya jembatan vena robek. Karenanya, periode pembentukan
hematoma lebih lama ( intervensi jelas lebih lama) dan menyebabkan
tekanan pada otak. Beberapa pasien mungkin mengalami hemoragi
subdural kronik tanpa menunjukkan tanda dan gejala.
3) Hemoragi subarachnoid dapat terjadi sebagai akibat trauma atau
hipertensi, tetapi penyebab paling sering adalah kebocoran aneurisma pada
area sirkulus wilisi dan malformasi arteri-vena kongenital pada otak. Arteri
di dalam otak dapat menjadi tempat aneurisma.
4) Hemoragi intraserebral paling umum pada pasien dengan hipertensi dan
aterosklerosis serebral, karena perubahan degeneratif karena penyakit ini
biasanya menyebabkan ruptur pembuluh darah. pada orang yang lebih
muda dari 40 tahun, hemoragi intraserebral biasanya disebabkan oleh
malformasi arteri-vena, hemangioblastoma dan trauma, juga disebabkan
oleh tipe patologi arteri tertentu, adanya tumor otak dan penggunaan
medikasi (antikoagulan oral, amfetamin dan berbagai obat aditif).
Perdarahan biasanya arterial dan terjadi terutama sekitar basal
ganglia. Biasanya awitan tiba-tiba dengan sakit kepala berat. Bila
hemoragi membesar, makin jelas defisit neurologik yang terjadi dalam
bentuk penurunan kesadaran dan abnormalitas pada tanda vital. Pasien
dengan perdarahan luas dan hemoragi mengalami penurunan kesadaran
dan abnormalitas pada tanda vital.
b. Stroke Non Hemoragic
Terbagi atas 2 yaitu :
1) Pada stroke trombotik, oklusi disebabkan karena adanya penyumbatan
lumen pembuluh darah otak karena thrombus yang makin lama makin
menebal, sehingga aliran darah menjadi tidak lancer. Penurunan aliran
arah ini menyebabakan iskemi yang akan berlanjut menjadi infark. Dalam
waktu 72 jam daerah tersebut akan mengalami edema dan lama kelamaan
akan terjadi nekrosis. Lokasi yang tersering pada stroke trombosis adalah
di percabangan arteri carotis besar dan arteri vertebra yang berhubungan
dengan arteri basiler. Onset stroke trombotik biasanya berjalan lambat.
2) Sedangkan stroke emboli terjadi karena adanya emboli yang lepas dari
bagian tubuh lain sampai ke arteri carotis, emboli tersebut terjebak di
pembuluh darah otak yang lebih kecil dan biasanya pada daerah
percabangan lumen yang menyempit, yaitu arteri carotis di bagian tengah
atau Middle Carotid Artery ( MCA ). Dengan adanya sumbatan oleh
emboli akan menyebabkan iskemik.



6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa stroke
antara lain adalah:
a. Angiografi
Arteriografi dilakukan untuk memperlihatkan penyebab dan letak gangguan.
Suatu kateter dimasukkan dengan tuntunan fluoroskopi dari arteria femoralis
di daerah inguinal menuju arterial, yang sesuai kemudian zat warna
disuntikkan.
b. CT-Scan
CT-scan dapat menunjukkan adanya hematoma, infark dan perdarahan.
c. EEG (Elektro Encephalogram)
Dapat menunjukkan lokasi perdarahan, gelombang delta lebih lambat di
daerah yang mengalami gangguan.
d. Pungsi Lumbal
Menunjukan adanya tekanan normal, Tekanan meningkat dan cairan yang
mengandung darah menunjukan adanya perdarahan
e. MRI : Menunjukan daerah yang mengalami infark, hemoragik.
f. Ultrasonografi Dopler : Mengidentifikasi penyakit arteriovena
g. Sinar X Tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal
(Harsono, 2003).

7. Komplikasi
Komplikasi utama pada stroke menurut Smeltzer C. Suzanne, 2002 yaitu :
a. Hipoksia Serebral
b. Penurunan darah serebral
c. Luasnya area cedera







BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Asuhan Keperawatan Stroke
1. Pengkajian
a) Aktivitas dan istirahat
Data Subyektif :
1) Kesulitan dalam beraktivitas : kelemahan, kehilangan sensasi atau
paralysis.
2) Mudah lelah, kesulitan istirahat ( nyeri atau kejang otot )
Data obyektif :
1) Perubahan tingkat kesadaran
2) Perubahan tonus otot ( flaksid atau spastic), paraliysis ( hemiplegia ) ,
kelemahan umum.
3) Gangguan penglihatan
b) Sirkulasi
Data Subyektif :
Riwayat penyakit jantung ( penyakit katup jantung, disritmia, gagal jantung ,
endokarditis bacterial ), polisitemia.
Data obyektif :
1) Hipertensi arterial
2) Disritmia, perubahan EKG
3) Pulsasi : kemungkinan bervariasi
4) Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal
c) Integritas ego
Data Subyektif :
Perasaan tidak berdaya, hilang harapan
Data obyektif:
1) Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat, kesediahan , kegembiraan
2) kesulitan berekspresi diri
d) Eliminasi
Data Subyektif:
1) Inkontinensia, anuria
2) distensi abdomen ( kandung kemih sangat penuh ), tidak adanya suara
usus( ileus paralitik )
e) Makan/ minum
Data Subyektif:
1) Nafsu makan hilang
2) Nausea / vomitus menandakan adanya PTIK
3) Kehilangan sensasi lidah , pipi , tenggorokan, disfagia
4) Riwayat DM, Peningkatan lemak dalam darah
Data obyektif:
1) Problem dalam mengunyah ( menurunnya reflek palatum dan faring )
2) Obesitas ( factor resiko )
f) Sensori neural
Data Subyektif:
1) Pusing / syncope ( sebelum CVA / sementara selama TIA )
2) nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau perdarahan sub
arachnoid.
3) Kelemahan, kesemutan/kebas, sisi yang terkena terlihat seperti
lumpuh/mati
4) Penglihatan berkurang
5) Sentuhan : kehilangan sensor pada sisi kolateral pada ekstremitas dan
pada muka ipsilateral ( sisi yang sama )
6) Gangguan rasa pengecapan dan penciuman
Data obyektif:
1) Status mental ; koma biasanya menandai stadium perdarahan , gangguan
tingkah laku (seperti: letergi, apatis, menyerang) dan gangguan fungsi
kognitif
2) Ekstremitas : kelemahan / paraliysis ( kontralateral pada semua jenis
stroke, genggaman tangan tidak imbang, berkurangnya reflek tendon
dalam ( kontralateral )
3) Wajah: paralisis / parese ( ipsilateral )
4) Afasia ( kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa, kemungkinan ekspresif/
kesulitan berkata kata, reseptif / kesulitan berkata kata komprehensif,
global / kombinasi dari keduanya.
5) Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat, pendengaran, stimuli
taktil
6) Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik
7) Reaksi dan ukuran pupil : tidak sama dilatasi dan tak bereaksi pada sisi
ipsi lateral
g) Nyeri / kenyamanan
Data Subyektif :
Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya
Data obyektif:
Tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan otot / fasial
h) Respirasi
Data Subyektif:
1) Perokok ( factor resiko )
Tanda :
a)) Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas
b)) Timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur
c)) Suara nafas terdengar ronchi /aspirasi

i) Keamanan
Data obyektif:
1) Motorik/sensorik : masalah dengan penglihatan
2) Perubahan persepsi terhadap tubuh, kesulitan untuk melihat objek, hilang
kewasadaan terhadap bagian tubuh yang sakit
3) Tidak mampu mengenali objek, warna, kata, dan wajah yang pernah
dikenali
4) Gangguan berespon terhadap panas, dan dingin/gangguan regulasi suhu
tubuh
5) Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap keamanan,
berkurang kesadaran diri
j) Interaksi social
Data obyektif :
Problem berbicara, ketidakmampuan berkomunikasi
k) Pengajaran / pembelajaran
Data Subjektif :
l) Riwayat hipertensi keluarga, stroke
2) penggunaan kontrasepsi oral
m) Pertimbangan rencana pulang
1) Menentukan regimen medikasi / penanganan terapi
2) Bantuan untuk transportasi, shoping , menyiapkan makanan , perawatan diri
dan pekerjaan rumah
(Doenges E, Marilynn, 2000)

2. Diagnosa Keperawatan
a. Perubahan perfusi jaringan serebral b.d terputusnya aliran darah : penyakit
oklusi, perdarahan, spasme pembuluh darah serebral, edema serebral.
b. Hambatan mobilitas fisik b.d kelemahan neuromuskular, ketidakmampuan
dalam persespi kognitif, kelemahan umum.
c. Gangguan komunikasi verbal b.d gangguan sirkulasi serebral, gangguan
neuromuskuler, kehilangan tonus otot fasial / mulut, kelemahan umum / letih.
d. Perubahan persepsi sensori b.d penerimaan perubahan sensori transmisi,
perpaduan ( trauma / penurunan neurologi), tekanan psikologis ( penyempitan
lapangan persepsi disebabkan oleh kecemasan)
e. Kurang perawatan diri b.d kerusakan neuromuskuler, penurunan kekuatan dan
ketahanan, kehilangan kontrol /koordinasi otot

3. Intervensi Keperawatan
a. Perubahan perfusi jaringan serebral b.d terputusnya aliran darah : penyakit
oklusi, perdarahan, spasme pembuluh darah serebral, edema serebral.
1) Tujuan dan kriteria evaluasi :
a) Terpelihara dan meningkatnya tingkat kesadaran, kognisi dan fungsi
sensori / motorik
b) Menampakan stabilisasi tanda vital dan tidak ada PTIK
c) Peran pasien menampakan tidak adanya kemunduran / kekambuhan
2) Intervensi :
a) Monitor dan catat status neurologis secara teratur
R/ melihat penurunan dan peningkatkan saraf
b) Monitor tanda-tanda vital
R/ menentukan keadaan klien
c) Evaluasi pupil 9 ukuran bentuk kesamaan dan reaksi terhadap cahaya
R/ melihat reaksi dan fungsi
d) Bantu untuk mengubah pandangan , misalnya pandangan kabur,
perubahan lapang pandang / persepsi lapang pandang
R/ mengurangi penurunan penglihatan
e) Bantu meningkatakan fungsi, termasuk bicara jika pasien mengalami
gangguan fungsi
R/ mengurangi penurunan fungsi
f) Kepala dielevasikan perlahan lahan pada posisi netral.
R/ agar tidak kaku
g) Pertahankan tirah baring , sediakan lingkungan yang tenang , atur
kunjungan sesuai indikasi
R/ Untuk kenyamanan
h) Kolaborasi :
i. Berikan suplemen oksigen sesuai indikasi
ii. Berikan medikasi sesuai indikasi
iii. Antifibrolitik, misal aminocaproic acid ( amicar )
iv. Antihipertensi
v. Vasodilator perifer, missal cyclandelate, isoxsuprine.
vi. Manitol

b. Hambatan mobilitas fisik b.d kelemahan neuromuskular, ketidakmampuan
dalam persespi kognitif, kelemahan umum.
1) Tujuan dan kriteria evaluasi ; Tidak ada kontraktur, foot drop.
a) Adanya peningkatan kemampuan fungsi perasaan atau kompensasi dari
bagian tubuh
b) Menampakan kemampuan perilaku / teknik aktivitas sebagaimana
permulaannya
c) Terpeliharanya integritas kulit
2) Intervensi :
a) Ubah posisi tiap dua jam ( prone, supine, miring )
R/ mencegah terjadinya dekubitus
b) Mulai latihan aktif / pasif rentang gerak sendi pada semua ekstremitas
R/ agar tidak terjadinya kekakuan
c) Topang ekstremitas pada posis fungsional , gunakan foot board pada
saat selama periode paralysis flaksid. Pertahankan kepala dalam
keadaan netral
R/ kenyamanan klien
d) Evaluasi penggunaan alat bantu pengatur posisi
R/ untuk kenyamanan
e) Bantu meningkatkan keseimbangan duduk
R/ untuk kenyamanan
f) Kolaborasi
i. Konsul ke bagian fisioterapi
ii. Bantu dalam meberikan stimulasi elektrik
iii. Gunakan bed air atau bed khusus sesuai indikasi

c. Gangguan komunikasi verbal b.d gangguan sirkulasi serebral, gangguan
neuromuskuler, kehilangan tonus otot fasial / mulut, kelemahan umum / letih.
1) Tujuan dan kriteria hasil
a) Pasien mampu memahami problem komunikasi
b) Menentukan metode komunikasi untuk berekspresi
c) Menggunakan sumber bantuan dengan tepat
2) Intervensi :
a) Bantu menentukan derajat disfungsi
R/ agar tidak terjadinya disfungsi
b) Sediakan bel khusus jika diperlukan
R/ mencegah kegawatdaruratan
c) Sediakan metode komunikasi alternative
R/ kenyamanan
d) Antisipasi dan sediakan kebutuhan pasien
R/ untuk kenyamanan
e) Bicara langsung kepada pasien dengan perlahan dan jelas
R/ terciptanya saling kepercayaan
f) Bicara dengan nada normal
R/ mencegah terjadinya prasanka buruk dan mengurangi keadaan
g) Kolaborasi : Konsul dengan ahli terapi wicara

d. Perubahan persepsi sensori b.d penerimaan perubahan sensori transmisi,
perpaduan ( trauma / penurunan neurologi), tekanan psikologis ( penyempitan
lapangan persepsi disebabkan oleh kecemasan)
1) Tujuan dan kriteria hasil
a) Dapat mempertahakan level kesadaran dan fungsi persepsi pada level
biasanya.
b) Perubahan pengetahuan dan mampu terlibat
c) Mendemonstrasikan perilaku untuk kompensasi
2) Intervensi :
a) Kaji patologi kondisi individual
R/ mencegah penurunan kesadaran
b) Evaluasi penurunan visual
R/ mencegah penurunan kesadaran
c) Lakukan pendekatan dari sisi yang utuh
R/ agar pasien tidak tersinggung
d) Sederhanakan lingkungan
R/ untuk kenyamanan dan memepercepat kesembuhan
e) Bantu pemahaman sensori
R/ mengurangi ketidak reaksi saraf
f) Beri stimulasi terhadap sisa-sisa rasa sentuhan
R/ mengurangi kematian sel-sel saraf
g) Lindungi psien dari temperatur yang ekstrim
R/ menjaga kenyamanan
h) Pertahankan kontak mata saat berhubungan
R/ meningkatkan kepercayaan
i) Validasi persepsi pasien
R/ menentukan keluhan

e. Kurang perawatan diri b.d kerusakan neuromuskuler, penurunan kekuatan dan
ketahanan, kehilangan kontrol /koordinasi otot
1) Tujuan dan kriteria hasil
a) Melakukan aktivitas perwatan diri dalam tingkat kemampuan sendiri
b) Mengidentifikasi sumber pribadi /komunitas dalam memberikan
bantuan sesuai kebutuhan
c) Mendemonstrasikan perubahan gaya hidup untuk memenuhi
kenutuhan perawatan diri
2) Intervensi:
a) Kaji kemampuan dan tingkat kekurangan (dengan menggunakan skala
1-4) untuk melakukan kebutuhan sehari-hari
b) Hindari melakukan sesuatu untuk pasien yang dapat dilakukan pasien
sendiri, tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan
c) Kaji kemampuan pasien untuk berkomunikasi tentang kebutuhannya
untuk menghindari dan atau kemampuan untuk menggunakan
urinal,bedpan.
d) Identifikasi kebiasaan defekasi sebelumnya dan kembalikan pada
kebiasaan pola normal tersebut. Kadar makanan yang berserat,
Anjurkan untuk minum banyak dan tingkatkan aktivitas.
e) Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan
atau keberhasilannya.
f) Kolaborasi :
i. Berikan supositoria dan pelunak feses
ii. Konsultasikan dengan ahli fisioterapi/okupasi