Anda di halaman 1dari 6

EMBUNG MERUPAKAN SUMBER KEHIDUPAN BAGI LAHAN

PERTANIAN TADAH HUJAN DIMUSIM KEMARAU



http://bpkaliori.blogspot.com/2013/04/teknologi-pembuatan-embung-dan.html

Embung adalah merupakan tendon air atau waduk berukuran kecil pada lokasi pertanian
yang bertujuan untuk menampung kelebihan air hujan dimusim penghujan dan pemanfaatannya
pada musim kemarau untuk berbagai keperluan baik di bidang pertanian maupun kepentingan
masyarakat banyak Teknik pembuatan embung meliputi penentuan tekstur tanah, kemiringan
lahan, bentuk, ukuran penggalian tanah, kelapisan tanah, kelapisan plastik, penembokan dan
pelapisan kapur. Pembentukan embung pada dasaranya adalah untuk mengairi lahan pertanian
terutama pada musim kemarau, manfaat lain dari embung adalah dibidang perikanan yang bisa
dijadikan untuk kolam pemeliharaan ikan dan sebagai persediaan minuman ternak maupun untuk
keperluan rumah tangga.
I. PENDAHULUAN
Di Indonesia terdapat dua wilayah agraris yang sangat menonjol, yaitu daerah pertanian
dengan ketersediaan air irigasi yang cukup melimpah dan daerah pertanian yang hanya
mengharapkan air hujan dari langit yang disebut sawah tadah hujan. Dengan pesatnya
pembangunan diberbagai sektor maka memberikan konsekwensi bahwa lahan irigasi semakin
lama semakin berkurang dan bahkan banyak berubah fungsi menjadi kawasan industri dan
pemukiman. Lahapertanian semacam ini adalah merupakan lahan potensial untuk pertanian yang
dapat menghasilkan pangan untuk kehidupan manusia. Untuk itu guna mengganti lahan tersebut
maka diperlukan adanya penambahan lahan pertanian baru, pada umumnya untuk lahanpertanian
yang baru yang bisa mengganti keadaan seperti ini dalah lahan sawah tadah hujan. Lahan tadah
hujan sebenarnya potensial untuk menghasilkan padi, akan tetapi kendalanya adalah adanya
factor pembatas yang berupa air, dimana pada musim kemarau petani sangat kesulitan air karena
cadangan air terlalu minim, sehingga menyebabkan rendahnya produksi pertanian dan bahkan
kadang kala tidak menghasilkan sama sekali karena kekeringan. Untuk mengatasi hal tersebut
yaitu dengan membangun jaringan irigasi pada lahan tadah hujan memerlukan biaya yang sangat
besar, karena itu perlu diatasi dengan teknologi yang lebih murah dan terjangkau yaitu dengan
Teknologi pembuatan Embung
II. PENGERTIAN EMBUNG
Kata embung menurut beberapa orang berasal dari bahasa Nusa Tenggara Timur yang secara
keseluruhan dapat diartikan suatu tandon air atau waduk kecil dilahan pertanian yang bertujuan
untuk menampung kelebihan air hujan dan menggunakannya pada saat musim kemarau untuk
berbagai keperluan baik dibidang pertanian maupun rumah tangga.
III. TEKNIK PEMBUATAN EMBUNG
Teknik pembuatan embung sebenarnya boleh dikatakan sangat sederhana, hanya ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain :
A. Penentuan Lokasi
1. Tekstur Tanah.
Embung sebaiknya dibuat dilahan dengan tanah bertekstur liat, lempung, liat
berlempung dan lempung liat berdebu, agar fungsinya sebagai penampung air dapat
terpenuhi.
Pada tanah berpasir yang poreus tidak dianjurkan untuk pembuatan embung karena air
akan cepatmeresap kedalam tanah dan hilang, dan apabila terpaksa dianjurkan untuk
dibuat maka dianjurkan untuk memakai, plastic atau ditembok lapisan luarnya
sehingga air tidak merembes. 2. Kemiringan lahan.
Embung sebaiknya dibuat pada areal pertanian yang bergelombang dengan kemiringan
antara 20- 30 persen agar lapisan air permukaan dapat dengan mudah mengalir
kedalam embung dan selanjutnya air embung mudah untuk disalurkan kepetak-petak
pertanian, karena adanya perbedaan ketinggian antara embung dengan petak pertanian.
Areal pertanian yang datar kurang cocok untuk dibuat embung , karena sulit untuk
mengalirkan air dari embung kepetak pertanian.
Pada lahan yang terlalu miring kurang lebih 30 persen embung akan cepat penuh
dengan endapan tanah karena pengaruh erosi
B. Kontruksi Embung
1. Bentuk Embung.
Bentuk embung sebaiknya bujur sangkar atau mendekati bujur sangkar hal ini agar diperoleh
keliling yang paling pendek. Tujuannya agar resapan air melalui tanggul lebih sedikit.
2. Ukuran embung.
Embung bisa dibuat berdasarkan perorangan maupun kelompok, hal ini tergantung dari pada
keperluan dan luas pertanian yang akan di airi
3. Penggalian Tanah.
Penggalian tanah dapat dimulai dari batas pinggir embung menuju ke bagian tengah.
Kedalam galian diusahakan mencapai 2-3 meter, hal ini untuk memperoleh kapasitas
embung
Keliling embung dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah hal ini untuk menghindari
masuknya kotoran kedalam embung
Jarak saluran pembuangan dari permukaan tanggul berkisar antara 25-50 cm dan dibuat
sedemikian rupa sehingga air embung tidak meluap.
4. Pelapisan tanah.
Untuk menjaga agar embung tidak bocor maka perlu dilakukan pelapisan tanah terutama
pada bagian dinding embung. Pelapisan dinding ini dilakukan dengan cara; Tanah liat
dibasahi dan diolah sampai berbentuk seperti pasta, baru kemudian dilapiskan secara
merata.
Dinding embung pada tanah bertekstur liat atau lempung liat berdebu tidak perlu
dilapisi, karena pada jenis tanah ini resapan air boleh dikatakan kurang.
Pada tanah berpasir resapan air kebawah maupun yang melalui tanggul cukup banyak,
karena itu dinding embung perlu dilapisi dengan beberapa bahan misalnya, plastic, batu
bata, tembok, atau campuran pasir dengan tanah liat untuk penahan resapan air.
5. Pelapisan Plastik.
Plastik yang digunakan untuk pelapisan dinding maupun dasar embung dapat digunakan
dari jenis polyethilin atau polyvinil Chloride (PVC) dengan ketebalan 0, 15 mm
Untuk pelapisan didasar embung , plastic ditimbun tanah setebal kurang lebih 25 cm
Ketahan plastik ini bisa mencapai 2-3 tahun.
6. Penembokan.
Pencegahan peresapan air selain dengan plastic dapat pula digunakan dengan penembokan baik
untuk dinding maupun untuk dasar embung.
7. Pelapisan Kapur.
Untuk pelapisan dengan kapur dibuat adonan dengan perbandingan kapur tembok dan
tanah liat 1:1
Dibuat pasta yang selanjutnya baru dilapiskan pada dinding embung atau dasar embung.

IV. MANFAAT EMBUNG

1. Air Embung Pada prinsipnya air embung digunakan untuk mengairi lahan terutama pada
musim kemarau. Pemanfaatan air pada musim kemarau perlu juga memperhatikan luasan
lahan dengan ketersediaan air yang ada didalam embung. Apakah untuk mengairi sawah
atau palawija dengan memperhitungkan kebutuhan air sebagai misal untuk padi 200 mm
per bulan atau 1 liter/ detik /Ha. Disamping itu juga perlu diperhatikan jika embung juga
untuk persediaan minuman ternak
2. Pengairan padi dan palawija Pengairan dari embung untuk padi dan palawija tidak
sepenuhnya menggunakan air, hanya dilakukan pada saat kritis, yaitu pada fase
primordial (bunting), Pembungaan dan pengisian gabah. Saat ini air disalurkan ke petak
pertanian bisa menggunakan selang plastic hingga kondisi tanah jenuh air. Untuk
tanaman palawija caranya dengan menyiram seputar pangkal tanaman, mengingat
ketersediaan air di embung terbatas. Sebaiknya perlu diketahui kebutuhan dari masing-
masing jenis palawija akan air per musim atau per hektarnya
3. Peternakan. Pada musim kemarau ada kalanya sulit untuk mendapatkan air untuk
minuman ternaknya dan harus diangkut dari tempat yang jauh. Dengan adanya air
embung ini dapat digunakan untuk memberi minuman ternaknya
4. Perikanan Khusus dibidang perikanan embung ini dapat dimanfaatkan pada musim hujan
maupun musim kemarau, dengan catatan untuk musim kemarau ketersediaan air harus
cukup.
Beberapa factor penting yang perlu diperhatikan jika embung digunakan untuk
pemeliharaan ikan adalah ; Curah hujan, penguapan, Tekstur tanah, Kontruksi kolam dan
mutu air yang ada diembung. Untuk mutu air sendiri perlu juga diperhatikan. Oksigen
terlarut dan Ammonia, jenis ikan untuk embung perlu dipilih yang tepat dan sesuai
dengan kondisi embung. Yang pada dasarnya serba terbatas, yaitu air yang menggenang,
jenis ikan yang cocok, yaitu Gurame , Mujair, Tawes, lele. Untuk pakannya dapat berupa
dedak, sisa makanan atau pellet serta tanaman-tanaman seperti daun talas.

V. PEMELIHARAAN EMBUNG
Pemeliharaan embung perlu dilakukan agar tetap bermanfaat dan terhindar dari kerusakan dini
Pemeliharaan ini antara lain dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Pemagaran embung dengan bambu atau pagar hidup
2. Pengangkatan lumpur yang dilakukan pada musim kemarau atau ketika volume air sudah
minimal dan tidak digunakan.
3. Perbaikan embung terutama untuk bagian dinding tanggul jika terjadi kerusakan segera
diperbaikai agar tidak berlarut larut dan bertambah parah.
4. Untuk mencegah jebolnya tanggul, usahakan agar air tidak melimpah dipermukaan tanggul
5. Usahakan tidak menggembalakan, memandikan dan memberikan minuman ternak diatas
tanggul maupun masuk kedalam area embung.
6. Untuk menekan kehilangan air karena penguapan dapat dilakukan penanaman sebagai
berikut :
Anjang-anjang atau tanaman penutup/peneduh dimana tiang anjang dibuat dari anyaman
bambu.
Pada anjang-anjang yang dibuat ini dijalarkan tanaman merambat yang bermanfaat
seperti tanaman kecipir, markisa, gambas, yang juga berfungsi sebagai penutup
permukaan air.
Pohon penahan angin juga diperlukan disekitar embung seperti pohon buah-buhan atau
rumput-rumputan untuk pakan ternak.
Demikian teknologi pembuatan embung dan manfaatnya bagi masyarakat tani, semoga tulisan ini
dapat bermanfaat bagi petani atau masyarakat yang memerlukannya. (mnr)
http://bpkaliori.blogspot.com/2013/04/teknologi-pembuatan-embung-dan.html