Anda di halaman 1dari 11

I.

Definisi
Motivasi berasal dari kata motif yang berarti segala sesuatu yang mendorong
seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu. Istilah motivasi berasal dari kata
Latin movere yang berarti dorongan atau menggerakkan dan dalam bahasa
Inggris kata motivasi adalah berasal dari kata motivation yang berarti daya
batin atau dorongan Istilah motivasi berasal dari kata Motif yang diartikan
segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu
guna mencapai tujuan tertentu. Motivasi juga dikatakan sebagai keadaan dalam
pribadi orang yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas-aktivitas
tertentu untuk mencapai tujuan.
Secara etimologi kata motivasi berasal dari bahasa Inggris, to motive, to
provide, yang artinya memberi alasan untuk berbuat sesuatu dengan tujuan.
Secara terminologi motivasi diartikan sebagai suatu persiapan untuk menunjang
terwujudnya perbuatan sadar untuk mencapai tujuan tertentu.
Jadi dapat dikatakan bahwa motivasi adalah kuatnya dorongan (dari dalam diri)
yang membangkitkan semangat pada makhluk hidup, dan kemudian dalam hal itu
menciptakan adanya tingkah laku dan mengarahkan pada suatu tujuan atau tujuan-
tujuan tertentu pula.
Dari beberapa pengertian tentang motivasi yang ada maka dapat diambil
kesimpulan bahwa secara harfiah motivasi berarti dorongan, alasan, kehendak
atau kemauan, sedangkan secara istilah motivasi adalah daya penggerak kekuatan
dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu dan
memberikan arah dalam mencapai tujuan, baik yang didorong atau dirangsang
dari luar maupun dari dalam dirinya.
Pengertian seperti di atas didasarkan pada suatu pemikiran bahwa manusia
berbuat mungkin karena faktor-faktor dari luar dirinya atau karena faktor-faktor
yang berasal dari dalam diri manusia itu sendiri.
Perbuatan-perbuatan itu mungkin juga terjadi karena gabungan kedua faktor
tersebut. Faktor dari dalam disebut motivasi dan faktor dari luar lebih dikenal
dengan istilah stimulus.
Dalam konteks tingkah laku, dorongan atau motivasi datang dari kita sendiri.
Orang lain mungkin dapat memberikan ilham, pengaruh, ataupun memerintah kita
melakukan sesuatu, namun apa yang menjadi motivasi adalah diri kita sendiri
yang menentukan nya. Motivasi yang datang dari diri sendiri, membangkitkan
kegairahan, energi, serta kemauan untuk membuat perubahan menuju perbaikan
kualitas diri.
Menurut M. Usman Najati, yang dikutip Abdul Rahman Shaleh Motivasi
adalah kekuatan penggerak yang membangkitkan aktivitas pada makhluk hidup,
dan menghasilkan tingkah laku serta mengarahkannya menuju tujuan tertentu.
Dengan begitu motivasi memiliki tiga komponen pokok, yaitu :
a. Menggerakkan, dalam hal ini motivasi menimbulkan kekuatan pada
individu, membawa seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu.
Misalnya kekuatan dalam hal ingatan, respon-respon efektif, dan
kecenderungan mendapatkan kesenangan.
b. Mengarahkan, berarti motivasi mengarahkan tingkah laku. Dengan
demikian ia menyediakan suatu orientasi tujuan.
c. Menopang, Artinya motivasi digunakan untuk menjaga dan menopang
tingkah laku, lingkungan sekitar harus menguatkan intensitas dan arah
dorongan-dorongan dan kekuatan individu.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi seseorang timbul karena
adanya kebutuhan, sehingga keseimbangan dalam jiwa seseorang terganggu, dan
untuk menyeimbangkan kembali diperlukan suatu hal yang harus dilakukan, dan
aktifitas tersebut dilatarbelakangi oleh motif-motif tertentu dalam rangka untuk
memenuhi kebutuhannya itu baik fisik ataupun psikologis.
Dalam perumusan mengenai tingkah laku bermotivasi tersebut dapat diketahui
unsur-unsurnya yaitu kebutuhan yang merupakan dasar dari adanya motif,
kemudian diwujudkan dalam tingkah laku atau aktifitas dan diarahkan untuk
mencapai tujuan, yang mana hal tersebut dilakukan berulang ulang atau sesering
mungkin apabila hal tersebut memuaskan.


II. Teori Motivasi
Pada tahun 1950, muncul teori motivasi yang dikenal sebagai teori awal
motivasi. Teori teori ini menjadi dasar berkembangnya teori kontemporer
Teori tersebut adalah :
A. Maslow - Hirarki Kebutuhan
Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada
intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat
atau hierarki kebutuhan, yaitu :
1. Kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus,
istirahat dan sex;
2. Kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata,
akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual;
3. Kebutuhan akan kasih sayang (love needs);
4. Kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya
tercermin dalam berbagai simbol-simbol status;
5. Aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan
bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam
dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.











Gambar 1. Teori kebutuhan Moslow

B. McGregor - Teori X & Y
Douglas McGregor mengkaji cara para manajer menangani karyawannya.
Kesimpulan pandangan manajer mengenai kodrat manusia didasarkan
pada kelompok asumsi tertentu. Asumsi itu dibagi menjadi 2 yaitu Teori
X dan Teori Y. Teori X mengasumsikan kebutuhan tingkat rendah
mendominasi individu. Sedangkan teori Y mengasumsikan kebutuhan
tingkat tinggi mendominasi individu.
C. Herzberg - Teori 2 Faktor
Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang
mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber
dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene
atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang
berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang
dalam kehidupan seseorang. Menurut Herzberg, yang tergolong sebagai
faktor motivasional antara lain ialah pekerjaan seseorang, keberhasilan
yang diraih, kesempatan bertumbuh, kemajuan dalam karier dan
pengakuan orang lain. Sedangkan faktor-faktor hygiene atau
pemeliharaan mencakup antara lain status seseorang dalam organisasi,
hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan seseorang
dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang diterapkan oleh
para penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi,
kondisi kerja dan sistem imbalan yang berlaku. Salah satu tantangan
dalam memahami dan menerapkan teori Herzberg ialah memperhitungkan
dengan tepat faktor mana yang lebih berpengaruh kuat dalam kehidupan
seseorang, apakah yang bersifat intrinsik ataukah yang bersifat ekstrinsik.
Kemudian munculah teori motivasi kontemporer yang menggambarkan kondisi
pemikiran saat ini dalam menjelaskan motivasi. Teori yang termasuk dalam
kelompok teori kontemporer adalah :
A. Teori E-R-G, Clayton Alderfer mengemukakan tiga kategori kebutuhan.
Kebutuhan tersebut adalah . Eksistence (E) atau Eksistensi, meliputi
kebutuhan fisiologis sepeerti lapar, rasa haus, seks, kebutuhan materi, dan
lingkungan kerja yang menyenangkan. Relatedness (R) atau keterkaitan,
menyangkut hubungan dengan orang-orang yang penting bagi kita, seperti
anggota keluarga, sahabat, dan penyelia di tempat kerja. Growth (G) atau
pertumbuhan, meliputi kenginginan kita untuk produktif dan kreatif dengan
mengerahkan segenap kesanggupan kita. Alderfer menyatakan bahwa : Bila
kebutuhan akan eksistensi tidak terpenuhi, pengaruhnya mungkin kuat,
namun kategori-kategori kebutuhan lainnya mungkin masih penting dalam
mengarahkan perilaku untuk mencapai tujuan. Meskipun suatu kebutuhan
terpenenuhi, kebutuhan dapat berlangsung terus sebagai pengaruh kuat dalam
keputusan. Jadi secara umum mekanisme kebutuhan dapat dikatakan sebagai
berikut Frustration Regression dan Satisfaction Progression
B. Teori Tiga Motif Sosial, David Mc. Clelland dalam teorinya mengemukakan
bahwa motif social merupakan motifyang kompleks dan merupakan
sumberdari banyak perilaku atau perbuatan manusia. Motif social merupakan
hal yang penting untuk mendapatkan gambaran tentang perilaku individu dan
kelompok. Mc. Clelland juga berpendapat bahwa individu mempunyai
cadangan energy potensia, yang mana energy ini dbilepaskan dan
dikembangkan tergantung pada kekuatanatau dorongan motivasi individudan
situasi, serta peluangyang tersedia. MC Clelland menyatakan bahwa ada 3
motif utama manusia dalam bekerja yaitu:
1. Kebutuhan untuk berprestasi (needs for achievement / n-Ach )
Motivasi untuk berprestasi merupakan dorongan untuk mengungguli,
berprestasi sehubungan dengan seperangkat standar, bergulat untuk sukses.
Individu yang mempunyai motivasi atau need ini akan meningkatkan
performance, sehingga dengan demikian akan terlihat kemampuan
berprestasinya. Menurut koestner individu yang memiliki motivasi
berprestasi adalah individu motivasinya bersifat ekstrinsik. Cirri-ciri
individu yang menunjukan orientasi tinggi antara lain bersedia menerima
resiko yang relative tinggi, senang dalam mengahadapi tugas-tugas yang
sulit, keinginan untuk mendapatkan umpan balik tentang hasil kerja
mereka.
Need of Achievment atau n-Ach adalah motivasi untuk berprestasi, karena
itu individuakan mencapai prestasi tertingginya, pencapaian tujuan
tersebut bersifat realistis tetapi menantan, dan kemajuan dalam pekerjaan,
individu perlu mendapat umpan balik dari lingkungannya sebagai bentuk
pengakuan terhadap prestasinya tersebut. Ciri-ciri dari individu yang
memiliki need of achievement adalah sebagai berikut:
a. Berusaha melakukan sesuatu dengan cara-cara baru dan kreatif
b. Mencari feedback tentang perbuatannya.
c. Memilih resiko yang tinggi didalam perbuatannya.
d. Mengambil tanggung jawab pribadi atas perbuatannya.
2. Kebutuhan akan kekuasaan (need for power / n-Pow)
Dalam interaksi sosial, individu akan mempunya motivasi untuk berkuasa.
Motivasi untuk berkuasa adalah motivasi yang membuat orang lain
berperilaku demikian atau suatu bentuk ekspresi dari individu untuk
mengendalikan dan mempengaruhi orang lain. Mc . Clelland menyatakan
bahwa motivasi dalam mencapai suatu posisi kepemimpinan.
Need of Power atau n-Pow adalah motivasi terhadap kekuasaan. Individu
memiliki motivasi untuk berpengaruh terhadap lingkungannya, memiliki
karakter kuat untuk ememipin dan memiliki karakter kuat untuk
memimpin dan memiliki ide-ide untuk menang. Individu yang memiliki
power of need yang tinggi akan mengadakan control, mengendalikan atau
memerintah orang lain, dan ini merupakan salah satu indikasi atau salah
satu manifestasi dari need of power tersebut. Ada juga motivasi untuk
peningkatan status dan prestise pribadi. Cirri-ciri individunya adalah:
a. Menyukai pekerjaan dimana mereka menjadi pimpinan.
b. Sangat aktif dalam menentukan arah kegiatan dari sebuah organisasi
dimanapun dia berada.
c. Melakukan sesuatu untuk dapat mempengaruhi orang lain dan dapat
mengekspresikan motif kekuasaannya.
d. Sangat peka terhadap struktur pengaruh antar pribadidari kelompok
atau organisasi.
3. Kebutuhan untuk berafiliasi atau bersahabat (needs of affiliation / n-Aff)
Afiliasi menunjukan bahwa individu memiliki motivasi untuk
berhubungan dengan individu lainnya. Motivasi untuk berafiliasi adalah
hasrat untuk berhubungan antar pribadi yang ramah dan akrab. Individu
merefleksikan keinginan untuk mempunyai hubungan yang erat selalu
mencari teman dan mempertahankan hubungan yang telah dibina dengan
individu lain tersebut, kooperatif dan penuh sikap persahabatan dengan
pihak lain. Individu yang mempunyai kebutuhan afiliasi yang tinggi
umumnya berhasil dalam pekerjaan yang memerlukan interaksi social
tinggi. Orang-orang dengan need of affiliation yang tinggi ialah orang
yang berusahamendapatkan persahabatan, cirri-cirinya adalah:
a. Lebih memperhatikan segi hubungan pribadi yang ada dalam
pekerjaananya dari pada segi tugas-tugas yang ada dalam pekerjaan
tersebut.
b. Melakukan pekerjaannya lebih efektif apabila bekerjasama dengan
orang lain dalam suasan yang lebih kooperatif
c. Mencari persetujuan atau kesepakatan dari orang lain
d. Lebih suka bersama dengan orang lain dan selalu berusaha
menghindari konflik
C. Teori Equity, S. Adams, Inti teori ini terletak pada pandangan bahwa manusia
terdorong untuk menghilangkan kesenjangan antara usaha yang dibuat bagi
kepentingan organisasi dengan imbalan yang diterima. Dalam menumbuhkan
suatu persepsi tertentu, seorang pegawai biasanya menggunakan empat macam
hal sebagai pembanding, hal itu antara lain : Harapannya tentang jumlah
imbalan yang dianggapnya layak diterima berdasarkan kualifikasi pribadi,
seperti pendidikan, keterampilan, sifat pekerjaan dan pengalamannya; Imbalan
yang diterima oleh orang lain dalam organisasi yang kualifikasi dan sifat
pekerjaannnya relatif sama dengan yang bersangkutan sendiri; Imbalan yang
diterima oleh pegawai lain di organisasi lain di kawasan yang sama serta
melakukan kegiatan sejenis; Peraturan perundang-undangan yang berlaku
mengenai jumlah dan jenis imbalan yang pada nantinya akan menjadi hak dari
para pegawai yang bersangkutan.
D. Teori Expectancy, Victor Vroom, tiga asumsi pokok Vroom dari teorinya
adalah sebagai berikut :
1. Setiap individu percaya bahwa bila ia berprilaku dengan cara tertentu, ia
akan memperoleh hal tertentu. Ini disebut sebuah harapan hasil (outcome
expectancy) sebagai penilaian subjektif seseorang atas kemungkinan
bahwa suatu hasil tertentu akan muncul dari tindakan orang tersebut.
2. Setiap hasil mempunyai nilai, atau daya tarik bagi orang tertentu. Ini
disebut valensi (valence) sebagai nilai yang orang berikan kepada suatu
hasil yang diharapkan.
3. Setiap hasil berkaitan dengan suatu persepsi mengenai seberapa sulit
mencapai hasil tersebut. Ini disebut harapan usaha (effort expectancy)
sebagai kemungkinan bahwa usaha seseorang akan menghasilkan
pencapaian suatu tujuan tertentu.
E. Teori Goal Setting, Edwin Locke menunjukkan adanya keterkaitan antara
tujuan dan kinerja seseorang terhadap tugas. Dia menemukan bahwa tujuan
spesifik dan sulit menyebabkan kinerja tugas lebih baik dari tujuan yang
mudah. Lima prinsip penetapkan tujuan adalah kejelasan, tantangan,
komitmen, umpan balik (feedback) dan kompleksitas tugas. Teori ini juga
mengungkapkan bahwa kuat lemahnya tingkah laku manusia ditentukan oleh
sifat tujuan yang hendak dicapai, kecenderungan manusia untuk berjuang
lebih keras mencapai suatu tujuan, apabila tujuan itu jelas, dipahami dan
bermanfaat serta makin kabur atau makin sulit dipahami suatu tujuan, akan
makin besar keengganan untuk bertingkah laku.
F. Teori Reinforcement, B.F. Skinner, - Teori ini didasarkan atas hukum
pengaruh Tingkah laku dengan konsekuensi positif cenderung untuk diulang,
sementara tingkah laku dengan konsekuensi negatif cenderung untuk tidak
diulang. Rangsangan yang didapat akan mengakibatkan atau memotivasi
timbulnya respon dari seseorang yang selanjutnya akan menghasilkan suatu
konsekuensi yang akan berpengaruh pada tindakan selanjutnya. Konsekuensi
yang terjadi secara berkesinambungan akan menjadi suatu rangsangan yang
perlu untuk direspon kembali dan mengasilkan konsekuensi lagi. Demikian
seterusnya sehingga motifasi mereka akan tetap terjaga untuk menghasilkan
hal-hal yang positif.

III. Jenis-Jenis Motivasi
Banyak pendapat mengenai klasifikasi motivasi, beberapa yang terkenal adalah
yang dikemukakan oleh Woodworth dan Marquis yang dikutip oleh Abdul
Rahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab menggolongkan motivasi menjadi tiga
macam, yaitu :
A. Kebutuhan-kebutuhan Organis, yaitu motivasi yang berkaitan dengan
kebutuhan dengan dalam, seperti : makan, minum, kebutuhan bergerak,
tidur dsb.
B. Motivasi Darurat yang mencakup dorongan untuk menyelamatkan diri,
dorongan untuk membalas, dorongan untuk berusaha dan sebagainya.
Dalam hal ini motivasi timbul atas keinginan seseorang, tetapi karena
perangsang dari seseorang.
C. Motivasi Obyektif, yaitu motivasi yang diarahkan kepada obyek atau tujuan
tertentu disekitar kita, motif ini mencakup kebutuhan bereksplorasi,
manipulasi, menaruh minat. Motivasi ini timbul karena dorongan untuk
menghadapi dunia secara efektif.
Selain klasifikasi motivasi diatas ada psikolog yaitu Winkel W.S.yang
membagi motivasi menjadi dua :
A. Motivasi Intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam diri seseorang
itu sendiri tanpa dirangsang dari luar. Misal : orang yang gemar membaca
maka tidak usah ada yang mendorong untuk membaca, maka ia akan
mencari buku sendiri untuk dibacanya. Motif intrinsik juga diartikan
sebagai motivasi yang pendorongnya ada kaitannya langsung dengan nilai-
nilai yang terkandung di dalam tujuan pekerjaan itu sendiri. Misal :
Seseorang tekun untuk menjalankan ibadah karena ingin mengharap ridha
dari Allah SWT bukan yang lainnya.
B. Motivasi Ekstrinsik yaitu motivasi yang datang karena adanya perangsang
dari luar, seperti seseorang yang mau menjalankan ibadah atau aktivitas
keberagamaan karena stimulus-stimulus dari luar. Misalnya malu dengan
teman, takut pada orang tua atau ingin menarik simpati orang lain, dll.
Motivasi ekstrinsik ini juga diartikan sebagai motivasi yang pendorongnya
tidak ada hubungan dengan nilai yang terkandung dalam suatu pekerjaan.
Tapi jika melihat kajian tentang manusia bahwa manusia itu hanya terdiri dari
dua unsur yaitu fisik dan psikis. Maka pembagian motivasi cukup ada dua
motivasi biologis dan motivasi psikologis yang mencakup motivasi spiritual.
modern, padahal dalam keseharian dirasakan. Seperti diungkapkan Lindzy,
dorongan yang berhubungan dengan aspek spiritual dalam diri manusia selalu ada,
seperti dorongan untuk beragama, kebenaran dan keadilan, benci terhadap
kejahatan, kebatilan.
Menurut Maslow kebutuhan spiritual manusia merupakan kebutuhan alami yang
integritas perkembangan dan kematangan kepribadian individu sangat tergantung
pada pemenuhan kebutuhan tersebut.

IV. Prinsip-Prinsip Motivasi
Menurut Kenneth H. Hoover, prinsip-prinsip motivasi sebagai berikut:
A. Pujian lebih efektif dari pada hukuman. Hukuman bersifat menghentikan
suatu perbuatan, sedangkan pujian bersifat menghargai apa yang telah
dilakukan.
B. Motivasi yang bersumber dari dalam diri individu lebih efektif dari pada
motivasi yang berasal dari luar.
C. Tingkah laku (perbuatan) yang serasi (sesuai dengan keinginan) perlu
dilakukan penguatan.
D. Motivasi mudah menjalar kepada orang lain.






Daftar Pustaka



Angeline, Irene. 2011. Hubungan Antara Tipe Kepribadian Dengan Motivasi
Gamers Ragnarok Pada Komunitas Evolution. Jakarta: Universitas Bina
Nusantara.
Ball, Benjamin. A Summary of Motivation Theories. Diunduh dari :
www.yourcoach.be pada tanggal 26 september 2014
Dewi, A. Rita. 2012. Pengaruh Motivasi dan Disiplin Kerja terhadap Kepuasan
Kerja Guru SMP Negri 1 Wedi kabupaten Klaten. Yogyakarta: universitas
negeri Yogyakarta.
Firman, Fajar. dkk. 2013. TEORI MOTIVASI : TEORI DUA FAKTOR
Herzbergs Motivation-Hygiene Theory. Bandung: IPB
Moslow, A H. A theory of Human Motivation. Diunduh dari: www.Abika.com
pada tanggal 26 september 2014
Nugraheni, Fitri. 2009. Hubungan Motivasi Belajar Terhadap Hasil Belajar
Mahasiswa Kudus: Universitas Muria Kudus
Purwanto, M Ngalim.1996. Psikologi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya
Safira, Lila. 2008. Pengaruh iklim psikologis terhadap motivasi berprestasi
karyawan sales dan marketing Depok: Universitas Indonesia.