Anda di halaman 1dari 20

1

Mini Cex

































Disusun Oleh :
Ahmad Ali Zulkarnain
20070310070


STASE ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROKAN


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2013
2

BAB I
LAPORAN KASUS

I. Identitas Pasien
Nama : An. N
Umur : 7 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
MRS : 21 Maret 2013

II. Anamnesis
Keluhan utama : Nyeri telinga sebelah kiri.
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang dengan keluhan nyeri telinga sebelah kiri. Pasien mengaku
merasakan nyeri sejak dua hari yang lalu dan memberat sejak tadi malam. Pasien
menyangkal adanya keluhan keluar cairan maupun darah dari liang telinga. Pasien
merasakan ada sedikit penurunan pendengaran. Pasien tidak mengeluhkan adanya telinga
berdengung. Pasien menyangkal riwayat kemasukan air maupun benda asing. Riwayat
batuk pilek sebelumnya (+), mulai dirasakan sekitar 2-3 hari sebelum keluhan nyeri
telinga muncul.. riwayat demam (+). Pasien mengaku sering mengorek telinga dengan
menggunakan cotton bud. Pasien menyangkal riwayat trauma pada telinga.
Riwayat penyakit dahulu :
Pasien mengaku pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya sewaktu kecil.
Riwayat Penyakit Keluarga dan Sosial :
Tidak ada keluarga pasien yang pernah mengalami hal serupa dengan pasien.
Riwayat Pengobatan :
Pasien mengaku tidak pernah berobat sebelumnya
Riwayat Alergi :
Pasien menyangkal adanya riwayat alergi obat maupun makanan.

3


III. Pemeriksaan Fisik
1) Status Generalis
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis

2) Tanda vital
TD : Tidak dievaluasi
Nadi : 72 kali/menit
RR : Tidak dievaluasi
Suhu : 37,6C

3) Status Lokalis
Pemeriksaan Telinga
No. Pemeriksaan Telinga Telinga kanan Telinga kiri
1. Tragus Edema (-), hiperemi (-),
massa (-) nyeri tekan (-)
Edema (-), hiperemi (-), massa
(-), nyeri tekan (-)
2. Daun telinga Bentuk dan ukuran dbn,
Edema (-), hiperemi (-),
massa (-), nyeri pergerakan
aurikula (-)

Bentuk dan ukuran dbn,
Edema (-), hiperemi (-),
massa(-), nyeri pergerakan
aurikula (+)
3. Liang telinga Edema (-), hiperemi (-),
sekret mukopurulen (-),
furunkel (-), serumen (-)

Edema (-), hiperemi (+), sekret
mukopurulen (-), furunkel (-),
serumen (-)
4

4. Membrane timpani Retraksi (-), bulging (-),
hiperemi (-), edema (-),
perforasi sentral (-)

Retraksi (-), bulging (-),
hiperemi (-), edema (-),
Bula(+) , perforasi sentral (-)



Pemeriksaan Hidung
Inspeksi Hidung Kanan Hidung Kiri
Hidung luar Bentuk (N), inflamasi (-),
deformitas (-), massa (-)
Bentuk (N), inflamasi (-),
deformitas (-), massa (-)
Rinoskopi Anterior
Vestibulum nasi N, ulkus (-) N, ulkus (-)
Cavum nasi Bentuk (N), mukosa pucat
(-), hiperemi (+)
Bentuk (N), mukosa pucat (-).
hiperemi (+)
Septum nasi Deviasi (-), benda asing(-),
perdarahan (-), ulkus (-),
edema mukosa (+)
Deviasi (-), benda asing (-),
perdarahan (-), ulkus (-),
edema mukosa (+)
Konka nasi media dan
inferior
hipertrofi (-), hiperemi (-) hipertrofi (-), hiperemi (-)

Gambar







kongesti
5

Pemeriksaan Sinus Paranasal
Sinus
Nyeri tekan Transiluminasi
Kanan Kiri Kanan Kiri
Maksilaris Tidak
dilakukan
Tidak
dilakukan
Tidak
dilakukan
Tidak
dilakukan
Frontalis Tidak
dilakukan
Tidak
dilakukan
Tidak
dilakukan
Tidak
dilakukan

Pemeriksaan Tenggorokan
Keterangan
Bukal Warna merah muda, hiperemi (-)
Gigi Warna mukosa merah muda, hiperemi
(-)
Lidah Ulkus (-)
Uvula Bentuk normal, hiperemi (-), edema (-),
Faring Hiperemi (+), edema (+), ulkus (-),
granul (-), reflex muntah (-)
Tonsil Hiperemi (+), ukuran T2-T2, kripte
melebar (-), detritus (-)

Gambar









6

IV. Diagnosa Kerja
Miringitis Bulosa + Rinotonsilofaringitis

V. Diagnosa Banding
Otitis Media Akut stadium pre supurasi

VI. Pemeriksaan Penunjang
-
VII. Penatalaksanaan
1) Pecahkan Bulla
2) Terapi medikamentosa
Analgetik - antipiretik : Paracetamol 250 mg 3x1 (pada saat demam saja)
Antibiotik sistemik : Amoksisilin 3 x 250 mg (selama 7 hari)
Kombinasi Dekongestan dengan Antihistamin : Tremenza ( mengandung
pseudoefedrin Hcl 60 mg dan striprolidin Hcl 2,5mg) 3 x tablet selama 3-4
hari/selama ada gejala
3) KIE :
Menganjurkan pasien untuk tetap menjaga kebersihan telinga dan tidak mengorek-
ngorek liang telinga.
Menghindari masuknya air ke telinga saat mandi dengan menutupnya
menggunakan kapas
Antibiotik harus diminum sampai habis

VIII. Prognosis
Dubia ad Bonam
7

BAB II
PEMBAHASAN

Berdasarkan anamnesis adanya keluhan nyeri pada telinga kiri sejak 2 hari yang lalu, dan
memberat sejak tadi malam disertai dengan adanya riwayat demam (+), batuk (+) dan pilek (+)
sejak 3 hari yang lalu, dapat dipikirkan adanya kemungkinan infeksi pada telinga yang ada
hubungannya dengan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Infeksi telinga ini kemungkinan
adalah suatu infeksi pada telinga tengah, dimana kita ketahui bahwa ISPA adalah salah satu
factor predisposisi dari infeksi telinga tengah (Otitis Media), terutama pada anak yang
disebabkan oleh bentuk anatomi dari tuba eustachius pada anak berbeda dengan tuba pada
dewasa. Tuba pada anak bentuknya lebih lebar, pendek dan posisinya lebih horizontal, sehingga
memudahkan mikroorganisme mudah bermigrasi menuju telinga tengah.
Dari pemeriksaan fisik yang dilakukan, didapatkan adanya nyeri saat penekanan aurikula
(Pasien merasa kesakitan saat telinga kiri dipegang), namun tidak ada tampakan kelainan telinga
pada inspeksi bagian telinga luar. Pada pemeriksaan otoskopi, didapatkan liang telinga yang
hiperemis pada telinga kiri, disertai tampakan membrane timpani yang edema dan adanya
bula pada membrane timpani. Tidak terlihat adanya secret mukopurulen maupun darah pada
liang telinga maupun membrane timpani. Adanya tampakan bula pada membrane timpani
menunjang kemungkinan adanya suatu miringitis bulosa, dimana pada miringitis bulosa, khas
ditandai dengan adanya pembentukan bula pada membrane timpani serta rasa nyeri yang cukup
hebat pada telinga yang mengalami peradangan (mirinngitis). Tidak didapatkan adanya cairan
pada liang telinga kemungkinan akibat bula yang belum pecah.
Pada pemeriksaan hidung, didapatkan mukosa hiperemi. Hal ini kemungkinan
disebabkan adanya proses radang yang terjadi pada mukosa hidung. Pada pemeriksaan
tenggorok, didapatkan faring yang hiperemi dan edema, serta pembesaran tonsil T2 dekstra dan
sisnistra. Hal ini juga kemungkinan disebabkan oleh adanya proses radang pada daerah
tenggorok (faring dan tonsil). Dari pemeriksaan tersebut dapat di ambil kemungkinan adanya
suatu peradangan pada daerah nasal, faring dan tonsil (rinotonsilofaringitis), yang ditunjang oleh
adanya riwayat demam sejak 3 hari yang lalu yang mengarahkan kearah adanya suatu infeksi.
Penanganan untuk kasus miringitis bulosa ini adalah dengan memecah bula yang
terbentuk pada membrane timpani, dengan tujuan mengurangi keluhan nyeri telinga yang
8

disebabkan oleh pembentukan bula tersebut, serta mempercepat penyembuhan. Memecahkan
bula pada miringitis bulosa juga bertujuan untuk mencegah adanya penurunan pendengaran
akibat adanya gangguan konduksi yang disebabkan oleh bula tersebut.
Untuk terapi medikamentosa, prinsip pengobatannya adalah dengan memberikan terapi
simptomatik dan antibiotic. Untuk pengobatan simptomatik dapat diberikan golongan analetik-
antipiretik dengan tujuan untuk mengurangi keluhan nyeri dan demam. Golongan analgetik-
antipiretik yang dipilih dalam kasus ini adalah golongan paraaminofenol (Paracetamol) karena
relative aman untuk anak dan memiliki efek yang dapat meringankan gejala. Paracetamol
diberikan 250 mg sebanyak 3x1 pada saat demam saja. Untuk keluhan pilek yang dirasakan
pasien, dapat diberikan nasal dekongestan yang dikombinasikan dengan antihistamin. Walaupun
pada kebanyakan kasus Miringis bulosa disebabkan oleh virus, antibiotic perlu diberikan untuk
mencegah adanya infeksi sekunder. Diberikan antibiotic golongan beta laktam karena bersifat
broad-spectrum dan relative aman untuk anak. Diberikan amoksisilin dengan dosis 3x1 selama 7
hari.
Selain itu pasien dibekali dengan KIE berupa menganjurkan pasien untuk tetap menjaga
kebersihan telinga dan tidak mengorek-ngorek liang telinga, menghindari masuknya air ke
telinga saat mandi dengan menutupnya menggunakan kapas, antibiotik harus diminum sampai
habis.











9

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

Membran timpani yang sangat tipis dan rapuh merupakan komponen awal pada system
konduksi telinga tengah. Membran timpani (Umumnya disebut gendang telinga) dan tulang-
tulang pendengaran, menghantarkan suara dari membrane timpani melewati telinga tengah ke
koklea.
1,2
Membran timpani ini sangat rentan mengalami kerusakan, dan semua penyakit atau
kelainan yang mengenai membrane timpani dapat menyebabkan seseorang kehilangan
kemampuan untuk bekerja dan menikmati hidup.
1
Miringitis, atau inflamasi membrane timpani merupakan salah satu jenis kelainan yang
dapat menyebabkan ganggguan pendengaran dan menimbulkan sensasi kongesti serta nyeri
telinga. Miringitis Bulosa (BM) merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan nyeri akut pada
telinga yang disebabkan oleh pembentukan bula pada membrane timpani. Beberapa referensi
menjelaskan bahwa miringitis merupakan suatu keadaan yang dihubungkan dengan otitis media
akut (OMA) atau Otitis Eksterna (OE). Refrensi lain menyatakan bahwa miringitis bulosa adalah
bentuk peradangan virus yang jarang pada telinga yang menyertai selesma dan influenza.
3,4,5

I. Anatomi Telinga Tengah
Telinga dibagi atas telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam. Telinga luar terdiri
dari daun telinga sampai membran timpani. Telinga tengah terdiri dari membran timpani,
kavum timpani, prosesus mastoideus dan tuba eustachius, sedangkan telinga dalam terdiri
dari koklea dan vestinuler.
7

10

Telinga tengah berbentuk kubus dengan batas sebagai berikut :
6
Batas luar : membran timpani
Batas depan : tuba eustachius
Batas belakang : aditus ad antrum dan kanalis fasialis pars vertikalis.
Batas bawah : vena jugularis
Batas atas : tegmen timpani (meningen/otak)
Batas dalam : berturut-turut dari atas ke bawah kanalis semisirkularis
horizontalis, kanalis fasialis, tingkap lonjong (oval window), tingkap bundar
(round window) dan promontorium.
Telinga tengah terdiri dari :
1. Membran timpani.
Membran timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang
telinga dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga. Membran timpani terdiri dari
dua bagian yaitu pars tensa dan pars plaksida Bagian atas disebut pars flaksida
(membran Shrapnell), sedangkan bagian bawah disebut pars tensa (membran
propria). Pars flaksid hanya berlapis dua, bagian luar yang merupakan lanjutan epitel
luar kulit liang telinga dan bagian dalam dilapisi oleh sel kubus bersilia. Pars tensa
terbentuk oleh tiga lapisan, yaitu :
7,8,9
- Lapisan terluar dari pars tensa, disebut sebagailapisan cutaneus terdiri dari epitel
skuamos stratified yang secara normal merefleksikan cahaya.
- Lapisan dalam membrane timpani yang berbatasan dengan cavum timpani
disebut lapisan mucosal terdiri dari satu lapis epitel skuamosa.
- Diantara lapisan luar dan dalam terdapat lapisan yang disebut lamina propria .
Lapisan ini terdiri dari dua lapisan yang berjalan secara radier dan sirkular.
Serabut tersebut menyatu dengan cincin fibrokartilago di sekekliling membrane
timpani.

Bayangan penonjolan bagian bawah maleus pada membrane timpani disebut
sebagai umbo. Dari umbo bermula suatu reflex cahaya (cone of light) kearah bawah
11

pada pukul 7 untuk membrane timpani kiri dan pukul 5 untuk membrane timpani
kanan. Di membrane timpani terdapat dua macam serabut, sirkuler dan radier. Serabut
inilah yang menyebabkan timbulnya reflex cahaya yang berupa kerucut itu. Secara
klinis reflek cahaya ini dinilai, misalnya bila letak reflek cahaya mendatar, berarti
terdapat gangguan pada tuba eustachius.
7
Membran timpani dibagi dalam 4 kuadran, dengan menarik garis searah
dengan prosesus longus maleus dan garis tegak lurus pada garis itu di umbo,
sehingga didapatkan bagian supero-anterior, supero-posteroir, infero-anterioir serta
infero-posteroir, untuk menyatakan letak perforasi.
7,9

Tampakan membrane timpani sebelah kanan pada otoskopi.
9

12


Gambar membrane timpani normal (kiri).
8

Membran timpani (Umumnya disebut gendang telinga) dan tulang-tulang
pendengaran, menghantarkan suara dari membrane timpani melewati telinga tengah
ke koklea.
2
Tulang pendengaran terdiri dari malleus (hammer/martil), inkus
(anvil/landasan), dan stapes (stirrup/pelana). Tulang-tulang ini saling berhubungan.
Prosesus longus maleus melekat pada membrane timpani, maleus melekat pada
inkus, dan inkus melekat pada stapes. Stapes terletak pada tingkap lonjong yang
berhubungan dengan koklebidang depan dari stapes terletak berhadapan dengan
membrane labirin koklea pada muara fenestra ovalis. Hubungan antara tulang-tulang
pendengaran merupakan persendian.
2,7
13



2. Kavum timpani
Kavum timpani terletak didalam pars petrosa dari tulang temporal, bentuknya
bikonkaf, atau seperti kotak korek api. Diameter anteroposterior atau vertikal 15 mm,
sedangkan diameter transversal 2-6 mm. Kavum timpani mempunyai 6 dinding yaitu :
bagian atap, lantai, dinding lateral, dinding medial, dinding anterior, dinding
posterior.


3. Prosesus mastoideus
Rongga mastoid berbentuk seperti bersisi tiga dengan puncak mengarah ke
kaudal. Atap mastoid adalah fosa kranii media. Dinding medial adalah dinding
lateral fosa kranii posterior. Sinus sigmoid terletak dibawah duramater pada daerah
ini.
4. Tuba eustachius
Tuba eustachius disebut juga tuba auditory atau tuba faringotimpani.
Bentuknya seperti huruf S. Tuba ini merupakan saluran yang menghubungkan
kavum timpani dengan nasofaring. Pada orang dewasa panjang tuba sekitar 36 mm
14

berjalan ke bawah, depan dan medial dari telinga tengah 13 dan pada anak dibawah 9
bulan adalah 17,5 mm. Tuba terdiri dari 2 bagian yaitu bagian tulang terdapat pada
bagian belakang dan pendek (1/3 bagian) dan bagian tulang rawan terdapat pada
bagian depan dan panjang (2/3 bagian).
Fungsi tuba eustachius sebagai ventilasi telinga yaitu mempertahankan
keseimbangan tekanan udara didalam kavum timpani dengan tekanan udara luar,
drenase sekret dari kavum timpani ke nasofaring dan menghalangi masuknya sekret
dari nasofaring ke kavum timpani.


II. Fisiologi pendengaran

Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energy bunyi oleh daun telinga
dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Getaran
tersebut menggetarkan membrane timpani diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian
tulang pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit tulang
pendengaran dan perkalian perbandingan luas membrane timpani dan tingkap lonjong.
Energi getar yang telah diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yang menggerakkan
tingkap lonjong sehingga perilimfe pada skala vestibule bergerak. Getaran diteruskan
melalui membrane Reissner yang medorong endolimfe, sehingga akan menimbulkan gerak
relative antara membrane basilaris dan membrane tektoria. Proses ini merupakan rangsang
mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal
ion terbuka dan terjadi penglepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini
menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmitter ke
dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu
dilanjutkan ke nucleus auditoruis sampai ke korteks pendengarana (area 39-40) di lobus
temporalis.
2,6,9





15

III. Miringitis Bullosa

1. Definisi
Miringitis akut adalah suatu inflamasi membrane timpani yang terjadi sendiri atau
dihubungkan dengan otitis eksterna maupun otitis media. Miringitis Bulosa (BM)
merupakan suatu keadaan nyeri akut pada telinga yang disebabkan oleh pembentukan
bula pada membrane timpani. Miringitis bulosa sebelumnya telah dijelaskan merupakan
suatu keadaan yang dihubungkan dengan otitis media akut (OMA).
4,5
Refrensi lain
menyatakan bahwa miringitis bulosa adalah bentuk peradangan virus yang jarang pada
telinga yang menyertai selesma dan influenza.
3

2. Insiden
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kejadian miringitis bulosa adalah
kurang dari 10% dari kasus otitis media akut. Di Amerika Serikat, sekitar 8% terjadi
pada anak berusia 6 bulan sampai 12 tahun dengan otitis media telah mengalami
miringitis bulosa akut. Angka kejadian untuk laki-laki dan perempuan adalah sama.
1

3. Etiologi
Sebelumnya, miringitis bulosa dianggap suatu infeksi gendang telinga yang
disebabkan oleh Mycoplasma pneumonia, dan diperkirakan berhubungan dengan
influenza. Beberapa literature menyatakan bahwa miringitis bulosa sering menyertai
kasus influenza, sehingga miringitis bulosa ini sering juga disebut sebagai influenza
otitis. Namun pada beberapa penelitian terbaru, hasil kultur dari kasus miringtis bulosa
telah terbukti mengidentifikasi beberapa agen infeksi yang juga dapat menyebabkan
miringitis bulosa, beberapa agen infeksi tersebut adalah mycoplasma, virus, dan bakteri.
Beberapa bakteri seperti streptococcus pneumonia, haemophillus influenza yang
merupakan agen penyebab otitis media juga dilaporkan dapat menyebabkan miringitis
bulosa.
1,4,5

16

4. Patogenesis
Suatu inflamasi pada membrane timpani, yang disebut miringitis biasanya
disebabkan atau dihubungkan dengan otitis eksterna atau otitis media. Pada otitis media,
umumnya infeksi disebabkan oleh infeksi yang asending melalui tuba eustahcius menuju
ke telinga tengah. Otitis media umumnya mengenai bayi dan anak akan tetapi dapat
terjadi pada semua usia. Lebih dari 50% bayi pernah mengalami episode otitis media
selama tahun pertama kehidupan. Hal ini disebabkan oleh bentuk dan posisi anatomi pada
bayi berbeda dengan anatomi dewasa. Pada anak dan bayi, tuba eustchius bentuknya
lebih lebar dan pendek serta posisinya lebih horizontal, keadaan anatomi ini
memungkinkan penyebaran agen infeksi dari daerah nasofaring menuju telinga tengah
lebih mudah.
4,5,6
Pada proses inflamasinya, terbentuk suatu bula diantara lapisan luar epitel
(cutaneus) dan lapisan fibrosa di bagian tengah membrane timpani. Diperkirakan
kemampuan membrane timpani untuk membentuk bula ini adalah dari hasil reaksi non-
spesifik dari agen infeksius penyebab miringitis. Miringitis bullosa sering disebut sebagai
suatu otitis media akut dengan bula yang terbentuk pada gendang telinga. Middle ear
fluid (MEF) sering ditemukan pada miringitis bulosa dan mungkin timbul sebagai akibat
dari pecahnya bula ke telinga tengah atau bula mungkin telah muncul secara sekunder
setelah radang telinga tengah.
1,4,5,6


5. Manifestasi Klinis
Miringtis bulosa dianggap sebagai penyakit self limiting disease, kadang-kadang
sering dikacaukan oleh infeksi sekunder yang purulen. Gambaran klinis dari miringitis
bulosa antara lain adalah nyeri telinga yang cukup berat (otalgia), biasanya bersifat
berdenyut. Nyeri disebabkan karena bula terbentuk pada daerah yang memiliki banyak
persarafan yaitu pada epitel terluar membrane timpani Nyeri biasanya terletak di dalam
telinga namun dapat menyebar ke ujung mastoid. Pada kebanyakan pasien nyeri mereda
dalam satu atau dua hari, namun beberapa keluhan biasanya dirasakan selama tiga atau
empat hari. Rasa sakit tidak sepenuhnya hilang setelah miringotomi atau bula pecah
spontan. Membran timpani kembali ke keadaan normalnya dalam dua atau tiga minggu.
17

Myringitis bulosa sering terdeteksi hanya unilateral sedangkan di beberapa penelitian
proporsi infeksi bilateral tersebut telah 11-33%. Peningkatan suhu tubuh biasanya terlihat
dalam perjalanan awal myringitis tersebut
1,3,4,5


6. Diagnosis
Penegakan diagnosis pada miringitis bulosa didasarkan pada anamnesis dan
pemeriksaan fisik :
1,4,5
1) Anamnesis
Secara umum, keluhan utama pasien yang mengalami miringitis adalah nyeri
pada daerah telinga yang onsetnya 2-3 hari. Nyeri disebabkan karena bula terbentuk
pada daerah yang memiliki banyak persarafan yaitu pada epitel terluar membrane
timpani. Gangguan pendengaran berupa tuli konduksi atau tuli sensorineural dapat
dikeluhkan pada beberapa pasien. Dari anamnesis juga sering didapatkan adanya
riwayat trauma pada telinga akibat membersihkan telinga ataupun riwayat penetrasi
benda asing ke dalam telinga. Adanya riwayat penyakit saluran pernafasan dan
gangguan telinga sebelumnya juga perlu ditanyakan.

2) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan yang penting untuk mendiagnosa miringitis bulosa adalah
otoskopi. Otoskopi menunjukkan suatu membrane timpani meradang dengan satu
atau lebih bula. Bula ini penuh dengan cairan bening agak kekuningan atau
perdarahan. Selain itu didapatkan reflex cahaya yang memendek atau hilang sama
sekali. Pada beberapa kasus, dapat didapatkan nyeri ketika pinna di tarik.
Kultur atau uji sensitifitas eksudat diperlukan untuk mengidentifikasi infeksi
sekunder.

7. Diagnosis Banding :
Komplikasi otitis media
Otitis eksterna
Otitis media dengan efusi
18

Herpes zoster otikus (Sindroma Ramsay-Hunt)
Sindrom Ramsay-Hunt ini harus dibedakan dengan miringitis akut. Pada Sindrom
Ramsay-Hunt, ada paralisis saraf perifer pada wajah, yang disertai dengan ruam vesikuler
erimatosa di telinga (oticus zoster) atau di dalam mulut, dan lepuh terlihat dalam banyak
kasus di daerah antiheliks, fosa antiheliks dan atau lobules.Dalam beberapa kasus
lepuhan juga terlihat pada liang telinga. Penyebab dari sindrom ini adalah virus varisela
zoster.
1

8. Penatalaksanaan
- Pembersihan kanalis auditorius eksterna
- Irigasi liang telinga untuk membuang debris (kontraindikasi bila status membrane
timpani tidak diketahui)
- Timpanosintesis, yaitu pungsi kecil yang dibuat di membrane timpani dengan
sebuah jarum untuk jalan masuk ke telinga tengah. Prosedur ini memungkinkan
untuk dilakukan kultur dan identifikasi penyebab inflamasi.
- Miringotomi atau insisi bula, dimana pada otitis media akut miringotomi dan
pembuangan cairan mencegah terjadinya pecahnya membrane timpani setelah fase
bulging. Tindakan ini menyembuhkan gejala lebih cepat, dan insisi sembuh lebih
cepat.
1,6



9. Terapi medikamentosa
Prinsip pengobatan adalah meredakan nyeri dan mencegah terjadinya infeksi
sekunder. Penanganan miringitis bulosa terdiri dari pemberian analgetik untuk nyeri dan
pemberian antibiotic untuk pencegahan infeksi sekunder. Dalam hal komplikasi supuratif,
membrane timpani perforasi, atau adanya kecurigaan terhadap mastoiditis, dianjurkan
konsultasi pada dokter ahli.
1,3

10. Komplikasi
Komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh miringitis bulosa antara lain :
1
19

1) Adanya penurunan pendengaran (Bisa tuli konduksi atau tuli sensorineural)
2) Perforasi membrane timpani
3) Paralisis fasialis
4) Vertigo
5) Proses supuratif yang berkelanjutan pada struktur disekitarnya yang dapat
mengakibatkan coalescent mastoiditis, meningitis, abses, sigmoid sinus thrombosis.

11. Prognosis
Dalam kebanyakan kasus, pasien dengan miringitis memiliki prognosis yang baik
apabila bulla di drainase segera oleh ahli THT.
1




Bula pada Membran Timpani.
5




20

DAFTAR PUSTAKA

1. Schweinfurth J. 2009. Middle ear. Tympanic membrane, infection [online]. Available from :
http://emedicine.medscape.com/article/858558- (accesed : march 22
th
2012)
2. Guyton and Hall, Indera Pendengaran. Dalam : Guyton & Hall Buku Ajar Fisiologi
Kedokteran. EGC. Jakarta. 2007.hal.681-692
3. Jung et al.. Diseases of external ear. In: Ballengers Otorhinolaryngology Head and Neck
Surgery 9
th
ed. Northwestern university. Chicago. 2003.p.230-247
4. Roberts, D.B. 1980. A Review : The Etiology of Bullous Myringitis and the Role of
Mycoplasmas in Ear Disease. American Departement of Pediatric.
[cited 2012, march 23] available from :
http://pediatrics.aappublications.org/content/65/4/761.full.pdf (accesed : march 22
th
2012)

5. McCormick et al, 2003. A Case-Control Study : Bullous Myringitis. American Departement
of Pediatric. available from :
http://pediatrics.aappublications.org/content/112/4/982.full.pdf+html (accesed : march 22
th
2012)
6. Djaafar, Zainul A., dkk.. Kelainan Telinga Tengah. Dalam : Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher edisi keenam. Balai Penerbit FK UI. Jakarta.
2007.hal.64-77
7. Soetirto, Indro, dkk.. Gangguan Pendengaran dan Kelainan Telinga.Dalam : Buku Ajar
Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher edisi keenam. Balai Penerbit
FK UI. Jakarta. 2007.hal.10-22
8. Bull, P.D. The Ear: Some Applied Anatomy. In : Disease of The Ear, Nose and Throat, 9
th

ed. University of Sheffield. USA. 2002.p. 1-3
9. Probst et al, Anatomy and Physiology of the Ear. In : Basic Otorhinolaryngology.
Departement of Otorhinolaringology.Germany. 2006.p.154-166