Anda di halaman 1dari 25

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

1.1

Anatomi dan Fisiologi Kornea

Kornea adalah jaringan transparan, yang ukurannya sebanding dengan kristal sebuah jam
tangan kecil. Kornea ini disisipkan ke sklera di limbus, lengkung melingkar pada
persambungan ini disebut sulkus skelaris. Kornea dewasa rata-rata mempunyai tebal 0,54 mm
di tengah, sekitar 0,65 di tepi, dan diameternya sekitar 11,5 mm dari anterior ke posterior,
kornea mempunyai lima lapisan yang berbeda beda, yaitu lapisan epitel (yang bersambung
dengan epitel konjungtiva bulbaris), lapisan Bowman, stroma, membran Descement, dan
lapisan endotel. Batas antara sclera dan kornea disebut limbus kornea. 1

Gambar 1. Anatomi Mata

Kornea terdiri dari 5 lapisan dari luar kedalam, yaitu:2

Lapisan epitel
o

Tebalnya 50 m , terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling
tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel polygonal dan sel gepeng.

Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong kedepan
menjadi lapis sel sayap dan semakin maju kedepan menjadi sel gepeng, sel
basal berikatan erat dengan sel basal disampingnya dan sel polygonal
didepannya melalui desmosom dan macula okluden; ikatan ini menghambat
pengaliran air, elektrolit dan glukosa yang merupakan barrier.

Sel basal menghasilkan membrane basal yang melekat erat kepadanya. Bila
terjadi gangguan akan menghasilkan erosi rekuren.

Epitel berasal dari ectoderm permukaan.

Membran Bowman
o

Terletak dibawah membrana basal epitel kornea yang merupakan kolagen


yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan
stroma.

Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi.

Jaringan Stroma
o

Terdiri atas lamel yang merupakan sususnan kolagen yang sejajar satu dengan
yang lainnya, Pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang dibagian
perifer serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen
memakan waktu lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan.Keratosit
merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblast terletak diantara serat
kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen
dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma.
2

Membran Descement
o

Merupakan membrana aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea


dihasilkan sel endotel dan merupakan membrane basalnya.

Bersifat sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal
40 m.

Endotel
o

Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20-40 mm.
Endotel melekat pada membran descement melalui hemidosom dan zonula
okluden.

Gambar II. Lapisan-Lapisan Kornea

Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensorik terutama berasal dari saraf siliar longus, saraf
nasosiliar, saraf ke V, saraf siliar longus berjalan supra koroid, masuk ke dalam stroma
kornea, menembus membran Bowman melepaskan selubung Schwannya. Bulbus Krause
untuk sensasi dingin ditemukan didaerah limbus. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di
daerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan.2

Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan sistem pompa endotel
terganggu sehingga dekompensasi endotel dan terjadi edema kornea.2

Sumber nutrisi kornea adalah pembuluh - pembuluh darah limbus, humour aquous, dan air
mata. Kornea superfisial juga mendapat oksigen sebagian besar dari atmosfer. Transparansi
kornea dipertahankan oleh strukturnya seragam, avaskularitasnya dan deturgensinya.1

1.2

Definisi Ulkus Kornea

Ulkus kornea adalah hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan kornea.
Terbentuknya ulkus pada kornea mungkin banyak ditemukan oleh adanya kolagenase yang
dibentuk oleh sel epitel baru dan sel radang.2

Gambar III. Ulkus Kornea

1.3

Epidemiologi

Menurut Suharjo dan Fatah Widodo, penelitian di RS Sardjito, Yogyakarta, terhadap 57


kasus ulkus kornea dengan tingkat keparahan ringan (43,9%), sedang (31,6%), dan berat
(24,7%). Faktor predisposisi terbanyak adalah trauma (68,4%). Gambaran mikroskopik dan

kultur dari hasil scraping didapatkan basil gram (26,8%), coccus gram (16,7%), jamur
(13,6%), coccus gram + (7,8%), basil gram + (3%), dan yang tidak terdeteksi (33,4%).
Komplikasi yang terjadi perforasi 6 kasus, desmetocel 2 kasus, dan endopthalmitis 1 kasus.
Keberhasilan terapi yang dinilai dari visus didapatkan visus baik > 6/18 (21,1%), visus
rendah <6/18 (17,5%), buta < 3/60 (33,3%), dan tidak terdeteksi 16 (28,1%).3

1.4

Patofisiologi

Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui cahaya, dalam perjalanan
pembentukan bayangan di retina, karena jernih, sebab susunan sel dan seratnya tertentu dan
tidak ada pembuluh darah. Biasan cahaya terutama terjadi di permukaan anterior dari kornea.
Perubahan dalam bentuk dan kejernihan kornea, segera mengganggu pembentukan bayangan
yang baik di retina. Oleh karenanya kelainan sekecil apapun di kornea, dapat menimbulkan
gangguan penglihatan yang hebat terutama bila letaknya di daerah pupil.

Karena kornea avaskuler, maka pertahanan pada waktu peradangan tidak segera datang,
seperti pada jaringan lain yang mengandung banyak vaskularisasi. Maka badan kornea,
wandering cell dan sel-sel lain yang terdapat dalam stroma kornea, segera bekerja sebagai
makrofag, baru kemudian disusul dengan dilatasi pembuluh darah yang terdapat dilimbus dan
tampak sebagai injeksi perikornea. Sesudahnya baru terjadi infiltrasi dari sel-sel
mononuclear, sel plasma, leukosit polimorfonuklear (PMN), yang mengakibatkan timbulnya
infiltrat, yang tampak sebagai bercak berwarna kelabu, keruh dengan batas-batas tak jelas dan
permukaan tidak licin, kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbullah ulkus kornea.3

Kornea mempunyai banyak serabut saraf, maka kebanyakan lesi pada kornea baik
superfisial maupun profunda dapat menimbulkan rasa sakit dan fotofobia. Rasa sakit juga
diperberat dengan adanaya gesekan palpebra (terutama palbebra superior) pada kornea dan

menetap sampai sembuh. Kontraksi bersifat progresif, regresi iris, yang meradang dapat
menimbulkan fotofobia, sedangkan iritasi yang terjadi pada ujung saraf kornea merupakan
fenomena reflek yang berhubungan dengan timbulnya dilatasi pada pembuluh iris.1

1.5

Etiologi
Infeksi

Infeksi Bakteri

P. aeraginosa,

Streptococcus

pneumonia

dan spesies

Moraxella

merupakan penyebab paling sering. Hampir semua ulkus berbentuk


sentral. Gejala klinis yang khas tidak dijumpai, hanya sekret yang keluar
bersifat mukopurulen yang bersifat khas menunjukkan infeksi P
aeruginosa.

Infeksi Jamur

Disebabkan oleh Candida, Fusarium, Aspergilus, Cephalosporium, dan


spesies mikosis fungoides.

Infeksi Virus

Ulkus kornea oleh virus herpes simplex cukup sering dijumpai. Bentuk
khas dendrit dapat diikuti oleh vesikel-vesikel kecil dilapisan epitel yang
bila pecah akan menimbulkan ulkus. Ulkus dapat juga terjadi pada bentuk
disiform bila mengalami nekrosis di bagian sentral. Infeksi virus lainnya
varicella-zoster, variola, vacinia (jarang).

Acanthamoeba

Acanthamoeba adalah protozoa hidup bebas yang terdapat didalam air


yang tercemar yang mengandung bakteri dan materi organik. Infeksi
kornea oleh acanthamoeba adalah komplikasi yang semakin dikenal pada
pengguna lensa kontak lunak, khususnya bila memakai larutan garam
buatan sendiri. Infeksi juga biasanya ditemukan pada bukan pemakai lensa
kontak yang terpapar air atau tanah yang tercemar.

Noninfeksi

Bahan kimia, bersifat asam atau basa tergantung PH.

Bahan asam yang dapat merusak mata terutama bahan anorganik, organik
dan organik anhidrat. Bila bahan asam mengenai mata maka akan terjadi
pengendapan protein permukaan sehingga bila konsentrasinya tidak tinggi
maka tidak bersifat destruktif. Biasanya kerusakan hanya bersifat
superfisial saja. Pada bahan alkali antara lain amonia, cairan pembersih
yang mengandung kalium/natrium hidroksida dan kalium karbonat akan
terjadi penghancuran kolagen kornea.

Radiasi atau suhu

Dapat terjadi pada saat bekerja las, dan menatap sinar matahari yang akan
merusak epitel kornea.

Defisiensi vitamin A

Ulkus kornea akibat defisiensi vitamin A terjadi karena kekurangan vitamin A


dari makanan atau gangguan absorbsi di saluran cerna dan ganggun
pemanfaatan oleh tubuh.

Kelainan dari membran basal, misalnya karena trauma.

Pajanan (exposure)

Neurotropik

Sistem Imun (Reaksi Hipersensitivitas)

Granulomatosa wagener

Rheumathoid arthritis

A. Ulkus kornea sentral

Ulkus sentral biasanya merupakan ulkus infeksi akibat kerusakan pada epitel. Lesi terletak
disentral, jauh dari limbus vascular. Hipopion biasanya menyertai ulkus (tidak selalu).
Hipopion adalah pengumpulan sel-sel radang yang tampak sebagai lapis pucat dibawah
kamera anterior dan khas untuk ulkus kornea bakteri dan fungi. Meskipun hipopion itu steril
pada ulkus kornea bakteri, kecuali terjadi robekan pada membrane descement, pada ulkus
fungi lesi ini mungkin mengandung unsur fungus.

Etiologi ulkus kornea sentral biasanya bakteri (pseudomonas, pneumokok, moraxela


liquefaciens, streptokok beta hemolitik, klebsiella pneumoni, e.coli, proteus), virus (herpes
simpleks, herpes zoster), jamur (kandida albican, fusarium solani, species nokardia,
sefalosforium dan aspergillus), acanthamoeba.

1. Ulkus Serpens Akut

Ulkus serpens atau ulkus serpenginosa akut menjalar dengan bentuk khusus seperti
binatang

melata

pada

kornea

yang

kebanyakan

disebabkan

oleh

kuman

pneumokokkus. Penyakit ini biasa didapatkan pada petani, buruh tambang, orangorang dengan hygiene buruk, orang jompo, penderita glaucoma, pecandu alkohol dan
obat bius. Biasanya ulkus ini didahului oleh trauma yang merusak epitel kornea dan
akibat cacat kornea maka mudah terjadi invasi ke dalam kornea.

2. Ulkus kornea pseudomonas aerugenosa

Infeksi pseudomonas merupakan infeksi yang paling sering terjadi dan paling berat
dari infeksi kuman patogen gram negatif pada kornea. Kuman ini mengeluarkan
endotoksin dan sejumlah enzik ekstraseluler.

Lesi ulkus yang disebkan pseudomonas aerugenosa mulai di daerah central kornea.
Ulkus central ini dapat menyebar ke samping dan ke dalam kornea.

3. Keratomikosis

Keratomikosis adalah suatu infeksi kornea oleh jamur. Biasanya dimulai dengan
rudapaksa pada kornea oleh ranting pohon, daun, dan bagian tumbuh-tumbuhan. Pada
masa sekarang infeksi jamur bertambah dengan pesat dan dianggap sebagai akibat
sampingan pemakaian antibiotik dan kortikosteroid yang tidak tepat.

Pasien akan merasa sakit hebat pada mata dan silau. Ulkus terlihat menonjol di tengah
kornea dan bercabang-cabang dengan endothelium plaque. Pada kornea terdapat lesi
gambaran satelit dan lipatan descement disertai hipopion.

4. Ulkus ateromatosis

Ulkus ateromatosis adalah ulkus yang terjadi pada jaringan parut kornea. Jaringan
parut kornea atau sikatrik pada kornea sangat rentan terhadap serangan infeksi. Ulkus
ateromatosis berkembang secara cepat kesegala arah. Pada ulkus ateromatosis sering
terjadi perforasi dan diikuti panoftalmitis.

Ulkus ateromatosis biasanya terjadi pada orang yang telah menderita leukoma
sebelumnya. Oleh karena itu kornea menjadi lemah dan tidak sensitif lagi, inilah yang
nanti rentan menjadi infeksi.

Keratoplasty merupakan tindakan yang tepat bila mata dan pengelihatan masih dapat
diselamatkan.

B. Keratitis Herpes Simpleks

Keratitis adalah ulkus kornea paling umum dan penyebab kebutaan kornea paling umum di
Amerika. Bentuk keratitis epitelialnya merupakan kelainan mata yang sebanding dengan
herpes labialis, yang memiliki ciri-ciri imunologik dan patologik yang samainfeksi okular
Herpes Simplex Virus (HSV) pada pejamu imunokompeten biasanya sembuh sendiri, pada
pejamu yang lemah imun, termasuk pasien yang diobati dengan kortikosteroid topikal,
perjalannannya dapat kronik dan merusak.

C. Ulkus kornea perifer

Ulkus perifer merupakan peradangan kornea bagian perifer berbentuk khas yang biasanya
terdapat daerah jernih antara limbus kornea dengan tempat kelainannya. Diduga dasar
kelainannya adalah suatu reaksi hipersensitifitas terhadap eksotoksin bakteri. Ulkus yang
terutama terdapat pada bagian perifer kornea, biasanya terjadi akibat alergi, toksik, infeksi
10

dan penyakit kolagen vascular. Biasanya bersifat rekuren, dengan kemungkinan terdapatnya
Streptococcus pneumoniae, Hemophillus aegepty, Moraxella lacunata dan Esrichia.

Ulkus kornea perifer antara lain berupa:

1. Ulkus dan infiltrate marginal

Ulkus marginal merupakan peradangan kornea bagian perifer berbentuk khas


yang biasanya terdapat daerah jernih antara limbus kornea dengan tempat
kelainannya. Sumbu memenjang daerah peradangan biasanya sejajar dengan
limbus kornea. Diduga dasar kelainanya adalah suatu reaksi hipersensitivitas
terhadap eksotoksin stafilokokkus. Penyakit infeksi lokal dapat menyebabkan
keratitis kataral atau keratitis marginal ini. Keratitis marginal kataral biasanya
pada pasien setengah umur dengan adanya blefarokonjungtivitis.

Ulkus yang terdapat terutama dibagian perifer kornea, yang biasanya terjadi
akibat alergi, toksik, infeksi, dan penyakit kolagen vaskuler. Ulkus marginal
merupakan ulkus kornea yang didapatkan pada orang tua yang sering
dihubungkan dengan reumatik dan debilitas. Hampir 50% kelainan ini
berhubungan dengan infeksi stafilokokkus.

2. Ulkus Mooren

Ulkus Mooren adalah suatu ulkus menahun superfisial yang dimulai dari tepi
kornea dengan bagian tepinya bergaung dan berjalan progresif tanpa
kecenderungan perforasi. Lambat laun ulkus ini mengenai seluruh kornea.

11

Penyebab ulkus Mooren sampai sekarang belum diketahui. Banyak teori yang
diajukan

dan

diduga

penyebabnya

hipersensitivitas

terhadap

protein

tuberkulosis, virus, autoimun, dan alergi terhadap toksin ankilostoma.

1. 6. Manifestasi Klinis

a. Gejala Subjektif

Eritema pada kelopak mata dan konjungtiva

Sekret mukopurulen

Merasa ada benda asing di mata

Pandangan kabur

Mata berair

Bintik putih pada kornea, sesuai lokasi ulkus

Fotofobia

Nyeri

b. Gejala Objektif

Injeksi siliar

Hilangnya sebagian jaringan kornea, dan adanya infiltrat

Hipopion

1.7. Diagnosis

Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan klinis
dengan menggunakan slit lamp dan pemeriksaan laboratorium. Anamnesis pasien penting
pada penyakit kornea. Sering dapat diungkapkan adanya riwayat trauma, benda asing, abrasi.
Adanya riwayat penyakit kornea yang sebelumnya, misalnya keratitis akibat infeksi virus
12

herpes simplek yang sering kambuh. Hendaknya pula ditanyakan riwayat pemakaian obat
topikal oleh pasien seperti kortikosteroid yang merupakan predisposisi bagi penyakit bakteri,
fungi, virus terutama keratitis herpes simplek. Juga mungkin terjadi imunosupresi akibat
penyakit sistemik, seperti: diabetes, AIDS, keganasan, selain oleh terapi imunosupresi
khusus.1

Disamping itu perlu juga dilakukan pemeriksaan diagnostik seperti :

Ketajaman penglihatan

Tes refraksi

Tes air mata

Pemeriksaan slit-lamp

Keratometri (pengukuran kornea)

Respon reflek pupil

Pewarnaan kornea dengan zat fluoresensi.

Goresan ulkus untuk analisa atau kultur (pulasan gram, giemsa atau KOH)

Pada jamur dilakukan pemeriksaan kerokan kornea dengan spatula kimura dari dasar
dan tepi ulkus dengan biomikroskop dilakukan pewarnaan KOH, gram atau Giemsa.
Lebih baik lagi dengan biopsi jaringan kornea dan diwarnai dengan periodic acid
Schiff. Selanjutnya dilakukan kultur dengan agar sabouraud atau agar ekstrak
maltosa.

1.8. Penatalaksanaan

Ulkus kornea adalah keadan darurat yang harus segera ditangani oleh spesialis mata agar
tidak terjadi cedera yang lebih parah pada kornea. Pengobatan pada ulkus kornea tergantung
penyebabnya, diberikan obat tetes mata yang mengandung antibiotik, anti virus, anti jamur,
13

sikloplegik dan mengurangi reaksi peradangan dengann steroid. Pasien dirawat bila
mengancam perforasi, pasien tidak dapat memberi obat sendiri, tidak terdapat reaksi obat dan
perlunya obat sistemik.

Benda asing dan bahan yang merangsang harus segera dihilangkan. Lesi kornea sekecil
apapun harus diperhatikan dan diobati sebaik - baiknya. Konjungtuvitis, dakriosistitis harus
diobati dengan baik. Infeksi lokal pada hidung, telinga, tenggorok, gigi atau tempat lain harus
segera dihilangkan.

Infeksi pada mata harus diberikan :

Sulfas atropine sebagai salap atau larutan, Kebanyakan dipakai sulfas atropine karena
bekerja lama 1-2 minggu. Efek kerja sulfas atropine : Sedatif, menghilangkan rasa
sakit, Dekongestif, menurunkan tanda-tanda radang, Menyebabkan paralysis M.
siliaris dan M. konstriktor pupil. Dengan lumpuhnya M. siliaris mata tidak
mempunyai daya akomodsi sehingga mata dalan keadaan istirahat. Dengan
lumpuhnya M. konstriktor pupil, terjadi midriasis sehinggga sinekia posterior yang
telah ada dapat dilepas dan mencegah pembentukan sinekia posterior yang baru.

Skopolamin sebagai midriatika.

Analgetik.

Untuk menghilangkan rasa sakit, dapat diberikan tetes pantokain, atau tetrakain tetapi
jangan sering-sering.

Antibiotik

Anti biotik yang sesuai dengan kuman penyebabnya atau yang berspektrum luas
diberikan sebagai salap, tetes atau injeksi subkonjungtiva. Pada pengobatan ulkus

14

sebaiknya tidak diberikan salap mata karena dapat memperlambat penyembuhan dan
juga dapat menimbulkan erosi kornea kembali.

Anti jamur

Terapi medika mentosa di Indonesia terhambat oleh terbatasnya preparat komersial yang
tersedia berdasarkan jenis keratomitosis yang dihadapi bisa dibagi :

1. Jenis jamur yang belum diidentifikasi penyebabnya : topikal amphotericin B 1, 2, 5


mg / ml, Thiomerosal 10 mg / ml, Natamycin > 10 mg / ml, golongan Imidazole
2. Jamur berfilamen : topikal amphotericin B, thiomerosal, Natamicin, Imidazol
3. Ragi (yeast) : amphotericin B, Natamicin, Imidazol
4. Actinomyces yang bukan jamur sejati : golongan sulfa, berbagai jenis anti biotic

Anti Viral

Untuk herpes zoster pengobatan bersifat simtomatik diberikan streroid lokal untuk
mengurangi gejala, sikloplegik, anti biotik spektrum luas untuk infeksi sekunder
analgetik bila terdapat indikasi.

Untuk herpes simplex diberikan pengobatan IDU, ARA-A, PAA, interferon inducer.

Keratoplasti adalah jalan terakhir jika urutan penatalaksanaan diatas tidak berhasil.
Indikasi keratoplasti terjadi jaringan parut yang mengganggu penglihatan, kekeruhan
kornea yang menyebabkan kemunduran tajam penglihatan, serta memenuhi beberapa
kriteria yaitu :

1. Kemunduran visus yang cukup menggangu aktivitas penderita


2. Kelainan kornea yang mengganggu mental penderita.

15

3. Kelainan kornea yang tidak disertai ambliopia.

1.9. Komplikasi dan Prognosis

Komplikasi yang paling sering timbul berupa:

Kebutaan parsial atau komplit dalam waktu sangat singkat

Kornea perforasi dapat berlanjut menjadi endoptalmitis dan panopthalmitis

Prolaps iris

Sikatrik kornea

Katarak

Glaukoma sekunder

Prognosis

Prognosis ulkus kornea tergantung pada tingkat keparahan dan cepat lambatnya
mendapat pertolongan, jenis mikroorganisme penyebabnya, dan ada tidaknya komplikasi
yang timbul. Ulkus kornea yang luas memerlukan waktu penyembuhan yang lama, karena
jaringan kornea bersifat avaskular. Semakin tinggi tingkat keparahan dan lambatnya
mendapat pertolongan serta timbulnya komplikasi, maka prognosisnya menjadi lebih buruk.
Penyembuhan yang lama mungkin juga dipengaruhi ketaatan penggunaan obat. Dalam hal
ini, apabila tidak ada ketaatan penggunaan obat terjadi pada penggunaan antibiotika, maka
dapat menimbulkan resistensi

16

BAB II
LAPORAN KASUS

Identitas Pasien

Nama

: Tn. S

MR

: 308175

Umur

: 35 tahun

Pekerjaan

: Petani

Suku Bangsa : Sunda

Alamat

: Nagrek, Jawa Barat

Anamnesis (tanggal 16 Maret 2013)

Keluhan Utama :

Mata kiri merah dan penglihatan kabur sejak 2 bulan yang lalu

Riwayat Penyakit Sekarang

Mata kiri merah dan penglihatan kabur sejak 2 bulan yang lalu

Gejala mata merah ini dirasakan oleh pasien sejak 2 bulan yang lalu. Namun sejak 1
bulan belakangan, penglihatan pasien mulai terasa kabur dan terasa sakit dan tampak
warna putih dan bercak hitam di mata.

Penglihatan kabur pada mata kiri seperti ada benda yang menghalangi dan terjadi
secara berangsur-angsur.
17

Terasa sangat nyeri dan silau jika melihat cahaya terang

Riwayat mata kiri tertusuk rumput sejak 2 bulan yang lalu.

Riwayat mata kiri terasa gatal disangkal

Riwayat pasien menggosok-gosok mata ada dengan tangan dan kain

Riwayat kontak dengan penderita sakit mata tidak ada.

Pasien pernah berobat ke dokter selama 1 bulan belakangan dan diberikan obat tetes
bewarna putih, namun pasien lupa nama obatnya, dan pasien merasakan tidak ada
perubahan, lalu pasien dirujuk ke RSUD Ciamis

Riwayat Penyakit Dahulu

Tidak ada sakit yang seperti ini sebelumnya

Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada anggota keluarga pasien yang menderita penyakit seperti ini.

Pemeriksaan Fisik
Status Oftalmikus
STATUS
OFTALMIKUS
Visus tanpa
koreksi
Visus dengan
koreksi

OD

OS

6/60

6/30

Refleks fundus

Silia / supersilia

Trichiasis (-) , Madarosis (-)

Trichiasis (-) , Madarosis (-)

Palpebra superior

Ptosis (-), Edema (-), Tanda


Radang(-)

Palpebra inferior

Edema (-) , Tanda Radang (-)

Ptosis (-) , Edema (+),


Tanda Radang (+)
Edema (+) , Tanda Radang (+)

18

Aparat lakrimalis

Dalam batas normal

Dalam batas normal

Konjungtiva
Tarsalis

Hiperemis (-), Papil (-), folikel (-)

Hiperemis (+), Papil (-), folikel


(-)

Konjungtiva
Forniks

Hiperemis (-)

Hiperemis (+)

Injeksi siliar (-)

Injeksi siliar (+)

Injeksi konjunktiva (-)

Injeksi konjunktiva (+)

Hemoragik subkonjunktiva (-)

Hemoragik subkonjunktiva (-)

Hiperemis (-)

Hiperemis (+)

Sklera

Injeksi (-) , warna putih

Injeksi (+), warna merah

Kornea

Bening

Ulkus ukuran 8 x 8 mm,


perlunakan kornea (+).

Cukup dalam

Cukup dalam

Coklat , Rugae (+), prolaps (-)

Coklat , Rugae (+), prolaps (+)

Pupil

Bulat sentral (+), Refleks cahaya


langsung (+)

Tidak bulat sentral (+), Reflek


cahaya langsung (+)

Lensa

Bening

Lensa sulit dinilai

Korpus vitreum

Bening

Sulit dinilai

Normal palpasi

Tidak dilakukan

Ortho

Ortho

Bebas

Bebas

Konjungtiva
Bulbii

Kamera Okuli
Anterior
Iris

Tekanan bulbus
okuli
Posisi bulbus
okuli
Gerakan bulbus
okuli

Spasme

hiperemis

Prolaps iris (sinekia anterior)


Tidak bulat sentral
infiltrate
Gambar

19

Pemeriksaan Penunjang :
1. Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang
Diagnosis Banding :
1. Ulkus Kornea Perforata OS
2. Ulkus Serpens OS
3. Keratomikosis OS
Diagnosis
Kerja :
Ulkus Kornea Perforata OS
Rencana Terapi :
Topical :

LFX tiap 1 jam OS


Noncorted tiap 1 jam OS

20

BAB III
DISKUSI

Pasien laki-laki, usia 35 tahun datang ke Poliklinik mata RSUD Ciamis tanggal 16 Maret
2013.

Dari anamnesa di dapatkan bahwa pasien merasakan mata kiri merah, terasa sangat nyeri
penglihatan kabur sejak 2 bulan yang lalu. Namun sejak 1 bulan belakangan ini, pasien
menyadari bahwa penglihatannya semakin kabur, dan terlihat bintik putih di mata dan
terdapat bintik hitam juga. Pasien juga mengeluhkan ada riwayat mata kiri berair sejak 2
bulan yang lalu. Mata kiri terasa nyeri dan silau jika melihat cahaya terang. Riwayat trauma
tertusuk rumput pada mata kiri. Riwayat menggosok-gosok mata dengan tangan dan kain ada.
Riwayat ada bintik putih sebelumnya disangkal.

Dari pemeriksaan fisik pada mata kanan ditemukan visus pada mata kiri 6/30, reflek fundus (), injeksi siliar (+), injeksi konjungtiva (+) ini di karenakan pasien pada 1 bulan post trauma
tidak mendapatkan pengobatan samasekali. Dari pemeriksaan slit lamp, ditemukan ulkus di
perifer ukuran 8x8 mm, dan ada perlunakan kornea. Pupil tidak bulat sentral sebagian
tertarik kearah prolaps iris. Iris prolaps dan terdapat sinekia anterior. Lensa sulit dinilai,
korpus vitreus sulit dinilai dan pemeriksaan fundus juga sulit dinilai

Dari anamnesa dan pemeriksaan fisik tersebut dapat disimpulkan berbagai kemungkinan :

Ulkus serpent

Ulkus serpent merupakan ulkus kornea sentral yang kebanyakan disebabkan oleh
kuman pneumokokkus. Penyakit ini biasa didapatkan pada petani, orang-orang

21

hygiene buruk, pecandu alcohol dan obat bius. Biasanya di dahului oleh trauma yang
merusak epitel kornea dan akibat cacat kornea maka mudah terjadi invasi ke dalam
kornea.

Pasien akan merasakan nyeri pada kelopak mata dan mata, silau, lakrimasi dan tajam
penglihatan menurun. Pada pasien akan terlihat kekeruhan kornea dimulai dari sentral
yang mempunyai ciri khas berupa ulkus yang berbats tegas pada sisi sisi yang paling
aktif, disertai infiltrate bewarna kuning yang mudah pecah dan menyebabkan
pembentukan ulkus.

Ulkus ini juga ditandai dengan gejala khas berupa adanya hipopion steril yang terjadi
akibat rangsangan toksin kuman pada badan siliar. Pada konjungtiva terdapat tandatanda peradangan yang berat berupa injeksi konjungtiva dan injeksi siliar yang berat.

Pada pasien ini, didapatkan beberapa gejala yang mengarah ke ulkus serpent seperti
nyeri pada kelopak mata dan mata, silau, lakrimasi dan tajam penglihatan menurun,
namun tidak ditemukan adanya sekret yang mukopurulen seperti khasnya ulkus pada
bakteri. Tetapi untuk menilai gambaran ulkus, tidak ditemukan yang khas. Ini
mungkin dikarenakan pasien telah mendapat pengobatan sebelumnya. Sehingga tanda
peradangan yang berat tidak jelas terlihat. Kemudian dari segi pekerjaan pada pasien
ini adalah seorang petani, maka dari itu ulkus serpent masih bisa ditegakkan dan di
jadikan diagnose banding.

Keratomikosis

Adalah infeksi kornea karena jamur. Biasanya dimulai dengan adanya trauma oleh
ranting pohon, daun, dan bagian-bagian tumbuhan. Tapi pada saat sekarang infeksi

22

jamur bertambah dengan pesat dan dianggap sampingan pemakaian antibiotic dan
kortikosteroid yang tidak tepat.

Pasien akan merasakan sakit mata yang hebat, dan silau pada mata. Ulkus terlihat
menonjol di tengah kornea dan bercabang cabang dengan endothelium plaque.
Permukaan ulkus menonjol dengan infiltrate yang bewarna putih keabu-abuan. Ulkus
pada jamur yang berpigmen akaan bewarna coklat atau hitam; menonjol, kering kasar
pada permukaan kornea. Pada kornea terdapat lesi gambaran satelit dan lipatan
descement disertai hipopion.

Pada kasus pasien ini, pasien adalah seorang petani yang tertusuk rumput matanya..
Pasien rutin pergi ke sawah. Ini bisa sebagai factor predisposisi terjadina
keratomikosis. Dalam hal ini, keratomikosis belum bisa ditegakkan. Perlu dilakukan
pemeriksaan mikroskopik dengan KOH 10% terhadap kornea menunjukkan adanya
hifa. Bahkan pada agar Sabourd dilakukan dengan kerokan pada pinggir ulkus kornea
sesudah diberikan obat anastesi, kemudian dibilas bersih dan dibiakkan dlam suhu
37C

Untuk pengobatan yang diberikan kepada pasien, diberikan

LFX

Mengandung antibiotic Levofloxacin golongan quinolon, ini digunakan sebagai


pengobatan topical untuk infeksi eksternal mata terutama yang disebabkan oleh
bakteri gram negatif seperti P.aeruginosa,Klebsiela sp, juga terhadap strain yang
sensitif seperti Staphylococus aureus, Streptococus, S. pneumonia, Enterrococus sp,
Pseudomonas sp, Haemophyllus sp. Pada pasien ini diberikan antibiotic karena pasien

23

ini mengalami trauma yaitu tertusuk rumput, kemungkinan terkena infeksi sangat
besar apalagi hal ini sudah dialami pasien selama 2 bulan.

Noncort

Mengandung Natriun Diklofenak 1 mg yang merupakan derivate asam fenilsalisilat


yang mempunyai daya anti inflamasi dan analgesic. Bekerja dengan cara
menghambat enzim siklooksigenase yang merupakan bagian penting dalam biosintesa
prostaglandin.

Prostaglandin adalah mediator dalam inflamasi intraokuler yang dapat menyebabkan


gangguan barrier dalam humor aquous, vasodilatasi, peningkatan permeabilitas
vaskuler. Leukositosis dan kenaikan tekanan intraokuler.

Pada pasien ini diberikan noncort karena pada anamnesa pasien mengeluhkan adanya
mata merah yang merupakan tanda radang dan terdapat nyeri.

24

DAFTAR PUSTAKA
1. Vaughan dkk. 2000. Oftalmologi Umum. Edisi 14. Jakarta: Widya Medika
2. Ilyas, Sidarta. 2004. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Jakarta: FKUI
3. Suharjo, Fatah Widodo. 2007. Tingkat keparahan Ulkus Kornea di RS Sarjito Sebagai
Tempat Pelayanan Mata Tertier. Dikutip dari www.tempo.co.id
4. Wijaya, Nana. 1989. Kornea dalam Ilmu Penyakit Mata. Cetakan ke-4
5. WHO. 2004. Guidelines for the Management of Corneal Ulcer at Primary, Secondary,
and Tertiary Care health facilities in the South-East Asia Region.

25