Anda di halaman 1dari 26

Mutia Mandallassari

31101200266
SGD 6
LI Bahan Belajar LBM 4 Blok 17 Management
Of Dental & Supporting Tissues Diseases
I.

Treatment Planning

RENCANA

PERAWATAN
Diagnosis ortodonsi dianggap lengkap bila daftar problem
pasien diketahui dan antara problem patologi dan perkembangan
dipisahkan .

Tujuan rencana perawatan adalah mendisain strategi


operator dengan bijaksana dan hati-hati

dalam

menggunakan keputusannya yang digunakan untuk


menyelesaikan

problem

memaksimalkan

manfaat

tersebut
bagi

dengan

pasien

dan

meminimalkan beaya dan risiko.


RANGKAIAN

DARI

TAHAP

RENCANA

PERAWATAN

ORTODONTIK
Hasil diagnosis disusun dalam daftar yang lengkap problem
pasien. Meskipun ada beberapa problem patologi yang tercatat,
tetapi jika 5 karakteristik dari maloklusi digunakan di dalam
struktur daftar problem, maka akan didapat maksimum 5
problem besar dari perkembangan , meskipun rata-rata pasien
tidak mempunyai sebanyak itu. Jika daftar problem tentang
perkembangan

dijumpai

dihubungkan

dengan

maloklusi

seharusnya dibuat skema klasifikasinya untuk mempermudah

proses rencana perawatan. Mempunyai problem yang banyak


pada daftar problem akan membingungkan.
1. Langkah

pertama

dalam

merencanakan

perawatan

ortodontik adalah memisahkan problem patologi dari


problem

ortodontik

(perkembangan),

maka

proses

rencana perawatan dapat diatur sebagai berikut.


1) problem ortodontik dijadikan prioritas
2) catat kemungkinan perawatan dengan lengkap
3) evaluasi kemungkinan solusinya, pertimbangkan
factor-faktor yang berpengaruh
4) jelaskan

konsep

rencana

perawatan

dengan

pasien dan keluarganya


5) buat rencana perawatan secara detail dan tahaptahapnya
Prinsip terpenting adalah bahwa pasien tidak harus dalam
keadaan kesehatan yang sempurna jika mendapat perawatan
ortodontik.

Tetapi

jika

ada

penyakit

atau

patologi

yang

menyertainya harus sudah dalam pengawasan. Artinya penyakit


kronik atau akut yang mungkin ada harus dihentikan. Untuk
kasus ini problem patologi harus di rawat sebelum perawatan
ortodontik dimulai. Pada rangkaian perawatan , perawatan
ortodontik dilakukan sesudah mengontrol keadaan penyakit
sistemik, perawatan periodontal dan pembuatan restorasi gigi.
Contoh kasus : pasien dengan problem patologi ada inflamasi
flap pada molar dua bawah, rencana perawatannya adalah
melakukan irigasi dan observasi dengan menjaga oral hygiene .
Juga adanya attached gingival yang minimal pada anterior
bawah ,

rencana

perawatannya

adalah

hanya

diobservasi

selama tahap perawatan ortodontik

Patologi problem:
Inflamasi flap diatas molar dua bawah ------ irigasi, observasi
Attachment gingival yang minimal pada anterior bawah ------- tidak
dirawat dulu , tetapi diobservasi

DAFTAR PRIORITAS PROBLEM ORTODONTIK


Problem

ortodontik

pasien

dijadikan

prioritas

dalam

membuat tahap proses rencana perawatan, dengan maksud


memaksimalkan manfaat bagi pasien, karena itu problem harus
diidentifikasi dan rencana perawatan harus difokuskan pada
keluhan pasien. Sebagai contoh, jika pasien mengeluh adanya
protrusi dan gigi insisivus yang tidak teratur, maka harus
memprioritaskan keluhannya walaupun ada gigi molar yang
hilang dan memerlukan perawatan prostodontik. Sebaliknya jika
protrusi dan gigi yang tidak teratur bukan merupakan keluhan
pasien tetapi ada problem fungsi oklusal, maka mengganti gigi
yang hilang merupakan prioritas perawatan.
Kesukaran selalu akan dihadapi oleh operator

untuk

menghindari terjadinya benturan kepentingan. Sebagai contoh


pasien dengan keluhan protrusi dagu dan mempunyai maloklusi
klas III. Jika operator memfokuskan perhatiannya kepada problem
maloklusi klas III dan
baik dan

membuat gigi-gigi

menjadi oklusi yang

mengacuhkan kondisi dagunya, kelihatannya pasien

akan puas dengan hasil perawatan, tetapi rencana perawatan


yang dibuat tidak sesuai dengan problem pasien.
Contoh kasus : pasien dengan deep overbite yang besar,
skeletal dan dental., ada crowding derajat sedang pada maksila
dan ringan pada mandibula. Relasi molar tonjol klas II. Pada
pasien ini koreksi elongasi insisivus adalah kunci pertama
perawatan

Daftar prioritas problem


1. deepbite yang dalam, skeletal/ dental
2. crowding maksila moderat dan mandibula ringan
3. klas II 1/2 tonjol

KEMUNGKINAN PERAWATAN
Tahap

selanjutnya

dari

rencana

perawatan

adalah

mendaftar kemungkinan perawatan dari tiap problem dimulai


dari

prioritas

tertinggi.

dipertimbangakn

secara

Pada

tahap

individual

ini

dan

tiap
pada

problem
saat

itu

kemungkinan solusinya dibuat seakan-akan problem pasien


hanya satu.
Pertimbangkan kemungkinan solusi bagi pasien sebagai hal
yang pertama, pada kasus ini overbite sangat besar dan fasial
pendek dengan super erupsi dari gigi insisivus maksila dan
mandibula. Hal ini memerlukan koreksi curve of Spee pada
lengkung bawah dan koreksi kurve pada lengkung atas. Ada 3
jalan yang dapat dilakukan.
1. absolut

intrusi

insisivus

atas

dan

bawah,

dengan

menggerakkan apeks akar mendekati hidung dan tepi


bawah mandibula,
2. relatif

intrusi

insisivus

dengan

mempertahankan

insisivus selagi mandibula tumbuh dan gigi posterior


erupsi,
3. ekstrusi gigi posterior yang memungkinkan mandibula
rotasi ke bawah dan ke belakang
Relatif intrusi dari insisivus dan ekstrusi dari gigi-gigi
posterior pada batasan gerakan gigi adalah sama. Perbedaannya
adalah apakah pertumbuhan vertical ramus mengkompensasi

bertambah tingginya molar ( apakah mandibular plane angle


dipertahankan (relatif intrusi) atau menambah rotasi mandibula
ke bawah dan ke belakang (ekstrusi). Pada usia 17 tahun
pertumbuhan vertical sudah tidak dapat diharapkan atau hanya
terjadi

sedikit,

maka

kemungkinannya.
mendatarkan

absolut

Pada

intrusi

atau

ekstrusi

pertumbuhan

yang

telah

berhenti,

ekstrusi

gigi-gigi

(leveling)

lengkung

dengan

adalah

posterior akan mengakibatkan rotasi mandibula ke bawah dan ke


belakang terutama pada klas II yang hal ini tidak diharapkan
terjadi pada pasien. Maka intrusi adalah solusi yang terbaik
untuk memperbaiki deep overbite meskipun akan menimbulkan
perawatan yang kompleks.
Problem kedua adalah crowding gigi insisivus yang berat
pada lengkung atas dan ringan pada lengkung bawah. Untuk
menentukan apakah akan dilakukan ekspansi rahang atau
ekstraksi premolar di pertimbangkan atas keadaan posisi akhir
insisivus . Pasien ini mempunyai hidung dan dagu yang maju,
sehingga estetik akan lebih baik bila insisivus lebih maju. Secara
estetik

akan

tidak

menguntungkan

bila

dilakukan

retraksi

insisivus karena akan menyebabkan hidung nampak besar, tetapi


jika ekstraksi tetap akan dilakukan maka penutupan ruang
dilakukan dengan cara memajukan gigi posterior

ke depan.

Anchorage untuk mengintrusi gigi anterior akan tidak sesuai


dengan pola penutupan ruang ini. Oleh karena itu jika intrusi
insisivus merupakan pilihan yang terbaik , maka ekspansi
lengkung juga harus dipertimbangkan.
Problem

ketiga

adalah tendensi klas

II, yang dapat

diperbaiki dengan pertumbuhan mandibula, tetapi pasien ini


telah selesai masa pertumbuhannya. Karena itu pemakaian
elastik klas II yang menarik lengkung mandibula ke depan dapat

dipertimbangkan walaupun elastik ini cenderung menyebabkan


ekstrusi molar bawah dan dapat merotasi mandibula kebawah
dan kedepan, karenanya pemakaiannya harus hati-hati.

Kemungkinan solusi problem


Deep overbite, skeletal/ dental---- elongasi gigi posterior,
mempertahankan insisivus:
- continuous arch wite
- intrusi relatif ( sesuai pertumbuhan vertical)
- ekstrusi ( akibatnya mandibula rotasi ke bawah kebelakang)
intrusi insisivus dengan elongasi minimal molar
- segmented arch wire
- intrusi absolut ( tanpa mempertimbangakn pertumbuhan )
crowding insisivus : maksila moderate, mandibula ringan --- ekspansi
kedua lengkung
- mengakibatkan insisivus maju
ekstraksi premolar satu atas
- mengakibatkan molar atas maju
ekstraksi premolar satu atas, premolar dua bawah
- dapat meretraksi insisivus kedua lengkung yang tak diharapkan
tendensi klas II
pertumbuhan mandibula yang diharapkan ????
bedah ortognatik ????
lengkung bawah dimajukan dengan elastik klas II

DETAIL RENCANA PERAWATAN


Pada rencana perawatan

kasus Klas II yang akan dirawat

dengan alat fungsional sehubungan dengan adanya modifikasi


pertumbuhan akan melibatkan mekanoterapi yang digunakan.
Mekanoterapi

dapat

berupa

bionator

dengan

memajukan

mandibula 4 mm, insisivus mandibula ditutupi, gigi-gigi posterior


mandibula dibiarkan erupsi, dan gigi-gigi maksila diblok secara

vertical. Pemilihan prosedur perawatan harus memenuhi kriteria


efektif dalam mencapai hasil yang diharapkan dan efisien dalam
waktu perawatan. Sebagai contoh jika rencana perawtan adalah
mengekspansi lengkung maksila yang sempit, kemungkinan
dapat dilakukan dengan spring pada alat removable, ekspansi
lengkung lingual

Rencana perawatan final(tanpa ekstraksi)


Konsep perawatan:
- koreksi overbite dengan intrusi insisivus
- koreksi crowding dengan ekspansi lengkung
- meminimumkan mandibula untuk rotasi ke bawah & belakang
Mekanoterapi
- molar band, bonding gigi yg lain, maxillary transpalatal lingual arch
- mengatur gigi-gigi anterior, segmen posterior harus stabil
- intrusi insisivus, pemakaian segmented arch mechanics
- elastik klas II untuk mengoreksi hubungan anteroposterior
Retensi : pertahankan gigi-gigi, pembukaan gigitan, maksila dengan
removable, mandibula dengan fixed/ removable

(source : Buku Ajar Orthodonsi III UGM)


II.

Analisa Model Study


Definisi
Analisis model studi adalah penilaian tiga
dimensi terhadap gigi geligi pada rahang atas
maupun rahang bawah, serta penilaian terhadap
hubungan oklusalnya. Kedudukan gigi pada rahang
maupun hubungannya dengan geligi pada rahang
lawan dinilai dalam arah sagital, transversal, dan
vertikal.

(source: Rakosi, T., dkk. Color Atlas of Dental


Medicine, Orthodontic-Diagnosis. Edisi I. Germany:
Thieme Medical Publishers. 1993. hal. 3-4, 207-235)
Macam Analisa Model Study
Analisis model studi secara umum dilakukan
dalam tiga dimensi yaitu dalam arah sagital,
transversal, dan vertikal. Penilaian dalam arah sagital
antara lain meliputi: hubungan molar pertama,
kaninus, dan insisif tetap, yaitu maloklusi kelas I,
kelas II, atau kelas III Angle; ukuran overjet, prognati
atau retrognati maksila maupun mandibula, dan
crossbite anterior. Penilaian dalam arah transversal
antara lain meliputi: pergeseran garis median, 5
asimetri wajah, asimetri lengkung gigi, dan crossbite
posterior. Penilaian dalam arah vertikal antara lain
meliputi: ukuran overbite, deepbite, openbite anterior
maupun posterior, dan ketinggian palatum.
(source: Rakosi, T., dkk. Color Atlas of Dental
Medicine, Orthodontic-Diagnosis. Edisi I. Germany:
Thieme Medical
Publishers. 1993. hal. 3-4, 207-235)
Berbagai macam anlisa yang sering digunakan:
1. Kesimetrisan Lengkung Gigi dalam Arah Sagital
dan Transversal Lengkung gigi yang kedudukannya
tidak simetris, biasanya bisa terlihat sejak
pemeriksaan estetika wajah, namun bentuk
lengkung yang tidak simetris bisa juga dijumpai
pada wajah yang simetris. Pada beberapa kasus,
bisa juga dijumpai keadaan asimetri hanya pada

lengkung giginya saja, sementara lengkung


rahangnya normal

Penilaian kesimetrisan lengkung gigi A.


Symmetograph, B. Untuk menilai kesimetrisan
lengkung gigi, kedua jarum penunjuk pada
symmetograph diletakkan pada bidang median
raphe.
Cara untuk mengetahui kesimetrisan lengkung
gigi pada rahang adalah menggunakan
symmetograph. Symmetograph diletakkan di atas
permukaan oklusal gigi dengan bidang orientasi mid
palatal raphe lalu kedudukan gigi di kwadran kiri
dengan kanan dibandingkan dalam arah sagital dan
transveral. Berdasarkan hasil analisis ini dapat
diketahui gigi geligi di kwadran mana yang
memerlukan ekspansi atau pencabutan untuk
mengembalikan kesimetrisan lengkung
2. Perbedaan Ukuran Lengkung (Arch Length
Discrepancy) Langkah pertama dalam analisis ini
adalah mengukur lebar mesial distal terbesar gigi
menggunakan jangka berujung runcing atau jangka
sorong. Analisis Nance mengukur mesial distal setiap

gigi yang berada di mesial gigi molar pertama


permanen. Jumlah lebar total menunjukkan ruangan
yang dibutuhkan untuk lengkung gigi yang ideal.
Selanjutnya panjang lengkung rahang diukur
menggunakan kawat lunak seperti brass wire atau
kawat kuningan. Kawat ini dibentuk melalui setiap
gigi, pada geligi posterior melalui permukaan
oklusalnya sedangkan pada geligi anterior melalui
tepi insisalnya. Jarak diukur mulai mesial kontak
molar pertama permanen kiri hingga kanan. Penilaian
dilakukan dengan cara membandingkan ukuran
panjang lengkung gigi ideal dengan panjang
lengkung rahang. Jika hasilnya negatif berarti
kekurangan ruangan, jika hasilnya positif berarti
terdapat kelebihan ruangan. 1 , 4,7 Teknik lain untuk
mengukur panjang lengkung rahang diperkenalkan
oleh Lundstrom, yaitu dengan cara membagi
lengkung gigi menjadi enam segmen berupa garis
lurus untuk setiap dua gigi termasuk gigi molar
pertama permanen. Setelah dilakukan pengukuran
dan pencatatan pada keenam segmen selanjutnya
dijumlahkan. Nilai ini dibandingkan dengan ukuran
mesial distal 12 gigi mulai molar pertama permanen
kiri hingga kanan. Selisih keduanya menunjukkan
keadaan ruangan yang tersisa.
3.

Analisis Bolton

Bolton mempelajari pengaruh perbedaan ukuran gigi


rahang bawah terhadap ukuran gigi rahang atas
dengan keadaan oklusinya. Rasio yang diperoleh

membantu dalam mempertimbangkan hubungan


overbite dan overjet yang mungkin akan tercapai
setelah perawatan selesai, pengaruh pencabutan
pada oklusi posterior dan hubungan insisif, serta
oklusi yang tidak tepat karena ukuran gigi yang tidak
sesuai. Rasio keseluruhan diperoleh dengan cara
menghitung jumlah lebar 12 gigi rahang bawah
dibagi dengan jumlah 12 gigi rahang atas dan
dikalikan 100. Rasio keseluruhan sebesar 91,3 berarti
sesuai dengan analisis Bolton, yang akan
menghasilkan hubungan overbite dan overjet yang
ideal. Jika rasio keseluruhan lebih dari 91,3 maka
kesalahan A. B. 9 terdapat pada gigi rahang bawah.
Jika rasio kurang dari 91,3 berarti kesalahan ada
pada gigi rahang atas. Pada tabel Bolton
diperlihatkan gambaran hubungan ukuran gigi
rahang atas dan rahang bawah yang ideal.
Pengurangan antara ukuran gigi yang sebenarnya
dan yang diharapkan menunjukkan kelebihan ukuran
gigi. Rasio anterior diperoleh dengan cara
menghitung jumlah lebar 6 gigi rahang bawah dibagi
dengan jumlah 6 gigi rahang atas dan dikalikan 100.
Rasio anterior 77,2 akan menghasilkan hubungan
overbite dan overjet yang ideal jika kecondongan gigi
insisif baik dan bila ketebalan labiolingual tepi insisal
tidak berlebih. Jika rasio anterior lebih dari 77,2
berarti terdapat kelebihan ukuran gigi-gigi pada
mandibula. Jika kurang dari 77,2 maka terdapat
kelebihan jumlah ukuran gigi rahang atas.

10

Tabel Bolton digunakan untuk mengetahui ukuran


ideal enam gigi anterior dan kedua belas gigi, baik
pada rahang atas maupun rahang bawah
4.

Analisis Howes
Howes memikirkan suatu rumusan untuk

mengetahui apakah basis apikal cukup untuk memuat


gigi geligi pasien. Panjang lengkung gigi (Tooth
Material/ TM) adalah jumlah lebar mesiodistal gigi dari
molar pertama kiri sampai dengan molar pertama
kanan. Lebar lengkung basal premolar atau fosa
kanina (Premolar Basal Arch Width/ PMBAW)
merupakan diameter basis apikal dari model gigi pada
apeks gigi premolar pertama, yang diukur
menggunakan jangka sorong atau jangka berujung
runcing. Rasio diperoleh dari membagi PMBAW

11

dengan TM dikalikan 100. Howes percaya bahwa


dalam keadaan normal perbandingan PMBAW dengan
TM kira-kira sama dengan 44%, perbandingan ini
menunjukkan bahwa basis apikal cukup lebar untuk
menampung semua gigi. Bila perbandingan antara
PMBAW dan TM kurang dari 37% berarti terjadi
kekurangan lengkung basal sehingga perlu
pencabutan gigi premolar. Bila lebar basal premolar
lebih besar dari lebar lengkung puncak premolar,
maka dapat dilakukan ekspansi premolar. Analisis
Howes berguna pada saat menentukan rencana
perawatan dimana terdapat masalah kekurangan
basis apikal dan untuk memutuskan apakah akan
dilakukan: (1) pencabutan gigi, (2) memperluas
lengkung gigi atau (3) ekspansi palatal. 3
5. Index Pont
Pont memikirkan sebuah metoda untuk
menentukan lebar lengkung ideal yang didasarkan
pada lebar mesiodistal mahkota keempat insisif
rahang atas. Pont menyarankan bahwa rasio gabungan
insisif terhadap lebar lengkung gigi melintang yang
diukur dari pusat permukaan oklusal gigi, idealnya
adalah 0,8 pada fosa sentral premolar pertama dan
0,64 pada fosa sentral molar pertama. Pont juga
menyarankan bahwa lengkung rahang atas dapat
diekspansi sebanyak 1-2 mm lebih besar dari idealnya
untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya relaps.

12

6. Diagnostic Setup (Casling)


III.

ANALISIS SEFALOMETRI

Foto sefalometri (Sefalogram) merupakan rekam ortodonti


yang sangat berguna untuk menentukan kelainan skeletal, letak
gigi, dan profil wajah. Meskipun demikian penentuan diagnosis
maloklusi tidak dapat hanya didasarkan pada analisis sefalometri
saja. Kombinasi semua analisis akan akan dapat memberikan
gambaran menyeluruh tentang keadaan pasien.
Pemakaian

sefalometri

yang

praktis

dan

sederhana

digunakan untuk mengetahui kelainan letak gigi (protrusi,


retrusi), kelainan letak rahang atas dan rahang bawah terhadap
basis kranium.
Untuk

mengidentifikasi

titik

titik

pada

sefalogram

sebaiknya dikenali lebih dahulu titik titik pada tengkorak kering.


Pertama tama perlu diketahui dulu titik titik yang penting,
kemudian dua titik dihubungkan menjadi garis, dua garis yang
berpotongan menjadi sudut. Pembacaan biasanya pada besarnya
sudut untuk untuk menentukan apakah suatu struktur anatomi
normal atau menyimpang dari normal.
Beberapa titik kranial yang sering dipergunakan
S (Sella)

: titik tengah ruang sella tursika

N (Nasion) : perpotongan bidang sagital dengan sutura


frontonasalis, merupakan pertemuan kranium dan muka
Beberapa titik di maksila yang sering digunakan
A (Subspinale): titik paling dalam pada kontur premaksila di
antara spina nasalis anterior dan gigi insisivi
SNA (Spina Nasalis Anterior) : Ujung spina nasalis anterior
SNP (Spina Nasalis Posterior) : batas posterior palatum
Beberapa titik di mandibula yang sering digunakan

13

B (Submentale)

: titik yang paling dalam pada kontur

mandibula di antara insisivi dan dagu


Po (Pogonion)

: titik paling luar pada dagu

Garis (yang menghubungkan dua titik) yang sering


digunakan
SN : merupakan garis yang menghubungkan Sella dan
Nasion
Analisis Skeletal
Letak maksila dan mandibula dapat dilihat pada sudut SNA,
SNB, dan ANB. Sudut SNA adalah sudut yang dibentuk oleh garis
SN dan titik A. Sudut ini menyatakan posisi maksila yang diwakili
titik A terhadap basis kranial (SN). Besar sudut SNA untuk
populasi surabaya rata rata adalah 84 0. Sedangkan besar sudut
rerata SNA untuk ras Kaukasoid adalah 820. Normalnya SNA
adalah 82 2 (80-84). Besar sudut SNA dipengaruhi letak titik A
dalam

arah

sagital

apakah

lebih

anterior

atau

posterior

sedangkan garis SN bisa dianggap stabil letaknya. Bila sudut SNA


lebih besar dari normal, berarti maksila terletak lebih ke anterior
(kelas 2 skeletal) demikian juga sebaliknya.
Sudut SNB adalah sudut yang dibentuk oleh garis SN dan
titik B. Rata rata untuk populasi surabaya sebesar 81 0,
sedangkan

rata

Normalnya

sudut

rata
SNB

untuk
adalah

ras

Kaukasoid

8002

(78-82).

adalah
Sudut

80 0.
ini

menyatakan posisi mandibula terhadap basis kranial. Besar


sudut dipengaruhi letak titik B dalam arah sagital apakah lebih
anterior atau posterior. Bila sudut SNB lebih besar dari normal,
berarti mandibula terletak lebih ke anterior (kelas 3 skeletal),
begitu juga sebaliknya.

14

Sudut ANB merupakan perbedaan antara sudut SNA dan


SNB dan menyatakan relasi maksila dan mandibula yang
besarnya dalam keadaan normal untuk populasi surabaya adalah
30. Untuk menginterpretasikan sudut ANB, harus diketahui besar
sudut SNA dan SNB karena hanya dengan melihat besar sudut
ANB belum dapat diketahui rahang mana yang tidak normal.
Sebagai contoh, besar sudut ANB 7 0 bisa didapat dari sudut
SNA 880 dan SNB 810 yang berarti maksila lebih ke anterior
sedangkan mandibula letaknya normal, atau bisa juga sudut SNA
840 dan sudut SNB 770 yang berarti letak maksila normal
sedangkan mandibula lebih ke posterior, atau juga maksila lebih
ke anterior misalnya SNA 860 dan mandibula lebih ke posterior
misalnya sudut SNB 790.
Bila hanya diketahui besar sudut ANB, hanya dapat
diketahui

kecenderungan maloklusi yang terjadi

ialah bila

besarnya lebih besar daripada 40 cenderung terdapat maloklusi


kelas II skeletal, sedangkan bila besarnya lebih kecil dari 0 0
(misalnya -20) berarti terdapat maloklusi kelas III skeletal.
Semakin besar sudut ANB semakin besar perbedaan letak
maksila dan mandibula.

15

Garis SN (basis kranii)

Titik titik untuk


Analisis Sefalometri
Daftar Pustaka
Rahardjo, Pambudi. 2009. Ortodonti Dasar Cetakan 1. Surabaya:
Airlangga University Press. ISBN 978-979-1330-39-8.

16

Rahardjo,Pambudi. 2008. Diagnosis Ortodontik Cetakan 1. .


Surabaya: Airlangga University Press. ISBN 978-979-1330-251.

Teknik Pemeriksaan Sefalometri


Standarisasi membutuhkan alat headholder (chepahalostat)
dan tube x-ray yang diletakkan 60 inch dari midsagital plane
subjek dan jarak dari midsagital plane pasien ke film 7,5 inchi.
Pasien diletakkan dalam cephalostat, artinya bagian lateral
disesuaikan dengan telinga pasien dan secara vertikal
disesuaikan dengan nasal. Bagian nasalnya berperan saat
operator menggerakkan kepala pasian supaya Frankfort
Horizontal Planenya paralel dengan lantai.
a. Lateral Head Film
Pasien diposisikan supaya bagian kiri pasien 8-10 inchi dari
film, supaya membuat distorsi semakin kecil. Film harus
diletakkan sedekat mungkin dengan pasien untuk meminimalisir
efek pembesaran, memperbagus resolusi, dan memenuhi
standarisasi teknik.
b. Frontal (Postero-antero)
Pasien dihadapkan dengan film. Setelah kepala pasien
diposisikan sehingga sinar x-ray melewati kepala ke tengah, film
digerakkan hingga menyentuh hidung pasien. Karena radiasi
dibutuhkan lebih banyak untuk mendapatkan gambaran ini,
maka harus lebih banyak radiasinya dibandingkan yang lateral.

IV.

Pemeriksaan Penegakan Diagnosis Orthodonsi


Menurut

Schwarz

(Iman,

2008), diagnosa ortodontik dapat dibagi menjadi:


1. Diagnosa Biogenetik (Biogenetic diagnosa)
2. Diagnosa Sefalometrik (Cephalometric diagnosa)
n3. Diagnosa Gigi geligi (Dental diagnosa)

17

Diagnosa ortodontik terdiri atas daftar semua aspek


menyimpang yang berhubungan dengan oklusi. Hal ini
mendahului rencana perawatan yang dilakukan karena
hubungannya dengan berbagai macam faktor dan
dampak pada perawatan dari diagnosa yang perlu
dipertimbangkan. (Heasman, 2003)
Dalam menangani setiap kasus ortodonti, para praktisi
harus menyusun rencana perawatan yang didasarkan
pada

diagnosa. Menurut

Eka

(2012),

keberhasilan

perawatan ortodonti sangat ditentukan oleh diagnosa,


rencana perawatan, dan mekanoterapi yang tepat.
Untuk menetapkan diagnosa, ada

prosedur

standar

yang

Prosedur

standar

mutlak

untuk

tersebut menurut

dilakukan.

Rakosi

dkk

(1993) meliputi

anamnesis, pemeriksaan klinis intra dan ekstra oral,


analisa

fungsional,

analisa

ronsenologis,

analisa fotografi, pemeriksaan radiologis, dan analisa


model

studi, yang

dilakukan baik secara

langsung

maupun tidak langsung pada pasien. Setiap komponen


data tersebut memiliki peran yang sama pentingnya
dalam menentukan diagnosa ortodontik (Eka, 2012).
Diagnosa dilakukan berdasarkan pengumpulan informasi
secara akurat tentang pasien dari pemeriksaan kasus
secara logis. (Heasman, 2003)
1. Anamnesis
A. Waktu
Pada saat usia 7 sampai 8 tahun, pemeriksaan
terhadap perkembangan oklusi sangat perlu untuk
dicatat, seperti bentuk, posisi dan adanya incisivus
permanen dan untuk merencanakan intervensi yang
sesuai terhadap abnormalitas yang ditemukan yang
akan mempengaruhi urutan erupsi normal. Prognosis
dari gigi molar pertama permanen harus diperiksakan

18

secara

rutin

sejak

umur

tahun,

dan

palpasi

dari kaninus maksila yang akan erupsi ke lengkung gigi


sekitar umur 10 tahun. Deteksi awal dari diskrepansi
skeletal juga akan menunjukan waktu yang optimal
untuk perawatan agar dapat memaksimalkan potensi
pertumbuhan,

tapi

pada

kebanyakan

anak-anak

pemeriksaannya tertunda sampai gigi permanen telah


erupsi.
Semua

dokter

gigi

harus

dapat

melakukan

pemeriksaan ortodontik dasar untuk pasienya dan


merujuk

ke

spesialis

apabila

diperlukan.

Ketika

pertumbuhan gigi dan/atau oklusal menyimpang dari


normal, atau ketika diskrepansi secara signifikan pada
pembentukan dentofasial atau hubungan oklusal pada
pasien yang menyangkut pasien dan berpengaruh
terhadap kesehatan gigi dalam jangka waktu yang lama,
hal tersebut diindikasikan untuk dirujuk.Selain dari data
personal, surat rujukan harus mengandung referensi
secara spesifik terhadap:

Persepsi pasien terhadap masalah

Catatan kehadiran mereka

Tingkat kepekaan mereka terhadap kesehatan gigi

termasuk orang tuanya (jika perlu)

Status kebersihan oral

Perkiraan prognosis dari gigi terestorasi maupun

trauma
Gambaran radiografi terbaru serta cetakan model
rahang pasien juga penting disertakan saat memberikan
rujukan.
Pemeriksaan ortodontik meliputi 3 tahap yaitu :
a. Riwayat yang lengkap
b. Pemeriksaan klinis yang sistematik dan mendalam

19

c. Pengumpulan informasi yang relevan dari evaluasi


khusus yang diperlukan
B.

Kepentingan perawatan

Kebutuhan

perawatan

ortodontik

pada

dasarnya

dipengaruhi oleh dua faktor utama:

Faktor pasien/orang tua, dimana termasuk jenis

kelamin, umur, tingkat kepercayaan diri, persepsi diri


dan lingkungan terhadap masalah oklusi dan gangguan
perkembangan rahang, kelas sosial, dan keinginan
orang tua

Kesadaran dari dokter gigi

2. Riwayat
Pada

dasarnya

dokter

gigi

harus

dapat

mengidentifikasi:

A.

Alasan pasien datang ke dokter gigi

Siapa yang mengajukan tentang perawatan

Perilaku perawatan
Riwayat Kesehatan
Kuesioner tentang

kesehatan

harus dilengkapi oleh setiap pasien atau orang


dan hasil

temuannyadikonfirmasi

lewat wawancara

di

lebih

tuanya,
lanjut

klinik. Beberapa kondisi

kesehatan kemungkinan dapat


memberikanpengaruh terhadap perawatan ortodontik.
B.

Riwayat Kesehatan Gigi


Kebiasaan, perluasan, dan frekuensi dari perawatan gigi
sebelumnya dengan tingkat kerjasama pasien harus
dicatat, bersamaan dengan perilaku kesehatan gigi
pasien sehari-hari. Riwayat kehilangan gigi awal pada
gigi susu serta trauma incisor juga perlu dicatat. Jika
sebelumnya

sudah

pernah

ortodontik,

detail

yang

dilakukan
berhubungan

perawatan
dengan

20

pencabutan gigi dan tipe alatnya harus diperhatikan.


Apabila

perawatannya

ditinggalkan,

pasien

harus

ditanya secara hati-hati untuk alasannya. Untuk pasien


anak, pertanyaan tentang perawatan ortodonsia pada
saudara mereka dan kerjasamanya, mugkin dapat
membantu menilai tingkat kesadaran keluarga tentang
kesehatan gigi dan akan sangat mendukung apabila
ditawarkan dilakukan perawatan. Disarankan juga untuk
menanyakan riwayat tentang sendi TMJ termasuk nyeri,
kelemahan otot maupun kesulitan membuka mulut dan
riwayat apabila pasien menyadari memiliki kebiasaan
bruxism.
C.

Riwayat Sosial

Jarak dari tempat keluarga tinggal dan estimasi waktu


perjalanan

pada

diperhatikan.

saat

Akses

mempermudah

melakukan
terhadap

kesadaran

perjanjian

harus

transportasi,

akan

orang

dewasa

untuk

menemani pasien anak, bersamaan dengan informasi


yang

berhubungan

dengan

kegiatan-kegiatan

yang

mungkin dapat memengaruhi kehadiran juga penting.


3. Pemeriksaan Klinis
Sebelum pasien anak duduk dikursi gigi sangat penting
untuk menentukan umur pasien dilihat dari tingginya
dan tingkat kedewasaannya secara umum. Hal ini juga
dapat memberikan indikasi terhadap potensi tumbuh
dimasa mendatang. Apabila pasien ditemani oleh orang
tua,

genetik

diperhatikan

oklusi

keluarga

(misalnya

juga

diastema

penting
medial).

untuk
Tujuan

pemeriksaan tersebut adalah untuk mencatat dan


mengengevaluasi aspek facial, oklusal dan fungsional
dari pasien untuk melengkapi diagnosa. Pemeriksaan
ekstraoral yang diikuti pemeriksaan intraoral harus
dilakukan.

21

A.

PEMERIKSAAN DALAM MULUT (INTRA ORAL)

Pemeriksaan dalam rongga mulut meliputi aspek-aspek


yang sangat penting dan mempengaruhi hasil perawatan.
Aspek-aspek tersebut adalah:

Keadaan gigi-geligi

Kelainan posisi gigi

Kebersihan mulut;

Gusi

Frenulum labial

Lidah;

Jaringan Lunak langit-langit (mukosa palatal)

Tonsil (amandel)

Garis tengah (median)

Jarak gigit vertikal

Jarak gigit horisontal

Gigitan silang

Celah antar gigi (diastema)

B.

Kurva Spee

PEMERIKSAAN RADIOGRAFI (FOTO RONSEN)


Pemeriksaan foto ronsen yang paling sering dilakukan
adalah
panoramik.

pemeriksaan menggunakan foto


Kegunaan

pemeriksaan

foto

ronsen
ronsen

panoramik adalah:
1.

Melihat hubungan antara gigi-gigi pada satu rahang

dan hubungan gigi-gigi rahang atas dengan rahang bawah.


2.

Melihat tahap perkembangan gigi tetap dan resorbsi

akar gigi sulung. Informasi perkembangan gigi diperlukan


untuk memberikan informasi mengenai perkembangan
oklusi gigi dan waktu yang tepat untuk perawatan.
3.

Melihat

ada tidaknya

kelainan

patologis.

Pemeriksaan panoramik sangat membantu untuk menilai

22

apakah suatu prosedur dental diperlukan sebagai langkah awal


sebelum melakukan perawatan ortodontik. Berbagai struktur
abnormal dapat ditemukan dalam pemeriksaan ini.
C.

ANALISA SEFALOMETRI
Analisa sefalometri terbagi dalam pemeriksaan sefalometri
lateral dan frontal. Adapun kegunaan pemeriksaan sefalometri
adalah untuk:
-

Mempelajari

pertumbuhan

dan

perkembangan

kraniofasial
-

Mendiagnosa kelainan kraniofasial;

Mempelajari profil wajah;

Merencanakan perawatan ortodonti;

Evaluasi hasil perawatan ortodonti;

Merencanakan dan mengevaluasi hasil perawatan

bedah ortognati;

D.

Analisa fungsi sendi rahang; dan

Untuk tujuan penelitian.

ANALISA

FOTOGRAFI

Fotografi

profil

(pandangan

(pandangan

depan)

samping)

dilakukan

untuk

dan

frontal

menganalisa

hubungan antara jaringan keras di sekitar wajah dengan


kontur jaringan lunak. Analisa profil

dapat menjadi

bahanpertimbangan

akan

apakah

pasien

dilakukan

prosedur pencabutan gigi atau tidak. Analisa frontal


memberikan informasi wajah yang simetris atau tidak.
Pada keadaan wajah yang tidak simetris, akan menjadi
bahan pertimbangan apakah akan dikoreksi hanya secara
ortodonti, atau perlu kombinasi dengan pembedahan.
(Eka, 2012).
E.

ANALISA MODEL STUDI

23

Analisa model studi adalah penilaian tiga dimensi


terhadap gigi geligi pada rahang atas maupun rahang
bawah,

serta

penilaian

terhadap

hubungan

oklusalnya. Kedudukan gigi pada rahang maupun


hubungannya
dinilai

dengan geligi

pada rahang

lawan

dalam arah sagital,

transversal,

dan

vertikal (Rakosi dkk, 1993).


Menurut White (1996) model studi sebagai salah satu
komponen

penting

dalam

perawatan

ortodonti

dibuat dengan beberapa tujuan dan kegunaan, yaitu


sebagai

titik

untuk kepentingan

awal

dimulainya

presentasi,

dan

perawatan,
sebagai

data

tambahan untuk mendukung hasil pemeriksaan klinis.


Para praktisi menggunakan model studi bukan hanya
untuk merekam keadaan geligi dan mulut pasien
sebelum perawatan tetapi juga untuk menentukan
adanya perbedaan ukuran, bentuk, dan kedudukan
gigi

geligi

pada

masing-masing

rahang

serta

hubungan antar gigi geligi rahang atas dengan


rahang bawah. Data yang lengkap mengenai keadaan
tersebut lebih memungkinkan jika dilakukan analisa
pada model studi.
F.

PERSIAPAN ANALISA MODEL STUDI


Untuk keperluan diagnosa ortodonti, model studi
harus dipersiapkan dengan baik dan hasil cetakan
harus akurat. Hasil cetakan tidak hanya meliputi
seluruh gigi dan jaringan lunak sekitarnya, daerah di
vestibulum pun harus tercetak sedalam mungkin yang
dapat diperoleh dengan cara menambah ketinggian
tepi sendok cetak hingga dapat mendorong jaringan
lunak

di

daerah

tersebut

semaksimal

mungkin,

sehingga inklinasi mahkota dan akar terlihat. Jika hasil

24

cetakan tidak cukup tinggi, maka hasil analisa tidak


akurat. Model studi dengan basis 4 segi tujuh, yang
dibuat dengan bantuan gigitan lilin dalam keadaan
oklusi sentrik serta diproses hingga mengkilat, akan
memudahkan pada saat analisa dan menyenangkan
untuk dilihat pada saat menjelaskan kasus kepada
pasien.(Proffit, 2000)
- Macam-macam Analisa Model Studi
Analisa model studi secara umum dilakukan dalam
tiga dimensi yaitu dalam arah sagital, transversal, dan
vertikal. Penilaian dalam arah sagital antara lain
meliputi: hubungan molar pertama, kaninus, dan
insisif tetap, yaitu maloklusi kelas I, kelas II, atau kelas
III Angle; ukuran overjet, prognati atau retrognati
maksila maupun mandibula, dan crossbite anterior.
Penilaian dalam arah transversal antara lain meliputi:
pergeseran garis median, 5 asimetri wajah, asimetri
lengkung gigi, dan crossbite posterior. Penilaian dalam
arah vertikal antaralain meliputi: ukuran overbite,
deepbite, openbite anterior maupun posterior, dan
ketinggian palatum. (Rakosi dkk, 1993

25