Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

Kejahatan seksual (sexual offences) adalah suatu bentuk dari kejahatan


yang menyangkut tubuh, kesehatan, dan nyawa manusia. Adanya kaitan antara
Ilmu

Kedokteran

dengan

kejahatan

seksual

dapat

dipandang

sebagai

konsekuensi dari pasal-pasal di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana


(KUHP) serta Kitab Undang-Undang Acara Hukum Pidana (KUHAP), yang
memuat ancaman hukuman serta tatacara pembuktian pada setiap kasus yang
termasuk di dalam pengertian kasus kejahatan seksual (Saputra, 2013).
Kejahatan seksual merupakan kejahatan yang serius dan bukti
pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Tindakan asusila ini menyebabkan
trauma psikologis yang serius pada korban serta keluarga. Mengingat apa yang
dilakukan pelaku telah mengakibatkan munculnya berbagai persoalan buruk
yang dihadapi oleh korban dan juga mengakibatkan ketakutan pada masyarakat
(fear of society).
Menurut Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas
Perempuan) sejak tahun 1998 hingga 2010 hampir sepertiga kasus kekerasan
terhadap perempuan adalah kasus kekerasan seksual, atau tercatat 91.311
kasus kekerasan seksual dari 295.836 total kasus kekerasan terhadap
perempuan. Selama 2010 tercatat 1.751 korban kekerasan seksual (Kalangit et
al, 2012).
Pemerkosaan adalah suatu tindakan kekerasan, bukan seksual karena
suka sama suka. Sangat banyak klasifikasi psikologi yang telah diusulkan untuk
mengkarakteristik perkosaan, tapi perubahan psikodinamik pada korban yang
terlibat dalam seluruh skema meliputi feelings of inadequacy, kemarahan yang
tidak tersalurkan (misalnya, impulse control disorders), atau penyimpangan
gangguan karakter lain.
Di dalam

upaya

pembuktian

secara kedokteran forensik,

faktor

keterbatasan di dalam ilmu kedokteran itu sendiri dapat sangat berperan,


demikian halnya dengan faktor waktu serta faktor keaslian dari barang bukti
(korban), maupun faktor-faktor dari pelaku kejahatan seksual itu sendiri. Dengan
demikian upaya pembuktian secara kedokteran forensik pada setiap kasus
1

kejahatan seksual sebenarnya terbatas di dalam pembuktian ada tidaknya tandatanda persetubuhan, ada tidaknya tanda-tanda kekerasan, perkiraan umur serta
pembuktian apakah seseorang itu memang sudah pantas atau sudah mampu
untuk dikawin atau tidak (Saputra, 2013).
Pasien-pasien yang datang ke bagian gawat darurat sesudah kekerasan
seksual memberikan tantangan khusus bagi dokter yang menanganinya. Pasien
mungkin malu atau tidak ingin mengingat kembali riwayat peristiwa yang dialami,
ketepatan waktu dalam mengumpulkan data riwayat peristiwa sangat penting
untuk penanganan tepat waktu dan dokumentasi.

BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 Identitas Umum


Nama korban

: Nn. S

Jenis kelamin

: Perempuan

Umur

: 13 tahun

Alamat

: Sukopuro, Jabung

Suku

: Jawa

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Pelajar

2.2 Data Subyektif


Amanesa
Keterangan diperoleh dari Nn. S
Kronologis Kejadian:
Korban 1 bulan lalu mengaku dikenalkan dengan Sdr.A (pelaku/ 18 thn)
dari facebook oleh Sdr. D (13tahun) yang merupakan mantan kekasih Sdr. A.
Sejak saat itu korban mulai sering berkomunikasi dengan pelaku melalui sms.
Tanggal 27 November 2014 korban mengaku mulai berpacaran dengan
pelaku meskipun korban belum pernah bertemu dengan pelaku. Kemudian
tanggal 29 November 2014, korban bertemu untuk pertama kalinya dengan
pelaku di sebuah kios namun hanya sebentar dan hanya mengobrol.
Pada tanggal 1 Desember 2014, pelaku mengajak korban bertemu di
ladang dekat rumah korban. Pelaku kemudian meraba tubuh dan kemaluan
korban. Pelaku juga meminta korban merangsang kemaluan pelaku hingga
pelaku mengalami ejakulasi di mulut korban.
Pada tanggal 6 Desember 2014, korban diajak ke kuburan untuk
melakukan hubungan badan namun korban menolak dan meminta pulang ke
rumah. Pada tanggal 11 Desember 2014 pukul 06.15, pelaku mengajak korban
untuk bertemu dilapangan. Setelah bertemu, pelaku mengajak korban ke rumah
kosong dan memaksa korban untuk berhubungan. Pelaku sempat menarik
rambut korban dan menampar korban karena korban melakukan perlawanan.
3

Terjadi penetrasi tanpa ejakulasi karena kejadian tersebut terpergoki oleh pemilik
rumah. Pelaku melarikan diri meninggalkan korban kemudian pemilik rumah
membawa korban ke kantor polisi.
Hasil Wawancara:
UMUM
Umur

: 13 tahun

Tanggal lahir

: 9 April 2011

Status Perkawinan

: belum menikah

Riwayat Haid
Siklus : 28 hari
HPHT : 22 November 2014
Penyakit Kelamin

: Disangkal

Penyakit kandungan : Disangkal


Penyakit lain

: Disangkal

Apakah pernah bersetubuh? Ya


Persetubuhan terakhir? 11 Desember 2014
Menggunakan kondom/ tidak? Tidak
KHUSUS
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Waktu kejadian
: 11 Desember 2014 Pkl. 06.15
Tempat kejadian
: Rumah Kosong
Apakah korban melawan? ya
Adakah robekan pakaian dan bekas kekerasan? Tidak
Apakah korban pingsan? Tidak
Apakah terjadi penetrasi dan ejakulasi? Penetrasi tanpa ejakulasi
Apakah sesuah kejadian korban mencuci pakaian, mandi, dan mengganti
pakaian? Ya, korban mencuci alat kelamin 2 kali

2.3 Data Obyektif


Hasil Pemeriksaan 11 Desember 2014 (Pkl. 13.00)
2.3.1 Pemeriksaan Pakaian
a. Jenis yang dipakai

: Korban mengenakan kemeja bermotif batik serta

rok panjang berwarna coklat


b. Robekan
: Tidak ditemukan
c. Adakah kancing yang terputus, bercak darah atau mani, lumpur? Tidak
2.3.2 Pemeriksaan Fisik

UMUM
1. Lukisan wajah/ rupa : wajah bulat dengan rambut panjang berwarna

2.
3.
4.
5.

hitam
keadaan emosi
: stabil
Adakah hilang kesadaran? Tidak
Adakah tanda kekerasan? Tidak
Perkembangan Tanda Sex Sekunder? Rambut pubis (+) payudara (+)
Pupil : isokor 3mm/3mm
TB
: 150 cm
BB
: 42 kg
TD
: 100/80mmHg
RR
: 20x/menit
Nadi : 84x/menit
Suhu : 36 C
Abdomen
: flat, soefl

KHUSUS (Pemeriksaan daerah genital)


1. Adakah rambut kemaluan yang terkena air mani kering? Tidak
2. Bercak air mani disekitar kemaluan? Tidak
3. Pemeriksaan Ginekologis: Hymen robek. Ruptur baru ke segala arah.
robekan hingga ke dasar.
4. Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Tes kehamilan
: Negatif
Swab vagina
- Tidak ditemukan spermatozoa
- Ditemukan leukosit jumlah banyak
- Ditemukan epitel jumlah sedang
- Ditemukan Basil gram negatif jumlah banyak

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

4.1 DEFINISI KEJAHATAN SEKSUAL


Terdapat 3 kasus yang termasuk kejahatan seksual yang erat kaitannya
dengan aspek medikolegal.
A. Perkosaan
Menurut KUHP pasal 285 perkosaan adalah dengan kekerasan atau
ancaman kekerasan menyetubuhi seorang wanita di luar perkawinan. Termasuk
dalam kategori kekerasan disini adalah dengan sengaja membuat orang pingsan
atau tidak berdaya (pasal 89 KUHP). Hukuman maksimal untuk delik perkosaan
ini adalah 12 tahun penjara.
B. Persetubuhan

Persetubuhan yang dimaksud dalam hukum dan medikolegal adalah


masuknya alat kelamin pria kedalam alat kelamin wanita dengan atau tanpa
keluarnya air mani. Persetubuhan diluar perkawinan antara pria dan wanita yang
berusia diatas 15 tahun tidak dapat dihukum kecuali jika perbuatan tersebut
dilakukan terhadap wanita yang dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya.
Untuk perbuatan yang terakhir ini pelakunya dapat dihukum maksimal 9
tahun penjara (pasal 286 KUHP) jika persetubuhan dilakukan terhadap wanita
yang diketahui atau sepatutnya dapat diduga berusia dibawah 15 tahun atau
belum pantas dikawin maka pelakunya dapat diancam hukuman penjara
maksimal 9 tahun.
Untuk penuntutan ini harus ada pengaduan dari korban atau keluarganya
(pasal 287 KUHP). Khusus untuk yang usianya dibawah 12 tahun maka untuk
penuntutan tidak diperlukan adanya pengaduan.
C. Pencabulan
Definisi pencabulan adalah semua tindakan yang dilakukan untuk
mendapatkan

kenikmatan

seksual

sekalgus

menggangggu

kehormatan

kesusilaan. Seseorang yang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan


memaksa seseorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan
cabul, maka ia diancam dengan hukuman penjara maksimal 9 tahun (pasal 289
KUHP). (Widjanarko, 2009; saputra, 2013).
Hukuman perbuatan cabul lebih ringan, yaitu 7 tahun saja jika perbuatan
cabul ini dilakukan terhadap orang yang sedang pingsan, tidak berdaya, berumur
dibawah 15 tahun atau belum pantas dikawin dengan atau tanpa bujukan (pasal
290 KUHP). Perbuatan cabul yang dilakukan terhadap orang yang belum
dewasa oleh sesama jenis diancam hukuman penjara maksimal 5 tahun (pasal
291 KUHP).
Perbuatan cabul yang dilakukan dengan cara pemberian, menjanjikan
uang atau barang, menyalahgunakan wibawa atau penyesatan terhadap orang
yang belum dewasa diancam dengan hukuman penjara maksimal 5 tahun (pasal
293 KUHP) .
Perbuatan cabul yang dilakukan terhadap anak, anak tiri, anak angkat,
anak yang belum dewasa yang pengawasan, pemeliharaan, pendidikan atau
penjagaannya diserahkan kepadanya, dengan bujang atau bawahan yang belum
dewasa diancam dengan hukuman penjara maksimal 7 tahun.

Hukuman yang sama juga diberikan pada pegawai negeri yang


melakukan perbuatan cabul dengan bawahan atau orang yang penjagaannya
dipercayakan kepadanya, pengurus, dokter, guru, pegawai, pengawas atau
pesuruh dalam penjara, tempat peker]aan negara, tempat pendidikan, rumah
piatu, rumah sakit, rumah sakit jiwa atau lembaga sosial yang melakukan
perbuatan cabul dengan orang yang dimasukkan ke dalamnya (pasal 294
KUHP).
3.2 PERUNDANGAN YANG MENGATUR TINDAK KEJAHATAN SEKSUAL
Persetubuhan yang merupakan kejahatan seperti yang dimaksudkan oleh
undang-undang , tertera pada pasal-pasal yang terdapat pada Bab XIV KUHP,
tentang Kejahatan Terhadap Kesusilaan; yang meliputi persetubuhan di dalam
perkawinan maupun di luar perkawinan.
Pasal 288 KUHP
(1) Barang siapa dalam perkawinan bersetubuh dengan seorang wanita yang
diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa yang bersangkutan belum
waktunya untuk dikawin, apabila perbuatan mengakibatkan luka-luka diancam
dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan luka-luka berat, dijatuhkan pidana penjara
paling lama delapan tahun.
(3) Jika mengakibatkan mati, dijatuhkan pidana penjara paling lama dua belas
tahun.
Dalam kasus-kasus persetubuhan di luar perkawinan yang merupakan
kejahatan, dimana persetubuhan tersebut memang disetujui oleh si perempuan
maka dalam hal ini pasal-pasal dalam KUHP yang dimaksud adalah pasal 284
dan 287.
Pasal 284 KUHP
(1)

Diancam

dengan

pidana

penjara

paling

lama

sembilan

bulan:

1. a. seorang pria yang telah kawin yang melakukan gendak (overspel), padahal
diketahui

bahwa

pasal

27

BW

(Burgerlyk

Wetboek)

berlaku

baginya.

b. seorang wanita yang telah kawin yang melakukan gendak (overspel),


padahal diketahui bahwa pasal 27 BW (Burgerlyk Wetboek) berlaku baginya.
2. a.

seorang pria yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal

diketahuinya

bahwa

yang

turut

bersalah

telah

kawin.

b. seorang wanita yang telah kawin yang turut serta melakukan perbuatan itu,
padahal diketahuinya bahwa yang turut bersalah telah kawin dan pasal 27 BW
(Burgerlyk Wetboek) berlaku baginya.
(2) Tidak dilakukan penuntutan melainkan atas pengaduan suami/isteri yang
tercemar,dan bila bagi mereka berlaku pasal 27 BW (Burgerlyk Wetboek), dalam
tenggang waktu tiga bulan diikuti dengan permintaan bercerai atau pisah meja da
pisah ranjang karena alasan itu juga.
(3)

Terhadap

pengaduan

ini

tidak

berlaku

pasal

72,

73,

dan

75.

(4) Pengaduan dapat ditarik kembali selama pemeriksaan dalam sidang


peradilan belum dimulai.
(5) Jika bagi suami-isteri berlaku pasal 27 BW (Burgerlyk Wetboek), pengaduan
tidak diindahkan selama perkawinan belum diputuskan karena perceraian atau
sebelum putusan yang menyatakan pisah meja dan tempat tidur menjadi tetap.
Pasal 287 KUHP
(1) Barangsiapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal
diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum lima belas
tahun, atau kalau umurnya tidak jelas bahwa belum waktunya untuk dikawin,
diancam

dengan

pidana

penjara

paling

lama

sembilan

tahun.

(2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umur wanita belum
sampai dua belas tahun atau jika ada salah satu hal berdasarkan pasal 291 dan
pasal 294.
Tindak pidana ini merupakan persetubuhan dengan wanita yang menurut
undang-undang belum cukup umur. Jika umur korban belum cukup 15 tahun
tetapi sudah di atas 12 tahun, penuntutan baru dilakukan bila ada pengaduan
dari yang bersangkutan. Jadi dengan keadaan itu persetubuhan tersebut
merupakan delik aduan, bila tidak ada pengaduan, tidak ada penuntutan.
Tetapi keadaan akan berbeda jika:
a. Umur korban belum sampai 12 tahun
b. Korban yang belum cukup 15 tahun itu menderita luka berat atau mati akibat
perbuatan itu (KUHP pasal 291); atau

c. Korban yang belum cukup 15 tahun itu dalah anaknya, anak tirinya, muridnya,
anak yang berada di bawah pengawasannya, bujangnya atau bawahannya
(KUHP pasal 294).
Dalam keadaan di atas, penuntutan dapat dilakukan walaupun tidak ada
pengaduan karena bukan lagi merupakan delik aduan. Pada pemeriksaan akan
diketahui umur korban. Jika tidak ada akte kelahiran maka umur korban yang
pasti tidak diketahui. Dokter perlu memperkirakan umur korban baik dengan
menyimpulkan apakah wajah dan bentuk tubuh korban sesuai dengan umur yang
dikatakannya, melihat perkembangan payudara dan pertumbuhan rambut
kemaluan, melalui pertumbuhan gigi (molar ke-2 dan molar ke-3), serta dengan
mengetahui apakah menstruasi telah terjadi.
Hal di atas perlu diperhatikan mengingat bunyi kalimat: padahal
diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa wanita itu umurnya belum
lima belas tahun atau kalau umurnya tidak jelas bahwa belum waktunya untuk
dikawin. Perempuan yang belum pernah mengalami menstruasi dianggap belum
patut untuk dikawin.
Pasal 291 KUHP
(1) Kalau salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 286, 287, 288 dan
290 itu berakibat luka berat, diancam dengan pidana penjara paling lama dua
belas tahun.
(2) Kalau salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 285, 286, 287, 289
dan 290 itu berakibat matinya orang, diancam dengan pidana penjara paling
lama lima belas tahun
Pasal 294 KUHP
Barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, anak tirinya atau
anak piaraannya, anak yang di bawah pengawasannya, orang di bawah umur
yang diserahkan kepadanya untuk dipelihara, dididiknya atau dijaganya, atau
bujangnya atau orang yang di bawah umur, diancam dengan pidana penjara
paling lama tujuh tahun.
Dengan itu maka dihukum juga:
1. Pegawai negeri yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang di
bawahnya/orang yang dipercayakan/diserahkan kepadanya untuk dijaga.

10

2. Pengurus, dokter, guru, pejabat, pengurus atau bujang di penjara, di


tempat bekerja kepunyaan negeri, tempat pendidikan, rumah piatu, RS
jiwa atau lembaga semua yang melakukan perbuatan cabul dengan orang
yang dimaksudkan di situ.
Pasal 285 KUHP
Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang
wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan
perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
Pasal 286 KUHP
Barangsiapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan padahal
diketahuinya bahwa wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya,
diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
Pada tindak pidana di atas harus terbukti bahwa korban berada dalam
keadaan pingsan atau tidak berdaya. Dokter perlu mencari tahu apakah korban
sadar waktu persetubuhan terjadi, adakah penyakit yang diderita korban yang
sewaktu-waktu dapat mengakibatkan korban pingsan atau tidak berdaya. Jika
korban mengatakan ia menjadi pingsan, maka perlu diketahui bagaimana
terjadinya pingsan itu, apakah terjadi setelah korban diberi minuman atau
makanan. Pada pemeriksaan perlu diperhatikan apakah korban menunjukkan
tanda-tanda bekas kehilangan kesadaran, atau tanda-tanda telah berada di
bawah pengaruh obat-obatan.
Jika terbukti bahwa si pelaku telah telah sengaja membuat korban
pingsan atau tidak berdaya, ia dapat dituntut telah melakukan tindak pidana
perkosaan, karena dengan membuat korban pingsan atau tidak berdaya ia telah
melakukan kekerasan.
Pasal 89 KUHP
Membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan menggunakan
kekerasan.
3.3 PEMBUKTIAN KASUS KEJAHATAN SEKSUAL SESUAI MEDIKOLEGAL

11

Tugas dokter yang paling utama dalam kasus kejahatan seksual dan
pembuatan visum et repertum adalah memberikan informasi mengenai :
-

Apakah kasus tersebut persetubuhan ataukah pencabulan

(pelecehan seksual.
Ada tidaknya kekerasan atau ancaman kekerasan
Menentukan usia korban
Menentukan pantas dikawin
Dampak kejahatan seksual

Dokter tidak memiliki hak untuk memutuskan apakah terjadi perkosaan atau
tindak apapun maupun hukuman untuk pelaku (Saputra, 2013)
Visum et Repertum yang dihasilkan mungkin menjadi dasar untuk
membebaskan terdakwa dari penuntutan atau sebaliknya untuk menjatuhkan
hukuman. Di Indonesia, pemeriksaan korban persetubuhan yang diduga
merupakan tindak kejahatan seksual umumnya dilakukan oleh dokter ahli Ilmu
Kebidanan dan Penyakit Kandungan, kecuali di tempat yang tidak ada dokter ahli
tersebut, maka pemeriksaan harus dilakukan oleh dokter umum. Sebaiknya
korban kejahatan seksual dianggap sebagai orang yang telah mengalami cedera
fisik dan atau mental sehingga lebih baik dilakukan pemeriksaan oleh dokter di
klinik. Penundaan pemeriksaan dapat memberi hasil yang kurang memuaskan
(Kalangit et al, 2012).
Jika korban dibawa ke dokter untuk mendapatkan pertolongan medis,
maka dokter punya kewajiban untuk melaporkan kasus tersebut ke polisi atau
menyuruh keluarga korban untuk melapor ke polisi. Korban yang melapor
terlebih dahulu ke polisi pada akhirnya juga akan dibawa ke dokter untuk
mendapatkan

pertolongan

medis

sekaligus

pemeriksaan

forensik

untuk

dibuatkan visum et repertumnya.


Sebagai dokter klinis, pemeriksa bertugas menegakkan diagnosis dan
melakukan pengobatan. Adanya kemungkinan terjadinya kehamilan atau
penyakit akibat hubungan seksual (PHS) harus diantisipasi dan dicegah dengan
pemberian obat-obatan. Pengobatan terhadap luka dan keracunan harus
dilakukan seperti biasanya. Pengobatan secara psikiatris untuk penanggulangan
trauma pasca perkosaan juga sangat diperlukan untuk mengurangi penderitaan
korban.
Secara umum dokter bertugas mengumpulkan bukti adanya kekerasan,
keracunan, tanda persetubuhan, penentuan usia korban dan pelacakan benda

12

bukti yang berasal dari pelaku. Pencarian benda-benda bukti yang berasal dari
pelaku pada tubuh atau pakaian korban dan tempat kejadian perkara merupakan
hal penting yang paling sering dilupakan oleh dokter. Dengan demikian dari
Visum et Repertum yang dibuat oleh dokter diharapkan dapat membuktikan
bahwa korban memang belum pantas dikawin, memang terdapat tanda-tanda
persetubuhan, tanda-tanda kekerasan dan dapat menjelaskan perihal sebab
kematiannya. Di dalam upaya menentukan bahwa seseorang belum mampu
dikawin dapat timbul permasalahan bagi dokter karena penentuan tersebut
mencakup dua pengertian, yaitu pengertian secara biologis dan pengertian
menurut undang-undang. Secara biologis seorang perempuan dikatakan mampu
untuk dikawin bila ia telah siap untuk dapat memberikan keturunan, dimana hal
ini dapat diketahui dari menstruasi, apakah ia belum pernah mendapat
menstruasi atau sudah pernah. Sedangkan menurut undang-undang perkawinan,
maka batas umur termuda bagi seorang perempuan yang diperkenankan untuk
melangsungkan perkawinan adalah 16 tahun. Dengan demikian dokter
diharapkan dapat menentukan berapa umur dari perempuan yang diduga
merupakan korban seperti yang dimaksud dalam pasal 288 KUHP (Saputra,
2013; Kalangit et al, 2012).
3.4 PEMERIKSAAN KORBAN
Pada kasus perkosaan dan delik susila lainnya perlu dikumpulkan informasiinformasi sebagai berikut :
1. Umur korban
Umur korban amat perlu ditentukan pada pemeriksaan medis, karena hal
itu menentukan jenis delik (delik aduan atau bukan), jenis pasal yang dilanggar
dan jumlah hukuman yang dapat dijatuhkan. Jika korban mengetahui secara
pasti tanggal lahirnya/umurnya, apalagi jika dikuatkan oleh bukti diri (KTP,SIM
dsb), maka umur dapat langsung disimpulkan dari hal tersebut. Akan tetapi jika
korban tak mengetahui umurnya secara pasti maka perlu diperiksa erupsi gigi
molar II dan molar III.
Gigi molar II mengalami erupsi pada usia kurang lebih 12 tahun, sedang
gigi molar III pada usia 17 sampai 21 tahun. Untuk wanita yang telah tumbuh
molar-IInya, perlu dilakukan foto ronsen gigi. Jika setengah sampai seluruh

13

mahkota molar III sudah mengalami mineralisasi (terbentuk) , tapi akarnya belum
maka usianya kurang dari 15 tahun (Muller, 2008).
Kriteria sudah tidaknya wanita mengalami haid pertama atau menarche
tak dapat dipakai untuk menentukan umur karena usia menarch saat ini tidak lagi
pada usia 15 tahun tetapi seringkali jauh lebih muda dari itu.
Perkiraan umur dapat diketahui dengan melakukan serangkaian pemeriksaan
yang meliputi pemeriksaan fisik, ciri-ciri seks sekunder, pertumbuhan gigi, fusi
atau penyatuan dari tulang-tulang khususnya tengkorak serta pemeriksaan
radiologi lainnya.
Dalam menilai perkiraan umur, dokter perlu menyimpulkan apakah wajah
dan bentuk badan korban sesuai dengan yang dikatakannya. Keadaan
perkembangan

payudara

dan

pertumbuhan

rambut

kemaluan

perlu

dikemukakan. Ditentukan apakah gigi geraham belakang ke-2 (molar ke-2)


sudah tumbuh (terjadi pada umur kira-kira 12 tahun, sedangkan molar ke-3 akan
muncul pada usia 17-21 tahun atau lebih). Juga harus ditanyakan apakah korban
sudah

pernah

menstruasi

bila

umur

korban

tidak

diketahui.

Hal-hal tersebut di atas perlu diketahui sehubungan dengan bunyi pasal 287
KUHP untuk menentukan apakah penuntutan harus dilakukan (Saputra, 2013).

2. Tanda kekerasan
Yang dimaksud dengan kekerasan pada delik susila adalah kekerasan
yang menunjukkan adanya unsur pemaksaan, seperti jejas bekapan pada
hidung, mulut dan bibir, jejas cekik pada leher, kekerasan pada kepala, luka lecet
pada punggung atau bokong akibat penekanan, memar pada lengan atas dan
paha akibat pembukaan secara paksa, luka lecet pada pergelangan tangan
akibat pencekalan dsb (Kalangit et al, 2012).
Adanya luka-luka ini harus dibedakan dengan luka-luka akibat "foreplay"
pada persetubuhan yang "biasa" seperti luka isap pada leher, daerah payudara
atau sekitar kemaluan, cakaran pada punggung (yang sering -terjadi saat
orgasme) dsb. Luka-luka yang terakhir ini memang merupakan kekerasan tetapi
bukan kekerasan yang dimaksud pada delik perkosaan. Adanya luka-luka jenis
ini harus dinyatakan secara jelas dalam kesimpulan visum et repertum untuk
menghindari kesalahan interpretasi oleh aparat penegak hukum. Tanpa adanya

14

kejelasan ini suatu kasus persetubuhan biasa bisa disalahtafsirkan sebagai


perkosaan yang berakibat hukumannya menjadi lebih berat.
Pemeriksaan toksikologi untuk beberapa jenis obat-obatan yang umum
digunakan untuk membuat orang mabuk atau pingsan perlu pula dilakukan,
karena tindakan membuat orang mabuk atau pingsan secara sengaja
dikategorikan juga sebagai kekerasan. Obat-obatan yang perlu diperiksa adalah
obat penenang, alkohol, obat tidur, obat perangsang (termasuk ecstasy) dsb
(Stark, 2005).
Tidak sulit untuk membuktikan adanya kekerasan pada tubuh wanita yang
menjadi korban. Dalam hal ini perlu diketahui lokasi luka-luka yang sering
ditemukan, yaitu di daerah mulut dan bibir, leher, puting susu, pergelangan
tangan,

pangkal

paha

serta

di

sekitar

dan

pada

alat

genital.

Luka-luka akibat kekerasan seksual biasanya berbentuk luka lecet bekas kuku,
gigitan (bite marks) serta luka-luka memar.
Sepatutnya diingat bahwa tidak semua kekerasan meninggalkan bekas
atau jejak berbentuk luka. Dengan demikian, tidak ditemukannya luka tidak
berarti bahwa pada wanita korban tidak terjadi kekerasan itulah alasan mengapa
dokter harus menggunakan kalimat tanda-tanda kekerasan di dalam setiap
Visum et Repertum yang dibuat, oleh karena tidak ditemukannya tanda-tanda
kekerasan mencakup dua pengertian: pertama, memang tidak ada kekerasan,
dan yang kedua kekerasan terjadi namun tidak meninggalkan bekas (luka) atau
bekas tersebut sudah hilang.
Tindakan pembiusan serta tindakan lainnya yang menyebabkan korban
tidak berdaya merupakan salah satu bentuk kekerasan. Dalam hal ini perlu
dilakukan pemeriksaan untuk menentukan adanya racun atau obat-obatan yang
kiranya dapat membuat wanita tersebut pingsan; hal tersebut menimbulkan
konsekuensi bahwa pada setiap kasus kejahatan seksual, pemeriksaan
toksikologik menjadi prosedur yang rutin dikerjakan (Widjanarko, 2009).
3. Tanda persetubuhan
Tanda persetubuhan secara garis besar dapat dibagi dalam tanda
penetrasi dan tanda ejakulasi.
Pemeriksaan dilakukan pada selaput dara, apakah ada ruptur atau tidak.
Bila ada, tentukan ruptur baru atau lama dan catat lokasi ruptur tersebut, teliti

15

apakah sampai ke insertio atau tidak. Tanda penetrasi biasanya hanya jelas
ditemukan pada korban yang masih kecil atau belum pernah melahirkan atau
nullipara. Pada korban-korban ini penetrasi dapat menyebabkan terjadinya
robekan selaput dara sampai ke dasar pada lokasi pukul 5 sampai 7, luka lecet,
memar sampai luka robek baik di daerah liang vagina, bibir kemaluan maupun
daerah perineum (Widjanarko, 2009).

Tentukan besar orifisium, sebesar ujung jari kelingking, jari telunjuk, atau
dua jari. Sebagai gantinya dapat juga ditentukan ukuran lingkaran orifisium,
dengan cara ujung kelingking atau telunjuk dimasukkan dengan hati-hati ke
dalam orifisium sampai terasa tepi selaput dara menjepit ujung jari, beri tanda
pada sarung tangan dan lingkaran pada titik itu diukur. Ukuran pada seorang
perawan kira-kira 2,5 cm. Lingkaran yang memungkinkan persetubuhan dapat
terjadi menurut Voight adalah minimal 9 cm.
Harus diingat bahwa tidak terdapatnya robekan pada selaput dara, tidak
dapat dipastikan bahwa pada wanita tidak terjadi penetrasi; sebaliknya adanya
robekan pada selaput dara hanya merupakan pertanda adanya suatu benda
(penis) atau benda lain yang masuk ke dalam vagina.
Adanya penyakit keputihan akibat jamur Candida misalnya dapat
menunjukkan adanya erosi yang dapat disalah artikan sebagai luka lecet oleh
pemeriksa yang kurang berpengalaman. Tidak ditemukannya luka-luka tersebut
pada korban yang bukan nulipara tidak menyingkirkan kemungkinan adanya
penetrasi.
Apabila pada persetubuhan tersebut disertai dengan ejakulasi dan
ejakulat tersebut mengandung sperma, maka adanya sperma di dalam liang

16

vagina merupakan tanda pasti adanya persetubuhan. Apabila ejakulat tidak


mengandung sperma, maka pembuktian adanya persetubuhan dapat diketahui
dengan

melakukan

pemeriksaan

terhadap

ejakulat

tersebut.

Komponen yang terdapat di dalam ejakulat dan dapat diperiksa adalah: enzim
asam fosfatase, kolin dan spermin. Baik enzim asam fosfatase, kolin maapun
spermin bila dibandingkan dengan sperma nilai pembuktiannya lebih rendah oleh
karena ketiga komponen tersebut tidak spesifik. Walaupun demikian enzim
fosfatase masih dapat diandalkan, karena kadar asam fosfatase yang terdapat
dalam vagina (berasal dari wanita itu sendiri), kadarnya jauh lebih rendah bila
dibandingkan dengan asam fosfatase yang berasal dari kelenjar fosfat (Saputra,
2013).
Tanda

ejakulasi

bukanlah

tanda

yang

harus

ditemukan

pada

persetubuhan, meskipun adanya ejakulasi memudahkan kita secara pasti


menyatakan bahwa telah terjadi persetubuhan. Ejakulasi dibuktikan dengan
pemeriksaan ada tidaknya sperma dan komponen cairan mani. Untuk uji
penyaring cairan mani dilakukan pemeriksaan fosfatase asam. Jika uji ini negatif,
kemungkinan adanya ejakulasi dapat disingkirkan. Sebaliknya jika uji ini positif,
maka perlu dilakukan uji pemastian ada tidak sel sperma dan cairan mani.
Dengan demikian apabila pada kejahatan seksual yang disertai dengan
persetubuhan itu tidak sampai berakhir dengan ejakulasi, dengan sendirinya
pembuktian adanya persetubuhan secara kedokteran forensik tidak mungkin
dapat dilakukan secara pasti. Sebagai konsekuensinya, dokter tidak dapat
secara pasti pula menentukan bahwa pada seorang wanita tidak terjadi
persetubuhan; maksimal dokter harus mengatakan bahwa pada diri wanita yang
diperiksanya itu tidak ditemukan tanda-tanda persetubuhan, yang mencakup dua
kemungkinan: pertama, memang tidak ada persetubuhan dan yang kedua
persetubuhan

ada

tapi

tanda-tandanya

tidak

dapat

ditemukan.

Apabila persetubuhan telah dapat dibuktikan secara pasti maka perkiraan saat
terjadinya persetubuhan harus ditentukan; hal ini menyangkut masalah alibi yang
sangat penting di dalam proses penyidikan.
Beberapa hal yang perlu diketahui adalah bahwa: (a) sperma hidup dapat
bertahan selama 3x24 jam dalam rongga rahim; (b) sperma mati dapat bertahan
selama 7x24 jam dalam rongga rahim. Dapat dibayangkan adanya kesulitan bila
terjadi suatu overspel, maksudnya antara persetubuhan yang diduga dan waktu

17

pemeriksaan terdapat lagi persetubuhan dengan suaminya sendiri, sehingga


sperma yang ditemukan tidak diketahui milik siapa. Dalam waktu 4-5 jam
postkoital sperma di dalam liang vagina masih dapat bergerak; sperma masih
dapat ditemukan namun tidak bergerak sampai sekitar 24-36 jam postkoital, dan
masih dapat ditemukan sampai 7-8 hari bila wanita yang menjadi korban
meninggal. Perkiraan saat terjadinya persetubuhan juga dapat ditentukan dari
proses penyembuhan selaput dara yang robek. Pada umumnya penyembuhan
tersebut dicapai dalam waktu 7-10 hari postkoital (Muller,2008).
Usapan lidi kapas diambil dari daerah labia minora, liang vagina dan kulit
yang menunjukkan adanya kerak. Adanya rambut kemaluan yang menggumpal
harus diambil dengan cara digunting, karena umumnya merupakan akibat
ejakulasi di daerah luar vagina. Untuk mendeteksi ada tidaknya sel mani dari
bahan swab dapat dilakukan pemeriksaan mikroskopik secara langsung
terhadap ekstrak atau dengan Pembuatan preparat tipis yang diwarnai dengan
pewarnaan malachite green atau christmas tree (Widjanarko, 2009).
Jika yang akan diperiksa sampel berupa bercak peda pakaian dapat
dilakukan pemeriksaan Baechi, dimana adanya sperma akan tampak berupa sel
sperma yang terjebak diantara serat pakaian. Sel sperma positip merupakan
tanda pasti adanya ejakulasi. Kendala utama pada pemeriksaan ini adalah jika
sel sperma telah hancur bagian ekor dan lehernya sehingga hanya tampak
kepalanya saja. Untuk mendeteksi kepala sperma semacam ini harus diyakini
bahwa memang kepala tersebut masih memiliki topi (akrosom). Adanya cairan
mani dicari dengan pemeriksaan terhadap beberapa komponen sekret kelenjar
kelamin pria (khususnya kelenjar prostat) yaitu spermin (dengan uji Florence),
cholin (dengan uji Berberio) dan zink (dengan uji PAN) . Suatu temuan berupa sel
sperma negatif tapi komponen cairan mani positip menunjukkan kemungkinan
ejakulasi oleh pria yang tak memiliki sel sperma (azoospermi) atau telah
menjalani sterilisasi atau vasektomi (Muller, 2008).
4. Penentuan Pantas di Kawin atau tidak
Apabila suatu perkawinan dimaksudkan sebagai suatu perbuatan yang
suci dan baik, dimana tujuan utamanya adalah untuk dapat menghasilkan
keturunan, maka penentuan apakah seorag wanita itu sudah waktunya untuk
dikawin atau belum, semata-mata hanya berdasarkan atas kesiapan biologis
(yang dapat dibuktikan oleh ilmu kedokteran), dalam hal ini: menstruasi. Bila

18

wanita itu sudah mengalami menstruasi, maka ia sudah waktunya untuk dikawin.
Untuk itu, yaitu untuk mengetahui apakah wanita tersebut sudah pernah
menstruasi dokter pemeriksa tidak jarang harus merawat dan mengisolir wanita
tersebut, yang maksudnya agar ia dapat mengetahui dan mendapatkan bukti
secara pasti bahwa telah terjadi menstruasi (widjanarko, 2009).
Menurut Muller, untuk mengetahui ada atau tidaknya ovulasi perlu
dilakukan observasi selama 8 minggu di rumah sakit, sehingga dapat ditentukan
adakah selama itu ia mendapat menstruasi. Sekarang ini untuk menentukan
apakah seorang wanita sudah pernah mengalami ovulasi atau belum dapat
dilakukan pemeriksaan vaginal smear. Akan tetapi bila kita mengacu pada
Undang-undang perkawinan, yang mengatakan bahwa wanita boleh kawin bila ia
telah berumur 16 tahun, maka masalahnya kembali kepada masalah perkiraan
umur.
5. Dampak perkosaan
Dampak perkosaan berupa terjadinya gangguan jiwa, kehamilan atau timbulnya
penyakit kelamin harus dapat dideteksi secara dini. Khusus untuk dua hal
terakhir, pencegahan dengan memberikan pil kontrasepsi serta antibiotic lebih
bijaksana dilakukan ketimbang menunggu sampai komplikasi tersebut muncul.

BAB IV
PEMBAHASAN

Secara umum dokter bertugas mengumpulkan bukti adanya kekerasan,


keracunan, tanda persetubuhan, penentuan usia korban dan pelacakan benda
bukti yang berasal dari pelaku. Pencarian benda-benda bukti yang berasal dari
pelaku pada tubuh atau pakaian korban dan tempat kejadian perkara merupakan
hal penting yang paling sering dilupakan oleh dokter.
Sebagai dokter klinis, pemeriksa bertugas menegakkan diagnosis dan
melakukan pengobatan. Visum et Repertum yang dibuat oleh dokter diharapkan
dapat membuktikan bahwa korban memang belum pantas dikawin, memang
terdapat

tanda-tanda

persetubuhan,

tanda-tanda

kekerasan

dan

dapat

menjelaskan perihal sebab kematiannya.


19

Di dalam upaya menentukan bahwa seseorang belum mampu dikawin


dapat timbul permasalahan bagi dokter karena penentuan tersebut mencakup
dua pengertian, yaitu pengertian secara biologis dan pengertian menurut
undang-undang. Secara biologis seorang perempuan dikatakan mampu untuk
dikawin bila ia telah siap untuk dapat memberikan keturunan, dimana hal ini
dapat diketahui dari menstruasi, apakah ia belum pernah mendapat menstruasi
atau sudah pernah. Sedangkan menurut undang-undang perkawinan, maka
batas umur termuda bagi seorang perempuan yang diperkenankan untuk
melangsungkan perkawinan adalah 16 tahun. Dengan demikian dokter
diharapkan dapat menentukan berapa umur dari perempuan yang diduga
merupakan korban seperti yang dimaksud dalam pasal 288 KUHP.
PEMERIKSAAN KORBAN
Pada kasus perkosaan dan delik susila lainnya perlu dikumpulkan informasiinformasi sebagai berikut :
1. Umur korban
Paien mengingat tanggal lahirnya yaitu pada tanggal pada tanggal 9 April 2011
sehingga dapat dihitung umur pasien adalah 13 tahun. Pelaku dapat dituntut
sesuai dengan pasal 287 KUHP karena ada pengaduan dari pihak korban.
Menurut Pasal 287 KUHP
(1) Barangsiapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal
diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum lima belas
tahun, atau kalau umurnya tidak jelas bahwa belum waktunya untuk dikawin,
diancam

dengan

pidana

penjara

paling

lama

sembilan

tahun.

(2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umur wanita belum
sampai dua belas tahun atau jika ada salah satu hal berdasarkan pasal 291 dan
pasal 294.
Tindak pidana ini merupakan persetubuhan dengan wanita yang menurut
undang-undang belum cukup umur. Jika umur korban belum cukup 15 tahun
tetapi sudah di atas 12 tahun, penuntutan baru dilakukan bila ada pengaduan
dari yang bersangkutan. Jadi dengan keadaan itu persetubuhan tersebut
merupakan delik aduan, bila tidak ada pengaduan, tidak ada penuntutan.
Tetapi keadaan akan berbeda jika:

20

a. Umur korban belum sampai 12 tahun


b. Korban yang belum cukup 15 tahun itu menderita luka berat atau mati akibat
perbuatan itu (KUHP pasal 291); atau
c. Korban yang belum cukup 15 tahun itu dalah anaknya, anak tirinya, muridnya,
anak yang berada di bawah pengawasannya, bujangnya atau bawahannya
(KUHP pasal 294).
Dalam keadaan di atas, penuntutan dapat dilakukan karena ada
pengaduan dari korban yang berusia antara 12-15 tahun dan keluarga.
2. Tanda kekerasan
Korban melakukan perlawanan terhadap pelaku sehingga pelaku sempat
menarik rambut dan menampar korban. Namun dari hasil pemeriksaan fisik pada
korban tidak didapatkan adanya tanda-tanda atau bekas tindakan kekerasan.
Sebagai dokter kita tidak dapat menentukan pelaku melakukan tindak kekerasan
pada korban meskipun tidak terdapat tanda kekerasan.
Pemeriksaan toksikologi untuk beberapa jenis obat-obatan yang umum
digunakan untuk membuat orang mabuk atau pingsan perlu pula dilakukan,
karena tindakan membuat orang mabuk atau pingsan secara sengaja
dikategorikan juga sebagai kekerasan. Obat-obatan yang perlu diperiksa adalah
obat penenang, alkohol, obat tidur, obat perangsang (termasuk ecstasy) dsb.
Sepatutnya diingat bahwa tidak semua kekerasan meninggalkan bekas
atau jejak berbentuk luka. Dengan demikian, tidak ditemukannya luka tidak
berarti bahwa pada wanita korban tidak terjadi kekerasan itulah alasan mengapa
dokter harus menggunakan kalimat tanda-tanda kekerasan di dalam setiap
Visum et Repertum yang dibuat, oleh karena tidak ditemukannya tanda-tanda
kekerasan mencakup dua pengertian: pertama, memang tidak ada kekerasan,
dan yang kedua kekerasan terjadi namun tidak meninggalkan bekas (luka) atau
bekas tersebut sudah hilang.
Tindakan pembiusan serta tindakan lainnya yang menyebabkan korban
tidak berdaya merupakan salah satu bentuk kekerasan. Dalam hal ini perlu
dilakukan pemeriksaan untuk menentukan adanya racun atau obat-obatan yang
kiranya dapat membuat wanita tersebut pingsan; hal tersebut menimbulkan
konsekuensi bahwa pada setiap kasus kejahatan seksual, pemeriksaan
toksikologik menjadi prosedur yang rutin dikerjakan.

21

Pada pasien ini tidak dilakukan pemeriksaan toksikologi menginat kondisi


klinis dan anamnesa pasien yang tidakmengarah pada kekerasan menggunakan
bahan kimia.
3. Tanda persetubuhan
Tanda persetubuhan secara garis besar dapat dibagi dalam tanda
penetrasi dan tanda ejakulasi.
Pada pemeriksaan hymen ditemukan ruptur hymen baru hingga ke dasar.
Robekan tampak ke segala arah. Dari hasil pemeriksaan ginekologis tersebut
korban telah mengalami penetrasi.
Pada anamnesa ditemukan bahwa pelaku mengalami ejakulasi. Namun
dari pemeriksaan tidak ditemukan adanya ejakulat dalam liang vagina.
Pemeriksaan swab vagina tidak ditemukan sel sperma. Dengan demikian apabila
pada kejahatan seksual yang disertai dengan persetubuhan itu tidak sampai
berakhir dengan ejakulasi, dengan sendirinya pembuktian adanya persetubuhan
secara kedokteran forensik tidak mungkin dapat dilakukan secara pasti. Sebagai
konsekuensinya, dokter tidak dapat secara pasti pula menentukan bahwa pada
seorang wanita tidak terjadi persetubuhan; maksimal dokter harus mengatakan
bahwa pada diri wanita yang diperiksanya itu tidak ditemukan tanda-tanda
persetubuhan, yang mencakup dua kemungkinan: pertama, memang tidak ada
persetubuhan dan yang kedua persetubuhan ada tapi tanda-tandanya tidak
dapat ditemukan. Apabila persetubuhan telah dapat dibuktikan secara pasti maka
perkiraan saat terjadinya persetubuhan harus ditentukan; hal ini menyangkut
masalah

alibi

yang

sangat

penting

di

dalam

proses

penyidikan.

Dalam waktu 4-5 jam postkoital sperma di dalam liang vagina masih dapat
bergerak; sperma masih dapat ditemukan namun tidak bergerak sampai sekitar
24-36 jam postkoital, dan masih dapat ditemukan sampai 7-8 hari bila wanita
yang menjadi korban meninggal. Perkiraan saat terjadinya persetubuhan juga
dapat ditentukan dari proses penyembuhan selaput dara yang robek. Pada
umumnya penyembuhan tersebut dicapai dalam waktu 7-10 hari postkoital.
4. Penentuan Pantas di Kawin atau tidak

22

Pantas kawin atau tidak dilihat dari menstruasi. Pasien telah mengalami
menstruasi degan menarche pada usia 12 tahun. HPHT adalah 22 November
2014, sehingga dari segi biologis korban telah siap kawin.
5. Dampak perkosaan
Dampak perkosaan berupa terjadinya gangguan jiwa, kehamilan atau timbulnya
penyakit kelamin harus dapat dideteksi secara dini. Pemeriksaan kehamilan
pada korban negatif dan tidak terdapat infeksi menular seksual yang serius,
hanya ditemukan leukosit dan basil gram negatif.

BAB V
PENUTUP

KESIMPULAN
Kejahatan seksual (sexual offences), sebagai salah satu bentuk dari
kejahatan yang menyangkut tubuh, kesehatan, dan nyawa manusia, mempunyai
kaitan yang erat dengan Ilmu Kedokteran Forensik, yaitu di dalam upaya
pembuktian

bahwasanya

kejahatan

tersebut

memang

telah

terjadi.

Persetubuhan yang merupakan kejahatan seperti yang dimaksudkan oleh


undang-undang , tertera pada pasal-pasal yang terdapat pada Bab XIV KUHP,
tentang Kejahatan Terhadap Kesusilaan, meliputi persetubuhan di dalam

23

perkawinan (pasal 288 KUHP) maupun di luar perkawinan yang mencakup


persetubuhan

dengan

persetujuan

(pasal

284

dan

287

KUHP)

serta

persetubuhan tanpa persetujuan (pasal 285 dan 286).


Upaya pembuktian secara kedokteran forensik pada setiap kasus
kejahatan seksual sebenarnya terbatas di dalam pembuktian ada tidaknya tandatanda persetubuhan, ada tidaknya tanda-tanda kekerasan, perkiraan umur serta
pembuktian apakah seseorang itu memang sudah pantas atau sudah mampu
untuk dikawin atau tidak.
Berbagai pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan untuk mendukung
adanya persetubuhan.

DAFTAR PUSTAKA
Kalangit et al, 2012. Peran Ilmu kedokteran Forensik dalam Pembuktian Tindak
Pidana Pemerkosaan sebagai Kejahatan Kekerasan Seksual. Bagian
Forensik Universitas Sam Ratulangi manado.
Muller K, 2003. Forensic science in medicine: what every doctor should know.
CPD. 2003. p 41-5.
Philip SL. Clinical Forensic Medicine : Much Scope for Development in Hong
Kong. Hongkong : Department of Pathology Faculty of Medicine
University of Hong Kong. 2007.

24

Saputra, Robin Perdana, 2013. Kejahatan Seksual Forensik. Ilmu Kedokteran


Forensik Universitas Diponegoro, Bandung.
Stark MM, 2005. Medical Forensic Medicine A Physicians Guide. 2nd Edition.
New Jersey : Humana Press Inc. 2005
Widjanarko, 2009. Pemeriksaan Forensik pada Kasus Perkosaan dan Delik
Aduan Lain. Jakarta. http://reproduksiumj.blogspot.com/2009/12/pemeri
ksaan-forensik -pada-kasus.html. diakses pada tanggal 18 Januari 2015.

25