Anda di halaman 1dari 13

Hukum Kirchof

Kelompok

:2

Nama Praktikan

: Mutiara Fadila Rania

Nama Anggota Kelompok

: 1. Ainun Nidhar

2. Bayu Ardianto
3. Dodo Susanto
4. Elika Velda Agti
5. Febri Ramdhan
6. Jeffry Manatar
Kelas

: 2E

Tanggal Praktikum

: 29 April 2013

Tanggal Penyerahan

: 6 Mei 2013

Nilai

Bab I
Pendahuluan
Tujuan :
Setelah selesai melakukan percobaan, praktikan diharapkan dapat :
- Menerangkan hukum kirchoff
- Memecahkan permasalahan dengan menggunakan hukum kirchoff.
Dasar Teori :
Hukum Kirchoff I ( Tentang Arus) :
Hukum Kirchoff I berbunyi : Jumlah kuat arus yang masuk dalam titik
percabangan sama dengan jumlah kuat arus yang keluar dari titik
percabangan. Itu berarti arus masuk sama dengan arus keluar.
Secara matematis dinyatakan :
Imasuk = Ikeluar
Atau dapat di nyatakan sebagai berikut :
I = I1 + I2 + I3 + In

2.
Hukum Kirchoff II
Hukum Kirchoff II berbunyi : Dalam rangkaian tertutup, Jumlah aljabbar
tegangan dan jumlah penurunan potensial sama dengan nol. Maksud dari
jumlah penurunan potensial sama dengan nol adalah tidak ada energi
listrik yang hilang dalam rangkaian tersebut, atau dalam arti semua
energi listrik bisa digunakan atau diserap. Hukum Kirchoff II dipakai untuk
menentukan kuat arus yang mengalir pada rangkaian bercabang dalam
keadaan tertutup. Dapat dirumuskan sebagai berikut :
E = 0
Karena jumlah tegangan adalah hasil perkalian dari jumlah arus yang
mengalir dengan jumlah tahanan ,juga bisa dinyatakan sebagai berikut :
E = I . R

B.

Prosedur Penghitungan Hukum Kirchoff II

Dari gambar diatas kuat arus yang mengalir dapat ditentukan dengan
menggunakan beberapa aturan sebagai berikut :
1) Tentukan arah putaran arusnya untuk masing-masing loop.
2) Arus yang searah dengan arah perumpamaan dianggap positif.
3) Arus yang mengalir dari kutub negatif ke kutup positif di dalam elemen
dianggap positif
4) Pada loop dari satu titik cabang ke titik cabang berikutnya kuat arusnya
sama.
5) Jika hasil perhitungan kuat arus positif maka arah perumpamaannya
benar, bila negatif berarti arah arus berlawanan dengan arah pada
perumpamaan.
Dalam rangkaian listrik, biasanya tidak hanya terdapat sebuah tahanan
saja pada rangkaian tersebut, tetapi dihubungkan tahanan yang lain, yang
dapat dirangkaikan dalam beberapa cara antara lain:
a. tahanan yang dihubungkan seri
b. tahanan yang dihubungkan parallel
c. tahanan yang dihubungkan kombinasi
RESISTOR
Resistor atau yang biasa disebut (bahasa Belanda) werstand,
tahanan atau penghambat, adalah suatu komponen elektronik yang
memberikan hambatan terhadap perpindahan elektron (muatan
negatif). Resistor disingkat dengan huruf "R" (huruf R besar). Satuan
resistor adalah Ohm yang dilambangkan dengan simbol (Omega),
ditemukan oleh George Ohm (1787-1854), seorang ahli fisika bangsa
Jerman. Kemampuan resistor untuk menghambat disebut juga
resistensi atau hambatan listrik. Jadi resistor digunakan untuk
membatasi jumlah arus yang mengalir dalam suatu rangkaian. Jenis
resistor (tahanan) antara lain tahanan karbon, tahanan geser, decade
resistor dan potensiometer.

HUBUNGAN SERI

Rangkaian disebut hubungan seri karena tahanannya dihubungkan


secara
berderet.

Rangkaian resistor secara seri akan mengakibatkan nilai resistansi total


semakin
besar.
Pada rangkaian resistor seri berlaku rumus:
Rtotal = R1 + R2 + R3

HUBUNGAN PARALEL

Rangkaian paralel yaitu semua tahanan dihubungkan berjajar.


Rangkaian resistor secara
paralel akan mengakibatkan nilai resistansi pengganti semakin kecil

Pada rangkaian paralel berlaku rumus sebagai berikut:

HUBUNGAN SERI - PARALEL


Rangkaian Seri - Paralel adalah gabungan dari hubungan seri dan paralel.

Berdasarkan rumus seri dan paralel maka,


R Pengganti = R2 x R3 + R1
R2+R3

BAB III
KESIMPULAN
Hukum Kirchoff terdiri dari hukum Kirchoff I dan hukum Kirchoff II. Hukum
Kirchoff
I berbunyi : Jumlah kuat arus yang masuk dalam titik
percabangan sama dengan jumlah kuat arus yang keluar dari titik
percabangan sedang hukum Kirchoff II berbunyi : Dalam rangkaian
tertutup, Jumlah aljabbar tegangan dan jumlah penurunan potensial sama
dengan nol.

Bab II
Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan
1. Power supply
2. Multimeter
3. Resistor
4. Conecting Leads
5. Proto board

Bab III
Prosedur Percobaan

Buatlah rangkaian seperti Gambar :

Diagram 1

Diagram 2

Diagram 3

1. Buatlah rangkaian mula-mula kedudukan VR di tengah-tengah


2. Atur potensiometer tersebut sampai jarum galvanometer tepat
ditengah
3. Lepaskan rangkaian dari sumber tegangan ,dan ukur satu persatu
nilai resistansi dengan menggunakan ohmmeter. Hasilnya masukkan
tabel.
4. Rangkai seperti diagram nomor 2
5. Atur potensiometer sampai lampu padam. Kerjakan seperti tahap 3
6. Lakukan percobaan pada rangkaian nomor 3. Isikan pada tabel Rx.
Rx tidak boleh diukur dengan Ohmmeter.

Pertanyaan
1. Pada percobaan diagram no. 1 sesuaikah perbandingan R1 . R4 =
R2 . R3 ? jelaskan !
2. Terangkan mengapa lampu (diagram 2) padam. Buktikan dengan
perhitungan

Jawaban :

1. Pada percobaan 1 selisih rangkaian dengan R1,R2,R3, dan R4 adalah


0.00007 M . Maka, bisa disimpulkan karena nilai hambatan kecil
maka hampir tidak ada arus yang mengalir. Maka jembatan
wheatstone dapat dikatakan dalam kondisi seimbang. Maka,dapat
disimpulkan perbandingan R1.R4 sesuai dengan R2. R3.
Perhitungan :
R1 = 0.204 M
R2 = 0.298 M
R3 = 0.021 M
R4 = 0.031 M
R1
. R4
= R2 . R3
0.204 . 0.031= 0.298 . 0.021

0.00632= 0.00625
Selisih : 0.00632 0.00625 = 0.00007 M
2. Lampu yang kami gunakan mempunyai daya sebesar 5 Watt.
Perhitungan :
R1 = 0.1 k
R2 = 0.047 k
R3 = 0.703 k
R4 = 0.347 k
Rtotal =

P=

( R 1+R 2 ) .( R3+R 4)
R 1+R 2+ R 3+R 4

( 0.1+ 0.047 ) .(0.703+0.347)


1.197

0.147 .1.05
1.197

V2
R

142
128

= 0.128 k = 128

= 1.53 W

Lampu tidak menyala karena daya yang ada pada rangkaian tidak sama
dengan daya yang dimiliki oleh lampu

Bab IV
Data dan Analisa
Hasil Data
Tabel 1 , Vs = 8 V
R

Rp*

Rt*

R1

0.204 M

0.202 M

R2

0.298 M

0.3

R3

0.021 M

0.021 M

R4

0.031 M

0.03

M
M

*Ket: Rp = Resistansi praktikum


Rt= Resistansi teori

Tabel 2, Vs = 14 V
R
R1
R2
R3
R4

Rp*
0.1 k
0.047 k
0.703 k
0.347 k

Rt*
0.095 k
0.049 k
0.738 k
0.33 k

Tabel 3, Vs = 8 V
R

Rp*

Rt*

R1

47

47.1

R2

100

100.21

R3

471

470

Rx

10

9.978

Analisa Data
Percobaan 1
Vs = 8 V
R1 = 0.204 M
R2 = 0.298 M
R3 = 0.021 M
R4 = 0.031 M
Teori :
R1

R2 x R3
R4

R2 =

R1 xR4
R3

R3 =

R4 =

0.298 x 0.021
0.031

= 0.202 M

0.204 x 0.031
0.021

= 0.3 M

R1 xR4
R2

0.204 x 0.031
0.298

= 0.021 M

R2 x R3
R1

0.298 x 0.021
0.204

= 0.03 M

Percobaan 2
Vs = 14 V
R1 = 0.1 k
R2 = 0.047 k
R3 = 0.703 k
R4 = 0.347 k
Teori :
R1

R2 x R3
R4

0.047 x 0.703
0.347

= 0.095 k

R2 =

R1 xR4
R3

0.1 x 0.347
0.703

= 0.0493 k

R3 =

R1 xR4
R2

0.1 x 0.347
0.047

= 0.738 k

R4 =

R2 x R3
R1

0.047 x 0.703
0.1

= 0.33 k

Percobaan 3
Vs = 8 V
R1 = 47
R2 = 100
R3 = 0.471 k = 471
RX = 10
Teori :
R1

RX x R 3
R2

R2 =

RX x R 3
R1

10 x 471
100

= 47.1

10 x 471
47

= 100.21

R3 =

R2 x R1
RX

100 x 47
10

= 0.47

RX =

R2 x R1
R3

100 x 47
471

= 9.978

Bab V
Kesimpulan
Jembatan Wheatstone merupakan cara lain untuk mengukur besar
hambatan listrik yang belum diketahui. Mengukur besarnya
hambatan listrik dengan metode ini adalah dengan membandingkan
besar hambatan yang belum diketahui dengan besar hambatan
yang telah diketahui.
Dari percobaan yang kami lakukan dapat disimpulkan bahwa,
rangkaian yang kami uji memiliki nilai resistansi yang
sesuai(mendekati) dengan resistansi perhitungan teori. Sehingga
kami dapat mengetahui kondisi jembatan wheatstone dalam
keadaan setimbang.
SARAN
Pada praktikum kali ini sebaiknya para praktikan menguasai materimaterinya agar paham dan mengerti dalam merangkai rangkaian
jembatan wheatstone. Sehingga praktikum dapat selesai tepat pada
waktunya dan meminimalisir kesalahan dalam melakukan
percobaan.