Anda di halaman 1dari 25

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Untuk dapat bertahan hidup, manusia memerlukan energi dengan jumlah
yang cukup untuk dapat menjalankan berbagai fungsi dalam tubuh maupun
aktifitas-aktifitas lain yang sudah menjadi rutinitas sehari-harinya. Untuk itu
manusia perlu untuk mengkonsumsi berbagai macam makanan yang mengandung
zat-zat yang diperlukan oleh tubuh untuk nantinya diolah menjadi sumber energi
oleh mekanisme fungsi tubuh sendiri. Dalam mengolah sumber energi, pertama
makanan akan diolah didalam rongga mulut secara kimiawi oleh berbagai enzim
pada rongga mulut dan diolah secara fisik dengan bantuan gigi geligi yang
masing-masing perannya berbeda sesuai letaknya pada saat mengunyah makanan.
Susunan gigi geligi yang baik dan ideal biasanya mempermudah dalam
pengunyahan makanan hingga diperoleh bolus yang baik dan mudah dicerna oleh
bagian tubuh lainnya. Namun tidak semua orang memiliki susunan gigi geligi
yang rapi dan ideal sehingga terkadang seseorang yang memiliki masalah dalam
susunan giginya menjadi tidak nyaman dalam mengunyah hingga rasa
ketidaknyamanan secara sosial dan menyebabkan hilangnya rasa percaya diri.
Susunan gigi geligi yang ideal ditandai dengan kontak oklusi yang baik
antara maksila dan mandibula dengan syarat-syarat bagian yang berkontak antara
gigi maksila dan mandibula termasuk dalam kategori yang ideal. Oklusi normal
didefinisikan oleh Hassan (2007), sebagai kondisi gigi geligi dimana tidak
terdapat kelainan yang dapat merugikan secara estetika maupun fungsi gigi geligi
dalam mengunyah, jadi asalkan pasien tidak merasa dirugikan dengan kondisi gigi
geliginya maka kondisi oklusi nya masih dapat dikatakan normal.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan dibahas dalam laporan ini adalah sebagai
berikut.
1. Bagaimana perbedaan oklusi normal antara primary dentition, mixed
dentition, dan gigi permanen?
2. Apa dan bagaimana etiologi dari maloklusi dikaitkan dengan malposisi
dan kasus yang terjadi?
3. Apa yang dimaksud dengan maloklusi beserta klasifikasinya?
4. Bagaimana dampak terjadinya maloklusi terhadap perkembangan
psikologis dan emosional?
C. Tujuan
Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui perbedaan oklusi normal yang terjadi pada primary
dentition, mix dentition dan gigi permanen.
2. Untuk mengidentifikasi faktor penyebab maloklusi yang ada di dalam
kasus dan mengkaitkannya dengan malposisi, malrelasi dan malformasi
yang terjadi.
3. Untuk memahami perkembangan psikologis dan emosional pada usia
anak-anak dikaitkan dengan kaus yang terjadi pada skenario.
D. Manfaat
Manfaat yang akan diperoleh dari laporan ini adalah sebagai berikut.
1. Mahasiswa dapat mempelajari bagaimana perbedaan oklusi normal antara
primary dentition, mixed dentition dan gigi permanen sehingga dapat
mengurangi maloklusi pada pertumbuhan pasien disesuaikan usia.
2. Mahasiswa dapat mengaitkan penyebab maloklusi gigi dengan keadaan
rongga mulut pasien sehingga dapat menentukan perawatan yang akan
dilakukan.

BAB II
ISI

A. Skenario

Bapak Kim Eun Jun datang bersama istri nya Suyatmi, dan anak mereka yang
saan ini berusia 9 tahun bernama Eleora ke RSGMP Unsoed. Kepada dokter gigi
yang menangani, sang ibu nercerita bahwa beberapa hari belakangan ini Eleora
tidak mau berangkat sekolah dikarenakan sering diejek oleh teman-temannya.
Keadaan ini menggangu Eleora secara emosional dan psikologis. Bapak Kim Eun
Jun pun bercerita bahwa Eleora sangat ingin menjadi foto model namun malu
karena kondisi gigi putri kesayangannya tidak rapi. Pada pemeriksaan intra oral
ditemukan supernumerary teeth pada gigi insisivus sentralis maksila. Insisivus
centralis kiri dan lateralis kanan maksila palatoversi. Terlihat adanya crossbite
anterior disertai crowding pada regio anterior mandibula, tidak tampak adanya
deep bite. Pengukuran overbite dan overjet Eleora masih dalam batas wajar. Dari
wawancara yang dilakukan, diketahui bahwa pada masa primary dentition dan
mix dentition, Eleora pernah mengalami over retained deciduous teeth. Hasil
pemeriksaan molar relation, didapat maloklusi Angle kelas I tipe 3. Dari hasil foto
rontgen yang dilakukan tampak adanya dilaserasi pada akar gigi insisivus lateralis
rahang atas sebelah kanan. Profil Eleora normal dengan jaringan lunak menutupi
daerah malposisi gigi. Eleora dapat menutup rahang tanpa adanya hambatan.
B. Tahap Seven Jumps
STEP 1 (Claryfying Unfamiliar Term)
1. Palatoversi
Paloversi adalah keadaan gigi yang lebih condong ke arah palatum serta
lebih ke arah posterior, sehingga gigi dapat dikatakan hampir retrusif.
2. Over retained deciduous teeth
Over retained deciduous teeth adalah gigi yang sulit tanggal dan masih
tetap menempel pada waktu yang tidak seharusnya.
3. Dilaserasi
Dilaserasi adalah sebutan untuk akar gigi yang terdapat lengkung tajam
atau kompleks.
4. Supernumerary teeth
Supernumerary teeth adalah kelainan gigi dengan bertambahnya jumlah
gigi yang tidak biasa.
5. Crossbite
Crossbite adalah gigitan silang dimana gigi maksila terletak lebih ke
belakang dibandingkan gigi mandibula.
6. Crowding

Crowding adalah susunan gigi yang berjejal atau ketidakserasian ukuran


rahang gigi yang lebih sempit dan gigi geligi yang banyak.
7. Primary dentition
Primary dentition adalah gigi yang pertama muncul didalam rongga
mulut, dengan erupsi penuh pada usia 2,5 tahun 3 tahun.
8. Mixed dentition
Mixed dentition adalah keadaan gigi yang tumbuh yaitu gigi permanen
namun gigi susu belum tanggal semua, ketika mixed dentition tidak di
jaga maka dapat menyebabkan crowding.
9. Overjet
Overjet adalah jarak horizontal dari incisal edge RA dengan insisal RB.
10. Deep bite
Deep bite adalah suatu keadaan insisal RB mengenai singulum rahang
bawah, dan pada posisi ini condyle berada di posterior fossa glenoid.
11. Maloklusi Angle kelas 1 tipe 3
Maloklusi Angle kelas 1 tipe 3 adalah suatu pembagian angle yang
dibagi berdasarkan hubungan molar, pada maloklusi kelas 1 cups
mesiobukal M1 atas berkontak dengan buccal groove M1 bawah, dan
maloklusi ini dikatakan normal.
12. Molar relation
Molar relation adalah kontak antara oklusal molar atas dengan gigi
antagonisnya.
13. Overbite
Overbite adalah jarak vertikal dari incisal edge RA dengan incisal edge
RB atau bisa disebut juga dengan tinggi gigit.
STEP 2 (Problem Definition)
1. Apa saja ciri-ciri oklusi normal?
2. Apa saja jaringan lunak pada rongga mulut?
3. Apa yang dimaksud maloklusi?
4. Apa saja penyebab dari maloklusi?
5. Apa saja klasifikasi maloklusi?
6. Bagaimana perkembangan psikologis dan emosional anak usia 9 tahun?
7. Apa saja faktor-faktor pengganggu perkembangan psikologis?
8. Berapa ukuran overbite dan overjet yang normal?

Jaringan Lunak

Oklusi
normal
MALOKLUSI

Faktor
pengganggu

Overbite&overje
t

Perkembangan psikologis

Definisi

Gambar 2.1 Etiologi


Skema Rumusan Masalah Klasifikasi

STEP 3 (Brainstorm)
1. Ciri-ciri oklusi normal
Gigi anterior RA lebih protusif dari RB, gigi berkontak rapat tanpa
rotasi, gigi insisal RA menutupi 1/3 gigi insisal, lengkung rahang
parabola dengan ukuran rahang dan gigi yang sesuai, tonjol mesiobukal
M1 RA kontak dengan buccal groove M1 RB.
2. Termasuk jaringan lunak pada rongga mulut
Jaringan lunak terdiri dari bibir, pipi yang harus seimbang kekuatannya
dan frenulum yang tidak panjang maupun tidak pendek. Bagian
bibiryang kompeten dapat menutup tanpa usaha maksimal, terlihat di
bagian kerutan dagu.
3. Maloklusi
Maloklusi adalah suatu kelainan antara gigi-gigi rahang atas dan rahang
bawah saat berkontak, sehingga terjadi hubungan yang tidak sempurna
antara rahang atas dan rahang bawah.
4. Penyebab maloklusi
Deep bite, over retained deciduous teeth, menekan lidah ke depan,
herediter, trauma, tingkah laku, anomali gigi, dan gigi tanggal
sebelumnya.
5. Klasifikasi maloklusi
a.
Dental
b.
Skeletal
c.
Fungsional
Tipe skeletal juga berasal dari otot maksila dan mandibula yakni :
a. kelas 1 : maksila lebih ke anteior
b.
kelas 2 : edge to edge
c.
kelas 3 : maksila lebih ke posterior
6. Perkembangan psikologis dan emosional
Pada anak usia 9 tahun sudah dapat diajak untuk berpikir secara konkrit
namun tidak boleh memberikan contoh kata-kata negatif. Dalam

perkembangannya anak usia 9 tahun lebih diberikan reward dan


punishment dengan apa yang anak tersebut lakukan.
7. Faktor penggangu perkembangan psikologis
Peran orang tua yang terlalu memanjakan anak, faktor lingkungan yang
selalu mengucilkan dan faktor herediter yang menurun ke anak tersebut.

STEP 4 (Analyzing the problem)


1. Ciri-ciri oklusi normal
Ciri-ciri oklusi normal yakni :
a.
Hubungan yang tepat antar lengkung gigi
b.
Overbite dan overjet yang normal
c.
Hubungan gigi-gigi normal, tidak ada rotasi
d.
Tidak ada celah diantara gigi geligi
2. Termasuk jaringan lunak pada rongga mulut
Jaringan lunak terdiri dari mukosa pipi, bibir, gingiva, lidah, palatum,
dan dasar mulut. Struktur jaringan lunak mulut terdiri dari lapisan tipis
jaringan mukosa yang licin, halus, fleksibel dan berkeratin atau tidak
berkeratin.
3. Maloklusi
Maloklusi adalah setiap keadaan yang menyimpang dari oklusi normal,
maloklusi juga dapat diartikan sebagai suatu kelainan susunan gigi geligi
atas dan bawah yang berhubungan dengan bentuk rongga mulut serta
fungsi.
4. Penyebab maloklusi
Ketidakseimbangan antara ukuran rahang dan ukuran gigi atau antara
ukuran rahang bagian atas dan bawah. Penyebab lain adalah faktor
keturunan, gangguan pertumbuhan, trauma, keadaan fisik, kebiasaan
buruk menghisap ibu jari, malnutrisi dan hilangnya salah satu atau lebih
gigi sehingga ketika gigi hilang, gigi sekitarnya cenderung bergerak
keluar barisan.
5. Klasifikasi maloklusi
Klasifikasi maloklusi dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu maloklusi Klas
I, Klas II, dan Klas III.
a.
Maloklusi Klas I : Relasi normal anteroposterior dari mandibula
dan maksila. Tonjol mesiobukal molar pertama permanen berada
pada buccal groove molar pertama permanen mandibula. Kelainan
yang menyertai yakni gigi berjejal, rotasi dan protusi.

b.

Maloklusi Klas II : Relasi posterior dari mandibula terhadap


maksila. Tonjol mesiobukal molar pertama permanen atas berada
lebih mesial dari buccal groove gigi molar pertama permanen

c.

mandibula.
Maloklusi Klas III : relasi anterior dari mandibula terhadap
maksila. Tonjol mesiobukal molar pertama permanen atas berada
lebih distal dari buccal groove gigi molar pertama permanen

mandibula dan terdapat anterior crossbite.


6. Perkembangan psikologis dan emosional
Perkembangan untuk anak usia 9 tahun akan cenderung menjadikan anak
tersebut tidak percaya diri serta minder terhadap lingkungan sekitar yang
selalu mengucilkan.
7. Faktor pengganggu perkembangan psikologis
Faktor utama yang akan mengganggu perkembangan psikologis anak
usia 9 tahun yaitu lingkungan yang selalu megucilkan sehingga dalam
perkembangannya akan menurunkan sikap kepercayaan dirinya dan
memberikan dampak yang buruk terhadap kualitas hidupnya kedepan
karena rasa minder terhadap lingkungan sekitarnya.
STEP 5 (Formulating learning issue)
1. Apa pengertian dari
a.
Dilaserasi
b.
Deep bite
2. Bagaimana ciri oklusi normal dan perbandingannya antara primary dan
3.
4.
5.
6.
7.
8.

mixed dentition?
Berapa ukuran overbite dan overjet normal?
Bagaimana etiologi dari maloklusi?
Bagaimana klasifikasi dari maloklusi?
Apa saja kriteria dari maloklusi?
Bagaimana kaitan antara maloklusi, malposisi, dan malrelasi?
Bagaimana dampak maloklusi terhadap perkembangan psikologis dan
emosional?

Step 6 (Self Study)


Step 7 (Reporting)
1. Pengertian
a.
Dilaserasi
Dilaserasi merupakan angulasi atau pembengkokkan akar yang
abnormal terhadap aksis memanjang dari mahkota gigi. Seringkali

angulasi terjadi sangat tajam dan hampir tegak lurus. Dilaserasi ini
dapat terjadi karena adanya trauma yang dapat menyebabkan
mahkota bergeser dan akar memutar atau membengkok (Sudiono,
2008). Menurut Harshanur (1991), ukuran angulasi akar dari
dilaserasi berkisar antara 450 - >900. Apabila terjadi dilaserasi pada
b.

akar gigi maka dapat menyebabkan kesulitan pencabutan gigi.


Deep bite
Deep bite merupakan jarak menutupnya bagian insisal insisivus
maksila terhadap insisal insisivus mandibula dalam arah vertikal
melebihi 2-3 mm. Pada kasus deep bite, gigi posterior sering
linguoversi atau miring ke mesial dan insisivus madibula sering
berjejal, linguoversi (Sudiono, 2008). Menurut Rostina (1997),
deep bite dapat dikategorikan menjadi dua jenis, yaitu complete
deep bite dan incomplete deep bite. Dikatakan complete deep bite
apabila insisivus mandibula kontak dengan bagian palatal dari
insisivus maksila, sedangkan incomplete deep bite apabila terjadi
overbite lebih dari 2-3 mm.

2. Ciri oklusi normal


Oklusi antara gigi geligi maksila dan mandibula memiliki ciri tertentu
yang ideal dan dikatakan normal. Banyak peneliti yang menyampaikan
berbagai konsep oklusi normal. Salah satunya Andrew (1972) yang
menyebutkan terdapat enam kunci utama dari oklusi, yaitu
a.
Relasi gigi molar pertama klas I Angle
1) Mesio bukal cusp M1 RA terletak di bukal groove M1 RB
2) Disto bukal cusp M1 RA terletak diantara embrassure M1 dan
b.
c.
d.
e.
f.

M2 RB
Angulasi atau kemiringan labiolingual normal
Inklinasi atau kemiringan mesiodistal normal
Gigi berkontak rapat atau tidak ada space
Tidak ada rotasi
Curva Spee datar atau flat occlusal planes
(Foster, 1997)

Namun, terdapat ciri yang membedakan antara oklusi gigi desidui dan
gigi permanen. Beberapa ciri oklusi primary dentition menurut (), yaitu

a.
b.
c.

Lengkung rahang ovoid


Terdapat celah atau space antar gigi
Relasi antara M2 RA dan RB cusp sejajar atau flush terminal

d.

plane
Caninus RA terletak diantara distal caninus RB dan M1 RB atau
neutroklusi

Sedangkan ciri dari oklusi gigi permanen diantaranya.


a.
b.
c.
d.
e.

Lengkung RA lebih besar dari lengkung RB


Oklusal RA lebih cembung daripada RB
Bentuk dan fungsi tiap gigi normal
Overbite dan overjet normal
Posisi gigi normal

()
Menurut Thomson (2007), oklusi gigi desidui atau sulung berbeda
dengan gigi permanen. Pada gigi desidui, yang menjadi kunci adalah
relasi M2 RA dan RB yg sejajar cuspnya, sedangkan pada mixed
dentition dan permanen yang menjadi kunci oklusi adalah relasi M1.
3. Overbite dan overjet normal
a.
Overbite
Overbite merupakan jarak vertikal dari ujung insisivus rahang atas
dan rahang bawah. Overbite ideal saat oklusi apabila insisivus
rahang bawah kontak dengan 1/3 palatal dari insisivus rahang atas
(Grist, 2010). Menurut Foster (1997), ukuran overbite normal
b.

berkisar antara 2-4 mm.


Overjet
Overjet merupakan jarak horizontal saat oklusi antara insisivus
rahang atas dan rahang bawah. Ukuran normal overjet berkisar 2-4
mm. Apabila melebihi dari 4 mm dapat dikatakan deep bite

(Foster, 1997).
4. Etiologi maloklusi
Maloklusi merupakan oklusi yang tidak sempurna. Maloklusi dapat
disebabkan karena berbagai penyebab atau etiologi. Menurut (AFRA),
etiologi dari maloklusi dapat dibedakan menjadi etiologi ekstrinsik dan
intrinsik.
a.
Ekstrinsik
1) Herediter
2) Kelainan bawaan
3) Kebiasaan buruk

10

b.

4) Malnutrisi
5) Pertumbuhan dan perkembangan yang salah
Intrinsik
1) Kelainan jumlah, ukuran, atau bentuk gigi
2) Premature loss
3) Prolonged retention
Sedangkan menurut (DEDEH), etiologi maloklusi dapat dibedakan

menjadi faktor herediter dan faktor lokal. Faktor herediter ini dapat
berupa diastem atau crowded pada gigi. Faktor lokal dapat berupa
premature loss, gigi desidui yang sulit tanggal atau prolonged retention,
jaringan lunak tidak seimbang, trauma, kebiasaan buruk, dan iatrogenik
akibat pemasangan alat ortodonsi. Menurut Rostina (1997), etiologi
maloklusi terdiri dari prenatal yaitu faktor herediter dan kongenital serta
postnatal yaitu faktor ekstrinsik seperti premature loss, trauma, ataupun
sistemik.
Etiologi maloklusi berdasarkan pada kasus skenario, maloklusi
terjadi karena adanya persistensi atau over retained deciduous teeth,
yang dapat disebabkan adanya gangguan pada nutrisi, arah tumbuh gigi
permanen tidak searah dengan gigi susu yang akan digantikan, atau
karena tidak cukupnya tempat bagi gigi permanen. Selain itu, adanya
over retained deciduous teeth dapat menyebabkan terjadinya anomali
berupa supernumerary teeth, sehingga arah tumbuh gigi 12 dan 21
terganggu menjadi ke palatal (palatoversi), dan mengakibatkan crossbite
anterior menjadi maloklusi kelas 1 tipe 3. Adanya dilaserasi pada akar 12
dapat disebabkan karena trauma gigi desidui, di mana terjadi gangguan
pembentukan enamel sehingga dilaserasi mengganggu pertumbuhan akar
(Zenab, 2010).
5. Klasifikasi maloklusi
Maloklusi dapat dibedakan menjadi tiga kelas menurut Angle, yaitu.
a.
Kelas 1 maloklusi atau neutroklusi
1) Lengkung gigi atas dan bawah mempunyai hubungan normal.
2) Mesio bukal cusp M1 RA terletak di bukal groove M1 RB.
3) Mesio palatal cusp M1 RA terletak di sentral fossa MI RB.
4) Disto bukal cusp M1 RA terletak diantara embrassure M1 dan
M2 RB.

11

5) Letak caninus RA interlock antara caninus dan P1 RB.


Pada kelas 1 dapat dibedakan lagi menjadi lima tipe, yaitu.
1) Tipe 1, apabila gigi insisivus berjejal dan gigi caninus terletak
di labial.
2) Tipe 2, protrusi atau insisivus atas labioversi.
3) Tipe 3, apabila satu atau lebih insisivus RA lebih ke arah
palatal terhadap insisivus RB (cross bite anterior).
4) Tipe 4, apabila terdapat cross bite pada gigi molar atau

b.

premolar (cross bite posterior).


5) Tipe 5, mesial drifting karena tanggalnya gigi depan.
Kelas II maloklusi atau distoklusi
1) Gigi dan lengkung gigi bawah letaknya lebih distal dari normal
dalam hubungan dengan gigi dan lengkungan gigi atas.
2) Mesiobukal cusp M1 atas letaknya lebih mesial dari bukal
groove M1 bawah.
3) RA lebih maju daripada RB.
Dibedakan lagi ke dalam dua divisi, yaitu.
1) Divisi 1, insisivus atas protrusi dan overjet meningkat.
2) Divisi II, insisivus atas retroklusi dan insisivus lateral atas
proklinasi dengan overjet normal dan overbite meningkat.
c. Kelas III maloklusi atau mesioklusi
1) Gigi dan lengkung gigi bawah letaknya lebih mesial dari
normal dalam hubungan dengan gigi dan lengkung gigi atas.
2) Mesio bukal cusp M1 atas letaknya lebih ke distal dari bukal
groove M1 bawah.
3) RB lebih maju daripada RA.
Terdapat tiga tipe dalam kelas 3, yaitu.
1) Tipe 1, hubungan incisor edge to edge.
2) Tipe 2, insisivus atas menumpang pada insisivus bawah, seperti
hubungan yang normal. Insisivus bawah agak berjejal.
3) Tipe 3, insisivus atas linguoversi (cross bite).
(Zenab, 2010)
Sedangkan menurut Bhalaji (2006), pada maloklusi kelas 3 dapat
dibedakan menjadi maloklusi sejati apabila mandibula besar dan
protusif dan pseudo apabila disebabkan karena habitual atau kebiasaan
dilihat dari pergerakan mandibulanya. Selain itu, maloklusi dapat
dibedakan berdasarkan etiologi dan kegunaanya. Menurut Bennet,
maloklusi dapat dibagi menjadi tiga kelas berdasarkan etiologinya,
yaitu.

12

a. Kelas I, karena faktor lokal


b. Kelas II, karena defek perkembangan gigi
c. Kelas III, karena rotasi lengkung gigi
Berdasarkan kegunaannya, klasifikasi maloklusi, yaitu.
a. Fungsi studi epidemiologi
b. Fungsi statistik kondisi oral
1) Bjork, untuk merekam oklusi pada gejalanya
2) Baume, berkaitan dengan masalah penilaian oklusal dilihat dari
pemeriksaan intra arch dan inter arch
(Hassan dan Rahimah, 2007)
Sedangkan menurut British Standard Institute, klasifikasi angle
tidaklah benar karena kelainan posterior tidak mempengaruhhi gigi
yang memiliki oklusi insisal.
6. Kriteria maloklusi
Kontak antar gigi geligi rahang atas dan rahang bawah dapat dikatakan
tidak sempurna atau maloklusi apabila tidak memenuhi ciri dari oklusi
normal. Beberapa kriteria maloklusi menurut Foster (1997), yaitu.
a. Apabila lokasi atau kedudukan gigi yang menyimpang dari oklusi
normal, menyimpang dari lengkung rahang.
b. Apabila terbentuk mekanisme refleks yang merugikan selama fungsi
pengunyahan.
c. Apabila gigi merusak jaringan lunak mulut.
d. Apabila terdapat gigi berjejal tidak teratur atau crowded.
e. Apabila posisi gigi menghalangi bicara yang normal
f. Apabila terjadi ketidak seimbangan dentofasial.
7. Kaitan maloklusi, malposisi, dan malrelasi
Maloklusi berkaitan dengan malposisi dan juga malrelasi.
Malposisi

merupakan

penyimpangan

pada

posisi

gigi,

seperti

penyimpangan hubungan antar gigi pada rahang yang sama maupun antara
rahang yang berbeda, dan penyimpangan posisi sumbu terhadap sumbu
alveolar. Malposisi ini dapat berupa elongasi apabila gigi tumbuh di atas
atau lebih dari oklusal, depresi apabila gigi tumbuh kurang dari oklusal,
rotasi, ektopik, dan transversi seperti mesioversi, distoversi, bukoversi,
palatoversi, linguoversi, labioversi, serta transposisi (Sulandjari, 2008).
Sedangkan malrelasi merupakan hubungan gigi yang tidak normal
atau abnormal, seperti hubungan antara lengkung rahang maupun

13

hubungan lengkung rahang dengan kranium. Contohnya pada kasus


bimaksila protusi. Selain itu, maloklusi berkaitan pula dengan malformasi,
apabila hubungan lengkung rahang tidak normal namun kemungkinan
relasi gigi normal. Contohnya mandibula lebih ke lateral kanan atau kiri
(Sulandjari, 2008).
8. Dampak maloklusi
Maloklusi memiliki banyak dampak dalam berbagai bidang. Menurut
(DEDEH), terdapat empat dampak maloklusi, yaitu.
a.
Gangguan pengunyahaan, seperti adanya rasa tidak nyaman dan
b.
c.
d.

nyeri pada TMJ.


Kesulitan saat berbicara.
Penampilan tidak normal.
Estetika, seperti kurang baik saat tersenyum dan seringkali akibat
maloklusi seseorang menjadi rendah diri karena merasa berbeda
dan mendapat ejekan atau punishment dari lingkungannya.

Dampak terhadap perkembangan psikologi dan emosional maloklusi


untuk anak sendiri dapat menyebabkan rasa rendah diri karena terdapat
perbedaan antar remaja oklusi normal dan maloklusi, kurangnya rasa
percaya diri akan penampilannya, dan menjadi beban pikiran sehingga
merasa tidak nyaman. Seringkali seseorang yang mengalami maloklusi
diejek sehingga dapat mempengaruhi persepsi berteman karena postur
wajah yang tidak normal (Zenab, 2010).

C. Pembahasan
Menurut Foster (1999), oklusi yang ideal pada masa gigi sulung adalah
memiliki lengkung rahang yang berbentuk ovoid, relasi molar flush terminal
plane, terdapat space antar gigi biasanya mesial dari kaninus atas dan distal dari
kaninus bawah dan neuroklusi. Pada masa gigi campuran, merupakan periode
dimana gigi susu dan permanen berada bersama-sama di dalam mulut. Akan tetapi
kunci oklusi tetap pada molar pertama atas sama seperti pada masa gigi permanen.
Menurut Salzmann (1966), terdapat 3 mekanisme yang berbeda pada penyesuaian
oklusi normal gigi susu ke periode gigi bercampur sampai tercapai stabilisasi pada
periode gigi permanen :

14

1.

Jika bidang vertikal dari permukaan distal molar kedua susu atas terletak
distal molar kedua susu bawah maka molar pertama permanen akan
menempati sesuai dengan oklusi pada gigi susu.

2.

Jika terdapat primate space dan bidang vertikal molar kedua susu segaris,
maka terjadi oklusi normal pada molar pertama permanen, karena adanya
pergeseran molar susu ke mesial sehingga ruangan tersebut tertutup.

3.

Jika bidang vertikal sama dan molar pertama permanen hubungannya


cusp, maka oklusi normal terjadi karena adanya pergeseran ke mesial yang
terjadi kemudian setelah molar kedua susu tanggal.

Terdapat banyak kriteria oklusi ideal pada masa gigi permanen antara lain
hubungan yang tepat antar lengkung gigi, angulasi mahkota gigi insisivus tepat di
bidang transversal, inklinasi atau kemiringan mahkota gigi insisivus tepat di
bidang sagital, tidak ada rotasi, tidak ada celah antara gigi-gigi, kurva spee datar
(Andrew, 1972).
Keadaan dimana tidak terdapat oklusi yang normal atau ideal disebut dengan
maloklusi. Maloklusi merupakan keadaan penyimpangan letak gigi dan malrelasi
lengkung gigi (rahang) diluar batas kewajaran yang dapat diterima. Maloklusi
dibentuk akibat gabungan dari beberapa kelainan gigi dan lengkung rahang seperti
malposisi gigi, malrelasi, malformasi, perubahan ukuran dan jumlah gigi, anomali,
serta susunan gigi (Rahardjo, 2012).
Malposisi terdiri dari beberapa kelainan letak gigi dalam hubungannya
dengan gigi antagonisnya, gigi yang sama dalam satu rahang, serta posisi sumbu
terhadap sumbu alveolar. Kelainan ini terdiri dari supraoklusi, infraoklusi,
transversi, rotasi, dan ektopik. Supraoklusi berkaitan dengan erupsi gigi geligi
yang melebihi garis oklusal, sedangkan infraoklusi adalah kebalikannya, gigi
tumbuh tidak mencapai batas oklusi. Transversi berkaitan dengan malposisi gigi
yang lebih condong ke arah labial, mesial, palatal, bukal, maupun lingual,
misalnya labioversi gigi condong tumbuh ke arah labial. Rotasi didefinisikan
sebagai perputaran gigi pada sumbu panjang gigi meliputi sentris dan eksentris.
Malformasi berkaitan dengan letak kerangka kranium dengan posisi mandibula

15

pada temporomandibular joint. Keadaan malformasi ditunjukkan dengan arah


oklusi rahang bergeser lebih ke lateral baik kanan maupun kiri. Sedangkan
malrelasi menunjukkan hubungan yang tidak baik rahang atas dan rahang bawah,
malrelasi berhubungan besar dengan malposisi secara sagital sehingga
menyebabkan mesioklusi, distoklusi, netriklusi, gigitan tonjol dan tidak berelasi.
Faktor umum yang mempengaruhi perkembangan oklusal dibagi menjadi
tiga, yaitu faktor skeletal, faktor otot, dan faktor dental. Faktor skeletal berkaitan
dengan tumbuhnya lengkung rahang dan dasar cranium yang dapat mempengaruhi
bentuk mulut dan profil muka. Kondisi oklusi gigi geligi berkaitan dengan rahang
disebabkan gigi geligi ini menempel pada pada rahang melalui alveolar sedangkan
alveolar berhubungan dengan tulang basal. Faktor lain menyebabkan maloklusi
terdapat fakror lokal, faktor lingkungan, dan iatrogenik (Rahardjo, 2011).
Faktor lokal dapat berupa gigi sulung tanggal prematur,persistensi gigi (over
retained desiduous teeth), trauma, jaringan lunak pendukung gigi seperti bibir,
pipi, lidah, dan frenulum. Gigi sulung tanggal prematur biasanya terjadi pada gigi
kaninus sulung yang mengakibatkan gigi kaninus geligi tetap tumbuh tidak
mengikuti jalur pertumbuhan melainkan mengikuti space yang masih ada, dan
gigi m2 sulung yang tanggal prematur juga dapat mempengaruhi pertumbuhan M1
permanen yang nantinya akan drifting sehingga tumbuh arah mesial dan
mengurangi ruang tumbuh P2. Trauma juga dapat mempengaruhi pertumbuhan
gigi geligi, misalnya akibat adanya trauma pada gigi sulung yang mendesak benih
gigi permanen sehingga mengganggu proses kalsifikasi gigi permanen dan
mengakibatkan gigi bengkok (dilaserasi).
Faktor lingkungan yang meliputi oral habit, seperti digiti sucking, tongue
thrusting, mouth breathing, bruxism, nail sucking dan lip sucking. Digiti sucking
yaitu kebiasaan memasukan dan menghisap jari. Hal ini akan menyebabkan open
bite, diastema pada gigi anterior maksila, gigi insisivus bawah mengalami
linguoversi, rahang menjadi bentuk V. Tongue thrusting merupakan kebiasaan
lidah mempertahankan posisi lidah dalam posisi menelan. Kebiasaan tongue
thrusting dapat menyebabkan rahang atas protusi, rahang bawah mengalami
protusi, diastema, bentuk gigitan open bite. Kebiasaan bernafas dengan mulut
(mouth breathing) diakibatkan karena obstruktif atau gangguan saat menghirup

16

udara melalui hidung terjadi pada, habitual atau kebiasaan mouth breathing akibat
gangguan tersebut meskipun telah dihilangkan, dan anatomical terjadi apabila
bibir atas dan bawah pendek sehingga menyebabkan tidak bisa menutup sempurna
sehingga menyebabkan rahang atas menjadi V dan palatum tinggi yang
membuat wajah penderita terlihat panjang dan sempit. Bruxism menyebabkan
atrisi pada gigi anterior dan erupsi dari insisive menjadi terhambat. Nail biting
(mengigit-gitit kuku) dapat menyebabkan ,atrisi pada ujung insisal gigi rotasinya
gigi, dan protusi gigi pada gigi yang sering digunakan mengigit. Lip sucking
merupakan kebiasaan mengigit bibir sehingga menyebabkan gigi anterior rahang
atas menjadi protusi, gigi rahang bawah menjadi retrusi, peningkatan overjet, dan
crowding gigi anterior (Singh, 2007).
Faktor-faktor habitual yang dapat menyebabkan terjadinya maloklusi ini
dipengaruhi oleh frekuensi, durasi, dan intensitas kebiasaan. Dari ketiga
komponen ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
I=FxD
Setiap kelainan gigi yang terjadi pada kasus saling berkorelasi. Kelainan yang
mungkin menyebabkan maloklusi pada skenario awal mulanya adalah over
retained deciduous teeth, hal ini ditandai dengan adanya gigi tambahan
supernumerary teeth pada gigi insisivus sentral maksila. Keadaan bertambahnya
gigi ini menyebakan malposisi pada gigi Eleora yang terjadi pada gigi 12 dan 21,
keadaan gigi yang palatoversi artinya arah tumbuh mengarah lebih menuju
palatum. Jumlah gigi yang terlalu banyak mempengaruhi space yang disediakan
dalam rahang tumbuhnya gigi, sehingga dapat menyebabkan gigi berjejal
(crowding). Crowding yang terjadi pada kasus berada pada regio anterior
mandibula. Gigi 12 dan 21 yang palotoversi juga menyebabkan gigi anterior
mandibula terlihat lebih protrusif sehingga menyebabkan crossbite yang terjadi.
Kasus menunjukkan tidak ada malformasi yang terjadi dan lengkung rahang
masih batas normal. Kasus juga menunjukkan maloklusi kelas 1 tipe 3 yaitu
hubungan molar masih dalam batas normal dimana terjadi molar relation kelas 1,
yaitu cusp mesiobukal molar 1 rahang atas berkontak dengan buccal groove

17

rahang bawah. Maloklusi kelas 1 tipe 3 menunjukkan adanya crossbite pada gigi
anterior, hal ini akibat gigi insisivus rahang atas yang palatoversi
over retained desiduous

trauma

Primary
dentition

Supernumerary

Mixed
dentitio
n

Dilaserasi 12

Ruang rahang semakin


berkurang

Gigi 12 dan 21 Palatoversi

Crowding anterior
mandibula

Crossbite anterior

Molar relation
Maloklusi angle kelas 1
tipe 3

Gambar 2.2 Hubungan Etiologi dan Maloklusi pada kasus


Maloklusi merupakan penyimpangan pertumbuhkembangan disebabkan
faktor-faktor tertentu, atau bisa dikenal juga dengan penyimpangan terhadap
oklusi normal. Menurut Foster (1997), bahwa maloklusi dapat terjadi pada
beberapa kondisi dibawah ini, yaitu.
1. Saat ada kebutuhan untuk melakukan posisi postural adaptif mandibula.
2. Pada gerakan menutup mandibula dari posisi istirahat atau postural
adaptif ke posisiinterkuspal, terdapat translokasi.
3. Posisi gigi yang sedemikian rupa menyebabkan terjadinya mekanisme
reflek yang merugikan selama fungsi pengunyahan pada mandibula.
4. Gigi menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak mulut.
5. Terdapat gigi berjejal atau tidak teratur yang memicu jaringan periodontal
gigi.
6. Penampilan yang kurang baik akibat posisi gigi yang kurang baik.
7. Terdapat gigi yang menghalangi fungsi bicara.

18

Klasifikasi Maloklusi
Klasifikasi bertujuan untuk mempermudah pemahan serta penjelasan
diperlukan klasifikasi. Banyak klasifikasi tentang maloklusi namun yang paling
sering digunakan ialah klasifikasi Angle, yaitu.
1.

Klasifikasi Skeletal
Menurut Maulani (2009), klasifikasi skeletal menghubungkan antara
rahang

atas

dan

rahang

bawah

terhadap

dasar

kranial.

Pengklasifikasiannya yaitu.
a. Klas I skeletal yaitu rahang atas dan rahang bawah pada relasi normal
(orthognathi).
b. Klas II skeletal yaitu rahang bawah terlihat lebih kecil dibanding
rahang atas (retrognathi).
c. Klas III skeletal yaitu rahang bawah terlihat lebih besar dibanding
rahang atas (prognathi).
2.

Klasifikasi Dental Angle


Klasifikasi Angle adalah hubungan antara molar pertama rahang atas dan
rahang bawah pada oklusi normal yaitu cusp mesiobukal molar pertama
permanen rahang atas beroklusi dengan groove bukal depan molar pertama
permanen rahang bawah.
a. Angle Klas I
Terdapat hubungan antero-posterior dari rahang yang normal dilihat
dari molar pertama permanen atau jika kedua lengkung

gigi dari

rahang bawah menutup dengan posisi oklusi yang normal, cusp


mesiobukal gigi molar pertama atas mempunyai relasi dengan buccal
groove molar pertama bawah, gigi di sebelah anterior gigi molar
posisinya bervariasi mulai dari berjejal atau renggang (Proffit dan
Fields, 1993). Menurut Angle, maloklusi kelas I terbagi menjadi.
1) Tipe 1 yaitu adanya gigi anterior yang berjejal.
2) Tipe 2 yaitu disertai lengkung gigi yang sempit, labioversi gigi
anterior maksila dan linguoversi dari gigi anterior mandibula.
3) Tipe 3 yaitu disertai linguoversi dari gigi anterior maksila, crowded
dan kurangnya perkembangan di regio proksimal.
Sedangkan Dr. Martin Dewey merincikan klasifikasi klas I ini menjadi.
1) Tipe 1 yaitu gigi-gigi anterior berjejal, gigi molar normal.

19

2) Tipe 2 yaitu gigi molar normal, gigi anterior terutama gigi atas
terlihat labioversi.
3) Tipe 3 yaitu terdapat gigitan silang anterior (crossbite anterior).
4) Tipe 4 yaitu hubungan molar normal dalam arah mesio distal tetapi
dalam arah buco-lingual ada pada posisi gigitan bersilang
(crossbite).
5) Tipe 5 yaitu molar pertama normal, tetapi pada gigi posterior
terjadi mesial drifting.

Gambar 2.3 netroklusi.


Sumber : Sulandjari H. Buku Ajar Ortodonsia I KGO I; 2008.
b. Angle Klas II
Maloklusi Angle klas II yaitu jika gigi geligi molar terletak dalam
posisi yang baik pada rahang bawah dan dalam oklusi sentrik
lengkung gigi rahang bawah beroklusi ke sebelah distal terhadap
lengkung gigi rahang atas (Rahardjo 2008). Relasi cusp mesiobukal
gigi molar pertama rahang atas beroklusi pada embrassure antara gigi
premolar kedua dan gigi molar pertama (Proffit dan Fields, 1993).
Angle membagi Klas II menjadi.
1) Divisi 1 yaitu disertai labioversi gigi maksila.
2) Divisi 2 yaitu disertai linguoversi gigi insisivus central maksila.
3) Subdivisi yaitu kondisi unilateral dari kedua divisi.
Dr. Martin Dewey membagi maloklusi Angle klas II menjadi :
1)

2)

Divisi 1 yaitu hubungan molar pertama bawah dan atas distoklusi


dan gigi anterior protrusif.
Divisi 2 yaitu hubungan molar pertama tetap atas dan bawah
distoklusi dan gigi anterior normal, tetapi gigi insisif lateral tetap
menutupi sebagian insisif sentral tetap yaitu overlap di atas gigi
insisivus sentral tetap.

20

Gambar 2.4distoklusi
Sumber : Sulandjari H. Buku Ajar Ortodonsia I KGO I; 2008.
c. Angle Klas III
Maloklusi klas III yaitu bila posisi gigi geligi molar terhadap rahang
masing-masing normal kemudian dalam oklusi sentrik lengkung gigi
rahang bawah beroklusi ke arah mesial terhadap lengkung gigi rahang
atas. Selanjutnya cusp mesiobukal gigi molar pertama rahang atas
beroklusi paling sedikit setengah cups terhadap groove distobukal gigi
molar pertama rahang bawah atau gigi geligi rahang bawah setengah
cusp lebih ke mesial dari gigi rahang atas dilihat dari hubungan molar
pertama. Angle membagi klas III menjadi tiga tipe yaitu.
1) Tipe 1 yaitu adanya lengkung gigi yang baik tetapi relasi
lengkungnya tidak normal.
2) Tipe 2 yaitu adanya lengkung gigi yang baik dari gigi anterior
maksila tetapi ada linguoversi dari gigi anterior mandibula.
3) Tipe 3 yaitu lengkung maksila kurang berkembang, linguoversi dari
gigi anterior maksila dan lengkung gigi mandibula baik.
Dr. Martin Dewey merincikan maloklusi Angle klas III sebagai
berikut.
1) Tipe 1 yaitu hubungan molar pertama tetap atas bawah dan bawah
mesioklusi sedangkan hubungan gigi anterior edge to edge.
2) Tipe 2 yaitu hubungan molar pertama tetap atas bawah mesioklusi
sedangkan gigi anterior tetap normal.
3) Tipe 3 yaitu hubungan gigi anterior seluruhnya adalah crossbite.

Gambar 2.5 mesioklusi


Ungkapan bahwa masa kanak-kanak adalah masa pertumbuhan emas
sangatlah tepat. Pada masa ini, anak-anak sedang mengalami fase percepatan

21

pertumbuhan. Namun bukan hanya pertumbuhan fisik yang dialami oleh anakanak usia 5-9 tahun, melainkan perkembangan psikologis juga menyertai fase ini
seiring dengan pertumbuhan fisiknya (Hawadi, 2011). Menurut Wade dan Tavris
(2011), masa 6-10 tahun adalah saat dimana anak mempelajari lingkungan dan
orang lain untuk dapat diterapkan pada dirinya sendiri agar dapat diterima oleh
lingkungan sekitarnya. Reward and punishment masih berperan dalam
pembentukan psikologi pada usia ini, walaupun bukan lagi dalam bentuk barang
melainkan dalam bentuk respon sosial yang diterima oleh sang anak. Oleh karena
itu anak dalam usia ini seringkali mengalami perubahan tingkah laku dan
kebiasaan guna menyesuaikan dirinya agar dapat masuk dalam komunitas yang
diinginkannya. Reward yang berlebihan akan membuat anak cenderung manja dan
pemalas karena anak tidak akan melakukan sesuatu kalau tidak ada hadiahnya,
sedangkan punishment yang berlebihan akan membentuk kepribadian rendah diri
dan perasaan bersalah setiap kali melakukan suatu pekerjaan. Bimbingan orang
tua dan pengarahan yang tepat akan menjadi mercusuar dalam menuntun
perkembangan psikologi anak.
Berdasarkan kasus, tampaklah jelas bahwa masa perkembangan psikologi
yang dialami pasien adalah masa-masa labil yang rentan dipengaruhi
lingkungannya. Anak tersebut sampai tidak masuk sekolah lantaran diejek temantemannya karena maloklusi. Apa yang sesungguhnya terjadi sehingga si anak
sangat terpengaruh kata-kata ejekan teman-temannya adalah si anak menganggap
bahwa dirinya tidak bisa diterima oleh lingkungannya karena masalah maloklusi
yang dialaminya. Si anak merasa bahwa ia berbeda dari teman-temannya dan
tidak pantas berada dalam lingkungan tersebut sehingga memutuskan tidak masuk
sekolah adalah solusi untuk mengindarinya.
Dilihat dari segi reward and punishment, si anak menangkap komentar ejekan
teman-temannya sebagai punishment yang ia terima karena penampilan fisiknya
tidak sebaik anak-anak yang lain. Punishment sebagai akibat dari maloklusi yang
ia terima secara terus menerus membuat si anak merasa rendah diri. Jika dibiarkan
tanpa bimbingan kepercayaan diri yang tepat dari orang tua, cepat atau lambat si

22

anak akan menjadi antisosial dan lebih nyaman sendirian guna menghindari
kemungkinan punishment yang akan ia terima dari lingkungannya.

BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Kesimpulan dari rumusan masalah yang terdapat dalam laporan Problem
Based Learning adalah.
1. Hal pokok yang membedakan bentuk oklusi pada masa primary dentition,
mixed dentition, dan gigi permanen adalah relasi dari gigi molar. Pada
masa primary dentition kriteria oklusi normalnya yaitu bentuk
lengkung gigi ovoid, relasi molar flush terminal plane, terdapat space
antar gigi biasanya mesial dari kaninus atas dan distal dari kaninus
bawah dan neuroklusi. Sedangkan pada masa mixed dentition dan
permanen yang diperhatikan adalah relasi M1 permanen, untuk kriteria
oklusi normal maka tonjol mesiobukal gigi M1 RA kontak dengan
bukal groove M1 RB (kelas 1 Angle).
2. Maloklusi merupakan keadaan penyimpangan letak gigi dan malrelasi
lengkung gigi (rahang) diluar batas normal. Maloklusi disebabkan oleh
gabungan dari beberapa kelainan gigi dan lengkung rahang seperti
malposisi gigi, malrelasi, malformasi, perubahan ukuran dan jumlah
gigi, anomali, serta susunan gigi.
3. Klasifikasi maloklusi yang sering digunakan yaitu menurut Angle. Angle
membagi menjadi 2 klasifikasi umum yaitu klasifikasi skeletal yang
berdasarkan hubungan antar rahang dengan dasar kranium dan
klasifikasi dental yang berdasarkan hubungan molar pertama rahang
atas dan rahang bawah.

23

4. Anak dengan maloklusi cenderung mendapatkan branding dari temantemannya sesuai kondisi fisiknya, sehingga membuat anak tidak
percaya diri dengan penampilannya dan akan menghambatnya dalam
sosialisasi dengan orang lain yang akan mempengaruhi proses
perkembangan psikologisnya.
B. Saran
Saran yang dapat disampaikan menurut persoalan yang telah kami bahas
adalah. Maloklusi dapat dicegah dengan adanya kerjasama antara orang tua dan
dokter gigi. Dokter gigi perlu memberikan edukasi kepada orang tua mengenai
perkembangan dan pertumbuhan gigi anak, sedangkan peran orang tua adalah
mengawasi pertumbuhan anak. Selain itu dokter gigi juga harus lebih cermat
dalam menangani pasien dengan memperhatikan usia serta giginya dalam masa
primary dentition, mixed dentition, atau gigi permanen sehingga rencana
perawatannya tepat.

Daftar Pustaka

24

Andrew, L F., 1972, The six keys to normal occlusion, Am J Orthod Dentofacial
Orthop, 62(3): 296-309.
Bhalaji, S. I., 2006, Orthodontics The Art and Science, Arya (MEDI) Publishing
House, New Delhi.
Foster, L.,1997, Buku Ajar Ortodonsi, EGC, Jakarta.
Graber, T.M., 1972, Orthodontics Principle and Practice, edisi 3, WB. Saunders
Co., Philadelphia.
Grist, F., 2010, Basic Guide to Orthodontic Dental Nursing, Wiley-Blackwell,
United Kingdom.
Harshanur, I. W., 1991, Anatomi Gigi, EGC, Jakarta.
Hassan, R., Rahimah, A. K., 2007, Occlusion, Malocclusion and Method
Measurement An Overview. Archieves of Orofacial Science, 2: 3-9.
Hawadi, R.A., 2011, Psikologi Perkembangan Anak, Mengenal Sifat, Bakat, dan
Kemampuan Anak, Grasindo, Jakarta.
Proffit, W.R., Fields, H.W., 1993, Contemporary orthodontics, edisi 2, Mosby, St.
Louis.
Rahardjo, P., 2011, Diagnosis Ortodonsi, Airlangga University Press, Surabaya.
Rahardjo, P., 2012, Ortodonti Dasar, Airlangga University Press, Surabaya.
Rostina, T., 1997, Oklusi, maloklusi, etiologi maloklusi. Penuntun kuliah ortodonti
I, Bagian Ortodonti, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera
Utara, Medan.
Salzmann, M.J., 1977, Principles of Orthodontics, edisi 7, CV. Mosby Co.,
London.
Singh., G., 2007, Textbook of Orthodontics, edisi 2, Jaypee Brothers Medical
Puliblisher, India.
Sudiono, J., 2008, Gangguan Tumbuh Kembang DentokranioFacial, EGC,
Jakarta.
Sulandjari, H., 2008, Buku Ajar Ortodonsia I KGOI, UGM, Jogjakarta.
Thomson, H., 2007, Oklusi, EGC, Jakarta.
Wade, C., Tavris, C., 2011, Psikologi edisi kesembilan jilid I, Erlangga, Jakarta.

25

Zenab, Y., 2010, Perawatan Maloklusi Kelas I Angle Tipe 2, UNPAD, Bandung.