Anda di halaman 1dari 11

JENIS PENELITIAN STUDI KASUS

STUDI KASUS DESKRIPTIF, EKSPLORATORI DAN EKSPLANATORI (KAUSAL)

NAMA

: SACRYANI P. HENUK (01.08.00042)


SELTIANA BANMETAN (01.08.00043)
SEPRIADI PELLO (01.08.00044)

PRODI

: KEPERAWATAN

MATA KULIAH

: METODOLOGI RISET KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


CITRA HUSADA MANDIRI
KUPANG
2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas tuntunan dan
penyertaan-NYA, sehingga tugas ini dapat terselesaikan dengan baik, untuk memenuhi syarat
atau tugas Metodologi Riset Keperawatan semester VI dalam jenjang pendidikan serjana.
Dalam proses penulisan tugas ini, ada pihak yang turut mempunyai andil atau terlibat
dalam membantu baik secara material maupun spiritual. Oleh karena itu dalam penulisan ini
penulis ingin menyampaikan banyak terima kasih.
Penulis sangat menyadari sebagai mahasiswa dalam penulisan tugas ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh sebab itu kritikan dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan
guna kesempurnaan tugas ini.

Kupang, maret 2011

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .
1.2 Tujuan Penulisan .
1.2.1 Tujuan Umum
1.2.2 Tujuan Khusus .
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ......................
3.2 Saran

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Para peneliti dapat memilih berjenis-jenis metode dalam melaksanakan
penelitiannya. Sudah terang, metode yang dipilih berhubungan erat dengan prosedur,
alat serta desain penelitian yang digunakan. Desain penelitian harus sesuai dengan
metode penelitian yang dipilih. Prosedur serta alat yang digunakan dalam penelitian
harus cocok dengan metode penelitian yang digunakan.
Prosedur memberikan kepada peneliti urutan-urutan pekerjaan yang harus
dilakukan dalam suatu penelitian. Teknik penelitian mengatakan alat-alat pengukur apa
yang diperlukan dalam melaksanakan suatu peneltian. Sedangkan metode penelitian
memandu si peniliti tentang urut-urutan bagaimana penelitian dilakukan. Jika kita
membicarakan bagaimana secara berurut suatu penelitian dilakukan, maka yang
dibicarakan adalah metode penelitian.
Memang dalam banyak hal orang banyak mencampurbaurkan antara prosedur
dengan metode penelitian, ataupun antara metode dengan teknik penelitian. Jika
seseorang membicarakan metode penelitian, maka ia tidak terlepas dari membicarakan
teknik dan prosedur penelitian. Akibatnya, peneliti dan ahli terdahulu mencampuradukan
saja antara prosedur dan metode penelitian. Berikut kita akan membahas beberapa
jenis penelitian studi kasus.

1.2.

Tujuan Penulisan
1.2.1. Tujuan Umum
Meningkatkan pola pikir ilmiah tentang jenis penelitian studi kasus
1.2.2. Tujuan Khusus
Meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang :
1. Studi kasus deskriptif
2. Studi kasus eksploratori
3. Studi kasus eksplanatori (kausal)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Penelitian kasus
Penelitian kasus adalah suatu penelitian yang dilakukan secara intensif, terinci dan
mendalam terhadap suatu organisasi, lembaga atau gejala tertentu. Ditinjau dari wilayahnya,
maka penelitian kasus hanya meliputi daerah atau subyek yang sangat sempit. Tetapi ditinjau
dari sifat penelitian, penelitian kasus lebih mendalam.
Jenis penelitian studi kasus

Studi Kasus Deskriptif


Penelitian deskriptif merupakan studi mengenai frekuensi dan distribusi suatu penyakit
pada manusia atau masyarakat menurut karakteristik orang yang menderita (person), tempat
kejadian (place) dan waktu kejadiannya (time) penyakit.
Contohnya, pada penyakit demam berdarah dengue (DBD), penderita yang sensitif dan
mudah terserang adalah kelompok usia balita, tinggal didaerah beriklim tropis dan umumnya
terjadi pada saat musim penghujan serta bersifat musiman.
Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia,
suatu objek, suatu set kondisi, suatu sisitem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada
masa skarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskriptif,
gambaran atau lukisan secara sistimatis, aktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat
serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.
1. Defenisi
Menurut Whitney (1960), metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi
yang tepat. Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta
tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang
hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan, serta proses-proses
yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari fenomena.
2. Ciri-ciri metode deskriptif
Secara harafiah metode deskriptif adalah metode penelitian untuk membuat gambaran
mengenai situasi atau kejadian, sehingga metode ini berkehendak mengadakan
akumulasi data dasar belaka. Tetapi dalam pengertian metode penelitian yang lebih luas,
penelitian deskriptif mencakup metode penelitian yang lebih luas di luar metode sejarah
dan eksperimental, dan seara lebih umum sering diberi nama, metode survei.

3. Jenis-jenis penelitian deskriptif


Ditinjau dari jenis masalah yang diselidiki, teknik dan alat yang digunakan dalam meneliti,
serta tempat dan waktu penelitian dilakukan, penelitian deskriptif dapat dibagi atas
beberapa jenis, yaitu :

o
o
o
o
o
o

Metode survei,
Metode deskriptif berkesambungan (continuity deskriptive),
Studi kasus,
Studi atau penelitian komparatif,
Studi waktu gerakan,
Analisa kerja dan aktifitas.

4. Kriteria pokok metode deskriptif


Metode deskriptif mempunyai beberapa kriteria pokok, yang dapat dibagi atas kriteria
umum dan kriteria khusus. Kriteria tersebut adalah :
o Kriteria umum
1) Masalah yang dirumuskan harus patut, ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas.
2) Tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum.
3) Data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan
opini.
4) Standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas.
5) Harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan.
6) Hasil penelitian harus berisi secara detail yang digunakan baik dalam pengumpulan
data maupun dalam menganalisa data serta studi kepustakaan yang dilakukan.
Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoritis yang digunakan,
jika kerangka teoritis itu telah dikembangkan.
o Kriteria khusus
1) Prinsip-prinsip atau data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value).
2) Fakta-fakta atau prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status.
3) Sifat penelitian adalah ex post facto, karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel,
dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel.
Variabel dilihat sebagaimana adanya.
5. Langkah-langkah umum dalam metode deskriptif
Dalam melaksanakan penelitian deskriptif, maka langkah-langkah umum yang sering
diikuti adalah sbb:
o Memilih dan merumuskan masalah
o Menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan
o Memberikan limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif
tersebut akan dilaksanakan.
o Pada bidang ilmu yang telah mempunyai teori-teori yang kuat, maka perlu dirumuskan
kerangka teori atau kerangka konseptual yang kemudian diturunkan dalam bentuk
hipotesa-hipotesa untuk diveritifikasikan.
o Menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah
yang ingin dipecahkan.
o Merumuskan hipotesa-hipotesa yang ingin diuji, baik secara eksplisit maupun secara
implicit.
o Melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data, gunakan teknik pengumpulan
data yang cocok untuk penelitian.
o Membuat tabulasi serta analisa statistic dilakukan terhadap data yang telah
dikumpulkan.

o
o

Memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi social yang
ingin diselidiki serta dari data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah
yang ingin dipecahkan.
Mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan serta hipotesa-hipotesa yang
ingin diuji.
Membuat laporan penelitian dengan cara ilmiah.

Sekarang, timbul pertanyaan mengenai siapa yang menderita (who), di mana tempat
kejadian (where) dan kapan terjadinya (when) penyakit tersebut? Untuk menjawab
pertanyaan tersebut, kita harus mempelajari lebih mendalam mengenai segala sesuatu
tentang who, where dan when.

Who (siapa)
Distribusi penyakit menurut orang adalah menggambarkan siapa atau populasi mana yang
menderita penyakit atau mengalami masalah kesehatan, siapa yang memiliki resiko tinggi
terkena penyakit, bagaimana gambaran identitas orang tersebut misalnya :
1. Usia
2. Jenis kelamin
3. Ras dan etnis
4. Status marital
5. Pekerjaan dan status ekonomi
6. Agama dan kepercayaan
7. Pendidikan

Where (tempat kejadian)


Tempat terjadinya penyakit merupakan variabel penting karena dapat menyebabkan pada
angka kesakitan dan kematian di masyarakat atau kelompok masyarakat menurut tempat
tinggalnya. Perbedaan tempat ini dapat bersifat internasional (antarnegara di dunia),
nasional (antara propinsi, kabupaten dan kotamadya), atau lokal (antara kota dan desa).

When (waktu kejadian)


Waktu merupakan variabel penting dalam penelitian karena terkait erat dengan perubahan
meteorologi, migrasi penduduk, bencana alam dan perang, program pelayanan kesehatan
dan lain-lain.
Menurut waktu, penyakit dapat terjadi dalam suatu periode tertentu, baik periode yang
panjang maupun pendek, atau bahkan sampai bertahun-tahun atau dekade. Berdasarkan
lamanya waktu dan besar atau kecilnya frekuensi penyakit yang terjadi di masyarakat,
terdapat suatu kecenderungan atau tren penyakit yang terjadi di masyarakat, yaitu :tren
sekuler (secular trend), tren musiman dan tren siklus (cyclic trend).

Studi Kasus Eksploratori


Penelitian eksploratori adalah penelitian yang bertujuan untuk menguji suatu teori atau
hipotesis guna memperkuat atau bahkan menolak teori atau hipotesis hasil penelitian yang
sudah ada.

Penelitian eksploratori bersifat mendasar dan bertujuan untuk memperoleh keterangan,


informasi, data mengenai hal-hal yang belum diketahui. Karena bersifat mendasar, penelitian
ini disebut penjelajahan (eksploration) Penelitian eksploratori dilakukan apabila peneliti
belum memperoleh data awal sehingga belum mempunyai gambaran sama sekali mengenai
hal yang akan diteliti. Penelitian eksploratori tidak memerlukan hipotesis atau teori tertentu.
Peneliti hanya menyiapkan beberapa pertanyaan sebagai penuntun untuk memperoleh data
primer berupa keterangan, informasi, sebagai data awal yang diperlukan.

Studi Kasus Eksplanatori (kausal)


Penelitian eksplanatori atau eksplanatif bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara
dua atau lebih gejala atau variabel. Penelitian ini bertitik pada pertanyaan dasar mengapa.
Orang sering tidak puas hanya sekadar mengetahui apa yang terjadi, bagaimana terjadinya,
tetapi juga ingin mengetahui mengapa terjadi. Kita ingin menjelaskan sebab terjadinya suatu
peristiwa. Untuk itu, perlu diidentifikasi berbagai variabel di luar masalah untuk
mengkonfirmasi sebab terjadinya suatu masalah. Oleh karena itu, penelitian penjelasan ini
juga disebut sebagai penelitian konfirmatori (Confirmatory research) dan makin dikenal
sebagai penelitian korelasional (Correlational research).
Penelitian kausal, juga menurut Kotler, p. 122, adalah penelitian yang bertujuan menguji
(mengetes) hipotesis tetang hubungan sebab dan akibat. Dalam pelaksanaannya, penelitian
kausal itu dilakukan lazimnya dengan eksperimen. Ada satu hal yang dicoba diterapkan
(disebut treatment, diperlakukan sebagai variabel independen yang disimbulkan X) untuk
diuji apakah menyebabkan terjadi sesuatu (akibat, efek, diperlakukan sebagai variabel
dependen, disimbulkan Y). Singkatnya, apakah X menyebabkan Y.
Melalui penelitian eksplanatori ini dapat diketahui bagaimana korelasi antara dua atau
lebih variabel baik pola, arah, sifat, bentuk, maupun kekuatan hubungannya. Penelitian
koreslasional ini dimulai dengan pertanyaan implisit atau eksplisit: Adakah hubungan antara
X dan Y? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini hanya dapat diperoleh melalui penelitian
penjelasan atau korelasional. Berikut ini adalah contoh penelitian korelasional: Adakah
hubungan antara motivasi kerja dan tingkat kemangkiran pegawai?, Adakah hubungan
antara motivasi kerja dan tingkat kemangkiran pegawai?.
Ada dua tipe utama penelitian eksplanasi, yaitu penelitian asosiasi yang disebut juga
dengan nama penelitian kovariasional, dan penelitian kausal. Ini berhubungan dengan
makna yang terkadung dalam hubungan antar-variabel yang mungkin bermakna sebagai
asosiasi (tidak menjelaskan sebab-akibat) atau hubungan kausal (menjelaskan sebabakibat). Baik dalam penelitian koresional maupun kausal, perhatian utama menentukan arah,
besar atau kekuatan-kekuatan hubungan, dan bentuk-bentuk hubungan-hubungan yang di
observasi. Jadi, penelitian korelasional dan kausal meliputi obeservasi nilai-nilai dari dua
atau lebih variabel dan menentukan apakah terdapat hubungan di antara mereka. Hubungan
antar-variabel, apakah asosiasional atau kausal, dapat diketahui melalui survei literatur.

Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat antara variabel
independen (mempengaruhi) degan variabel dependen (dipengaruhi). Contoh : kecerdasan
emosi dapat meningkat prestasi siswa dan siswi yang berprestasi berkemungkinan memiliki
kecerdasan emosi?
Hubungan kausal (menjelaskan sebab-akibat). Baik dalam penelitian koresional maupun
kausal, perhatian utama menentukan arah, besar atau kekuatan kekuatan hubungan, dan
bentuk-bentuk hubungan-hubungan yang di observasi. Jadi, penelitian korelasional dan
kausal meliputi obeservasi nilai-nilai dari dua atau lebih variabel dan menentukan apakah
terdapat hubungan di antara mereka. Hubungan antar-variabel, apakah asosiasional atau
kausal, dapat diketahui melalui survei literatur.

BAB III
PENUTUP
3.1.

Kesimpulan
Dari pembahasan pada BAB II diatas, penulis dapat menarik kesimpulan sbb :
1. Penelitian kasus adalah suatu penelitian yang dilakukan secara intensif, terinci dan
mendalam terhadap suatu organisasi, lembaga atau gejala tertentu
2. Penelitian deskriptif merupakan studi mengenai frekuensi dan distribusi suatu
penyakit pada manusia atau masyarakat menurut karakteristik orang yang menderita
(person), tempat kejadian (place) dan waktu kejadiannya (time) penyakit.

3. Penelitian eksploratori adalah penelitian yang bertujuan untuk menguji suatu teori
atau hipotesis guna memperkuat atau bahkan menolak teori atau hipotesis hasil
penelitian yang sudah ada.
4. Ada dua tipe utama penelitian eksplanasi, yaitu penelitian asosiasi yang disebut juga
dengan nama penelitian kovariasional, dan penelitian kausal. Ini berhubungan
dengan makna yang terkadung dalam hubungan antar-variabel yang mungkin
bermakna sebagai asosiasi (tidak menjelaskan sebab-akibat) atau hubungan kausal
(menjelaskan sebab-akibat).
5. Hubungan kausal (menjelaskan sebab-akibat). Baik dalam penelitian koresional
maupun kausal, perhatian utama menentukan arah, besar atau kekuatan kekuatan
hubungan, dan bentuk-bentuk hubungan-hubungan yang di observasi. Jadi,
penelitian korelasional dan kausal meliputi obeservasi nilai-nilai dari dua atau lebih
variabel dan menentukan apakah terdapat hubungan di antara mereka. Hubungan
antar-variabel, apakah asosiasional atau kausal, dapat diketahui melalui survei
literatur.
3.2.

Saran
Adapun saran yang ingin penulis kemukakan adalah :
1. Penelitian eksploratori, deskriptif dan kausal adalah jenis penelitian yang harus
digunakan jika ingin melakukan suatu penelitian.
2. Jika ingin mendapatkan hasil penelitian yang baik, maka pergunakanlah penilitian
eksploratori, deskriptif dan kausal.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto Prof.Dr. Suharsimi, 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan praktek.
Rineka Cipta, Jakarta.
Chandra. Dr. Budiman, 2008. Metodologi Penelitian Kesehatan, EGC, Jakarta.
Nursalam, 2003. Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.
Salemba Madika, Jakarta.