Anda di halaman 1dari 9

PENDAHULUAN

Sebagai calon tenaga kesehatan sudah seharusnya mengetahui apa saja kebutuhan
dasar manusia. Dimulai dari pemenuhan kebutuhan rasa aman dan nyaman, kebutuhan
aktivitas dan latihan, kebutuhan cairan elektrolit, kebutuhan oksigenasi dan masih banyak
lagi. Dari sekian banyak kebutuhan dasar manusia salah satu yang terpenting adalah
kebutuhan eliminasi.
Eliminasi merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang penting bagi setiap
individu. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, eliminasi adalah pengeluaran,
penghilangan, penyingkiran, penyisihan. Sehingga, dalam bidang kesehatan eliminasi
merupakan suatu keadaan dimana tubuh melakukan proses pembuangan sisa metabolisme
tubuh melalui dua cara, baik berupa eliminasi miksi maupun eliminasi fekal.
Eliminasi miksi merupakan proses pengosongan kandung kemih bila kandung kemih
sudah terisi penuh. Eliminasi miksi terjadi dengan melibatkan beberapa organ penting yaitu
ginjal yang berfungsi sebagai penyaring limbah darah, ureter yang berfungsi mentranspor
urin dari ginjal ke kandung kemih, kandung kemih yang berfungsi sebagai tempat
penampung urin sementara dan yang terakhir uretra saluran yang berfungsi mengeluarkan
urin.
Eliminasi fekal merupakan suatu proses membuang kotoran/tinja/feses/fekal yang
padat atau setengah padat yang berasal dari sistem pencernaan. Eliminasi fekal melibatkan
sistem saluran gastrointestinal yang merupakan serangkaian organ muskular berongga yang
dilapisi oleh membrane mukosa (selaput lendir). Tujuan organ ini ialah mengabsorpsi
cairan dan nutrisi, menyiapkan makanan untuk diabsorpsi dan digunakan oleh sel-sel
tubuh, serta menyediakan tempat penyimpanan feses sementara.
Eliminasi fekal merupakan bagian terpenting dalam proses pembuangan hasil sisa
pencernaan, sehingga sangat penting untuk diketahui bagaimana proses pembuangan hasil
sisa pencernaan ini terjadi. Dengan melibatkan sistem gastrointestestinal dan beberapa
fungsi organ dalam proses eliminasi, antara lain: mulut, esofagus, lambung, usus halus, dan
usus besar. Eliminasi produk sisa makanan yang teratur merupakan aspek yang penting
untuk fungsi normal tubuh. Perubahan eliminasi dapat menyebabkan masalah pada sistem
gastrointestinal dan sistem tubuh lainnya karena fungsi usus bergantung pada
keseimbangan beberapa faktor. Pola dan kebiasaan eliminasi bervariasi antara satu individu
1

dengan individu lainnya. Namun, telah terbukti bahwa pengeluaran feses yang sering,
dalam jumlah besar, dan karakteristiknya normal biasanya berbanding lurus dengan
rendahnya insiden kanker kolorektal.
Bagaimana proses eliminasi fekal terjadi pada tubuh manusia, tidak banyak yang
mengetahui organ-organ apa saja yang terlibat dalam proses eliminasi fekal. Bahkan tidak
banyak yang tahu apa saja dampak yang dapat ditimbulkan bila eliminasi fekal tidak terjadi
selama beberapa hari. Hal inilah yang akan saya bahas dalam makalah ini agar pembaca
dapat mengetahui dan memahami bagaimana fisiologi eliminasi fekal terjadi dan
bagaimana peranan tiap organ tubuh manusia.

ISI
1. Argumen
Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa banyaknya kebutuhan dasar
manusia khususnya dalam bidang kesehatan menuntut semua masyarakat umum,
khususnya tenaga kesehatan untuk lebih pintar dalam memenuhi kebutuhan dasar. Salah
satu kebutuhan dasar yang penting dan signifikan adalah kebutuhan eliminasi fekal. Dalam
proses eliminasi fekal atau defekasi melibatkan beberapa organ yang tersusun sebagai
sistem gastrointestinal.
Anatomi fisologi sistem gastrointestinal merupakan suatu proses pencernaan yang
melibatkan organ mulut yang secara mekanis dan kimiawi berfungsi memecah nutrisi ke
ukuran dan bentuk yang sesuai. Organ selanjutnya yaitu esofagus merupakan sebuah tube
yang panjang dan berfungsi sebagai penghubung ke organ pencernaan selanjutnya yaitu
lambung. Lambung berfungsi untuk mengubah makanan yang sebelumnya masih
berbentuk padat dan berupa gumpalan yang diubah menjadi gumpalan lembek dan telah
menjadi substansi yang disebut chyme atau kimus. Kemudian kimus ini dibawa menuju
usus halus yaitu pada bagian duodenum, karena duodenum merupakan organ yang
terhubung langsung dengan lambung. Bagian akhir dari organ yang terlibat yaitu usus
besar dimana proses yang terjadi adalah absorpsi, proteksi, sekresi dan hingga akhirnya
eliminasi.
2. Teori
2.1 Definisi
2.1.1 Eliminasi
Eliminasi adalah pengeluaran (seperti racun dari tubuh), penghilangan,
penyingkiran, penyisihan sehingga dalam bidang kesehatan eliminasi
merupakan suatu keadaan dimana tubuh melakukan proses pembuangan sisa
metabolisme tubuh melalui dua cara, baik berupa eliminasi miksi maupun
2.1.2

eliminasi fekal. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2015)


Defekasi
Defekasi atau buang air besar adalah proses pembuangan atau pengeluaran
sisa metabolisme berupa feses dan flatus yang berasal dari saluran pencernaan
melalui anus. (Hidayat, 2006)

2.2 Fisiologi Sistem Gastrointestinal


2.2.1 Mulut
Saluran gastrointestinal (GI) secara mekanis dan kimiawi memecah nutrisi ke
ukuran dan bentuk yang sesuai. Pencernaan kimiawi dan mekanis dimulai di mulut.
3

Gigi berfungsi menghancurkan makanan pada awal proses pencernaan. Gigi


mengunyah makanan, memecahnya menjadi ukuran yang dapat ditelan. Sekresi
saliva mengandung enzim seperti ptyalin yang mengawali pencernaan unsur-unsur
makanan tertentu. Saliva mencairkan dan melunakkan bolus makanan di dalam mulut
sehingga lebih mudah ditelan. (fundamental keperawatan, edisi 4, volume 2:1739)
2.2.2

Esofagus

Makanan yang telah masuk ke esofagus bagian atas akan berjalan melalui sfingter
esofagus bagian atas, yang merupakan otot sirkular, yang mencegah udara memasuki
esofagus dan makanan mengalami refluks (bergerak ke belakang) kembali ke
tenggorok. Makanan didorong oleh gerakan peristaltic lambat yang dihasilkan oleh
kontraksi involunter dan relaksassi otot halus secara bergantian. Kontraksi-relaksasi
otot halus yang saling bergantian ini mendorong makanan menuju gelombang
berikutnya.
Dalam 15 detik, bolus makanan beregerak menuruni esofagus dan mencapai
sfingter esofagus bagian bawah. Sfiingter esofagus bagian bawah terletak di antara
esofagus dan lambung. Faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan sfingter esofagus
bagian bawah meliputi antasid, yang meminimalkan refluks, dan nikotin serta
makanan berlemak yang meningkatkan refluks. (fundamental keperawatan, edisi 4,
volume 2:1739)
2.2.3 Lambung
Di dalam lambung, makanan disimpan untuk sementara dan secara mekanis dan
kimiawi dipecah untuk dicerna dan diabsorpsi. Lambung menyekresikan asam
hidroklorida (HCl), lendir, enzim pepsin dan faktor intrinsik. Konsentrasi HCl
mempengaruhi keasaman lambung dan keseimbangan asam-basa tubuh. HCl
membantu mencampur dan memecah makanan di lambung. Lendir melindungi
mukosa lambung dari keasaman dan aktivitas enzim. Pepsin mencerna protein,
walaupun tidak banyak pencernaan yang berlangsung di lambung. Faktor intrinsik
adalah komponen penting yang dibutuhkan untuk absorpsi vitamin B12 di dalam usus
dan untuk membantu pembentukan sel darah merah normal. Sebelum makanan
meninggalkan lambung, makanan diubah menjadi materi semicair yang disebut
kimus. (fundamental keperawatan, edisi 4, volume 2:1739;1740)
2.2.4 Usus halus

Merupakan sebuah saluran dengan diameter sekitar 2,5 cm dan panjang 6 m.


Berikut merupakan senyawa yang dihasilkan oleh usus halus: (Tarwoto&Wartonah,
2010):
Senyawa Kimia
Disakaridase
Erepsinogen
Hormon Sekretin
Hormon
(kolesistokinin)

Fungsi
Menguraikan disakarida menjadi monosakarida
Erepsin mengubah pepton menjadi asam amino.
Merangsang kelenjar pankreas mengeluarkan senyawa kimia

yang dihasilkan ke usus halus.


CCK Merangsang hati untuk mengeluarkan cairan empedu ke
dalam usus halus.

Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu duodenum, jejenum dan ileum. Kimus
bercampur dengan enzim-enzim pencernaan (empedu dan amilase) saat berjalan
melalui usus halus. Segmentasi (kontraksi dan relaksasi otot halus secara bergantian)
mengaduk kimus, memecah makanan lebih lanjut untuk dicerna. Kimus berjalan
perlahan melalui usus halus untuk memungkinkan absorpsi.
Kebanyakan nutrisi dan elektrolit diabsorpsi di dalam usus halus. Enzim dari
pankreas dan empedu dari kandung empedu dilepaskan ke dalam duodenum. Enzim
di dalam usus halus memecah lemak, protein, dan karbohidrat menjadi unsur-unsur
dasar. Nutrisi hampir seluruhnya diabsorpsi oleh duodenum dan jejnum. Ileum
mengabsorpsi vitamin-vitamin tertentu, zat besi, dan garam empedu. Apabila fungsi
ileum terganggu, proses pencernaan akan mengalami perubahan besar. Inflamasi,
reaksi bedah, atau obstruksi dapat mengganggu peristaltik, mengurangi area absorpsi,
atau menghambat aliran kimus. (fundamental keperawatan, edisi 4, volume 2:1740)
2.2.5 Usus besar
Saluran gastrointestinal bagian bawah disebut usus besar (kolon) karena ukuran
diameternya lebih besar daripada usus halus. Namun panjangnya yakni 1,5 sampai
1,8 m jauh lebih pendek dari usus halus. Usus besar merupakan organ utama dalam
eliminasi fekal. Usus besar dibagi menjadi tiga bagian yaitu:
a. Sekum
Kimus yang tidak diabsorpsi memasuki sekum melalui katup ileosekal. Katup ini
merupakan lapisan otot sirkular yang mencegah regurgitasi dan kembalinya isi kolon
ke usus halus.
b. Kolon
Kolon dibagi menjadi empat bagian yaitu kolon asendens, kolon transversal, kolon
desenden dan kolon sigmoid. Walaupun kimus yang berair memasuki kolon, volume
air akan menurun saat kimus bergerak disepanjang kolon. Kolon dibangun oleh
5

jaringan otot, yang memungkinkan menampung dan mengeliminasi produk buangan


dalam jumlah besar.
Kolon memiliki empat fungsi yang saling berkaitan yaitu absorpsi, proteksi,
sekresi dan eliminasi. Kontraksi peristaltik yang lambat menggerakkan isi usus ke
kolon. Isi usus merupakan stimulus utama untuk terjadinya kontraksi. Produk
buangan dan gas memberikan tekanan pada dinding kolon. Gerakan peristaltik masa,
mendorong makanan yang tidak tercerna menuju rektum. Gerakan ini terjadi hanya
tiga sampai empat kali sehari. Saat terjadi gerakan peristaltik masa, segmen besar
kolon berkontraksi akibat respons refleks gastrokolik dan duodenokolik. Gerakan ini
terjadi apabila lambung atau duodenum terisi makanan. Pengisian makanan ke dalam
lambung atau duodenum ini mencetuskan impuls saraf yang menstimulasi dinding
otot kolon. Gerakan peristaltik masa paling kuat terjadi pada jam setelah makan.
c. Rektum
Rektum merupakan bagian akhir dari saluran gastrointestinal. Produk buangan yang
mencapai bagian kolon sigmoid disebut feses. Sigmoid menyimpan feses sampai
beberapa saat sebelum defekasi. Dalam kondisi normal, rektum tidak berisi feses
sampai defekasi. Rektum dibangun oleh lipatan-lipatan jaringan vertical dan
transversal. Setiap lipatan vertical berisi satu arteri dan lebih dari satu vema. Apabila
masa feses atau gas bergerak ke dalam rectum untuk membuat dindingnya
berdistensi, maka proses defekasi dimulai dan terdapat otot sfingter yang berfungsi
untuk mengontrol defekasi.
Proses ini melibatkan kontrol volunter dan control involunter. Sfingter interna
adalah sebuah otot polos yang dipersarafi oleh sistem saraf otonom. Saat rektum
mengalami distensi, saraf sensorik distimulasi dan membawa impuls-impuls yang
menyebabkan relaksasi sfingter interna, memungkinkan lebih banyak feses yang
memasuki rektum. Pada saat yang sama, impuls bergerak ke otak untuk menciptakan
suatu kesadaran bahwa individu perlu melakukan defekasi.
PENUTUP
1. Simpulan
Eliminasi fekal merupakan salah satu kebutuhan dasar yang penting bagi setiap
individu. Eliminasi fekal merupakan proses pengeluaran kotoran/tinja/feses/fekal dari anus
dan rektum. Pada setiap individu frekuensi eliminasi fekal berbeda-beda, namun rata-rata
satu kali dalam satu hari atau ada juga dua sampai tiga kali perminggu.
Eliminasi fekal dapat terjadi dengan melibatkan sistem gastrointestinal manusia yang
meilputi mulut, esofagus, lambung, usus halus dan usus besar. Tidak hanya itu, enzim6

enzim pada mulut, lambung dan usus juga sangat penting peranannya karena membantu
dalam melakukan proses pencernaan. Sehingga jika salah satu fungsi organ terganggu,
maka eliminasi fekal juga dapat terganggu kerjanya.
Maka dari itu eliminasi fekal merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang
penting bagi setiap individu. Eliminasi fekal merupakan salah satu cara tubuh untuk
membuang zat sisa makanan atau bahkan racun yang ada dalam tubuh karena dalam proses
eliminasi fekal melibatkan beberapa organ yang dapat menetralisir atau membuang racunracun tersebut melalui eliminasi fekal. Sangat penting untuk diketahui bagaimana fisiologi
eliminasi fekal sehingga tidak ada lagi kesalahan dalam penyampaian maupun penerimaan
informasi.
2. Saran
2.1 Masyarakat umum harus mengetahui pentingnya pemenuhan kebutuhan dasar
manusia, salah satunya eliminasi.
2.2 Masyarakat umum dapat mengetahui bagaimana proses eliminasi melalui
membaca, bertanya, mendengarkan dan mencari informasi mengenai eliminasi
fekal.
2.3 Masyarakat umum diharapkan melakukan eliminasi fekal secara rutin untuk
menghindari beberapa gangguan pada eliminasi fekal.
2.4 Tenaga kesehatan (perawat) agar dapat memberikan pelayanan yang baik dan
tepat kepada pasien dalam hal eliminasi fekal.
2.5 Tenaga kesehatan (perawat) dapat menjadi mediator dalam menjelaskan
bagaimana proses eliminasi fekal terjadi secara sederhana.
2.6 Tenaga kesehatan (perawat) menambah dan memperbarui ilmu pengetahuan
khususnya tentang eliminasi fekal.
DAFTAR PUSTAKA
Potter&Perry, fundamental keperawatan edisi 4 volume 2, p 1739-1740
Swedarma, Ns. Kadek Eka M.kes. kebutuhan eliminasi fekal.pdf, 2015
Universitas Sumatera Utara.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/43789/5/Chapter%20I.pdf. (Sitasi 26
September 2015, jam 21.45)
7

Lampiran 1