Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Antibiotik beta laktam merupakan golongan antibiotika yang pertama kali
ditemukan. Meskipun sampai sekarang banyak golongan antibiotika dengan berbagai
variasi sifat dan efaktivitasnya terhadap bakteri, namun demikian antibiotika ini
masih sering dipergunakan sebagai obat pertama dalam mengatasi suatu infeksi.
Golongan antibiotika ini secara umum tidak tahan terhadap pemanasan, mudah rusak
pada suasana asam dan basa serta dapat diinaktifkan oleh enzim beta laktamase.
Penisilin, sefalospori, monobaktam dan karbapenem termasuk golongan
antibiotika betalaktam. Karena pada struktur kimianya terdapat cincin betalaktam.
Semua antibiotika tersebut mempunyai mekanisme kerja yang mirip yaitu dengan
menghambat sintesis mukopeptida yang diperlukan untuk pembentukan dinding sel
bakteri.
Golongan antibiotika yang memiliki kesamaan komponen struktur berupa
adanya cincin beta-laktam dan umumnya digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri.
Terdapat sekitar 56 macam antibotik beta-laktam yang memiliki antivitas
antimikrobial pada bagian cincin beta-laktamnya dan apabila cincin tersebut dipotong
oleh mikroorganisme maka akan terjadi resistensi terhadap antibiotik tersebut.

BAB II
Page 1

ISI
II.1. Sejarah Antibiotik
Sejak zaman dahulu orang kuno telah mempraktekkan fitoterapi dengan jalan
mencoba-coba. Orang Yunani dan Aztec (Mexico) menggunakan masing masing
pakis pria (filix mas) dan minyak chenopodi untuk membasmi cacing dalam usus.
Orang Hindu sudah beribu-ribu tahun lalu mengobati lepra dengan minyak
chaulmogra dan di China serta di Pulau Mentawai (Sumatera Barat) sejak dahulu
borok diobati dengan menggunakan jamurjamur tertentu sebagai pelopor
antibiotika. China dan Vietnam sejak dua ribu tahun lalu menggunakan tanaman
qinghaosu (mengandung artemisin) untuk mengobati malaria, sedangkan sukusuku
Indian di Amerika Selatan memanfaatkan kulit pohon kina. Pada abad ke-16 air raksa
(merkuti) mulai digunakan sebagai kemoterapetikum pertama terhadap sifilis (Tjay&
Rahardja, 2010). Penemuan antibiotik diinisiasi oleh Paul Ehrlich yang pertama kali
menemukan magic bullet, yang dirancang untuk menangani infeksi mikroba. Pada
tahun 1910, Ehrlich menemukan antibiotika pertama, salvarsan yang digunakan untuk
melawan syphilis. Selanjutnya diikuti oleh Alexander Fleming yang secara tidak
sengaja menemukan penisilin (Tjay& Rahardja, 2010).
A. Sejarah Penisilin
Penisilin ditemukan oleh Fleming pada tahun 1929 di London, setelah
mengamati pertumbuhan stafilikokus tertentu, terhambat bila bakteri bakteri tersebut
dikontaminasi oleh jamur (Staf pengajar FK Unsri. 2008).

Fleming, dalam

laboratoriumnya di Rumah Sakit Santa Maria (kini merupakan salah satu rumah sakit
pendidikan di London), mencatat adanya lingkaran hambatan (zona bening) pada
pertumbuhan bakteri di piringan kultur Staphylococcus. Fleming menyimpulkan
bahwa hambatan itu dikarenakan sebuah subtansi penghambat pertumbuhan dan
menghancurkan bakteri. Ia kemudian menumbuhkan sebuah kultur murni dan
menemukan Penicillium yang kemudian dikenal sebagai Penicillium chrysogenum.
Fleming memberikan istilah "penisilin" untuk menggambarkan hasil filtrasi dari
Page 2

kultur mikrobiologis Penicillium.Walaupun di tahapan awal ini, penisilin ditemukan


efektif melawan bakteri Gram positif dan tidak efektif pada Gram negatif dan jamur.
Fleming optimis bahwa penisilin akan menjadi disinfektan yang sangat berguna,
berpotensi tinggi dengan tingkat keracunan yang rendah dibandingkan antiseptik
masa itu.
Pada percobaan berikutnya, Fleming menyadari bahwa penisilin tidak akan
bertahan lama di tubuh manusia untuk membunuh bakteri patogen. Ia menghentikan
penelitiannya mengenai penisilin setelah 1931, namun mencoba memulainya lagi
pada 1934. Pada 1939, ilmuwan Australia Howard Walter Florey dan sebuah tim
peneliti di Universitas Oxford membuat sebuah kemajuan yang berarti dalam
menunjukkan aksi bakterisidal secara in vivo dari penisilin. Mereka gagal dalam
percobaan karena ketidak cukupan penisilin, namun berhasil dibuktikan bahwa
penislin tidak berbahaya dan bekerja pada tikus. Beberapa percobaan penisilin
dilakukan di Oxford. Pada 1942, John Bumstead dan Orvan Hess menjadi ahli yang
pertama berhasil menyembuhkan pasiennya dengan penisilin (Saxon, W. 1999).
Penemuan ini baru dikembangkan dan digunakan pada permulaan Perang
Dunia II ditahun 1941, ketika obat-obat antibakteri sangat diperlukan untuk
menanggulangi infeksi dari luka-luka akibat pertempuran. Penisilin berjasa dalam
menekan jumlah kematian akibat infeksi yang disebabkan luka terbuka yang tak
mendapat perawatan, yang dalam situasi serupa dapat menimbulkan gangren bahkan
kematian, menyelamatkan 12-15% nyawa. Ketersediaan penisilin masih sangat
terbatas karena kesulitan untuk memproduksinya secara masal, dan kecepatan ginjal
yang menghasilkan sisa penisilin yang tidak sempat digunakan tubuh. Saat itu,
pengumpulan kembali penisilin dari air seni pasien merupakan prosedur yang biasa.
Penisilin tersebut akan digunakan kembali. Penggunaan kembali penisilin tersebut
bukanlah jalan akhir yang baik. Hal ini membuat para peneliti mencari jalan lain
untuk memperlambat sekresi penisilin. Mereka berharap dapat menemukan molekul
yang dapat menyaingi penisilin untuk transporter asam organik. Transportter tersebut
berfungsi dalam sekresi penisilin, maka diperkirakan transporter akan membawa

Page 3

molekul penghambat sehingga penisilin akan lebih lama pada tubuh. Sebuah agen
probenesid akhirnya dibuktikan dapat menghambat. Probenesid akan bersaing dan
menghambat sekresi penisilin. Penislin akhirnya dapat bekerja lama di tubuh. Teknik
produksi penisilin secara masal pun akhirnya dapat diatasi (Krauss K, editor 1999).
Struktur kimiawi penisilin diketahui oleh Dorothy Crowfoot Hodgkin pada
awal 1940an. Penemuan ini menjadikan penisilin dapat dibuat secara sintetik. Sebuah
tim dari Oxford menemukan metode produksi massal penisilin. Tim yang dipimpin
Howard Walter Florey itu mendapatkan Hadiah Nobel dalam bidang Kedokteran atau
Fisiologi pada 1945. Saat itu, Penisilin menjadi antibiotika yang banayak digunakan
dan masih digunakan untuk beberapa infeksi bakteri Gram positif (Tan Hoon,
Tjay..2002). Satu dekade kemudian Florey dan Chain berhasil mengisolasi substansia
aktif dari jamur Fleming yang disebut penisilin. Pertama-tama digunakan Penicillium
notatum untuk pemakian sistemik kemudian digunakan P.Chrysogenum semasa
perang dunia kedua karena kebutuhan meningkat. Penisilin terbagi 2 yaitu penisilin
alam dan penisilin semisintetis diperoleh dengan jalan mengubah struktur kimia
penisilin alam atau dengan cara sintetis inti penisilin yaitu asam amino penisilin.
Setelah penisilin, mulai banyaknya antibiotik yang ditemukan seperti
kloramfenikol dan kelompok sefalosforin, tetrasiklin, aminoglikosida, makrolida,
polipeptida, linkomisin dan rifampisin. (Tjay & Rahardja, 2010).
B. Sejarah Sefalosporin
Cephalosporium acremonium merupakan sumber awal senyawa sefalosporin,
diisolasi pada tahun 1948 oleh B rotzu dari laut didekat saluran pembuangan air
dipesisir Sardinia. Filtrate kasar jamur ini diketahui dapat menghambat pertumbuhan
S. aureus secara in vitro dan menyembuhkan infeksi stafilokokus dan demam tifoid
pada manusia. Cairan kultur tempat jamur sardinia ini ditumbuhkan mengandug tiga
antibiotik berbeda yang dinamakan sefalosporin P,N, dan C. Dengan diisolasinya inti
akti sefalosporin C, yaitu asam 7-aminosefalosporanat, dan dengan penambahan
rantai samping. Memungkinkan dibuatnya senyawa semisintetik dengan aktivitas
antibakteri yang jauh lebih besar dibandingkan senyawa induknya. Salah satu
keunggulan dari generasi terbaru sefalosporin adalah efektivitas mereka dengan dosis

Page 4

minimal. Sebaliknya, banyak antibiotik membutuhkan terapi jangka panjang. Juga,


sefalosporin tidak menunjukkan interaktivitas negatif dengan makanan (Nur
Aini,Widjajanti. 1988). Sefalosporin digunakan dalam pengobatan infeksi yang
disebabkan oleh bakteri. Mereka bekerja dengan membunuh bakteri atau mencegah
pertumbuhan mereka (Nur Aini,Widjajanti. 1988).
C. Sejarah Monobaktam
Salah satu antibiotic golongan monobaktam adalah aztreonam dihasilkan oleh
antara lain Chromobacterium violaceum, tetapi sebagai obat dibuat secara sintesis
(1986) khusus bekerja pada bakteri gram negative, tidak aktif terhadap bakteri gram
positif (Tjay & Rahardja, 2010: 74).
D. Sejarah Karbapenem
Golongan karbapenem yang pertama

ditemukan adalah Imipenem adalah

antibiotikum betalaktam sintetis (1985) dari kelompok karbapenem disebut juga zatzat thienamisin. Selanjutnya golongan karbapenem yang kedua adalah meropenem
derivate (1994) (Tjay & Rahardja, 2010: 75).
E. Sejarah Beta-Laktamse Inhibitor
Golongan beta lactamase yang pertma kali dikembangkan adalah Asam klavulanat
merupakan senyawa betalaktam diperoleh dari stretomyces clavuligerus (1976).
Selanjutnya ada sulbaktam senyawa baktam (1987). Tazobaktam adalah derivate dari
Beta lactamase inhibitor pada tahun 1993 (Tjay & Rahardja, 2010: 70).
II.2. Pengembangan obat dari awal sampai akhir
II.2.1. Penisilin
Lingkup aktivitas penisilin yang sempit menjadikan para peniliti mencari turunan
penisilin yang dapat mengobati infeksi yang lebih banyak. Perkembangan besar yang
pertama adalah ampisilin, yang memiliki lingkup aktivitas yang lebih luas dari pada
penisilin asli. Perkembangan berikutnya menghasilkan penisilin yang dapat menahan
enzim beta-laktamase termasuk flukloksasilin, dikloksasilin, dan metisilin. Penemuan

Page 5

ini sangat penting untuk melawan spesies bakteria yang memiliki beta-laktamase,
namun tidak dapat melawan strain Staphylococcus aureus yang tahan metisilin.
Berdasarkan spektrum aktivitas antimikrobialnya, penisilin terbagi menjadi 4
kelompok, yaitu penisilin dini (terdahulu), penisilin spektrum luas, penisilin antistafilokokal, dan penisilin anti-pseudomonal (spektrum diperluas, bacampicillin).
Penisilin anti-stafilokokal dikembangkan pada tahun 1950-an untuk mengatasi S.
aureus yang memproduksi beta-laktamase dan memiliki keunggulan tahan terhadap
aktivitas beta-laktamase. Contoh dari golongan ini adalah methicillin dan cloxacillin.
Penisilin anti-pseudomonal dibuat untuk mengatasi infeksi bakteri gram negatif basil,
termasuk Pseudomonas aeruginosa, Sepalosporin.
Selanjutnya pada tahun 1956 dikembangkan antibiotik fenoksimetilpenislin
(penisilin V, fenocin, acepin-V, ospen) yang merupakan derivate semisintetis ini tahan
asam. Obat ini digunakan pada infeksi streptokok ringan sampai yang agak parah, a,l,
radang hulu kerongkongan (pharyngitis). Kemudian dikembangkan derivat fenoksietil
pada tahun tahun 1960 yaitu fenetisilin dengan sifat lebih kurang sama, resorpsinya
dari usus sedikit lebih kuat (k.l 700%). Aktivitasnya lebih ringan dari pada pen-V.
Selain itu ada juga kloksasilan (meixam, Orbenin) yang merupakan derivate pertama
yang tahan lactamase adalah metisilin (1960) yang diuraikan asam lambung dan
hanya diberikan sebagai injeksi. Kuman stafilokok resisten yang ditakuti MRSA
(Methicillin Resistant Staphylococus Aureus). Kloksasilin selain tahan laktamase juga
tahan asam (1962) dan segera mendesak metisilin. Khusus digunakan pada infeksi
dengan kuman yang memproduksi lactamase.
Kemudian dikembangakan antibiotic ampisilin (penerbritin, ultrapen, binotal).
Penisilin broad-spectrum (1961) tahan asam dan lebih luas spectrum kerjanya.
Ampisilin digunakan untuk mengatasi infeksi a.l. dari saluran napas, saluran cerna
dan saluran kemih, telinga, gonore, kul dan jaringan bagian lunak. Ampisilin efektif
terhadap E.coli, H. influenza, salmonella dan beberapa suku Proteus turunan dari
penislin.
Selain ampisilin adapula amoksisilin yang merupakan derivate hidroksi (1972)
dengan aktivitas sama seperti ampisilin. Tetapi resorpsinya lebih lengkap (k.l. 80%)

Page 6

1
dan pesat dengan kadar darah dua kali lipat. PP dan plasma t 2 -nya lebih kurang
sama tetapi difusinya kejaringan dan cairan tubuh lebih baik. Begitu pula kadar
bentuk aktifnya dalam kemih jauh lebih tinggi dari pada ampisilin, maka lebih banyak
digunakan untuk infeksi saluran kemih.
Dilanjutkan dengan asam klavulanat senyawa beta-laktamse diperoleh dari
Streptomyces clavuligerus (1976) dengan kerja antimikroba ringan. Tetap berkhasiat
memblokir dan menginaktifkan kebanyakan laktamse yang berasal dari stafilokok dan
bakteri gram negative. Digunakan pada infeksi (a.l. saluran kemih) yang penyebabnya
diperkirakan adalah kuman yang resisten berkat lactamase. Selain itu dikembangakan
piperasilin adalah turunan (1980) yang bekerja lebih kuat terhadap Pseudomonas dan
klebsiella. Aktivitasnya terhadap streptokok dan enterokoj baik, tidak aktif terhadap
MRSA. Digunakan bersama gentamisin pada infeksi Pseudomonas yang resisten
terhadap banyak antibiotika dan dapat mengakibatkan infeksi-infeksi oportunistik
termasuk pneumonia dan septicaemia. (Tjay & Rahardja, 2010: 69-71).
II.2.2. Sefalosporin
Sepalosporin terbagi menjadi 3 generasi, yang pertama adalah cephalothin dan
cephaloridine yang sudah tidak banyak digunakan. Generasi pertama sefaliksin
(keforal, ospexin, tepaxin) derivate tahan asam pertama (1970) tidak begitu peka bagi
penisilinase, maka aktivitanya meliputi suku stafilokok yang resisten terhadap
penisilin. Sefaleksin terutama digunakan pada infeksi saluran kemih dan saluran
napas. Selain sefaliksin adapula sefradin bukan derivate tetapi struktur, khasiat dan
penggunaanya sangat mirip sefaleksin (1972). Lebih tahan terhadap lactamase dan
dapat digunakan sebagai injeksi. Selanjutnya masih generasi pertama ada sefadroksil
merupakan derivate p-hidroksi (1977) dengan sifat dan penggunaan sama dengan
sefaleksin. Dianjurkan untuk pengobatan radang hulu kerongkongan dan infeksi
saluran kemih.
Generasi kedua sefamandol adalah senyawa mandelat gen-2 (1977) dengan
gugusan tetrazolyl-S. zat ini baru menjadi aktif setelah dalam tubuh dihidrolisa
Page 7

menjadi sefamandol bebas. Masih pada generasi 2 adapula sefuroksim (1977)


berkhasiat terhadap kuman gram positif dan sejumlah kuman gran negative.
Sefuroksim digunakan pada infeksi sedang sampai agak berat dari saluran napas
bagian atas dan gonore dengan kuman yang memproduksi lactamase.
Selanjutnya ada Sefaklor yang merupakan adalah derivate klor (1979) dari
sefaleksin yang aktif terhadap H.influenzae (tetapi tidak sekuat amoksisilin). Oleh
karena itu zat ini termasuk dalam generasi 2 terutama dianjurkan pada infeksi saluran
napas dan pada radang rongga gendang yang sering disebabkan oleh bakteri.
Generasi ketiga dari sefalosporin (di antaranya: ceftazidime, cefotetan,
latamoxef, cefotetan, dll.) dibuat pada tahun 1980 yaitu sefotaksim memiliki sifat anti
lactamase kuat dan khasiat anti-psedumonas sedang. Digunakan pada infeksi dengan
kuman gram negative pada gonore. Selain sefotaksim pada tahun 1983 ada
sefatriakson yang merupakan derivate thiazolyl dengan sifat anti lactamase dan anti

kuman gram negative kuat, kecuali pseudomonas. Memiliki t

1
2

lebih panjang dari

pada sefalosporin lain. Obat ini dapat digunakan untuk gonore. Masih pada tahun
1983 ada seftazidin yang berkhasiat kuat terhadap pseudomonas. Digunakan pada
infeksi berat dengan kuman tersebut dari saluran kemih, sering pula dikombinasi
dengan aminoglikosida. Seftazidim digunakan juga secara profilaktis pada badan
prostat. Dapat mencapai SSP sehingga juga digunakan pada meningitis akibat infeksi
bakterigram negative. Selanjutnya dikembangkan antibiotic generasi ke empat pada
tahun 1993 yang merupakan derivate thiazolyl yang juga sangat aktif terhadap
pseudomonas. Lagi pula lebih tahan lactamase dari pada seftazidim dan sefsulodin.
Obat ini terutama digunakan pada infeksi berat dengan bakteri gram negative (Tjay &
Rahardja, 2010: 73-74).

II.2.3. Monobaktam
Page 8

Monobaktam ini terdiri hanya atas satu cincin beta lactam (monosiklis) tanpa
gugusan cincin lainnya, berlainan dengan zat-zat penisilin/sefalosporin, oleh karena
itu dinamakan monobaktam. Salah satu antibiotic golongan monobaktam adalah
aztreonam dihasilkan oleh antara lain Chromobacterium violaceum, tetapi sebagai
obat dibuat secara sintesis (1986) khusus bekerja pada bakteri gram negative, tidak
aktif terhadap bakteri gram positif (Tjay & Rahardja, 2010: 74).
II.2.4. Karbapenem
Imipenem adalah antibiotikum betalaktam sintetis (1985) dari kelompok
karbapenem disebut juga zat-zat thienamisin. Khasiat bakterisidnya berdasarkan
perintangan sintesa dinding sel kuman, sama dengan zat-zat penisilin dan
sefalosporin. Tahan terhadap kebanyakan betalaktamase bakteri, tetapi berdaya
menginduksi produksi enzim. Oleh enzim ginjal dehidropeptidase-1 dirombak
menjadi metabolit nefrotoksi, maka hanya digunakan terkombinasi dengan
penghambat enzim (cilastatin). Selanjutnya meropenem derivate (1994) dengan
khasiat dan penggunaan yang sama, maka dapat digunakan tunggal tanpa tambahan
cilastatin. Penetrasinya kedalam semua jaringan baik, juga kedalam CCS, maka juga
efektif pada meningitis bacterial (Tjay & Rahardja, 2010: 75).
II.2.5. Beta lactamase inhibitor
Asam klavulanat merupakan senyawa betalaktam diperoleh dari stretomyces
clavuligerus (1976) dengan kerja antimikroba ringan. Tetapi berkhasiat memblokir
dan menginaktifkan kebanyak lactamase yang berasal dari stafilokok dan bakteri
gram negative. Digunakan pada infeksi saluran kemih yang penyebabnya
diperkirakan bakteri yang resisten bekta lactamase.
Selanjutnya ada sulbaktam senyawa baktam (1987) dengan khasiat memblokir
lactamase, seperti asam klavulanat. Tazobaktam adalah derivate dari Beta lactamase
inhibitor pada tahun 1993 yang hanya digunakan intravena. Khusus untuk infeksi
dengan pseudomonas (Tjay & Rahardja, 2010: 70).
II.3. Aplikasi Klinis

Page 9

a.

II.3.1. Penisilin
Mekanisme Kerja
Penisilin mempunyai mekanisme kerja dengan cara mempengaruhi langkah
akhir sintesis dinding sel bakteri (transpepetidase atau ikatan silang), sehingga
membrane kurang stabil secara osmotik. Lisis sel dapat terjadi, sehingga penisilin
disebut bakterisida. Keberhasilan penisilin menyebabkan kematian sel berkaitan
dengan ukurannya, hanya defektif terhadap organisme yang tumbuh secara cepat dan
mensintesis peptidoglikan dinding sel (Mycek et al., 2001).
Golongan penisilin diklasifikasikan berdasarkan

spectrum

aktivitas

antibiotiknya, antara lain penislin G dan penislin V, penislin yang resisten terhadap
beta-laktamase, aminopenislin, karboksipenisilin, ureidopenislin.
b. Klasifikasi, Aktivitas dan Aplikasi Klinis Penisilin
GOLONGAN
1. Penisilin G dan penislin V
Contoh :
(Penisilin G dan penislin V)

APLIKASI KLINIS
Penisilin G (Benzil Penisilin)
Diindikasikan pada pasien dengan penyakit
pneumonia, infeksi tenggorokan, otitis media,

AKTIVITAS :
penyakit Lyme, endokarditis streptokokus, infeksi
Sangat aktif terhadap kokus
meningokokus, enterokolitis nekrotika, fasciitis
Gram positif, tetapi cepat
nekrotika, leptospirosis, antraks, aktinomikosis,
dihidrolisis oleh penislinase
atau beta laktamase, sehingga abses otak, gas gangren, selulitis, osteomielitis.
tidak efektif terhadap S.aureus

Dosis pemakaian penisilin pada infeksi ringan


sampai sedang pada organisme yang sensitif
adalah dengan cara injeksi (Intarmuskular) IM
atau (Intravena) IV lambat atau infus IV. Pada
neonatus dosis yang digunakan 50 mg/kgBB/hari
dalam 2 dosis terbagi, pada usia 14 minggu dosis
yang digunakan 75 mg/kgBB/hari dalam 3 dosis
terbagi, usia 1 bulan12 tahun: 100 mg/kgBB/hari
dalam 4 dosis terbagi. Pada infeksi berat
digunakan dosis yang lebih tinggi (Departemen

Page 10

Farakologi dan Teraputik FK UI. 2011).


Golongan Benzatin Penisilin diindikasikan pada

2. Penisilin yang
resisten terhadap beta-

pasien dengan faringitis yang disebabkan oleh

lactamase /penisilinase
Contoh :
(Metisilin,nafsilin,

Streptokokus, carrier difteri, sifilis dan infeksi


treponema lain (ulkus tropikum), profilaksis

oksasilin,kloksasilin, dan

demam rematik. Dosis yang digunakan untuk

dikloksasilin)

faringitis streptokokal, profilaksis primer demam

rematik adalah injeksi IM jika berat badan<30 kg


AKTIVITAS
Merupakan obat pilhan pertama dosis yang digunakan 450675 mg dosis tunggal.
untuk

terapi

S.aureus

yang Berat badan>30 kg, 900 mg dosis tunggal

memproduksi penisilinase.
(Departemen Farakologi dan Teraputik FK UI.
Aktivitas antibiotik
kurang
2011).
poten terhadap mikroorganisme
yang kurang sensitive terhadap
penisilin G
3.
Aminopenisilin
1.
Contoh:
(ampisilin, amoksisilin)

Ampisilin diindikasikan pada pasien dengan


penyakit

mastoiditis,

infeksi

ginekologik,

septikemia, peritonitis, endokarditis, meningitis,


AKTIVITAS

kolesistitis, osteomielitis yang disebabkan oleh

Selain mempunyai aktivitas

kuman

terhadap bakteri Gram-positif,

sensitif.

dikontraindikasikan

juga mencakup mikroorganisme


Gram- negatif, seperti

pada

Antibiotik
pasien

ini

16

dengan

hipersensitif terhadap golongan penisilin. Dosis


yang

Haemophilus influenzae,

digunakan

pada

neonatus

2550

mg/kgBB/dosis, pada usia 1 minggu setiap 12

Escherichia coli, dan Proteus


mirabilis. Obat-obat ini sering
diberikan bersama inhibitor

jam, usia 24 minggu setiap 68 jam pemberian


secara IV. Dosis pada bayi dan anak secara oral
adalah 7,525 mg/kgBB/dosis setiap 6 jam

betalaktamase (asam klavulanat,


sulbaktam, tazobaktam) untuk
mencegahhidrolisis oleh

yang

2.

(Departemen Farakologi dan Teraputik FK UI.


2011).
Golongan amoksisilin

Page 11

betalaktamase yang semakin

Diindikasikan pada pasien dengan penyakit

banyak ditemukan pada bakteri infeksi saluran kemih, infeksi saluran napas
Gramnegatif ini.

bagian atas, bronkitis, pneumonia, otitis media,


abses gigi, osteomielitis, penyakit Lyme pada
anak, profilaksis endokarditis, profilaksis paskasplenektomi,

infeksi

ginekologik,

gonore,

eradikasi Helicobacter pylori. Tersedia dalam


bentuk kapsul dan tablet. Dosis untuk anak < 10
tahun, 125 mg setiap 8 jam, untuk infeksi berat
dosis diberikan dosis ganda. Dosis untuk neonates
sampai umur 3 bulan, 20-30 mg/kgBB dalam
dosis

terbagi

setiap

12

jam

(Departemen

Farakologi dan Teraputik FK UI. 2011).


4. Karboksipenisilin
Contoh :
(karbenisilin, tikarsilin)
AKTIVITAS
Antibiotik untuk Pseudomonas,
Enterobacter, dan Proteus.
Aktivitas antibiotik lebih rendah

1. Karbenisilin digunakan untuk penatalaksanaan


infeksi saluran kemih akibat proteus spp,
selain P. mirabilis dan P. aeruginosa
2. Ticarsilin digunakan untuk infeksi serius
disebabkan oleh Pseudomonas

disbanding ampisilin terhadap


kokus Gram- positif, dan kurang
aktif

dibanding

piperasilin

dalam melawan Pseudomonas.


Golongan ini dirusak oleh betalaktamase
5.
Ureidopenislin
Contoh :
(mezlosilin, azlosilin,dan
piperasilin.)

Ketiga obat ini diindikasikan untuk infeksi berat


oleh bakteri Gram negative, termasuk diantaranya
P.aeruginosa,

peiteus

indol

positif

dan

enterobacter. Ketiganya lebih poten dari pada

Page 12

AKTVITAS
Aktivitas antibiotik terhadap

karbenisilin terhadap bakteri Gram negatif

Pseudomonas, Klebsiella, dan


Gramnegatif lainnya. Golongan
ini dirusak oleh beta-laktamas
II.3.2. Sepalosporin
a. Mekanisme Kerja
Sefalosporin dan sefamisin mempunyai mekanisme kerja sama dengan
penislin dan dipengarungi oleh mekanisme resistensi yang sama, tetapi obatobat
tersebut lebih cenderung menjadi lebih resisten dibandingkan penislin terhadap betalaktam (Mycek et al, 2001).
b. Klasifikasi, Aktivitas dan Aplikasi Klinis Sefalosporin
GENERASI
I

APLIKASI KLINIS
Digunakan per oral pada infeksi saluran kemih

Contoh :

ringan dan sebagai obat pilihan kedua pada infeksi

(Sefaleksin, Sefalotin,

saluran napas dan kulit yang tidak begitu parah

Sefazolin, Sefradin,

dan bila terdapat alergi untuk penisilin.

Sefadroksil)
AKTIVITAS
Antibiotik yang efektif
terhadap Gram positif dan
memiliki aktivitas sedang
terhadap Gram negative

Page 13

II
Contoh :

Generasi II atau III, digunakan parenteral pada


infeksi serius yang resisten terhadap amoksisilin

(Sefaklor, Sefamandol

dan sefalosporin generasi I, juga terkombinasi

Sefuroksim, Sefoksitin,

dengan aminoglikosida (gentamisin, tobramisin)

Sefotetan, Sefmetazol,

untuk memperluas dan memperkuat aktivitasnya.

Sefprozil)

Begitu pula profilaksis pada antara lain bedah


jantung, usus dan ginekologi. Sefoksitin dan

AKTIVITAS

sefuroksim (generasi ke II) digunakan pada

Aktivitas antibiotik Gram

gonore (kencing nanah) akibat gonokok yang

negatif yang lebih aktif

membentuk laktamase.

daripada generasi I
III
Contoh :

Seftriakon dan sefataksim.


1. Sefataksim:

(Sefotaksim, Seftriakson

golongan ini diindikasikan pada pasien dengan

Seftazidim, Sefiksim

infeksi traktus respiratorius bawah, infeksi kulit

Sefoperazon, Sefrizoksim
Sefpodoksim, Moksalaktam)

atau struktur kulit, infeksi tulang dan sendi,


infeksi intra-abdomen, dan infeksi traktus
genitourinarius. Terapi proven atau suspected

AKTIVITAS

meningitis yang disebabkan oleh organisme

Aktivitas kurang aktif

seperti H. influenzae dan N. meningitidis, infeksi

terhadap kokus Gram positif

Neisseria gonorhoeae, infeksi bakteri batang gram

dibandingkan generasi I, tapi

negatif nonpseudomonas pada pasien dengan

lebih aktif terhadap

risiko mengalami 19 nefrotoksisitas dan/atau

Enterobacteriaceae, termasuk

ototoksisitas akibat aminoglikosida. Infeksi

strain yang memproduksi beta

bakteri yang terbukti sensitif terhadap sefotaksim.

laktamase. Seftazidim dan

Antibiotik ini dikontraindikasikan pada pasien

sefoperazon juga aktif

dengan hipersensitivitas terhadap sefotaksim,

terhadap P. Aeruginosa, tapi sefalosporin, atau komponennya. Dosis untuk bayi

Page 14

kurang

aktif

dibandingkan dan anak usia 1 bulan12 tahun dengan berat

generasi III lainnya terhadap badan12 tahun diberikan 12 g setiap 68 jam


kokus Gram positif.

hingga 12 g/hari (Departemen Farakologi dan


Teraputik FK UI. 2011).
2. Seftriakson : diindikasikan pada pasien dengan
infeksi serius disebabkan oleh bakteri yang
sensitif termasuk septikemia, pneumonia, dan
meningitis, profilaksis pada pembedahan
profilaksis meningitis meningokokal, gonore.
Antibiotik ini dikontraindikasikan pada pasien
dengan hipersensitif terhadap sefalosporin,
porfiria, neonatus dengan ikterus,
hipoalbuminemia, asidosis atau gangguan
pengikatan bilirubin. Dosis untuk bayi dan anak di
injeksi IM dalam, IV lambat (34 menit) atau
infus IV 2050 mg/kgBB/hari sampai 80
mg/kgBB/hari, pada infeksi serius, infus IV dalam
60 menit (Departemen Farakologi dan Teraputik

IV

FK UI. 2011).
Digunakan bila dibutuhkan efektivitas lebih besar

Contoh :

pada infeksi dengan

(Sefepim, Sefpirom)

kuman Gram-positif.

AKTIVITAS
Aktivitas lebih luaS
dibandingkan generasi II dan
tahan terhadap beta-laktamase.
II.3.3. Monobaktam

Page 15

a. Mekanisme kerja
Obat golongan monobaktam Bekerja dengan menghambat sintesis dinding sel
kuman, seperti antibiotika betalaktam lain. Antibiotik ini dengan mudah menembus
dinding dan membran sel kuman gram negatif aerobik, kemudian mengikat
penicillin-binding-protein 3 (-PBP 3). Pengaruh interaksi tersebut pada kuman ialah
terjadi perubahan bentuk filamen, pembelahan sel terhambat dan mati. KBM
aztreonam terhadap kuman yang peka tidak banyak berbeda dengan KHM-nya.
Aztreonam tidak terikat pada PBP esensial kuman gram-positif dan kuman anaerob.
b. Klasifikasi, Aktivitas dan Aplikasi Klinis Monobaktam
GOLONGAN
APLIKASI KLINIS
Aztreonam
Aztreonam tunggal maupun dalam kombinasi
AKTIVITAS
dengan antimikroba lain, efektif untuk
Aztreonam hanya aktif terhadap
mengatasi infeksi berat oleh kuman gram
kuman
gram-negatif
aerobik
negative aerobic. Indikasinya antara lain untuk
termasuk Haemophilus influenzas
infeksi saluran kemih dengan komplikasi,
dan meningokok serta gonokok
saluran napasbawah, kulit dan struktur kulit,
yang menghasilkan betalaktamase.
alat kelamin, inta abdominal, tulang dan
bakterimia pada dewasa dan anak.
II.3.4. Karbapenem
a. Mekanisme Kerja
Hanya terdapat satu agen antibiotik dari golongan carbapenem yang digunakan
untuk perawatan klinis, yaitu imipenem yang memiliki kemampuan antibakterial
yang sangat baik untuk melawan bakteri gram negatif-basil (termasuk P. aeruginosa,
Staphylococcus, dan bacteroides. Penggunaan imipenem harus dikombinasikan
dengan inhibitor enzim tertentu untuk melindunginya dari degragasi enzim dari liver
di dalam tubuh. Mekanisme kerja imipenem adalah mengikat PBP2 dan menghambat
sintesis dinding sel kuman. Aktivitas resisten terhadap beta-laktamase yang dibawa
oleh bakteri Gram- negatif. Aktif terutama terhadap bakteri Gram-negatif.

Page 16

Aktivitasnya sangat baik terhadap Enterobacteriacease, P. aeruginosa, H. influenzae


dan gonokokus. Pemberian secara parenteral, terdistribusi baik keseluruh tubuh,
termasuk cairan serebrospinal. Sebagian besar obat diekskresi utuh melalui urin
(Brunton. 2008)
b. Klasifikasi, Aktivitas dan Aplikasi Klinis Karbapenem
GOLONGAN
Imipenem

APLIKASI KLINIS
Imipenem digunakan untuk pengobatan

infeksi noksomial yang resisten terhadap


AKTIVITAS
In vitro obat ini berspektrum sangat antibiotic lain,
luas, termasuk kuman gram positif dan misalnya infeksi saluran napas
gram negative, baik yang aerobic bawah, intra abdominal, obstetricosteomielitis
maupun
anaerobic.
Imipenem ginekologi,

dan

endocarditis oleh S. aureus. Untuk


beraktivitas bakterisid. Resisten
terhadap berbagai jenis betalaktamase infeksi berat oleh P. aeruginosa
baik yang diperantarai plasmid maupun dianjurkan agar dikombinasikan dengan
kromosom. Imipenem invitro sangat
aminoglikosida,
karena
berefek
aktif terhadap kokus gram positif,
sinergisitik
termasuk stafilokok, streptokok,
pnemokok dan E, faecalis serta kuman
penghasil betalaktamase umumnya.
Meropenem

Efek

kliniknya

sebanding

dengan

imipenem. Karena tahan terhadap enzim


AKTIVITAS
Spektrum aktivitas invitro dan efek ginjal maka dapat digunakan tunggal,
kliniknya
sebanding dengan
imipenem.

tanpa tambahan cilastatin. Penetrasinya


kedalam semua jaringan baik, juga
kedalam

CCS,

maka

meningitis bacterial.
Doripenem
AKTIVITAS
Spectrum antimikroba doripenem luas

Page 17

efektif

pada

hampir serupa dengan meropenem,


kuman yang telah resisten terhadap
meropenem mungkin sensitive terhadap
doripenem, mungkin juga tidak.
II.3.5. Betffa lactamase inhibitor
a. Mekanisme Kerja
Molekul tertentu dapat menginaktivasi -laktamase, sehingga melindungi
antibiotika -laktam yang merupakan substratnya. Inhibitor -laktamase ini
kebanyakan aktif terhadap -laktamase yang dikode oleh plasmid (termasuk yang
menghidrolisis seftrazidim dan sefatoksim), tetapi inaktif terhadap -laktamase
kromosomal yang diinduksi pada basil gram negative (Enterobacter, Acinetobacter
dan Citrobacter).
b. Klasifikasi dan Aplikasi Klinis Karbapenem
GOLONGAN
Asam Klavulanat

APLIKASI KLINIS
Asam Klavulanat

dikombinasi

dengan

amoksisilin Efektif untuk pengobatan otitis


media akut pada anak-anak, sinusitis luka
gigitan hewan atau manusia, selulitis dan
infeksi kaki diabetic. Kombinasi ini terutama
berguna untuk infeksi nosocomial campuran
dan
Sulbaktam

sering

digunakan

dengan

suatu

aminoglikosida.
Sulbaktam dikombinasi ampisilin digunakan
untuk pengobatan infeksi campuran intraabdominal dan pelvis. Pasien disesuaikan
dengan gangguan fungsi ginjal.

Tazobaktam

Page 18

BAB III
PENUTUP
1. Daftar Pustaka
Brunton, L, Parker, K, Blumnenthal, D., and Buxton,I. 2008. Goodman & Gilmans
Manual of Pharmacology and Therapeutic. The McGraw-Hill Companies, inc.
USA
Departemen Farakologi dan Teraputik FK UI. 2011. Farmakologi dan Terapi Edisi 5.
Bagian Farmakologi FK UI. Jakarta
Krauss K, editor 1999. Yale-New Haven Hospital Annual Report. New Haven: YaleNew Haven Hospital.
Saxon, W. 1999. Anne Miller, 90, first patient who was saved by penicillin. The New
York Times.
Staf pengajar FK Unsri. 2008. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Jakarta: EGC
Tjay, Tan Hoon dan Kirana, Raharja. 2002. Obat-obat Penting, Khasiat, Jakarta : PT
Elex Media Komputindo Kelompok Gremedia.
Page 19

Widjajanti, Nur Aini. 1988. Obat-obatan. Yogyakarta: Kanisius.

Page 20