Anda di halaman 1dari 4

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian diharapkan memainkan peranan sebagai tulang

punggung dalam mensukseskan revitalisasi pertanian, perikanan, dan kehutanan (RPPK). Tentu
saja litbang yang dimaksud bukan hanya litbang Departemen Pertanian saja, tapi juga litbang
Departemen Perikanan dan Kelautan, serta Departemen Kehutanan. Karena Revitalisasi meliputi
ketiganya.
Dalam revitalisasi kita merasakan kembali, bahwa litbang dijadikan tulang punggung, bukan
hanya litbang pertanian dalam arti luas, karena revitalisasi ini dicanangkan meliputi pertanian,
perikanan, serta kehutanan demikian penjelasan Dr. Ahmad Suryana, Kepala Badan Penelitian
dan Pengembangan Pertanian, kepada wartawan Agrotek di Jakarta akhir Nopember lalu.
Ketika RPPK dicanangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, banyak kalangan
khawatir RPPK tersebut hanya sekedar retorika semata. Menurut Suryana hal tersebut harus
disikapi dengan wajar dan justru harus dijadikan perhatian positif masyarakat pada masalah
revitalisasi ini. Memang itu lantas harus menjadi perhatian kita semua, jangan sampai hanya
retorika saja. Dalam litbang pertanian kita tidak mau itu jadi retorika semata, ujar Suryana.
Dalam menjawab persoalan itu, Badan Litbang harus menyiapkan kebutuhan yang bisa
mensukseskan RPPK.
Badan Litbang harus siap menyediakan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan yang ada.
Dalam hal ini yang dilakukan Badan Litbang, lanjut Suryana, pertama Badan Litbang membuat
rencana aksi pemantapan ketahanan pangan. Itu merupakan salah satu agenda kita, setelah itu
kita membuat action plan. Ada lima komoditas utama dalam mendukung ini, yang pertama padi,
jagung, kedelai, tebu dan daging sapi, kata Suryana.
Sekarang ini empat komoditas utama tersebut Indonesia masih tergantung dari impor. Sedangkan
untuk Beras sejak tahun 2004 sudah bisa melepaskan diri dari impor, meskipun pada
kenyataannya tahun 2006 impor beras masih akan dilakukan juga. Diharapkan nanti kita bisa
menyiapkan semua ini, sehingga ke depannya negara ini tidak mengimpor,ungkap Suryana.
Yang harus dipahami oleh semua kalangan dalam masalah revitalisasi ini adalah pembangunan
pertanian bukan pembangunan yang dilaksanakan oleh Departemen Pertanian semata.
Pembangunan ini harus dilaksanakan oleh lintas departemen bahkan oleh seluruh pihak.
Simak saja, ketika sudah membahas mendirikan industri misalnya, itu sudah masuk daerah
kewenangan Departemen Perindustrian. Kalau mambahas keringanan pajak sudak masuk bidang
pajak. Sehingga tidak mungkin revitalisasi ini berhasil apabila hanya departemen terkait
pertanian, perikanan, dan kehutanan saja yang melaksanakannya. Pemahaman tentang
pentingnya pembangunan pertanian tidak hanya harus dipahami oleh pemerintah pusat saja,
pemerintah daerah juga harus paham. Apabila Pemda tidak paham maka percuma saja. Karena

aplikasinya kan di daerah mereka masing-masing. Selain Pemda, masyarakat harus paham juga,
karena masyarakat kan yang membangun pertanian ini,ujar Suryana. (Agrotek/EH)
* Wawancara Kepala Badan Litbang Pertanian dilakukan oleh wartawan Majalah Agrotek, Elfa Hermawan, pada Nopember
2005

Liputan6.com, Jakarta: Skandal dana Bank Indonesia hingga kini belum juga terungkap.
Skandal korupsi yang melibatkan duit negara seratus miliar rupiah ini masih berada di loker
Komisi Pemberantasan Korupsi dan Badan Kehormatan DPR. Meski begitu, Wakil Ketua BK
DPR Gayus Lumbuun berjanji akan segera menyelesaikan berkas-berkas penting terkait skandal
dana BI.
Awal tahun baru boleh jadi semangat baru bagi Gayus Lumbuun. Sibuk bukan kepalang. Dia
harus berjibaku menyelesaikan transkrip 206 rekaman rapat Komisi IX Keuangan dengan BI
sepanjang 2001 hingga 2004. Bukan itu saja, masih tersisa 231 kaset rekaman lagi yang perlu
dicari. Gayus berharap rekaman itu bisa mengungkap siapa saja anggota DPR yang menerima
aliran dana BI.
Skandal ini mencuat sejak Koalisi Penegak Citra DPR mengadukan 16 nama anggota Dewan
periode 2001-2004 ke BK DPR yang dicurigai menerima aliran dana BI. Dari data yang
diungkap Badan Pemeriksa Keuangan, sekitar Rp 31,5 miliar dana BI mengucur ke kantung
anggota DPR guna meloloskan amandemen undang-undang bank sentral.
Gonjang-ganjing mulai terkuak dari laporan BPK yang ditujukan ke DPR. Terungkap adanya
keputusan rapat yang dipimpin Gubernur BI Syahril Sabirin dengan Direktorat Hukum. Dalam
rapat yang membahas surat dari tiga mantan Direksi BI yang tersangkut hukum yakni Hendro
Budiyanto, Heru Soepraptomo, dan Paul Sutopo itu disepakati bantuan dana untuk konsultasi
hukum mencapai Rp 15 miliar. Salah satu catatan pentingnya adalah bisa segera diajukan dana
tambahan jika dana tidak mencukupi.
Penambahan anggaran itu memang jadi dilakukan. Jumlahnya tak tanggung-tanggung, RP 100
miliar. Penambahan diputuskan Dewan Gubernur BI pada 3 Juni 2003 yang dihadiri Gubernur BI
Burhanuddin Abdullah dan tiga deputinya yakni Aulia Pohan, Bun Bunan Hutapea, dan Aslim
Tajudin. Penambahan dana diperlukan untuk memulihkan dan meningkatkan citra bank sentral
secara politis. Selain itu guna mengamankan posisi BI dalam proses hukum. Dana diambil dari
Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI).
Untuk menjalankan program itu, rapat Dewan Gubernur BI pada 22 Juli 2003 memutuskan
membentuk Panitia Pengembangan Sosial Kemasyarakatan (PPSK). Keputusan ini memberi
kewenangan kepada panitia untuk melakukan penarikan dan penggunaan dana sebesar Rp 100
miliar. Di PPSK, Aulia Pohan dan Maman Soemantri yang ketika itu menjabat Deputi Gubernur
BI ditunjuk sebagai koordinator. Rusli Simanjuntak dan Oey Hoey Tiong masing-masing sebagai
ketua dan wakil ketua.
Dari bukti yang diperoleh terungkap, pada 22 Juli 2003, Rusli mengajukan nota persetujuan
penarikan dana LPPI sebesar Rp 71,5 miliar untuk selanjutnya ditatausahakan oleh PPSK. Memo
ini disetujui dan diparaf Aulia serta Maman.

Lantas, kemana larinya dana itu? Dalam berkas pemeriksaan BPK, pemberian bantuan hukum
dan penggunaan dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) yang dikirimkan ke
KPK pada 14 November 2006, disebutkan bahwa Rusli adalah orang yang memberikan dana
kepada Antony Zeidra Abidin anggota Komisi IX yang kini menjadi Wakil Gubernur Jambi.
KPK mengkonfirmasi bahwa Antony Zeidra Abidin telah diperiksa.
Baik Rusli Simanjuntak dan Oey Hoey Tiong memilih tutup mulut daripada harus memberikan
klarifikasi kepada publik. Hanya Aulia Pohan membenarkan adanya memo-memo tersebut juga
ihwal keberadaan PPSK. Namun Aulia menyatakan tak tahu-menahu adanya pemberian dana
tunai ke anggota Dewan.
Kendati bantahan datang dari segala penjuru mata angin, Gayus Lumbuun yakin betul adanya
aliran dana dari BI ke DPR. Bola kini ada di tangan KPK. Skandal dana BI yang merugikan
keuangan negara mesti diungkap tuntas. Selengkapnya saksikan dalam tayangan Singkap, hasil
kerja sama Liputan 6 SCTV dengan Koran Tempo. Laporan ini juga dapat dilihat dalam Koran
Tempo edisi Senin, 14 Januari 2008.(TOZ/Tim Singkap)