Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG

Sebelum agama islam masuk ke Indonesia, berbagai


macam
agama
dan
kepercayaan
seperti
Animisme,
Dinamisme, Hindu dan Budha telah dianut oleh masyarakat
Indonesia. Bahkan pada abad 7 12 M di beberapa wilayah
kepulauan Indonesia telah berdiri kerajaan-kerajaan Hindu dan
Budha.
Menurut hasil seminar Masuknya Islan di Indonesia,
pada tanggal 17 20 Maret 1963 di Medan yang dihadiri oleh
sejumlah budayawan dan sejarawan Indonesia, disebutkan
bahwa agama islam masuk ke Indonesia pertama kali pada
abad pertama Hijriah (kira-kira abad 8 Masehi).
Islam masuk ke Indonesia melalui dua jalur, yaitu:
Jalur utara, dengan rute: Arab (Mekah dan madinah)
Damaskus Bagdad Gujarat (Pantai Barat India)
Srilangka Indonesia.
Jalur selatan, dengan rute: Arab (Mekah dan madinah)
Yaman Gujarat Srilangka Indonesia.
Daerah pertama dari kepulauan Indonesia yang dimasuki
Islam adalah pantai Sumatera bagian utara.
Berawal dari daerah itulah Islam mulai menyebar ke
berbagai pelosok Indonesia, yaitu: wilayah-wilayah pulau
Sumatera (selain pantai Sumatera bagian utara), Pulau Jawa,
Pulau Sulawesi, Pulau Kalimantan, Kepulauan Maluku dan
sekitarnya, dalam kurun waktu yang berbeda-beda.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama Islam telah tersebar
ke seluruh pelosok indonesia, sehingga mayoritas bangsa
indonesia beragama Islam. Hal ini disebabkan antara lain:
Adanya
dorongan
keawajiban
bagi
setiap
Muslim/Muslimah, khususnya para ulamanya, untuk
berdakwah
menyiarkan
islam
sesuai
dengan
kemampuan mereka masing-masing.
Adanya kesungguhan hati dan keuletan para juru
dakwah untuk berdakwah secara terus menerus kepada
keluarga, para tetangga, dan masyarakat sekitarnya.

Persyaratan untuk memasuki islam sangat mudah,


seseorang telah dianggap masuk Islam hanya denan
mengucapkan dua kalimat syahadat.
Ajaran islam tentang persamaan dan tidak adanya
sistem kasta dan diskriminasi mudah menarik simpati
rakyat, terutama dari lapisan bawah.
Banyak raja-raja Islam yang ada di berbagai wilayah
Indonesia ikut berperan aktif melaksanakan kegiatan
dakwah islamiah, khususnya terhadap rakyat mereka.

B.

RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimanakah perkembangan agama, politik, dan ekonomi


pada masa perkembangan islam di Indonesia?
2. Bagaimanakah perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi pada masa perkembangan islam di Indonesia?
3. Bagaimanakah perkembangan seni dan budaya pada masa
perkembangan islam di Indonesia?
4. Apakah hikmah dari perkembangan islam di Indonesia?

BAB II
PEMBAHASAN

A. PERKEMBANGAN
EKONOMI

AGAMA,

POLITIK,

DAN

1. Sumatera
Daerah pertama kali kepulauan Indonesia yang
dimasuki Islam adalah Sumatera bagian utara, seperti
Pasai dan Perlak. Hal ini mudah diterima akal, karena
wilayah Sumatera bagian Utara letaknya di tepi Selat
Malaka, tempat lalu lintas kapal-kapal dagang dari India ke
Cina.
Para pedagang dari India, yakni bangsa Arab, Persi
dan Gujarat, yang juga para mubalig Islam, banyak yang
menetap di bandar-bandar sepanjang Sumatera Utara.
Mereka menikah dengan wanita-wanita pribumi yang
sebelumnya telah diislamkan, sehingga terbentuklah
keluarga-keluarga muslim. Selanjutnya mereka menyiarkan
Islam dengan cara yang bijaksana, baik dengan lisan
maupun sikap dan perbuatan, terhadap sanak famili, para
tetangga, dan masyarakat sekitarnya. Sikap dan perbuatan
mereka yang baik, kepandaian yang lebih tinggi,
kebersihan jasmani dan rohani, sifat kedermawanan serta
sifat-sifat terpuji lainnya yang mereka miliki menyebabkan
para penduduk hormat dan tertarik pada Islam, lalu tertarik
masuk islam.
Para mubalig Islam pada waktu itu, tidak hanya
berdakwah terhadap para penduduk biasa, tetapi juga
kepada raja-raja kecil yang ada di bandar-bandar
sepanjang Sumatera Utara. Ketika raja-raja tersebut masuk
islam, rakyat mereka pun kemudian banyak yang masuk
islam.
Hingga akhirnya berdiri kerajaan islam pertama,
yaitu Samudra pasai. Kerajaan ini berdiri pada tahun 1261
M, di pesisir timur laut aceh Lhokseumawe (Aceh Utara),
rajanya bernama Marah Silu, bergelar Sultan Al-Malik As-

Saleh. Beliau menikah dengan putri Raja Perlak yang


memeluk agama islam.
Samudra pasai semakin berkembang dalam bidang
politik, ekonomi, dan kebudayaan. Hubungannya dengan
pelabuhan Malaka, yang waktu itu sudah menjadi kerajaan
kecil, semakin ramai, sehingga di tempat itu pun sejak
abad ke-14 Masehi telah tumbuh dan berkembang
masyarakat islam.
Seiring dengan kemajuan kerajaan Samudra Pasai
yang sangat pesat, pengembangan agama islam pun
mendapat perhatian dan dukungan penuh. Para ulama dan
mubalignya menyebar ke seluruh Nusantara, ke pedalaman
Sumatera, pesisir barat dan utara Jawa, Kalimantan,
Sulawesi, Ternate, Tidore, dan pulau-pulau lain di
Kepulauan Maluku. Itulah sebabnya Samudra Pasai
terkenal dengan sebutan Serambi Mekah.
2. Jawa
Penemuan nisan makam Siti Fatimah binti Maimun di
daerah Leran/Gresik yang wafat tahun 1101 M dijadikan
tonggak awal kedatangan Islam di Jawa.
Hingga pertengahan abad ke-13, bukti-bukti
kepurbakalaan maupun berita-berita asing tentang
masuknya Islam di Jawa sangatlah sedikit. Baru sejak akhir
abad ke-13 M hingga abad-abad berikutnya , terutama
sejak Majapahit mencapai puncak kejayaannnya, buktibukti proses pengembaangan Islam ditemukan lebih
banyak lagi. Misalnya penemuan kuburan Islam Troloyo,
Trowulan, Gresik, juga berita Ma Huan (1416) yang
menceritakan tentang adanya orang-orang islam yang
bertempat tinggal di Gresik. Ini membuktikan bahwa pada
masa itu telah terjadi proses penyebaran agama islam,
mulai dari daerah pesisir dan kota-kota pelabuhan sampai
ke pedalaman dan pusat kerajaan Majapahit. Adanya
proses penyebaran islam di kerajaan Majapahit terbukti
dengan ditemukannya nisan makam Muslim di Trowulan
yang letaknya berdekatan dengan kompleks makam para
bangsawan Majapahit.
Pertumbuhan
masyarakat
Muslim
di
sekitar
Majapahit sangat erat kaitannya dengan perkembangan
hubungan pelayaran dan perdagangan yang dilakukan
orang-orang islam yang telah memiliki kekuatan politik dan

ekonomi di kerajaan Samudra Pasai dan Malaka. Untuk


masa-masa selanjutnya pengembangan Islam di tanah
jawa dilakukan oleh para ulama dan mubalig yang
kemudian terkenal dengan sebutan wali sanga (sembilan
wali).
3. Sulawesi
Pulau Sulawesi sejak abad ke-15 M sudah didatangi
oleh para pedagang Muslim dari Sumatera, Malaka, dan
Jawa. Menurut berita Tom Pires, pada awal abad ke-16 di
Sulawesi banyak terdapat kerajaan-kerajaan kecil yang
sebagian penduduknya masik memeluk kepercayaan
animisme dan dinamisme. Di antara kerajaan-kerajaan itu
yang paling besar dan terkenal adalah kerajaan Gowa Tallo,
Bone, Wajo, dan Sopang.
Pada tahun 1562-1565, di bawah pimpinan raja
Tumaparisi Kolama, Kerajaan Gowa Tallo berhasil
menaklukkan daerah Selayar,Bulukumba, Maros, mandar,
dan Luwu. Pada masa itu, di Gowa Tallo telah terdapat
kelompok-kelompok masyarakat Muslim dalam jumlah
yang cukup besar. Kemudian atas jasa Dato Ribandang dan
Dato Sulaeman, penyebaran dan pengembangan Islam
menjadi lebih intensif dan mendapat kemajuan yang pesat.
Pada tanggal 22 September 1605 Raja Gowa yang bernama
Karaeng Tonigallo masuk islam yang kemudian bergelar
Sultan Alaudin. Beliau menjalin hubungan baik dengan
kerajaan Ternate, bahkan secara pribadi beliau bersahabat
baik dengan Sultan Babullah dari ternate.
Setelah resmi menjadi kerajaan bercorak islam,
Gowa melakukan perluasan kekuasaannya. Daerah Wojo
dan Sopeng berhasil ditaklukkan dan diislamkan. Demikian
juga Bone, berhasil ditaklukkan pada tahun 1611 M. Sejak
saat itu Gowa mejadi pelabuhan transit yang sangat ramai.
Para pedagang dari Barat yang hendak ke Maluku singgah
di Gowa untuk mengisi perbekalan, bahkan kemudian
rempah-rempah dari Maluku dapat diperoleh di sana,
terkadang dengan harga yang lebih murah daripada di
Maluku. Gowa menjadi pelabuhan dagang yang luar biasa
ramai, disinggahi ,para pedagang dari berbagai daerah dan
mancanegara.
Hal
ini
tentu
saja
mendatangkan
keuntungan
yang
sangat
besar,
ditambah
lagi
persembahan dan upeti dari daerah-daerah taklukannya,

maka kerajaan Goawa pun menadi kerajaan yang kayaraya dan disegani pada masanya.
4. Kalimantan
Sebelum islam masuk ke Kalimantan, di Kalimantan
Selatan terdapat kerajaan-kerajaan Hindu yang berpusat di
negara Dipa, Daha, dan Kahuripan yang terletak di hulu
sungai Nagara dan Amuntai Kimi. Kerajaan-kerajaan ini
sudah menjalin hubungan dengan Majapahit, bahkan slaah
seorang raja majapahit menikah dengan Putri Tunjung Buih.
Menjelang kedatangan Islam, Kerajaan Daha
diperintah oleh Maha Raja Sukarana. Setelah beliau
meninggal digantikan oleh Pangeran Tumenggung. Hal Ini
menimbulkan kemelut keluarga, karena Pangeran Samudra
(cucu Maha Raja Sukarama) merasa lebih berhak atas
takhta kerajaan. Akhirnya pangeran samudra dinobatkan
menjadi Raja Bandar oleh para pengikut setianya, yang
membawahi darah Masik, Balit, Muhur, Kuwin dan balitung,
yang terletak di hilir sungai nagara.
Sultan
Suryamullah
memindahkan
ibukota
kerajaannya dari Muara Buhan ke Banjarmasin, yang
letaknya lebih strategis, sehingga mudah disinggahi kapalkapal yang berukuran lebih besar. Pada masa itu Sultan
Suryamullah berhasil menaklukkan daerah Sambas,
Batanghari, Sukadana, Kota Waringin, Pambuang, Sampit,
Mendawai, Sabangan, dan lain-lain.
Hampir bersamaan waktunya wilayah Kalimantan
Timur didatangi oleh orang islam. Pada masa pemerintahan
Raja Mahkota, datanglah dua orang ulama besar bernama
Dato Ribandang dan Tuanku Tunggang Parangan. Kedua
ulama itu datang ke kutai setelah orang-orang Makasar
masuk islam. Dato Ribandang kemudian kembali ke
Makasar, sedangkan Tuanku Tunggang Parangan menetap
di Kutai. Raja Mahkota kemudian masuk islam setelah
merasa kalah dalam ilmu kesaktian.
Proses penyebaran islam di Kutai dan sekitarnya
diperkirakan terjadi pada tahun 1575 M. Penyebaran Islam
secara lebih intensif sampai ke daerah-daerah pedalaman
terjadi setelah Raja Mahkota wafat. Putranya, Pangeran Aji
langgar,
dan
penggantinya
melakukan
perluasan
kekuasaan ke daerah Muara Kaman.

5. Maluku dan sekitarnya


Antara tahun 1400 1500 M (abad ke-15) Islam
telah masuk dan berkembang di Maluku, dibawa oleh para
pedagang Muslim dari Pasai, Malaka, dan Jawa. Mereka
yang sudah beragama islam banyak yang pergi ke
pesantren-pesantren di jawa timur untuk mempelajari
islam.
Raja-raja Maluku yang masuk islam di antaranya:
Raja ternate, yang kemudian bergelar Sultan
Mahrum (1465 1486). Setelah beliau wafat,
digantikan oleh Sulatan Zaenal Abidin yang besar
jasanya dalam menyiarkan Islam di kepualauan
Maluku dan irian, bahkan sampai ke Filipina.
Raja Tidore, yang kemudian bergelar Sultan
Jamaludin
Raja jailolo, yang berganti nama dengan Sultan
Hasanuddin
Raja Bacan, yang masuk islam pada tahun 1520
dan bergelar sultan Zaenal Abidin.
Selain islam masuk dan berkembang di Maluku, Islam
juga masuk ke Irian, yang disiarkan oleh raja-raja Islam
Maluku, para pedagang dan para mubalig yang juga
berasal dari Maluku. Daerah-daerah dari Irian Jaya yang
dimasuki Islam adalah Miso, Jalawati, Pulau Waigio dan
Pulau Gebi.

B. PERKEMBANGAN
TEKNOLOGI

PENGETAHUAN

DAN

Perjuangan umat islam oleh para ulama dan masyarakat


tidak pernah berhenti sejak kehadirannya hingga pada masa
penjajahan dan masa kemerdekaan dalam berbagai aspek.
Ada dua cara yang dilakukan oleh para ulama dalam
menumbuhkembangkan ajarannya yaitu:
1. Membentuk kader-kader ulama yang akan bertugas
sebagai mubalig.
2. Melalui karya-karya tulisan yang tersebar dan dibaca kaum
muslim di nusantara.
Seorang ulama, Syekh Muhammad Naquid Alattas
menyatakan bahwa pada abad ke-16 dan 17 banyak
bermunculan tulisan dan cendikiawan muslim di Indonesia
yang berupa sastra, filsafat, metafisika, dan geologi. Seiring
itu pula pemikiran Islam di pusat dunia islam telah mapan.

Oleh karena itu, dunia pemikiran yang berkembang di


Indonesia mempunyai akar tradisi pemikiran yang telah
berkembang di pusat dunia islam. Ilmuwan-ilmuwan muslim di
Indonesia, yaitu:
1. Hamzah Fansuri dari Sumatera Utara dengan karyanya
berjudul Asrarul Arifin fi Bayan ila Suluk wat tauhid, yaitu
uraian singkat tentang sifat-sifat dan inti ilmu kalam
menurut ideologi Islam.
2. Syamsuddin As Sumaterani dengan karyanya berjudul
Miratul Mumin atau Cermin Orang Beriman di tahunn
1601. Buku ini berisi tanya jawab tentang ilmu kalam.
3. Nuruddin Ar Raniri yang berasal dari India dan merupakan
keturunan arab Quraisy hadramaut yang tiba di Aceh pada
tahun 1637 M. karya-karyanya meliputi ilmu fikih, hadis,
akidah, sejarah, dan tasawuf.
4. Abdul Muhyi dari Jawa dengan karyanya Martabat kang
Pitu (Martabat yang tujuh).
5. Sunan Bonang dengan karya Suluk Wujil yang
mengandung ajaran tasawuf.
6. Ronggowarsito dengan karyanya Wirid Hidayat jati
7. Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (1812 M) seorang
ulama produktif yang menulis kitab Sabitul Muhtadil
(budang fikih).
8. Syekh Yusuf Makassar dari Sulawesi (1629 1699 M).
karya-karyanya yang belum diterbitkan sekitar 20 buah
dan masih berbentuk naskah yang sebagian besar dalam
bidang tasawuf.
9. Syekh Nawawi dari banten yang menulis 26 buah buku.
10.
Syekh Ahmad Khatib (Minagkabau) 1860-1916 M.

C. PERKEMBANGAN SENI DAN BUDAYA

1. Arsitek Bangunan
Dengan latar belakang Indonesia yang terdiri dari
ribuan pulau dan penduduknya terdiri dari bermacam suku,
bangsa, adat kebiasaan serta kebudayaan, maka arsitektur
bangunan-bangunan Islam di Indonesia tidak sama di
antara tempat yang satu dengan yang lainnya. Hasil-hasil
seni bangunan pada zaman pertumbuhan perkembangan
islam di Indonesia antara lain:
a. Masjid-masjid seperti masjid kuno Demak, Sandang
Duwur Agung Kasepuhan Cirebon, Masjid Agung Banten,
dan Baiturrahman di Aceh menunjukkan keistimewaan
dalam bentuknya yang persegi empat dengan bagian

kaki yang tinggi dan pejal, atapnya bertumpang dua,


tinga, lima atau lebih, dikelilingi parit atau kolam,
mihrabnya lengkung berpola kalamakara, dan mimbar
yang mengingatkan akan ukiran dan ukuran pola teratai
mastaka
atau
memolo.
Bentuk-bentuk
tersebut
menunjukkan seni-seni bangunan tradisional yang telah
dikenal di Indonesia sebelum kedatangan Islam.
b. Beberapa masjid masih terdapat seni bangunan yang
menyerupai bangunan meru pada zaman Hindi di
Indonesia.
Ukuran-ukuran
pada
mimbar,
hiasan
lengkung pola kalamakara, mihrab berbentuk beberapa
mastaka atau memolo yang menunjukkan hubungan
erat antara meru, kekayaan, gunungan, atau gunung
tempat dewa.
2. Peranan Umat Islam
a. Masa Sebelum Kemerdekaan
Ada tiga tahapan masa yang dilalui
pergerakan sebelum kemerdekaan, yakni :

atau

1. Pada Masa Kesultanan


Daerah yang sedikit sekali disentuh oleh
kebudayaan Hindu-Budha adalah daerah Aceh,
Minangkabau di Sumatera Barat dan Banten di Jawa.
Agama islam secara mendalam mempengaruhi
kehidupan agama, social dan politik penganutpenganutnya sehingga di daerah-daerah tersebut
agama islam itu telah menunjukkan dalam bentuk
yang lebih murni. Dikerajaan tersebut agama islam
tertanam kuat sampai Indonesia merdeka. Salah satu
buktinya yaiut banyaknya nama-nama islam dan
peninggalan-peninggalan yang bernilai keIslaman.
Dikerjaan Banjar dengan masuk islamnya raja
banjar. Perkembangan islam selanjutnya tidak begitu
sulit, raja menunjukkan fasilitas dan kemudahan
lainnya yang hasilnya membawa kepada kehidupan
masyarakat Banjar yang benar-benar bersendikan
islam. Secara konkrit kehidupan keagamaan di
kerajaan Banjar ini diwujudkan dengan adanya Mufti

dan Qadhi atas jasa Muhammad Arsyad Al-Banjari


yang ahli dalam bidang Fiqih dan Tasawuf.
Islam di Jawa, pada masa pertumbuhannya
diwarnai kebudayaan jawa, ia banyak memberikan
kelonggaran pada sistem kepercayaan yang dianut
agama Hindu-Budha. Hal ini memberikan kemudahan
dalam islamisasi atau paling tidak mengurangi
kesulitan-kesulitan. Para wali terutama Wali Songo
sangatlah berjasa dalam pengembangan agama islam
di pulau Jawa.
Menurut buku Babad Diponegoro yang dikutip
Ruslan
Abdulgani
dikabarkan
bahwa
Prabu
Kertawijaya penguasa terakhir kerajaan Mojo Pahit,
setelah mendengar penjelasan Sunan Ampel dan
sunan Giri, maksud agam islam dan agama Budha itu
sama, hanya cara beribadahnya yang berbeda. Oleh
karena itu ia tidak melarang rakyatnya untuk
memeluk agama baru itu (agama islam), asalkan
dilakukan dengan kesadaran, keyakinan, dan tanpa
paksaan atau pun kekerasan.
2. Pada Masa Penjajahan
Dengan datangnya pedagang-pedagang barat
ke Indonesia yang berbeda watak dengan pedagangpedagang Arab, Persia, dan India yang beragama
islam, kaum pedagang barat yang beragama Kristen
melakukan misinya dengan kekerasan terutama
dagang teknologi persenjataan mereka yang lebih
ungggul daripada persenjataan Indonesia. Tujuan
mereka adalah untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan
islam di sepanjang pesisir kepulauan nusantara. Pada
mulanya mereka datang ke Indonesia untuk menjalin
hubungan dagang, karena Indonesia kaya dengan
rempah-rempah, kemudian mereka ingin memonopoli
perdagangan tersebut.
Waktu itu kolonial belum berani mencampuri
masalah islam, karena mereka belum mengetahui
ajaran islam dan bahasa Arab, juga belum

10

mengetahui sistem social islam. Pada tahun 1808


pemerintah Belanda mengeluarkan instruksi kepada
para bupati agar urusan agama tidak diganggu, dan
pemuka-pemuka agama dibiarkan untuk memutuskan
perkara-perkara dibidang perkawinan dan kewarisan.
Tahun
1820
dibuatlah
Statsblaad
untuk
mempertegaskan instruksi ini. Dan pada tahun 1867
campur tangan mereka lebih tampak lagi, dengan
adanya instruksi kepada bupati dan wedana, untuk
mengawasi ulama-ulama agar tidak melakukan
apapun yang bertentangan dengan peraturan
Gubernur Jendral. Lalu pada tahun 1882, mereka
mengatur lembaga peradilan agama yang dibatasi
hanya
menangani
perkara-perkara
perkawinan,
kewarisan, perwalian, dan perwakafan.
Apalagi setelah kedatangan Snouck Hurgronye
yang ditugasi menjadi penasehat urusan Pribumi dan
Arab, pemerintahan Belanda lebih berani membuat
kebijaksanaan mengenai masalah islam di Indonesia,
karena Snouck mempunyai pengalaman dalam
penelitian lapangan di negeri Arab, Jawa, dan Aceh.
Lalu ia mengemukakan gagasannya yang dikenal
dengan politik islamnya. Dengan politik itu, ia
membagi masalah islam dalam tiga kategori :
a. Bidang agama murni atau ibadah
Pemerintahan kolonial memberikan kemerdekaan
kepada umat islam untuk melaksanakan agamanya
sepanjang
tidak
mengganggu
kekuasaan
pemerintah Belanda.
b. Bidang sosial kemasyarakatan
Hukum islam baru bisa diberlakukan apabila tidak
bertentangan dengan pendapat kebiasaan.
c. Bidang politik

11

Orang islam dilarang membahas hukum islam, baik


Al-Quran maupun Sunnah yang menerangkan
tentang politik kenegaraan dan ketata negaraan.
3. Pada Masa Kemerdekaan
Terdapat asumsi yang senantiasa melekat dalam
setiap penelitian sejarah bahwa masa kini sebagian
dibentuk oleh masa lalu dan sebagian masa depan
dibentuk hari ini. Demikian pula halnya dengan
kenyataan umat islam Indonesia pada masa kini,
tentu sangat dipengaruhi masa lalunya.
Islam di Indonesia telah diakui sebagai kekuatan
cultural, tetapi islam dicegah untuk merumuskan
bangsa Indonesia menurut versi islam. Sebagai
kekuatan
moral
dan
budaya,
islam
diakui
keberadaannya, tetapi tidak pada kekuatan politik
secara riil (nyata) di negeri ini.
Seperti halnya pada masa penjajahan Belanda,
sesuai dengan pendapat Snouck Hurgronye, islam
sebagai kekuatan ibadah (sholat) atau soal haji perlu
diberi kebebasan, namun sebagai kekuatan politik
perlu dibatasi. Perkembangan selanjutnya pada masa
Orde Lama, islam telah diberi tempat tertentu dalam
konfigurasi (bentuk/wujud) yang paradoks, terutama
dalam dunia politik. Sedangkan pada masa Orde Baru,
tampaknya islam diakui hanya sebatas sebagai
landasan moral bagi pembangunan bangsa dan
negara.

b. Masa Sesudah Kemerdekaan


1. Pra Kemerdekaan
Ajaran islam pada hakikatnya terlalu dinamis
untuk dapat dijinakkan begitu saja. Berdasarkan
pengalaman melawan penjajah yang tak mungkin
dihadapi dengan perlawanan fisik, tetapi harus

12

melalui
pemikiran-pemikiran
organanisasi. Seperti :

dan

kekuatan

- Budi Utomo (1908) - Taman Siswa (1922)


- Sarikat Islam (1911) - Nahdhatul Ulama (1926)
- Muhammadiyah (1912) - Partai Nasional Indonesia
(1927)
- Partai Komunis Indonesia (1914)
Menurut Deliar Noer, selain yang tersebut diatas
masih ada organisasi islam lainnya yang berdiri pada
masa itu, diantaranya:
- Jamiat Khair (1905)
- Persyarikatan Ulama ( 1911)
- Persatuan Islam (1920)
- Partai Arab Indonesia (1934)
Organisasi perbaharu terpenting dikalangan
organisasi tersebut diatas, adalah Muhammadiyah
yang didirikan oleh K.H Ahmad Dahlan, dan Nadhatul
Ulama yang dipelopori oleh K.H Hasyim Asyari.
Untuk
mempersatukan
pemikiran
guna
menghadapi kaum penjajah, maka Muhammadiyah
dan Nadhatul Ulama bersama-sama menjadi sponsor
pembentukan suatu federasi islam yang baru yang
disebut Majelis Islan Ala Indonesia ( Majelis Islam
Tertinggi di Indonesia ) yang disingkat MIAI, yang
didirikan di Surabaya pada tahun 1937.
Masa pemerintahan Jepang, ada tiga pranata
sosial yang dibentuk oleh pemerintahan Jepang yang
menguntungkan kaum muslim di Indonesia, yaitu :
a. Shumubu, yaitu Kantor Urusan Agama yang
menggantikan Kantor Urusan Pribumi zaman

13

Belanda,
yang
dipimpin
oleh
Djayadiningrat pada 1 Oktober 1943.

Hoesein

b. Masyumi, ( Majelis Syura Muslimin Indonesia )


menggantikan MIAI yang dibubarkan pada bulan
oktober 1943, Tujuan didirikannya adalah selain
untuk memperkokohkan Persatuan Umat Islam di
Indonesia, juga untuk meningkatkan bantuan kaum
muslimin kepada usaha peperangan Jepang.
c. Hizbullah, ( Partai Allah atau Angkatan Allah )
semacam organisasi militer untuk pemuda-pemuda
muslimin yang dipimpin oleh Zainul Arifin.
Organisasi inilah yang menjadi cikal bakal Tentara
Nasional Indonesia (TNI).
2. Pasca Kemerdekaan
Organisasi-organisasi yang muncul pada masa
sebelum kemerdekaan masih tetap berkembang di masa
kemerdekaan, seperti Muhammadiyah, Nadhatul Ulama,
Masyumi dan lain lain. Namun ada gerakan-gerakan
islam yang muncul sesudah tahun 1945 sampai akhir
Orde Lama. Gerakan ini adalah DI/TII yang berusaha
dengan kekerasan untuk merealisasikan cita-cita negara
islam Indonesia.
Gerakan kekerasan yang bernada islam ini terjadi
diberbagai daerah di Indonesia diantaranya :
- Di Jawa Barat, pada tahun 1949 1962
- Di Jawa Tengah, pada tahun 1965
- Di Sulawesi, berakhir pada tahun 1965
- Di Kalimantan, berakhir pada tahun 1963
- Dan di Aceh, pada tahun 1953 yang berakhir dengan
kompromi pada

14

D.HIKMAH PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA


Pertumbuhan komunitas islam yang bermula dari
kehadiran para pedagang Gujarat dan Arab yang diiringi
dengan keramahan dan perilaku dagang yang baik,
memberikan kesan positif dan menyebabkan ajaran islam
dapat diterima serta tumbuh subur dalam masyarakat di
Inndonesia. Banyak manfaat yang dapat kita ambil dari hal
tersebut, diantaranya:
1. Kehadiran pedagang islam dari luar Indonesia yang telah
berdakwah menyiarkan ajaran islam di bumi nusantara
memberikan nuansa baru bagi perkembangan pemahaman
suatu kepercayaan yang sudah ada di nusantara ini.
2. Hasil karya para ulama berupa karangan buku sangat
berharga untuk dijadikan sumber pengetahuan.
3. Meneladani kesuksesan mereka dalam berkarya dan
membuat masyarakat islam gemar membaca dan
mempelajari Al Quran.
4. Memperkaya dalam bentuk (arsitektur) bangunan, seperti
masjid sebagai tempat ibadah.
5. Mengajarkan tentang islam harus dengan keramahan dan
bijaksana serta membiasakan masyaraat Islam bersikap
konsisten.
6. Memanfaatkan peninggalan sejarah, baik berupa, makam,
masjid, dan peninggalan lainnya untuk dijadikan tempat
ziarah (pembelaharan) demi mengingat perjuangan
mereka.
7. Seorang ualama atau ilmuwan dituntu oleh Islam untuk
mempraktikan tingkah laku yang penuh keteladanan
sebagaimana ulama pendahulu du nusantara ini dalam
mempertahankan nharga diri serta tanah air dari
penjajahann.
8. Mengajarkan sikap tetap bersatu, rukun, dan bersamasama mempertahankan negara Indonesia dari ancaman
luar maupun dalam negeri.
9. Menyadari bahwa perjalanan sejarah perlu dijadikan bahan
pemikiran
dan
peneladanan
orang-orang
yang
berimanterutama keteladanan dan perjuangan para ulama
uuntuk dipraktikan oleh generasi mendatang dalam
menentukan masa depan umat dan masyarakat.

15

Ada beberapa perilaku cerminan penghayatan terhadap


manfaat yang dapat diambil dari sejarah perkembangan
islam, antara lain:
1. Berusaha untuk tetap menjaga persatuan dan kerukunan
antarumat beragama serta hidup saling menghormati dan
tolong menolong.
2. Menyikapi kejadian masa lalu dengan sikap sabar dan tetap
meyakini setiap kejadian ada hikmahnya.
3. Moral yang terrdapat dalam karya-karya para ulama
tersebut diteapkan dalam kehidupan sehari-hari.
4. Mengambil pelajaran dari sejarah untuk membangun masa
depan berdasarkan pijakan positif.
5. Senantiasa bersikap ramah dan berniat baik penuh
persahabatan, khususnya dalam ketja sama dan
menghindari
sifat
tamak,
ingin
menguasai,
seta
memaksakan kehendak.
6. Mengikuti
seruan
para
ulama
untuk
senantiasa
menyembah Allah dan melaksanakan periintah-Nya serta
menjauhi larangan-Nya.
7. Kita harus melakukan perbuatan yang bermanfaat atau
tidak merugikan orang lain karena sebaik-baik manusia
adalah yang bermanfaat untuk orang lain.
8. Warisan para ulama adalah gemar membaca, mempelajari,
dan
memahami
serta
melaksanakan
Al
Qurann,
melestarikan, memelihara, merawat tempat ibadah, seperti
masjid dan senantiasa memakmurkannya di tempatnya
masing-masing.

16

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Perkembangan agama, ekonomi dan politik Islam di
indonesia terjadi sangat pesat. Ajaran Islam sangat menarik
perhatian masyarakat Indonesia karena penuh dengan
hikmah dan kedamaian. Hubungan pelayaran dan
perdagangan
mempengaruhi
perkembangan
agama,
ekonomi dan politik pada masa perkembangan islam di
Indonesia
2. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berjalan
dengan baik. Para ulama berhasil menumbuhkembangkan
ajaran agama dengan membentuk kader-kader ulama yang
bertugas sebagai mubalig dan melahirkan ccenndikiawan
muslim di Indonesia.
3. Dengan berjalannya waktu perkembangan seni dan budaya
juga ikut berkembang. Arsitektur bangunan di Indonesia
lebih baik, contohnya beberapa masjid di Indonesia memiliki
bentuk yang unik. Pada masa ini juga muncul organisasiorganisasi Islam yang berkembang di Indonesia.
4. Dengan berkembangnya Islam di Indonesia, tatanan
kehidupan masyarakat Indonesia menjadi baik pula.
Masyarakat Indonesia mempunyai sumber pengetahuan
baru.

B. SARAN

1. Kita harus lebih bisa menjadikan agama itu sebagai


tatanan atapun pedoman hidup menurut al-quran.
2. Sebagai umat islam, kita harus semakin meningkatkan
perkembangan agama islam.
3. Jalankanlah segala perintah allah dan menjauhi segala
larangan Allah.

17

DAFTAR PUSTAKA
Margiono, Anwar Junaidi, Latifah. Agama Islam 3 Lentera
Kehidupan Siswa Kelas XII. Jakarta: Yudhistira.
Syamsuri. Pendidikan Agama Islam Untuk SMA kelas XII. Jakarta:
Erlangga.
Website :
www. Hikmah Perkembangan Islam di Indonesia.co.id

18