Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Air tanah adalah air yang tersimpan di dalam tanah yakni yang berada dalam
pori- pori atau celah batuan dari air hujan yang meresap ke dalam tanah (infiltrasi)
dan berkumpul pada suatu lapisan batuan yang tidak dapat di tembus oleh air
(impermeable). Air tanah adalah segala bentuk aliran air hujan yang mengalir di
bawah permukaan tanah sebagai akibat struktur perlapisan geologi, beda potensi
kelembaban tanah, dan gaya gravitasi bumi. Air bawah permukaan tersebut biasa
dikenal dengan air tanah (Asdak, 2002).
Air tanah mempunyai manfaat yang sangat fital bagi kelangsungan hidup
makhluk hidup, khususnya manusia. Selain dimanfaatkan sebagai sumber air minum,
mandi, dan keperluan rumah tangga lainnya denggan membuat sumur, air tanah juga
menjadi sumber atau mata air bagi aliran sungai, yang sanggat penting bagi
kehidupan, sumber tenaga (listrik), dan sebagai usaha perternakan dan pertanian.
Banyak manfaat air tanah bagi kehidupan makhluk hidup. Bukan hanya manusia yang
memanfaatkan air tanah, tetapi juga tumbuhan dan hewan. Bagi manusia air tanah
biasa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari, misalnya untuk mandi, air
minum, dan sebagainya.
Air tanah merupakan sumber air minum utama bagi masyarakat Indonesia.
Tumbuhan juga sangat memerlukan air tanah, karena air tinggal di dalam tanah, dan
tumbuhan sangat bergantung pada air tanah. Hewan tertentu juga tergantung pada air
tanah. Tak sedikit hewan yang hidup dalam tanah, yang kelangsungan hidupnya tak
lepas dari peran air tanah

Pemanfaatan air tanah untuk kebutuhan air minum harus memiliki indikator
syarat baku mutu air bersih berdasarkan Kepmenkes.
1. Syarat Fisik
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 416/Menkes/per/IX/1990, menyatakan
bahwa air yang layak dikonsumsi dan digunakan dalam kehidupan sehari - hari adalah
air yang mempunyai kualitas yang baik sebagai sumber air minum maupun air baku
(air bersih), antara lain harus memenuhi persyaratan secara fisik, tidak berbau, tidak
berasa, tidak keruh, serta tidak berwarna. Pada umunya syarat fisik ini diperhatikan
untuk estetika air. Adapun sifat-sifat air secara fisik dapat dipengaruhi oleh berbagai
faktor diantaranya sebagai berikut :
a) Suhu
Temperatur air akan mempengaruhi penerimaan masyarakat akan air tersebut
dan dapat pula mempengaruhi reaksi kimia dalam pengolahannya terutama apabila
temperatur sangat tinggi. Temperatur yang diinginkan adalah 30C suhu udara
disekitarnya yang dapat memberikan rasa segar, tetapi iklim setempat atau jenis dari
sumber-sumber air akan mempengaruhi temperatur air. Disamping itu, temperatur
pada air mempengaruhi secara langsung toksisitas banyaknya bahan kimia pencemar,
pertumbuhan mikroorganisme, dan virus.
b) Bau dan Rasa
Bau dan rasa biasanya terjadi secara bersamaan dan biasanya disebabkan oleh
adanya bahan-bahan organik yang membusuk, tipe-tipe tertentu organisme
mikroskopik, serta persenyawaan-persenyawaan kimia seperti phenol. Bahanbahan
yang menyebabkan bau dan rasa ini berasal dari berbagai sumber. Intensitas bau dan

rasa dapat meningkat bila terdapat klorinasi. Timbulnya rasa yang menyimpang
biasanya disebabkan oleh adanya bahan kimia yang terlarut, dan rasa yang
menyimpang tersebut umunya sangat dekat dengan baunya karena pengujian terhadap
rasa air jarang dilakukan. Air yang mempunyai bau yang tidak normal juga dianggap
mempunyai rasa yang tidak normal (Moersidik, 1999). Untuk standard air bersih
sesuai dengan Permenkes RI No. 416/Menkes/per/IX/1990 menyatakan bahwa air
bersih tidak berbau dan tidak berasa.
c) Kekeruhan
Air dikatakan keruh apabila air tersebut mengandung begitu banyak partikel
bahan yang tersuspensi sehingga memberikan warna/rupa yang berlumpur dan kotor.
Bahan-bahan yang menyebabkan kekeruhan ini meliputi tanah liat, lumpur, bahan
bahan organik yang tersebar dari partikel-partikel kecil yang tersuspensi. Kekeruhan
pada air merupakan satu hal yang harus dipertimbangkan dalam penyediaan air bagi
umum, mengingat bahwa kekeruhan tersebut akan mengurangi segi estetika,
menyulitkan dalam usaha penyaringan, dan akan mengurangi efektivitas usaha
desinfeksi (Sutrisno, 2002). Tingkat kekeruhan air dapat diketahui melalui
pemeriksaan laboratorium dengan metode Turbidimeter. Untuk standard air bersih
ditetapkan oleh Permenkes RI No. 416/Menkes/per/IX/1990, yaitu kekeruhan yang
dianjurkan maksimum 25 NTU (Depkes RI, 1995 dalam Putra).
d) Jumlah Zat Padat Terlarut atau Total Dissolved Solid/TDS
Padatan terlarut total (Total Dissolved Solid - TDS) adalah bahan bahan
terlarut (diameter < 10-6) dan koloid (diameter < 10-6 10-3 mm) yang berupa
senyawa senyawa kimia dan bahan bahan lain. Bila TDS bertambah maka
kesadahan akan naik. Kesadahan yang tinggi dapat mengakibatkan terjadinya
endapan/kerak pada system perpipaan (Mulia, 2005).
2. Syarat Kimia

Air bersih yang baik adalah air yang tidak tercemar secara berlebihan oleh zatzat kimia yang berbahaya bagi kesehatan antara lain Air raksa (Hg), Aluminium (Al),
Arsen (As), Barium (Ba), Besi (Fe), Flourida (F), Calsium (Ca), Mangan ( Mn ),
Derajat keasaman (pH), Cadmium (Cd), dan zat-zat kimia lainnya. Kandungan zat
kimia dalam air bersih yang digunakan sehari-hari hendaknya tidak melebihi kadar
maksimum

yang

diperbolehkan

seperti

tercantum

dalam

Permenkes

RI

416/Menkes/per/IX/1990. Penggunaan air yang mengandung bahan kimia beracun


dan zat-zat kimia yang melebihi kadar maksimum yang diperbolehkan berakibat tidak
baik bagi kesehatan dan material yang digunakan manusia. Contohnya pH; pH Air
sebaiknya netral yaitu tidak asam dan tidak basa untuk mencegah terjadinya pelarutan
logam berat dan korosi jaringan. pH air yang dianjurkan untuk air minum adalah 6,5
9. Air merupakan pelarut yang baik sekali maka jika dibantu dengan pH yang tidak
netral dapat melarutkan berbagai elemen kimia yang dilaluinya (Soemirat, 2000
dalam Putra).
3. Syarat Bakteriologis
Sumber-sumber air di alam pada umumnya mengandung bakteri, baik air
angkasa, air permukaan, maupun air tanah. Jumlah dan jenis bakteri berbeda sesuai
dengan tempat dan kondisi yang mempengaruhinya. Penyakit yang ditransmisikan
melalui faecal material dapat disebabkan oleh virus, bakteri, protozoa, dan metazoa.
Oleh karena itu air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari harus bebas dari
bakteri patogen. Bakteri golongan Coli (Coliform bakteri) tidak merupakan bakteri
patogen, tetapi bakteri ini merupakan indikator dari pencemaran air oleh bakteri
patogen

(Soemirat,

2000

dalam

Putra).

Menurut

Permenkes

RI

No.

416/Menkes/per/IX/1990, bakteri Coliform yang memenuhi syarat untuk air bersih


bukan perpipaan adalah < 50 MPN.
Berdasarkan peraturan Kepmenkes untuk syarat kualitas air minum maka dari
kondisi fisik air tanah di Kawasan Pabrik Rokok Bentoel Janti berbeda dengan

kualitas air bersih yang telah ditetapkan. Berdasarkan penelitian yang telah ada
diketahui kondisi fisik air tanah di kawasan pabrik tersebut memiliki kondisi air yang
berwarna kekuningan dan sedikit berbau besi. Sedangkan untuk di kawasan
Ciptomulyo berwarna keruh tetapi tidak berbau dan untuk kawasan Janti Utara
memiliki kondisi fisik air tanah yang normal tidak berbau dan tidak berwarna.
Berdasarkan kondisi fisik air tanah tersebut penggunaan air tanah untuk air
minum memilki dampak bagi masyarakat sekitar. Dampak tersebut seperti adanya
kerak ketika air tanah tersebut direbus untuk penggunaan air minum, sehingga
pemanfaatan air untuk konsumsi air minum harus membeli air untuk konsumsi air
minum dari daerah lain yang memiliki standar untuk air minum yang lebih baik.
Air memiliki karakteristik fisika, kimia dan biologis yang sangat
mempengaruhi kualitas air tersebut. Oleh sebab itu, pengolahan air mengacu kepada
beberapa parameter guna memperoleh air yang layak untuk keperluan domestik
terutama digunakan sebagai ar minum. Berdasarkan kondisi lingkungan di kawasan
pabrik Bentoel Janti Difokuskan pada karakteristik kimia air dikarenakan adanya
dugaan pencemaran dari pabrik. Karakteristik kimia air menyatakan banyaknya
senyawa kimia yang terdapat di dalam air, sebagian di antaranya berasal dari alam
secara alamiah dan sebagian lagi sebagai kontribusi aktivitas makhluk hidup.
Beberapa senyawa kimia yang terdapat didalam air dapat dianalisa dengan beberapa
parameter kualitas air.
Pentingnya analisis kulalitas air bertujuan untuk menggetahui tingkat
kandungan kimia pada air tanah pada daerah pabrik Bentoel Janti guna untuk
menggetahui layak atau tidaknya air tanah tersebut dikonsumsi sebagai air minum
bagi masyarakat di kawasan pabrik janti.
1.2 TUJUAN PENELITAIN
1.Untuk mengetahui kualitas air tanah untuk konsumsi air minum di daerah Pabrik
Bentoel Janti.
2.Untuk menggetahui kandungan kimia air tanah di kawasan Pabrik Bentoel Janti.
3.Untuk menggetahui faktor penyebab tercemarnya air tanah.

1.3 MANFAAT PENELITIAN


1.Maanfaat praktis
Dapat membantu masyarakat untuk mengetahui penyebab tercemarnya air tanah.
2.Manfaat teoritis
Dapat digunakan untuk referensi untuk penelitian selanjutnya/lebih lanjut.
1.4 JABARAN VARIABLE
1.5 RUANG LINGKUP PENELITIAN
Kawasan Pabrik Bentoel Janti yang meliputi daerah Janti Utara, Benroel, dan
Ciptomulyo.
1.6 DEFINISI OPERASIONAL
Kualitas air adalah kondisi kalitatif air yang diukur dan atau di uji berdasarkan
parameter-parameter tertentu dan metode tertentu berdasarkan peraturan perundang-undangan
yang berlaku (Pasal 1 keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 tahun 2003).
Air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau bebatuan di bawah
permukaan tanah.
Air minum adalah air yang digunakan untuk konsumsi manusia. Menurut departemen
kesehatan, syarat-syarat air minum adalah tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, tidak
mengandung mikroorganisme yang berbahaya, dan tidak mengandung logam berat. Air
minum adalah air yang melalui proses pengolahan ataupun tanpa proses pengolahan yang

memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung di minum (Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor 907 Tahun 2002)