Anda di halaman 1dari 15

PENYELESAIAN SENGKETA LINGKUNGAN SECARA PERDATA

Penyelesaian sengketa lingkungan melalui instrument Hukum Perdata ,


menurut mas ahmad sentosa untuk menentukan seseorang atau badan hukum
bertanggung jawab terhadap kerugian

yang diakibatkan oleh pencemaran atau

perusakan lingkungan, penggungat dituntut membuktikan adanya pencemaran,


serta kaitan antara pencemaran dan kerugian yang diderita.
Pembuktian dalam kasus lingkungan, kususnya delik, karena kasus-kasus
pencemaran sering kali ditandai oleh sifat sifat khasnya, antara lain:
a. Penyebab tidak selalu dari sumber tunggal, akan tetapi berasal dari berbagai
sumber (multisources)
b. Melibatkan disiplin-disiplin ilmu lainnya serta menuntut keterlibatan pakarpakar di luar hukum sebagai saksi
c. Sering kali akibat yang diderita tidak timbul seketika, akan tetapi selang
beberapa lama kemudian (long period of latency).
Teori yang kini berkembang berkaitan dengan pertanggungjawaban dalam gugatan
perdata antara lain:
1. Market Share Liability
Teori ini dimaksudkan untuk mengatasi persoalan dimana penggugat
menderita kerugian akibat pencemaran oleh sejumlah industri. Dalam
menerapka teori ini, penggugat diharuskan menghadirkan sejumlah industri
sebagai pihak yang diduga sebagai kontributor substansial (substansial
share) zat-zat pencemar. Beban pembuktian (burden of proof) menurut teori
ini berpindah pada tergugat untuk membuktikan bahwa tergugat tidak
melepaskan zat-zat pencemar seperti yang dituduhkan ke dalam lingkungan
penerima

(misalnya

sungai

atau

danau).

Apabila

tergugat

gagal

membuktikan, tergugat bertanggung jawab ataas persentase tertentu dari


kerugian penggugat berdasarkan jumlah konstribusi zat-zat kimia ke dalam
lingkungan penerima (market share).
2. Risk Contribution

Tujuan dari pengembangan teori ini yaitu mengatasi permasalahan


dimana penggugat mengalami kerugian yang disebabkan pencemaran, akan
tetapi tidak dapat diidentifikasai secara pasti penyebab kerugian tersebut.
3. Concert Action
Melalui teori ini, pihak konsultan yang memberi nasihat untuk tidak
mengoperasikan alat pembuangan limbahnya, dapat dituntut bertanggung
jawab atas kerugian yang dialami oleh penggugat. Juga dapat dituntut
berdasarkan teori ini, pemerintah yang member persetujuan atas kerugian
yang

merugikam

penggugat.

Pihak-pihak

yang

bekerja

sama

dan

memberikan bantuannya bertanggung jawab secara tanggung renteng.


4. Alternative Liability
Teori ini muncul dilandasi suatu prinsip bahwa sangatlah tidak adil
apabila tergugat mesti dibebaskan hanya karena penggugat tidak dapat
membuktikan

secara

pasti

satu

dari

sekian

banyak

pihak

yang

bertanggungjawab atas perbuatan yang menimbulakan kerugian bagi orang


lain (misalnya pencemaran). Teori ini muncul pertama kali lewat kasus
Summers vs Tice (1984).
5. Enterprise Liability
Teori ini merupakan perluasan dari teori Market Share Liability. Teori ini
diterapakan dalam situasi ketika penggugat tidak dapat secara spesifik
menunjuk pelaku pencemaran dari sekian banyak perusahaan yang potensial
menjadi penyebab yang ternyata telah mengikuti atau mematuhi standar dan
petunjuk yang ditentukan, misalnya yang ditentukan dalam Rencana Kelola
Lingkungan (RKL), Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL), perizina industri,
dan perizinan pengendalian pencemaran.
Teori- teori yang berkembangdalam product liability ini tentu saja belum
mengatasi seluruh permasalahan yang melekat pada kasus pencemaran umumnya.
Teori

ini

hanya

dapat

mengatasi

permasalahan

yang

bersumber

pada

tuntutankepastian dari sumber-sumber penyebab pencemaran, lebih dari satu atau


sepuluh bahkan ratusan industry yang menjadi penyebabnya. Berbagai teori ini
memberikan dasar bagi pembuktian terbalik (shifting burden of proof) tentang
factor sebab akibat.
Bedasarkan UU No. 23 Tahun 1997 maupun hukum acara perdata (HIR),
system pembuktian perdata di Indonesia tidak menganut prinsip pembuktian

terbalik. UU ini hanya mengenal strict liability dimana penggugat tidak perlu lagi
membuktikan unsur kesalahan tergugat. Namun beban pembuktian tentang
kuasalitas (kerugian yang dikemukakan merupakan akibat dari terguggat) lebih
berada pada penggugat. Dengan demikian, penyelesaian sengketa lingkungan
hidup secara perdata, terjadi karena pada satu sisi masyarakat dirugikan atas
pengelolaan lingkungan hidup yang menyimpang dari aturan yang sebenarnya.
Dalam Pasal 34 UU Nomor 23 Tahun 1997, yang dapat mengajukan gugatan
apabila terjadi perbuatan melanggar hukum lungkungan adalah (1) subjek hukum
(orang atau masyarakat yang dirugikan oleh adanya aktivitas proyek atau kegiatan
terhadap lingkungan); (2) lingkungan itu sendiri (lingkungan dewasa ini telah
menjadi subjek hukum, sehingga kalau terjadi perusakan atau pencemaran
lingkungan, lingkungan dapat mengajukan gugatan yang diwakili ileh lembaga
swadaya masyarakat (LSM), atau masayarakat dengan kelas action).
Penyelesaian sengketa perdata melalui pengadilan merupakan salah satu
penyelesaian

yang

bermuara

pada

efektivitas

penegakan

hukum,

karena

penyelesaian sengketa melalui jalur perdata memiliki 3 (tiga) fungsi berikut.


Pertama, dapat dipaksakan ketaatan pada norma norma hukum lingkungan, baik
yang bersifat hukum privat maupun hukum public. Kedua, dapat memberikan
penentuan norma-norma (normstelling) dalam masalah lingkungan hidup. Ketiga,
memberikan kemungkinan untuk mengajukan gugatan ganti rugi atas pencemaran
lingkungan terhadap pihak yang menyebabkan timbulnya pencemaran tersebut
yang biasanya dilakukan gugatan melalui perbuatan hukum.
Untuk membuktikan apakah terjadi pelanggaran hukum terhadap lingkungan
hidup, titik tumpunya terletak pada unsur-unsur yang terdapat dalam Pasal 1365
BW (KUH Perdata). Unsur-unsur yang terdapat dalam Pasal 1365 BW, yaitu:
1. Unsur kesalahan
Pada umumnya untuk membuktikan terjadinya unsur kesalahan, selalu
dikaitkan dengan perbuatan melawan hukum (onrechmatige daad).
Perbuatan melanggar hukum sangat terkait dengan adanya unsur
kesalahan

(schuld)

agar

yang

bersangkutan

dapat

dipertanggungjawabakn secara hukum.


Dalam pembuktian unsur kesalahan yang terdapat dalam padal 1365
KUH

Perdata,

lazim

dikenal

(dua)

teori,

yaitu

pertama

pertanggungjawaban atas keslaahan (Liability Based on Fault) atau sering

pula disebut Negligence Rule. Di sini, unsur kesalahan memainkan


peranan yang penting dalam menentukan bertanggung jawab atau
tidaknya

seseorang.

Kesalahan

ini

mencakup

arti

kelalaian

dan

kesengajaan Menurut Moegni Djojodirdjo, kesalahan haruslah diartikan


secara subjektif (abstrak) dan objektif (konkret). Secara subjektif berarti
seseorang menyadari arti dan maksud perbuatannya. Sedangkan secara
objektif, berarti seseorang menyadari seharusnya melakukan perbuatan
yang lain dari apa yang telah ia lakukan dan seharusnya ia dapat
mencegah timbulnya akibat buruk dari perbuatannya itu.
Sejalan dengan pandangan yang diungkapkan oleh Moegni Djojodirjo di
atas, Vranken sebagaimana dikutip oleh E.A. Messer, menyatakan bahwa
bagi suatu pertanggungjawaban atas suatu kerugian (bahaya) menuntut
adanya syarat bahwa kerugian (bahaya) itu sebelumnya sudah diketahui.
Ukuran untuk hal ini ialah orang yang normal, cermat, dan hati-hati, yang
berada dalam kondisi yang sama dengan pelaku. Dengan demikian, dalam
asas kesalahan ini, unsur foreseability/voorzienbaarheid merupakan unsur
yang paling menentukan bagi adanya pertanggungjawaban.
Lebih jauh M. Ramdan Andri, G.W. menyatakan, suatu gugatan ganti
kerugian dalam hukum lingkungan yang berdasarkan asas kesalahan, baru
dapat dikabulkan apabila dapat dibuktikan bahwa tindakan tergugat
memenuhi unsur-unsur kesalahan sebagai berikut: (1) adanya kewajiban
untuk melaksanakan tingkat kehati-hatian, di mana seseorang lain di
dalam kondisi yang serupa akan melaksanakan kehati-hatian itu secara
layak dan bijaksana; (2) adanya pelanggaran kewajiban karena kegagalan
untuk mengikuti standar perbuatan yang layak; (3) bahwa perbuatan yang
tidak layak tersebut merupakan penyebab yang aktua dan terdekat dari
kerugian yang diderita oleh penggugat; (4) adanya kerugian nyata pada
pihak penggugat.
Teori kedua, yaitu pertanggungjawaban tanpa kesalahan (liability
without fault), atau yang lazim disebut Strict Liability. Dengan demikian,
inti dari konsep Strict Liability adalah bahwa dalam hal seseorang
menjalankan

jenis

kegiatan

yang

dapat

digolongkan

sebagai

extrahazardous atau ultrahazardous atau abnormally dangerous, ia


diwajibkan memikul segala kerugian yang ditimbulkan, walaupun ia telah
bertindak secara hati-hati (utmost care) untuk mencegah segala bahaya

atau

kerugian

tersebut,

dan

walaupun

kerugian

itu,

yang

tidak

dihubungkan dengan apa kesengajaannya. Oleh karena itu, dalam strict


hability terdapat suatu kewajiban tergugat untuk memikul tanggung jawab
atas kerugian, yang tidak dihubungkan dengan apa kesalahannya.
Dalam sejarah perkembangan strict liability di dunia, dapat dilihat
pada negara-negara yang tergabung dalam masyarakat Eropa, strict
liability diakui paling tidak di Belgia (Belgian Law on Toxic Law Waste,
1974 dan Belgian Royal Decree, 1981 on the Control of Orgasm harmful
to Plants and Plant Product), di Prancis (French Law on Waste, 1975), di
Yunani (Greece Frame-work Law No. 1650/1986), Inggris (United Kingdom
Environmental No. 11/1987), Jerman (German Water Resources Act, 1960an dan German Law on Enviromental Liability, 1990). Strict liability juga
diakui berbagai konvensi, terakhir kini sedang diperjuangkan, terutama
oleh negara-negara yang tergabung dalam G 77 (Cina dan Denmark),
yaitu pengakuan strict liability dalam Protokol International resmi (protokol
ini menjadi bagian dari Konversi Keanekaragaman Hayati/CBD), Indonesia
sendiri mengakui strict liability dalam UU Nomor 5 Tahun 1983 tentang
Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), Keppres No. 18

Tahun 1979 tentang

Ratifikasi Convention on Civil Liability for Oil Pollution Damage, UU No. 10


Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran, dan UU No. 23 Tahun 1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Menurut Mas Ahmad Santosa, strict liability mengandung pengertian
bahwa kegiatan atau aktivitas yang mengandung bahaya atau risiko,
apabila mengakibatkan kerugian bagi orang lain, tidak memerlukan
pembuktian apakah seorang yang mengakibatkan kerugian tersebut telah
bertindak hati-hati (standart of care). Penanggung jawab kegiatan yang
berbahaya tersebut hanya dapat dibebaskan dari pertanggungjawaban
(liability) apabila ia dapat membuktikan bahwa kerugian yang timbul
adalah akibat dari kesalahan penggugat sendiri atau akibat bencana alam
(lihat pertimbangan Court of Exchequer Chamber dalam Rylands v
Fletcher). Faktor pemaaf inilah yang kemudian dikenal dengan defences
dalam liability seperti diatur dalam Pasal 35 ayat (2) UU No. 23 Tahun
1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Lebih jauh Mas Ahmad Santosa mengatakan bahwa dari teori yang
didapat dari Ryland v Fletcher ini, strict liability bukan padanan dari

konsep pembuktian terbalik (shifting/reversing burden of proof atau


omkering van bewijslast). Dalam konsep strict liability, yang terjadi justru
pembebasan beban pembuktian unsur kesalahan (fault). Apabila yang
dibuktikan oleh tergugat adalah faktor-faktor pemaaf (defences), beban
secara orisinal memang terdapat pada diri tergugat sehingga tidak ada
perpindahan/pembalikan

(shifting)

beban

pembuktian.

Dalam

strict

liability, beban pembuktian tentang hubungan sebab akibat umumnya


terletak

di

pundak

yang

mengendalikan

adanya

kerugian.

Beban

pembuktian pada penggugat ini sejalan dengan Pasal 163 HIR dan Pasall
1865 BW yang berbunyi
setiap orang yang mengaku mempunyai suatu hak, atau menunjuk
suatu peristiwa untuk mengukuhkan haknya itu atau untuk membantah
suatu hak orang lain, wajib membuktikan adanya hak itu dan kejadian
yang dikemukakan itu.

Sejalan

dengan

pendapat

menyatakan bahwa:
Kewajiban tergugat

untuk

di

atas,

Munadjat

memikul

tanggung

Danusaputro
jawab

atas

kerugian itu timbul secara langsung dan seketika, begitu


terdapat fakta bahwa telah terjadi peristiwa yang menyebabkan
timbulnya kerugian.
Dalam kaitannya dengan pelaksanaan strict liability sebagai salah
satu sarana yang dapat membebaskan penggugat atau yang dirugikan
dari

pertanggungjawaban

pembuktian,

hal

ini

tergantung

dari

kemauan politik dari setiap pemerintah, baik pada tingkat pusat


maupun

pada

tingkat

daerah.

Khusus

untuk

Indonesia,

sejak

diundangkannya UU Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan


Lingkungan Hidup, telah diakomodir mengenai pertanggungjawaban
mutlak pada usaha atau kegiatan yang merusak atau mencemari
lingkungan. Hal ini sesuai ketentuan dalam Pasal 35 UU Nomor 23
Tahun 1997, dinyatan sebagai berikut:
Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang usaha dan
kegiatannya menimbulkan dampak besar dan penting terhadap
lingkungan hidup, yang menggunakan bahan berbahaya dan

beracun, bertanggung jawab secara mutlak atas kerugian yang


ditimbulkan, dengan kewajiban membayar ganti rugi secara
langsung dan seketika pada saat terjadinya pencemaran dan/atau
perusakan

lingkungan

(ayat

(1)).

Penanggung

jawab

usaha

dan/atau kegiatan dapat dibebaskan dari kewajiban membayar


ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) jika yang
bersangkutan dapat membuktikan bahwa pencemaran dan/atau
perusakan

lingkungan

hidup

disebabkan

salah

satu

alasan

dibawah ini, (a) adanya bencana alam atau peperangan; atau (b)
adanya keadaan terpaksa di luar kemampuan manusia; atau (c)
adanya tindakan pihak ketiga yang menyebabkan terjadinya
pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.
Sementara itu, dalam kenyataan yang terjadi di lapangan,
terjadinya pencemaran dan perusakan terhadap lingkungan yang
dilakukan

oleh

para

industriawan,

apabila

kasusnya

sampai

pengadilan, pengadilan masih belum maksimal menerapkan instrumen


pertanggungjawaban ini. Hal ini menurut M. Ramdan Andri, GW.
dinyatakan sebagai berikut.
Pertama, pengadilan sering kali menguntungkan (berpihak)
kepada

para

korban

melalui

perluasan

interpretasi

atas

kesalahan, segera setelah kerugian ditimbulkan sebagai akibat


suatu kegiatan industri; kedua, di dalam beberapa kasus,
meskipun keberadaan asas kesalahan masih tetap diteruskan,
namun terdapat pembalikan beban pembuktian (pembuktian
terbalik); ketiga, sepanjang mengenai pembiayaan pembersihan
tanah (soil clean up) dan kerusakan lingkungan lainnya,
persyaratan untuk dapat menduga (foreseability) sering kali
dikurangi, yang mana secara substansial akan mengurangi
beban pembuktian kesalahan; keempat, perluasan interpretasi
kesalahan, terutama segera setelah ditimbulkannya kerugian
fisik, melalui fakta bahwa di dalam banyak sistem hukum,
pelanggaran

terhadap

suatu

peraturan

mengenai

standar

pengamanan (regulatory safety standard) secara otomatis telah

mengandung suatu kesalahan; kelima, adanya tanggung jawab


terhadap wewenang profesi.
Lebih jauh M.Ramdan Andri G.W. menyatakan bahwa di dalam
strictliability; seseorang bertanggung jawab kapan pun kerugian
timbul. Hal ini berarti bahwa: pertama, para korban dilepaskan dari
beban berat untuk membuktikan adanya hubungan kausal antara
kerugiannya dengan tindakan individu tergugat; kedua, para potential
polluterakan memperhatikan baik tingkat kehati-hatian nya (level of
care) maupun tingkat kegiatannya (level of activiity. Dua hal ini
merupakan kelebihan strict liability di atas, yang perlu mendapatkan
perhatian adalah tidak semua kegiatan yang dapat dikenakan asas ini.
Oleh karena itu, perlu ditentukan pertimbangan untuk menentukan
ruang lingkup strict liability, yaitu
a. Tingkat risiko (the degree of risk); dalam hal ini risiko dianggap
tinggi apabila tidak dapat dijangkau oleh upaya yang lazim,
menurut kemampuan teknologi yang telah ada;
b. Tingkat bahaya (the gravity of harm); dalam hal ini bahaya
dianggap sangat sulit untuk dicegah pada saat mulai terjadinya;
c. Tingkat kelayakan upaya pencegahan (the appropriateness);
dalam hal ini penanggung jawab harus menunjukkan upaya
maksimal untuk mencegah terjadinya akibat yang menimbulkan
kerugian pada pihak lain;

d. Pertimbsngsn risiko dan manfaat kegiatan telah dilakukan secara


memadai sehingga dapat diperkirakan bahwa keuntungan yang
diperoleh akan lebih besar jika dibandingkan dengan ongkosongkos yang harus dikeluarkan untuk mencegah timbulnya
bahaya.
Menurut John D. Blackbum, Elliot I. Klayman, dan Martin H. Malin
yang mengutip pasal 520 Restatment of the Law of Torts di Amerika,
terdapat beberapa faktor yang dapat dijadikan faktor penentu, yaitu

1. Kegiatan tersebut mengandung tingkat bahaya yang tinggi bagi


manusia, tanah, atau benda bergerak lain (the activity involves a
high degree of some harm to the person, land or chattles of
others);
2. Kerusakan yang diakibatkan oleh kegiatan tersebut mempunyai
kemungkinan untuk menjadi besar (the harm which may result
from it is likely to be great);
3. Risiko dapat tidak dihilangkan, meskipun kehati-hatian yang layak
sudah diterapkan (the risk cannot be eliminated by the exercised
reasonable care);
4. Kegiatan tersebut tidak termasuk dalam kegiatan yang lazim (the
activity is not a matter of common usage);
5. Kegiatan itu tidak sesuai dengan tempat di mana kegiatan itu
dilakukan (the activity is not appropriate to the place where it is
carried on);
6. Nilai atau manfaat kegiatan tersebut bagi masyarakat (the value
of activity to the community).
Dalam penerapan strict liability, green paper menyediakan hal-hal
yang perlu untuk dipertimbangkan, yaitu :
a. Tipe bahaya yang dihasilkan oleh kegiatan tertentu
b. Kemungkinan terjadinya kerugian dari suatu kegiatan, dan
kemungkinan meluasnya kerugian
c. Intensif yang akan disediakan oleh strict liability berupa
pengelolaan risiko dan pencegahan kerugian yang lebih baik
d. Kemungkinan pelaksanaan dan biaya-biaya pemulihan
kerugian yang diperkirakan akan terjadi
e. Beban keuangan yang harus ditanggung oleh sektor-sektor
ekonomi yang terlihat yang ditetapkan berdasarkan strict
f.

liability
Kebutuhan akan tersedianya asuransi lingkungan

2. Hubungan Kausal (Causal Verband)


Hubungan kausal timbul karena adanya hubungan sebab akibat dalam
suatu peristiwa yang dapat dipertanggungjawabkan kepada pihak yang
menyebabkan kerugian. Berkaitan dengan itu Paulus Efendi Lotulung
menyatakan bahwa:
Adanya hubungan kausal secara faktual saja belum cukup untuk
adanya

pertangungjawaban

membayar

kerugian,

sebab

yang

diperlukan adalah adanya hubungan kausal yuridis di samping adanya


hubungan kausal faktual. Dilihat dari sejarahnya, pada mulanya untuk
hubungan ini diterapkan teori Canditio Sine Qua Non sebagai kriteria
yang secara umum dipakai sebagai syarat minimal (minimumeis),
yang selanjutnya berkembang pada permulaan abad ini dengan
diterapkannya teori Adequatie, yang deperkenalkan pada tahun 1920
oleh P. Scholten dan D. Simons. Teori ini merupakan pembatasan
terhadap segala sebab yang dapat merupakan alasan untuk terjadinya
kerugian.
Inti dari teori adequatie adalah pengertian voorzienbaarheid, dimana si
pelaku hanyalah bertanggungjawab terhadap kerugian yang sepatutnya
dapat dipikirkan merupakan akibat dari perbuatannya.
Ajaran tentang ukuran kepatutan yang telah masuk dalam praktik
peradilan dan doktrin, telah menimbulkan adanya perinian kaidah-kaidah
didalam teori kuasaliteit, yaitu:
a. Semakin besar adanya kemungkinan untuk mengetahui timbulnya
suatu akibat tertentu berdasarkan pengalamannya si pelaku, maka
semakin besar pula ia dapat dipertanggungjawabkan
b. Semakin sedikit akibat itu dapat dijauhkan dari suatu perbuatan
melawan hukum, maka semakin besar pula si pelaku dapat
dipertanggungjawabkan
c. Diterapkan ajaran pertanggungjawaban yang luas dalam hal
kerugian karena mati atau luka-luka
d. Semakin besar kesalahan seseorang terhadap kejadian-kejadian
yang

menimbulkan

kerugian,

maka

semakin

luas

pertanggungjawabannya
e. Kerugian karena kematian atau luka-luka diperhitungkan lebih
f.

dahulu daripada kerugian kebendaan


Pertanggung jawaban lebih besar apabila si pelaku adalah memang
seorang petugas daripada apabila ia hanya seorang partikelir biasa.

Penyebab

terhambatnya

penyelesaian

sengketa

lingkungan

dari

berbagai pengaduan dan gugatan kasus-kasus pencemaran maupun


perusakan lingkungan adalah:
1. Tidak

terdapatnya

kelembagaan

khusus,

terutama

ditingkat

pemerintah daerah yang memiliki mandat untuk menerima dan

meninaklanjuti

pengaduan

masyarakat

terhadap

kasus-kasus

lingkungan
2. Tidak adanya prosedur-prosedur serta mekaniame pengaduan,
penelitian dan penuntutan ganti kerugian dalam kasus pencemaran
dan kerusakan lingkungan
3. Tidak adanya wadah penyedia jasa penyelesaian sengket di luar
pengadilan melalui mediasi, konsolidasi, atau arbitrase seperti yang
dimiliki oleh Filipina, Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan
4. Keterbatasan akses masyarakat korban maupun

kelompok

kepentingan ke lembaga pengadilan

Aspek-aspek Penyelesaian Sengketa Perdata


1. Pertanggungjawaban Ganti Rugi Menurut Hukum Perdata
Asas pertanggungjawaban secara kesalahan (fault) didasarkan pada adagium
bahwa tidak ada pertanggungjawaban apabila terdapat unsur kesalahan (No
Liability Without Fault). Pertanggungjawaban demikian, menurut ilmu hukum
disebut dengan Tortious Liability atau Liability Based On Fault.
Adapun

Unsur-unsur

perbuatan

melawan

hukum

(onrechtsmatigedaad)

menurut pasal 1365 KUH Perdata adalah sebagai berikut:


1)
2)
3)
4)

perbuatan itu harus bersifat melawan hukum


terdapat kesalahan pada pelaku
Timbul kerugian
terdapat hubungan kausalitas antara perbuatan dengan kerugian.

2. Tanggung Jawab Pencemaran Lingkungan


a. Polutter Pays Principle
Salah satu wujud perbuatan yang merugikan orang/pihak lain
ialah pencemaran lingkungan yang dalam istilah lain disebut juga
sebagai kerusakan lingkungan.
Dalam Undang-Undang Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkunga
Hidup (UUPLH No. 23 Tahun 1997), ketentuan Pertanggung jawaban
atas pencemaran lingkungan hidup, diatur dalam Pasal 34 ayat 1 dan
35 ayat 1. Kedua pasal ini menganut dua sifat pertanggung jawaban,
yakni:

Dasar pertanggungjawaban yang bersifat biasa (Pasal 34 ayat 1

UUPLH).
Dasar pertanggungjawaban yang bersifat khusus (Pasal 35 ayat 1
UUPLH).
UUPLH

1997

menentukan

environmental

responsibility

mencakup masalah ganti rugi kepada orang perorangan (private


compensation)

maupun

biaya

permulihan

lingkungan

(public

compensation).
Disini perlu diterangkan bahwa meskipun UUPLH1982 sudah
tidak berlaku lagi sebagai bahan bahasan, namun perlu disinggung
prinsip yang diatur pasal 20 ayat (3) UUPLH 1982.
Dalam pasal 20 ayat (3) UUPLH 1982 Ditentukan secara tegas
tentang siapa yan merusak atau mencemarkan lingkungan hidup
bertanggungjawab untuk membayar biaya pemulihan lingkungan
hidup kepada Negara.
OECD
membayar

menekankan
akibat

supaya

pencemar

kerusakan-kerusakan

dibebani

lingkungan

kewajiban

hidup

yang

dibuatnya. Prinsip-prinsip yang diterapkan oleh OECD tercakup dalam 7


kebijksanaan yang diambil, yakni:
1.
2.
3.
4.
5.

Pengendalian langsung
perpajakan
pembayaran
subsidi
macam-macam kebijakan yang bersifat insentif seperti keuntungan

pajak, fasilitas kredit, dan amortisasi atau pelunasan hutang yang dipercepat
(Accelerated Amortization).
6.
Pelelangan hak-hak pencemaran (The Action of Pollution Right)
7.
pungutan-pungutan (charges).
Sistem pengelolaan PPP dapat dilihat dalam UUPLH 1997,
khusunya Pasal 10 butir b, c, d, e, f, g, I, Pasal 17, Pasal 34 dan Pasal
35. Pasal 6 ayat (1) menyatakan: Setiap orang berkewajiban
memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan
menanggulangi pencemaran serta perusakan lingkungan hidup.
Dalam

rangka

penerapan

PPP

ini,

dijelaskan

bahwa

selain

bertanggungjawab membayar ganti rugi, hakim dapat membebankan


kepada pelaku pencemaran berbagai tindakan, misalnya:

Pemasangan atau perbaikan intalasi-intalasi pengolahan limbah

sejalan dengan prinsip baku mutu lingkungan hidup.


memulihkan fungsi tata lingkungan
menghilangkan semua factor penyebab perusakan lingkungan.

3. Tanggung Jawab Langsung dan Seketika (STRICT LIABILITY)


a. Prinsip Strict Liability dalam UUPLH
Selain jenis pertanggungjawaban perdata yang telah disebutkan di
atas, UUPLH juga memperkenalkan asas baru dalam hukum
lingkungan. Asas itu adalah asas tanggung jawab yang bersifat khusus
lingkungan Indonesia disebut dengan Strict Liability.
Asas ini termuat dalam pasal 35 ayat (1) UUPLH yang bunyi
lengkapnya adalah sebagai berikut:
Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang usaha dan
kegiatannya menimbulkan dampak besar dan penting terhadap
lingkungan hidup, yang menggunakan bahan berbahaya dan
beracun, dan/atau menghasilkan limbah bahan berbahaya dan
beracun, bertanggung jawab secara mutlak atas kerugian yang
ditimbulkan, dengan kewajiban membayar ganti rugi secara
langsung dan seketika pada saat terjadinya pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup.
Unsur yang dapat membuat kita faham terhadap asas yang
terkandung dalam pasal, yaitu:
1. suatu perbuatan atau kegiatan
2. Menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan
hidup
3. Menggunakan atau menghasilkan bahan/limbah berbahaya dan
beracun
4. Tanggung jawab timbul secara mutlak
5. Tanggung jawab secara langsung

dan

seketika

pada

saat

pencemaran/perusakan lingkungan.

b. Strict Liability dan Absolute Liability


Di Amerika Serikat, prinsip strict liability berkembang melalui
putusan-putusan pengadilan yang kemudian menciptakan sejumlah

criteria yang dapat disebut sebagai kategori sangat berbahaya (extra


hazardous atau abnormally dangerous activity).
c. Limitasi dan Pengecualian Tanggung Jawab
Sistem strict liability diterapkna secara limitative, dalam arti
bahwa

hanya

kepada

jenis-jenis

kegiatan

tertentu

saja

akan

diberlakukan strict liability. Meurut Pasal 35 UUPLH 199, kegiatankegiatan tersebut adalah kegiatan yang berdampak besar dan penting
terhadap lingkungan (1). yang menggunakan bahan berbahaya dan
beracun; (2). menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beracun; dan
(3). Menurut penjelasan pasal 35 ketentuan strict liability merupakan
lex specialis dalam gugatan tentang perbuatan melawan hukum pada
umuumnya.
Penyelesaian Sengketa Pencemaran Lingkungan
a. Perlunya Badan Penyelesaian Sengketa Lingkungan
Berkaitan dengan penyelesaian sengketa pencemaran/kerusakan lingkungan,
hingga saat ini dinegara kita belum ada semacam badan The Settlement of
Environmental Disputes. Sebetulnya badan semacam ini penting, di mana
tugas khususnya adalah menyelesaikan sengketa-sengketa
pencemaran/kerusakan lingkungan dalam bentuk konsiliasi, mediasi atau
arbitrasi. Badan ini harus bersifat privat dan harus terhindar dari campur
tangan pemerintah.
Penjelasan Pasal 20 ayat 2 UUPLH 1982 mengatakan, penelitian tentang
bentuk, jenis, dan besarnya kerugian dilakukan oleh tim yang dibentuk
pemerintah. Penelitian ini meliputi bidang ekologi, medis, social, budaya, dan
lain-lain yang diperlukan. Tim yang terdiri dari pihak penderita atau
kuasanya, pihak pencemar atau kuasanya, dan unsur pemerintah dibentuk
untuk tiap-tiap kasus. Tim ini lazim disebut dengan Tripartite atau tripihak.
Sedangkan untuk sengketa/kasus-kasus lainnya, di tiap-tiap provinsi
(prefecture) dibentuk sebuah badan Environmental Disputes Coordination
Commision. Badan ini dibentuk berdasarkan Law concerning the Settlement
of environment Pollution Disputes, dan bertugas untuk menyelesaikan
sengketa pencemaran melalui konsiliasi, mediasi, atau arbitrasi.

Bentuk-bentuk ganti rugi yang dapat diperoleh korban. bentuk ganti


ruginya tersebut adalah:
1. pemeliharaan kesehatan dang anti rugi berupa biaya pengobatan
2. ganti rugi atas cacat badan
3. ganti rugi atas yang selamat
4. ganti rugi berupa lump sum untuk selamat
5. ganti rugi atas biaya anak-anak
6. biaya pengobatan
7. biaya pemakaman/perabuan.
b. Alternatif Penyelesaian Sengketa
Mekanisme Penyelesaian Sengketa (dispute resolution) dalam hukum
lingkungan di banyak Negara, termasuk di Indonesia, kini telah berkembang
khusunya di Bidang keperdataan. Perkembangan disini maksudnya ialah
penyelesaian sengketa tidak lagi hanya ditangani oleh lembaga-lembaga
tradisional yang ditunjuk oleh pemerintah seperti pengadilan dan
semacamnya.
Penyelesaian sengketa telah tumbuh berbagai system dan model, bukan
saja hanya melalui pengadilan, tetapi juga di luar pengadilan. inilah yang
disebut denagan Alternatife dispute resolution (ADR). istilah ADR bila
diartikan kedalam bahasa Indonesia bisa beragam ada yang menyebutkanya
alternative penyelesaian sengketa(APS) dan ada juga penyelesaian
sengketa alternative(PSA).
System ADR dalam UUPLH 1997 dapat dilihat pada Pasal 30 hingga pasal
33. system seperti dalam UUPLH ini telah dikembangkan pula melalui suatu
pengaturan dalam bentuk undang-undang, yakni UU No 30 tahun 1999
tentang arbitrase dan alternative Penyelesaian sengketa system. Perlu
dicatat bahwa prinsip ini telah dikenal di dalam UU No, 4 tahun 1982, seperti
telah disinggung di atas, sebagai system tripartite atau biasa pula disebut
Tripihak yang terdiri dari pihak korban, pihak pelaki (pencemar) dan unsur
pemerintah.