Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH

KEJAHATAN KORPORASI

Disusun Oleh :
AFRITA AYU LUGAL WIJAYANTI

UNIVERSITAS MERDEKA PONOROGO


PONOROGO
2016

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit
sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam
atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul KEJAHATAN
KORPORASI .
Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai
pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
Kedua orang tua dan teman-teman yang telah memberikan dukungan, yang begitu
besar.
Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa
memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi.
Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan,
namun selalu ada yang kurang.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun
agar Makalah ini dapat lebih baik lagi. Akhir kata penulis berharap agar makalah ini
bermanfaat bagi semua pembaca.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ponorogo, Agustus 2016


Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................

KATA PENGANTAR............................................................................................

ii

DAFTAR ISI..........................................................................................................

iii

BAB I

PENDAHULUAN..............................................................................

A. Latar Belakang...............................................................................

B. Rumusan Masalah..........................................................................

C. Tujuan Penulisan

.......................................................................

D. Manfaat .......................................................................................

TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................

A. Kerangka Konseptual ...................................................................

B. Kerangka Teoritis

...................................................................

...........................................................................

12

A. Kejahatan Korporasi ..................................................................

12

B. Sebab-sebab Adanya Kejahatan Korporasi ...................................

13

PENUTUP..........................................................................................

24

A. Kesimpulan....................................................................................

24

B. Saran..............................................................................................

25

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................

26

BAB II

BAB III

BAB IV

PEMBAHASAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Korporasi sebagai alat yang sangat luar biasa untuk memperoleh
keuntungan pribadi tanpa perlu adannya pertanggung jawaban. Pada berbagai sektor
perekonomian, dapat ditemukan satu contoh pelanggaran korporasi yang telah
menimbulkan banyak kerugian dan kerusakan. Walaupun terdapat berbagai bukti
yang menunjukkan adanya kejahatan korporasi, namun hukuman atas tindakan
tersebut selalu terabaikan. Kejahatan korporasi yang telah terjadi pada berbagai
perusahaan di masa lalu dapat hidup kembali. Oleh karena itu, perlu diketahui
bagaimana untuk mencegahnya.
Banyak perusahaan sering, dengan sengaja bahkan berulang-ulang,
mencemoohkan hukum; mereka melakukan tidakan yang melanggar hokum namun
dengan mudah keluar dari tuntutan hukum. Padahal masyarakat sangat terganggu
akibat tindakan korporasi tersebut. Pandangan masyarakat pada bentuk kejahatan
korporasi sangat berbeda dengan pandangan mereka pada kejahatan jalanan. Hampir
pada setiap kejadian, efek dari kejahatan korporasi selalu lebih merugikan, memakan
biaya lebih besar, berdampak lebih meluas, dan lebih melemahkan daripada bentuk
kejahatan jalanan.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan suatu masalah yaitu :
1. Apa yang dimaksud dengan kejahatan Korporasi.
2. Sebab-sebab adanya kejahatan Korporasi.
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan kejahatanKorporasi.
2. Mengetahui sebab-sebab adanya kejahatanKorporasi.
D. Manfaat
Hasil penulisan makalah diharapkan bermanfaat bagi pengembangan pembelajaran
Ilmu Kriminologi terkait Kejahatan Korporasi guna mengkaji lebih rinci tentang
definisi kejahatan korporasi serta sebab-sebab munculnya kejahatan korporasi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Konseptual
Korporasi sebagai suatu badan hukum hasil ciptaan hukum tentunya
mempunyai hak dan kewajiban sebagaimana halnya manusia. Tatanan yang
diciptakan oleh hukum itu baru menjadi kenyataan apabila kepada subjek hukum
diberi hak dan dibebani kewajiban. Ketika subjek hukum itu diberi hak maka iapun
secara tidak langsung sudah dibebani oleh kewajiban atau sebaliknya, tidaklah
mungkin adanya kewajiban bila subjek hukum tidak mempunyai haknya. Untuk
mengetahui lebih jelas mengenai korporasi sebagai suatu badan hukum, ada baiknya
menyimak beberapa pendapat di bawah ini :
Sudikno Mertokusumo, menjelaskan apa yang dimaksud dengan badan
hukum adalah organisasi atau kelompok manusia yang mempunyai tujuan tertentu
yang dapat menyandang hak dan kewajiban.
Setiawan,menjelaskan rechtspersoon adalah subjek hukum yang memiliki
hak dan kewajiban sendiri,sekalipun bukan manusia pribadi.Ia mewujudkan dirinya
dalam bentuk badan atau organisasi yang terdiri atas sekumpulan pribadi manusia
yang bergabung untuk suatu tujuan tertentu serta memiliki kekayaan tertentu.
Subekti, menjelaskan pada pokoknya badan hukum, adalah suatu badan
atau perkumpulan yang dapat memiliki hak-hak melakukan perbuatan seperti seorang
manusia, serta memiliki kekayaan sendiri, dapat digugat atau menggugat didepan
hakim. Jadirechtspersoonartinya orang yang dapat diciptakan oleh hukum.
Rudhi Prasetya, menjelaskan badan hukum adalah sebagai subjek hukum
yang mempunyai harta kekayaan sendiri yang cakap melakukan perbuatan perdata
dengan akibat dari perbuatannya itu hanya dipertanggungjawabkan sekedar terbatas
sampai pada jumlah harta kekayaan yang ada.
Wirjono Prodjodikoro, menyatakan korporasi adalah perkumpulan orang,
dalam korporasi biasanya yang mempunyai kepentingan adalah orang-orang yang
merupakan anggota dari korporasi itu, anggota-anggota mana juga mempunyai
kekkuasaan dalam peraturan korporasi berupa rapat anggota sebagai alat kekuasaan
yang tertinggi dalam peraturan korporasi.
Jadi, dari beberapa pendapat diatas dapat ditarik pengertian secara umum
bahwa korporasi sebagai badan hukum merupakan sekumpulan dari orang-orang yang
membentuk suatu organisasi tertentu dengan tujuan tertentu, memiliki harta

kekayaan, serta mempunyai hak dan kewajiban. Menurut David J. Rachman, ia


mengatakan bahwa secara umum korporasi memiliki lima ciri penting, yaitu :
1. Merupakan subjek hukum buatan yang memiliki kedudukan hukum
khusus.
2. Memiliki jangka waktu hidup yang tidak terbatas.
3. Memperoleh kekuasaan (dari negara) untuk melakukan kegiatan bisnis
tertentu.
4. Dimiliki oleh pemegang saham.
5. Tanggung jawab pemegang saham terhadap kerugian korporasi biasanya sebatas
saham yang dimilikinya.
Korporasi adalah badan hukum atau gabungan beberapa perusahaan
yang dikelola dan dijalankan sebagai satu perusahaan besar; kumpulan orang atau
kekayaan yang terorganisasi, baik berupa badan hukum maupun bukan badan
hukum. Sedangkan dalam Ensiklopedia Ekonomi, Keuangan dan Perdagangan
korporasi diartikan sebagai :
Suatu kesatuan menurut atau suatu badan susila yang diciptakan menurut
undang-undang sesuatu negara yang menjalankan suatu usaha atau aktifitas atau
kegiatan lainnya yang sah. Badan ini dapat dibentuk untuk selama-lama atau untuk
sesuatu jangka waktu terbatas, mempunyai nama dan identitas yang dengan nama dan
identitas itu dapat dituntut di muka pengadilan, dan berhak akan mengadakan suatu
persetujuan menurut kontrak dan akan melaksanakan semua fungsi lainnya yang
seseorang dapat melaksanakannya menurut undang-undang suatu negara. Pada
umumnya suatu corporation dapat merupakan suatu organisasi pemerintah, setengah
pemerintah atau partikelir.
Untuk lebih jelas mengetahui korporasi sebagai subjek hukum dalam
peraturan perundang-undangan, penulis mencoba memuatnya dalam bentuk
table dibawah ini.
No
1

Undang-Undang (UU)
Undang-Undang Nomor 13 tahun

Penyebutan Subjek Korporasi


Korporasi adalah kumpulan orang

2010 tentang Holtikultura

dan/atau kekayaan yang terorganisasi,


yang berbadan hukum ataupun tidak

Undang-Undang Nomor 08 tahun

berbadan hukum (Pasal 1 angka 25)


Korporasi adalah sekumpulan orang

No

Undang-Undang (UU)
2010 tentang Pencegahan dan

Penyebutan Subjek Korporasi


dan/atau kekayaan yang terorganisasi,

Pemberantasan Tindak pidana

baik merupakan badan hukum maupun

Pencucian uang
Undang-Undang Nomor 15 tahun

bukan badan hukum (Pasal 1 angka 10)


Korporasi adalah sekumpulan orang

2003 tentang Pemberantasan Tindak

dan/atau kekayaan yang terorganisasi baik

Pidana Terorisme

merupakan badan hukum maupun bukan

Undang-Undang Nomor 31 tahun

badan hukum (Pasal 1 angka 3)


Korporasi adalah sekumpulan orang

1999 tentang Pemberantasan Tindak

dan/atau kekayaan yang terorganisasi baik

Pidana Korupsi Jo. Undang-Undang

merupakan badan hukum maupun bukan

Nomor 20 tahun 2001


Undang-Undang Nomor 06 tahun

badan hukum (Pasal 1 angka 1)


Dilakukan oleh atau atas nama badan

1984 tentang Pos

hukum, perseroan, perserikatan orang lain,

Undang-Undang Nomor 05 tahun

atau yayasan (Pasal 19 ayat (3))


Korporasi tidak disebut secara eksplisit,

1984 tentang Perindustrian

tetapi dalam Pasal 21 ayat (1) Jo. Pasal 1


angka 7 disebut subjek tindak pidana
berupa perusahaan industri. Perusahaan
industri adalah badan usaha yang
melakukan kegiatan di bidang usaha

Undang-Undang Nomor 23 tahun

industri.
Hanya disebutkan setiap orang. Setiap

2002 tentang Perlindungan Anak

orang adalah orang perseorangan atau

Undang-Undang Nomor 44 tahun

korporasi (Pasal 1 angka 16)


Hanya disebutkan setiap orang. Setiap

2008 tentang Pornografi

orang adalah orang perseorangan atau


korporasi baik yang berbadan hukum
maupun yang tidak berbadan hukum

Undang-Undang Nomor 11 tahun

(Pasal 1 angka 3)
Hanya disebutkan setiap orang. Setiap

2008 tentang Informasi dan

orang adalah orang perseorangan, baik

Transaksi Elektronik

warga negara Indonesia, warga negara


asing, maupun badan hukum (Pasal 1
angka 21)

Dilihat dari tabel di atas, masih ditemukannya penyebutan istilah korporasi yang
bermacam-macam atau belum seragam. Penulisan istilah korporasi mulai terlihat
pada tahun 1997 dalam UU Psikotropika. Hal ini dipengaruhi oleh Konsep KUHP

(baru) 1991/1992 sebagai ius constituendum dalam Pasal 146 yang menyatakan
korporasi adalah kumpulan terorganisasi dari orang dan atau kekayaan, baik
merupakan badan hukum atau bukan.
Menurut I Gede Widhiana Suarda, ia mengatakan korporasi dapat dijadikan subjek
hukum pidana internasional dengan alas an :
1. Korporasi dapat dijadikan sarana untuk mencari keuntungan dan pada
digunakan sebagai sumber dana suatu kejahatan
keuntungan suatu korporasi ditujukan untuk
seperti terorisme, kejahatan
korporasi tersebut

akhirnya

internasional. Artinya,

mendanai kejahatan internasional,

perang, genosida, dan sebagainya. Dalam hal ini,

pada umumnya berstatus legal serta menjalankan usaha

sebagaimana layaknya korporasi legal pada umumnya.


2. Selain digunakan sebagai sarana untuk mendanai kejahatan
korporasi dapat dijadikan sebagai tempat atau sarana
(money laundering) hasil-hasil kejahatan
korupsi, perdagangan narkotika
didirikan secara legal serta
hanya sebagai kedok

internasional,

untuk mencuci uang

internasional, misalnya mencuci uang

dan sebagainya. Artinya korporasi dapat

melakukan kegiatan dengan legal pula, tetapi itu

untuk mencuci uang dari hasil tindak pidana internasional

yang dilakukannya.
3. Korporasi dapat menjadi pelaku tindak pidana internasional, baik
maupun tidak langsung. Sebagai contohnya adalah
etnis (genosida) di Rwanda, ternyata ada
langsung maupun tidak langsung
pembantaian tersebut.
Rwanda
yang

secara langsung

ketika terjadi pembantaian

beberapa korporasi, baik yang secara

ikut berperan dalam mengobarkan semangat

Dalam masa pembantaian tersebut beberapa media massa

telah ikut mamainkan peran penting memuluskan kejahatan

dilakukan.karena

itu,

wajar

apabila

korporasi

dapat

dijadikan

sebagai subjek hukum pidana internasional.


4. Perkembangan dalam teori hukum (dan hukum pidana khususnya)
menempatkan korporasi sebagai subjek hukum sebagaimana
individu. Hampir semua negara di dunia telah
sebagai subjek hukum dalam sistem
Memang pada awal
pidana telah
ini,

manusia atau

menempatkan korporasi juga

hukum pidananya, termasuk Indonesia.

kemunculan fenomena korporasi sebagai subjek hukum

ditentang dan dikritik banyak orang. Namun demikian saat

keberadaan korporasi sebagai pelaku tindak pidana atau sebagai

hukum pidana sudah tidak terbantahkan lagi.

telah

subjek

5. Dari sisi praktik penegakan hukum pidana internasional telah


suatu organisasi pernah ditetapkan oleh
Nuremberg) sebagai organisasi
menetapkan 6 organisasi
kejahatan dan
ini

menunjukan bahwa

Mahkamah Internasional (Mahkamah

yang terlarang. Mahkamah Nuremberg telah

yang terlibat dalam Perang Dunia II sebagai organisasi

menbebaskan 2 organisasi dari tuduhan. Dalam konteks

keterlibatan suatu organisasi dapat saja mengarah pada suatu

Apabila mengacu pada doktrin dalam hukum pidana tentang


korporasi, yang menetapkan ruang lingkup korporasi
adalah kumpulan baik yang berbadan
hukum, maka suatu organisasi
dikualifikasikan sebagai
internasional.

ruang lingkup

dalam arti luas : korporasi

hukum maupun yang tidak berbadan

(sekalipun tidak berbadan hukum) dapat saja

suatu korporasi yang terlibat dalam suatu kejahatan

Oleh karena itu, organisasi atau korporasi tersebut semestinya

dapat dijadikan
dasar

korporasi.

subjek

hukum

internasional

sekaligus

dipidana

atas

hukum pidana internasional.

B. Kerangka Teoritis
Korporasi ada karena keberadaanya memang diperlukan. Ada beberapa
terori yang mencoba menjelaskan mengapa korporasi perlu ada. Terdapat dua aliran
utama yang menjelaskan mengapa korporasi perlu ada yakni pertama, penjelasan
yang lebih bertumpu pada pendekatan kontraktual yang terdiri dari tiga teori, yaitu
teori neo institusi biaya transaksi (transaction cost theory), teori agensi (agency
theory), dan teori kontrak yang tidak lengkap (incomplete contract). Kedua,
pendekatan yang berbasis pada teori kompetensi. Pada dasarnya, pendekatan
kompetensi menjadi alternatif dari pendekatan kontraktual yang menjadi pendekatan
utama dalam analisis organisasi. Dengan kata lain, pendekatan berbasis kompetensi
bersifat heterodoks, sementara pendekatan kontraktual lebih bersifat ortodok.
Dasar kesalahan perusahaan yang dapat diindikasikan sebagai kejahatan
korporasi dapat terlihat dari kelalaian, keserampangan, kelicikan dan kesengajaan atas
segala tindakan korporasi. Untuk lebih mendalami lagi, Agus Budianto mengatakan
bahwa terdapat dua model mengenai kejahatan korporasi. Pertama, kejahatan yang
dilakukan oleh orang yang bekerja atau yang berhubungan dengan suatu perusahaan
yang dipersalahkan; dan Kedua, perusaan sendiri yang melakukan tindakan kejahatan
melalui karyawan-karyawannya. Bila seorang yang cukup berkuasa dalam struktur
korporasi, atau dapat mewakilkan korporasi melakukan suatu kejahatan, maka
perbuatan dan niat orang itu dapat dihubungkan dengan korporasi. Korporasi dapat
dimintai pertanggungjawaban secara langsung. Namun, korporasi tidak dapat

dipersalahkan atas suatu kejahatan yang dilakukan oleh seorang yang berada di level
yang rendah dalam hirarki korporasi tersebut.
Dalam usaha meminta pertanggungjawaban pidana korporasi, telah
melahirkan sejumlah konsep yang menguraikan perkembangan pemikiran tentang
pertanggungjawaban subjek hukum korporasi dengan pembagian pentahapan
sebagaimana yang dikemukakan oleh D. Schaffmeister: tahap pertama ditandai
dengan adanya usaha-usaha agar perbuatan pidana yang dilakukan badan hukum,
dibatasi pada perorangan (natuurlijk persoon); tahap kedua yaitu pada periode setelah
perang dunia kedua yang ditandai dengan pengakuan bahwa suatu perbuatan pidana
dapat dilakukan oleh korporasi; dan tahap tiga terjadi pada masa setelah perang dunia
kedua, dimana tanggung jawab pidana langsung dapat dimintakan kepada korporasi.
Selain itu, menurut C.M.V. Clarkson ia mengatakan bahwa masih terdapat
tujuh konsep yang merupakan perkembangan dari diskursus doktrin-doktrin
mengenai tanggung jawab pidana korporasi. Tujuh konsep tersebut adalah
identification doctrine, aggregation doctrine, reactive corporate fault, vicarious
liability, management failure model, corporate mens rea doctrine, dan specific
corporate offences. Barda Nawawi Arief, dalam bukunya yang berjudul Sari
Kuliah

Perbandingan

Hukum

hanya

menyebutkan

empat

teori-teori

pertanggungjawaban pidana korporasi, yaitu doktrin pertanggung-jawaban pidana


langsung (direct liability doctrine) atau teori Identifikasi (identification theory),
doktrin

pertanggungjawaban

pidana pengganti

(vicarious

liability), doktrin

pertanggungjawaban pidana yang ketat menurut undang-undang (strict liability), dan


doktrin/teori budaya korporasi (company culture theory).
Menurut identification doctrine, bila seorang yang cukup senior dalam
struktur korporasi atau dapat mewakili korporasi melakukan suatu kejahatan dalam
bidang jabatannya, maka perbuatan dan niat orang itu dapat dihubungkan dengan
korporasi. Korporasi dapat diidentifikasi dengan perbuatan ini dan dimintai
pertanggungjawaban secara langsung. Dalam kasus semacam ini akan selalu mungkin
untuk menuntut keduanya, yaitu korporasi dan individu. Namun, suatu korporasi
tidak dapat diidentifikasi atas suatu kejahatan yang dilakukan oleh seorang yang
berada di level rendah dalam hirarki korporasi itu. Perbuatannya bukan perbuatan
korporasi, dan oleh karena itu korporasi tidak bertanggung jawab. Dalam kasus
semacam ini tuntutan hanya dapat dilakukan terhadap individu tersebut dan korporasi
tidak dapat dimintai pertanggungjawabannya. Dengan kata lain, perbuatan atau
kesalahan oleh pejabat senior diidentifikasi sebagai perbuatan atau kesalahan
korporasi karena pejabat senior diibaratkan otaknya sebuah korporasi yang bisa
mengendalikan perusahaan, baik sendiri maupun bersama-sama. Teori semacam ini

menarik untuk mereka yang menyatakan bahwa korporasi tidak dapat berbuat atau
melakukan sesuatu kecuali melalui manusia yang mewakili mereka. Namun, terdapat
keberatan yang cukup signifikan atas identification doctrine ini, khususnya berkaitan
dengan

korporasi-korporasi

besar

dimana

kemungkinannya

sangat

kecil

seorang seniormelakukan perbuatan secara langsung atas suatu tindakan pidana


dengan disertai mens rea.
Dalam hal tindak pidana yang menyebabkan orang mati atau luka berat,
sangat kecil kemungkinan seorang pegawai senior akan secara langsung tangannya
berlumuran dengan darah. Pada korporasi dengan struktur organisasi yang sangat
besar dan kompleks, hampir mustahil bagi pihak luar untuk menembus dinding
korporasi guna memastikan individu-individu yang sesungguhnya melakukan
kejahatan. Sejumlah uang, waktu dan keahlian yang dilibatkan dalam investigasi
semacam ini bisa jadi tidak sebanding dengan kesalahan yang dilakukan, dan dalam
peristiwa tertentu, bisa jadi tidak membuahkan hasil bila korporasi memutuskan
untuk menebarkan asap kabut di sekitar daerah operasional internalnya. Lebih penting
lagi, meskipun penyelidikan dilakukan secara layak, seringkali terungkap bahwa
kesalahan tidak terletak pada individu tertentu tetapi lebih pada korporasi itu sendiri.
Aggregation doctrinemerupakan sebuah alternatif dasar pembentukan
tanggung jawab pidana untuk mengatasi sejumlah permasalahan yang muncul
dalamidentification doctrine. Menurut pendekatan ini, tindak pidana tidak bisa hanya
diketahui atau dilakukan oleh satu orang. Oleh karena itu, perlu mengumpulkan
semua tindakan dan niat dari beragam orang yang relevan dalam korporasi tersebut,
untuk memastikan secara keseluruhannya tindakan mereka akan merupakan suatu
kejahatan atau senilai dengan apabila perbuatan dan niat itu dilakukan oleh satu
orang. Doktrin ini mengambil keuntungan dari pengakuan bahwa dalam banyak kasus
tidak mungkin memisahkan seseorang yang telah melakukan kejahatan dengan niat
dan doktrin ini juga dapat mencegah korporasi dari mengubur tanggung jawabnya
dalam-dalam di dalam struktur korporasi.
Namun, pada struktur korporasi yang besar dan kompleks, justru doktrin
ini tidak efektif dalam hal pencegahan. Sebab doktrin ini gagal memberikan
peringatan lebih lanjut kepada korporasi mengenai apa yang diharapkan akan
dilakukan oleh korporasi agar mereka tidak terkena resiko tanggung jawab pidana.
Doktrin ini bukan menemukan seseorang yang pada korporasi diidentifikasi, malah
menemukannya pada beberapa orang. Doktrin ini mengabaikan kenyataan bahwa
esensi yang sebenarnya dari kesalahan mungkin bukan yang dilakukan oleh orang
orang-orang melainkan fakta bahwa korporasi tidak memiliki struktur organisasi atau

kebijakan untuk mencegah orang-orang melakukan apa yang mereka kerjakan yang
secara kumultatif menjadi suatu tindak pidana.
Reactive corporate faultmerupakan suatu pendekatan berbeda tentang
tanggung jawab pidana korporasi sebagaimana yang diusulkan oleh Brent Fisse dan
Braithwaite. Mereka mengemukakan bahwa suatu perbuatan yang merupakan tindak
pidana yang dilakukan oleh atau atas nama sebuah korporasi, pengadilan harus diberi
kewenangan untuk memerintahkan korporasi untuk melakukan investigasi sendiri
guna memastikan orang yang bertanggung jawab dan mengambil suatu tindakan
disiplin yang sesuai atas kesalahan orang tersebut dan mengambil langkah-langkah
perbaikan untuk menjamin kesalahan tersebut tidak terulang kembali.
Apabila korporasi mengambil langkah penanganan yang tepat, maka tidak
ada tanggung jawab pidana yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi. Tanggung
jawab pidana hanya bisa diterapkan pada korporasi apabila korporasi gagal
memenuhi perintah pengadilan dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian,
kesalahan korporasi bukanlah kesalahan pada saat kejadian terjadi tetapi kesalahan
karena korporasi gagal melakukan tindakan yang tepat atas kesalahan yang dilakukan
oleh pekerjanya. Pendekatan ini memiliki kelebihan yaitu mewajibkan korporasi itu
sendiri melakukan penyelidikan yang sesuai, bukannya aparatur negara yang
melakukannya. Hal ini tidak hanya akan menghemat waktu dan uang publik, tetapi
seringkali korporasi ini sendiri memiliki kemampuan terbaik untuk memahami dan
menembus struktur organisasinya yang kompleks. Ini juga merupakan satu
pendekatan yang mengakui bahwa satu dari tujuan dari utama tanggung jawab pidana
korporasi adalah untuk memastikan bahwa korporasi memperbaiki kebijakankebijakan dan praktek-praktek mereka yang kurang baik, sehingga mencegah
kesalahan tersebut terulang.
Vicarious liabilitymerupakan cara yang sangat umum dalam meminta
korporasi bertanggung jawab secara pidana dan doktrin ini sering digunakan oleh
negara Amerika Serikat. Menurut doktrin ini, bila seorang agen atau pekerja
korporasi, bertindak dalam lingkup pekerjaanya dan dengan maksud untuk
menguntungkan korporasi, melakukan suatu kejahatan, tanggung jawab pidananya
dapat dibebankan kepada perusahaan. Tidak masalah perusahaan tersebut secara
nyata memperoleh keuntungan atau tidak. Atau satu korporasi dapat dinyatakan telah
menyerahkan kekuasaan untuk bertindak di dalam bidangnya masing-masing kepada
seluruh staf-nya dan berdasarkan itu, korporasi harus dimintai pertanggungjawaban
atas perbuatan jahat mereka. Ini yang juga dijadikan alasan bahwa pencegahan yang
optimal dapat tercapai dengan menerapkan vicarious liability pada korporasi tersebut.

Seiring dengan itu Peter Gillies membuat beberapa proposisi yaitu suatu
perusahaan (sepertinya halnya dengan manusia sebagai pelaku/ pengusaha) dapat
bertanggung jawab secara mengganti untuk perbuatan yang dilakukan oleh
karyawan/agennya. Pertanggungjawaban demikian hanya timbul untuk delik yang
mampu dilakukan secara vicarious. Dan kedudukan majikan atau agen dalam ruang
lingkup pekerjaanya tidaklah relevan menurut doktrin ini. Tidaklah penting bahwa
majikan, baik sebagai korporasi maupun secara alami, tidak telah mengarahkan atau
memberi petunjuk/perintah pada karyawan untuk melakukan pelanggaran hukum
pidana. (bahkan dalam beberapa kasus, vicarious liabilitydikenakan terhadap majikan
walaupun karyawan melakukan perbuatan bertentangan dengan instruksi, berdasarkan
alasan perbuatan karyawan dipandang sebagai telah melakukan perbuatan itu dalam
ruang lingkup pekerjaanya). Oleh karena itu, apabila perusahaan terlibat,
pertanggungjawabannya muncul sekalipun perbuatan itu dilakukan tanpa menunjuk
pada orang senior di dalam perusahaan.
Management failure modelmerupakan doktrin yang lebih menitikberatkan
kesalahan pada korporasi bukan merupakan kesalahan korporasi seutuhnya,
melainkan kesalahan tersebut karena adanya kesalahan menajemen. Misalnya,
kejahatan pembunuhan tanpa rencana yang dilakukan korporasi karena ada kesalahan
menejemen oleh korporasi yang menyebabkan seseorang meninggal dunia dan
kegagalan tersebut merupakan perilaku yang secara rasional berada jauh dari yang
diharapkan dilakukan oleh suatu korporasi. Kejahatan ini dibuat tanpa mengacu ke
konsep mens rea dalam rangka memastikan perbedaan sifat perbuatan salah oleh
korporasi. Dari pandangan tersebut kelihatannya konsep ini tidak lebih dari
perluasan identification doctrine daripada melihat kegagalan dari pihak individu atau
kelompok individu yang menduduki posisi tinggi, maka yang dilihat adalah
kegagalan menajemennya.
Corporate mens rea doctrine,pada dasarnya korporasi tidak dapat
melakukan perbuatan jahat. Hanya orang-orang yang ada dalam perusahaan tersebut
mampu melakukan perbuatan jahat. Ide dasar doktrin ini ada karena seluruh doktrin
yang lainnya telah mengabaikan realitas kompleksnya organisasi korporasi dan
dinamika proses secara organisasional, struktur, tujuan, kebudayaan hirarki yang
dapat bersenyawa dan berkontribusi untuk suatu etos yang mengizinkan atau bahkan
mendorong dilakukannya sebuah kejahatan. Berdasarkan pandangan ini, maka
korporasi dapat diyakini sebagai agen yang melakukan kesalahan yang bertindak
melalui staf mereka dan pekerja, dan mens reanya dapat ditemukan dalam praktek
dan kebijakan korporasi.

10

Poin penting dari pendekatan ini adalah bukan tentang apakah individu di
dalam perusahaan telah dapat memperkirakan kerugian yang akan terjadi, tetapi
apakah dalam struktur korporasi yang benar dan terorganisasi dengan baik resikoresiko yang telah nyata. Untuk individu tidak ada pengakuan, maksud dan perkiraan
dapat disimpulkan dari tindakan obyektif. Ini hanya dapat dilakukan berdasarkan
pada apa yang akan dapat diduga oleh seseorang yang normal, kecuali kehendak
tersebut dalam beberapa hal berbeda dengan orang yang normal.
Specific corporate offences, mengenai hal ini Komisi Hukum Inggris
telah mengusulkan akan satu kejahatan baru yaitu pembunuhan oleh korporasi
corporate killing telah diperkenalkan dalam hukum Inggris. Kejahatan ini akan
merupakan suatu yang terpisah dari perilaku yang menyebabkan matinya orang atau
orang-orang lain karena kelalaian pelaku yang hanya dapat dilakukan oleh korporasi.
Dalam hal ini, masalah-masalah yang berkaitan dengan penegasan tentang kesalahan
korporasi, seperti pembuktian dari niat atau kesembronoan, dapat diatasi dengan
membuat definisi khusus yang hanya dapat diterapkan kepada korporasi.
Strict liability merupakan pertanggungjawaban pidana korporasi yang
dapat semata-mata berdasarkan undang-undang, yaitu dalam hal korporasi tidak
memenuhi kewajiban/kondisi/situasi tertentu yang ditentukan oleh undang-undang.
Pelanggaran kewajiban/kondisi/situasi tertentu oleh korporasi ini dikenal dengan
istilah strict liability offence. Sedangkan Doktrin/teori budaya korporasi (company
culture theory), menurut doktrin/teori ini, korporasi dapat dipertanggungjawabkan
dilihat dari prosedur, sistem bekerjanya, atau budayanya. Oleh karena itu teori budaya
ini, sering juga disebut teori model/sistem atau model organisasi (organizational or
system model). Kesalahan korporasi didasarkan pada internal decision-making
struktur.

11

BAB III
PEMBAHASAN
A. Kejahatan Korporasi
1. Pengertian Kejahatan Korporasi
Kejahatan diartikan sebagai suatu perbuataan yang oleh masyarakat
dipandang sebagai kegiatan yang tercela, dan terhadap pelakunya dikenakan
hukuman (pidana). Sedangkan korporasi adalah suatu badan hukum yang diciptakan
oleh hukum itu sendiri dan mempunyai hak dan kewajiban. Jadi, kejahatan korporasi
adalah kejahatan yang dilakukan oleh badan hukum yang dapat dikenakan sanksi.
Dalam literature sering dikatakan bahwa kejahatan korporasi ini merupakan salah
satu bentuk White Collar Crime.Dalam arti luas kejahatn korporasi ini sering rancu
dengan tindak pidana okupasi, sebab kombinasi antara keduanya sering terjadi.
Menurut Marshaal B. Clinard dan Peter C Yeager sebagaimana dikutip
oleh Setiyono dikatakan bahwa setiap tindakan yang dilakukan oleh korporasi yang
bias diberi hukuman oleh Negara, entah di bawah hukum administrasi Negara, hokum
perdata maupun hukum pidana.
Menurut Marshaal B. Clinard kejahatan korporasi adalah merupakan
kejahatan kerah putih namun ia tampil dalam bentuk yang lebih spesifik. Ia lebih
mendekati kedalam bentuk kejahatan terorganisir dalam konteks hubungan yang lebih
kompleks dan mendalam antara seorang pimpinan eksekutif, manager dalam suatu
tangan. Ia juga dapat berbentuk korporasi yang merupakan perusahaan keluarga,
namun semuanya masih dalam rangkain bentuk kejahatan kerah putih.
Menurut Sutherland kejahatan kerah putih adalah sebuah perilaku
keriminal atau perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh seseorang dari
kelompok yang memiliki keadaan sosio- ekonomi yang tinggi dan dilakukan
berkaitan dengan aktifitas pekerjaannya.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kejahatan korporasi pada
umumnya dilakukan oleh orang dengan status social yang tinggi dengan
memanfaatkan kesempatan dan jabatan tertentu yang dimilikinya. Dengan kadar
keahlian yang tinggi dibidang bisnis untuk mendapatkan keuntungan dibidang
ekonomi.
Blacks Law Dictionary menyebutkan kejahatan korporasi atau corporate
crime adalah any criminal offense committed by and hence chargeable to a

12

corporation because of activities of its officers or employees (e.g., price fixing, toxic
waste dumping), often referred to as white collar crime. 1
Kejahatan korporasi adalah tindak pidana yang dilakukan oleh dan oleh
karena itu dapat dibebankan pada suatu korporasi karena aktivitas-aktivitas pegawai
atau karyawannya (seperti penetapan harga, pembuangan limbah), sering juga disebut
sebagai kejahatan kerah putih.
Sally. A. Simpson yang mengutip pendapat John Braithwaite menyatakan kejahatan
korporasi adalah conduct of a corporation, or employees acting on behalf of a
corporation, which is proscribed and punishable by law. 2
Simpson menyatakan bahwa ada tiga ide pokok dari definisi Braithwaite
mengenai kejahatan korporasi. Pertama, tindakan ilegal dari korporasi dan agenagennya berbeda dengan perilaku kriminal kelas sosio-ekonomi bawah dalam hal
prosedur administrasi. Karenanya, yang digolongkan kejahatan korporasi tidak hanya
tindakan kejahatan atas hukum pidana, tetapi juga pelanggaran atas hukum perdata
dan administrasi. Kedua, baik korporasi (sebagai subyek hukum perorangan legal
persons) dan perwakilannya termasuk sebagai pelaku kejahatan (as illegal actors),
dimana dalam praktek yudisialnya, bergantung pada antara lain kejahatan yang
dilakukan, aturan dan kualitas pembuktian dan penuntutan.

Ketiga, motivasi

kejahatan yang dilakukan korporasi bukan bertujuan untuk keuntungan pribadi,


melainkan pada pemenuhan kebutuhan dan pencapaian keuntungan organisasional.
Tidak menutup kemungkinan motif tersebut ditopang pula oleh norma operasional
(internal) dan sub-kultur organisasional.3
Kejahatan korporasi mungkin tidak terlalu sering kita sering dalam
pemberitaan-pemberitaan kriminil di media. Aparat penegak hukum, seperti
kepolisian juga pada umumnya lebih sering menindak aksi-aksi kejahatan
konvensional yang secara nyata dan faktual terdapat dalam aktivitas sehari-hari

Henry Campbell Black, Blacks Law Dictionary, West Publishing Co., St. Paul, Minnessota, 1990,

ed.6, hal. 339.

Sally S. Simpson, Strategy, Structure and Corporate Crime, 4 Advances in Criminological Theory

171 (1993).

Ibid.

13

masyarakat. Ada beberapa beberapa faktor yang mempengaruhi hal ini.4 Pertama,
kejahatan-kejahatan yang dilaporkan oleh masyarakat hanyalah kejahatan-kejahatan
konvensional. Penelitian juga menunjukkan bahwa aktivitas aparat kepolisian
sebagian besar didasarkan atas laporan anggota masyarakat, sehingga kejahatan yang
ditangani oleh kepolisian juga turut bersifat konvensional. Kedua, pandangan
masyarakat cenderung melihat kejahatan korporasi atau kejahatan kerah putih bukan
sebagai hal-hal yang sangat berbahaya,dan juga turut dipengaruhi. Ketiga, pandangan
serta landasan hukum menyangkut siapa yang diakui sebagai subjek hukum pidana
dalam hukum pidana Indonesia. Keempat, tujuan dari pemidanaan kejahatan
korporasi adalah lebih kepada agar adanya perbaikan dan ganti rugi, berbeda dengan
pemidanaan kejahatan lain yang konvensional yang bertujuan untuk menangkap dan
menghukum. Kelima, pengetahuan aparat penegak hukum menyangkut kejahatan
korporasi masih dinilai sangat minim, sehingga terkadang terkesan enggan untuk
menindaklanjutinya secara hukum. Kelima, kejahatan korporasi sering melibatkan
tokoh-tokoh masyarakat dengan status sosial yang tinggi. Hal ini dinilai dapat
mempengaruhi proses penegakan hukum.
Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia memang hanya menetapkan
bahwa yang menjadi subjek tindak pidana adalah orang persorangan (legal persoon).
Pembuat undang-undang dalam merumuskan delik harus memperhitungkan bahwa
manusia melakukan tindakan di dalam atau melalui organisasi yang, dalam hukum
keperdataan maupun di luarnya (misalnya dalam hukum administrasi), muncul
sebagai satu kesatuan dan karena itu diakui serta mendapat perlakuan sebagai
badan hukum atau korporasi. Berdasarkan KUHP, pembuat undang-undang akan
merujuk pada pengurus atau komisaris korporasi jika mereka berhadapan dengan
situasi seperti itu.5 Sehingga, jika KUHP Indonesia saat ini tidak bisa dijadikan
sebagai landasan untuk pertanggungjawaban pidana oleh korporasi, namun hanya
dimungkinkan pertanggungjawaban oleh pengurus korporasi. Hal ini bisa kita lihat
dalam pasal 398 KUHP yang menyatakan bahwa jika seorang pengurus atau
komisaris perseroan terbatas, maskapai andil Indonesia atau perkumpulan korporasi
yang dinyatakan dalam keadaan pailit atau yang diperintahkan penyelesaian oleh
4

Diintisarikan dari Susanto, I. S. 1990, Statistik Kriminal sebagai Konsruksi Sosial, Penyusunan,

Penggunaan dan Penyebarannya, suatu Studi Kriminologi, Disertasi, Semarang (Tidak diterbitkan).

5 Jan Remmelink, HUKUM PIDANA, Komentar atas Pasal-Pasal Terpenting dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Belanda dan Padanannya dalam Kita Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta : 2003,
Hal. 98.

14

pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun 4 bulan: 1. jika
yang bersangkutan turut membantu atau mengizinkan untuk melakukan perbuatanperbuatan yang bertentangan dengan anggaran dasar, sehingga oleh karena itu
seluruh atau sebagian besar dari kerugian diderita oleh perseroan, maskapai, atau
perkumpulan(dan seterusnya).
Di Belanda sendiri, sebagai tempat asal KUHP Indonesia, pada tanggal 23
Juni 1976, korporasi diresmikan sebagai subjek hukum pidana dan ketentuan ini
dimasukkan kedalam pasal 51 KUHP Belanda (Sr.), yang isinya menyatakan antara
lain:
1. Tindak pidana dapat dilakukan baik oleh perorangan maupun
korporasi;
2. Jika suatu tindak pidana dilakukan oleh korporasi, penuntutan
pidana dapat dijalankan dan sanksi pidana maupun tindakan yang
disediakan

dalam

perundang-undangansepanjang

dengan korporasidapat dijatuhkan.

berkenaan

Dalam hal ini, pengenaan

sanksi dapat dilakukan terhadap

2.1.

korporasi sendiri, atau

2.2.

mereka yang secara faktual memberikan perintah untuk melakukan tindak

pidana yang dimaksud, termasuk mereka yang secara faktual memimpin pelaksanaan
tindak pidana dimaksud, atau
2.3.

korporasi atau mereka yang dimaksud di atas bersama-sama secara tanggung

renteng.
1. Berkenaan

dengan

penerapan

butir-butir

sebelumnya,

yang

disamakan dengan korporasi: persekutuan bukan badan hukum,


maatschap

(persekutuan

perdatan),

rederij

(persekutuan

perkapalan) dan doelvermogen (harta kekayaan yang dipisahkan


demi pencapaian tujuan tertentu; social fund atau yayasan).6

Meskipun KUHP Indonesia saat ini tidak mengikutsertakan korporasi


sebagai subyek hukum yang dapat dibebankan pertanggungjawaban pidana, namun
korporasi mulai diposisikan sebagai subyek hukum pidana dengan ditetapkannya UU
6

Ibid. hal.102.

15

No.7/Drt/1955 tentang Pengusutan, Penuntutan dan Peradilan Tindak Pidana


Ekonomi.
Kemudian kejahatan korporasi juga diatur dan tersebar dalam berbagai
undang-undang khusus lainnya dengan rumusan yang berbeda-beda mengenai
korporasi, antara lain termasuk pengertian badan usaha, perseroan, perusahaan,
perkumpulan, yayasan, perserikatan, organisasi, dan lain-lain, seperti :
-

UU No.11/PNPS/1964 tentang Pemberantasan Kegiatan Subversi

UU No.38/2004 tentang Jalan

UU No.31/1999 jo. UU No.21 tahunn 2002 tentang Pemberantasan Tindak

Pidana Korupsi
-

dan lain-lain
Dalam literatur Indonesia juga ditemukan pandangan yang turut untuk

mewacanakan menempatkan korporasi sebagai subyek hukum pidana. Seperti


misalnya Prof. Dr. Wirjono Prodjodikoro, SH, dalam bukunya Asas-asas Hukum
Pidana di Indonesia, menyatakan :
Dengan adanya perkumpulan-perkumpulan dari orang-orang, yang sebagai
badan hukum turut serta dalam pergaulan hidup kemasyarakatan, timbul gejala-gejala
dari perkumpulan itu, yang apabila dilakukan oleh oknum, terang masuk perumusan
pelbagai tindak pidana. Dalam hal ini, sebagai perwakilan, yang kena hukuman
pidana adalah oknum lagi, yaitu orang-orang yang berfungsi sebagai pengurus dari
badan hukum, seperti misalnya seorang direktur dari suatu perseroan terbatas, yang
dipertanggungjawabkan. Sedangkan mungkin sekali seorang direktur itu hanya
melakukan saja putusan dari dewan direksi. Maka timbul dan kemudian merata
gagasan, bahwa juga suatu perkumpulan sebagai badan tersendiri dapat dikenakan
hukuman pidana sebagai subyek suatu tindak pidana.7
Di Indonesia, salah satu peraturan yang mempidanakan kejahatan korporasi
adalah Undang-undang Nomor 23 tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup. Hal ini
dapat dilihat dari isi pasal 46 8, yang mengadopsi doktrin vicarious liability.9

Wirjono Prodjodikoro, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia, Ed.2, Cet.6, Bandung : Eresco, 1989,

hal.55.

16

Meskipun tidak digariskan secara jelas seperti dalam KUHP Belanda,


berdasarkan sistem hukum pidana di Indonesia pada saat ini terdapat 3 bentuk
pertanggungjawaban pidana dalam kejahatan korporasi berdasarkan regulasi yang
sudah ada, yaitu dibebankan pada korporasi itu sendiri, seperti diatur dalam Pasal 65
ayat 1 dan 2 UU No.38/2004 tentang Jalan. Kemudian dapat pula dibebankan kepada
organ atau pengurus korporasi yang melakukan perbuatan atau mereka yang
bertindak sebagai pemimpin dalam melakukan tindak pindana, seperti yang diatur
dalam pasal 20 ayat 2 UU No.31/1999 tentang Tindak Pidana Korupsi dan UU
No.31/2004 tentang Perikanan. Kemudian kemungkinan berikutnya adala dapat
dibebankan baik kepada pengurus korporasi sebagai pemberi perintah atau pemimpin
dan juga dibebankan kepada koorporasi, contohnya seperti dalam pasal 20 ayat 1 UU
No.31/1999.

2. Karakteristik Kejahatan Korporasi

Pasal 46 Undang-undang Nomor 23 tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup menyebutkan :Ayat (1): Jika tindak pidana

sebagaimana dimaksud dalam Bab ini dilakukan oleh atau atas nama badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau
organisasi lain, tuntutan pidana dilakukan dan sanksi pidana serta tindakan tata tertib sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47
dijatuhkan baik terhadap badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau organisasi lain tersebut maupun terhadap mereka
yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut atau yang bertindak sebagai pemimpin dalam perbuatan itu atau
terhadap kedua-duanya.
Ayat (2): Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini, dilakukan oleh atau atas nama badan hukum, perseroan,
perserikatan, yayasan atau organisasi lain, dan dilakukan oleh orang-orang, baik berdasarkan hubungan kerja maupun berdasar
hubungan lain, yang bertindak dalam lingkungan badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau organisasi lain, tuntutan
pidana dilakukan dan sanksi pidana dijatuhkan terhadap mereka yang memberi perintah atau yang bertindak sebagai pemimpin
tanpa mengingat apakah orang-orang tersebut, baik berdasa hubungan kerja maupun berdasar hubungan lain, melakukan tindak
pidana secara sendiri atau bersama-sama.
Ayat (3): Jika tuntutan dilakukan terhadap badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau organisasi lain, panggilan untuk
menghadap dan penyerahan surat-surat panggilan itu ditujukan kepada pengurus di tempat tinggal mereka, atau di tempat
pengurus melakukan pekerjaan yang tetap.
Ayat (4): Jika tuntutan dilakukan terhadap badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau organisasi lain, yang pada saat
penuntutan diwakili oleh bukan pengurus, hakim dapat memerintahkan supaya pengurus menghadap sendiri di pengadilan.

9
Vicarious Liability adalah pembebanan pertanggungjawaban pada seseorang atas tindakan yang dilakukan oleh orang lain,
semata-mata berdasarkan hubungan antara kedua orang tersebut.

17

Salah satu hal yang membedakan antara kejahatan korporasi dengan


konvensional atau tradisional pada umumnya terletak pada

kejahatan

karakteristik yang

melekat pada kejahatan korporasi itu sendiri, antara


lain :
1. Kejahatan tersebut sulit terlihat ( Low visibility ), karena biasanya tertutup oleh
kegiatan pekerjaan yang rutin dan normal, melibatkan

keahlian professional dan

system organisasi yang kompleks.


2. Kejahatan tersebut sangat kompleks ( complexity ) karena selalu
dengan kebohongan, penipuan, dan pencurian serta sering
sebuah ilmiah, tekhnologi, financial, legal,
banyak orang serta berjalan

berkaitan

kali berkaitan dengan

terorganisasikan, dan melibatkan

bertahuntahun.

3. Terjadinya penyebaran tanggung jawab ( diffusion of responsibility )

yang

semakin luas akibat kompleksitas organisasi.


4. Penyebaran korban yang sangat luas (diffusion of victimization )

seperti polusi

dan penipuan.
5. Hambatan dalam pendeteksian dan penuntutan (detection and
sebagai akibat profesionalisme yang tidak seimbang

prosecution )

antara aparat penegak

hukum dengan pelaku kejahatan.


6. Peraturan yang tidak jelas (ambiguitas law ) yang sering menimbulkan

kerugian

dalam penegakan hukum.


7. Sikap mendua status pelaku tindak pidana. Harus diakui bahwa pelaku
pidana pada umumnya tidak melanggar peraturan perundang

tindak

undangan tetapi

memang perbuatan tersebut illegal.


B. Sebab-sebab Adanya Kejahatan Korporasi
Keinginan korporasi untuk terus meningkatkan keuntungan yang
diperolehnya mengakibatkan terjadinya tindakan pelanggaran hukum. Korporasi,
sebagai suatu badan hukum, memiliki kekuasaan yang besar dalam menjalankan
aktivitasnya sehingga sering melakukan aktivitas yang bertentangan dengan
ketentuan hukum yang berlaku, bahkan selalu merugikan berbagai pihak. Walaupun
demikian, banyak korporasi yang lolos dari kejaran hokum sehingga tindakan
kejahatan korporasi semakin meluas dan tidak dapat dikendalikan. Dengan mudahnya
korporasi menghilangkan bukti-bukti atas segala kejahatannya terhadap masyarakat.
Sementara itu, tuntutan hukum terhadap perilaku buruk korporasi tersebut selalu
terabaikan karena tidak ada ketegasan dalam menghadapi masalah ini.
Pemerintah dan aparat hukum harus mengambil tindakan yang tegas
mengenai kejahatan korporasi karena baik disengaja maupun tidak, kejahatan

18

korporasi selalu memberikan dampak yang luas bagi masyarakat dan lingkungan,
bahkan dapat mengacaukan perekonomian negara. Jika hukuman dan sanksi yang
dijatuhkan kepada korporasi tidak memiliki keberartian, perilaku buruk korporasi
dengan melakukan aktivitas yang illegal tidak akan berubah. Korporasi diharapkan
tidak lagi melarikan diri dari tanggung jawabnya, dalam hal ini tanggung jawab
pidana. Terutama, korporasi akan dibebani oleh lebih banyak tanggung jawab moral
dan sosial untuk memperhatikan keadaan dan keamanan lingkungan kerjanya,
termasuk penduduk, budaya, dan lingkungan hidup.
Menurut Gobert dan Punch, hal paling utama untuk mencegah terjadinya
kejahatan korporasi adalah dengan adanya pengendalian diri dan tanggung jawab
sosial dan moral terhadap lingkungan dan masyarakat di mana tanggung jawab
tersebut berasal dari korporasi itu sendiri maupun individu-individu di dalamnya.
Kejahatan korporasi yang lazimnya berbentuk dalam kejahatan kerah
putih (white-collar crime), biasanya dilakukan oleh suatu perusahaan atau badan
hukum yang bergerak dalam bidang bisnis dengan berbagai tindakan yang melanggar
hukum pidana. Berdasarkan pengalaman dari beberapa negara maju dapat
dikemukakan bahwa identifikasi kejahatan-kejahatan korporasi dapat mencakup
tindak pidana seperti pelanggaran undang-undang anti monopoli, penipuan melalui
komputer, pembayaran pajak dan cukai, pelanggaran ketentuan harga, produksi
barang

yang

membahayakan

kesehatan,

korupsi,

penyuapan,

pelanggaran

administrasi, perburuhan, dan pencemaran lingkungan hidup.


Kejahatan korporasi tidak hanya dilakukan oleh satu korporasi saja, tetapi
dapat dilakukan oelh dua atau lebih korporasi secara bersama-sama. Apabila
perbuatan yang dilakukan korporasi, dikaitkan dengan peraturan perundang-undangan
di bidang hukum pidana yang merumuskan korporasi sebagai subjek tindak pidana,
maka korporasi tersebut jelas dapat dipidana. Bercermin dari bentuk-bentuk tindak
pidana di bidang ekonomi yang dilakukan oleh korporasi dalam menjalankan
aktivitas bisnis, jika dikaitkan dengan proses pembangunan, maka kita dihadapkan
kepada suatu konsekuensi meningkatnya tindak pidana korporasi yang mengancam
dan membahayakan berbagai segi kehidupan di masyarakat.
Korporasi, sebagai subjek tindak pidana, dapat dimintai pertanggung
jawaban atas tindakan pidana, jika tindakan pidana tersebut dilakukan oleh atau untuk
korporasi maka hukuman dan sanksi dapat dijatuhkan kepada korporasi dan atau
individu di dalamnya. Namun demikian perlu diadakan indentifikasi pada individu
korporasi misalnya pada direktur, manajer dan karyawan agar tidak terjadi kesalahan
dalam penjatuhan hukuman secara individual. Tidak bekerjanya hukum dengan
efektif untuk menjerat kejahatan korporasi, selain karena keberadaan suatu korporasi

19

dianggap penting dalam menunjang pertumbuhan atau stabilitas perekonomian


nasional, sering kali juga disebabkan oleh perbedaan pandangan dalam melihat
kejahatan yang dilakukan oleh korporasi.
Kejahatan yang dilakukan oleh korporasi lebih dianggap merupakan
kesalahan yang hanya bersifat administratif daripada suatu kejahatan yang serius.
Sebagian besar masyarakat belum dapat memandang kejahatan korporasi sebagai
kejahatan yang nyata walaupun akibat dari kejahatan korporasi lebih merugikan dan
membahayakan kehidupan masyarakat dibandingkan dengan kejahatan jalanan.
Akibat dari suatu kejahatan yang dilakukan oleh korporasi lebih
membahayakan dibandingkan dengan kejaharan yang diperbuat seseorang. Dasar
kesalahan perusahaan yang dapat diindikasikan sebagai kejahatan korporasi, terlihat
dalam kelalaian, keserampangan, kelicikan, dan kesengajaan atas segala tindakan
korporasi. Setiap suatu korporasi dimintai pertangungjawabannya oleh aparat
penegak hukum, selalu ada berbagai tekanan baik dari korporasi maupun pemerintah
yang akhirnya menghilangkan tuntutan hukum korporasi. Aparat penegak hukum
seringkali gagal dalam mengambil tindakan tegas terhadap berbagai kejahatan yang
dilakukan oleh korporasi. Hal ini sangat mengkhawatirkan, karena dampak kejahatan
yang ditimbulkan oleh korporasi sangat besar. Korbannya bisa berjumlah puluhan,
ratusan, bahkan ribuan orang. Contohnya, terbaliknya kapal the Herald of Free
Enterprise yang memakan korban ratusan orang. Selain itu korporasi, dengan
kekuatan finansial serta para ahli yang dimiliki, dapat menghilangkan bukti-bukti
kejahatan yang dilakukan. Bahkan, dengan dana yang dimiliki, korporasi dapat pula
mempengaruhi opini serta wacana di masyarakat, sehingga seolah-olah mereka tidak
melakukan suatu kejahatan. Salah satu penyebab utama gagalnya penuntutan dalam
suatu perkara yang terdakwanya korporasi adalah karena korporasi tersebut tidak
memiliki direktur yang bertanggung jawab atas keselamatan dan tidak memiliki
kebijakan yang jelas yang mengatur mengenai keselamatan. Kurangnya koordinasi
structural dalam sebuah organisasi dianggap sebagai penyebab terjadinya kejahatan
korporasi.
Misalnya pada kasus terbaliknya kapal the Herald of Free Enterprise.
Penyebab nyata terbaliknya kapal yang menyebabkan kematian sekitar 200 nyawa ini
adalah lemahnya koordinasi di antara para pekerja sebagai akibat tidak adanya
kebijakan-kebijakan tentang keselamatan. Laporan mengenai investigasi terbaliknya
kapal tersebut menyatakan bahwa tidak ada keraguan kesalahan sebenarnya terletak
pada korporasi itu sendiri karena tidak memiliki kebijakankebijakan mengenai
keselamatan dan gagal untuk memberikan petunjuk keselamatan yang jelas. Kasus ini
terutama disebabkan oleh kecerobohan.

20

Hukuman atas segala kejahatan korporasi adalah sebuah persoalan politis.


Yang terjadi dalam peristiwa politis adalah tawar-menawar yang mencari
keseimbangan antara hak dan kewajiban warga negara. Dalam hitungan hak dan
kewajiban, korporasi dibolehkan menikmati hak-hak yang sangat luas dan
menciutkan kewajiban-kewajiban mereka. Kerugian akibat kejahatan korporasi sering
sulit dihitung karena akibat yang ditimbulkannya berlipat-lipat, sementara hukuman
atau denda pengadilan acap kali tidak mencerminkan tingkat kejahatan mereka
Perusahaan memiliki kekuatan untuk menentukan kebijakan melalui direktur dan para
eksekutif dan perusahaan seharusnya bertanggung jawab atas akibat dari kebijakan
mereka. Namun perusahaan tidak seperti manusia tidak dibebani oleh berbagai
emosi dan perasaan sehingga dengan mudahnya dapat menutupi perilaku buruknya.
Terdapat dua model kejahatan korporasi; pertama, kejahatan yang
dilakukan oleh orang yang bekerja atau yang berhubungan dengan suatu perusahaan
yang dipersalahkan; dan kedua, perusahaan sendiri yang melakukan tindakan
kejahatan melalui karyawan-karyawannya. Kejahatan yang terjadi dalam konteks
bisnis dilatar belakangi oleh berbagai sebab. Human error yang dipadukan dengan
kebijakan yang sesat dan kekeliruan dalam pengambilan keputusan merangsang
terjadinya tindakan pelanggaran hukum. Pada pendekatan di Amerika mengenai
vicarious liability menyatakan bahwa bila seorang pegawai korporasi atau agen yang
berhubungan dengan korporasi, bertindak dalam lingkup pekerjaannya dan dengan
maksud untuk menguntungkan korporasi dengan melakukan suatu kejahatan,
tanggung jawab pidananya dapat dibebankan kepada perusahaan. Tidak peduli apakah
perusahaan secara nyata memperoleh keuntungan atau tidak atau apakah perusahaan
telah melarang aktivitas tersebut atau tidak. Sedangkan di Inggris, various liability
terbatas pada tanggung jawab perusahaan terhadap kejahatan korporasi yang
dilakukan oleh seorang yang memiliki kekuasaan yang tinggi (identification).
Teori ini menyatakan bahwa korporasi tidak dapat melakukan sesuatu
kecuali melalui seorang yang dapat mewakilinya. Bila seorang yang cukup berkuasa
dalam struktur korporasi, atau dapat mewakili korporasi melakukan suatu kejahatan,
maka perbuatan dan niat orang itu dapat dihubungkan dengan korporasi. Korporasi
dapat dimintai pertanggungjawaban secara langsung. Namun, suatu korporasi tidak
dapat disalahkan atas suatu kejahatan yang dilakukan oleh seorang yang berada di
level yang rendah dalam hirarki korporasi tersebut. Komisi Hukum Inggris telah
mengusulkan bahwa terdapat satu kejahatan baru, yaitu pembunuhan oleh korporasi
corporate killing. Kejahatan ini merupakan suatu species terpisah dari manslaugter
yang hanya dapat dilakukan oleh korporasi. Dalam hal ini, masalah-masalah yang
berkaitan dengan penegasan tentang kesalahan korporasi, seperti pembuktian dari niat

21

atau kesembronoan, dapat diatasi dengan membuat definisi khusus yang hanya dapat
diterapkan kepada korporasi.
Pada era globalisasi ini, perkembangan perusahaan multinasional sangat
pesat, bahkan perusahaan tersebut mampu menempatkan diri pada posisi yang sangat
strategis untuk memperoleh perlindungan hukum sehingga peradilan dalam negeri
sulit untuk mengajukan tuntutan terhadap tindakan mereka yang merugikan. Agar
kelemahan perangkat hukum tidak terulang lagi, perlu dibuat aturan pertanggung
jawaban korporasi yang komprehensif dan mencakup semua kejahatan. Namun, pada
pengadilan atas tindakan kriminalirtas korporasi, keputusan mengenai hukuman dan
sanksi, selalu menjadi hal terakhir untuk diputuskan. Setiap tuntuan yang terjadi atas
kejahatan korporasi selalu dipersulit sehingga sering tidak dapat direalisasikan.
Dengan demikian dapat terlihat bahwa hukum pun masih tidak dapat diandalkan
untuk menindak lanjuti masalah kejahatan korporasi. Suatu tindakan kejahatan,
terjadi karena korporasi tersebut mendapatkan keuntungan dari tindakan kejahatan
yang dilakukannya. Oleh karena itu, agar dapat menghapuskan tindakan kejahatan
korporasi, dapat dilakukan dengan mengambil keuntungan yang diperolehnya atas
tindakan kriminalitas tersebut. Misalnya dengan membebankan korporasi suatu denda
yang lebih besar dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh. Jika tindakan
kriminalitas tidak lagi mengutungkan korporasi, maka ia tidak akan terlibat kembali
dalam suatu tindakan kriminal.
Namun dalam prakteknya, denda hukum yang dijatuhkan kepada
korporasi sekedar dihitung sebagai biaya produksi tanpa sepeserpun mengurangi
keuntungan korporasi. Walaupun mengurangi keuntungan, praktek illegal korporasi
masih dapat terus berlanjut. Dengan kata lain, denda yang dikenakan kepada
korporasi hanya mengubah tindakan kejahatan korporasi dari kesalahan terhadap
masyarakat menjadi biaya dalam kegiatan bisnis Publisitas atas keburukan korporasi
juga dapat dilakukan sebagai sanksi atas kejahatan korporasi. Namun sayangnya, hal
tersebut membawa dampak yang tidak diinginkan. Jika terjadi pemboikotan dari
seluruh konsumen terhadap semua produk korporasi, maka secara pidana, pengadilan
berhasil mengadili korporasi tersebut.
Tetapi jika korporasi mengalami kerugiam yang besar, maka korporasi
akan mengurangi jumlah karyawannya sehingga akan banyak pekerja yang
kehilangan pekerjaannya. Beraneka ragam sanksi yang dikenakan kepada korporasi
seperti melalui denda, kompensasi dan ganti rugi, kerja sosial, pengenaan perbaikan,
publisitas keburukan, dan orientasi pengendalian, tidak dapat menghentikan tindakan
kejahatan yang dilakukan korporasi. Korporasi dapat lolos dari sanksi-sanksi tersebut
dengan mengorbankan pegawai mereka. Sebagaimana vicarious liability dan

22

identification, kejahatan yang dilakukan korporasi juga merupakan tanggung jawab


individu-individu di dalammnya. Demikian juga, korporasi bertanggung jawab atas
kejahatan yang dilakukan oleh individu-individunya.
Jika suatu korporasi dikenai suatu hukuman atas kejahatan, kepada siapa
hukuman tersebut akan dikenakan? Jawaban yang masuk akal adalah direktur
perusahaan. Menurut identification, tanggung jawab perusahaan sering didasarkan
atas kejahatan yang dilakukan direktur atau para eksekutifnya. Sayangnya, hal itu
akan terlihat sangat tidak adil bagi direktur yang selalu menjalankan bisnisnya sesuai
dengan hukum yang berlaku. Oleh karena itu diperlukan adanya keseimbangan
tanggung jawab terhadap kejahatan korporasi dari direktur, eksekutif, manajer, dan
karyawan. Setiap individu harus bertanggung jawab baik secara moral maupun
hukum atas keputusan dan tindakan mereka. Jika seseorang melakukan tindakan
kejahatna melalui perusahaan, maka tuntutan hukum seharusnya dikenakan terhadap
orang tersebut, bukan terhadap perusahaan, terutama jika tindakan kejahatan tersebut
tidak memberikan keuntungan terhadap perusahaan. Perusahaan bertindak melalui
individu tetapi individu juga bertindak melalui perusahaan. Oleh karena itu, tanggung
jawab atas suatu tindakan kejahatan yang dilakuakan individu seharusnya tidak
dilimpahkan kepada perusahaan. Begitu juga sebaliknya.

23

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kejahatan korporasi adalah merupakan kejahatan yang besar dan sangat
berbahaya sekaligus merugikan kehidupan masyarakat, kendatipun di pihak lain ia
juga memberi kemanfaatan bagi kehidupan masyarakat dan negara. Keinginan
korporasi untuk terus meningkatkan keuntungan yang diperolehnya mengakibatkan
terjadinya tindakan pelanggaran hukum. Korporasi,sebagai suatu badan hukum,
memiliki kekuasaan yang besar dalam menjalankan aktivitasnya sehingga sering
melakukan aktivitas yang bertentangan denganketentuan hukum yang berlaku,
bahkan selalu merugikan berbagai pihak. Dikatakan besar, oleh karena
kompleksnya komponen-komponen yang bekerja dalam satu kesatuan korporasi,
sehingga metode pendekatan yang dilakukan terhadap korporasi tidak bisa lagi
dengan menggunakan metode pendekatan tradisional yang selama ini berlaku dan
dikenal dengan metode pendekatan terhadap kejahatan konvensional, melainkan
harus disesuaikan dengan kecanggihan dari korporasi itu sendiri, demikian pula
dengan masalah yang berkenaan dengan konstruksi yuridisnya juga harus bergeser
dari asas-asas yang tradisional kearah yang lebih dapat menampung bagi kepentingan
masyarakat luas, yaitu dalam rangka memberikan perlindungan terhadap masyarakat.
Kejahatan terorganisir, yang dalam literatur mendapat tempat dalam
klasifikasi tersendiri, tapi sebenarnya dalam pengertian yang lebih luas adalah
merupakan bagian dari kejahatan korporasi, korporasi adalah suatu organisasi, suatu
bentuk organisasi dengan tujuan tertentu yang bergerak dalam bidang ekonomi atau
bisnis, maka kita harus melihat kejahatan korporasi sebagai kejahatan yang bersifat
organisatoris, yaitu suatu kejahatan yang terjadi dalam konteks hubungan-hubungan
yang kompleks dan harapan-harapan diantara dewan direksi, eksekutif dan manejer
disuatu pihak dan diantara kantor pusat, bagian-bagian dan cabang-cabang pada pihak
lain.
Kendatipun demikian, tidak berarti lalu kejahatan warungan tidak
mendapat perhatian lagi, akan tetapi harus terdapat perhatian lagi, akan tetapi harus
terdapat pemikiran yang proporsionalitas penanganan, sehingga tidak memberi kesan
adanya ketidakadilan penanganan. Artinya, kejahatan yang begitu membahayakan
dan merugikan masyarakat luas yang ditimbulkan oleh korporasi, namun tidak
mendapat penanganan sebagaimana mestinya, tapi dilain pihak, seperti yang selama
ini terjadi, kejahatan warungan justru mendapat perhatian secara serius dan
sungguh-sungguh. Dari apa yang diuraikan di atas adalah merupakan tantangan dan

24

sekaligus menjadi arah bagi pengembangan kriminologi Indonesia di masa


mendatang.
B. Saran
Untuk mencegah terjadinya kejahatan korporasi, perlu diadakan aturan
yang

tegas

baik

berupa

collective

self-regulation

maupun

individualized

selfregulation. Namun penerapan collective self-regulation tidak efektif karena


pemerintah dan pengadilan harus terus memonitoring setiap aktivitas korporasi,
sementara korporasi berusaha untuk mengambil celah agar aktivitas kejahatannya
tidak terpantau oleh mereka.
Dengan demikian, cara yang paling baik untuk melawan kejahatan
korporasi adalah dengan mencegahnya sebelum terjadi yang dapat dilakukan dengan
adanya individualized self regulation di mana setiap perusahaan bertangung jawab
atas kebijakan mereka sendiri. Tidak sulit untuk menemukan perusahaan yang
mengatakan kepada masyarakat bahwa mereka memiliki tanggung jawab sosial.
Namun banyak perusahaan yang menggunakan hal itu sebagai suatu cara
pemasaran untuk meningkatkan image, bahkan penjualan mereka. Selain itu, terdapat
berbagai macam perlakuan perusahaan atas nama tanggung jawab sosial yang pada
prakteknya sangat bertolak belakang.

25

DAFTAR PUSTAKA
http://makalahlaporanterbaru1.blogspot.co.id/2014/01/kejahatan-korporasi.html
Henry Campbell Black, Blacks Law Dictionary, West Publishing Co., St. Paul,
Minnessota, 1990, ed.6, hal. 339.
Sally S. Simpson, Strategy, Structure and Corporate Crime, 4 Advances in
Criminological Theory 171 (1993).
Ibid.
Diintisarikan dari Susanto, I. S. 1990, Statistik Kriminal sebagai Konsruksi Sosial,
Penyusunan, Penggunaan dan Penyebarannya, suatu Studi Kriminologi,
Disertasi, Semarang (Tidak diterbitkan).
Jan Remmelink, HUKUM PIDANA, Komentar atas Pasal-Pasal Terpenting dari
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Belanda dan Padanannya dalam
Kita Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia, PT. Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta : 2003, Hal. 98.

Ibid. hal.102.
Wirjono Prodjodikoro, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia, Ed.2, Cet.6,
Bandung : Eresco, 1989, hal.55.
Pasal 46 Undang-undang Nomor 23 tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup
menyebutkan :
Ayat (1): Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini dilakukan oleh
atau atas nama badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau
organisasi lain, tuntutan pidana dilakukan dan sanksi pidana serta tindakan
tata tertib sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 dijatuhkan baik terhadap
badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau organisasi lain tersebut
maupun terhadap mereka yang memberi perintah untuk melakukan tindak
pidana tersebut atau yang bertindak sebagai pemimpin dalam perbuatan itu
atau terhadap kedua-duanya.
Ayat (2): Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini, dilakukan oleh
atau atas nama badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau
organisasi lain, dan dilakukan oleh orang-orang, baik berdasarkan
hubungan kerja maupun berdasar hubungan lain, yang bertindak dalam
lingkungan badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau organisasi
lain, tuntutan pidana dilakukan dan sanksi pidana dijatuhkan terhadap
26

mereka yang memberi perintah atau yang bertindak sebagai pemimpin


tanpa mengingat apakah orang-orang tersebut, baik berdasa hubungan kerja
maupun berdasar hubungan lain, melakukan tindak pidana secara sendiri
atau bersama-sama.
Ayat (3): Jika tuntutan dilakukan terhadap badan hukum, perseroan, perserikatan,
yayasan atau organisasi lain, panggilan untuk menghadap dan penyerahan
surat-surat panggilan itu ditujukan kepada pengurus di tempat tinggal
mereka, atau di tempat pengurus melakukan pekerjaan yang tetap.
Ayat (4): Jika tuntutan dilakukan terhadap badan hukum, perseroan,
perserikatan, yayasan atau organisasi lain, yang pada saat penuntutan
diwakili oleh bukan pengurus, hakim dapat memerintahkan supaya
pengurus menghadap sendiri di pengadilan.
Vicarious Liability adalah pembebanan pertanggungjawaban pada seseorang atas
tindakan yang dilakukan oleh orang lain, semata-mata berdasarkan
hubungan antara kedua orang tersebut.

27