Anda di halaman 1dari 22

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu
tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya
saya mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas Mata
Kuliah Pendidikan Agama Islam. Ucapan terima kasih juga saya ucapkan
kepada Dosen Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam atas tugas yang telah
diberikan sehingga menambah pemahaman saya tentang Akhlak dalam
Makalah yang saya buat.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini tidak sedikit hambatan
yang saya hadapi. Namun saya menyadari bahwa kelancaran dalam
penulisan dan penyusunan makalah ini tidak lain berkat Allah SWT
sehingga kendala-kendala yang saya hadapi dapat teratasi. Makalah ini
disusun selain untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pendidikan Agama
Islam juga disusun untuk memperluas ilmu tentang Akhlak dalam Agama
Islam, yang saya dapatkan dari berbagai macam sumber informasi dan
referensi.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan
menjadi

sumbangan

pemikiran

kepada

pembaca

khususnya

para

Mahasiswa Institut Sains Teknologi AKPRIND Yogyakarta . Saya sadar


bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna.
Untuk itu kepada Dosen Mata Kuliah saya meminta masukannya demi
perbaikan pembuatan makalah saya dimasa yang akan datang dan
mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Penyusun
Adi Nugroho pamungkas

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................................i
DAFTAR ISI ..............................................................................................................ii
BAB I. PENDAHULUAN..........................................................................................1
A.Latar Belakang..............................................................................................1
B. Rumusan Masalah........................................................................................2
C. Tujuan..........................................................................................................2
BAB II. PEMBAHASAN...........................................................................................3
A.Etika..............................................................................................................3
1. Pengertian Etika ......................................................................................3
2. Etika dalam penerapan kehidupan sehari-hari..........................................3
B. Moral..........................................................................................................11
C. Akhlak........................................................................................................12
1. Pengertian Akhlak..................................................................................12
2. Sumber dan Karakteristik Akhlak..........................................................14
3. Prinsip-prinsip Akhlak............................................................................16
4. Contoh penerapan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.........................18
BAB III.PENUTUP..................................................................................................20
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................21

ii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagaimana telah diketahui bahwa komponen utama Agama Islam adalah
akidah, syariah dan akhlak. Penggolongan itu didasarkan pada penjelasan Nabi
Muhammad kepada Malaikat Jibril di depan para sahabatnya mengenai arti
Islam, Iman dan Ihsan yang ditanyakan Jibril kepada Beliau. Intinya hampir
sama dengan isi yang dikandung oleh perkataan akidah, syariah dan akhlak.
Perkataan ihsan diatas berasal dari kata ahsana-yuhsinu-ihsanan yang berarti
berbuat baik.
Di dalam Al-Quran terdapat kata ihsan yang artinya berbuat kebajikan
atau kebaikan diantaranya terdapat pada surat an-Nahl (16) ayat 90 dan
kebaikan terdapat pada surat ar-Rahman (55) ayat 60. Baik kebajikan atau
kebaikan rapat hubungannya dengan akhlak. Kata akhlaq yang kemudian dalam
bahasa Indonesia menjadi akhlak berasal dari kata khilqun, yang mengandung
segi-segi persesuaian kata khaliq dan makhluq. Dari sinilah asal perumusan
ilmu akhlak yang merupakan koleksi ugeran yang memungkinkan timbulnya
hubungan yang baik antara makhluk dan Khalik serta antara makhluk dan
makhluk lainnya.
Akhlak menempati posisi yang sangat penting dalam Islam. Ia dengan
takwa, yang akan dibicarakan nanti, merupakan buah pohon Islam yang
berakar akidah, bercabang dan berdaun syariah. Pentingnya kedudukan akhlak,
dapat dilihat dari berbagai sunnah qauliyah (sunnah dalam bentuk perkataan)
Rasulullah. Diantaranya adalah :
Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak (HR. Ahmad)
Mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik
akhlaknya (H.R. Tarmizi)
Dan, akhlak Nabi Muhammad yang diutus menyempurnakan akhlak
manusia itu disebut akhlak Islam atau akhlak Islami, karena bersumber dari
wahtu Allah yang kini terdapat dari Al-Quran yang menjadi sumber utama
agama dan ajaran Islam. Dikalangan umat Islam masalah yang penting ini
sering kurang digambarkan secara baik dan benar kalau dibandingkan dengan
penggambaran tentant syariat, terutama yang berhubungan dengan shalat,
1

sehingga akibatnya karena tidak mengenal butir-butir akhlak agama Islam,


dalam praktek, tingkah laku kebanyakan orang Islam tidak sesuain dengan
akhlak Islami yang disebut di dalam Al-Quran dan dicontohkan oleh Nabi
Muhammad dalam kehidupan beliau sehari-hari
Manusia diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai kholifah yang bertugas untuk
mengelola apa yang ada di dunia ini dengan cara yang baik sesuai dengan petunjuk dalam alquran dan hadist. Hakekat seorang manusia adalah seorang makhluk individu sekaligus
makhluk sosial yang memiliki hak dan kewajiban untuk saling berinteraksi dengan sesama
manusia. Manusia yang diciptakan dengan penuh kesempurnaan akal dan pikiran oleh Allah
kemudian juga harus berinteraksi dengan sekitarnya dengan cara yang dibenarkan sehingga
kehidupan bersama yang damai dan penuh dengan rasa aman dapat tercapai. Hal yang utama
yang mengatur ini semua adalah Akhlak manusia. Akhlak memiliki peranan yang sangat
penting pada diri manusia. Manusia terlahir dengan sebuah fitrah yang suci, lingkunganlah
yang kemudian akan mengarahkan manusia hendak menjadi manusia yang baik ataukah
sebaliknya menjadi manusia yang berakhlak kurang baik.
Oleh karena itu, ilmu tentang akhlak dan membina manusia untuk menciptakan
akhlak yang baik dalam dirinya sangat diperlukan oleh semua manusia agar hidupnya dalam
masyarakat selalu tenang dan tentram.
B. Rumusan Masalah
- Apa pengertian dari etika, moral dan akhlak?
- Bagaimana prinsip-prinsip akhlak?
- Bagaimanakah contoh penerapan atau aktualisasi akhlak dalam kehidupan?
C. Tujuan
- Untuk memahami tentang akhlak manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk Tuhan
- Untuk memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan akhlak
manusia
- Untuk memahami akhlak dan hubungannya dengan segala aspek kehidupan manusia

BAB II
PEMBAHASAN
A. Etika
1. Pengertian Etika

Dari segi etimologi (ilmu asal usul kata), etika berasal dari bahasa yunani, ethos
yang berarti watak kesusilaan atau adat. Sedangkan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia,
etika adalah ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral). Etika menurut filasafat dapat
disebut sebagai ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dengan
memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran.
2. Etika Dalam Penerapan Kehidupan Sehari-Hari
a. Etika Berbeda Pendapat
Ikhlas dan mencari yang haq serta melepaskan diri dari nafsu di saat berbeda pendapat.
Juga menghindari sikap show (ingin tampil) dan membela diri dan nafsu.
Mengembalikan perkara yang diperselisihkan kepada Kitab Al-Qur'an dan Sunnah.
Karena Allah Subhaanahu wa Ta'ala telah berfirman yang artinya: "Dan jika kamu
berselisih pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Kitab) dan
Rasul". (An-Nisa: 59).
Berbaik sangka kepada orang yang berbeda pendapat denganmu dan tidak menuduh
buruk niatnya, mencela dan menganggapnya cacat.
Sebisa mungkin berusaha untuk tidak memperuncing perselisihan, yaitu dengan cara
menafsirkan pendapat yang keluar dari lawan atau yang dinisbatkan kepadanya dengan
tafsiran yang baik.
Berusaha sebisa mungkin untuk tidak mudah menyalahkan orang lain, kecuali sesudah
penelitian yang dalam dan difikirkan secara matang. Berlapang dada di dalam
menerima kritikan yang ditujukan kepada anda atau catatan-catatang yang dialamatkan
kepada anda.
Sedapat mungkin menghindari permasalahan-permasalahan khilafiyah dan fitnah.
Berpegang teguh dengan etika berdialog dan menghindari perdebatan,
bantahmembantah dan kasar menghadapi lawan.
b. Etika Bercanda
Hendaknya percandaan tidak mengandung nama Allah, ayat-ayat-Nya, Sunnah rasulNya atau syi`ar-syi`ar Islam. Karena Allah telah berfirman tentang orangorang yang
memperolok-olokan shahabat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam , yang ahli baca alQur`an yang artimya: "Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang
mereka lakukan), tentulah mereka menjawab: "Sesungguh-nya kami hanyalah bersenda
gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan
Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?". Tidak usah kamu minta ma`af, karena kamu
kafir sesudah beriman". (At-Taubah: 65-66).
Hendaknya percandaan itu adalah benar tidak mengandung dusta.
Dan hendaknya pecanda tidak mengada-ada cerita-cerita khayalan supaya orang lain
tertawa. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Celakalah bagi orang yang

berbicara lalu berdusta supaya dengannya orang banyak jadi tertawa. Celakalah baginya
dan celakalah". (HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh Al-Albani).
Hendaknya percandaan tidak mengandung unsur menyakiti perasaan salah seorang di
antara manusia. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Janganlah seorang
di antara kamu mengambil barang temannya apakah itu hanya canda atau sungguhsungguh; dan jika ia telah mengambil tongkat temannya, maka ia harus
mengembalikannya kepadanya". (HR. Ahmad dan Abu Daud; dinilai hasan oleh AlAlbani).
Bercanda tidak boleh dilakukan terhadap orang yang lebih tua darimu, atau terhadap
orang yang tidak bisa bercanda atau tidak dapat menerimanya, atau terhadap perempuan
yang bukan mahrammu.
Hendaknya anda tidak memperbanyak canda hingga menjadi tabiatmu, dan jatuhlah
wibawamu dan akibatnya kamu mudah dipermainkan oleh orang lain.
c. Etika Bergaul dengan orang lain
Hormati perasaan orang lain, tidak mencoba menghina atau menilai mereka cacat.
Jaga dan perhatikanlah kondisi orang, kenalilah karakter dan akhlaq mereka, lalu
pergaulilah mereka, masing-masing menurut apa yang sepantasnya.
Mendudukkan orang lain pada kedudukannya dan masing-masing dari mereka diberi
hak dan dihargai.
Perhatikanlah mereka, kenalilah keadaan dan kondisi mereka, dan tanyakanlah keadaan
mereka.
Bersikap tawadhu'lah kepada orang lain dan jangan merasa lebih tinggi atau takabbur
dan bersikap angkuh terhadap mereka. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

Tidak akan masuk jannah (surga) barang siapa di dalam hatinya terdapat setitik
kesombongan. Ada seseorang yang berkata: Sesungguhnya orang itu menyukai pakaian
yang bagus, sandal yang bagus. Maka Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah itu
indah menyukai keindahan, sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan
orang lain.
Bermuka manis dan senyumlah bila anda bertemu orang lain. Berbicaralah kepada
mereka sesuai dengan kemampuan akal mereka.
Berbaik sangkalah kepada orang lain dan jangan memata-matai mereka.
Mema`afkan kekeliruan mereka dan jangan mencari-cari kesalahankesalahannya, dan
tahanlah rasa benci terhadap mereka.
4

Dengarkanlah pembicaraan mereka dan hindarilah perdebatan dan bantahmembantah


dengan mereka.
d. Etika Bertamu
(1) Untuk orang yang mengundang:
Hendaknya mengundang orang-orang yang bertaqwa, bukan orang yang fasiq.
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: Janganlah kamu bersahabat
kecuali dengan seorang mu`min, dan jangan memakan makananmu kecuali orang
yang bertaqwa. (HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh Al-Albani).
Jangan hanya mengundang orang-orang kaya untuk jamuan dengan mengabaikan
orang-orang fakir. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: Seburukburuk makanan adalah makanan pengantinan (walimah), karena yang diundang
hanya orang-orang kaya tanpa orang-orang faqir. (Muttafaq alaih).
Undangan jamuan hendaknya tidak diniatkan berbangga-bangga dan berfoyafoya,
akan tetapi niat untuk mengikuti sunnah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam
dan membahagiakan teman-teman sahabat. Tidak memaksa-maksakan diri untuk
mengundang tamu. Di dalam hadits Anas Radhiallaahu anhu ia menuturkan: Pada
suatu ketika kami ada di sisi Umar, maka ia berkata: Kami dilarang memaksa diri
(membuat diri sendiri repot). (HR. Al-Bukhari)
Jangan anda membebani tamu untuk membantumu, karena hal ini bertentangan
dengan kewibawaan.
Jangan kamu menampakkan kejemuan terhadap tamumu, tetapi tampakkanlah
kegembiraan dengan kahadirannya, bermuka manis dan berbicara ramah.
Hendaklah segera menghidangkan makanan untuk tamu, karena yang demikian itu
berarti menghormatinya.
Jangan tergesa-gesa untuk mengangkat makanan (hida-ngan) sebelum tamu selesai
menikmati jamuan.
Disunnatkan mengantar tamu hingga di luar pintu rumah. Ini menunjukkan
penerimaan tamu yang baik dan penuh perhatian.
(2) Bagi tamu
Allah subhanahu wataala berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah-rumah selain rumah
kalian sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu
lebih baik bagi kalian, agar kalian (selalu) ingat. (An Nuur: 27)
Hendaknya memenuhi undangan dan tidak terlambat darinya kecuali ada udzur,
karena hadits Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam mengatakan: Barangsiapa yang

diundang kepada walimah atau yang serupa, hendaklah ia memenuhinya. (HR.


Muslim).
Hendaknya tidak membedakan antara undangan orang fakir dengan undangan orang
yang kaya, karena tidak memenuhi undangan orang faqir itu merupakan pukulan
(cambuk) terhadap perasaannya.
Jangan tidak hadir sekalipun karena sedang berpuasa, tetapi hadirlah pada waktunya,
karena hadits yang bersumber dari Jabir Shallallaahu alaihi wa Sallam
menyebutkan bahwasanya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah
bersabda:Barangsiapa yang diundang untuk jamuan sedangkan ia berpuasa, maka
hendaklah ia menghadirinya. Jika ia suka makanlah dan jika tidak, tidaklah
mengapa. (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al-Albani).
Jangan terlalu lama menunggu di saat bertamu karena ini memberatkan yang punya
rumah juga jangan tergesa-gesa datang karena membuat yang punya rumah kaget
sebelum semuanya siap.
Bertamu tidak boleh lebih dari tiga hari, kecuali kalau tuan rumah memaksa untuk
tinggal lebih dari itu.
Hendaknya pulang dengan hati lapang dan memaafkan kekurang apa saja yang
terjadi pada tuan rumah.
Hendaknya mendo`akan untuk orang yang mengundangnya seusai menyantap
hidangannya. Dan di antara do`a yang matsur adalah : Orang yang berpuasa telah
berbuka puasa padamu. dan orang-orang yang baik telah memakan makananmu
dan para malaikan telah bershalawat untukmu. (HR. Abu Daud, dishahihkan AlAlbani). Ya Allah, ampunilah mereka, belas kasihilah mereka, berkahilah bagi
mereka apa yang telah Engkau karunia-kan kepada mereka. Ya Allah, berilah
makan orang yang telah memberi kami makan, dan berilah minum orang yang
memberi kami minum.
e. Etika Buang Hajat
Segera membuang hajat.
Apabila seseorang merasa akan buang air maka hendaknya bersegera melakukannya,
karena hal tersebut berguna bagi agamanya dan bagi kesehatan jasmani.
Menjauh dari pandangan manusia di saat buang air (hajat). berdasarkan hadits yang
bersumber dari al-Mughirah bin Syu`bah Radhiallaahu 'anhu disebutkan "
Bahwasanya Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam apabila pergi untuk buang air
(hajat) maka beliau menjauh". (Diriwayatkan oleh empat Imam dan dinilai shahih
oleh Al-Albani).

Menghindari tiga tempat terlarang, yaitu aliran air, jalan-jalan manusia dan tempat
berteduh mereka. Sebab ada hadits dari Mu`adz bin Jabal Radhiallaahu 'anhu yang
menyatakan demikian.
Tidak mengangkat pakaian sehingga sudah dekat ke tanah, yang demikian itu supaya
aurat tidak kelihatan. Di dalam hadits yang bersumber dari Anas Radhiallaahu
'anhu ia menuturkan: "Biasanya apabila Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam hendak
membuang hajatnya tidak mengangkat (meninggikan) kainnya sehingga sudah
dekat ke tanah. (HR. Abu Daud dan At-Turmudzi, dinilai shahih oleh Albani).
Tidak membawa sesuatu yang mengandung penyebutan Allah kecuali karena
terpaksa.
Karena tempat buang air (WC dan yang serupa) merupakan tempat kotoran dan halhal yang najis, dan di situ setan berkumpul dan demi untuk memelihara nama Allah
dari penghinaan dan tindakan meremehkannya.
Dilarang menghadap atau membelakangi kiblat, berdasar-kan hadits yang bersumber
dari Abi Ayyub Al-Anshari Shallallaahu 'alaihi wa salam menyebutkan bahwasanya
Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: "Apabila kamu telah tiba di
tempat buang air, maka janganlah kamu menghadap kiblat dan jangan pula
membelakanginya, apakah itu untuk buang air kecil ataupun air besar. Akan tetapi
menghadaplah ke arah timur atau ke arah barat". (Muttafaq'alaih). Ketentuan di
atas berlaku apabila di ruang terbuka saja.
Adapun jika di dalam ruang (WC) atau adanya pelindung / penghalang yang
membatasi antara si pembuang hajat dengan kiblat, maka boleh menghadap ke arah
kiblat.
Dilarang kencing di air yang tergenang (tidak mengalir), karena hadits yang
bersumber dari Abu Hurairah Radhiallaahu 'anhu bahwasanya Rasulullah
Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jangan sekali-kali seorang diantara kamu
buang air kecil di air yang menggenang yang tidak mengalir kemudian ia mandi di
situ".(Muttafaq'alaih).
Makruh mencuci kotoran dengan tangan kanan, karena hadits yang bersumber dari
Abi Qatadah Radhiallaahu 'anhu menyebutkan bahwasanya Nabi Shallallaahu
'alaihi wa sallam bersabda: "Jangan sekali-kali seorang diantara kamu memegang
dzakar (kemaluan)nya dengan tangan kanannya di saat ia kencing, dan jangan pula
bersuci dari buang air dengan tangan kanannya." (Muttafaq'alaih).
Dianjurkan kencing dalam keadaan duduk, tetapi boleh jika sambil berdiri. Pada
dasarnya buang air kecil itu di lakukan sambil duduk, berdasarkan hadits `Aisyah
Radhiallaahu 'anha yang berkata: Siapa yang telah memberitakan kepada kamu
7

bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam kencing sambil berdiri, maka


jangan kamu percaya, sebab Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak pernah
kencing kecuali sambil duduk. (HR. An-Nasa`i dan dinilai shahih oleh Al-Albani).
Sekalipun demikian seseorang dibolehkan kencing sambil berdiri dengan syarat
badan dan pakaiannya aman dari percikan air kencingnya dan aman dari pandangan
orang lain kepadanya. Hal itu karena ada hadits yang bersumber dari Hudzaifah, ia
berkata: "Aku pernah bersama Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam (di suatu
perjalanan) dan ketika sampai di tempat pembuangan sampah suatu kaum beliau
buang air kecil sambil berdiri, maka akupun menjauh daripadanya. Maka beliau
bersabda: "Mendekatlah kemari". Maka aku mendekati beliau hingga aku berdiri di
sisi kedua mata kakinya. Lalu beliau berwudhu dan mengusap kedua khuf-nya."
(Muttafaq alaih).
Makruh berbicara di saat buang hajat kecuali darurat. berdasarkan hadits yang
bersumber dari Ibnu Umar Shallallaahu 'alaihi wa sallam diriwayatkan: "Bahwa
sesungguhnya ada seorang lelaki lewat, sedangkan Rasulullah Shallallahu'alaihi
wasallam. sedang buang air kecil. Lalu orang itu memberi salam (kepada Nabi),
namun beliau tidak menjawabnya. (HR. Muslim).
Makruh bersuci (istijmar) dengan mengunakan tulang dan kotoran hewan, dan
disunnatkan bersuci dengan jumlah ganjil. Di dalam hadits yang bersumber dari
Salman Al-Farisi Radhiallaahu 'anhu disebutkan bahwasanya ia berkata: "Kami
dilarang oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam beristinja (bersuci) dengan
menggunakan kurang dari tiga biji batu, atau beristinja dengan menggunakan
kotoran hewan atau tulang. (HR. Muslim). Dan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam
juga bersabda: " Barangsiapa yang bersuci menggunakan batu (istijmar), maka
hendaklah diganjilkan.
Disunnatkan masuk ke WC dengan mendahulukan kaki kiri dan keluar dengan kaki
kanan berbarengan dengan dzikirnya masing-masing. Dari Anas bin Malik
Radhiallaahu 'anhu diriwayatkan bahwa ia berkata: "Adalah Rasulullah
Shallallaahu 'alaihi wa sallam apabila masuk ke WC mengucapkan : "Allaahumma
inni a'udzubika minal khubusi wal khabaaits" "Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari pada syetan jantan dan setan betina". Dan apabila keluar, mendahulukan
kaki kanan sambil mengucapkan : "Ghufraanaka" (ampunan-Mu ya Allah).
Mencuci kedua tangan sesudah menunaikan hajat. Di dalam hadis yang bersumber
dari Abu Hurairah ra. diriwayatkan bahwasanya "Nabi Shallallaahu 'alaihi wa
sallam menunaikan hajatnya (buang air) kemudian bersuci dari air yang berada
8

pada sebejana kecil, lalu menggosokkan tangannya ke tanah. (HR. Abu Daud dan
Ibnu Majah).
f. Etika Memberi Salam
Dalam riwayat Al Bukhari disebutkan:

Yang lebih muda memberi salam kepada yang lebih tua.


Makruh memberi salam dengan ucapan: "Alaikumus salam" karena di dalam
hadits Jabir Radhiallaahu 'anhu diriwayatkan bahwasanya ia menuturkan : Aku pernah
menjumpai Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam maka aku berkata: "Alaikas
salam ya Rasulallah". Nabi menjawab: "Jangan kamu mengatakan: Alaikas salam". Di
dalam riwayat Abu Daud disebutkan: "karena sesungguhnya ucapan "alaikas salam"
itu adalah salam untuk orang-orang yang telah mati". (HR. Abu Daud dan AtTurmudzi, dishahihkan oleh Al-Albani).
Dianjurkan mengucapkan salam tiga kali jika khalayak banyak jumlahnya. Di
dalam hadits Anas disebutkan bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam apabila ia
mengucapkan suatu kalimat, ia mengulanginya tiga kali. Dan apabila ia datang
kepada suatu kaum, ia memberi salam kepada mereka tiga kali" (HR. Al-Bukhari).
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjawab:

Engkau memberi makan orang miskin dan memberi salam kepada orang yang kau
kenal maupun tidak kau kenal. (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Termasuk sunnah adalah orang mengendarai kendaraan memberikan salam kepada
orang yang berjalan kaki, dan orang yang berjalan kaki memberi salam kepada
orang yang duduk, orang yang sedikit kepada yang banyak, dan orang yang lebih
muda kepada yang lebih tua. Demikianlah disebutkan di dalam hadits Abu
Hurairah yang muttafaq'alaih.
Disunnatkan keras ketika memberi salam dan demikian pula menjawabnya, kecuali
jika di sekitarnya ada orang-orang yang sedang tidur. Di dalam hadits Miqdad bin
Al-Aswad disebutkan di antaranya: "dan kami pun memerah susu (binatang
ternak) hingga setiap orang dapat bagian minum dari kami, dan kami sediakan
bagian untuk Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam Miqdad berkata: Maka Nabi pun
datang di malam hari dan memberikan salam yang tidak membangunkan orang
yang sedang tidur, namun dapat didengar oleh orang yang bangun".(HR. Muslim).

Disunatkan memberikan salam di waktu masuk ke suatu majlis dan ketika akan
meninggalkannya. Karena hadits menyebutkan: "Apabila salah seorang kamu
sampai di suatu majlis hendaklah memberikan salam. Dan apabila hendak keluar,
hendaklah memberikan salam, dan tidaklah yang pertama lebih berhak daripada
yang kedua. (HR. Abu Daud dan disahihkan oleh Al-Albani).
Disunnatkan memberi salam di saat masuk ke suatu rumah sekalipun rumah itu
kosong, karena Allah telah berfirman yang artinya: " Dan apabila kamu akan
masuk ke suatu rumah, maka ucapkanlah salam atas diri kalian" (An-Nur: 61) Dan
karena ucapan Ibnu Umar Radhiallaahu 'anhuma : "Apabila seseorang akan masuk
ke suatu rumah yang tidak berpenghuni, maka hendaklah ia mengucapkan :
Assalamu `alaina wa `ala `ibadillahis shalihin" (HR. Bukhari di dalam Al-Adab
Al-Mufrad, dan disahihkan oleh Al-Albani).
Dimakruhkan memberi salam kepada orang yang sedang di WC (buang hajat),
karena hadits Ibnu Umar Radhiallaahu 'anhuma yang menyebutkan "Bahwasanya
ada seseorang yang lewat sedangkan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam
sedang buang air kecil, dan orang itu memberi salam. Maka Nabi tidak
menjawabnya". (HR. Muslim)
B. Moral
Secara kebahasaan perkataan moral berasal dari ungkapan bahasa latin mores yang
merupakan bentuk jamak dari perkataan mos yang berarti adat kebiasaan. Dalam kamus
umum bahasa Indonesia dikatakan bahwa moral adalah penetuan baik buruk terhadap
perbuatan dan kelakuan. Istilah moral biasanya dipergunakan untuk menentukan batas-batas
suatu perbuatan, kelakuan, sifat dan perangkai dinyatakan benar, salah, baik, buruk,layak atau
tidak layak,patut maupun tidak patut. Moral dalam istilah dipahami juga sebagai:
1. prinsip hidup yang berkenaan dengan benar dan salah, baik dan buruk.
2. Kemampuan untuk memahami perbedaan benar dan salah.
3. Ajaran atau gambaran tentang tingkah laku yang baik. Moral ialah tingkah laku yang
telah ditentukan oleh etika. Tingkah laku yang telah ditentukan oleh etika sama ada baik atau
buruk dinamakan moral. Moral terbagi menjadi dua yaitu :
a. Baik; segala tingkah laku yang dikenal pasti oleh etika sebagai baik
b. Buruk; tingkah laku yang dikenal pasti oleh etika sebagai buruk.
Moral juga diartikan sebagai ajaran baik dan buruk perbuatan dan kelakuan, akhlak,
kewajiban, dan sebagainya (Purwadarminto, 1956 : 957). Dalam moral didiatur segala
perbuatan yang dinilai baik dan perlu dilakukan, dan suatu perbuatan yang dinilai tidak baik
dan perlu dihindari. Moral berkaitan dengan kemampuan untuk membedakan antara
perbuatan yang baik dan perbuatan yang salah. Dengan demikian moral merupakan kendali
10

dalam bertingkah laku. Moral dapat diukur secara subyektif dan obyektif. Kata hati atau hati
nurani memberikan ukuran yang subyektif, adapun norma memberikan ukuran yang obyektif
(Hardiwardoyo,1990). Apabila hati nurani ingin membisikan sesuatu yang benar, maka norma
akan membantu mencari kebaikan moral. Kemoralan merupakan sesuatu yang berkait dengan
peraturan-peraturan masyarakat yang diwujudkan di luar kawalan individu. Dorothy
Emmet(1979) mengatakan bahawa manusia bergantung kepada tatasusila, adat, kebiasaan
masyarakat dan agama untuk membantu menilai tingkahlaku seseorang. Moral berkaitan
dengan moralitas. Moralitas adalah sopan santun, segala sesuatu yang berhubungan dengan
etiket atau sopan santun. Moralitas adalah pedoman yang dimiliki individu atau kelompok
mengenai apa yang benar dan salah berdasarkan standar moral. Moralitas dapat berasal dari
sumber tradisi atau adat, agama atau sebuah ideologi atau gabungan dari beberapa sumber.
Standar moral ialah standar yang berkaitan dengan persoalan yang dianggap mempunyai
konsekuensi serius, didasarkan pada penalaran yang baik bukan otoritas kekuasaan, melebihi
kepentingan sendiri, tidak memihak dan pelanggarannya diasosiasikan dengan perasaan
bersalah, malu, menyesal, dan lain-lain.
C. Akhlak
1. Pengertian akhlak
Menurut (Sahilun A,1980), kata Akhlak berasal dari bahasa arab, jamak dari
khuluqun yang menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau
tabiat. Kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalqun
yang berarti kejadian, yang juga erat hubungannya dengan khaliq yang berarti
pencipta; demikian pula dengan akhluqun yang berarti yang diciptakan.
Kata akhlak menunjukkan sejumlah sifat tabiat fitri atau asli pada manusia dan
sejumlah sifat yang diusahakan hingga seolah-olah fitrah akhlak ini memiliki dua bentuk,
pertama bersifat batiniyah (kejiwaan) dan yang kedua bersifat zahiriah yang terwujud
dalam perilaku.Menurut para ulama dan sarjana menuturkan bahwa akhlak ditinjau dari
aliran atau ajaran yang dianggap benar. Dalam aspek sosiologis juga didefinisikan akhlak
sesuai dengan disiplin ilmu sosiologi (ilmu dalam bermasyarakat). Sedangkan menurut
aliran idealisme didefinisikan sesuai dengan aliran yang dianutnya.
Menurut aliran utilitarianisme (menekankan aspek kegunaan) dan naturalisme
(menekankan oada panggilan alam atau kejadian manusia itu sendiri atau fitahnya).
Maka jika sifat tersebut melahirkan suatu perbuatan atau tindakan yang terpuji menurut
ketentuan akal dan norma agama, dinamakan akhlak yang baik (mahmudah). Tetapi

11

manakala ia melahirkan perbuatan yang jahat, maka dinamakan akhlak yang buruk
(madzmumah).
Pengertian sikap positif yang termasuk dalam akhlak yang terlihat melalui
perilaku dapat ditunjukkan dengan beberapa sikap, tabiat, watak atau kebiasaan misalkan
sikap pemaaf, amanah, sabar, rendah hati, dll. Sedangkan sikap negatif misalkan sikap
pemarah, pendendam, dengki, khianat, sombong dll. Hal yang menentukan apakah suatu
perbuatan itu baik atau buruk adalah norma-norma agama yang bersumber dari al-Haq
yaitu Tuhan YME.
Disebut akhlak karena:
1. Dilakukan berulang-ulang
2. Timbul dengan sendirinya dan tanpa berfikir panjang
Moral adalah istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas suatu sifat,
perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang layak dikatakan benar, salah, baik dan
buruk. Dimasukkannya penilaian benar atau salah ke dalam moral, jelas menunjukkan
salah satu perbedaan moral dan akhlak, sebab salah benar adalah penilaian dipandang dari
sudut hukum yang ada di dalam agama islam tidak dapat dicerai pisahkan dengan akhlak,
seperti yang telah disinggung di atas.
Akhlak islami berbeda dengan moral dan etika. Perbedaannya dapat dilihat terutama
dari sumber yang menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.
Yang baik menurut akhlak adalah segala sesuatu yang berguna, yang sesuai dengan
nilai dan norma agama, nilai serta norma yang terdapat dalam masyarakat, bermanfaat
bagi diri sendiri dan orang lain.
Yang buruk adalah segala sesuatu yang tidak berguna, tidak sesuai dengan nilai dan
norma agama serta nilai dan norma masyarakat, merugikan masyarakat dan diri sendiri.
Yang menentukan baik atau buruk suatu sikap (akhlak) yang melahirkan suatu perilaku
atau perbuatan manusia di dalam agama dan ajaran islam adalah al quran yang dijelaskan
dan dikembangkan oelh Rasulullah dengan sunah beliau yang kini dapat dibaca di dalam
kitab-kitab hadist.
Yang menentukan perbuatan baik atau buruk dalam moral dan etika adalah adat
istiadat dan pikiran manusia dalam masyarakat pada suatu tempat di suatu masa.
Oleh karena itu dipandang dari sumbernya akhlak islami bersifat tetap dan berlaku
untuk selama-lamanya, sedang moral dan etika berlaku selama masa tertentu di suatu
tempat tertentu (Sinaga, 2004).

12

2. Sumber dan Karakteristik Akhlak


Akhlak dalam islam sangatlah menjadi faktor pembeda atau penciri yang
menunjukkan perilaku hidup umat manusia dari umat pemeluk agama lain. Karakteristik
akhlak ini dapat diterapkan atau sesuai untuk semua kelas individu baik ditinjau dari ras,
suku, lingkungan, kehidupan sosial masyarakat dan lain sebagainya.
Menurut Qardhawy (1997) dalam Daras (2006) karakteristik akhlak ada tujuh, yaitu:
1. Moral yang beralasan serta dapat difahami
Akhlak yang harus disandang oleh seluruh umat islam bukanlah sesuatu yang
bersifat dokmatis, tetapi sesuatu yang logis dan masuk akal. Maksudnya logis adalah
dapat diargumentasikan dan dapat diterima oleh naluri manusia dan akal sehat. Hal ini
mencakup tentang pembahasan tentang kebaikan atau kemaslahatan dan keburukan
yang dilarang oleh Nya.
2. Moral Universal
Dalam hal ini moral bersifat umum, berlaku untuk semua umat di dunia, tidak
terbatas atas ras, suku, kebangsaan, golongan, kesukuan atau kaum. Pada dasarnya,
moral universal ini didasarkan oleh karakter manusia, jadi setiap umat akan memiliki
landasan moral yang seharusnya sama, tidak dibeda-bedakan,
3. Kesesuaian dengan fitrah manusia
Islam memberikan pengakuan terhadap status manusia sebagai ciptaan Allah
yang diberikan fitrah, keinginan, kecenderungan dan dorongan dari dalam jiwanya
untuk berbuat. Manusia diperbolehkan untuk memiliiki apa saja yang dia sukai, dan
melakukan apa saja yang ingin dia kerjakan asalkan tidak menyimpang dari ajaran
islam. Islam datang untuk memberikan batasan-batasan demi kebaikan-kebaikan
hidup manusia di dunia. Islam tidak mengubah fitrah yang ada pada diri manusia
melainkan menyempurnakannya atau melengkapinya agar manusia dapat bertindak
secara bijaksana terhadap apa yang ada dalam dirinya agar dalam kehidupannya dapat
bersikap dengan baik sesuai dengan batasan yang dijelaskan.
4. Memperhatikan realita
Seperti yang telah dijelaskan pada poin satu bahwa moral islam adalah sesuatu
yang logis dan sesuai nurani manusia. Realita adalah hal yang mengarah pada
keadaan manusia sehari-hari yang menunjukkan keinginan manusia pada hal-hal yang
bersifat duniawi, sebab hal itu tentu tidak mungkin dapat dihilangkan dari diri
manusia sebagai makhluk sosial. Al-quran tidak mengekang manusia untuk tidak
melakukan apa yang secara alamiah dia inginkan, hanya saja Al-quran mengatur kita
agar kita bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan sesuai dengan akal sehat dan

13

pertimbangan kebaikan bersama. Dapat dicontohkan, kita tentu tidak bisa berbuat baik
atau menganggap seorang musuh sebagai kawan, akan tetapi al-quran memberikan
batasan agar bahwa kita tidak boleh berlaku tercela sekalipun kepada musuh kita, kita
harus berlaku adil dengan tidak melakukan pelanggaran. Dalam konteks lain yang
lebih universal dapat dijelaskan bahwa memandang realita maksudnya adalah
memberikan kita kebebasan untuk berperilaku tetapi tetap harus berpegang pada alquran.
5. Moral positif
Dalam islam, selain seseorang itu harus memiliki moral yang baik dia harus
memiliki ketangguhan dalam menghadapi cekaman sosial politik yang terjadi di luar.
Sering kita jumpai bahwa manusia cenderung terbawa oleh arus yang terjadi di
lingkungannya, bisa saja seseorang yang tadinya memiliki moral yang baik tetapi
karena mengikuti trend sosial yang salah maka akan menyebabkan moralnya menjadi
tidak baik. Oleh karena itu, dalam al-quran telah dijelaskan pula bahwa sebagai
seorang mukmin kita tidak diperkenankan untuk tinggal diam melihat kemunduran
kondisi sosial dan politik yang terjadi, maka selain kita harus tetap mempertahankan
moral islam kita, kita juga diperintahkan untuk mengubah semua paradigma sosial
politik yang salah dimulai dari diri kita sendiri.
6. Komprehensifitas
Moral islam adalah sebuah batasan dan cakupan yang kompleks. Tidak benar
anggapan sebagian orang tentang islam yang menganggap bahwa islam hanyalah
tentang kegiatan keagamaan, ibadah, seremonial dan sebagainya yang mendekatkan
diri sebagai umat kepada Tuhannya. Lebih dari itu, islam mengatur pula bagaimana
kita sebagai makhluk sosial untuk berperilaku sesuai porsinya sehingga kita sebagai
umat islam akan memiliki nilai susila yang tinggi dan ajaran yangluhur. Moral islam
mengatur hubungan mansia dengan Tuhannya, serta hubungan manusia dengan
manusia.
7. Keseimbangan hidup atau Tawazun
Dapat digambarkan secara umum bahwa kita harus bersikap adil terhadap
apapun yang ada di dunia ini. Sebagai makhluk individu kita harus adil terhadap
kebutuhan dan pemenuhan kebutuhan ruh dan raga kita. Jika dilihat dari konteks
manusia sebagai makhluk hidup dengan Tuhannya maka dapat digambarkan bahwa
manusia sebagai kholifah di dunia ini, maka kita harus dapat memanfaatkan apa yang
ada di dunia ini seoptimal mungkin untuk kesejahteraan kita selama ada di dunia,
namun demikian kita juga harus ingat bahwa pemenuhan bekal kita di akhirat sebagai
makhluk Tuhan yang pasti akan kembali juga harus dipenuhi (Sinaga, 2004)
14

3. Prinsip - Prinsip Akhlak


Prinsip-prinsip Akhlak digambarkan dengan faktor-faktor awal yang membentuk
akhlak manusia. Dapat dijelaskan bahwa faktor pembentuk akhlak ada dua yaitu faktro
intrinsik dan ekstrinsik. Faktor intrinsik adalah faktor yang berasal dari dalam diri
manusia itu sendiri sebagai sifat bawaan sejak lahir, sedangkan faktor ekstrinsik adalah
faktor yang berasal dari pengaruh lingkungan terhadap perkembangan kejiwaan manusia.
Ada enam prinsip akhlak yang dijelaskan dalam Daras (2006) yaitu sebagai berikut ini:
1. Intrik atau naluri
Intrik atau naluri adalah sifat dasar manusia yang dibawanya sejak lahir. Naluri
secara umum dijelaskan sebagai suatu sifat yang dilakukan dengan tanpa harus
berlatih tetapi muncul dengan sendirinya dari dalam diri manusia yang bersangkutan
untuk mencapai tujuan tetentu. Naluri berasal dari dalam jiwa manusia sebagai faktor
psikologi. Contoh naluri manusia adalah:
a. Naluri untuk makan (nutrive instinct). Naluri ini dibawa sejak lahir oleh manusia
untuk dapat bertahan hidup dengan memenuhi kebutuhan nutrisinya untuk tumbuh
dan berkembang,
b. Naluri berjodoh (sexual instinct). Naluri ini dijelaskan sebagai kebutuhan biologis
manusia (laki-laki dan perempuan),
c. Naluri keibu-bapakan (Paternal instinct). Sikap kecintaan terhadap anak-anak
sebagai seorang ayah atau ibu,
d. Naluri berjuang (combative instinct). Sikap manusia untuk menjawab tantangan,
menghindari gangguan, dan mempertahankan diri dari serangan,
e. Naluri ber-Tuhan. Tabiat manusia untuk dapat merasakan rindu dan menunjukkan
kecintaannya kepada Allah sebagai makhluk Tuhan. Hal ini dapat ditunjukkan
dengan beragama.
Naluri dapat membawa manusia kepada jalan yang benar tetapi terkadang juga
kepada jalan yang salah tergantung kepada individu yang memiliki naluri tersebut
untuk dapat memanagenya.Sehingga islam hadir untuk membantu manusia dalam
mengendalikan nalurinya agar tidak aniaya terhadap diri sendiri tetapi dapat
tersalurkan sesuai dengan tuntunan dari Ilahi.
2. Keturunan
Salah satu yang menjadi dasar dalam penurunan moral dan etika adalah berasal
dari nenek moyang. Dalam Daras (2006) diilustrasikan bahwa manusia itu ibarat satu
pohon, dari batang ke cabang, kemudian dari cabang ke ranting akan menunjukkan
kesamaan atau paling tidak kemiripan. Begitu pula dalam diri manusia, moral
manusia adalah sebagian dari apa yang diwariskan oleh nenek moyang. Selain fisik
15

yang sama, kemungkinan akan memiliki sikap, perasaan, dan etika dalam hidup yang
sama. Sikap umum hingga khusus yang dapat diwariskan adalah sebagai berikut ini:
a. Manusia menurunkan selain sifat fisik juga mental yang berupa pembawaan
mental, moral, etika dan perasaan yang diwariskan kepada generasi selanjutnya,
hal ini adalah sebuah keistimewaan bagi manusia.
b. Selain sifat manusia yang diwariskan secara general, terdapat juga pengaruh dari
kebangsaan, suku atau ras. Umumnya setiap negara, suku dsb akan mewariskan
sifat-sifat khusus yang berasal dari hasil kebudayaan nilai norma yang terbentuk
di masyarakatnya. Hal ini termasuk ke dalam aspek Antropoligi dan Etnologi.
c. Sifat yang paling inti adalah sifat yang diturunkan oleh keluarga yang dipimpin
oleh kedua orang tua sebagai indukkan. Sifat fisik akan sangat nyata kemiripannya
atau kesamaannya, begitu juga dengan pewarisan tentang sikap, nilai dan norma
yang tertanam di dalam jiwa manusia yang menghadirkan bentuk moral padanya.
3. Azam
Azam adalah sebuah kemauan atau keinginan yang keras yang hadir dalam
pemikiran dan hati manusia untuk dpat melaksanakan suatu hal tertentu. Azam ini
akan membawa manusia dalam kekerasan hati untuk berlaku yang baik atau yang
buruk. Telah dicontohkan pada diri Rasulullah SAW, tentang sikap keras pada
pendirian dan kemauan yang besar untuk bertahan dalam menghadapai sesuatu demi
kebaikan, hal inilah yang seharusnya kita contoh. Ada dua contoh kehendak yaitu:
a. Kelemahan kehendak, yaitu sikap kurang adanya kemauan untuk berjuang, untuk
bertahan atau dengan kata lain dapat digambarkan sebagai sikap mudah menyerah.
Kurangnya kemauan menyebabkan manusia malas untuk berusaha.
b. Kehendak yang kuat tetapi kearah yang salah, hal ini dapat ditunjukkan dengan
pola hidup yang merusak dan dzalim.
4. Dlamir atau suara Batin
Suara batin adalah sebuah panggilan atau perasaan senang atau tidak senang
terhadap suatu perbuatan yang telah dia lakukan sediri. Sederhananya, apabila kita
melakukan kesalahan yang melanggar dari batasan yang telah ditetapkan maka akan
timbul rasa sesal atau rasa bersalah karena perbuatan yang telah kita lakukan. Peran
hati dalam hal ini adalah untuk mencegah kita melakukan keburukan dan berubah
untuk melakukan kebaikan. Panggilan hati lebih utamanya adalah panggilan untuk
berbuat kebaikan yang merupakan kewajiban umat manusia.
5. Kebiasaan
Perilaku yang dilakukan berulang-ulang sehingga menyebabkan syaraf otak
kita menjadi terpengaruh dan menjadikannya perbuatan rutinan yang kita lakukan.
Secara lebih rinci, setiap kali kita melakukan perbuatan maka hal itu akan membekas
16

di dalam otak kita, maka apabila kita diminta untuk mengulanginya maka akan lebih
mudah bagi kita. Setiap kali perbuatan itu dilakukan akan semakin memberikan bekas
dan melatih otak untuk mengingat dan melakukan perbuatan itu.
Untuk merubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik maka hal yang dapat kita
lakukan adalah sebagai berikut,
o Niat yang sungguh-sungguh
o Kesadaran akan pentingnya perubahan tersebut
o Selalu istiqomah dan setia terhadap usaha yang dilakukan
o Mengisi waktu kosong dengan berlaku yang baik agar kebiasaan dapat
bergeser
o Mencari kesempatan untuk melaksanakan niat tersebut
o Berusaha menolak apabila kebiasaan buruk itu akan muncul lagi
6. Lingkungan
Lingkungan dalam hal ini menunjukkan adanya perbedaan akhlak manusia
berdasarkan lingkungannya, baik secara geografis maupun sosial. Secara sosial maka
manusia sebagai makhluk sosial pasti melakukan interaksi dengan masyarakat, hal ini
menimbulkan hadirnya pemahaman mengenai sikap-sikap yang kemudian tertanam di
dalam dirinya sehingga terbentuk menjadi akhlak (Darsono, 2008)
4. Contoh Penerapan atau Aktualisasi Akhlak dalam Kehidupan
Aktualisasi akhlak adalah bagaimana seseorang dapat mengimplementasikan iman
yang dimilikinya dan mengaplikasikan seluruh ajaran Islam dalam setiap tingkah laku seharihari. Dan akhlak seharusnya diaktualisasikan dalam kehidupan seorang Muslim agar dalam
kehidupan sehari-hari mendapatkan ridho dan petunjuk dari Allah, sehingga dalam menjalani
hari-hari tidak terdapat kendala yang berarti. Penerapan akhlak yang baik dalam keseharian
yaitu seperti:
a. Akhlak terhadap Allah

Mentauhidkan Allah (QS. Al Ihlas: 1-4)

Tidak berbuat musyrik pada Allah (QS. Luqman: 13)

Bertakwa pada Allah (QS. An Nisa:1)

b. Akhlak terhadap Rasulullah

Mengikuti atau menjalankan sunnahnya (QS. Ali Imran: 30)

Meneladani akhlaknya (QS. Al Ahzab: 21)

Bershalawat kepadanya (QS. Al Ahzab: 56)

c. Akhlak terhadap diri sendiri

Sikap sabar (QS. Al Baqarah: 153)

Sikap syukur (QS. Ibrahim: 7)


17

Sikap amanah atau jujur (QS. Al Ahzab: 72)

Sikap Tawadlu (rendah hati) (QS. Luqman: 18)

Cepat bertobat jika berbuat khilaf (QS. Ali Imron: 135)

d. Akhlak pada Keluarga

Birul waliadin (berbakti pada ketua orang tua) (QS. An Nisa:36)

Membina dan mendidik keluarga (QS. At-Tahrim: 6)

Memelihara keturunan (QS. An Nahl: 58-59)

e. Akhlak terhadap sesama Manusia

Merajut ukhuwah atau persaudaraan (QS. Al Hujurat: 10)

Taawun atau saling tolong menolong (QS. Al Maidah: 2)

Suka memaafkan kesalahan orang lain (QS. Ali Imran: 134 & 159)

Menepati janji (QS At Taubah: 111)

f. Akhlak terhadap sesama makhluk

Tafakur (memperhatikan dan merenungkan ciptaan alam semesta) (QS. Ali


Imran: 190)

Memanfaatkan alam (QS. Yunus: 101)


(Wahyuddin, 2009)

BAB III
PENUTUP
Akhlak dapat menentukan perilaku suatu umat yang terwujud dalam moral dan etika
dalam kehidupan. Sehingga dapat menentukan mana yang baik dan mana yang buruk,
sehingga manusia dapat menentukan pilihan yang terbaik dalam hidupnya. Dalam islam
akhlak bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah yang menjadi pedoman hidup kaum. Maka
dari itu umat islam selama masih berpegangan pada Al-Quran dan As-Sunnah dalam proses
kehidupannya, maka dijamin bahwa kualiatas hidup suatu umat akan baik, terhindar dari halhal menyesatkan yang dapat membawa pada kehancuran baik di dunia dan di akhirat. Karena
semua tatanan kehidupan terdapat dalam sumber tersebut.

18

Dengan kata lain, akhlak adalah suatu sistem yang mengatur perbuatan manusia baik
secara individu, kumpulan dan masyarakat dalam interaksi hidup antara manusia dengan baik
secara individu, kumpulan dan masyarakat dalam interaksi hidup antara manusia dengan
Allah, manusia sesama manusia, manusia dengan hewan, dengan malaikat, dengan jin dan
juga dengan alam sekitar. Maka dari itu pentingnya suatu kaum memiliki akhlak yang
bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah.

19

DAFTAR PUSTAKA
1. Darsono, T. Ibrahim. Membangun Akidah dan Akhlak, Solo : PT. Tiga Serangkai
Pustaka Mandiri, 2008
2. Fakhry, Majid, Etika Dalam Islam. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1996
3. Ghoni Asykur, Abdul. Kumpulan Hadits-Hadits Pilihan Bukhori Muslim. Bandung :
Husaini Bandung, 1992
4. Sahilun A. 1980. Nasir, Etika dan Problematikanya Dewasa ini. PT. Al-Maarif:
Bandung
5. Sinaga, Hasanudin dan Zaharuddin, Pengatar Studi Akhlak, Jakarta : PT Raja
Grafmdo Persada, 2004
6. Wahyuddin, dkk. 2009. Pendidikan Agama Islam. Grasindo: Jakarta
7. Yaqub, Hamzah. Etika Islam. Bandung : CV Diponegoro, 1988 (artikel ini disadur
dari persentasi pada mata kuliah akhlak tasawuf)
8. Yazid. Kedudukan As Sunah dalam Syariat Islam Cet III, Bogor : Pustaka At Takwa,
2009
Sumber Website :
1. http://grms.multiply.com/journal/item/26
2. www.shiar-islam.com
3. http://mubarok-institute.blogspot.com
4. http://etikamuslim.googlepages.com/
5. https://dunianyasiayu.files.wordpress.com/2009/08/makalah-etika-moral-danakhlak.pdf

20