Anda di halaman 1dari 5

Terapis sering menggunakan metode pemberian obat secara transdermal untuk meredakan nyeri

dan inflamasi. Iontoforesis dan phonophoresis memberikan obat analgesi dan anti inflamasi
secara transdermal. Metode ini biasanya digunakan ketika target organ yang sakit, misalnya
tendon, dapat dipalpasi atau terletak superfisial seperti pada tendinopati di pergelangan tangan
dan siku.
Secara keseluruhan, telah banyak kajian sistematik yang mengindikasikan kurangnya bukti yang
mendukung penggunaan agen-agen fisik untuk menatalaksana nyeri pada seluruh bagian tubuh,
kecuali pada tangan dan ekstremitas atas. Penulis percaya bahwa beberapa factor dapat
menyebabkan kurangnya bukti tersebut. Pertama, sulit untuk mendesain penilitian Randomized
control trial pada pasien-pasien yang dirujuk ke terapis. Terapis lebih sering menggunakan tipe
penelitian kohort, dimana semuanya ada kelompok dengan pengobatan, tanpa memerlukan grup
kontrol. Kedua, membandingkan penelitian dengan metode kohort masih sulit karena peneliti
tidak mengkomunikasikan parameter pengobatan pada penelitian dan metode yang digunakan
atau karena adanya inkonsistensi pada terminologi. Hal ini sering terlihat pada penelitian
mengenai elektroanalgesia. Yang terakhir, masalah utama yang sering terjadi pada kajian
sistematik dan meta-analisis mengenai efektivitas agen fisik adalah pasien yang dibandingkan
memiliki berbagai macam sumber sakit yang berbeda. Mekanisme pada nyeri akut sangant
berbeda dengan kronik, rekuren dan nyeri neuropatik. Variabiitas mengenai pengobatan pada
sumber sakit mencegah perbangindan efektivitas dari agen fisik yang digunakan, parameter
pengobatan dan metode pengaplikasiannya. Informasi lebih dapat dilihat pada bab 117.

Neural Tension
Intervensi Neural tension cukup penting ketika sumber utama nyeri adalah nyeri neurogenic
perifer. Butler dan Elvey memperkenalkan terapis pada suatu konsep yaitu adverse neural
tension. System syaraf perifer dibuat untuk bergerak ketika terjadi gerakan, namun, ketika terjadi
inflamasi, pergerakan sendi yang normal dapat menyebabkan rasa sakit akibat kerusakan pada
syaraf. Disfungsi dari system syaraf dapat diperiksa menggunakan tes neural tension yang
spesifik. Bab 118 akan menjelaskan lebih rinci mengenai pemeriksaan dan mobilisasi dari system
saraf perifer.

Penting untuk menentukan tingkat iritabilitas dari jaringan saraf sebelum melakukan
pemeriksaan. Tingkat iritabilitas juga dapat ditentukan menggunakan intervensi yang sesuai.
Kondisi

dimana terjadi iritabilitas tinggi dikarakteristikkan dengan mudahnya dilakukan

provokasi nyeri neurogenic. Ketika telah diprovokasi, gejala biasanya menetap untuk waktu yang
lama. Strategi untuk meringankan tekanan, biasanya dengan memposisikan sendi, harus
dilakukan seperti gerakan yang tidak sakit untuk mengatur nyeri. Pada tingkat iritabilitas rendah,
gejala tidak mudah di provokasi, dan recovery terjadi lebih cepat dibandingkan dengan tingkat
iritabilitas tinggi. Pasien dengan iritabilitas rendah harus mendapatkan terapi berupa
pengaplikasian neural tension yang lembut, sering disebut dengan nerve mobilization atau
gliding.
Neuromuscuar Conditioning
untuk meredakan rasa nyeri, program terapeutik bertingkat harus dilakukan untuk memperbaiki
keadaan seluruh tubuh pada semua pasien tanpa memikirkan sumber nyerinya. Penurunan
kondisi tubuh sering terjadi pada pasien dengan perubahan dramatis dalam aktivitas mereka,
terutama pekerja yang sakit. Latihan aerobic seperti program berjalan dan bersepeda akan
memperbaiki daya tahan pasien dalam melakukan aktivitas fungsional. Dalam praktik klinis,
treadmill atau sepeda statis sering digunakan. Apabila dapat ditoleransi oleh jaringan yang
terluka pada ekstremitas atas dan tubuh bagian atas, latihan ekstrim pada tubuh bagian atas,
seperti stabilisasi scapula, dapat meningkatkan ketahanan otot. Hal ini akan memperbaiki
toleransi pasien terhadap kegiatan fungsional. Latihan yang dilakukan bergantung dengan
keparahan luka, sumber nyeri, dan kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan fisik.
Postur
Latihan postur sebenarnya lebih berfokus untuk menentukan posisi yang nyaman (contohnya :
posisi yang menyebabkan rasa sakit paling sedikit). Terapis harus menginstruksikan pasien
menggunakan postur yang sesuai untuk tidur, berkendara maupun bekerja. Pasien dengan
keluhan sulit tidur akibat nyeri dapat dibantu dengan edukasi mengenai postur tidur. Bantal
ekstra untu tubuh bagian atas pada posisi supinasi maupun miring dapat meningkatkan
kemampuan pasien untuk tidur. Bila pasien dapat memperbaiki kuantitas tidurnya, toleransi nyeri
dapat membaik karena kurang tiur adalah salah satu factor yang mempengaruhi toleransi nyeri.

Tempat kerja pasien harus dievaluasi untuk menentukan apakah posisi atau aktivitasnya
merupakan hal yang merangsang nyeri. Modifikasi harus dilakukan bila postur atau gerakan
yang aneh kita temukan. Hal ini sering terjadi pada pasien dengan pekerjaan yang bersifat
sedentary, seperti duduk lama didepan computer.
Dengan melakukan pemeriksaan postur kita dapat memperoleh mengenai kesalahan postur pada
pasien dengan nyeri kuadran atas, seperti memajukan kepala atau memutar bahu.
Ketidakseimbangan antar otot juga dapat terjadi. Latihan fleksibilitas harus dilakukan untuk
meregangkan otot yang tegang dan letihan kekuatan harus dilakukan untuk memperkuat otot.
Letihan untuk meningkatkan stabilitas tubuh dan scapula dapat megurangi kesalahan postural
dan meningkatkan fungsi tubuh bagian atas. Latihan harus disesuaikan dengan sumber nyeri dan
toleransi pasien. Latihan ini tidak boleh meningkatkan rasa nyeri pasien.
Perubahan Gaya Hidup
Peningkatan kesembuhan musculoskeletal dan penurunan nyeri dapat dicapai menggunakan
suatu taktik global yang spesifik. Perubahan gaya hidup dapat bermanfaat untuk semua sumber
nyeri dan penyembuhan jaringan. System saraf sangat kaya vascular, oleh karena itu, saraf sangat
bergantung dengan aliran darah yang baik untuk mempertahankan fungsinya. Taktik global ini
berfokus pada perubahan gaya hidup yang meningkatkan aliran darah, meningkatkan oksigenasi
dan gerakan tanpa stress pada tangan dan ekstremitas atas.
Selain baik untuk jantung, latihan aerobic juga meningkatkan sirkulasi perifer, yang akan
meningkatkan aliran darah ke jaringan muskulokeletal dan saraf perifer. Latihan aerobic pada
tikus menunjukkan terjadinya peningkatan produksi kolagen dalam proses penyembuhan luka.
Gejala yang berhubungan dengan carpal tunnel syndrome berkurang pada pasien yang mengikuti
latihan aerobic. Latihan menengah seperti berjalan dan yoga dapat meningkatkan system imun,
menurunkan inflamasi dan stress. Meskipun manfaat penuh dari latihan ini terhadap tangan dan
tubuh bagian atas belum diketahui secara pasti, pasien harus diberikan semangat untuk mengikuti
program fitness jika letihan itu aman secara medic pada keadaan cidera tangan dan tubuh bagian
atas. Pasien direkomendasikan untuk membahas dengan dokter masing-masing mengenai latihan
yang tepat untuk mereka.

Sebaliknya, merokok menurunkan aliran darah, menurunkan transport oksigen, dan menurunkan
produksi kolagen pada jaringan yang luka, terutama tulang, yang menyebabkan lamanya
penyembuhan dan komplikasi lainnya. Nikotin menurunkan vaskularisasi pada lokasi fraktur,
menyebabkan vasokontriksi dan menurunkan transport oksigen. Nikotin dan toksin lainnya pada
rokok menurunkan respon imun akibat menurunnya aktivitas leukosit, yang meningkatkan risiko
infeksi. Terjadi peningkatan prevalensi kerusakan musculoskeletal, carpal tunnel syndrome, dan
cubital tunnel syndrome pada pasien yang meroko; oleh karena itu; pasien harus diedukasi untuk
berhenti merokok. Selama proses rehabilitasi, pasien juga harus disuruh untuk menurunkan
makanan yang mengandung kafein, seperti the, kopi dan coklat, karena kafein juga merupakan
suatu vasokonstriktor.
Meningkatkan aliran darah melalui latihan dan meminimalkan nikotin dan kafein adalah metode
yang dilakukan untuk meningkatkan oksigenasi pada jaringan yang luka, namun latihan nafas
dalam juga bisa meningkatkan intake oksigen. Pasien harus diajarkan untuk menarik nafas
panjang setiap harinya. Pasien juga diajarkan untuk meningkatkan konsumsi air karena dapat
meningkatkan hidrasi jaringan dan memperbaiki mikrosirkulasi. Saturasi oksigen pada saraf
perifer dipengaruhi oleh hidrasi jaringan. Hidrasi yang lebih baik berarti oksigenasi yang lebih
baik. Inilah alas an kenapa saraf sangat vascular, karena mereka membutuhkan oksigen yang
tinggi untuk memenuhi kebutuhan metaboliknya.
Komponen terakhir pada perubahan gaya hidup adalah dengan melakukan gerakan yang tidak
menyebabkan stress pada tangan dan tubuh bagian atas. Pasien harus diajarkan untuk
menghindari postur static dan gerakan tubuh yang aneh atau sakit. Konseling ergonomic, prinsip
perlindungan sendi, dan strategi konservasi energy harus diterangkan dengan pasien.
Perubahan gaya hidup ini dapat bermanfaat untuk seluruh sumber nyeri, namun penelitian lebih
lanjut perlu dilakukan. Program ini perlu dimasukkan dalam rencana preventif oleh terapis.
Namun, penelitian lebih lanjut masih diperlukan.
Tanggung Jawab Pasien
Meningkatkan tanggung jawab pasien adalah hal yang penting pada pasien dengan nyeri lama
atau nyeri dengan mediasi affektif. Pasien harus diedukasi, dan didorong untuk menjadi
partisipan aktif dalam proses rehabilitasi mereka. Terapis

harus menolong pasien

mengindentifikasi masalah, dan pasien harus membantu proses pemecahan masalah. Untuk
membantu hal ini, pasien dapat diminta untuk menyimpan catatan harian atau catatan mengenai
aktivitas yang menyebabkan nyeri. Analogi hubungan guru dan murid diperlukan. Terapis
mengajarkan pasien apa yang harus dilakukan, dan pasien melakukan apa yang diperintahkan.
Visit oleh terapis digunakan untuk memonitoring dan untuk menilai kemajuan.
Kesimpulan
Terapis harus mempertimbangkan sumber mediasi nyeri, hasil dari penilaian nyeri, dan
mekanisme yang dianjurkan untuk menangani nyeri ketika memilih intervensi yang akan
dilakukan. Klinisi harus membentuk hipotesis mengenai penyebab nyeri, gejala yang terkait, dan
hasil yang diharapkan dari terapi. Terapis juga harus menentukan bagaimana cara menilai
efektifitas pengobatan, yang akan menghasilkan tes dan penilaian rasa nyeri selama pemeriksaan
awal dan ketika follow up. Format ini diharapkan dapt meningkatkan hasil dari rehabilitasi pada
kebanyakan pasien dengan keluhan utama nyeri.