Cara Membuat Tirtha Suci Hindu
Cara Membuat Tirtha Suci Hindu
Tirta bisa diwujudkan dengan dua cara: Dibuat dan Dimohon. Didalam ajaran Agama Hindu, ada
ketentuan yang menetapkan bahwa yang boleh membuat tirtha hanyalah sulinggih yang sudah
melakukan dwijati, seperti: Peranda,Rsi,Pandita Mpu dan sebagainya. sedangkan mereka yang
belum didiksa dan belum melakukan Loka Phalacraya, misalkan pemangku dan sejenisnya belum
dibolehkan membuat air suci(tirtha).
Karena itulah dalam persembahyangan para pinandita yang belum medwijati hanya bisa
memohon(nunas) tirtha.Ketentuannya adalah pemangku(pemohon atau siapapun dia, bisa saja
kepala keluarga kalau untuk kepeentingan keluarga harus sudah bersih lahir batin. Berpakaian
yang semestinya dilakukan dalam bersembahyang,menghadap ke Pura atau Sanggah atau
Padmasana atau pelangkiran, tergantung sarana yang ada. Kedua tangan diangkat sampai diatas
kepala dengan memegang suatu wadah khusus untuk air suci, berisi bunga didalam air, sambil
memegang dupa yang telah dinyalakan.
Doa Memohon Tirtha:
Om Anantasanaya namah
Om Padmasanaya Om iba sa ta a
Om nama siwa man ang uang namah.
Om Aum Dewapratushthaya namah
Om sa ba ta a i, Om nama siwa ya ang ung mang namah,
Om gangga saraswati sindhu, wipaca kauciinadi jamuna mahacrestha sa rayu camahandi.
Om ganggadewi mahapunya, gangga sahasramedhini, gangga tarangga sam yukte, ganggadewi
namostute.
Om gangga mahadewi tadupama mrtanjiwani,ungkaraksara bhuwana padamrta manohara.
Om utpatika surasanca, utpati tawa ghorasca,utpati sarva hitanca,utpativa srivahinam.
Doa Ngastawa tirtha:
Mantram carira; OM PRASADA STHITI SARIRA SIWA SUCI NIRMALA YA NAMAH SWAHA.
Mantram Asep; OM ANG BRAHMA AMRETHA DIPA YA NAMAH. OM UNG WISNU AMRETHA
DIPA YA NAMAH. OM ANG LINGGA PURUSA YA NAMAH. Jika yang dipakai bukan asep tetapi
dupa, maka mantramnya: OM ANG DUPA DIPASTRA YA NAMAH SWAHA.
A. Astra mantra
OM UNG RAH PAT ASTRA YA NAMAH,
ATMA TATTWAATMA SUDHAMAM SWAHA,
OM OM KASAMA SAMPURNA YA NAMAH,
OM SRI PASUPATHAYE UNG PAT,
OM PURNAM BHAWANTU
OM SUKHAM BHAWANTU.
(Bunga kemudian dimasukkan kedalam tempat air yang sudah disediakan)
B. Pengaksama (Ngambil Bunga)
OM KSAMA SWAMAM MAHA DEWA
SARWA PRANI HINTANG KARAH
MAMOCA SARWA PAPEBIYAH
PALAYASWA SADHA SIWA
OM PAPOHAM PAPA KARMAHAM
PAPATMA PAPA SAMBAWAH,
TRAHIMAM SARWA PAPEBIYAH
KENACID MAMARAK SANTHU
OM KSANTAWIYA KAYIKADOSAH,
KSANTAWIYA WACIKA MAMA,
KSANTAWIYA MANASO DOSAH
TAT PRAMADAT KSAMA SWAMAM
OM HINAKSARA HINA PADAM
HINA MANTRA TAT TAIWACA
HINA BHAKTI HINA WERDHI
SADACIWA NAMOSTUTE.
OM MANTRA HINA KRYA HINAM
BHAKTI HINA MAHESWARAH
YAT PUJINTTA MAHADEWAH
PARIPURNAM TAD ASTUME.
C. Apsudewa(ngambil bunga)
OM APSUDEWA PAWITRANI
GANGGA DEWI NAMOSTUTE
SARWA KLESA WINASANAM
TOYANAM PARI CUIDATE
SARWA
SARWA
SARWA
SARWA
PAPA WINASINI
ROGA WIMOCANE
KLESA WINASANAM
BOGAM AWAPNUYAT.
D. Pancaaksara
PANCAAKSARA MAHA TIRTAM
PAWITRAM PAPA YA SANEM
PAPA KOTI SAHA CARANAM
AGADAIM BAWET SAGARAM
E. Gangga sindhu
9. Doa ngaturang segehan manca warna, dilebuh, pemedal, pintu gerbang pekarangan rumah atau diperempatan jalan;
Om sarwa durgha preta byo namah.
10. Doa pada tiap2 segehan dengan metetabuh; Om ibek segara, ibek danu, ibek bayu premananing hulun.
11. Ngayabang dupa/pasepan; Om agnir agnir, jyotir jyotir, om dupam samarpayami
12. Doa nyiratang toya anyar/tirtha; Om mang parama siwa amertha ya namah swaha.
13. Doa ngayabang atau ngaturang banten; Om dewa amukti sukam bhawantu, namo namah swaha.
14. Ngelungsur tirtha; Om suksma sunya sangkanira, suksma sunia paranira.
15. Ngetisang toya anyar/tirtha; Om, mang parama siwa ya namah swaha.
16. Ngelungsur bebanten; Om suksma sunia lebar ya namah swaha.
17. Yadnya sesa (mejot/mesaiban) kepada Dewa-dewi, di tempat air, api, nasi dan surya; Om atma tat twatma sudhamam
swaha. Swasti swasti sarwa dewa sukha pradhana ya namah swaha.
18. Yadnya sesa (mejot/mesaiban) kepada bhuta, yaitu di pertiwi/tanah; Om atma tat twatma sudhamam swaha. Swasti
swasti sarwa bhuta,kala,durgha sukha pradhana ya namah swaha.
19. Doa memulai makan; Om anugraha amrtha sanjiwani ya namah swaha.
Menghaturkan banten tidak hanya sekedar meletakkan banten yang kita persembahkan untuk Hyang Widhi tapi dalam
setiap persembahan yang kita lakukan dengan sarana banten hendaknya diikuti dengan Doa-doa agar apa yang kita
persembahkan tidak menjadi yadnya yang sia-sia.
Canang Sari awalnya merupakan ciptaan dari Mpu Sangkulputih yang menjadi sulinggih
menggantikan Danghyang Rsi Markandeya di Pura Besakih.
Canang sari ini dalam persembahyangan penganut Hindu Bali adalah kuantitas terkecil namun
inti (kanista=inti). Kenapa disebut terkecil namun inti, karena dalam setiap banten atau yadnya apa pun
selalu berisi Canang Sari.
Canang sari sering dipakai untuk persembahyangan sehari-hari di Bali. Canang sari juga mengandung
salah satu makna sebagai simbol bahasa Weda untuk memohon kehadapan Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang
Maha Esa yaitu memohon kekuatan Widya (Pengetahuan) untuk Bhuwana Alit maupun Bhuwana Agung.
Canang berasal dari kata "Can" yang berarti indah, sedangkan "Nang" berarti tujuan atau maksud
(bhs. Kawi/Jawa Kuno), Sari berarti inti atau sumber.
Dengan demikian Canang Sari bermakna untuk memohon kekuatan Widya kehadapan Sang Hyang Widhi
beserta Prabhawa (manifestasi) Nya secara skala maupun niskala.
Artikel ini bersumber dari Canang Sari dan Segehan yang ditulis dalam dokumen Forum Diskusi Jaringan
Hindu Nusantara (ref).
Dalam dokumen tersebut juga dijelaskan mengenai bentuk dan fungsi canang menurut pandangan Hindu
Bali ada beberapa macam sesuai dengan kegiatan upakara yang dilaksanakan. Di bawah ini penjabaran
mengapa canang dikatakan sebagai penjabaran dari bahasa Weda, hal ini melalui simbol-simbol sebagai
berikut :
1. Canang memakai alas berupa "ceper" (berbentuk segi empat) adalah simbol kekuatan "Ardha Candra"
(bulan).
2. Di atas ceper ini diisikan sebuah "Porosan" yang bermakna persembahan tersebut harus dilandasi oleh
hati yang welas asih serta tulus kehadapan Sang Hyang Widhi beserta Prabhawa Nya, demikian pula dalam
hal kita menerima anugerah dan karunia Nya.
3. Di atas ceper ini juga berisikan seiris tebu, pisang dan sepotong jaja (kue) adalah sebagai simbol
kekuatan "Wiswa Ongkara" (Angka 3 aksara Bali).
4. Kemudian di atas point 2 dan 3 di atas, disusunlah sebuah "Sampian Urasari" yang berbentuk bundar
sebagai dasar untuk menempatkan bunga. Hal ini adalah simbol dari kekuatan "Windhu" (Matahari).
Lalu pada ujung-ujung Urasari ini memakai hiasan panah sebagai simbol kekuatan "Nadha" (Bintang).
5. Penataan bunga berdasarkan warnanya di atas Sampian Urasari diatur dengan etika dan tattwa, harus
sesuai dengan pengider-ider (tempat) Panca Dewata. Untuk urutannya saya menggunakan urutan
Purwa/Murwa Daksina yaitu diawali dari arah Timur ke Selatan.
Bunga berwarna Putih (jika sulit dicari, dapat diganti dengan warna merah muda) disusun untuk
menghadap arah Timur, adalah sebagai simbol memohon diutusnya Widyadari (Bidadari) Gagar Mayang
oleh Prabhawa Nya dalam kekuatan Sang Hyang Iswara agar memercikkan Tirtha Sanjiwaniuntuk
menganugerahi kekuatan kesucian skala niskala.
Bunga berwarna Merah disusun untuk menghadap arah Selatan, adalah sebagai simbol memohon
diutusnya Widyadari Saraswati oleh Prabhawa Nya dalam kekuatan Sang Hyang Brahma agar
memercikkan Tirtha Kamandalu untuk menganugerahi kekuatan Kepradnyanan dan Kewibawaan.
Bunga berwarna Kuning disusun untuk menghadap arah Barat, adalah sebagai simbol memohon
diutusnya Widyadari Ken Sulasih oleh Prabhawa Nya dalam kekuatan Sang Hyang Mahadewa agar
memercikkan Tirtha Kundalini untuk menganugerahi kekuatan intuisi.
Bunga berwarna Hitam (jika sulit dicari, dapat diganti dengan warna biru, hijau atau ungu) disusun
untuk menghadap arah Utara, adalah sebagai simbol memohon diutusnya Widyadari Nilotama oleh
Prabhawa Nya dalam kekuatan Sang Hyang Wisnu agar memercikkan Tirtha Pawitra untuk menganugerahi
kekuatan peleburan segala bentuk kekotoran jiwa dan raga.
Bunga Rampe (irisan pandan arum) disusun di tengah-tengah, adalah sebagai simbol memohon
diutusnya Widyadari Supraba oleh Prabhawa Nya dalam kekuatan Sang Hyang Siwa agar
memercikkan Tirtha Maha mertha untuk menganugerahi kekuatan pembebasan (Moksa).
Bunga canang, kembang rampe, porosan sebagai simbol dari Tarung / Tedung dari Ong / Om Kara (isi
dari Tri Bhuwana (Tri Loka) = Bhur-Bwah-Swah).
Tata Cara Mempersembahkan Daksina atau Banten Pejati Beserta Mantra Mantranya
1. Mantram Memohon Tirta
Om ganga ca yamuna caiva godhavari sarasvati narmade sindhu kaveri jale'smin sanidhim kuru.
Setelah itu masukan gandham/bubuk cendana dan bija sesarik dengan mengucapkan mantram
"Singgih ratu bhatara melingga ring tapak lingga ida, titiyang nyurud daksina... om swastir bhawatu"
Setelah itu ambil daksina yang lama.
Om dhupam samarpayami
Selanjutnya tancapkan dupa pada daksina dan perciki tirta dengan mengucapkan mantram
Om tirtayam tirta pavitram ganga ranu toya ganam, purusam naga vasukim agni hrday toyanam
Atau dapat juga memakai mantram
Om ang brahma amrtaya namah, om ung vishnu amrtaya namah, om mang isvara amrtaya nama
Ucapkan sebanyak 3x sembari di percikan ke Daksina juga sebanyak 3x
4. Menghaturkan Daksina Baru Dengan Mantra
"Om pekulun Hyang Wishnu alinggih aneng sesantun daksina guru dewa asung nugraha
salweringpinuja dening ingsun, wastu purna jati tan mamiruda ring sarira ingsun om siddhirastu
namah swaha...".
Bila ada banten sodan/ayunan/genten maka ditambah dengan mantram
Om buktyantu sarvato devah buktyantu tri loka natah saganah saparivarah savarga sadasi dasah,
Selanjutnya banten diayab dengan mengucapkan mantram
Om deva amukty sukham bhavantu purnam bhavantu sryam bhavantu namo namah swaha
(kehadapan para bhatara). Om buktyantu pitara devam bukti mukty vara svadah ang ah (untk
leluhur).
Bila ada banten peras dihaturkan dengan mantram
om panca wara bhavet brahma vishnu sapta vare va ca sadvara isvara devas ca asta vara sivo jneyah
lalu natab. Ato om kara mukoyate sarva pras pras parisudhaya nama swaha
lalu natab banten tersebut.
Sedangkan Banten peras harus di haturkan paling terakhir sebagai sahnya upacara yang berarti suksesnya
persembahyangan yang telah dihaturkan dengan menyobek alas peras tersebut. Setelah itu di lanjutkan
dengan sembahyang dan panca sembah.
Arti Banten Pejati dan Makna Unsur Unsur Filosofi Dalam Banten
Pejati
Banten dalam agama Hindu adalah bahasa agama. Ajaran suci Veda sabda suci Tuhan itu disampaikan kepada umat
dalam berbagai bahasa. Ada yang meggunakan bahasa tulis seperti dalam kitab Veda Samhita disampaikan dengan
bahasa Sanskerta, ada disampaikan dengan bahasa lisan. Bahasa lisan ini sesuai dengan bahasa tulisnya.
Setelah di Indonesia disampaikan dengan bahasa Jawa Kuno dan di Bali disampaikan dengan bahasa Bali. Disamping itu
Veda juga disampaikan dengan bahasa Mona. Mona artinya diamnamun banyak mengandung informasi tentang
kebenaran Veda dan bahasa Mona itu adalah banten. Dalam Lontar Yaja Prakrti disebutkan:
sahananing bebanten pinaka raganta tuwi, pinaka warna rupaning Ida Bhatara, pinaka anda bhuana
artinya:
semua jenis banten (upakara) adalah merupakan simbol diri kita, lambang kemahakuasaan Hyang Widhi dan sebagai
lambang Bhuana Agung (alam semesta).
Banten pejati adalah nama Banten atau (upakara), sesajen yang sering dipergunakan sebagai sarana untuk
mempermaklumkan tentang kesungguhan hati akan melaksanakan suatu upacara, dipersaksikan ke hadapan Hyang
Widhi dan prabhavaNya. Dalam Lontar Tegesing Sarwa Banten, dinyatakan:
- Buah Kemiri; adalah sibol Purusa / Kejiwaan / Laki-laki. Buah kluwek/Pangi; lambang pradhana / kebendaan /
perempuan.
- Kelapa; simbol Pawitra (air keabadian/amertha) atau lambang alam semesta yang terdiri dari tujuh lapisan (sapta loka
dan sapta patala) karena ternyata kelapa memiliki tujuh lapisan ke dalam dan tujuh lapisan ke luar. Air sebagai
lambang Mahatala, Isi lembutnya lambang Talatala, isinya lambang tala, lapisan pada isinya lambang Antala, lapisan isi
yang keras lambang sutala, lapisan tipis paling dalam lambang Nitala, batoknya lambang Patala. Sedangkan lambang
Sapta Loka pada kelapa yaitu: Bulu batok kelapa sebagai lambang Bhur loka, Serat saluran sebagailambang Bhuvah
loka, Serat serabut basah lambang svah loka, Serabut basah lambanag Maha loka, serabut kering lambang Jnana loka,
kulit serat kering lambang Tapa loka, Kulit kering sebagai lamanag Satya loka Kelapa dikupas dibersihkan hingga
kelihatan batoknya dengan maksud karena Bhuana Agung sthana Hyang Widhi tentunya harus bersih dari unsur-unsur
gejolak indria yang mengikat dan serabut kelapa adalah lambang pe ngikat indria.
- Sesari; sebagai labang saripati dari karma atau pekerjaan (Dana Paramitha)
- Sampyan Payasan; terbuat dari janur dibuat menyerupai segi tiga, lambang dari Tri Kona; Utpeti, Sthiti dan Pralina.
- Sampyan pusung; terbuat dari janur dibentuk sehingga menyerupai pusungan rambut, sesunggunya tujuan akhir
manusia adalah Brahman dan pusungan itu simbol pengerucutan dari indria-indria
2. Banten Peras Yang menjadi unsur-unsur Peras, yaitu:
- Alasnya Tamas/ taledan/ Ceper; berisi aled/ kulit peras, kemudian disusun di atasnya beras, benang, base
tampel/porosan, serta uang kepeng/recehan. Diisi buah-buahan, pisang, kue secukupnya, dua buah tumpeng,
rerasmen/lauk pauk yang dialasi kojong rangkat, sampyan peras, canang sari. Pada prinsipnya Banten Peras memiliki
fungsi sebagai permohonan agar semua kegiatan tersebut sukses (prasidha)
- Aled/kulit peras, porosan/base tampel, beras, benang, dan uang kepeng; merupakan lambang bahwa untuk
mendapatkan keberhasilan diperlukan persiapan yaitu: pikiran yang benar, ucapan yang benar, pandangan yang benar,
pendengaran yang benar, dan tujuan yang benar.
- Dua buah tumpeng; lambang kristalisasi dari duniawi menuju rohani, mengapa dua tumpeng karena sesungguhnya
untuk dapat menghasilkan sebuah ciptaan maka kekuatan Purusa dan Pradhana (kejiwaan/laki-laki dengan
kebendaan/perempuan) harus disatuakan baru bisa berhasil (Prasidha), tumpeng adalah lambang keuletan orang
dalam meniadakan unsur-unsur materialis,ego dalam hidupnya sehingga dapat sukses menuju kepada Tuhan.
- Tamas; lambang Cakra atau perputaran hidup atau Vindu (simbol kekosongan yang murni/ananda). Ceper/ Aledan;
lambang Catur marga (Bhakti, Karma, Jnana, Raja Marga)
- Kojong Ragkat, tempat lauk pauk; memiliki makna jika ingin mendapatkan keberhasilan harus dapat memadukan
semua potensi dalam diri (pikiran, ucapan, tenaga dan hati nurani)
- Sampyan peras; terbuat dari empat potong janur dibentuk menyerupai parabola di atasnya, merupakan lambang dari
kesiapan diri kita dalam menerima intuisi, inisiasi, waranugraha dari Hyang Widhi yang nantinya akan kita pakai untuk
melaksanakan Dharma.
3. Banten Ajuman/Soda Yang menjadi unsur-unsur banten Ajuman/Soda:
- Alasnya tamas/taledan/cepe; berisi buah, pisang dan kue secukupnya, nasi penek dua buah, rerasmen/lauk-pauk
yang dialasi tri kona/ tangkih/celemik, sampyan plaus/petangas, canang sari. Sarana yang dipakai untuk memuliakan
Hyang Widhi (ngajum, menghormat, sujud kepada Hyang Widhi)
- Nasi penek adalah nasi yang dibentuk sedemikian rupa sehingga berbentuk bundar dan sedikit pipih, adalah lambang
dari keteguhan atau kekokohan bhatin dalam mengagungkan Tuhan, dalam diri manusia adalah simbol Sumsuma dan
Pinggala yang menyangga agar manusia tetap eksis.
- Sampyan Plaus/Petangas; dibuat dari janur kemudian dirangkai dengan melipatnya sehingga berbentuk seperti kipas,
memiliki makna simbol bahwa dalam memuja Hyang Widhi manusia harus menyerahkan diri secara totalitas di pangkuan
Hyang Widhi, dan jangan banyak mengeluh, karunia Hyang Widhi akan turun ketika BhaktaNya telah siap.
4. Ketupat Kelanan Unsur-unsur yang membentuk ketupat kelanan:
- Alasnya tamas/taledan atau ceper, kemudian diisi buah, pisang dan kue secukupnya, enam buah ketupat, rerasmen/lauk
pauk + 1 butir telor mateng dialasi tri kona/ tangkih/celemik, sampyan palus/petangas, canang sari.
- Ketupat Kelanan adalah lambang dari Sad Ripu yang telah dapat dikendalikan atau teruntai oleh rohani sehingga
kebajikan senantiasa meliputi kehidupan manusia. Dengan terkendalinya Sad Ripu maka keseimbangan hidup akan
meyelimuti manusia.
5. Penyeneng/Tehenan/Pabuat Yang membentuk Penyeneng:
- Jenis jejaitan yang di dalamnya beruang tiga masing-masing berisi beras, benang, uang, nasi aon (nasi dicampur abu
gosok) dan porosan, adalah jejahitan yang berfungsi sebagai alat ntuk nuntun, menurunkan Prabhawa Hyang Widhi, agar
Baliau berkenan hadir dalam upacara yang diselenggarakan. Panyeneng dibuat dengan tujuan untuk membangun hidup
yang seimbang sejak dari baru lahir hingga meninggal.
- Ruang 1, berisi Nasi aon adalah lambang dari dewa Brahma sebagai pencipta alam semesta ini dan merupakan sarana
untuk menghilangkan semua kotoran (dasa mala)
- Ruang 2 berisi beras benang dan uang, lambang dari dewa Visnu yang memelihara alam semesta ini, beras adalah
sumber makanan manusia, uang adalah alat transaksi untuk melangsungkan kehidupan, benang sebagai penghubung
antara manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan Hyang Widhi.
- Ruang 3 berisi bunga, daun kayu sakti (dapdap), yang ditumbuk dengan kunir dan beras, melambangkan dewa Siva
dalam prabhawaNya sebaga Isvara dan Mahadeva yang senantiasa mengarahkan manusia dari yang tidak baik menuju
benar, meniadakan (pralina) Adharma dan kembali ke jalan Dharma.
- Bagian atas dari Penyeneng ini ada jejahitan yang menyerupai Ardhacandra = Bulan, Windu = Matahari, dan Titik =
bintang dan teranggana (planet yang lain).
6. Pesucian Pesucian terdiri dari :
- Sebuah ceper /taledan yang berisi tujuh bua tangkih kecil yang masing-masing tangkih berisi: Bedak (dari tepung),
Bedak warna kuning (dari tepung berwarna kuning), Ambuh (kelapa diparut/ daun kembang sepatu dirajang), Kakosok
(rengginang yang dibakar hingga gosong), Pasta (asem/jeruk nipis), Minyak Wangi, Beras. Di atasnya disusun sebuah
jejahitan yang disebut payasan (cermin, sisir dan petat) terbuat dari janur.
- Pada intinya pesucian merupakan alat-alat yang dipakai untuk menyucikan Ida Bhatara dalam suatu upacara
keagamaan
- Secara instrinsik mengandung makana filosofis bahwa sebagai manusia harus senantiasa menjaga kebersihan phisik
dan kesucian rohani (cipta , rasa dan karsa), karena Hyang Widhi itu maha suci maka hanya dengan kesucian manusia
dapat mendekati dan menerima karunia Beliau.
7. Segehan
- Secara etimologi Segehan artinya Suguh (menyuguhkan), dalam hal ini adalah kepada Bhuta Kala, yang tak lain adalah
akumulasi dari limbah/kotoran yang dihasilkan oleh pikiran, perkataan dan perbuatan manusia dalam kurun waktu
tertentu. Dengan segehan inilah diharapkan dapat menetralisir dan menghilangkan pengaruh negatik dari libah tersebut.
Segehan adalah lambang harmonisnya hubungan manusia dengan semua ciptaan Tuhan
- Jahe, secara imiah memiliki sifat panas. Semangat dibutuhkan oleh manusia tapi tidak boleh emosional.
- Bawang, memiliki sifat dingin. Manusia harus menggunakan kepala yang dingin dalam berbuat tapi tidak boleh bersifat
dingin terhadap masalah-masalah sosial (cuek)
- Garam, memiliki PH-0 artinya bersifat netral, garam adalah sarana yang mujarab untuk menetralisir berbagai energi
yang merugikan manusia (tasik pinaka panelah sahananing ngaletehin).
- Tetabuhan Arak, Berem, Tuak, adalah sejenis alkhohol, dimana alkhohol secara ilmiah sangat efektif dapat dipakai
untuk membunuh berbagai kuman/bakteri yang merugikan. Oleh kedokteran dipakai untuk mensteril alat-alat kedokteran.
Metabuh pada saat masegeh adalah agar semua bakteri, Virus, kuman yang merugikan yang ada di sekitar tempat itu
menjadi hilang/mati.
8. Sarana yang Lain
- Daun/Plawa; lambang kesejukan.
Mantra Pasupati
Om Sanghyang Pasupati Ang-Ung Mang ya namah svaha
Om Brahma astra pasupati, Visnu astra pasupati, Siva astra pasupati,
Om ya namah svaha
Om Sanghyang Surya Chandra
tumurun maring Sanghyang Aji Sarasvati
tumurun maring Sanghyang Gana,
angawe pasupati maha sakti,
angawe pasupati maha siddhi,
angawe pasupati maha suci,
angawe pangurip maha sakti,
angawe pangurip maha siddhi,
1.
Makna Mantra/Doa
Mantra atau doa sesungguhnya tidak lain ucapan dari keinginan manusia yang ditujukan kepada
Hyang Widhi atau Ida Bhatara. Bahasa yang dipakai untuk menyampaikan keinginan itu, bisa
dengan bahasa Bali (sehe), bahasa Kawi dan bahasa Sanskerta. Doa yang memakai bahasa
Sanskerta sering disebut mantra. Sedangkan yang memakai bahasa Bali dan Kawi sering disebut
sehe atau sesontengan. Jika memakai bahasa sanskerta cara mengucapkan dengan menyanyi
(seronca atau sruti), sedangkan jika doa dengan bahasa Kawi maka ucapannya dengan
menggunakan palawakia, dan jika berdoa dengan menggunakan bahasa Bali maka ucapannya
seperti berkomunikasi biasa dengan orang yang lebih tinggi (bahasa halus).
Masalah bahasa yang dipakai dalam berdoa sesungguhnya tidaklah merupakan masalah, karena
Hyang Widhi atau Ida Bhatara adalah Maha Tahu, Maha Pengasih, Maha Sakti dan Maha
Bijaksana. Yang terpenting sesungguhnya dalam berdoa itu hendaknya ucapan (doa) itu
dilandasi dan didorong oleh keyakinan (sraddha) yang kuat, kesucian pikiran (lascarya) dan
pasrah. Namun dalam rangka menyamakan persepsi serta peningkatan pengetahuan pemangku
maka dalam berdoa itu perlu menggunakan mantra-mantra atau bahasa Sanskerta, sehingga
agama Hindu itu universal tanpa menghilangkan konsep desa kala patra.
Mantra dalam konteks agama Hindu dikaitkan dengan penggunaannya dalam upacara agama
adalah untuk memuja Ida Hyang Widhi dengan segala manifestasinya. Dalam kaitan ini maka
mantra adalah ucapan yang merupakan rumus-rumus yang trdiri atas suatu rangkaian kata-kata
gaib yang dianggap mengandung kekuatan atau kesaktian untuk mencapai secara otomatis apa
yang dikehendaki oleh manusia. Mantra itu sering kata-katanya tidak dimengerti oleh sebagian
besar orang dalam masyarakat. Justru disitulah memberikan nilai magis atau suasana kramat
dan gaib, misalnya kata AUM atau Om atau Ong.
Om atau Ongkara adalah prenawa, yaitu simbol kehidupan. Dalam mantra om dianggap
mempunyai kekuatan gaib. Kata Om dimaksudkan widyasakti dari Hyang Widhi yang merupakan
dari unsur-unsur Tri Sakti yakni kesaktian untuk menciptakan disimbolkan dalam hurup atau
ucapan Ang, kesaktian untuk memelihara atau menghidupkan disimbolkan dalam ucapan Ung,
dan kesaktian untuk mengembalikan semua ciptaannya ke asalnya (pralina) diwujudkan dalam
simbol ucapan atau hurup Mang. Gabungan ketiga bunyi inilah (Ang, Ung, Mang) berubah
menjadi Om atau Ongkara. Ongkara adalah pranawa atau Bija Mantra dalam setiap doa
atau mantra. Artinya setia memulai mengucapkan bait mantra, selalu didahului dengan Om.
Rumus-rumus itu mengandung suasana sakral dan mempunyai kesaktian karena isinya, serta
sifat sakral atau kekuasaan magis dari orang yang memakainya dan karena bahasa yang dipakai
dalam mengucapkannya. Kegunaan mantra adalah untuk menurunkan dewa atau Ida Bhatara ke
dalam bentuknya yang sekala niskala. Menurut praktek yoga, untuk menurunkan Hyang Widhi ke
dalam bentuk skala-niskala ke dalam hati seorang yogi menggunakan sarana-sarana yang dapat
disentuh oleh panca indera, seperti pujian-pujian (stuti atau stawa) persembahan berupa bunga
(puspanjali), gerak tangan yang mempunyai arti mistik (mudra), suka kata atau rumus-rumus
sakral (mantra). Ini semua merupakan alat atau sarana untuk mengadakan kontak dengan
Hyang Widhi yang niskala, sekaligus juga merupakan wadah Hyang Widhi bersemayam. Hyang
Widhi turun ke dalam harumnya bau bunga, yang melambangkan kesucian pikiran si pemuja, ke
dalam kata-kata atau suku kata dalam bentuk mantra yang melambangkan kesucian perkataan
si pemuja, dan dalam bentuk lagu yang dilantumkan oleh si pemuja atau dalam bentuk syair dari
si penyair. Dengan demikian Tri Kaya Parisudha seharusnya sudah tersirat dan tersurat dalam
setiap perlaku dan tindakan pemangku sebagai pemimpin upacara. Pemilihan bunga sebagai
sarana pemujaan hendaknya bunga yang harum dengan warna sesuai dengan simbol warna
dewa yang dipuja atau yang diharapkan hadir dalam upacara tersebut seperti bunga putih untuk
Dewa Siwa, bunga merah untuk Brahma, bunga kuning untuk Dewa Mahadewa, bunga biru untuk
Bhatara Wisnu dan kalpika atau bunga campuran untuk bhatara Siwa atau semua dewa.
Sangatlah kurang baik jika memuja memakai bunga tidak harum dengan warna yang tidak
sesuai.
Pemikiran-pemikiran yang demikian yang mendasari penggunaan mantra adalah dalam
mengantarkan persajian atau dalam ngawekasangpersembahan sang Yajamana kepada Hyang
Widhi atau Ida Bhatara. Dengan pemahaman ini diharapkan para pemangku tidak ragu-ragu
menggunakan mantra. Suatu mantra dilandasi oleh keyakinan yang kuat tidak akan mancapai
tujuannya.
2.
a.
Sangku atau sibuh atau payuk tempat tirta. Bila upacara itu agak besar agar disiapkan dua
tempat tirta. Bila upacara kecil atau rerahinan biasa cukup satu tempat tirta.
b.
Bija (aksata) dan ganda (air cendana) masing-masing satu tempat ditaruh berdekatan. Bija
adalah lambang benih. Bija hendaknya dicampur dengan air cendana agar harum. Kumara dalam
mantra yang menyertai kata aksata (Om Kumara aksata ya namah swaha) adalah anak Dewa
Siwa. Dengan demikian bija adalah simbol Dewa Siwa sendiri. Gandha, atau bau-bauan yang
harum adalah simbol amrtha (lambang kehidupan abadi). Dalam mantra gandha dihubungkan
dengan Siwa sebagai Iswara.
c.
Puspa, adalah simbol suguhan, juga sebagai perwujudan perasaan manusia yang dapat
mendatangkan kepuasaan. Kembang atau puspa juga merupakan lambang dewa Siwa yang
niskala, khususnya berupa bau yang keluar dari puspa itu. Karena itu usahakan bunga yang
dipakai dipilih dari bunga-bunga yang berbau harum. Sebab bau juga melambangkan kesuciaan
manah manusia, makin harum bunga yang dipakai maka makin suci pikiran kita. Alangkah
baiknya jika dilengkapi dengan kalpika. Karena kalpika merupakan lambang Tri Murti.
d.
Pasepan. Api dengan asapnya yang harum (harus mengharumkannya dipakai
kemenyan atau kayu cendana, atau kayu majegau) melambangkan akasa. Pasepan juga sebagai
pengantar upacara, yang menghubungkan manusia dengan Ida Bhatara. Api atau Dewa Agni
adalah dewa yang mengusir raksasa dan membakar habis semua mala, ia juga merupakan dewa
pemimpin upacara menurut kitab Weda. Karena itu setiap upacara yadnya selalu ada pasepan
atau api, atau berupa dupa.
e.
Sirat toya (yang dibuat dari seetmimang) besarnya sesuai dengan kebutuhan.
f.
Siwowista (dibuat untuk tempat tirta, untuk diri sendiri, untuk bajra bila memakai bajra)
adalah simbol penydhamala sahaning leteh.
g.
Dulang, tempat menaruh semua peraltan pemangku ini, di atas dulang di alasi kapar.
h.
Ghanta (bajra), bila memakai. Ghanta (simbol sumber bindhu nada (Hyang Widhi sendiri).
Juga sebagai sarana untuk memudahkan untuk memanggil ida Bhatara untuk hadir dalam
upacara itu. Sekaligus juga sebagai sarana untuk memudahkan pemusatan pikiran karena
dituntun oleh getaran suara nada dari ghanta ini.
i.
Dalam rangka nunas tirtha dihadapan pemangku hendaknya disediakan daksina sebagai
tempat linggih ida bhatara. Bila tidak ada daksina juga dipakai kain putih kuning (rantasan putih
kuning) dilengkapi dengan canang sari, burat wangi dan canang pesucenan dan sesarin banten.
Langkah untuk Memimpin atau Ngawekasan yadnya
a.
Penyucian diri
b.
c.
d.
e.
Ngelukat diri
f.
g.
h.
i.
1)
Surya
2)
Sor Surya
3)
Lebuh
4)
5)
Sor (segehan)
6)
Pelinggih sami
j.
1)
2)
3)
4)
5)
A. menyucikan Diri
Perbuatan pembersihan diri meliputi:
a.
Sabda, bayu, idep, merupakan tiga aspek yang harus disakralkan (disucikan) penyucian
idep melalui mantra utpathi, dan sthiti yaitu proses menghayalkan dan pemusatan pikiran
kepada Ida Bhatara.
b.
Pengisian/penyucian diri dengan melakukan pranayama, memohon perlindungan kepada
Hyang Widhi.
Proses penyucian diri ini dimulai dari mengambil tempat duduk. Bentuk penyucian diri ini berupa
beberapa sikap tangan dan disertai dengan mengucapkan mantra-mantra sesuai dengan
tujuannya dengan urutan-urutan sebagai berikut:
1)
2)
Berkumur
3)
4)
Pranayama
: a.Puraka
6)
Mantrani sarira (mensakralkan badan: Om prasaddha sthiti sarira Siwa suci nirmala ya
namah swaha.
7)
Penyucian angga sarira: Om Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa ring bayu sabda idep suddha
nirmala ya namah swaha.
8)
9)
Ngili atma (mempertemukan atma dengan Siwa): Om Siwa, amrtha ya namah. Om Sada
Siwa amrtha ya namah. Om parama Siwa amrtha ya namah.
B. Nunas Pangarahan
1. Ring Bethara Siwa (sarana bunga putih)
Om awignam astu nama siddham. Nian panugrahan sarana toya raup akna.
Om, Am, Um, Mam, Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa ring bayu sabda idep suddhanta nirwignam ya
namah
Om siddhi swaha ya namah
Idep dewa Siwa malingga ring baunta tengen, Dewa Sada Siwa malingga ring baunta kiwa. Dewa
Parama Siwa mungguh ring siwadwaranta, pada nyuksma ring raga sariranta kabeh, tunggal sira.
Apupul kabeh, umungguh tungtunging papusuh. (sekar sumpangang ring tengahing lelata mwah
ubun-ubun, mwah ungkur destar)
2. Nunas Panugrahan ring Bhatara Hyang Guru:
Pakulun SangHyang Guru Reka, SangHyang Kawiswara, SangHyang Saraswati, Ginalina sung
nugraha solah ulun ing kawenang. Lampah tan wigna paripurna yanamah swaha Om Am Um
Mam.
3. Nunas Panugrahan ring Bathara Tiga Sakti
Pakulun Padukuh Bethara Durga, paduka bhatara, guru, paduka bhatara Brahma, anyusup ring
adnyaning hening. Bhatara Durga malinggih ring bongkol lidah hulun, bhatara guru malinggih
ring madyaning lidah hulu, bathara Brahma malinggih ring pucuking lidah hulun. Om Tri Lingga
jumeneng neneng. Om Am Um, Am Um, Am Um Am Ah.
5.Ngastiti Mantra
Ngalinggihang Hyang Widhi dalam manifestasinya, berupa dasa aksara. Pikiran dipusatkan
dan seolah-olah Ida Bhatara turun dari akasa dan malingga di prahyangan atau daksina ajeng
pemangku dan berkenan memberikan panugrahan air suci yang kita mohon dengan
mengucapkan bait-bait mantra. Sikap tangan angranasika. Sarana sekar putih. Ma:
Om anantasana ya namah. Om padmasana ya namah.
Om, I Ba Sa Ta, A. Om Ya, Na, Ma, Si, Wa
Om Mang, Um, Ang Namah (Upatthi)
Om, Sa, Ba, Ta, A, I. Om, Na, Ma, Si, Wa, Ya
Om, Am, Um, Mang. (sthiti)
(Sekare peletikang ke ajeng)
C. Nunas Tirta
a.
Jika pemangku tidak memakai ghanta, maka sikap kedua tangan angransika sambil
memegang bunga. Pandangan dan pikiran dipusatkan kepada bunga yang merupakan simbul
Hyang Widhi/Idha Bhatara yang kita mohoni tirtha.
b.
Jika pemangku memakai ghanta, tangan kiri memegang ghanta tangan kanan memegang
bunga dengan sikap angransika, tangan kanan yang memegang bunga setinggi hulu hati,
demikian juga posisi ghanta setinggi hulu hati.
c.
Sebelum mengucapkan mantra bunga yang dipakai sebagai sarana mohon tirta setiap kali
memakainya hendaknya dicelupkan dulu ke dalam air cendan (gandha) agar harum baru tangan
angranasika. Dan setiap selesai mengucapkan bait-bait mantra sesuai dengan nama jenis
mantranya, bunga selalu dimasukkan ke dalam sangku yang berisi titha (air) sebagai simbolis
bahwa beliau (Ida Bhatara) telah mengubah air itu menjadi tirtha yang kita inginkan.
Dari seluruh kegiatan pemujaan, memohon air suci (tirtha) merpakan proses yang amat penting.
Tirtha merupakan produk terakhir dari suatu pemujaan. Tirtha dipandang sebagai air suci yang
mengandung tuah kekuatan yang berasal dari Ida Bhatara, yang memberikan perasaan bersih
dan terlindung serta kebahagiaan bagi yang memohonnya. Juga yang mampu menghilangkan
segala mala atau kotoran yang melekat pada semua peralatan upacara. Cara memohonnya
dengan menggunakan sarana bunga yang telah dicelupkan ke dalam air cendana, bija dan
kemudian diasapi. Selanjutnya disertai dengan mengucapkan bait-bait mantra sesuai dengan
tujuan. Setiap selesai mengucapkan bait-bait mantra bunga kemudian dimasukkan ke dalam
sangku atau payuk tirtha. Demikian seterusnya sampai semua bait mantra selesai diucapkan
sesuai dengan tujuan permohonan air suci itu. Proses mohon tirtha itu sesuai dengan urutan
mantra di bawah ini.
Puja mantra pangider bhuwana (nunas tirtha ring idha bhatara ngider bhuwana)
8.
Sangkepi dengan gandha, akasata dan dupham. Masukan semua unsur tersebut ke dalam
sangku. Ma:
Om Sri gandhaswari byo amertha namah swaha
Om Kum Kumara wija ya namah. Om puspa dantha ya namah
Om Dupham samar payamai ya namah
Lanjut mengambil ghanta
(apabila pemangku menggunakan ghanta dalam memuja). Seblum memulai membunyikan
gantha maka tahap-tahap di bawah ini haru diikuti, tetapi apabila tidak memakai gantha mantra
no. 9 dengan no. 16 di bawah ini tidak perlu diikuti.
9.
Memasang sirowista pada ghanda. Sirati tirtha sirowista. Ma: Om dewa pratistha ya namah
swaha
10. Mensucikan sirowista. Ma:
Om mejung wausat Siwaya sampurna ya namah swaha
Om rim kawaca ya namah (sirowista pasang ring gentha)
11. Ambil ghanta lan ketisin tirtha. Ma:
Om dewa prathista ya namah swaha
12. Ghanta di asapi. Ma:
Om Am dhupa astra ya namah
13. Ngastawa ghanta (mensucikan ghanta). Tangan kiri memegang ghanta, tangan kanan
memegang kalpika. Pikiran dipusatkan pada ghanta. Ngastitiyang mangda Ida Bhatara tedun tur
malingga ring bajra , muah suaran bajra. Suaran bajra silih sinunggil nyasa Hyang Widdhi
marupa windu nada. Ma:
Om Omkarah Sada Siwa sthah. Jagat natha hitangkarah
Abihiwade wadaniyah. Ghanta sabda praksyate
Ghanta sabdda maha srethah. Om karah parikertitah
Candrardha bindu nadantam. Spulingga Siwa tattwanca
Om ghantayur pujyate dewah. Abhawya bhawya karmesu
Waradah labda sandheyah. Wara siddhir nursangsayam
Selesai mengucapkan mantra di atas peletik pelit ghanta ping 3. setiap selesai meletik pelit
ghanta, tangan kanan di putar tiga kali mengitari ghanta dengan mengikuti arah jarum jam,
perilaku ini mewujudkan atau menstanakan Hyang Widhi dalam wujud Tri Aksara dalam suara
nada ghanta, sekaligus menuntun pemusatan pikiran kita kepada Hyang Widhi untuk
memberikan berkah kepada air suci (tirtha) yang kita yang kita mohon kepada Ida Bhatara. Ma.:
Peletik ping 1: Am. Peletik ping 2: UM. Peletik ping 3 : Mam
Setiap selesai putaran sentuhkan bunga yang ada pada tangan kanan pada ujung ghanta
sebagai simbolis menstanakan Ida Bhatara pada ghanta.
14. Membunyikan ghanta. Ma:
Om tam tat purusa ya namah
Om Bam Bamadewa ya namah
Om rengkayase sirase ya
namah
Om Am Agora ya namah
Papo ham papa karmaham. Papatma papa sambhawah. Trahi mam sarwo papebyah. Kanancin
mam ca raksanthu2
Ksantawyah kayiko dosah. Ksantawyo waciko mamah. Ksantawyo manaso dosah. Tat
prasiddhantu ksama swamam3
Hinaksaram hina padam. Hinan mantram tathaiwa ca. Hina Bhaktim hina wrdhim.Sada Siwa
namo stute4
Mantram hinam kriyam hinam. Bhaktinam Maheswara. Ya pujitnam Maha dewa.
astu me5. (sekare ranjingang ring sangku)
Paripurnam tad
24. Mrtyun Jaya Stawa (pujian kepada penakluk kematian) pakai ghanta jika ada ghanta. Jika
tidak pakai ghanta sikap angranasika.
Om Dhirgayur bala wrdi sakti karanam. Mrtyun jaya saswatam. Rogadi ksaya kustha . dustha
kelusam. Candra phraba bhawaram1
Hrim mantram cacatur bhujam, Trinayana wiyalo pawitam siwam. Swetan camrta madyagam.
Sukha karam pawitram jiwa ksaya wiyansakam 2
Swetham bhoruha karnikorpari gatam. Dewasuraih pujitam. Mrtyu krodabalam maha-krty
mayam. Karpura-renu prabham3
Twam wande hradaya bhakti saranam. Prappyam maha prastumaih. Santam sarwagatam
nirantam abhawam. Bhutatma kam nirganam 4
Sraddha bhakti kriam wimukti karanam. Wyaptam jagat dharanam. Mauli bandha kirita kundala
dharam. Caitanya dustha ksayam5
Wande mrtyu-jitam sayapya maraho. Mantra di-dewo Harih. Mukta twam jagat twam semadi
satatam. Catanya dustha ksayam6
(sekare ranjingang ke tirta ring payuk)
25. Mrtyun Jaya Stawa (sabda pemberi restu). Ma:
Om mrtyun jayasya dewasya. Ye namany anukirtiayet
Dirghayusyam awapnoti. Sanggrama wijayi bhawet
Om Atma Tattwatma suddha mam swaha
(sekar ranjingang ke tirta ring payuk)
26. Pemarisudha (ketisang tirtha ring sangku ke tirtha ring payuk). Ma:
Om pertama sudha, dwitya sudha, trtya sudha, caturti sudha, pancami sudha, sadmi sudha,
saptani sudha, sudha, sudha sudha wariastu tat astu astu ya namah swaha.
27. Tambah Ayu Wrdhi. Sarana sekar lan bija. Ma:
Om ayur wrddhi yaso wrddhih. Wrddhih pradnya sukha sriyam. Dharma santana wrddhisyat.
Santute sapta wrdaydhah1
Yawan mero stitho dewah. Yawad gangga mahitale. Candrarko gagane yawat. Tawat wa wijayi
bhawet2
Om dirghayur astu tathastu. Om awighnam astu tathastu. Om subham astu tathastu. Om
sukham bhawantu
Om purnam bhawantu. Om sreyo bhawantu3. (sekare ranjingang ke tirtha ring Payuk)
28. Mensakralkan tirtha. Sarana sekar lan bija. Ambil bunga setiap baris mantra lalu masukkan
ke payuk. Om Siwa amrtha ya namah
Om sada Siwa amrtha ya namah
: Om Am Isana ya namah
Tengahing lelata Ma
Ulun hati Ma
: Om Am Agora ya namah
Bahu tengen
Bahu kiwa
Asepi srowistha
Mantrani sirowistha:
Om sirowistha maha diwyam. Pawitram papa nasanam
Nityam kusagram tisthati. Sidantam pratigrnati
Om hrum rah phat astra ya namah (pasang sirowistha ring lelata)
36. Menyuntingkan bunga ring ungkur destar. Ma:
Om Sri ksamara ya namah
37. Mesesirat ke awang-awang. Ma: pakai Astra mantra lanjut Sangkepi (lihat di depan).
Selesai sudah proses nunas tirtha pengelukatan untuk dipakai ngelukat banten, parhyangan Ida
Bhatara mwah semua peralatan upacara. Catatan penting: proses nunas tirtha ini dari mantra
nomor 1 sampai dengan nomor 37 selalu dilaksanakan setiap akan memulai memimpin upacara
yadnya apapun. Karena sebelum banten itu dipersembahkan kehadapan Hyang Widhi atau Ida
Bhatara, banten tersebut terlebih dahulu harus disucikan dengan air suci yang kita mohon
kehadapan Ida Bhatara.
Selesai proses nunas tirtha barulah ngilenang upacara yadnya apapun namanya yang patut
diselesaikan oleh Jro Mangku.
Kala, puniki ta bhuktin sira kabeh, bilih belanira. Om kala-kali byo bhoktaya namah. Om ksama
sampurna ya namah. Om Am sarwa Kala Ksama swamam ya namah swaha.
c.
Puja Durmenggala: Pakulun Sang Kala Purwa, Sang Kala Sakti. Sang Kala Bajra Muka, Sang
Kala Ngulaleng, Sang Kala Suksma, aja sira pati papanjinga, pati paprotongi, iki tadah saji nira,
penek kalawan bawang jae mwang terasi bang, iwak antiga, jinah satak lima likur, lawe satukel
manawi kirang katadahan ira, aywa sira usil silih gawe, ikun jinah satak salawe, wenang satukel,
engone atuke ring pasar agung, wehana anak rabi, mwang putu buyut, ndah sira lunga amarah
desa, aja maring kene, denpada wehana, raksa rumaksa pada sidhir astu swaha. Om kala byo
bhokya namah swaha. Om butha bhokta ya namah swaha. OmDurga bhota ya namah
swaha. Om Piscaya bhota ya namah swaha.
d.
Puja Prayascita:
Puja Isuh-Isuh
Pakulun SangHayang Taya tanpa netra, tanpa cengkem, tanpa karna, tanpa irung, SangHyang
Taya jati suci nirmala, Sira angisuh-isuhin sarwa dewata, angilangaken sarwa kala bhuta dengen,
ring sarwa ta kabeh, aja kari masanetan ring manusa kabeh, nyah ta kita saking kulit, saking
daging, saking walung, saking sumsum, mantuk ta kita ring jipang cempadi keling sabrang
melayu. Om Am Mam nama Siwa ya namah.
f.
Om antinganing sawung anya, pengawakaning SangHyang Gala Candu sagilingan, kalisakna lara
roga mala pataka kabeh
Om sah wausat namah. Om bang bamadewa bhatara angiberaken lara roga papa klesa mala
wighna sarwa dewa-dewine kabeh.
Om sriyawe namo swaha
g.
Puja Lis
Om sang janur kuning pengadegan nira, turun bhatara Siwa ri kebhaktianing manusa kabeh.
Om ksama sampurna ya namah. Om jreng jreng sabur ngadeg angilangakna sarwa klesa sang
lis-lisan.
Om sabur pita, sabur rakta, subur swetha, sabur kresna, sabur amanca Sarwa karya prastistha
ya suci nirmala ya namo namah swaha.
h.
Puja Buhu-buhu
toya anyar
d.
Biakala
b.
Isuh-isuh
c.
Durmenggala
c.
Banyuawang
d.
Prayascita
g. lis
h. Tirtha pangelukan
42. Puja ngemargiang palisan. Ritatkala para pengayah ngemargiang palisan dane jro mangku
saking genah malinggih nyiratang tirtha ke awang-awang kadulurin antuk puja mantra:
Om Am suklyai namah. Om Am bhaktyai namah. Om Am krsnyai namah. Am Am jambi kayai
namah1
Om Am sarwa dewebhyo namah swaha. Om Am sapta Rsibhyo namah swaha. Om Am sapta
pitrbhyo namah swaha. Om Am saraswatyai bhyo namah swaha 2
Om Om Siwa amrtha ya namah, Om Om Sada Siwa Amrtha ya namah. Om Om Parama Siwa
amrtha ya namah. Om ksmung Siwa amrtha ya namah. Om ksmung Sada Siwa amrtha ya
namah3
Om ksmung Parama Siwa amrtha ya namah. Om Om gangga amrthaya namah. Om Om Candra
amrthaya namah. Om Siwa suddha mam swaha 4
Om swasti suddha mam swaha. Om hram hrim sah Parama Siwa amrthaya namah. Om om ehi
Surya sahasresu. Tejo rase jagat pate5
Anukampaya bhaktiya. Gerhamano Diwakara. Namah namah te. Om hram hrim sah Parama
Siwa. Aditya ya namah6
Om Om ehi surya sahasresu. Tejo rase jagat pate. Anukampaya bhaktiya. Gerhamano Diwakara
Namah namah te. Om hram hrim sah Parama Siwa. Aditya ya namah.
43. Tambah malih antuk puja sehe: Om Sang Hyang Tiga Muti Hyang, makadi SangHyang
malingga ring bebanten, karaban, karapuhan dinamet dening wwang, kaletikang dening wadak,
kaiberaning sato, kalangkahi sona (asu), kasepunganing awu, olih tinuku ring pasar agung,
parasama kalukat kalebur dening SangHyang Tiga Murti Hyang. Om siddhir astu. Om sri yawe
namo namah swaha.
Akasata
Puspa
54. Puja istadewata. Puja ini agar disesuaikan dengan Pura yang menjadi amongannya. Untuk
puja istadewata dapat dilihat dibagian halaman belakang.
55. Wusan puja istadewata malih aturi tirtha lan sangkepi
56. Aturi pasucian
Kakrik mantra : Om Sri Dewi Bhtarimsa Yogini namah
Kakurah mantra
Keramas
Meraup mantra
Madyus mantra
Tigasan mantra
Mahyas mantra
Tebusi
Minyak mantra
Sekar mantra
61.
Tumpangnya sekar ikang sesayut: Om Om amrtha sanjiwani ya namah. Om Om
kurmeda ya namh. Om Om sakti karana ya namah. Om Om mrtyun jaya ya namah. Om Om
Praba ya namah. (sekare peletikang ke ajeng)
62.
Kuta SangHyang Mrtyun Jaya (penghormatan) sikap mebhakti: Om Om kumudha
jaya jiwet sarira raksan dadi sime. Om Om mejung sah wausat mrtyun jaya ya namah swaha.
Om bhagawan panyarikan, kaki citragotra, paduka angaturaken saji pula gembal, tadah pawitra,
sekar setaman, caru putih ijo, pari manem maring sumur. Manusa nira aneda nugraha anglepas
kreta kang mungguling sarat, kasambut rumuhun, manawi wenten kirang wenten luput,
hampuranem ta pakulun. Den ipun geng rna, akedik aturaning manusa nira, agung pikolihan
ipun, katekaning sinadyan ipun.
Om ayu wrddhi yaso wrddhi. Wrddhih pradnya sukha sriyam. Dharma santana wrddhisyat.
Santute sapta wrdhaidah. Om dhirgayur astu tat astu astu. Om Sa Ba Ta, A, I Na Ma Si Wa Ya
namah swaha (sekare peletikang ke ajeng)
69.
Puja tutwan
Om Kala Patu muwaning bhuwana, apang-panganing jagat, hawoh amirah, agodong anglungsir,
ana kapopang pange mawetan, pangirid sahisining wetan. Ana kapopang pange mangidul,
angirid sahising kidul, ana kapopang pange mangulon, angirid sahising mangulon, ana kapopang
pange manglor, angirid sahising lor, ana kapopang pange madya, angirid sahising madya.
Tambak mangko, tambak mangke angantukaken sarining tutuwan.
70.
Puja Jrimpen Sumbu: Babu among babu juru, babu brongkat babu mangguh. Iki
si ganjaran ira, amongmong atman jiwatane ipun anutug ana tuwuh ipun ianu.
71.
Angrapet kurang luput: Pakulun SangHyang dharma, deniling maring palungguh
nira swang-swang, amukti sari alunga sari, teka sari. Jumeneng pakulun, angeseng ipen ala.
Makadi lara roga, sot sapataka gempung moksa hilang tanpa sesa denira sangHyang Siwa
picatur dewa bhyuha.
72.
Puja penyeneng: Om kaki penyeneng, nini penyeneng, kajenengane denira
bhatara Brahma, Wisnu, Iswara, Surya, Chandra lintang trenggana. Om sriyawe namo namah
swaha.
Malih ater antuk mantra Ayu Wrddhi
73.
Puja Sorohan: Pakulun sangHyang Siwapi catur muka dewa bhyuha, sira
Bhagawan Ratangkup Sira ta reko pakulun, angeseng ipen ala, makadi lara roga, sot sapata,
gempung moksah hilang tan pasesa, den ira SangHyang Siwapi catur muka dewa bhyuha. Om
siddhir astu tat astu astu.
74.
Puja Bebangkit (ring panggungan): Om arya dika maha siddhi, sarwa karya
nirmala namah swaha. Pakulun bhatari Durga, bhatara Gana, bhatara Brahma, Sang Yama Raja,
sang kudung basur, sang pulung, sang dengen, sang raksasa, sang butha ulu singa, sang detya,
sang wil, sang dewa Yoni sakti, mapupul ta kita kabeh, tingalin bhaktin ing hulun ri kita, kotang
hulun luputa, ring sarwa lara, mwang kasihan den ing sarwa kabeh. Om Sang Bang Tang Ang Ing
Nang Mang Sing Wang Yang. Am Um Am.
75.
Puja Ulam Banten: Bhatara jabung, Nini Bhatari Durga, kaki kala medi, kaki kala
moha, kaki kala purwa raja, Sira sang amurwaning kala kabeh, kaki kala tulak tanggal, kaki jagra
satru, kaki panggel wala, kaki kala mrtyu, kaki samantara, kaki kala anyer-anyer, iki belan ira,
sama sukha sira ring sang adruwe caru iki. Om durgapati masariram, kala kingkara moksanam,
kala mrtyu punah citram, sarwa wighna winasanam.
76.
Ngayabang Aturan/Piodalan. Ngawit saking Surya: Om pranamya Bhasakara
dewam. Sarwa klesa winasanam. Pranamya ditya siwartham. Mukti bhukti sarwa paradam.
77. Tambah Puja Siwa Sutram, yening munggah suci ring Surya Ma:
Om Siwa sutram yadnya pawitram. Prajapati yoga ayusyam. Bala mastu teja guhyanam.
Triganam tri gunatmaka. Hari, Om prakoti surya. Prakasam candra koti. Mantra-mantra
sadaksaram sarwa dewa. Pita swayambhu bhargo dewasya dimahi. Om Sadaksaram maha
mantra. Redistam parama sadakam. Sada Siwa angga ityuktam. Maha pataka wigna winasanam.
Om toyam, gandham, akasatham, puspham. Dhupam samarpayami ya namah swaha. Om Surya,
jyotir-jyotir dhupam samarpayami ya namah swaha.
Sembah III (sarana kwangen): nguleng ring Ida Bhatara sane malinggih ring pura amongan
krama/jro. Mangku puja sane keanggen Puja Istadewa (wenten ring lepitan ring ungkur)
kalanturang antuk Puja:
Om namo dewaya adistanaya. Sarwo wyapi siwaya. Padmasana
ekaprastitaya. Ardhanareswari ya namo namah swaha.
Sembah IV (sarana kwangen): nunas asung kertha wara nugrha ring Ida Bhatara. Om anugraha
manohara. Dewa dattanugrahaka. Hy arcanam sarwa pujanam. Namah
sarwanugrahaka. Dewa dewi maha siddhi. Yajni katam mulat midam. Laksmi siddhic
ca dirghayuh. Nirghna sukha wrddhitah.
Sembah V (tanpa srana sekar) ngaturang Dewa suksma ring Ida Bhatara. Om dewa suksma
parama cintya ya namah swaha.
1.
Upacara pepranin
Sadurung ida bhatara masineb, keriyinin antuk pepranin. Ida bhatara kairing ka jaba tengah jagi
nyuryanin tur mapaica asung kertha waranugraha ring pekraman sami. Katuntun antuk
rarejangan olih istri-istri. Kamanggala olih dane jro Kelihan pura mwah Jro Mangku. Wusan punika
Ida Bhatara malih ngeranjing ka jeroan raris malinggih ring pengaruman jagi katurang banten
panyineban.
2.
Upacara penyineban. Pemargine pateh sekadi ngaturin piodalan. Uningang tur ayabang
banten panyinebane seka siki.
3.
Makincang kincung (maledang-ledang). Lanang istri mangda masolah. Sane istri nyolahang
canang sari, sane lanang nyolahan penawing. Jro Mangku mwah pesutri ngilenang pasepan, toya,
tetabuhan arak, tuak berem. Dane Jro Mangku nguncarang puja panyineban (ngantukang Ida
Bhatara ke Swargaloka): Ma
Om am giri patim wande . Loka natham jagat patim. Dhanesam trana karanan.
Sarwa gunam mahaujasan1
Om maha rudram maha suddham.Sarwa roga winasanam.Siwam parama samyuktham.Maha
bhairawi karanam2
Om purwa bhrami maha dewi. Agnyo syan maheswari. Daksina kauberi dewi
Nairiti Waisnawi Dewi3.
Pascima Mahadewi. Wayabhyam Raudri tri dewi.Utara Sri Dewi. Airsanyam Gayatri Dewi 4
Madya Sawitri Gayatri. Uma tattwa maha dewi.Om Am Um, Am Um, Am Um.Om Sri Dewi
Sangkara swaha5
Paketis:
Om grim dewa samsharaya namah swaha
4.
Om ksama swa mam siwa dewa. Jagat natha hitang kara. Sarwa papa wimuktena. Pranamyahan
sureswaram1
Om anugraha manohara. Dewa dattanugrahaka. Hy arcanam sarwa pujanam. Namah
sarwanugraha2
Dewa-dewi maga siddhi. Yajni katam mulat midam. Laksmi siddic ca dirghayuh. Nirghna sukha
wrddhitah3
Om gram anugrahacanaya namo namah swaha. Om grim anugraha mamo haraya namo namah
swaha4
5.
Ida Bhatara tedun saking bale pengaruman raris ngider tengen ping tiga
6.
Wusan ngider tengen ping tiga pralingga Ida Bhatara mangda genahang ring bale
pahiasan.
7.
Puput
2.
Om giri-putri dewa-dewi. Lokasraya maha-dewi. Uma Gangga Saraswati. Gayatri Waisnawi dewi 1
Catur-fewya maha-sakti. Catur asrama bhatari. Siwa-jagat-pati-dewi. urga-masarira-dewi 2
Sarwa-jagat-pranamyanam. Jagat-wighna-wismurcanam. Durga bhu-cara-moksanam. Sarwadukha-wimoksanam3
Anugrahamartha-bhumi. Wighana-dosa-winasanam. Sarwa-papa-winasanam. Sarwa-patakanasanam4
Om dewadewi maha-jnanam. Sudha-wighna-bhuwaneswari. Sarwa-jagat-pratisthanam. Sarwadewanugrahakam5
4.
Om jala nidhi murti dewam. Brahma Wisnu ma sariram. Ghgoralaya ghora-ghumitam. Rudra
murti ghorantaram
Baruna dewa maha linggam. Naga raja ghorantaram. Bujaga dewam kruranam. Sarwa jagat
asthityanam
Kurmaraja kurma dewa. Naga rajam sakti wiryam. Nanta bhogam ca salinggam. Sarwa jagat
prawaksyanam Brahma Wisnu Iswara c. Agni Mandala pradipta. Surya koti prabhawanam. Jagat
triya namo stute.
Giri-pati maha-sakti. Ratnakara prawaksyanam. Rudra-murt Kala murti. Sarwa jagat namo-stute
Naga raja Baruna dewam. Wisnu ma-sarira dewam. Sarwa jagat wisuddhanam. Sarwa wighna
wiansanam.
Om amrtha sanjiwani dewam. Suddha sarira dewatam. Dirghayusam jagat trayam. Sarwa papa
winasanam
5.
Puja ring Pura Ulun Danu, nunas toya lan mangda lanus sarwa tinandur
Om Idra Giri Putri wiryam. Sri Gangga Uma dewi ca. Saraswati wiryam diwyam. Amrtha bhumi
sudha jiwam.
Narmada bhogam apnuyat. Amrtha waranugrahakam. Surya nadi swargatana. Sarwa dewam
namamy aham
Amrtha kamandalu nityam. Pratistham tu sarwa jiwam. Uma Dewi labha-bhukti. Amrtha bhumi
sodhanakam
Sri Gangga dewi pratistha. Jagra bhuwana suddha wiryam. Nirmala amrtha jiwitam. Sarwa roga
winasanam
Gangga gauri maha wiryam. Sarwa papa winasanam. Roga pati Durga dewi. Gangga dewi
sariranam.
Sarwa jagat suddha nityam. Amrtha bhumi nugrahakam. Sarwa Kali praharanam. Sarwa dukha
wimoksanam.
6.
Om candra mandala sampurna. Candro yam te pranayate. Candradhipa param jyotir. Namas
Candra namo stute
Siddhi raga namo stute. Dara gopati padanam. Wimsat sapta taranwita. Namas Candra namo
stute
Karma saksi jagac caksuh. Sarwabharana-bhusita. Sweta panca kalaruna. Namas candra namo
stute
Kumodotpala hastan ca. Sarwari dipa manggalam. Dharma dharma sayampasyam. Namas
Candra namo stute
Puja Ring Dewi Sri (Rainan soma ribek/mantenin padi ring lumbung)
Om Sridewimaha waktram. Catur warna catur buja. Pradnya wirya siradnyenyah. Cintamani kuru
samretah.
Sri Canduli maha dewi. Sri matha maha sobitem. Dadi sime sika nityem. Niwitam certa
kencanam
Sri dadia bajia twa dewam. Prana tanduli sadnyikah. Mani ratna tata puniyem. Sarwa ratna tata
puniyem. Sarwa ratna guna nitah
Sri dana dewi kebamiem. Sarwa rupa wati tasia. Sarwadnya kamita datiyam. Sri Sri dewi
namostute.
8.
Om Brahma Wisnu Iswara Rudra. Rudra dewa jawe nama. Rudra Sangkara bupatiyam. Dewa dewi
namao namah.
Karam sada Siwa dewam. Jagatam sarwa pujanam. Upanam sadanam mretham. Suci dewa Sri
Sedanam
Kawatam nugraham mretham. Kania wati Siwa rupam. Dando upadrawa sampurnam. Kretha
bhuwanam sada samretham
9.
Puja Saraswati
Om Saraswati namas tubyam. Warade kama rupini. Siddharambham karisyami. Siddhir bhawantu
mesada.
Om pranamya sarwa dewams ca. Paratmatmanam ewa ca. Rupa siddhi prayukta ya. Saraswatim
namamy aham.
Padma patram wisalaksi. Padma kesara warnini. Nityam padmalaya dewi. Sa mam patu
Saraswati
Brahma putri maha dewi. Brahmanya Brahma nandini. Saraswati samjnayani. Prayanaya
Saraswati
Kawyam waykaranam tarkam. Weda sastra puranakam. Kalpa siddhini tantrani. Twat prasadat
samarabet.
Sulabha twam swara mantram. Sirbheyam phalakam subem. Sarwa klesa winasanam. Santi
twam sang Gatot manam.
Atanirasa hasram. Sarwa roga winasanam. Twam nama sarwa siddhyastu. Sarwa karya
prasidhantam.
Om Sang Saraswati sweta ya namah. Om Bam Saraswatu Rakta warna ya namah. Om Tam
Saraswati pita warna ya namah. Om Am Saraswati krsna warna ya namah. Om Im Saraswati
Wiswa warna ya namo namah swaha.
10. Puja sang Hyang Guru Kamulan
Om dewi dewi tri dewanam. Tri murti tri langgatmanam. Tri purusa suddha nityam. Sarwa klesa
winasanam.
Om gur dewa guru rupam. Guru madya guru purwam. Guru pantara dewam. Guru dewa sudha
nityam.
Om brahma Wisnu Iswara dewah. Jiwatmanam tri lokanam. Sarwa jagat pratistanam. Suddha
klesa winasanam.
Sarwa roga winurcitam. Sarwa wighna winasanam. Wighna dosa winasanam. Om sri guru paduka
bhyo namah.
11. Puja Ring Ibu (Dewa Hyang): Pertiwi stwa:
Om prtiwi sariram dewi. Catur dewa maha siddhi. Catur bhatara asrama. Siwa bumi maha siddhi
Om ring purwa ksti bhasundari. Siwa pati putra yoni. Uma durga gangga gauri. Brahma bhatari
waisnawi.
Maheswari sang kumari. Gayatri bhairawi gauri. Harsa siddhi maha wari.Indrani camundi dewi.
Om am pitara ya namah. Om am prapita ya namah
Om mam pita ya namah. Om mam prapita ya namah
Om im pita ya namah. Om im prapita ya namah
Om sri sri Prajapati ya namah.
Om Puspam, ghandan, aksatam dhupam kesa siwa ya namah
12. Puja ring Kawitan (Pradnya Paramita Stawa):
Om pradnya paramita dewam. Jagatam tusti karanam. Satwe somya pinam mitram. Mudra
pranamya ta hinam.
Bhagawati nama syami. Saradi matram dewatam. Kumara matranam dewam. Sarwa pradawa
tan hine.
Twam namamy maha dewi. Om am ah um iti matramca. Yewama subiktwa klesam. Aham banda
namuktaye.
13. Puja Ida Bhatari Uma (ritatkala upacara biyu kukung)
Om purwa tilem nama siami. Mudra patni tapa sini. Daya wanten subha sada. Seta nugraha
karana.
Gorimu manawa siami. Rudra deha dewa siddhi. Yasa swinem guha watem. Bhakta nugrahaka
karanam.
Sata satam nama siami. Bhawanam bhakta watulan. Guwa siama ari dewi. Tubhyam netya namo
namah swaha.
14. Puja Bhatara Semara
Om Am Predana samyogaya. Windu dewaya bhakta jagat. Nataya dewa-dewi samyogaya. Om
siddhir astu ya namah swaha.
Om anangga karpini patni. Puspani mandini tata. Kama dana wati patni. Madani madanas tata.
Kama dewa suswa nisca. Sri magi makara duaja. Kadarpa soma watisca. Sri jaye citha mam
matha
Kama dewa wati patni. Sweri smara rare waca. Atanuh mandini patni. Mana sijasca tarini.
Om purwa Iswara sweta. Uma dewi Smara dewi. Sarwa bheda Smara sweta. Kama suddha
pratistanam.
Om daksina Brahma smara rakta. Saraswati smara dewi. Pascima Mahadewa smara pita. Saci
dewi smara dewi.
Om Utara Wisnu Smara krsna. Sri dewi smara dewi. Madya Siwa smara wiswa. Gana dewi smara
wiswa. Sarwa beda smara wiswa. Kama sudha pratistanam.
Om pranamya sangHyang samara. Perabadi asta kamaste. Saha smara ya dewisca. Misra sandhi
sukma jnanam.
Om Hram Hrim sah Parama Siwaaditya Chandra smara ratih ya namah
15. Istadewata ritatkala ngemargiang kramaning sembah
1.
Ring Pemerajan
2.
Pura Desa
Om isanah sarwa widyanam
Jagat pratistanam
3.
4.
Pura Dalem
Om catur asrame bhatari
Siwa Jagatpati dewi
Pura Puseh
6. Puja Saraswati
Brahma putri maha dewi
Saraswati samjnayani
Prayanaya Saraswati
Om saraswati dipata ya
swaha
namah swaha
PUPUT
Ring Pemerajan
Om Brahma Wisnu Iswara Dewah
Jiwatmanam Tri Lokanam
Om catur diwya mahasakt Sarwa
Jagat pratistanam
Om guru paduka dipataya namah
Twam namamy maha dewi. Om am ah um iti matramca. Yewama subiktwa klesam. Aham banda
namuktaye.
Om purwa Iswara sweta. Uma dewi Smara dewi. Sarwa bheda Smara sweta. Kama suddha
pratistanam.
Om daksina Brahma smara rakta. Saraswati smara dewi. Pascima Mahadewa smara pita. Saci
dewi smara dewi.
Om Utara Wisnu Smara krsna. Sri dewi smara dewi. Madya Siwa smara wiswa. Gana dewi smara
wiswa. Sarwa beda smara wiswa. Kama sudha pratistanam.
Om pranamya sangHyang samara. Perabadi asta kamaste. Saha smara ya dewisca. Misra sandhi
sukma jnanam.
Om Hram Hrim sah Parama Siwaaditya Chandra smara ratih ya namah
Puja Ring Dewi Sri (Rainan soma ribek/mantenin padi ring lumbung)
Om Sridewimaha waktram. Catur warna catur buja. Pradnya wirya siradnyenyah. Cintamani kuru
samretah.
Sri Canduli maha dewi. Sri matha maha sobitem. Dadi sime sika nityem. Niwitam certa
kencanam
Sri dadia bajia twa dewam. Prana tanduli sadnyikah. Mani ratna tata puniyem. Sarwa ratna tata
puniyem. Sarwa ratna guna nitah
Sri dana dewi kebamiem. Sarwa rupa wati tasia. Sarwadnya kamita datiyam. Sri Sri dewi
namostute.
Masila pened
10)
Pranayama
Sembah I (tanpa sarana sekar) Ma: ngelinggihang miwah nunggilang manah ring Ida
Bhatara. Om atma tattwatma sudhamam swaha.
Sembah II (sarana sekar putih) Ma: nguleng ring Ida Bhatara Siwa Raditya maka upasaksi
pebhaktianne. Om Adityasya paranjyotir. Rakta tejo namo stute. Swetha pangkaja
madyastham. Bhaskara ya namo stute.
Sembah III (sarana kwangen): nguleng ring Ida Bhatara sane malinggih ring pura amongan
krama/jro. Mangku puja sane keanggen Puja Istadewa (wenten ring lepitan ring ungkur)
kalanturang antuk Puja:
Om namo dewaya adistanaya. Sarwo wyapi siwaya. Padmasana
ekaprastitaya. Ardhanareswari ya namo namah swaha.
Sembah IV (sarana kwangen): nunas asung kertha wara nugrha ring Ida Bhatara. Om anugraha
manohara. Dewa dattanugrahaka. Hy arcanam sarwa pujanam. Namah
sarwanugrahaka. Dewa dewi maha siddhi. Yajni katam mulat midam. Laksmi siddhic
ca dirghayuh. Nirghna sukha wrddhitah.
Sembah V (tanpa srana sekar) ngaturang Dewa suksma ring Ida Bhatara. Om dewa suksma
parama cintya ya namah swaha.