Anda di halaman 1dari 21

Kewirausaan

Mata kuliah kewirausaan sangat diperlukan oleh mahasiswa bukan hanya


untuk menjadi pengusaha namun lebih ditekankan pada konsep dasar kewirausaan
serta teori dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dan diharapkan
mahasiswa dapat menumbuhkan jiwa kewirausaan yang didalamnya juga
dibangun jiwa kepemimpinan dengan integritas tinggi agar mahasiswa mampu
menjadi seorang pemimpin dimasa depan tidak hanya dipimpin tapi setidaknya
dapat memimpin dirinya sendiri. Pada mata kuliah kewirausaan dipelajari terlebih
dahulu arti umum, khusus dan konsep dasar dari kewirausaan.
Pengertian kewirausahaan secara umum adalah kewirausahaan adalah suatu
proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru atau kreatif dan berbeda (inovatif)
yang bermanfaat dalam memberikan nilai lebih.
Menurut Drs. Joko Untoro bahwa kewirausahaan adalah suatu keberanian untuk
melakukan upaya upaya memenuhi kebutuhan hidup yang dilakukan oleh
seseorang, atas dasar kemampuan dengan cara manfaatkan segala potensi yang
dimiliki untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain
Dalam buku Entrepreneurial Finance oleh J.Leach Ronald Melicher bahwa
kewirausahaan adalah sebuah proses dalam merubah ide menjadi kesempatan
komersil dan menciptakan nilai (harga) Process of changing ideas into
commercial
opportunities
and
creating
value
Dalam buku Entrepreneurship: Determinant and Policy in European-Us
Comparison bahwa kewirausahaan adalah proses mempersepsikan, menciptakan,
dan mengejar peluang ekonomi process of perceiving, creating, and pursuing
economic opportunities. Akan tetapi dikatakan dalam buku tersebut, bahwa
proses
dari
kewirausahaan
itu
sendiri
sulit
untuk
diukur.
Menurut Bapak Eddy Soeryanto Soegoto bahwa kewirausahaan atau
entrepreneurship adalah usaha kreatif yang dibangun berdasarkan inovasi untuk
menghasilkan sesuatu yang baru, memiliki nilai tambah, memberi manfaat,
menciptakan lapangan kerja dan hasilnya berguna bagi orang lain.
Pengertian kewirausahaan menurut Ahmad Sanusi (1994) kewirausahaan adalah
suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan sumber daya, tenaga
penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses, dan hasil bisnis
Pengertian kewirausahaan menurut bapak Soeharto Prawiro (1997) adalah suatu
nilai yang dibutuhkan untuk memulai usaha dan mengembangkan usaha.
Pengertian kewirausahaan menurut Drucker (1959) bahwa kewirausahaan adalah
kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda
Pengertian kewirausahaan menurut Zimmerer (1996) adalah suatu proses
penerapan kreativitas dan keinovasian dalam memecahkan persoalan dan
menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan usaha
Pengertian kewirausahaan menurut Siswanto Sudomo (1989) Kewirausahaan atau
entrepreneurship adalah segala sesuatu yang penting mengenai seorang wirausaha,

yakni orang yang memiliki sifat bekerja keras dan berkorban, memusatkan segala
daya dan berani mengambil risiko untuk mewujudkan gagasannya.
Setelah mengetahui tentang pengertian kewirausahaan, maka sudah barang tentu
kita tahu apa arti wirausaha itu sendiri. Hal itu karena pengertian wirausaha
sederhananya adalah orang yang menjalankan wirausaha itu sendiri. Berikut tiga
ahli yang memberikan tanggapan tentang apa pengertian wirausaha atau
entrepreneur itu.
1. Wirausaha atau enterpreneur adalah orang yang memiliki kemampuan
melihat dan menilai kesempatan kesempatan bisnis mengumpulkan
sumber sumber daya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan
daripadanya serta mengambil tindakan yang tepat, guna memastikan
kesuksesan (Geoffrey G. Meredit et ak, 1995)
2. Enterpreneur atau wirausaha adalah seseorang yang mengambil risiko
yang diperlukan untuk mengorganisasikan dan mengelola suatu bisnis
menerima imbalan jasa berupa profit nonfinancial (Skinner, 1992).
3. Wirausaha atau entrepreneur adalah orang yang memiliki kemampuan
untuk melakukan koordinasi, organisasi dan pengawasan. Wirausaha
memiliki pengetahuan yang luas tentang lingkungan dan membuat
keputusan keputusan tentang lingkungan usaha, mengelola sejumlah
modal dan menghadapi ketidakpastian untuk meraih keuntungan (Say,
1996).
Ciri ciri Wirausaha
Seseorang dikatakan wirausaha sudah tentu memenuhi definisi wirausaha
itu sendiri, untuk lebih jelasnya silahkan dibaca ciri ciri wirausaha dibawah ini:
1. Memiliki keberanian mempunyai daya kreasi
Seorang wirausaha haruslah memiliki keberanian dalam memiliki daya kreasi atau
tidak takut untuk bermimpi dan merencanakan. Segala ketakutan akan sia sia
dalam bermimpi dan berencana haruslah dihilangkan. Setidaknya harus diingat
STOP (Stop berhenti, Think berpikir, Observation Observasi dan Plan
rencana) apabila terjadi hal hal yang membuat ide tersebut tertunda atau
mandek.
2. Berani mengambil risiko
Seseorang dikatakan wirausaha apabila memiliki sifat berani mengambil risiko,
hal ini tentu saja harus sejalan dengan perencanaan yang sebelumnya telah
dilakukan serta pengamatan yang dilakukannya terhadap ide yang dimilikinya.
3. Memiliki semangat dan kemauan keras
Seorang dapat dikatakan wirausaha selain berani mengambil risiko haruslah
memiliki semangat dan kemauan yang keras untuk sukses

4. Memiliki analisis yang tepat


Seseorang dapat dikatakan wirausaha apabila memiliki pengetahuan yang tepat
untuk membuat analisis yang tepat, diusahakan mendekati 100 % benar
5. Tidak konsumtif
Ini adalah penyakit untuk masa sekarang. Seorang wirausaha haruslah tidak
konsumtif atau setidaknya, konsumsinya jauh lebih sedikit dari penghasilannya
6. Memiliki jiwa pemimpin
Jiwa pemimpin harus dimiliki seorang wirausaha. Dengan ini, mereka mampu
mengembangkan usaha mereka menjadi lebih maju.
7. Berorientasi pada masa depan
Sudah jelas, bila anda seorang wirausaha yang inovatif dan kreatif dan memiliki
ciri ciri wirausaha yang lain maka anda akan memiliki kemampuan ini.
Ciri ciri kewirausahawan yang handal dan profesional
1. Yakin terhadap produk yang dimiliki
2. Mengenal sangat banyak produknya
3. Tidak berdebat dengan calon pelanggan
4. Komunikatif dan negosiasi Ramah dalam pelayanan
5. Santun Jujur dan berani
6. Menciptakan transaksi
Selanjutnya kita akan membahas tentang jiwa kewirausahaan. Jiwa wirausaha
adalah jiwa kemandirian untuk mencari sebuah sumber penghasilan dengan
membuka usaha ataupun menyalurkan kreatifitas yang dimiliki sesorang untuk
kemudian dijadikan sebuah lahan untuk mencari penghasilan, jiwa kewirausahaan
ditanamkan sejak seseorang mulai sadar bahwa uang itu penting dan seseorang
tersebut memeliki keterampilan atau sesuatu hal seperti barang atau jasa yang bisa
dijual, sesorang akan belajar untuk lebih mandiri, berfikir kritis, dan maju apabila
ditanamkan jiwa kewirausahaan sejak dini, kerena dia akan berfikir tentang
bagaimana mengolah hasil dari keterampilan ataupun hasil pembelajaran yang
selama ini dia lakukan untuk dijadikan sebuah karya yang dapat dijual, entah itu
makanan,
pakaian,
jasa,
atau
barang-barang
lain.
Jiwa wirausaha dapat berkembang seiring dengan inginnya seseorang mencari
penghasilan dari faktor keadaan ekonomi yang tidak mendukung, sehingga
banyak jiwa kewirausahaan yang tertanam dibenak seseorang akibat desakan
ekonomi tersebut, umur bukanlah ukuran untuk menanamkan jiwa kewirausahaan

tapi kesadaran akan betapa bernilainya uang untuk dihasilkan, karena banyak dari
para wirausahawan memiliki keinginan berwiraswasta karena timbul keinginan
terbesar
yaitu
mencari
uang.
Umur bukanlah suatu ukuran untuk ditanamnya jiwa kewirausahawan, namun
kesadaran akan betapa bernilainya suatu ilmu untuk dapat dijadikan sebuah lahan
untuk sebuah wirausaha, atau kapan desakan ekonomi mulai muncul maka jiwa
irausaha patut untuk ditanamkan secara mendalam agar potensi-potensi
kewirausahaan dari seseorang dapat timbul. Selain itu sebagai seorang wirausaha,
wirausahawan harus memilki jiwa kepemimpinan.
Kepemimpinan dalam Kewirausahaan
Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh
pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Seorang
pemimpin harus menguasai teori karakter kepemimpinan, yaitu teori-teori yang
berkaitan dengan mencari karakter kepribadian, sosial, fisik atau intelektual yang
membedakan seorang pemimpin dan yang bukan pemimpin. Kebanyakan orang
masih cenderung mengatakan bahwa pemimpin yang efektif mempunyai sifat atau
ciri-ciri tertentu yang sangat penting, misalnya, kharisma, pandangan ke depan,
daya persuasi, dan intensitas.
Kewirausahaan atau wirausaha adalah proses mengidentifikasikan,
mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa
berupa ide inovatif, peluang, cara yang lenih baik dalam menjalankan sesuatu.
Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada
kondisi resiko atau ketidakpastian. Soorang wirausahawan mempunyai cara
berpikir yang berbeda dari manusia pada umumnya. Mereka mempunyai motivasi,
panggilan jiwa, persepsi, dan emosi yang sangat terkait dengan nilai-nilai, sikap
dan perilaku sebagai manusia unggul.
Karena kepimpinan merupakan proses mengarahkan perilaku orang lain ke arah
pencapaian suatu tujuan tertentu, maka pengarahan dalam hal ini berarti
menyebabkan oarng lain bertindak dengan cara tertentu atau mengikuti arah
tertentu. Wirausahawan yang berhasil merupakan pemimpin yang berhasil
memimpin para karyawannya dengan baik. Seorang pemimpin dikatakan berhasil
jika percay pada pertumbuhan yang berkesinambungan, efisiensi yang meningkat
dan keberhasilan yang berkesinambungan dari usahanya.
Para wirausahawan memiliki gaya kepimpinan yang berbeda, mereka
mengembangkan gaya kepemimpinan mereka sendiri sesuai dengan karakter

pribadi mereka dalam memajukan usahanya.


Memimpin tidaklah sama dengan mengelola (manage). Walaupun beberapa
wirausahawan adalan seorang pemimpin dan beberapa pemimpin adalah
wirausahawan. Memimpin dan mengelola bukanlah merupakan aktifitas yang
identik. Kepemimpinan adalah bagian dari manajemen. Sedangkan pengelolaan
(manage) adalah bidang yang lebih luas dibandingkan memimpin.
Sikap-sikap pemimpin yang sukses dalam berwirausaha:
1. Memiliki tujuan yang jelas untuk dicapai, artinya ia memiliki mempunyai
pendirian, fokus diri, keyakinan akan keputusannya, kemampuan dalam
memutuskan, dan berdaya tahan.
2. Memiliki tanggung jawab.
3. Memiliki integritas (nilai yang sejati).
4. Memiliki kreatifitas.
5. Memiliki keberanian.
6. Memiliki kesabaran.
7. Mampu mendengar.
8. Memiliki antusiasme.
Pentingnya kepemimpinan dalam berwirausaha:
1. Agar dalam pelaksanaan berwirausaha dapat teroganisir dengan baik.
2. Dalam berwirausaha dibutuhkan sosok yang dapat memimpin dan bertanggung
jawab dalam mengurus atau mengelola suatu usaha.
3. Pemimpin adalah jabatan tertinggi yang memiliki tugas-tugas yang sangat
penting dan vital dalam kewirausahaan, seperti pengambilan keputusan,
penanggung jawab tindakan yang dilakukan bawahannya, dan memberikan
wewenang.
4. Bila dalam mengelola suatu usaha tidak ada pemimpin, maka akan terjadui
kekacauan dan kerancuan dalam pembagian tugas yang akan mengakibatkan
kebangkrutan.
5. Pemimpin merupakan syarat utama dalam berwirausaha.

Pengertian Kepemimpinan menurut para ahli


Adapun beberapa pengertian kepemimpinan menurut para ahli yaitu:
Pengertian kepemimpinan menurut Hemhill dan Coons adalah perilaku dari
seorang individu yang memimpin aktivitas-aktivitas suatu kelompok ke suatu
tujuan yang ingin dicapai bersama (shared goals). Pengertian kepemimpinan

menurut Tannenbaum, Weschler dan Masarik menyatakan bahwa


kepemimpinan adalah Pengaruh antar pribadi yang dijalankan dalam suatu situasi
tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi, ke arah pencapaian satu atau
beberapa tujuan tertentu. Pengertian kepemimpinan menurut Stogdill
menyatakan bahwa kepemimpinan adalah pembentukan awal serta pemeliharaan
struktur dalam harapan dan interaksi. Pengertian kepemimpinan menurut Katz
dan Kahn menyatakan bahwa adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit
pada , dan berada di atas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan-pengarahan
rutin organisasi. Pengertian kepemimpinan menurut Rauch dan Behling
menyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi aktivitasaktivitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan.
Pengertian kepemimpinan menurut Jacobs dan Jacques menyatakan bahwa
kepemimpinan adalah suatu proses memberi arti atau pengarahan yang berarti
terhadap usaha kolektif dan yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan
usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran. Pengertian kepemimpinan
menurut Hosking adalh mereka yang secara konsisten memberi kontribusi yang
efektif terhadap orde sosial yang diharapkan dan dipersepsikan melakukannya
Pengertian kepemimpinan menurut S.P. Siagian menyatakan bahwa
kepemimpinan adalah suatu keterampilan dan kemampuan dari seseorang yang
telah menduduki jabatan menjadi pimpinan dalam sebuah pekerjaan dalam
mempengaruhi tindakan orang lain, terutama kepada bawahannya agar berfikir
dan bertingkah laku sedemikian rupa sehingga melalui tingkah laku positif ini
dapat memberikan sumbangan yang nyata didalam pencapaian tujuan organisasi.
Pengertian kepemimpinan menurut Prof. Kimbal Young menyatakan bahwa
kepemimpinan adalah suatu bentuk dominasi yang disengaja atau disadari oleh
kemampuan pribadi yang mampu mendoring atau mengajak kepad aorang lain
dalam melakukan sesuatu berdasarkan atas penerimaan oleh kelompoknya dan
mempunyai keahlian yang khusus secara tepat bagi situasi yang khusus.
Pengertian kepemimpinan menurut Ordway tead dalam bukunya The Art Of
LeaderShip yang menyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu kegiatan dalam
mempengaruhi orang-orang agar mereka ingin bekerja sama dalam mencapai
tujuan yang kita inginkan.Pengertian kepemimpinan menurut George R. Terry
menyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu kegiatan untuk mempengaruhi
orang-orang agar mereka menyukai untu berusaha dalam mencapai tujuan-tujuan
kelompok atua organisasi. Pengertian kepemimpinan menurut Howard H. Hoyt
menyatakan bahwa kepemimpinan adalah seni untuk bisa mempengaruhi segala
tingkahlaku dari manusia, dan memiliki kemampuan dalam membimbing
seseorang.
Itulah tadi beberapa pengertian kepemimpinan menurut pandangan para ahli.
Kebanyakan pengertian kepemimpinan mencerminkan asumsi bahwa

kepemimpinan menyangkut sebuah proses pengaruh sosial yang dalam hal ini
pengaruh yang disengajai untuk dijalankan oleh seseorang terhadap organisasi
atau kelompok. Berbagai pengertian kepemimpinan yang sudah ditawarkan tapi
kelihatannya tidak berisi hal-hal selain itu. Pengertian tersebut berbeda dalam
berbagai aspek, termasuk didalamnya siapa yang menggunakan pengaruh, sasaran
yang ingin diperoleh dari pengaruh tersebut, cara bagaimana pengaruh tersebut
digunakan, serta hasil dari uasaha menggunakan pengaruh tersebut. Perbedaanperbedaan tersebut bukan hanya merupakan sebuah hal akademis yang dicari-cari.
Ia mencerminkan adanya ketidaksesuaian yang mendalam mengenai identifikasi
dari para pemimpin serta proses kepemimpinan. Perbedaan-perbedaan didalam
pemilihan fenomena untuk melakukan penyelidikan dan kemudian menimbulkan
perbedaan-perbedaan dalam mengeinterpretasikan hasilnya.
Teori-teori kepemimpinan (Leadership theory)
Teori kepemimpinan yaitu teori genetis dimana menjelaskan bahwa seseorang
akan dapat menjadi pemimpin karena ia telah dilahirkan untuk bisa menjadi
pemimpin; dia telah memiliki bakat dan mempunyai pembawaan untuk bisa
menjadi pemimpin. Menurut teori kepemimpinan seperti teori genetis ini
mengasumsikan bahwa tidak setiap orang dapat menjadi pemimpin, hanya
beberapa orang yang memiliki pembawaan dan bakat saja yang dapat menjadi
pemimpin. Hal tersebut memunculkan Pemimpin tidak hanya sekedar dibentuk
tapi
dilahirkan.
Teori kepemimpinan yang kedua yaitu teori sosial yang menyatakan bahwa
seseorang akan dapat menjadi pemimpin karena lingkungannya yang mendukung,
keadaan dan waktu memungkinkan ia bisa menjadi pemimpin. Setiap orang dapat
memimpin asal diberikan kesempatan dan diberikan pembinaan untuk dapat
menjadi pemimpin meskipun ia tidak memiliki pembawaan atau bakat. Adapun
istilah dari teori kepemimpinan sosial ini yaitu Pemimpin itu dibentuk bukan
dilahirkan.
Teori kepemimpinan yang ketiga yaitu teori ekologis, dalam teori kepemimpinan
ekologis ini menyatakan bahwa gabungan dari teori genetis dan sosial, dimana
seseorang akan menjadi pemimpin membutuhkan bakat dan bakat tersebut mesti
selalu dibina agar berkembang. Kemungkinan untuk bisa mengembangkan bakat
tersebut
itu
tergantung
dari
lingkungannya.
Teori kepemimpinan yang keempat yaitu teori situasi, dalam teori kepemimpinan
situasi ini menyatkaan bahwa seseorang dapat menjadi pemimpin ketika berada
dalam situasi tertentu karena dia memiliki kelebihan-kelebihan yang dibutuhkan
dalam situasi tersebut. Akan tetapi pada situasi yang lainnya, kelebihannya
tersebut tidak dibutuhkan, akhirnya ia tidak akan menjadi pemimpin lagi, bahkan
bisa
jadi
menjadi
pengikut
saja.

Oleh karena itu, jika seorang ingin menjadi pemimpin dan ingin meningkatkan
kecakapannya dan kemampuannya dalam memimpin maka dibutuhkan untuk bisa
mengetahui segala ruang lingkup gaya kepemimpinan yang efektif. Adapun para
ahli dalam bidang kepemimpinan sudah meneliti dan mengembangkan beberapa
gaya kepemimpinan yang berbeda dimana sesuai dengan adanya evolusi dari teori
kepemimpinan. Untuk ruang lingkupnya, gaya kepemimpinan terbagi atas tiga
pendekatan yaitu pendekatan sifat kepribadian pemimpin, dan pendekatan
perilaku pemimpin dan pendekatan situasional atau kontingensi.
Tipe
dan
Gaya
kepemimpinan
Pemimpin itu memiliki sifat, kebiasaan dan watak serta kepribadian yang khas.
Dari tingkah laku dan gayanya lah yang dapat membedakan dirinya dibanding
orang lain. Gaya tentunya akan selalu dapat mewarnai perilaku dan tipe seseorang
dalam pemimpin atau gaya kepemimpinan.

Teori Kepemimpinan Awal


Teori kepemimpinan awal berfokus pada pemimpin (teori ciri) dan cara pemimpin
berinteraksi dengan anggota kelompok (teori perilaku). Enam ciri terkait
kepemimpinan yang efektif.
a.
Dorongan,
b.
Kehendak untuk memimpin,
c.
kejujuran dan integritas
d.
Kecerdasan
e.
Kepercayaan diri
f.
Pengetahuan terkait pekerjaan
kepemimpinan awal itu berfokus pada pemimpin (teori ciri) dan cara pemimpin
itu berinteraksi dengan anggota kelompoknya (teori perilaku).

Teori ciri
Riset kepemimpinan di tahun 1920-an dan 1930-an berfokus pada ciri pemimpin
karakteristik yang mungkin digunakan untuk membedakan pemimpin dari non
pemimpin. Maksudnya adalah mengisolasi saru ciri atau lebih yang dimiliki
pemimpin, tetapi tidak memiliki non pemimpin. Beberapa ciri yang dipelajari itu
meliputi postur fisik, penampilan, kelas social, stabilitas emosi, kecekatan
berpidato, dan kemampuan bersosialisasi. Adapun tujuh ciri yang terkait dengan
kepemimpinan yang efektif meliputi hasrat, keinginan memimpin, kejujuran dan
integritas,kepercayaan diri, kecerdasan, dan pengetahuan yang terkait dengan
pekerjaan dan ekstraversi.


Teori perilaku
Teori-teori kepemimpinan yang mengenali perilaku dengan membedakan antara
pemimpin yang efektif dan yang tidak efektif. Para peneliti berharap bahwa
pendekatan teori perilaku akan memberikan jawaban yang lebih pasti tentang sifat
kepemimpinan daripada teori ciri perilaku. Ada 4 studi perilaku pemimpin utama
yang perlu kita lihat :
1. Studi Universitas Iowa
Studi universitas iowa mempelajari tiga gaya kepemimpinan. Gaya otokratis
menggambarkan pemimpin yang cenderung memusatkan wewenang, mendiktekan
metode kerja, membuat keputusan unilateral, dan membatasi partisipasi
karyawan.

Gaya demokratis menggambarkan pemimpin yang cenderung

melibatkan karyawan dalam mengambil keputusan, mendelegasikan wewenang,


mendorong partisipasi dalam memutuskan metode dan sasaran kerja, dan
menggunakan umpan balik sebagai peluang untuk melatih karyawan. Gaya
laissez-faire menggambarkan pemimpin yang umumnya memberi kelompok
kebebasan penuh untuk membuat keputusan dan menyelesaikan pekerjaan dengan
cara apa saja yang dianggap sesuai .
2. Studi Ohio State
Studi ohio state mengenali dua dimensi penting perilaku pemimpin. Dimensi
yang pertama disebut pengusulan struktur, yaitu mengacu pada seperti apa
pemimpin mendefinisikan dan menyusun peranannya dan peran anggota
kelompok untuk mencapai sasaran. Dimensi itu meliputi perilaku yang mencakup
usaha mengorganisasi pekerjaan, hubungan kerja, dan sasaran. Dimensi yang
kedua disebut pertimbangan, yang didefinisikan sebagai seberapa jauh hubungan
kerja pemimpin bercirikan saling percaya dan hormat terhadap ide dan perasaan
para anggota kelompok.
3. Studi Universitas Michigan
Kelompok Michigan menghasilkan dua dimensi perilaku kepemimpinan, yaitu
berorientasi karyawan dan berorientasi produksi. Pemimpin yang berorientasi
karyawan digambarkan menekankan hubungan antar pribadi; mereka memberikan

perhatian pribadi ke kebutuhan para pengikutnya dan menerima perbedaan


individu antar anggota kelompok. Pemimpin yang berorientasi produksi,
sebaliknya, cenderung menekankan aspek teknis atau tugas dari pekerjaan, sangat
memerhatikan penyelesaian tugas kelompoknya, dan menganggap anggota
kelompok sebagai sarana untuk mencapai hasil.
4. Kisi manajerial
Dimensi perilaku dari studi kepemimpinan awal itu menjadi dasar untuk
pengembangan kisi-kisi dua dimensi untuk menilai gaya kepemimpinan. Kisi-kisi
manajerial itu menggunakan dimensi perilaku memerhatikan orangdan
memerhatikan produksi. Memerhatikan orang yaitu dengan mengukur perhatian
pemimpin terhadap bawahan (rendah sampai tinggi). Memerhatikan produksi
yaitu dengan mengukur perhatian pemimpin untuk menyelesaikan pekerjaan pada
skala 1 sampai 9 (rendah sampai tinggi).

Teori Kepemimpinan Kontemporer


Kepemimpinan kontemporer lebih menekankan kepada pembentukan perilaku.
Pembentukan perilaku lebih menggunakan kata-kata, gagasan, dan kehadiran
fisik untuk mengendalikan bawahan.
Kepemimpinan Kharismatik
Karisma merupakan sebuah atribusi yang berasal dari proses interaktif antara
pemimpin dan para pengikut. Atribut-atribut karisma antara lain rasa percaya diri,
keyakinan yang kuat, sikap tenang, kemampuan berbicara dan yang lebih penting
adalah bahwa atribut-atribut dan visi pemimpin tersebut relevan dengan
kebutuhan para pengikut. Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan oleh
seorang pemimpin karismatik untuk merutinisasi karisma walaupun sukar untuk
dilaksanakan. Kepemimpinan karismatik memiliki dampak positif maupun negatif
terhadap para pengikut dan organisasi.

Kepemimpinan Transformasional
Pemimpin pentransformasi (transforming leaders) mencoba menimbulkan
kesadaran para pengikut dengan mengarahkannya kepada cita-cita dan nilai-nilai
moral yang lebih tinggi. Dari teori ini memberikan suatu kejelasan tentang cara
pemimpin transformasional mengubah budaya dan strategi-strategi sebuah
organisasi. Pada umumnya, para pemimpin transformasional memformulasikan
sebuah visi, mengembangkan sebuah komitmen terhadapnya, melaksanakan
strategi-strategi untuk mencapai visi tersebut, dan menanamkan nilai-nilai baru.
Kepemimpinan Visioner
Pemimpin visioner adalah pemimpin yang memiliki karakter seorang pahlawan,
khususnya dalam hal keberanian dan sikap rela berkorban untuk kebaikan yang
lebih tinggi (greater good). Pemimpin yang visioner akan rela berkorban karena ia
dapat melihat bahwa ada sesuatu yang berharga di ujung perjuangannya.
Pemimpin yang visioner berani untuk mengambil resiko demi mencapai visi yang
diperjuangkannya. Seorang pemimpin visioner harus bisa menjadi penentu arah,
agen perubahan, juru bicara dan pelatih.
Oleh karena itu seorang pemimpin visioner harus:
o

menyusun

arah dan secara

personal sepakat untuk

menyebarkan

kepemimpinan visioner ke seluruh organisasi.


o memberdayakan para karyawan dalam bertindak untuk mendengar dan
mengawasi umpan balik.
o selalu memfokuskan perhatian dalam membentuk organisasi mencapai potensi
terbesarnya.

Faktor x dalam Kewirausahaan

Dalam bisnis, faktor x dapat diartikan sebagai kesempatan atau permasalahan

jika anda ubah, eliminasi atau selesaikan akan menghasilkan keuntungan yang
lebih dari pesaing anda.
o

Dalam istilah lain, faktor x dapat juga disebut sebagai bakat, kerja keras,

kejujuran, kecerdasan, keterampilan, penampilan fisik, sikap serta pendidikan.


Faktor X merupakan faktor yang melekat pada diri semua orang, tak berwujud
benda namun dapat dirasakan. Pada diri seorang entrepreneur faktor X sangat
mempengaruhi geraknya dalam menjalankan usaha. Awalnya faktor X tidak ada
atau sangat kecil sekali, namun apabila kita tekun maka faktor tersebut akan
muncul dan tumbuh karena ia hidup. Karena ia hidup, ia pun dapat mati.

Menemukan dan Menggali Faktor X dalam Kewirausahaan

Berikut tips yang dapat Anda lakukan dalam mengenali faktor X dalam diri :
o Kenalilah diri sendiri dan mulailah menimbulkan X pada diri.
o Carilah pintu yang mampu membuat faktor X tumbuh. Datangi dan ketuklah
masing-masing pintu itu. Pintu yang bagus adalah pintu yang di dalamnya
terdapat ruang besar untuk berkembang dan di dalamnya terdapat pintu-pintu lain
yang tentunya dapat dibuka.
o Waspadailah hidup yang nyaman karena hidup yang demikian dapat mebuat
hidup sulit. Berselancarlah pada gelombang-gelombang ketidaknyamanan dengan
berani menembus segala hal-hal baru yang sulit karena akan mendapatkan
pembelajaran-pembelajaran baru.
o Pintu yang tepat adalah pintu yang membuat merasa mampu untuk tumbuh dan
memberi ruang untuk berkembang.

Cara Mengetahui Faktor X Untuk Perusahaan :

o Pikirkan industri dari sudut pandang customer.


o Pikirkan industri dari sudut pandang pengusaha.
o Datalah jumlah permasalahan yang menyebabkan pengeluaran besar.
Contoh Sikap, Tipe dan Karakteristik Faktor X dalam Kewirausahaan
a.

Sikap

berdiam diri saja sampai anda menemukan faktor x tersebut

lakukan stimulasi untuk mengetahui apa kelebihan anda

paling utama adalah kita harus mengenal diri kita sendiri, bagaimana cara

kita mengenal diri kita sendiri

Mencatat kelebihan dan kekurangan kita.

Ambil waktu yang luang dan tenang untuk melakukan hal ini. Lalu biarkan

pikiran kita menjelajah masa lalu.

Catat prestasi-prestasi yang pernah kita lakukan, sifat-sifat kita yang baik

atau yang kurang baik atau kesukaan (hobi) yang kita miliki. Bisa juga kita minta
bantuan orang yang kita percayai dan mengenal diri kita secara dekat untuk
ditanyai tentang apa sebenarnya kelebihan dan kekurangan kita.
b.

Macam-macam Faktor X dalam Berwirausaha (Tipe)

Ada X besar dan ada pula X kecil, X besar ada di tangan orang dewasa yaitu
orang-orang yang sudah memiliki kepercayaan pasar. Sedangkan X kecil ada pada
diri orang masing-masing. Bentuk X pun macam-macam, dapat berasal dari diri
sendiri, orang lain, atau lembaga lain. Darimanapun sumbernya faktor X itu dapat
tumbuh menjadi X besar atau bahkan sebaliknya.
Faktor X yang berasal dari diri sendiri adalah bakat (talenta), kerja keras,
kejujuran, kecerdasan, ketrampilan, penampilan fisik, kualitas suara, dan
pendidikan. Kita dapat menunggang kuda yang berasal dari orang lain atau
lembaga lain untuk menemukan pintu. Temuilah orang-orang yang dapat membuat

Anda menemukan faktor X dalam diri Anda, jadikan mereka guru dan motivator
Anda.
c.

Ada beberapa karakteristik faktor x yang perlu anda ketahui

(1)
faktor x di setiap orang berbeda satu sama lain.
karena faktor x juga menunjukkan ciri khas dari individu masing-masing.
(2)
faktor x merupakan salah satu kunci menuju sukses.
Apabila anda mampu menstimulasi dan memunculkan faktor x yang ada pada diri
anda, maka hal ini akan mempermudah anda untuk bergerak menuju kesuksesan
hidup.
(3)
faktor x dapat muncul dari dalam diri sendiri ataupun akibat pengaruh
lingkungan.

Faktor x memang tepat terkandung dalam diri masing-masing

individu. Faktor x dapat muncul akibat tindakan yang anda lakukan. Namun,
faktor x juga dapat muncul akibat pengaruh lingkungan.
(4)
faktor x tidak muncul dalam waktu yang singkat.
Untuk memunculkan faktor x anda, butuh waktu yang tidak singkat. Hingga saat
ini belum penulis belum menemukan standar yang pasti untuk memunculkan
faktor x anda. Masing-masing individu memiliki waktu yang bervariasi untuk
memunculkan faktor x masing-masing.
(5)
faktor x terbentuk melalui tindakan yang anda lakukan.
Faktor x memang ada di masing-masing individu. Namun untuk mempermudah
faktor x terbentuk perlu dilakukan tindakan-tindakan yang dapat mengaktifkan
faktor x tersebut.
Perbedaan antara Manajer dan Pemimpin

Seorang pemimpin berbeda dengan manajer, meskipun keduanya sama-sama


memahami bisnis organisasinya dengan baik. Seorang pemimpin bertanggung
jawab dalam menciptakan visi organisasi, konsep bisnis, rencana, serta program
untuk mencapai target organisasi. Sementara manajer bertanggung jawab dalam
penerapan dan pencapaiannya.
Ada perbedaan mendasar antara pemimpin dan manajer. Seperti yang sering
kita dengar, A manager does things right. A leader does the right things.

Manajer bertugas membuat pekerjaan menjadi efisien, sementara pemimpin


membuat pekerjaan menjadi efektif. Manajemen berbicara tentang bagaimana,
sementara kepemimpinan berbicara tentang apa dan mengapa. Kepemimpinan
melakukan inovasi, sementara manajemen menerapkan aturan. Manajemen
berhubungan dengan sistem, kontrol, prosedur, struktur, serta kebijakan;
sedangkan kepemimpinan berbicara tentang manusia dan tentang kepercayaan.
Kepemimpinan bersifat kreatif, adaptif, dan berhubungan dengan ketangkasan.
Kepemimpinan melihat jauh ke depan dan dari luar organisasi, bukan hanya di
permukaan dan di dalam organisasi. Secara singkat, ada lima peranan penting
seorang pemimpin dalam organisasi, yakni:
1.

Menciptakan visi

2.

Membangun tim

3.

Memberikan penugasan

4.

Mengembangkan orang

5.

Memotivasi anak buah

Menciptakan Visi
Seorang pemimpin bertugas membuat visi bagi organisasinya. Visi adalah
pernyataan tentang cita-cita organisasiapa yang ingin dicapai dan akan menjadi
seperti apa sebuah organisasi. Visi harus bisa menyatukan kepentingan yang
berbeda-beda, sehingga dapat memudahkan proses pengambilan keputusan dalam
organisasi. Visi akan membantu pemimpin dan timnya dalam menghadapi
tantangan perusahaan.
Membangun Tim
Seorang pemimpin harus dapat memilih orang-orang yang tepat untuk mengisi
posisi yang tepat. Agar tidak sampai salah memilih anggota tim, tidak ada

salahnya jika pemimpin meluangkan waktu untuk mewawancarai calon karyawan


yang akan direkrutnya.
Mengalokasikan Tugas
Pemimpin yang baik mengenal anak buahnya dengan baik. Dia dapat menganalisa
anggota timnya dan menempatkan orang yang mumpuni pada posisi yang tepat
sesuai dengan kompetensinya. Pemimpin yang baik akan mengalokasikan tugas
bagi anggota timnya sesuai dengan keahlian dan passion mereka masing-masing.
Mengembangkan Orang
Jaman telah berubah. Dulu, banyak orang yang setia bekerja di satu tempat untuk
waktu yang lama. Tetapi sekarang, banyak orang tidak ragu untuk berpindahpindah tempat kerja karena merasa tidak bisa berkembang di suatu tempat.
Mereka ingin belajar dan menjadi lebih pintar. Seorang pemimpin harus
memahami hal tersebut. Ia harus bisa membaca potensi orang-orang yang
dipimpinnya, serta mengembangkan kemampuan dan value mereka.
Memotivasi Anak Buah
Tim yang bersemangat adalah kekuatan bagi organisasi yang sehat. Untuk
menjaga semangat tim, pemimpin harus dapat menginspirasi dan memotivasi anak
buahnya. Tim yang bahagia dan bersemangat pasti mau bekerja keras dan
berusaha maksimal demi mencapai target dan kesuksesan organisasi.
Manajemen dan kepemimpinan ialah dua hal yang amat berbeda. Manajemen
bertujuan menyelenggarakan sebuah proses yang mapan dan berhasil dengan
seefisien mungkin, menyingkirkan kemajemukan dan risiko. Manajemen orang
cenderung memiliki pendekatan yang sama, dengan sebuah sistem pemberian
imbalan dan hukuman. Kepemimpinan berkenaan dengan perubahan untuk

mencapai sebuah visi jangka panjang baru untuk perusahaan. Kepemimpinan


selalu tidak bisa meninggalkan keterlibatan risiko. Pemimpin harus memberi
inspirasi kolega-koleganya untuk mematuhi proses ini. Imbalan yang wajar untuk
keberhasilan atau kegagalan tidak mungkin membuat para kolega untuk
melakukan program perubahan. Para kolega akan perlu dimotivasi oleh satu atau
beberapa pendorong yang bekerja di tingkat emosional seperti sebuah perasaan
membutuhkan prestasi, harga diri dan kepemilikan. Pemimpin harus sadar
mengenai perbedaan antara kepemimpinan dan manajemen dalam peran mereka
dan mendorong kolega-kolega senior untuk menjadi pemimpin sekaligus manajer,
menggunakan

ketrampilan

kepemimpinan,

saat

diperlukan

di

samping

ketrampilan manajemen yang biasa.


Tujuan berwirausaha
Berikut beberapa tujuan dari seorang wirausaha yang seharusnya:

Berusaha dan bertekad dalam meningkatkan jumlah para wirausaha yang


baik dengan kata lain ikut serta dalam mengader manusia manusia calon
wirausaha untuk membangun jaringan bisnis yang lebih baik

Ikut serta dalam mewujudkan kemampuan para wirausaha untuk


meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat dan Negaranya

Ikut serta dalam menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran serta


orientasi kewirausahaan yang kokoh.

Menyebarluaskan dan membuat


disekitarnya terutama dalam masyarakat

budaya

ciri

ciri

kewirausahaan

Mengembangkan dalam bentuk inovasi dan kreasi agar tercipta dinamika


dalam kewirausahaan atau dunia bisnis sehingga kemakmuran dapat tercapai
dapat kita identifikasi sikap seorang wirausahawan yang dapat diangkat dari
kegiatannya sehari-hari, sebagai berikut:

Disiplin

Dalam melaksanakan kegiatannya, seorang wirausahawan harus memiliki


kedisiplinan yang tinggi. Arti dari kata disiplin itu sendiri adalah ketepatan
komitmen wirausahawan terhadap tugas dan pekerjaannya. Ketepatan yang

dimaksud bersifat menyeluruh, yaitu ketepatan terhadap waktu, kualitas


pekerjaan, sistem kerja dan sebagainya. Ketepatan terhadap waktu, dapat dibina
dalam diri seseorang dengan berusaha menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan
waktu yang direncanakan. Sifat sering menunda pekerjaan dengan berbagai
macam alasan, adalah kendala yang dapat menghambat seorang wirausahawan
meraih keberhasilan. Kedisiplinan terhadap komitmen akan kualitas pekerjaan
dapat dibina dengan ketaatan wirausahawan akan komitmen tersebut.
Wirausahawan harus taat asas. Hal tersebut akan dapat tercapai jika wirausahawan
memiliki kedisiplinan yang tinggi terhadap sistem kerja yang telah ditetapkan.
Ketaatan wirausahawan akan kesepakatan-kesepakatan yang dibuatnya adalah
contoh dari kedisiplinan akan kualitas pekerjaan dan sistem kerja.

Komitmen Tinggi

Komitmen adalah kesepakatan mengenai sesuatu hal yang dibuat oleh seseorang,
baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Dalam melaksanakan
kegiatannya, seorang wirausahawan harus memiliki komitmen yang jelas, terarah
dan bersifat progresif (berorientasi pada kemajuan). Komitmen terhadap dirinya
sendiri dapat dibuat dengan identifikasi cita-cita, harapan dan target-target yang
direncanakan dalam hidupnya. Sedangkan contoh komitmen wirausahawan
terhadap orang lain terutama konsumennya adalah pelayanan prima yang
berorientasi pada kepuasan konsumen, kualitas produk yang sesuai dengan harga
produk yang ditawarkan, penyelesaian bagi masalah konsumen, dan
sebagainya.Seorang wirausahawan yang teguh menjaga komitmennya
terhadapkonsumen, akan memiliki nama baik di mata konsumen yang akhirnya
wirausahawan tersebut akan mendapatkan kepercayaan dari konsumen, dengan
dampak pembelian terus meningkat sehingga pada akhirnya tercapai target
perusahaan yaitu memperoleh laba yang diharapkan.

Jujur

Kejujuran merupakan landasan moral yang kadang-kadang dilupakan oleh


seorang wirausahawan. Kejujuran dalam berperilaku bersifat kompleks. Kejujuran
mengenai karakteristik produk (barang dan jasa) yang ditawarkan, kejujuran
mengenai promosi yang dilakukan, kejujuran mengenai pelayanan purnajual yang
dijanjikan dan kejujuran mengenai segala kegiatan yang terkait dengan penjualan
produk yang dilakukan olehwirausahawan.

Kreatif dan Inovatif

Untuk memenangkan persaingan, maka seorang wirausahawan harus memiliki


daya kreativitas yang tinggi. Daya kreativitas tersebut sebaiknya dilandasi oleh
cara berpikir yang maju, penuh dengan gagasan-gagasan baru yang berbeda
dengan produk-produk yang telah ada selama ini di pasar. Gagasan-gagasan yang
kreatif umumnya tidak dapat dibatasi oleh ruang, bentuk ataupun waktu. Justru
seringkali ide-ide jenius yangmemberikan terobosan-terobosan baru dalam dunia
usaha awalnya adalah dilandasi oleh gagasan-gagasan kreatif yang kelihatannya
mustahil.

Mandiri

Seseorang dikatakan mandiri apabila orang tersebut dapat melakukan keinginan


dengan baik tanpa adanya ketergantungan pihak lain dalammengambil keputusan
atau bertindak, termasuk mencukupi kebutuhan hidupnya, tanpa adanya
ketergantungan dengan pihak lain. Kemandirian merupakan sifat mutlak yang
harus dimiliki oleh seorang wirausahawan. Pada prinsipnya seorang
wirausahawan harus memiliki sikap mandiri dalam memenuhi kegiatan usahanya.

Realistis

Seseorang dikatakan realistis bila orang tersebut mampu menggunakan


fakta/realita sebagai landasan berpikir yang rasional dalam setiap pengambilan
keputusan maupun tindakan/ perbuatannya. Banyak seorang calon wirausahawan
yang berpotensi tinggi, namun pada akhirnya mengalami kegagalan hanya karena
wirausahawan tersebut tidak realistis, objektif dan rasional dalam pengambilan
keputusan bisnisnya. Karena itu dibutuhkan kecerdasan dalam melakukan seleksi
terhadap masukan-masukan/ sumbang saran yang ada keterkaitan erat dengan
tingkat keberhasilan usaha yang sedang dirintis.
Faktor Kegagalan Dalam Wirausaha
Menurut Zimmerer (dalam Suryana, 2003 : 44-45) ada beberapa faktor yang
menyebabkan wirausaha gagal dalam menjalankan usaha barunya:

Tidak kompeten dalam manajerial.

Tidak kompeten atau tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan mengelola


usaha merupakan faktor penyebab utama yang membuat perusahaan kurang
berhasil.


Kurang berpengalaman baik dalam kemampuan mengkoordinasikan,
keterampilan mengelola sumber daya manusia, maupun kemampuan
mengintegrasikan operasi perusahaan.

Kurang dapat mengendalikan keuangan. Agar perusahaan dapat berhasil


dengan baik, faktor yang paling utama dalam keuangan adalah memelihara aliran
kas. Mengatur pengeluaran dan penerimaan secara cermat. Kekeliruan
memelihara aliran kas menyebabkan operasional perusahan dan mengakibatkan
perusahaan tidak lancar.

Gagal dalam perencanaan.

Perencanaan merupakan titik awal dari suatu kegiatan, sekali gagal dalam
perencanaan maka akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaan.

Lokasi yang kurang memadai.

Lokasi usaha yang strategis merupakan faktor yang menentukan keberhasilan


usaha. Lokasi yang tidak strategis dapat mengakibatkan perusahaan sukar
beroperasi karena kurang efisien.

Kurangnya pengawasan peralatan.

Pengawasan erat berhubungan dengan efisiensi dan efektivitas. Kurang


pengawasan mengakibatkan penggunaan alat tidak efisien dan tidak efektif.

Sikap yang kurang sungguh-sungguh dalam berusaha.

Sikap yang setengah-setengah terhadap usaha akan mengakibatkan usaha yang


dilakukan menjadi labil dan gagal. Dengan sikap setengah hati, kemungkinan
gagal menjadi besar.

Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan/transisi kewirausahaan.

Wirausaha yang kurang siap menghadapi dan melakukan perubahan, tidak akan
menjadi wirausaha yang berhasil. Keberhasilan dalam berwirausaha hanya bisa
diperoleh apabila berani mengadakan perubahan dan mampu membuat peralihan
setiap waktu.