Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. S DENGAN GANGGUAN


PERSEPSI SENSORI: VERTIGO DI POLI (THT-KL)
RSUP DR HASAN SADIKIN BANDUNG

Disusun Oleh :
Heny Junita
220112160023

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
BANDUNG
2016

LANDASAN TEORI

A Definisi Otitis Media Akut (OMA)


Otitis media merupakan peradangan pada sebagian atau seluruh mukosa telinga
tengah, tuba eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. Hampir 70% anak-anak
pernah mengalami radang telinga dan tidak sedikit yang mengalami gangguan
pendengaran akibat penanganan yang terlambat atau kronik.
Anak umur 6-11 bulan lebih rentan menderita OMA. Insiden sedikit lebih tinggi
pada anak laki-laki dibanding perempuan. Sebagian anak menderita penyakiy ini pada
umur yang sudah lebih besar, pada umur empat dan awal lima tahun. Beberapa bersifat
individual dapat berlanjut menderita episode akut pada masa dewasa. Kadang-kadang
orang dewasa dengan infeksi saluran pernapasan akut tapi tanpa riwayat sakit pada
telinga dapat menderita OMA.
B Etiologi dan Faktor Resiko
1 Etiologi
a Bakteri
Bakteri piogenik merupakan penyebab OMA yang tersering. Menurut
penelitian, 65-75% kasus OMA dapat ditentukan jenis bakteri piogeniknya
melalui isolasi bakteri terhadap kultur cairan atau efusi telinga tengah. Kasus
lain tergolong sebagai nonpatogenik karena tidak ditemukan mikroorganisme
penyebabnya. Tiga jenis bakteri penyebab otitis media tersering adalah
Streptococcus pneumoniae (40%), diikuti oleh Haemophilus influenzae (25b

30%) dan Moraxella catarhalis (10-15%)


Virus
Virus juga merupakan penyebab OMA. Virus dapat dijumpai tersendiri atau
bersamaan dengan bakteri patogenik yang lain. Virus yang paling sering
dijumpai pada anak-anak, yaitu respiratory syncytial virus (RSV), influenza

virus, atau adenovirus (sebanyak 30-40%).


Faktor Resiko
a Umur
Faktor umur berperan dalam terjadinya OMA, insidens OMA lebih banyak
terjadi pada bayi dan anak-anak kemungkinan disebabkan oleh struktur dan
fungsi yang belum matur dari tuba eustachius. Selain itu sistem pertahanan
b

tubuh anak juga masih lemah.


Jenis kelamin
Belum diketahui secara pasti mengapa insidens terjadinya otitis media pada
anak laki-laki lebih tinggi dibanding dengan anak perempuan.
Status Sosioekonomi

Kemiskinan, kepadatan penduduk, fasilitas higiene yang terbatas, status nutrisi


rendah, dan pelayanan pengobatan terbatas, sehingga mendorong terjadinya
d

OMA pada anak-anak .


Riwayat minum ASI
ASI dapat membantu dalam pertahanan tubuh, oleh karena itu anak-anak yang

kurang asupan ASI banyak menderita OMA.


Lingkungan
Merokok menyebabkan anak-anak mengalami OMA yang lebih signifikan

dibanding anak-anak lain


Abnormalitas kraniofasialis congenital
Fungsi tuba eustachius terganggu sehingga mudah menderita penyakit telinga

tengah.
g Riwayat infeksi saluran napas atas
C Stadium Otitis Media Akut
1 Stadium oklusi tuba eustachius
Pada stadium ini terdapat gambaran retraksi membran timpani akibat tekanan negatif
2

didalam telinga tengah


Stadium supurasi
Membran timpani menonjol ke arah telinga luar akibat edema yang hebat pada
mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superficial, serta terbentuknya

eksudat purulen dikavum tertimpani


Stadium perforasi
Ruptur membran timpani dan nanah yang keluar dari telinga tengah ke telinga luar

akibat pemberian antibiotik yang terlambat atau virulensi kuman yang tinggi
Stadium resolusi
Bila membran timpani tetap utuh, maka perlahan-lahan akan normal kembali. Bila
terjadi perforasi, maka sekret akan berkurang dan mengering. Bila daya tahan tubuh
baik dan virulensi kuman rendah, maka resolusi dapat terjadi tanpa pengobatan.
OMA berubah menjadi otitis media supuratif subakut bila perforasi menetap dengan
sekret yang keluar terus menerus atau hilang timbul lebih dari 3 minggu disebut

otitis media suupuratif kronik


D Manifestasi klinik
Gejala yang timbul bervariasi bergantung pada stadium dan usia pasien, pada usia
anak- anak umumnya keluhan berupa:
1 Rasa nyeri di telinga dan demam.
2 Biasanya ada riwayat infeksi saluran pernafasan atas sebelumnya.
3 Pada remaja atau orang dewasa biasanya selain nyeri terdapat gangguan
4

pendengaran dan telinga terasa penih.


Pada bayi gejala khas Otitis Media akut adalah panas yang tinggi, anak gelisah dan

sukar tidur, diare, kejang-kejang dan sering memegang telinga yang sakit
E Pemeriksaan penunjang
1 Audiometri

2 Radiologi
3 Bakteriologi
F Penatalaksanaan
1 Miringotomi
2 Timpanosintesis
3 Adenoidektomi
G Komplikasi
Sebelum adanya antibiotik, OMA dapat menimbulkan komplikasi, mulai dari abses
subperiosteal sampai abses otak dan meningitis. Sekarang semua jenis komplikasi
tersebut biasanya didapat pada otitis media supuratif kronik. Komplikasi OMA terbagi
kepada komplikasi intratemporal (perforasi membran timpani, mastoiditis akut, paresis
nervus fasialis, labirinitis, petrositis), ekstratemporal (abses subperiosteal), dan
intracranial (abses otak, tromboflebitis).

H Patofisiologi

LAPORAN KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. S DENGAN GANGGUAN PERSEPSI
SENSORI: OTITIS MEDIA AKUT DI POLI TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN
KEPALA DAN LEHER (THT-KL) RSUP DR HASAN SADIKIN BANDUNG
1. Identitas Pasien
A. Nama Pasien
: Ny. S
B. Tanggal Lahir
: 10 Oktober 1993 (23 tahun)
C. Alamat
: Bandung
D. Jenis Kelamin
: Perempuan
E. Pendidikan
: S1
F. Agama
: Islam
G. Suku Bangsa
: Sunda
H. Tgl Masuk Poli
: 3 Oktober 2016
I. Tgl Pengkajian
: 3 Oktober 2016
J. Diagnosa Medis : Otitis Media Akut
2. Riwayat Kesehatan
A. Keluhan Utama
Nyeri pada telinga kiri
B. Riwayat Kesehatan Sekarang
Ny. S mengeluh nyeri, perasaan penuh, dan berdengung pada telinga kiri sejak 2
minggu yang lalu, nyeri dirasakan dengan skala 2/10. Keluhan disertai demam dan
mengigil. Sejak 1 minggu yang lalu nyeri semakin bertambah dengan skala 4/10
disertai penurunan pendengaran pada telinga kiri. Ny. S mengatakan bahwa ia
sering berenang dan merasakan telinga berdengung terutama setelah berenang. Ny.
S pergi ke IGD RSHS 5 hari yang lalu karena nyeri semakin bertambah dan
dijadwalkan untuk kontrol ke poli THT-KL pada tanggal 3 Oktober 2016. Pasien
mengatakan khawatir bila ia akan tuli secara permanen.
C. Riwayat Kesehatan Dahulu
Ny. S tidak memiliki riwayat penyakit yang berhubungan dengan kondisi saat ini
D. Riwayat Kesehatan Keluarga
Tidak memiliki riwayat penyakit yang berhubungan dengan kondisi saat ini

E. Riwayat Psikososial dan Spiritual


Pengkajian kecemasan ZSAS
No

Pertanyaan

Jawaban

1
2
3
4

Saya merasa lebih gelisah atau gugup dan cemas dari biasanya
Saya merasa takut tanpa alasan yang jelas
Saya merasa seakan tubuh saya berantakan atau hancur
Saya mudah marah, tersinggung atau panic

3
3
2
4

5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Saya selalu merasa kesulitan mengerjakan segala sesuatu atau


merasa sesuatu yang jelek akan terjadi
Kedua tangan dan kaki saya sering gemetar
Saya sering terganggu oleh sakit kepala, nyeri leher atau nyeri otot
Saya merasa badan saya lemah dan mudah lelah
Saya tidak dapat istirahat atau duduk dengan tenang
Saya merasa jantung saya berdebar-debar dengan keras dan cepat
Saya sering mengalami pusing
Saya sering pingsan atau merasa seperti pingsan
Saya mudah sesak napas tersengal-sengal
Saya merasa kaku atau mati rasa dan kesemutan pada jari-jari saya
Saya merasa sakit perut atau gangguan pencernaan
Saya sering kencing daripada biasanya
Saya merasa tangan saya dingin dan sering basah oleh keringat
Wajah saya terasa panas dan kemerahan
Saya sulit tidur dan tidak dapat istirahat malam
Saya mengalami mimpi-mimpi buruk
Jumlah = 51
Kesimpulan : kecemasan sedang

3
2
3
2
2
1
3
1
2
2
3
3
3
3
3
3

F. Riwayat ADL
No

Pola
Nutrisi
a. Makan
Frekuensi
Jenis

1.

2.

b. Minum
Frekuensi
Jenis
Eliminasi
a. BAB
Frekuensi
Konsistensi
b. BAK
Frekuensi
Warna
Istirahat dan tidur
a. Kualitas

Sebelum Sakit

Saat Sakit

3x sehari
Makanan

3x sehari
Makanan

padat+sayur+lauk pauk

padat+sayur+lauk pauk

7 8 gelas sehari
Air putih

7 8 gelas sehari
Air putih

1x sehari
Padat

1x seminggu
Padat

3 5x sehari
Kuning keruh

3 5x sehari
Kuning keruh

Nyenyak

Tidak bisa tidur apabila

1x sehari

nyeri sedang kambuh


1x sehari

2x sehari
2x sehari
2 hari 1x

2x sehari
2x sehari
2 hari 1x

3.

4.

b. Kuantitas
Personal Hygiene
a. Mandi
b. Gosok gigi
c. Cuci Rambut

3. Pemeriksaan Fisik
A. Keadaan Umum : kompos mentis
B. Ekspresi wajah
: tenang
C. Kulit
: tidak pucat, teraba hangat
D. Konjungtiva
: merah muda
E. Sclera
: putih bersih
F. TTV
1) HR
: 86 x/menit
2) RR
: 18 x/menit
3) Suhu : 37,9 C
4) TD
: 120/80 mmHg
G. Sistem Pendengaran
1) Inspeksi
Kebersihan
: telinga bagian luar terlihat bersih
Keluaran
: tidak ada
Ggn keseimbangan : tidak ada
Membran timpani
: kemerahan dan bengkak (pemeriksaan oleh dokter)
Fungsi pendengaran : klien mengeluh fungsi pendengaran berkurang, nyeri,
terasa penuh, dan berdengung pada telinga kiri.
Pemeriksaan dengan arloji tidak terdengar pada jarak 5
cm
2) Palpasi
Nyeri tekan : tidak ada
Tes rinne
: negatif (tuli konduktif)
Tes weber
: lateralisasi kearah telinga kiri (tuli konduktif)

4. Analisis Data
No

Data
a. Data Objektif
1) Skala nyeri 4/10
2) Kemerahan dan
membrane timpani
(pemeriksaan oleh

eksterna atau menyebar

dokter)
b. Data Subjektif
1) Pasien mengatakan
nyeri, terasa penuh,
dan berdengung
pada telinga kiri
a. Data objektif
1) Pemeriksaan dengan
arloji tidak terdengar
pada jarak 5
2) Rinne (-)
3) Weber: lateralisasi
kearah telinga kiri
4) Skor ZSAS : 51

2.

(kecemasan sedang)
b. Data subjektif
1) Pasien mengatakan
fungsi pendengaran
berkurang
2) Pasien mengatakan
khawatir akan tuli

Masalah
Nyeri akut

atau virus, trauma, infeksi


saluran nafas

Menyebar melalui telinga

bengkak pada

1.

Etiologi
Infeksi langsung oleh bakteri

melalui saluran eustachius

Proses inflamasi

Aktifasi mediator kimia

Mengiritasi reseptor nyeri


Infeksi langsung oleh bakteri

Cemas

atau virus, trauma, infeksi


saluran nafas

Menyebar melalui telinga


eksterna atau menyebar
melalui saluran eustachius

Proses inflamasi

Akumulasi pus/nanah

Menghambat impuls suara

Gangguan pendengaran

Cemas

secara permanen
5. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan proses inflamasi ditandai dengan pasien
mengatakan nyeri, terasa penuh, dan berdengung pada telinga kiri, kemerahan dan
bengkak pada membrane timpani (pemeriksaan oleh dokter), dan skala nyeri 4/10.

b. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan terkait penyakitnya ditandai


dengan pasien mengatakan khawatir akan tuli secara permanen, dan skor ZSAS :
51 (kecemasan sedang).

8. Rencana Tindakan keperawatan


c.
Nama Pasien : Ny. S
d.
No Medrek :
e.
i.

Diagnosa
Nyeri akut

Ruangan
Nama Mahasiswa
f.
Tujuan
j. Setelah dilakukan

berhubungan dengan

intervensi

proses inflamasi

keperawatan

ditandai dengan pasien

selama 1x24 jam

mengatakan nyeri,

pasien akan

terasa penuh, dan

menunjukan

berdengung pada

pengontrolan nyeri

telinga kiri, kemerahan

dengan kriteria:

dan bengkak pada

1. Menunjukan

membrane timpani

kemampuan untuk

(pemeriksaan oleh

melakukan manajemen

dokter), dan skala nyeri


4/10.

g.
Intervensi
1. Kaji nyeri menggunakan skala
nyeri secara berkala
k.
2. Pantau TTV pasien
l.
m.
3. Ajarkan pasien manajemen
nyeri dengan acara
- Tarik napas dalam
- Guided imagery
- distraksi
4. kolaborasi pemberikan obat
analgetik dan antibiotik

nyeri
2. Memahami instruksi

: Poli THT-KL
: Hardiyanti Rahayu
n.

h.
Rasional
Skala nyeri dapat berubah sewaktu-

waktu sehingga perlu untuk diobservasi


secara berkala.
o.
Nyeri dapat meningkatkan frekuensi
pernapasan, frekuensi denyut jantung, dan
tekanan darah
p.
Teknik manajemen nyeri tarik napas
dalam, guided imagery dan distraksi dapat
mengurangi nyeri.
q.
r.
s.
Analgetik akan membuat pasien
kehilangan kemampuan untuk merasakan
nyeri

yang diberikan untuk


melakukan manajemen
t.

Ansietas

nyeri
u. Setelah dilakukan

berhubungan dengan

intervensi

kurang pengetahuan

keperawatan

1. Kaji tingkat ansietas secara

y.

Ansiatas dimanage berdasarkan

berkala
2. Pantau TTV pasien

tingkatan ansietas.
z.
Ansietas dapat meningkatkan

v.

frekuensi pernapasan, frekuensi denyut

terkait penyakitnya

selama 1x24 jam

w.

ditandai dengan pasien

pasien akan

3. Fasilitasi pasien untuk

mengatakan khawatir

menunjukan

akan tuli secara

pengontrolan

permanen, dan skor

kecemasan dengan

ZSAS : 51 (kecemasan

kriteria:

sedang).

1. Pasien memahami

penyakitnya
x.
5. Anjurkan kepada pasien untuk

dan dapat berpikir jernih


ab.
Pengetahuan yang adekuat terkait
penyakitnya saat ini akan mengurangi
kecemasan pada pasien.
ac.
Mengikuti program pengobatan akan

mematuhi program pengobatan mengurangi tanda dan gejala yang muncul

pendengaran yang

yang telah diberikan

penyakitnya saat ini


2. Pasien memahami
bahwa ia harus
mengikuti rangkaian
pengobatan untuk
memperoleh
kesembuhan
ae.

kekhawatirannya
4. Jelaskan kepada pasien terkait

kekhawatirannya, pasien dapat merasa lega

nyeri dan gangguan


dialaminya berasal dari

ad.

mengungkapkan

jantung, dan tekanan darah


aa.
Dengan mengungkapkan

sehingga akan mengurangi kecemasan pada


pasien.

9. Catatan Tindakan Keperawatan


af.
ag.

Nama Pasien : Ny. S


No Medrek :

Ruangan
Nama Mahasiswa

: Poli THT-KL
: Hardiyanti Rahayu

ai. Tgl
ah. Diagnosa
am.Nyeri akut

/
Jam
an. 03

berhubungan

Okt

dengan proses

201

inflamasi
ditandai
dengan pasien
mengatakan
nyeri, terasa
penuh, dan
berdengung
pada telinga
kiri,
kemerahan
dan bengkak
pada
membrane

6/
10.
00

aj. Implementasi
1. Mengkaji nyeri menggunakan

av.

skala nyeri secara berkala


2. Memantau TTV pasien

aw.

ao.
ap.
aq.
3. Mengajarkan pasien manajemen
nyeri dengan acara
- Tarik napas dalam
- Guided imagery
- Distraksi
ar.
as.
4. Kolaborasi pemberikan obat
analgetik dan antibiotic
at.
au.

al. Pa

ak. Respon

raf

Skala nyeri 4/10

ax.

HR

: 86 x/menit

ay.

RR

: 18 x/menit

az.

Suhu : 37,9 C

ba.

TD

bc.

: 120/80 mmHg

1. Pasien mengikuti instruksi yang


telah diberikan.
2. Pasien mempraktekan teknik napas
dalam
3. Pasien

belum

mengerti

dengan

teknik relaksasi guided imagery dan


distraksi
bb. Analgetik dan antibiotic baru
diresepkan

timpani
(pemeriksaan
oleh dokter),
dan skala
nyeri 4/10.
bd. Ansietas

be. 03

berhubungan

Okt

dengan

201

kurang

6/

pengetahuan

10.

terkait

00

penyakitnya
ditandai
dengan pasien
mengatakan
khawatir akan
tuli secara
permanen,
dan skor

1. Mengkaji tingkat ansietas secara

bm.

berkala
2. Memantau TTV pasien
bf.
bg.
bh.

51

bn.
bo.

HR

: 86 x/menit

bp.

RR

: 18 x/menit

bq.

Suhu : 37,9 C
br. TD : 120/80 mmHg

mengungkapkan kekhawatirannya
bi.
bj.
4. Menjelaskan kepada pasien

mematuhi program pengobatan

ZSAS

(kecemasan sedang)

3. Memfasilitasi pasien untuk

terkait penyakitnya
bk.
bl.
5. Anjurkan kepada pasien untuk

Skor

bs. Pasien khawatir bila ia akan tuli


secara

permanen

fungsi

mengingat

pendengarannya

berkurang sejak satu minggu


yang lalu
bt.

Pasien mengerti dengan apa yang

telah dijelaskan terkait penyakitnya dan

ZSAS : 51

kemungkinan terbaik serta kemungkinan

(kecemasan

terburuk dari penyakitnya.

sedang).

bu.

Pasien mengerti dengan apa yang

bv.

telah dijelaskan
bw.
bx.

10. Catatan Perkembangan


by.
bz.
ca.
ce.

Nama Pasien : Ny. S


No Medrek :
Diagnosa

cb.

Ruangan
Nama Mahasiswa

Tgl / Jam

Nyeri akut

cc.

: Poli THT-KL
: Hardiyanti Rahayu

Catatan

ch. S: Pasien mengerti dengan teknik manajemen nyeri tarik napas cl.

berhubungan dengan

dalam namun pasien belum mengerti dengan teknik relaksasi

proses inflamasi

guided imagery dan distraksi

ditandai dengan pasien

ci. O: pasien mempraktekan cara tarik napas dalam

mengatakan nyeri,

cj. A: tujuan tercapai sebagian

terasa penuh, dan


berdengung pada
telinga kiri, kemerahan

cd.

cf.

03 Oktober
2016/
cg.
11.00

dan bengkak pada


membrane timpani

ck. P:
1. Lanjutkan intervensi
- Kaji nyeri menggunakan skala nyeri secara berkala
- Pantau TTV pasien
- Kolaborasi pemberikan obat analgetik dan antibiotic
2. Evaluasi pasien terkait teknik manajemen nyeri dengan tarik napas
dalam
3. Ajarkan teknik relaksasi guided imagery

(pemeriksaan oleh
dokter), dan skala nyeri
4/10.
cm.
Ansietas

cn.

berhubungan dengan
kurang pengetahuan
terkait penyakitnya
ditandai dengan pasien

co.

03 Oktober
2016/
11.00

cp. S: pasien mengatakan mengerti dengan apa yang telah ct.


dijelaskan terkait penyakitnya dan mengatakan akan mengikuti
proses pengobatan yang ada, namun pasien masih tetap merasa
khawatir karena nyeri yang dirasakan belum berkurang
cq. O: Pasien tampak gelisah dan menghindari kontak mata saat

Para
f

mengatakan khawatir

dijelaskan mengenai penyakitnya

akan tuli secara

cr. A: tujuan tercapai sebagian

permanen, dan skor

cs. P:

ZSAS : 51 (kecemasan
sedang).

1. Lanjutkan intervensi
- Kaji tingkat ansietas secara berkala menggunakan skala
ansietas ZSAS
- Pantau TTV pasien
2. Berikan informasi terkait kelompok yang juga pernah mengalami
otitis media akut untuk mendiskusikan kemungkinan kembalinya
fungsi pendengaran
3. Berikan informasi terkait sumber alat-alat yang dapat membantu
pasien (misal: alat bantu pendengaran)

cu.
cv.

11. Referensi
12. Wilkinson, Judith M., Ahern, Nancy R. (2013). Buku Saku Diagnosis
Keperawatan: Diagnosis NANDA, Intervensi Nic, Kriteria Hasil Noc, Ed. 9.
13.

Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC


Nurarif, A. H., Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc Edisi Revisi. Yogyakarta: Mediaction
Publisher

14.

Black, Joyce M & Hawks. 2014. Keperawatan Medikal Bedah Manajemen Klinis

15.

untuk Hasil yang Diharapkan Edisi 8 Buku 3. Jakarta : Salemba Medika


Price Sylvia A & Wilson Lorraine M. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses

16.

Penyakit Edisi 6. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC


Smeltzer, Suzanne C & Bare, Brenda G. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Bruner & Suddart Edisi 8. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

17.
18.
19.