Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
Lanjut usia (lansia) merupakan proses alamiah yang pasti akan dialami oleh semua orang
yang dikaruniai usia panjang. Struktur anatomis atau proses menjadi tua terlihat sebagai
kemunduran di dalam sel. Proses ini berlangsung secara alamiah, terus-menerus dan
berkesinambungan yang selanjutnya akan menyebabkan perubahan anatomi, fisiologi dan
biokimia pada jaringan tubuh dan akan mempengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh secara
keseluruhan.1
Seseorang dikatakan lansia jika usianya telah lebih dari 60 tahun. Lansia dimulai setelah
pensiun, biasanya antara 65-75 tahun. Menurut WHO lansia dikelompokkan menjadi 4
kelompok, yaitu usia pertengahan (middleage), usia 45-59 tahun; lansia (elderly), usia 60-74
tahun; lansia tua (old), usia 75-90 tahun dan usia sangat tua (very old ), usia diatas 90 tahun.
Sedangkan di Indonesia menurut Pasal 1 UU RI No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan
Lanjut Usia dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari
60 tahun keatas. 1
Hasil sensus penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia tahun 2013 mencatat
bahwa jumlah lansia yang ada di Indonesia sebesar 62.078.335 jiwa atau sekitar 24% dari
seluruh penduduk Indonesia. Jumlah lansia yang ada di Indonesia semakin meningkat dari
tahun ke tahun dan tersebar hampir di seluruh propinsi di Indonesia. Pertambahan jumlah
lanjut usia akan menimbulkan berbagai permasalahan kompleks bagi lansia, keluarga maupun
masyarakat meliputi aspek fisik, biologis, mental maupun sosial ekonomi. Seiring dengan
permasalahan tersebut, akan mempengaruhi asupan makannya yang pada akhirnya dapat
berpengaruh terhadap status gizi. 2
Di Indonesia lanjut usia (60-75 tahun) mempunyai asupan energi rata-rata kurang dari
kebutuhan, 36,6% lanjut usia menderita defisiensi vitamin 131, lebih dari 75% mendapat
asupan zat besi dan vitamin B1, 20,2% mendapat asupan asam folat, serta 32, 4% menderita
defisiensi vitamin B12. 2
Berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, prevalensi penyakit pada
lanjut usia 55-64 tahun adalah penyakit sendi 56,6%, hipertensi 53,7%, stroke 20,2%,
penyakit asma 7,3%, jantung 16,1%, diabetes 3,7%, tumor 8,8%. Meningkatnya penyakit
degeneratif pada lanjut usia ini akan meningkatkan beban ekonomi keluarga, masyarakat dan
negara.

Upaya perbaikan gizi masyarakat sebagaimana disebutkan didalam Undang-Undan


Kesehatan No 36 Tahun 2009 bertujuan untuk meningkatkan mutu gizi perseorangan dan
masyarakat, antara lain melalui perbaikan pola konsumsi makanan, perbaikan dan perilaku
sadar gizi, peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi dan kesehatan sesuai dengan kemajuan
ilmu dan teknologi. 2
Pelayanan gizi sebagai bagian dari pelayanan kesehatan lanjut usia dapat dilakukan di
semua fasilitas pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta. Dengan meningkatkan
pelayanan gizi pada lanjut usia diharapkan dapat menanggulangi masalah gizi lanjut usia
sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan status gizi dan kesehatan lanjut usia.2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
Lanjut usia (lansia) merupakan tahap akhir dalam kehidupan manusia. Manusia
yang memasuki tahap ini ditandai dengan menurunnya kemampuan kerja tubuh akibat
perubahan atau penurunan fungsi organ-organ tubuh3. Berdasarkan WHO lansia dibagi
menjadi 4 golongan1:
a. Usia pertengahan (middleage) : usia 45-59 tahun
b. Lansia (elderly) : usia 60-74 tahun
c. Lansia tua (old) : usia 75-90 tahun
d. Usia sangat tua (very old) : usia > 90 tahun
2.2. Karakteristik Kesehatan Lanjut Usia
Kesehatan lansia dipengaruhi proses menua. Proses menua didefenisikan sebagai
perubahan yang terkait waktu, bersifat universal, intrinsik, progresif, dan detrimental.
Keadaan ini menyebabkan kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan dan kemampuan
bertahan hidup berkurang. Proses menua setiap individu dan setiap organ tubuh berbeda,
hal ini dipengaruhi oleh gaya hidup, lingkungan, dan penyakit degeneratif.3
Proses menua dan perubahan fisiologis pada lansia mengakibatkan beberapa
kemunduran dan kelemahan, serta implikasi klinik berupa penyakit kronik dan infeksi.
Tabel 1
Kemunduran dan Kelemahan Lansia3
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Kemunduran dan Kelemahan Lansia


Pergerakan dan kestabilan terganggu
Intelektual terganggu
Isolasi diri (depresi)
Inkontinensia
Defisiensi imunologis
Infeksi, konstipasi dan malnutrisi
Iatrogenesis dan insomnia

2.3. Status Gizi pada Lansia


Status gizi merupakan keseimbangan antara asupan zat gizi dan kebutuhan akan zat
gizi tersebut. Status gizi juga didefinisikan sebagai keadaan kesehatan seseorang sebagai
3

refleksi konsumsi pangan serta penggunaannya oleh tubuh. Status gizi pada lansia
dipengaruhi oleh berbagai hal. Perubahan fisiologis, komposisi tubuh, asupan nutrisi dan
keadaan ekonomi merupakan hal-hal yang dapat memicu terjadinya berbagai masalah gizi pada
lanjut usia.Berikut merupakan beberapa perubahan fisiologis yang dapat mempengaruhi status
gizi pada lanjut usia antara lain :

a. Komposisi Tubuh
Akibat penuaan pada lansia, massa otot berkurang sedangkan massa lemak bertambah.
Massa tubuh yang tidak berlemak berkurang sebanyak 6,3%. Jumlah cairan tubuh berkurang
dari sekitar 60% berat badan pada orang muda menjadi 45% berat badan wanita usia lanjut.
Penurunan massa otot akan mengakibatkan penurunan kebutuhan energi yang terlihat pada
lansia yang dipengaruhi oleh aktivitas fisik yang menurun.
b. Gigi dan Mulut
Gigi merupakan unsur penting untuk pencapaian derajat kesehatan dan gizi yang baik.
Pada usia lanjut, gigi permanen menjadi kering, lebih rapuh, berwarna gelap dan bahkan
sebagian gigi telah tanggal. Dengan hilangnya gigi geligi akan menggangu hubungan oklusi
gigi atas dan bawah dan akan mengakibatkan daya kunyah menurun. Selain itu terjadinya
atropi gingiva dan processus alveolaris yang menyebabkan akar gigi terbuka dan sering
menimbulkan rasa sakit semakin mempengaruhi penurunan daya kunyah. Pada lansia
saluran pencernaan tidak dapat mengimbangi ketidaksempurnaan fungsi kunyah sehingga
akan mempengaruhi kesehatan umum
c. Indera Pengecap dan Pencium
Dengan bertambahnya umur, kemampuan mengecap, mencerna dan memetabolisme
makanan berubah. Penurunan indera pengecap dan penciuman pada lansia menyebabkan
sebagian besar kelompok umur ini tidak dapat lagi menikmati aroma dan rasa makanan
karena taste buds atau tunas pengecap pada lidah hilang pada usia 80 tahun, keadaan ini
dapat menyebabkan lansia kurang menikmati makanan dan mengalami penurunan nafsu
makan dan asupan makanan selain itu juga merupakan manifestasi penyakit sistemik pada
lansia disebabkan kandidiasis mulut dan defisiensi nutrisi terutama defisiensi seng.
d. Gastrointestinal
Motilitas lambung dan pengosongan lambung menurun seiring dengan meningkatnya
usia. Lapisan lambung lansia menipis dan sekresi HCL dan pepsin berkurang saat usia
4

diatas 60 tahun akibatnya penyerapan vitamin dan zat besi berkurang sehingga berpengaruh
pada kejadian osteoporosis dan osteomalasia pada lansia. Selain itu kemampuan peristaltik
esofagus mendorong makanan ke lambung menurun sehingga pengosongan esofagus
terlambat.
Di usus halus ditemukan adanya kolonisasi bakteri pada lansia dengan gastritis atrofi
yang dapat menghambat penyerapan vitamin B selain itu motilitas usus halus dan usus besar
terganggu sehingga menyebabkan konstipasi sering terjadi pada lansia.
e. Hematologi
Berbagai kelainan hematologi dapat terjadi akibat dari proses menua pada sistem
hematopoetik. Anemia defisiensi zat besi adalah salah satu bentuk kelainan hematologi
yang sering dialami pada lansia. Penyebab utamanya akibat kehilangan darah terutama
berasal dari perdarahan kronik sistem gastrointestinal akibat bebagai masalah pencernaan.
Menurunnya cairan saluran cerna (sekresi pepsin) dan enzim-enzim pencernaan proteolitik
mengakibatkan pencernaan protein tidak efisien
Tabel 2. Perubahan akibat Proses Menua3
Keseluruhan
- Berat badan, tinggi badan, dan kadar air badan
total menurun
Kardiovaskuler

Ratio lemak dan massa tubuh meningkat


Cardiac output, respon detak jantung terhadap
stress menurun

Peningkatan kekauan tunika intima jantung

Katup jantung jadi lebih kaku

Paru

Penurunan elastisitas pembuluh darah


Elastisitas, aktifitas silia dan reflek batuk menurun

Ginjal

Kapasitas vital, ambilan O2 maksimal menurun


Jumlah glomerulus abnormal meningkat

Aliran darah ginjal, bersihan kreatinin, osmolaritas

Saluran Cerna

urin menurun
Rasa pengecap dan prosukdi air ludah menurun

Tulang rangka

Prosukdi asam lambung dan enzim lain menurun


Osteoarthritis dan osteoporosis meningkat

Hormon

T3 dan testosterone bebas menurun

Insulin, norepinefirn, parathormone, vasopressin


5

meningkat
Sistem saraf

Berat

otak,

intelektual,

kemampuan

belajar

menurun
-

Jumlah jam tidur & kenyenyakan tidur menurun

Hasil penelitian menunjukkan total konsumsi air putih per hari rata-rata minum 6-7
gelas 51,43% dan kurang dari 5 gelas 21,43%. Sebaiknya Lansia membatasi konsumsi
garam dan gula karena absorpsi gula yang cepat mengakibatkan perubahan kadar gula
dalam darah lebih cepat beresiko terhadap obesitas dan diabetes. Lansia disarankan
mengkonsumsi makanan berkualitas seperti susu tanpa lemak, 2 - 3 gelas sehari.3
Perilaku Makan Pada Lansia :
a) Perubahan fisiologis karena penuaan dapat mengubah perilaku makan.
b) Penuaan menyebabkan menurunnya jumlah dan kerja enzim saliva yang diproduksi,
serta timbulnya masalah gigi. Akibatnya, perilaku makan berubah dengan
kecenderungan memilih makanan yang lebih lembut (Schol, 1986)
c) Kemampuan mengindikasikan rasa haus berkurang shg tdk mampu minum air sesuai
kebutuhan, padahal peranan air sangat penting pada lansia krn fungsi ginjal menurun.
Pada orang lanjut usia ada dua hal yang perlu diperhatikan yang berkaitan dengan
kebiasaan makannya yaitu :

pengaruh dari gizi yang tidak bermutu karena tidak cukup protein, mineral,
dan vitamin yang dimakan dan pengaruh makanan yang salah sebagai akibat

salah makan atau terlalu banyak makan


penggunaan energi makin menurun karena proses metabolisme basalnya
makin menurun

Sebaiknya dipilih makanan yang lunak, mudah dikunyah, dan untuk meningkatkan
selera makan dapat ditambahkan bumbu.
Masalah gizi usia lanjut, merupakan rangkaian proses masalah gizi sejak usia muda.
Kualitas gizi dapat dilihat setelah tua. Disamping itu beberapa penelitian membuktikan
bahwa ada masalah gizi pada usia lanjut. Sebagian besar masalah gizi pada usia lanjut adalah
gizi lebih dan obesitas. Kedua masalah ini kemudian memacu timbulnya penyakit
degeneratif. Seperti penyakit jantung coroner, hipertensi, diabetes, batu empedu, gout
(rematik), ginjal, sirosis hati dan kanker.
6

Bukan hanya masalah gizi lebih saja, namun masalah gizi kurang juga banyak terjadi
pada orang tua. Masalah kurang gizi akan menyebabkan kurang energy kronis (KEK), anemia
dan kekurangan zat gizi mikro lainnya. Penyakit yang sering diderita lansia antara lain:
1. Kegemukan atau Obesitas
2. Penyakit Jantung Koroner
3. Hipertensi
4. Diabetes Mellitus
5. Osteoporosis
6. Anemia
7. Gout
2.5. Kebutuhan Gizi
Pada lansia terjadi perubahan kebutuhan kecukupan gizi. Gizi bermanfaat mengganti selsel yang rusak dan membantu bagian lain yang diperlukan oleh tubuh seperti hormone, enzim
dan sel darah merah, untuk itu gizi yang dikonsumsi harus memenuhi kebutuhan faal dan
biokimia tubuh. Dalam hal ini kelebihan atau kekurangan zat gizi yang dapat menyebabkan
gangguan kesehatan maupun biokimia tubuh.
Kebutuhan gizi lansia lebih rendah dibandingkan kebutuhan gizi di usia dewasa. Hasilhasil penelitian menunjukan bahwa kecepatan metabolisme basal pada orang-orang berusia
lanjut menurun sekitar 15-20%, disebabkan berkurangnya massa otot dan aktivitas. Kalori
(energi) diperoleh dari lemak 9,4 kal, karbohidrat 4 kal, dan protein 4 kal per gramnya. Bagi
lansia komposisi energi sebaiknya 20-25% berasal dari protein, 20% dari lemak, dan sisanya
dari karbohidrat. Kebutuhan kalori untuk lansia laki-laki sebanyak 1960 kal, sedangkan untuk
lansia wanita 1700 kal. Bila jumlah kalori yang dikonsumsi berlebihan, maka sebagian energi
akan disimpan berupa lemak, sehingga akan timbul obesitas. Sebaliknya, bila terlalu sedikit,
maka cadangan energi tubuh akan digunakan, sehingga tubuh akan menjadi kurus.

1) Karbohidrat dan serat makanan


Menurut National cancer Institute, lansia direkomendasikan untuk mengkonsumsi 2030 gr/hari, dianjurkan untuk mengurangi konsumsi gula-gula sederhana dan menggantinya
dengan karbohidrat kompleks, yang berasal dari kacang-kacangan dan biji-bijian yang
berfungsi sebagai sumber energi dan serat.
1. Serat
7

Asupan serat pada lansia sebaiknya tidak kurang dari 30 gram sehari. Ketiadaan
serat akan mengakibatkan terjadinya konstipasi, hemoroid, diverticulosis, DM, PJK dan
obesitas. Memakan sayuran mempunyai fungsi ganda, yaitu selain sebagai sumber serat
juga merupakan sumber vitamin dan mineral yang semua itu sangat dibutuhkan untuk
memelihara kesehatan tubuh manusia. Tidak dianjurkan mengkonsumsi suplemen serat
karena dikhawatirkan konsumsi serat terlalu banyak sehingga dapat menyebabkan
mineral dan zat gizi lain terserap oleh serat dan tidak dapat diserap tubuh.
2. Protein
Untuk lebih aman, secara umum kebutuhan protein bagi orang dewasa per hari
adalah 1 gram per kg berat badan. Pada lansia massa ototnya berkurang. Tetapi ternyata
kebutuhan tubuhnya akan protein tidak berkurang. Untuk lansia sebaiknya konsumsi
proteinnya ditingkatkan sebesar 12-14% dari porsi untuk orang dewasa. Sumber protein
yang baik diantaranya adalah pangan hewani dan kacang-kacangan.
3. Lemak
Konsumsi lemak yang dianjurkan adalah 30% atau kurang dari total kalori yang
dibutuhkan. Konsumsi lemak total yang terlalu tinggi (lebih dari 40% dari konsumsi
energi) dapat menimbulkan penyakit atherosclerosis. Juga dianjurkan 20% dari
konsumsi lemak tersebut adalah asam lemak tidak jenuh (PUFA = poly unsaturated faty
acid). Minyak nabati merupakan sumber asam lemak tidak jenuh yang baik, sedangkan
lemak hewan banyak mengandung asam lemak jenuh. Lemak adalah penyumbang
energi terbesar. Fungsi lain dari lemak adalah sebagai pelarut vitamin A,D, E dan K.
Lemak terdiri dari:

Lemak Jenuh
Konsumsi lemak jenis ini dalam jumlah berlebihan dapat meningkatkan kadar

kolesterol dalam darah. Bahan makanan yang mengandung lemak jenuh adalah: Lemak
hewan, lemak susu, mentega, keju, krim, santan, dll.

Lemak Tak jenuh


Lemak tak jenuh merupakan lemak yang memiliki ikatan rangkap yang terdapat di

dalam minyak ( lemak cair)dan berada dalam dua bentuk isomer cis dan trans.
1) Lemak tak jenuh tunggal : minyak zaitun, minyak wijen
2) Lemak tak jenuh ganda : minyak kedelai, minyak zaitun dan
8

minyak ikan
4. Cairan
Dianjurkan minimal kita minum air putih 1,5-2 L/hari. Minuman seperti teh, kopi
alcohol, sirup tidak baik untuk kesehatan terutama bagi lansia yang mempunyai
penyakit seperti diabetes, hipertensi, obesitas dan jantung. Konsumsi cairan bagi
manula adalah sekitar 6-8 gelas (2000ml) dalam sehari.
5. Vitamin dan Mineral
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa umumnya lansia kurang mengkonsumsi
vitamin A, B1, B2, B6, niasin, asam folat, vitamin C, D, dan E umumnya kekurangan
ini terutama disebabkan dibatasinya konsumsi makanan, khususnya buah-buahan dan
sayuran, kekurangan mineral yang paling banyak diderita lansia adalah kurang mineral
kalsium yang menyebabkan kerapuhan tulang dan kekurangan zat besi menyebabkan
anemia.
Kebutuhan vitamin dan mineral penting untuk membantu metabolisme zat-zat gizi
yang lain. Vitamin dan Mineral dibutuhkan sebagai pengatur tubuh dengan jalan
memperlancar proses oksidasi, memelihara fungsi normal otot dan saraf, vitalitas
jaringan dan menunjang fungsi-fungsi tertentu.
Beberapa zat gizi kebutuhannya meningkat sejalan dengan usia, misalnya saja
vitamin D untuk usia 50-70 tahun adalah 10 g/hari sedangkan untuk usia >70 tahun
adalah 15 g/hari . Kebutuhan vitamin C untuk usia <50 tahun adalah 100mg/hari.
2.6. Angka Kebutuhan Gizi Lansia
Angka kecukupan gizi (AKG) yang dianjurkan adalah banyaknya tiap-tiap gizi esensial
yang harus dipenuhi dari makanan sehari-hari untuk mencegah defisiensi zat gizi. AKG
dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, berat badan, aktivitas fisik dan keadaan fisiologis
seperti hamil dan menyusui.

2.7. Gizi dan Kaitannya dengan Berat Badan


Kecukupan gizi pada lansia prosentase untuk zat gizi makro adalah sebagai berikut: 20
25% protein, 20% lemak, 55 60% karbohidrat. Rata-rata konsumsi energi adalah 1571,54
223,02 Kkal, apabila yang menjadi acuan adalah ketentuan Depkes RI 2005 maka rata-rata
konsumsi tersebut sudah bisa dikatagorikan baik yaitu lebih dari 90 % dari angka kecukupan
9

gizi.
Pada orang lanjut usia ada dua hal yang perlu diperhatikan yang berkaitan dengan
kebiasaan makannya yaitu pengaruh dari gizi yang tidak bermutu karena tidak cukup protein,
mineral, dan vitamin yang dimakan dan pengaruh makanan yang salah sebagai akibat salah
makan atau terlalu banyak makan.
Pada lansia penggunaan energi makin menurun karena proses metabolisme basalnya
makin menurun. Sebaliknya konsumsi makanan sumber protein, vitamin, dan mineral perlu
ditingkatkan baik jumlah maupun mutunya. Sebaiknya dipilih makanan yang lunak, mudah
dikunyah, dan untuk meningkatkan selera makan dapat ditambahkan bumbu.
Persepsi yang benar mengenai lansia adalah agen perubahan dan mampu memberikan
keuntungan bukan beban masyarakat dan keluarga, mereka merupakan sumber daya yang
tidak terggantikan dalam hal kaya pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman.
2.8. Menu Harian Untuk Lansia
Para ahli gizi menganjurkan bahwa untuk lansia yang sehat, menu sehari-hari hendaknya:

Tidak berlebihan, tetapi cukup mengandung zat gizi sesuai dengan persyaratan kebutuhan
lansia.

Bervariasi jenis makanan dan cara olahnya

Membatasi konsumsi lemak yang tidak kelihatan

Membatasi konsumsi gula dan minuman yang banyak mengandung gula

Menghindari konsumsi garam yang terlalu banyak, merokok dan minuman beralkohol

Cukup banyak mengkonsumsi makanan berserat untuk menghindari sembelit

Minum yang cukup

Tabel 2.3. Pola susunan makanan untuk manula dalam sehari

10

DAFTAR PUSTAKA
1. Ridwan M. Jurnal Hubungan Kehilangan Gigi dengan Status Gizi Pada Lansia Di
Panti Werdha Salib Putih Salatiga. Semarang : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Ngudi

11

Waluyo

Ungaran,

2015.

Diunduh

pada

http://perpusnwu.web.id/karyailmiah/documents/4487.pdf, 19 Desember 2016.


2. Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak. Pedoman Pelayanan Gizi
Lanjut Usia. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI, 2011. Diunduh pada :
file:///C:/Users/My-User/Downloads/BK2012-374.pdf, 19 Desember 2016.
3. Nisa A. Gizi Pada Lansia. Jawa Tengah : Internsip Dokter Indonesia Puskesmas
Pringsurat

Kabupaten

Temanggung,

2014.

Diunduh

pada

:https://id.scribd.com/document/292349227/F4-Gizi-Pada-Lansia

12