Anda di halaman 1dari 8

Pencemaran Air

1.1 Air Bersih dan Air Tercemar


Dewasa ini air menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian yang seksama
dan cermat. Saat ini air yang bersih dan sehat yang sesuai dengan standar
tertentu merupakan barang yang mahal karena air sudah banyak tercemar oleh
bermacam-macam limbah dari hasil kegiatan manusia, baik limbah dari kegiatan
rumah tangga, limbah dari kegiatan industri dan kegiatan-kegiatan lainnya.
Air yang ada di bumi ini tidak pernah terdapat dalam keadaan murni bersih,
tetapi selalu ada senyawa atau mineral (unsur) lain yang terlarut di dalamnya.
Hal ini tidak berarti bahwa semua air bumi ini telah tercemar. Sebagai contoh, air
yang diambil dari mata air di pegunungan dan air hujan. Keduanya dapat
dianggap sebagai air yang bersih, namun senyawa atau mineral yang terdapat di
dalamnya berbeda.

Air hujan mengandung: SO4, Cl, NH3, CO2, N2, C, O2, debu.

Air dari mata air pegunungan mengandung: Na, Mg, Ca, Fe, O2.

Untuk memperoleh air bersih cukup sulit dewasa ini, karena sekarang air sudah
banyak yang tercemar, walaupun kelihatannya bersih namun belum tentu layak
untuk digunakan.

Selain itu, air seringkali juga mengandung bakteri atau mikroorganisme lainnya.
Air yang mengandung bakteri atau mikroorganisme tidak dapat langsung
digunakan sebagai air minum tetapi harus direbus dulu agar bakteri dan mikroorganismenya mati. Pada batas-batas tertentu air minum justru diharapkan
mengandung mineral agar air itu terasa segar.

Kriteria air bersih:


1) Tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa.

2) Mempunyai pH berkisar antara 6,5 7,5


3) Tidak terdapat zat-zat kimia
4) Tidak terdapat mikroba
5) Harga DO adalah 8,32 mg/L. DO (Disolved Oxygen) yaitu banyaknya oksigen
yang dibutuhkan oleh setiap makhluk hidup di dalam air. Semakin tinggi DO air
maka kualitas air makin baik.
6) Harga BOD sebesar 5 ppm/L. BOD (Biologycal Oxygen Demand) yaitu jumlah
oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme di dalam lingkungan air untuk
memecah (mendegradasi) bahan buangan organik yang ada di dalam air.
Semakin tinggi BOD, maka kualitas air makin rendah.
Selain itu, untuk mengetahui bahwa air tersebut bersih ataukah telah tercemar
dapat dilakukan dengan mengamati perubahan pada air tersebut. Indikator atau
tanda bahwa air lingkungan telah tercemar dapat diamati melalui:
1.

Adanya perubahan suhu air.


Makin tinggi kenaikan suhu air makin sedikit oksigen terlarut di dalamnya.

2.

Adanya perubahan pH.

Air dapat bersifat asam atau basa, tergantung besarnya konsentrasi ion
hidrogen di dalam air. Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan
mempunyai pH berkisar antara 6,5-7,5.
3.

Adanya perubahan warna, bau dan rasa air.

Perubahan warna pada air dari bening menjadi keruh dan hitam merupakan
indikator terjadinya pencemaran air. Timbulnya bau pada air secara mutlak
dapat dipakai sebagai salah satu tanda terjadinya tingkat pencemaran air yang
tinggi. Adanya rasa pada air pada umumnya diikuti pula dengan perubahan pH
air.
4.

Timbulnya endapan, koloidal, bahan terlarut.

Bahan-bahan yang dibuang ke air apabila tidak larut dengan sempurna akan
mengendap di dasar perairan dan yang dapat larut sebagian akan menjadi
koloidal.
5.

Adanya mikroorganisme patogen.

Mikroorganisme sangat berperan dalam proses degradasi bahan buangan


(polutan). Kalau bahan buangan yang harus didegradasi banyak, berarti
mikroorganisme akan ikut berkembang biak. Pada perkembangbiakan
mikroorganisme ini tidak tertutup kemungkinan bahwa mikroba patogen
(penyebab penyakit) ikut berkembang pula.
6.

Meningkatnya radioaktif lingkungan.

Zat radioaktif dapat menyebabkan berbagai macam kerusakan biologis apabila


tidak ditangani dengan benar, maka tidak dibenarkan dan sangat tidak etis bila
ada yang membuang bahan sisa radioaktif ke lingkungan. Pembakaran batu bara
adalah salah satu sumber yang dapat menaikkan radioaktif lingkungan.

1.2

Sumber Pencemaran Air

Pencemaran air terjadi karena masuknya zat atau komponen berbahaya ke


dalam air, sehingga kualitas air menjadi turun/terganggu. Zat-zat atau komponen
yang dapat menimbulkan pencemaran biasa disebut dengan polutan. Karena
bersifat melarutkan, air menjadi amat rentan terhadap polusi. Banyak zat kimia
buatan termasuk racun yang mematikan, dapat memasuki air dan kemudian
terbawa aliran air masuk
menjelajahi lingkungan. Polutan yang amat berbahaya adalah jenis-jenis yang
tidak dapat dipecahkan atau diuraikan melalui proses biologis. Zat-zat ini dapat
ter-ambil oleh tumbuhan dan hewan dan terakumulasi pada hewan yang
memangsanya.
Sumber pencemaran air antara lain:
a. Limbah Rumah Tangga
Limbah rumah tangga seperti deterjen, sampah, dan kotoran (hewan
maupun manusia) memberikan andil yang cukup besar dalam menyebabkan
pencemaran air sungai, terutama di daerah perkotaan. Perairan yang tercemar
kotoran dan sampah yang mengandung bakteri dan virus, dapat menimbulkan
penyakit, terutama bagi masyarakat yang menggunakan air sebagai sumber
kehidupan sehari-hari. Sampah dan kotoran juga memerlukan oksigen untuk
proses penguraiannya, sehingga kadar oksigen dalam air dapat berkurang. Jika
kadar oksigen suatu perairan turun drastis maka perairan tersebut rawan bagi
kehidupan biota air seperti ikan

Gb 1. 6 Pencemaran Sungai karena Limbah


b. Limbah Pertanian
Kegiatan pertanian dapat menyebabkan pencemaran air terutama karena
penggunaan pupuk buatan, pestisida, dan herbisida. Pencemaran air oleh zat-zat
ini dapat meracuni organisme air seperti plankton, ikan, hewan yang meminum
air tersebut, dan manusia yang menggunakan air tersebut untuk keperluan
sehari-hari.
Selain itu, masuknya pupuk organik dapat meningkatkan zat-zat hara di
perairan. Hal ini menyebabkan pertumbuhan ganggang menjadi pesat
(blooming). Pertumbuhan ganggang yang cepat dan kemudian mati
membutuhkan banyak oksigen untuk menguraikannya. Kondisi ini mengakibatkan kurangnya oksigen dan mendorong terjadinya kehidupan organisme
anaerob.

Gambar 1.7 Pertumbuhan Ganggang Di Perairan Tercemar


c. Limbah Industri
Limbah industri yang dapat mencemari air biasanya berasal dari pabrik pengolahan hasil ternak, polutan logam berat, dan polutan panas yang antara lain
berasal dari air pendingin industri. Sebagian besar industri membuang limbah
cairnya ke per-airan tanpa diolah terlebih dahulu. Untuk menanggulangi hal
tersebut, pemerintah membuat aturan bahwa limbah industri harus diolah
terlebih dahulu sebelum dibuang ke perairan. Limbah cair yang telah diolah pun
biasanya masih mengandung bahan beracun dan berbahaya seperti merkuri
(Hg), timbal (Pb), krom (Cr), seng (Zn) dan nikel (Ni).

Gb 1. 8 Pencemaran air diakibatkan limbah industri


d. Limbah Pertambangan

Gambar 1.9 Ikan Mati Akibat Tumpahan Minyak

Pencemaran air laut oleh minyak biasanya disebabkan oleh limbah


pertambangan minyak lepas pantai dan kebocoran kapal tanker yang mengangkut minyak. Setiap tahun diperkira-kan jumlah kebocoran dan tumpahan
minyak dari kapal tanker ke laut menca-pai 3,9 juta ton sampai 6,6 juta ton.
Air yang tercemar dapat mengakibatkan kerugian yang besar bagi makhluk
hidup. Kerugian yang disebabkan oleh pencemaran air antara lain adalah:
1.

Air menjadi tidak bermanfaat lagi.

Air yang tidak dapat dimanfaatkan lagi sebagai penunjang kehidupan makhluk
hidup merupakan kerugian yang terasa langsung oleh manusia. Air yang telah
tercemar tidak dapat digunakan lagi untuk berbagai macam keperluan seperti
keperluan rumah tangga, industri, pertanian, dan lain-lain. Selain itu air juga
menjadi tidak bermanfaat bagi hewan dan tumbuhan.
2.

Air menjadi penyebab timbulnya penyakit.

Air yang telah tercemar, baik oleh senyawa organik maupun anorganik akan
mudah sekali menjadi media berkembang biaknya berbagai macam bibit
penyakit.

1.2 Kasus Pencemaran Air


Akhir-akhir ini kamu tentu sering melihat atau mendengar beberapa kasus
pencemaran air, baik dari media cetak maupun media elektronik. Pencemaran
air yang menyebabkan menurunnya kualitas air tersebut juga terjadi di beberapa
daerah di Indonesia yang dapat mengancam nyawa jutaan manusia. Untuk lebih
jelasnya marilah kita perhatikan beberapa kasus di bawah ini!
Tumpahan minyak dapat merusak kehidupan laut seperti burung laut dan ikan.
Minyak yang menempel pada bulu burung dan insang ikan dapat mengakibatkan
kematian hewan-hewan tersebut.
a. Kualitas air tanah dan sungai di Jakarta mengkhawatirkan, pemantauan yang
dilakukan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) menunjukkan baik air
sungai maupun air tanah di DKI Jakarta memiliki kandungan pencemar organik
dan anorganik tinggi sehingga tidak sesuai lagi dengan baku mutu
peruntukannya yaitu sebagai air minum, perikanan, pertanian dan usaha
perkotaan lainnya (sumber: Tempo interaktif, tanggal 12 Oktober 2004).

b. Data hasil Studi Brantas River Pollution Control-SUDP tahun 1998


menunjukkan bahwa selama satu dasawarsa ini beban limbah industri dan
domestik Kali Surabaya justru terus meningkat dan kualitas limbahnya pun jauh
di atas baku mutu (sumber: Surabaya Post, tanggal 23 Juni 2000).

c. Di Pasuruan dan Pantai Utara Bali ditemukan adanya pencemaran logam


berat dan E. coli. Selain itu di sungai-sungai dekat industri seperti di Cisadane
Banten ditemukan senyawa kimia yaitu krum, besi, seng, dan nikel (sumber:
http://www.mediaindo.co.id, diakses tanggal 8 Maret 2006).

1.4 Dampak dari pencemaran air antara lain:


a.

Punahnya organisme ekosistem air

b. Ikan atau hewan air yang tercemar dapat meracuni orang yang
memakannya. Misalnya : akibat penyemprotan tanaman dengan insektisida
DDT(dikloro-difenil-trikloroetana) , air sungai tercemar. DDT masuk ke dalam
tubuh alga. Karena ikan memakan alga, maka DDT masuk ke tubuh ikan kecil.
Selanjutnya ikan kecil dimakan ikan besar sehingga DDT sampai ke tubuh ikan
besar. Orang yang memakan ikan besar tercemar DDT, dapat keracunan atau
bahkan terancam jiwanya. Jadi, bahan pencemar berjalan mengikuti rantai
makana. Selama mengikuti rantai makana itu, konsentrasi bahan
pencemar(polutan) akan semakain tinggi. Konsentrasinya di perairan biasanya
rendah. Konsentrasi itu meningkat pada alga, semakin meningkat pada
konsumen I, dan terus meningkat pada konsumen berikutnya. Hal ini di sebut
sebagai pemekatan hayati. Ini berarti bahwa pencemaran dapat meusnahkan
organisme yang berada pada tingkat trofik tinggi. Karnifor puncak (misalnya
Elang) banyak yang mati karenanya.
Bahan-bahan yang dapat mneyebabkan terjadinya pencemaran air antara lain
detergen, minyak bumi, insektisida, pupuk, sisa sisa bahan organik (nasi,
minyak goreng, kotoran, urine), dan sampah.
1.5 Cara penanggulangan pencemaran air
a. Tidak membuang limbah cair ke selokan atau sungai. Industri di haruskan
membuat kolam pengolahan limbah cair sehingga limbah cair yang dibuang ke
sungai tidak membahayakan ekosistem air. Seharusnya, limbah pemukiman
tidak langsung di buang ke sungai, melainkan di masukkan terlebih dahulu ke
kolam pengolahan limbah.
b. Tidak membuang sampah di sembarang tempat, yang akan terbawa aliran
air hujan ke selokan dan sungai
c.

Tidak membuangsisa obat atau insectisida ke selokan atau sungai

1.5 Usaha Penanggulangan


Air merupakan salah satu sumber kehidupan bagi umat manusia. Apabila air
telah tercemar maka kehidupan manusia akan terganggu. Ini merupakan
malapetaka, karena hampir semua makhluk hidup di muka bumi ini memerlukan
air, tanpa air tidak akan ada kehidupan di dunia ini.

Oleh karena pencemaran lingkungan mempunyai dampak yang sangat


luas dan sangat merugikan manusia maka perlu diusahakan pengurangan
pencemaran lingkungan atau bila mungkin mencegah atau meniadakannya
sama sekali. Usaha-usaha untuk mengurangi dan menanggulangi pencemaran
air antara lain:
1.

Penanggulangan Secara Non-Teknis

Kegiatan ini dilakukan oleh pemerintah dengan menciptakan peraturan


perundangan, seperti misalnya:
a. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL),
b.Perencanaan kawasan kegiatan industri dan teknologi,
c. Pengaturan dan pengawasan kegiatan,
d. Menanamkan perilaku disiplin.
2.

Penanggulangan Secara Teknis


Antara lain dengan cara:

a. Menggunakan pupuk alami dan menggunakan binatang pemakan hama


sebagai pengganti
pestisida.
b. Tidak membuang sampah ke sungai atau ke perairan lainnya.
c. Air limbah yang akan dibuang ke perairan harus diolah lebih dahulu sehingga
memenuhi standar air limbah yang telah ditetapkan pemerintah.
3. Penanggulangan Secara Edukatif, baik melalui pendidikan formal maupun
non-formal, misalkan
dengan cara mengajarkan pada anak untuk melakukan hal-hal yang
sederhana terlebih dahulu,
seperti tidak membuang sampah di selokan atau saluran air lainnya.