Anda di halaman 1dari 12

TUGAS PRAKTIKUM

Sistem Pembiayaan Berbasis Diagnosis


Sistem Billing INA-CBG 5.1

Disusun oleh :
Paramita Maharani (G41130801)

POLITEKNIK NEGERI JEMBER


Jalan Mastrip Po.Box 164 Jember 68101 Jawa Timur
Telepon 0331 333532 Fax 0331 333531
Website : www.polije.ac.id
Email: politeknik@polije.ac.id

BILLING SISTEM DI RUMAH SAKIT


Billing sistem adalah sistem yang berfungsi mengatur dan memproses
semua tagihan yang berkaitan dengan item atau jasa yang dijual. Proses pada
billing Rumah Sakit akan mencatat dan memproses semua kegiatan dan charge
yang akan dikenakan terhadap pasien, mulai dari pendaftaran, tindakan di
poliklinik, tindakan di penunjang (lab/rad,dll), pemberian dan pemakaian obatobatan, dll.
Billing sistem RS itu ada 3 macam :
1. Manual / Stand Alone Bill System,
yaitu billing system yang tidak terintegrasi dengan sistem-sistem lainnya
(aplikasi-aplikasi lain). Pada Billing System jenis ini semua tindakan di
poliklinik dan penunjang dicatat secara manual, lalu diinputkan ke aplikasi
oleh petugas billing, lalu tagihan / invoice bisa dicetak.
2. Semi Integrated Bill System,
yaitu billing system yang terintegrasi dengan sistem lainnya tetapi cuman
sebagian, misal Pendaftaran > Billing, atau Pendaftaran > Penunjang >
Billing, dll.
3. Fully Integrated Bill System,
yaitu billing system yang terintegrasi dengan seluruh sistem rumah sakit
(khususnya yang berkaitan dengan masalah keuangan). Pada billing system
jenis ini semua proses yang menghasilkan charging ( berbiaya ) akan
langsung tercatat di sistem, sehingga ketika pasien akan pulang, petugas
billing tidak terlalu sibuk mengentry tindakan-tindakan / item-item yang di
charge ke pasien dan dengan demikian waktu tunggu pasien akan semakin
sebentar dan pelayanan bisa lebih memuaskan. Semua proses mulai dari
pendaftaran, tindakan di poliklinik, penunjan, farmasi, dll akan langsung
tercatat, bahkan back office (finance & akunting) akan memperoleh laporan
dan data yang bisa dengan mudah dan cepat tersaji.

APLIKASI INA-CBG
Aplikasi INA-CBG merupakan aplikasi yang digunakan dalam program Jaminan
Kesehatan Nasional (JKN) yang dimulai pada 1 Januari 2014. Aplikasi ini sebelumnya juga
telah digunakan dalam program kesehatan yang dicanangkan oleh pemerintah seperti
JAMKESMAS pada tahun 2010 dengan versi sebelumnya. Aplikasi INA-CBD pertama kali
dikembangkan dengan versi 1.5 yang erkembang sampai dengan saat ini menjadi versi 5
dengan pengembangan pada beberapa hal diantaranya:
1. Interface
2. FItur
3. Grouper
4. Penambahan variable
5. Tarif INA-CBG
6. Modul Protokol Integrasi dengan SIMRS serta BPJS
7. Rancang bangun Pengumpulan data dari rumah sakit ke BPJS Kesehatan dan
Kementerian Kesehatan RI
Pada aplikasi baru tahun 2016 telah terjadi perubahan yang signifikan baik dari segi
interface maupun alur pengiriman data.
Proses pelaksanaan INA-CBG versi 5.1:
A. Instalasi
Aplikasi ini berjalan pada windows 7 dan membutuh kan koneksi internet untuk
pengiriman data klaim ke Data Center Kementerian Kesehatan.
Pra instalasi
1. Proses instalasi harus dilakukan di computer dengan status administrator
2. Format tanggal dan regional menggunakan format Indonesia
3. Lakukan back up data secara manual pada computer yang akan dilakukan upgrade ke
versi 5
B. Tahap instalasi
1. Silahkan bua paket INA-CBG 5.0, kemudian klik kanan dan pilih run as
administrator untuk windows 7 keatas

2. Klik yes untuk windows 7 keatas

3. Kemudian pilih bahasa yang akan digunakan, dan klik ok

4. Kemudian klik lanjut atau next

5. Kemudian klik instal

C. Proses Operasional aplikasi INA-CBG versi 5.0


1. Setelah instalasi selesai, aktifkan xampp dengan cara klik icon xampp (mohon module
service tidak di checklist, karena akan mengakibatkan grouper tidak berhasil)
2. Kemudian buka browser yang ada dan ketik alamat pada url : localhost/eclaim,
kemudian masukkan username dan password : inacbgs.
3. Setup data rumah sakit
4. Lakukan pengaturan dan pemeliharaan pada opsi akun
5. Pada pengaturan dan pemeliharaan akan terdapat menu setup, migrasi dan personel
dimana pada menu setup terdapat submenu:
a. Rumah sakit : mengenai setting data tarif setiap rumah sakit
b. Jaminan
: mengenai model jaminan
c. DPJP
: mengenai daftar nama dokter penanggung jawab
d. Integrasi
: menu integrasi dengan SIM-RS, Kementerian Kesehatan, dan
BPJS
6. Lakukan penyesuaian data sesuai yang telah tercantum di rumah sakit dan langkah
rinci pada juknis
D. Proses input data
1. Pilih menu coding/ grouping, masukkan nomor Rekam Medik/ Nomor SEP/ Nama
apabila pasien lama, atau klik pasien baru bagi pasien yang baru pertama kali dating.
2. Untuk pasien baru, silahkan memasukkan data sesuai variabel yang diminta sampai
dengan proses grouping
3. Pilih opsi klaim baru
Silahkan diisi sesuai dengan permintaan, mohon perhatikan beberapa variabel seperti:
a. Pada rawat jalan akan ada opsi reguler atau eksekutif hal ini untuk rs yang
ada melayani rawat jalan poli eksekutif.
b. Pada rawat inap terdapat penambahan variabel ada rawat intensif da juga
keterangan mengenai hari di perawatan intensif dan jam penggunaan
ventilator. Variabel ini saat ini tidak akan berpengaruh terhadap tariff yang

dihasikan, variabel bertujuan dalam pengumpulan data kasus intensif untuk


proses updating selanjutnya.
c. Para kasus kronis terdapat penginputan nilai ADL pada fase subakut dan
kronis.
4. Setelah grouping seselasi dilakukan, dapat dilihat pada keterangan special CMG,
apabila pada kasus yang mendapat special CMG dapat ditambahkan.
5. Setelah dilakukan pemilihan speciall CMG maka total tarif akan berubah sesuai
dengan nilai special CMG yang didapatkan, setelah dinilai data sudah valid kemudian
pilih final klaim.
6. Kirimkan data langsung ke pusat data kementerian kesehatan dengan memilih kirim
klaim online. Apabila proses pengiriman data berhasil maka akan muncul notifikasi
terkiim.
Migrasi Data
Migrasi adalah proses perpindahan data dari aplikasi versi 4.1 ke versi 5.0
Ketentuan dalam migrasi:
1. Bagi rumah sakit yang masih melakukan input data di aplikasi INA-CBG 4.1 dapat
langsung melakukan upgrade ke aplikasi 5.1 (dengan menggunakan full installer INACBG 5.1) tanpa harus menginstall versi INA-CBG 5.0.
2. Setelah melakukan upgrade ke 5.1 rumah sakit WAJIB terlebih dahulu melakukan
setup data rumah sakit sebelum melakukan migrasi, karena apabila saat melakukan
migrasi sebelum melakukan setup data rumah sakit, adata akan terekam dengan
database setup default saat proses instalasi.
3. Setelah data rumah sakit sesuai, silahkan lanjutkan proses migrasi, apabila belum
silahkan melakukan update database setup rumah sakit terlebih dahulu sesuaiaturan
yang telah disebutkan sebelumnya.
4. Setelah data sesuai, silahkan melakukan migrasi sesuai dengan tatacara yang telah
disebutkan sebelumnya, dan tunggu sampai proses selesai.
Selama proses migrasi tidak boleh melakukan proses entri data pasien sampai
dengan proses migrasi selesai
5. Proses migrasi dari 4.1 ke aplikasi 5.1 sudah termasuk prosees re-grouping sehingga
tidak perlu melakukan proses batch grouper.
6. Setelah selesai silahkan melakukan proses entry seperti biasa di aplikasi versi 5.1
Hal yang perlu diperhatikan dalam proses instalasi dan migrasi adalah:
1. Aplikasi INA-CBG versi 5 hanya dapat berjalan di sistem operasi Windows minimal
Windows 7.

2. Sebelum melakukan proses instalasi pastikan akun sebagai administrator untuk PC/
laptop yang akan digunakan
3. Setting regional dan date harus diubah menjadi setting Indonesia.
4. Lakukan back up data sebelum melakukan proses update maupun upgrade
5. Sebelum melakukan proses migrasi lakukan dahulu setup data rumah sakit dan
pastikan data sudah sesuai dengan data rumah sakit (kelas, alamat, dll)
6. Selama prose migrasi tidak diperboolehkan entri data dan proses grouping pada
aplikasi INA-CBG versi 5.1
7. Pasien dengan tanggal masuk sebelum 26 Oktober 2016 pada saat migrasi hanya akan
diambil data deografi.
8. Pasien dengan tanggal masuk sebelum 26 Oktober 2016 tidak dapat dilakukan entri
pada aplikasi INA-CBG versi 5.
9. Bagi rumah sakit yang melakukan maupun yang telah melakukan entri di versi 5.0
kemudian melakukan updating dari versi 5.0 ke versi 5.1 harus melakukan proses
batch grouper untuk pasien dengan dimulai pada pasien tanggal masuk 26 Oktober
2016 (akan ada pada pilihan di aplikasi versi 5.1)

ANALISIS BESARAN BILLING SISTEM BERDASARKAN PMK 64 TAHUN 2016


(REFISI PMK 52 TAHUN 2016)
TARIF RAWAT INAP TINGKAT LANJUT (RITL)
Kelas Rawat

: Kelas I

Kelas RS

: Kelas B

Regional

: Regional I

1. Untuk tarif RITL TIDAK terdapat penambahan kode CBGs, yaitu tetap sebanyak 789
Kode CBGs.
2. Tarif CBGs TERTINGGI adalah kode N-1-01-I (Transplantasi Ginjal RinganSedang-Berat) sebesar Rp 250.068.100,- dan untuk RS Swasta sebesar Rp
257.570.100,-.
3. Tarif CBGs TERENDAH adalah kode T-4-10-II (Penyalahgunaan dan
Ketergantungan Obat dan Alkohol Sedang) yaitu sebesar Rp 1.062.500,- untuk RS
Pemerintah dan Rp 1.094.400,- untuk RS Swasta.
4. Terdapat 613 kode (77,69 %) yang mengalami KENAIKAN dibanding tarif lama.
5. Kenaikan tarif tertinggi pada kode I-1-07-III (Prosedur Bypass Koroner Tanpa
Kateterisasi Jantung (Berat) yaitu naik sebesar Rp 82.988.400,- (dari Rp 46.969.800,menjadi Rp 129.958.200,- untuk RS Pemerintah dan Rp 133.857.000,- untuk RS
Swasta).
6. Kenaikan tarif terendah yaitu kode F-4-13-II (Gangguan Bipolar Sedang) yang hanya
naik sebesar Rp 2.700,-.

Rata-rata kenaikan dari 613 kode tersebut adalah Rp 3.312.722,-.

Terdapat 173 kode (21,93 %) yang mengalami PENURUNAN dibanding tarif


sebelumnya.

Penurunan terbesar pada kode I-1-04-III (Prosedur Katup Jantung Tanpa Kateterisasi
Jantung Berat) yaitu turun Rp 38.121.500,- dari tarif lama sebesar Rp 121.722.500,menjadi Rp 83.601.000,- untuk RS Pemerintah dan Rp 86.109.000,- untuk RS Swasta.

Penurunan paling kecil pada kode F-4-14-I (Depresi Ringan) yaitu sebesar Rp 2.300,-.

Rata-rata penurunan tarif dari 173 kode tersebut adalah sebesar Rp 3.239.855,-.

Terdapat 3 Kode (0,38 %) yang TIDAK ADA TARIF nya, yaitu kode P-8-10-I, P-810-II dan P-8-10-III (Neonatal Meninggal Dan Ditransfer ke Fasilitas Perawatan
Akut) derajat Ringan-Sedang-Berat.

Terdapat PERBEDAAN tarif antara RS Pemerintah dan RS Swasta dengan deviasi


yang bervariasi.

Perbedaan tertinggi tarif antara RS Pemerintah dan RS Swasta adalah pada kode N-101-I (Transplantasi Ginjal Ringan-Sedang-Berat) yaitu sebesar Rp 7.502.000,-.

Perbedaan terendah tarif antara RS Pemerintah dan RS Swasta adalah pada kode T-410-II (Penyalahgunaan dan Ketergantungan Obat dan Alkohol Sedang) yaitu sebesar
Rp 31.900,-.

Rata-rata perbedaan tarif RITL antara RS Pemerintah dan RS Swasta adalah Rp


477.677,-.

Tarif Transplantasi Ginjal Ringan (N-1-01-I), Sedang (N-1-01-II) dan Berat (N-1-01III) TETAP SAMA untuk ketiga level tersebut yaitu sebesar Rp 257.570.100,-. Pola
ini masih mempertahankan pola tarif lama yang juga TIDAK membedakan tarif
Transplantasi Ginjal Ringan, Sedang dan Berat.

RAWAT JALAN TINGKAT LANJUT (RJTL)


Kelas RS

: RS Kelas B

Regional

: Regional I

1. Tarif RJTL terdapat penambahan kode CBGs dari sebelumnya sebanyak 288 Kode
menjadi 290 Kode. Penambahan kode tersebut yaitu G-5-17-0 (Penyakit Syaraf
Kranial dan Saraf Perifer Lain-Lain) dan kode K-5-18-0 (Penyakit Sistem Pencernaan
Lain-Lain).
2. Tarif CBGs TERTINGGI adalah kode G-2-10-0 (Prosedur Kraniotomi) sebesar Rp
5.658.800,- untuk RS Pemerintah dan untuk RS Swasta sebesar Rp 5.941.700,-.
3. Tarif CBGs TERENDAH adalah kode M-3-10-0 (Prosedur Manipulative
Osteopathic) yaitu sebesar Rp 73.100,- untuk RS Pemerintah dan Rp 76.700,- untuk
RS Swasta.
4. Terdapat 197 kode (67,93 %) yang mengalami KENAIKAN dibanding tarif lama.

5. Kenaikan tarif tertinggi pada kode N-2-21-0 (ESWL pada saluran kemih) yaitu naik
sebesar Rp 2.689.800,- (dari Rp 1.480.000,- menjadi Rp 4.169.800,- untuk RS
Pemerintah dan Rp 4.378.300,- untuk RS Swasta).
6. Kenaikan tarif terendah yaitu kode Q-5-16-0 (Vaksinasi) yang hanya naik sebesar Rp
200,- dari Rp 102.400,- menjadi Rp 102.600,- untuk RS Pemerintah dan Rp 107.700,untuk RS Swasta.

Rata-rata kenaikan dari 613 kode tersebut adalah Rp 311.964,-.

Terdapat 40 kode (13,79 %) yang mengalami PENURUNAN dibanding tarif


sebelumnya.

Penurunan terbesar pada kode C-3-20-0 (Kemotherapi Pada Tumor Kulit) yaitu turun
Rp 2.645.100,- dari tarif lama sebesar Rp 4.703.800,- menjadi Rp 2.058.700,- untuk
RS Pemerintah dan Rp 2.161.600,- untuk RS Swasta.

Penurunan paling kecil pada kode I-3-10-0 (Prosedur Resusitasi) yaitu sebesar Rp
1.900,- dari tarif lama sebesar Rp 344.900,- menjadi Rp 333.000,- untuk RS
Pemerintah dan Rp 349.700,- untuk RS Swasta.

Rata-rata penurunan tarif dari 173 kode tersebut adalah sebesar Rp 535.530,-.

12. Terdapat 1 Kode (0,34 %) yang TIDAK ADA TARIF nya, yaitu kode P-9-10-0
(Neonatal Meninggal Dan Ditransfer ke Fasilitas Perawatan).
13. Terdapat PERBEDAAN tarif antara RS Pemerintah dan RS Swasta dengan deviasi
yang bervariasi.
a. Perbedaan tertinggi tarif antara RS Pemerintah dan RS Swasta adalah pada
kode G-2-10-0 (Prosedur Kraniotomi) yaitu selisih sebesar Rp 282.900,-.
b. Perbedaan terendah tarif antara RS Pemerintah dan RS Swasta adalah pada
kode M-3-10-0 (Prosedur Manipulative Osteopathic) yaitu sebesar Rp 3.600,-.
c. Rata-rata perbedaan tarif RJTL RS Pemerintah dan RS Swasta adalah Rp
45.194,-.
14. Tidak ada penambahan kode untuk tindakan Gigi dan Mulut, sehingga permasalahan
minim nya kode CBGs untuk tindakan di Poliklinik Gigi dan Mulut RS tetap menjadi
persoalan.

KESIMPULAN
1. Jika kita sebelumnya berharap akan adanya KENAIKAN tarif, maka harus siap-siap
untuk kecewa karena bisa disimpulkan bahwa lebih tepatnya adalah PERUBAHAN,
terdapat kode-kode yang naik namun kode-kode yang turun tarif nya juga cukup
signifikan.
2. Terdapat penambahan kode pada RJTL, namun disisi lain terdapat 3 kode RITL dan 1
kode RJTL yang TIDAK ADA tarif nya, hal ini sangat berpotensi
menimbulkan errorsaat entri dan menghasilkan kode CBGs tersebut.
3. Perbedaan tarif antara RS Swasta dan RS Pemerintah patut dipertanyakan dasar
perhitungan dan sumber data nya karena dengan rata-rata perbedaan tarif
RITLhanya Rp 477.677,- dan rata-rata perbedaan tarif RJTL hanya sebesar Rp
45.194,-, maka dapat disimpulkan bahwa INDEX KEMAHALAN RS Swasta hanya
dihargai senilai tersebut. Pertanyaan besarnya adalah, cukupkah kompensasi
kemahalan untuk RS Swasta sebesar itu ? Tentu memerlukan kajian dan analisa lebih
detail dan mendalam.
4. Ada hal yang aneh namun cukup menarik, yaitu berdasarkan ketentuan PMK Nomor
28 Tahun 2014 bahwa penyalahgunaan dan ketergantungan terhadap obat-obatan
tertentu serta alkohol TIDAK dijamin oleh program JKN, namun ternyata kode dan
tarif untuk diagnosa tersebut ada pada PMK Nomor 59 Tahun 2014 maupun PMK
Nomor 52 Tahun 2016 ini, yaitu kode T-4-10- I / II / III (Penyalahgunaan dan
Ketergantungan Obat dan Alkohol Ringan/Sedang/Berat).
5. Tarif untuk transplantasi ginjal tetap TIDAK ADA perbedaan antara kelas rawatan III,
kelas II dan kelas I seperti halnya pada PMK Nomor 59 Tahun 2014.
6. Pemerintah masih ragu-ragu menaikkan tarif INA -CBGs, dibuat pembeda antara tarif
RS Pemerintah dan RS Swasta memang sudah memenuhi harapan dan keinginan kita
selama ini, namun nampaknya baru sekedar hadiah hiburan bagi RS Swasta.