Anda di halaman 1dari 25

1

LAPORAN TUTORIAL
SKENARIO 2 BLOK 3
Etik dan Hukum kedokteran





Tutor 4
Williem Harvey G1A110008
Hafizani Rahmah G1A110018
Yosie Yulanda Putra G1A110025
Erisya Dwi Puspa G1A110031
Intan Gebriela S G1A110034
Rukiah Mayestira G1A110045
Yuli Setyaningsih G1A110047
Rozadila Esriana G1A110049
Silviana Maya Sari G1A110053
Ayu Novita Sari G1A110066
Anggun Mardalitya G1A110069
Dosen Pemimbing :
dr. NINDYA Aryanti M. Med. Ed
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
UNIVERSITAS JAMBI
2010/2011

2

SKENARIO
Pria dan Nona sepasang kekasih datang ke praktek pribadi dr. B, Sp.OG. Pria mengaku Nona
adalah istrinya dan meminta dr. B, Sp.OG untuk melakukan pengguguran kandungan Nona,
yang baru berusia 18 tahun dan masih duduk di bangku sekolah SMU. Nona juga bersedia
melakukan pengguguran kandungan. Hasil pemeriksaan menunjukkan kehamilan baru berusia
sekitar 8 minggu. Dengan beralasan kondisi psikologis Pria dan Nona yang masih muda dan
belum siap untuk merawat anak, dr. B, Sp.OG bersedia melakukan pengguguran kandungan
dengan sebelumnya meminta persetujuan dan tanda tangan Pria dan Nona pada lembaran
informed consent.
KLARIFIKASI ISTILAH
1. Praktek
penerapan teori secara nyata
2. Sp.OG
spesialis obstetri ginekologi ( dokter ahli kandungan)
3. Pengguguran kandungan
pengakhiran proses kehamilan sebelum usia 22 minggu
4. Psikologis
berhubungan dengan kondisi kejiwaan
5. Informed consent
persetujuan tindakan medik yang diberikan pasien kepada dokter setelah menerima
penjelasan

INDENTIFIKASI MASALAH
1. Pria dan nona sepasang kekasih datang ke praktek pribadi dr. B, Sp.OG. Pria mengaku
Nona adalah istrinya dan meminta dr.B, Sp.OG untuk melakukan pengguguran
kandungan Nona, yang baru berusia 18 tahun dan masih duduk dibangku sekolah
SMU.
2. Nona juga bersedia melakukan pengguguran kandungan dan hasil pemeriksaan
menunjukan kehamilan baru berusia sekitar 8 minggu.
3. Dengan beralasan kondisi psikologis Pria dan Nona yang masih muda dan belum siap
untuk merawat anak, dr. B, Sp.OG bersedia melakukan pengguguran kandungan
3

dengan sebelumnya meminta persetujuan dan tanda tangan Pria dan Nona pada lembar
informed consent.
ANALISIS MASALAH
1. Pria dan nona sepasang kekasih datang ke praktek pribadi dr. B, Sp.OG. Pria mengaku
Nona adalah istrinya dan meminta dr.B, Sp.OG untuk melakukan pengguguran
kandungan Nona, yang baru berusia 18 tahun dan masih duduk dibangku sekolah
SMU.
a. Sebutkan pegertian abortus?(LI)
pengakhiran proses kehamilan sebelum usia 22 minggu
b. Sebutkan jenis - jenis abortus?
Abortus spontan
Abortus buatan/ abortus provokatus
1. Abortus provokatus terapheutik/legal
2. Abortus provokatus kriminalis/ilegal
c. Apa saja landasan hukum tentang abortus?
1. UU kesehatan no 36/2009 pasal 75 - 77
2. KUHP pasal 346 - 349, KUHP pasal 299, KUHP pasal 383
d. Sebutkan aspek dari segi agama, hukum, dan etika terhadap abortus?
dari aspek agama islam
dalam agama islam menurut Fatwa MUI diperbolehkan sebelum 40 hari karena
indikasi medis seperti mengancam nyawa si ibu, janin dideteksi menderita
cacat genetik kalau lahir kelak sulit disembuhkan
aborsi haram hukumnya dilakukan pada kehamilan yang terjadi akibat zina

dari aspek etika
terdapat dalam sumpah hipocrates
deklarasi oslo
deklarasi of genewa
KODEKI bab II butir 7 D
Internasional Method Of Ethic

4


dari aspek hukum
UU Kesehatan no 36/2009 Pasal 75-77
KUHP PASAL 346-349 dan KUHP Pasal 299
e. Apa saja persyaratan dilakukannya abortus?
UU Kesehatan no 36/2009 pasal 75 dan 76
f. Apa saja resiko pengguguran kandungan bagi kesehatan?
Ibunya meninggal karena pendarahan, pembiusan gagal, infeksi kandungan
Ibunya mandul
Ibunya menderita kanker
Rahim ibunya sobek
Anak cacat pada kehamilan berikutnya
g. Sebutkan faktor-faktor yg mempengaruhi aborsi?
Faktor penyakit hereditas, contoh : penyakit jantung
Psikologis, contoh : gila
Faktor usia, contoh : masih kecil
Faktor penyakit ibu
Faktor ekonomi
Faktor sosial
Faktor budaya
Faktor lainnya, seperti : PSK, seks bebas dll
2. Nona juga bersedia melakukan pengguguran kandungan dan hasil pemeriksaan
menunjukan kehamilan baru berusia sekitar 8 minggu.
a. Pada usia kehamilan berapa abortus boleh dilakukan dan berikan penjelasan?
Pada usia kehamilan sebelum 22 minggu
b. Apa saja pengecualian yang memperbolehkan tindakan abortus?
UU Kesehatan no 36/2009 Pasal 75 dan 76
3. Dengan beralasan kondisi psikologis Pria dan Nona yang masih muda dan belum siap
untuk merawat anak, dr. B, Sp.OG bersedia melakukan pengguguran kandungan dengan
5

sebelumnya meminta persetujuan dan tanda tangan Pria dan Nona pada lembar informed
consent.
a. Apa definisi informed consent?
izin/pernyataan setuju dari pasien yang diberikan secara bebas, sadar, dan
rasional, setelah ia mendapat inform yang dipahami dari dokter tentang
penyakitnya

b. Siapa saja yang berhak menandatangani informed consent?
Pasien yang telah dewasa (>21)
Keluarga/wali jika pasien belum cukup umur
Pasien dalam keadaan sadar

c. Jenis-jenis dan bentuk informed consent?
jenis informed consent
informed consent
proksi consent
bentuk informed consent
tersirat ( implied consent)
normal
darurat
dinyatakan (ekpress consent)
tulisan
lisan

d. Apa saja syarat syahnya informed consent?
Diberikan secara bebas
Diberikan pada orang yang sanggup memberikan perjanjian
Telah dijelaskannya bentuk tindakan yang akan dilakukan sehingga pasien
memahami tindakan itu perlu dilakukan
Mengenai sesuatu yang khas
Tindakan itu juga dilakukan pada situasi yang sama

e. Aspek hukum apa saja yang terdapat dalam informed consent?
6

Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 85/Menkes/Per/1X/1998 tentang
persetujuan tindakan medik
UU No 29 tahun 2004 pasal 45 dan 52
IDI fatwa No 319- 1988
Dari sudut hukum pidana informed consent harus dipengaruhi dengan adanya
pasal 351KUHP tentang penganiyaan

f. Apa saja tata cara dalam informed consent?
Permenkes RI NO 585/MenKesh/Per/IX/1989
Penjelasan langsung dari dokter yang melakukan tindakan medis dan dengan
bahasa yang mudah dimengerti oleh pasien
Tidak ada unsur dipengaruhi/ mengarahkan pasien pada tindakan tertentu, semua
putusan diserahkan pasien dan dokter hanya menyarankan dan menjelaskannya
Menyakan ulang kembali apakah sudah mengerti
Lembar informed consent diisi oleh pasien/keluarga/ wali

g. Tindakan medis apa saja yang memerlukan informed consent?
Tindakan-tindakan yang bersifat invasif dan operatif atau memerlukan
pembiusan, baik untuk menegakkan diagnosis maupun tindakan yang bersifat
terapeutik.
Tindakan pengobatan khusus, misalnya radioterapi untuk kanker.
Tindakan khusus yang berkaitan dengan penelitian bidang kedokteran ataupun
uji klinik (berkaitan dengan bioetika)

h. Dalam kondisi apa sajakah yang tidak memerlukan informed consent?
Keadaan darurat medis
Ancaman terhadap kesehatan masyarakat
Pelepasan hak pemberian consen pada pasien
Clinical privilage
Pasien tanpa pendamping yang tidak kompeten memberikan consent



7

i. Apa fungsi dan tujuan dari dilakukannya informed consent?
Tujuan informed consent:
Melingdungi pengguna jasa tindakan medik medis pasien secara hukum dari
segala tindakan medis yang dilakukan tanpa sepengetahuannya maupun tindakan
laksana jasa, tindakan medis yang berwenang, tindakan malpraktek yang
bertentangan dengan hak pasien dan standar profesi medis serta penyalahgunaan
alat canggih yang memerlukan biaya tinggi/ over utilitydation yang sebenarnya
tidak perlu dan tidaki ada alasan medisnya
Fungsi informed consent:
penghormatan terhadap harkat dan martabat pasien selaku manusia
promosi terhadap hak untuk menentukan nasibnya sendiri
untuk mendorong dokter melakukan kehati-hatian dalam mengobati pasien
menghindari penipuan dan miss leading oleh dokter
mendorong untukmengambil keputusan rasional
mendorong keterlibatan publik dalam masalah kedokteran dan kesehatan

j. Informasi apa sajakah yang tertuang dalam informed consent?
Garis besar, seluk beluk penyakit yang diderita prosedur perawatan/
pengobatan yang akan diberikan atau diteruskan
Resiko yang akan dihadapi, misalnya komplikasi yang diduga akan timbul
Prospek atau prognosis keberhasilan ataupun kegagalan.
Alternative metode perwatan atau pengobatan
Hal-hal yang dapat terjadi bila pasien menolak untuk member ikan persetujuan
Prosedur perawatan atau pengobatan yang akan dilakukana merupakan suatu
percobaan atau menyimpang dari kebiasaan, bila hal itu yang akan dilakukan.

k. apakah informed consent dalam skenario ini sah atau tidak? Tidak sah, sesuai dengan
permenkes bab IV pasal 8 sebagai berikut :
pasien dewasa 21 tahun atau sudah menikah dalam keadaan sehat
keluarga pasien bila umur pasien 21, pasien dengan gangguan jiwa, tidak sadar,
pingsan


8

l. apakah ada sangsi hukum atas tindakan pria,nona, dan dr B?
Terdapat dalam KUHP, Pasal 299, Pasal 346, Pasal 348


HIPOTESIS
Tindakan pria, nona dan dokter melakukan abortus profokatus criminalis melanggar aspek
hukum, etika, moral, dan agama


MIND MAPPING







LEARNING ISSUES
TOPIK WHAT 1
KNOW
WHAT I
DONT KNOW
WHAT I HAVE
TO PROVE
HOW WILL I
LEARN
Aborsi - jenis
- landasan


- defenisi Teks book,
internet, buku
UU kesehatan



ABORSI
INFORMED
CONCENT
Definisi
Syarat
Faktor
Jenis
Landasan
Tujuan
Definisi
Syarat
Jenis
Tata Cara
Landasan
Hukum
9

SINTESIS
Pengertian aborsi
Pengguguran kandungan atau aborsi adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin
dapat hidup di luar kandungan atau viabel yaitu kehamilan sebelum janin mencapai
berat 500 g atau usia kehamilan 20 minggu
(WHO/FIGO 1998 : 22 minggu)

Jenis-jenis Abortus
Beberapa jenis-jenis abortus dapat diklasifikasikan sebagai berikut

1. Abortus Spontan
Abortus spontan merupakan abortus yang berlangsung tanpa tindakan, dalam
hal ini dibedakan sebagai berikut :
Abortus imminen
Adalah pendarahan pervaginam pada kehamilan muda 20 minggu, tanpa tanda-tanda
dilatasi serviks yang meningkat.
Abortus insipient
Adalah pendarahan veginam pada kehamilan muda, dimana hasil konsepsi sudah tidak
bisa berlangsung dan kehamilan tidak dapat dipertahankan lagi.
Abortus komplitus
Adalah seluruh hasil konsepsi telah keluar dari dalam cavum uteri.
Abortus inkomplit
Adalah perdarahan disertai keluarnya sebagian jaringan kehamilan, namun di dalam
rahim masih tersisa jaringan. Tindakan kuretase diperlukan untuk membersihkan sisa
jaringan.
Abortus habitualis
Adalah abortus spontan yang pada 3 atau lebih kehamilan secara berturut-turut.
Missed abortion (Abortus tertahan)
Adalah Janin yang telah mati dalam kandungan selama 6-8 minggu tapi belum
dikeluarkan. Diperlukan usaha untuk mengeluarkan jaringan dengan membuka mulut
10

rahim dan melakukan kuret. Abortus yang tertahan dapat menimbulkan risiko
perdarahan karena terganggunya faktor pembekuan darah.
Blighted ovum
Adalah keadaan dimana seorang wanita merasa hamil tetapi tidak ada bayi di dalam
kandungan.
Abortus infeksiosa
Adalah abortus yang disertai infeksi genital.

2. Abortus disengaja ( abortus provocatus )
Adalah berakhirnya kehamilan sebelum berusia 22 minggu yang terjadi akibat
intervensi tertentu. Abortus buatan bersifat legal ( abortus provocatus
medicinalis/therapeuticus) yang dilakukan berdasarkan indikasi medis.
Abortus therapeuticus
Adalah abortus buatan yang dilakukan indikasi medis untuk kepentingan ibu,
misalnya: penyakit jantung, hipertensi esensial, dan karsinoma serviks
Abortus provocatus criminalis
Adalah abortus yang dilakukan berdasarkan indikasi non-medik. Abortus ini dilakukan
oleh tenaga kesehatan yang kompeten atau yang tidak kompeten. Aborsi yang
dilakukan oleh tenaga yang tidak kompeten biasanya dengan cara-cara seperti
memijit-mijit perut bagian bawah, memasukkan benda asing kedalam leher rahim dan
pemakaian bahan-bahan kimia ke dalam jalan lahir sehingga sering terjadi perdarahan
dan infeksi yang berat, bahkan dapat berakibat fatal.
Landasan hukum tentang abortus
1. Kitab undang-undang hukum pidana (KUHP)
Pasal 299 :
Ayat (1) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruh
seseorang wanita berupaya diobati dengan memberitahu atau menerbitkan
pengharapan bahwa oleh karena pengobatan itu dapat gugur kandungannya, dipidana
dengan pidana penjara selama-lamanya empat tahun .
Ayat (2) Kalau yang bersalah berbuat karena mencari keuntungan, atau melakukan
kejahatan itu sebagai mata pencaharian atau kebiasaan atau kalau ia seorang dokter,
bidan, atau juru obat, pidana dapat ditambah sepertiganya .
11

Ayat (3) Kalau yang bersalah melakukan kejahatan itu dalam pekerjaannya, maka
dapat dicabut haknya melakukan pekerjaan itu .

Pasal 346 :
Seorang wanita yang sengaja menggugurkan kandungan atau mematikan
kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana paling
lama 4 tahun .
Pasal 347 :
Ayat (1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan kandungan atau mematikan
kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara
paling lama dua belas tahun.
Ayat (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan
pidana penjara paling lama lima belas tahun.
Pasal 348 :
Ayat (1) Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan
seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana paling lama lima
tahun enam bulan.
Ayat (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut diancam dengan
pidana penjara paling lama tujuh tahun.
Pasal 349 :
Jika seorang tabib, Dukun beranak, atau tukang obat membantu melakukan
kejahatan berdasarkan pasal 346, ataupum melakukan atau membantu melakukan
salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang
ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah sepertiga dan dia dapat dipecat dari jabatan
yang digunakan untuk melakukan kejahatan.
Pasal 383
Barang siapa mempertunjukkan alat/ cara menggugurkan kandungan kepada anak dibawah
usia 17tahun/ dibawah umur, hukuman maksimum 9 bulan
12

2. Undang-undang kesehatan no.36/2009
PASAL 75
(1). Setiap orang dilarang melakukan aborsi
(2). Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan:
a. indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang
mengancam nyawa ibu dan atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan
atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi
tersebut hidup di luar kandungan; atau
b. kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi
korban perkosaan.
(3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui
konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan, sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dan ayat(3) diatur dengan peraturan pemerintah.
PASAL 76
Aborsi sebagaimana dimaksud dalam pasal 75 hanya dapat di lakukan :
A. Sebelum kehamilan berumur 6(enam)minggu dihitung dari hari pertama haid
terakhir,kecuali dalam hal kedaruratan medis;
B. Oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yg memiliki
sertifikat yg di tetapkan oleh menteri;
C. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan ;
D. Dengan izin suami,kecuali korban perkosaan ;dan
E. Penyediaan layanan kesehatan yg memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri.

PASAL 77
Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagimana dimaksud
dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak
13

bertanggungjawab serta bertentangan dengan norma agama dan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
PASAL 194

Pandangan etika terhadap aborsi
Etika Kedokteran
Lafal sumpah dokter
saya akan menghormati setiap hidup insani dari saat pembuahan .
Ketua majelis kehormatan etik kedokteran (MKEK) ikatan dokter Indonesia (IDI)
SUMUT
Prof.dr.Amri Amir,Spf(K),SH bahwa tindakan aborsi dilakukan jika terdapat indikasi
medis seperti menyelamatkan nyawa ibu.
Kode etik kedokteran indonesia bab II butir 7d berbunyi Seorang dokter harus senantiasa
mengingat akan kewajiban melindungi makhluk insani.
Jika abortus provocatus sebagai pengobatan (satu-satunya jalan menolong nyawa ibu)
maka keputusan abortus provocatus therapeuticus boleh. Keputusannya disetujui secara
tertulis dua orang dokter yang dipilih berkat kompetensi professional mereka dan prosedur
operasionalnya dilakukan oleh seorang dokter yang kompeten di instalasi yang diakui
suatu otoritas yang sah dengan cara tindakan tersebut disetujui oleh ibu hamil yang
bersangkutan,suami atau keluarga.

Pandangan agama terhadap aborsi

- Islam
Menurut Fatwa MUI
Fatwa Majelis Ulama Indonesia nomor 4 tahun 2005, tentang aborsi menetapkan
ketentuan hukum aborsi sebagai berikut:
1. Aborsi haram hukumnya sejak terjadinya implantasi blastosis pada dinding rahim
ibu (nidasi)
2. Aborsi diperbolehkan karena adanya unsur, baik yang bersifat darurat ataupun
hajat. Darurat adalah suatu keadaan di mana seseorang pabila tidak melakukan
14

sesuatu yang diharamkan maka ia akan mati atau hampir mati. Sedangkan hajat
adalah suatu keadaan di mana seseorang apabila tidak melakukan sesuatu yang
diharamkan maka ia akan mengalami kesulitan besar
a. Keadaan darurat yang berkaitan dengan kehamilan yang memperbolehkan
aborsi adalah:
1. Perempuan hamil menderita fisik berat seperti kanker stadium lanjut, TBC
dengan caverna dan penyakit-penyakit fisik berat lainnya yang harus
ditetapkan oleh tim dokter.
2. Dalam keadaan dimana kehamilan mengancam nyawa si ibu
b. Keadaan hajat yang berkaitan dengan kehamilan yang dapat memperbolehkan
aborsi adalah
1. Janin yang dikandung dideteksi menderita cacat genetik yang kalau lahir
kelak sulit disembuhkan
2. Kehamilan akibat perkosaaan yang ditetapkan oleh tim yang berwenang
yang di dalamnya terdapat antara lain keluarga korban, dokter, dan ulama
c. Kebolehan aborsi sebagaimana dimaksud huruf b harus dilakukan sebelum
janin berusia 40 hari
3. Aborsi haram hukumnya dilakukan pada kehamilan yang terjadi akibat zina
Dalam hukum islam terdapat perbedaan pendapat tentang aborsi sebelum ditiupkannya
ruh. Dalam madzhab hanafi, misalnya ibnu abidin membolehkan aborsi dengan alasan
pembenaran sampai habisnya bulan keempat, demikian juga dikalangan madzhab Syafii,
Muhammad Ramli membolehkan dengan alasan belum adanya makhluk yang bernyawa.
Sedang pendapat yang melarang walaupun sebelum ditiupkannya ruh di antaranya Imam
Al Ghazali dan Imam Malik (Ahmad Syafiuddin, 2002)

- Kristen
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan
Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa,
melainkan beroleh hidup yang kekal.( Yohanes 3:16)
Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam
Kristus Yesus, Tuhan kita.( Roma 6:23)
Yeremia 1:5 memberitahu kita bahwa Allah mengenal kita sebelum Dia membentuk
kita dalam kandungan. Mazmur 139:13-16 berbicara mengenai peran aktif Allah
15

dalam menciptakan dan membentuk kita dalam rahim. Keluaran 21:22-25 memberikan
hukuman yang sama kepada orang yang mengakibatkan kematian seorang bayi yang
masih dalam kandungan dengan orang yang membunuh. Hal ini dengan jelas
mengindikasikan bahwa Allah memandang bayi dalam kandungan sebagai manusia
sama seperti orang dewasa. Bagi orang Kristen aborsi bukan hanya sekedar soal hak
perempuan untuk memilih. Aborsi juga berkenaan dengan hidup matinya manusia
yang diciptakan dalam rupa Allah (Kejadian 1:26-27; 9:6).

- Budha
Dalam pandangan agama Buddha, aborsi adalah suatu tindakan pengguguran
kandungan atau membunuh makhluk hidup yang sudah ada dalam rahim seorang
ibu.
Syarat yang harus dipenuhi terjadinya makhluk hidup :
1.Mata utuni hoti :masa subur seorang wanita
2.Mata pitaro hoti : terjadinya pertemuan sel telur dan sperma
3.Gandhabo paccuppatthito : adanya gandarwa, kesadaran penerusan dalam
siklus kehidupan baru (pantisandhi-citta) kelanjutan dari kesadaran ajal (cuti citta),
yangmemiliki energi karma

Dari penjelasan diatas agama Buddha menentang dan tidak menyetujui adanya
tindakan aborsi karena telah melanggar pancasila Buddhis, menyangkut sila
pertama yaitu panatipata. Suatu pembunuhan telah terjadi bila terdapat lima faktor
sebagai berikut :

a) Ada makhluk hidup (pano)
b) Mengetahui atau menyadari ada makhluk hidup (pannasanita)
c) Ada kehendak (cetana) untuk membunuh (vadhabacittam)
d) Melakukan pembunuhan ( upakkamo)
e) Makhluk itu mati karena tindakan pembunuhan ( tena maranam)

Dalam Majjhima Nikaya 135 Buddha bersabda "Seorang pria dan wanita yang
membunuh makhluk hidup, kejam dan gemar memukul serta membunuh tanpa
belas kasihan kepada makhluk hidup, akibat perbuatan yang telah dilakukannya itu
16

ia akan dilahirkan kembali sebagai manusia di mana saja ia akan bertumimbal lahir,
umurnya tidaklah akan panjang".


- Hindu
Perbuatan aborsi disetarakan dengan menghilangkan nyawa. Kitab-kitab suci
Hindu antara lain Rgveda 1.114.7 menyatakan : Ma no mahantam uta ma no
arbhakam artinya : Janganlah mengganggu dan mencelakakan bayi. Atharvaveda
X.1.29 : Anagohatya vai bhima artinya : Jangan membunuh bayi yang tiada berdosa.
Dan Atharvaveda X.1.29 : Ma no gam asvam purusam vadhih artinya : Jangan
membunuh manusia dan binatang. Dalam ephos Bharatayuda Sri Krisna telah
mengutuk Asvatama hidup 3000 tahun dalam penderitaan, karena Asvatama telah
membunuh semua bayi yang ada dalam kandungan istri-istri keturunan Pandawa, serta
membuat istri-istri itu mandul selamanya.

pandangan hukum tentang abortus
UU kesehatan no 36/2009 pasal 75-77
PASAL 75
(1). Setiap orang dilarang melakukan aborsi
(2). Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan:
a. indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang
mengancam nyawa ibu dan atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan
atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi
tersebut hidup di luar kandungan; atau
b. kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban
perkosaan.
(3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui
konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan
berwenang.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan,
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat(3) diatur dengan peraturan pemerintah.
17

PASAL 76
Aborsi sebagaimana dimaksud dalam pasal 75 hanya dapat di lakukan :
A. Sebelum kehamilan berumur 6(enam)minggu dihitung dari hari pertama haid
terakhir,kecuali dalam hal kedaruratan medis;
B. Oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yg memiliki
sertifikat yg di tetapkan oleh menteri;
C. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan ;
D. Dengan izin suami,kecuali korban perkosaan ;dan
E. Penyediaan layanan kesehatan yg memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri.

PASAL 77
Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagimana
dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak
bertanggungjawab serta bertentangan dengan norma agama dan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

KUHP pasal 346-349 dan pasal 299
Pasal 299 :
Ayat (1) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruh
seseorang wanita berupaya diobati dengan memberitahu atau menerbitkan
pengharapan bahwa oleh karena pengobatan itu dapat gugur kandungannya,
dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya empat tahun .
Ayat (2) Kalau yang bersalah berbuat karena mencari keuntungan, atau melakukan
kejahatan itu sebagai mata pencaharian atau kebiasaan atau kalau ia seorang
dokter, bidan, atau juru obat, pidana dapat ditambah sepertiganya .
Ayat (3) Kalau yang bersalah melakukan kejahatan itu dalam pekerjaannya, maka dapat
dicabut haknya melakukan pekerjaan itu .


18

Pasal 346 :
Seorang wanita yang sengaja menggugurkan kandungan atau mematikan kandungannya
atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana paling lama 4 tahun .
Pasal 347 :
Ayat (1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan kandungan atau mematikan
kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana
penjara paling lama dua belas tahun.
Ayat (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan
pidana penjara paling lama lima belas tahun.
Pasal 348 :
Ayat (1) Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan
seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana paling lama
lima tahun enam bulan.
Ayat (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut diancam dengan
pidana penjara paling lama tujuh tahun.


Pasal 349 :
Jika seorang tabib, Dukun beranak, atau tukang obat membantu melakukan kejahatan
berdasarkan pasal 346, ataupum melakukan atau membantu melakukan salah satu
kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan
dalam pasal itu dapat ditambah sepertiga dan dia dapat dipecat dari jabatan yang
digunakan untuk melakukan kejahatan.
Syarat-syarat Aborsi terdapat dalam UU Kesehatan no 36 tahun 2009 Pasal 75dan 76
PASAL 75
(1). Setiap orang dilarang melakukan aborsi
(2). Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan:
a. indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang
mengancam nyawa ibu dan atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan
atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi
tersebut hidup di luar kandungan; atau
19

b. kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi
korban perkosaan.
(3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui
konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan, sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dan ayat(3) diatur dengan peraturan pemerintah.
PASAL 76
Aborsi sebagaimana dimaksud dalam pasal 75 hanya dapat dilakukan :
a. Sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid
terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis
b. Oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki
sertifikat yang ditetapkan oleh mentri
c. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan
d. Dengan izin suami, kecualikorban perkosaan
e. Penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Mentri
Resiko dari tindakan abortus
Kematian mendadak karena perdarahan hebat
Kematian karena pembiusan gagal
Kematian karena infeksi pada kandungan
Rahim sobek
Kerusakan pada leher rahim yang menyebabkan anak cacat pada kehamilan
berikutnya
Kanker rahim
Kanker payudara karena tidak seimbangnya hormone estrogen
Kemandulan
Fakor-faktor yang mempengaruhi aborsi
1. Faktor ekonomi, di mana dari pihak pasangan suami isteri yang sudah tidak mau
menambah anak lagi karena kesulitan biaya hidup, namun tidak memasang kontrasepsi,
atau dapat juga karena kontrasepsi yang gagal.
20

2. Faktor penyakit herediter, di mana ternyata pada ibu hamil yang sudah melakukan
pemeriksaan kehamilan mendapatkan kenyataan bahwa bayi yang dikandungnya cacat
secara fisik.
3. Faktor psikologis, di mana pada para perempuan korban pemerkosaan yang hamil harus
menanggung akibatnya. Dapat juga menimpa para perempuan korban hasil hubungan
saudara sedarah (incest), atau anak-anak perempuan oleh ayah kandung, ayah tiri ataupun
anggota keluarga dalam lingkup rumah tangganya.
4. Faktor usia, di mana para pasangan muda-mudi yang masih muda yang masih belum
dewasa & matang secara psikologis karena pihak perempuannya terlanjur hamil, harus
membangun suatu keluarga yang prematur.
5. Faktor penyakit ibu, di mana dalam perjalanan kehamilan ternyata berkembang menjadi
pencetus, seperti penyakit pre-eklampsia atau eklampsia yang mengancam nyawa ibu.
6. Faktor lainnya, seperti para pekerja seks komersial, perempuan simpanan, pasangan
yang belum menikah dengan kehidupan seks bebas atau pasangan yang salah
satu/keduanya sudah bersuami/beristri (perselingkuhan) yang terlanjur hamil.

abortus boleh dilakukan
pada usia kehamilan 20 minggu atau berat badan bayi mencapai 500 gr karena pada saat
itu janin belum terbentuk sempurna sehingga janin itu bisa diangkat dan diambil dan
tidak akan merusak rahim pada ibunya dan di dalam agamapun juga diperbolehkan
Pengecualian yang memperbolehkan tindakan abortus terdapat dalam UU Kesehatan no
36/2009, Pasal 75 dan 76
PASAL 75
(1). Setiap orang dilarang melakukan aborsi
(2). Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan:
a. indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang
mengancam nyawa ibu dan atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan
atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi
tersebut hidup di luar kandungan; atau
21

b. kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi
korban perkosaan.
(3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui
konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan, sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dan ayat(3) diatur dengan peraturan pemerintah.
PASAL 76
Aborsi sebagaimana dimaksud dalam pasal 75 hanya dapat dilakukan :
f. Sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid
terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis
g. Oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki
sertifikat yang ditetapkan oleh mentri
h. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan
i. Dengan izin suami, kecualikorban perkosaan
j. Penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Mentri
Informed consent
izin/pernyataan setuju dari pasien yang diberikan secara bebas, sadar, dan rasional,
setelah ia mendapat inform yang dipahami dari dokter tentang penyakitnya
Tujuan informed consent
a. Melindungi pengguna jasa tindakan medis (pasien) secara hukum dari segala tindakan
medis yang dilakukan tanpa sepengetahuannya, maupun tindakan pelaksana jasa
tindakan medis yang sewenang-wenang, tindakan malpraktek yang bertentangan
dengan hak asasi pasien dan standar profesi medis, serta penyalahgunaan alat canggih
yang memerlukan biaya tinggi atau over utilization yang sebenarnya tidak perlu dan
tidak ada alasan medisnya.
b. Memberikan perlindungan hukum terhadap pelaksana tindakan medis dari tuntutan-
tuntutan pihak pasien yang tidak wajar, serta akibat tindakan medis yang tidak terduga
dan bersifat negatif. Selama hal itu terjadi dalam batas-batas tertentu, maka tidak dapat
22

dipersalahkan, kecuali jika melakukan kesalahan besar karena kelalaian atau
ketidaktahuan.
Fungsi informed consent
penghormatan terhadap harkat dan martabat pasien selaku manusia
promosi terhadap hak untuk menentukan nasibnya sendiri
untuk mendorong dokter melakukan kehati-hatian dalam mengobati pasien
menghindari penipuan dan miss leading oleh dokter
mendorong untukmengambil keputusan rasional
mendorong keterlibatan publik dalam masalah kedokteran dan kesehatan

Jenis informed consent
a. informed consent adalah Consent yang diberikan pada pasien yang ditandatangani
langsung oleh pasien yang berangkutan (tanpa keluarga/wali).
b. Proksi consent adalah Consent yang diberikan oleh orang yang bukan si pasien itu
sendiri dengan syarat bahwa pasien tidak mampu memberikan consent secara
pribadi (suami, istri, anak, ortu, saudara kandung, dll)
Bentuk informed consent
a. Tersirat ( Implied Consent) adalah persetujuan yang diberikan pasien secara terirat,
tanpa pernyataan tegas
Contoh : melakukan jahitan, penagmbilan darah untuk pemeriksaan laboratorium,
penyuntikan
Presumed consent adalah jika pasien dalam keadaan gawat darurat, dan dokter
harus lakukan tindakan segera sedangkan pasien dalam keadaan tidak bisa
memberikan persetujuan, dan keluargapun tidak ada di tempat, maka dokter segera
melakukan tindakan berdasarkan Permenkes 585 tahun 1989, pasal 11. Dengan arti
bila pasien dalam keadaan yang sadar akan menyetujui tindakan medik yang
dilakukan
b. Dinyatakan (Ekpress Consent) adalah persetujuan yang dinyatakan secara lisan
atau tulisan, bila yang akan dilakukan lebih dari prosedur pemeriksaan dan
tindakan yang biasa
23

Yang berhak menandatangani informed consent
pasal 8
pasien dewasa 21 tahun atau sudah menikah dalam keadaan sehat
keluarga pasien bila umur pasien 21, pasien dengan gangguan jiwa, tidak sadar,
pingsan
pasal 9
pasien < 21 tahun/ sudah menikah dibawah pengampuan dan gangguan mental,
persetujuan diberikan pada wali
pasal 10
pasien < atau belum menikah dan tidak punya wali/ wali berhalangan, persetujuan
diberikan pada keluarga atau induk semang/ yang bertanggung jawab pada pasien
pasal 11
dalam keadaan pasien tidak sadar dan tidak ada wali/ keluarga terdekat dan dalam
keadaan darurat yang perlu tindakan medik segera tidak dibutuhkan informed consent
dari siapapun
Syarat syah informed consent
diberikan secara bebas
diberikan pada orang yang sanggup memberikan perjanjian
telah dijelaskannya bentuk tindakan yang akan dilakukan sehingga pasien memahami
tindakan itu perlu dilakukan
mengenai sesuatu yang khas
tindakan itu juga dilakukan pada situasi yang sama
Tata cara informed consent
Permenkes RI NO 585/MenKesh/Per/IX/1989
1. Penjelasan langsung dari dokter yang melakukan tindakan medis dan dengan
bahasa yang mudah dimengerti oleh pasien
2. Tidak ada unsur dipengaruhi/ mengarahkan pasien pada tindakan tertentu, semua
putusan diserahkan pasien dan dokter hanya menyarankan dan menjelaskannya
3. Menyakan ulang kembali apakah sudah mengerti
4. Lembar informed consent diisi oleh pasien/keluarga/ wali
24

Jenis tindakan yang memerlukan informed consent
1. Tindakan-tindakan yang bersifat invasif dan operatif atau memerlukan pembiusan,
baik untuk menegakkan diagnosis maupun tindakan yang bersifat terapeutik.
2. Tindakan pengobatan khusus, misalnya radioterapi untuk kanker.
3. Tindakan khusus yang berkaitan dengan penelitian bidang kedokteran ataupun uji
klinik (berkaitan dengan bioetika)
Hal yang membatalkan informed consent
keadaan darurat medis
ancaman terhadap kesehatan masyarakat
pelepasan hak pemberian consen pada pasien
clinical privilage
pasien tanpa pendamping yang tidak kompeten memberikan consent
Aspek hukum yang mendasari informed consent adalah :
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 85/Menkes/Per/1X/1998 tentang persetujuan
tindakan medik. Pasal 1 (angka a) ialah persetujuan yang diberikan oleh pasien atau
keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medik yang akan dilakukan
terhadap pasien tersebut.
UU No. 29 Tahun 2004 Pasal 45, persetujuan diberikan setelah diberikan penjelasan
kepada pasien.
IDI fatwa No 319- 1988
Dari sudut hukum pidana informed consent harus dipengaruhi dengan adanya pasal
351 KUHP tentang penganiyaan
Informasi dalam informed consent
a. Garis besar, seluk beluk penyakit yang diderita prosedur perawatan/ pengobatan
yang akan diberikan atau diteruskan
b. Resiko yang akan dihadapi, misalnya komplikasi yang diduga akan timbul
c. Prospek atau prognosis keberhasilan ataupun kegagalan.
d. Alternative metode perwatan atau pengobatan
e. Hal-hal yang dapat terjadi bila pasien menolak untuk member ikan persetujuan
25

f. Prosedur perawatan atau pengobatan yang akan dilakukana merupakan suatu
percobaan atau menyimpang dari kebiasaan, bila hal itu yang akan dilakukan.

Informed consent dalam skenario ini tidak sah, sesuai dengan permenkes bab IV pasal 8
sebagai berikut :
pasien dewasa 21 tahun atau sudah menikah dalam keadaan sehat
keluarga pasien bila umur pasien 21, pasien dengan gangguan jiwa, tidak sadar,
pingsan
Sangsi hukum yang dapat dijatuhkan pada Pria,Nona,dr. B adalah sebagai berikut:
1. Pria dapat diberikan sangsi hukuman yakni diancam dengan pidana penjara paling
lama 4 tahun berdasarkan KUHP Pasal 299
2. Nona dapat diberikan sangsi hukuman yakni diancam dengan pidana penjara paling
lama 4 tahun berdasarkan KUHP Pasal 346
3. dr B, Sp.OG sebagai orang yang menggugurkan kandungan dengan seizin wanita
tersebut dapat diberikan sangsi hukum maksimum 5 tahun 6 bulan dan bila wanita
tersebut meninggal maksimum 7 tahun ( KUHP Pasal 348)