Anda di halaman 1dari 12

PEMERIKSAAN ALBUMIN

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

:
:
:
:
:

Nindya Nuraida Ayuningtyas


B1J014118
IV
4
Meity Wardani Saputri

LAPORAN PRAKTIKUM IMUNOBIOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2016

I.

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Spirulina sp. adalah alga hijau biru yang berbentuk spiral. Kata
spirulina berasal dari bahasa latin spira yang berarti spiral. Panjang sel
Spirulina sp adalah 300-500 mikron atau sekitar milimeter, dimana kita tidak
dapat melihatnya dengan kasat mata. Spirulina sp dapat hidup di kolam yang
hangat dan sedikit mengandung garam. Pertumbuhannya sangat cepat, dan
merupakan penghasil oksigen di bumi. Organisme bersel satu ini sangat
sederhana, salah satu komponen utama dari rantai makanan dan kehidupan di
bumi ini. Spirulina sp merupakan mahluk hidup autotrof berwarna kehijauan,
kebiruan, dengan sel berkolom membentuk filamen terpilin menyerupai spiral
(helix) sehingga disebut juga alga biru hijau berfilamen (cyano bacterium). Alga
ini termasuk dalam divisi cyanophyta, kelas cyanophyceae, ordo nostocales.
Bentuk tubuh Spirulina sp yang menyerupai benang merupakan rangakain sel
yang berbentuk silindris dengan dinding sel yang tipis, berdiameter 1-12
mikrometer. Filamen Spirulina sp hidup berdiri sendiri dan dapat bergerak bebas
(Borrowitzka, 1992).
Albumin memainkan peran penting dalam kesehatan dan penyakit.
Albumin merupakan penyumbang utama Oncotic Koloid Tekanan (COP),
mengikat molekul endogen dan eksogen, koagulasi menengahi, dan membantu
untuk

mempertahankan

permeabilitas

mikrovaskular

normal.Di

bidang

kesehatan, tingkat sintetis dipengaruhi secara dominan oleh COP. Ketika COP
menurun, meningkatkan sintesis albumin. (Memang, koreksi hipoalbuminemia
oleh sintetik infus koloid secara signifikandapat menekan sintesis albumin)
Peradangan berkurang albumin. Sintesis sebanyak 90%. Sitokin inflamasi shunt
asam amino untuk meningkatkan sintesisakut protein fase penting dalam proses
inflamasi, dan jauh dari sintesis albumin. Tinggi ataupun rendahnya kadar
albumin dalam darah sangat mempengaruhi kesehatan kita, oleh karena itu
sangat dibutuhkan pemeriksaan albumin dalam darah untuk mengetahui
tingkaatr kesehatan kita yang dipengaruhi oleh kadar albumin dalam darah
(Sutedjo, 2007).
Albumin merupakan protein utama dalam plasma manusia dan
membentuk sekitar 60% protein plasma total. Sekitar 40% albumin terdapat
dalam plasma,sedangkan 60% lainnya terdapat di ekstrasel. Setiap harinya,

hepar menghasilkansekitar 12 gram albumin, yang berarti sekitar 25% dari


seluruh sintesis protein olehhepar. Albumin awalnya dibentuk sebagai suatu
praproprotein. Peptida sinyalnyadikeluarkan sewaktu protein tersebut memasuki
sisterna retikulum endoplasma kasar,dan heksapeptida di terminal amino yang
terbentuk kemudian diputuskan ketikaprotein tersebut menempuh jalur
sekretorik. Karena massa molekulnya yang realtif rendah (69 kDa) dan
konsentrasinya yang tinggi, albumin diperkirakan menentukansekitar 75-80%
tekanan osmotik plasma pada manusia. Kadar albumin digunakan sebagai
indikator perubahan biokimia yang berhubungan dengan simpanan protein tubuh
dan berkaitan dengan perubahan status gizi, walaupun tidak terlalu sensitif. Pada
penderita malnutrisi sering ditemukan kadar albumin serum yang rendah, namun
tidak jarang kadar albumin serum masih dalam batas normal. Peningkatan kadar
albumin berkaitan erat dengan kadar hemoglobin darah. Penurunan kadar
albumin dalam darah akan menyebabkan terjadinya penurunan kadar
hemoglobin, karena protein merupakan salah salah unsur yang penting
diperlukan dalam sintesis hemoglobin dan pembawa zat besi, oleh karena itu
apabila kadar albumin dalam tubuh rendah, maka sintesis hemoglobin akan
terganggu dan dapat mengakibatkan penurunan kadar hemoglobin dalam darah
(Sutedjo, 2007).
Hewan coba yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu Mencit.
Alasan digunakannya mencit pada praktikum kali ini yaitu karena mudah
dipelihara, mencit memiliki kesamaan secara fisiologis dengan hewan lainnya
terutama hewan mamalia. Selain itu, siklus hidup yang pendek, pengadaan
hewan ini tidak sulit dan pola reproduksinya yang singkat. (Anggorodi, 1984).

I.2 Tujuan
Tujuan praktikum acara ini adalah:
1. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan kadar albumin dalam darah
mencit dengan menggunakan metode Brom Cresol Green.
2. Mahasiswa

dapat

menentukan

pemeriksaan kadar albumin.

status

imunitas

mencit

melalui

II.

MATERI DAN CARA KERJA

II.1 Materi
Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah serum darah mencit, dan
reagen Brom Cresol Green (BCG
Alat yang digunakan dalam praktikum adalah spuit 3cc, tourniquet,
Eppendorf, sentrifugator, tabung reaksi, rak tabung reaksi, mikropipet, yellow
tip, blue tip, spektrofotometer, dan kuvet

II.2 Cara Kerja


1. Darah mencit diambil sebanyak 3 cc ditusuk dibagian vena orbitalis.
2. Darah dimasukkan ke dalam tabung appendorf dan disentrifugasi dengan
kecepatan 4000 rpm selama 10 menit kemudian diambil serumnya untuk
sampel.
3. Sampel (serum) sebanyak 40 l kemudian dicampur dengan reagen BCG
sebanyak 2000 l.
4. Campuran diinkubasi selama 5 menit dalam suhu ruangan, kemudian diukur
dengan spektrofotometer dengan panjang gelombang 578 nm.
5. Kadar albumin dihitung dengan rumus: Absorbansi sampel/ absorbansi
standar x 4 g/dl.

III.
III.1

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

IV Tabel 3.1 Data hasil pemeriksaan kadar albumin, total protein, kadar
globulin dan status imunitas
Sampel

Abs

Perhitungan

Globulin

Status
Imunitas

Albumin

Total
Protein

Kadar
Albumin

Kadar
Protein

Kontrol

1,251

0,413

3,473

6,692

3,215

1,08

Sampel 1

0,918

0,313

2,55

4,86

2,31

1,1

Sampel 2

1,076

0,399

2,98

15,52

12,52

0,23

Sampel 3

0,730

0.243

2,02

3,77

1,75

1,15

Interpretasi:
Status imunitas >1 (Baik)
Status Imunitas <1 (Buruk)
Perhitungan:

: 0,730 / 1,800 x 5 g/dl

: 2,02

: 0, 243 / 0, 322 x 5 g/dl

: 3,77

Globulin

= Kadar total protein kadar albumin


= 3,77 - 2,02
= 1,75

Status Imunitas = Albumin / Globulin


= 2,02 / 1,75
= 1,15 (Status Imunitas Baik)

Gambar 3.1 Hasil inkubasi albumin dan protein setelah diberi reagen
Keterangan Gambar:
Bagian kiri (Warna Biru) : Hasil inkubasi serum dengan Biuret
Bagian Kanan (Warna Hijau) : Hasil inkubasi serum dengan BCG

III.2

Pembahasan
Berdasarkan hasil praktikum menunjukkan kadar albumin kontol yaitu 3,
473; sampel 1 2,55; sampel 2 2,98; dan sampel 3 2,02. Hasil kontrol
menunjukkan kadar albumin yang paling tinggi jika dibandingkan dengan
sampel. Reagen yang digunakan untuk sampel yaitu Brom Cresol Green (BCG)
sebanyak 2 ml. Mencit yang digunakan untuk kontol, sampel 1,2, maupun 3
merupakan mencit yang sama, hanya saja dilakukan pengulangan. Hal ini
sesuai dengan pustaka, yaitu reaksi yang terjadi yaitu pada saat reagen
ditambahkan, larutan akan berubah warna menjadi hijau, kemudian diperiksa
pada spektrofotometer. Intensitas warna hijau ini menunjukkan kadar albumin
pada serum (Sutedjo, 2007).

Spirulina sp. adalah salah satu jenis Cyannobacter atau ganggang hijaubiru. Spirulina

merupakan salah satu spesies dari mikroalga yang paling

resisten dari spesies lain dengan kondisi lingkungan yang fluktuatif khususnya
kondisi fisik dan kimiawi lingkungan seperti: intensitas cahaya, suhu, air,
salinitas dan keterbatasan nutrien. Spirulina sp. adalah makhluk hidup
mikroskopis multi sel yang memiliki membran semipermiabel yang rentan
terhadap perubahan

tekanan osmotik. Mikroalga ini dikenal mempunyai

kandungan nutrisi yang sangat tinggi terutama protein sel tunggalnya yang
berkisar antara 67,5 -70,0% dan mempunyai kandungan asam amino esensial
yang lengkap serta dinding selnya kaya akan mukopolisakarida, Phycocyanine,
dan caroteneyang sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia yang
mengalami malnutrisi, gangguan cholesterol. Manfaat lain adalah untuk
meningkatkan kesehatan bakteri usus, sebagai sumber GLA (Asam Gama
Lenolenat), untuk membantu menurunkan berat badan, dapat membantu
mengatasi masalah keracunan ginjal dan penyakit kanker (Kabinawa et al.,
2014).
Spirulina sp. merupakan salah satu pakan alami larva udang dan ikan
yang mempunyai nilai gizi tinggi. Spirulina sp. mempunyai sumber protein
yang potensial bagi makhluk hidup baik manusia atau pun hewan ternak.
Pemberian Spirulina sp. sebagai pakan alami larva udang dan ikan dapat
menekan besarnya kematian larva tersebut. Hal ini menjadikan spirulina
merupakan salah satu aspek terpenting dalam pembenihan larva udang dan
ikan. Spirulina sp. memiliki kandungan protein yang tinggi yang memiliki sifat
gelling (pembentuk gel). Gelling tersebut mengakibatkan konsentrasi kritis
gelling terlewati dan diperoleh minyak berupa gel yang tidak dapat dimurnikan
pada proses pemisahan. Dikarenaan kandungan proteinnya lebih bersifat basa,
sehingga tidak terjadi pengendapan. Spirulina sp. dapat berpotensi sebagai
bahan baku pembuatan biodiesel dari minyak alga, sehingga dapat
mengahasilkan yield dan kemurnian minyak alga yang tinggi (Yosta, 2008).
Menurut hasil riset, ganggang hijau-biru ini

berkhasiat mengatasi

berbagai masalah kesehatan seperti malnutrisi, menurunnya sistem kekebalan


tubuh, ketidakseimbangan fungsi tubuh, terganggungya sistem metabolisme
tubuh. Kandungan nutrisi yang banyak pada Spirulina sp. (protein 60-70%,
karbohidrat 15-20%, lemak 6-8%, mineral 7-13%, serat 8-30%, air 10%) juga

dapat meningkatkan kadar albumin, menurunkan kadar kolesterol darah, baik


juga untuk penderita jantung, darah tinggi, berperan dalam antioksidan,
antiinflamasi, antiviral dan anti tumor, serta imunostimulan (Yosta, 2008).
Serum albumin adalah protein multi-fungsional yang mampu mengikat
dan mengangkut berbagai senyawa endogen dan eksogen. Serum albumin
adalah protein yang paling banyak dalam plasma darah semua vertebrata
dengan konsentrasi dalam serum manusia 35-50 mg / mL. Albumin terutama
disintesis oleh hati danmemproduksi 13,9 g HSA per hari. Albumin memiliki
berbagai fungsi penting dan bertanggung jawab untuk 80% dari tekanan
osmotik koloid darah (Merlot et al., 2009).
Albumin memainkan peran penting dalam kesehatan dan penyakit, fungsi
dari albumin menurut Murray (2006), adalah:
1.

Mempertahankan tekanan onkotik plasma agar tidak terjadi asites.

2.

Membantu metabolisme dan transportasi berbagai obat-obatan dan


senyawa endogen dalam tubuh terutama substansi lipofilik.

3.

Anti-inflamasi.

4.

Membantu keseimbangan asam basa karena banyak memiliki anoda


bermuatan listrik.

5.

Antioksidan dengan cara menghambat produksi radikal bebas eksogen


oleh leukosit polimorfonuklear.

6.

Mempertahankan integritas mikrovaskuler sehingga dapat mencegah


masuknya kuman-kuman usus kedalam pembuluh darah, agar tidak terjadi
peritonitis bakterialis spontan.

7.

Memiliki efek antikoagulan dalam kapasitas kecil melalui banyak gugus


bermuatan negatif yang dapat mengikat gugus bermuatan positif pada
antitrombin III (heparin like effect). Hal ini terlihat pada korelasi negatif
antara kadar albumin dan kebutuhan heparin pada pasien heemodialis.

8.

Inhibisi agregrasi trombosit.

9.

Peranan albumin dalam darah adalah menjaga tekanan osmotik dari cairan
koloid plasma, sebagai alat pengangkut dan memperbaiki kadar bilirubin,
sebagai alat pengangkut asam lemak dan bahan metabolit lain seperti
hormon dan enzim. Dengan demikian albumin sering kali dipakai pada
penelitian karena kemampuan mempertahankan tekanan osmotik, sebagai
plasma expander dan kemampuannya sebagai pengikat berbagai bahan

toksik, termasuk bilirubin serta logam berat, serta kemampuan angkutnya


dalam mengangkut asam lemak, bahan metabolit, hormon serta enzim,
sebagai antioksidan dan buffer.
Penurunan albumin mengakibatkan keluarnya cairan vascular (cairan
pembuluh darah) menuju jaringan sehingga terjadi oedema (bengkak),
hipoalbuminea (penurunan kadar albumin), dan hiperalbuminea. Penurunan
albumin bisa juga disebabkan oleh Berkurangnya sintesis (produksi) karena
malnutrisi, radang menahun, sindrommalabsorpsi, penyakit hati menahun,
kelainan genetik, Peningkatan ekskresi (pengeluaran), karena luka bakar luas,
penyakit usus, nefrotik sindrom (penyakit ginjal). Tingkat albumin tinggi
terlihat pada pasien yang menderita gangguan pernapasan seperti TBC.
Dehidrasi dan konsumsi alkohol terlalu banyak adalah faktor lain yang
menyebabkan kadar albumin tinggi. Leukemia, lebih dikenal sebagai kanker
darah juga membuat albumin berada pada kisaran tidak normal. Kekurangan
vitamin A dapat pula meningkatkan albumin diluar level normal (Sloane,
2004).
Penurunan albumin (Hypoalbuminemia) mengakibatkan keluarnya cairan
vascular (cairan pembuluh darah) menuju jaringan sehingga terjadi oedema
(bengkak). Penurunan albumin bisa juga disebabkan oleh :
1. Berkurangnya sintesis (produksi) karena malnutrisi, radang menahun,
sindrom malabsorpsi, penyakit hati menahun, kelainan genetik.
2. Peningkatan ekskresi (pengeluaran), karena luka bakar luas, penyakit
usus,nefrotik sindrom (penyakit ginjal) (Sloane, 2004).
Penetapan kadar protein dalam serum biasanya mengukur protein total,
dan albumin atau globulin. Ada satu cara mudah untuk menetapkan kadar
protein total, yaitu berdasarkan pembiasan cahaya oleh protein yang larut
dalam serum. Penetapan ini sebenarnya mengukur nitrogen karena protein
berisi asam amino dan asam amino berisi nitrogen. Total protein terdiri atas
albumin (60%) dan globulin (40%). Bahan pemeriksaan yang digunakan untuk
pemeriksaan total protein adalah serum. Bila menggunakan bahan pemeriksaan
plasma, kadar total protein akan menjadi lebih tinggi 3 5 % karena pengaruh
fibrinogen dalam plasma. Proses penghitungan kadar protein dimulai dengan
menghitung nilai absorbansinya dengan menggunakan alat spektofotometer
dan kemudian dihitung dengan menggunkan rumus:

Kadar protein = (Abs sampel/Abs satandar ) x kadar protein satandar


yang terdapat pada kemasan
Selanjutnya untuk perhitungan kadar albumin juga memiliki rumus yang
sama seperti perhitungan kadar total protein. yang berbeda disini adalah rumus
yang digunakan dalam penghitungan kadar globulin yaitu:
Globulin = Kadar total protein Kadar albumin
Sedangkan untuk penetapan status imunitas seseorang dapat dengan
menggunakan rasio A/G yang merupakan perhitungan terhadap distribusi fraksi
dua protein yang penting yaitu albumin dan globulin. Nilai rujukan rasio A/G
adalah >1. Nilai ini didapat dengan membandingkan nilai albumin dengan
nilain globulin (albumin : globulin). Hasil rasio yang tinggi dinyatakan tidak
signifikan atau memiliki sistem imun yang baik sedangkan nilai rasio yang
rendah dapat ditemukan pada penyakit hati dan ginjal atau dengan kata lain
memiliki sistem imun yang buruk. Perhitungan elektroforesis protein
merupakan perhitungan yang lebih akurat dan sudah menggantikan cara
perhitungan rasio A/G (Wirahadikusumah, 1991).

IV.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:


1. Prinsip pemeriksaan Brom Cresol Green dengan albumin membentuk
komplek warna. Absorbansi dari komplek warna ini proporsional dengan
konsentrasi albumin dalam sampel.yaitu, semakin tinggi kadar albumin dalam
darah maka akan semakin pekat warna yang dihasilkan.
2. Status imunitas mencit melalui pemeriksaan kadar albumin didapatkan dari
perhitungan albumin per globulin. Pada praktikum, kontrol, sampel 1 dan
sampel 3 menunjukkan status imunitas yang baik karena menunjukkan nilai
>1, sedangkan sampel 2 menunjukkan status imunitas yang buruk karena
menunjukkan nilai <1.

DAFTAR REFERENSI
Anggorodi, R. 1984. Ilmu Makanan Ternak Umum. Jakarta: PT. Gramedia.
Borowitzka, M.A., Borowitzka, L.J. 1992. Mikroalga Biotechnology. New York:
Cambridge University Press.
Kabinawa, K.N.I. 2014. Pangan dan Herbal Hayati Menyehatkan Dari Mikroalga
Spirulina. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan, 3(3).
Merlot, M.A., Kolinowski, S.D., Richardson, R,D., 2014. Unraveling The Mysteries
Of Serum Albumin More Than Just A Serum Protein. Journal Physiology, 5.
Murray, R. K. 2006. Plasma Protein & Immunoglobulins. In: Murray, R.K. Granner,
D.K., Rodwel, V. W. (eds). Harpers Illustrated Biochemistry. New York:
McGraw-Hill.
Sloane, E. 2004. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Penerbit Buku Kedokteran
Jakarta: EGC.
Sutedjo, SKM. 2007. Mengenal Penyakit Melalui Hasil Pemeriksaan Laboratorium.
Yoyakarta: Amara Books.
Wirahadikusuma. 2001. Biokimia Protein, Enzim dan Asam Nukleat. Bandung: ITB.
Yosta, R, E., Danang, H.W. 2008. Studi Pendahuluan: Ekstraksi Minyak Alga dari
Spirulina Sp Wacana Baru Bahan Baku Alternatif pada Proses Pembuatan
Biodiesel. Surabaya: Jurusan Tekhnik Kimia Fakultas Teknologi Industri ITS.