Anda di halaman 1dari 35

Bab II Studi Literatur

BAB II

STUDI LITERATUR

2.1 Perkerasan Kaku (Rigid Pavement)

Perkerasan jalan beton semen atau perkerasan kaku, terdiri dari plat beton semen,

dengan atau tanpa lapisan pondasi bawah, di atas tanah dasar. Dalam konstruksi

perkerasan kaku, plat beton semen sering juga dianggap sebagai lapis pondasi,

kalau di atasnya masih ada lapisan aspal.

Plat beton yang kaku dan memiliki modulus elastisitas

yang tinggi, akan mendistribusikan beban lalu lintas ke tanah dasar yang

melingkupi daerah yang cukup luas. Dengan demikian, bagian terbesar dari

kapasitas struktur perkerasan diperoleh dari plat beton itu sendiri. Hal ini berbeda

dengan perkerasan lentur dimana kekuatan perkerasan diperoleh dari tebal lapis

pondasi bawah, lapis pondasi dan lapis permukaan; dimana masing-masing

lapisan memberikan kontribusinya.

Yang sangat menentukan kekuatan struktur perkerasan dalam memikul beban lalu

lintas adalah kekuatan beton itu sendiri. Sedangkan kekuatan dari tanah dasar

hanya berpengaruh kecil terhadap kekuatan daya dukung struktural perkerasan

kaku.

Lapis pondasi bawah, jika digunakan di bawah plat beton, dimaksudkan untuk

sebagai lantai kerja, dan untuk drainase dalam menghindari terjadinya "pumping".

II-1
Bab II Studi Literatur

Pumping adalah peristiwa keluarnya air disertai butiran-butiran tanah dasar

melalui sambungan dan retakan atau pada bagian pinggir perkerasan, akibat

gerakan lendutan atau gerakan vertikal plat beton karena beban lalu lintas, setelah

adanya air bebas yang terakumulasi di bawah plat beton. Pumping dapat

mengakibatkan terjadinya rongga di bawah plat beton sehingga menyebabkan

rusak/retaknya plat beton.

Penggunaan bahan yang ringan seperti Styrofoam pada beton dalam

aplikasinya ke beton perkerasan jalan akan mempengaruhi beban beton itu itu

sendiri

Sesuai dengan perkembangan zaman,

styrofoam digunakan sebagai pengisi beton pada jalan raya, yang memiliki sifat

sangat ringan, mengurangi beban yang harus ditanggung oleh tanah. sehingga

dapat mengurangi terjadinya settlement pada tanah dasar dan infra srtuktur di

dalamnya. Dan dapat pula meningkatkan stabilitas tanah.

2.2 Beton

Beton adalah suatu komposit dari beberapa bahan batu-batuan yang dieratkan oleh

bahan pengikat. Terdiri dari campuran agregat halus dan agregat kasar berupa

pasir, kerikil, batu pecah, atau jenis agregat lainnya dengan semen yang

dipersatukan oleh air dalam perbandingan tertentu. Dapat juga didefinisikan

sebagai bahan bangunan yang sifatnya dapat ditentukan terlebih dahulu dengan

II-2
Bab II Studi Literatur

mengadakan perencanaan dan pengawasan yang teliti terhadap bahan-bahan yang

digunakan.

2.3 Faktor yang Mempengaruhi Mutu Beton

Untuk menjamin agar mutu beton yang dihasilkan memenuhi persyaratan yang

diinginkan, dianjurkan agar dilakukan pengujian terlebih dahulu pada agregat

yang akan digunakan, kemudian membuat uji coba beton atau campuran uji beton

setelah rancangan campuran dilakukan

Faktor-faktor yang mempengaruhi mutu beton antara lain :

1. Mutu agregat;

2. Jenis/mutu semen;

3. Faktor air semen;

4. Gradasi/susunan butir agregat kasar;

5. Pelaksanaan pembuatan beton;

6. Perawatan beton.

2.4 Sifat-Sifat Beton

2.4.1 Beton segar

Beton segar merupakan campuran antara air, semen, agregat kasar dan agregat

halus dan bahan tambah jika diperlukan, dalam keadaan plastis (sebelum semen

mengikat) atau dapat dikatakan campuran material sebelum mengeras. Apabila

sudah mencapai waktu ikat awal, beton tersebut sudah tidak dapat dirubah

bentuknya, maka penanganan pada waktu beton masih segar perlu diperhatikan.

Sifat-sifat beton segar meliputi:


II-3
Bab II Studi Literatur

- Workability

Adalah kemampuan dikerjakan pada waktu beton tersebut masih dalam

keadaan segar (plastis). Sifat ini dipengaruhi oleh jumlah air, bahan

tambah yang dipakai dan pada waktu pelaksanaan pembuatan beton. Sifat

mampu dikerjakan dapat diukur dengan pengujian slump test.

- Bobot isi/berat isi

Adalah perbandingan antara berat beton segar dengan isinya yang

berfungsi untuk mengoreksi susunan campuran beton jika hasil

perencanaan berbeda dengan pelaksanaan. Harga koreksi ini dikalikan

kebutuhan masing-masing bahan. Selain itu berat isi berguna untuk

mengkonversi dari berat ke volume dan untuk mengoreksi kelebihan atau

kekurangan bahan pada waktu pembuatan beton yang akan mempengaruhi

volume pekerjaan beton.

- Kadar udara

Jumlah persen udara yang terdapat pada beton segar, dapat mempengaruhi

kualitas beton yang sudah keras. Kadar udara dalam beton dipengaruhi

oleh bahan yang terdapat dalam beton itu sendiri, terutama susunan gradasi

agregat. Agregat dengan gradasi yang jelek menghasilkan beton yang tidak

padat walaupun dipadatkan dengan vibrator.

Banyaknya kadar udara dalam beton harus dibatasi jumlahnya karena akan

mempengaruhi kepadatan beton sehingga akan menurunkan kuat tekan

beton yang sudah keras. Oleh karena itu sebelum beton menjadi keras

harus diketahui dahulu kadar udara yang terkandung dalam beton segar,

II-4
Bab II Studi Literatur

sehingga dengan demikian kita dapat memperbaiki jika kadar udaranya

melebihi yang disyaratkan.

- Waktu ikat

Waktu ikat pada beton ada dua macam, yaitu waktu ikat awal dan waktu

ikat akhir. Waktu ikat awal adalah waktu dimana beton segar mengalami

perubahan dari bentuk plastis (mudah dikerjakan) menjadi bentuk yang

tidak plastis, sedangkan waktu ikat akhir adalah waktu dimana beton segar

mengalami perubahan dari beton yang bersifat plastis menjadi bentuk yang

kaku.

Jika beton telah mencapai waktu ikat awal maka beton sudah tidak dapat

diubah, karena semua bahan campuran sudah kaku sehingga jika diaduk

kembali maka ikatan antar bahan campuran menjadi kurang baik

Sedangkan waktu ikat akhir berguna untuk mengetahui kapan cetakan

beton dapat dibuka sehingga beton tidak mengalami perubahan bentuk.

Pada saat ini beton belum boleh menerima beban, baik beban akibat berat

sendiri maupun beban luar.

2.4.2 Beton Kaku

Sifat-sifat beton yang sudah mengeras mempunyai arti penting selama masa

pakainya. Sifat-sifat penting dari beton keras adalah kuat tekan, kuat tarik,

modulus elastisitas dan kuat lentur.

II-5
Bab II Studi Literatur

Sifat-sifat beton kaku meliputi:

a. Kuat Tekan

Kuat tekan beton adalah besarnya beban per satuan luas yang

menyebabkan benda uji beton hancur bila dibebani dengan gaya tekan

tertentu, yang dihasilkan oleh mesin tekan.

b. Kekuatan tarik tak langsung (Kuat Belah)

Adalah nilai kuat tarik benda uji beton berbentuk silinder yang diperoleh

dari hasil pembebanan benda uji tersebut yang diletakkan mendatar sejajar

dengan permukaan meja penekan mesin uji tekan.

c. Perawatan beton (Curing)

Merupakan suatu usaha untuk menghindari retak-retak akibat kekurangan

air karena penyerapan dari acuan atau penguapan. Selain itu curing juga

memberi kesempatan pada beton mengembangkan kekuatan hingga tingkat

kematangan tertentu tanpa terjadi cacat. Curing dibedakan menjadi:

Curing normal

Yaitu suatu proses dimana beton harus cukup diberi air atau

kelembaban yang cukup agar tidak terjadi pelepasan air pada beton.

Cara perawatan normal :

1) Memberikan kelembaban cukup dipermukaan beton

2) Membasahi permukaan beton secara periodik

3) Perendaman (water curing)

4) Menggenangi permukaan beton untuk waktu tertentu

5) Menutup beton dengan pasir basah/ kain basah/ meyerap air yang

basah
II-6
Bab II Studi Literatur

Curing dipercepat

Yaitu suatu proses untuk mempercepat hidrasi semen karena suhu

rendah dan juga untuk beton yang dibuat di pabrik seperti beton

prestress. Cara perawatan dipercepat :

1) Memberikan uap air pada beton (suhu 80c) disemburkan secara

bertahap selama waktu tertentu

2) Menghembuskan udara panas

3) Menutup permukaan beton dengan lembaran isolasi panas

4) Merendam dalam air panas

2.5 Unsur-Unsur Pembentuk Beton

2.5.1 Semen

Semen adalah suatu bahan konstruksi yang penting dan memperlihatkan sifat-sifat

karakteristik mengenai pengikatan dan pengerasannya jika dicampur dengan air

serta merupakan jenis perekat.

Semen dibagi dalam dua jenis yaitu :

- Semen hidrolis. Merupakan semen yang mempunyai kemampuan untuk

mengikat dan mengeras dalam air.

- Semen non hidrolis. Merupakan semen yang tidak mengikat dan mengeras

dalam air, hanya memerlukan udara untuk dapat mengeras.

Semen Portland merupakan salah satu dari semen hidrolis dari bahan berkapur dan

lempung yang dibakar sampai meleleh untuk dibentuk klingker yang kemudian

dihancurkan (dihaluskan), digerus dan ditambah gips dalam jumlah yang sesuai.

Semen Portland merupakan produksi pabrik yang digunakan sehari-hari, maka


II-7
Bab II Studi Literatur

setiap semen yang diproduksi dan beredar dipasaran harus memenuhi standard

mutu tertentu. Standard yang berlaku untuk semen adalah SII 0013-81 (Standard

Industri Indonesia).

2.5.1.1 Jenis-jenis Semen Portland

Pada umumnya, Semen Portland yang biasa kita jumpai di pasaran adalah jenis

Semen Portland biasa (ordinary portland cement), yaitu Semen Portland yang

digunakan untuk tujuan umum. Jenis Semen Portland dibagi menurut beberapa

segi, yaitu segi kebutuhan, penggunaan dan kekuatan.

1. Segi Kebutuhan Khusus

Sesuai dengan kebutuhannya kecuali Semen Portland jenis umum, ada

jenis semen yang memiliki tujuan penggunaan khusus seperti yang

diterangkan berikut ini.

a. Semen Portland Mengeras Cepat (Rapid Hardening Portland Cement)

Merupakan semen yang memiliki kadar C3S atau C3A tinggi dan

digiling halus sehingga derajat pengerasannya pada umur muda tinggi.

Dalam Standar Semen ASTM, semen jenis ini termasuk Semen

Portland Tipe III. Adapun semen untuk tujuan umum termasuk semen

Tipe I.

b. Semen Portland Tahan Sulfat yang Sedang dan Semen Portland

Tahan Sulfat

Pada waktu pembuatannya, kedua jenis ini sengaja dibuat dengan

kadar C3A rendah. Kadar maksimum untuk semen tahan sulfat sedang

adalah 8%, dan untuk semen tahan sulfat adalah maksimum 5%.

Dalam ASTM, semen jenis ini termasuk Semen Portland Tipe IIA dan
II-8
Bab II Studi Literatur

Tipe V. Meskipun semen jenis ini disebutkan tahan sulfat, namun

tidak berarti tahan terhadap asam sulfat. Yang dimaksud sulfat di sini

adalah garam sulfat yang larut, misalnya air laut, rawa, dan

sebagainya, di mana kadar SO3 nya lebih dari 1%.

c. Semen Portland dengan Panas Rendah (Low Heat Cement)

Dalam susunan kimianya, semen jenis ini memiliki kadar C3S

maksimum 35% dan kadar C3A maksimum 7%. Semen ini biasanya

memiliki derajat pengerasan kecil (lambat). Penggunaan semen jenis

ini adalah untuk konstruksi-konstruksi yang tebal, di mana bahaya

panas dalam inti beton massa itu dapat mengakibatkan terjadinya

kerusakan pada konstruksi. Dalam standar ASTM semen ini termasuk

Semen Portland tipe IV.

d. Semen Portland Pozzolan

Semen Portland Pozzolan merupakan campuran dari Semen Portland

biasa dengan bubuk halus trass atau pozzolan, atau benda-benda yang

bersifat pozzolan (misalnya abu terbang, fly ash). Kadarnya adalah

antara 10% - 30% dari berat. Berat jenis semen ini biasanya kurang

dari 3,0 (2,90). Penggunaannya adalah untuk bangunan yang

mendapat gangguan garam sulfat atau panas rendah. Bila bahan yang

dicampurkan terak dapur tinggi, disebut Semen Portland terak dapur

tinggi.

e. Masonry Cement

II-9
Bab II Studi Literatur

Semua jenis ini adalah Semen Portland yang dicampur dengan bubuk

batu atau batuan kapur sampai 50%. Penggunaan semen jenis ini

adalah untuk adukan pasangan.

f. Semen Portland Putih

Semen Portland putih adalah Semen Portland dimana bahan dasarnya

mengandung senyawa besi yang rendah. Kadar Fe2O3 pada semen ini

dibatasi maksimum 0,5%, sebab senyawa besi itu menimbulkan warna

tua pada semen. Proses pembuatan semen ini memerlukan ketelitian

tinggi dan bahan dasarnya mahal. Oleh karena itu, harga semen putih

lebih mahal daripada semen biasa.

g. Semen Alumunium

Semen Alumunium bukan jenis Semen Portland, tetapi memiliki sifat-

sifat dan pemakaian seperti Semen Portland. Semen ini terbuat dari

batu kapur dan bauksit, dengan komposisi campuran kira-kira 60% -

70% kapur dan 30% - 40% bauksit (perbandingan berat). Bahan-bahan

ini digiling halus, kemudian dibakar dengan suhu tinggi ( 1600C)

dalam dapur listrik hingga massanya membentuk klinker. Klinker

digiling dan ditambah gips sebagai penghambat pengerasan. Waktu

pengikatan awal 1 jam, tetapi setelah 24 jam semen telah mencapai

kekuatan 100%. Warna semen abu-abu muda. Penggunaaanya

terutama untuk konstruksi bangunan yang tahan gangguan sulfat, dan

untuk bangunan tahan suhu tinggi.

II-10
Bab II Studi Literatur

2. Segi Penggunaan

Ditinjau dari penggunaanya, menurut ASTM Semen Portland dapat

dibedakan menjadi lima.

Tipe I: Semen Portland tipe I digunakan secara luas sebagai semen

umum untuk pekerjaan teknik sipil dan arsitektur.

Tipe II: Semen Portland tipe II merupakan semen pengeras pada

panas sedang. Mempunyai C3S kurang dari 50% dan C3A kurang dari

8%.

Tipe III: Semen Portland tipe III mempunyai kekuatan awal yang

cukup tinggi. Biasanya dipakai sebagai pengganti semen jenis I untuk

pekerjaan yang mendesak.

Tipe IV: Semen Portland tipe IV digunakan dimana tingkat kecepatan

dan jumlah panas yang dikeluarkan dari hidrasi harus diminimumkan.

Tipe ini mengembangkan kekuatan pada tingkat kecepatan yang lebih

lambat dari pada tipe semen lainnya. Semen tipe IV dimaksudkan

untuk dipakai dalam struktur beton yang pasif.

Tipe V: Semen Portland tipe V biasanya dipakai untuk pekerjaan

beton dalam tanah yang mengandung banyak sulfat dan yang

berhubungan langsung dengan air tanah.

2.5.1.2 Sifat-Sifat Semen Portland

Senyawa-senyawa yang terkandung dalam Semen Portland, yang sesuai dengan

standar mutu pengujian, dapat dilihat dalam tabel dibawah ini:

II-11
Bab II Studi Literatur

Tabel 2.1. Syarat-Syarat Kimia Semen Menurut ASTM

Kadar dari komponen-komponen Jenis Jenis Jenis Jenis Jenis


I II III IV V
Silikon dioksida/pasir silikat (SiO2) minimal. 21

(%)
Allumuniumm oksida/tanah liat (AL2O3) 6 *)

maks. (%)
Ferioksida/bijih besi (Fe2O3) maks. (%) 6 6,5 *)
Magnesium oksida (MgO) maks. (%) 5 5 5 5 4
Sulfat (SO3) Maks. (%) bila :
C3A sampai 8% 2 2 2,5 2 2
C3A lebih dari 8% 2,5 2 3 2 2
Kadar hilang pijar maks. (%) 3 3 3 2,3 3
Endapan tak terlarutkan maks. (%) 0,75 0,75 0,75 0,75 0,75
C3S maks. (%) 50 35 50
C2S maks. (%) 40
C3A maks. (%) 8 15 7 5

*) Catatan : Kadar C3A tidak boleh melebihi 5% dan C4AF ditambah dua kali jumlah C3A
kadarnya tidak boleh melebihi 20%.

Selain itu, Semen Portland itu sendiri masih memiliki beberapa sifat sebagai

berikut :

1. Kehalusan butir

Pada umumnya semen memiliki kehalusan kurang lebih 80% dari butiran

dapat menembus ayakan 44 mikron, makin halus semen, makin cepat pula

persenyawaannya.

II-12
Bab II Studi Literatur

2. Berat jenis dan berat isi

Berat jenis semen umumnya berkisar antara 3,1 kg/l 3,3 kg/l. Semen yang

dicampur dengan bubuk batuan lain atau pembakarannya tidak sempurna

akan memiliki berat jenis dibawah angka tersebut.

3. Waktu pengerasan semen

Semen & air saling bereaksi, reaksi ini dinamakan hidratasi, sedangkan hasil

yang terbentuk disebut hidrasi semen. Faktor yang mempengaruhi kecepatan

reaksi ini adalah kehalusan semen, air semen, dan temperature. Waktu

pengerasan tersebut terdiri dari waktu ikat awal dan waktu ikat akhir. Bagi

jenis-jenis Semen Portland waktu pengikatan awal tidak boleh kurang dari 60

menit sejak terkena air.

4. Kekekalan bentuk

Yang dimaksud disini adalah sifat dari bubur semen yang telah mengeras,

dimana bila adukan semen dibuat suatu bentuk tertentu bentuk itu tidak

berubah.

5. Kekuatan semen

Kekuatan mekanis dari semen yang telah mengeras merupakan sifat yang

perlu diketahui dalam pemakaian. Kekuatan semen ini merupakan gambaran

mengenai daya rekat semen sebagai bahan perekat.

6. Pengerasan awal palsu

Adakalanya waktu ikat awal semen kurang dari standar yang ditetapkan,

dimana setelah semen dicampur dengan air segera nampak mulai mengeras.

Kemungkinan karena pengaruh gips. Hal ini dapat ditanggulangi dengan

mengaduk kembali pasta semen dan semen akan mengeras seperti biasa.
II-13
Bab II Studi Literatur

7. Pengaruh suhu

Proses pengerasan semen juga tergantung faktor suhu disekitarnya, semakin

tinggi suhu sekitarnya semakin cepat semen akan mengeras.

2.5.2 Agregat

Agregat adalah butiran mineral yang berfungsi sebagai bahan pengisi dalam

campuran mortar dan beton. Agregat biasanya mengisi 60% - 75% dari volume

beton. Dilihat dari jumlahnya, tampak jelas bahwa agregat sangat berpengaruh

sekali dalam beton.

2.5.2.1 Fungsi Agregat Pada Beton

Kadar agregat yang cukup besar pada beton (60%-75%), mengakibatkan mutu

agregat sangat berpengaruh terhadap sifat & mutu beton itu sendiri. Adapun

penggunaan agregat dalam beton selain untuk bahan pengisi adalah untuk:

o Menghemat penggunaan Semen Portland

o Menghasilkan kekuatan yang besar pada beton

o Mencapai susunan yang padat pada beton. Dengan gradasi agregat yang

baik akan menghasilkan beton yang baik pula.

o Mengontrol workability

Semakin banyak bahan yang dipakai semakin menghemat pemakaian semen. Juga

semakin banyak agregat maka semakin berkurang susut pengerasan betonnya.

2.5.2.2 Sifat-Sifat Agregat

Sifat-sifat agregat yang perlu ditinjau sebagai bahan pada beton adalah :

II-14
Bab II Studi Literatur

1. Penyerapan air

2. Kadar air

o Keadaan kering oven, yaitu keadaan agregat yang benar-benar kering

tidak mengandung air.

o Kering udara, permukaan butir dalam keadaaan kering tetapi dalam

butiran masih terkandung air.

o Jenuh kering muka (saturated and surface dry), keadaan permukaan

agregat kering, tetapi butiran-butiran jenuh mengandung air.

o Basah, butiran agregat mengandung banyak air, baik dalam agregat

maupun permukaan agregat.

3. Ketahanan terhadap cuaca

Yaitu kemampuan agregat untuk menahan perubahan volume yamg

berlebihan, yang diakibatkan oleh adanya perubahan-perubahan pada

kondisi lingkungan.

4. Reaksi Alkali-Silika

5. Zat yang berpengaruh buruk terhadap beton

o Bahan yang merugikan dalam agregat (humus, minyak, lemak, gula)

o Tanah liat, lumpur dan debu yang sangat halus

o Garam klorida & sulfat

6. Partikel-partikel yang tidak kekal

Yaitu partikel yang ringan berupa arang, kayu, dan atau mika. Partikel

yang lunak yang mengeras dan jika terkena air akan mengembang &

kemudian pecah. Partikel-partikel tersebut akan menambah kebutuhan air

II-15
Bab II Studi Literatur

pada beton, sehingga dapat mengurangi kekuatan dan ketahanan beton

yang menggunakan agregat tersebut.

7. Sifat kekekalan bentuk

Merupakan kemampuan agregat untuk menahan terjadinya perubahan

volume yang berlebihan akibat adanya perubahan kondisi fisik.

8. Susunan besar butir (gradasi)

Sifat-sifat beton dipengaruhi oleh gradasi agregat adalah sebagai berikut:

o Terhadap beton segar

Gradasi mempengaruhi kelecakan, sifat kohesif, jumlah air

pencampur, jumlah semen yang diperlukan, pengecoran, pemadatan,

finishing, kontrol terhadap segregasi, dan bleeding.

o Terhadap beton keras

Mempengaruhi kepadatan, pemadatan, dan keawetan beton.

Salah satu cara untuk mengetahui gradasi agregat adalah dengan analisa

ayak/saringan.

Tabel 2.2. Ukuran Saringan

Ukuran saringan Ukuran sebenarnya


(mm)

#4 4,76
#8 2,36
#30 0,6
#40 0,42
#60 0,25
#80 0,177
#120 0,12
#140 0,105
#200 0,074

II-16
Bab II Studi Literatur

2.5.2.3 Klasifikasi Agregat

Dalam teknologi beton. agregat yang digunakan terdiri dari berbagai klasifikasi.

A. Berdasarkan Asalnya

1. Agregat Alam

Agregat alam pada umumnya bahan bakunya berasal dari alam atau

penghancurannya. Jenis batuan alam yang baik untuk agregat adalah

batuan beku. Jenis batuan endapan atau metamorph juga dapat dipakai,

hanya kualitasnya harus dipilih.

Agregat beton yang berasal dari alam dibedakan lagi menjadi:

a. Kerikil dan pasir alam adalah hasil dari penghancuran alam dari

batuan induknya, dan terdapat dekat atau seringkali jauh dari asalnya

karena terbawa oleh arus air atau angin, dan mengendap disuatu

tempat.

b. Agregat batu pecah adalah agregat terbuat dari batuan alam yang

dipecah. Kekerasan batuan pecah ini lebih baik dari agregat pasir

atau kerikil alam, dalam pemakaiannya batu pecah lebih banyak

membutuhkan air daripada agregat alam lainnya karena luas

permukaannya lebih luas. Sementara untuk kelecakan dan faktor air

semen sama. Selain itu semen yang digunakan lebih banyak untuk

pembuatan beton dibandingkan dengan menggunakan pasir/kerikil

alam.

c. Agregat batu apung adalah agregat alamiah yang ringan, dalam

penggunaannya herus bebas dari debu vulkanik. Batu apung ini

mempunyai isolasi panas yang baik.


II-17
Bab II Studi Literatur

2. Agregat Buatan

Agregat buatan adalah suatu agregat yang dibuat dengan tujuan

penggunaan tertentu atau kerena kekurangan agregat batuan alam.

Berikut adalah contoh agregat buatan :

a. Klinker & breeze (dari ketel uap pembangkit)

b. Coke breeze (sisa bakaran batu arang)

c. Hydite (tanah liat yang dibakar dalam dapur berputar)

d. Lelite (dari batuan metamorph yang mengandung karbon)

B. Berdasarkan Berat Jenisnya

Ditinjau dari berat jenisnya, agregat dibedakan menjadi :

1. Agregat ringan, yaitu agregat yang memiliki berat jenis kurang dari 2,4

g/cm3 biasanya digunakan untuk beton non struktural. Kelebihannya

adalah ringan.

2. Agregat normal, yaitu agregat yang memiliki berat jenis antara 2,4 2,9

g/cm3 biasanya digunakan untuk beton normal.

3. Agregat berat, yaitu agregat yang memiliki berat jenis lebih dari 2,9

g/cm3 biasanya digunakan untuk beton mutu tinggi. Sementara itu ada

beberapa macam berat jenis pada agregat, antara lain :

a. Berat jenis sesungguhnya, yaitu perbandingan antara berat agregat

kering dengan berat air suling yang volumenya sama dengan agregat

dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu.

b. Berat jenis permukaan (SSD), adalah perbandingan antara berat

agregat jenuh permukaan kering dengan berat air suling yang isinya

sama dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu.
II-18
Bab II Studi Literatur

c. Berat jenis semu, adalah perbandingan antara berat agregat kering

dengan berat air suling yang volumenya sama dengan isi agregat

dalam keadaan kering pada suhu tertentu.

C. Berdasarkan Bentuknya

Agregat alam dan batu pecah memiliki berbagai bentuk butiran, bentuknya

terdiri dari :

1. Bulat

a. Bersudut

b. Pipih

c. Memanjang (lonjong)

D. Berdasarkan Tekstur Permukaan

Berdasarkan tekstur permukaan agregat dapat dibedakan menjadi :

a. Agregat dengan permukaan seperti gelas

b. Agregat dengan permukaan kasar

c. Agregat dengan permukaan licin

d. Agregat dengan permukaan berbutir

e. Agregat berpori dan berongga

E. Berdasarkan Besar Butirnya

Ditinjau dari besar butirnya, agregat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu

a. Agregat Halus

Pasir galian, yaitu pasir yang diambil langsung dari permukaan tanah

atau dengan cara menggali.

Pasir sungai, yaitu pasir yang diperoleh dari dasar sungai, biasanya

baik untuk plesteran.


II-19
Bab II Studi Literatur

Pasir laut, diperoleh dari pantai & biasanya kurang baik untuk

bangunan karena mengandung garam.

b. Agregat Kasar

Agregat ini adalah agregat dengan butiran tertinggal diatas ayakan 4,8

mm, tetapi lolos ayakan 40 mm.

c. Batu

Batu adalah agregat yang lebih besar dari 40 mm

2.5.2.4 Syarat Mutu Agregat

Banyak faktor yang membuat suatu beton memiliki mutu yang baik seperti

diantaranya, mudah dikerjakan, dapat dipadatkan dengan sempurna, dan susunan

bahan terencana dengan baik sehingga dapat mencapai kekuatan yang disyaratkan.

Berdasarkan British Standard kekasaran pasir dapat dibagi menjadi kelompok

gradasi (zone) sebagai berikut:

Tabel 2.3. Syarat Gradasi Agregat Halus Menurut BS 882 : 1973

Lubang Persen berat lolos kumulatif


ayakan Zone 1 Zone 2 Zone 3 Zone 4
(mm)

10.00 100 100 100 100


5.00 90-100 90-100 90-100 95-100
2.36 60-95 75-100 85-100 95-100
1.18 30-70 55-90 75-100 90-100
0.6 15-34 35-59 60-79 80-100
0.3 5-20 8-30 12-40 15-50
0.15 0-10 0-10 0-10 0-15

II-20
Bab II Studi Literatur

Syarat susunan besar butir menurut Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI)

1971-NI-2 adalah jika agregat diayak dengan ayakan standar ISO, maka bagian

yang tertinggal diatas ayakan adalah sebagai berikut ;

o 4 mm tidak kurang dari 2 % berat

o 1 mm tidak kurang dari 10 % berat

o 0,25 mm antara 80 % dan 95 %

Sedangkan syarat susunan butiran agregat kasar menurut BS 882 : 1973 dan

ASTM Standard C33 - 74 adalah sebagai berikut :

Tabel 2.4. Syarat Besar Butir Agregat Kasar Menurut BS 882 : 1973

Persentase lolos kumulatif ( persen berat ),


Lubang ayakan
Ukuran butir nominal
dalam mm
40 - 5 mm 20 - 5 mm 14 - 5 mm

75 100 - -

37.5 95 - 100 100 -

20.0 35 - 70 95 - 100 100

14.0 - - 90 - 100

10.0 10 - 40 30 - 60 50 - 85

5.0 0-5 0 - 10 0 - 10

II-21
Bab II Studi Literatur

2.5.3 Air

Air adalah salah satu bahan yang penting dalam pembuatan beton, air diperlukan

agar terjadi reaksi kimia dengan semen untuk membasahi agregat dan untuk

melumas agregat agar mudah dalam pengerjaanya. Air yang umumnya dapat

digunakan untuk beton adalah air yang dapat diminum. Tetapi tidak semua air

dapat memenuhi syarat tersebut karena mengandung berbagai macam unsur yang

dapat merugikan.

SKSNI S 04 -1989 - F mensyaratkan air yang yang dapat digunakan sebagai

bahan bangunan sebagai berikut :

1. Air harus bersih.

2. Tidak mengandung lumpur, minyak dan benda terapung lainnya yang dapat

dilihat secara visual.

3. Tidak mengandung benda benda yang tersuspensi lebih dari 2 gram/liter.

4. Tidak mengandung garam garam yang dapat larut dan dapat merusak beton

(asam-asam, zat organik dan sebagainya) lebih dari 15 gram/liter. Kandungan

klorida ( Cl ), tidak lebih dari 500 p.p.m dan senyawa sulfat tidak lebih dari

1000 p.p.m sebagai SO3.

5. Bila dibandingkan dengan kekuatan tekan adukan dan beton yang memakai

air suling, maka penurunan kekuatan adukan dan beton yang memakai air

yang diperiksa tidak lebih dari 10 %.

6. Semua air yang mutunya meragukan harus dianalisa secara kimia dan

dievaluasi mutunya menurut pemakaiannya.

7. Khusus untuk beton pratekan, kecuali syarat syarat tersebut diatas tidak boleh

mengandung klorida lebih dari 50 p.p.m.


II-22
Bab II Studi Literatur

2.6 Beton Mutu Tinggi

Yang dimaksud beton mutu tinggi didefisinikan sebagai beton yang memiliki

kuat tekan rata-rata > 41.4Mp a(>450 kg/cm2). Dalam metode ACI ini kuat

tekan yang disyaratkan untuk menentukan proporsi campuran beton mutu

tinggi dapat dipilih umur 7, 14, 21, 28 hari. Untuk mencapi kuat tekan yg

disyaratkan,campuran harus di proporsikan sedemikian rupa sehingga kuat

tekan rata-rata dari hasil pengujian dilapangan lebih tinggi daripada kuat tekan

yang disyaratkan.

Untuk mengevaluasi kekuatan beton mutu tinggi maka digunakan beberapa

benda uji dengan ukuran yg berbeda-beda, disesuaikan dengan jenis uji yg akan

dilakukan.

Tabel 2.5. Klasifikasi Beton

Jenis Beton fc' (Mpa) bk' (Kg/cm2) uraian


Umumnya digunakan untuk beton
prategang seperti tiang pancang
Mutu Tinggi 35 - 65 K400-K800 beton prategang, gelagar beton
prategang, plat beton prategang dan
sejenisnya
Umumnya digunakan untuk beton
bertulang seperti platlantai
Mutu Sedang 20-<35 K250-<K400 jembatan, gelagar beton bertulang,
diafragma, gorong-gorong beton
bertulang bangunan bawah jembatan
Umumnya digunakan untuk struktur
beton tanpa tulangan seperti beton
Mutu Rendah 15-<20 K175-<K250 siklop, trotoar dan pasangan batu
kosong yang diisikan adukan
pasangan batu
10-<15 K125-<K175 digunakan sebagai lantai kerja,
penimbunan kembali dengan beton

II-23
Bab II Studi Literatur

2.6.1 Persyaratan Bahan

a. Agregat

o Ketentuan gradasi agregat

Tabel 2.6. Ketentuan Gradasi Agregat

Ukuran Persen berat yang lolos untuk agregat Persen


Saringan
Kasar
Ukuran Ukuran
Ukuran Ukuran Ukuran
Inci Standar Halus maksimum maksimum
maksimum maksimum maksimum
(in) (mm) 37,5 mm 25 mm
19 mm 12,5 mm 10 mm
2 50.8 - 100 - - - -
1 38.1 - 95 100 100 - - -
1 25.4 - - 95 100 100 - -
19 - 35 70 - 90 100 100 -
12.7 - - 25 60 - 40 70 95 100
3/8 9.5 100 10 30 - 20 55 40 70 95 100
#4 4.75 95 100 05 0 10 0 10 0 15 30 65
#8 2.36 80 100 - 05 05 05 20 50
# 16 1.18 50 85 - - - - 15 40
# 50 0.300 10 30 - - - - 5 15
0.150 2- - - - - 08
# 10
100

Catatan : Bilamana disetujui oleh Direksi Pekerjaan, melalui campuran percobaan, gradasi agregat kasar
Yang berada diluar Tabel 7.1.2-1 boleh digunakan.
Sumber : ASTM C33 - 93

o Agregat kasar harus dipilih sedemikian rupa sehingga ukuran

agregat terbesar tidak lebih dari jarak bersih minimum antara

baja tulangan atau antara baja tulangan dengan acuan, atau celah-

celah lainnya dimana beton harus dicor.

II-24
Bab II Studi Literatur

Tabel 2.7. Peryaratan Agregat Menurut SNI

Batas Maksimum yang dijinkan untuk


Sifat-sifat Metode Pengujian Agregat
Halus Kasar
Keausan Agregat dengan 25% untuk beton
Mesin Los Angeles mutu tinggi, 40%
SNI 03-2417-1991 - untuk mutu
sedang dan beton
mutu rendah
Kekekalan Bentuk 10% - natrium 12% - natrium
Agregat terhadap Larutan
SNI 03-3407-1994 18 % -
Natrium Sulfat atau 15% - magnesium
magnesium
Magnesium Sulfat
Gumpalan Lempeng dan
Partikel yang Mudah SNI 03-4141-1996 3% 2%
Pecah
Bahan yang lolos Saringan
SNI 03-4142-1996 3% 1%
No.200

2.7 Bahan Styrofoam

Styrofoam adalah expanded polystyrene dikenal sebagai gabus putih

digunakan untuk pembungkus barang-barang elektronik. Polystyrene ini

dihasilkan dari styrene (C 6H5CH9CH2), merupakan bahan yang baik

ditinjau dari segi mekanis maupun suhu namun bersifat agak rapuh dan

lunak pada suhu dibawah 100 derajat. Berat jenis 12 kg/m3 kuat tarik

sampai 40MN/m2 = 3.750063 mpa modulus lentur sampai 3 GN/m 2,= =

281.25 Mpa modulus geser sampai 0.99GN/m2. = 92.8148 Mpa

Polystyrene mulai digunakan pada akhir 1960 untuk berbagai keperluan.

Tahun 1998 baru digunakan untuk keperluan jalan atau timbunan.

II-25
Bab II Studi Literatur

Polystyrene

EPS XPS
(Expanded polystyrene) (Extruded Polystyrene)

Gambar 2.1 Diagram Styrofoam polystyrene

Polistirena foam dikenal luas dengan istilah styrofoam yang seringkali digunakan

secara tidak tepat oleh publik karena sebenarnya styrofoam merupakan nama

dagang yang telah dipatenkan oleh perusahaan Dow Chemical.

Oleh pembuatnya Styrofoam dimaksudkan untuk digunakan sebagai insulator

pada bahan konstruksi bangunan, bukan untuk kemasan pangan.

Polistirena foam dihasilkan dari campuran 90-95 persen polistirena dan 5-10

persen gas seperti n-butana atau n-pentana. Dahulu, blowing agent yang

digunakan adalah CFC (Freon), karena golongan senyawa ini dapat merusak

lapisan ozon maka saat ini tidak digunakan lagi, kini digunakan blowing agent

yang lebih ramah lingkungan. Polistirena dibuat dari monomer stirena melalui

proses polimerisasi.

Polistirena foam dibuat dari monomer stirena melalui polimerisasi suspensi pada

tekanan dan suhu tertentu, selanjutnya dilakukan pemanasan untuk melunakkan

resin dan me-nguapkan sisa blowing agent. Polistirena bersifat kaku, transparan,

rapuh, inert secara kimiawi, dan merupakan insulator yang baik.

II-26
Bab II Studi Literatur

Sedangkan polistirena foam merupakan bahan plastik yang memiliki sifat khusus

dengan struktur yang tersusun dari butiran dengan kerapatan ren-dah, mempunyai

bobot ringan, dan terdapat ruang antar butiran yang berisi udara lemak rendah atau

tinggi.

Styrofoam adalah bahan yang tidak asing dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kebanyakan dari kita mengenalnya sebagai bahan untuk pembungkus /

pengepakan (packaging) terutama untuk aplikasi pengepakan yang membutuhkan

insulasi suhu (thermal insulation) yang baik, seperti pengepakan ikan segar, bahan

makanan perishable lainnya, es krim, dan sebagainya. Sebagian dari kita juga

sudah tahu bahwa styrofoam adalah limbah (waste) yang semakin hari semakin

menjadi masalah lingkungan yang berat, karena terlihat makin berserakannya

cangkir, bongkah, dan lembaran styrofoam sepanjang mata memandang di

pembuangan pembuangan sampah, dan diperburuk citranya dengan fakta bahwa

styrofoam ini adalah tidak membusuk (non-biodegradeable), sehingga timbunan

sampah styrofoam akan terus bertambah apabila tidak didaur-ulang (recycled)

secara profesional. Sebenarnya istilah styrofoam ini adalah merek dagang milik

Dow Chemical Corp dari Amerika Serikat. Jadi, untuk menghargai hak cipta

mereka, dari titik ini, artikel ini akan membahas bahan tersebut dengan nama

umumnya, yaitu EPS (expanded polystyrene). Untungnya, dengan berkembangnya

penelitian akan kegunaan EPS terakhir ini, penggunaan EPS sudah jauh lebih

berwawasan dan bertanggung jawab dibanding dengan penggunaan untuk bahan

pembungkus (packaging) dan dekorasi. Salah satu contoh penggunaan baru EPS

II-27
Bab II Studi Literatur

yang mulai adalah untuk bahan panel bangunan. Penggunaan EPS untuk bahan

bangunan jauh lebih ramah lingkungan dibanding penggunaan EPS untuk

packaging, karena jangka pemakaiannya yang sangat panjang (bertahun-tahun

selama bangunan digunakan), dan bukannya sekali pakai buang seperti EPS

untuk packaging. Selain itu, sewaktu bangunan suatu hari dibongkar, proses daur

ulang EPS dapat dilaksanakan secara sistematis. Salah satu perusahaan EPS

terkemuka di Eropa, Jebsen & Jessen, misalnya, dahulunya memproduksi EPS

hanya untuk packaging, tetapi saat ini sudah lebih dari 70% omzetnya di Eropa

adalah dari penjualan EPS untuk keperluan non-packaging, seperti untuk aplikasi

bahan konstruksi

2.8 Metode American Concrete Institute (ACI)

Metode American Concrete Institute (ACI) mensyaratkan suatu campuran

perencanaan beton dengan mempertimbangkan sisi ekonominya dengan

memperhatikan ketersediaan bahan bahan di lapangan, kemudahan pekerjaan,

serta keawetan dan kekuatan pekerjaan beton. Cara ACI melihat bahwa dengan

ukuran agregat tertentu, jumlah air perkubik akan menentukan tingkat konsistensi

dari campuran beton yang pada akhirnya akan mempengaruhi pelaksanaan

pekerjaan (workability). Sebelum melakukan perencanaan, data data yang

dibutuhkan harus dicari. Jika data - data yang dibutuhkan tidak ada, dapat diambil

data dari tabel yang telah dibuat untuk membantu penyelesaian perancangan cara

ACI ini.

II-28
Bab II Studi Literatur

MULAI

Tentukan Kuat Tekan Rencana Rata-rata(f cr) (f cr=m+fc) dengan m = 1.64 sd


Fc=kuat tekan rencana dan m = margin (tabel 2.7) jika ada data standar deviasi, sd

Tentukan Nilai Slump (tabel 2.8 jika tidak ditentukan)

Tentukan ukuran maksimum Agregat (Tebel 2.9) atau mengikuti ketentuan tidak
lebih dari 1/5 dimensi terkecil bekisting, 1/3 tebal plat dan jarak bersih antar
tulangan

Tentukan faktor air Semen (Tabel 2.10) dan hitung


Kandungan semen = ffas dikali berat air

Tentukan jumlah air dan udara ( Tabel 2.11 )

Pilih jumlah agregat akhir ( Tabel 2.12 )

Estimasi Berat Beton Segar (Tabel 2.13) kemudian


tentukan proporsi bahan

Koreksi proporsi bahan

Campuran Percobaan

SELESAI

Gambar 2.1 Diagram alir perencanaan campuran beton menurut ACI

Menghitung kuat tekan rata rata beton, berdasarkan kuat tekan rencana dan

margin, fcr = m+fc

- m = 1.64 x sd(standar deviasi) diambil bersasarkan data yang lalu, jika

tidak ada diambil dari tabel berikut.


II-29
Bab II Studi Literatur

Tabel 2.8. Nilai Standar Deviasi

mutu pelaksanaan (Mpa)


Volume pekerjaan Baik Sekali Baik Cukup
Kecil (<1000 m3) 4.5<sd<5.5 5.5<sd<6.5 6.5<sd<8.5
sedang(1000-3000m3) 3.5<sd<4.5 4.5<sd<5.5 5.5<sd<7.5
besar (>3000m3) 2.5<sd<3.5 3.5<sd<4.5 4.5<sd<6.5

Nilai Slump, dan butir maksimum agregat.

a. Slump ditentukan, atau lihat tabel 2.8

Tabel 2.9. Slump yang Disyaratkan Menurut ACI

Jenis Konstruksi Slump(mm)


Maksimum Minimum
dinding penahan dan pondasi 76.2 25.4
Pondasi sederhana, sumuran 76.2 25.4
dan dinding sub struktur
Balok dan dinding beton 101.6 25.4
Kolom struktural 101.6 25.4
Perkerasan dan slab 76.2 25.4
Beton massal 50.8 25.4

b. Ukuran maksimum agregat dihitung dari 1/3 tebal plate dan atau jarak

bersih antar baja tulangan, tendon, bundle bar, atau ducting dan atau 1/5

jarak terkecil bidang bekisting ambil yang terkecil, atau lihat pada tabel

2.9.

Tabel 2.10. Ukuran Maksimum Agregat

Dimensi Minimum Balok/kolom plat


62.5 mm 12.5mm 20 mm
150 mm 40 mm 40 mm
300 mm 40 mm 80 mm
750 mm 80 mm 80 mm
II-30
Bab II Studi Literatur

Tetapkan jumlah air yang dibutuhkan berdasarkan ukur ukur maksimum

agregat dan nilai slump dari tabel 2.10.

Tabel 2.11. Perkiraan Air Campuran dan Persyaratan Kandungan Udara untuk
Berbagai Slump dan Ukuran Nominal Agregat Maksimum

Air (lt/m3)

Slump (mm) 9.5 12.7 19.1 25.4 38.1 50.8 76.2 152.4

mm a) mm a) mm a) mm a) mm a) mm ab) mm bc) mm bc)

25.4 s/d 50.8 210 201 189 180 165 156 132 114
76.2 s/d 127 231 219 204 195 180 171 147 126
152.4 s/d 177.8 246
231 216 204 189 180 162 -
Mendekati jumlah kandungan

udara dalam beton air-entrained

(%)

3.0
2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.3 0.2

25.4 s/d 50.8 183 177 168 162 150 144 123 108
76.2 s/d 127 204 195 183 177 165 159 135 120
152.4 s/d 177.8
219 207 195 168 174 168 156 -
Kandungan udara total rata-rata

yang disetujuid) (dalam persen)

Diekspose sedikit 4.5 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5ef) 1.0ef)
Diekspose menengah 6.0 5.5 5.0 4.5 4.5 4.0 3.5ef) 3.0ef)
Sangat akspose

7.5 7.0 6.0 6.0 5.5 5.0 4.5ef) 4.0ef)

Keterangan :

a) Banyaknya air campuran disini dipakai untuk menghitung faktor air semen untuk suatu campuran percobaan
(trial batch). Harga-harga ini adalah maksimal butirnya 1.5 in ( 40 mm), untuk suatu agregat kasar bentuk dan
gradasinya cukup baik dan dalam batas yang diterima oleh spesifikasi.
b) Nilai slump untuk beton yang mengandung agregat dengan ukuran maksimum 1.5 inch (38.1 mm atau 40 mm)
ini adalah berdasarkan percobaan-percobaan yang dibuat setelah membung partikel agregat yang lebih besar
dari 38 atau 40 mm

II-31
Bab II Studi Literatur

c) Banyaknya air campuran disini dipakai untuk menghitung faktor air semen untuk suatu campuran percobaan
(trial batch). Jika digunakan butiran maksimum agregat 3 inch (76.2 mm) atau 6 inch (152.4 mm). Harga-harga
ini adalah maksimal untuk suatu agregat kasar bentuk dan gradasinya cukup baik dari halus sampai kasar.
d) Rekomendasi lainnya tentang kandungan air dan toleransi yang diperlukan untuk control di lapangan tercantum
dalam sejumlah dokumen ACI, seperti ACI 201, 345, 318, 301, dan 302. Batas-batas kandungan air dalam beton
juga diberikan oleh ASTM C-94 untuk beton ready mix. Persyaratan-persyaratan ini bias saja tidak sama untuk
masing-masing peraturan, sehingga perancangan beton perlu ditinjau lebih lanjut dalam menentukan kandungan
air yang memenuhi syarat untuk pekerjaan yang juga memenuhi syarat peraturan.
e) Untuk beton yang menggunakan agregat lebih besar dari 1.5 inch (40mm) dan tertahan di atasnya, prosentase
udara yang diharapkan pada 1.5 inch. Dikurangi material ditabelkan dikolom 38.1. Akan tetapi, dalam
perhitungan komposisi awal seharusnya kandungan udara juga ada sebagai suatu persen keseluruhan.
f) Jika menggunakan agregat besar pada beton dengan FAS besar, gelembung udara yang ada bias saja tidak
mengurangi kekuatan. Dalam banyak hal, persyaratan air campuran akan berkurang jika FAS bertambah, artinya
pengaruh reduksi kekuatan akibat air entrained akan berkurang.
g) Harga-harga ini berdasarkan criteria 9% udara di perlukan pada fase mortar. Jika volume mortar sangat berbeda
dengn yang ditentukan dalam rekomendasi praktis ini, besarnya dapat dihitung dengan mengambil 9% dari
volume mortar sesungguhnya.

Menentukan nilai Faktor Air Semen dari tabel 2.11 untuk menentukan nilai

kuat tekan dalam Mpa yang berada diantara nilai yang diberikan dilakukan

interpolasi.

Tabel 2.12. Nilai Faktor Air Semen

FAS
Kuat tekan (Mpa) Beton Beton
Air - entrained non- entrained
41.4 0.41 -
34.5 0.48 0.4
27.6 0.57 0.48
20.7 0.68 0.59
13.8 0.62 0.74
*)Besar kekuatan tekan diestimasi atas beton yang mempunyai kandungan udara tidak
melebihi seperti yang tercantum dalam Tabel 3.4. untuk harga FAS yang konstan,
kekuatan tekan beton akan berkurang jika kandungan udara bertambah. Kekuatan ini
berdasarkan beton yang kelembabannya dijaga (curing) pada temperature 23+- 1.7oC,
sesuai dengan ASTM C-31 membuat dan merawat benda uji tekan dan lentur di lapangan,
dengan uji silinder diameter 150 mm, tinggi 300 mm

Menghitung Kebutuhan Semen

Untuk mengetahui kebutuhan semen dapat dipakai data : kebutuhan jumlah

air (Tabel 2.10) dibagi Faktor air semen (Tabel 2.11)


II-32
Bab II Studi Literatur

Menetapkan volume agregat kasar berdasarkan agregat maksimum dan

modulus halus butir agregat halus nya sehingga didapat persen agregat kasar

.Volume agregat kasar = persen agregat kasar dikalikan dengan berat kering

agregat kasar.

Tetapkan volume agregat kasar berdasarkan agregat maksimum dan Modulus

Halus Butir (MHB) agregat halusnya sehingga didapat persen agregat kasar

(Tabel 2.12). Jika nilai Modulus Halus Butirnya berada diantaranya,maka

dilakukan interpolasi. Volume agregat kasar = persen agregat kasar dikalikan

dengan berat kering agregat kasar.

Estimasikan berat beton segar berdasarkan Tabel 2.13, kemudian hitung

agregat halus, yaitu berat beton segar (berat air + berat semen + berat

agregat kasar).

Hitung proporsi bahan, semen, air, agregat kasar dan agregat halus, kemudian

koreksi berdasarkan nilai daya serap air pada agregat.

(1) Semen

(2) Air

(3) Agregat kasar

(4) Agregat halus

II-33
Bab II Studi Literatur

Koreksi Proporsi campurannya.

Tabel 2.12. Volume Agregat Kasar Per Satuan Volume Beton

Ukuran Volume Agregat kasar kering* persatuan volume untuk berbagai

Agregat modulusa halus butir

Maks (mm) 2.40 2.60 2.80 3.00

0.44

9.5 0.50 0.48 0.46 0.53

12.7 0.59 0.57 0.55 0.60

19.1 0.66 0.64 0.62 0.65

25.4 0.71 0.69 0.67 0.69

38.1 0.75 0.73 0.71 0.72

50.8 0.78 0.76 0.74 0.76

76.2 0.82 0.80 0.78 0.81

152.4 0.87 0.85 0.83

*) Volume ini didasarkan atas agregat kasar kondisi kering oven (dry-rodded) sesuai
dengan ASTM C-29, Satuan Berat Agegat. Volume ini dihasilkan dari hubungan
empiris yang menghasilkan beton dengan tingkat kemudahan pengerjaan yang tinggi,
cocok untuk beton biasa. Untuk beton yang kurang mudah dikerjakan dalam syarat
konstruksi maka nilai ini dapat dinaikan sekitar 40%. Untuk beton yang lebih mudah
dikerjakan kandungan agregat kasarnya dapat dikurangi sekitar 10%, apabila nilai
slump dan FAS telah dipenuhi.

II-34
Bab II Studi Literatur

Tabel 2.13 Estimasi Berat Awal Beton Segar* (kg/m3)

Ukuran Agregat Maks


Beton Air-entrained Beton Non Air-entrained
(mm)

9.5 2,304 2,214

12.7 2,334 2,256

19.1 2,376 2,304

25.4 2,406 2,340

38.1 2,442 2,376

50.8 2,472 2,400

76.2 2,496 2,424

152.4 2,538 2,472

*)Harga-harga yang dicantumkan adalah untuk beton dengan semen sedang (Bj 3.14) dan
agregat sedang (Bj 2.7), Persyaratan air campuran dengan slump 3-4 in atau 76.2 mm
12.5 mm, dari tabel 5.5.2, ASTM C.143.

II-35