Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pangan merupakan bidang yang sangat penting karena pangan merupakan
kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi agar dapat bertahan hidup dengan
baik. Indonesia merupakan negara subtropis sehingga ada berbagai macam jenis
tanaman yang dapat digunakan sebagai sumber pangan.
Pangan dihasilkan dari tanaman pangan. Tanaman pangan merupakan
tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber makanan untuk memenuhi
kebutuhan pokok manusia. Karena jumlah penduduk yang semakin meningkat
maka kebutuhan pangan juga meningkat. Oleh karena itu pemerintah terus
berusaha untuk mengembangkan tingkat produksi tanaman pangan di Indonesia
agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Contoh tanaman pangan di
Indonesia yaitu padi, jagung, kacang-kacangan serta umbi-umbian.
Masyarakat Indonesia pada umumnya mengkonsumsi padi sebagai tanaman
pangan pokok. Namun sebenarnya ada tanaman pangan lain yang berpotensi
untuk dimanfaatkan sebagai sumber tanaman pangan, misalnya saja dari
kelompok kacang-kacangan, umbi-umbian atau serealia selain padi. Oleh karena
pada makalah ini akan dibahas mengenai tanaman pangan kelompok serealia,
kacang-kacangan dan umbi-umbian.

B. Tujuan
1. Mengetahui pengertian tanaman pangan
2. Mengetahui macam-macam tanaman pangan
3. Mengetahui nutrisi yang terkandung di dalam makanan pangan
4. Mengetahui pengolahan serta produk yang dihasilkan dari tanaman
pangan
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Tanaman Pangan


Pangan diartikan sebagai segala sesuatu yang bersumber dari sumber hayati
dan air, baik yang diolah maupun yang tidak diolah untuk sumber panangan.
Tanaman pangan adalah segala jenis tanaman yang di dalamnya terdapat
karbohidrat dan protein sebagai sumber energi bagi makhluk yang
mengonsumsinya terutama manusia (Setiawan, 2010). Tanaman pangan juga
dapat dikatakan sebagai tanaman utama yang dikonsumsi manusia sebagai
makanan untuk memberikan asupan energi bagi tubuh. Secara luas tanaman
tersebut merupakan kebutuhan yang mendasar atau pokok untuk memenuhi
ketercukupan nutrisi tubuh akan karbohidrat, protein, vitamin dan mineral yang
bermanfaat untuk keberlangsungan dan kesehatan hidup manusia.
Menurut Wowor (2014), banyak sekali jenis tanaman pangan yang dapat
dimanfaatkan sebagai bahan makanan penghasil karbohidrat, yang paling sering
dijumpai adalah tanaman padi yang nantinya akan diolah menjadi beras dan
dimasak menjadi nasi. Tanaman pangan lainnya yang pastinya fungsinya sama
dengan nasi yaitu sebagai sumber karbohidrat bagi tubuh. Contoh tanaman
pangan lainnya yang dapat dimanfaatkan sebagai pengganti nasi adalah jagung,
gandum, umbi-umbian (kentang, ubi kayu, ubi jalar, dan lain-lain). Selain itu
kacang-kacangan juga termasuk ke dalam tanaman pangan sebab kacang-
kacangan juga mempunyai kandungan karbohidrat yang tinggi, tanaman yang
termasuk kacang-kacangan adalah kacang hijau, kacang tanah, kacang kedelai dan
lainnya (Setiawan, 2010).

B. Macam-Macam Tanaman Pangan


Ada berbagai macam tanaman yang dapat digunakan sebagai sumber
tanaman pangan. Namun yang paling sering digunakan manusia yaitu kelompok
sereal, kacang-kacangan dan umbi-umbian.
a. Sereal
Tanaman serealia atau tanaman biji-bijian merupakan sekelompok jenis
tanaman pangan yang pemanfaatan tanamannya melalui biji atau bulir yang
digunakan sebagai sumber karbohidrat, biasanya dikonsumsi pada pagi hari
sehingga disebut juga sereal sarapan atau breakfast sereal. Sereal dikonsumsi
dengan menambahkan susu sapi,air atau yogurt tetapi terkadang sereal juga
dikonsumsi dalam keadaan kering. Sereal merupakan salah satu alternatif
sarapan yang mudah, cepat, dan praktis untuk dibuat. Beberapa jenis tanaman
yang termasuk kedalam sereal yaitu sebagai berikut. (Moelyono, 2010)
1. Beras
Beras merupakan sereal yang dihasilkan dari tanaman padi (Oryza
sativa L). Tanaman ini merupakan golongan kerabat dekat dengan
rumput-rumputan yang secara morfologi seperti yang terlihat pada
gambar 1 tanaman padi mempunyai ciri berakar serabut, batang berbuku
dan berongga membentuk rangkaian daun sebagai penopang daun,bunga
tersusun majemuk,bulir padi terdapat pada malai dimiliki oleh anakan
padi dan memiliki warna hijau muda hinggga hijau tua. Padi termasuk
tanaman semusim atau tanaman berumur pendek karena kurang dari satu
tahun dan hanya sekali berproduksi, setelah berproduksi akan mati atau
dimatikan. Seiring berkembangnya teknologi tanaman padi semakin
mengalami perkembangan dengan munculnya 3 macam varietas yaitu
hibrida, unggul, dan lokal (Natalia, 2011). Berikut ini adalahgambar dari
bulir padi :

Gambar 2.1 Bulir Padi


2. Sorgum
Sorgum adalah jenis serealia yang di Indonesia belum banyak
dimanfaatkan kegunaannya.Tanaman sorgum masih demikian kurang
perkembangannya, padahal hasilnya dapat merupakan bahan pangan
pengganti beras atau untuk diekspor. Tanaman ini tergolong kedalam
famili Poaceae yang secara morfologi seperti pada gambar 2 yaitu
mempunyai akar serabut, batang berbuku-buku dan berdiri tegak, bentuk
daun melengkung, bunga tumbuh dari malai terdapat pada ujung batang.
Sistem pembungaan tergolong hermafrodit (satu tanaman terdapat
kelamin jantan dan betina) dan tanaman sorgum terlihat seperti tanaman
jagung. Selama ini sorgum dimanfaatkan dalam bidang industry, bahan
pangan, bahan pakan ternak dan bahan bakar alternatif (bioetanol)
(Andaris, 2013). Untuk lebih jelasnya berikut ini adalah gambar dari
bulir sorgum :

Gambar 2.2 Sorgum


3. Jagung
Jagung (Zea mays L) merupakan salah satu tanaman pangan dunia
yang terpenting, selain gandum dan padi. Jagung merupakan sumber
karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Amerika Selatan, selain itu
jagung juga menjadi alternative sumber pangan. Tanaman ini masih
termasuk golongan famili Poaceae. Seperti pada gambar 3 tanaman
jagung secara morfologi mempunyai cirri berakar serabut, batang beruas-
ruas berdiri tegak,daun sempurna (pelepah, tangkai, helai daun),berumah
satu (monoecious), bunga tersusun majemuk (bunga jantan berbentuk
malai dan bunga betina berbentuk tongkol). Pemanfaatan tanaman
jagung tidak hanya terbatas sebagai olahan pangan dan pakan ternak
akan tetapi dewasa ini pemanfaatan tanaman jagung telah memasuki
pasar industri bahan olahan biji jagung,kimiawi dan farmasi.
Berdasarkan bentuk dan tipe biji tanaman jagung dapat dibedakan
menjadi 7 kategori (jagung mutiara,jagung manis,jagung gigi kuda,
jagung pod, jagung brondong, jagung ketan (pulut) dan jagung tepung
(Sihotang, 2015). Berikut adalah gambar mengenai jagung yang sudah
siap panen:

Gambar 2.3 Jagung Siap Panen


4. Gandum
Gandum (Triticum aestivum L) adalah salah satu serealia dari famili
Gramineae (Poaceae) yang merupakan salah satu bahan makanan pokok
manusia selain beras. Tanaman gandum tergolong famili Poaceae.
Seperti terlihat pada gambar 4 tanaman ini mempunyai cirri morfologi
yaitu berakar serabut,batang beruas dan berongga,daun tumbuh tegak
atau melengkung, berbunga majemuk, memilliki sistem penyerbukan
sendiri (self polination) dan untuk struktur biji tersusun atas 3 bagian
kulit (bran),endosperma (bagian inti) dan bagian lembaga (cangkang).
Dewasa ini pemanfaatan gandum telah merambah di industri makanan
pokok dan pakan ternak. Berdasarkan bentuk biji dan tekstur tanaman
gandum dapat dibedakan menjadi tiga (3) yaitu: Triticum aestivum,
Triticum compactum dan Triticum durum (Wati, L., 2012). Berikut
adalah tanaman dari gandum:

Gambar 2.4 Tanaman Gandum

b. Kacang-kacangan
Semua species yang termasuk dalam family Fabaceae (yang masuk dalam
sub-family Papilionaceae) saat ini biasa disebut leguminous grains, yang
mana prinsip utamanya terletak pada bijinya. Suku polong-polongan atau
Fabaceae merupakan salah satu suku tumbuhan dikotil yang terpenting dan
terbesar pada angiosperm, mulai dari yang berpohon, sampai dengan herba
yang tersebar di bumi. Banyak tumbuhan budidaya penting termasuk dalam
suku ini, dengan bermacam-macam kegunaan yaitu dari bijinya, buah
(polong), bunga, kulit kayu, batang, daun, umbi, hingga akarnya digunakan
manusia. Secara ekonomi, bisa dugunakan untuk bahan makanan, minuman,
bumbu masak, zat pewarna, pupuk hijau, pakan ternak, serta bahan
pengobatan (Maiti & Singh, 2009). Beberapa contoh dari kacang-kacangan
ini antara lain:
1. Kacang Tanah
Kacang tanamah memiliki nama latin Arachis hypogaea.kacang
tanah memiliki daun majemuk bersirip genap, terdiri atas empat anak
daun agak panjang. Bunga kacang tanah tersusun dalam bentuk bulir
yang muncul di ketiak daun, dan termasuk bunga sempurna (Pandey,
2010). Bagian yang sering dimanfaatkan pada tanaman pangan ini yaitu
bijinya. Buah dari kacang tanah berupa polong yang terbentuk setelah
terjadi pembuahan, dimana bakal buah tumbuh memanjang dan disebut
ginofor. Biji kacang tanah tersebut terdapat di dalam polong. Berikut ini
adalah morfologi dari kacang tanah:

Gambar 2.5 Morfologi Kacang Tanah


(sumber: Burlingame, 2009 )
2. Kacang kedelai
Kacang kedelai juga termasuk ke dalam famili Papilionaceae yaitu
dengan ciri0ciri umum memiliki bunga seperti kupu-kupu. Polong kedelai
terbentuk pada ketiak tangkai daun dengan jumlah yang bervariasi. Untuk
lebih jelasnya mengenai morfologi kedelai bisa dilihat pada gambar 2.6.

Gambar 2.6 Morfologi Kacang kedelai


(sumber: Ermayuli. 2016)
3. Kacang Hijau
Kacang hijau memiliki nama latin Vigna radiata. Kacang hijau ini
termasuk ke dalam famili Leguminoceae. Adapun morfologinya menurut
Sumarji (2013) kacang hijau berakar tunggang dan mempunyai akar
lateral yang banyak serta agak berbulu. Tanaman ini mempunyai batang
tegak dengan cabang-cabang menyebar. Karangan bunga terdapat pada
ketiak daun. Bunga berwarna kuning dan merupakan bunga sempurna.
Polong kacang hijau berbentuk bulat panjang dengan bulu-bulu pendek.
Biji kacang hijau kecil dan bulat, berwarna hijau atau hijau kekuningan.
Bagian tanaman ini yang paling banyak dimanfaatkan oleh manusia yaitu
bagian bijinya.

c. Umbi-umbian
Umbi-umbian merupakan tanaman yang menyimpan cadangan
makanannya pada organ akar. Sehingga bagian tanaman tanaman pangan
kelompok ini yang dimanfaatkan sebagai makanan pokok adalah bagian
akarnya tempat menyimpan makanan pokok. Contoh dari tanaman umbi-
umbian adalah sebagai berikut:
1. Ubi Jalar
Aneka umbi seperti ubi jalar memiliki potensi yang baik untuk diolah
dan dikembangkan menjadi anekaragam produk olahan. Ubi jalar
(Ipomoea batatas L.) merupakan salah satu komoditas tanaman pangan
yang dapat tumbuh dan berkembang di seluruh Indonesia." Ubi jalar
merupakan sumber karbohidrat non beras tertinggi keempat setelah padi,
jagung, dan ubi kayu serta mampu meningkatkan ketersediaan pangan
dan diversifikasi pangan di masyarakat (Natalia, 2011)
Secara morfologi, bagian tanaman yang dimanfaatkan dari umbi jalar
ini adalah pada bagian akarnya. Hal ini tampak dari menggembungnya
akar pada tanaman umbi jalar karena digunakan sebagai tempat
menyimpan cadangan makanan seperti yang terlihat pada gambar 2.7:
Gambar 2.7 Morfologi ubi jalar
(Sumber :Burlingame, 2009)

2. Singkong
Tanaman ubi kayu atau yang lebih dikenal masyarakat dengan
sebutan singkong, ketela pohon, dan lainnya merupakan tanaman asli
dari Amerika. Tanaman ubi kayu saat ini dapat dijumpai di negara
negara yang mempunyai iklim tropis, seperti negara Indonesia. Tanaman
ubi kayu atau singkong di Indonesia lebih populer dibanding dengan
tanaman umbiumbian yang lain. Singkong merupakan makanan pokok
ke tiga setelah padi padian dan jagung (Chalil, 2003).
Tanaman ubi kayu (Manihot utilissima) adalah komoditas tanaman
pangan yang cukup potensial di Indonesia selain padi dan jagung.
Banyak dijumpai nama lokal dari ubi kayu antara lain singkong, kaspe,
budin, sampen dan lain-lain. Berikut ini adalah morfologi secara umum
dari tanman singkong:

Gambar 2.8 Morfologi singkong


(sumber : Burns, dkk. 2010)
3. Talas
Talas merupakan salah satu jenis umbi-umbian yang juga sering
dimanfaatkan manusia khususnya masyarakat Indonesia sebagai tanaman
pangan. Meskipun demikian pengolahan talas tidak sebanyak konsumsi
dari singkong dan ubi jalar. Salah satu genus dari talas yang sering
dimanfaaatkan manusia yaitu Colocasia. gambar berikut ini
menunjukkan morfologi dari tanaman umbi talas:

Gambar 2.9 Morfologi Talas


(sumber: Ermayuli, 2016)
4. Kentang
Kentang merupakan jenis umbi-ubian yang juga sering digunakan
sebagai tanaman pangan baik makan pokok pengganti nasi maupun
diolah menjadi sayuran. Bagian tanaman iniyang biasanya dimanfaatkan
oleh masyarakat yaitu bagian akar tempat menyimpan cadangan
makanan. Gambar 2.10 berikut ini menunjukkan morfologi dari tanaman
kentang:

Gambar 2.10 Morfologi kentang


(sumber: Yuwono. 2015)
Dari gambar kentang 2. diatas dapat terlihat bahwa selama ini kita
memanfaatkan umbi akar dari tanaman kentang. Umbi ini merupakan
tempat menyimpan cadangan makanan. Oleh karena itu terdapat berbagai
nutrisi yang terkandung di dalamnya.

C. Kandungan Nutrisi di Dalam Tanaman Pangan


Sebagai tanaman pangan tentunya jenis-jenis tanaman yang dapat dijadikan
sebagai sumber tanaman juga pasti memiliki kandungan nutrisi yang diperlukan
oleh manusia dan makhluk hewan pada umumnya. Kandungan nutrisi pada sereal
tersebut antara lain yaitu:
1. Beras
Beras menjadi pangan hampir seluruh penduduk Indonesia, tanpa
terkecuali. Pangan beras menjadi pangan pokok favorit semua lapisan, kaya
dan miskin. Berdasarkan sisi gizi dan nutrisi, beras memang relatif unggul
dibandingkan dengan pangan lain. Seluruh bagian beras bisa dimakan.
Seseorang yang makan beras dalam jumlah cukup pasti tidak akan
kekurangan protein. Beras merupakan makanan sumber energi yang memiliki
kandungan karbohidrat tinggi namun proteinnya rendah. Kandungan gizi
beras per 100 gram bahan adalah 360 kkal energi, 6,6gr protein, 0,58gr
lemak, dan 79,34gr karbohidrat.(Izzati, 2015).
2. Sorgum
Biji sorgum mengandung karbohidrat 73%, lemak 3,5%, dan protein
10%, bergantung pada varietas dan lahan pertanaman. Kelemahan sorgum
sebagai bahan pangan adalah kandungan tanin dalam biji. Senyawa polifenol
tersebut memberi warna kusam pada produk olahan dengan rasa agak sepat.
Selain itu, tanin dikenal sebagai antinutrisi karena menghambat proses daya
cerna protein dan karbohidrat dalam tubuh. Bertitik tolak dari hal tersebut,
mempromosikan kelebihan sorgum sebagai bahan pangan menjadi penting,
terutama fungsi pangan fungsional yang terkandung dalam bijinya. Unsur
pangan fungsional dalam biji sorgum antara lain beragamnya antioksidan,
mineral terutama Fe, serat, oligosakarida, -glukan termasuk karbohidrat
non-starch polysakarida (NSP). Pangan fungsional bermanfaat untuk
mencegah penyakit yang terkait dengan sistem kekebalan tubuh, saraf,
pencernaan, sistem sirkulasi, dan sebagainya (Suarni, I & Firmansyah, I.,
2007).
3. Jagung
Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga merupakan sumber
protein yang penting dalam menu masyarakat Indonesia. Kandungan gizi
utama jagung adalah pati (72-73%), dengan nisbah amilosa dan amilopektin
25-30% : 70-75%. Kadar gula sederhana jagung (glukosa, fruktosa, dan
sukrosa) berkisar antara 1-3%. Protein jagung (8-11%) terdiri atas lima fraksi,
yaitu: albumin, globulin, prolamin, glutelin, dan nitrogen nonprotein. (Suarni
dan Widowati, S., 2015).
4. Gandum
Gandum adalah salah satu serelia yang termasuk dalam makanan poko
manusia selain nasi yang berasal dari padi. Gamdum lebih dikenal dari pada
serelia yang lain karena dandum mempunyai keistimewaan yaitu kandungan
gluten dan protein yang cukup tinggi pada biji gandum. Selain itu gandum
mempunyai kandungan seperti lemak 60%-80%, protein 6%-17%, lemak
1,5%-2.0 %, mineral 1,5%-2.0 %, dan sejumlah vitamin (Sihotang, 2015).
Selanjutnya yaitu kandungan nutrisi yang terdapat pada beberapa jenis
tanaman pangan pada kelompok kacang-kacangan.
1. Kacang tanah
Kacang tanah ini merupakan makanan yang bernutrisi tinggi, setengah
kilogram daei bijinya saja mengandung 3.000 kalori yang kuantitasnya sama
dengan daging muda 1.000 kalori. Dan juga bijinya mengandung bahan
pokok minyak dan menteg, serta protein yang terkandung digunakan untuk
manufaktur sintesis serat dalam tubuh (Maiti & Singh, 2009).
2. Kacang Kedelai
Mengandung nutrien yang tinggi yair=tu mengandung 40-50 % protein
yang dibutuhkan tubuh kita. Bijinya mengandung protein sampai 50% protein
yang dibutuhkan tubuh, serta 20% lemakyang sulit dicerna. Merupakan
komponen penting untuk pembuatan margarin, serta sisanya bisa digunakan
makanan ternak karena juga masih mengandung protein.
3. Kacang Hijau
Kacang hijau memiliki kandungan protein yang cukup tinggi sebesar
22% dan merupakan sumber mineral penting, antara lain kalsium dan fosfor.
Sedangkan kandungan lemaknya merupakan asam lemak tak jenuh.
Kandungan kalsium dan fosfor pada kacang hijau bermanfaat untuk
memperkuat tulang. Kacang hijau juga mengandung rendah lemak yang
sangat baik bagi mereka yang ingin menghindari konsumsi lemak tinggi.
Kadar lemak yang rendah dalam kacang hijau menyebabkan bahan makanan
atau minuman yang terbuat dari kacang hijau tidak mudah berbau. Lemak
kacang hijau tersusun atas 73% asam lemak tak jenuh dan 27% asam lemak
jenuh. Umumnya kacang-kacangan memang mengandung lemak tak jenuh
tinggi. Asupan lemak tak jenuh tinggi penting untuk menjaga kesehatan
jantung. Kacang hijau mengandung vitamin B1 yang berguna untuk
pertumbuhan (Retnaningsih, dkk. 2008).

Sedangkan pada kelompok umbi-umbian kandungan nutrisi yang terkandung


di dalamnya yaitu sebagai berikut:
1. Ubi Jalar
Sebagai sumber pangan, ubi jalar mengandung energi, -karoten, vitamin
C, niacin, riboflavin, thiamin, dan mineral (Pandey, 2010).
Komoditas ini mengandung air 59-69%, abu 0,68-1.69%, protein 3,71-
6,74%, lemak 0,26-1,42% dan karbohidrat 91,42-93,45%". Komposisi
tersebut menunjukkan bahwa ubi jalar merupakan sumber karbohidrat atau
energi yang sangat potensial dikembangkan. Menurut Suarni (2004), ubi jalar
memiliki rasa manis yang khas. Rasa manis akan muncul jika ubi jalar
disimpan selama beberapa hari sebelum diolah. Rasa manis muncul karena
terjadi perubahan karbohidrat menjadi glukosa selama penyimpanan.
Perubahan tersebut ada yang terjadi sebesar 10% dari total karbohidrat dan
ada pula yang mencapai 25%. Selain sebagai sumber karbohidrat, ubi jalar
juga merupakan sumber vitamin dan mineral. Ubi jalar mengandung vitamin
A dalam bentuk pro-vitamin A sampai mencapai 7000 IU/100g. Mineral Ca
pada ubi jalar cukup tinggi yakni sekitar 30 mg/100g bahan.
Selain mengandung zat-zat gizi yang sangat diperlukan oleh tubuh, ubi
jalar juga mengadung zat anti gizi yakni tripsin inhibitor, dengan jumlah 0,26
43,6 IU/100g ubi jalar segar. Tripsin inhibitor tersebut akan menutup gugus
aktif enzim tripsin sehingga aktivitas enzim tersebut terhambat dan tidak
dapat melakukan fungsinya sebagai pemecah protein. Namun demikian,
aktivitas tripsin inhibitor tersebut dapat dihilangkan dengan pengolahan
sederhana yakni dengan cara pengukusan, perebusan dan pemasakan.Namun
terdapat juga senyawa lain yang tidak menguntungkan pada ubi jalar adalah
senyawa-senyawa penyebab flatulensi. Flatulens disebabkan oleh
beberapajenis gula oligosakarida seperti stakiosa, rafinosa dan verbaskosa.
Komponen gas yang dominan yang keluar adalah gas karbondioksida dan gas
hidrogen sulfida. Dalam jumlah kecil juga dihasilkan gas metana, nitrogen
dan oksigen. Oligosakarida penyebab flatulens ini tidak dapat dicerna oleh
bakteri karena tidak adanya enzim galaktosidase, tetapi dapat difermentasi
oleh bakteri pada usus besar (kolon). Oligosakarida menjadi sumber subrat
yang baik bagi pertumbuhan bakteri baik (bakteri asam laktat) dalam kolon.
Ubi jalar, khususnya ubi jalar ungu mempunyai kandungan antosianin tinggi.
Simek (1980) melaporkan ubi jalar ungu mengandung antosianin yang cukup
tinggi, yaitu 110-210 mg/100g. Senyawa antosianin berfungsi sebagai
antioksidan dan penangkap radikal bebas, sehingga berperan dalam
mencegah terjadinya penuaan, kanker, dan penyakit degenerative seperti
arteriosklerosis. Selain itu, antosianin juga memiliki kemampuan sebagai
antimutagenik dan antikarsinogenik terhadap mutagen dan karsinogen yang
terdapat pada bahan pangan dan produk olahannya, mencegah gangguan
fungsi hati, antihipertensi, dan menurunkan kadar gula darah
(antihiperglisemik) (Saleh., 2014).
2. Singkong
Ubi kayu mengandung banyak manfaat untuk kebutuhan tubuh. Selain
mengandung karbohidrat, ubi kayu juga mengandung protein, vitamin, zat
besi, kalsium, dan fosfor. Kandungan zat besi yang tinggi terdapat pada kulit
umbi dibandingkan dalam umbi. Selain memanfaatkan umbinya, masyarakat
juga sering memanfaatkan daunnya sebagai sayur. Zat besi juga terdapat di
dalam daun ubi kayu. Daun ubi kayu juga mengandung vitamin A dan asam
sianida (HCN). Asam sianida dikelompokkan sebagai senyawa racun dan
merupakan faktor pembatas dalam pemanfaatan tanaman ubi kayu (Caniago
dkk. 2014).
3. Talas
Seperti halnya umbi-umbian yang lain, nutrisi terbanyak di dalam talas
adalah karbohidrat. Komponen karbohidrat di dalam talas berupa pati yang
kandungannya mencapai 77.9 persen. Kandungan amilopektin yang tinggi di
dalam talas menjadikan rasa dan tekstur talas menjadi lengket dan pulen
seperti beras ketan. Pati di dalam talas memiliki sifat yang mudah dicerna,
cocok dijadikan makanan lansia atau menu diet pasca sakit.
Kandungan nutrisi lain yang cukup berati di dalam talas adalah protein.
Dibandingkan dengan singkong dan ubi jalar, kandungan protein talas
setingkat talas lebih tinggi. Setiap 100 g talas mengandung 1.9 g protein,
sedangkan singkong mengandung 1.2 g dan ubi jalar 1.8 g. Kandungan
protein di dalam talas mengandung beragam asam amnino esensial namun
rendahhistidin, lisin, isoleusin, triptofan dan metionin, karenanya variasikan
umbi talas dengan bahan lain seperti kacang-kacangan untuk meningkatkan
sumber peoteinnya.
Selain protein, talas juga kaya akan vitamin dan mineral esensial. Seperti
vitamin C, kalsium, fosfor dan zat besi. Meskipun bukan zat gizi, kandungan
serat di dalam talas juga cukup tinggi. Kehadiran serat sangat baik untuk
menjaga kesehatan saluran pencernaan.
Hampir semuajenis umbi-umbian umumnya mengandung oligosakarida
terutama rafinosa.Oligosakarida ini tidak dapat dicerna oleh usus halus dan
akan masuk ke usus besar. Di dalam usus besar, rafinosa akan difermentasi
oleh mikroflora dan menghasilkan gas metan, karbon dioksida dan hidrogen.
Akumulasi terbentuknya gas selama proses fermentasi akan menyebabkan
timbulnya flatulensi dan buang angin. Namun jangan berkecil hati, dengan
proses pemasakan seperti digoreng, direbus dan dikukus, senyawa rafinosa di
dalam talas akan direduksi dan mengurangi efek flatulensi.
Sebagian orang juga enggan mengonsumsi talas karena menimbulkan
gatal-gatal. Hal ini disebabkan karena di dalam talas mengandung kalsium
oksalat. Senyawa ini berbentuk kristal menyerupai jarum dan bersifat tidak
larut dalam air sehingga seringkali tersisa selama proses pemasakan yang
tidak sempurna. Untuk mereduksi kalsium oksalat dapat dilakukan dengan
pemasakan hingga matang benar serta merendam di dalam larutan asam
klorida. (Nestle, 2016).
4. Kentang
Umbi kentang mengandung sedikit lemak dan kolesterol, namun
mengandung karbohidrat, sodium, serat diet, protein, vitamin C, kalsium, zat
besi dan vitamin B6 yang cukup tinggi (Kolasa 1993). Menurut Burlingame
et al. (2009), selain sebagai sumber energi, kentang juga mengandung serat
makanan (sampai 3,3%), asam askorbat (sampai 42 mg/100 g), kalium
(sampai 693,8 mg/100 g), karotenoid total (sampai dengan 2700 mcg/100 g),
dan fenol antioksidan seperti asam klorogenat (hingga 1570 mcg/100 g) dan
polimer, dan anti-nutrisi seperti -solanin (0,001- 47,2 mg/100 g), dan jumlah
protein yang lebih rendah (0,85-4,2%), asam amino, mineral dan vitamin lain,
dan komponen bioaktif. Komposisi tersebut mempengaruhi kualitas produk
(Simek ,1980).

D. Pengolahan dan Produk dari Tanaman Pangan


Sebagai tanaman pangan tentunya tanaman yang termasuk dalam kelompok
tersebut mempunyai nilai ekonomi tersendiri. Tanaman tersebut dapat
dimanfaatkan secara langsung maupun diolah menjadi berbagai macam produk
untuk meningkatkan nilai ekonominya. Berikut ini adalah berbagai macam
pengolahan tanaman pangan dari kelompok sereal:
1. Beras
Beras merupakan hasil pangan dari tanaman padi dengan proses
pengolahan diawali dengan penggabahan, penggilingan, dan penyosahan.
Selama ini padi di Indonesia dijadikan sebagai manakan pokok yaitu nasi.
Selain itu beras juga dapat digunakan sebagai tepung yang kemudian oleh
masyarakat digunakan sebagai kue, mie, cendol, dan bubur (Koswara, S.
2013). Harga beras berkisar antara Rp. 10.000 Rp. 15.000,00 sesuai dengan
daerah serta varietas padi.
2. Sorgum
Selain dimanfaatkan secara langsung sorgum bisa diolah menjadi produk
setengah jadi yaitu tepung sorgum. Tepung sorgum dapat diolah menjadi
produk makanan. Produk makanan yang berbahan dasar tepung sorgum yaitu
kue, mi, cookies (Suarni. 2004). Harga dari sorgum berkisar antara Rp.
3.500,00 - Rp. 4 500,00
3. Jagung
Jagung selain di konsumsi secara langsung oleh manusiaseperti nasi
jagung juga dapat di olah menjadi kue, dodol, kerupuk, jus, sirup, lauk, dan
gula jagung. Selain itun jagung biasanya juga dimanfaat sebagai pakan ternak
(Saleh, Y., 2014). 3000-4000
4. Gandum
Selain diolah menjadi roti gandum juga dapat diolah menjadi tepung
sebagai bahan dasar pembuatan pudding gandung, roti kering, dan mie (Wati,
L., 2012). Harga gandum berkisat kurang lebih Rp.7.600.00.

Selanjutnya yaitu pengolahan serta produk tanaman pangan dari kelompok


kacang-kacangan:
1. Kacang Tanah
Bagian yang bisa dimanfaatkan dari kacang tanah salah satunya untuk
kebutuhan pangan manusia adalah bagian biji (polongnya) yang mana apabila
dijual mentah perkilonya adalah Rp 26.000/kg ( Kemendag, 2016). Bahkan
apabila kita dapat mengolahnya kita bisa memperoleh hasil yang lebih
banyak lagi dalam sekali produksi saja. Kacang tanah ini juga bisa diolah
menjadi produk-prduk makan makanan dengan harga jual tinggi misalnya
selai kacang, sambal pecel, kacang asin dan lain sebagainya.
2. Kacang Kedelai
Bagian yang dapat dimanfaatkan manusia yaitu biji atau polongnya yang
mana bila dijual mentah perkilonya seharga Rp 11.220. Bahkan apabila kita
dapat mengolahnya, misalnya dijadikan susu kedelai maka nilai ekonominya
akan meningkat.
3. Bagian paling bernilai ekonomi adalah bijinya. Biji kacang hijau direbus
hingga lunak dan dimakan sebagai bubur atau dimakan langsung. Biji matang
yang digerus dan dijadikan sebagai isi onde-onde, bakpau atau gandas tri.
Kacang hijau bila direbus cukup lama akan pecah da pati yang terkandung
dalam bijinya akan keluar dan mengental, menjadi semacam bubur. Tepung
pati biji kacang hijau disebut di pasaran sebagai tepung hunkue, digunakan
dalam pembuatan kue-kue dan cenderug membentuk gel. Tepung ini juga
dapat diolah menjadi mi yang dikenal sebagai soun. Adapun biji kacang hijau
per kilonya adalah Rp 21.685 per 3 Agustus (Kemendag, 2016)

Sedangkan pada kelompok umbi-umbian adalah sebagai beriku:


1. Umbi Jalar
Harga rata-rata tertinggi ubi jalar dunia adalah US$ 2,107/ton di Jepang
dan US$ 1.140/ton di Israel, sementara terendah adalah US$ 106/ton di Mali
dan US$ 130/ton di Kamerun. Malaysia, Cina dan Jepang sebagai pintu
masuk ekspor utama ubi jalar Indonesia memiliki tren harga yang terus
mengalami peningkatan. Hal ini merupakan hal sangat menguntungkan bagi
pengembangan ubi jalah di Indonesia (Sihotang, 2015). Untuk lebih
meningkatan nilai ekonominya maka ubi jalar ini dapat diolah menjadi getuk,
donat telo, bakpao telo, mie, dan lain sebagainya.
2. Singkong
Umbi singkong selain dapat dikonsumsi dengan merebusnya atau
mengukusnya langsung juga dapat diolah menjadi makan yang mempunyai
nilai jual lebih tinggi misanya diolah menjadi tepung singkong yang nantinya
sebagai bahan dasar pembuatan roti dan makanan olahan lainnya. Saat ini,
harga singkong ditingkat petani di kisaran Rp 1.600 per kilogram (kg), naik
33% dibandingkan rata-rata tahun lalu Rp 1.200 per kg. Di pasar
internasional, harga rata-rata singkong juga menunjukkan peningkatan.
Suharyo bilang, rata-rata harga singkong internasional mencapai US$ 280 per
ton tahun ini, naik 55% dibandingkan tahun lalu US$ 180 per ton"
(Kementrian Perindustrian Republik Indonesia, 2016).
Selain dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sendiri singkong
diekspor ke berbagai negara produsen bioetanol seperti di China, Jepang, dan
Korea. Untuk pasar China, singkong harus diolah menjadi gaplek, sedangkan
Jepang, singkong harus diolah menjadi pelet atau chip (Kementrian
Perindustrian Republik Indonesia, 2016). Tepung kulit singkong dapat
dimanfaatkan menjadi berbagai macam makanan olahan, misalnya mie basah
(Mahanany, 2013).
3. Talas
Talas adalah salah satu umbi-umbian yang memiliki harga jual begitu
rendah apabila dijual tanpa diolah terlebih dahulu. Potensi talas yang cukup
besar di kawasan Poncokusumo, namun harga jualnya rendah cuman tiga ribu
rupiah per kilonya (times indonesia, 2016). Tetapi setelah dilakukan
pengolahan seperti dibuat keripik talas, harga jual dari talas ini meningkat.
produk dari pengolahan talas yakni kripik talas, muffin talas, bolu talas, lapis
talas, tepung talas, dan brownis talas.
4. Kentang
Kentang selain dapat digunakan sebagai bahan makanan pokok juga
dapat diolah menjadi berbagai macam makanan olah. Produk yang dihasilkan
dari kentang antara lain kentang goreng, kentang spiral, perkedel kentang,
stik kentang, donat kentang.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Tanaman pangan adalah tanaman utama yang dikonsumsi manusia sebagai
makanan untuk memberikan asupan energi bagi tubuh
2. Tanaman pangan berasal dariberbagai jenis tanaman yang pada umumnya
tergolong dalam serealia, kacang-kacangan dan umbi-umbian
3. Tanaman pangan memiliki berbagiai nutrisi yang dapat dibutuhkan oleh
tubuh makhluk hidup
4. Tanaman pangan selain digunakan sebagai makanan pokok juga dapat diolah
menjadi berbagai macam produk yang dapat meningkatkan nilai jualnya.

DAFTAR RUJUKAN
AAK. 1989. Kacang Tanah. Yogyakarta: Kanisius
Andaris. 2013. Morfologi Tanaman Sorgum. (Online),
http://digilib.unila.ac.id/1081/3/BAB%20II.pdf. Diakses tanggal 24 Agustus
2016.
Ariati, S.R., T., dkk. 2001. Koleksi Polong-polongan Kebun Raya Purwodadi.
Kebun Raya Purwodadi Pasuruan: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
Burlingame, B, Mouille, B, Charrondiere, R .2009. Nutrients, Bioactive Non-
Nutrients And Anti-Nutrients In Potatoes. J. Food Composition and Analysis,
22 (6): 494-502.
Burns, dkk. 2010. Cassava: The Drought, War and Famine Crop in a Changing
World. Sustainability, 2(11), 3572-3607
Caniago, M. Dkk. 2014. Deskripsi Karakter Morfologi Ubi Kayu (Manihot esculenta
Crantz) Juray Dari Kabupaten Rokan Hulu. Jom FMIPA, 1 (2): 613-619.
Chalil, D. 2003. Agribisnis Ubi Kayu di Propinsi Sumatera Utara. Jurusan Sosial
Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Medan.
Ermayuli. 2016. Talas. (Online) (http://digilib.unila.ac.id/553/3/Ermayuli_Bab%
20II.pdf), diakses 24 Agustus 2016.
Izzati, F. 2015. Tinjauan Pustaka Beras. (Online),
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/49565/4/Chapter%20II.pdf.
Diakses tanggal 24 Agustus 2016.
Kemendag RI. 2016. Tabel Harga Kebutuhan Pokok Nasional Bulan Agustus 2016.
Jakarta: Kemendag RI
Kementrian Perindustrian Republik Indonesia. 2016. Ekspor Naik, Produksi
Singkong Bertambah. (Online), http://www.kemenperin.go.id/artikel/5911/
Ekspor-Naik,-Produksi-Singkong-Bertambah, diakses 24 Agustus 2016.
Kolasa, KM .1993. The potato and human nutrition. Am. Potato J., 70 (5): 375-83.
Koswara, S. 2013. Teknologi Pengolahan Beras (Teori dan Praktek). (Online),
http://tekpan.unimus.ac.id/wp-content/uploads/2013/07/Teknologi-Pengolahan-
Beras-Teori-dan-Praktek.pdf. Diakses tanggal 24 Agustus 2016.
Mahanany, D. 2013. Pemanfaatan Tepung Kulit Singkong Sebagai Bahan Substitusi
Pembuatan Mie Basah Ditinjau Dari Elastisitas Dan Daya Terima. Skripsi tidak
diterbitkan. Fakultas Ilmu kesehatan. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Maiti & Singh.2009. An Introduction to Modern Ekonomi Botany. Jodhpur: Vinay
Printing Press.
Moelyono.2010. Sereal. (Online), http://repository.wima.ac.id/809/2/BAB%201.pdf,
Diakses tanggal 24 Agustus 2016.
Natalia. 2011. Sejarah, Morfologi dan Sistematika Tanaman Padi. (Online), e-
journal.uajy.ac.id/2671/3/2BL01031.pdf. Diakses tanggal 24 Agustus 2016.
Nestle. 2016. Umbi Talas Sumber Karbohidrat Murah Pengganti Nasi. (Online).
https://www.sahabatnestle.co.id/content/view/umbi-talas-sumber-karbohidrat-
murah-pengganti-nasi.html, diakses 24 Agustus 2016.
Pandey, B.P. 2010. Economic Botany. New delhi: S. Chand & Company LTD.
Pitojo, S. 2005. Benih Kacang Tanah. Yogyakarta: Kanisius.
Retnaningsih, dkk. 2008. Pengaruh Jenis Kacang Tolo, Proses Pembuatan Dan Jenis
Inokulum Terhadap Perubahan Zat-Zat Gizi Pada Fermentasi Tempe Kacang
Tolo. Jurnal Penelitian Saintek. Vol. 14 (1): 97-128
Rukmana, R . 1997. Ubi Kayu, Budidaya dan Pascapanen. Jakarta: Penerbit
Kanisius.
Saleh, Y. 2014 Klasifikasi dan Morfologi Jagung. (Online), eprints.ung .ac.id /
4100/6/2013-1-54411-611307140-bab2-31072013114539.pdf, diakses pada 24
Agustus 2016.
Sihotang, S. 2015 Deskripsi tanaman gandum. (Online),
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/50779/4/Chapter%20II.pdf. Diakses
tanggal 24 Agustus 2016.
Setiawan, Yoga. 2010. Peningkatan Produksi Beras dan Diversifikasi Pangan Lokal
untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan Nasional. (Online), http://
pangan.litbang.pertanian.go.id/files/08-roosganda.pdf/, diakses 24 Agustus
2016.
Simek, J.1980. Effect Of Potato Composition On The Quality Of French Fried
Potatoes And Chips And Crisps. Vedeche Prace Vyzkumneko Ustavu
Bramborarskeko Havlickove Brode, 5: 75-82.
Suarni & Widowati, S. 2015. Struktur, Komposisi, dan Nutrisi Jagung. (Online),
http://balitsereal.litbang.pertanian.go.id/images/stories/tiganol.pdf. Diakses
tanggal 24 Agustus 2016.
Suarni, I & Firmansyah, I. 2007. Struktur, Komposisi Nutrisi dan Teknologi
Pengolahan Sorgum. (Online), http://balitsereal.litbang.pertanian.go
.id/images/stories/anis.pdf. Diakses tanggal 24 Agustus 2016.
Suarni. 2004. Pemanfaatan Tepung Sorgum untuk Produk Olahan. Jurnal Litbang
Pertanian. 23(4).
Sumarji. 2013. Laporan Kegiatan Penyuluhan Teknik Budidaya Tanaman Kacang
Hijau(Vigna radiata L.) Wizchek. Nganjuk: Tidak diterbitkan.
Suprapto, H.S. 2004. Bertanam Kacang Tanah. Jakarta: Swadaya
Times Indonesia. 2016. Lewat Talas, Pemuda ini Angkat Potensi Desanya. (Online).
(http://www.timesindonesia.co.id/baca/109679/20151127/115502/lewat-talas-
pemuda-ini-angkat-potensi-desanya/), diakses 24 Agustus 2016.
Trustinah. 1993. Biologi Kacang Tanah. Malang
Wati, L. 2012 Botani Tanaman Gandum (Triticum aestivum L.). (Online),
repository.uksw.edu/bitstream/123456789/2352/3/T1_512008017_BAB
%20II.pdf. Diakses tanggal 24 Agustus 2016.
Wowor, M.A.E. 2014. Kajian Potensi Komoditas Tanaman Pangan di Kabupaten
Minahasa. Manado: Universitas Sam Ratulangi.
Yuwono, S.S. 2015. Kentang (Solanum tuberosum L.) . (Online).(http://darsatop
.lecture.ub .ac.id /2015/07/kentang-solanum-tuberosum-l/), diakses 24 Agustus
2016.