Anda di halaman 1dari 21

MANAJEMEN RISIKO PERBANKAN DAN PERANAN RISK-BASED

SUPERVISION DALAM PENILAIAN EFEKTIVITAS PENERAPAN

MANAJEMEN RISIKO PERBANKAN

Disusun oleh :

A. PUTERI NOVITASARI

2009 10 573

STIEM BONGAYA MAKASSAR

2013
Kata Pengantar

Puji syukur kita ucapkan kepada Allah SWT, karena dengan

karunianya saya dapat menyelesaikan makalah ini. Tujuan penulisan

makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan kepada pembaca dan

mahasiswa.

Dalam makalah ini terdapat penjelasan contoh perusahaan

manajemen resiko operasional ,mudah-mudahan dengan dibahasnya

tentang hal ini, mahasiswa dapat mengerti dan memahami. Saya

menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu

kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya

harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing

mata kuliah Manajemen Resiko, yang mana telah membimbing kami

sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Ucapan terimakasih juga

kepada orang tua yang selalu mendukung dan menyayangi saya sehingga

saya semangat untuk mengerjakan makalah ini.

Makassar, 14 Mei 2013

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

MANAJEMEN RISIKO PERBANKAN

1. Latar Belakang

Risk Management sebenarnya diperlukan bukan hanya di dunia

perbankan namun dapat juga diterapkan di berbagai aktivitas. Faktor

risiko yang dipertimbangkan akan berbeda dari aktivitas yang satu dengan

yang lain. Dalam dunia perbankan, hal tersebut sangat menarik untuk

disimak mengingat faktor risiko yang terjadi dapat bersumber dari

berbagai faktor serta definisi risikonya terbatas menyangkut kepada

kerugian yang mungkin timbul di masa mendatang. Dalam hal ini, risk

management diperbankan diharapkan dapat mengendalikan risiko-risiko

yang mungkin timbul untuk mengurangi kerugian apabila terjadi.

Terdapat pertanyaan: apakah pada saat ini perbankan diIndonesia

belum secara utuh menerapkan risk management? Perbankan di

Indonesia tentunya sudah melakukan analisis-analisis dan teknik

yangberkaitan dengan upaya untuk mengurangi kerugian yang timbul

dimasamendatang melalui proses pengelolaan risiko kredit seperti analisis

kredit. Kegiatan demikian sudah merupakan salah satu dalam

prosespengendalian risiko, sehingga kalau dikatakan bahwa perbankan di

Indonesia sama sekali belum menerapkan pengendalian risiko juga tidak

sepenuhnya valid. Namun demikian pendekatan dalam pengendalian


risiko masih menggunakan teknik dan pendekatan konvensional, sehingga

efektivitasnya masih dipertanyakan, belum efektif dan perlu diuji kembali

konsistensi penerapannya.

Dengan diterapkannya perhitungan kebutuhan modal minimum

yang dihitung berdasarkan risiko secara internasional melalui

rekomendasi yang dikeluarkan Basle Committee on Banking Supervision

(i.e. Basle Accord 1988), maka perkembangan risk management semakin

pesat untuk mengembangkan perhitungan risiko yang lebih akurat

( modelling ). Kondisi demikian didasarkan kepada diperbolehkannya

Bank-bank dalam menghitung kebutuhan modal minimum dengan

menggunakan internal model khususnya risiko pasar (Amandemen Basle

Accord, BIS , 1996), dengan persyaratan-persyaratan tertentu.

Mengingat risk management secara utuh di Indonesia masih dalam

proses persiapan untuk penerapannya, tentu masih banyak para

praktisiperbankan masih perlu pemahaman secara lebih mendalam

berkaitan dengan risk management . Makalah ini dimaksudkan untuk

memberikan gambaran secara umum tentang risk management serta

peran para senior management dalam penerapannya.

PERANAN RISK-BASED SUPERVISION DALAM PENILAIAN

EFEKTIVITAS PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO PERBANKAN

Perkembangan industri keuangan, khususnya industri

perbankan,dalam dekade terakhir dapat dikatakan cukup dramatis. Agar


tetap dapat beroperasi secara kompetitif, perbankan dituntut untuk mampu

beradaptasi dengan lingkungan bisnis perbankan yang senantiasa

berkembang. Tidak hanya bankers, para pengawas bank juga diharapkan

dapat merespon perubahan-perubahan yang terjadi. Namun dalam

prakteknya tidak dapat dipungkiri bahwa respon pengawas bank terhadap

perubahan dunia usaha tidak secepat para bankers.

Banyak faktor yang dapat mendorong terciptanya sistem

perbankan yang sehat dan stabil, namun yang dirasakan cukup berperan

penting adalah penerapan sistem pengawasan bank yang efektif.

Menjawab permasalahan ini, Basel Committee on Banking Supervision

telah mengeluarkan Prinsip-prinsip Dasar Pengawasan Bank yang Efektif

(Core Principles) sebagai acuan bagi otoritas pengawas bank dalam

menciptakan pengawasan bank yang efektif.

Dalam prakteknya, efektivitas system pengawasan bank

bergantung pada beberapa faktor, antara lain :

(i) kebijakan ekonomi makro yang sehat dan stabil,

(ii) tersedianya infrastruktur publik yang baik, antara lain sistem hukum,

prinsip akuntansi keuangan, akuntan publik yang kompeten dan

independen, ketentuan pasar modal dan sistem pembayaran yang

mendukung

(iii) disiplin pasar (market discipline) yang efektif,

(iv) prosedur penyelesaian bank-bank bermsalah yang efektif, dan


(iv) mekanisme untuk menyediakan jarring pengaman (public safety net)

yang memadai.

Disamping itu, faktor-faktor yang tidak kalah pentingnya adalah

kesesuaian antara pendekatan/pola pengawasan yang diterapkan dengan

kondisi bank yang diawasi, sertasumber daya manusia sebagai

pendukung utama pengawasan bank.

Dalam kaitannya dengan kedua faktor terakhir tersebut, saat ini Bank

Indonesia sedang dalam proses pengembangan dan penerapan

kebijakaan, prosedur, serta praktek pengawasan perbankan, yang

diharapkan mampu secara efektif menilai kesehatan dan kestabilan bank.

Strategi yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah melalui

implementasi risk based supervisory system. Dalam praktek pengawasan

perbankan internasional, risk based supervision dipandang sebagai

konsep pengawasan yang komprehensif dan dinamis karena tidak hanya

melihat kondisi bank saat ini, namun juga kemungkinan kinerja dimasa

mendatang, termasuk menilai kemampuan bank dalam menghadapi risiko

potensial, baik risiko bank secara individu maupun risiko sistem

perbankan (systemic risks).

2. Rumusan Masalah

a. Mengapa Risk Management Diperlukan?

b. Resiko apa saja yang ada dalam bidang perbankan?

c. Apa dan mengapa Risk-Based Supervision?


BAB II

Permasalahan

MENGAPA RISK MANAGEMENT DIPERLUKAN?

Dalam setiap usaha tentunya bertujuan untuk

mendapatkankeuntungan (return) dengan mengeluarkan biaya seminimal

mungkin. Namun terdapat beberapa faktor yang sulit untuk dikendalikan

untuk memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan biaya. Dalam

penerapannya terdapat beberapa kendala :

a. Kontrak antara nasabah dan Bank itu mengikat dalam jangkawaktu

yang relatif lama, sehingga dapat terjadi bahwa return secara jangka

pendek baik namun secara jangka waktu yang relatif panjangperlu

diprediksi dari awal seberapa jauh kemungkinan return tersebutsulit

diperoleh kembali di masa mendatang.

b. Terdapat moral hazard dari counterparties untuk tidak

memenuhikewajibannya di masa mendatang.

c. Bank tidak mempunyai kemampuan untuk selalu memantausecara

ketat kondisi counterparties

d. Terdapat constraint dari internal management Bank untukmelakukan

pengendalian secara comprehensive terhadap seluruhkomponen yang

dapat merugikan Bank.


e. Terdapat moral hazarddari business unit untuk selalumengutamakan

return dan mengesampingkan risk.

Kondisi tersebut di atas terasa sekali terutama terdapat pada Bank-

bank yang belum secara formal menerapkan risk management, akibatnya

sering sekali terjadi bahwa Bank menyadari adanya kerugian setelah

keuntungan Bank menurun atau tersedianya modal Bank berkurang.

Risk management diharapkan dapat mendeteksi maksimum kerugian

yang mungkin timbul di masa mendatang serta kebutuhan tambahan

modalapabila dampak proyeksi kerugian dimaksud dapat mengakibatkan

jumlah modal di bawah ketentuan minimum yang dipersyaratkan otoritas

pengawasan.

Bagi pengelolaan Bank yang dilakukan secara konvensional

umumnyabelum secara formal melakukan proyeksi maksimum kerugian

yangmungkin timbul di masa mendatang, sehingga kerugian-kerugian

yangtimbul benar-benar disadari setelah terjadi serta belum secara

efektif dikendalikan sebelum kerugian benar-benar terjadi.

2. RISIKO DI BIDANG PERBANKAN

Usaha jasa perbankan mengandung beberapa unsur risiko

mengingat kontrak antara Bank dengan nasabah mengikat dalam kurun

waktu kedepan. Dengan demikian masing-masing pihak mempunyai moral

hazard untuk tidak memenuhi kewajibannya di masa mendatang atau

kondisi external (pasar) berubah ke arah yang merugikan Bank antara lain
fluktuasinilai tukar dan suku bunga. Kemungkinan tidak terpenuhinya

kewajiban nasabah kepada Bank maupun fluktuasi faktor external perlu

dikendalikan untuk meminimalkan kerugian yang mungkin terjadi di Bank.

Proses dalam mengendalikan berbagai risiko dimaksud perlu diformalkan

dalam management Bank.

Risiko dapat berupa risiko kredit apabila nasabah tidak memenuhi

kewajibannya kepada Bank. Namun demikian masih banyak risiko-risiko

lainnya seperti risiko nilai tukar, suku bunga dan operasional yang

seringsekali dapat menyebabkan Bank mengalami kerugian yang cukup

besar. Masih terdapat beberapa risiko yang juga dapat menimbulkan

kerugianbagi Bank seperti reputational risk, strategic risk, legal

risk, political risk, country risk, namun quantifikasi dan management dari

risiko dimaksu dmasih sulit dilakukan. Mengingat tidak setiap risiko selalu

menjadi ancaman bagi Bank, maka setiap Bank akan melakukan

identifikasi terhadap risiko-risiko yang mungkin timbul serta melakukan

manajemen risiko sesuai dengan tingkat kompleksitas usahanya.

Dalam menerapkan manajemen risiko, proses yang dilakukan meliputi :

a. menyusun business plan tahunan untuk masing-masing business unit

dengan mengacu kepada arahan dari top management berkaitan dengan

sasaran tahunan yang ingin dicapai maupun risiko yang perlu

dipertimbangkan;

b. menyusun proyeksi risiko yang dengan mengacu kepada business plan

serta posisi modal yang diperlukan untuk mendukung dalam pelaksanaan


business plan dimaksud. Apabila modal yang tersedia belum mencukupi

maka dilakukan pembicaraan di senior management level untuk

melakukan penyetoran modal atau melakukan revisi business plan

c. Menetapkan pendelegasian wewenang kepada setiap business unit

yang terlibat untuk menerapkannya serta rambu-rambu yang perlu

dipatuhi berupa limit-milit risiko agar Bank dapat mengendalikan risiko

secara keseluruhan sejalan dengan strategi Bank.

d. business unit melaksanakan fungsinya dengan mematuhi limit-limit

yang telah ditentukan.

e. risk management unit melakukan monitoring atas risiko yang diekspos

oleh masing-masing business unit maupun melakukan konsolidasi

terhadap seluruh risiko serta memonitor posisi modal yang tersedia.

Apabila terjadi pelaksanaan yang menyimpang maka perlu dibicarakan

pada risk management committee untuk mendapatkan keputusan maupun

rekomendasi kepada manajemen puncak.

Dalam penerapan risk management diperlukan prasarana antara

lain risk assessment metodology, sistim informasi, internal control dan

sumber daya manusia yang memadai untuk menjamin efektivitas risk

management process itu sendiri. Dengan penerapan risk

management diharapkan setiap langkah dari business unit akan dapat di

monitor oleh top management untuk koordinasi serta mengurangi moral

hazard dari masing-masing business unit untuk melakukan kegiatan

yang menghasilkan keuntungan relatif tinggi(spekulasi) tanpa


mengindahkan unsur risiko yang mungkin terjadi. Disamping itu, top

management juga dapat melihat eksposur risiko secara konsolidasi bila

dikaitkan dengan tersedianya modal Bank.

3. PERLUNYA PENERAPAN RISK MANAGEMENT DI PERBANKAN

INTERNATIONAL

Berkembangnya penerapan risk management pada perbankan

tidak terlepas dari kesepakatan dalam Basel Committee for Banking

Supervision di Basle (BIS) yang telah beberapa kali mengeluarkan

pedoman perhitungan kebutuhan modal minimum yang didasarkan

kepada risikoyang dihadapi. Tahun 1988, Basel Committee mengeluarkan

pedoman perhitungan kebutuhan modal untuk mengcover risiko kredit.

Pedoman initelah diterima dan diterapkan hampir di seluruh dunia

termasuk Indonesia meskipun dalam pedoman tersebut masih terdapat

beberapa kelemahan-kelemahan.

Perbankan internasional telah mengembangkan pendekatan

perhitungan risiko untuk mendapatkan hasil proyeksi yang lebih

mendekatikebenaran, mengingat pendekatan Basle Committee lebih

bersifat penyederhanaan atas risiko-risiko yang ada untuk memudahkan

penerapannya.
Disamping itu Basle Committee juga memperkenankan Bank untuk

menggunakan modelnya sendiri dalam menghitung risiko dalam rangka

perhitungan kebutuhan modal minimum baik untuk market risk (BIS,1996)

maupun credit risk dan operational risk (BIS, 2001).

Model yang digunakan diharuskan mendapatkan persetujuan lebih

dahulu dari Bank Sentral atau lembaga pengawasan jasa keuangan

sebelum secara resmi dipergunakan untuk menghitung CAR. Secara

umum model yang digunakan dapat menghasilkan perhitungan volatilitas

yanglebih akurat serta kebutuhan modal yang lebih rendah bila

dibandingkan dengan menggunakan metode standard yang diusulkan

oleh Basle Committee. Beberapa persyaratan harus dipenuhi sebelum

Bank dapat menggunakan internal model dalam perhitungan CAR.

Persyaratan tersebut meliputi minimum requirement secara kualitatif

maupun kuantitatif.Persyaratan kualitatif meliputi risk management

process yang harus ditempuh oleh Bank diantaranya keterlibatan senior

management, sedangkan persyaratan kuantitatif meliputi data, model dan

testing metodologi yang harus dilakukan oleh Bank.

4. PERAN SENIOR MANAGEMENT

Keterlibatan senior management dalam risk management process

merupakan keharusan dalam risk management di perbankan untuk

meyakinkan bahwa strategi dalam risk management, pendekatan


perhitungan risiko, delegasi pelaksanaan, dan proses yang diterapkan

sudah disetujui oleh management Bank. Sasaran dalam risk

management ini agar risiko dikendalikan dengan baik sehingga modal

yang ada dapat menopang risiko yang mungkin timbul di masa

mendatang.

Keterlibatan senior management dalam penerapan risk

management diwujudkan untuk mengetahui kondisi Bank melalui

penyampaian laporan-laporan kepada Direksi Bank dan keikutsertaannya

dalam risk management committee dimana dalam komite ini bertanggung

jawab untuk menyusun Kebijakan dan Pedoman Penerapan Manajemen

Risiko serta perubahannya apabila diperlukan Strategi kebijakan akan

dibuat setiap tahun menjadi input atau acuan bagi business unit membuat

business plan.

Dalam menyusun strategi kebijakan dalam risk management akan

memperhatikan beberapa halseperti tersedianya modal, expertise yang

ada, sistim informasi, dan kapasitas business unit. Ukuran keberhasilan

atas strategi ini diantaranya kelancaran dan konsistensi dalam

implementasi serta pencapaian target dari masing-masing business

unit mengkoordinasikan dan memantau seluruh penerapan Strategi

Manajemen Risiko Progress penerapan menejemen risiko secara

konsolidasi akan dilaporkan secara rutin kepada risk management

committee sebagai bahan evaluasi atas penerapan strategi yang telah

disusun. Tindak lanjut atas evaluasi in dapat berupa revisi kebijakan


dengan maksud untuk menjaga keseimbangan antara risiko yang dihadapi

oleh Bank, tersedianya modal serta pencapaian target laba rugi Bank,

menyetujui penerapan manajemen risiko yang melampaui wewenang

pimpinan satuan kerja operasional Sebagaimana diketahui bahwa setiap

satuan kerja operational(business unit) diberikan limit-limit berkaitan

dengan risk untuk menghindari excessive risk.

Dalam pelaksanaannya limit-limit dimaksud dapat saja tidak

valid karena kalau diikuti maka akan terjadi kerugian yang relatif besar.

Dalam kondisi demikian pelampauan limitdapat saja dilakukan dengan

catatan harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari risk

management committee untuk dipertimbangkan sejauh mana effek dari

pelampauan limit dimaksud terhadap kondisi Bank secara konsolidasi.

Menyusun contingency plan dalam kondisi tidak normal Dalam

kondisi tidak normal, maka aturan main dalam risk management mungkin

tidak diterapkan dengan baik mengingat apabila tetap diterapkan maka

akan terjadi kebuntuan dalam operasi Bank.Dalam kondi demikian risk

management committee berwenang untuk menyusun berbagai scenario

dalam kondisi tidak normal. Diantaranya pelampuan-pelampuan limit

dapat saja dilakukan dalam kondisi tidak normal, memantau kecukupan

permodalan Bank terhadap risk exposure sesuai ketentuan BI yang

berlaku Tanggungjawab atas kecukupan permodalan Bank dapat berada

pada risk management committee dimana didalammya termasuk Presiden

Direktur dan mayoritas anggota Direksi. Mengingat monitoring atas posisi


risiko Bank selalu dilaporkan kepada risk management committee maka

indikasi kekurangan modal sudah dapat dideteksisecara dini serta dapat

segera diambil kebijakan untuk mengatasinya, mengevaluasi efektifitas

sistem manajemen risiko yang diterapkan.

Risk management system yang diterapkan tentunya diperlukan

penyesuaian apabila terdapat perubahan-perubahan dalam

komponennya. Peningkatan kompleksitas operasional tentu akan

mempengaruhi pendekatan yangditerapkan. Bank yang mendapatkan

otorisasi memberikan jasa pelayanan valuta asing (Devisa) tentunya risk

management system akan berubahmengingat risiko nilai tukar akan

menjadi tambahan risiko Bank.

Volatilitas faktor risiko yang tinggi akan mengakibatkan volatilitas

yang sudah ditetapkan perlu direvisi. Dalam pelaksanaannya, risk

management unit (risk manager) akan memberikan seluruh informasi yang

diperlukan berkaitan dengan risk management committee sebelum

diputuskan dalam rapat komite.


BAB III

PENUTUP

1. KESIMPULAN

Kecenderungan Bank-bank internasional dalam penerapan

manajemen risiko dipengaruhi oleh adanya insentif kebutuhan modal yang

lebih rendah bila dibandingkan dengan hasil kebutuhan modal dengan

metode standard . Konsekuensi penerapan internal model dalam

perhitungan CAR, Bank-bank harus memenuhi beberapa persyaratan

minimum yang diberlakukan oleh Bank Sentral atau lembaga

pengawasan jasa keuangan.

Salah satu syarat bahwa keterlibatan senior management dalam

risk management process harus dituangkan secara jelas dalam

prosedur penerapan manajemen risiko. Dengan demikian tanggungjawab

pelaksanaan manajemen risiko berada pada level senior

management dari Bank dimaksud. Oleh sebab itu, pemahaman risk

management system oleh senior level management merupakan

keharusan apabila Bank ingin menerapkan manajemen risiko secara

efektif.

Pengembangan pengawasan perbankan dan langkah-langkah

yang ditempuh oleh Bank Indonesia dalam upaya menerapkan risk


based supervision tidak semata ditujukan untuk kepentingan otoritas

pengawasan perbankan. Lebih dari itu, langkah-langkah yang dilakukan

oleh Bank Indonesia memiliki orientasi yang sama dengan perbankan,

yaitu mewujudkan lembaga keuangan yang dapat beroperasi secara sehat

danefisien sehingga dapat meningkatkan shareholders value, yang pada

gilirannya dapat memberikan manfaat dan keuntungan bagi nasabah.

Keberhasilan perbankan untuk dapat beroperasi secara sehat dan

efisien sangat bergantung pada kemampuan menerapkan

risk management system secara konsisten, yaitu mencakup identifikasi,

pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko, baik external maupun

internal risks

Persyaratan untuk pengawasan Bank yang Efektif :

Tanggung jawab dan tujuan yang jelas bagi setiap lembaga yangterkait

dengan tugas-tugas pengawasan bank, antara lain meliputi :

independensi operasional dan kecukupan sumber daya

kerangka kerja yuridis (legal framework), termasuk pendirian bank,

pengawasan, dan perlindungan bagi pengawas

tukar menukar informasi antar-pengawas dan perlindungan kerahasiaan

informasi

Pendirian dan Struktur

Kegiatan yang diperbolehkan bagi lembaga yang diberi ijin operasidan

diawasi sebagai bank harus didefinisikan secara jelas, dan penggunaan


kata bank dalam nama harus dikendalikan. Kewenangan menetapkan

kriteria dan menolak usulan pendirian bank yang tidak memenuhi standar.

Proses perijinan minimal mencakup penilaian struktur kepemilikan,

organisasi dan manajemen, rencana kerja dan pengendalian intern, serta

rekomendasi otoritas negara asal untuk bank asing. Kewenangan

pengawas untuk mengkaji dan menolak berbagai proposal mengenai

perubahan kepemilikan bank (controlling interest). Kewenangan

pengawas dalam menetapkan kriteria untuk mengkaji akuisisi dan

investasi yang dilakukan bank, serta memastikan bahwa afiliasi/struktur

perusahaan tidak membawa bank pada risiko yang tinggi dan/

mengaburkan efektivitas pengawasan.

Pengaturan dan Persyaratan Kehati-hatian:

Pengawas harus menetapkan kebutuhan modal minimum (KPMM), dan

khusus untuk bank-bank yang beroperasi dalam ruang lingkup

internasional, persyaratan sekurang-kurangnya sebagaimana ditetapkan

Basle Capital Accord. Dalam sistem pengawasan telah mencakup

penilaian independen terhadap kebijakan, praktek-praktek dan prosedur

perkreditan/investasi bank. Pengawas harus dapat memastikan bahwa

kegiatan bank telahsesuai dengan kebijakan, praktek-praktek dan

prosedur dalam melakukan penilaian kualitas aset dan kecukupan

cadangan.

Pengawas harus dapat memastikan bahwa kegiatan bank telah

memiliki sistem informasi manajemen untuk mengidentifikasi konsentrasi


risiko dalam portofolio bank (risiko kepada peminjam individu maupun

grup terkait). Pengawas bank telah menetapkan batasan-batasan

mengenai BMPK bagi bank (pihak terkait), termasuk upaya pemantauan

dan upaya-upaya mengatasi timbulnya risiko.

Pengawas harus dapat memastikan bahwa bank telah memiliki kebijakan

dan prosedur yang memadai untuk mengidentifikasi, memantau dan

mengendalikan country risk dan transfer risk dalambisnis perbankan

internasional, termasuk kecukupan cadangan untuk mengantisipasi risiko.

Pengawas harus dapat memastikan bahwa bank telah memiliki sistem

yang dapat menghitung secara akurat dan mengendalikanmarket risk, dan

jika perlu, menetapkan limit/capital charge tertentu atas market risk

exposure. Pengawas harus dapat memastikan bahwa bank telah memiliki

proses manajemen risiko untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau

dan mengendalikan berbagai risiko potensial. Pengawas hartus

memastikan bahwa bank telah memiliki pengendalian intern yang

memadai sebanding dengan jenis dan ukuran bisnis. Pengawas harus

memastikan bahwa bank telah memiliki kebijakan, praktek-praktek dan

prosedur untuk meningkatkan standar etika dan profesionalisme

perbankan dan mencegah terjadinya praktek-praktek criminal.

Metode Pengawasan Bank

Sistem pengawasan bank yang efektif sekurang-kurangnya meliputi atau

kombinasi dari bentuk pengawasan langsung/pemeriksaan (on-site

examination) dan pengawasan tidak langsung (off-sitesupervision).


Pengawas harus melakukan kontak secara teratur dengan manajemen

bank dan memiliki pemahaman yang seksama terhadap kegiatan bank

yang diawasi. Pengawas harus melakukan kegiatan pengumpulan data,

pengkajian dan analisis terhadap laporan-laporan bank, baik secara

individu maupun konsolidasi. Pengawas harus melakukan kegiatan

pembuktian terhadap kebenaran informasi pengawasan, baik melalui

pemeriksaan maupun menggunakan jasa auditor ekstern.

Salah satu unsur mendasar dari pengawasan bank adalah

kemampuan pengawas untuk mengawasi organisasi bank secara

konsolidasi Kebutuhan Informasi. Pengawas harus dapat memastikan

bahwa bank telah memiliki catatan akuntansi yang memadai berdasarkan

prinsip-prinsip yangberlaku dan diterapkan secara konsisten, sehingga

dapat menyajikan laporan keuangan bank secara wajar dan benar.

Kewenangan Formal Pengawas

Pengawas harus memiliki kewenangan untuk melakukan langkah-

langkah tindak lanjut pengawasan apabila dijumpai adanya bank yang

tidak mampu memenuhi ketentuan kehati-hatian, pelanggaran ketentuan,

atau karena adanya hal-hal lain yang dapat mengancam kepentingan

nasabah Cross-Border Banking. Pengawas harus menerapkan

pemantauan dan pengawasan bank secara konsolidasi dan global,

terutama terhadap unit-unit usaha bank (cabang, agen dan anak

perusahaan) yang beroperasi di luar negeri. Pengawas melakukan kontak


dan tukar menukar informasi mengenai bank yang diawasi dengan otoritas

pengawas negara lain. Pengawas harus mensyaratkan bahwa terhadap

kegiatan operasional kantor cabang bank asing diperlakukan sama

dengan bank lokal, dan memiliki kewenangan tukar menukar informasi

yang diperlukan dengan pengawas negara asalnya