Anda di halaman 1dari 46

LAPORAN PENELITIAN DARI TANGGAL 27 DESEMBER 30

DESEMBER 2016

IDENTIFIKASI RISIKO MUSCULOSKLETAL DISORDERS


BERDASARKAN PENILAIAN QEC DAN NBM PADA PEKERJA
WAREHOUSE PT.SEMEN PADANG

Oleh :

Dokter Muda Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

1010314007 Shangeeta Krihnan


1210311001 Putri Ramadhani
1210312019 Rizki Audita
1210312074 Violla Regina
1210313006 Ridhatul Amalia C.A
1210313029 Indah Mutiara Sari
1210313046 Nadia Oktarina
1210313065 Fitri Amelia Rizki
1210313089 Astika JR Said

Pembimbing :

BIRO SAFETY, HEALTH, AND ENVIRONMENT PT SEMEN PADANG


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

2017

1
BAB 1

PENDAHULUAN

1 Latar Belakang
Kesehatan pekerja merupakan hal penting dalam ruang lingkup kerja,

sebagaimana tertuang dalam UU RI No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan,

pada pasal 86 menyatakan bahwa setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk

memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja.1


Menurut Depkes pada tahun 2008, untuk meningkatkan efisiensi dan

produktivitas kerja maka pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di

tempat kerja merupakan salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja

yang aman, sehat, dan bebas dari pencemaran lingkungan sehingga dapat

mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang

pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja yang berujung

pada keuntungan yang sebesar-besarnya bagi perusahaan.2


Ergonomi merupakan salah satu potensi bahaya yang banyak dijumpai di

tempat kerja khususnya industri semen. Hal ini sisebabkan karena banyaknya

kegiatan yang dilakukan berulang-ulang, mengangkat, mendorong, memindahkan

dan lain sebagainya yang masih menggunakan tenaga manusia dan dilakukan

dalam waktu yang cukup lama. Walaupun sudah banyak industri yang

menggunakan mesin dalam proses kerjanya namun dalam pelaksanaannya masih

memerlukan tenaga kerja manusia untuk penanganan secara manual. Namun

manusia masih memiliki keterbatasan-keterbatasan fisik. Keterbatasan fisik

tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam menyusun rencana kerja jika

pekerjaan tertentu membutuhkan tenaga melebihi kapasitas fisik manusia, hal

inilah yang menimbulkan faktor risiko terjadinya gangguan muskuloskeletal.3

2
Musculoskeletal Disorders (MSDs) adalah gangguan yang terjadi pada

otot, saraf, tendon, ligamen, sendi, kartilago, maupun diskus intervertebralis. 4

Gangguan yang terjadi diakibatkan oleh adanya kerusakan berupa ketegangan

otot, inflamasi, degenarasi, maupun fraktur pada tulang yang disertai dengan rasa

nyeri sehingga mengurangi kemampuan gerak. MSDs terjadi apabila terdapat

kelelahan dan keletihan terus menerus yang disebabkan oleh frekuensi atau

periode waktu yang lama dari usaha otot dalam menerima beban statis.5
Menurut WHO tahun 2003, MSDs merupakan penyakit akibat kerja yang

paling banyak terjadi dan diperkirakan sekitar 60% dari semua penyakit akibat

kerja.6 Bagian otot yang dikeluhkan adalah otot rangka (skeletal) yang meliputi

otot bahu, leher, lengan tangan, jari punggung, pinggang, dan otot-otot bagian

bawah. Dari berbagai keluhan tersebut, otot bagian pinggang merupakan bagian

yang sering dikeluhkan. Keadaan tersebut dikenal dengan istilah Low Back Pain

(LBP).7
Lebih dari 40 studi epidemiologi telah dilakukan untuk melihat hubungan

antara pekerjaan yang bersifat repetitif dan melibatkan pergerakan tangan dan

lengan yang kontinu dengan gangguan meuskuloskeletal yang ada.8


Melalui pertimbangan di atas, perlu dilakukan penilaian risiko ergonomi

terhadap MSDs. Penilaian dilakukan untuk melihat sejauh mana kegiatan kerja

yang dilakukan oleh pekerja industri memiliki risiko kesehatan terutama terhadap

MSDs.

2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, rumusan masalah penulisan ini

adalah bagaimana risiko MSDs pada pekerja warehouse PT Semen Padang.


3 Tujuan Penelitian
1 Tujuan Umum
Mengetahui gambaran faktor risiko ergonomi dan keluhan MSDs pada

pekerja warehouse PT Semen Padang.

3
2 Tujuan Khusus
1 Mengetahui nilai risiko ergonomi berdasarkan metode QEC (Qiuck

Exposure Check) pada pekerja warehouse PT Semen Padang


2 Mengetahui nilai risiko ergonomi berdasarkan metode Nordic Body

Mappada pekerja warehouse PT Semen Padang


3 Mengetahui keluhan subjektif MSDs pada pekerja warehouse PT

Semen Padang
4 Metode Penulisan
Metode penulisan makalah ini berupa tinjauan pustaka yang merujuk dari

berbagai literatur serta laporan observasi dan wawancara pekerja warehouse PT

Semen Padang.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Ergonomi

Ergonomi adalah ilmu, seni dan penerapan teknologi untuk menyerasikan

atau menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam

beraktivitas maupun istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia baik

fisik maupun mental sehingga kualitas hidup secara keseluruhan menjadi lebih

baik.9

2.2 Tujuan Ergonomi

Secara umum tujuan dari penerapan ergonomi adalah :9

4
1. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan

cedera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental

mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.

2. Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak

sosial, mengelola dan mengkoordinir kerja secara tepat guna dan

meningkatkan jaminan sosial baik selama kurun waktu usia produktif

maupun setelah tidak produktif.

3. Menciptakan keseimbangan rasional antara berbagai aspek yaitu aspek

teknis, ekonomis, antropologis dan budaya dari setiap sistem kerja yang

dilakukan sehingga tercipta kualitas kerja dan kualitas hidup yang tinggi.

2.3 Manfaat Ergonomi

Tujuan/manfaat dari ilmu ergonomik adalah membuat pekerjaan menjadi

aman bagi pekerja/manusia dan meningkatkan efisiensi kerja untuk mencapai

kesejahteraan manusia. Keberhasilan aplikasi ilmu ergonomik dilihat dari adanya

perbaikan produktivitas, efisiensi, keselamatan dan dapat diterimanya sistem

disain yang dihasilkan (mudah, nyaman, dan sebagainya).10

1. Peningkatan hasil produksi, yang berarti menguntungkan secara ekonomi.

Hal ini antara lain disebabkan oleh:

a) Efisiensi waktu kerja yang meningkat

b) Meningkatnya kualitas kerja

c) Kecepatan pergantian pegawai (labour turnover) yang relatif rendah

2. Menurunnya probabilitas terjadinya kecelakaan, yang berarti:

5
a) Dapat mengurangi biaya pengobatan yang tinggi. Hal ini cukup berarti

karena biaya untuk pengobatan lebih besar daripada biaya untuk

pencegahan.

b) Dapat mengurangi penyediaan kapasitas untuk keadaan gawat darurat

3. Dengan menggunakan antropometri dapat direncanakan/ didesain:

a) Pakaian kerja

b) Workspace

c) Lingkungan kerja

d) Peralatan/ mesin

e) Consumer product

2.4 Jenis Ergonomik

Interternational Ergonomics Association mengklasifikasikan ergonomi

menjadi:11

1. Ergonomik Fisik

Ergonomik fisik berkaitan dengan anatomi manusia, anthropometri,

karakteristik fisiologis dan biomekanis yang berkaitan dengan aktivitas

fisik. Topik-topik yang relevan termasuk postur kerja, penanganan

material, gerakan berulang-ulang, pekerjaan yang berhubungan dengan

gangguan muskuloskeletal, tata letak tempat kerja, keselamatan dan

kesehatan.

2. Ergonomik Kognitif

Ergonomik kognitif berkaitan dengan proses mental, seperti persepsi,

memori, penalaran, dan respon motorik, yang mempengaruhi interaksi

antara manusia dan elemen lain dari sistem. Topik-topik yang relevan

6
meliputi beban kerja mental, pengambilan keputusan, kinerja terampil,

interaksi manusia-komputer, keandalan manusia, stres kerja dan pelatihan.

3. Ergonomik Organisasi

Ergonomik organisasi berkaitan dengan optimalisasi sistem sociotechnical,

termasuk struktur organisasi, kebijakan, dan proses. Topik-topik yang

relevan meliputi komunikasi, manajemen sumber daya, desain pekerjaan,

desain waktu kerja, kerja tim, desain partisipatif, ergonomik masyarakat,

kerja koperasi, paradigma kerja baru, budaya organisasi, organisasi virtual,

dan manajemen kualitas

2.5 Konsep Keseimbangan Dalam Ergonomi

Ergonomi merupakan suatu ilmu, seni dan teknologi yang berupaya untuk

menyerasikan alat, cara dan lingkungan kerja terhadap kemampuan, kebolehan

dan segala keterbatasan manusia, sehingga manusia dapat berkarya secara optimal

tanpa pengaruh buruk dari pekerjaannya. Dari sudut pandang ergonomi, antara

tuntutan tugas dengan kapasitas kerja harus selalu dalam garis keseimbangan

sehingga dicapai performansi kerja yang tinggi. Dalam kata lain, tuntutan tugas

pekerjaan tidak boleh terlalu rendah (underload) dan juga tidak boleh terlalu

berlebihan (overload). Karena keduanya, baik underload maupun overload akan

menyebabkan stress. Konsep keseimbangan antara kapasitas kerja dengan tuntutan

tugas tersebut dapat diilustrasikan seperti pada gambar 1.9

7
Gambar 2.1 Konsep dasar dalam ergonomi

1. Kemampuan Kerja

Kemampuan seseorang sangat ditentukan oleh:

a. Personal Capacity (Karakteristik Pribadi); meliputi faktor usia, jenis

kelamin, antropometri, pendidikan, pengalaman, status sosial, agama dan

kepercayaan, status kesehatan, kesegaran tubuh, dsb.

b. Physiological capacity ( Kemampuan fisiologis); meliputi kemampuan

dan daya tahan cardio-vaskuler, syaraf otot, panca indera, dsb.

Psycological Capacity ( Kemampuan psikologis); berhubungan dengan

kemampuan mental, waktu reaksi, kemampuan adaptasi, stabilitas emosi,

dsb.

c. Biomechanical Capacity (kemampuan Bio-mekanik) berkaitan dengan

kemampuan dan daya tahan sendi dan persendian, tendon dan jalinan

tulang.

2. Tuntutan Pekerjaan

8
Tuntutan pekerjaan/aktivitas tergantung pada:

a. Task and material Characteristics (karakteristik tugas dan material);

ditentukan oleh karakteristik peralatan dan mesin, tipe, kecepatan dan

irama kerja, dsb

b. Organization Characteristics; berhubungan dengan jam kerja dan jam

istirahat, kerja malam dan bergilir, cuti dan libur, manajemen, dsb.

3. Environmental Characteristics

Berkaitan dengan manusia teman setugas, suhu dan kelembaban, bising dan

getaran, penerangan, sosio-budaya, tabu, norma, adat dan kebiasaan, bahan-bahan

pencemar, dsb.

4. Performansi

Permormansi atau tampilan seseorang sangat tergantung kepada rasio dari

besarnya tuntutan tugas dengan besarnya kemampuan yang bersangkutan. Dengan

demikian, apabila:

a. Bila rasio tuntutan tugas lebih besar daripada kemampuan seseorang atau

kapasitas kerjanya, maka akan terjadi penampilan akhir berupa:

ketidaknyamanan, Overstress, kelelahan, kecelakaan, cedera, rasa sakit,

penyakit, dan tidak produktif.

b. Sebaliknya, bila tuntutan tugas lebih rendah daripada kemampuan

seseorang atau kapasitas kerjanya, maka akan terjadi penampilan akhir

berupa: understress, kebosanan, kejemuan, kelesuan, sakit dan tidak

produktif

9
c. Agar penampilan menjadi optimal maka perlu adanya keseimbangan

dinamis antara tuntutan tugas dengan kemampuan yang dimiliki sehingga

tercapai kondisi dan lingkungan yang sehat, aman, nyaman dan produktif.

2.6 Kapasitas Kerja

Untuk mencapai tujuan ergonomi seperti yang telah dikemukan, maka

perlu keserasian antara pekerja dan pekerjaannya, sehingga manusia pekerja dapat

bekerja sesuai dengan kemampuan, kebolehan dan keterbatasannya. Secara umum

kemampuan, kebolehan dan keterbatasan manusia ditentukan oleh berbagai faktor

yaitu: umur, jenis kelamin, ras, antropometri, status kesehatan, gizi, kesegaran

jasmani, pendidikan, keterampilan, budaya, tingkah laku, kebiasaan, dan

kemampuan beradaptasi.12

1. Umur

Umur seseorang berbanding langsung dengan kapasitas fisik sampai batas

tertentu dan mencapai puncaknya pada umur 25 tahun. Pada umur 50 - 60

th kekuatan otot menurun sebesar 25%, kemampuan sensoris-motoris

menurun sebanyak 60%. Selanjutnya kemampuan kerja fisik seseorang

yang berumur > 60 th tinggal mencapai 50% dari umur orang yang

berumur 25 tahun. Bertambahnya umur akan diikuti penurunan; VO2 max,

tajam penglihatan, pendengaran, kecepatan membedakan sesuatu,

membuat keputusan dan kemampuan mengingat jangka pendek. Dengan

demikian pengaruh umur harus selalu dijadikan pertimbangan dalam

memberikan pekerjaan pada seseorang.13,14

2. Jenis Kelamin

10
Secara umum wanita hanya mempunyai kekuatan fisik 2/3 dari

kemampuan fisik atau kekuatan otot laki-laki, tetapi dalam hal tertentu

wanita lebih teliti dari laki-laki. Kerja fisik wanita mempunyai VO2 max

15 - 30% lebih rendah dari laki-laki. Kondisi tersebut menyebabkan

persentase lemak tubuh wanita lebih tinyuggi dan kadar Hb darah lebih

rendah daripada laki-laki14. Wanita mempunyai maksimum tenaga aerobik

sebesar 2,4 L/menit, sedangkan pada laki-laki sedikit lebih tinggi yaitu 3,0

L/menit15. Di samping itu, seorang wanita lebih tahan terhadap suhu dingin

daripada suhu panas. Hal tersebut disebabkan karena tubuh seorang wanita

mempunyai jaringan dengan daya konduksi yang lebih tinggi terhadap

panas bila dibandingkan dengan laki-laki. Akibatnya pekerja wanita akan

memberikan lebih banyak reaksi perifer bila bekerja pada cuaca panas.

Dari uraian tersebut jelas bahwa, untuk mendapatkan daya kerja yang

tinggi, maka harus diusahakan pembagian tugas antara pria/wanita sesuai

dengan kemampuan, kebolehan dan keterbatasan masing-masing16.

3. Antropometri

Data antropometri sangat penting dalam menentukan alat dan cara

mengoperasikannya. Kesesuaian hubungan antara antropometri pekerja

dengan alat yang digunakan sangat berpengaruh pada sikap kerja, tingkat

kelelahan, kemampuan kerja dan produktivitas kerja. Antropometri juga

menentukan dalam seleksi penerimaan tenaga kerja, misalnya orang

gemuk tidak cocok untuk pekerjaan di tempat suhu tinggi, pekerjaan yang

memerlukan kelincahan, dsb9. Data antropometri dapat digunakan untuk

11
mendesain pakaian, tempat kerja, lingkungan kerja, mesin, alat dan sarana

kerja serta produk-produk untuk konsumen17.

4. Status kesehatan dan nutrisi

Status kesehatan dan nutrisi atau keadaan gizi berhubungan erat satu sama

lainnya dan berpengaruh pada produktivitas dan effisiensi kerja. Dalam

melakukan pekerjaan tubuh memerlukan energi, apabila kekurangan baik

secara kuantitatif maupun kualitatif kapasitas kerja akan terganggu. Perlu

keseimbangan antara in- take energi dan output yang harus dikeluarkan.

Nutrisi yang adekuat saja tidak cukup, tetapi diperlukan adanya tubuh

yang sehat agar nutrisi dapat dicerna dan didistribusikan oleh organ tubuh9.

Sumber lain mengatakan bahwa, selain jumlah kalori yang tepat,

penyebaran persedian kalori selama bekerja adalah sangat penting. Sebagai

contoh adalah pemberian snack atau makanan ringan dan teh manis setiap

1,5-2 jam setelah kerja terbukti dapat meningkatkan produktivitas kerja

dibandingkan dengan hanya diberikan sekali makan siang pada saat jam

istirahat18.

5. Kesegaran Jasmani

Kesegaran jasmani adalah suatu kesanggupan atau kemampuan dari tubuh

manusia untuk melakukan penyesuaian atau adaptasi terhadap beban fisik

yang dihadapi tanpa menimbulkan kelelahan yang berarti dan masih

memiliki kapasitas cadangan untuk melakukan aktivitas berikutnya20.

6. Kemampuan Kerja Fisik

Kemampuan kerja fisik adalah suatu kemampuan fungsional seseorang

untuk mampu melakukan pekerjaan tertentu yang memerlukan aktivitas

12
otot pada periode waktu tertentu. Lamanya waktu aktivitas dapat

bervariasi antara beberapa detik (untuk pekerjaan yang memerlukan

kekuatan) sampai beberapa jam (untuk pekerjaan yang memerlukan

ketahanan)9. Komponen kemampuan kerja fisik dan kesegaran jasmani

seseorang ditentukan oleh kekuatan otot, ketahanan otot dan ketahanan

kardiovaskuler13.

a. Kekuatan otot

Kekuatan otot adalah tenaga maksimum yang digunakan oleh suatu

group otot di bawah kondisi yang ditetapkan. Kekuatan otot

biasanya ditentukan setelah beberapa putaran kerja10. Terdapat 2

macam kekuatan otot yaitu kekuatan otot statis dan dinamis.

Kekuatan otot statis tidak termasuk beberapa gerakan selama

pengerahan tenaga fisik. Kekuatan otot statis juga dikenal sebagai

kontraksi volunter maksimum atau kekuatan isometik yaitu tenaga

maksimum yang digunakan untuk suatu group otot setelah

percobaan tunggal (single trial). Sedangkan kekuatan otot dinamis

memerlukan pengerahan selama proses gerakan. Kekuatan otot

dinamis adalah beban maksimum yang dapat ditangani oleh

seseorang tepat waktu atau beberapa kali tanpa istirahat di antara

repetisi13. Kekuatan otot merupakan kemampuan otot-otot skeletal

atau otot rangka untuk melakukan kontraksi atau tegangan

maksimal dalam menerima beban, menahan atau memindahkan

beban sewaktu melakukan aktivitas atau pekerjaan. Pada umumya

komponen kekuatan otot ini dapat diukur dengan menggunakan

13
alat seperti dinamometer. Dengan demikian jelas bahwa kekuatan

otot sangat menentukan penampilan seseorang dalam setiap

aktivitas pekerjaan yang dilakukan21.

b. Ketahanan otot

Ketahanan otot adalah kemampuan spesifik grup otot untuk terus

dapat melakukan pekerjaan sampai seseorang tidak mampu lagi

untuk mempertahankan pekerjaannya. Ketahanan otot dapat diukur

dalam waktu bertahan (maksimum lamanya waktu selama

seseorang mampu mempertahankan suatu beban kerja secara terus

menerus). Daya tahan otot pada prinsipnya dapat dilatih dan

dikembangkan sejak usia dini sampai usia 20 . Daya tahan otot

mencapai kemampuan maksimum pada usia 25-3014.

c. Ketahanan kardiovaskuler

Ketahanan kardiovaskuler suatu kemampuan tubuh untuk bekerja

dalam waktu lama tanpa kelelahan setelah menyelesaikan

pekerjaan tersebut. Ketahanan kardiovaskuler umumnya diartikan

sebagai ketahanan terhadap kelelahan dan kemampuan pemulihan

setelah mengalami kelelahan. Ketahanan kardiovaskuler yang

tinggi dapat mempertahankan performansi atau penampilan dalam

jangka waktu yang relatif lama secara terus menerus21.

2.7 Musculoskeletal Disorders (MSDs)

MSDs atau gangguan muskuloskeletal, yaitu cedera dan gangguan pada

jaringan lunak (otot, tendon, ligamen, sendi, dan tulang rawan) dan sistem saraf.

14
MSDs dapat mempengaruhi hampir semua jaringan, termasuk saraf dan selubung

tendon, dan paling sering melibatkan lengan dan punggung. Dalam bidang

keselamatan dan kesehatan kerja MSDs disebut juga dengan istilah: gangguan

trauma kumulatif (cumulative trauma disorders/ CTDs), trauma berulang

(repeated trauma), cedera stres yang berulang (repetitive stress), dan sindrom

kelelahan kerja (occupational overextertion syndrom).21

MSDs terjadi dalam kurun waktu yang panjang; mingguan, bulanan, dan

tahunan. MSDs biasanya dihasilkan dari paparan berbagai faktor risiko yang dapat

menyebabkan atau memperburuk gangguan, bukan dari satu aktivitas atau trauma

seperti terjatuh, terkena benturan atau terkilir. MSDs dapat menyebabkan

sejumlah kondisi, termasuk nyeri, mati rasa, kesemutan, sendi kaku, sulit

bergerak, kehilangan otot, dan kadang-kadang kelumpuhan. Seringkali, pekerja

harus kehilangan waktu kerja untuk pulih, bahkan beberapa pekerja tidak pernah

mendapatkan kembali kesehatan penuh. Gangguan ini termasuk carpal tunnel

syndrome, tendinitis, linu panggul, penonjolan tulang, dan nyeri pinggang. MSDs

tidak termasuk cedera akibat slip, perjalanan, jatuh, atau kecelakaan

serupa.22

Banyak cara bekerja - seperti mengangkat, mencapai benda ditempat yang

tinggi, atau mengulangi gerakan yang sama - dapat menyebabkan ketegangan

pada tubuh, keausan otot, jaringan, ligamen dan sendi. Dapat melukai leher, bahu,

lengan, pergelangan tangan, kaki dan punggung. Cedera ini adalah disebut cedera

muskuloskeletal

2.8 Penyebab MSDs

15
Banyak pekerjaan yang mempunyai hazard MSDs, baik pekerjaannya itu

sendiri atau cara kerja yang dilakukan yang dapat meningkatkan risiko MSDs

pada seorang pekerja. Penyebab utama MSDs yang berhubungan dengan kerja

adalah beban, postur statis atau janggal dan repetisi/pengulangan22

a. Beban/kekuatan (force)

Beban mengacu pada jumlah usaha yang dilakukan oleh otot, dan jumlah

tekanan pada bagian tubuh sebagai akibat dari tuntutan pekerjaan yang berbeda.

Semua tugas pekerjaan memerlukan pekerja untuk menggunakan otot, namun,

ketika pekerjaan mengharuskan mereka mengerahkan tingkat kekuatan yang

terlalu tinggi untuk setiap otot tertentu, hal itu dapat merusak otot atau tendon,

sendi dan jaringan lunak lainnya pada organ yang digunakan.

Kerusakan ini dapat terjadi dari gerakan atau tindakan tunggal yang

memerlukan otot untuk mengangkat beban yang sangat berat. Namun, pada

umumnya, kerusakan dihasilkan ketika otot menghasilkan tingkat beban sedang

sampai tinggi secara berulang kali, untuk durasi yang panjang, dan / atau saat

tubuh dalam postur yang canggung.

Beberapa task pekerjaan membutuhkan kekuatan yang tinggi pada

beberapa bagian tubuh yang berbeda. Misalnya, mengangkat beban berat yang

jauh dari tubuh meningkatkan tekanan (gaya tekan) pada cakram spinal dan tulang

belakang pada punggung bagian bawah. Hal ini berpotensi dapat merusak cakram

dan vertebra.

Sumber lain dari beban/kekuatan pada tubuh yang berpotensi dapat

menyebabkan kerusakan berasal dari pekerjaan dengan alat-alat tangan yang

memiliki tepi keras atau tajam, meletakkan lengan bawah di tepi meja yang keras,

16
dan lain-lain. Hal ini dapat memampatkan tendon, otot, pembuluh darah dan saraf

di bawah kulit, yang dapat merusak jaringan-jaringan.

Dengan force, penting untuk mempertimbangkan tidak hanya berapa

banyak kekuatan yang terlibat tetapi juga:

1) berapa lama pekerja harus tetap mengerahkan kekuatan

2) berapa kali gaya adalah yang diberikan dalam periode waktu

tertentu, dan

3) postur digunakan ketika mengerahkan gaya.

b. Postur tetap (statis) atau janggal

Postur adalah posisi berbagai bagian tubuh selama beraktivitas. Untuk

sebagian besar sendi, postur netral atau baik berarti bahwa sendi yang digunakan

dekat dengan pusat berbagai gerak. Semakin jauh bergerak menuju kedua ujung

rangkaian gerak, atau lebih jauh dari sikap netral, maka postur akan semakin

janggal sehingga akan terjadi ketegangan di otot, tendon dan ligamen di sekitar

sendi.

Task requirements

17
Working posture

Workspace design Personal Factors


Gambar 2.2 Faktor yang memengaruhi Postur23

Yang harus dipertimbangkan pada saat bekerja dengan postur tetap atau

canggung:

1) berapa lama pekerja berada pada postur tetap

2) berapa kali postur canggung digunakan dalam jangka waktu tertentu, dan

3) jumlah gaya yang diberikan ketika bekerja pada postur canggung.

c. Repetisi/ pengulangan

Risiko MSDs akan meningkat ketika bagian yang sama dari tubuh

digunakan berulang kali, dengan jeda sedikit atau kesempatan untuk beristirahat.

Tugas yang sangat berulang dapat menyebabkan kelelahan, kerusakan jaringan,

dan, akhirnya, nyeri dan ketidaknyamanan. Hal ini dapat terjadi bahkan jika force

rendah dan postur kerja yang tidak terlalu canggung. Dengan tugas yang berulang,

tidak hanya penting untuk mempertimbangkan bagaimana repetitif tugas tersebut

tetapi juga bagaimana para pekerja selama melakukan tugas postur diperlukan,

dan jumlah gaya yang digunakan.

2.9 Jenis-jenis MSDs

Ada beberapa jenis MSDs, yaitu :22

18
1. Bursitis, adalah kondisi peradangan pada lapisan bursal atau cairan synovial

yang terbungkus dalam bursa. Peradangan dari setiap bursa dapat membatasi

aktivitas. Peradangan pada cairan sinovial dapat menyebabkan bursa

membesar.

2. Intersection syndrome. disebabkan oleh rusaknya tendon pergelangan tangan

yaitu di daerah ibu jari dan fleksi pergelangan tangan atau pergelangan tangan

yang mengalami fleksi dan ekstensi berulang.

3. Tension Neck Syndrome, adalah ketegangan pada otot leher yang disebabkan

oleh postur leher flexion ke arah belakang dalam waktu yang lama sehingga

timbul gejala kekakuan pada otot leher, kejang otot, dan rasa sakit yang

menyebar ke bagian leher.

4. Trigger finger, adalah rasa sakit dan tidak nyaman pada bagian jari-jari akibat

tekanan yang berulang pada jari-jari (pada saat menggunakan alat kerja yang

memiliki pelatuk) yang menekan tendon secara terus-menerus hingga ke jari-

jari.

5. Focal Hand Dystonia. Adalah kram tangan yang biasa dialami oleh penulis

ataupun pemusik.

6. Carpal Tunnel Syndrome (CTS), yaitu tekanan pada saraf tengah yang terletak

di pergelangan tangan yang dikelilingi jaringan dan tulang. Penekanan tersebut

disebabkan oleh pembengkakan dan iritasi dari tendon dan penyelubung

tendon. Gejalanya seperti rasa sakit pada pergelangan tangan, perasaan tidak

nyaman pada jari-jari, dan mati rasa/kebas. CTS dapat menyebabkan seseorang

kesulitan menggenggam.

19
7. Tendinitis, merupakan peradangan (pembengkakan) hebat atau iritasi pada

tendon, biasanya terjadi pada titik dimana otot melekat pada tulang. Keadaan

tersebut akan semakin berkembang ketika tendon terus menerus digunakan

untuk merngerjakan hal-hal yang tidak biasa (penggunaan berlebih atau postur

janggal pada tangan, pergelangan, lengan, dan bahu) seperti tekanan yang kuat

pada tangan, membengkokan pergelangan tangan selama bekerja, atau

menggerakan pergelangan tangan secara berulang, jika ketegangan otot tangan

ini terus berlangsung, akan menyebabkan tendinitis.

2.8 Hubungan Ergonomi dengan Musculoskletal Disorders (MSDs)

Ergonomi mempelajari cara-cara penyesuaian pekerjaan, alat kerja, dan

lingkungan kerja dengan manusia dengan memerhatikan kemampuan dan

keterbatasan manusia yang bersangkutan sehingga tercapai suatu keserasian antara

manusia dan pekerjaannya yang akan meningkatkan kenyamanan dan

produktivitas kerja. Alat kerja dan lingkungan fisik yang tidak sesuai dengan

kemampuan alamiah tenaga kerja akan menyebabkan hasil kerja tidak optimal,

bahkan berpotensi menimbulkan keluhan kesehatan dan penyakit akibat kerja.24

Sikap tubuh serta aktivitas tertentu terhadap alat kerja, berpotensi untuk

menimbulkan suatu gangguan kesehatan, bahkan penyakit. Sikap tubuh saat

bekerja yang salah juga dapat menjadi penyebab timbulnya masalah kesehatan

antara lain nyeri, kelelahan, bahkan kecelakaan. Selain itu, sikap kerja yang statis

baik itu sikap duduk atau sikap berdiri dalam jangka waktu yang lama juga dapat

menyebabkan permasalahan tersebut. Dampak negatif tersebut akan terjadi baik

dalam jangka waktu pendek maupun jangka panjang.24

2.8.1 Nordic Body Map

20
Salah satu metode untuk mengetahui keluhan MSDs adalah dengan

menggunakan kuesioner Nordic Body Map (NBM). NBM adalah peta tubuh untu

mengetahui bagian otot yang mengalami keluhan dan tingkat keluhan otot skletal

yang dirasakan pekerja. NBM membagi tubuh menjadi nomor 0 sampai 27 dari

leher hingga kaki yang akan mengestimasi tingkat keluhan MSDs yang dialami

pekerja. NBM tidak dapat dijadikan diagnosa klinik karena bersifat subjektif aitu

berdasarkan persepsi responden, tidak berdasarkan diagnosa kesehatan.24

2.8.2 Quick Exposure Check (QEC)

Quick Exposure Check (QEC) adalah suatu metode untuk penilaian secara

cepat pajanan dan risiko-risiko terjadinya work-related musculoskletal disorders

(WMSDs). QEC dibuat berdasarkan kebutuhan praktisi dan peneliti dalam

penilaian risiko WMSDs.25

Hasil pengujian 150 praktisi mengatakan QEC memiliki tingkat

sensitivitas yang tinggi dan kegunaan serta kendala inter dan intraobserver

sebagian besar diterima. Studi lapangan menunjukan bahwa QEC berlaku untuk

berbagai tugas. QEC memberikan evaluasi terhadap tempat kerja dan desain

peralatan. QEC membantu mencegah berbagai jenis WMSDs dengan

mengembangkan dan mendidik pengguna tentang risiko WMSD di tempat

wilayah kerja mereka.

2.8.2.1 Keuntungan QEC

a. Mencakup beberapa faktor risiko fisik untuk WMSDs.


b. Mempertimbangkan kebutuhan pengguna dan dapat digunakan oleh

pengguna yang belum berpengalaman.

21
c. Mempertimbangkan kombinasi dan interaksi dari beberapa faktor risiko di

tempat kerja.
d. Memberikan tingkat sensitivitas dan kegunaan yang baik.
e. Memberikan tingkat reliabilitas inter dan intraobserver.
f. Mudah dipelajari dan cepat untuk digunakan.

2.8.2.2 Kekurangan QEC

a. Metode berfokus pada faktor tempat kerja fisik saja


b. Nilai eksposur hipotesis dengan tingkat tindakan perlu validasi
c. Pelatihan tambahan dan praktek mungkin diperlukan untuk pengguna

pemula untuk meningkatkan kehandalan penilaian.

2.8.2.3 Tahapan penilaian QEC

a. Pengukuran oleh peneliti (observers assesment)


Peneliti memiliki form isian tersendiri yangdapat diisi melalui pengamatan

kerj dilapangan. Sebagai alat bantu, dapat menggunakan stopwatch guna

menghitung durasi dan frekuensi kerja.


b. Pengukuran oelh pekerja (workers assesment)

Seperti halnya peneliti (observer), pekerja pun memiliki form isian sendiri,

yang berisi pertanyaan seputar pekerjaan yang dilakukan.

c. Mengkalkulasi skor pajanan


Proses kalkulasi dapat dilakukan melalui manual maupun program

komputer.
d. Consideration of action
QEC secara cepat mengidentifikasi tingkta pajanan dari punggung,

bahu/lengan/ tangan, pergelangan tangan/tangan, dan leher.

22
BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional yaitu

identifikasi gangguan pada sistem musculoskeletal berdasarkan jenis-jenis

pekerjaan pada karyawan warehouse PT Semen Padang. Studi ini menggunakan

data primer yang akan diperoleh melalui kuesioner Nordic Body Map (NBM) dan

Quick Exposure Check (QEC) yang diwawancarai kepada karyawan warehouse.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

23
Lokasi penelitian dilakukan di wilayah PT Semen Padang Pabrik Indarung

II-III pada Warehouse yang dilakukan pada tanggal 27 Desember 30 Desember

2016.

3.3 Populasi dan Sampel


a. Populasi
Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah karyawan di wilayah

Warehouse PT Semen Padang Pabrik Indarung II/III.

b. Sampel

Pengambilan sampel dilakukan dengan metode simple random sampling

sehingga terpilihlah 28 sampel dari bagian gudang produksi dan perkantoran.

3.3.1 Kriteria inklusi

Pekerja PT. Semen Padang dengan kriteria : bertugas sebagai adalah

karyawan di wilayah Warehouse PT Semen Padang Pabrik Indarung II/III.

3.3.2 Kriteria Eksklusi

Pekerja PT. Semen Padang dengan kriteria : bukan sebagai karyawan di

wilayah Warehouse PT Semen Padang Pabrik Indarung II/III.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

a. Sumber Data

24
Sumber data yang digunakan dalam penelitian adalah berupa data primer

yang didapat melalui observasi dan wawancara mendalam dengan kuesioner.

b. Instrumen

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Kuesioner Nordic Body Map untuk mendapatkan data faktor individu

(usia, masa kerja) dan tingkat keluhan MSDs perbagian tubuh yang

dirasakan responden.

2. Lembaran penilaian QEC untuk mendapatkan tingkat risiko MSDs.

Kuesioner QEC untuk pengamat dan operator berbeda, akan tetapi

keduanya digunakan untuk menganalisis kondisi suatu stasiun kerja.

Kuesioner pengamat lebih menitik beratkan kepada postur tubuh yang

terbentuk oleh operator ketika melakukan pekerjaannya. Kuesioner

operator lebih menitik beratkan kepada yang dirasakan oleh operator

ketika melakukan pekerjaannya. Konsep dasar dari metode QEC ini

adalah mengetahui seberapa besar exposure score untuk bagian tubuh

tertentu yang dibandingkan dengan bagian tubuh lainnya. Exposure

score dihitung untuk masing-masing bagian tubuh dengan

mempertimbangkan 5 kombinasi/interaksi, misalnya postur dengan

gaya/beban, pergerakan dengan gaya/beban, durasi dengan

gaya/beban, postur dengan durasi, pergerakan dengan durasi. Lembar

kerja QEC terbagi menjadi beberapa segmen.

c. Metode Pengumpulan Data

1. Penetapan sampel/responden yang akan diambil datanya

25
2. Wawancara kuesioner

Responden diwawancarai dengan kuesioner untuk di dapatkan

data mengenai faktor individu responden dan data keluhan MSDs yang

dirasakan responden pada saat melakukan aktivitas kerja.

3. Penilaian faktor risiko menggunakan lembar penilaian QEC.


Lembar penilaian diisi dengan cara memberikan skor pada setiap

faktor yang dinilai untuk QEC dari hasil wawancara.

3.5 Manajemen Pengolahan Data

Untuk kuesioner Nordic Body Map, dilakukan langkah-langkah berikut :

1. Mengumpulkan kuesioner dari responden

2. Memeriksa kelengkapan isian kuesioner apakah sudah terisi semua atau

tidak.

3. Pengolahan data

Untuk metode QEC :

1. Mewawancarai karyawan warehouse.

2. Penulis mengisi kuesioner sesuai hasil pengamatan terhadap proses kerja

karyawan warehouse.

3. Hasil pengisian kuesioner oleh responden dan penulis, dimasukkan ke

dalam lembar penilaian QEC.

3.6 Analisis Data

26
Analisis data pada penelitian ini dilakukan untuk melihat tingkat risko

MSDs berdasarkan faktor pekerjaan dan tingkat keluhan MSDs dan distribusi

faktor individu (usia dan masa kerja). Hasil data yang didapat dari wawancara

kuesioner QEC tingkat risiko terjadinya cedera pada anggota tubuh berdasarkan

dari nilai exposure score yang diperoleh kemudian disesuaikan dengan tabel

Exposure Level untuk mengetahui risiko cidera pada masing-masing anggota

tubuh yang dapat dilihat pada Tabel 1

Tabel 1. Exposure Score QEC


EXPOSURE SCORE QEC
SCORE SANGAT
RENDAH SEDANG TINGGI
TINGGI

Punggung (statis) 16-22


8-15 23-29 29-40

Punggung 10-20
(bergerak) 21-30 31-40 31-40

Bahu/Lengan 10-20
21-30 31-40 31-40

Pergelangan
10-20
Tangan 21-30 31-40 31-40

Leher
4-6 8-10 12-14 16-18

Setelah dilakukan perhitungan exposure score pada masing-masing

anggota badan yang diteliti, maka selanjutnya adalah menghitung exposure level.

Exposure level digunakan untuk mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan

terkait dengan stasiun kerja yang diamati. Adapun perhitungan yang digunakan

untuk mendapatkan nilai exposure level dapat menggunakan Persamaan 1.

E(%) = X / X max x 100%

27
Keterangan :

X= Total score yang didapatkan untuk paparan risiko cidera untuk punggung,

bahu/lengan, pergelangan tangan, dan leher yang diperoleh dari

perhitungan kuisioner

Xmax = Total maksimum score untuk paparan yang mungkin terjadi cidera untuk

punggung, bahu/lengan, pergelangan tangan, dan leher. Xmax konstan

untuk beberapa pekerjaan seperti untuk pekerjaan statis nilai Xmax yang

mungkin terjadi adalah 162 dan untuk pekerjaan manual handing

(mengangkat benda/menarik benda, membawa benda) nilai Xmax yang

mungkin terjadi adalah 176.

Tindakan yang harus diambil berdasarkan nilai yang dihasilkan dalam

perhitungan exposure level dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Action Level QEC

Total Exposure Level Action


<40% Aman
40-49% Perlu penelitian lebih lanjut
50-69% Perlu penelitian lebih lanjut dan
dilakukan perbaikan
>70% Dilakukan penelitian dan perbaikan
secepatnya

Pengolahan data dari kuesioner dan pengamatan diolah menggunakan

Microsoft Excel dan disajikan dalam bentuk grafik dan tabel.

Langkah-langkah penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Mulai

Studi literatur Pengumpulan dan pengolahan data


Studi lapangan
1.Wawancara dengan QEC
28Perumusan masalah
2.Wawancara dengan NBP
Tahap pengumpulan
Analisa data dan
dan pengolahan data Kesimpulan
3. Observasi
Tujuandan
Manfaat dan saran
dokumentasi
penelitian
penelitian
interpretasi hasil
BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1 Distribusi Pekerja Warehouse PT. Semen Padang

29
Keluhan musculoskeletal disorders pada Pekerja Warehouse PT. Semen

Padang dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor pekerjaan dan faktor individu.

Faktor pekerjaan terkait dengan postur kerja, beban, durasi dan frekuensi.

Untuk mengetahui gambaran Pekerja Warehouse PT. Semen Padang,

peneliti mengadakan kuesioner terhadap 26 pekerja. Berikut gambaran Pekerja

Warehouse PT. Semen Padang dan distribusi faktor individunya.

Tabel 4.1 Distribusi Faktor Individu

Distribusi
Faktor Individu Kelompok
N %
Umur (tahun) 28 32 7 27
33 37 4 15
38 42 2 8
43 47 3 12
48 - 52 7 27
53 - 57 3 12
Masa Kerja (Tahun) 6 - 10 11 42
11 - 15 3 12
16 - 20 4 15
21 - 25 3 12
26 - 30 3 12
31 - 35 2 8

Distribusi Umur (tahun)


12

10

Gambar 4.1 Grafik Distribusi berdasarkan umur

30
Distribusi Masa Kerja
12

10

Gambar 4.2 Grafik Distribusi berdasarkan masa kerja (tahun)

Dari grafik diatas terlihat bahwa umur Pekerja Warehouse PT. Semen

Padang paling terbanyak pada rentang usia 28-32 dan 48-52 yaitu masing-masing

sebanyak 7 orang. Untuk masa kerja, terdapat 11 orang yang sudah bekerja

selama 6-10 tahun dan terdapat 2 orang yang sudah bekerja selama 31-35 tahun.

Tabel 4.2 Distribusi Kelompok Individu Berdasarkan Bagian Kerja


Angkat barang
Faktor Operator Forklift manual Administrasi
Kelompok
Individu n=4 n=5 n = 17
S % S % S %
Umur(tahun) 28 32 0 0 0 0 7 41
33 37 1 25 0 0 3 18
38 42 2 50 0 0 0 0
43 47 0 0 1 20 2 12
48 52 1 25 4 80 2 12
53 57 0 0 0 0 3 18
Masa Kerja 6 10 1 25 0 0 10 59
(Tahun) 11 15 2 50 0 0 1 6

31
16 20 1 25 2 40 1 6
21 25 0 0 2 40 1 6
26 30 0 0 1 20 2 12
31 35 0 0 0 0 2 12

4.2 Quick Exposure Checklist (QEC)

Berdasarkan kuesioner pengamat dan operator diperoleh rekapitulasi


jawaban sebagai berikut :

Tabel 4.3 Rekapitulasi Jawaban Kuesioner Pengamat

Pergelangan
Bagian Punggung Bahu/Lengan
Tangan Leher
Kerja
1 2 1 2 1 2
Administras
i A1 B2 C2 D1 E1 F1 G2
Angkat
Barang
Manual A2 B5 C2 D2 E2 F1 G2
Forklift A2 B4 C1 D2 E2 F2 G2

Tabel 4.4 Rekapitulasi Jawaban Kuesioner Operator

Pertanyaan
Bagian Kerja
H I J K L M N O
Administrasi H1 I3 J1 K2 L1 M1 N1 O1
Angkat Barang
Manual H4 I2 J3 K2 L1 M1 N1 O1
Forklift H4 I3 J3 K2 L1 M3 N1 O1

Berdasarkan jawaban yang didapat dari kuesioner pada masing-masing

bagian kerja kemudian akan dihitung nilai exposure score pada 4 bagian anggota

tubuh dari pekerja Warehouse PT. Semen Padang. Seluruh dari masing-masing

bagian kerja yang diteliti dilakukan perhitungan pada lembar skor QEC tersebut.

Rekapitulasi dari hasil perhitungan exposure score dapat dilihat dari tabel berikut.

Tabel 4.5 Rekapitulasi Exposure Score


No. Jenis Skor QEC TOTAL

32
Pekerjaan Punggung Lengan/Bahu Pergelangan Leher
Tangan
1 Operator 43 43 37 14 137
Forklift Sangat Tinggi Sangat Tinggi Tinggi Tinggi
2 Angkat Barang 35 34 24 9 103
Manual Tinggi Tinggi Sedang Sedang
3 Administrasi 20 27 22 11 80
Sedang Sedang Sedang Tinggi

Pada pekerja operator forklift Exposure score pada bagian punggung,

lengan/bahu sangat tinggi sedangkan pada bagian pergelangan tangan exposure

score tinggi. Exposure Score pada bagian punggung dan lengan/bahu tinggi pada

pekerja Angkat Barang Manual, dan sedang pada pergelangan tangan dan leher.

Sedangkan pada pekerja administrasi pada bagian punggung, lengan/bahu,

pergelangan tangan exposure score sedang dan pada leher tinggi.

Berdasarkan tabel 4.6 dapat dilihat bahwa pekerja operator forklift

memperoleh skor QEC sebesar 84 % yang berarti perlu dilakukan penelitian lebih

lanjut dan diharapkan dilakukan perbaikan secepatnya, sedangkan pada pekerja

angkat barang manual memperoleh skor QEC sebesar 58 % yang artinya perlu

dilakukan penelitian lebih lanjut dan diperlukan perbaikan. Untuk bagian

Administrasi skor QEC didapat 49% yang berarti hanya diperlukan penelitian

lebih lanjut dan tidak perlu perbaikan.

Tabel 4.6 Exposure Level


No. Jenis Pekerjaan Persen Keterangan

1 Operator Forklift 84 Penelitian lebih lanjut dan perbaikan segera

2 Angkat Barang Manual 58 Penelitian lebih lanjut dan dilakukan perbaikan

3 Administrasi 49 Penelitian lebih lanjut

33
4.3 Nordic Body Map (NBM)

Tabel 4.6 Distribusi Keluhan Msds Berdasarkan Jenis Pekerjaan


No Otot Skeletal Operator Angkat Barang Administrasi
. Forklift Manual
N=4 N=5 N = 17
% % %
0 Leher 5 4.03 6 4.20 21 4.27
1 Tengkuk 5 4.03 7 4.90 18 3.66
2 Bahu Kiri 5 4.03 7 4.90 20 4.07
3 Bahu Kanan 5 4.03 7 4.90 23 4.67
4 Lengan Atas Kiri 5 4.03 5 3.50 17 3.46
5 Punggung 5 4.03 5 3.50 18 3.66
6 Lengan Atas Kanan 5 4.03 5 3.50 17 3.46
7 Pinggang 4 3.23 6 4.20 21 4.27
8 Pinggul 4 3.23 5 3.50 19 3.86
9 Pantat 4 3.23 5 3.50 17 3.46
10 Siku Kiri 4 3.23 5 3.50 17 3.46
11 Siku Kanan 4 3.23 5 3.50 17 3.46
12 Lengan Bawah Kiri 4 3.23 5 3.50 17 3.46
13 Lengan Bawah Kanan 4 3.23 5 3.50 18 3.66
14 Pergelangan Tangan Kiri 5 4.03 5 3.50 17 3.46
15 Pergelangan Tangan Kanan 5 4.03 5 3.50 18 3.66
16 Tangan Kiri 5 4.03 5 3.50 17 3.46
17 Tangan Kanan 4 3.23 5 3.50 17 3.46
18 Paha Kiri 5 4.03 5 3.50 20 4.07
19 Paha Kanan 4 3.23 5 3.50 22 4.47
20 Lutut Kiri 6 4.84 5 3.50 18 3.66
21 Lutut Kanan 6 4.84 5 3.50 18 3.66
22 Betis Kiri 4 3.23 5 3.50 17 3.46
23 Betis Kanan 4 3.23 5 3.50 17 3.46
24 Pergelangan Kaki Kiri 4 3.23 5 3.50 17 3.46
25 Pergelangan Kaki Kanan 4 3.23 5 3.50 17 3.46
26 Kaki Kiri 5 4.03 5 3.50 17 3.46

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa keluhan muskuloskeletal yang

paling banyak dialami oleh pekerja warehouse yang bertugas sebagai operator

forklift adalah keluhan pada lutut kiri dan kanan yaitu sebanyak 4,84%. Pada

pekerja warehouse yang bekerja sebagai pengangkat barang memiliki keluhan

muskuloskeletal pada tengkuk, bahu kiri dan bahu kanan sebagai keluhan yang

paling banyak dirasakan yaitu sebesar 4,9%. Pada pekerja warehouse yang

34
bertugas dibidang administrasi, keluhan muskuloskeletal yang paling banyak

dirasakan adalah keluhan pada bahu kanan yaitu sebanyak 4,67%.

BAB 5

PEMBAHASAN

Proses penilaian postur kerja dinilai dengan menggunakan tools ergonomi

Quick Exposure Checklist (QEC). Penulis menggunakan QEC karena QEC

menilai proses kerja pekerja dari dua sisi, yaitu peneliti dan operator. Selain itu,

QEC mempunyai keuntungan antara lain: meneliti hampir semua faktor risiko

35
fisik untuk MSDs yang behubungan dengan kerja, mempertimbangkan kombinasi

dan interaksi dari berbagai faktor risiko di tempat kerja, dan mudah digunakan

untuk pemula. Selain itu, tools QEC juga dibantu oleh metode Nordic Body Map

dalam menentukan bagian otot yang mengalami keluhan dan tingkat keluhan otot

yang dirasakan pekerja. Berdasarkan penelitian ini, didapatkan bahwa keluhan

muskuloskeletal yang dirasakan oleh pekerja sesuai dengan postur kerja yang

dijalani oleh tiap-tiap pekerja.26

5.1 MSDs pada Operator Forklift

Operator forklift adalah salah satu pekerjaan yang membutuhkan

keterampilan yang didapatkan melalui pelatihan. Tidak semua pekerja yang dapat

mengoperasikan forklift bisa menjadi operator. Ada syarat-syarat khusus yang

harus dipenuhi salah satunya adalah mempunyai Surat Izin Operasional (SOP)

yang dikeluarkan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi setempat.26

Berdasarkan tabel 4.4, didapatkan bahwa exposure score pada operator

forklift sangat tinggi pada punggung dan lengan/bahu serta tinggi pada

pergelangan tangan dan leher. Hal tersebut menunjukkan bahwa baik punggung,

lengan/bahu, pergelangan tangan dan leher pada operator forklift berisiko untuk

cedera akibat pekerjaan.

Penyebab utama dari tingginya tingkat risiko MSDs pada operator adalah

postur janggal, durasi kerja yang lama, dan melakukan gerakan berulang secara

terus-menerus pada posisi janggal atau statis yang berisiko menyebabkan MSDs.

Operator forklift merupakan suatu pekerjaan yang monoton, yang sebagian besar

waktu kerjanya duduk di atas forklift. Dari wawancara yang dilakukan terhadap

36
salah satu operator forklift di warehouse PT. Semen Padang, diketahui bahwa

operator mengoperasikan forklift rata-rata selama 4 jam dalam sehari. Postur kerja

statis menimbulkan peningkatan beban pada otot dan tendon, yang menyebabkan

aliran darah ke otot terhalang dan menimbulkan kelelahan, rasa kebas dan nyeri.27

Selain itu, dari tabel 4.6 terlihat bahwa keluhan muskuloskeletal yang

paling banyak dialami oleh pekerja warehouse yang bertugas sebagai operator

forklift adalah keluhan pada lutut kiri dan kanan yaitu sebanyak 4,84%. Hal ini

disebabkan oleh jauhnya jarak antara posisi duduk dengan pedal gas dan rem pada

mesin forklift. Akibatnya kaki operator forklift berada dalam keadaan

menggantung, yang akan meningkatkan beban kerja otot sehingga kemungkinan

terjadinya MSDs akan semakin besar.

Berdasarkan exposure level pada operator forklift, diperlukan penelitian

lebih lanjut dan perbaikan segera. Hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi

tingkat risiko MSDs adalah dengan melakukan intervensi terhadap peralatan

ataupun prosedur kerja. Selain itu bisa juga dilakukan peregangan di sela-sela jam

kerja beberapa saat, misalnya setelah selesai melakukan bongkar barang satu atau

dua kontainer, agar otot-otot yang sudah tegang menjadi relaks kembali dan

melancarkan peredaran darah.

37
Gambar 5.1 Keadaan menggantung kaki operator forklift akibat
jauhnya jarak antara kaki dengan pedal gas dan rem mesin forklift

Gambar 5.2 Posisi janggal operator forklift

5.2 MSDs pada Pekerja Pengangkat Barang

38
Pekerja pengangkut barang di warehouse PT. Semen Padang merupakan

pekerja yang mengangkut barang dari satu tempat ke tempat lainnya secara

manual. Pada umumnya, pekerja menggunakan tubuh sebagai alat angkut, seperti

memikul, menjinjing, maupun memanggul. Faktor-faktor yang memengaruhi

kegiatan mengangkat dan mengangkut yaitu beban yang diperkenakan, jarak

angkut, dan intensitas pembebanan; kondisi lingkungan kerja yaitu keadaan

medan yang licin, kasar, naik turun, dan lain-lain; keterampilan bekerja; dan

peralatan bekerja beserta keamanannya.

Berdasarkan tabel 4.4, didapatkan bahwa exposure score pada pekerja

pengangkat barang tinggi pada punggung dan lengan/bahu serta sedang pada

pergelangan tangan dan leher. Hal tersebut menunjukkan bahwa punggung dan

lengan/bahu pada pekerja pengangkat barang memiliki risiko tinggi untuk

mengalami cedera, sedangakan pergelangan tangan dan leher memiliki risiko

sedang untuk mengalami cedera. Sedangkan berdasarkan tabel 4.6, keluhan

muskuloskeletal pada tengkuk, bahu kiri dan bahu kanan sebagai keluhan yang

paling banyak dirasakan oleh pekerja pengangkat barang, yaitu sebesar 4,9%.

Keluhan pada punggung dapat terjadi karena otot punggung yang tidak

terlatih, otot punggung tidak lurus saat mengangkat barang, atau pekerja bekerja

dengan posisi tubuh yang tidak alamiah, misalnya membungkuk dalam waktu

yang lama. Keluhan pada bahu disebabkan oleh posisi pada saat mengangkat

barang berat memiliki tumpuan pada otot-otot di bahu. Selain itu posisi barang

yang lebih rendah mengakibatkan seringnya pekerja menekukkan kepalanya,

sehingga dapat juga terjadi gangguan pada otot leher. Postur janggal dan berulang

ini jika dilakukan dalam waktu yang lama akan mengakibatkan kaku pada otot.

39
Hal tersebut sesuai dengan UCATT, yang menjelaskan bahwa MSDs yang

terjadi pada tukang angkat disebabkan karena beberapa kegiatan seperti:

1. Mengangkat beban berat secara berulang-ulang (repetitive).

2. Postur tubuh membungkuk dan memutar.

3. Seringkali mengulang suatu pekerjaan dengan cepat.

4. Posisi kerja yang tidak nyaman.

5. Mengerahkan kekuatan yang terlalu besar.

6. Bekerja terlalu lama tanpa adanya istirahat.

7. Mengerahkan kekuatan pada posisi statis pada periode waktu yang cukup

panjang.

8. Lingkungan pekerjaan yang kurang baik (terlalu panas atau dingin dan lain-

lain).28

Seperti pada operator forklift, berdasarkan exposure level pada pekerja

pengangkat barang, diperlukan penelitian lebih lanjut dan perbaikan segera. Hal

yang bisa dilakukan untuk mengurangi tingkat risiko MSDs adalah dengan

melakukan intervensi terhadap peralatan ataupun prosedur kerja. Selain itu bisa

juga dilakukan peregangan di sela-sela jam kerja beberapa saat.

5.3 MSDs pada Pekerja Administrasi

Administrasi adalah kegiatan yang meliputi catat-mencatat, surat-

menyurat, pembukuan ringan, ketik-mengetik, agenda, dan sebagainya yang

bersifat teknis ketatausahaan. Posisi kerja pekerja administrasi yang dominan

adalah posisi duduk. Tugas pekerja administrasi di warehouse PT. Semen Padang

meliputi pencatatan dan pembukuan barang masuk dan barang keluar warehouse.

40
Berdasarkan tabel 4.4, didapatkan bahwa exposure score pada pekerja

administrasi sedang pada punggung, lengan/bahu dan pergelangan tangan, serta

tinggi pada leher. Hal tersebut menunjukkan bahwa punggung, lengan/bahu dan

pergelangan tangan pada pekerja administrasi memiliki risiko sedang untuk

mengalami cedera, sedangkan leher memiliki risiko tinggi untuk mengalami

cedera. Sedangkan berdasarkan tabel 4.6, keluhan muskuloskeletal yang paling

banyak dirasakan adalah keluhan pada bahu kanan yaitu sebanyak 4,67%.

Durasi yang lama dan gerakan berulang juga dapat memengaruhi

timbulnya cedera dan rasa sakit atau nyeri pada bahu. Ada hubungan yang erat

antara pekerjaan yang dilakukan berulang dengan MSDs pada bagian bahu.

Kejadian cedera bahu juga bisa disebabkan oleh eksposur dengan postur janggal.

Menurut health and safety ontario (2011), risiko Muskuloskeletal Disorder

menjadi lebih tinggi pada pengguna komputer dibandingkan dengan pekerja

kantor lain terutama untuk workstation yang belum sesuai. Workstation yang

belum sesuai akan mengakibatkan postur tubuh yang janggal. Risiko MSDs pada

pekerja administrasi dipengaruhi oleh letak monitor, mouse, keyboard, document

holder dan lightning.

Berdasarkan exposure level pada pekerja administrasi, untuk saat ini belum

diperlukan perbaikan segera terhadap risiko pekerjaan. Akan tetapi, diperlukan

penelitian lebih lanjut mengenai risiko pekerjaan terhadap MSDs untuk mencegah

terjadinya MSDs.

BAB 6

PENUTUP

41
6.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian mengenai gambaran tingkat risiko ergonomi dan


keluhan terhadap MSDs padapekerjawarehouse PT Semen Padang didapatkan
beberapa kesimpulan, diantaranya:

1. Pekerja operator forklift memiliki exposure score sangat tinggi pada


bagian punggung dan lengan/bahu, serta tinggi pada pergelangan tangan
dan leher. Pekerja operator forklift memiliki skor QEC yaitu 84%dimana
perlu penelitian lebih lanjut dan perbaikan segera
2. Pekerja pengangkut barang secara manual memiliki exposure score tinggi
pada punggung dan lengan/bahu, serta sedang pada pergelangan tangan
dan leher. Pekerja pengangkut barang secara manual memiliki skor QEC
yaitu 58%dimana perlu penelitian lebih lanjut dan dilakukan perbaikan
3. Pekerja administrasi memiliki exposure score tinggi pada leher, serta
sedang pada punggung, lengan/bahu dan pergelangan tangan. Pekerja
administrasi memiliki skor QEC yaitu 49%dimana hanya diperlukan
penelitian lebih lanjut dan tidak perlu perbaikan
4. Keluhan subjektif dari 4 respondenyang menjadisampel dalam penelitian
ini pada aktivitas pekerja forklift banyak terdapat pada bagian lutut kiri
dan kanan sebanyak 4,84%
5. Keluhan subjektif dari 5 responden yang menjadi sampel dalam
penelitian ini pada aktivitas pekerja pengangkut barang secara
manualbanyak terdapat pada bagian tengkuk, bahu kiri dan bahu kanan
sebanyak 4,9%
6. Keluhan subjektif dari 17 responden yang menjadi sampel dalam
penelitian ini pada aktivitas pekerja administrasi banyak terdapat pada
bagian bahu kanansebanyak 4,67%
7. Pada peneliti ini penulis masih belum memperhitungkan faktor risiko
ergonomi khususnya pada faktor lingkungan kerja seperti temperatur,
kebisingan, getaran, pencahayaan, debu dan faktor individu pekerja
seperti antropometri tubuh pekerja, jenis kelamin dan lama waktu kerja

6.2 Saran

42
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai risiko pekerjaan terhadap
MSDs dengan memperhitungkan faktor lingkungan kerja seperti
temperatur, kebisingan, getaran, pencahayaan, debu dan faktor individu
pekerja seperti antropometri tubuh pekerja, jenis kelamin dan lama waktu
kerja
2. Perlu dilakukan sosialisasi mengenai postur kerja yang baik dan benar
kepada pekerja yang sesuai dengan jenis pekerjaannya
3. Perlu dilakukan pendidikan peregangan atau relaksasi pada setiap pekerja
minimal 5 menit pada setiap 2 jam kerja atau pada saat mulai dirasakannya
kram atau pegal pada bagian-bagian tubuh

DAFTAR PUSTAKA

1 Kementerian Perindustrian. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 13


Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.Kementerian Perindustrian. [serial
online] 2003. Tersedia dari: URL: www.kemenperin.go.id. 2003.

2 Osni, M. Gambaran Faktor Risiko Ergonomi dan Keluhan Subjektif


Terhadap Gangguan Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada Penjahit
Sektor Informal di Kawasan Home Industry RW 6, Kelurahan Cipadu,
Kecamatan Larangan, Kota Tangerang pada Tahun 2012. Skripsi.

43
Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan
Masyarakat. Universitas Indonesia: Depok. 2012.

3 Kurniawati I. Tinjauan faktor Risiko Ergonomi dan Keluhan Terhadap


Terjadinya Gangguan Muskuloskeletal pada Pekerja Pabrik Proses
Finishing di Departemen PPC PT Southern Cross Textile Industry Ciracas
Jakarta Timur Tahun 2009. Skripsi. Universitas Indonesia: Depok. 2009.

4 Samara, D. Nyeri Muskuloskeletal pada Leher Pekerja dengan Posisi


Pekerjaan yang Statis. Universitas Medicina. 26(3): 137-142. 2007.

5 Dul J, Weerdmeester B. Ergonomics for beginners: A Quick Reference


Guide. New York: Taylor & Francis Inc. 2003.

6 Tana L, Delima, Tuminah S. Hubungan Lama Kerja dan Posisi Kerja


dengan Keluhan Otot Rangka Leher dan Ekstremitas Atas pada Pekerja
Gamen Perempuan di Jakarta Utara. Bul Penel Kesehatan. 37(1): 12-23.
2009.

7 Licciardone JC, Stoll ST, Fulda KG, Russo DP, Siu J, Winn W, etc.
Osteopathic Manipulative Treatment for Chronic Low Back Pain. Spine.
28(13). 2003.

8 National Institute of Safety and Health (NIOSH). Musculoskeletal


Disorders and Workplace Factors: A Critical Review of Epidemiologic
Evidence for Work-Related Musculoskeletal Disorders of The Neck,
Upper Extrenity, and Low Back. 2007.

9. Tarwaka, HA Solichul, Bakri, Sudiajeng L. Ergonomi untuk Keselamatan


Kesehatan Kerja dan Produktivitas. 2004.

10. Pheasant, Stephen. 2003. Bodyspace: Antropometry, Ergonomics, and the


design of work. Second edition. London: Taylor and Francis. Ed 1. Uniba
Press. Surakarta.

11. Definition and Domains of Ergonomics. 28 Desember 2016.


http://www.iea.cc/whats/
12. Manuaba, A. Ergonomi, Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Editor: Sritomo
Wignyosubroto dan Stefanus Eko Wiranto. Proceeding Seminar Nasional
Ergonomi 2000, Guna Wijaya, Surabaya: 1 - 4. 2000.

13. Geinady, A.M. Physical Work Capacity. Dalam: Battacharya, A. &


McGlothlin, J.D. eds. Occupational Ergonomic. Marcel Dekker Inc. USA:
219-232. 1996.

14. Konz, S. Physiology of Body Movement. Dalam: Battacharya, A. &


McGlothlin, J.D. eds. Occupational Ergonomic. Marcel Dekker Inc.
USA:47-61. 1996.

44
15. Water, T.R. & Bhattacharya, A. Physiological Aspects of Neuromuscular
Function. Dalam: Battacharya, A. & McGlothlin, J.D. eds. Occupational
Ergo- nomic. Marcel Dekker Inc, USA:.63-76. 1996.

16. Priatna, B.L. Pengaruh Cuaca Kerja Terhadap Berat Badan. Majalah Hiperkes
dan Keselamatan Kerja. Jakarta. Vol XXIII (3):39-49. 1990.

17. Pulat, B.M. Fundamentals of Industrial Ergonomics. Hall International.


Englewood Cliffs. New Jersey. USA. 1992.

18. Grandjean, E. Fitting the Task to the Man, 4th edt. Taylor & Francis Inc.
London. 1993.

19. Hopkins. Fitness Fundamentals- Duidelines for Personal Exercise Programs.


Developed by the Presidents Council on Physical Fitness and Sports.
2002.

20. Nala. Prinsip Pelatihan Fisik Olahraga. Denpasar. Prorgam Pascasarjana


Program Studi Fisiologi Olahraga, Program Pasca Sarjana UNUD. 2001.

21. OSHA 3125. Ergonomi : the study of work. diunduh tanggal 29 Desember
2016. http://www.osha.gov/Publications/osha3125.pdf. 2000.

22. Sanders MJ. Ergonomics and the management of musculoskeletal disorders.


Second edition. USA: Elsevier. 2004.

23. Bridger RS. Introduction to ergonomis, 2nd Ed. London: Tailor & Francis
Group. 2003.

24. Anies. Kedokteran Okupasi Berbagai Penyakit Akibat Kerja dan Upaya
Penanggulangan dari Aspek Kedokteran. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. 2014.

25. Guanyan Li. and Buckle, Peter. Quick exposure checklist (QEC) for the
assesment of workplace risks for work-related musculoskletal disorders
(MSDs). In Neville Stanton. Et al. Handbook of human Faktors and
ergonomis method. USA : CRC Press. 2005.
26. Nurliah, A. Analisis risiko muskuloskeletal disorders (MSDs) pada pada

operator forklift di PT. LLI tahun 2012. Jawa Barat: Fakultas Kesehatan

Masyarakat Universitas Indonesias; 2012.

27. Kurniawidjaja, L. M. Teori dan aplikasi kesehatan kerja. Jakarta: Penerbit

Universitas Indonesia; 2010.

45
28. UCATT, n.d. Musculoskeletal Disorders. Diakses di,

http://www.ucatt.org.uk/musculoskeletal-disorders. Diakses pada 30

Desember 2016.

46