Anda di halaman 1dari 21

ANALISIS JURNAL

The Effects Of Physical Exercises To Mental State And


Quality Of Life In Patients With Schizophrenia

Disusun untuk Memenuhi Tugas Keperawatan Jiwa Tahap Profesi

Oleh:

Hanindhita Trisiarini
G3A016085

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Skizofrenia masih menjadi permasalahan kesehatan yang cukup banyak
dijumpai dalam bidang kesehatan jiwa di Indonesia. Skizofrenia merupakan
sekelompok gangguan psikotik, dengan gangguan dasar pada kepribadian dan
distorsi khas pada proses pikir. Terkadang, klien dengan skizofrenia
mempunyai perasaan bahwa dirinya sedang dikendalikan kekuatan dari luar.
Gangguan skizofrenia umumnya ditandai oleh distorsi pikiran dan persepsi
yang mendasar dan khas, dan oleh efek yang tidak serasi atau tumpul.1
Data World Health Organization (WHO), masalah gangguan kesehatan
jiwa di seluruh dunia memang sudah menjadi masalah yang sangat serius.
WHO menyatakan, paling tidak ada satu dari empat orang di dunia mengalami
gangguan kesehatan jiwa. WHO memperkirakan ada sekitar 450 juta orang di
dunia mengalami gangguan kesehatan jiwa. Sementara itu, menurut Uton
Muchtar Rafei, Direktur WHO Wilayah Asia Tenggara, hampir satu pertiga dari
penduduk di wilayah tersebut pernah mengalami gangguan neuropsikiatri. Data
survey kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di Indonesia diperkirakan sebanyak
264 dari 1000 anggota rumah tangga menderita gangguan jiwa. Menurut Azrul
Azwar (Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan) dalam
karya Yosep mengatakan bahwa jumlah penderita gangguan kesehatan jiwa di
masyarakat sangat tinggi, yakni satu dari empat penduduk Indonesia menderita
kelainan jiwa rasa cemas, depresi, stres, penyalahgunaan obat, kenakalan
remaja sampai skizofrenia. Di era globalisasi gangguan kejiwaan meningkat
tidak hanya dari kalangan kelas bawah, namun kalangan pejabat dan
masyarakat lapisan menengah ke atas juga terkena gangguan jiwa.2
Sekitar 25 persen pasien dapat pulih kembali pada tingkat premorbid
sebelum munculnya gangguan tersebut. Sekitar 25 persen tidak akan pernah
pulih dan cenderung memburuk. Sekitar 50 persen diantaranya, terdapat
adanya kekambuhan periodik dan ketidakmampuan berfungsi dengan efektif.
Pasien skizofrenia sering mengalami kejadian bunuh diri, gangguan fisik yang
menyertai, masalah penglihatan dan gigi, tekanan darah tinggi, diabetes,
penyakit yang ditularkan secara seksual.1

1
Pemberian obat dengan standar dan tujuan terapi yang tidak tepat akan
merugikan pasien. Penggunaan obat yang tidak rasional seperti tidak tepat
indikasi, tidak tepat dosis, tidak tepat obat dan tidak tepat pasien sering kali
dijumpai dalam praktek sehari-hari, baik di pusat kesehatan primer
(puskesmas), rumah sakit, maupun praktek swasta. Ketidaktepatan indikasi,
pemilihan obat, pasien dan dosis menjadi penyebab kegagalan terapi
pengobatan skizofrenia.3,4
Kegagalan-kegagalan tersebut dapat menurunkan kualitas hidup pasien
skizofrenia. Tidak hanya pemberian obat dan terapi saja yang dilakukan untuk
upaya penyembuhan pasien skizofrenia, namun latihan fisik dapat memainkan
peran penting dalam perbaikan gejala skizofrenia.5
Latihan fisik merupakan aktivitas yang dilakukan seseorang untuk
meningkatkan atau memelihara kebugaran tubuh serta kualitas hidup
seseorang. Latihan fisik umumnya dikelompokkan ke dalam beberapa kategori,
tergantung pada pengaruh yang ditimbulkannya pada tubuh manusia. Latihan
aerobik seperti berjalan dan berlari berpusat pada penambahan daya tahan
kardiovaskular. Latihan bisa menjadi bagian penting terapi fisik. Latihan fisik
yang sering dan teratur memperbaiki kinerja sistem kekebalan tubuh, dan
membantu mencegah berbagai penyakit.5
Berdasarkan data-data di atas, penulis merasa tertarik untuk menganalisis
jurnal the effects of physical exercises to mental state and quality of life in
patients with schizophrenia.

B. TUJUAN
Tujuan dari analisis jurnal ini adalah mahasiswa dapat menganalisis pengaruh
latihan fisik terhadap keadaan mental dan kualitas hidup pada pasien dengan
skizofrenia.

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. SKIZOFRENIA

1. DEFINISI

2
Skizofrenia merupakan suatu penyakit yang mempengaruhi otak dan
menyebabkan timbulnya pikiran, persepsi, gerakan dan perilaku yang aneh
dan terganggu.6 Skizofrenia juga dapat diartikan sebagai penyakit
neurologis yang mempengaruhi persepsi klien, cara berfikir, bahasa,
emosi, dan perilaku sosialnya. Dalam pengertian lain skizofrenia adalah
suatu bentuk psikosa fungsional dengan gangguan utama pada proses pikir
serta disharmoni (keretakan, perpecahan) antara proses pikir, afek/ emosi,
kemauan dan psikomotor disertai distorsi kenyataan, terutama karena
waham dan halusinasi ; asosiasi terbagi-bagi sehingga timbul inkoherensi.7
Skizofrenia merupakan bentuk psikosa yang dapat dijumpai dimana-mana
namun faktor penyebabnya belum dapat diidentifikasi dengan jelas.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa skizofrenia merupakan suatu penyakit
neurologis yang mempengaruhi otak yang belum diketahui penyebabnya
dan dapat mempengaruhi proses pikir, emosi dan perilaku penderitanya.

2. TANDA DAN GEJALA


Skizofrenia ditandai dengan dua kategori gejala utama, yaitu gejala
positif dan gejala negatif. Gejala positif berfokus pada distorsi fungsi
normal seperti waham, halusinasi, bicara tidak teratur, dan kekacauan
menyeluruh dan perilaku katatonia. Gejala negatif skizofrenia
mengindikasikan hilangnya fungsi normal, meliputi pendataran
afektif( tumpul, datar, atau tidak serasi), alogia(miskin pembicaraan) dan
avolisi (kurang perilaku inisiatif diri). Selain gejala utama diatas ada gejala
lain yaitu : 7
a. Gangguan proses pikir (bentuk, langkah dan isi pikiran). Yang paling
menonjol adalah gangguan asosiasi dan terjadi inkoherensi.
b. Gangguan afek emosi
c. Terjadi kedangkalan afek emosi
d. Emosi dan afek serta ekspresinya tidak mempunyai satu kesatuan
e. Emosi berlebihan
f. Hilangnya kemampuuan untuk mengadakan hubungan emosi yang
baik.
g. Gangguan kemauan meliputi :
1) Terjadi kelemahan kemauan

3
2) Perilaku negativisme
3) Otomatisme, merasa pikiran/perbuatannya dipengaruhi oleh orang
lain
h. Gejala psikomotor antara lain:
1) Katelepsi : mempertahankan posisi tubuh dalam waktu yang lama
2) Autisme

3. FASE
Fase dalam skizofrenia ada 3 yaitu: 8
a. Fase Prodormal
1) Kemunduran dalam waktu lama (6 sampai 12 bulan) dalam tingkat
fungsi perawatan diri, sosial, waktu luang, pekerjaan atau
akademik.
2) Timbul gejala positif dan negatif
3) Periode kebingungan pada klien dan keluarga
b. Fase Aktif
1) Permulaan intervensi asuhan kesehatan, khususnya hospitalisasi
2) Klien mengalami inkoherensi, waham dan halusinasi
3) Pengenalan pemberian obat dan modalitas terapeutik lainnya
4) Perawatan difokuskan pada rehabilitasi psikiatrik saat klien belajar
untuk hidup dengan penyakit yang mempengaruhi pikiran, perasaan
dan perilaku.
c. Fase Residural
1) Pengalaman sehari-hari dengan penanganan gejala
2) Klien mengalami gangguan kognitif yaitu berupa gangguan bicara.
3) Adaptasi

4. TIPE SKIZOFRENIA DAN GEJALA UMUM


Skizofrenia memiliki beberapa tipe dan gejala umum yang menyertainya
antara lain :8
a. Skizofrenia Paranoid
Gejala umum :
1) Pikiran dipenuhi dengan kecurigaan yang ekstrim disertai waham
kebesaran atau waham kejar.
2) Halusinasi pendengaran yang terfokus pada tema tunggal
sementara klien mempertahankan fungsi kognitif dan afek yang
serasi.
3) Ansietas
4) Marah
5) Argumentatif

4
6) Hubungan interpersonal menguat
7) Berpotensi melakukan perilaku kekerasan pada diri sendiri dan
orang lain
b. Skizofrenia tidak terorganitif
Gejala umum :
1) Perilaku kacau menyebabkan gangguan yang berat dalam aktivitas
kehidupan sehari-hari
2) Kurang memiliki hubungan/ pertalian
3) Kehilangan sosiasi
4) Bicara tidak teratur
5) Perilaku kabar, bingung dan ganjil
6) Afek datar atau tidak sesuai
7) Gangguan kognitif
c. Skizofrenia katatonia
Gejala umum :
1) Gangguan psikomotor , seperti stupor, negativisme, rigiditas,
gairah, postur aneh
2) Mutisme (membisu)
3) Ekolalia (pemgulangan kata atau kalimat yang baru diucakan orang
lain)
4) Ekopraksia (meniru gerakan orang lain)
d. Skizofrenia tidak terinci
Gejala umum :
1) Waham
2) Halusinasi
3) Tidak koheren.
4) Perilaku tidak terorganisasi yang dapat digolongkan ke tipe lain
e. Skizofrenia Residual
Gejala umum :
1) Minimal mengalami satu episode skizofrenik dengan gejala
psikotik yang menonjol, diikuti oleh gajala laintanpa gejala
psikotik
2) Emosi tumpul
3) Menarik diri dari realita
4) Keyakinan aneh
5) Pengalaman persepsi tidak biasa
6) Perilaku eksentrik
7) Pemikiran tidak logis
8) Kehilangan asosiasi

5. TERAPI

5
Beberapa terapi yang dapat digunakan untuk menangani skizofrenia antara
lain :8
a. Terapi Perilaku
1) Fokuskan pada perilaku disfungsional dan cara untuk merubahnya
2) Ajarkan ketrampilan sosia, aktivitas sehari-hari dan ketrampilan
berkomunikasi
3) Gunakan sistem tanda penghargaan untuk menguatkan perilaku
yang diinginkan dengan memberikan penghargaan berupa hak-hak
khusus
b. Terapi Kelompok
1) Fokuskan pada ketrampilan kehidupan sehari-hari
2) Ajarkan cara-cara mengelola stressor lingkungan dan interpersonal
3) Beri interaksi yang bersifat mendukung dan langsung berinteraksi
dengan orang lain. Klien dapat belejar mendengar, bertanya, dan
memeberi umpan balik yang sesuai.
4) Sediakan tempat untuk mengekspresikan perasaan dan
membicarakan atau menyelesaikan masalah
5) Hadirkan kesempatan untuk memberi dan menerima dukungan
c. Terapi Keluarga
1) Fokuskan pada peningkatan pengetahuan tentang struktur dan
fungsi sistem keluarga
2) Bantu keluarga untuk bisa bersikap mendukung dan merawat klien
tanpa harus bersikap terlalu melindungi
3) Anjurkan kejujuran dalam mengekspresikan perasaan
4) Tingkatkan cara-cara untuk mengatasi perasaan negatif dan konflik
keluarga, dan koreksi komunikasi yang tidak sesuai dan distorsi
kejadian-kejadian negatif
5) Tingkatkan kemampuan untuk mengatasi gangguan jiwa kronis
6) Klarisikasi pembatasan dan peran anggota keluarga
7) Diskusikan kebutuhan untuk terlibat dalam berbagai kesempatan
interaksi sosial.

B. SKALA PENGUKURAN
1. SAPS (The Scale for the Assessment of Negative Symptoms)
SAPS merupakan instrumen pengkajian pelengkap yang digunakan untuk
menilai gejala positif pada klien yang mengalami gangguan skifofrenia.
SAPS terdisi dari 4 sub dengan jumlah total 34 pertanyaan. Empat sub
gejala postitif yang dinilai antara lain : halusinasi, delusi, perilaku yang

6
aneh dan gangguan pikiran formal. Semakin tinggi skor menandakan
semaik tinggi tingkat keparahan.

2. SANS (The Scale for the Assessment of Positive Symptoms)


SAPS merupakan instrumen pengkajian pelengkap yang digunakan untuk
menilai gejala negatif pada mereka yang mengalami gangguan skifofrenia.
SAPS terdisi dari 5 sub dengan jumlah total 25 pertanyaan. 4 Sub gejala
negatif yang dinilai antara lain : afek datar atau tumpul, alogia, apatis-
avolition, anhedonia-asociality dan perhatian.

3. BSI (The Brief Symptom Inventory)


BSI merupakan alat ukur yang digunakan untuk mengetahui gejala klinis
pada gangguan jiwa remaja dan dewasa. BSI terdiri dari 53 item
pertanyaan. Gejala yang dinilai menggunakan BSI antara lain : somatisme,
obsessive-compulsive (perilaku yang diulang-ulang), sensitivitas
interpersonal, depresi, kecemasan, permusuhan, kecemasan fobia,
paranoid dan psychoticism. Juga diukur tiga indeks global kesusahan:
indeks keparahan, indeks distress gejala positif , dan indeks total gejala
positif. saat ini atau masa lalu mengenai sitomatologi, intensitas gejala,
dan jumlah gejala yang dilaporkan, masing-masing. Semakin tinggi skor
BSI menunjukkan tingkat keparahan seseorang.

4. WHO-QOL (World Health Orga nization Quality of Life)


WHO-QOL merupakan kuesioner yang digunakan untuk mengukur
kualitas hidup seseorang. WHO-QOL terdiri dari 26 pertanyaan yang
terbagi dalam 4 domain besar dan 2 pertanyaan mengenai persepsi
seseorang. Semakin tinggi skor WHO-QOL menandakan semakin baik
kualitas hidup seseorang.

7
BAB III
TELAAH JURNAL

A. JUDUL DAN PENULIS


Jurnal utama yang digunakan dalam analisis jurnal ini adalah The Effects
Of Physical Exercises To Mental State And Quality Of Life In Patients With
Schizophrenia dari jurnal Psychiatric and Mental Health Nursing. Jurnal ini
diterbitkan pada tahun 2008.
Penulis jurnal adalah A. A. Acil Msn , S. Dogan P H D dan O. Dogan M.
D. Penulis-penulis tersebut tergabung dalam Departemen Psikiatri Facultas
Kedookteran, Universitas Cumhuriyet di Turki.

B. RINGKASAN PENELITIAN
1. Latar Belakang Penelitian

8
Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik mempengaruhi fungsi
fisik dengan cara yang positif, menurunkan risiko morbiditas dari banyak
penyakit, seperti penyakit koroner jantung, hipertensi, stroke, diabetes
mellitus tipe 2, kanker tertentu, osteoporosis, obesitas, dan juga memberikan
kontribusi positif. Selain itu meningkatkan status kesehatan mental terutama
memiliki efek positif pada depresi, kecemasan dan mental. latihan fisik
secara teratur memiliki efek positif pada gangguan kejiwaan seperti
gangguan kecemasan, depresi, skizofrenia, gangguan somatoform, demensia
dan penyalahgunaan zat.
Skizofrenia adalah gangguan yang ditandai dengan gejala kejiwaan
yang luas dan memiliki hasil jangka panjang yang buruk. Situasi ini dapat
menyebabkan buruk kualitas hidup (QOL) pasien skizofrenia. Orang
menderita skizofrenia standar yang lebih buruk daripada orang normal.
Dalam beberapa penelitian, telah ditentukan bahwa QOL pasien dengan
skizofrenia rendah dibandingkan orang normal.
Beberapa studi eksperimental tidak terkontrol menunjukkan bahwa
latihan fisik memiliki efek positif pada pasien dengan skizofrenia yaitu
penurunan gejala depresi, psikotik dan agitasi psikomotor tetapi
meningkatkan keterampilan sosial pasien dengan skizofrenia. Obat
antipsikotik yang biasa digunakan pasien skizofrenia dapat menurunkan
kekambuhan, tetapi tidak dapat mencegah kerusakan fungsi sosial. Selain
itu, obat antipsikotik memiliki banyak efek samping ekstrapiramidal.
Farmakologi membutuhkan waktu yanga lama dan biaya yang tinggi
sehingga dapat menyebabkan pasien tidak dapat menggunakan obat-obatan
tersebut secara rutin. Oleh sebab itu, peneliti tertarik untuk menggunakan
latihan fisik yang bersifat non farmakologi yang mudah diaplikasikan oleh
pasien sizofrenia dalam hubungannya dengan kualitas hidup.

2. Metode
a. Jenis
Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimental. Quasi
eksperimental ini merupakan penelitian yang memiliki banayak

9
keterbatasan. Dalam penenlitian ini tidak murni latihan fisik saja, tetapi
klien masih menggunakan farmakologi (obat psikotik).
b. Partisipan
Teknik pengambilan sampel yaitu random sampling. Random
sampling yaitu pemilihan secara acak, yang nantinya dibagi dalam 2
kelompok sampel. Sampel kemudian diukur sebelum dan sesudah
perlakuan menggunakan instrumen penelitian. Sampel dari penelitan ini
berjumlah 30 orang yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok
kontrol sejumlah 15 orang dan kelompok perlakuan sejumlah 15 orang.
Sampel yang digunakan yaitu pasien rawat jalan yang dipantau dari tahun
1992-2005 dan juga pasien rawat inap. Domisili dari pasien yaitu yang
berada di provinsi Sivas.

c. Instrumen
Uji validitas dan reliabilitas penelitian menggunakan Alfa
Cronbach memiliki nilai koefisiensi internal sebesar 0,93. Penelitian ini
menggunakan skala likert yang mencakup 5 subskala denga 25 item
pertanyaan, masing-masing pertanyaan memiliki rentang skore 0-5.
Subskala tersebut mencakup flatting afektif atau penumpulan, alogia,
avoliasi apatis, asosialitas anhedinia dan perhatian.total poin bervasriasi
dari 0- 125.
Skala untuk SAPS (Scale for the Assessment of Positive
Symptoms) digunakan untuk mengukur tingkatan dan distribusi gejala
positif dari pasien. Setelah dilakukan uji validitas dan reliabilitas
menggunakan Alfa Cronbach didapatkan hasil koefisiensi sebesar 0.82.
SAPS menggunakan skala likert dengan 4 subskala dan 31 item
pertanyaan yang mempunyai rentang skor 0-5. Subskala tersebut
mencakup delusi, halusinasi, perilaku aneh dan gangguan pikiran formal
positif, dan yang mempengaruhi. Total poin berkisar antara 0-170.
Pengukuran gejala psikiatrik pada pasien sebelum dan sesudah
progran latihan gerak menggunaka BSI (Brief Symptom Inventory) yang

10
memiliki nilai konsistensi 0,95. BSI menggunakan skala likert dengan
total 53 item pertanyaan dan 9 sub grup, memiliki rentang nilai 0-4.
Rentang skore nilai 0-212. Semakin tinggi nilai skor pasien berarti
semakin parah gejala skizofrenia yang dimiliki. Pengukuran kualitas
hidup menggunakan WHOQOL-BREF-TR (World Health Organization
Quality of Life Scale-Turkish Version) yang terdiri dari 26 item
pertanyaan. Pertanyaan tersebut terbagi dalam 4 domain besar :
kesehatan fisik, kesehatan psikologis, hungungan sosial dan lingkungan,
dan 2 pertanyaan tentang persepsi seseorang mengenai QOL (Quality Of
Life) secara umum. Nilai konsistensinya yaitu 0.86.

d. Prosedur
Lembar persetujuan dibagikan pada pasien sebelum melakukan
program latihan fisik. Latihan fisik ini diterapkan berkelompok pada
objek penelitian selama 10 minggu dengan frekuensi latihan 3 kali
seminggu dengan durasi latihan selama 40 menit/pertemuan. Program
latihan fisik ini dibuat oleh ahli pendidikan olah raga yang dipraktekkan
sendiri oleh pasien dalan kehidupan sehari-hari. Latihan aerobik
dilakukan selama 2 minggu pertama selama 25 menit/hari untuk proses
adaptasi pasien. Setiap kali latihan diawali dengan 10 menit latihan
kelenturan, kemudian dilanjutkan dengan 25 menit latihan aerobik, dan
diakhiri dengan 5 menit pendinginan. Denyut jantung pasien diukur saat
sebelum dan sesudah latihan.
e. Analisa data
Analisa statistik pada penelitian ini menggunaka Chi Square untuk
mengetahui perbandingan karakteristik pasien. Selain itu, digunakan uji
Wilcoxon kecocokan 2 sampel untuk menilai perbedaan antara skor rata-
rata pada pasien sebelum dan sesudah dilakukan latihan aerobik.

3. Hasil

11
Demografi dan karakteristik kesehatan dari kelompok kontrol dan
kelompok subjek adalah sama. Usia pasien berkisar antara 21-45 tahun, usia
rata-rata dari kelompok subjek adalah 32.06 tahun dan kelompok kontrol
adalah 32,66 tahun, dan dari kedua kelompok tersebut mayoritas yaitu 60%
berjenis kelamin laki-laki. Kelompok yang menganggur dari kelompok
subjek adalah 86,7% dan dari kelompok kontrol adalah 73,3%. Rata-rata
lamanya gangguan pada kelompok subjek adalah 10,93 tahun dan dari
pasien dalam kelompok kontrol adalah 9,60 tahun (P>0,05). 80 % pasien
pada kelompok subjek dan 93,7% pasien pada kelompok kontrol tetap
mengkonsumsi obat secara teratur (P>0,05).
Pada kelompok subjek, rata-rata poin SAPS secara keseluruhan saat
sebelum program latihan adalah 18,20 dengan standar deviasi 11.79 dan
setelah 10 minggu program latihan rata-rata poin SAPS secara keseluruhan
menjadi 11.20 dengan standar deviasi 8.02, sehingga terdapat perbedaan
antara nilai-nilai tersebut secara statistik signifikan (P <0,05). Di sisi lain,
pada kelompok kontrol, ditemukan poin SAPS secara keseluruhan saat
sebelum program latihan adalah 16.46 dengan standar deviasi 18.55 dan
setelah 10 minggu program latihan rata-rata menjadi 15,46 dengan standar
deviasi 11.31, dan dinyatakan bahwa perbedaan antara nilai-nilai tersebut
secara statistik tidak signifikan (P> 0,05). Sebagai hasil dari perbandingan
yang dilakukan pada SAPS pada kelompok subjek dengan sebelum dan
sesudah dilakukannya program latihan selama 10 minggu, ditemukan bahwa
ilusi, delirium, halusinasi menunjukkan penurunan signifikan secara statistik
(P <0,05), dan ditemukan pula bahwa rata-rata poin pada perilaku aneh dan
penurunan cara berfikir yang positif tidak menunjukkan perbedaan yang
signifikan setelah latihan (P> 0,05). Namun, pada kelompok kontrol juga
tidak ada perbedaan yang signifikan yang ditemukan di dalam rata-rata poin
dalam subkelompok dari kelompok kontrol (P> 0,05) (Tabel 1).
Pada SANS di rata-rata poin secara keseluruhan pada kelompok
subjek saat sebelum dilakukan program latihan adalah 25,60 dengan standar
deviasi 17.25, dan setelah program latihan selama 10 minggu menjadi 15.20

12
dengan standar deviasi 12.28 sehingga tidak terdapat perbedaan secara
statistik signifikan antara nilai-nilai tersebut (P <0,05). Di sisi lain, pada
kelompok kontrol, ditemukan poin SANS secara keseluruhan saat sebelum
program latihan adalah 32.20 dengan standar deviasi 17.70 dan setelah 10
minggu program latihan rata-rata menjadi 35.06 dengan standar deviasi
18.87, sehingga tidak terdapat perbedaan secara statistik signifikan antara
nilai-nilai tersebut (P <0,05). Penurunan signifikan secara statistik (P <0,05)
terjadi pada semua poin di subkelompok dari kelompok subjek yang
berhubungan dengan latihan fisik kecuali pada subkelompok poin alogia.
Namun, tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik untuk setiap
poin rata-rata subkelompok dari kelompok kontrol (P> 0,05) (Tabel 2).
Pada BSI di rata-rata poin secara keseluruhan pada kelompok subjek
saat sebelum dilakukan program latihan adalah 0.84 dengan standar deviasi
0.67, dan setelah program latihan selama 10 minggu menjadi 0.50 dengan
standar deviasi 0.45 sehingga terdapat perbedaan secara statistik signifikan
antara nilai-nilai tersebut (P <0,05). Di sisi lain, pada kelompok kontrol,
ditemukan poin BSI secara keseluruhan saat sebelum program latihan
adalah 0.78 dengan standar deviasi 0.75 dan setelah 10 minggu program
latihan rata-rata menjadi 0.98 dengan standar deviasi 1.32, sehingga terdapat
perbedaan, namun perbedaan antara nilai-nilai tersebut tidak dianggap
signifikan secara statistik (P> 0,05). Terkait dengan program latihan fisik,
terutama di somatisasi, sensitivitas interpersonal, gangguan kecemasan dan
subkelompok permusuhan, ditemukan penurunan yang signifikan secara
statistik ditemukan (P <0,05), namun, perbedaan dalam gangguan obsesif
kompulsif, depresi, kecemasan fobia, pikiran paranoid, psikosis, dan
tambahan item subkelompok tidak ditemukan signifikan secara statistik (P>
0,05). Perbedaan antara sub-sub kelompok dari kelompok kontrol yang
diperoleh sebelum dan sesudah program latihan tidak ditemukan signifikan
secara statistik (P> 0,05) (Tabel 3).
Di sisi lain, peningkatan ditemukan di WHOQOL-Bref-TR
subkelompok dari kelompok subjek setelah program latihan selama 10

13
minggu dan peningkatan signifikan secara statistik ditemukan terutama di
poin wilayah fisik dan mental dalam kaitannya dengan latihan fisik (P
<0,05), namun, kenaikan poin rata-rata mereka di bidang sosial, lingkungan
dan budaya tidak ditemukan signifikan secara statistik (P> 0,05). Hal ini
berarti perbedaan dalam WHOQOL-Bref-TR subkelompok dari kelompok
kontrol sebelum dan sesudah program tidak ditemukan signifikan secara
statistik (P> 0,05) (Tabel 3).

4. Diskusi
Data penelitian menunjukkan bahwa seluruh poin pada SAPS, ilusi
dan subkelompok halusinasi subjek penelitian menurun setelah aplikasi
latihan fisik selama 10 minggu. Dalam beberapa penelitian, terjadi
penurunan terhadap halusinasi visual, tetapi adanya juga peningkatan
kehormatan diri pribadi dan peningkatan kualitas tidur pada pasien dengan
skizofrenia, selain itu terdapat juga peningkatan keseluruhan perilaku yang
diamati pada akhir program.
Dalam penelitian ditemukan bahwa rata-rata keseluruhan poin
menurun setelah program 10 minggu latihan fisik kecuali pada subkelompok
alogia yang mencerminkan penurunan berpikir. Chamove menyatakan
bahwa, setelah latihan fisik secara teratur yang diterapkan oleh pasien
skizofrenia, gejala negatif skizofrenia seperti kelainan gerakan tubuh, lekas
marah, suasana hati depresi, keterbelakangan dan sifat psikotik mengalami
penurunan. Manfaat lain yaitu meningkatnya keterampilan bersosialisasi
pada klien.
Di sisi lain, tidak ada penurunan yang signifikan dalam subkelompok
alogia setelah dilakukan program latihan fisik selama 10 minggu fisik (P>
0,05). Alogia berkaitan dengan fungsi kognitif, yang menggambarkan
penurunan dalam pemikiran, gangguan kelancaran verbal dan produktivitas.
Beberapa penelitian menyelidiki efek dari latihan fisik pada pasien

14
skizofrenia menekankan bahwa latihan fisik tidak berpengaruh pada fungsi
kognitif.
Menurut penelitian, latihan aerobik dapat meningkatkan
kesejahteraan secara menyeluruh, aktivitas fisik, kepercayaan diri dan
konsentrasi pada pasien dengan skizofrenia. Fakta ini dapat dianggap
sebagai proses latihan dan partisipasi pasien yang memiliki gangguan
hubungan sosial.
Pada skizofrenia, faktor stres internal dan eksternal, norma-norma
sosial dan keluarga memiliki kendali dalam menyebabkan kecemasan.
Daley mengatakan bahwa aktivitas fisik secara teratur dilakukan oleh pasien
dengan skizofrenia membuat mereka menjauh dari rangsangan stres dengan
mengalihkan perhatian mereka terhadap stresor.
Pada klien skizofrenia terdapat rasa kecurigaan yang berlebihan yang
menimbulkan kurangnya kepercayaan terhadap orang yang berada di
sekitarnya, akibatnya klien mengisolasi diri dari lingkungan sosial. Hal
tersebut dapat mengarahan klien ke perilaku kekerasan. Taylor et al.
menyatakan bahwa latihan fisik meredakan kemarahan akut dan membantu
mereka untuk mentolerir, perasaan marah menjadi tertekan.
Dalam penelitian terjadi penurunan pada poin somatisasi. Fakta
menunjukkan bahwa titik somatisasi pasien menurun setelah latihan fisik
yang menghasilkan peningkatan kemampuan mereka untuk
mengekspresikan diri secara verbal yang lebih baik. Peningkatan
WHOQOL-Bref-TR subkelompok subjek ditentukan setelah program
latihan fisik. Dalam literatur, dinyatakan bahwa aktivitas fisik dan latihan
fisik secara teratur meningkatkan kualitas hidup pasien dengan skizofrenia
mental dan psikologis. Latihan fisik dapat membantu pasien skizofrenia
dengan cara mengurangi gangguan kognitif, kecemasan, depresi dan
meningkatkan rasa percaya diri. Selain itu, kualitas hidup pasien dapat
meningkat dengan mengatur kondisi lingkungan.
Program latihan fisik yang diterapkan oleh pasien skizofrenia dalam
10 minggu dengan durasi setiap sesi 40 menit/hari, memberikan dampak
positif dan meningkatkan kualitas hidup pada pasien skizofrenia. Program

15
latihan memberikan peningkatan yang signifikan yang terdiri dari aktivitas
fisik secara keseluruhan dan domain mental yang terdiri dari emosi, fungsi
kognitif dan perilaku (P <0,05). Fakta ini juga diamati dalam SAPS mereka,
SANS dan BSI yang mencerminkan gejala gangguan. Namun, faktor
eksternal yang terdiri dari faktor sosial, lingkungan dan budaya QOL
merupakan faktor-faktor eksternal yang berada di luar kendali individu.
Latihan fisik membuat kontribusi positif bagi kualitas hidup pasien
skizofrenia, dan dalam kasus ini digunakan pendekatan pengobatan lainnya
yaitu farmakologis dan psikososial, hal ini dapat menyebabkan perbaikan
mental yang jauh lebih signifikan. Setelah program latihan fisik, seluruh
peserta telah menyatakan bahwa mereka merasa lebih santai, tidak
terganggu, kuat dan sehat. Beberapa dari responden telah menyatakan
bahwa mereka telah lebih aktif dalam kegiatan sehari-hari dalam perawatan
diri. Pada penelitian ini, faktor farmakologi belum diperhatikan dalam
hubungannya mempengaruhi kualitas hidup pada pasien skizofrenia.

5. Kesimpulan
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa penerapan latihan fisik
rutin pada pasien skizofrenia merupakan intervensi nonfarmakoligis yang
berguna untuk meningkatkan kesehatan mental dan kualitas hidup. Perawat
memiliki peran aktif melalui pendekatan terpadu dalam mencegah
gangguan, pemberian obat dan rehabilitasi. Program latihan fisik merupakan
program baru yang murah , mudah dan efektif dan dapat dilakukan baik di
dalam rumah sakit maupun setelah pasien keluar dari rumah sakit. Latihan
fisik yang cukup juga merupakan alternatif yang secara signifikan
mendukung terapi. Untuk itu, latihan fisik dalam kasus seperti ini dapat
diintegrasikan dengan metode pengobatan klasik untuk meningkatkan
kesehatan mental dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Peserta dalam
penelitian ini sangat terbatas sehingga sulit untuk di generalisasikan. Waktu
yang digunakan dalam penelitian ini juga singkat dan belum diteliti
mengenai efek jangka panjang dari latihan fisik. Sehingga untuk penelitian

16
lebih lanjut dapat meneliti mengenai efek jangka panjang dan dengan
peserta yang lebih besar lagi.

BAB IV
PEMBAHASAN

A. ANALISIS JURNAL
Pada jurnal berjudul The Effects Of Physical Exercises To Mental State
And Quality Of Life In Patients With Schizophrenia berasal dari jurnal
Psychiatric and Mental Health Nursing menyebutkan bahwa terjadi
penurunan terhadap SANS, SAPS dan BSI. Latihan fisik juga meningkatkan
kualitas hidup klien skizofrenia yang diukur dengan WHOQOL.
Jumlah sampling yang digunakan yaitu sejumlah 30 orang yang dibagi
menjadi 2 kelompok 15 orang kelompok kontrol, dan 15 orang kelompok
perlakuan. Pada semua responden terapi farmakologi tetap berjalan baik pada
kelompok kontrol maupun kelompok perlakuan dan semua peserta sudah
mengikuti psikoterapi. Pada latihan fisik yang diterapkan yaitu 10 minggu
dengan frekuensi 3 hari/minggu selama 40 menit. Durasi waktu yang
digunakan untuk latihan digunakan waktu yang bertahap pada 2 minggu
pertama dilakukan selama 25 menit, dengan tujuan proses adaptasi.
Pada skizofrenia terdapat 2 gejala, yaitu gejala positif dan gejala
negatif. Gejala positif berfokus pada distorsi fungsi normal seperti waham,
halusinasi, bicara tidak teratur, dan kekacauan menyeluruh dan perilaku
katatonia. Gejala negatif skizofrenia mengindikasikan hilangnya fungsi
normal, meliputi pendataran afektif( tumpul, datar, atau tidak serasi),

17
alogia(miskin pembicaraan) dan avolisi (kurang perilaku inisiatif diri).7 Pada
skala SANS, terdapat penurunan pada subkelompok alogia dengan hasil
P>0,05. Alogia berkaitan dengan fungsi kognitif, yang menggambarkan
penurunan dalam pemikiran, gangguan kelancaran verbal dan produktivitas.9
Beberapa penelitian menyelidiki efek dari latihan fisik pada pasien
skizofrenia menekankan bahwa latihan fisik tidak berpengaruh pada fungsi
kognitif. Pada WHOQOL tidak terjadi kenaikan pada poin sosial, lingkungan
dan juga budaya dikarenakan hal tersebut merupakan faktor eksternal, yang
berada di luar kendali individu. Faktor internal dari poin WHOQOL
meningkat yaitu pada poin fisik dan mental.
Hasil jurnal yang aplikatif dapat dengan mudah diterapkan oleh di
rumah sakit maupun di rumah. Latihan fisik di rumah sakit sebenarnya sudah
ada hanya saja dalam penerapannya belum optimal. Latihan fisik yang
diterapkan klien setiap pagi hanya gerakan pemanasan saja. Penerapan jurnal
ini juga dapat dijadikan discharge planning, sebagai tindak lanjut dari latihan
fisik yang sudah diterapkan di rumah sakit. Latihan fisik ini mudah
diterapkan oleh klien dan tidak membutuhkan biaya.

B. KELEBIHAN JURNAL

Melalui jurnal ini, pembaca dapat mengetahui pengaruh dari latihan fisik
terhadap kualitas hidup pada pasien skizofrenia. Penerapan latihan fisik ini
mudah diaplikasikan oleh pasien, baik ketika pasien berada di rumah sakit
ataupun ketika pasien sudah pulang. Latihan fisik ini juga murah karena
bersifat non farmakologi, sehingga dapat diaplikasikan oleh berbagai
golongan ekonomi. Pada jurnal ini menonjolkan fungsi peran perawat dalam
tindakan preventif dan rehabilitatif. Perawat yang berada di lingkungan ruang
rawat inap bertugas dalam tindakan kuratif, yaitu perawat secara aktif
memotivasi klien untuk mengikuti latihan fisik. Program latihan fisik ini
dapat dijadikan jadwal kegiatan rutin klien.

18
C. KEKURANGAN JURNAL

Penelitian ini tidak murni mengetahui pengaruh latihan fisik pada


kualitas hidup pada pasien skizofrenia, karena selain latihan fisik responden
juga tetap menjalani pengobatan. Perlu dilakukan penelitian multidimensi
terhadap farmakologi dan latihan fisik yang diterapkan dalam mempengaruhi
kualitas hidup pasien skizofrenia. Pada jurnal tidak dipaparkan gerakan
senam aerobik yang digunakan, sehingga dalam penerapan tidak sesuai
dengan penelitian.

BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Latihan fisik mampu meningkatkan kualitas hidup pasien skizofrenia,
peningkatan hanya terjadi pada faktor internal klien yaitu fisik dan mental.
Pada faktor eksternal klien seperti aspek sosial, lingkungan dan juga
budaya tidak terjadi penurunan. Adanya penurunan pada skala SAPS,
SANS dan BSI.
B. SARAN
1. Perawat
Perawat harus mampu dan aktif terlibat dalam memberikan pelayanan
kesehatan mental secara optimal pada pasien, dan membekali diri
dengan ketrampilan yang inovatif yang dapat diaplikasikan pada
pasien dalam pelayanan di rumah sakit jiwa dan memberikan nilai
positif bagi rumah sakit serta dampak kesembuhan yang lebih cepat
bagi pasien. Perawat terlibata aktif dalam mengoptimalkan latihan fisik
yang sudah ada.
2. Rumah Sakit
Rumah sakit perlu peningkatan dalam mengupdate ilmu-ilmu kejiwaan
terbaru dan mampu mengambil nilai positif dari penelitian-penelitian
yang ada. Penelitian-penelitian terbaru mampu mendorong terciptanya
kualitas rumah sakit jiwa yang lebih prima dan optimal, selain itu hasil

19
penelitian yang aplikatif dapat diterapkan sebagai intervensi yang
menunjang pelayanan.

DAFTAR PUSTAKA

Arif, L.S. Skizofrenia, Memahami Dinamika Keluarga Pasien. Jakarta:


Penerbit Refika Aditama.2006
Yosep, Iyup. Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika Aditama. 2009.
Rasmun. Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi Dengan
Keluarga Untuk Perawat Dan Mahasiswa Keperawatan. Jakarta:
penerbit CV Sagung Seto.2001.
Hawari D. Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa Skizofrenia. Jakarta :
balai penerbit FKUI. 2006.
Isaac, A. 2005. Panduan Belajar Keperawatan Kesehatan Jiwa Dan
Psikiatrik. Edisi 3. Jakarta : EGC.2005.
Videbeck, Sheila L. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC . 2008
Direja, Ade. Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : Nuha Medika. 2011
Akemat. Kesehatan Jiwa dan Psikiatri : Pedoman Klinis Perawat. Jakarta :
EGC. 2007
Andreasen N.C. & Black D.W. Introductory Textbook of Psychiatry. Edisi 3.
American Psychiatric Publishing, Washington, DC.2001.

20