Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KASUS ANESTESI

TURP

Pembimbing :

dr. Riza M. Farid, Sp.An

dr. Asep Hendradiana, Sp.An, KIC, M.Kes

dr. Sonny Tresnadi, Sp.An

dr. Muhammad Naufal, Sp.An

dr. Nini Memen, Sp.An

Disusun oleh :

Rizkie Arianti Putri Noor

Sasadara Pramudita

Selly Spadyani

KEPANITERAAN KLINIK ILMU ANESTESI

Rumah Sakit Bhayangkara Tk. I Raden Said Sukanto

Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

1
BAB I

Laporan Kasus

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. MY
Umur : 72 tahun
Agama : Islam
Suku : Indonesia
Pekerjaan : Pensiunan
Tanggal masuk rumah sakit : 25 Januari 2017
Tanggal Pemeriksaan : 26 Januari 2017

II. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan dengan autoanamnesa pada tanggal 26 Januari 2017 di
Ruang Operasi RS POLRI Raden Sukanto Jakarta Timur.
Keluhan Utama : nyeri saat BAK
Keluhan Tambahan :-
Riwayat Penyakit Sekarang:
Seorang laki-laki berusia 72 tahun datang ke IGD RS POLRI dengan
keluhan nyeri saat buang air kecil kurang lebih 1 bulan. Pasien mengaku nyeri
dirasakan sekitar satu minggu terakhir, tetapi sebelumnya pasien memiliki
riwayat pembesaran prostat dan dioperasi.

Riwayat Penyakit Dahulu :


- Hipertensi (-)
- DM (-)
- Asma (-)

Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak memiliki riwayat penyakit keluarga
Riwayat Alergi:
Pasien tidak memiliki riwayat alergi obat

Riwayat Operasi :
Riwayat operasi prostat tahun 2014

III. PEMERIKSAAN FISIK


Diperoleh dari rekam medik :

2
- Keadaan umum : Tampak Sakit Sedang
- Status Kesadaran : Compos Mentis
- Kesadaran : GCS:15 (E :4 M: 6 V:5 )
- Tekanan darah : 130/80 mmHg
- Nadi : 70x / menit
- Suhu : 36,0 C
- RR : 21 x/menit
- Berat badan : 65 kg
- Tinggi badan : 170 cm

KEPALA
- Tidak terdapat deformitas
- Penyebaran rambut pasien merata, terdapat kebotakan
- Kekuatan rambut pasien masih kuat,tidak mudah rontok

MATA :
- Konjungtiva tidak pucat
- Sklera tidak ikterik
- Gerakan bola mata mengikuti arah cahaya
- Respon pupil kanan dan kiri terhadap cahaya baik.
HIDUNG :
- Hidung simetris kiri-kanan
- Lubang hidung tidak tampak ada sekret

TELINGA :
- Daun telinga simetris kiri-kanan
- Fungsi pendengaran normal
- Liang telinga bersih, tidak terdapat serumen
MULUT :
- Mukosa tidak tampak kering
- Tidak terlihat adanya pembesaran pada tonsil
- Terapat luka vulnus laceratum di bibir bagian atas sepanjang 3 cm
LEHER : - Tidak teraba pembesaran kelenjar limfe dan
kelenjar tiroid
- Tidak terlihat deviasi trakea
THORAX
INSPEKSI : - Bentuk thorax normal,tidak tampak kelainan
- Gerakan dada kanan-kiri simetris
PALPASI : - Tidak teraba pelebaran sela iga
- Tidak teraba deviasi trakea
- Ekspansi paru normal
- Vocal fremitus kanan-kiri sama normal
PERKUSI : - Perkusi pada paru didapatkan sonor pada
semua lapangan paru
- Batas paru hati terdapat di Intercostal V

AUSKULTASI : - Suara nafas: vesiculer di seluruh lapang paru

3
- Suara jantung : normal, tidak terdengar bunyi murmur atau suara jantung
tambahan
ABDOMEN
INSPEKSI : - Permukaan abdomen buncit. Tidak
terdapat lesi.
PALPASI : - Tidak teraba pembesaran hati dan spleen
PERKUSI : - Bunyi timpani pada seluruh lapang abdomen
AUSKULTASI : - Bising usus (+) normal,4x/min

GENITOURINARIA
Palpasi: Kandung kemih tidak teraba
Colok dubur: Tidak dilakukan

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Lab. Tanggal 25 Januari 2017


- Hemoglobin : 14.1 g/dl
- Leukosit : 9.400 u/l
- Hematokrit : 43 %
- Trombosit : 345.000/ul
- Ureum : 39 mg/dl
- Creatinin : 1.3 mg/dl
- GDS : 150 mg/dl

V. Laporan operasi
- Dokter ahli bedah: dr. Lutfi Bagus Sp.U
- Asisten: Zr. Tarida
- Ahli anestesi: dr. Asep Hendradiana Sp.An, KIC, M.Kes
- Perawat: Br . Agus
- Jenis anestesi: Spinal
- Diagnosis pre-op: BPH
- Tanggal operasi: 27 Januari 2017
- Jam mulai: 10.00
- Jam selesai: 11.00
- Lama operasi: 1 jam

Laporan operasi:

4
Pasien posisi litotomi dalam spinal anestesi,
Asepsis dan antisepsis daerah operasi,
Dilakukan sistoskopi dengan lensa 30,
Batu (-), tumor (-), prostat menonjol, kissing lobe (+),
Dilakukan TURP, keluar +/- 20 gr,
Perdarahan di koagulasi,
Operasi selesai.

Laporan anestesi operasi


- Ahli anestesi: dr. Asep Hendradiana Sp.An, KIC, M.Kes
- Dokter ahli bedah: dr. Lutfi Bagus Sp.U
- Asisten: Zr. Tarida
- Perawat: Br. Agus
- Jenis anestesi: Spinal Anestesi
- Diagnosis pre-op: BPH
- Nama Operasi : TURP
- Cairan : RL 1000cc
- Tanggal operasi: 27 Januari 2016
- Jam mulai: 10.00
- Jam selesai: 11.00
- Lama operasi: 1 jam

Secondary Survey :
Breathing : Vesikuler, Rhonki (+/-), Wheezing (-/-)
GCS : E4 V:5 M 6, pupil isokor. Reflex cahaya (+/+)

Persiapan Operasi
- Surat izin Operasi
- Puasa 6-8 jam sebelum operasi
- Tidak memakai perhiasan/kosmetik
- Tidak ada gigi palsu
- Memakai baju khusus kamar bedah.

VI. Laporan Anestesi


Anastesi: Spinal Anasthesi.
Medikasi:
Regivell 20 mg
Asam traneksamat 100 mg

5
Tramadol 100 mg
Metoclopramid 10 mg

VII. DIAGNOSIS
Pasien laki-laki berusia 72 tahun dengan BPH.

VIII. PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia ad Bonam
Quo ad functionam : dubia ad Bonam
Quo ad sanantionam : dubia ad Bonam

BAB 2
Landasan Teori

Trans ureteral Resection Of Prostate (TURP) merupakan operasi yang paling


sering dilakukan kedua setelah katarak pada pria diatas 65 tahun. Perkembangan teknologi
yang begitu pesat telah membuat seorang urologist dapat mencapai berbagai sudut dari
sitem urinary dengan hanya menimbulkan trauma yang minimal pada pasien. Prosedur
endoskopi pada system urinary memerlukan fungsi cairan irigasi yang secara baik
mendilusikan ruang mukosa, darah , jaringan ikat tertentu dan debris dari lapang pandang
operasi dan memberikan pandangan yang lebih baik. Berbagai cara telah dilakukan oleh
urologist untuk dapat mengerti dan mencegah berbagai komplikasi yang berasal dari

6
prosedur endoskopi, namun ternyata insidensi terjadinya komplikasi masih meningkat dan
menghantui pada urologist. Kegagalan pada system saraf pusat, system kardivaskular
selam dilakukanya TURP dikatakan sebagai sindroam TURP. 2.5-20% pasien yang
melakukan prosedur TURP mengalami sindorma TURP dan sebagian kecil meninggal
dalam keadaan intraoperasi (Moorthy, 2001).

Pada Operasi TURP dari segi anesthesiology dapat dikerjakan secara anestesi
umum dan anestesi local tertentu. Masing-masing pendekatan memiliki keuntungan dan
kekurangan tertentu. Pada berbagai Negara maju telah menjadi sebuah kesepakatan bahwa
dalam tindakan operative TURP yang digunakan adalah anestesi local yaitu anestesi spinal.
Inggris melakukan tindakan anestesi spinal pada 75% kasus TURP, Karen secra teoritis hal
ini meliki keuntungan seperti pendeteksian dini pada sindroma TURP. Keputusan akan
pemberian anestesi sangatlah bergantung dair keadaan pasien dan pendekatan
anesthesiologist dan urologist.

A. Anestesi Spinal
Anestesi spinal didapatkan dengan menyuntikkan obat anestesi local

secara langsung ke dalam cairan cerebrospinal di dalam ruang subarachnoid.

Jarum spinal diinsersikan di bawah lumbal 2 dan di atas vertebra sakralis 1.

Batas ini dikarenkan adanya ujung medulla spinalis dan batas bawah

dikarenakan penyatuan vertebra sakralis yang tidak mungkin dilakukan insersi

(Soenarjo et al, 2013).


Tingkat keberhasilan teknik spinalis ditentukan oleh banyak faktor,

diantaranya dosis obat, volume, posisi pasien serta komplikasi yang mungkin

ditimbulkan. Efek yang ditimbulkan bisa berkaitan dengan farmakologis obat,

fisiologis tubuh, teknik, dan peralatan yang digunakan, terutama jarum spinal

(Sutiyono et Winarno, 2009)


1. Teknik anestesi
a. Persiapan
1) Monitor standar, seperti EKG, tekanan darah, pulse oksimetri.
2) Obat dan alat resusitasi, seperti oksigen, bagging, suction, dan set

intubasi.
3) Sarung tangan dan masker steril.
4) Perlengkapan desinfeksi dan duk steril.

7
5) Obat anestesi local untuk anestesi spinal dan untuk infiltrasi local

kulit dan jaringan subkutan.


6) Syringe, kateter, dan jarum spinal.
7) Kasa penutup steril.
b. Pengaturan posisi pasien
Terdapat dua posisi pasien yang memungkinkan dilakukannya insersi

jarum, yaitu posisi lateral dengan lutut ditekuk ke perut dan dagu ditekuk

ke dada. Posisi lainnya adalah posisi duduk flesi dimana pasien duduk

pada pinggir troli dengan lutut diganjal bantal. Posisi fleksi akan

membantu identifikasi prosesus spinosus dan memperlebar celah

vertebra sehingga dapat mempermudah akses ruang epidural (Soenarjo

et al, 2013).
2. Teknik insersi anestesi spinal
Anestesi spinal menggunakan jarum spinal ukuran 22-29 dengan Pencil

Point atau Tappered Point. Insersi dilakukan dengan menyuntikkan jarum

sampai ujung jarum mencapai ruang subarachnoid yang ditandai dengan

keluarnya cairan cerebrospinal. Pemakaian jarum dengan diameter kecil

bertujuan untuk mengurangi keluhan nyeri kepala pasca pungsi dura (PDPH)

(Soenarjo et al, 2013).


3. Efek samping
1) Hipotensi.
2) Bradikasrdi.
3) Hematome.
4) Luka pada tempat tusukan.
5) Perdarahan.
6) Infeksi.
7) Trauma medulla spinalis.
8) Nyeri kepala pasca anestei spinal.
(Sutiyono et Winarno, 2009)
B. Transuretral Resection of Prostat (TURP)
1. Definisi
TURP merupakan sebuah operasi reseksi kelenjar prostat yang dilakukan

transurethral dengan menggunakan cairan irigan (pembilas) yang

dimaksudkan menghilangkan hyperplasia prostat yang menekan uretra.

Operasi ini perlu dilakukan pada pasien Benigna Prostat Hiperplasia, karena

8
dapat menyebabkan penekanan pada uretra yang dapat menyebabkan

penyumbatan yang pada akhirnya dapat menimbulkan hidronefrosis, dan

gagal ginjal (Purnomo, 2011).


Anestesi spinal digunakan pada operasi TURP dengan sedasi, sebuah

citoscope yang dimasukkan melalui uretra sampai ke bladder, kemudian

bladder diisi dengan solution sehingga memudahkan operator memeriksa

bagian dari prostat yang membesar, kemudian dimasukkan surgical loop

melalui citoscope untuk meremove bagian yang membesar, dan kateter akan

dibiarkan sampai beberapa hari. Observasi kesadaran, vital sign, perdarahan,

produksi urine. (Purnomo, 2011).


2. Klasifikasi BPH
a. Early BPH

Bladder

Uretra

Enlargement of the
prostate starts to
constrict the uretra

b. Moderate BPH

Urethra
become
narrowed

c. Severe BPH

9
Urethra urethra
almost

Completely
obstructed
Thickened bladder wall
due to obstruction of

Urethra urethra

(Davied et al, 2005)

3. Indikasi dilakukan TURP


a. Meningkatnya frekuensi buang air kecil.
b. Kesulitan memulai buang air kecil.
c. Aliran urin melambat.
d. Berhenti sebentar di tengah aliran.
e. Dribbling setelah urination.
f. Tiba-tiba ada keinginan kuat untuk BAK.
g. Perasaan tidak puas di akhir DAK
h. Nyeri selama BAK.
i. Retensi urin.
j. Batu vesica urinaria.
4. Preoperasi
a. Harus diinformasikan tentang kondisi kesehatan, apakah punya

riwayat penyakit seperti hipertensi, diabetes, anemia, alergi, atau

riwayat operasi sebelumnya.


b. Bila menggunakan obat seperti aspirin dan ibuprofen maka harus

berhenti palint tidak 2 minggu sebelum operasi untuk menghindari

gangguan proses penyembuhan.


c. Pemeriksaan darah rutin.
d. Puasa paling tidak 6-8 jam sebelum operasi dilakukan.
e. Bila seorang perokok, maka harus berhenti merokok beberapa

minggu sebelum operasi untuk menghindari gangguan proses

penyembuhan.
(Davies et al, 2005)

C. Anestesi Spinal pada TURP

Pasien yang menjalani TURP biasanya pada usia lanjut dan sering
disertai dengan penyakit jantung, paru, atau lainnya sehingga penting untuk

10
membatasi level blok untuk mengurangi efek cardiopulmonary yang merugikan
pada pasien tersebut. Penggunaan anastesi local dengan dosis yang lebih kecil
memberikan beberapa keuntungan misalnya hipotensi tidak terjadi karena tidak
memblok serabut saraf simpatik di daerah atas serta memperkecil resiko
timbulnya toksisitas sistemik obat anastesi local (Yang, 2009). TURP dengan
menggunakan anestesia regional tanpa sedasi ( Awake TURP ) lebih dipilih
daripada anestesia umum karena hal berikut :
1. Manifestasi awal dari Sindrom TURP lebih bisa dideteksi pada pasien
yang sadar
2. Vasodilatasi periferal berfungsi untuk membantu meminimalisir
overload sirkulasi.
3. Komplikasi hiponatremi akibat tertariknya Na+ oleh air irrigator dapat
cepat dikenali dengan adanya penurunan kesadaran, mual, kejang.
4. Kehilangan darah akan lebih sedikit.

1. Persiapan Pasien
Pasien sebelumnya diberi informasi tentang tindakan ini (informed

concent) meliputi pentingnya tindakan ini dan komplikasi yang mungkin

terjadi. Pemeriksaan fisis dilakukan meliputi daerah kulit tempat

penyuntikan untuk menyingkirkan adanya kontraindikasi seperti infeksi.

Perhatikan juga adanya skoliosis atau kifosis. Pemeriksaan laboratorium

yang perlu dilakukan adalah penilaian hematokrit. Masa protrombin (PT)

dan masa tromboplastin parsial (PTT) dilakukan bila diduga terdapat

gangguan pembekuan darah. Kunjungan praoperasi dapat menenangkan

pasien. Dapat dipertimbangkan pemberian obat premedikasi agar tindakan

anestesi dan operasi lebih lancar. Namun, premedikasi tidak berguna bila

diberikan pada waktu yang tidak tepat (Soenarjo, et al., 2013).


2. Perlengkapan
Tindakan anestesi spinal harus diberikan dengan persiapan perlengkapan

operasi yang lengkap untuk monitor pasien, pemberian anestesi umum, dan

tindakan resusitasi. Jarum spinal dan obat anestetik spinal disiapkan. Jarum

spinal memiliki permukaan yang rata dengan stilet di dalam lumennya dan

ukuran 16-G sampai dengan 30-G. Obat anestetik lokal yang digunakan

adalah prokain, tetrakain, lidokain, atau bupivakain. Berat jenis obat

11
anestetik lokal mempengaruhi aliran obat dan perluasan daerah yang

teranestesi.
Pada anestesi spinal jika berat jenis obat lebih besar dari berat jenis

cairan serebrospinal (hiperbarik), akan terjadi perpindahan obat ke dasar

akibat gaya gravitasi. Jika lebih kecil (hipobarik), obat akan berpindah dari

area penyuntikan ke atas. Bila sama (isobarik), obat akan berada di tingkat

yang sama di tempat penyuntikan. Pada suhu 37C cairan serebrospinal

memiliki beratjenis 1,003-1,008. Perlengkapan lain berupa kain kasa steril,

povidon iodine, alkohol (Yang, 2009).


3. Jenis jarum Spinal
Dikenal 2 macam jarum spinal, yaitu jenis yang ujungnya runcing seperti

ujung bambu runcing (jenis Quinke-Babcock atau Greene) dan jenis yang

ujungnya seperti ujung pensil (Whitacre). Ujung pensil banyak digunakan

karena jarang menyebabkan nyeri kepala pasca penyuntikan spinal (Yang,

2009).
4. Obat- Obat yang Dipakai sebagai Obat Premedikasi

Narkotik Analgetik

Dosis :

Papaveratum : 0,3 mg/Kg


Pethidin : 50-100 mg/Kg
Phentanyl : 100 mcg
5. Obat yang dipakai untuk induksi spinal
Bupivacain, untuk anestesi spinal, dosis yangdigunakan adalah 7-15 mg

(larutan 0,75%).
6. Teknik Anestesi
Adapun tahapan spinal anestesi adalah (Soenarjo et al, 2013):
Teknik untuk melakukan anestesi spinal yaitu dengan posisi duduk atau

posisi tidur lateral dekubitus dengan tusukan pada garis tengah ialah posisi

yang paling sering dikerjakan. Biasanya dikerjakan di atas meja operasi

tanpa dipindah lagi dan hanya diperlukan sedikit perubahan posisi pasien.

12
Perubahan posisi berlebihan dalam 30 menit pertama akan menyebabkan

menyebarnya obat.

a. Setelah dimonitor, tidurkan pasien misalnya dalam posisi dekubitus


lateral atau dengan posisi duduk. Beri bantal kepala, selain enak untuk
pasien juga supaya tulang belakang stabil. Buat pasien membungkuk
maksimal agar prosesus spinosus mudah teraba. Posisi lain ialah duduk.
b. Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua Krista iliaka
dengan tulang punggung ialah L4 atau L4-5. Tentukan tempat tusukan
misalnya L2-3, L3-4, atau L4-5. Tusukan pada L1-2 atau di atasnya
berisiko trauma terhadap medulla spinalis.

c. Sterilkan tempat tusukan dengan betadin atau alcohol.

d. Beri anestetik lokal pada tempat tusukan. Untuk mencapai cairan


serebrospinalis, maka jatum suntik akan menembus : kulit subkutis
ligamentum supraspinosum ligamentum interspinosum
ligamentum flavum ruang epidural duramater ruang
subarachnoid.

e. Cara tusukan median atau paramedian. Untuk jarum spinal besar 22 G,


23 G atau 25 G dapat langsung digunakan. Sedangkan untuk yang kecil
27 G atau 29 G dianjurkan menggunakan penuntun jarum (introducer)
yaitu jarum suntik biasa semprit 10 cc. Tusukan introducer sedalam
kira-kira 2 cm agak sedikit ke arah sefal, kemudian masukkan jarum
spinal berikut mandrinnya ke lubang jarum tersebut. Jika menggunakan
jarum tajam irisan jarum haruis sejajar dengan dengan serat duramater
untuk menghindari kebocoran likuor yang dapat berakibat timbulnya
nyeri kepala pasca spinal. Setelah resistensi menghilang, mandarin
juarum spinal dicabut dan keluar likuor, pasang semprit berisi obat dan
obat dapat dimasukkan pelan-pelan (0.5 ml/detik) diselingi aspirasi
sedikit, hanya untuk meyakinkan posisi jarum tetap baik. Untuk BAB
anelgesi spinal kontinyu dapat dimasukkan kateter.

13
f. Posisi duduk sering dikerjakan untuk bedah perineal misalnya bedah
hemoroid dengan anestetik hiperbarik. Jarak kulit-ligamentum flavum
dewasa 6 cm.

7. Pengawasan selama berlangsungnya operasi


Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan selama berlangsungnya TURP

adalah gejala-gejala komplikasi yang dapat terjadi (Purnomo, 2011).

Komplikasi mayor yang dapat terjadi pada TURP adalah :


a. Pendarahan
Perdarahan pada TURP akan menimbulkan hipovolemia,

menyebabkankehilangan kemampuan mengangkut oksigen secara

signifikan sehingga bisa menuju iskemia myokardial dan infark

miokard. Kehilangan darah berkorelasi dengan ukuran kelenjar

prostatyang direseksi, lamanya pembedahan dan skill dari operator.

Rata-rata kehilangan darah saat TURP adalah 10ml/gram dari reseksi

prostat.
b. Sindrom TURP
Reseksi prostat transurethral sering membuka jaringan ekstensif

sinus vena pada prostat danmemungkinkan absorbsi sistemik dari

cairan irigasi. Absorbsi dari cairan dalam jumlah yang besar (2 liter

atau lebih) menghasilkan konstelasi gejala dan tanda yang disebut

dengan sindromTURP .
Manifestasi dari Sindrom TURP :
a) Hiponatremia
b) Hipoosmolaritas
c) Overload cairan
d) Gagal jantung kongestif
e) Edema paru
f) Hipotensi
g) Hemolisis
h) Keracunancairan
i) Hiperglisinemia
j) Hiperamonemia
k) Hiperglikemia
l) Ekspansi volume intravaskular

14
Sindrom TURP adalah satu dari komplikasi tersering

pembedahan endoskopi urologi. Insiden sindrom TURP mencapai

20% dan membawa angka mortalitas yang signifikan.

Walaupunterdapat peningkatan di bidang anestesi 2,5%-20 % pasien

yang mengalami TURP menunjukkansatu atau lebih gejala sindrom

TURP dan 0,5% - 5% diantaranya meninggal pada

waktu perioperatif. Angka mortalitas dari sindrom TURP ini sebesar

0,99%
Reseksi kelenjar prostate transuretra dilakukan dengan

mempergunakan cairan irigasi agar daerah yang di irigasi tetap

terang dan tidak tertutup oleh darah.

Syarat cairan yang dapat digunakan untuk TURP adalah:

isotonik, non-hemolitik, electrically inert , non-toksik, transparan,

mudah untuk disterilisasi dan tidak mahal. Akan tetapi sayangnya

cairan yang memenuhi syarat seperti di atas belumditemukan.Untuk

TURP biasanya menggunakan cairan nonelektrolit hipotonik sebagai

cairan irigasi seperti air steril, Glisin 1,5%(230 mOsm/L), atau

campuran Sorbitol 2,7% dengan Mannitol 0,54% (230 Osm/L).

Cairan yang boleh juga dipakai tapi jarang digunakan adalah Sorbitol

3,3%,Mannitol 3%, Dekstrosa 2,5-4% dan Urea 1%.


1) Hipovolemi, Hipotensi
Tanda hemodinamika klasik dari Sindrom TURP, ketika glisin

digunakan sebagai cairan irigasi,terdiri dari transient arterial

hipertension, yang bisa tidak muncul jika pendarahan berlebihan,

diikuti dengan perpanjangan hipertensi. Pelepasan substansi jaringan

prostatik danendotoksin menuju sirkulasi dan asidosis mtabolik yang

bisa berkontribusi terhadap hipotensi

15
2) Gangguan Penglihatan
Salah satu komplikasi dari Sindrom TURP adalah kebutaan

sementara, pandangan berkabut, danmelihat lingkaran disekitar

objek. Pupil menjadi dilatasi dan tidak merespons. Lensa

matanormal. Gejala bisa muncul bersamaan dengan gejala lain dari

Sindom TURP atau bisa jugamenjadi gejala yang

tersembunyi.Penglihatan kembali normal 8-48 jam setelah

pembedahan. Kebutaan TURPdisebabkan oleh disfungsi retina yang

kemungkinan karena keracunan glisin. Karena itu persepsidari

cahaya dan refleks mengedipkan mata dipertahankan dan respon

pupil terhdap cahaya danakomodasi hilang pada kebutaan TURP,

tidak seperti kebutaan yang disebabkan karena disfungsi Kortikal

serebri.
3) Perforasi
Perforasi dari kandung kemih bisa terjadi saat TURP berkaitan

dengan instrumen pembedahan, pada reseksi yang sukar, distensi

berlebihan dari kantung kemih dan letusan didalam kantungkemih.

Perforasi instrumen dari kapsul prostatik telah diestimasi terjadi pada

1% dari pasienyang melakukan TURP. Tanda awal dari perforasi,

yang sering tidak diperhatikan adalah penurunan kembalinya cairan

irigasi dari kantung kemih. Dan diikuti oleh nyeri abdomen,distensi

dan nausea. Bradikardi dan hipotensi arterial juga ditemukan. Juga

ada resiko tinggikesalahan diurese spontan. Pada perforasi

intraperitoneal, gejalanya berkembang lebih cepat. Nyeri alih bahu

yang berkaitan dengan iritasi pada diafragma merupakan gejala

khas Pallor ,diaphoresis, rigiditas abdomen, nausea, muntah dan

hipotensi bisa terjadi. Perforasiekstraperitonial, pergerakan refleks

16
dari ekstemitas bawah bisa terjadi.Letusan didalam kantung kemih

jarang terjadi. Kauter dari jaringan prostat dipercaya

bisamembebaskan gas yang mudah terbakar. Secara normal, tidak

cukup oksigen yang terdapatdidalam kantung kemih agar bisa terjadi

letusan. Tetapi jika udara masuk bersama dengan cairanirigasi akan

bisa berakibat timbulnya ledakan.


4) Koagulopati
DIC ( Disseminated Intravasculer Coagulation) bisa terjadi

berkaitan dengan pelepasan partikel prostat yang kaya akan jaringan

thrombopalstin menuju sirkulasi yang menyebabkan

fibrinolisissekunder. Dilutional trombositopenia bisa memperbusuk

situasi. DIC bisa dideteksi pada darahdengan timbulnya penurunan

jumlah platelet, FDP ( Fibrin Degradation Products) yang tinggi(FDP

> 150 mg/dl) dan plasma fibrinogen yang rendah (400 mg/dl)
5) Bakteremia, Septisemia dan Toksemia
Sekitar 30% dari semua pasien TURP memiliki urin yang

terinfeksi saat preoperatif. Ketika prostat sinus vena terbuka dan

digunakan irigasi dengan tekanan tinggi, maka bakteri akanmasuk

menuju sirkualsi. Pada 6% pasien, bakteremia menjadi septisemia.

Absorbsi dariendotoksin bakteri dan produksi toksin dari koagulasi

jaringan akan berakibat keadaan toksik pada pasien postoperatif.

Gemetar yang parah, demam, dilatasi kapiler dan hipertensi bisa

terjadisecara temporer pada pasien ini.


6) Hipotermia
Hipotermia merupakan observasi yang selalu dilakukan pada

pasien yang akan dilakukan TURP.Penurunan dari suhu tubuh akan

mengubah situasi hemodinamika, yang mengakibatkan

pasienmenggigil dan peningkatan konsumsi oksigen. Irigasi kandung

17
kemih merupakan sumber utamadari hilangnya panas dan

penggunaan cairan irigasi pada suhu ruangan menghasilkan

penurunansuhu tubuh sekitar 1-2oC. Ini diperburuk oleh keadaan

ruangan operasi yang bersuhu dingin.Pasien geriatri diduga akan

mengalami hipotermia karena disfungsi otonom. Vasokonstriksi

danasidosis bisa berefek pada jantung dan berkontribusi terhadap

manifestasi sistem saraf pusat.Menggigil juga bisa diperparah oleh

pendarahan dari tempat reseksi.

c. Tata laksana sindrom TURP

Terapi Sindrom TURP meliputi koreksi berbagai mekanisme

patofisiologikal yang bekerja padahomeostasis tubuh. Idealnya terapi

tersebut harus dimulai sebelum tejadi komplikasi sistem saraf pusat

dan jantung yang serius. Ketika Sindrom TURP didiagnosa, prosedur

pembedahansebaiknya diakhiri secepatnya. Kebanyakan pasien bisa

dimanajemen dengan restriksi cairan dan diuretic loop


Identifikasi gejala awal sindrom TURP dan pencegahan, penting

untuk mencegah efek yang fatal bagi pasien yang mengalami

pembedahan endoskopik. Hiponatremia yang terjadisebelum operasi

harus dikoreksi terutama pada pasien yang menggunakan obat-

obatan diureticdan diet rendah garam. Antibiotic profilaksis memiliki

peran dalam pensegahan bakterimia danseptisemia. Central Venous

Pressure (CVP) monitoring atau kateterisasi arteri

pulmonalisdiperlukan untuk pasien dengan penyakit jantung. Tinggi

ideal cairan irigasi adalah 60 cm.Untuk mengurangi timbulnya

sindroma TURP operator harus membatasi diri untuk

tidak melakukan reseksi lebih dari 1 jam. Di samping itu beberapa

18
operator memasang sistotomisuprapubik terlebih dahulu sebelum

reseksi diharapkan dapat mengurangi penyerapan air ke sistemik.

Untuk kasus dengan operasi lebih dari satu jam staging TURP harus

dilakukan. Kapsul prostat harus dijaga dan distensi kandung kemih

harus dicegah. Caranya dengan seringmengosongkan kandung

kemih.Koreksi hiponatremia sebaiknya dilakukan dengan diuresis

dan pemberian salinhipertonis 3-5% secara lambat dan tidak lebih

dari 0,5 meq/per 1 jam atau tidak lebih cepat dari100 ml/jam.

Tepatnya 200 ml salin hipertonis diperlukan untuk mengkoreksi

hiponatremia.Pemberian secara cepat dari salin akan mengakibatkan

edema paru dancentral pontine myelinolysis. Dua pertiga dari salin

hipertonis mengembalikan serum sodium dan osmolaritas,sedangkan

1/ 3 meredistribusi air dari sel menuju ruang ekstraseluler, dimana

akan diterapidengan terapi diuretik menggunakan

furosemide.Furosemide sebaiknya diberikan dengan dosis 1 mg/kg

bb secara intravena. Tetapi, penggunaan furosemide dalam terapi

Sindrom TURP dipertanyakan karena meningkatkanekskresi natrium.

Oleh sebab itu 15% manitol disarankan sebagai pilihan, dalam kaitan

dengankerjanya yang bebas dari ekskresi natrium dan kecenderungan

untuk meningkatkan osmolaritasekstraseluler. Oksigen harus

diberikan dengan penggunaan nasal kanul. Edema paru sebaiknya

dimanajemen dengan intubasi dan ventilasi dengan penggunaan

100% oksigen.Gas darah, hemoglobin dan serum sodium dinilai.

Kalsium intravena bisa digunakanuntuk merawat gangguan

gangguan jantung akut saat pembedahan. Kejang sebaiknya

19
diterapidengan diazepam / midazolam / barbiturat / dilantin aau

penggunaan pelemas otot tergantungdari tingkat keparahannya.


Gejala hiponatremia yang bisa berakibat seizure bisa

dihubungkandengan dosis kecil dari midazolam (2-4mg), diazepam

(3-5 mg),thiopental (50-100 mg).


Kehilangan darah diterapi dengan transfusi PRC. Pada kasus

dengan DIC, maka fibrinogen 3-4gram sebaiknya diberikan secara

intravena diikuti dengan infus heparin 2000 unit secara bolus( dan

kemudian diberikan 500 unit tiap jam). Fresh Frozen Plasma (FFP)

dan platelet juga bisadigunakan tergantung dari jenis

koagulasinya.Drainase pembedahan dari cairan retroperitoneal pada

kasus perforasi bisa menurunkanmorbiditas dan mortalitas secara

signifikan. Arginin dapat diberikan sebagai tambahan infusglisin

untuk menurunkan efek toksik dari glisin pada jantung. Mekanisme

bagaimana arginin memproteksi jantung belum diketahui.


Phenytoin yang diberikan secara intravena (10-20 mg/kg) juga

harus dipertimbangkan untuk memperoleh aktivitas antikonvulsan.

Intubasi endotrakeal secara umum disarankan untuk mencegah

aspirasi sampai status mental pasien menjadi normal.Jumlah dan

kadar salin hipertonik (3-5 %) diperlukan untuk mengkoreksi

hiponatremia menjadi batas / level yang aman, yang didasarkan

konsentrasi serum sodium pasien. Solusi salin hipertonis harus tidak

diberikan dengan kecepatan tidak lebih dari 100 ml/jam sehingga

tidak menimbulkan eksaserbasi overload dari cairan sirkulasi.

Hipotermi dapat dihindari denganmeningkatkan suhu ruang operasi,

penggunaan selimut hangat dan menggunakan cairan irigasidan

intravena yang telah dihangatkan sampai suhu 37oC. Manajemen

20
pasien yang mengalami koma harus meliputi oksigenasi, sirkulasi

yangmemadai, penurunan tekanan intrakranial, penghentian kejang,

terapi infeksi, menjagakeseimbangan asam basa dan elektrolit dan

suhu tubuh. Pemantauan yang dilakukan glukosa,elektrolit (Na, K,

Ca, Cl, CO3, PO4), urea kreatinin, osmolaritas, glisin, dan amonia.

Pemeriksaan gas darah dapat melihat PH, PO2, PCO2, dan karbonat.

Perlu juga dilakukan EKG untuk memonitor fungsi kardiovaskular.

BAB III

KESIMPULAN

Penatalaksanaan anestesi pada pasien dengan TURP harus diperhatikan

sejak pre-operatif, intra-operatif, dan post-operatif. Pada fase pre-operatif harus

kita gali kemungkinan yang dapat menyebabkan sindroma TURP seperti

kelainan elektrolit melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan juga pemeriksaan

penunjang yang mendukung, kita dpaat menentukan pendekatan anestesi terbaik

21
pada pasien. Teknik Spinal merupakan teknik anestesi regional yang

memberikan keuntungan tertentu selama intraoperative TURP. Hal perlu

diperhatikan adalah bagaimana kita melakukan sebuah tindakan anestesi spinal

dan bagaimana mengenali tanda-tanda kelainan yang diakibatkan terjadinya

sindroma TURP untuk mencegah morbiditas dan mortalitas pasien.

Sindroma TURP merupakan komplikasi tersering yang terjadi selama

proses operasi TURP. Sindroma TURP terjadi akibat terabsorbsi nya cairan

irigasi kedalam sirkulasi tubuh yang dapat mengakibatkan komplikasi tertentu,

komplikasi berupa hiponatremia, hypovolemia, toksisitas cairan. Anestesi spinal

dapat mempertahankan kesadaran pasien, dalam keadaan sadar pasien akan

lebih mudah untuk dipantau.pada kasus ini tindakan anestesi dan tindakan

operatif berjalan dengan baik.

22
DAFTAR PUSTAKA

Davies, J., Eden, C., Boot, S., Langley, S. 2005. A patients Guide to TURP Your
Prostat Operation. Prostat Cancer Centre, Guildford.

Moorthy H K, Philip S. 2001. TURP syndrome - current concepts in the


pathophysiology and management. Indian J Urol;17:97-102

Norris HT, Aasheim GM, Sherrard DJ, Tremann JA. 1973. Symptomatology,
pathophysiology and treatment of the transurethral resection of the prostate
syndrome. Br J Urol: 45: 420-427.

Olsson J, Nilsson A. Hahn RG. 1995. Symptoms of the transurethral resection


syndrome using glycine as the irrigant. J Urol; 154: 123-128.

Purnomo, Basuki. 2011. Dasar-dasar Urologi edisi ketiga. Sagung seto

Sherwood, L. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sel. EGC : Jakarta.

Soenarjo, Jatmiko HD. 2013. Anestesiologi Edisi 2. Semarang : FK Universitas


Diponegoro.

Soenarjo, et al. 2013. Anestesiologi. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FAkultas
Kedokteran UNDIP/dr. Kariadi Semarang

Sutiyono et Winarno. 2009. Jarum Spinal dan Pengaruuh yang Mungkin Terjadi. Jurnal
Anestsiologi Indonesia

Yang Q, Petes TJ, Donovan JL, Wilt TJ, dan Abrams P. 2009. British Journal of
Anasthesia. Comparison of Intrathecal Fentanyl and Sufentanil in Low Dose
Dilute Bupivacaine Spinal Anasthesia for Transurethral Prostectomy. Vol
103,Number 5. Page 750

23