Anda di halaman 1dari 2

PERCIKAN TINTA IMPIAN

Laksana air yang turun dari bukit menyentuh berbatuan yang keras, gemerciknya
indah didengar serta indah dalam penglihatan, namun aku tidak menyangka
percikan dan kelembutan air yang menyentuh berbatuan yang keras menjadikan
terlubangi berbatuan itu olehnya. Kita memang heran air yang tiada daya ia bisa
membuat batu yang keras itu menjadi berlubang, dengan filosofi ini aku selalu
berfikir bahwa diri ini pasti optimis menuju impian seberapa besar pun impian itu
bagaikan air yang tekun menyentuh dengan kelembutan berhasil melubangi
berbatuan yang keras, maka kenapa aku tidak bisa..? diriku pasti bisa memercikan
tinta impianku menjadi sebuah impian berwujud kenyataan yang akan aku lihat
dikemudian hari.
Aku ingin mengukir sebuah percikan tinta impianku untuk menjadikan
diriku bermanfaat untuk semua orang, menurutku langkah untuk mewujudkan itu
semua adalah dengan menjadi pengusaha itulah tinta impianku semenjak kecil,
jiwa pengusaha dalam diriku sudah terlihat karena orang tuaku adalah pengusaha,
ayahku memang seseorang karyawan namun disamping itu ayah serta ibuku
membuka bisnis sampingan yang skala kecil-kecilan.
Sedikit aku ingin berbagi kisah tentang diriku membantu kedua orang
tuaku dalam berbisnis, kedua orang tuaku telah melakukan beberapa usaha
sampingan kecil-kecilan yang menunjang tambahan penghasilan, aku ingat bahwa
ketika usiaku belia yakni 5 tahun, ayahku menjual rangginang kue sejenis ketan
yang dipasarkan ke rekan kerjannya di perusahaannya dan aku membantu
membungkuskannya dengan plastic-plastik kecil, pada saat itu juga kedua orang
tuaku memasarkan kopi kiloan itupun aku yang membungkusinya, usaha
semacam ini berlanjut sampai aku berusia SD kelas 5, setelah itu kedua orang
tuaku mengubah usaha sampingannya dengan membukan warung didepan
rumahku yang didalamnya menjual berbagai kebutuhan pokok serta minuman
segar al hasil kedua oaring tuaku sukses dengan membuka cabang warungnya di
kampong seberang maka memiliki 2 warung dan tentu diriku memberikan
konstribusi menjadi pelayan setelah pulang sekolah, meskipun usaha warung ini
akhirnya terhempas alias bangkrut kedua orang tuaku tidak pernah putus asa
dengan membuka usaha-usaha kecil lainya, dan sekarang ketika aku telah
menikah dan memiliki seorang anak yang juga cucu bagi kedua orang tuaku,
mereka tetap menjalankan usaha sampingan yang kini sedang tinggi order yakni
usaha kue-kue buatan rumah.
Oleh karena itu aku dari belia hingga aku menikah dan mempunyai
seorang anak, orang tuaku tak putus asa serta optimis menjalankan usahanya
meskipun jatuh bangun, dan selain itu dengan usaha yang dilakukan kedua orang
tuaku ini, Alhamdulillah beliau bisa menyantuni anak yatim, membantu keluarga
miskin dan agenda bersifat sosial lainnya, inilah yang melatarbelakangi diriku
terinspirasi menjadi seorang pengusaha yang bermanfaat untuk orang lain.