Anda di halaman 1dari 6

PERIODISASI DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA

Mengenai cakupan waktu penerapan ekonomi pembangunan di Indonesia, kita


dibatasi oleh waktu ketika belanda masuk ke Indonesia, yaitu pada tahun 1602. meskipun
pada waktu itu tidak seluruh wilayah Indonesia sekarang ini yang telah dijajah oleh
pemerintah Belanda. Oleh karena masalah kurun waktu ini barangkali ada baiknya
membicarakan periodisasi perekonomian Indonesia sesuai dengan masa pemerintahan yang
sedang berkuasa. Untuk tujuan tersebut kita membagi menjadi 4 periode, yakni :

1. Perekonomian Indonesia pada masa penjajahan Belanda


2. Perekonomian Indonesia pada Masa Orde Lama.
3. Perekonomian Indonesia pada Masa Orde Baru
4. Perekonomian Indonesia pada Masa Setelah Orde Baru.

1. Masa Penjajahan Belanda

Periode ini dimulai sejak salah satu perusahaan swasta besar Belanda yang
bernama VOC mulai masuk ke Indonesia sampai dengan diproklamasikannya
kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tanggal 17 Agustus
1945 oleh Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno dan Wakil Presiden
Indonesia yang pertama Drs. Moh. Hatta. Ini berarti lamanya periode ini sekitar 350
tahun yang dimulai sejak tahun 1602 1945. Pada masa penjajahan, indonesia
menerapkan sistem perekonomian monopolis.dimana setiap kegiatan perekonomian
dijalankan desuai penguasa perdaganngan Indonesia saat itu. VOC adalah lembaga
yang menguasai perdagangan Indonesia saat itu. Pada masa VOC berkuasa mereka
menerapkan peraturan dan strategi agar mereka tetap menguasai perekonomian
Indonesia. Peraturan-peraturan yang ditetapkan VOC seperti verplichte leverentie
(kewajiban meyerahkan hasil bumi pada VOC ) dan contingenten (pajak hasil bumi)
dirancang untuk mendukung monopoli itu. Disamping itu, VOC juga menjaga agar
harga rempah-rempah tetap tinggi, antara lain dengan diadakannya pembatasan
jumlah tanaman rempah-rempah yang boleh ditanam penduduk, pelayaran Hongi dan
hak extirpatie (pemusnahan tanaman yang jumlahnya melebihi peraturan). Semua
aturan itu pada umumnya hanya diterapkan di Maluku yang memang sudah diisolasi
oleh VOC dari pola pelayaran niaga samudera Hindia.

Dengan memonopoli rempah-rempah, diharapkan VOC akan menambah isi


kas negeri Belanda, dan dengan begitu akan meningkatkan pamor dan kekayaan
Belanda. Disamping itu juga diterapkan Preangerstelstel, yaitu kewajiban menanam
tanaman kopi bagi penduduk Priangan. Bahkan ekspor kopi di masa itu mencapai
85.300 metrik ton, melebihi ekspor cengkeh yang Cuma 1.050 metrik ton.

Pada masa ini perekonomian utama di Indonesia sangat mengandalkan sektor


pertanian yang masih mengandalkan system tradisional yang merupakan pertanian
subsystem milik rakyat banyak, sedangkan di sector perkebunan orientasinya adalah
untuk dijual di pasar Eropa sebagai bahan mentah yang sedang merkembang pada
masa itu. Hasil perkebunan yang menonjol adalah karet, kelapa, rempah rempah,
dan lainnya. Kalau kita lihat dari sector industrinya, sector ini masih sangat
terbelakang, kalaupun ada hanyalah alat tenun bukan mesin (ATBM). Uang yang
beredar pada masa Penjajahan Belanda adalah uang negeri penjajah Belanda (golden)
dengan bank sentralnya dipegang oleh bank swasta Belanda, de Javashe Bank. Ini
berarti bank swasta mempunyai izin dan kewenangan untuk mengatur system
keuangan daerah jajahan Belanda. Uang yang beredar pada masa ini lebih banyak
berupa uang kartal dan hanya sedikit yang berupa uang giral. Pada masa ini campur
tangan dari pemerintah sangatlah minimal.

2. Pada Masa Orde Lama

Pada masa masa awal setelah diproklamasikan kemerdekaan Negara


Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) keadaan ekonomi Indonesia sangatlah buruk
ekonomi nasional mengalami stagflasi yang berarti kegiatan produksi terhenti dengan
tingkat inflasi sangat tinggi keadaaan ini disebabkan oleh beberapa factor yang
penting diantaranya adalah masa pendudukan Jepang, Perang Dunia II, Perang
Revolusi, dan manajemen ekonomi makro yang buruk.

Dari tahun 1949 hingga 1956 pemerintah Indonesia yang menrapkan suatu
system politik yang disebut demokrasi liberal dan bertransisi menjadi demokrasi
terpimpin yang berlangsung dari tahun 1957 1965. Pada zaman demokrasi
terpimpin kekuasaan militer dan Presiden Soekarno sangatlah besar, keadaan ini
sangatlah berbeda dengan masa demokrasi liberal yang dimana kekuasaan terbesar
berada ditangan sejumlah partai politik yang dikuasai oleh Partai Masyumi dan Partai
Nasional Indonesia (PNI).

Indonesia pernah menerapkan system politik yang demokratis yakni pada


tahun 1949 sampai dengan 1956, akan tetapi system politik demokrasi ternyata
menyebabkan kehancuran politik dan perekonomian nasional. Keadaan ini terjadi
akibat terlalu banyaknya partai politik yang dimana menyebabkan terjadinya konflik
antar partai yang menginginkan kekuasaan.

Perekonomian pada masa orde lama ini bisa dikatakan sebagai ekonomi
perang. Situasi politik dalam negeri waktu itu tidak kondusif untuk kemajuan
perekonomian.

Pada masa ini, banyak perusahaan swasta Belanda yang dinasionalisasi oleh
pemerintah, diantaranya adalah dibidang perbankan de Javashe Bank menjadi Bank
Indonesia, dibidang pengangkutan (DAMRI, Kereta Api, Perusahaan Penerbangan,
dan Pelayaran Laut PELNI), perusahaan perkebunan, perusahaan perdagangan besar
dan lainnya. Disaat kedaaan politik dalam dan luar negeri dalam kondisi tidak baik,
pemerintah juga kurang memerhatikan perekonomian Indonesia. Pada sekitar tahun
1950 pada saat dimana keadaan keuangan Indonesia semakin memburuk, inflasi
sangat tinggi, maka dilaksanakanlah kebijaksanaan moneter yakni sanering yang
berarti pengguntingan uang rupiah, setengah lembar diganti dengan uang baru dan
dikembalikan kepada pemiliknya dan setengahnya lagi ditukar dengan obligasi
Negara. Setelah diadakan sanering kedaan perekonomian Indonesia bukannya
bertambah baik, harga-harga malah terus mengalami kenaikan. Sekitar tahun 1960,
system perbankan di Indonesia diubah mengikuti system perbankan di Rusia. Pada
tahun 1965 tercatat tingkat inflasi sebesar 650%. Pertumbuhan ekonomi pada masa itu
tidak lebih dari 2-3% pertahun. Pemerintahan Soekarno sempat menyusun
Pembangunan Semesta Berencana Delapan Tahun. Rencana pembangunan ini
mencakup seluruh wilayah Indonesia (semesta) yang mempunyai rentang waktu
delapan tahun mulai 1960, namun rencana tersebut hanyalah bersifat daftar keinginan
tanpa ada sumber pembiayaan yang pasti sehingga tidak terlaksanakan. Dengan
keadaan perekonomian Indonesia pada waktu itu menunjukkan peran pemerintah dan
koperasi mencapai 90%..

3. Pada Masa Orde Baru

Periode ini dimulai pada tahun 1965 atau 1966 pada masa jatuhnya rezim orde lama
atau masa pemerintahan Soekarno sampai dengan tahun 1998 pada rezim
pemerintahan Soeharto, jadi lamanya masa orde baru ini berlangsung selama 32
tahun.
Tindakan pertama yang diambil oleh pemerintah orde baru adalah menstabilkan
keadaan politik dan ekonomi yang dimana pada pemerintahan Soekarno, sector
perekonomian kurang berjalan dengan baik. Demi menstabilkan keadaan politik dan
ekonomi pemerintahan orde baru melaksanakan beberapa kebijakan antara lain:
1. Untuk jangka pendek kebutuhan dalam negeri dipenuhi melalui impor, sedangkan
jangka panjang dipenuhi melalui pembangunan yang direncanakan setiap lima
tahun.
2. Liberalisasi perdagangan luar negeri dengan memperkenankan swasta untuk turut
aktif dalam perdagangan luar negeri dan liberalisasi system devisa.

Guna mempersiapkan pembangunan ekonomi jangka panjang pemerintahan orde baru


yakin bahwa kunci keberhasilan pembangunan adalah tersedianya dana untuk
membiayainya, untuk itu pemerintah orde baru melaksanakan antara lain :

1. Pembelanjaan APBN memakai system anggaran defisit


2. Tabungan swasta asing
3. tabungan domestik swasta

Dengan persiapan persiapan tersebut maka disusunlah rencana pembanguna lima


tahunan (Repelita) yang dimana prioritas utama dari Repelita tersebut adalah pada
sector pertanian dengan perhatian utama untuk mencapai swasembada pangan (beras).
Pembangunan ekonomi pada masa ini memberikan peluang yang sangat luas kepada
sector swasta, terutama swasta asing. Pada tahun 1971 terjadi perubahan trilogi
pembangunan dari stabilisasi pertumbuhan pemerataan menjadi pemerataan
pertumbuhan stabilisasi. Namun perubahan trilogi pembangunan ini lebih bersifat
teoritis dan tidak tampak jelas dalam pelaksanaanya, buktinya dominasi dari
perusahaan besar terus berlanjut. Pada waktu itu, muncul rumor bahwa perekonomian
Indonesia lebih liberal daripada perekonomian Negara Negara liberal. Dari hal ini
timbullah istilah Sistem Ekonomi Pancasila