Anda di halaman 1dari 10

APLIKASI MODEL HOUSE OF RISK (HOR)

UNTUK MITIGASI RISIKO PROYEK PEMBANGUNAN JALAN


TOL GEMPOL-PASURUAN

Nama Mahasiswa : Dewi Kurniasari Purwandono


(dewikurnia@mmt.its.ac.id)
NRP : 9105 201 405
Dosen Pembimbing : Prof. Ir. I. Nyoman Pujawan, M.Eng, Ph.D
(pujawan@ie.its.ac.id)

ABSTRAK
Perekonomian dunia yang masih serba tak pasti memengaruhi kondisi
ekonomi di Indonesia. Salah satu usaha yang dilakukan untuk meningkatkan
pertumbuhan ekonomi, khususnya di daerah Pasuruan dan sekitarnya, pemerintah
membangun infrastruktur jalan tol Gempol-Pasuruan. Pembangunan infrastruktur ini
dapat berjalan dengan lancar jika proses pembangunannya tidak banyak mengalami
gangguan. Gangguan-gangguan yang dapat menghambat pembangunan dapat berasal
dari dalam (buruknya manajemen dan rantai pasok pihak-pihak terkait) maupun luar
(alam, masyarakat, kebijakan pemerintah). Untuk mencegah keterlambatan atau
memperpendek rentang waktu keterlambatan pembangunan jalan tol tersebut maka
perlu usaha meminimalkan timbulnya gangguan-gangguan. Model House of Risk (HOR)
diaplikasikan untuk mitigasi risiko-risiko yang mungkin muncul akibat adanya
gangguan-gangguan. Dari model tersebut, diketahui bahwa terdapat 36 risiko dan 55
agen/ penyebab risiko yang terdiri dari 8 agen/ penyebab risiko dengan tingkat risiko
tinggi, 14 agen/ penyebab risiko dengan tingkat risiko sedang, dan 30 agen/ penyebab
risiko dengan tingkat risiko rendah. Juga terdapat 16 aksi mitgasi yang dapat
direalisasikan untuk mereduksi kemunculan agen/ penyebab risiko. Konsinyasi lewat
pengadilan merupakan aksi mitigasi yang berada pada peringkat pertama dari risk
response dan memberi keuntungan optimal bagi kelancaran pembangunan proyek jalan
tol Gempol-Pasuruan.

Kata Kunci: House of Risk (HOR), manajemen proyek, manajemen risiko, mitigasi,
risiko

1
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dunia yang semakin mengglobal menuntut perusahaan atau industri-industri
untuk berkompetisi menjadi yang lebih unggul. Salah satu usahanya adalah memenuhi
permintaan konsumen dengan kualitas tinggi dan beaya yang efektif serta efisien.
Perekonomian dunia yang masih serba tak pasti memengaruhi kondisi ekonomi
di Indonesia. Salah satu usaha yang dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan
ekonomi, khususnya di daerah Pasuruan dan sekitarnya, pemerintah membangun
infrastruktur jalan tol Gempol-Pasuruan. Dengan dibangunnya jalan tol Gempol-
Pasuruan maka lalu lintas yang menuju Grati-Probolinggo dapat lebih lancar.
Pembangunan infrastruktur ini dapat berjalan dengan lancar jika proses
pembangunannya tidak banyak mengalami gangguan. Gangguan-gangguan yang dapat
menghambat pembangunan dapat berasal dari dalam (buruknya manajemen dan rantai
pasok pihak-pihak terkait) maupun luar (alam, masyarakat, kebijakan pemerintah).
Untuk mencegah keterlambatan atau memperpendek rentang waktu keterlambatan
pembangunan jalan tol tersebut maka perlu usaha meminimalkan timbulnya gangguan-
gangguan. Dalam hal ini adalah memperkuat rantai pasok yang ada disepanjang aliran
proses pembangunan jalan tol tersebut.
1.2 Perumusan Masalah
Masalah yang dihadapi adalah bagaimana cara memperlancar pembangunan
jalan tol tersebut agar tidak mengalami keterlambatan dan risiko apa saja yang akan
muncul dalam pembangunan jalan tol serta bagaimana cara memitigasi risiko tersebut.
1.3 Tujuan dan Manfaat
Tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan penelitian tesis yang dilakukan di
proyek ini adalah mencegah keterlambatan atau memperpendek rentang waktu
keterlambatan pembangunan jalan tol dengan cara menciptakan rantai pasok yang kuat
(robust) dan lentur (resilient) agar risiko-risiko yang mungkin muncul terjadi
seminimal mungkin. Sedangkan beberapa manfaat yang diharapkan dapat diperoleh
dari penelitian ini, yaitu:
a) Toleransi keterlambatan pembangunan jalan tol menjadi berkurang
b) Mengetahui risiko-risiko yang mungkin muncul dalam proses pembangunan jalan
tol sehingga dapat dilakukan strategi proaktif untuk menanganinya
c) Meningkatkan keefektifitasan dan keefisienan distribusi prapembangunan maupun
pascapembangunan jalan tol Gempol-Pasuruan karena terbentuknya rantai pasok
proyek yang kuat (robust) dan lentur (resilient)
1.4 Batasan dan Asumsi
Yang menjadi batasan dalam penelitian ini adalah sistem yang diteliti
merupakan sistem yang ada pada pihak investor/ pemberi tugas (owner), bukan sistem
yang ada pada kontraktor atau konsultan. Sedangkan asumsi yang dipergunakan pada
penelitian ini, yaitu:
a) Tidak terjadi bencana alam pada saat perencanaan proyek jalan tol ini
b) Tidak terjadi perubahan kebijakan pemerintah pada saat perencanaan proyek jalan
tol ini

2
c) Istilah rantai pasok yang dimaksud pada penelitian ini adalah rantai pasok dalam
lingkup proyek, yaitu aliran material, informasi, dan lain-lain sejak prapembangunan
hingga pascapembangunan jalan tol

BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan Model House of Risk (HOR) yang merupakan


integrasi dari Model Failure Modes and Effects Analysis (FMEA) dengan Model
Quality Function Deployment (QFD). Diagram alir penelitian ini dapat ditunjukkan
pada Gambar 3.1. Berikut penjelasan tahapan-tahapan dalam metodologi penelitian
yang digunakan:
3.1 Tahap Pemetaan Aktivitas
Pada tahap ini dilakukan pemetaan awal terhadap aktivitas rantai pasok
maupun aktivitas nonrantai pasok dengan mengidentifikasi entiti-entiti dalam jaringan
rantai pasok perusahaan, mengidentifikasi hubungan antarentiti dan key measures dalam
jaringan rantai pasok tersebut. Model SCOR dapat digunakan untuk melakukan
pemetaan proses-proses rantai pasok yang terjadi saat ini (as is) dan proses-proses
tersebut terbagi menjadi lima proses inti, yaitu plan, source, make, deliver, dan return.
3.2 Tahap Identifikasi Risiko
Merupakan tahapan yang bertujuan untuk mengidentifikasi risiko yang akan
ditangani. Proses identifikasi harus melibatkan risiko baik yang terkontrol maupun tidak
terkontrol oleh perusahaan. Dalam tahap ini akan dihasilkan suatu daftar risiko yang
didapat dari identifikasi sumber risiko, apa saja yang menjadi risiko (what), dimanakah
risiko tersebut muncul/ ditemukan (where), bagaimana risiko tersebut timbul di tempat
tersebut (how) dan mengapa risiko tersebut timbul (why), yang risiko tersebut
berdampak terhadap pencapaian sasaran dan tujuan perusahaan.
HOR1 (Gambar 3.2) menggambarkan langkah-langkah pada tahap identifikasi
risiko, yaitu:
a. Identifikasi risiko-risiko yang mungkin terjadi pada masing-masing proses bisnis.
Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan pemetaan proses rantai pasok seperti Plan,
Source, Deliver, Make, dan Return (Model Supply Chain Operations Reference) lalu
identifikasi risiko apa yang bisa terjadi pada masing-masing proses tersebut. Ei
(risk events) menunjukkan risiko yang terjadi.
b. Beri penilaian dengan skala 1 sampai 5 mengenai tingkat keparahan (severity) akibat
risiko yang terjadi. Si (severity) menunjukkan tingkat keparahan dari masing-masing
risiko. Tabel 3.2 menunjukkan Tingkat Keparahan Dampak (Severity Level)
Pedoman Beaya.
c. Identifikasi agen-agen risiko dan beri penilaian mengenai kemungkinan terjadinya.
Aj (risk agents) menunjukkan agen-agen risiko dan Oj (occurrence) menunjukkan
kemungkinan terjadinya. Tabel 3.1 menunjukkan Tingkat Peluang Kemunculan
Agen Risiko (Occurrence Level)
d. Kembangkan matriks keterkaitan (korelasi) antara masing-masing agen risiko
dengan masing-masing risiko. Rij (relationship) {0, 1, 3, 9} dengan nilai 0
menunjukkan tidak ada korelasi (no correlation) dan nilai 1, 3, dan 9 menunjukkan
korelasi rendah (low), sedang (moderate), dan tinggi (high).

3
Pemetaan Aktivitas Rantai Pasok
Model Supply Chain Operations Reference (SCOR)

PERSIAPAN PENGADAAN KONSTRUKSI HAND OVER

Identifikasi Risiko

Metode Failure Modes and Effects Analysis (FMEA)

> Sumber risiko? > Apa yang berisiko?


> Di mana risiko berada? > Bagaimana risiko muncul?

Analisis Risiko

Identifikasi Kejadian Risiko (Risk Events) dan Agen Risiko (Risk Agent)

Menentukan severity Menentukan occurrence Menentukan


dari risk events dari risk agents correlation

Menghitung Nilai Aggregate Risk Potential (ARP)

Evaluasi Risiko
Menentukan peringkat
Menentukan prioritas risiko

Risk Response

Identifikasi opsi mitigasi risiko


Evaluasi opsi mitigasi risiko

Pemilihan aksi mitigasi/ aksi proaktif

Gambar 3.1 Diagram Alir Metodologi Penelitian

4
Risk Agents (Aj)
Severity of
Business Risk Event
A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 Risk Event i
Processes (Ei)
(Si)
Plan E1 R11 R12 R13 S1
E2 R21 R22 .. .. S2
Source E3 R31 S3
E4 R41 S4
Make E5 S5
E6 S6
Deliver E7 S7
E8 S8
Return E9 Rij S9
Occurrence of Agent j O1 O2 O3 O4 O5 O6 O7
Aggregate Risk
Potential j ARP1 ARP2 ARP3 ARP4 ARP5 ARP6 ARP7
Priority Rank of
Agent j
Sumber: Pujawan (2009)
Gambar 3.2 Model HOR1
e. Hitung Agen Potensial Risiko Agregat (Aggregate Risk Potential Of Agent j
(ARPj)) yang merupakan hasil dari kemungkinan munculnya agen risiko j dan
akibat agregat dari terjadinya risiko yang disebabkan oleh agen risiko.
f. Buat peringkat agen risiko berdasar potensial risiko agregat dari nilai terbesar ke
nilai terkecil.
3.3 Tahap Analisis Risiko
Analisis Risiko merupakan suatu proses untuk menganalisis secara kualitatif
dan kuantitatif dampak risiko (severity) serta probabilitas risiko (occurence) terhadap
sasaran-sasaran proyek yang telah ditetapkan. Tujuan analisis risiko, yaitu memilah-
milah risiko dan memisahkannya antara risiko yang berbahaya dengan risiko yang tidak
signifikan dan membuat profil peta risiko sesuai peringkatnya. Hasil ini akan menjadi
dasar bagi analisis dan penanganan risiko pada tahap selanjutnya. Dampak (severity)
dan korelasi (correlation) antara kejadian risiko dan agen risikonya, serta kemungkinan
dampak tersebut timbul (occurence) digabungkan untuk menentukan tingkat/ peringkat
risiko. Proses analisis risiko ini dilakukan dengan menganalisis penyebab timbulnya
risiko-risiko yang telah teridentifikasi untuk kemudian dilakukan perhitungan nilai
Aggregate Risk Potential (ARP) menggunakan Model HOR1. Nilai ARP ini diperoleh
dari penjumlahan hasil perkalian tingkat severity dengan tingkat occurrence. Hasil dari
tahap analisis risiko ini berupa prioritas risiko dan pengklasifikasian pemeringkatan ini
didasarkan pada Pareto 80:20 yang kemudian digunakan sebagai acuan penyusunan
rencana penanganan risiko.
3.4 Tahap Evaluasi Risiko
Tujuan dari evaluasi risiko adalah untuk menghasilkan urutan prioritas risiko-
risiko untuk ditangani lebih lanjut (rencana tindak lindung/ mitigasi risiko). Yang
dilakukan dalam tahap ini, yaitu membandingkan Profil Risiko dengan Kriteria Evaluasi
Risiko yang ditetapkan sebelumnya, dan memperkirakan apakah suatu risiko dapat

5
diterima atau tidak, sesuai dengan kriteria sebelumnya, atau mempertimbangkan dengan
analisis manfaat dan beaya.
3.5 Tahap Risk Response
Proses perancangan strategi dilakukan menggunakan matriks House of Risk
(HOR) fase kedua untuk menyusun aksi-aksi mitigasi dalam menangani risiko yang
berpotensi timbul pada rantai pasok. HOR2 (Gambar 3.3) menggambarkan langkah-
langkah pada tahap perancangan strategi, yaitu:
a. Pilih beberapa agen risiko dengan nilai tinggi (gunakan Diagram Pareto untuk
ARPj) yang akan ditindaklanjuti pada HOR2. Agen-egen risiko yang terpilih
diletakkan pada kolom sebelah kiri (apa saja agen risiko tersebut) dan pada kolom
sebelah kanan (nilai ARPj)
b. Identifikasi aksi-aksi yang mungkin dilakukan untuk mencegah munculnya risiko.
Aksi-aksi mitigasi tersebut letakkan pada baris atas HOR2 (Preventive Actions
PAk).
c. Tentukan korelasi antara masing-masing aksi pencegahan dan masing-masing agen
risiko (Ejk). Ejk {0, 1, 3, 9} dengan nilai 0 menunjukkan tidak ada korelasi (no
correlation) dan nilai 1, 3, dan 9 menunjukkan korelasi rendah, sedang, dan tinggi.
Ejk juga menunjukkan tingkat keefektifan aksi mitigasi yang dilakukan dalam
mengurangi kemungkinan munculnya agen risiko.
d. Hitung Efektivitas Total (TEk) dari masing-masing aksi menggunakan rumus:
TEk = ARPj Ejk k (1)
j

e. Beri penilaian mengenai tingkat kesulitan dalam melakukan masing-masing aksi


mitigasi (Difficulty Dk) menggunakan skala Likert atau skala lain yang
menggambarkan dana atau sumber daya lain yang diperlukan selama aksi mitigasi
dilakukan.

Preventive Action (PAk)


Aggregate
Risk
To be treated risk agent (Aj) PA1 PA2 PA3 PA4 PA5
Potentials
(ARPj)

A1 E11 E12 E13 ARP1


A2 E21 E22 ARP2
A3 E31 ARP3
A4 ARP4
A5 Ejk ARP5
Total efectiveness of action k TE1 TE2 TE3 TE4 TE5
Degree of difficulty
performing action k D1 D2 D3 D4 D5
Effectiveness to difficulty ratio ETD1 ETD2 ETD3 ETD4 ETD5
Rank of priority R1 R2 R3 R4 R5
Sumber: Pujawan (2009)
Gambar 3.3 Model HOR2

6
f. Hitung Rasio Total Efektivitas (TEk) dengan Tingkat Kesulitan (Difficulty Dk)
menggunakan rumus:
TEk
ETDk
Dk
g. Tentukan Peringkat Prioritas dari masing-masing aksi (Rk), peringkat pertama
menunjukkan aksi dengan ETD tertinggi.

BAB 4
HASIL DAN DISKUSI
4.4 Identifikasi Risiko
Pada tahap ini, dilakukan identifikasi kejadian risiko apa saja yang mungkin
muncul di semua area aktivitas rantai pasok, yaitu area Persiapan, Pengadaan,
Konstruksi, dan Penyerahan (Hand Over). Kejadian risiko yang telah diidentifikasi
tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.4. Terdapat 5 kejadian risiko pada tahap Persiapan, 8
kejadian risiko pada tahap Pengadaan, 14 kejadian risiko pada tahap Konstruksi, dan 9
kejadian risiko pada tahap Penyerahan (Hand Over).
4.5 Identifikasi Dampak (Potential Causes) Suatu Kejadian Risiko
Pada tahap ini, dilakukan identifikasi dampak dari kejadian risiko yang telah
diidentifikasi pada tahap sebelumnya.
4.6 Identifikasi Agen/ Penyebab Risiko (Risk Agents)
Pada tahap ini, dilakukan identifikasi agen atau penyebab dari kejadian risiko
yang telah diidentifikasi pada tahap sebelumnya. Agen-agen risiko yang telah
diidentifikasi tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.6. Terdapat 55 agen risiko dari semua
area dengan kode masing-masing. Satu agen risiko dapat memunculkan satu atau lebih
kejadian risiko, dan sebaliknya, satu kejadian risiko dapat disebabkan oleh satu atau
lebih agen risiko.
4.7 Identifikasi Tingkat Keparahan Dampak Suatu Kejadian Risiko (Severity)
Pada tahap ini, dilakukan identifikasi nikai keparahan dampak (severity) dari
suatu kejadian risiko. Nilai keparahan dampak (severity) dilihat dari besar kerugian
finansial yang harus ditanggung jika muncul risiko. Nilai ini terbagi menjadi lima
tingkatan, yaitu ringan sekali, ringan, sedang, besar, dan katastropik.
4.8 Identifikasi Peluang Kemunculan Agen/ Penyebab Risiko (Occurrence) dan
Korelasi Kejadian Risiko dan Agen/ Penyebab Risiko
Pada tahap ini, dilakukan identifikasi nilai peluang kemunculan agen risiko
(occurrence) beserta nilai korelasi antara kejadian risiko dan agen risiko. Dalam
mengidentifikasi nilai peluang kemunculan agen risiko (occurrence), digunakan Skala
Likert 1-5 dengan kriteria deskriptif tertentu. Sedangkan dalam mengidentifikasi nilai
korelasi agen risiko dan kejadian risiko, digunakan Model House of Risk 1 (HOR1).
Penilaian korelasi antara agen risiko dan kejadian risiko menggunakan nilai 1, 3, dan 9
untuk menunjukkan seberapa kuat agen risiko tersebut memunculkan kejadian risiko.
4.9 Penghitungan Aggregate Risk Potential (ARP)
Aggregate Risk Potential (ARP) digunakan untuk memeringkat kejadian-
kejadian risiko yang mungkin muncul menjadi tiga tingkatan, yaitu risiko tingkat
rendah, risiko tingkat sedang/ moderat, dan risiko tingkat tinggi.
Dari Diagram Pareto, dapat diketahui bahwa 15% agen risiko berada pada
klasifikasi A yang berarti memliki tingkat kemunculan tinggi, 27% agen risiko berada

7
pada klasifikasi B, yang berarti memiliki tingkat kemunculan sedang, dan 52% adalah
agen risiko yang berada pada klasifikasi C (memiliki tingkat kemunculan yang rendah).
Agen-agen risiko yang berada pada klasifikasi A dan B ini kemudian diolah
menggunakan Model House of Risk 2 untuk menentukan aksi mitigasi yang sebaiknya
dilakukan dalam rangka mereduksi kemunculan agen-agen risiko ini.
Diagram Pareto juga menggambarkan bahwa 50% risiko berpotensi digenerasi
oleh agen-agen risiko klasifikasi A, 30% risiko berpotensi digenerasi oleh agen-agen
risiko klasifikasi B, dan 20% berpotensi digenerasi oleh agen-agen risiko klasifikasi C.
Karena sebagian besar risiko berpotensi digenerasi oleh agen-agen risiko klasifikasi A
dan B maka agen-agen ini yang akan diprioritaskan untuk direduksi dengan aksi-aksi
mitigasi yang sudah ditentukan.
4.10 Evaluasi Risiko
Pada tahap Evaluasi Risiko, terdapat dua langkah yang dilakukan, yaitu
menentukan peringkat agen risiko sesuai nilai ARP-nya dan menentukan prioritas agen
risiko yang akan direduksi dengan aksi mitigasi yang sudah ditentukan. Tahap ini
menggunakan Model House of Risk 2.
4.11 Risk Response
Tiap agen risiko memiliki aksi mitigasi yang berkaitan kuat (ditunjukkan
dengan nilai korelasi 9), sedang (ditunjukkan dengan nilai korelasi 3), atau lemah
(ditunjukkan dengan nilai korelasi 1). Total keefektifan suatu aksi mitigasi dihitung dari
penjumlahan hasil perkalian nilai korelasi antara agen-agen risiko dan aksi-aksi mitigasi
dengan nilai ARP yang diperoleh dari HOR1. Sedangkan nilai ETD (Effectiveness to
Difficulty Ratio) diperoleh dari pembagian antara nilai total keefektifan aksi mitigasi
dengan tingkat kesulitannya. Makin besar nilai D (difficulty, tingkat kesulitan), makin
kecil nilai ETD-nya. Hal ini berarti bahwa aksi mitigasi tersebut kurang efektif untuk
mereduksi atau memitigasi agen risiko yang bersangkutan. Begitu p ula
sebaliknya.Setelah diketahui nilai ETD, dapat dilakukan pemeringkatan aksi mitigasi
berdasar nilai ETD. Peringkat aksi mitigasi tersebut menunjukkan prioritas aksi mitigasi
yang harus dilakukan oleh owner untuk memitigasi munculnya agen-agen risiko yang
menyebabkan adanya kejadian risiko.

BAB 5
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian tesis ini, yaitu:
1. Dari hasil identifikasi kejadian risiko (risk events) pada area Persiapan, Pengadaan,
Konstruksi, dan Penyerahan (Hand Over), terdapat 5 kejadian risiko pada tahap
Persiapan, 8 kejadian risiko pada tahap Pengadaan, 14 kejadian risiko pada tahap
Konstruksi, dan 9 kejadian risiko pada tahap Penyerahan (Hand Over) beserta
tingkat keparahan dampak (severity)-nya. Kejadian-kejadian risiko ini juga
diidentifikasi dampaknya terhadap proses pembangunan jalan tol Gempol-Pasuruan.
2. Dari hasil identifikasi agen/ penyebab risiko (risk agents), terdapat 55 agen/
penyebab risiko dengan tingkat kemunculan dan nilai korelasi masing-masing
terhadap kejadian risiko (risk events).
3. Dari Diagram Pareto digambarkan bahwa 50% risiko berpotensi digenerasi oleh
agen-agen risiko klasifikasi A, 30% risiko berpotensi digenerasi oleh agen-agen
risiko klasifikasi B, dan 20% berpotensi digenerasi oleh agen-agen risiko klasifikasi

8
4. Dari Kuadran Aksi Mitigasi, terdapat 4 (empat) kategori aksi mitigasi, yaitu
Kuadran 1, Kuadran 2, Kuadran 3, dan Kuadran 4. Yang berada pada Kuadran 1 dan
Kuadran 2 adalah aksi-aksi mitigasi yang memiliki tingkat keefektifan tinggi,
sedangkan pada Kuadran 3 dan 4 adalah aksi-aksi mitigasi yang memiliki tingkat
keefektifan rendah. Aksi-aksi mitigasi pada Kuadran 1 dan 3 memiliki tingkat
kemudahan yang tinggi untuk direalisasikan, sedangkan aksi-aksi mitigasi pada
Kuadran 2 dan 4 memiliki tingkat kesulitan yang tinggi untuk direalisasikan.
5. Dari Model House of Risk 2, diketahui 16 aksi mitigasi yang diprioritaskan untuk
direalisasikan.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.decisioncraft.com, issue no. 06/05/1.


Akao, Yoji, (1988), Quality Function Deployment: Integrating Customer Requirements
Into Product Design, Japanese Standards Association.
Chopra, Sunil dan Sodhi, ManMohan S. (2004), Understanding Supply-Chain Risk,
http://www.bokesoft.com/bbs/upload/200409170959.pdf, diunduh tanggal 29
Maret 2007.
Gaonkar, Roshan & Viswanadham, N. A Conceptual And Analytical Framework For
The Management Of Risk In Supply Chains, The Logistics InstituteAsia
Pacific, National University of Singapore.
Geraldin, Laudine H. (2007), Manajemen Risiko dan Aksi Mitigasi untuk Menciptakan
Rantai Pasok yang Robust, Tesis Program Pascasarjana Jurusan Teknik
Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
Handfield, Rob. (2007), Reducing the impact of disruptions to the supply chain.
http://www.sas.com/solutions/srm/supply_risk/sascom.pdf, diunduh tanggal 28
Agustus 2007.
Hendricks, K. dan Singhal, V. (2003), The Effect of Supply Chain Glitches on
Shareholder Wealth, Journal of Operations Management, 21, hal. 501-522.
Johnson, Eric. M, (1999), Supply Chain Management,
http://mba.tuck.dartmouth.edu/pages/faculty/dave.pyke/case_studies/supply_c
hain_or_ms.pdf, diunduh tanggal 7 September 2007.
Kerzner, Harold, (2006), Project Management: A system approach to planning,
scheduling, and controlling, 9th edition, John Wiley & Sons, Inc., New Jersey .
Knight, R. and Pretty, D. (1996), The Impact of Catastrophes on Shareholder Value,
The Oxford Executive Research Briefings, Templeton College, University of
Oxford, Oxford, England.
Kowalewski, Stefan. (2007), Safety and Reliability Engineering Part 9: Fault Trees
and FMEA, Embedded Software Laboratory RWTH Aachen University,
Summer Term 2007, http://www-i11.informatik.rwth-
aachen.de/fileadmin/user_upload/Redakteure/Vorlesungen/07sommer/SRE/9_
20070618_Fault_Trees_FMEA.pdf, diunduh tanggal 17 September 2007.

9
LaLonde, Bernard J. (1997), Supply Chain Management: Myth or Reality?, Supply
Chain Management Review, 1 (Spring), hal. 67.
Mentzer, John T (ed.), (2001), Supply Chain Management, Sage Publications, Inc.,
Thousand Oaks, California,
http://bus.utk.edu/ivc/supplychain/Readings/Managing%20SC_Collaboration.
pdf, diunduh tanggal 28 Agustus 2007.
Mentzer, John T, (2004), Global Supply Chain Risk Management, University of
Tennessee. http://bus.utk.edu/ivc/supplychain/Readings/GlobalSCRisk.pdf,
diunduh tanggal 28 Agustus 2007.
Mentzer, John T, (2006), Handbook Of Global Supply Chain Management.
http://www.sagepub.com/upm-data/11202_Chapter1.pdf, diunduh tanggal 7
September 2007.
Mitroof, J. dan Alpasan, M. Preparing for Evil, Harvard Business Review, April
2003, hal. 109-115.
Okongwu, Uche. (2006), A four-step methodology for process and interorganizational
integration within a supply chain management framework, XVme Confrence
Internationale de Management Stratgique, Annecy / Genve.
Pochard, Sophie. (2003), Managing Risks of Supply-Chain Disruptions: Dual Sourcing
as a Real Option. Master of Science in Technology and Policy, Massachusetts
Institute of Technology, Massachusetts,
http://ardent.mit.edu/real_options/Real_opts_papers/Master_Thesis-
Sophie.pdf, diunduh tanggal 17 September 2007.
Project Management Institute, Inc., (2008), A Guide to the Project Management Body of
Knowledge: PMBOK Guide, Fourth Edition, Pennsylvania.
Pujawan, I Nyoman. (2009), House of Risk: A Model for Proactive Supply Chain Risk
Management, Business Process Management Journal, Vol. 15, No. 6, hal.
953-967.
Sheffi, Yossi dan Rice Jr., James B. (2005), A Supply Chain View of the Resilient
Enterprise, MIT sloan Management Review, Fall 2005, Vol. 47, No. 1,
http://web.mit.edu/scresponse/repository/Sheffi_Rice_SC_View_of_the_Resili
ent_Enterprise_Fall_2005.pdf, diunduh tanggal 8 Oktober 2007.
Sheffi, Yossi. (2005), Building a Resilient Supply Chain, Harvard Business Review
ed, October 2005.
Simchi-Levi, David, (2003), Designing and Managing the Supply Chain: Concepts,
Strategies, and Case Studies, Second Edition. McGraw-Hill, New York.
Villacourt, Mario. (1992), Failure Mode and Effects Analysis (FMEA): A Guide for
Continuous Improvement for the Semiconductor Equipment Industry,
http://www.sematech.org/docubase/document/0963beng.pdf [diunduh tanggal
17 September 2007].
Wielgus, Paul. So, What Exactly is Risk Management?, GDS Associates, Inc.,
http://www.retailenergy.com/articles/So%20What%20Exactly%20is%20Risk
%20Mgmt.pdf, diunduh tanggal 9 Oktober 2007.
Wolfe, Michael. (2004), The Dynamics of Supply Chain Security, The Monitor,
Summer 2004, Vol. 10, No. 2.
http://www.maritimesecurityexpo.com/whitepapersarticles/The%20Dynamics
%20of%20Supply%20ChCha%20Security.pdf, diunduh tanggal 7 September
2007.

10