Anda di halaman 1dari 2

Lampiran pertanyaan:

1. Mengapa banyak kalangan merasa ragu dengan kesiapan Indonesia dalam


menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 ?

Berdasarkan fakta peringkat daya saing Indonesia periode 2012-2013 berada diposisi
50 dari 144 negara, masih berada dibawah Singapura yang diposisi kedua, Malaysia
diposisi ke dua puluh lima, Brunei diposisi dua puluh delapan, dan Thailand diposisi tiga
puluh delapan. Melihat kondisi seperti ini, ada beberapa hal yang menjadi faktor
rendahnya daya saing Indonesia menurut kajian Kementerian Perindustrian RI yaitu
kinerja logistik, tarif pajak, suku bunga bank, serta produktivitas tenaga kerja.

2. Apakah upaya yang akan dilakukan pemerintah agar mampu bersaing di kawasan
negara ASEAN ?

Dalam sektor usaha pemerintah akan meningkatkan perlindungan terhadap konsumen,


memberikan bantuan modal bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah,
memperbaiki kualitas produk dalam negeri dan memberikan label SNI bagi produk
dalam negeri. Dalam sektor tenaga kerja pemerintah akan meningkatkan kualifikasi
pekerja, meningkatkan mutu pendidikan serta pemerataannya dan memberikan
kesempatan yang sama kepada masyarakat. Selain itu, pemerintah akan
melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat luas mengenai adanya Masyarakat
Ekonomi ASEAN 2015 sehingga mampu menumbuhkan rasa percaya diri dan mampu
menghadapi berbagai macam tantangan dalam. Pemerintah yakin jika daya saing yang
kuat, persiapan yang matang, sehingga produk-produk dalam negeri akan menjadi tuan
rumah dinegeri sendiri dan kita mampu memanfaatkan kehadiran, untuk kepentingan
bersama dan kemakmuran rakyat. Pemerintah Indonesia juga menyiapkan respon
kebijakan yang berkaitan dengan Pengembangan Industri Nasional, Pengembangan
Infrastruktur, Pengembangan Logistik, Pengembangan Investasi, dan Pengembangan
Perdagangan (www.fiskal.depkeu.go.id).

3. Bagaimana langkah strategis yang dilakukan Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel


untuk menstabilkan perekonomian indonesia ditengah terjadinya Pasar Bebas
(Masyarakat Ekonomi Asean) ?
14. Rachmat Gobel mencanangkan Nawa Cita Kementerian Perdagangan, dengan
menetapkan target ekspor sebesar tiga kali lipat selama lima tahun ke depan. Cara
tersebut bisa dilakukan dengan membangun 5.000 pasar, pengembangan Usaha Mikro
Kecil dan Menengah (UMKM) serta peningkatan penggunaan produk dalam negeri.
Adapun target ekspor pada 2015 dibidik sebesar US$192,5 miliar. Selanjutnya
pemerintah juga menyiapkan strategi subsititusi impor untuk meningkatkan ekspor, dan
memberi nilai tambah produk dalam negeri. Pada saat ini 65 persen ekspor produk
Indonesia masih mengandalkan komoditas mentah.Pemerintah berusaha membalik
struktur ekspor ini yaitu dari komoditi primer ke manufaktur, dengan komposisi 35
persen komoditas dan 65 persen manufaktur. Oleh karena itu, industri manufaktur
diharapkan tumbuh dan fokus pada peningkatan kapasitas produksi, untuk
meningkatkan ekspor sampai 2019.

4. Kebijakan apa yang dilakukan pemerintah dalam menghadapi MEA? Pemerintah


Indonesia menyiapkan respon kebijakan yang berkaitan dengan membangun industri
nasional, pengembangan infrakstruktur, pengembangan logistik, pengembangan
investasi dan pengembangan perdagangan. Dan juga pemerintah berusaha mengubah
paradigma yang lebih mengarah kepada kewirausahaan dengan mengedepankan
kepentingan nasional.

5. Hambatan apa saja yang terjadi dalam menghadapi MEA? 1. Mutu pendidikan masih
rendah dimana hingga febuari 2014 jumlah pekerja berpendidikan SMP ataupun
dibawahnya tercatat sebanyak 76,4 juta atau sekitar 64 persen dari total 118 juta
pekerja di Indonesia. 2. Ketersediaan dan kualitas infrastuktur masih kurang sehingga
mempengaruhi kelancaran arus barang dan jasa. Menurut Global Competitiveness
Index (GCI) 2014, kualitas infrastruktur kita masih tertinggal dibandingkan negara
Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam dan Thailand. 3. Sektor industri yang rapuh
karena ketergantungan impor bahan baku dan setengah jadi. 4. Keterbatasan pasokan
energi. 5. Lemahnya Indonesia menghadapi serbuan impor, dan sekarang produk impor
Tiongkok sudah membanjiri Indonesia. Apabila hambatan-hambatan tadi tidak diatasi
maka dikhawatirkan MEA justru akan menjadi ancaman bagi Indonesia.