Anda di halaman 1dari 50

BAB I

Diagnosis

Data diagnostik diperoleh dari wawancara dengan pasien, pemeriksaan rongga mulut,
konsultasi dengan spesialis medis dan gigi, radiografi, dan memeriksan cast diagnostik yang
dievaluasi secara hati-hati selama perencanaan pengobatan (Nallaswamy D. 2007).

Evaluasi pasien

Evaluasi pasien adalah langkah pertama yang harus dilakukan dalam mengobati pasien.
Dokter gigi harus mulai mengevaluasi pasien segera setelah ia masuk klinik. Hal ini untuk
mendapatkan gagasan yang jelas tentang jenis pengobatan apa yang diperlukan bagi pasien
(Nallaswamy D. 2007).

1. Gaya berjalan
Dokter gigi harus perhatikan cara pasien masuk ke klinik. Orang dengan gangguan
neuromuskuler menunjukkan gaya beralan yang berbeda. Pasien tersebut akan mengalami
kesulitan dalam beradaptasi dengan gigi tiruan (Nallaswamy D. 2007).

2. Usia
Masa sepuluh tahun dari usia pasien, adalah penting untuk memprediksi hasil
pengobatan. Misalnya pasien dengan masa sepuluh tahun keempat kehidupan akan memiliki
kemampuan penyembuhan yang baik dan pasien di atas masa sepuluh tahun keenam akan
mengalami penyembuhan yang sedikit diragukan (Nallaswamy D. 2007).

3. Jenis kelamin
Pasien laki-laki umumnya tampil acuh tak acuh terhadap pengobatan. Mereka hanya
peduli tentang kenyamanan. Di sisi lain, pasien wanita yang lebih kritis tentang estetika dan
mereka biasanya dapat bertindak menolak dokter gigi dalam rencana perawatan.

4. Warna kulit dan Kepribadian


Mengevaluasi warna kulit membantu untuk menentukan warna gigi.

1
5. Indeks kosmetik
Pada dasarnya berbicara tentang harapan estetika pasien. Berdasarkan indeks kosmetik,
pasien dapat diklasifikasikan sebagai: (Nallaswamy D. 2007)

Kelas I: indeks kosmetik Tinggi. Mereka lebih peduli tentang pengobatan dan bertanya-tanya
apakah harapan mereka dapat terpenuhi.

Kelas II: pasien kosmetik sedang. Mereka adalah pasien dengan harapan nominal.
Kelas III: indeks kosmetik rendah. Pasien-pasien ini tidak peduli tentang pengobatan dan
estetika. Hal ini sangat sulit bagi dokter gigi untuk mengetahui apakah pasien puas dengan
pengobatan atau tidak.

6. Sikap Psikis Pasien


De Van menyatakan, "memenuhi pikiran pasien sebelum memeriksa mulut pasien".
Oleh karena itu, kita memahami bahwa sikap dan pendapat pasien dapat mempengaruhi hasil
pengobatan (Nallaswamy D. 2007).

Seorang dokter harus mengevaluasi warna rambut, tinggi badan, berat badan, gaya
berjalan, perilaku, status sosial ekonomi pasien, dll langsung dari saat ia masuk klinik.
Sebuah percakapan singkat akan mengungkapkan sikap psikisnya. Sebenarnya evaluasi
pasien dilakukan bersama dengan anamnesis tetapi karena biasanya dimulai sebelum
anamnesis (Nallaswamy D. 2007).

Berdasarkan sikap psikis mereka, pasien dapat dikelompokkan dalam dua klasifikasi.
Dr. MM House mengklasifikasikan pertama kali pada tahun 1950, yang kemudian seterusnya
diikuti (Nallaswamy D. 2007).

Klasifikasi Houses

Klasifikasi Dr.MM House pada tahun 1950 mengklasifikasikan menganai psikologi


pasien menjadi empat jenis: (Nallaswamy D. 2007)

2
Kelas I: Philosophical

a. Pasien yang menginginkan lebih dulu gigi nya untuk dilakukan ekstraksi, tidak
memiliki pengalaman dalam menggunakan gigi tiruan, dan tidak mengantisipasi kesulitan
khusus dalam hal itu.
b. Pasien yang telah menggunakan gigi tiruan yang memuaskan, berada dalam
kesehatan yang baik, dan membutuhkan perawatan gigi tiruan lanjut.

Umumnya mereka dapat digambarkan sebagai pasien yang santai, menyenangkan,


dapat menyesuaikan diri dengan baik, kooperatif dan percaya terhadap dokter gigi.
Pasien-pasien ini memiliki prognosis yang sangat baik.

Kelas II: Exacting

a. Pasien yang kurang sehat, sangat prihatin tentang penampilan dan efisiensi gigi
tiruan. Mereka merasa segan untuk menerima saran dari dokter dan dokter gigi dan tidak
mau menuruti untuk melepas gigi tiruan mereka.
b. Pasien yang menggunakan gigi tiruan yang tidak memuaskan dalam estetik dan
fungsi, dan meragukan kemampuan dokter gigi untuk membuat pengobatan yang
memuaskan, dan mereka yang bersikeras pada jaminan tertulis atau mengharapkan dokter
gigi untuk membuat berulang kali mencoba untuk menyenangkan mereka.

Pasien-pasien ini teliti, memiliki kecerdasan di atas rata-rata dalam berpakaian dan
berpenampilan, biasanya tidak meras puas dengan perawatan yang sebelumnya, tidak
memiliki keyakinan pada dokter gigi. Hal ini sangat sulit untuk memuaskan mereka. Tapi
begitu puas mereka menjadi pendukung terbesar dokter gigi.

Kelas III: Hysterical

a. Pasien dengan kesehatan yang buruk dan cenderung mengabaikan kondisi


kesehatan ataupun kebersihan rongga mulutnya dan memilikikeyakinan positif dalam

3
pikiran mereka bahwa mereka tidak akan pernah menggunakan gigi tiruan. Emosional
mereka tidak stabil dan cenderung mengeluh tanpa alasan.
b. Pasien yang telah mencoba untuk menggunakan gigi tiruan tetapi gagal. Mereka
benar-benar merasa kecewa. Pasien ini merasa histeris, gugup, dan akan menuntut
efisiensi dan penampilan dari gigi tiruan yang sama dengan gigi asli yang paling
sempurna. Sikap psikis mereka yang berubah-ubah sulit untuk memberikan perawatan
yang berhasil.

Pasien-pasien ini tidak ingin menjalani pengobatan. Mereka datang karena paksaan
dari kerabat dan teman-teman mereka. Mereka memiliki sikap yang sangat negatif
terhadap dokter gigi dan pengobatan. Mereka memiliki harapan yang tidak realistis dan
ingin hasil dari gigi yang lebih baik dari gigi asli mereka. Mereka adalah pasien yang
paling sulit untuk mengurus. Mereka menunjukkan prognosis yang buruk (Nallaswamy
D. 2007).

Kelas IV: Indifferent

Pasien yang tidak peduli tentang penampilan mereka dan merasa tidak memerlukan
memiliki gigi untuk pengunyahan. Oleh karena itu pasien ini tidak kooperatif dan tidak akan
mencoba untuk menjadi terbiasa dengan gigi tiruan. Mereka tidak akan mempertahankan gigi
tiruan dengan benar dan tidak menghargai usaha dan keterampilan dokter gigi.

Pasien juga dapat diklasifikasikan dalam kategori berikut:

Kooperatif

Pasien-pasien ini merupakan kelompok yang optimal. Mereka mungkin atau tidak
mungkin menyadari kebutuhan untuk menggunakan gigi tiruan, tetapi mereka berpikiran
terbuka dan setuju untuk menerima saran. Prosedur dapat dijelaskan dengan usaha yang
sangat sedikit dan mereka sepenuhnya kooperatif (Nallaswamy D. 2007).

Apprehensive

Meskipun pasien ini menyadari kebutuhan untuk gigi tiruan mereka memiliki beberapa
masalah irasional, yang tidak dapat diatasi dengan penjelasan biasa. Pendekatan untuk semua

4
pasien ini adalah untuk berbicara dengan mereka dan membuat mereka mengutarakan pikiran
mereka tentang gigi tiruan (Nallaswamy D. 2007).

Pasien apprehemsive dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu: (Nallaswamy D. 2007)

Anxious (cemas)
Pasien-pasien ini merasa cemas dan marah tentang keraguan menggunakan gigi
tiruan. Mereka sering menempatkan diri mereka ke dalam keadaan neurotik. Dalam
kasus ekstrim dan langka mereka mungkin menjadi psikotik.

Frightened (menakutkan)
Beberapa pasien takut dengan perkembangan kanker; ketakutan lainnya bahwa
mereka tidak akan bisa menggunakan gigi tiruan; rasa takut lainnya lagi bahwa gigi
tiruan tidak akan terlihat dengan baik. Kasus ekstrim pasien harus dirujuk ke psikiater.

Obsessive atau exacting


Orang ini secara alami bersifat menuntut dan terbiasa memberikan arahan
kepada orang lain. Mereka menyatakan keinginan mereka dan cenderung untuk
memberitahu dokter gigi bagaimana untuk melanjutkan. Pasien jenis ini harus
ditangani dengan tegas. Mereka harus diberitahu bijaksana sejak awal bahwa mereka
tidak diizinkan untuk mengarahkan dalam pembuatan gigi tiruan.

Chronic complainers
Mereka adalah sekelompok orang yang terbiasa bawel dan merasa tidak puas.
Menghargai kerja sama mereka dan menggabungkan banyak ide-ide mereka mungkin
dalam pembuatan gigi tiruan yang baik adalah cara terbaik untuk menangani mereka.
Cara terbaik adalah untuk memiliki pemahaman dengan pasien tersebut sebelum
pekerjaan dimulai. Dengan cara ini mereka dibuat untuk berbagi tanggung jawab
untuk hasilnya.

Self-conscious
Ketakutan di sini berpusat terutama pada penampilan. Akan bijaksana untuk
memberikan keyakinan yang jelas kepada pasien dan memungkinkan partisipasi
dalam pembuatan sejauh mungkin dalam rangka membangun tanggung jawab dalam
hasilnya.

5
Uncooperative

Pasien-pasien ini datang ke dokter gigi biasanya setelah didesak oleh kerabat atau
teman-teman. Mereka tidak merasa perlu untuk menggunakan gigi tiruan, meskipun
sebenarnya ia membutuhkannya. Sikap umum mereka adalah negatif. Mereka merupakan
kelompok yang sangat sulit dalam pemakaian gigi tiruan. Dalam banyak kasus, upaya untuk
membuat gigi tiruan untuk orang-orang ini adalah buang-buang waktu (Nallaswamy D.
2007).

Seiring dengan menganalisis sikap mental pasien, dokter gigi harus mengumpulkan
informasi tentang kebiasaan pasien, diet, riwayat gigi sebelumnya dan karakteristik fisik, dll
harapan pasien harus dipertimbangkan untuk mencapai kepuasan pasien (Nallaswamy D.
2007).

Memperoleh histori klinik

Anamnesis adalah prosedur yang sistematis untuk mengumpulkan rincian pasien untuk
melakukan perencanaan pengobatan yang tepat. Data pribadi dan medis dikumpulkan untuk
mengatasi penyakit umum dan untuk menentukan bentuk pengobatan terbaik untuk pasien
tersebut (Nallaswamy D. 2007).

1. Nama
Nama harus diminta untuk memasukkannya dalam catatan. Ketika pasien dipanggil
dengan namanya, maka akan memberikan kepercayaan psikologis. Nama ini juga
memberikan gambaran tentang keluarga pasien dan daerah asal mereka (Nallaswamy D.
2007).

2. Usia
Beberapa penyakit yang terbatas pada kelompok usia tertentu. Oleh karena itu, usia
dapat digunakan untuk menyingkirkan kondisi sistemik tertentu selain untuk menentukan
prognosis (Nallaswamy D. 2007).

3. Jenis kelamin
Pentingnya mengetahui jenis kelamin juga dibahas dalam evaluasi pasien.
Umumnya mentalitas pasien dipengaruhi oleh jenis kelamin. Penyakit tertentu terbatas
pada jenis kelamin. Oleh karena itu, jenis kelamin juga dapat digunakan untuk
menyingkirkan kondisi sistemik tertentu (Nallaswamy D. 2007).

6
4. Pekerjaan
Pegawai eksekutif dan penjual (sales) memiliki gigi yang lebih idealis. Sementara
orang lain yang bekerja di tempat-tempat dengan aktivitas fisik yang tinggi memiliki gigi
dengan kalkulus. Dan orang-orang dengan pendapatan yang lebih tinggi memiliki harapan
yang lebih besar. Orang-orang yang sangat sibuk akan lebih kritis tentang kenyamanan
(Nallaswamy D. 2007).

5. Ras
Ini membantu untuk memilih warna gigi (Nallaswamy D. 2007).

6. Tempat
Beberapa gangguan endemik seperti fluorosis terbatas pada daerah tertentu. Orang-
orang dari wilayah yang mungkin ingin karakterisasi (pola pewarnaan) pada gigi mereka
untuk penampilan yang balami (Nallaswamy D. 2007).

7. Agama dan Masyarakat


Memberikan gambaran tentang kebiasaan makan dan membantu untuk mendesain
gigi tiruan yang sesuai (Nallaswamy D. 2007).

8. Riwayat Kesehatan
Kondisi medis berikut harus dikesampingkan sebelum memulai perawatan gigi
tiruan. (Nallaswamy D. 2007)

a. Penyakit disabilitas
Pasien gigi tiruan lengkap, yang kebanyakan adalah geriatri, terikat untuk
menderita penyakit disabilitas seperti diabetes, diskrasia darah dan TBC. Pasien-
pasien ini memerlukan petunjuk khusus tentang perawatan gigi tiruan. Mereka juga
membutuhkan tindak lanjut khusus untuk mengamati respon dari jaringan lunak
terhadap gigi tiruan.

Pasien diabetes menunjukkan tingkat yang berlebihan dari resorpsi tulang,


maka, proses relining mungkin lebih sering diperlukan.

b. Penyakit Sendi
Penyakit yang paling umum dari sendi di usia tua adalah osteoarthritis. Pasien
gigi tiruan lengkap dengan osteoarthritis yang mempengaruhi sendi jari mungkin
merasa sulit untuk memasukkan dan gigi tiruan dengan bersih.

7
Osteoarthritis memainkan peran penting dalam pembuatan gigi tiruan lengkap
dalam mempengaruhi TMJ. Dengan membuka mulut terbatas dan gerakan yang
menyakitkan rahang, menjadi perlu untuk menggunakan sendok cetak khusus. Hal ini
juga mungkin menjadi perlu untuk mengulang hubungan rahang dan membuat
penyesuaian setelah insersi oklusal akibat perubahan sendi.

c. Penyakit kardiovaskular
Pasien selalu dianjurkan untuk berkonsultasi dengan spesialis jantung sebelum
memulai pengobatan. Pasien jantung akan membutuhkan waktu kontrol lebih pendek.

d. Penyakit Kulit
Penyakit kulit seperti Pemphigus memiliki manifestasi oral, yang bervariasi, dari
ulser hingga bula. Mungkin dapat menimulkan kondisi menyakitkan dalam
penggunaan gigi tiruan tanpa perawatan medis. Penggunaan gigi tiruan cekat
dihindari untuk pasien ini.

e. Gangguan Neurologis
Penyakit seperti Bell palsy dan penyakit Parkinson dapat mempengaruhi retensi
gigi tiruan dan catatan hubungan rahang.

f. Keganasan Oral
Beberapa pasien gigi tiruan lengkap dengan keganasan mulut mungkin
memerlukan terapi radiasi sebelum perawatan prostetik. Sebuah masa tunggu harus
dilalui antara akhir terapi radiasi dan awal pembuatan gigi tiruan lengkap. Hanya
radioterapis menentukan masa tunggu ini. Jaringan berwarna bronze dan hilangnya
tonisitas tidak cocok untuk dukungan gigi tiruan. Setelah gigi tiruan dibuat, jaringan
harus diperiksa sesering mungkin untuk melihat teradinya radionekrosis.

g. Kondisi masa kritis


Kondisi masa kritis seperti menopause dapat menyebabkan perubahan kelenjar,
osteoporosis dan perubahan kejiwaan pada pasien. Ini dapat mempengaruhi
perencanaan pengobatan dan efisiensi gigi tiruan lengkap.

9. Histori gigi
Meskipun bagian lain dalam sejarah yang penting, sejarah gigi adalah yang paling
penting mereka semua. (Nallaswamy D. 2007)

8
a. Chief complaint
Perlu dicatat dalam kata-kata pasien sendiri. Ini memberikan pemikiran tentang
psikologi pasien.

b. Harapan
Pasien harus ditanya tentang harapan nya. Dokter gigi harus mengevaluasi
harapan pasien dan mengklasifikasikan mereka sebagai pasien yang realistis,
attainable, atau tidak realistis.

c. Periode Edentulous
Data ini memberikan informasi tentang jumlah dan pola resorpsi tulang.
Penyebab hilangnya gigi harus ditanyakan (karies, periodontitis, dll).

d. Pre-treatment Rekaman
Rekaman pre-treatment adalah informasi yang sangat pentik. Catatan sebelum
pengobatan termasuk informasi tentang gigi tiruan sebelumnya, gigi tiruan saat ini,
catatan pra-ekstraksi dan cast diagnostik.

e. Gigi tiruan sebelumnya


Ini menunjukkan gigi tiruan yang digunakan sebelum gigi tiruan saat ini. Alasan
kegagalan prostesis harus ditanyakan dengan pasien. Pasien yang terus mengganti gigi
tiruan dalam waktu singkat sulit untuk memuaskan dan berisiko dalam
penanganannya.

f. Gigi tiruan saat ini


The gigi tiruan yang ada, yang dipakai oleh pasien saat ini, harus diperiksa
secara menyeluruh. Alasan untuk menginginkan pengganti harus dievaluasi. Gigi
tiruan ini memberi kita informasi tentang pengalaman penggunaan gigi tiruan,
perawatan gigi tiruan, pengetahuan gigi dan kebiasaan parafungsional pasien.

Faktor-faktor berikut harus diperhatikan pada prostesis yang ada:

Periode pasien telah memakai gigi tiruan harus ditentukan. Jumlah resorpsi ridge
harus catat untuk menentukan jumlah kemungkinan teradinya resorpsi ridge
setelah penempatan prostesis baru.
Warna gigi anterior dan posterior, cetakan dan material.
Oklusi sentris dan juga profil pasien dalam hubungan sentris. (Oklusi sentris adalah
posisi kontak berpusat dari permukaan oklusal gigi rahang bawah terhadap
9
permukaan oklusal gigi rahang atas -GPT. Ini harus ditandai sebagai penentu
apakah gigi tiruan diterima atau tidak dapat diterima.
Dimensi vertikal oklusi. Ini harus ditandai sebagai acceptable atau unacceptable..
Bidang orientasi dari bidang oklusal. Bidang yang berorientasi tidak baik akan
membuat gigi tiruan diatur dalam garis senyum yang terbalik.

Gambar 1. (a) garis senyum normal (b) garis senyum reverse.

(Nallaswamy D. 2007)

Permukaan jaringan dan permukaan yang telah dipoles atau cameo pada palatal
harus diperiksa. Reproduksi ruge harus diperhatikan.
Pola bicara pasien harus dicatat untuk setiap dentingan valving hidung.
Perpanjangan posterior dari gigi tiruan rahang atas harus dicatat.
Posterior palatal seal harus diperiksa. Ini harus ditandai sebagai acceptable atau
unacceptable.
Proper basal seat yang tepat dan adaptasi harus diperhatikan. Ini harus ditandai
sebagai acceptable atau unacceptable.
Garis tengah gigi tiruan harus diperiksa. Setidaknya gigi tiruan rahang atas harus
bertepatan dengan garis tengah wajah. Jika ada penyimpangan, jarak harus dicatat.
Ini harus ditandai sebagai acceptable (kurang dari 2 mm deviasi) atau
unacceptable. (lebih dari 2 mm deviasi).

10
Gambar 2.

(Nallaswamy D. 2007)

Jumlah ruang di depan vestibulum bukal harus diperiksa. Ini harus ditandai
sebagai acceptable atau unacceptable.
Adanya crossbite harus diperiksa. Perlu dicatat apakah tidak ada, unilateral atau
bilateral.
Karakterisasi atau pewarnaan dari gigi tiruan untuk estetika harus dicatat.
Kenyamanan pasien harus ditanyakan. Ini harus ditandai sebagai acceptable atau
unacceptable.
Pemeliharaan gigi tiruan harus dievaluasi. Hal ini dapat diklasifikasikan sebagai:
1) Baik
2) Sedang
3) Kurang
Aus atau pecah, mungkin merupakan indikasi dari bruxism. Gigi tiruan yang aus
dapat diklasifikasikan sebagai:
1) Minimal
2) Sedang
3) Parah.
Retensi dan stabilitas gigi tiruan harus diperiksa.
Perlekatan dan komponen lainnya pada pasien overdenture harus
diperiksa.
g. Catatan pra-ekstraksi
Termasuk radiografi pra-ekstraksi, foto, cast diagnostik, dll Mereka dapat
digunakan untuk perkembangan estetika anterior. Catatan ini juga dapat digunakan
untuk memandu hubungan rahang.

h. Cast diagnostik
Kadang-kadang, pemeriksaan intraoral mungkin tidak akurat karena pasien terus
menggerakkan rahang dan mengubah hubungan ridge. Dalam kasus seperti itu
mungkin diperlukan untuk mempersiapkan cast diagnostik dan memasak dalam
artikulator pada hubungan tentatif rahang. Set-up ini berfungsi untuk menilai ruang
antar-ridge, bentuk ridge dan kondisi ridge.

11
i. Keberhasilan gigi tiruan
Pasien harus ditanya tentang estetika dan fungsi gigi tiruan yang ada. Berdasarkan
komentar pasien, keberhasilan gigi tiruan harus diklasifikasikan sebagai
menguntungkan atau tidak menguntungkan.

Pemeriksaan klinis pasien

Dalam hal ini termasuk pemeriksaan ekstraoral dan intraoral (Nallaswamy D. 2007).

Pemeriksaan ekstraoral

Daerah kepala dan leher pasien harus diperiksa untuk setiap kondisi patologis. Warna
wajah,suara, warna rambut dan tekstur, simetri dan aktivitas neuromuskuler dicatat. Itu
termasuk pemeriksaan wajah, pemeriksaan tonus otot dan pengembangan, pemeriksaan bibir,
pemeriksaan TMJ dan pemeriksaan neuromuskular (Nallaswamy D. 2007).

1. Pemeriksaan wajah
Ini mencakup evaluasi fitur wajah, bentuk wajah, profil wajah dan tinggi wajah
yang lebih rendah.

a. Fitur wajah
Berikut adalah beberapa fitur pada wajah yang harus dicatat selama diagnosis
pasien:

a) Fitur perioral:
Panjang bibir.
Kesempurnaan bibir.
Pendukung yang jelas dari bibir.
Philtrum.
Nasolabial fold.
Sulkus mentolabial atau groove labiomental.
Komisura labial dan modiolus.
Lebar perbatasan vermillion. Ini mempengaruhi tingkat tampilan gigi.

12
Ukuran pembukaan mulut. Hal ini juga mempengaruhi tingkat tampilan gigi.
Tekstur kulit: (kasar atau halus dan warna terang). Tekstur kulit kasar akan
membutuhkan penempatan gigi kasar. Kerutan pada pipi menunjukkan
penurunan dimensi vertikal. Semua faktor yang disebutkan di atas dapat
membantu untuk menentukan warna, bentuk dan arrangementof gigi.

Gambar 3.

b. Bentuk wajah
House dan Loop, Frush dan Fisher, dan Williams mengklasifikasikan bentuk wajah
berdasarkan garis wajah persegi, lonjong, square tapering dan oval. Meneliti bentuk
wajah membantu dalam pemilihan gigi.

Gambar 4. Bentuk wajah persegi.

13
Gambar 5. Bentuk wajah lonjong.

Gambar 6. Bentuk wajah square tapering

Gambar 7. Bentuk wajah oval

c. Profil wajah
Pemeriksaan profil wajah sangat penting karena menentukan hubungan rahang dan
oklusi. Angle mengifikasikan profil wajah seperti berikut:

Kelas I: profil normal atau lurus.

14
Gambar 8. Profil wajah lurus.

Kelas II: profil retrognati

Gambar 9. profil retrognati

Kelas III: profil prognati.

Gambar 10. profil prognati.

d. Tinggi wajah bagian bawah

15
Menentukan ketinggian wajah bagian bawah penting untuk menentukan hubungan
rahang vertikal (lihat hubungan rahang). Bagi pasien yang sudah memakai gigi tiruan
lengkap, ketinggian wajah bagian bawah diperiksa di bawah oklusi. Jika wajah
memendek, ini menunjukkan hilangnya dimensi vertikal (VD). Penurunan VD
menghasilkan kerutan di sekitar mulut. VD berlebihan akan menyebabkan jaringan wajah
melonggar.

Gambar 11. tinggi wajah bagian bawah yang normal.

Gambar 12. penurunan tinggi wajah bagian bawah.

Gambar 13. peningkatan tinggi wajah bagian bawah.

2. Muscle tone/ tonus otot

16
Muscle tone dapat mempengaruhi stabilitas gigi tiruan. House mengklasifikasikan muscle
tone menjadi:

Kelas I: ketegangan, tonus dan ketak otot mastikasi dan ekspresi wajah normal.
Kelas II: fungsi otot normal tetapi tonus otot sedikit berkurang
Kelas III: berkurangnya tonus dan fungsi otot.

3. Penampilan

Warna mata, rambut dan kulit membantu dalam penentuan gigi anarsir. Warna kulit yang
pucat mengindikasikan adanya anemia dan harus dilakukan penanganan.

4. Pemeriksaan bibir
Dukungan bibir: berdasarkan besarnya dukungan bibir, bibir dapat diklasifikasikan
menjadi didukung secara adekuat atau tidak terdukung dengan baik.
Mobilitas bibir: normal (kelas 1), mobilitas berkurang (kelas 2) dan paralisis (kelas 3).
Kesehatan bibir: bibir diperiksa apakah ada fissure, atau ulser di sudut mulut. Jika
ada, hal ini mengindikasikan defisiensi vitamin B, candidiasis, atau penurunan VD
yang terlalu lama.

5. Pemeriksaan TMJ

Sendi TMJ harus diperiksa mengenai rentang pergerakan, nyeri, otot mastikasi, bunyi sendi
ketika gerakan rahang membuka dan menutup. Nyeri yang parah pada TMJ mengindikasikan
adanya peningkatan atau penurunan dimensi vertikal.

Pemeriksaan intraoral (Nallaswamy D. 2007)

1. Gigi yang tersisa


2. Mukosa
- Warna mukosa
Adanya warna kemerahan mengindikasikan adanya perubahan inflamsi. Hal ini
bisa karena gigi tiruan yang tidak pas, merokok, infeksi atau penyakit sistemik.
Jaringan yang terinflamasi akan menghasilkan cetakan yang tidak tepat ketika
dilakukan pencetakan.

17
- Kondisi mukosa
Kelas 1: mukosa sehat
Kelas 2: mukosa teriritasi
Kelas 3: mukosa patologis
- Ketebalan mukosa
Kualitas mukoperiosteum dapat bervariasi pada bagian yang berbeda di dalam
lengkung. Variasi ketebalan mukosa akan membuat kesulitan untuk
menyambankan tekanan di bawah gigi tiruan dan menghindari rasa sakit.

3. Saliva
- Kelas 1: Kualitas dan kuantitas saliva normal. Sifat kohesif dana adhesive baik.
- Kelas II: Saliva berlebih. Mengandung banyak mucus.
- Kelas III: Xerostomia

Saliva yang kental akan cenderung menumpuk pada jaringan dan gigi tiruan.
Pasien xerostomia akan menunjukan retensi yang buruk dan iritasi jaringan yang
berlebihan sedangkan saliva yang berlebihan akan mempersulit prosedur klinis.

4. Residual alveolar ridge


Ukuran rahang
Klasifikasi ukuran rahang :
Kelas 1 : besar ( ideal untuk kestabilan dan retensi gigi tiruan )
Kelas 2 : medium ( baik untuk kestabilan dan retensi gigi tiruan )
Kelas 3 : kesil ( susah untuk dijadikan retensi gigi tiruan )
Lengkung rahang
Ini berperan penting dalam medukung gigi tiruan. Macam-macam variasi
bentuk rahang square, ovoid, dan tapered. House mengklasifikasikan lengkung
rahang sebagai berikut :
Kelas 1 : square (gambar 2.20)
Kelas 2 : tapering (gambar 2.21)
Kelas 3 : ovoid (gambar 2.22)

18
Ridge
Terdapat juga klasifikasi ridge, yaitu ridge mandibular dan ridge maksila

Klasifikasi ridge maksila


Kelas 1 : tegas berbentuk square
Kelas 2 : tapering atau V shaped
Kelas 3 : flat

Klasifikasi ridge mandibular


Kelas 1 : inverted U shape (dinding pararel, ketinggian ridge sedang dengan
broad ridge crest) (gambar 2.26)
Kelas 2 : inverted U shaped (pendek dengan crest yang datar) (gambar 2.27)
Kelas 3 : unfavorable
Inverted W (gambar 2.28)
Short inverted V (gambar (2.29)
Tinggi dengan inverted yang tipis V (gambar 2.30)
Terdapat undercut (gambar 2.31)

19
Palatum keras
Bentuk dari palatum harus diperiksa. Palatum keras bisa diklasifikasikan
sebagai beriku :
U shaped : ideal untuk retensi dan stabilisasi (gambar 2.41)
Vshaped : retensi yang lemah, pada pheriperal seal mudah patah (gambar
2.42)
Flate : rentan patah pada bagian lateral dan rotary (gambar 2.43)

20
Palatum lunak

Klasifikasi dari bentuk throat

House mengklasifikasikan berdasarkan hubungan antara palatum lunak dan


palatum keras yang biasa disebut dengan classification of palatat throat form.
Klasifikasinya sebagai berikut :

- Kelas 1 : ukurannya besar dan bentuknya normal, dengan pergerakan ikatan


dari jaringan 5-12 mm dengan garis bawah di tepi distal dari tuberositas.
(Gambar. 14)

21
Gambar 14. Kelas satu palatal throat form

- Kelas 2 : ukurannya sedang dan bentuknya normal, dengan realtif pergerakan


ikatan elastis dari jaringan 3-5 mm dengan garis bawah di tepi distal dari
tuberositas. (Gambar 15)

Gambar 15. kelas 2 palatal throat form

- Kelas 3 : biasanya disertai dengan ukuran maxilla yang kecil. Tirai dari
jaringan lunak mengarah ke anterior 3-5mm dengan garis bawah di palatum di
tepi distal dari tuberositas (Gambar 16),

22
Gambar 16. Kelas 3 palatal throat form

5. Undercut tulang

Tidak dapat membantu retensi. Undercut tulang terlihat diantara maksila dan
mandibular. Dalam lengkung maksila mereka ditemukan pada region anterior dan
lateral dari tuberositas. Dalam lengkung mandibular, daerah dibawah ridge
mylohyoid. (gambar 20)

Gambar 20. Undercut tulang pada maksila dan mandibular

Pada kasus lengkung maksila, menghilangkan undercut dengan pembedahan tidak di


wajibkan. Pada kasus ridge mylohyoid, pengurangan atau reposisi dari ikatan
mylohyoid bisa dilakukan. Jika terjadi bilateral undercut maka harus dieliminasi.

6. Tori

Tori adalah keabnormalitasan tulang prominence yang ditemukan pada pertengahan


cekungan palatum dan pada sisi lingual dari mandibular pada region premolar. Tidak
perlu melakukan pembedahan tori maxilla jika itu tidak terlalu besar.

23
Tori maxilla dan mandibular diklasifikasikan sebagai berikut :

Kelas 1 : tidak ada tori atau tori dengan ukuran minimal. Munculnya tori tidak
mengganggu pembuatan gigi tiruan (gambar 21).

Gambar 21. kelas 1 tori

Kelas 2 : pemeriksaan klinis memperlihatkan ukuran tori sedang. Tori sedikit


menghambat pembuatan dan penggunaan gigi tiruan. Pembedahan tidak diwajibkan.
(gambar 22)

Gambar 22. kelas 2 tori

Kelas 3 : tori yang besar. Diwajibkan untuk dilakukan pembedahan atau sekedar
pembentukan tori

7. Otot dan frenal attachment

24
Otot dan frenal attachment harus di periksa posisi hubungan puncak ridge. Pada kasus
dengan resopsi residual ridge, itu umum terlihat pada labial mandibular dan lingual
frenal attachment dekat dengan puncak ridge.

Keabnormalitasan attachment dapat mengakibatkan displacement gigi tiruan selama


pergerakan otot. Sehingga otot dan frenal attachment harus dilakukan relokasi
pembedahan. House mengklasifikasikan border dan frenal attachment, sebagai
berikut:

Klasifikasi border attachment

- Kelas 1 : attachment terletak jauh dari puncak ridge. Jaraknya kurang lebih 0,5
inchi diantara attachment dan puncak ridge (gambar 23)
- Kelas 2 : jarak anatara puncak ridge dan attachment kira-kira 0,25 sampa 0,5
inchi (gambar 24).
- Kelas 3 : Jarak anatra puncak ridge dan attachment kurang dari 0,25 inchi
(gambar 25).
-

Gambar 23: kelas


Gambar
1 border24:
attachment
kelas
Gambar
2 border
25:attachment
kelas 3 border attachment

Klasifikasi frenal attachment

- Kelas 1 : frenluum terletak jauh dari puncak ridge (gambar 26)

25
Gambar 26. kelas 1 frenal attachment

- Kelas 2 : frenulum terletak dekat dengan puncak ridge (gambar 27)

Gambar 27. kelas 2 frenal attachment

- Kelas 3 : freni mengganggu puncak ridge dan mungkin mengganggu


denture seal. Diwajibkan pengkorekasian dengan pembedahan (gambar 28)

Gambar 28. kelas 2 frenal attachment

8. Lidah

Pemeriksaan lidah sebagai berikut :

26
- Ukuran : lidah dengan ukuran besar dapat menurunkan kestabilan gigi tiruan dan
juga menghalangi pembuatannya. Lidah yang tergigit umum terjadi setelah
pemakaian gigi tiruan.

House mengklasifikasikan lidah sebagai berikut :

Kelas 1 : ukurannya, perkembangan dan fungsi masih normal. Memiliki gigi yang
lengkap sehingga dapat mempertahankan bentuk dan fungsi normal lidah (gambar
29).

Gambar 29. Kelas 1 tongue

Kelas 2 : dijumpai dengan banyak kehilangan gigi dan mengakibatkan perubahan


fungsi dan bentuk lidah (gambar 30).

Gambar 30. kelas 2 tongue

27
Kelas 3 : lidah yang besar. kehilangan semua gigi dalam waktu yang cukup lama,
diikuti dengan keabnormalitasan perkembangan lidah (gambar 31).

Gambar 31. kelas 3 tongue

Klasifikasi Wrigh berdasarkan posisi lidah

Kelas 1 : Letak lidah di dasar mulut dengan ujungnya kedepan dan sedikit
dibawah insisal edge dari gigi anterior mandibular (gambar 32).

Gambar 32. kelas 1 lidah

Kelas 2 : lidah datar dan lebar tapi ujungnyanya berada pada posisi yang normal
(gambar 33)

28
Gambar 33. kelas 2 lidah

Kelas 3 : lidah tertarik dan depresi diatas dasar mulut dengan ujung mengerut
keatas atau kebawah dari badan lidah (gambar 34)

Gambar 34. kelas 3 lidah

9. Dasar mulut

Hubungan dasar mulut dengan puncak ridge sangat sulit menentukan prognosis gigi
tiruan lengkap pada rahang bawah. Pada beberapa kasus, ditemukan dasar mulut dekat
yang dengan puncak ridge, khususnya region sublingual dan mylohyoid. Dimana ini
dapat menurunkan kestabilan dan retensi dari gigi tiruan.

Dasar mulut bisa diukur dengan Wiliams probe. Pasien harus menyentuh bibir
atasnya dengan lidah untuk menggerakan otot dasar lidah (gambar 35).

29
Gambar 35

Pemeriksaan radiografi (Nallaswamy D. 2007)

Kehilangan tulang, dan struktur tulang basal didalam denture bearing area harus dievaluasi .
Yang tidak boleh terlupakan, kehadiran gigi impaksi dan akar tunggal yang terpendam harus
di periksa.

Radiografi dipilih untuk memeriksaan pasien complet edentuloud dengan radiografi


panoramic karena panoramic akan menggambarkan keseluruhan maxilla dan mandibular.

Pertimbangan selama pemeriksaan radiografi

- Rahang harus terfoto untuk melihat fragment akar, gigi tidak erupsi, penipisan,
sclerosis, kista, tumor, atau TMJ disorder.
- Jumlah resopsi ridge harus dapat dinilai.
- Jumlah dan kualitas tulang harus dapat dinilai.

Penilaian radiografi dari resopsi tulang

Jumlah resopsi bisa diklasifikasikan sebagai berikut :

- Kelas 1 : (resopsi minimal) kehilangan satu pertiga dari tinggi vertical.


- Kelas 2 : (resopsi sedang) kehilangan dua pertiga dari tinggi vertical.
- Kelas 3 : (resopsi parah) kehilangan lebih dari dua pertiga dari tinggi vertical.

Penilaian radiografi dari jumlah dan kualitas tulang

Branemark et al mengklasifikasikan bone quantity radiographicaly, yaitu : kelas A, B, C, D


dan E (gambar 2.70). dan klasifikasi quality bone radiographicaly, yaitu : kelas 1,2,3 dan 4
(gambar 2.71)

30
Rencana perawatan (Nallaswamy D. 2007)

Mengeliminasi infeksi

Sumber infeksi seperti infeksi necrotic ulser, gigi dengan periodontal lemah, gigi non-vital
yang harus dihilangkan. Kondisi infeksi seperti candidiasis, herpetic stomatitis, dan denture
stomatitis harus diobati dan disembuhkan sebelum dilakukan treatment.

Mengeleminasi pathologis

Pathologis seperti kista dan tumor pada rahang harus dihilangkan atau diobati sebelum
dibuatkan gigi tiruan. Pasin harus di edukasi tentang efek bahaya dari kondisi tersebut dan
dibutuhkan penghilangan lesi tersebut. Beberapa kasus pathologis melibatkan keseluruhan
tulang

Diagnosis klinis partial removable denture

Mengevalusi klinis dari kebradaan gigi

Ini merupakan bagian penting dalam keberhasilan pembuatan gigi tiruan sebagian. Gigi yang
tersisah adalah struktur support utama.

Mengevaluasi kebradaan gigi berada dibawah penilaian local klinis, beberapa factor yang
harus dievaluasi pada gigi yang tersisah.

Kesehatan periodontal

31
Kondisi periodontal pada gigi yang tersisah harus di periksa. Tanda-tanda klinis dari
kesehatan periodontal seperti inflasmasi gingiva, perdarahan pada saat probing,
kerusakan periodontal, kegoyangan gigi dan lainya harus di evaluasi (gambar 37)

Gambar 37. Status periodontal secara klinis bisa dievaluasi dengan menggunakan
periodontal probe

Menilai tingkat OH seseorang dapat menggunakan oral hygen index, inflamasi


gingiva, perdarahan. Kerusakan periodontal dan kegoyangan gigi dinilai dengan
menggunakan Russels index. Kegoyangan gigi bisa diukur dengan menggunakan
forcemeter dan periodontometers.

Sesudah menilai kesehatan periodontal. Secara klinis harus memutuskan apakah gigi
tersebut dipertahankan atau harus ducabut.

Penilaian oklusi gigi-gigi yang tersisah.


Gigi harus memiliki hubungan cups to fosa. Kesalahan kontak oklusi harus di evaluasi
dengan preparasi gigi.

Menilai status konservatis dan endodontik


Gigi yang tersisah harus dinilai berdasarkan lesi karies seperti pit dan fissure,
kedalaman karies, dan lainnya. Kedalaman lesi dan kevitalitasan dari pulpa harus di
cek. Gigi yang retak atau patah harus dilakukan pengecekan.

BAB II

KASUS 1

1. Pemeriksaan klinis subjektif


32
Anamnesa
Nama : Mister X
Usia : 22 tahun
Jenis kelamin : laki-laki
Pekerjaan : mahasiswa
Ras :-
Alamat :-
Agama :-
Riwayat kesehatan : TK
History gigi : gigi depan pernah dicabut 1 bulan yang lalu karena patah dan
Ingin dibuatkan gigi tiruan untuk menggantikan gigi yang hilang pada gigi
depan atas kanan karena pasien merasa malu. Pasien tidak pernah memakai
gigi tiruan.

2. Pemeriksaaan klinis objektif


Pemeriksaan ektraoral
Bentuk wajah : ovoid , TK
Profil wajah :-
Tinggi wajah bagian bawah :
Otot : TK
Penampilan : TK
Pemeriksaan bibir : TK
Pemeriksaan TMJ : -

Pemeriksaan intraoral
Gigi yang tersisah : rahang atas : 11,13,14,15,16,17,18,21,22,23,24,25,26,
27, 28
Rahang bawah : komplit
Oklusi : ada
Hubungan gigi posterior (cups to margin ridge )
Sisi kiri : 27 dengan 37
Sisi kanan : 17 dengan 47
Hubunga gigi posterior (cups to fosa)
Sisi kiri : 24 dengan 34 dan 35, 25 dengan 35 dan 36, 26 dengan
36 dan 37
Sisi kanan : 14 dengan 44 dan 45, 15 dengan 45 dan 46 , 16 dengan
46 dan 47

33
Hubungan gigi anterior
Overjet : 2mm
Overbite : 3mm
Oklusi dinamik : UBO
Gangguan oklusi :-

Residual alveolar ridge


Ukuran rahang : besar
Lengkung rahang : ovoid
Bentuk ridge
Ridge maksila : ovoid
Ridge mandibular : --
Palatum : ovoid
Tori : flat
Lidah : normal
Dasar mulut : TK

Gambaran intra oral

Model study

34
Status lokalis

35
3. Pemeriksaan penunjang rontgen

Gigi patah seluruh mahkota klinis 12 dan gigi patah diujung mesial makhota klinis
gigi 21
Gigi 13 mesioversi
Jaringan pendukung gigi normal
Tulang alveolar ridge pada edentulous dalam keadaan normal

model kerja

36
KASUS 2

1. Pemeriksaan klinis subjektif


Anamnesa
Nama : Mister X
Usia : 23 tahun
Jenis kelamin : laki-laki
Pekerjaan : mahasiswa
Ras :-
Alamat :-
Agama :-
Riwayat kesehatan : TK
History gigi : gigi pernah dicabut hanya tinggal sisah akar, pencabytan
terkahir januari 2015. Pasien ingin mengganti giginya yang hilang agar dapat
memaksilamkan fungsi kunyah. Pasien tidak pernah memakai gig tiruan

2. Pemeriksaaan klinis objektif


Pemeriksaan ektraoral

37
Bentuk wajah : ovoid , TK
Profil wajah : --
Tinggi wajah bagian bawah : --
Otot : TK
Penampilan : TK
Pemeriksaan bibir : TK
Pemeriksaan TMJ : TK

Pemeriksaan intraoral
Gigi yang tersisah : rahang atas : komplit
Rahang bawah : 31,32,33,34,35,37,38,41,42,43
44,45,47,48
Oklusi : ada
Oklusi statik :
Hubungan gigi posterior (cups to margin ridge )
Sisi kiri : 25 dengan 34,35
Sisi kanan : -
Hubunga gigi posterior (cups to fosa)
Sisi kiri : -
Sisi kanan : 15 dengan 45,27, dengan 47
Hubungan gigi anterior
Overjet : 2mm
Overbite : 2mm
Oklusi dinamik : UBO
Gangguan oklsi :-

Residual alveolar ridge


Ukuran rahang : besar
Lengkung rahang : ovoid
Bentuk ridge
Ridge mandibular : ovoid
Palatum : ovoid
Vestibulum : normal
Tori : Maksila kecil
Mandibula kecil
Lidah : normal
Dasar mulut : TK

38
Gambaran intraoral

Status lokalis

39
3. Pemeriksaan penunjang (rontgen)
Gambar radografi

Gigi hilang : 36, dan 46


Gigi impaksi : 38, dan 48
Jaringan pendukung gigi normal
Tulang alveolar ridge pada edentulous dalam keadaan normal

40
BAB III

Kasus 1

41
KASUS 2

42
BAB IV

Kasus 1

Disain utama

Menggunakan bridge jenis maryland dimana retainernya menggunkan sayap yang diletakan
di gigi tetangganya . Karena sifatnya yang permanen, bridge tidak terasa seperti
menggunakan gigi palsu sehingga nyaman digunakan. Bridge tampak dan terasa seperti gigi
asli sehingga bisa jadi alternatif gigi tiruan yang baik selain implant. Keunggulan bridge
terletak di harganya yang lebih murah dan tidak melalui proses pembedahan serta
prosedurnya jauh lebih singkat dan simple dibandingkan implant dan estetikanya yang bagus
bila menggunakan bahan porselen. Mekanisme retensi yang dikembangkan oleh
microporosity pada permukaan jaringan dari retainer. Mikroporositas terbentuk oleh etching
bonding yang diletakan di permukaan email gigi penyangga dibagian lingual. Kekurangannya
yaitu, bridge memerlukan penyangga yang diletakan pada gigi-gigi tetangganya, dimana gigi-
gigi tetangganya harus dipreparasi walaupun hanya sebatas email (Nallaswamy D. 2007).

Pontik

Karena pada kasus ini kehilangan giginya pada bagian anterior yaitu regio 12 jadi
memerlukan estetik yang terbaik maka pontik yang digunakan adalah gigi porselen. Pontik
jenis ini memiliki kekerasan dan ketahanan abrasi yang lebih baik daripada gigi plastik.
Resisten terhadap aus yang sangat tinggi dan dapat mempertahankan dimensi vertikal pasien
untuk jangka waktu lama. Tetapi gigi porselen memiliki resistensi fraktur yang buruk
(Nallaswamy D. 2007).

43
Disain alternative

Alasan memakain akrilik karna harganya lebih murah, ringan, disainya sederhana, dan mudah
dibuat. Disesuaikan dengan kondisi pasien harga akrilik lebih terjangkau dibandingkan bahan
lainnya warna menyerupai element gigi asli dan warna gingival. (Nallaswamy D. 2007)

Keuntungan:2

Gigi anterior dapat dikembalikan pada posisi semula (tingkat estetik) bahkan dalam
kasus dengan residual ridge resorption.
Mengembalikan kontur edentulous ridge.
Menunjukkan kontur normal bibir dan pipi.
Dapat dilakukan reline bila diperlukan.

Kekurangan:2

Harus memiliki rest di area yang luas agar stress dapat tersebar dengan baik.
Karena basis gigi tiruan akrilik harus tebal untuk menahan tekanan oklusal, maka
jumlah ruang yang tersedia untuk penempatan gigi tiruan berkurang. Hal ini
menjadi lebih bermasalah dalam kasus-kasus dengan jarak antar-lengkung
berkurang.
Dapat patah pada penggunaan.
Cenderung berubah akibat melepaskan strains internal.
Cenderung terjadi deposit saliva. Hal ini menyebabkan pembentukan kalkulus dan
iritasi jaringan lunak.

Pontik

Menggunakan tube teeth karena indikasinya untuk penggantian gigi tunggal. Tube teeth
terbuat dari gigi tiruan plastik atau porselen dengan saluran diatas permukaan ridge lap gigi.
Sebuah post logam ini dibuat bersama dengan kerangka logam dengan waxing saluran gigi ini
selama pembuatan pola (Nallaswamy D. 2007).

44

Gambar 268. Tube teeth.2


Keuntungan: (Nallaswamy D. 2007)

Post ditutupi oleh akrilik atau porselen, memiliki estetika yang lebih baik
Waktu pembuatan lebih sedikit.
Bisa juga digunakan untuk mengganti gigi premolar.

Keterbatasan: (Nallaswamy D. 2007)

Membutuhkan ruang mesiodistal dan ruang oklusal.


Membutuhkan well-healed ridge, gigi harus beradaptasi dengan jaringan
lunak untuk mencapai estetika yang lebih baik.
Tidak bisa digunakan untuk penggantian gigi yang multiple.

Klamer

Klamer yang dipakai C-claps pada gigi 13 dan 23

45
Kasus 2

Disain utama

Dalam proses ini dilakukan langkah pendahuluan yaitu tindakan bedah pada gigi 38 dan 48
yang terjadi impaksi.

Basis

Pada kasus ini di menggunakan basis kerangka logam karena sifatnya yang rigid.

Keuntungan: (Nallaswamy D. 2007)

Adaptasi jaringan lunak yang akurat untuk mendapatkan retensi yang lebih baik
dan pemulihan kontur wajah.
Perawatan permanen dari bentuk rongga mulut tanpa distorsi, basis gigi tiruan resin
cenderung mendistorsi akibat melepaskan strains internal.
Mudah dibersihkan dan deposit saliva tidak menumpuk di bawah basis metal.
Lebih kuat dibandingkan dengan akrilik.
Basis logam yang tipis dapat digunakan dalam kasus-kasus dengan resorpsi ridge
yang parah.
Menimbulkan sedikit gangguan pada lidah.
Respon jaringan lunak yang lebih baik. Hal ini karena bahan ini memiliki
kepadatan dan bersifat bakteriostatik.

Kekurangan: (Nallaswamy D. 2007)

Sulit untuk di trim dan disesuaikan.


Over-ekstension dapat melukai jaringan lunak
Under-ekstension dapat menyebabkan resorpsi ridge, karena tekanan terkonsentrasi
dalam area yang lebih kecil.
Estetik kurang.
Sulit untuk reline atau rebase.

46
Konektor mayor

Menggunakan konektor mayor yaitu lingual bar dimana ini merupakan konektor paling
umum yang digunakan di mandibula, memiliki kualitas mekanik sangat baik dan memberikan
kemungkinan desain denture yang mempertimbangkan kesehatan jaringan periodonsium gigi
abutment. Basis dan konektor major dan minor yang didesain tidak berkontak dengan
alveolar ridge atau palatum/lingual secara aproksimal 3 mm dari gigi, untuk mencegah atau
mengurangi efek negatif dari oral hygiene yang buruk. Lingual bar adalah setengah
berbentuk buah pir di penampang dengan bagian paling tebal ditempatkan di inferior
(Nallaswamy D. 2007).

Gambar 1. Lingual bar.5

Keuntungan dan kerugian lingual bar :

Keuntungan: (Nallaswamy D. 2007)


Sangat mudah untuk membuat.
Memiliki kontak ringan dengan jaringan mulut dan tidak ada kontak dengan gigi
(tidak ada dekalsifikasi karena makanan dan plak akumulasi, dll).

Kekurangan: (Nallaswamy D. 2007)


Tidak dapat digunakan dalam kasus-kasus dengan torus (kontraindikasi).
Dalam kasus dengan kedalaman vestibular terbatas, bar akan menipis dan cenderung
melenturkan.

47
Klamer

Disini menggunakan cengkram tuang yaitu mengunakan klamer acres sebagai direct retainer
pada gigi 37 dan 47. Merupakan bentuk dasar dari sirkumferensial, cengkram ini terdiri dari
lengan bukal, lengan lingual dan sebuah sandaran oklusal. Cengkram ini merupakan pilhan
pertama untuk gigi molar dan premolar, terutama jika gigi tidak miring dan estetik tidak
penting.

Dan juga half Jackson pada gigi 35 dan 45 agar lebih kuat menahan beban oklusal. Fungsi
klamer disini agar menjaga agar plat tetap melekat di dalam mulut, dan mempertahankan
stabilisasi alat pada saat mulut berfungsi (Mc cracken. 2011).

Occlusal rest

Menggunakan oclusal rest untuk untuk mentransfer beban oklusal pada gigi abutment. Guide
plane dibuat pada permukaan proksimal gigi abutment sepanjang dimana bagian tertentu dari
partial denture/ gigi tiruan tersebut meluncur di saat insersi atau pelepasan gigi tiruan
tersebut. Guide plane membantu dalam menyediakan tensofrictional resistance/ indirect
retention pada proximal plate dari gigi tiruan tersebut (Nallaswamy. 2007).

Pontik

Pontinya menggunakan Reinforced acrylic pontics (RAP) dimana akrilik yang dibuat
menutupi metal. Metal memberikan kekuatan pada gigi.

Keuntungan: (Nallaswamy D. 2007)

Kekuatan yang sangat baik dan estetika.


Dapat dirancang sedemikian rupa.
Tetap kuat bahkan dalam ukuran yang kecil. Oleh karena itu, dapat digunakan dalam
kasus-kasus dengan pengurangan ruang antar-lengkung.

48
Kekurangan: (Nallaswamy D. 2007)

Kontraindikasi untuk kasus-kasus dengan resorpsi ridge yang parah.


Sedikit dukungan yang dapat diperoleh dari ridge.
Tidak bisa dilakukan reline.

Disain alternaive

Secara garis besar alasannya hampir sama dengan disain alternative pada kasus 1, namun
pontik yang digunakan disini porcelen fused to metal. Karena dia lebih tahan terhadap
tekanan oklusi dan juga estetiknya masih baik. Sedangkan klasmer yang dipakai pada kasus
ini adalah cengkram 3 jari dan juga half Jackson.

49
Daftra pustaka

Maher, Noor Al-Deen. 2010. Removable Prosthodontics II - Acrylic Removable Partial


Dentures - SIUST, College of Dentisty.

Nallaswamy D. 2007. Textbook of Prosthodontics. New delhi: Jaypee Brothers Medical


Publishers.

Mc cracken. 2011. Removable Partial Prosthodontics. 12ed. Elsevier mosby. Canada.

50