Anda di halaman 1dari 112

PROSES PRODUKSI 1

Makalah

Disusun Oleh:
Kelompok 2

Octa Ria 260112150507


Fadilah Syafrani 260112150510
Hayati Kusuma Dewi 260112150524
Nufus Dwianita 260112150607
Devi Rahmawati 260112150611

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah mengenai Proses Produksi
guna memenuhi tugas mata kuliah Farnasi Industri, Fakultas Farmasi,
Universitas Padjadjaran. Kami juga berterima kasih pada Bapak Dudi Runadi,
M. Si. Apt. yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami berharap makalah ini dapat berguna dalam menambah
wawasan serta pengetahuan mengenai proses produksi non steril. Kami
menyadari bahwa terdapat banyak kekurangan dan jauh dari sempurna.
Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran, dan usulan demi
perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran membangun.
Semoga makalah ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.

Jatinangor, April 2016

Penulis
Halaman
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN 5
BAB II RANGKAIAN PROSES PRODUKSI 6
2.1 Prinsip Produksi 6
2.2 Rangkaian Proses produksi 7
2.2.1 Proses Produksi 7
2.2.2 Validasi Proses 12
2.2.3 Dokumen Produksi 34
2.3 Rangkaian Berbagai Proses Produksi Sediaan Non Steril 35
2.3.1 Alur Produksi Sediaan Non Steril 35
BAB III KUALIFIKASI TENAGA KERJA, STRUKTUR 51
ORGANISASI, PELATIHAN DAN EVALUASI
3.1. Kualifikasi Tenaga Kerja 51
3.2. Kualifikasi Struktur Organisasi 56
3.3. Kualifikasi Pelatihan 69
3.4. Kualifikasi Evaluasi 72
3.4.1 Metode Evaluasi Berorientasi Masa Lalu 73
3.4.2 Metode Evaluasi Berorientasi Masa Depan 75
BAB IV 76
PENERAPAN SANITASI DAN HYGIENE DI INDUSTRI FARMASI,
LINGKUP PENERAPAN NYA, PEMANTAUAN
4.1 Prinsip 76

2
4.2 Peranan Sanitasi dan Hygiene di Industri Farmasi. 76
4.3 Ruang Lingkup 77
4.3.1 Higiene Perorangan 77
4.3.2 Sanitasi Bangunan dan Fasilitas 84
4.3.3 Pembersihan dan Sanitasi Peralatan 88
4.3.4 Mekanisme Pembersihan 89
4.3.5 Pemantauan Sanitasi dan Hygiene 91
4.3.6 Validasi Prosedur Pembersihan dan Sanitasi 91
4.3.7 Pemantauan CCP 98
4.4 Sanitasi dan Higiene pada Produk Steril 99
4.5 Sanitasi dan Higiene pada Produk Herbal 103
4.6.Sanitasi dan Higiene Produk Darah 107
4.7 Teknik Pengendalian Biokontaminasi 108
4.8 Sanitasi dan Higiene Pada Pembuatan Produk Non Steril 110
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN.. 113
3.1 Kesimpulan... 113
DAFTAR PUSTAKA... 114

3
BAB I
PENDAHULUAN

Industri farmasi merupakan salah satu tempat Apoteker melakukan


pekerjaan kefarmasian terutama menyangkut pembuatan, pengendalian
mutusediaan farmasi, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian dan
pengembanganobat. Untuk menghasilkan produk obat yang bermutu,
aman dan berkhasiatdiperlukan suatu tahap kegiatan yang sesuai CPOB
yang meliputi perencanaan, pengendalian dan pemantauan bahan awal,
proses pembuatan sertapengawasan terhadap mutu, peralatan yang
digunakan, bangunan, hygiene,sanitasi serta personalia yang terlibat di
setiap proses produksi. CPOB (Cara Pembuatan Obat Yang Baik) adalah
pedoman yangdikeluarkan oleh Departemen Kesehatan sesuai dengan
Keputusan MenteriKesehatan RI SK Menkes RI
No.43/Menkes/SK/II/1998 sebagai suatupersyaratan dan ketentuan bagi
setiap industri farmasi untuk dilaksanakan. Hal ini bertujuan agar
masyarakat dapat terjamin keamanannya dalam mengkonsumsi obat-
obatan yang dihasilkan dan mendapatkan mutu obat yangbaik.
Sumber daya manusia sangat penting dalam pembentukan dan
penerapan sistem pemastian mutu yang memuaskan dan pembuatan obat
yang benar. Oleh sebab itu industri farmasi bertanggung jawab untuk
menyediakan personil berkualitas dalam jumlah yang memadai untuk
melaksanakan semua tugas. Tiap personil hendaklah memahami tanggung
jawab masing-masing dan dicatat. Seluruh personil hendaklah memahami
prinsip CPOB dan memperoleh pelatihan awal dan berkesinambungan,
termasuk instruksi mengenai higiene yang berkaitan dengan pekerjaan.

Selain personalia, sanitasi dan higiene sangat penting dalam sistem


pemastian mutu.Sanitasi yang diatur dalam pedoman CPOB adalah

4
terhadap personal, bangunan, dan peralatan.Prosedur sanitasi dan hygiene
hendaklah divalidasi serta dievaluasi secara berkala untuk memastikan
efektivitas prosedur dan selalu memenuhi persyaratan.Tingkat sanitasi dan
hygiene yang tinggi hendaklah diterapkan pada setiap aspek pembuatan
obat.
BAB II
RANGKAIAN PROSES PRODUKSI

2.1 Prinsip Produksi

Produksi hendaklah dilaksanakan dengan mengikuti prosedur yang


telah ditetapkan dan memenuhi ketentuan CPOB yang senantiasa dapat
menjamin produk obat jadi dan memenuhi ketentuan izin pembuatan serta
izin edar (registrasi) sesuai dengan spesifikasinya (BPOM, 2006). Mutu
suatu obat tidak hanya ditentukan oleh hasil analisa terhadap produk
akhir, melainkan juga oleh mutu yang dibangun selama tahapan proses
produksi sejak pemilihan bahan awal, penimbangan, proses produksi,
personalia, bangunan, peralatan, kebersihan dan hygiene sampai dengan
pengemasan.
Pemastian mutu suatu obat tidak hanya mengandalkan pada
pelaksanaan pengujian tertentu saja, namun obat hendaklah dibuat dalam
kondisi yang dikendalikan dan dipantau secara cermat. Produksi sediaan
farmasi dan alat kesehatan harus dilakukan dengan cara produksi yang
baik memenuhi syarat-syarat yang berlaku sesuai dalam Farmakope
Indonesia atau buku standar yang lain. Maka industri farmasi dalam
pembuatan obat harus menerapkan acuan standar sebagai pedoman dalam
pembuatan obat yang baik sesuai dengan Keputusan Menkes No.
43/Menkes/SK/11/1988 tentang Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)
yang mengharuskan pembuatan obat yang baik untuk menjamin mutu obat
yang dihasilkan industri farmasi dalam seluruh aspek dan serangkaian
kegiatan produksi sehingga obat jadi yang dihasilkan memenuhi syarat
mutu yang telah ditentukan dan sesuai dengan tujuan penggunaannya.

5
Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) ditetapkan tidak
lain sebagai wujud implementasi kebijaksanaan pemerintah untuk
mendorong industri farmasi menghasilkan produk-produk yang
berkualitas, berdaya saing tinggi di pasaran serta mengurangi
ketergantungan akan produk-produk impor. CPOB meliputi semua proses
produksi, mulai dari bahan awal, tempat, dan alat sampai pelatihan dan
kebersihan dari pekerja. Prosedur tertulis dari tiap proses produksi adalah
komponen penting yang dapat mempengaruhi kualitas akhir dari produk.

2.2 Rangkaian Proses Produksi

2.2.1 Proses Produksi


Produksi adalah kegiatan yang merupakan suatu sistem transformasi
yang memanfaatkan input untuk menghasilkan barang atau jasa.
Produksi berkaitan dengan bagaimana cara sumber daya (masukan)
dipergunakan untuk menghasilkan produk- produk perusahaan
(keluaran). Produk merupakan hasil akhir dari proses atau aktivitas
ekonomi dengan memanfaatkan beberapa masukan atau input.
Pada prinsipnya produksi hendaklah dilaksanakan dengan
mengikuti prosedur yang telah ditetapkan dan memenuhi ketentuan CPOB
yang menjamin senantiasa menghasilkan produk yang memenuhi
persyaratan mutu serta memenuhi ketentuan izin pembuatan dan izin edar
(registrasi). Secara umum proses produksi yang ditetapkan oleh CPOB
adalah sebagai berikut :
1. Produksi hendaklah dilakukan dan diawasi oleh personil yang kompeten.
2. Penanganan bahan dan produk jadi, seperti penerimaan dan karantina,
pengambilan sampel, penyimpanan, penandaan, penimbangan,
pengolahan, pengemasan dan distribusi hendaklah dilakukan sesuai
dengan prosedur atau instruksi tertulis dan bila perlu dicatat.
3. Seluruh bahan yang diterima hendaklah diperiksa untuk memastikan
kesesuaiannya dengan pesanan. Wadah hendaklah dibersihkan dimana
perlu dan diberi penandaan dengan data yang diperlukan.

6
4. Kerusakan wadah dan masalah lain yang dapat berdampak merugikan
terhadap mutu bahan hendaklah diselidiki, dicatat dan dilaporkan kepada
Bagian Pengawasan Mutu.
5. Bahan yang diterima dan produk jadi hendaklah dikarantina secara fisik
atau administratif segera setelah diterima atau diolah, sampai dinyatakan
lulus untuk pemakaian atau distribusi.
6. Produk antara dan produk ruahan yang diterima hendaklah ditangani
seperti penerimaan bahan awal.
7. Semua bahan dan produk jadi hendaklah disimpan pada kondisi seperti
yang ditetapkan pabrik pembuat dan disimpan secara teratur untuk
memudahkan segregasi antar bets dan rotasi stok.
8. Pemeriksaan hasil nyata dan rekonsiliasi jumlah hendaklah dilakukan
sedemikian untuk memastikan tidak ada penyimpangan dari batas yang
telah ditetapkan.
9. Pengolahan produk yang berbeda tidak boleh dilakukan secara bersamaan
atau bergantian dalam ruang kerja yang sama kecuali tidak ada risiko
terjadi kecampurbauran ataupun kontaminasi silang.
10. Produk dan bahan hendaklah dilindungi terhadap pencemaran mikroba
atau pencemaran lain pada tiap tahap pengolahan.
11. Bila bekerja dengan bahan atau produk kering, hendaklah dilakukan
tindakan khusus untuk mencegah debu timbul serta penyebarannya. Hal ini
terutama dilakukan pada penanganan bahan yang sangat aktif atau
menyebabkan sensitisasi.
12. Selama pengolahan, semua bahan, wadah produk ruahan, peralatan atau
mesin produksi dan bila perlu ruang kerja yang dipakai hendaklah diberi
label atau penandaan dari produk atau bahan yang sedang diolah, kekuatan
(bila ada) dan nomor bets. Bila perlu, penandaan ini hendaklah juga
menyebutkan tahapan proses produksi.
13. Label pada wadah, alat atau ruangan hendaklah jelas, tidak berarti ganda
dan dengan format yang telah ditetapkan. Label yang berwarna sering kali
sangat membantu untuk menunjukkan status (misal: karantina, diluluskan,
ditolak, bersih dan lain-lain).

7
14. Pemeriksaan perlu dilakukan untuk memastikan pipa penyalur dan alat
lain untuk transfer produk dari satu ke tempat lain telah terhubung dengan
benar.
15. Penyimpangan terhadap instruksi atau prosedur sedapat mungkin
dihindarkan. Bila terjadi penyimpangan maka hendaklah ada persetujuan
tertulis dari kepala bagian Pemastian Mutu dan bila perlu melibatkan
bagian Pengawasan Mutu.
16. Akses ke fasilitas produksi hendaklah dibatasi hanya untuk personil yang
berwenang.
17. Pada umumnya pembuatan produk nonobat hendaklah dihindarkan dibuat
di area dan dengan peralatan untuk produk obat.

Rangkaian Pedoman Proses Produksi berdasarkan CPOB :


Bahan Awal
1. Pembelian bahan awal adalah suatu aktifitas penting dan oleh karena itu
hendaklah melibatkan staf yang mempunyai pengetahuan khusus dan
menyeluruh perihal pemasok.
2. Pembelian bahan awal hendaklah hanya dari pemasok yang telah disetujui
dan memenuhi spesifikasi yang relevan, dan bila memungkinkan, langsung
dari produsen. Dianjurkan agar spesifikasi yang dibuat oleh pabrik
pembuat untuk bahan awal dibicarakan dengan pemasok. Sangat
menguntungkan bila semua aspek produksi dan pengawasan bahan awal
tersebut, termasuk persyaratan penanganan, pemberian label dan
pengemasan, juga prosedur penanganan keluhan dan penolakan,
dibicarakan dengan pabrik pembuat dan pemasok.
3. Semua penerimaan, pengeluaran dan jumlah bahan tersisa hendaklah
dicatat. Catatan hendaklah berisi keterangan mengenai pasokan, nomor
bets/lot, tanggal penerimaan atau penyerahan, tanggal pelulusan dan
tanggal daluwarsa bila ada.
4. Sebelum diluluskan untuk digunakan, tiap bahan awal hendaklah
memenuhi spesifikasi dan diberi label dengan nama yang dinyatakan
dalam spesifikasi. Singkatan, kode ataupun nama yang tidak resmi
hendaklah tidak dipakai.

8
5. Tiap pengiriman atau bets bahan awal hendaklah diberi nomor rujukan
yang akan menunjukkan identitas pengiriman atau bets selama
penyimpanan dan pengolahan. Nomor tersebut hendaklah jelas tercantum
pada label wadah untuk memungkinkan akses ke catatan lengkap tentang
pengiriman atau bets yang akan diperiksa.
6. Apabila dalam satu pengiriman terdapat lebih dari satu bets maka untuk
tujuan pengambilan sampel, pengujian dan pelulusan, hendaklah dianggap
sebagai bets yang terpisah.
7. Pada tiap penerimaan hendaklah dilakukan pemeriksaan visual tentang
kondisi umum, keutuhan wadah dan segelnya, ceceran dan kemungkinan
adanya kerusakan bahan, dan tentang kesesuaian catatan pengiriman
dengan label dari pemasok. Sampel diambil oleh personil dan dengan
metode yang telah disetujui oleh kepala bagian Pengawasan Mutu.
8. Wadah dari mana sampel bahan awal diambil hendaklah diberi
identifikasi.
9. Sampel bahan awal hendaklah diuji pemenuhannya terhadap spesifikasi.
Dalam keadaan tertentu, pemenuhan sebagian atau keseluruhan terhadap
spesifikasi dapat ditunjukkan dengan sertifikat analisis yang diperkuat
dengan pemastian identitas yang dilakukan sendiri.
10. Hendaklah diambil langkah yang menjamin bahwa semua wadah pada
suatu pengiriman berisi bahan awal yang benar, dan melakukan
pengamanan terhadap kemungkinan salah penandaan wadah oleh
pemasok.
11. Bahan awal yang diterima hendaklah dikarantina sampai disetujui dan
diluluskan untuk pemakaian oleh kepala bagian Pengawasan Mutu.
12. Bahan awal di area penyimpanan hendaklah diberi label yang tepat. Label
hendaklah memuat keterangan paling sedikit sebagai berikut:
- nama bahan dan bila perlu nomor kode bahan;
- nomor bets/kontrol yang diberikan pada saat penerimaan bahan;
- status bahan (misal: karantina, sedang diuji, diluluskan, ditolak);
- tanggal daluwarsa atau tanggal uji ulang bila perlu.
a. Label yang menunjukkan status bahan awal hendaklah ditempelkan
hanya oleh personil yang ditunjuk oleh kepala bagian Pengawasan
Mutu. Untuk mencegah kekeliruan, label tersebut hendaklah berbeda

9
dengan label yang digunakan oleh pemasok (misal dengan
mencantumkan nama atau logo perusahaan). Bila status bahan
mengalami perubahan, maka label penunjuk status hendaklah juga
diubah.
b. Persediaan bahan awal hendaklah diperiksa secara berkala untuk
meyakinkan bahwa wadah tertutup rapat dan diberi label dengan benar,
dan dalam kondisi yang baik.
c. Hanya bahan awal yang sudah diluluskan oleh bagian Pengawasan
Mutu dan masih dalam masa simpan yang boleh digunakan
d. Bahan awal, terutama yang dapat rusak karena terpapar panas,
hendaklah disimpan di dalam ruangan yang suhu udaranya
dikendalikan dengan ketat; bahan yang peka terhadap kelembaban
dan/atau cahaya hendaklah disimpan di bawah kondisi yang
dikendalikan dengan tepat.
e. Penyerahan bahan awal hendaklah dilakukan hanya oleh personil yang
berwenang sesuai dengan prosedur yang telah disetujui. Catatan
persediaan bahan hendaklah disimpan dengan baik agar rekonsiliasi
persediaan dapat dilakukan.
f. Penimbangan bahan awal hendaklah dilakukan oleh personil yang
berwenang sesuai prosedur tertulis untuk memastikan bahan yang
benar yang ditimbang atau diukur dengan akurat ke dalam wadah yang
bersih dan diberi label dengan benar.
g. Setiap bahan yang ditimbang atau diukur hendaklah diperiksa secara
independen dan hasil pemeriksaan dicatat.
h. Bahan yang ditimbang atau diukur untuk setiap bets hendaklah
dikumpulkan dan diberi label jelas.
i. Alat timbang hendaklah diverifikasi tiap hari sebelum dipakai untuk
membuktikan bahwa kapasitas, ketelitian dan ketepatannya memenuhi
persyaratan sesuai dengan jumlah bahan yang akan ditimbang.
j. Semua bahan awal yang ditolak hendaklah diberi penandaan yang
mencolok, ditempatkan terpisah dan dimusnahkan atau dikembalikan
kepada pemasoknya.

10
2.2.2 Validasi Proses
Studi validasi hendaklah memperkuat pelaksanaan CPOB dan
dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Hasil validasi dan
kesimpulan hendaklah dicatat. Apabila suatu formula pembuatan atau
metode preparasi baru diadopsi, hendaklah diambil langkah untuk
membuktikan prosedur tersebut cocok untuk pelaksanaan produksi rutin,
dan bahwa proses yang telah ditetapkan dengan menggunakan bahan dan
peralatan yang telah ditentukan, akan senantiasa menghasilkan produk
yang memenuhi persyaratan mutu. Perubahan signifikan terhadap proses
pembuatan termasuk perubahan peralatan atau bahan yang dapat
memengaruhi mutu produk dan atau reprodusibilitas proses hendaklah
divalidasi. Hendaklah secara kritis dilakukan revalidasi secara periodik
untuk memastikan bahwa proses dan prosedur tetap mampu mencapai
hasil yang diinginkan.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam proses produksi :


Pencegahan Pencemaran Silang
Pencemaran bahan awal atau produk oleh bahan atau produk lain
harus dihindarkan. Risiko pencemaran silang ini dapat timbul akibat tidak
terkendalinya debu, gas, uap, percikan atau organisme dari bahan atau
produk yang sedang diproses, dari sisa yang tertinggal pada alat dan
pakaian kerja operator. Tingkat risiko pencemaran ini tergantung dari jenis
pencemar dan produk yang tercemar. Di antara pencemar yang paling
berbahaya adalah bahan yang dapat menimbulkan sensitisasi kuat, preparat
biologis yang mengandung mikroba hidup, hormon tertentu, bahan
sitotoksik, dan bahan lain berpotensi tinggi. Produk yang paling
terpengaruh oleh pencemaran adalah sediaan parenteral, sediaan yang
diberikan dalam dosis besar dan/atau sediaan yang diberikan dalam jangka
waktu yang panjang.
Pencemaran silang hendaklah dihindarkan dengan tindakan teknis atau
pengaturan yang tepat, misal:

11
- produksi di dalam gedung terpisah (diperlukan untuk produk seperti
penisilin, hormon seks, sitotoksik tertentu, vaksin hidup, dan sediaan
yang mengandung bakteri hidup dan produk biologi lain serta produk
darah);
- tersedia ruang penyangga udara dan penghisap udara;
- memperkecil risiko pencemaran yang disebabkan oleh udara yang
disirkulasi ulang atau masuknya udara yang tidak diolah atau udara
yang diolah secara tidak memadai;
- memakai pakaian pelindung yang sesuai di area di mana produk yang
berisiko tinggi terhadap pencemaran silang diproses; melaksanakan
prosedur pembersihan dan dekontaminasi yang terbukti efektif, karena
pembersihan alat yang tidak efektif umumnya merupakan sumber
pencemaran silang;
- menggunakan sistem self-contained; pengujian residu dan
menggunakan label status kebersihan pada alat.
Sistem Penomoran Bets/Lot
Hendaklah tersedia sistem yang menjelaskan secara rinci penomoran
bets/lot dengan tujuan untuk memastikan bahwa tiap bets/lot produk
antara, produk ruahan atau produk jadi dapat diidentifikasi. Sistem
penomoran bets/lot yang digunakan pada tahap pengolahan dan tahap
pengemasan hendaklah saling berkaitan.
Sistem penomoran bets/lot hendaklah menjamin bahwa nomor
bets/lot yang sama tidak dipakai secara berulang. Alokasi nomor bets/lot
hendaklah segera dicatat dalam suatu buku log. Catatan tersebut
hendaklah mencakup tanggal pemberian nomor, identitas produk dan
ukuran bets/lot yang bersangkutan.
Penimbangan Dan Penyerahan
Penimbangan atau penghitungan dan penyerahan bahan awal, bahan
pengemas, produk antara dan produk ruahan dianggap sebagai bagian dari
siklus produksi dan memerlukan dokumentasi serta rekonsiliasi yang
lengkap.

12
- Hanya bahan awal, bahan pengemas, produk antara dan produk
ruahan yang telah diluluskan oleh Pengawasan Mutu dan masih
belum daluwarsa yang boleh diserahkan.
- Untuk menghindarkan terjadinya kecampurbauran, pencemaran
silang, hilangnya identitas dan keraguan, maka hanya bahan awal,
produk antara dan produk ruahan yang terkait dari satu bets saja
yang boleh ditempatkan dalam area penyerahan. Setelah
penimbangan, penyerahan dan penandaan, bahan awal, produk
antara dan produk ruahan hendaklah diangkut dan disimpan dengan
cara yang benar sehingga keutuhannya tetap terjaga sampai saat
pengolahan berikutnya.
- Sebelum penimbangan dan penyerahan, tiap wadah bahan awal
hendaklah diperiksa kebenaran penandaan, termasuk label
pelulusan dari Bagian Pengawasan Mutu.
- Kapasitas, ketelitian dan ketepatan alat timbang dan alat ukur yang
dipakai hendaklah sesuai dengan jumlah bahan yang ditimbang
atau ditakar.
- Untuk tiap penimbangan atau pengukuran hendaklah dilakukan
pembuktian kebenaran identitas dan jumlah bahan yang ditimbang
atau diukur oleh dua orang personil yang independen, dan
pembuktian tersebut dicatat.
- Ruang timbang dan penyerahan hendaklah dijaga kebersihannya.
Bahan awal steril yang akan dipakai untuk produk steril hendaklah
ditimbang dan diserahkan di area steril (lihat Glosarium: Ruang
Steril).
- Kegiatan penimbangan dan penyerahan hendaklah dilakukan
dengan memakai peralatan yang sesuai dan bersih.
- Bahan awal, produk antara dan produk ruahan yang diserahkan
hendaklah diperiksa ulang kebenarannya dan ditandatangani oleh
supervisor produksi sebelum dikirim ke area produksi.
- Sesudah ditimbang atau dihitung, bahan untuk tiap bets hendaklah
disimpan dalam satu kelompok dan diberi penandaan yang jelas.
Pengembalian

13
Semua bahan awal, bahan pengemas, produk antara dan produk
ruahan yang dikembalikan ke gudang penyimpanan hendaklah
didokumentasikan dengan benar dan direkonsiliasi. Bahan awal, bahan
pengemas, produk antara dan produk ruahan hendaklah tidak
dikembalikan ke gudang penyimpanan kecuali memenuhi spesifikasi yang
telah ditetapkan.
Operasi PengolahanProduk Antara Dan Produk Ruahan
- Semua bahan yang dipakai di dalam pengolahan hendaklah diperiksa
sebelum dipakai.
- Kegiatan pembuatan produk yang berbeda tidak boleh dilakukan
bersamaan atau berurutan di dalam ruang yang sama kecuali tidak ada
risiko terjadinya kecampurbauran atau pencemaran silang.
- Kondisi lingkungan di area pengolahan hendaklah dipantau dan
dikendalikan agar selalu berada pada tingkat yang dipersyaratkan
untuk kegiatan pengolahan. Sebelum kegiatan pengolahan dimulai
hendaklah diambil langkah untuk memastikan area pengolahan dan
peralatan bersih dan bebas dari bahan awal, produk atau dokumen
yang tidak diperlukan untuk kegiatan pengolahan yang akan
dilakukan.
- Semua peralatan yang dipakai dalam pengolahan hendaklah diperiksa
sebelum digunakan. Peralatan hendaklah dinyatakan bersih secara
tertulis sebelum digunakan.
- Semua kegiatan pengolahan hendaklah dilaksanakan mengikuti
prosedur yang tertulis. Tiap penyimpangan hendaklah
dipertanggungjawabkan dan dilaporkan.
- Wadah dan tutup yang dipakai untuk bahan yang akan diolah, produk
antara dan produk ruahan hendaklah bersih dan dibuat dari bahan yang
tepat sifat dan jenisnya untuk melindungi produk atau bahan terhadap
pencemaran atau kerusakan.
- Semua wadah dan peralatan yang berisi produk antara hendaklah
diberi label dengan benar yang menunjukkan tahap pengolahan.
Sebelum label ditempelkan, semua penandaan terdahulu hendaklah
dihilangkan.

14
- Semua produk antara dan ruahan hendaklah diberi label.
- Semua pengawasan selama-proses yang dipersyaratkan hendaklah
dicatat dengan akurat pada saat pelaksanaannya.
- Hasil nyata tiap tahap pengolahan bets hendaklah dicatat dan diperiksa
serta dibandingkan dengan hasil teoritis.
- Penyimpangan yang signifikan dari hasil standar hendaklah dicatat
dan diinvestigasi.
- Dalam semua tahap pengolahan perhatian utama hendaklah diberikan
kepada masalah pencemaran silang.
- Batas waktu dan kondisi penyimpanan produk dalam-proses
hendaklah ditetapkan.
- Untuk sistem komputerisasi yang kritis hendaklah disiapkan sistem
pengganti manakala terjadi kegagalan.
Bahan Dan Produk Kering
- Untuk mengatasi masalah pengendalian debu dan pencemaran-silang
yang terjadi pada saat penanganan bahan dan produk kering, perhatian
khusus hendaklah diberikan pada desain, pemeliharaan serta
penggunaan sarana dan peralatan. Apabila layak hendaklah dipakai
sistem pembuatan tertutup atau metode lain yang sesuai.
- Sistem penghisap udara yang efektif hendaklah dipasang dengan letak
lubang pembuangan sedemikian rupa untuk menghindarkan
pencemaran dari produk atau proses lain. Sistem penyaringan udara
yang efektif atau sistem lain yang sesuai hendaklah dipasang untuk
menyaring debu. Pemakaian alat penghisap debu pada pembuatan
tablet dan kapsul sangat dianjurkan.
- Perhatian khusus hendaklah diberikan untuk melindungi produk
terhadap pencemaran serpihan logam atau gelas. Pemakaian peralatan
gelas sedapat mungkin dihindarkan. Ayakan, punch dan die hendaklah
diperiksa terhadap keausan atau kerusakan sebelum dan setelah
pemakaian.
- Hendaklah dijaga agar tablet atau kapsul tidak ada yang terselip atau
tertinggal tanpa terdeteksi di mesin, alat penghitung atau wadah
produk ruahan.
Pencampuran dan Granulasi

15
- Mesin pencampur, pengayak dan pengaduk hendaklah dilengkapi
dengan sistem pengendali debu, kecuali digunakan sistem tertutup.
- Parameter operasional yang kritis (misal: waktu, kecepatan dan suhu)
untuk tiap proses pencampuran, pengadukan dan pengeringan
hendaklah tercantum dalam dokumen produksi induk, dan dipantau
selama proses berlangsung serta dicatat dalam catatan bets.
- Kantong filter yang dipasang pada mesin pengering fluid bed tidak
boleh dipakai untuk produk yang berbeda tanpa pencucian lebih
dahulu. Untuk produk yang berisiko tinggi atau yang dapat
menimbulkan sensitisasi hendaklah digunakan kantong filter khusus
bagi masingmasing produk. Udara yang masuk ke dalam alat
pengering ini hendaklah disaring. Hendaklah dilakukan tindakan
pengamanan untuk mencegah pencemaran silang oleh debu yang
keluar dari alat pengering tersebut.
- Pembuatan dan penggunaan larutan atau suspensi hendaklah
dilaksanakan sedemikian rupa sehingga risiko pencemaran atau
pertumbuhan mikroba dapat diperkecil.
Pencetakan Tablet
- Mesin pencetak tablet hendaklah dilengkapi dengan fasilitas
pengendali debu yang efektif dan ditempatkan sedemikian rupa untuk
menghindarkan kecampurbauran antar produk. Tiap mesin hendaklah
ditempatkan dalam ruangan terpisah. Kecuali mesin tersebut
digunakan untuk produk yang sama atau dilengkapi sistem pengendali
udara yang tertutup maka dapat ditempatkan dalam ruangan tanpa
pemisah.
- Untuk mencegah kecampurbauran perlu dilakukan pengendalian yang
memadai baik secara fisik, prosedural maupun penandaan.
- Hendaklah selalu tersedia alat timbang yang akurat dan telah
dikalibrasi untuk pemantauan bobot tablet selama-proses.
- Tablet yang diambil dari ruang pencetak tablet untuk keperluan
pengujian atau keperluan lain tidak boleh dikembalikan lagi ke dalam
bets yang bersangkutan.

16
- Tablet yang ditolak atau yang dising-kirkan hendaklah ditempatkan
dalam wadah yang ditandai dengan jelas mengenai status dan
jumlahnya dicatat pada Catatan Pengolahan Bets.
- Tiap kali sebelum dipakai, punch dan die hendaklah diperiksa keausan
dan kesesuaiannya terhadap spesifikasi. Catatan pemakaian hendaklah
disimpan.
Penyalutan
- Udara yang dialirkan ke dalam panci penyalut untuk pengeringan
hendaklah disaring dan mempunyai mutu yang tepat.
- Larutan penyalut hendaklah dibuat dan digunakan dengan cara
sedemikian rupa untuk mengurangi risiko pertumbuhan mikroba.
Pembuatan dan pemakaian larutan penyalut hendaklah
didokumentasikan.
Pengisian Kapsul Keras
Cangkang kapsul hendaklah diperlakukan sebagai bahan awal.
Cangkang kapsul hendaklah disimpan dalam kondisi yang dapat mencegah
kekeringan dan kerapuhan atau efek lain yang disebabka oleh kelembaban.
Penandaan Tablet Salut dan Kapsul
- Hendaklah diberikan perhatian khusus untuk menghindarkan
kecampurbauran selama proses penandaan tablet salut dan kapsul.
Bilamana dilakukan penandaan pada produk atau bets yang berbeda
dalam saat yang bersamaan hendaklah dilakukan pemisahan yang
memadai.
- Tinta yang digunakan untuk penandaan hendaklah yang memenuhi
persyaratan untuk bahan makanan.
- Hendaklah diberikan perhatian khusus untuk menghindarkan
kecampurbauran selama proses pemeriksaan, penyortiran dan
pemolesan kapsul dan tablet salut.
Produk Cair, Krim Dan Salep (Nonsteril)
- Produk cair, krim dan salep mudah terkena kontaminasi terutama
terhadap mikroba atau cemaran lain selama proses pembuatan. Oleh
karena itu, tindakan khusus harus diambil untuk mencegah
kontaminasi.
- Penggunaan sistem tertutup untuk produksi dan transfer sangat
dianjurkan; area produksi di mana produk atau wadah bersih tanpa

17
tutup terpapar ke lingkungan hendaklah diberi ventilasi yang efektif
dengan udara yang disaring.
- Untuk melindungi produk terhadap kontaminasi disarankan memakai
sistem tertutup untuk pengolahan dan transfer.
- Tangki, wadah, pipa dan pompa yang digunakan hendaklah didesain
dan dipasang sedemikian rupa sehingga memudahkan pembersihan
dan bila perlu disanitasi. Dalam mendesain peralatan hendaklah
diperhatikan agar sesedikit mungkin adanya sambungan mati
(deadlegs) atau ceruk di mana residu dapat terkumpul dan
menyebabkan perkembangbiakan mikroba.
- Penggunaan peralatan dari kaca sedapat mungkin dihindarkan. Baja
tahan karat bermutu tinggi merupakan bahan pilihan untuk bagian
peralatan yang bersentuhan dengan produk.
- Kualitas kimia dan mikrobiologi air yang digunakan hendaklah
ditetapkan dan selalu dipantau. Perawatan sistem air hendaklah
diperhatikan untuk menghindarkan perkembangbiakan mikroba.
Sanitasi secara kimiawi pada sistem air hendaklah diikuti pembilasan
yang prosedurnya telah divalidasi agar sisa bahan sanitasi dapat
dihilangkan secara efektif.
- Mutu bahan yang diterima dalam tangki dari pemasok hendaklah
diperiksa sebelum dipindahkan ke dalam tangki penyimpanan.
- Perhatian hendaklah diberikan pada transfer bahan melalui pipa untuk
memastikan bahan tersebut ditransfer ke tujuan yang benar.
- Bahan yang mungkin melepaskan serat atau cemaran lain seperti
kardus atau palet kayu hendaklah tidak dimasukkan ke dalam area di
mana produk atau wadah bersih terpapar ke lingkungan.
- Apabila jaringan pipa digunakan untuk mengalirkan bahan awal atau
produk ruahan, hendaklah diperhatikan agar sistem tersebut mudah
dibersihkan. Jaringan pipa hendaklah didesain dan dipasang
sedemikian rupa sehingga mudah dibongkar dan dibersihkan.
- Ketelitian sistem pengukur hendaklah diverifikasi. Tongkat pengukur
hanya boleh digunakan untuk bejana tertentu dan telah dikalibrasi
untuk bejana yang bersangkutan. Tongkat pengukur hendaklah terbuat

18
dari bahan yang tidak bereaksi dan tidak menyerap (misal: bukan
kayu).
- Perhatian hendaklah diberikan untuk mempertahankan homogenitas
campuran, suspensi dan produk lain selama pengisian. Proses
pencampuran dan pengisian hendaklah divalidasi. Perhatian khusus
hendaklah diberikan pada awal pengisian, sesudah penghentian dan
pada akhir proses pengisian untuk memastikan produk selalu dalam
keadaan homogen.
- Apabila produk ruahan tidak langsung dikemas hendaklah dibuat
ketetapan mengenai waktu paling lama produk ruahan boleh disimpan
serta kondisi penyimpanannya dan ketetapan ini hendaklah dipatuhi.
Bahan Pengemas
- Pengadaan, penanganan dan pengawasan bahan pengemas primer dan
bahan pengemas cetak serta bahan cetak lain hendaklah diberi
perhatian yang sama seperti terhadap bahan awal.
- Perhatian khusus hendaklah diberikan kepada bahan cetak. Bahan
cetak tersebut hendaklah disimpan dengan kondisi keamanan yang
memadai dan orang yang tidak berkepentingan dilarang masuk. Label
lepas dan bahan cetak lepas lain hendaklah disimpan dan diangkut
dalam wadah tertutup untuk menghindarkan kecampurbauran. Bahan
pengemas hendaklah diserahkan kepada personil yang berwenang
sesuai prosedur tertulis yang disetujui.
- Tiap penerimaan atau tiap bets bahan pengemas primer hendaklah
diberi nomor yang spesifik atau penandaan yang menunjukkan
identitasnya.
- Bahan pengemas primer, bahan pengemas cetak atau bahan cetak lain
yang tidak berlaku lagi atau obsolet hendaklah dimusnahkan dan
pemusnahannya dicatat.
- Untuk menghindarkan kecampurbauran, hanya satu jenis bahan
pengemas cetak atau bahan cetak tertentu saja yang diperbolehkan
diletakkan di tempat kodifikasi pada saat yang sama. Hendaklah ada
sekat pemisah yang memadai antar tempat kodifikasi tersebut.
Kegiatan Pengemasan

19
- Kegiatan pengemasan berfungsi membagi dan mengemas produk
ruahan menjadi produk jadi. Pengemasan hendaklah dilaksanakan
dibawah pengendalian yang ketat untuk menjaga identitas, keutuhan
dan mutu produk akhir yang dikemas.
- Bila menyiapkan program untuk kegiatan pengemasan, hendaklah
diberikan perhatian khusus untuk meminimalkan risiko kontaminasi
silang, kecampurbauran atau kekeliruan. Produk yang berbeda tidak
boleh dikemas berdekatan kecuali ada segregasi fisik.
- Hendaklah ada prosedur tertulis yang menguraikan penerimaan dan
identifikasi produk ruahan dan bahan pengemas, pengawasan untuk
menjamin bahwa produk ruahan dan bahan pengemas cetak dan bukan
cetak serta bahan cetak lain yang akan dipakai adalah benar,
pengawasan selama-proses pengemasan rekonsiliasi terhadap produk
ruahan, bahan pengemas cetak dan bahan cetak lain, serta pemeriksaan
hasil akhir pengemasan. Semua kegiatan pengemasan hendaklah
dilaksanakan sesuai dengan instruksi yang diberikan dan
menggunakan bahan pengemas yang tercantum dalam Prosedur
Pengemasan Induk. Rincian pelaksanaan pengemasan hendaklah
dicatat dalam Catatan Pengemasan Bets.
- Hendaklah dilakukan pemeriksaan untuk memastikan bahwa area
kerja dan peralatan telah bersih serta bebas dari produk lain, sisa
produk lain atau dokumen lain yang tidak diperlukan untuk kegiatan
pengemasan yang bersangkutan. Kesiapan jalur pengemasan
hendaklah dilaksanakan sesuai daftar periksa yang tepat.
- Semua penerimaan produk ruahan, bahan pengemas dan bahan cetak
lain hendaklah diperiksa dan diverifikasi kebenarannya terhadap
Prosedur Pengemasan Induk atau perintah pengemasan khusus.
Prakodifikasi Bahan Pengemas
- Label, karton dan bahan pengemas dan bahan cetak lain yang
memerlukan prakodifikasi dengan nomor bets/lot, tanggal daluwarsa
dan informasi lain sesuai dengan perintah pengemasan hendaklah

20
diawasi dengan ketat pada tiap tahap proses, sejak diterima dari
gudang sampai menjadi bagian dari produk atau dimusnahkan.
- Bahan pengemas dan bahan cetak lain yang sudah dialokasikan untuk
pra-kodifikasi hendaklah disimpan di dalam wadah yang tertutup rapat
dan ditempatkan di area terpisah serta terjamin keamanannya.
- Proses prakodifikasi bahan pengemas dan bahan cetak lain hendaklah
dilakukan di area yang terpisah dari kegiatan pengemasan lain. Khusu
untuk proses prakodifikasi secara manual hendaklah diperhatikan
untuk melakukan pemeriksaan kembali dengan interval yang teratur.
- Seluruh bahan pengemas dan bahan cetak lain yang telah diberi
prakodifikasi hendaklah diperiksa sebelum ditransfer ke area
pengemasan.
Kesiapan Jalur
Segera sebelum menempatkan bahan pengemas dan bahan cetak lain
pada jalur pengemasan, personil penanggung jawab yang ditunjuk dari
bagian pengemasan hendaklah melakukan pemeriksaan kesiapan jalur
sesuai dengan prosedur tertulis yang disetujui oleh kepala bagian
Manajemen Mutu (Pemastian Mutu), untuk:
a. memastikan bahwa semua bahan dan produk yang sudah dikemas dari
kegiatan pengemasan sebelumnya telah benar disingkirkan dari jalur
pengemasan dan area sekitarnya;
b. memeriksa kebersihan jalur dan area sekitarnya: dan
c. memastikan kebersihan peralatan yang akan dipakai.
Praktik Pengemasan
Risiko kesalahan terjadi dalam pengemasan dapat diperkecil
dengan cara sebagai berikut:
Menggunakan label dalam gulungan
Pemberian penandaan bets pada jalur pemasangan label
Dengan menggunaan alat pemindai dan penghitung label elektronis
Label dan bahan cetak lain didesain sedemikian rupa sehingga
masingmasing mempunyai tanda khusus untuk tiap produk yang
berbeda; dan
Di samping pemeriksaan secara visual selama pengemasan
berlangsung, hendaklah dilakukan pula pemeriksaan secara

21
independen oleh bagian pengawasan mutu selama dan pada akhir
proses pengemasan.
Produk yang penampilannya mirip hendaklah tidak dikemas pada jalur
yang berdampingan kecuali ada pemisahan secara fisik.
a. Pada tiap jalur pengemasan nama dan nomor bets produk yang
sedang dikemas hendaklah dapat terlihat dengan jelas.
b. Wadah yang dipakai untuk menyimpan produk ruahan, produk
yang baru sebagian dikemas, atau sub-bets hendaklah diberi label
atau penandaan yang menunjukkan identitas, jumlah, nomor bets
dan status produk tersebut.
c. Wadah yang akan diisi hendaklah diserahkan ke jalur atau tempat
pengemasan dalam keadaan bersih.
d. Semua personil bagian pengemasan hendaklah memperoleh
pelatihan agar memahami persyaratan pengawasanselama- proses
dan melaporkan tiap penyimpangan yang ditemukan pada saat
mereka menjalankan tanggung jawab spesifik tersebut.
e. Area pengemasan hendaklah dibersihkan secara teratur dan sering
selama jam kerja dan tiap ada tumpahan bahan. Personil
kebersihan hendaklah diberi pelatihan untuk tidak melakukan
praktik yang dapat menye babkan campur baur atau pencemaran
silang.
f. Bila ditemukan bahan pengemas cetak pada saat pembersihan
hendaklah diberikan kepada supervisor, yang selanjutnya
ditempatkan di dalam wadah yang disediakan untuk keperluan
rekonsiliasi dan kemudian dimusnahkan pada akhir proses
pengemasan.
g. Kemasan akhir dan kemasan setengah jadi yang ditemukan di luar
jalur pengemasan hendaklah diserahkan kepada supervisor dan
tidak boleh langsung dikembalikan ke jalur pengemasan. Bila
produk tersebut setelah diperiksa oleh supervisor ternyata
identitasnya sama dengan bets yang sedang dikemas dan
keadaannya baik, maka supervisor dapat mengembalikannya ke

22
jalur pengemasan yang sedang berjalan. Kalau tidak, maka bahan
tersebut hendaklah dimusnahkan dan jumlahnya dicatat.
h. Produk yang telah diisikan ke dalam wadah akhir tetapi belum
diberi label hendaklah dipisahkan dan diberi penandaan untuk
menghindari campur baur.
i. Bagian peralatan pengemas yang biasanya tidak bersentuhan
dengan produk ruahan tapi dapat menjadi tempat penumpukan
debu, serpihan, bahan pengemas ataupun produk yang kemudian
dapat jatuh ke dalam produk atau mencemari atau dapat menjadi
penyebab campur baur produk yang sedang dikemas, hendaklah
dibersihkan dengan cermat
j. Hendaklah diambil tindakan untuk mengendalikan penyebaran
debu selama proses pengemasan khususnya produk kering. Area
pengemasan yang terpisah diperlukan untuk produk tertentu
misalnya obat yang berdosis rendah dan berpotensi tinggi atau
produk toksik dan bahan yang dapat menimbulkan sensitisasi.
Udara bertekanan tidak boleh digunakan untuk membersihkan
peralatan di area kegiatan pengemasan di mana pencemaran
silang dapat terjadi.
k. Pemakaian sikat hendaklah dibatasi karena dapat menimbulkan
bahaya pencemaran dari bulu sikat dan/atau partikel yang
menempel pada sikat.
l. Personil hendaklah diingatkan untuk tidak menaruh bahan
pengemas atau produk di dalam saku mereka. Bahan tersebut
hendaklah dibawa dengan tangan atau di dalam wadah yang
tertutup dan diberi tanda yang jelas.
m. Bahan yang diperlukan dalam proses pengemasan seperti
pelumas, perekat, tinta, cairan pembersih, dan sebagainya,
hendaklah disimpan di dalam wadah yang jelas tampak berbeda
dengan wadah yang dipakai untuk pengemasan produk dan
hendaklah diberi penandaan yang jelas dan mencolok sesuai
dengan isinya.

23
Penyelesaian Kegiatan Pengemasan
- Pada penyelesaian kegiatan pengemasan, hendaklah kemasan terakhir
diperiksa dengan cermat untuk memastikan bahwa kemasan produk
tersebut sepenuhnya sesuai dengan Prosedur Pengemasan Induk.
- Hanya produk yang berasal dari satu bets dari satu kegiatan
pengemasan saja yang boleh ditempatkan pada satu palet. Bila ada
karton yang tidak penuh maka jumlah kemasan hendaklah dituliskan
pada karton tersebut.
- Setelah proses rekonsiliasi pengemasan, kelebihan bahan pengemas
dan produk ruahan yang akan disingkirkan hendaklah diawasi dengan
ketat agar hanya bahan dan produk yang dinyatakan memenuhi syarat
saja yang dapat dikembalikan ke gudang untuk dimanfaatkan lagi.
Bahan dan produk tersebut hendaklah diberi penandaan yang jelas.
- Supervisor hendaklah mengawasi penghitungan dan pemusnahan
bahan pengemas dan produk ruahan yang tidak dapat lagi
dikembalikan ke gudang. Semua sisa bahan pengemas yang sudah
diberi penandaan tapi tidak terpakai hendaklah dihitung dan
dimusnahkan. Jumlah yang dimusnahkan hendaklah dicatat pada
Catatan Pengemasan Bets.
- Supervisor hendaklah menghitung dan mencatat jumlah pemakaian
neto semua bahan pengemas dan produk ruahan.
- Tiap penyimpangan hasil yang tidak dapat dijelaskan atau tiap
kegagalan untuk memenuhi spesifikasi hendaklah diselidiki secara
teliti dengan mempertimbangkan bets atau produk lain yang mungkin
juga terpengaruh.
- Setelah rekonsiliasi disetujui, produk jadi hendaklah ditempatkan di
area karantina produk jadi sambil menunggu pelulusan dari kepala
bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu).
Pengawasan selama Proses
- Untuk memastikan keseragaman bets dan keutuhan obat, prosedur
tertulis yang menjelaskan pengambilan sampel, pengujian atau
pemeriksaan yang harus dilakukan selama proses dari tiap bets produk
hendaklah dilaksanakan sesuai dengan metode yang telah disetujui

24
oleh kepala bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu) dan hasilnya
dicatat. Pengawasan tersebut dimaksudkan untuk memantau hasil dan
memvalidasi kinerja dari proses produksi yang mungkin menjadi
penyebab variasi karakteristik produk dalam-proses.
- Prosedur tertulis untuk pengawasan selama-proses hendaklah
dipatuhi. Prosedur tersebut hendaklah menjelaskan titik pengambilan
sampel, frekuensi pengambilan sampel, jumlah sampel yang diambil,
spesifikasi yang harus diperiksa dan batas penerimaan untuk tiap
spesifikasi.
- Di samping itu, pengawasan selama-proses hendaklah mencakup, tapi
tidak terbatas pada prosedur umum sebagai berikut:
a. semua parameter produk, volume atau jumlah isi produk
hendaklah diperiksa pada saat awal dan selama proses pengolahan
atau pengemasan; dan
b. kemasan akhir hendaklah diperiksa selama proses pengemasan
dengan selang waktu yang teratur untuk memastikan
kesesuaiannya dengan spesifikasi dan memastikan semua
komponen sesuai dengan yang ditetapkan dalam Prosedur
Pengemasan Induk.
- Selama proses pengolahan dan pengemasan bets hendaklah diambil
sampel pada awal, tengah dan akhir proses oleh personil yang
ditunjuk.
- Hasil pengujian/inspeksi selama-proses hendaklah dicatat, dan
dokumen tersebut hendaklah menjadi bagian dari Catatan Bets.
- Spesifikasi pengawasan selama-proses hendaklah konsisten dengan
spesifikasi produk. Spesifikasi tersebut hendaklah berasal dari hasil
rata-rata proses sebelumnya yang diterima dan bila mungkin dari hasil
estimasi variasi proses dan ditentukan dengan menggunakan metode
statistis yang cocok bila ada.
Bahan dan Produk Yang Ditolak, Dipulihkan dan Dikembalikan
- Bahan dan produk yang ditolak hendaklah diberi penandaan yang jelas
dan disimpan terpisah di area terlarang (restricted area). Bahan atau
produk tersebut hendaklah dikembalikan kepada pemasoknya atau,

25
bila dianggap perlu, diolah ulang atau dimusnahkan. Langkah apa pun
yang diambil hendaklah lebih dulu disetujui oleh kepala bagian
Manajemen Mutu (Pemastian Mutu) dan dicatat.
- Pengolahan ulang produk yang ditolak hendaklah merupakan suatu
kekecualian. Hal ini hanya diperbolehkan jika mutu produk akhirnya
tidak terpengaruh, bila spesifikasinya dipenuhi dan prosesnya
dikerjakan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan dan disetujui
setelah dilakukan evaluasi terhadap risiko yang mungkin timbul.
Catatan pengolahan ulang hendaklah disimpan.
- Pemulihan semua atau sebagian dari bets sebelumnya, yang
memenuhi persyaratan mutu, dengan cara penggabungan ke dalam
bets lain dari produk yang sama pada suatu tahap pembuatan obat,
hendaklah diotorisasi sebelumnya. Pemulihan ini hendaklah dilakukan
sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan setelah dilakukan
evaluasi terhadap risiko yang mungkin terjadi, termasuk kemungkinan
pengaruh terhadap masa edar produk. Pemulihan ini hendaklah
dicatat.
- Kebutuhan pengujian tambahan hendaklah dipertimbangkan oleh
kepala Pengawasan Mutu terhadap produk hasil pengolahan ulang
atau bets yang mendapat penambahan dari produk pulihan.
- Bets yang mengandung produk pulihan hanya boleh diluluskan
setelah semua bets asal produk pulihan yang bersangkutan telah
dinilai dan dinyatakan memenuhi spesifikasi yang ditetapkan.
Karantina Dan Penyerahan Produk Jadi
- Karantina produk jadi merupakan tahap akhir pengendalian sebelum
penyerahan ke gudang dan siap untuk didistribusikan. Sebelum
diluluskan untuk diserahkan ke gudang, pengawasan yang ketat
hendaklah dilaksanakan untuk memastikan produk dan catatan
pengemasan bets memenuhi semua spesifikasi yang ditentukan.
- Prosedur tertulis hendaklah mencantumkan cara penyerahan produk
jadi ke area karantina, cara penyimpanan sambil menunggu pelulusan,
persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh pelulusan, dan cara
pemindahan selanjutnya ke gudang produk jadi.

26
- Selama menunggu pelulusan dari bagian Manajemen Mutu (Pemastian
Mutu), seluruh bets/lot yang sudah dikemas hendaklah ditahan dalam
status karantina.
- Kecuali sampel untuk pengawasan mutu, tidak boleh ada produk yang
diambil dari suatu bets/lot selama produk tersebut masih ditahan di
area karantina.
- Area karantina merupakan area terbatas hanya bagi personil yang
benar-benar diperlukan untuk bekerja atau diberi wewenang untuk
masuk ke area tersebut.
- Produk jadi yang memerlukan kondisi penyimpanan khusus hendaklah
diberi penandaan jelas yang menyatakan kondisi penyimpanan yang
diperlukan, dan produk tersebut hendaklah disimpan di area karantina
dengan kondisi yang sesuai.
- Pelulusan akhir produk hendaklah didahului dengan penyelesaian
yang memuaskan dari paling tidak hal sebagai berikut:
a. produk memenuhi persyaratan mutu dalam semua spesifikasi
pengolahan dan pengemasan;
b. sampel pertinggal dari kemasan yang dipasarkan dalam jumlah
yang mencukupi untuk pengujian di masa mendatang;
c. pengemasan dan penandaan memenuhi semua persyaratan sesuai
hasil pemeriksaan oleh bagian Pengawasan Mutu;
d. rekonsiliasi bahan pengemas cetak dan bahan cetak dapat
diterima; dan
e. produk jadi yang diterima di area karantina sesuai dengan jumlah
yang tertera pada dokumen penyerahan barang.
- Setelah pelulusan suatu bets/lot oleh bagian Manajemen Mutu
(Pemastian Mutu), produk tersebut hendaklah dipindahkan dari area
karantina ke gudang produk jadi.
- Sewaktu menerima produk jadi, personil gudang hendaklah mencatat
pemasukan bets tersebut ke dalam kartu stok yang bersangkutan.
Catatan Pengendalian Pengiriman Obat
- Sistem distribusi hendaklah didesain sedemikian rupa untuk
memastikan produk yang pertama masuk didistribusikan lebih dahulu.

27
- Sistem distribusi hendaklah menghasilkan catatan sedemikian rupa
sehingga distribusi tiap bets/lot obat dapat segera diketahui untuk
mempermudah penyelidikan atau penarikan kembali jika diperlukan.
- Prosedur tertulis mengenai distribusi obat hendaklah dibuat dan
dipatuhi.
- Penyimpangan terhadap konsep first-in first-out (FIFO) atau first-
expire first-out (FEFO) hendaklah hanya diperbolehkan untuk jangka
waktu yang pendek dan hanya atas persetujuan manajemen yang
bertanggung jawab.
Penyimpanan Bahan Awal, Bahan Pengemas, Produk Antara, Produk
Ruahan Dan Produk Jadi
- Semua bahan dan produk hendaklah disimpan secara rapi dan teratur
untuk mencegah risiko kecampurbauran atau pencemaran serta
memudahkan pemeriksaan dan pemeliharaan.
- Bahan dan produk hendaklah diletakkan tidak langsung di lantai dan
dengan jarak yang cukup terhadap sekelilingnya.
- Bahan dan produk hendaklah disimpan dengan kondisi lingkungan
yang sesuai. Penyimpanan yang memerlukan kondisi khusus
hendaklah disediakan.
- Kondisi penyimpanan obat dan bahan hendaklah sesuai dengan yang
tertera pada penandaan berdasarkan hasil uji stabilitas.
- Data pemantauan suhu hendaklah tersedia untuk dievaluasi. Alat yang
dipakai untuk pemantauan hendaklah diperiksa pada selang waktu
yang telah ditentukan dan hasil pemeriksaan hendaklah dicatat dan
disimpan. Semua catatan pemantauan hendaklah disimpan untuk
jangka waktu paling tidak sama dengan umur bahan atau produk yang
bersangkutan ditambah 1 tahun, atau sesuai dengan peraturan
pemerintah. Pemetaan suhu hendaklah dapat menunjukkan suhu sesuai
batas spesifikasi di semua area fasilitas penyimpanan. Disarankan agar
alat pemantau suhu diletakkan di area yang paling sering
menunjukkan fluktuasi suhu.

28
- Penyimpanan di luar gedung diperbolehkan untuk bahan yang
dikemas dalam wadah yang kedap (misalnya drum logam) dan
mutunya tidak terpengaruh oleh suhu atau kondisi lain.
- Kegiatan pergudangan hendaklah terpisah dari kegiatan lain.
- Semua penyerahan ke area penyimpanan, termasuk bahan kembalian,
hendaklah didokumentasikan dengan baik.
- Tiap bets bahan awal, bahan pengemas, produk antara, produk ruahan
dan produk jadi yang disimpan di area gudang hendaklah mempunyai
kartu stok. Kartu stok tersebut hendaklah secara periodik
direkonsiliasi dan bila ditemukan perbedaan hendaklah dicatat dan
diberikan alasan bila jumlah yang disetujui untuk pemakaian berbeda
dari jumlah pada saat penerimaan atau pengiriman. Hal ini hendaklah
didokumentasikan dengan penjelasan tertulis.
Penyimpanan Bahan Awal dan Bahan Pengemas
- Pemisahan secara fisik atau cara lain yang tervalidasi (misalnya cara
elektronis) hendaklah disediakan untuk penyimpanan bahan atau
produk yang ditolak, daluwarsa, ditarik dari peredaran atau obat atau
bahan kembalian. Bahan atau produk, dan area penyimpanan tersebut
hendaklah diberi identitas yang tepat.
- Semua bahan awal dan bahan pengemas yang diserahkan ke area
penyimpanan hendaklah diperiksa kebenaran identitas, kondisi wadah
dan tanda pelulusan oleh bagian Pengawasan Mutu.
- Bila identitas atau kondisi wadah bahan awal atau bahan pengemas
diragukan atau tidak sesuai dengan persyaratan identitas atau
kondisinya, wadah tersebut hendaklah dikirim ke area karantina.
Selanjutnya pihak Pengawasan Mutu hendaklah menentukan status
bahan tersebut.
- Bahan awal dan bahan pengemas yang ditolak hendaklah tidak
disimpan bersama-sama dengan bahan yang sudah diluluskan, tapi
dalam area khusus yang diperuntukkan bagi bahan yang ditolak.
- Bahan cetak hendaklah disimpan di area penyimpanan terlarang
(restricted storage area) dan penyerahan di bawah pengawasan yang
ketat.

29
- Stok tertua bahan awal dan bahan pengemas dan yang mempunyai
tanggal daluwarsa paling dekat hendaklah digunakan terlebih dahulu
(prinsip FIFO dan FEFO).
- Bahan awal dan bahan pengemas hendaklah diuji ulang terhadap
identitas, kekuatan, mutu dan kemurnian, sesuai kebutuhan, misal:
setelah disimpan lama, atau terpapar ke udara, panas atau kondisi lain
yang mungkin berdampak buruk terhadap mutu.
Penyimpanan Produk Antara, Produk Ruahan dan Produk jadi
- Produk antara dan produk ruahan hendaklah disimpan pada kondisi
yang tepat.
- Tiap penerimaan hendaklah diperiksa untuk memastikan bahwa bahan
yang diterima sesuai dengan dokumen pengiriman.
- Tiap wadah produk antara, produk ruahan dan produk jadi yang
diserahkan ke area penyimpanan hendaklah diperiksa kesesuaian
identitas dan kondisi wadah.
- Bila identitas atau kondisi wadah produk antara, produk ruahan dan
produk jadi diragukan atau tidak sesuai dengan persyaratan identitas
atau kondisinya, wadah tersebut hendaklah dikirim ke area karantina.
Selanjutnya pihak Pengawasan Mutu hendaklah menentukan status
produk tersebut.

Pengiriman dan Pengangkutan


- Bahan dan obat hendaklah diangkut dengan cara sedemikian rupa
sehingga tidak merusak keutuhannya dan kondisi penyimpanannya
terjaga.
- Perhatian khusus hendaklah diberikan bila menggunakan es kering
dalam rangkaian sistem pendinginan. Di samping itu, tindakan
pengamanan hendaklah memastikan agar bahan atau produk tidak
bersentuhan langsung dengan es kering tersebut, karena dapat
berdampak buruk terhadap mutu produk, misalnya terjadi pembekuan.

30
- Bilamana perlu, dianjurkan penggunaan alat untuk memantau kondisi,
misalnya suhu, selama pengangkutan. Hasil pemantauan tersebut
hendaklah dicatat untuk pengkajian.
- Pengiriman dan pengangkutan bahan atau obat hendaklah
dilaksanakan hanya setelah ada order pengiriman. Tanda terima order
pengiriman dan pengangkutan bahan hendaklah didokumentasikan.
- Prosedur pengiriman hendaklah dibuat dan didokumentasikan, dengan
mempertimbangkan sifat bahan dan obat yang akan dikirim serta
tindakan pencegahan khusus yang mungkin diperlukan.
- Wadah luar yang akan dikirim hendaklah memberikan perlindungan
yang cukup terhadap seluruh pengaruh luar serta diberi label yang
jelas dan tidak terhapuskan.
- Catatan pengiriman hendaklah disimpan, yang menyatakan minimal:
- Tanggal pengiriman
- Nama dan alamat pelanggan
- Uraian tentang produk, misalnya nama, bentuk dan kekuatan sediaan
(bila perlu), nomor bets dan jumlah; dan
- Kondisi pengangkutan dan penyimpanan.
- Semua catatan hendaklah mudah diakses dan tersedia bila diminta.

2.2.3 Dokumen Produksi


Dokumen yang esensial dalam produksi adalah:
a. Dokumen Produksi Induk yang berisi formula produksi dari suatu
produk dalam bentuk sediaan dan kekuatan tertentu, tidak tergantung
dari ukuran bets;
b. Prosedur Produksi Induk, terdiri dari Prosedur Pengolahan Induk dan
Prosedur Pengemasan Induk, yang masing-masing berisi prosedur
pengolahan dan prosedur pengemasan yang rinci untuk suatu produk
dengan bentuk sediaan, kekuatan dan ukuran bets spesifik. Prosedur
Produksi Induk dipersyaratkan divalidasi sebelum mendapat pengesahan
untuk digunakan; dan

31
c. Catatan Produksi Bets, terdiri dari Catatan Pengolahan Bets dan Catatan
Pengemasan Bets, yang merupakan reproduksi dari masing-masing
Prosedur Pengolahan Induk dan Prosedur Pengemasan Induk, dan berisi
semua data dan informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan produksi
dari suatu bets produk.
- Dokumen Produksi Induk
Dokumen Produksi Induk yang disahkan secara formal hendaklah
mencakup nama, bentuk sediaan, kekuatan dan deskripsi produk,nama
penyusun dan bagiannya, nama pemeriksa serta daftar distribusi dokumen dan
berisi hal sebagai berikut:
a. informasi bersifat umum yang menguraikan jenis bahan pengemas
primer yang harus digunakan atau aternatifnya, pernyataan mengenai
stabilitas produk, tindakan pengamanan selama penyimpanan dan
tindakan pengamanan lain yang harus dilakukanselama pengolahan dan
pengemasan produk;
b. komposisi atau formula produk untuk tiap satuan dosis dan untuksatu
sampel ukuran bets;
c. daftar lengkap bahan awal, baik yang tidak akan berubah maupunyang
akan mengalami perubahan selama proses;
d. spesifikasi bahan awal;
e. daftar lengkap bahan pengemas;
f. spesifikasi bahan pengemas primer;
g. prosedur pengolahan dan pengemasan;
h. daftar peralatan yang dapat digunakan untuk pengolahan dan
pengemasan;
i. pengawasan selama-proses pengolahan dan pengemasan; dan
j. masa edar/simpan.

2.3 Rangkaian Berbagai Proses Produksi Sediaan Non Steril


2.3.1 Alur Produksi Sediaan Non Steril
1 Tablet
Menurut FI edisi IV, tablet adalah sediaan padat yang
mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Secara
umum tablet dibuat dengan 3 cara atau metode, yaitu granulasi basah

32
(wet granulation), granulasi kering (dry granulation) dan kempa
langsung (direct compression).
Pelaksanaan produksi tablet berdasarkan Surat Perintah Kerja
dan sesuai dengan Batch Record. Batch Record disusun oleh unit
produksi dan unit pengujian dan pengembangan. Batch Recordberisi
seluruh kegiatan produksi meliputi formula, spesifikasi bahan baku
dan pengemas, spesifikasi obat jadi, alat yang digunakan, tahap -
tahap pengolahan (pemeriksaan kebersihan alat, penimbangan,
pembuatan), uji dalam proses, data deviasi dan pernyataan serah
terimaproduk ruahan ke bagian produksi.Batch Recordjuga berisi
catatan pengemasan batch yang meliputi daftar bahan pengemas,
tahap - tahap pengemasan, dan pernyataan serah terima obat jadi dari
unit produksi ke unit pergudangan.
Alur produksi tablet diawali dari pengambilan bahan baku
dari gudang yang telah diluluskan oleh bagian QC. Pengeluaran
bahan baku dari gudang untuk proses produksi harus disertai
dokumen Raw Material Requisition. Bahan baku yang telah
diambil dari gudang ditimbang di dalam ruang timbang. Bahan
yang telah ditimbang diberilabel / penandaan dan dimasukkan ke
ruang produk antara untuk menunggu dalam pembuatan tablet.
Tablet diproduksi dengan menggunakan metode kempa
langsung apabila semua bahan pembuat obat memiliki sifat alir dan
kompaktibilitas yang baik.Metode ini paling sederhana, bahan
dimixing kemudian langsung di cetak.Sedangkan jika
menggunakan metode granulasi digunakan untuk bahan yang sifat
alir dan kompaktibilitasnya tidak baik. Tujuan granulasi adalah
untuk meningkatkan aliran campuran dan atau kemampuan kempa.
Tablet yang diproduksi dengan menggunakan
metodegranulasi basah, dilakukan proses mixing.Bahan-bahan yang
termasuk fase dalam dicampur di mesin pencampur (mixer) dengan
menambahkan mucilago sedikit demi sedikithingga terbentuk massa

33
granul basah..Granul basah yang diperoleh dikeringkan dengan fluid
bed dryer (FBD) hingga diperoleh granul kering.
Selanjutnya dilakukan cek kadar air oleh bagian IPC. Granul
yang didapat selanjutnya ditimbang dan dilanjutkan dengan
penambahan fase luardi dalam mixer sesuai dengan bobot granul
yang didapatkan.dandilakukan pemeriksaan keseragaman kadar zat
aktif terhadap granul oleh bagian analisa (laboratorium analisa).
Granul selanjutnya dicetak menjadi tablet.
Tablet yang dihasilkan diperiksa oleh bagian IPC meliputi
pemeriksaan keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan, dan waktu
hancur Sedangkan untuk pengujian disolusi dan kadar zat aktif
dilakukan oleh bagian analisa.
Setelah tablet lulus uji, dimasukkan pada pengemasan
primer yang meliputi proses stripping. Dilakukan pemeriksaan
kebocoran strip oleh bagian IPC.Selanjutnya dikemas sekunder dan
diperiksa penampilan, kelengkapan, dan penandaan oleh QC. Jika
lulus uji, dimasukkan ke dalam gudang produk jadi.
In-process control dalam produksi tablet

Berikut adalah beberapa proses kontrol yang harus


dilakukan untuk menghasilkan produk obat yang baik:

1 Selama persiapan pentabletan


a Konformitas bahan sediaan
b Keseragaman bobot
c Keseragaman ukuran
d Keseragaman waktu pencampuran
e Keseragaman suhu pengeringan
2 Selama pengempaan tablet
a Konformitas bahan sediaan
b Keseragaman bobot
c Keseragaman ukuran
d Keseragaman waktu pencampuran
e Keseragaman suhu pengeringan
3 Selama pengemasan, blistering

34
a Penyegelan dan kekedapan bister setiap jam,
memberikan metilen blue dibawah tekaan 50 mmHg
selama 10 menit dan tidak muncul titik biru
b Mencetak data produksi, tanggal kadaluarsa, nomor
batch
Secara skematis alur proses pembuatan tablet dapat dilihat
dalam gambar berikut:

35
36
Tablet Salut
Penyalutan adalah proses menutupi tablet dengan suatu
lapisan yang tipis dari zat yang umumnya inert.
Tablet hasil penyalutan harus memenuhi syarat yaitu
permukaan tablet licin; lapisan penyalut harus stabil dan tidak boleh
ada cacat; untuk tablet salut yang berwarna maka warnanya harus
rata dan tidak boleh terjadi migrasi zat warna; lapisan penyalut harus
mampu melindungi tablet inti dari pengaruh udara, kelembaban, dan
cahaya; lapisan penyalut harus memiliki rasa netral atau enak; serta
penyalutan diusahakan setipis mungkin dan tidak boleh merusak
obatnya.
Proses penyalutan terdiri dari beberapa tahap yang lamanya
berkisar antara beberapa jam hingga beberapa hari. Tahap-tahap
penyalutan gula adalah :
a Penyegelan tablet inti (Sealing)
Tujuan penyegelan adalah untuk mencegah penyusupan air ke
dalam tablet inti. Penggunaan larutan seal coating yang terlalu
banyak akan mempengaruhi disolusi dan disintegrasi obat,
namun penyegelan yang kurang akan menyebabkan stabilitas
tablet inti terganggu (tablet pecah / cracking).
b Pelapisan dasar (Sub Coating)
Tujuan sub coating adalah untuk membulatkan tepi tablet dan
menutup sudut-sudut kritis pada tablet inti serta meningkatkan
berat tablet (penyalutan gula dapat meningkatkan berat tablet 50-
100%). Variasi bobot tablet salut gula maksimal 6,5 %.
c Pewarnaan (Coloring)

37
Tujuan pewarnaan adalah untuk menutupi atau mengisi cacat
pada permukaan tablet yang disebabkan oleh tahap pelapisan
dasar serta memberikan warna yang diinginkan bagi tablet.
Umumnya pewarnaan ditambahkan pada saat tablet sudah cukup
halus agar hasil akhir tablet tidak berbinik-bintik dan terjadi
migrasi warna.
d Penghalusan (Smoothing)
Tujuan penghalusan adalah untuk mengikis permukaan tablet
yang kasar yang disebabkan oleh tahap pelapisan dan atau
pewarnaan sehingga menghasilkan tablet halus, mengkilap, dan
anggun.
e Pengkilapan (Polishing)
Tujuan pengkilapan adalah untuk memperoleh hasil akhir (tablet
salut yang mengkilap, licin, halus, dan menawan. Hal yang perlu
diperhatikan dalam tahap ini adalah jangan digunakan panas
berlebih karena bubuk wax akan menempel pada tablet, serta
hentikan proses polishing jika tablet sudah mengkilap, jika terlalu
lama justru tabletakan rusak dan tidak mengkilap (buram).
Secara skematis alur proses pembuatan tablet salut dapat
dilihat dalam gambar berikut:

38
2 Kapsul
Pelaksanaan produksi kapsul berdasarkan Surat Perintah
Kerja dan sesuai dengan Batch Record. Batch Record disusun oleh
unit produksi dan unit pengujian dan pengembangan. Batch Record
berisi seluruh kegiatan produksi meliputi formula, spesifikasi bahan
baku dan pengemas, spesifikasi obat jadi, alat yang digunakan, tahap
- tahap pengolahan (pemeriksaan kebersihan alat, penimbangan,
pembuatan), uji dalam proses, data deviasi dan pernyataan serah
terima produk ruahan ke bagian produksi. Batch Record juga berisi
catatan pengemasan batch yang meliputi daftar bahan pengemas,
tahap - tahap pengemasan, dan pernyataan serah terima obat jadi dari
unit produksi ke unit pergudangan.
Alur produksi kapsul dimulai dengan penimbangan bahan
bakuyang diluluskan oleh bagian Quality Assurance, kemudian
bahan baku dicampur menggunakan mixerkemudian dilakukan
pengisian ke dalam cangkang kapsul menggunakan mesin pengisi

39
kapsul yang membuka cangkang kapsul, mengisi kapsul dan
menutup cangkang kapsul.
Setelah proses pengisian, tahap selanjutnya adalah
polishing kapsul yang berguna untuk menghilangkan serbuk yang
lengket pada permukaan cangkang kapsul sehingga kapsul tampak
lebih bersih dan mengkilap.
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan yang meliputi
pemeriksaan keseragaman bobot, kadar zat aktif, waktu hancur dan
disolusi. Kapsul
yang memenuhi persyaratan selanjutnya dikemas dan siap dikirim
diunit gudang obat jadi serta dibuat berita acara produksi kapsul.
Secara skematis alur proses pembuatan kapsul dapat dilihat
dalam gambar berikut:

3 Sirup
Metode pembuatan sirup dengan Perkolasi dan Maserasi
1. Larutan yang dibuat dengan pemanasan. Sirup yang
dibuat dengan cara ini apabila:
a. dibutuhkan pembuatan sirup secepat mungkin.

40
b. komponen sirup tidak rusak atau menguap oleh panas.
Pada cara ini umumnya gula ditambahkan ke air yang
dimurnikan, dan panas digunakan sampai larutan
terbentuk. Contoh : Sirup akasia, Sirup cokelat.
2. Larutan yang diaduk tanpa bantuan panas.
Menghindari panas yang meransang inverse sukrosa.
Proses ini memakan waktu lebih lama serta mempunyai
kestabilan yang maksimal. Bila bahan padat akan
ditambahkan ke sirup, yang paling baik adalah
melarutkannya dalam sejumlah air murni dan kemudian
larutan tersebut digabungkan ke dalamsirup.
Contoh: Sirup ferro Sulfat.
3. Penambahan sukrosa ke dalam cairan obat/cairan pemberi
rasa adakalanya cairan obat seperti tingtur atau ekstrak
cair digunakan sebagai sumber obat dalam pembuatan
sirup.

Pelaksanaan produksi sirup berdasarkan Surat Perintah Kerja


dan sesuai dengan Batch Record. Batch Record disusun oleh unit
produksi dan unit pengujian dan pengembangan. Batch Record berisi
seluruh kegiatan produksi meliputi formula, spesifikasi bahan baku
dan pengemas, spesifikasi obat jadi, alat yang digunakan, tahap -
tahap pengolahan (pemeriksaan kebersihan alat, penimbangan,
pembuatan), uji dalam proses, data deviasi dan pernyataan serah
terima produk ruahan ke bagian produksi. Batch Record juga berisi
catatan pengemasan batch yang meliputi daftar bahan pengemas,
tahap - tahap pengemasan, dan pernyataan serah terima obat jadi dari
unit produksi ke unit pergudangan.
Alur pembuatan sirup dimulai dengan pencucian botol
dengan menggunakan aquademineralisata.Botol kemudian
dikeringkan dalam oven double door. Proses pencucian botol
seluruhnya ditangani oleh bagian pencucian botol. Selanjutnya

41
dilakukan penimbangan bahan baku dan pembuatan sirupus simplek
dan pemanasan air untuk melarutkan bahan.
Cara pembuatan sirup syrupus simplex adalah sebagai
berikut:
1. Buat cairan untuk sirup
2. Panaskan tambahkan gula, jika perlu didihkan hingga larut
3. Tambahkan air mendidih secukupnya hingga di peroleh
bobot sesuai
4 Buang busa yang terbentuk
Pada pembuatan sirup simplisia untuk persediaan di
tambahkan metil paraben 0,25% b/v atau pengawet lain yang cocok.
Kadar gula dalam sirup pada suhu kamar maksimum 66% sukrosa,
bila lebih tinggi akan terjadi pengkristalan, tetapi bila lebih rendah
dari 62% sirup akan membusuk.
Pada penyimpanan dapat terjadi inverse dan sukrosa (pecah
menjadi glukosa dan fruktosa) dan pada sirup yang bereaksi asam
inverse dapat terjadi lebih cepat. Pemanasan sebaiknya dihindari
karena pemanasan akan menyebabkan terjadinya gula invert. Gula
invert adalah gula yang terjadi karena penguraian sukrosa yang
memutar bidang polarisasi kekiri. Gula invert tidak dikehendaki
dalam sirup karena lebih encer sehingga mudah berjamur dan
berwarna tua (berbentuk karamel), tetapi mencegah terjadinya
oksidasi dari bahan obat.
Sirupus smplek didinginkan terlebih dahulu kemudian
dicampur dengan bahan lainnya kecuali bahan peningkat aroma yang
ditambahkan terakhir. Sirupus simplek disaring terlebih dahulu
sebelum dicampur dengan bahan aktif dan bahan tambahan lain
dalam mixing tank.
Sirup yang dihasilkan diuji dengan pemeriksaan organoleptik,
pH, kelarutan, kadar zat aktif.Sirup yang sudah memenuhi syarat
dilakukan pengisian ke dalam botol dengan menggunakan Liquid

42
Filling Machine dan Cappering Machine sesuai dengan volume.
Setelah sirup diisikan, botol ditutup (capping) secara otomatis.
Botol yang telah berisi sirup diberi etiket dan dilakukan
pengemasan sekunder.
Berikut adalah beberapa proses kontrol yang harus dilakukan
untuk menghasilkan produk obat yang baik:
a. Proses mixing/filtrasi, yaitu pemeriksaan pH, viskositas
suspensi, kadar zat aktif, homogenitas, dan berat jenis
b. Proses filling yaitu pemeriksaan keseragaman volume
c. Proses capping yaitu pemeriksaan kebocoran.

43
Secara skematis alur proses pembuatan kapsul dapat dilihat
dalam gambar berikut:

4. Suspensi
Metode DispersiSuspensi dapat di buat dengan menggunakan
2 metode, yaitu:
1. Metode Dispersi
Serbuk yang terbagi halus, didispersi didalam cairan
pembawa. Umumnya sebagai cairan pembawa adalah air. Dalam
formulasi suspensi yang penting adalah partikel partikel harus

44
terdispersi betul di dalam air, mendispersi serbuk yang tidak larut
dalam air, kadang kadang sukar. Hal ini di sebabkan karena
adanya udara, lemak dan lain lain kontaminan pada permukaan
serbuk.
2. Metode Presipitasi (Pengendapan), yang perlu diperhatikan
dengan metode ini adalah kontrol ukuran partikel karena dapat
terjadinya bentuk polimorf atau hidrat dari kristal, metode ini di
bagi lagi menjadi 3 macam:
a. Presipitasi dengan pelarut organik
b. Presipitasi dengan perubahan pH dari media
c. Presipitasi dengan dekomposisi rangkap
Pelaksanaan produksi suspensi berdasarkan Surat Perintah
Kerja dan sesuai dengan Batch Record. Batch Record disusun oleh
unit produksi dan unit pengujian dan pengembangan. Batch Record
berisi seluruh kegiatan produksi meliputi formula, spesifikasi bahan
baku dan pengemas, spesifikasi obat jadi, alat yang digunakan, tahap
- tahap pengolahan (pemeriksaan kebersihan alat, penimbangan,
pembuatan), uji dalam proses, data deviasi dan pernyataan serah
terima produk ruahan ke bagian produksi. Batch Record juga berisi
catatan pengemasan batch yang meliputi daftar bahan pengemas,
tahap - tahap pengemasan, dan pernyataan serah terima obat jadi dari
unit produksi ke unit pergudangan.
Alur pembuatan suspensi denganpembuatan sirupus simplex
yang kemudian dilakukan penyaringan dengan ukuran mesh yang
dapat menyaring partikel kotoran.
Setelah itu dilakukan pembuatan suspending agent. Setelah
larutan suspending agent mengembang maka dilakukan penghalusan
dengan menggunakan colloid mill.
Bahan aktif yang tidak larut harus dilakukan proses
pembasahan terlebih dahulu. Setelah masing-masing bahan siap,
maka dilakukan proses pencampuran di dalam mixing tank. Bahan-
bahan pembantu ditambahkan ke dalam campuran sediaan dalam
kondisi terlarut dalam air.

45
Setelah suspensi terbentuk maka ditambahkan air sampai
volume yang diinginkan. Proses terakhir adalah suspensi dihaluskan
dengan colloid mill.
Selanjutnya sampel diambil sebanyak 500 ml untuk
pengujian laboratorium kemudian hasil mixing diberi label Dalam
Pemeriksaan. Pengujian yang dilakukan terhadap suspensi antara
lain; organoleptis, pH, berat jenis, viskositas serta kadat zat aktif.
Setelah lulus hasil pengujian, maka suspensi siap di-filling ke dalam
botol dengan menggunakan mesin Liquid Filling and Cropping
Machine.
Secara skematis alur proses pembuatan suspensi dapat dilihat
dalam gambar berikut:

5. Sediaan Semisolid

46
Prinsip Pembuatan Sediaan Semisolid adalah :

1. Produk cairan, krim dan salep hendaklah diproduksi


sedemikian rupa agar terlindung dari pencemaran
mikroba dan pencemaran lain.
2. Tangki, wadah, pipa dan pompa yang digunakan
hendaklah didesain dan dipasang sedemikian rupa
sehingga memudahkan pembersihan dan bila perlu
disanitasi.
3. Kualitas kimia dan mikrobiologi air yang digunakan
hendaklah ditetapkan dan selalu dipantau.

Pelaksanaan produksi suspensi berdasarkan Surat Perintah


Kerja dan sesuai dengan Batch Record. Batch Record disusun oleh
unit produksi dan unit pengujian dan pengembangan. Batch Record
berisi seluruh kegiatan produksi meliputi formula, spesifikasi bahan
baku dan pengemas, spesifikasi obat jadi, alat yang digunakan, tahap
- tahap pengolahan (pemeriksaan kebersihan alat, penimbangan,
pembuatan), uji dalam proses, data deviasi dan pernyataan serah
terima produk ruahan ke bagian produksi. Batch Record juga berisi
catatan pengemasan batch yang meliputi daftar bahan pengemas,
tahap - tahap pengemasan, dan pernyataan serah terima obat jadi dari
unit produksi ke unit pergudangan.

Salep
Alur produksi salep dimulai dengan penimbangan bahan, dan
pelelehan basis salep.Kemudian dilakukan pencampuranzat aktif
dengan basis salep sampai homogen. Salep yang dihasilkan
selanjutya diperiksa homogenitasnya, konsistensi, dan kadar zat
aktif.
Krim

47
Alur produksi krim meliputi penimbangan, peleburan fase
minyak dan fase air, penyatuan kedua fase dan pencampuran dengan
zat aktif. Krim yang dihasilkan dilakukan pemeriksaan terhadap
terhadap homogenitas, konsistensi dan kadar zat aktif. Salep dan
krim yang dihasilkan dimasukkan ke dalam tube menggunakan
mesin pengisi salep/krim dan kemudian dilanjutkan dengan
penutupan tube.Tube yang beisi salep diberietiket dan hasilnya
disortir, setelah itu dilakukan pengemasan sekunder.

Secara skematis alur proses pembuatan sediaan semisolid


dapat dilihat dalam gambar berikut:

48
BAB III
KUALIFIKASI TENAGA KERJA, STRUKTUR ORGANISASI,
PELATIHAN DAN EVALUASI

3.1. Kualifikasi Tenaga Kerja

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.


245/Menkes/SK/V/1990 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan
Pemberian Izin Usaha Industri Farmasi Pasal 10, suatu industri farmasi
obat jadi dan bahan baku obat setidaknya harus mempekerjakan secara
tetap minimal tiga orang apoteker WNI sebagai manager atau penanggung
jawab produksi, pengawasan mutu (Quality Control/QC), dan pemastian
mutu (Quality Assurance/QA). Ketiga bagian ini (produksi, pengawasan
mutu, dan pemastian mutu) harus dipimpin oleh orang yang berbeda yang
tidak saling bertanggung jawab satu terhadap yang lain (indipenden) agar
tidak terjadi tumpang tindih tugas dan perannya. Dari peraturan tersebut,
sudah jelas bahwa apoteker diperlukan di industri farmasi, setidaknya
untuk memimpin ketiga bagian tersebut.
Baik manager produksi, QC, maupun QA, ketiganya haruslah
merupakan apoteker yang sudah berpengalaman di industri farmasi dan
memenuhi kualifikasi yang ditentukan. Oleh karena itu, seorang apoteker
yang bekerja di industri farmasi tidak serta merta dapat menduduki posisi-
posisi tersebut tetapi harus memulai karirnya dari bawah, misalnya dari
level staff.
Bagian produksi bertugas untuk menjalankan proses produksi
sesuai prosedur yang telah ditetapkan dan sesuai dengan ketentuan CPOB.
Bagian pengawasan mutu (QC) bertanggung jawab penuh dalam seluruh
tugas pengawasan mutu mulai dari bahan awal, produk antara, produk
ruahan, dan produk jadi. Sementara bagian pemastian mutu (QA) bertugas
untuk memverifikasi seluruh pelaksanaan proses produksi, pemastian

49
pemenuhan persyaratan seluruh sarana penunjang produksi, dan pelulusan
produk jadi. Dalam hal ini, pemastian mutu adalah suatu konsep luas yang
mencakup semua hal yang akan mempengaruhi mutu dari obat yang
dihasilkan, seperti personel, sanitasi dan higiene, bangunan, sarana
penunjang, dan lain-lain.

Kepala bagian produksi hendaknya seorang Apoteker yang


terdaftar dan berkualifikasi, memperoleh pelatihan yang sesuai, memiliki
pengalaman praktis yang memadai dalam bidang pembuatan produk
(misalnya obat) dan keterampilan manajerial sehingga memungkinkan
untuk melaksanakan tugasnya secara profesional. Kepala bagian produksi
hendaknya diberi kewenangan dan tanggung jawab penuh dalam produksi
obat. Disamping itu, Kepala Bagian Produksi bersama dengan Kepala
Bagian Pengawaasan Mutu dan penanggung jawab teknik hendaklah
memiliki tanggung jawab bersama terhadap aspek yang berkaitan dengan
Mutu
Kualifikasi Manajer produksi diantaranya harus seorang Apoteker
terdaftar (registered pharmacist) dan terkualifikasi, Memperoleh pelatihan
yang sesuai, Memiliki pengalaman praktis yang memadai dalam bidang
pembuatan obat dan keterampilan manajerial, Memiliki pengalaman dan
pengetahuan mengenai peralatan yang digunakan dalam pembuatan obat,
Menguasai CPOB, Menguasai bahasa Inggris dengan baik dan Memiliki
ketrampilan kepemimpinan yang tersertifikasi.
Kepala bagian pengawasan mutu atau QC hendaknya seorang
Apoteker terkualifikasi dan memperoleh pelatihan yang sesuai, memiliki
pengalaman praktis yang memadai dalam bidang pembuatan produk
(misalnya obat) dan keterampilan manajerial sehingga memungkinkan
untuk melaksanakan tugasnya secara profesional. Kepala bagian
pengawasan mutu hendaknya diberi kewenangan dan tanggung jawab
penuh dalam pengawasan mutu. QC dapat membawahi IMI (Incoming

50
Material Inspection) & Mikrobiologi, IPC 1,IPC II dan QC Food
Supervisor.
Kualifikasi penting yang dibutuhkan untuk menjadi QC adalah
ijazah sekolah tinggi atau Diploma ataupun Sarjana bidang yang sesuai
dengan pekerjaan, Dia harus memiliki keterampilan komunikasi yang baik
lisan dan tertulis, Dia harus baik dalam perhitungan aritmatika dan
memiliki bakat mekanik bila diperlukan, Pengalaman lebih dari 2 tahun
biasanya diperlukan untuk menjadi QC di lapangan diperlukan,
Kemampuan untuk menggunakan komputer dan utilitas juga wajib
dimiliki QC, dan dengan sertifikasi dan program pelatihan yang
ditawarkan oleh organisasi internasional untuk Kualitas dapat membantu
untuk memperoleh pekerjaan sebagai QC lebih nyaman. Hal ini juga
dianjurkan untuk memiliki pengetahuan kerja departemen lain dari
perusahaan dan aturan dan peraturan yang dapat membantu untuk
mempertahankan standar kualitas dengan cara yang lebih efektif.
Kepala bagian manajemen mutu (pemastian mutu/QA) hendaknya
seorang Apoteker terkualifikasi dan memperoleh pelatihan yang sesuai,
memiliki pengalaman praktis yang memadai dalam bidang pembuatan
produk (misalnya obat) dan keterampilan manajerial sehingga
memungkinkan untuk melaksanakan tugasnya secara profesional. Kepala
bagian manajemen mutu (pemastian mutu) hendaknya diberi kewenangan
dan tanggung jawab penuh untuk melaksanakan tugas yang berhubungan
dengan sistem mutu atau pemastian mutu.Divisi QA harus sama-sama
bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan yang berkaitan dengan
pemastian mutu berkaitan dengan seluruh aspek yang terlibat dari bahan
awal, produk, proses serta produk akhir yang dihasilkan dan untuk
menjamin kualitas produk yang dihasilkan secara konsisten. Pilar-pilar
yang menjadi dasar terbentuknya jaminan mutu adalah kebijakan mutu,
validasi, pengawasan mutu, pelatihan, audit dan pengendalian dokumen.

51
Divisi QA dibantu oleh bagian Document controldan membawahi bagian
QC, Validation , dan GMP.
Kualifikasi penting yang dibutuhkan untuk menjadi QA
diantaranya harus seorang Apoteker terdaftar dan terkualifikasi,
Memperoleh pelatihan yang sesuai, Memiliki pengalaman praktis dan
memadai, Memiliki pengalaman dan pengetahuan dibidang pembuatan
obat serta pengujian fisis dan analisa kimia, Memiliki pengetahuan
peralatan yang digunakan dalam pembuatan obat dan laboratorium terkini,
Memiliki pengetahuan CPOB baik nasional maupun internasional,
Menguasai bahasa Inggris dengan baik dan Memiliki ketrampilan
kepemimpinan yang tersertifikasi
Sedangkan kualifikasi tenaga kerja lainnya seperti Supervisor
produksi diantaranya seorang Apoteker (1 thn) bagian produksi pada
Pabrik Farmasi, Asisten apoteker (5 thn), dan mengetahui Teknik
pembuatan obat, peralatan produksi obat, CPOB & ketrampilan dlm
kepemimpinan. Kualifikasi untuk Supervisor Laboratorium diantaranya
Apoteker / Sarjana Kimia/ Sarjana Biologi ,(1 thn), pengawasan mutu
pabrik, Asisten apoteker, (5 thn)dan mengetahui dengan benar teknik
pembuatan obat, peralatan produksi obat, CPOB & ketrampilan dlm
kepemimpinan. Kualifikasi Oprerator produksi diantaranya Lulusan STM
atau SMA, pengalaman paling sedikit 1 thn di bagian produksi farmasi dan
mengetahui benar teknik pembuatan obat, peralatan produksi obat dan
CPOB. Sedangkan kualifikasi analisis laboratorium pengawasan mutu
adalah Analisis kimia / akademi kimia analisis, Sarjana muda
farmasi/kimia/ asisten apoteker dan ahli dalam bidang analis kimia atau
mikrobiologi serta CPOB.

Selain ketiga bidang tersebut masih banyak wilayah pekerjaan di


industri farmasi yang juga sebenarnya membutuhkan peran apoteker di
dalamnya, antara lain:
Penelitian dan pengembangan (Research & Development/R&D)

52
Di bagian penelitian dan pengembangan, baik untuk obat baru
ataupun me too product, farmasis atau apoteker berperan dalam
menentukan formula, teknik pembuatan, dan menentukan
spesifikasi bahan baku yang digunakan, produk antara, dan produk
jadi. Pengembangan produk ini dilakukan mulai dari skala
laboratorium, skala pilot, hingga skala produksi. Di beberapa
industri, bagian pengembangan produk juga bertanggung jawab
terhadap desain kemasan produk.
PPIC (Production Planning and Inventory Control)

Bagian ini bertugas merencanakan produksi dan mengendalikan


keseimbangan antara persediaan dengan permintaan sehingga tidak
terjadi overstock maupun understock. Bagian PPIC ini biasanya
juga bergabung dengan bagian gudang (gudang bahan baku, bahan
kemas, dan produk jadi) dan dikepalai oleh seorang apoteker.
Kenapa apoteker? Karena apoteker dibekali pengetahuan tentang
manajemen dan juga dibekali pengetahuan mengenai stabilitas
bahan baku dan stabilitas sediaan sehingga penyimpanan dapat
dilakukan di tempat yang tepat dan mutunya tetap terjaga. Tenaga
kerja di PPIC hendaknya dapat menyelaraskan kebutuhan antara
bagian marketing, produksi, keuangan, dan bagian lain yang terkait
agar diperoleh efisiensi kerja dan produktivitas yang baik.guna
mencapai tingkat persediaan yang optimum, maka perlu
diperhatikan apa saja barang yang harus diadakan terkait prioritas
barang yang akan diadakan dan kebutuhan bagian lain, kapan
pemesanan harus dilakukan dengan memperhitungkan lead time,
berapa jumlah pemesanan yang harus dibuat dan sistem
pengendalian seperti apa yang dibutuhkan.

Pembelian (Purchasing)

53
Bagian pembelian melayani pembelian bahan baku dan bahan
kemas yang dibutuhkan baik untuk proses produksi, proses
penelitian dan pengembangan produk, maupun untuk pengujian-
pengujian yang dilakukan QC. Kepala atau manager pembelian
sebaiknya seorang apoteker karena apotekerlah yang mengetahui
tentang bahan baku dan bahan kemas itu sendiri beserta dokumen-
dokumen penyertanya sehingga perusahaan tidak salah memilih
atau tertipu oleh supplier (pemasok bahan baku atau bahan kemas).
Registrasi
Dalam registrasi obat ke Badan POM diperlukan dokumen-
dokumen yang harus disiapkan, seperti dokumen bahan aktif,
formula, proses pembuatan, data uji disolusi terbanding, data uji
stabilitas, dan lain-lain. Data-data tersebut yang mengerti adalah
seorang farmasis.
Promosi obat kepada tenaga profesional lain (medical
representative)
Apoteker dapat mempromosikan obat kepada tenaga profesional
lain seperti kepada dokter karena apotekerlah yang paling mengerti
tentang obat sehingga dapat menjelaskan keunggulan produk yang
ditawarkannya dari sisi ilmiah.

3.2. Kualifikasi Struktur Organisasi


Struktur organisasi industri farmasi hendaklah sedemikian rupa
sehingga bagian produksi, manajemen mutu (pemastian
mutu)/pengawasan mutu dipimpin oleh orang berbeda serta tidak saling
bertanggungjawab satu terhadap yang lain. masing masing personil diberi
wewenang penuh dan sarana yang memadai yang diperlukan untuk dapat
melaksanakan tugasnya secara efektif. Hendaklah personil tersebut tidak
mempunyai kepentingan di organisasi lain yang dapat menghambat atau
membatasi kewajiban dalam melaksanakan tanggung jawab atau yang
dapat menimbulkan konflik kepentingan pribadi atau finansial.

54
Adapun beberapa jabatan dalam struktur organisasi industri
farmasi adalah kepala bagian produksi, kepala bagian pengawasan
mutu, kepala bagian manajemen mutu.
Personil kunci mencakup bagian kepala produksi, kepala bagian
pengawasan mutu dan kepala bagian manajemen mutu (pemastian mutu).
Struktur organisasi industri farmasi hendaknya dibuat sedemikian rupa
sehingga bagian produksi, pengawasan mutu, manajemen mutu (pemastian
mutu) dipimpin oleh orang yang berbeda serta tidak saling bertanggung-
jawab satu terhadap yang lain.
Masing-masing Kepala Bagian Produksi, Pengawasan Mutu dan
Manajemen Mutu (pemastian Mutu ) memiliki tanggung jawab bersama
dalam menerapkan semua aspek yang berkaitan dengan mutu, yang
berdasarkan peraturan OPO mencakup :
Otorisasi prosedur tertulis dan dokumen lain, termasuk amademen
Pemantauan dan pengendalian lingkungan pembuatan obat
Hygiene pabrik
Validasi proses
Pelatihan
Persetujuan dan pemantauan pemasok bahan
Persetujuan dan pemantauan pembuatan obat atas dasar kontrak
Penetapan dan pemantuan kondisi penyimpanan bahan dan produk
Penyimpanan catatan
Pemantauan pemenuhan terhadap Persyaratan
Inspeksi, penyelidikan dan pengambilan sampel
Pemantauan faktor yang memungkinkan berdampak terhadap mutu
produk

55
Kepala
Pabrik

Ka. Bag.
Ka. Bag. Ka. Bag Ka. Bag.
Urusan
Produksi PPIC Teknik
Mutu

Ka. Bag. Ka. Bag.


Pemastian Pengawas
Mutu an Mutu

Gambar 3.1. Struktur Organisasi Industri Farmasi Model A

Direktur
Utama

Dir.
Dir. Op. Dir.
Pemasara
Teknis Keuangan
n

Ka. Op.
Ka. Pabrik
Mutu

Ka. Bag. Ka. Bag.


Ka. Bag. Ka. Bag. Ka. Bag.
Pemastian Pengawas
PPIC Teknik Produksi
Mutu an Mutu

Gambar 3. 2. Struktur Organisasi Industri Farmasi Model B

56
Direktur
Utama

Dir.
Dir. Op. Dir.Op.
Pemasara
Keuangan Teknis
n

Ka. Bag. Ka. Bag. Ka. Bag. Ka. Op.


PPIC Teknik Produksi Mutu

Ka. Bag. Ka. Bag.


Pemastian Pengawas
Mutu an Mutu

Gambar 3.3 Struktur Organisasi Industri Farmasi Model C

Kepala
Pabrik

Ka. Bag. Ka. Bag.


Ka. Bag. Ka. Bag. Ka. Bag.
Pemastian Pengawasa
Produksi PPIC Teknik
Mutu n Mutu

Gambar 3.4. Struktur Organisasi Industri Farmasi Model D

Personalia menjadi salah satu aspek dalam CPOB karena secara


prinsip sumber daya manusia sangat penting dalam pembentukan dan
penerapan system pemastian mutu yang memuaskan dan pembuatan obat
yang benar. Oleh sebab itu industri farmasi bertanggungjawab untuk
menyediakan personil yang terkualifikasi dalam jumlah yang memadai
untuk melaksanakan semua tugas. Tiap personil hendaklah memahami

57
tanggung jawab masing-masing dan dicatat. Seluruh personil hendaklah
memahami prinsip CPOB dan memperoleh pelatihan awal dan
berkesinambungan, termasuk instruksi mengenai higiene yang berkaitan
dengan pekerjaan. Dalam menjalankan tugasnya, tiap personil tidak
dibebani tanggung jawab yang berlebihan untuk menghindari risiko
terhadap mutu obat. Maka dari itu, perlu adanya suatu struktur organisasi
untuk memperjelas tugas tiap personal (BPOM, 2006). Berikut
kewenangan dan tanggung jawab dari beberapa kepala bagian di industri,
diantaranya :

Apoteker sebagai Penanggung Jawab Produksi


Penanggung jawab produksi (kepala bagian produksi/
manajer produksi) hendaklah seorang apoteker yang terdaftar dan
terkualifikasi, memperoleh pelatihan yang sesuai, memiliki
pengalaman praktis paling sedikit 5 tahun bekerja di bagian
produksi pabrik farmasi, memiliki pengalaman dan pengetahuan di
bagian pembuatan obat dan perencanaan produksi, pengetahuan
mengenai peralatan yang digunakan dalam pembuatan obat,
CPOB, penguasaan bahasa asing yang baik, serta keterampilan
dalam kepemimpinan yanag dibuktikan dengan sertifikasi lembaga
yang ditunjuk.
Manajer produksi bertanggungjawab atas
terselenggaranya pembuatan obat agar obat tersebut memenuhi
persyaratan kualitas yang ditetapkan dan dibuat dengan
memperhatikan pelaksanaan CPOB, dalam batas waktu dan biaya
produksi yang ditetapkan.
Secara rinci, ruang lingkup tugas dan tanggung jawab
seorang penanggungjawab produksi adalah sebagai berikut:
a. Bertanggung jawab dalam memastikan bahwa obat diproduksi dan
disimpan sesuai prosedur sehingga memenuhi persyaratan mutu
yang ditetapkan.

58
b. Bertanggung jawab atas terlaksananya pembuatan obat dari
perolehan bahan, pengolahan, pengemasan, sampai pengiriman
obat ke gudang jadi.
c. Memberikan pengarahan teknis dan administratif untuk semua
pelaksanaan operasi di gudang, penimbangan, pengolahan, dan
pengemasan.
d. Bersama-sama dengan manajer perencanaan dan pengadaan bahan
menyusun rencana produksi.
e. Bertanggung jawab memeriksa catatan pengolahan bets dan catatan
pengemasan bets serta menjamin bahwa produksi dilaksanakan
sesuai dengan prosedur pengolahan bets dan prosedur pengemasan
bets.
f. Berdiskusi dengan manajer pengawasan mutu jika ada kegagalan
g. Bertanggung jawab atas peralatan yang digunakan dalam proses
produksi, peralatan yang digunakan harus selalu dikualifikasi dan
divalidasi dengan benar.
h. Ikut membantu pelaksanaan inspeksi CPOB dan menjaga
pelaksanaan serta pematuhan terhadap peraturan CPOB.
i. Bertanggung jawab atas kebersihan di daerah produksi.
j. Bertanggung jawab untuk menjaga moral kerja yang tinggi,
kemampuan pengembangan, dan pelatihan serta melakukan
evaluasi tahunan atas semua karyawan yang dibawahinya.
k. Membuat laporan bulanan.
l. Membuat anggaran tahunan untuk bagian produksi.
m. Mengusahakan perbaikan biaya produksi.
n. Menjaga hubungan kerja yang baik dengan Penanggungjawab
Pengawasan Mutu, Teknik dan Perencanaan dan Pengadaan Bahan
serta Pemasaran.
o. Berhubungan dengan pemerintah, dalam hal ini Pengawas Obat
dan Makanan berkaitan dengan kualitas obat.
Kepala Bagian Produksi hendaknya selalu menjaga
hubungan kerja yang baik dengan Manajer Pengawasan Mutu,
Manajer Pemastian Mutu, Manajer Teknik, Manajer Perencanaan
dan Pengadaan Bahan serta Manajer Pemasaran. Berhubungan baik

59
dengan pemerintah, dalam hal ini Pengawas Obat dan Makanan
sehubungan dengan kualitas obat.
1.
Apoteker sebagai Penanggung Jawab Pengawasan Mutu
(Quality Control)
Seorang penanggung jawab pengawasan mutu (Kepala
Bagian Pengawasan Mutu / Manajer Pengawasan Mutu) adalah
seorang apoteker yang terkualifikasi, memperoleh pelatihan yang
sesuai, memiliki pengalaman praktis yang memadai dalam bidang
pembuatan obat dan keterampilan manajerial sehingga
memungkinkan untuk melaksanakan tugas secara profesional.
Penanggung jawab pengawasan mutu harus seorang apoteker
dengan pengalaman praktis minimal 2 tahun bekerja di bagian
pengawasan mutu pabrik farmasi, memiliki pengalaman dan
pengetahuan di bidang analisis kimia dan mikrobiologi,
pemeriksaan bahan pengemas, CPOB dan keterampilan dalam
kepemimpinan
Pengawasan mutu merupakan bagian yang penting dari
CPOB untuk memberikan kepastian bahwa produk secara
konsisten mempunyai mutu yang sesuai dengan tujuan
pemakaiannya. Pengawasan mutu hendaklah mencakup semua
kegiatan analitik yang dilakukan di laboratorium, termasuk
pengambilan sampel, pemeriksaan dan pengujian bahan awal,
produk antara, produk ruahan dan produk jadi. Kegiatan ini juga
mencakup uji stabilitas, program pemantauan lingkungan,
pengujian yang dilakukan dalam rangka validasi, penanganan
sampel pertinggal, menyusun dan memperbaharui spesifikasi
bahan, produk serta metode pengujiaannya. Dalam menjalankan
tugasnya divisi QA dibantu oleh bagian Document controldan
membawahi bagian QC, Validation , dan GMP.

60
Bagian pengawasan mutu dalam suatu pabrik obat
bertanggung jawab untuk memastikan bahwa :
a. Bahan awal untuk produksi obat memenuhi spesifikasi yang
ditetapkan untuk identitas, kekuatan, kemurnian, kualitas, dan
keamanannya;
b. Tahapan produksi obat telah dilaksanakan sesuai prosedur yang
ditetapkan dan telah divalidasi sebelumnya antara lain melalui
evaluasi, dokumentasi, produksi terlebih dahulu;
c. Semua pengawasan selama proses dan pemeriksaan laboratorium
terhadap suatu batch obat telah dilaksanakan dan batch tersebut
memenuhi spesifikasi yang ditetapkan sebelum didistribusikan;
d. Suatu batch obat memenuhi persyaratan mutunya selama waktu
peredaran yang ditetapkan.
e. Dokumentasi dan prosedur pelulusan yang diterapkan bagian
pengawasan mutu hendaklah menjamin bahwa pengujian yang
diperlukan telah dilakukan sebelum bahan digunakan dalam
produksi dan produk disetujui sebelum didistribusikan. Personil
pengawasan mutu hendaklah memiliki akses ke area produksi
untuk melakukan pengambilan sampel dan penyelidikan bila
diperlukan
Seorang penanggung jawab pengawasan mutu memiliki
kewenangan dan tanggung jawab penuh dalam pengawasan mutu,
termasuk:

61
a. Menyetujui atau menolak bahan awal, bahan pengemas, produk
b. Memastikan bahwa seluruh pengujian yang diperlukan telah
dilaksanakan.
c. Memberi persetujuan terhadap spesifikasi, petunjuk kerja
pengambilan contoh, metode pengujian dan prosedur pengawasan
mutu lain.
d. Memberikan persetujuan dan memantau semua kontrak analisis.
e. Memeriksa pemeliharaan bangunan dan fasilitas serta peralatan di
bagian pengawasan mutu.
f. Memastikan bahwa validasi yang sesuai telah dilaksanakan.
g. Memastikan bahwa pelatihan awal dan berkesinambungan bagi
personil di departemennya dilaksanakan dan diterapkan sesuai
kebutuhan.

Apoteker sebagai Penanggung Jawab Pemastian Mutu (Quality


Assurance)
Seorang penanggung jawab Pemastian Mutu/Manajemen
Mutu (Quality Assurance) adalah seorang apoteker yang terdaftar
dan terkualifikasi, memperoleh pelatihan yang sesuai, memiliki
pengalaman praktis yang memadai dalam bidang pembuatan obat
dan keterampilan manajerial sehingga memungkinkan untuk
melaksanakan tugas secara profesional.
Penanggung jawab Pemastian Mutu/Manajemen Mutu
harus seorang apoteker atau Magister Sains atau Doktor Sains dan
memiliki pengalaman paling sedikit 5 tahun sebagai apoteker
dalam suatu perusahaan farmasi, pengalaman praktek dalam
analisis fisika dan kimia, pengalaman dalam menggunakan metode
dan peralatan laboratorium modern, kemampuan untuk
menguraikan metode analisis serta fasih berbahasa inggris,
kesanggupan dalam manajemen dan motivasi personalia serta
memiliki pengetahuan yang baik dalam proses pembuatan obat dan
CPOB baik nasional maupun internasional.

62
Penanggung jawab Pemastian Mutu memiliki
kewenangan dan tanggung jawab penuh dalam sistem mutu,
termasuk:
a. Memastikan penerapan (dan, bila diperlukan, membentuk) sistem
mutu.
b. Ikut serta dalam atau memprakarsai pembentukan acuan mutu
perusahaan.
c. Memprakarsai dan mengawasi audit internal atau inspeksi diri
berkala.
d. Melakukan pengawasan terhadap fungsi bagian pengawasan mutu.
e. Memprakarsai dan mengawasi audit eksternal (audit terhadap
pemasok).
f. Memprakarsai dan berpartisipasi dalam program validasi.
g. Memastikan pemenuhan persyaratan teknik atau peraturan Otoritas
Pengawasan Obat (OPO) yang berkaitan dengan mutu produk jadi.
h. Mengevaluasi/mengkaji catatan bets.
i. Meluluskan atau menolak produk jadi untuk penjualan dengan
mempertimbangkan semua faktor terkait.
j. Memantau kinerja sistem mutu dan prosedur serta menilai
efektifitasnya. Penekanan difokuskan pada pencegahan
kerugian/cacat dan realisasi peluang perbaikan yang
berkesinambungan.
k. Menyiapkan prosedur dalam penerapan CPOB dalam pembuatan
obat, pengemasan, penyimpanan dan pengawasan mutu.
l. Memastikan pemenuhan peraturan pemerintah dan standar
perusahaan.
m. Melaksanakan inspeksi diri dan menyelenggarakan pelatihan
CPOB.

n. Menyusun prosedur tetap (Protap) dan mengelola sistem protap.


o. Melakukan penilaian terhadap keluhan teknik farmasi dan
mengambil keputusan serta tindakan atas hasil penilaian, bila perlu
bekerja sama dengan bagian lain.
p. Memastikan penyelanggaraan validasi proses pembuatan dan
sistem pelayanan.

63
q. Memantau penyimpangan bets.
r. Mengawasi sistem pengendalian perubahan dan menyetujui
perubahan.
s. Menyetujui prosedur pengolahan induk dan prosedur pengemasan
induk.
t. Menyetujui atau menolak pasokan bahan baku.
u. Bertanggung jawab dalam pelulusan atau penolakan obat jadi
sesuai Protap terkait.

Apoteker dalam Proses Registrasi Obat dan Desain Kemasan


Unit ini dikepalai oleh seorang apoteker yang
membawahi Packaging Specialist and Documentation and
Registration Officer. Unit ini bertanggung jawab terhadap
pengembangan kemasan (baik untuk produk baru dan produk lama)
serta menyiapkan dokumen-dokumen untuk registrasi. Selain itu
juga bertugas membuat spesifikasi dan prosedur pemeriksaan
bahan kemas, dan membuat Master batch bekerja sama dengan
kepala unit formulasi.
Sebuah obat harus memiliki Nomor Izin Edar (NIE)
sebelum dapat dipasarkan. Untuk memperoleh NIE sebuah industri
farmasi harus mendaftarkan produknya ke BPOM dan melalui
prosedur registrasi yang berlaku. Dalam hal inilah seorang
apoteker sebagai seseorang yang kompeten di bidang obat berperan
penting. Selain itu, apoteker sebagai seseorang yang mengetahui
peraturan mengenai kemasan dan label harus mampu dalam
mengatur desain kemasan yang benar. Uraian tugas dan tanggung
jawab bagian registrasi dan desain kemasan:
a. Bertanggung jawab dalam melakukan semua kegiatan yang
berhubungan dengan kegiatan pendaftaran semua produk / obat.
Baik pendaftaran produk baru, atau pendaftaran ulang suatu
produk.

64
b. Bertanggung jawab dalam melengkapi dokumen registrasi dengan
data valid dan data yang sebenarnya.
c. Bertanggung jawab dalam melakukan desain kemasan yang sesuai
dengan peraturan yang berlaku.

Apoteker sebagai Tenaga Pemasaran


Dalam pelaksanaan peran apoteker sebagai tenaga
pemasaran / ritel perlu diakukan studi kelayakan terlebih dahulu.
Studi kelayakan merupakan suatu kajian sebagai bagian dari
perencanaan yang dilakukan menyeluruh mengenai suatu usaha
dalam proses pengambilan keputusan investasi yang mengawali
resiko yang belum jelas. Melalui studi kelayakan berbagai hal yang
diperkirakan dapat menyebabkan kegagalan, dapat diantisipasi
lebih awal.
Ritel adalah keseluruhan aktivitas bisnis yang terkait
dengan penjualan dan pemberian layanan kepada konsumen untuk
penggunaan yang sifatnya individu sebagai pribadi maupun
keluarga. Agar sukses di dunia ritel maka ritel harus dapat
menawarkan produk yang tepat, dengan harga yang tepat, di tempat
yang tepat, dan waktu yang tepat.
Fungsi Ritel adalah sebagai berikut :
a. Menyediakan berbagai jenis produk dan jasa

Konsumen selalu mempunyai pilihan sendiri terhadap bebagai


jenis produk dan jasa. Untuk itu, dalam fungsinya sebagai peritel,
mereka menyediakan beraneka ragan produk dan jasa yang
dibutuhkan konsumen.

b. Memecah
Memecah beberapa ukuran produk menjadi lebih kecil, yang
akhirnya menguntungkan produsen dan konsumen. Jika produsen
memproduksi barang dan jasa dalam ukuran besar, maka harga
barang dan jasa tersebut menjadi tinggi. Sementara konsumen juga

65
membutuhkan barang dan jasa tersebut dalam ukuran yang lebih
kecil dan harga yang lebih rendah. Kemudian peritel menawarkan
produk-produk tersebut dalam jumlah kecil yang disesuaikan
dengan pola konsumsi para konsumen secara individual.
c. Penyimpanan Persediaan
Peritel juga dapat berposisi sebagai perusahaan yang
menyimpan persediaan dengan ukuran yang lebih kecil. Dalam hal
ini, pelanggan akan diuntungkan karena terdapat jaminan
ketersediaan barang dan jasa yang disimpan peritel.
d. Penyedia Jasa
Dengan adanya ritel, maka konsumen akan mendapatkan
kemudahan dalam mengonsumsi produk-produk yang dihasilkan
produsen. Selain itu, ritel juga dapat mengantar hingga dekat ke
tempat konsumen, menyediakan jasa yang memudahkan konsumen
dalam membeli dan menggunakan produk dengan segera dan
membayar belakangan.
e. Meningkatkan Nilai Produk dan Jasa
Dengan adanya beberapa jenis produk dan jasa, maka untuk
suatu aktivitas pelanggan mungkin memerlukan beberapa barang.
Dengan menjalankanfungsi-fungsi tersebut, peritel dapat
berinteraksi dengan konsumen akhir dengan memberikan nilai
tambah bagi produk atau barang.
Kemajuan industri farmasi sangat ditentukan oleh strategi dan
tenaga pemasaran yang dimiliki perusahaan. Apoteker sebagai
seorang yang kompeten di bidang obat dapat berperan sebagai
Product Manager. Apoteker sangat potensial dalam
memperkenalkan produk industri pada masyarakat (obat
bebas/OTC) atau pada para dokter (obat ethical) karena ilmu
kefarmasian dan managemen yang dikuasainya.

Apoteker dalam Riset dan Pengembangan Produk

66
Seorang penanggung jawab riset dan pengembangan
produk harus seorang apoteker yang memiliki pengetahuan
memadai mengenai zat aktif dan berbagai zat pembantu yang akan
digunakan dalam pengembangan formula. Uraian tugas dan
tanggung jawab penanggung jawab riset dan pengembangan
produk adalah:
a. Bertanggung jawab dalam pengembangan produk baru sesuai
dengan permintaan marketing.
b. Bertanggung jawab untuk melakukan efisiensi biaya produksi
dengan membuat formulasi bahan yang memerlukan biaya rendah
tetapi tetap menjaga kualitas.
c. Bertanggung jawab untuk memperbaiki formula obat jika
ditemukan permasalahan dalam produksi.
d. Bertanggung jawab untuk pengembangan sarana penunjang yang
dibutuhkan untuk kelancaran produksi (seperti sistem tata udara,
sistem pengolahan air, sistem pengolahan limbah, dan lain-lain).

3.3. Kualifikasi Pelatihan


Industri farmasi hendaklah memberikan pelatihan bagi seluruh
personil yang karena tugasnya harus berada di dalam area produksi,
gudang penyimpanan atau laboratorium (termasuk personil teknik,
perawatan dan petugas kebersihan), dan bagi personil lain yang
kegiatannya dapat berdampak pada mutu produk. Program dan materi
pelatihan bagi personil hendaklah disiapkan oleh masing-masing Kepala
Bagian yang dikoordinasi oleh Kepala Bagian Manajemen Mutu
(Pemastian Mutu). Program pelatihan hendaklah disetujui bersama oleh
masing-masing kepala bagian dan Kepala Bagian Manajemen Mutu
(Pemastian Mutu). Program pelatihan hendaklah mencakup anatar lain:
a. Materi umum yang harus diberikan kepada semua personil pada hari
pertama kerjanya,
b. CPOB dasar (termasuk mikrobiologi dan higiene perorangan) kepada
semua personil,

67
c. CPOB spesifik kepada personil berkaitan, misal bagi mereka yang
menangani pembuatan produk steril, menangani pembuatan produk toksis
atau berpotensi tinggi dan/atau bersifat sensitisasi,
d. Pemahaman semua Protap, metode analisis dan prosedur lain bagi personil
berkaitan, dan
e. Pengetahuan mengenai sifat bahan/produk, cara pengolahan dan
pengemasan.
Di samping pelatihan dasar dalam teori dan praktik CPOB, personil
baru hendaklah mendapat pelatihan sesuai dengan tugas yang diberikan.
Pelatihan berkesinambungan hendaklah juga diberikan, dan efektifitas
penerapannya hendaklah dinilai secara berkala. Hendaklah tersedia
program pelatihan yang disetujui kepala bagian masing-masing. Catatan
pelatihan hendaklah disimpan.
Pelatihan spesifik hendaklah diberikan kepada personil yang bekerja
di area di mana pencemaran merupakan bahaya, misalnya area bersih atau
area penanganan bahan berpotensi tinggi, toksik atau bersifat sensitisasi.
Pengunjung atau personil yang tidak mendapat pelatihan sebaiknya tidak
masuk ke area produksi dan laboratorium pengawasan mutu. Bila tidak
dapat dihindarkan, hendaklah mereka diberi penjelasan lebih dahulu,
terutama mengenai higiene perorangan dan pakaian pelindung yang
dipersyaratkan serta diawasi dengan ketat. Konsep pemastian mutu dan
semua tindakan yang tepat untuk meningkatkan pemahaman dan
penerapannya hendaklah dibahas secara mendalam selama pelatihan.
Pelatihan hendaklah diberikan oleh orang yang terkualifikasi. Bila perlu
pelaksanaan pelatihan dapat diberikan oleh pihak luar industri yang
ditunjuk tetapi pemantauannya hendaklah tetap dilakukan oleh Kepala
Bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu). Pelatihan spesifik yang
dilakukan meliputi :
a.Sanitasi dan Higiene
Program higiene yang rinci hendaklah dibuat dan diadaptasikan terhadap
berbagai kebutuhan di dalam area pembuatan. Program tersebut hendaklah

68
mencakup prosedur yang berkaitan dengan kesehatan, praktik higiene dan
pakaian pelindung personil. Prosedur hendaklah dipahami dan dipatuhi
secara ketat oleh setiap personil yang bertugas di area produksi dan
pengawasan. Program higiene hendaklah dipromosikan oleh manajemen
dan dibahas secara luas selama sesi pelatihan.
Area pengemasan hendaklah dibersihkan secara teratur dan sering selama
jam kerja dan tiap ada tumpahan bahan. Personil kebersihan hendaklah
diberi pelatihan untuk tidak melakukan praktik yang dapat menyebabkan
kecampurbauran atau pencemaran silang.
b. Pengemasan
Semua personil bagian pengemasan hendaklah memperoleh pelatihan agar
memahami persyaratan pengawasan selama-proses dan melaporkan tiap
penyimpangan yang ditemukan pada saat mereka menjalankan tanggung
jawab spesifik tersebut.
c. Operasional
Hendaklah tersedia bukti untuk mendukung dan memverifikasi parameter
operasional dan batas variabel kritis pengoperasian alat. Selain itu,
kalibrasi, prosedur pengoperasian, pembersihan, perawatan preventif serta
prosedur dan catatan pelatihan operator hendaklah didokumentasikan.
d. Pembuatan Produk Steril
Semua personil (termasuk bagian pembersihan dan perawatan) yang akan
bekerja di area tersebut hendaklah mendapat pelatihan teratur dalam
bidang yang berkaitan dengan pembuatan produk steril yang benar,
termasuk mengenai higiene dan pengetahuan dasar mikrobiologi. Bila
personil dari luar yang tidak pernah menerima pelatihan seperti di atas
(misal kontraktor bangunan atau perawatan), yang harus masuk ke dalam
area bersih, perhatian khusus hendaklah diberikan dengan instruksi dan
pengawasan.
e. Pembuatan Produk Dari Darah Atau Plasma Manusia
Pelatihan dan program pengembangan personil hendaklah dikembangkan
sesuai kebutuhan yang diidentifikasi. Program ini hendaklah
didokumentasi dan meliputi pelatihan berlanjut dan pelatihan penyegaran.

69
Hendaklah tersedia mekanisme formal untuk menentukan kompetensi
pelatih dan penilai internal yang masing-masing dapat memberikan
pelatihan dan menilai kompetensi yang dilatih.
Bagi personil di unit yang terletak jauh dari lokasi lembaga yang
memiliki izin, yaitu yang melakukan suatu tahap pembuatan, hendaklah
tersedia dokumentasi yang dapat menunjukkan bahwa cara kerja yang
dilaksanakan terkendali dan dapat diterima oleh lembaga yang memiliki
izin.

3.4. Kualifikasi Evaluasi


Evaluasi merupakan proses mengumpulkan data dan informasi yang
diperlukan dalam program pelatihan. Difokuskan pada peninjauan kembali
proses pelatihan dan menilai hasil pelatihan serta dampak pelatihan
terhadap kinerja personil. Evaluasi bertujuan untuk memberikan masukan
untuk perencanaan program agar sesuai dengan yang diharapkan,
memberikan masukan untuk kelanjutan, perluasan, dan penghentian
program, dan memberikan informasi tentang faktor pendukung dan
penghambat program. Beberapa model evaluasi salah satunya adalah
model Kirkpatrick. Dimana efektifitas program training mencakup empat
level evaluasi, yaitu:
a. Reaction: mengukur kepuasan peserta
b. Learning: mengukur pengetahuan, sikap dan keterampilan
peserta
c. Behavior: mengukur perubahan perilaku peserta di tempat kerja
d. Result: mengukur hasil akhir, berupa kenaikan produksi,
peningkatan kualitas, penurunan biaya, penurunan terjadinya
kecelakaan kerja, dan kenaikan keuntungan.
Evaluasi dapat dilakukan mulai dari pemilihan pemasok. Daftar
pemasok hendaknya disiapkan dan ditinjau ulang. Hendaknya dilakukan
evaluasi mempertimbangkan riwayat pemasok dan sifat bahan pemasok
dalam pemenuhan standar CPOB. Semua pemasok yang telah ditetapkan
hendaknya dievaluasi secara teratur.

70
Selain itu pula evaluasi dilakukan terhadap tenaga kerja. Secara
umum ada dua metode evaluasi tenaga kerja yaitu metode evaluasi
berorientasi masa lalu dan metode evaluasi berorientasi masa depan.

3.4.1 Metode Evaluasi Berorientasi Masa Lalu


Penilaian prestasi kerja melalui metode ini dinilai berdasarkan hasil
yang telah dicapai oleh karyawan selama ini. Teknik-teknik penilaian
prestasi kerja berorientasi masa lalu antara lain :
a. Rating Scale
Dalam hal ini penilai melakukan penilaian subyektif
terhadap prestasi kerja karyawan dengan skala tertentu dari yang
terendah sampai dengan tertinggi. Penilai dengan membandingkan
antara hasil pekerjaan karyawan dengan kriteria yang telah
ditentukan tersebut berdasarkan justifikasi penilai yang
bersangkutan. Kelebihan metode ini adalah tidak mahal dalam
penyusunan dan administrasinya, penilai hanya memerlukan
sedikit latihan, tidak memakan waktu, dan dapat diterapkan untuk
jumlah karyawan yang besar. Kelemahan adalah kesulitan dalam
menentukan kriteria yang relevan dengan pelaksanaan kerja.
b. Checklist
Dalam metode checklist penilai hanya memilih pernyataan-
pernyataan yang sudah tersedia, yang menggambarkan prestasi
kerja dan karakteristik-karakteristik karyawan (yang dinilai).
Kelebihan checklist adalah ekonomis, mudah administrasinya,
latihan bagi penilai terbatas, dan terstandardisasi. Kelemahannya
meliputi penggunaan kriteria kepribadian di samping kriteria
prestasi kerja, kemungkinan terjadinya ketidak akuratan penilai
(terutama hallo effect), interpretasi salah terhadap item-item check
list dan penggunaan bobot yang tidak tepat dan juga tidak
memungkinkan penilai memberikan penilaian relatif (Handoko,
1985).
c. Metode Peristiwa Kritis

71
Metode penilaian yang menggambarkan perilaku karyawan
sangat baik dan sangat jelek dalam kaitannya dengan pelaksanaan
kerja Peristiwa diklasifikasikan menjadi berbagai kategori seperti
pengendalian bahaya keamanan pengawasan sisa bahan atau
pengembangan karyawan. Kelebihan metode ini adalah berguna
dalam memberikan umpan balik kepada karyawan dan mengurangi
kesalahan pesan terakhir. Kelemahannya adalah bahwa para atasan
sering tidak berminat mencatat peristiwa kritis atau cenderung
mengada-ada, dan bersifat subyektif.
d. Metode Peninjauan Lapangan
Agar tercapai penilaian yang lebih terstandardisasi,
menggunakan metode peninjauan lapangan. Spesialis personalia
mendapatkan informasi khusus dari atasan langsung tentang
prestasi kerja karyawan. Evaluasi dikirim kepada penyelia untuk
review, perubahan, persetujuan dan pembahasan dengan karyawan
yang dinilai. Spesialis personalia bisa mencatat penilaian pada tipe
formulir penilaian apapun yang digunakan perusahaan.
e. Metode Evaluasi Kelompok
Metode penilaian kelompok berguna untuk pengambilan
keputusan kenaikan upah, promosi, dan berbagai bentuk
penghargaan organisasional karena dapat menghasilkan ranking
karyawan dari yang terbaik sampai terjelek.
3.4.2 Metode Evaluasi Berorientasi Masa Depan
Penilaian penilaian yang berorientasi masa depan memusatkan
pada prestasi kerja diwaktu yang akan datang melalui penilaian potensi
karyawan atau sasaran sasaran prestasi kerja di masa mendatang.
Beberapa teknik teknik yang bisa digunakan antara lain yaitu:
a. Penilaian diri self appraisal
Teknik ini berguna bila tujuan evaluasi adalah untuk
melanjutkan pengembangan diri. Bila karyawan menilai dirinya,
perilaku defensif (bertahan) cenderung tidak terjadi sehinggga
upaya perbaikan diri juga cenderung dilaksanakan.
b. Penilaian psikologis.

72
Metode penilaian psikologis terdiri dari wawancara, tes-tes
psikologi, diskusi dengan atasan langsung, dan penilaian-penilaian
langsung lainnya. Penilaian mengenai psikologi biasanya
dilakukan oleh para psikolog, dan penilaian mengenal intelektual,
emosi, motivasi karyawan dan lainnya, yang diharapkan dapat
untuk menentukan prestasi kerja dimasa yang akan datang.
Penilaian ini terutama digunakan untuk penempatan dan
pengembangan karyawan. Hasil akhir dari penilaian ini
sepenuhnya tergantung pada keterampilan para psikolog.
c. Penilaian management by objective (MBO)
Inti pendekatan MBO adalah bahwa setiapa karyawan dan
penyelia secra bersama menentukan ttujuan tujuan atau sasaran
sasaran pelaksanna kerja diwaktu yang akan datang. Management
by Objectives (MBO) adalah metode penilaian kinerja karyawan
yang berorientasi pada pencapaian target kerja. Pada metode MBO,
setiap individu karyawan diberikan target kerjanya masingmasing,
yang bersesuaian dengan sasaran kerja unit dalam satu periode
kerja. Penilaian kinerja dalam metode MBO dilakukan di akhir
periode mengacu pada realisasi target.

BAB IV
PENERAPAN SANITASI DAN HYGIENE DI INDUSTRI FARMASI,
LINGKUP PENERAPAN NYA, PEMANTAUAN

Sanitasi merupakan upaya dalam pemeliharaan agar seseorang,


makanan, tempat kerja atau peralatan hygiene dan bebas cemaran baik
disebabkan oleh bakteri, serangga, maupun makhluk hidup lainnya.
Sanitasi menitikberatkan pada lingkungan nya, yaitu suatu usaha preventif
untuk menjaga kesehatan lingkungan hidup manusia. Sedangkan hygiene
menitikberatkan pada individunya, yaitu suatu usaha preventif untuk
menjaga kesehatan individu.

73
4.1. Prinsip
Tingkat sanitasi dan hygiene perlu diterapkan pada setiap aspek pembuatan
obat. Sumber pencemaran potensial hendaklah dihilangkan melalui suatu program
sanitasi dan higiene yang menyeluruh dan terpadu. Ruang lingkup sanitasi dan
hygiene meliputi personil, bangunan, peralatan dan perlengkapan, bahan produksi
serta wadahnya, dan segala sesuatu yang dapat merupakan sumber pencemaran
produk

4.2. Peranan Sanitasi dan Hygiene di Industri Farmasi.


Kata hygiene berasal dari bahasa Yunani yang artinya ilmu
untukmembentuk dan menjaga kesehatan. Menurut Prescott
(2002), hygiene menyangkut dua aspek yaitu: Yang menyangkut individu
(personal hygiene) dan Yang menyangkut lingkungan
(environment). Hygiene is a concept related to medicine as well as to
personal and professional care practices related to most aspects of living
although it is most often associated with cleanliness and preventative
measures. Sedangkan sanitasi adalah cara pengawasan masyarakat yang
menitikberatkan kepada pengawasan terhadap berbagai faktor lingkungan
yang mungkin mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat.
Dari beberapa pengertian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa
yang dimaksud dengan sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit
yang menitikberatkan kegiatannya kepada usaha-usaha kesehatan
lingkungan hidup manusia.Sedangkan hygiene adalah bagaimana cara
orang memelihara dan juga melindungi diri agar tetap sehat.
Tingkatan sanitasi dan higiene yang tinggi hendaklah diterapkan
pada setiap aspek pembuatan obat. Ruang lingkup sanitasi dan hygiene
meliputi personil, bangunan, peralatan dan perlengkapan, bahan produksi
serta wadahnya, dan segala sesuatu yang dapat merupakan sumber
pencemaran potensial hendaklah dihilangkan melalui suatu program
sanitasi dan higiene yang menyeluruh dan terpadu.

74
Bahan obat tradisional dapat mengandung cemaran mikrobiologis.
Di samping itu, proses pemanenan/pengumpulan dan proses produksi obat
tradisional sangat mudah tercemar oleh mikroba. Untuk menghindarkan
perubahan mutu dan mengurangi kontaminasi, diperlukan penerapan
sanitasi dan higiene berstandar tinggi.
Sanitasi dan hygiene yang diatur dalam pedoman CPOB 2006
adalah terhadap personalia, bangunan, dan peralatan. Prosedur sanitasi dan
hygiene hendaklah divalidasi serta dievaluasi secara berkala untuk
memastikan efektivitas prosedur dan selalu memenuhi persyaratan.
Pelaksanaan pembersihan dapat dibagi menjadi 3 macam yaitu:
Pembersihan rutin (Housekeeping cleaning).
Pembersihan dengan lebih teliti menggunakan bantuan bahan pembersih
dan sanitasi (Deep cleaning).
Pembersihan dalam rangka pemeliharaan (Maintenance cleaning)

4.3. Ruang Lingkup


4.3.1 Higiene Perorangan
Diadaptasi sesuai dengan kebutuhan dimana para personel
menerapkan higiene perorangan yang baik, seperti memakai pakaian
pelindung dan steril, menghindari kontak langsung dengan bahan dan
peralatan, tidak makan, minum, dan merokok selama melakukan pekerjaa.
Para personel juga melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dan
langsung melaporkan setiap keadaan pada atasan.Personel yang sakit tidak
dibolehkan untuk menangani bahan awal, pengemasan bahan, bahan in-
process dan produk farmasi sampai kondisi kesehatannya membaik.
Prosedur higiene perorangan termasuk persyaratan untuk
mengenakan pakaian pelindung hendaklah diberlakukan bagi semua
personil yang memasuki area produksi, baik karyawan purnawaktu, paruh
waktu atau bukan karyawan yang berada di area pabrik, misal karyawan
kontraktor, pengunjung, anggota manajemen senior dan inspektur. Selain
itu, personil hendaklah diinstruksikan supaya mencuci tangan mereka
sebelum memasuki area produksi.

75
Gambar 4.1 Pekerja pabrik mengenakan pakaian dan perlengkapan pelindung

1. Tiap personil yang masuk ke area pembuatan hendaklah mengenakan pakaian


pelindung yang sesuai dengan kegiatan yang dilaksanakannya.

76
Gambar 4.2 Gambar
Pakaian Kerja
Keterangan :
Gambar 1 : Pakaian kerja untuk kelas
kebersihan A,B, dan C
Gambar 2 : Pakaian kerja untuk kelas kebersihan D, dan E
Gambar 3 : Pakaian kerja untuk kelas kebersihan F dan G

2. Prosedur higiene perorangan termasuk persyaratan untuk mengenakan pakaian


pelindung perlu diterapkan pada semua personil yang memasuki area
produksi, baik karyawan tetap, karyawan paruh waktu atau bukan karyawan
yang berada di area pabrik, misalnya karyawan kontraktor, pengunjung,
anggota manajemen senior dan inspektur.
3. Untuk menjamin perlindungan produk dari pencemaran dan untuk keamanan
personil, personil tersebut perlu mengenakan pakaian pelindung yang bersih
dan sesuai dengan tugasnya termasuk penutup rambut. Pakaian kerja kotor dan
lap pembersih kotor (yang dapat dipakai ulang) hendaklah disimpan dalam
wadah tertutup hingga saat pencucian.
4. Program higiene yang rinci harus dibuat dan diberlakukan terhadap berbagai
kebutuhan di dalam area pembuatan. Program tersebut hendaklah mencakup
prosedur yang berkaitan dengan kesehatan, praktik higiene dan pakaian
pelindung personil. Prosedur hendaklah dipahami dan dipatuhi secara ketat
oleh setiap personil yang bertugas di area produksi dan pengawasan. Program
higiene hendaklah dipromosikan oleh manajemen dan dibahas secara luas
selama sesi pelatihan.
5. Semua personil harus menjalankan pemeriksaan kesehatan pada saat direkrut.
Industri harus bertanggung jawab agar tersedia instruksi yang memastikan
bahwa keadaan kesehatan personil yang dapat memengaruhi mutu produk

77
diberitahukan kepada manajemen industri. Sesudah pemeriksaan kesehatan
awal hendaklah dilakukan pemeriksaan kesehatan kerja dan kesehatan personil
secara berkala. Petugas pemeriksa visual hendaklah menjalani pemeriksaan
mata secara berkala.

Program Pemeriksaan Kesehatan Untuk Personil

Diulang bagi
Sesudah pulih
karyawan yang
dari penyakit
di
Jenis infeksi pada
Sebelum lingkungannya
pemeriksaan Jadwal saluran
direkrut ada wabah atau
medis pernafasan dan
yang baru
penyakit
kembali dar
menular lain
area wabah
Tiap
Pemeriksaan
tahun
umum

Pemeriksaan Tiap
ISPA -
sinar X tahun
(Rontgen)

Pemeriksaan Tiap

darah, urin, tahun
feses

Pemeriksaan
mata bagi
Tiap 6
personil - - -
bulan
pemeriksa
visual produk
steril

78
6. Semua personil harus menerapkan higiene perorangan yang baik, misalnya
kebiasaan mencuci tangan dengan baik dan benar sebelum dan sesudah
melakukan aktivitas. Hendaklah mereka dilatih mengenai penerapan higiene
perorangan. Semua personil yang berhubungan dengan proses pembuatan
hendaklah memperhatikan tingkat hygiene perorangan yang tinggi.
7. Personil yang menderita suatu penyakit atau mempunyai luka terbuka yang
dapat merugikan mutu produk dilarang menangani bahan awal, bahan
pengemas, bahan yang sedang diproses dan obat jadi .
8. Semua personil harus melaporkan pada atasan langsung mengenai tiap
keadaan (pabrik, peralatan atau personil) yang menurut penilaian mereka
dapat merugikan produk.
9. Dilarang bersentuhan langsung antara tangan operator dengan bahan awal,
produk antara dan produk ruahan yang terbuka dan juga dengan bagian
peralatan yang bersentuhan dengan produk.
10. Personil dianjurkan untuk mencuci tangannya sebelum memasuki area
produksi. Untuk tujuan itu perlu dipasang poster yang sesuai.

79
Gambar 4.3 Cara Cuci Tangan Yang Baik dan Benar
Cara cuci tangan :
Cuci tangan secara menyeluruh di sarana cuci tangan yang disediakan dengan
menggunakan sabun cair yang disediakan. Gunakan sikat yang disediakan
bila sela kuku kotor. Sikat sampai sela kuku bersih. Kuku harus pendek pada
waktu cuci tangan.
- Basahi tangan dengan air kran, tuangkan sabun cair di telapak tangan,
gosok.
- Gosok ujung jari di telapak tangan sisi lain secara bergantian
- Gosok kedua telapak tangan satu dengan yang lain
- Silangkan jari-jari dan gosok
- Gosok punggung tangan kanan dengan telapak tangan kiri bergantian
- Laksanakan hal serupa secara bergantian

80
- Gosok jari tangan kanan secara teliti dengan tangan kiri
- Laksanakan hal serupa secara bergantian
- Gosok kedua pergelangan tangan secara bergantian
- Siram dengan air kran untuk menghilangkan semua sisa sabun
- Keringkan tangan dengan alat pengering tangan yang disediakan

11. Merokok, makan, minum, mengunyah, memelihara tanaman, menyimpan


makanan, minuman, bahan untuk merokok atau obat pribadi hanya
diperbolehkan di area tertentu dan dilarang dalam area produksi, laboratorium,
area gudang dan area lain yang mungkin berdampak terhadap mutu produk
(Chandra, 2006)..

81
4.3.2 Sanitasi Bangunan dan Fasilitas

Gambar 4.4 konstruksi ruangan di pabrik, letak pintu, jendela kaca dan lantai

1. Bangunan yang digunakan untuk pembuatan obat hendaklah didesain dan


dikonstruksi dengan tepat untuk memudahkan sanitasi yang baik.
2. Tersedia dalam jumlah yang cukup sarana toilet dengan ventilasi yang baik,
tempat cuci bagi personil yang letaknya mudah diakses dari area pembuatan.
Hendaklah disediakan toilet untuk pria dan wanita yang terpisah. Oleh karena
persyaratan higiene bagi personil produksi, yaitu yang bekerja di area kelas
kebersihan lebih tinggi dan relatif lebih ketat, letak toilet tersebut hendaklah di
area loker sebelum masuk ke ruang ganti pakaian bersih untuk masuk ke area
produksi.
Disediakan tempat cuci tangan yang cukup bagi personil, yang dilengkapi
dengan air kran, sabu antiseptik (misal yang mengandung kloroksilenol 0,5%
b/b) atau sabun cair dan alat pengering tangan.

82
3. Disediakan sarana yang memadai untuk penyimpanan pakaian personil dan
milik pribadinya di tempat yang tepat

Gambar 4.5. Ruang ganti dan tempat


menyimpan pakaian di pabrik

Gambar 4.6 Sarana


penyimpanan pakaian
rumah

83
Gambar 4.7 Sarana

penyimpanan sepatu

4. Penyiapan, penyimpanan dan konsumsi dibatasi di area khusus


5. Sampah tidak boleh dibiarkan menumpuk
6. Rodentisida, insektisida, agens fumigasi dan bahan sanitasi tidak boleh
mencemari peralatan, bahan awal, bahan pengemas, bahan yang sedang
diproses atau produk jadi. Perlu ada prosedur tertulis untuk menggunakan
bahan-bahan tersebut dan dipatuhi untuk menghindari pencemaran

Batas nilai rata-rata kontaminasi mikrobiologi


Settle plates Contact plates
Glove print
Sampel udara (diameter 90 (diameter 55
Tingkat a (5 jari)
(CFU/m3) mm) mm)
(CFU/glove)
b
(CFU/4jam) (CFU/plate)
A <3 <3 <3 <3
B 10 5 5 5
C 100 50 25 -
D 200 100 50 -

7. Ada prosedur tertulis untuk pemakaian rodentisida, insektisida, fungisida,


agen fumigasi, pembersih dan sanitasi yang tepat
8. Ada Prosedur tertulis yang menunjukkan penanggung jawab untuk sanitasi
mengenai jadwal, metode, peralatan dan bahan pembersih yang harus
digunakan

84
9. Prosedur sanitasi berlaku untuk pekerjaan yang dilaksanakan oleh kontraktor
atau karyawan sementara maupun karyawan purnawaktu
10. Segala praktek tidak higienis di area pembuatan dapat merugikan mutu produk
hendaklah dilarang
Praktik tidak higienis di area pembuatan atau area lain yang dapat berdampak
merugikan terhadap mutu produk, antara lain :
a. Kesehatan personil
Personil bekerja dalam kondisi tidak sehat seperti mengidap penyakit
infeksi pada saluran pernafasan bagian atas, influenza (batuk pilek),
terkena alergi. Juga dalam keadaan mempunyai luka terbuka, bercak-
bercak, gatal, bisul atau penyakit kulit lain. Bila baru sembuh dari suatu
penyakit menular atau baru kembali dari daerah wabah penyakit menular
hendaklah dinyatakan layak bekerja oleh dokter sebelum bekerja di area
pembuatan atau area lain yang berdampak merugikan terhadap mutu
produk.
b. Higiene Perorangan
Melakukan praktik kebiasaan nonhigienis/buruk seperti :
- Membersihkan hidung atau telinga dengan jari tangan
- Menggaruk kepala
- Tidak mematuhi prosedur mencuci tangan sebelum memasuki area
pembuatan
- Tidak mematuhi prosedur mencuci tangan sesudah dari toilet
- Tidak mematuhi prosedur pemakaian tutup kepala sebelum memasuki
ruangan produksi
- Bersin tanpa ditutup dengan masker atau tidak keluar dari ruangan
pengolahan
- Mengunyah, makan, minum, atau merokok.
c. CPOB
- Tidak mengenakan pakaian pelindung yang disediakan perusahaan
sesuai dengan prosedur pada waktu menangani produk terbuka
- Tidak mengenakan pakaian kerja sesuai prosedur.
11. Persyaratan khusus untuk pembuatan produk steril dicakup dalam Aneks 1.

4.3.3 Pembersihan dan Sanitasi Peralatan


1. Setelah digunakan, peralatan hendaklah dibersihkan baik bagian luar maupun
bagian dalam sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan, serta dijaga dan

85
disimpan dalam kondisi yang bersih dan dan kering (keadaan lembab atau
basah merupakan kondisi yang baik untuk pertumubuhan bakteri). Sambil
menunggu pemakaian selanjutnya hendaklah diberi penutup bersih dan kering
dari bahan yang tidak melepaskan serat, misalnya : bahan plastik, khusus
untuk peralatan tersebut. Disimpam di ruangan yang tingkat kebersihannya
sama dengan tingkat kebersihan waktu peralatan tersebut digunakan. Tiap kali
akan dipakai, hendaklah kebersihannya diperiksa untuk memastikan bahwa
semua produk atau bahan dari bets sebelumnya telah dihilangkan.
2. Metode pembersihan dengan cara vakum atau cara basah lebih dianjurkan.
Udara bertekanan dan sikat harus digunakan dengan hati-hati dan sedapat
mungkin dihindari karena menambah risiko pencemaran produk.
3. Pembersihan dan penyimpanan peralatan yang dapat dipindah-pindahkan dan
penyimpanan bahan pembersih hendaklah dilaksanakan dalam ruangan yang
terpisah dari ruangan pengolahan.
4. Prosedur tertulis yang cukup rinci untuk pembersihan dan sanitasi peralatan
serta wadah yang digunakan dalam pembuatan obat hendaklah dibuat,
divalidasi dan ditaati. Prosedur ini harus dirancang agar pencemaran peralatan
oleh agen pembersih atau sanitasi dapat dicegah. Prosedur ini meliputi
penanggung jawab pembersihan, jadwal, metode, peralatan dan bahan yang
dipakai dalam pembersihan serta metode pembongkaran dan perakitan
kembali peralatan yang mungkin diperlukan untuk memastikan pembersihan
yang benar terlaksana. Jika perlu, prosedur juga meliputi sterilisasi peralatan,
penghilangan identitas bets sebelumnya serta perlindungan peralatan yang
telah bersih terhadap pencemaran sebelum digunakan.
5. Catatan mengenai pelaksanaan pembersihan, sanitasi, sterilisasi dan inspeksi
sebelum penggunaan peralatan hendaklah disimpan secara benar.
6. Disinfektan dan deterjen harus dipantau terhadap pencemaran mikroba;
enceran disinfektan dan deterjen hendaklah disimpan dalam wadah yang
sebelumnya telah dibersihkan dan hendaklah disimpan untuk jangka waktu
tertentu kecuali bila disterilkan.

86
Gambar 4.8 . Pembersihan dan sanitasi peralatan di ruang produksi.

4.3.4 Mekanisme Pembersihan


Pembersihan dapat didefinisikan sebagai penghapusan residu dan
kontaminan. Residu dan kontaminan dapat menjadi produk sendiri
diproduksi di peralatan atau residu yang berasal dari prosedur pembersihan
(deterjen / sanitizer) atau degradasi produk yang dihasilkan dari proses
pembersihan itu sendiri. Mekanisme dasar yang terlibat dalam
menghilangkan residu dan kontaminan dari peralatan mekanik, pelarutan,
deterjen dan reaksi kimia.
a. Mechanical
Ini mengacu pada penghapusan residu dan kontaminan melalui tindakan disik
seperti menyikat gigi, menyikat dan menggunakan air bertekanan.
b. Dissolution
Melibatkan kegiatan melarutkan residu dengan pelarut yang sesuai.Yang paling
umum dan praktis adalah pelarut air yang tidak beracun, ekonomis, ramah
lingkungan dan tidak meninggalkan residu.Pelarut alkali dan asam kadang-
kadang disukai karena meningkatkan pembubaran material yang sulit untuk
dihilangkan.
c. Detergency
Deterjen bertindak dengan empat cara sebagai agen pembasah, pelarut,
pengemulsi dan dispersant dalam menghilangkan residu dan kontaminan dari
peralatan

87
d. Chemical
Reaksi-reaksi oksidasi dan hidrolisis kimia dengan sisa residu organik dan
kontaminan untuk membuat mereka mudah dihilangkan dari peralatan.

Dua prosedur metode pembersihan secara umum adalah:


a. Manual pembersihan
b. Prosedur pembersihan otomatis seperti CIP (Clean-In Place)
Manual Cleaning Sequence CIP Cleaning Sequence
Membongkar bagian dari Mencuci peralatan dengan air
peralatan yang akan dibersihkan keran
Mencuci peralatan dengan air Mencuci kembali dengan larutan
keran pembersih
Mencuci kembali dengan larutan Keringkan dengancompressed
pembersih air
Bilas peralatan dengan air keran Bilas bagian dengan air keran
Bilasan akhir denganpurified
Bilas dengan purified water
water
Keringkan peralatan dengan Keringkan dengancompressed
udara panas air
Pemeriksaan visual dilakukan
Keringkan denganhot and
untuk memeriksa apakah
compressed air
peralatan bersih
Memasang kembali peralatan

Dalam semua kasus prosedur pembersihan harus terbukti efektif,


konsisten dan direproduksi. FDA merekomendasikan (CIP) harus
digunakan untuk peralatan proses bersih dan ruang penyimpanan untuk
mereproduksi prosedur yang sama setiap kali. Dengan prosedur manual
yang harus bergantung pada kemampuan operator dan pelatihan yang
menyeluruh dari operator diperlukan untuk menghindari variabilitas dalam
kinerja. Namun dalam beberapa kasus, mungkin lebih praktis untuk hanya
menggunakan prosedur manual (FDA, 1998).

4.3.5 Pemantauan Sanitasi dan Hygiene


Ruang lingkup sanitasi dan higiene meliputi personil, bangunan, peralatan
dan perlengkapan, bahan produksi serta wadahnya, dan segala sesuatu yang dapat

88
menjadi sumber pencemaran produk. Pemantauan sanitasi dan higiene di
lingkungan industri farmasi perlu dilakukan untuk menjamin mutu tidak hanya
produk obat jadi yang dihasilkan tetapi juga produk-produk dari setiap proses
produksi yang dilakukan. Oleh karena itu, prosedur sanitasi dan higiene perlu
divalidasi dan dievaluasi secara berkala agar prosedur sanitasi dan higiene yang
dilakukan memenuhi persyaratan.

4.3.6 Validasi Prosedur Pembersihan dan Sanitasi


Validasi merupakan suatu tindakan pembuktian dengan cara yang
sesuai bahwa tiap bahan, proses, prosedur, kegiatan, sistem, perlengkapan
atau mekanisme yang digunakan dalam produksi dan pengawasan akan
senantiasa mencapai hasil yang diinginkan. Prosedur pembersihan, sanitasi
dan higiene hendaklah divalidasi dan dievaluasi secara berkala untuk
memastikan evektivitas prosedur memenuhi persyaratan.

Komponen yang memerlukan validasi :


Personil
Konstruksi dan desain bangunan dan fasilitas
Peralatan produksi
Instrumen laboratorium
Metode analisis
Sarana penunjang kritis mencakup antara lain sistem pengolahan air, sistem
tata udara, dan sistem udara bertekanan
Perubahan pemasok dan atau spesifikasi bahan awal dan bahan pengemas
Transfer proses produksi dan metode analisis
Perubahan ukuran bets
Prosedur pengolahan dan produksi pengemasan
Prosedur pembersihan
Sistem komputerisasi

Jenis-jenis validasi :
Validasi proses
Validasi pembersihan
Validasi metode analisis
Validasi ulang

89
Validasi pembersihan merupakan tindakan pembuktian yang
didokumentasikan bahwa prosedur pembersihan yang disetujui akan
senantiasa menghasilkan peralatan bersih yang sesuai untuk pengolahan
obat. Validasi pembersihan dilakukan untuk konfirmasi efektivitas
prosedur pembersihan. Dilakukan untuk setiap peralatan atau mesin yang
kontak langsung dengan produk (zat aktif).Pembersihan dilakukan pada
alat baru, alat sesudah perawatan, atau setelah perbaikan.
Prosedur pembersihan untuk produk dan proses yang serupa dapat
dipertimbangkan untuk memilih suatu rentang yang mewakili produk dan
proses yang serupa. Studi validasi tunggal dapat dilakukan menggunakan
pendekatan kondisi terburuk dengan memerhatikan isu kritis. Validasi
prosedur pembersihan hendaklah dilakukan tiga kali berurutan dengan
hasil yang memenuhi syarat untuk membuktikan bahwa prosedur
pembersihan tersebut telah tervalidasi.
Validasi pembersihan bertujuan untuk memberikan bukti tertulis
atau dokumentasi bahwa :
a) Cara pembersihan yang digunakan tepat dan dapat dilakukan berulang-
ulang
b) Peralatan/ mesin yang dicuci tidak terdapat pengaruh yang negatif karena
efek pencucian
c) Operator yang melakukan pencucian berkompeten, mengikuti prosedur
pembersihan dari peralatan pembersihan yang ditentukan
d) Cara pencucian menghasilkan tingkat kebersihan yang telah ditetapkan
misalnya: sisa residu, kadar kontaminan, dekomposisi produk atau deterjen
dll
e) Mencegah kontaminasi silang pada produk-produk yang umumnya dibuat
dengan peralatan yang sama

Validasi pembersihan perlu dilakukan dikarenakan :


a) Peralatan yang digunakan untuk produksi biasanya dipakai untuk berbagai
macam produk, sehingga sangat berisiko terjadi kontaminasi silang
b) Dengan semakin canggihnya mesin dan tekhnologi pengolahan atau
pengemasan, semakin menambah luasnya area kontak antara bahan obat
dengan permukaan mesin.

90
c) Semakin meningkatnya tuntutan c-GMP.

Parameter dalam validasi pembersihan meliputi :


a) Pengamatan secara visual kebersihan permukaan alat yang kontak
langsung dengan produk
b) Kualitas air bilasan akhir
c) Residu yang diambil secara usap dan atau bilas
d) Cemaran mikroba pada permukaan alat yang kontak dengan produk

Kriteria alat/mesin yang divalidasi meliputi :


a. Peralatan/mesin baru
b. Untuk mesin yang sama (merek, jenis/type) hanya salah satu yang harus
divalidasi
c. Jika dalam proses menggunakan rangkaian mesin yang berbeda secara
berkelanjutan (in line machine), masing-masing mesin harus tetap
divalidasi secara terpisah
d. Jika rangkaian mesin merupakan kombinasi mesin yang permanen,
validasi bisa dilaksanakan bersama-sama

Tahapan pelaksanan validasi pembersihan :


a. Pemilihan prosedur (Protap) sanitasi yang diuji
b. Pembuatan protokol validasi
c. Penetapan metode pengambilan sampel
d. Pembuatan lembar kerja (worksheet) validasi
e. Pelaksanaan validasi
f. Pengujian sampel
g. Penentuan kriteria (batas) penerimaan
h. Membuat kesimpulan
i. Pembuatan laporan validasi

Metode Pengambilan Sampel


1) Metode apus/swab
Merupakan metode pengambilan sampel dengan cara
menggunakan bahan apus (swab material) yang dibasahi dengan pelarut
yang langsung dapat menyerap residu dari permukaan alat.
Bahan yang digunakan untuk sampling harus kompatibel dengan solvent dan
metode analisanya.

Sedangkan bahan pelarut (solvent), harus :


Disesuaikan dengan spesifikasi bahan yang diperiksa.

91
Tidak mempengaruhi stabilitas bahan yang diuji.
Sebelum dilakukan validasi, harus dilakukan pemeriksaan/ uji
perolehan kembali (recovery test) dengan larutan yang diketahui kadarnya.
2) Metode pembilasan terakhir
Residu diperoleh dengan mengumpulkan pelarut pembilas yang
telah kontak dengan permukaan alat dimana produk diproses.Hasil bilas
kemudian dianalisis untuk kandungan residu dan atau kandungan mikroba.
Umumnya dilakukan untuk alat/mesin yang sulit dijangkau dengan
cara apus (banyak pipa, lekukan, dan lain-lain). Pelarut pembilas harus
tidak boleh menyebabkan penguraian/degradasi residu.Pelarut pembilas
harus kontak dengan permukaan alat dalam waktu yang cukup agar residu
dapat larut sempurna.
Ada dua macam penggunaan metode ini :
a) Bilasan sampling terpisah
Dilakukan setelah proses bilas selesai. Larutan bilas berbeda dengan
bilasan proses
b) Bilasan terakhir (lazim)
Bila dibandingkan dengan recovery metode swab,
3) Metode menggunakan plasebo
Residu diperoleh dari batch produk plasebo yang dibuat dengan
cara simulasi dala kondisi yang sebenarnya.Pengambilan sampel yang
dilakukan dengan cara pengolahan produk yang bersangkutan tanpa bahan
aktif dengan peralatan yang sudah dibersihkan kemudian
dianalisa.Dilakukan dengan cara pengolahan produk yang bersangkutan
tanpa bahan aktif dengan peralatan yang sudah dibersihkan kemudian
dianalisa.Tidak disarankan karena tidak reproducible
Metode analisa yang digunakan untuk pemeriksaan sisa residu
harus sudah divalidasi, yaitu :
Metode analisis harus memiliki kemampuan untuk menganalisis kadar
cemaran sampel yang sama dengan batas yang ditetapkan di kriteria
keberterimaan.
Limit kuantitasi (LOQ) dari metode analisis adalah sama atau lebih kecil
dari batas kriteria keberterimaan.

92
Waktu tunggu sampel (sample aging time / ketangguhan) adalah waktu
tunggu yang diperbolehkan untuk sampel ditunda pengujiannya.
Batas perolehan kembali (recovery) pada validasi metode analisis
pemeriksaan residu hendaklah minimal 80%.

Kriteria Penerimaan :
1. Kebersihan secara visual
Tidak tampak sisa pengotor di permukaan peralatan setelah pembersihan
yang mungkin mencemari produk berikutnya.
Bila lebih dari satu produk diproses dengan peralatan yang sama, batas
ditetapkan sebagai Maximum Allawable Carryover (MACO) untuk
penetapan residu bahan aktif obat. Penetapan batas cemaran dengan batas
paling ketat diambil berdasarkan ketentuan.
2. Dosis Terapi Harian
Maximum Allowable Carryover (MACO) didapat dari 0,1 % (safety factor
dianggap 1000) dosis terapetik harian produk sebelumnya dalam dosis
terapetik harian maksimum produk selanjutnya.
MACO = (TDD min x BS) / (SF x R)
Dimana :
- MACO = maximum allowable carryover (mg)
- TDD min = dosis terapi harian minimum (mg/hari)
- BS = ukuran batch (unit atau kg)
- Regimen = aturan pakai produk (unit/hari atau mg/hari)
3. Dosis toksisitas
Menghasilkan angka carry over yang sangat tinggi dan tidak dapat
diterima, MACO dibatasi pada 1000 mg/kg.
4. Batas umum 10 ppm
Secara umum, tidak lebih dari 10 mg/kg (= 10 ppm) zat penanda (marker)
yang harus dibersihkan dari produk sebelumnya
5. Batas visual
Batas visual ditetapkan 100 g/ 25 cm2.
6. Deterjen
Gunakan deterjen dengan komposisi yang diketahui. Bila tidak diketahui,
deterjen food grade dipilih yang diketahui tingkat toksisitasnya.

Berikut merupakan hal penting dalam validasi prosedur pembersihan dan


sanitasi:

93
1. Prosedur tertulis hendaklah ditetapkan untuk pembersihan alat dan
persetujuan untuk penggunaan bagi produksi obat, termasuk produk antara,
Prosedur pembersihan hendaklah rinci supaya operator dapat melakukan
pembersihan tiap jenis alat secara konsisten dan efektif. Prosedur
hendaklah mencantumkan:
- Penanggung jawab untuk pembersihan alat;
- Jadwal pembersihan, termasuk sanitasi, bila perlu;
- Deskripsi lengkap dari metode pembersihan dan bahan pembersih yang
digunakan termasuk pengenceran bahan pembersih yang digunakan;
- Instruksi pembongkaran dan pemasangan kembali tiap bagian alat, bila
perlu, untuk memastikan pembersihan yang benar;
- Instruksi untuk menghilangkan atau meniadakan identitas bets sebelumnya;
- Instruksi untuk melindungi alat yang sudah bersih terhadap kontaminasi
sebelum digunakan;
- Inspeksi kebersihan alat segera sebelum digunakan; dan
- Menetapkan jangka waktu maksimum yang sesuai untuk pelaksanaan
pembersihan alat setelah selesai digunakan produksi.
2. Tanpa kecuali, prosedur pembersihan, sanitasi dan higiene hendaklah divalidasi
dan dievaluasi secara berkala untuk memastikan efektivitas prosedur
memenuhi persyaratan.
Hendaklah tersedia prosedur tertulis dan catatan pelaksanaan tindakan dan,
bila perlu, kesimpulan yang dicapai untuk pembersihan dan sanitasi, hal-hal
tentang personel termasuk pelatihan, seragam kerja, higiene; pemantauan
lingkungan dan pengendalian hama

4.3.7 Pemantauan CCP


Merupakan suatu pengukuran atau pengamatan relatif yang
terjadwal, dimana baik proses atupun hasil pemantauan harus dicatat atau
di dokumentasikan, yang selanjutnya data pemantauan tersebut dievaluasi
oleh pihak yang berwenang. Pihak yang melakukan pemantauan harus
dilatih dalam melakukan prosedur pemantauan secara berkala dan
dilakukan secara cepat.
Prosedur pemantauan harus dapat mendeteksi hilangnya kontrol
pada CCP (Critical Control Point), penyesuaian proses dibuat ketika hasil

94
pemantauan menunjukan adanya hilangnya kontrol pada CCP, apabila
pemantauan tidak kontinyu, frekuensi nya harus cukup untuk menjamin
bahwa CCP terkontrol. Pemantauan yang dilakukan secara kontinyu,
prosedur dan frekuensi pelaksanaannya harus teridentifikasi, dan semua
dokumen pemantauan harus ditandatangani oleh para petugas yang
bertanggung jawab. Pemantauan CCP, terdiri dari:
1. Pemantauan Lingkungan
Pemantauan lingkungan terdiri dari pemantauan mutu air, pemantauan
mikrobiologis pada lingkungan produksi, pemantauan kontaminasi oleh
produk lain dan pemantauan cemaran udara.
2. Pemantauan ruang bersih dan sarana ruang bersih
Terdiri dari pemantauan paartikel dan pemantauan mikroba.
3. Pemantauan Pengolahan
4. Pemantauan pengolahan terdiri dari pemantauan mutu, pemantauan
pencemaran mikroba, pemantauan stabilitas dan pemantauan personalia
(terutama diruang radioaktif).

95
4.4. Sanitasi dan Hegiene pada Produk Steril
Sanitasi area bersih sangatlah penting. Area tersebut hendaklah
dibersihkan secara menyeluruh sesuai program tertulis. Bila menggunakan
disinfektan hendaklah memakai lebih dari satu jenis. Pemantauan
hendaklah dilakukan secara berkala untuk mendeteksi perkembangan galur
mikroba yang resisten. Dengan mempertimbangkan efektivitasnya yang
terbatas, lampu ultraviolet hendaklah tidak digunakan untuk menggantikan
disinfektan kimiawi.

Disinfektan dan detergen hendaklah dipantau terhadap cemaran


mikroba; hasil pengenceran hendaklah ditempatkan dalam wadah yang
telah dicuci bersih dan hanya boleh disimpan dalam jangka waktu yang
telah ditentukan, kecuali bila disterilkan.

Fumigasi dalam area bersih dapat bermanfaat untuk mengurangi


mengurangi kontaminasi mikrobiologis pada tempat yang tidak terjangkau.
Untuk mengendalikan kebersihan mikrobiologis dari berbagai tingkat
kebersihan pada saat kegiatan berlangsung, area bersih hendaklah
dipantau. Saat kegiatan aseptik berlangsung, pemantauan hendaklah
dilakukan sesering mungkin dengan metode cawan papar, pengambilan
sampel udara secara volumetris (volumetric air), dan pengambilan sampel
permukaan (cara apus dan cawan kontak). Area bersih hendaklah tidak
terkontaminasi oleh kegiatan pengambilan sampel saat melakukan
pemantauan. Hasil pemantauan hendaklah dipakai untuk bahan
pertimbangan saat dilakukan peninjauan catatan bets untuk pelulusan
produk jadi. Hendaklah dilakukan pemantauan terhadap permukaan dan
personil setelah proses kritis.

Hendaklah ditentukan batas deteksi cemaran mikrobiologis untuk


batas waspada dan batas bertindak, dan untuk pemantauan tren mutu udara
di dalam area bersih. Batas, yang diberikan dalam satuan pembentuk
koloni (colony forming units - cfu), untuk pemantauan mikrobiologis

96
dalam area bersih disajikan pada Tabel dibawah ini. Cara pengambilan
sampel dan angka pada tabel adalah untuk informasi dan tidak untuk
dipakai sebagai spesifikasi.

Program disinfeksi hendaklah mencakup bahan bersifat sporosidal,


untuk membunuh spora. Efektivitas prosedur pembersihan dan disinfeksi
hendaklah dibuktikan. Lihat Daftar Bahan Disinfektan untuk Sanitasi,

97
98
99
4.5. Sanitasi Dan Higiene Produk Herbal
Tingkat sanitasi dan higiene yang tinggi hendaklah diterapkan
pada setiap aspek pembuatan obat tradisional. Ruang lingkup sanitasi
dan higiene meliputi personil, bangunan, peralatan dan perlengkapan,
bahan produksi serta wadahnya, dan segala sesuatu yang dapat
merupakan sumber pencemaran produk. Sumber pencemaran potensial
hendaklah dihilangkan melalui suatu program sanitasi dan higiene
yang menyeluruh dan terpadu.
Karena sumbernya, bahan obat tradisional dapat mengandung
cemaran mikrobiologis. Di samping itu, proses pemanenan/pengumpulan
dan proses produksi obat tradisional sangat mudah tercemar oleh
mikroba. Untuk menghindarkan perubahan mutu dan mengurangi
kontaminasi, diperlukan penerapan sanitasi dan higiene berstandar tinggi.
Bangunan dan fasilitas serta peralatan hendaklah dibersihkan dan, di
mana perlu, didisinfeksi menurut prosedur tertulis yang rinci dan
tervalidasi.

100
1. Higiene Perorangan

Tiap orang yang masuk ke area pembuatan hendaklah mengenakan


pakaian pelindung untuk menghindarkan bahan yang berpotensi me-
nimbulkan alergi. Hendaklah mereka mengenakan sarung tangan, penutup
kepala, masker, pakaian dan sepatu kerja selama proses produksi. Prosedur
hygiene perorangan termasuk persyaratan untuk mengenakan pakaian
pelindung hendaklah diberlakukan bagi semua personil yang memasuki
area produksi, baik karyawan purna waktu, paruh waktu maupun bukan
karyawan yang berada di area pabrik, misalnya karyawan kontraktor,
pengunjung, anggota manajemen senior dan inspektur.

Untuk menjamin perlindungan produk terhadap pencemaran dan untuk


keamanan personil, hendaklah personil mengenakan pakaian pelindung
yang bersih dan sesuai dengan tugasnya termasuk penutup rambut. Pakaian
kerja kotor dan lap pembersih kotor (yang dapat dipakai ulang) hendaklah
disimpan dalam wadah tertutup hingga saat pencucian.

Program higiene yang rinci hendaklah dibuat dan diadaptasikan terhadap


berbagai kebutuhan di dalam area pembuatan. Program tersebut hendaklah
mencakup prosedur yang berkaitan dengan kesehatan, praktik higiene dan
pakaian pelindung personil. Prosedur hendaklah dipahami dan dipatuhi
secara ketat oleh setiap personil yang bertugas di area produksi dan
pengawasan. Program higiene hendaklah dipromosikan oleh manajemen dan
dibahas secara luas selama sesi pelatihan.

Semua personil hendaklah menjalani pemeriksaan kesehatan pada saat


direkrut. Industri harus bertanggung jawab agar tersedia instruksi yang
memastikan bahwa keadaan kesehatan personil yang dapat memengaruhi mutu
produk diberitahukan kepada manajemen industri. Sesudah pemeriksaan
kesehatan awal hendaklah dilakukan pemeriksaan kesehatan kerja dan

101
kesehatan personil secara berkala. Dan menerapkan higiene perorangan yang
baik. Hendaklah mereka dilatih mengenai penerapan higiene perorangan.
Semua personil yang berhubungan dengan proses pembuatan hendaklah
memperhatikan tingkat higiene perorangan yang tinggi.

Tiap personil yang mengidap infeksi, penyakit kulit atau menderita


luka terbuka yang dapat merugikan mutu produk hendaklah dilarang
menangani bahan awal, bahan pengemas, bahan yang sedang diproses dan
produk jadi sampai dia sembuh kembali. Semua personil hendaklah
diperintahkan dan didorong untuk melaporkan kepada atasan langsung tiap
keadaan (pabrik, peralatan atau personil) yang menurut penilaian mereka
dapat merugikan produk. Hendaklah dihindarkan persentuhan langsung
antara tangan operator dengan bahan awal, produk antara dan produk
ruahan yang terbuka dan juga dengan bagian peralatan yang bersentuhan
dengan produk.

Personil hendaklah diinstruksikan supaya menggunakan sarana mencuci


tangan dan mencuci tangannya sebelum memasuki area produksi. Untuk
tujuan itu perlu dipasang poster yang sesuai. Merokok, makan, minum,
mengunyah, memelihara tanaman, menyimpan makanan, minuman, bahan
untuk merokok atau obat pribadi hanya diperbolehkan di area tertentu dan
dilarang dalam area produksi, laboratorium, area gudang dan area lain yang
mungkin berdampak terhadap mutu produk.

2. Sanitasi Bangunan dan Fasilitas

Bangunan yang digunakan untuk pembuatan obat tradisional hendaklah


didesain dan dikonstruksi dengan tepat untuk memudahkan sanitasi yang baik.
Hendaklah tersedia dalam jumlah yang cukup sarana toilet dengan ventilasi
yang baik dan tempat cuci bagi personil yang letaknya mudah diakses
dari area pembuatan. Hendaklah disediakan sarana yang memadai untuk
penyimpanan pakaian personil dan milik pribadinya di tempat yang tepat.

102
Penyiapan, penyimpanan dan konsumsi makanan dan minuman hendaklah
dibatasi di area khusus, misalnya kantin. Sarana ini hendaklah memenuhi
standar saniter. Sampah tidak boleh dibiarkan menumpuk. Sampah
hendaklah dikumpulkan di dalam wadah yang sesuai dan diberi penandaan
yang jelas untuk dipindahkan ke tempat penampungan di luar bangunan
dan dibuang secara teratur dan berkala, paling sedikit minimal sekali
sehari, dengan cara saniter.

Rodentisida, insektisida, agens fumigasi dan bahan sanitasi tidak boleh


mencemari peralatan, bahan awal, bahan pengemas, bahan yang sedang
diproses atau produk jadi. Hendaklah ada prosedur tertulis untuk pemakaian
rodentisida, insektisida, fungisida, agens fumigasi, pembersih dan sanitasi
yang tepat. Prosedur tertulis tersebut hendaklah disusun dan dipatuhi
untuk mencegah pencemaran terhadap peralatan, bahan awal, wadah obat
tradisional, tutup wadah, bahan pengemas dan label atau produk jadi.
Rodentisida, insektisida dan fungisida hendaklah tidak digunakan kecuali
yang sudah terdaftar dan digunakan sesuai peraturan terkait. Hendaklah ada
prosedur tertulis yang menunjukkan penanggung jawab untuk sanitasi
serta menguraikan dengan cukup rinci mengenai jadwal, metode, peralatan
dan bahan pembersih yang harus digunakan untuk pembersihan sarana
dan bangunan. Prosedur tertulis terkait hendaklah dipatuhi.

Prosedur sanitasi hendaklah berlaku untuk pekerjaan yang dilaksanakan


oleh kontraktor atau karyawan sementara maupun karyawan purna waktu
selama pekerjaan operasional biasa. Segala praktik tidak higienis di area
pembuatan atau area lain yang dapat berdampak merugikan terhadap mutu
produk, hendaklah dilarang.

3. Pembersihan dan Sanitasi Peralatan

Setelah digunakan, peralatan hendaklah dibersihkan baik bagian luar


maupun bagian dalam sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan, serta

103
dijaga dan disimpan dalam kondisi yang bersih. Tiap kali sebelum dipakai,
kebersihannya diperiksa untuk memastikan bahwa semua produk atau bahan
dari bets sebelumnya telah dihilangkan. Metode pembersihan dengan cara
vakum atau cara basah lebih dianjurkan.

Udara bertekanan dan sikat hendaklah digunakan dengan hati-hati dan


sedapat mungkin dihindari karena menambah risiko pencemaran produk.
Pembersihan dan penyimpanan peralatan yang dapat dipindah-pindahkan
dan penyimpanan bahan pembersih hendaklah dilaksanakan dalam ruangan
yang terpisah dari ruangan pengolahan. Prosedur tertulis yang cukup rinci
untuk pembersihan dan sanitasi peralatan serta wadah yang digunakan dalam
pembuatan obat tradisional hendaklah dibuat, divalidasi dan ditaati. Prosedur
ini hendaklah dirancang agar pencemaran peralatan oleh agens pembersih atau
sanitasi dapat dicegah.

4.6 Sanitasi Dan Higiene Produk Darah


Sanitasi dan higiene tingkat tinggi hendaklah dipraktikkan pada
tiap aspek pembuatan produk darah. Ruang lingkup sanitasi dan higiene
meliputi personil, bangunan dan fasilitas, peralatan dan perkakas, kegiatan
produksi dan wadah serta segala hal yang mungkin menjadi sumber
pencemaran terhadap produk. Sumber yang berpotensi menyebabkan
pencemaran hendaklah dieliminasi dengan menerapkan program santasi
dan higiene yang luas dan lengkap serta terpadu.

1. Higiene Perorangan

Kontak langsung antara tangan operator dan produk darah hendaklah


dihindarkan.

2. Sanitasi Bangunan dan Fasilitas

Limbah tidak boleh dibiarkan menumpuk.Limbah hendaklah dikumpulkan


dalam wadah penampung yang sesuai untuk disingkirkan ke lokasi

104
pengumpulan di luar bangunan dan dimusnahkan dengan metode yang aman
dan saniter secara teratur dalam interval waktu pendek.

3. Pembersihan dan Sanitasi Peralatan

Metode pembersihan dengan vakum dan basah lebih diutamakan.Udara


bertekanan dan sikat hendaklah digunakan dengan cermat dan sedapat
mungkin dihindarkan, karena metode ini meningkatkan risiko pencemaran
produk.

a) Pembersihan dan penyimpanan peralatan yang dapat dipindah


pindahkan dan penyimpanan bahan pembersih hendaklah dilakukan di
ruangan yang terpisah dari area pengolahan.
b) Prosedur tertulis yang cukup rinci untuk pembersihan dan sanitasi
peralatan dan wadah yang digunakan dalam pembuatan produk darah
hendaklah disiapkan dan dipatuhi. Prosedur ini hendaklah didesain
sedemikian rupa untuk menghindarkan pencemaran peralatan
disebabkan bahan pembersih atau bahan sanitasi, dan minimal
mencakup penanggung jawab untuk pembersihan, jadwal
pembersihan, metode, alat dan bahan yang digunakan untuk kegiatan
pembersihan, serta metode masing-masing untuk pembongkaran dan
pemasangan kembali peralatan demi memastikan pembersihan yang
benar dan, apabila perlu, metode sterilisasi, penyingkiran identifikasi
bets terdahulu serta pemberian perlindungan peralatan yang telah
dibersihkan terhadap pencemaran sebelum digunakan.
c) Catatan pembersihan, sanitasi,sterilisasi dan pemeriksaan sebelum
digunakan hendaklah disimpan.

4. Validasi Prosedur Pembersihan dan Sanitasi

Dalam segala hal, prosedur pembersihan dan prosedur sanitasi hendaklah


divalidasi dan dinilai secara berkala untuk memastikan bahwa efektifitas
kegiatan memenuhi persyaratan

105
Semua persyaratan lain hendaklah sesuai Sanitasi dan Higiene Pembuatan
Produk Steril.

4.7 Teknik pengendalian biokontaminasi


Salah satu permasalah yang harus mendapat perhatian serius selama
penyimpanan dan distribusi air adalah masalah pengendalian proliferasi mikroba.
Terdapat beberapa teknik yang digunakan terpisah atau, lebih sering, dalam
kombinasi, yaitu :
Mempertahankan sirkulasi aliran turbulen secara kontinu dalam sistem
distribusi air untuk mengurangi kecenderungan pembentukan biofilm
Desain sistem yang memastikan pipa sependek mungkin
Dalam sistem bersuhu ambien, pipa dilindungi terhadap pengaruh pipa
panas yang berdekatan
Deadlegs pada instalasi pipa lebih kecil dari tiga kali diameter pipa cabang
Pengukur tekanan dipisahkan dari sistem dengan membran
Penggunaan katup diafragma yang higienis
Sistem pemipaan dipasang dengan kemiringan tertentu untuk
memungkinkan pengosongan drainable
Penghambatan pertumbuhan mikroba dengan cara berikut: radiasi
ultraviolet dalam sistem pemipaan; mempertahankan pemanasan sistem
(pada suhu acuan > 65C); sanitasi sistem secara berkala menggunakan air
panas (pada suhu acuan >70C) atau air panas superheated atau uap murni;
dan sanitasi rutin secara kimiawi menggunakan ozon atau bahan kimia yang
cocok.

Pada pengolahan sediaan steril juga misalnya Bahan yang disterilkan


dengan metode lain misal radiasi sinar Gamma atau Etilen Oksida
hendaklah dilindungi dengan pembungkusan yang tepat untuk
mempertahankan integritas sterilitas di luar lingkungan Kelas A. Bahan ini
hendaklah dimasukkan ke area proses aseptis melalui rongga transfer
(misal passbox) dengan sistem interlock pada pintu-pintunya untuk
menghindarkan biokontaminasi lingkungan Kelas A.

106
Permukaan kemasan dan tangki hendaklah didisinfeksi (misal
menggunakan lorong UV, cairan disinfektan, VPHP atau elektron beam)
yang tervalidasi untuk menghindari biokontaminasi terhadap lingkungan
kelas A.

4.8 Sanitasi dan Higiene Pada Pembuatan Produk Non Steril


Kelas E adalah kelas kebersihan ruang untuk pembuatan produk Nonsteril
dan pengguunaan peralatan kelas C untuk produk nonsteril.

1. Tablet dan Kapsul


Untuk mengatasi masalah pengendalian debu dan pencemaran-silang yang
terjadi pada saat penanganan bahan dan produk kering, perhatian khusus
hendaklah diberikan pada desain, pemeliharaan serta penggunaan sarana dan
peralatan. Apabila layak hendaklah dipakai sistem pembuatan tertutup atau
metode lain yang sesuai.
Sistem penghisap udara yang efektif hendaklah dipasang dengan letak
lubang pembuangan sedemikian rupa untuk menghindarkan pencemaran dari
produk atau proses lain. Sistem penyaringan udara yang efektif atau sistem lain
yang sesuai hendaklah dipasang untuk menyaring debu. Pemakaian alat
penghisap debu pada pembuatan tablet dan kapsul sangat dianjurkan.
Perhatian khusus hendaklah diberikan untuk melindungi produk terhadap
pencemaran serpihan logam atau gelas. Pemakaian peralatan gelas sedapat
mungkin dihindarkan. Ayakan, punch dan die hendaklah diperiksa terhadap
keausan atau kerusakan sebelum dan setelah pemakaian.
Hendaklah dijaga agar tablet atau kapsul tidak ada yang terselip atau
tertinggal tanpa terdeteksi di mesin, alat penghitung atau wadah produk ruahan.
2. Cair, Krim dan Salep
Produk cair, krim dan salep mudah terkena kontaminasi terutama terhadap
mikroba atau cemaran lain selama proses pembuatan. Oleh karena itu, tindakan
khusus harus diambil untuk mencegah kontaminasi.

107
Penggunaan sistem tertutup untuk produksi dan transfer sangat dianjurkan;
area produksi di mana produk atau wadah bersih tanpa tutup terpapar ke
lingkungan hendaklah diberi ventilasi yang efektif dengan udara yang disaring.
Untuk melindungi produk terhadap kontaminasi disarankan memakai sistem
tertutup untuk pengolahan dan transfer.
Tangki, wadah, pipa dan pompa yang digunakan hendaklah didesain dan
dipasang sedemikian rupa sehingga memudahkan pembersihan dan bila perlu
disanitasi. Dalam mendesain peralatan hendaklah diperhatikan agar sesedikit
mungkin adanya sambungan mati (dead-legs) atau ceruk di mana residu dapat
terkumpul dan menyebabkan perkembangbiakan mikroba.Penggunaan
peralatan dari kaca sedapat mungkin dihindarkan. Baja tahan karat bermutu
tinggi merupakan bahan pilihan untuk bagian peralatan yang bersentuhan
dengan produk.
Kualitas kimia dan mikrobiologi air yang digunakan hendaklah ditetapkan
dan selalu dipantau. Perawatan sistem air hendaklah diperhatikan untuk
menghindarkan perkembangbiakan mikroba. Sanitasi secara kimiawi pada
sistem air hendaklah diikuti pembilasan yang prosedurnya telah divalidasi agar
sisa bahan sanitasi dapat dihilangkan secara efektif.
Mutu bahan yang diterima dalam tangki dari pemasok hendaklah diperiksa
sebelum dipindahkan ke dalam tangki penyimpanan. Perhatian hendaklah
diberikan pada transfer bahan melalui pipa untuk memastikan bahan tersebut
ditransfer ke tujuan yang benar.Bahan yang mungkin melepaskan serat atau
cemaran lain seperti kardus atau palet kayu hendaklah tidak dimasukkan ke
dalam area di mana produk atau wadah bersih terpapar ke lingkungan.Apabila
jaringan pipa digunakan untuk mengalirkan bahan awal atau produk ruahan,
hendaklah diperhatikan agar sistem tersebut mudah dibersihkan. Jaringan pipa
hendaklah didesain dan dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dibongkar
dan dibersihkan.
Ketelitian sistem pengukur hendaklah diverifikasi. Tongkat pengukur
hanya boleh digunakan untuk bejana tertentu dan telah dikalibrasi untuk bejana
yang bersangkutan. Tongkat pengukur hendaklah terbuat dari bahan yang tidak
bereaksi dan tidak menyerap (misal: bukan kayu).Perhatian hendaklah

108
diberikan untuk mempertahankan homogenitas campuran, suspensi dan produk
lain selama pengisian. Proses pencampuran dan pengisian hendaklah divalidasi.
Perhatian khusus hendaklah diberikan pada awal pengisian, sesudah
penghentian dan pada akhir proses pengisian untuk memastikan produk selalu
dalam keadaan homogen.
Apabila produk ruahan tidak langsung dikemas hendaklah dibuat ketetapan
mengenai waktu paling lama produk ruahan boleh disimpan serta kondisi
penyimpanannya dan ketetapan ini hendaklah dipatuhi.

109
BAB V
KESIMPULAN

5.1. Kesimpulan
Personel dalam Industri farmasi hendaklah seorang apoteker yang
terkualifikasi dan berpengalaman praktis dalam jumlah yang memadai.
Industri farmasi harus memiliki struktur organisasi. Tugas spesifik dan
kewenangan dari personil pada posisi penanggung jawab hendaklah
berdasarkan CPOB dan dicantumkan dalam uraian tugas tertulis
Tingkat sanitasi dan higiene yang tinggi hendaklah diterapkan
pada setiap aspek pembuatan obat. Ruang lingkup sanitasi dan higiene
meliputi personil, bangunan, peralatan dan perlengkapan, bahan produksi
serta wadahnya, dan segala sesuatu yang dapat merupakan sumber
pencemaran produk.Sumber pencemaran potensial hendaklah dihilangkan
melalui suatu program sanitasi dan higiene yang menyeluruh dan terpadu.

110
DAFTAR PUSTAKA

Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2006, Pedoman Cara Pembuatan Obat
yang Baik (CPOB). Jakarta.

Badan POM RI. 2011. Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik. Republik
Indonesia.
Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2012. Peraturan Kepala Badan Pengawas
Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.03.1.33.12.12.8195
Tahun 2012 Tentang Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik.
Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan.
Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2013. Petunjuk Operasional Penerapan
Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik 2012 Jilid I. Jakarta: Badan
Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
Handoko, H. 1985. Manajemen Personalia dan Sumberdaya Manusia.
Yogyakarta: Liberty Press.
Haryati, V. 2008. Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Di Lembaga Farmasi
Angkatan Udara (LAFIAU), Lanud Husein Sastranegara, Bandung.
Tersedia di
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/14494/1/08E00285.pdf
[diakses pada tanggal 7 April 2016].
Liretha, D. 2013. Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Di PT Konimex
Pharmaceutical Laboratories Desa Sanggrahan, Grogol, Sukoharjo, Jawa
Tengah. Tersedia di http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20366917-PR-
Devina%20Liretha-Laporan%20praktek.pdf [diakses pada tanggal 7 April
2016].
Rosdiana dkk., 2012, CPOB Produksi dan Manfaatnya Terhadap Industri Farmasi,
https://tsffarmasiunsoed2012.wordpress.com/2012/06/16/2067/, diakses
tanggal 6 April 2016 pukul 21.00.

111
Prescott, L.M., Harley, J.P. dan Klein, D.A. 2002. Microbiology, fifth edition. New
York: Mc Graw Hill.
Priyambodo, Bambang. 2014. Pelatihan Tenaga Kerja di Industri Farmasi.
Tersedia di: https://priyambodo1971.wordpress.com/author/
priyambodo1971/ [diakses pada tanggal 6 April 2016].
Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 245/Menkes/ SK/V/1990
tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Pemberian Izin Usaha
Industri Farmasi. Jakarta

112