Anda di halaman 1dari 17

ANATOMI SISTEM RESPIRASI

Secara respiratorik pada manusia dibagi menjadi dua yaitu respiratorik atas dan respiratorik
bawah.Respiratorik atas mulai dari lubang hidung sampai dengan faring dan respiratoriuk bawah
mulai dari laring sampe alveolus

Hidung

Hidung merupakan organ pertama kali dilewati oleh udara.Hidung memberikan


kelembaban dan pemanasan udara pernapasan sebelum masuk ke nasofaring. Hidung
bagian luar berbentuk piramid dengan bagian - bagiannya dari atas sampai bawah ;
pangkal hidung, dorsum nasi, puncak hidung, ala nasi , kolumela dan lubang hidung.
Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit ,
jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan dan
menyempitkan lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari tulang hidung ( os nasalis),
prosesus frontalis os maksila dan prosesus nasalis os frontal, sedangkan kerangka tulang
rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak di bagian bawah hidung,
yaitu sepasang kartilago nasalis lateralis superior , sepasang kartilago nasalis lateralis
inferior yang disebut kartilago alar mayor dan beberapa pasang kartilago alar minor dan
tepi anterior kartilago septum.

Rongga hidung merupakan kavum nasi yang dipisahkan oleh septum. Lubang
depan disebut sebagai nares anterior dan lubang belakang merupakan koana yang
memisahkan antara kavum nasi dengan nasofaring. Septum dilapisi oleh perikondrium
pada bagian tulang rawan dan periosteum pada bagian tulang sedangkan bagian luar
dilapisi oleh mukosa hidung. Bagian dari kavum nasi yang tepat berada dibelakang nares
anterior disebut vestibulum,yang mempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambut-
rambut panjang. Dasar rongga hidung melekat dengan palatum durum dan sebagian
besar dari atap hidung dibentuk oleh epitel olfaktorius dan lamina kribiformis os
ethmoidalis, yang memisahkannnya dengan rongga tengkorak.

Rongga hidung memiliki 4 dinding dan pada dinding lateralnya terdapat 3 buah
konka yaitu konka superior, konka media , dan konka inferior.Rongga yang terletak
diantara konka disebut sebagai meatus . Bergantung pada letaknya , eatus dibagi menjadi
3 yaitu meatus inferior , medius dan superior.Meatus inferior terletak diantara konka
inferior dan dasar hidung dengan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus inferior
terdapat muara duktusnasolakrimalis.Meatus medius terletak dibawah konka medius dan
merupakan saluran yang penting karena hampir seluruh sinus bermuara sisaluaran ini,
yang kemudian membentuk osteo-meatal kompleks.Adanya kelainan pada daerah ini
dapat mengganggu ventilasi dan bersihan mukosiliar sehingga mempermudah terjadinya
rinosinusitis.Meatus superior merupakan muara dari sinus spenoidalis.Rongga hidung
merupakan saluran respiratori primer pada saat bernapas.saat bernapas dengan
menggunakan pernapasan hidung, terdapat tahanan sebesar lebih dari 50%, dari seluruh
tahanan pada saluran respiratori. Tahana tersebut dua kali lipat lebih banyak bila
dibandingkan dengan pernapasan mulut.

Hidung Luar

Menonjol pada garis tengah di antara pipi dengan bibir atas; struktur hidung luar dapat
dibedakan atas tiga bagian : yang paling atas, kubah tulang, yang tak dapat digerakan :
dibawahnya terdapat kubah kartilago yang sedikit dapat digerakkan; dan yang paling
bawah adalah lobulus hidung yang mudah digerakkan. Belahan bawah apertura piriformis
hanya kerangka tulangnya saja, memisahkan hidung luar dengan hidung dalam.
Disebelah superior, struktur hidung luar berupa prosesus maksila yang berjalan keatas
dan kedua tulang hidung, semuanya disokong oleh prosesus nasalis tulang frontalis dan
suatu bagian lamina perpendikularis tulang etmoidalis. Spina nasalia anterior merupakan
bagian dari prosesus maksilaris medium embrio yang meliputi premaksila anterior,
ddapat pula dianggap sebagai bagian dari hidung luar. Bagian berikutnya, yaitu kubah
kartilago yang sedikit dapat digerakkan, dibentuk oleh kartilago lateralis superior yang
saling berfusi di garis tengah serta berfusi pula dengan tepi atas kartilago septum
kuadrangularis. Sepertiga bawah hidung luar atau lobulus hidung, dipertahankan
bentuknya oleh kartilagi lateralis inferior. lobulus menutup vestibulum nasi dan dibatasi
di sebelah medial oleh kolumela, di lateral oleh ala nasi, dan anterosuperior oleh ujung
hidung.

Mobilitas lobulus hidung penting untuk ekspresi wajah, gerakan mengendus dan bersin.
Otot ekspresi wajah yang terletak subkutan diatas tulang hidung, pipi anterior dan bibir
atas menjamin mobilitas lobulus. Jaringan ikat subkutan dan kulit juga ikut menyokong
hidung luar. Jaringan lunak diantara hidung luar dan dalam dibatasi di sebelah inferior
oleh krista piriformis dengan kulit penutupnya, di medial oleh septum nasi, dan di tepi
bawah kartilago lateralis superior sebagai batas superior dan lateral. Struktur tersempit
dari seluruh saluran pernapasan atas adalah apa yang disebut sebagai limen nasi atau os
internum oleh ahli anatomi, atau sebagai katup hidung Mink oleh ahli faal. Istilah "katup"
dianggap tepat karena struktur ini bergerak bersama, dan ikut mengatur pernapasan.

gambar
Hidung Dalam

Struktur ini membentang dari os internum di sebelah anterior hingga koana di posterior,
yang memisahkan rongga hidung dari nasofaring. Septum nasi merupakan struktur tulang
di garis tengah, secara anatomi membagi organ menjadi 2 hidung. Selanjutnya, pada
dinding lateral hidung terdapat pula konka dengan rongga udara yang tak teratur di
antaranya - meatus superior, media dan inferior. Sementara kerangka tulang tampaknya
menentuka diametr yang pasti dari rongga udara, struktur jaringan lunak yang menutupi
hidung dalam cenderung bervariasi tebalnya, juga mengubah resistensi, dan akibatnya
tekanan dan volume aliran udara jnspirasi dan ekspirasi. Diameter yang berbeda-beda
disebabkan oleh kongesti dan dekongesti mukosa, perubahan badan vaskular yang dapat
mengembang pada konka dan septum atas, dan dari krusta dan deposit atau sekret
mukosa.

gambar

Duktus nasolakrimalis bermuara pada meatus inferior di bagian anterior. Hiatus


semilunaris dari meatus media merupakan muara sinus frontalis, etmoidalis aterior dan
sinus maksilaris. Sel-sel sinus etmoidalis posterior bermuara pada meatus superior,
sedangkan sinus sfenoidalis bermuara pada resesus sfenoetmodialis.

Ujung-ujung saraf olfaktorius menempati daerah kecil pada bagian medial dan lateral
dinding hidung dalam dan ke atas hingga kubah hidung. Deformitas struktur demikian
pula penebalan atau edema mukosa berlebihan dapat mencegah aliran udara untuk
mencapai daerah olfaktorius, dan dengan demikian dapat sangat menganggu
penghidungan.

Bagian tulang dari septum terdiri dari kartilago septum (kuadrangularis) di sebelah
anterior, lamina perpendikularis tulang etmoidalis di sebelah atas, vomer dan rostrum
sfenoid di posterior dan suatu krista di sebelah bawah, terdiri dari krista maksia dan krista
palatina. Krista dan tonjolan yang terkadang perlu diangkat, tidak jarang ditemukan.
Pembengkokan septum yang dapat terjadi karena faktor-faktor pertumbuhan ataupun
trauma dapat sedemikian hebatnya sehingga menggangu aliran udara dan perlu dikoreksi
secara bedah. Konka di dekatnya umunya dapat menkompenisasi kelainan septum (bila
tidak terlalu berat), dengan memperbesar ukurannya pada sisi yang konkaf dan mengecil
pada sisi lainnya, sedemikian rupa agar dapat mempertahankan lebar rongga udara yang
optimum. Jadi, meskipun septum nasi bengkok, aliran udara masih akan ada dan masih
normal. Daerah jaringan erektil pada kedua sisi septum berfungsi mengatur ketebalan
dalam berbagai kondisi atosfer yang berbeda. (boies buku ajar penyakit tht edisi 6 adam
boeies higler EGC)

gambar

Faring
Faring memiliki bagian yang terdiri dari nasofaring yaitu bagian yang langsung
berhubungan dengan rongga hidung, kemudian dilanjutkan dengan orofaring dan terakhir
adalah laringofaring.

Gambar...

Nasofaring merupakan suatu rongga dengan dinding kaku diatas, nelakang dan lateral ,
yang secara anatomi termasuk bagian faring. Ke anterior berhubungan dengan rongga
hidung melaluikoana dan tepi belakang septum nasi, sehingga sumbatan hidung
merupakan gangguan yang sering timbul, sedangkan bagian belakang nasofaring
berbatasan dengan ruangretrofaring, fasia pre vertabralis an otot- otot dinding faring.
Pada dinding lteralnasofaring terdapatrifisium tuba eustkius.Atap nasofaring dibentuk
dari basis sphenoid dan dapat dijumpai sisa jaringan embrionik yang disebut sebagai
kantung rantkhe.Diantara atap nasofaring dan dinding posterior terdapat jaringan limfoid
yang disebut adenoid.

Orofaring yang erupakan bagian kedua faring, setelah nasofaring dipisahkan oleh
oto membranosa dari palatum lunak. Yang termasuk bagian orofaring adalah dasar ( 1/3
posterior lidah), valekula, palatum uvula, dinding lateral faring termasuk tonsil palatina
serta dinding posterior faring.Laringofaring merupakan bagian faring yang dimulai dari
lipatan faringoepiglotika kearah posterior, inferior terhadap esofagus segmen atas.

Laring

Laring terletak setinggi servikal ke-6, berperan pada proses fonasi dan sebagai katup
untuk melindungi saluran respiratori bawah.organ ini terdiri dari tulang dan kumpulan
tulang rawan yang disatukan oleh ligamen dan ditutupi oleh otot dan membran mukosa.

Gambar
Epiglotis merupakan tulang rawan yang berbentuk seperti lembaran, yang melekat pada
dasar lidah dan tulang rawan tiroid.

Tiroid merupakan struktur tulang rawan yang terbesar pada laring, yang membentuk
jakun ( Adams apple) .Tiroid terdiri dari 2 sayapatau alae yang bergabung pada garis
tengah anterior dan meluas ke arah belakang.Pada bagian depanterdapat tonjolan yang
disebut thyroid notch . Pada bagian belakang terdapat 2 prosesus yaitu prosesus sepurior
dan inferior.Kartilago Krikoid melekat pada daerah posterior inferior.Pada bagian depan,
kartilago krikoid disatukan oleh membran krikotiroid. Kartilagi Krikoid merupakan
tulang rawan yang berbentuk cincin penuh. Kartilagi Aritenid merupakan bagian dari
laring yang berperan pada pergerakan pita suara. Tulang rawan ini terletak di belakang
kartilago tiroid dan merupakan tulang rawan paling bawah dari laring. Di setiap sisi
tulang rawan krikoid, terdapat ligamentum krikoaritenoid , otot krikoaritenoid lateral dan
otot krikoaritenoid posterior.

Gambar
Pada bagian dalam laring terdapat2 lipatan yang menyatu pada bagian depan serta
memilikinukosa yang berwarna merah. Lipatan ini disebut sebagai pita suara palsu.Pada
bagian bawah lipatan terdapat ruangan yang disebut ventrikel. Bibir bawah ventrikel
dibentuk oleh otot yang disebutsebagai pita suara asli.Bagian anterior pita suara asli
melekat pada garis tengah sampai permukaan posterior kartilago tiroid dan bagian
posterior pita suara melekat pada kartilagi aritenoid. Pada bagian bawah pita suara
terdapat bagian tersempit dari laringyaitu celah subglotis yang membentang pada
membran krikotiroid.

Trakea dan bronkus

Trakea merupakan bagian dari saluran respiratori yang bentuknya menyerupai pipa serta
memanjang mulai dari bagian iferior laring, yaitu setinggi servikal 6 sampai daerah
percabangannya (biforkasio) yaitu antara torakal 5-7. Panjangnya sekitar 9-15 cm. Trakea
terdiri dari 15-20 kartilago hialin yang berbentuk menyerupai huruf C dengan bagian
posterior yang tertutup oleh otot. Bentuk tersebut dapat mencegah trakea untuk kolaps.
Adanya serat elastin longitudinal pada trakea, menyebabkan trakea dapat melebar dan
menyempit sesuai dengan irama pernapasan. Trakea mengandung banyak reseptor yang
sensitif terhadap stimulus mekanik dan kimia. Otot trakea yang terletak pada bagian
posterior mengandung reseptor yang berperan pada regulasi kecepatan dan dalamnya
pernapasan.

Trakea terbagi menjadi 2 bronkus utama, yaitu bronkus utama kanan dan kiri. Bronkus
utama kanan memiliki rongga yang lebih sempit dan lebih horizontal bila dibandingkan
dengan bronkus utama kiri. Hal tersebut menyebabkan benda asing lebih mudah masuk
ke paru kanan ddaripada kiri. Trakea dan bronkus terdiri dari tulang rawan dan dilapisi
oleh epitel bersilia yang mengandung mukus dan kelenjar serosa. Bronkus kemudian
akan bercabang menjadi bagian yang lebih kecil dan halus yaitu bronkiolus. Bronkiolus
dilapisi oleh epitel bersilia namun tidak mengandung kelenjar serta dindingnya tidak
mengandung jaringan tulang rawan.

Gambar...
Alveolus

Bronkiolus berakhir pada suatu struktur yang menyerupai kantung, yang dikenal
dengan nama alveolus. Alveolus terdiri dari lapisan epitel dan matriks ekstraselular
yang dikelilingi oleh pembuluh darah kapiler. Alveolus mengandung 2 tipe sel utama,
yaitu sel tipe 1 yang membentuk struktur dinding alveolus dan sel tipe 2 yang
menghasilkan surfaktan. Alveolus memiliki kecendrungan untuk kolaps karena
ukurannya yang kecil, bentuknya yang sferikal dan adanya tegangan permukaan.
Namun hal tersebut dapat dicegah dengan adanya fosfolipid, yang dikenal dengan
nama surfaktan, dan pori-pori pada dindingnya.

Alveolus berdiameter 0,1 mm dengan ketebalan dinding hanya 0,1 mikrometer.


Pertukaran gas terjadi secara difusi pasif dengan bergantung pada gradient konsentrasi.
Setiap paru mengandung lebih dari 300 juta alveolus. Setiap alveolus dikelilingi oleh
sebuah pembuluh darah.

(respirology anak edisi pertama penyunting nastiti n. raharjoe, bambang supriyanto,


darmawan budi setyanto, IDAI 2010)
FUNGSI PARU

Pendahuluan

Pernapasan sebagai istilah yang lazim digunakan, mencakup 2 proses : proses eksternal
yaitu penyerapan oksigen dan pengeluaran karbondioksida dari tubuh secara keseluruhan,
serta pernapasan interna yaitu penggunanaan O2 dan pembentukan CO2 oleh sel serta
pertukaran gas diantara sel tubuh dan media cair di sekitarnya. Sistem pernapasan terdiri
atas organ pertukaran gas (paru) dan suatu pompa ventilasi paru. pompa ventilasi ini terdiri
atas dinding dada, otot pernapasan, yang memperbesar dan memperkecil ukuran rongga
dada, pusat pernapasan di otak yang mengendalikan otot pernapasan, serta jaras dan saraf
yang menghubungkan otot pernapasa dan pusat pernapasan. Pada keadaan istirahat,
frekuesni pernapasan manusia normal berkisar antara 12-15 kali permenit. Dalam sekali
bernapas, sekitar 500 ml udara atau 6-8 liter udara permenit , di hirup dan dkeluarkan dari
pari. udara ini akan bercampur dengan gas yang terdapat di alveoli dan selanjutnya melalui
proses difusi sederhana, oksigen masuk kedalam darah di kapiler paru sedangkan
karbondioksida masuk kedalam alveoli. dengan cara ini, 250 ml oksigen permenit masuk
kedalam tubuh dan 250 ml karbondioksida akan dikeluarkan.

Berbagai gas lain seperti gas metana dari usus halus dapat di jumpai di udara ekspirasi
dlama jumlah kecil. Alkohol dan aseton akan di keluarkan memalui udara ekspirasi bila
kadarnya dalam tubuh cukup besar.

Sifat Gas

Tekanan suatu gas berbanding lurus dengan suhu dan jumlah mol per volume

P = nRT / V (dari persamaan gas ideal)

P = tekanan

n = jumalh mol

R = konstanta gas

T = suhu mutlak

V = volum

Tekanan Parsial

Berbeda dengan zat cair gas akan mengembang untuk mengisi ruang yang tersedia baginya
dan volume yang ditempati oleh sejumlah molekul gas tertentu, pada suhu dan tekanan
tertentu (idealnya) akan tetap sama tanpa mempedulikan komposisi campuran gas tersebut.
Dengan demikian, tekanan yang di timbulkan oleh tiap-tiap gas dalam suatu campuran gas
(tekana parsial gas) setara dengan fraksi volume gas tersebut dalam campuran gas
dikalikan dengan tekanan total campuran gas.

Gas berdifusi dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah, dan kecepatan
difusi bergantung pada gradient konsentrasi serta sifat sawar yang membatasi kedua
daerah. Apabila campuran gas dibiarkan mencapai keseimbangan dengan zat cair, tiap -
tiap gas dalam campuran tersebut akan larut kedalam cairan pada suatu tingkat yang
ditentukan oleh tekanan parsial dan daya larut gas tersebut dalam cairan. Tekana parsial
suatu gas dalam zat cair adalah bahwa tekanan fase gas yang berada dalam keseimbangan
dengan zat cair akan menghasilkan konsentrasi molekul gas yang di temukan dalam zat
cair.

Mekanisme Pernapasan

Inspirasi dan Ekspirasi

Paru dan dinding dada merupakan struktur yang elastis. Pada keadaan normal, hanya
ditemukan selapis tipis cairan diantara paru dan dinding dada (ruang intrapleura). Paru
dengan mudah dapat begeser sepanjang dinding dada, namun sukar untuk dipisahkan dari
dinding dada seperti halnya 2 lempeng kaca basa yang dapat di geser namun tidak dapat
dipisahkan. Tekanan dalam ruang antara paru dan dinding dada (tekanan Intrapleura)
bersifat subatmosferik.

gambar sirkulasi paru dan sistemik

Pada saat lahir jaringan paru merenggang sehingga terengan dan pada akhir ekspirasi
tenang, kecendrungan daya recoil jaringan paru untuk menjauhi dinding dada diimbangi
oleh daya recoil dinding dada ke arah yang berlawanan. JIka dinding dada dibuka paru
akan kolaps dan bila paru kehilangan elastisitasnya, dada akan mengembang menyerupai
bentuk gentong (barrel shaped). gambar hubungan antara sirkulasi bronkus dan paru.....
Inspirasi merupakan prses aktif. Kontraksi otot inspirasi akan meningkatakan volume intra
toraks. Tekanan intrapleura di bagian basis paru akan turun dari nilai normal sekitar -2,5
mmHg (relatif terhadap tekanan atmosfer) pada awal inspirasi, menjadi -6 mmHg. Jaringan
paru akan semakin teregang. Tekanan di dalam saluran udara menjadi lebuh negatif, dan
udara mengalir ke dalam paru. Pada akhir inspirasi, daya recoil paru mulai menarik
dinding dada kembali ke kedudukan ekspirasi, sampai tercapai keseimbangan kembali
antara daya recoil jaringan paru dan dinding dada. Tekanan di saluran udara menjadi
sedikit lebih positif , dan udara mengalir ke paru. Selama pernapasan tenang , ekspirai
merupakan proses pasif yang tidak memerlukan kontraksi otot untuk menurunkan volume
intratoraks. Namun, pada awal ekspirasi, sedikit kontraksi otot inspirasi masih terjadi .
Kontraksi ini berfungsi sebagai peredam daya recoil paru dan memperlambat ekspirasi.

Pada inspirasi kuat , tekanan intrapleura turunmencapai -30 mmHg sehingga


pengembangan jaringan paru menjadi lebih besar. Bila ventilasi meningkat , derajat
pengempisan jaringan paru juga ditingkatkan oleh kontraksi aktif otot ekspirasi yang
menurunkan volume intratoraks.

Volume Paru

Jumlah udara yang masuk ke dalam paru setiap kali inspirasi ( atau jumlah udara yang
keluar dari setiap kali ekspirasi ) disebut Volume Tidal. Jumlah udara yang masih dapat
masukke dalam paru pada inspirasi maksimal setelah inspirasi biasa disebut Volume
cadangan inspirasi. Jumlah udara yang dapat dikeluarkan secara aktif dari dalam paru
melalui kontraksi otot ekspirasi , setelaah ekspirasi biasa disebut Volume cadangan
ekspirasi, dan udara yang masih tertinggal di dalam paru setelah ekspirasi maksimal
disebut Volume residu. Nilai normal berbagai volume paru dan istilah yang digunakan
untuk kombinasi berbagai volume paru tersebut diperlihatkan

pada gambar volume paru dan sejumlah .....


Pengukuran kapasitas vital yaitu jumlah udara terbesar yang dapat dikeluarkan dari paru
setelah inspirasi maksimal,seringkali digunakanan di klinik sebagai indeks fungsi paru.
Nilai tersebut bermanfaat dalam memberikan informasi mengenai kekuatan otot
pernapasan serta beberapa aspek fungsi pernapasan lain.

Otot Pernapasan

gerakan diafragma menyebabkan perubahan volume intratoraks sebesar 75% selama


inspirasi tenang. Otot diafragma melekat di sekeliling bagian dasar rongga toraks, yang
membentuk kubah di atas hepar dan bergerak ke arah bawah seperti piston pada saat
berkontraksi. Jarak pergerakan diafragma berkisar antara 1,5 Cm sampai 7 Cm saat
inspirasi .

Diafragma terdiri dari atas tiga bagian : bagian kostal , yang dibentuk oleh serabut otot
yang bermula dari iga - iga di sekeliling bagian dasar rongga toraks ; bagian krura, yang
dibentuk oleh serabut otot yang bermula dari ligamentum sepanjang tulang belakang, dan
tendon sentral, tempat insersi serabut kostal dan krural. Tendn senntral juga mencakup
bagian inferior perikardium. Serabut krural berjalan di kedua sisi esofagus dan dapat
menekan esofagus saat berkontraksi. Bagian kostal dan krural diafragma dipersarafi oleh
bagian - bagian yang berbeda dari nervus frenikus dan dapat berkontraksi secara terpisah.
Contohnya , pada waktu muntah atau bersendawa, tekanan intra- abdomen meningkat
akibat kontraksi serabut kostal diafragma, sedangkan serabut krurl tetap lemas sehingga
memungkinkan bergeraknya berbagai zat dari lambung ke dalam esofagus.

Otot inspirasi penting lainnya adalan Muskulusinterkostalis eksternus, yang berjalan dari
iga ke iga secara miring ke arah bawah dan ke depan. Iga- iga berputar seolah bersendi di
bagian punggung sehingga Muskulus Interkostali eksternus berkontraksi , iga iga
dibawahnya akan terangkat. Gerakan ini akan mendorong sternum ke luar dan
memperbesar diameter anteroposterior rongga dada. Diameter transversal juga meningkat ,
tetapi dengan derajat yang lebih kecil. Baik muskulus interkostalis eksternus maupun
diagfragma dapat mempertahankan ventilasi yang adekuat pada keadan istirahat. transeksi
medula spinalis di atas segmen servikalis ketiga dapat berakibat fatal bila tidak diberikan
pernapasan buatan , namun tidak demikian halnya bila dilakukan transeksi dibawah
segmen seevikalis kelima karena nervus frenikus yang mempersarafi diafragma tetap utuh ;
nervus frenikus berasal dari medula spinalis setinggi segmen servikalis 3-5. Sebaliknya,
pada penderita dengan paralisis bilateral nervus frenikus namun dengan persarafan otot
interkostal yang masih utuh, pernapasan agak sukar tetapi adekuat untuk mempertahankan
hidup. Muskulus skalenus dan sternokleidomastoiseud di leher merupakan otot inspirasi
tambahan yang ikut membantu mengangkat rongga dada pada pernapasan yang sukar dan
dalam .
jika otot ekspirasi berkontraksi, volume intratoraks akan berkurang dan terjadi
ekspirasi paksa. efek ini dimiliki oleh muskulus interkostalis internus karena otot -otot ini
berjalan miring ke arah bawah dan belakang dari iga ke iga sehingga pada waktu
berkontraksi, otot - otot ini akan menarik rongga dada ke bawah. Kontraksi otot dinding
dada abdomen anterior juga ikut membantu proses ekspirasi dengan cara menarik iga - iga
ke bawah dan ke dalam seerta dngan meningkatkan tekanan intra-abdomen yang akan
mendorong diafragma ke atas.

Glotis

pada awal inspirasi,terjadi kontraksi otot abduktor laring yang akan memisahkan pita
suara dan membuka glotis. Selama menelan atau saat tersedak, secara refleks terjadi
kontraksi otot aduktor yang menutup glotis dan mencegah aspirasi makanan, cairan , atau
bahan muntahanke dalam paru. Pada pasien yang tidak sadar atau diaestesi, penutupan
glotis dapat tidak sempurna sehingga bahan muntahan dapat masuk kedalam trakea dan
menimbulkan reaksi peradangan paru.

Otot laring dipersarafi oleh nervus vagus. Bila otot abduktor lumpuh, stridor inspirasi akan
timbul.

Surfaktan

Tegangan permukaan yang rendah ketika alveolus mengecil disebabkan oleh adanya
surfaktan( suatu zat lemak yang menurunkan tegangan permukaan) dalam cairan yang
melapisi alveolus. Surfaktan merupakan campuran dipalmitoilfosfatidilkolin (DPPC) ,
berbagai lipid lain dan protein. JIka tegangan permukaan tersebut tidak dipertahankan
rendah saat alveolus mengecil selama ekspirasi, alveolus akan kolaps.Pada struktur
berbanding sferis seperti alveolus , tekanan pengembangan ( distending presure ) setara
dengan 2 kali tegangan dibagi jari-jari ( P= 2T/R) ; jika T tidak diturunkan bila r
berkurang, nilai tegangan akan melampui tekanan pengembangan. Surfaktan juga berfungsi
membantu mencegah terjadinya edema paru. Berdasarkan perhitungan diketahui bahwa
bila tidak terdapat surfaktan, teganngan permukaan alveolus yang tidak dilawan akan
menimbulkan tekanan sebesar 20 mmHg yang menimbulkan transudasi cairan dari darah
ke dalam alveolus.

Fosfolipid , yang memiliki sebuah" kepala" hidrofilik dan dua "ekor"asam lemak
hidrofobikyang sejajar berbaris di alveolus dengan ekornya yang menghadap lumen
alveolus ( gambar 34-13) . Badan lamelar spesifik yaitu, orgamel yang mengandung
gulungan fosfolipid dan terikat pada membran sel , dibentuk dalam sel - sel tersebut dan
disekresikan ke dalam lumen alveolus melalui eksositosis. Terbentuk tabung lipid yang
disebut mielin tubular dari tonjolan badan , mielin tubular selanjutnya membentuk lapisan
fosfolipid .sebagian kompleks protein- lemak di dalam surfaktan diambil kembali oleh sel
alveolus tipe II melalui endositosis dan didaur -ulang.

Pembentukan lapisan fosfolipid sangat dipermudah oleh protein dalam surfaktan. Zat ini
mengandung empat protein unik, SP-A, SP-B, SP-C dan SP-D.

SP-A adalah suatu glikoprotein besar dan memilikir ranah yang menyerupai kolagen
didalam strukturnya. SP-A kemungkinan memiliki beberapa fungsi , termasuk pengaturan
umpan-balik pengambilan surfaktan oleh sel epitel alveolus tipe II yang mensekresinya.
SP-B dan SP-C adalah protein yang lebih kecil yang memudahkan pembentukan lapisan
fosfolipid monomolekuler. Mutasi gen untukSP-C dilaporkan berkaitan dengan penyakit
familial pada jaringan interstisium paru. Seperti SP-A, SP_D adalah anggota dari famili
protein kolektin yang berperan pada imunitas bawaan dibagian tubuh lain.

Surfaktan berperan penting saat kelahiran. Janin didalam uterus berusaha melakukan
gerakan pernapasan, namun jaringan parunya tetap kolapssampai saat lahir. Setelah lahir,
bayi melakukan beberapa kali gerakan inspirasi kuat dan parunya akan mengembang.
Surfaktan mencegah agar jaringan paru tidak kolaps kembali. Defisiensi surfaktan
merupakan penyebab penting terjadinya sindrom gawat napas janin.

( buku ajar fisiologi kedokteran , W.F Ganong ,edisisi 22, 2005)