Anda di halaman 1dari 59

I.

JUDUL PERCOBAAN : Uji Fitokimia pada Ekstrak


Daun Kelor dan Kunyit Putih
II. HARI/TANGGAL PERCOBAAN : Selasa, 2 Mei 2017
III. TUJUAN PERCOBAAN :
1. Memilih peralatan yang dibutuhkan sesuai dengan percobaan.
2. Memilih bahan-bahan yang dibutuhkan dengan percobaan.
3. Mengidentifikasi komponen kimia tumbuhan dari kelompok terpenoid,
steroid, fenolik (antrakuinon, tannin, dan fenol), flavonoid, dan
alkaloid yang terkandung dalam ekstrak daun kelor dan kunyit putih
IV. DASAR TEORI :
Fitokimia berasal dari kata phytochemical. Phyto berarti tumbuhan
atau tanaman dan chemical sama dengan zat kimia berarti zat kimia yang
terdapat pada tanaman. Senyawa fitokimia tidak termasuk ke dalam zat
gizi karena bukan berupa karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral
maupun air. Setiap tumbuhan atau tanaman mengandung sejenis zat yang
disebut fitokimia, merupakan zat kimia alami yang terdapat di dalam
tumbuhan dan dapat memberikan rasa, aroma atau warna pada tumbuhan
itu. Sampai saat ini sudah sekitar 30.000 jenis fitokimia yang ditemukan
dan sekitar 10.000 terkandung dalam makanan (Fessenden, 1982).
Fitokimia atau kadang disebut fitonutrien, dalam arti luas adalah
segala jenis zat kimia atau nutrien yang diturunkan dari sumber tumbuhan,
termasuk sayuran dan buah-buahan. Dalam penggunaan umum, fitokimia
memiliki definisi yang lebih sempit. Fitokimia biasanya digunakan untuk
merujuk pada senyawa yang ditemukan pada tumbuhan yang tidak
dibutuhkan untuk fungsi normal tubuh, tapi memiliki efek yang
menguntungkan bagi kesehatan atau memiliki peran aktif bagi pencegahan
penyakit. Karenanya, zat-zat ini berbeda dengan apa yang diistilahkan
sebagai nutrien dalam pengertian tradisional, yaitu bahwa mereka
bukanlah suatu kebutuhan bagi metabolisme normal, dan ketiadaan zat-zat
ini tidak akan mengakibatkan penyakit defisiensi, paling tidak, tidak dalam
jangka waktu yang normal untuk defisiensi tersebut (Harborne, 1987).
Menurut Robinson (1991) alasan lain melakukan fitokimia adalah
untuk menentukan ciri senyawa aktif penyebab efek racun atau efek yang
bermanfaat, yang ditunjukan oleh ekstrak tumbuhan kasar bila diuji
dengan sistem biologis. Pemanfaatan prosedur fitokimia telah mempunyai
peranan yang mapan dalam semua cabang ilmu tumbuhan. Meskipun cara
ini penting dalam semua telaah kimia dan biokimia juga telah
dimanfaatkan dalam kajian biologis.
Sejalan dengan hal tersebut, menurut Moelyono (1996) analisis
fitokimia merupakan bagian dari ilmu farmakognosi yang mempelajari
metode atau cara analisis kandungan kimia yang terdapat dalam tumbuhan
atau hewan secara keseluruhan atau bagian-bagiannya, termasuk cara
isolasi atau pemisahannya.
Pada tahun terakhir ini fitokimia atau kimia tumbuhan telah
berkembang menjadi satu disiplin ilmu tersendiri, berada diantara kimia
organik bahan alam dan biokimia tumbuhan, serta berkaitan dengan
keduanya. Bidang perhatiannya adalah aneka ragam senyawa organik yang
dibentuk dan ditimbun oleh tumbuhan, yaitu mengenai struktur kimianya,
biosintesisnya, perubahan serta metabolismenya, peneyebarannya secara
ilmiah dan fungsi biologisnya (Harborne,1987).
Uji fitokimia dilakukan pada setiap simplisia dan ekstrak. Senyawa
alkaloid diuji dengan pereaksi Bouchardat, dibuktikan dengan
terbentuknya warna coklat merah. Senyawa flavonoid diuji dengan
pereaksi amil alkohol, dibuktikan dengan terbentuknya warna merah.
Senyawa tanin dan polifenol diuji dengan larutan 1 % FeCl 3 memberikan
warna biru lalu hitam. Senyawa tanin diuji dengan larutan gelatin
memberikan endapan putih. Senyawa saponin diuji dengan pengocokan
dan ditandai dengan terbentuknya busa yang stabil pada filtrat simplisia.
Senyawa triterpenoid dan steroid diuji dengan pereaksi Liebermann-
Bouchardat ditandai dengan warna ungu untuk triterpenoid dan warna
hijau biru untuk steroid. Senyawa kuinon diuji dengan larutan NaOH dan
ditandai dengan terbentuknya warna kuning (Moelyono, 1996).
Kandungan metabolit sekunder antara lain :
a. Alkaloid
Alkaloid merupakan sekelompok metabolit sekunder alami yang
mengandung nitrogen yang aktif secara farmakologis yang berasal dari
tanaman, mikroba tau hewan. Dalam kebanyakan alkaloid, atom
nitrogen merupakan bagian dari cincin. Alkaloid secara biosintesis
diturunkan dari asam amino. Namun alkaloid berasal dari kata alkalin
yang berarti basa yang larut air. Sejumlah alkaloid alami dan
turunannya telah dikembangkan sebagai obat untuk mengobati berbagai
macam penyakit, reserfpin dan taxol. Alkaloid bersifat basa dan
membentuk garam yang larut air dengan asam-asam mineral. Pada
kenyataannya satu atau lebih atom nitrogen yang ada dalam alkaloid
pada umumnya membentuk amina 1, 2 atau 3, yang berkontribusi
pada kebasaan alkaloid. Tingkat kebasaan alkaloid sangat bervariasi
tergantung pada strukrut molekul, dan keberadaan gugus fungsional.
Kebanyakan alkaloid adalah padat kristalin dan berasa pahit. Alkaloid
pada umumnya dikelompokkan sesuai dengan asam amino, baik yang
menyediakan atom nitrogen maupun kerangka alkaloidnya. Meskipun
demikian, alkaloid juga dapat dikelompokkan secara bersama-sama
berdasarkan pada kesamaan struktur generiknya (Robinson, 1991).

Struktur Alkaloid

b. Terpenoid (termasuk Triterpenoid, Steroid, Saponin)


Saponin merupakan senyawa glikosida kompleks hasil kondensasi suatu
gula dengan suatu senyawa hidroksil organic yang apabila dihidrolisis
akan menghasilkan gula (glikon) dan non-gula (aglikon) serta busa.
Saponin ini terdiri dari dua kelompok yaitu saponin triterpenoid dan
saponin steroid. Saponin banyak digunakan dalam kehidupan sehari-
hari, misal untuk bahan pencuci kain dan sebagai shampoo (Harborne,
1987).

Struktur Saponin
Terpenoid mencakup sejumlah senyawa tumbuhan yang secara
biosintesis berasal dari senyawa yang sama, yaitu isoprena. Triterpenoid
adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam isoprena
dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik yaitu
skualen. Triterpenoid merupakan senyawa berwarna, berbentuk kristal,
seringkali bertitik leleh tinggi, optis aktif dan umumnya sukar dicirikan
karena tidak memiliki kereaktifan kimia. (Matsjeh, 1996).

Struktur Triterpenoid

Steroid merupakan golongan lipid utama. Steroid berhubungan dengan


terpena dalam artian bahwa keduanya dibiosintesis lewat rute yang
mirip. Lewat reaksi yang benar-benar luar biasa urutannya, triterpena
asiklik skualena dikonversi secara stereospesifik menjadi steroid
tetrasiklik lanosterol, dan dari sini disintetis steroid lain. Ciri struktur
yang umum pada steroid ialah empat cincin yang tergabung. Cincin A,
B, dan C beranggota enam, dan cincin D beranggota lima, biasanya
bergabung dengan cara trans (Hart, 2003).
Steroid terdapat dalam hampir setiap tipe sistem kehidupan. Dalam
binatang banyak steroid bertindak sebagai hormon. Steroid ini,
demikian pula steroid sintetik digunakan meluas sebagai bahan obat.
Kolesterol merupakan sterfoid hewani yang terdapat paling meluas dan
dijumpai dalamhampir semua jaringan hewan. Batu kandung empedu
dan kuning telur merupakan sumber yang kaya akan senyawaini.
Kolesterol merupakan zat yang diperlukan dalam biosintesis hormon
steroid, namun tak merupkan keharusan dalam makanan dalam
makanan, karena dapat disintesis dari asetilkoenzim A (Fessenden,
1982).

c. Flavonoid, Tannin dan Fenol


Flavonoid adalah suatu kelompok senyawa fenol yang terbesar yang
ditemukan di alam. Senyawa ini merupakan zat warna meraah, ungu,
biru, dan kuning yang ditemukan banyak dalam tumbuh-tumbuhan.
Sebagian besar flavonoid yang terdapat pada tumbuhan terikat pada
molekul gula sebagai glikosida, dan dalam bentuk campuran, serta
jarang sekali ditemukan berupa senyawa tunggal. Misalnya, antosianin
dalam mahkota bunga yang berwarna merah, hamper selalu ditemukan
mengandung senyawa flavon atau flavonol yang tak berwarna.
Flavonoid dapat digunakan sebagai obat karena mempunyai bermacam-
macam bioaktivitas seperti antiinflamasi, membantu memaksimalkan
fungsi vitamin C, mencegah keropos tulang, sebagai antibiotik,
antikanker, antifertilitas, antiviral, antidiabetes, antidepressant dan
diuretic (Harborne, 1987).

Struktur Flavonoid

Fenol meliputi berbagai senyawa yang berasal dari tumbuhan yang


memiliki cirri dan karakter yang sama, yaitu memiliki cincin aromatic
yang mengandung satu atau dua gugus hidroksil. Kuinon adalah
senyawa berwarna dan mempunyai kromofor kasar. Identifikasi hasil
positif senyawa ini yaitu adanya perubahan warna larutan menjadi
merah, violet, atau merah-ungu (Harbourne, 1987).
Polifenol-polifenol tanaman, juga dikenal sebagai tanin sayuran,
merupakan sekelompok senyawa alami yang heterogen yang tersebar
secara luas dalam tanaman. Tanin sering terdapat dalam buah yang
tidak masak, dan menghilang ketika buah masak. Dipercayai bahwa
tanin dapat memberikan perlindingan terhadap serangan mikroba.
Tanin mempunyai 2 jenis struktur yang laus yaitu proantosianidin
terkondensasi dalam mana satuan struktur fundamental adalah inti
fenolik flavan-3-ol (katekin) serta ester galoil dan heksahidroksidi-
fenoil dan turunan-turunannya (Hart, 2003).

Struktur Tanin
Secara garis besar fitokimia diklasifikasikan menurut struktur
kimianya sebagai berikut :
1. Fitokimia karotenoid
2. Fitokimia fitosterol
3. Fitokimia saponin
4. Fitokimia glukosinolat
5. Fitokimia polifenol
6. Fitokimia inhibitor protease
7. Fitokimia monoterpen
8. Fitokimia fitoestrogen
9. Fitokimia sulfide
(Harborne,1987).
Fitokimia karotenoid banyak terdapat pada sayur-sayuran berwarna
kuning-jingga seperti wortel, labu kuning, sayuran berwarna hijau seperti
brokoli dan buah-buahan berwarna merah dan kuning jingga seperti
pepaya, mangga, tomat, nenas semangka arbei dll. Beberapa penelitian
mengungkapkan bahwa zat karotenoid dapat mencegah kanker, sebagai
anti oksidan dan dapat meningkatkan system imun tubuh (Harborne,
1987).
Fitokimia fitosterol banyak ditemukan pada biji-bijian dan hanya
sekitar 5% dari fitosterol yang dapat diserap oleh usus dari makanan kiat.
Penelitian mengungkapkan fitosterol dapat menurunkan kolesterol dan anti
kanker. Fitokimia saponin banyak terdapat pada kacang-kacangan dan
daun-daunan. Penelitian mengungkapkan bahwa saponin dapat sebagai
anti kanker, anti mikroba, meningkatkan system imunitas, dan dapat
menurunkan kolesterol (Harborne, 1987).
Fitokimia glukosinolat banyak terdapat pada sayur-sayuran seperti
kol dan brokoli. Jika sayuran dimasak dapat menurunkan kadar
glukosinolat sebesar 30-60%. Termasuk dalam glukosinolat ini meliputi
fitokimia lain seperti isothiosianat,thiosianat dan indol. Peneliti- an
menunjukkan bahwa glukosinolat dapat bersifat anti mikroba, anti kanker
dan menurunkan kolesterol (Harborne, 1987)
Fitokimia polifenol banyak terdapat pada buah-buahan sayur-
sayuran hijau seperti salada dan pada gandum dll. Penelitian pada hewan
dan manusia menunjukkan polifenol dapat mengatur kadar gula darah,
sebagai anti kanker, antioksidan, anti mikroba, anti inflamasi. Termasuk
polifenol adalah asam fenol dan flavonoid (Harborne, 1987).
Fitokimia inhibitor protease merupakan fitokimia yang banyak
terdapat pada biji-bijian dan sereal seperti padi-padian, gandum dsb, yang
dapat membantu kerja enzim dalam system pencernaan manusia. Dapat
sebagai anti oksidan , mencegah kanker dan mengatur kadar gula darah.
Fitokimia monoterpen banyak terdapat pada pada tanaman beraroma
seperti mentol (peppermint), biji jintan, seledri, peterseli, rempah-rempah
dan sari jeruk. Berkhasiat mencegah kanker dan anti oksidan (Harborne,
1987).
Fitokimia fitoestrogen banyak terdapat pada kedelai dan produk
kedelei seperti tempe, tahu dan susu kedelei. Memiliki aktifitas seperti
hormon estrogen. Senyawa aktif fitoestrogen terdiri dari isoflavonoid dan
lignan. Menurut para ahli isoflavonoid akan menempel pada sel tumor
sehingga sel kanker tidak mendapatkan zat gizi yang diperlukan. Bersifat
sebagai anti kanker, dan menurut penelitian, orang yang banyak
mengkonsumsi tempe/kedelei lebih rendah menderita kanker payudara
dari pada orang yang mengkonsumsi daging. Tempe banyak mengandung
isoflavonoid,, genestein, fitosterol, isoflvonoid, saponin, asam fitat dan
inhibitotr protease. Khasiat lain dari isoflavonoid yang menyerupai
estrogen ini memperlambat berkurangnya massa tulang yang berakibat
terjadinya keropos tulang (osteoporosis) sehingga makanan tempe sangat
cocok untuk wanita menopause dan laki-laki berumur karena dapat
menurunkan kadar kolesterol total, dan meningkatkan kadar HDL
kolesterol (Harborne, 1987).
Fitokimia sulfida banyak terdapat pada bawang putih, bawang
bombai, bawang merah dan bawang daun. Senyawa fitokimia aktif pada
bawang putih adalah dialil sulfida (allicin). Menurut peneliti sulfida
bekerja sebagai anti kanker, anti oksidan, anti mikroba, meningkatkan
daya tahan, anti radang, mengatur tekanan darah dan menurunkan
kolesterol. Fitokimia asam fitat terdapat pada kacang polong, gandum.
Berfungsi sebagai anti oksidan yang dapat mengikat zat karsinogen dan
mengatur kadar gula darah (Harborne, 1987)
Fitokimia mempunyai efek biologi yang efektif menghambat
pertumbuhan kanker, sebagai antioksidan, mempunyai sifat menghambat
pertumbuhan mikroba,menurunkan kolesterol darah, menurunkan kadar
glukosa darah, bersifat antibiotik, dan menimbulkan efek peningkatan
kekebalan. Dari sekitar 30. 000 fito-kimia yang sudah diketahui sekarang,
sebanyak 5.000-10.000 terdapat dalam bahan pangan. Dan hampir 400.000
jenis tanaman mengandung fito-kimia. Bagi mereka yang senang atau
doyan buah-buahan, sayur-sayuran serta biji-bijian, dalam seharinya sudah
mengkonsumsi sekitar 1,5 gram fitokimia. Bagi vegetarian tentu lebih
tinggi lagi. Warna yang menarik dari buah-buahan dan sayuran berasal
dari senyawa fito-kimia, juga aroma khas dari teh dan kopi berasal dari
senyawa fito-kimia (Moelyono, 1996).
V. ALAT DAN BAHAN :
1. Alat :
Blender
Neraca
Gelas kimia 100 mL
Gelas kimia 500 mL
Tabung reaksi
Rak tabung reaksi
Pipet tetes
Pembakar spirtus
Spatula
Corong pisah
Kertas saring

2. Bahan
- Etanol 70%
- HCl pekat - Aquades
- H2SO4 pekat - Reagen Lieberman-
Burchard
- H2SO4 2N - Reagen Mayer
- FeCl3 - Reagen Dragendorff
- Kloroform - Reagen Wagner
- Amoniak - Metanol 60-80 %
- Logam Mg
VI. ALUR PERCOBAAN
1. Penyiapan ekstrak methanol rimpang temulawak/daun kelor

Rimpang temulawak /
daun kelor

- Dibersihkan dan
dikuliti
- Dikeringkan

Temulawak kering /
daun kelor

- Ditimbang sebanyak 5 gram


- Dimasukkan dalam gelas kimia 100 mL
- Ditambahkam 15 mL methanol 60-80 %
- Dipanaskan secukupnya
- Disaring dengan kertas saring

Residu Filtrat

- Diuapkan dalam penangas


air
Sampel

2. Identifikasi alkanoid dengan Culvenor-Fitzgerald (Harborne, 1987)

1 mL Sampel
- Dimasukkan dalam tabung reaksi
- Ditambahkan 1 mL kloroform
- Ditambahkan1 mL amoniak
- Dipanaskan di atas penangas air
- Dikocok
- Disaring

Residu Filtrat
- Dimasukkan dalam 3 tabung reaksi

Tabung 1 Tabung 2 Tabung 3


Tabung 1

Tabung 1
- Ditambahkan 3 tetes H2SO4 2N
-Dikocok
-Didiamkan beberapa menit hingga terpisah

Bagian bawah Bagian atas

- Diambil
- Diuji dengan pereaksi meyer

Terbentuk endapan Jingga


(ada alkaoid)
Tabung 2

Tabung 2
- Ditambahkan 3 tetes H2SO4 2N
- Dikocok
- Didiamkan beberapa menit hingga terpisah

Bagian bawah Bagian atas

- Diambil
- Diuji dengan pereaksi wagner

Terbentuk endapan coklat


(ada alkaoid)

Tabung 3

Tabung 2
- Ditambahkan 3 tetes H2SO4 2N
- Dikocok
- Didiamkan beberapa menit hingga terpisah

Bagian bawah Bagian atas

- Diambil
- Diuji dengan pereaksi dragendorf

Terbentuk endapan putih


(ada alkaoid)
3. Identifikasi Flavonoid (Harborne, 1987)

1 mL Sampel
- Ditambahkan 3 mL etanol 70%
- Dikocok
- Dipanaskan
- Dikocok lagi
- Disaring

Residu Filtrat
- Ditambahkan Mg 0,1 g
- Ditambahkan 2 tetes HCl pekat

Terbentuk warna
merah pada lapisan
etanol
(ada flavonoid)
4. Identifikasi Saponin (Harborne, 1987)
1 mL Sampel
- Ditambah 10 mL
- Didihkan dalam penangas air
- Disaring

Residu Filtrat
- Dikocok
- Didiamkan selama 15 menit

Terbentuk busa yang


bertahan lama
(ada saponin)
5. Identifikasi Steroid (Harborne, 1987)

1 mL sampel
- Ditambahkan 3 mL etanol 70%
- Ditambahkan 2 mL asam sulfat pekat
- Ditambahkan 2 mL asam asetat anhidrat (reagen
Liebermann-Burchard)
Terjadi perubahan
warna dari ungu ke
biru/hijau
(ada steroid)
6. Identifikasi Triterpenoid (Harborne, 1987)

1 mL sampel
- Ditambahkan 2 mL kloroform
- Ditambahkan 3 mL asam sulfat pekat
Terbentuk warna
merah kecoklatan
pada antar
permukaan
(ada triterpenoid)

7. Identifikasi Tanin (Edeoga et al., 2005)

1 mL Sampel
- Ditambahkan 20 mL air
- Didihkan diatas penangas air
- Disaring

Residu Filtrat
- Ditambahkan 2-3 tetes FeCl3 1%

Terbentuk warna
coklat kehijauan/
biru kehitaman
(ada tanin)
VII. HASIL PENGAMATAN

No Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan/Reaksi Kesimpulan


1. Persiapan Ekstrak Metanol Rimpang Kunyit Sebelum : Hasil uji fitokimia kandungan Ekstrak kunyit putih
Putih - Rimpang kunyit putih halus metabolik sekunder ekstrak dapat dihasilkan dengan
Rimpang kunyit putih : berwarna kuning. merendam serbuk kunyit
a. metanol kunyit putih (curcuman
putih ke dalam metanol
- Dibersihkan dan dikuliti - Metanol 60-80% : larutan petiolata)
- Dikeringkan
tak berwarna. 1. Alkaloid pereaksi Meyer (+)
- Digiling
Sesudah : 2. Saponin (aquades) (+)
Serbuk kunyit - Kunyit putih halus +
3. Flavonoid (HCl) (+)
metanol : larutan berwarna
5 gram Serbuk kunyit putih kuning dan endapan serbuk 4. Terpenoid (reagen lieberman
b.
kunyit putih berwarna burchad) (-)
- Dimasukkan ke dalam gelas kimia coklat
100 mL 5. Tanin (FeCl3) (-)
- Dipanaskan : larutan
- Direndam dengan 5 mL metanol 60- 6. Fenolik (FeCl3) (+)
berwarna kuning dan
80%
endapan serbuk berwarna 7. Glikosida (killer killani) (+)
- Dipanaskan dengan penangas air
- Disaring coklat Sumber : Rusdiana, I.
- Disaring :
Filtrat : larutan berwarna Hasanuddin dan Mrning
Residu Filtra
kuning
t
- Dipekatkan dengan Residu : endapan coklat
cara uap
Filtrat diuapkan : ekstrak
Ekstrak metanol kunyit
putih berwarna kuning
atau sampel
Persiapan Ekstrak Metanol Daun Kelor Sebelum :
a. - Rimpang daun kelor halus :
Daun kelor
berwarna hijau tua.
- Dibersihkan
- Dikeringkan Metanol 60-80% : larutan
- Digiling tak berwarna.

Serbuk Daun Sesudah :


- Daun kelor halus + metanol
b. 5 gram Serbuk daun kelor : larutan berwarna hijau tua
dan endapan serbuk kelor
- Dimasukkan ke dalam gelas kimia
100 mL berwarna hijau lumut
- Direndam dengan 5 mL metanol 60-
- Dipanaskan : larutan
80%
- Dipanaskan dengan penangas air berwarna hijau dan
- Disaring endapan serbuk berwarna
coklat tua
Residu Filtra - Disaring :
t
- Dipekatkan Filtrat : larutan berwarna
dengan cara uap kuning
Ekstrak metanol daun kelor Residu : endapan coklat
atau sampel
Filtrat diuapkan : ekstrak
berwarna hijau lumut
2. Identifikasi Alkaloid dengan Metode Culvenor Sebelum : Reaksi Meyer Pada sampel kunyit
Fitzgerald - Sampel kunyit putih : 4 KI + HgCl2 HgI2 + 2KCl putih pada uji reagen
wegner, reagen meyer,
1 mL sampel + 1 mL larutan berwarna coklat
kloroform + 1 mL ammonia
dan reagen dragendrof
muda dihasilkan uji positif (+)
- Dimasukkan ke dalam tabung reaksi - Sampel daun kelor : larutan
- Dipanaskan dengan peanangas air
berwarna hijau lumut Pada sampel daun kelor
- Dikocok dan disaring
putih pada uji reagen
- Kloforom : larutan tak reagen meyer, dan
Filtrat Residu
berawarna. reagen dragendrof
- Ammonia : larutan tak dihasilkan uji positif (-)
sedangkan reagen
berwarna. Reaksi Wagner
wegner positif (+)
Tabung 1 Tabung 2 Tabung 3 I2 + I- I3-
- H2SO4 2 N : larutan tak
- Ditambahkan 3 - Ditambahkan 3 - Ditambahkan 3 berwarna.
tetes H2SO4 2N tetes H2SO4 tetes H2SO4 2N
- Dikocok - Dikocok - Dikocok - Reagen meyer :larutan tak
- Didiamkan - Didiamkan - Didiamkan berwarna.
hingga terpisah hingga pisah hingga terpisah
- Reagen wagner : larutan
- Diambil bagian - Diambil bagian - Diambil bagian
atas larutan atas larutan atas larutan berwarna kuning
- + reagen meyer - + reagen - + reagen meyer - Reagen dragendorf : larutan
meyer
berwarna kuning
Endapan Endapan Endapan kecoklatan
jingga coklat putih
Sampel Kunyit putih
NB : Sampel = kunyit putih dan daun kelor Ekstrak sampel kunyit putih
+ kloroform + ammonia : Reaksi Dragendorf
larutan berwarna kuning
kecolatan
Dikocok + dipanaskan :
larutan berwarna kuning
kecoklatan
+ H2SO4 dan dikocok :
larutan berwarna kuning
kecoklatan membentuk 2
lapisan
Ditambah dengan reagen
meyer : larutan berwarna Sampel yang positif mengandung
kuning jernih alkaloid apabila diuji dengan
Ditambah dengan reagen reagen meyer, wagner, dragendorf
wagner : larutan berwarna mengahsilkan warna merah
merah kecoklatan dengan kecoklatan.
endapan coklat
Ditambah dengan reagen
dargendorf : larutan
berwarna merah kecoklatan

Sampel Daun Kelor


Ekstrak sampel kunyit putih
+ kloroform + ammonia :
larutan berwarna kuning
kecolatan
Dikocok + dipanaskan :
larutan berwarna kuning
kecoklatan
+ H2SO4 dan dikocok :
larutan berwarna kuning
kecoklatan membentuk 2
lapisan
Ditambah dengan reagen
meyer : larutan berwarna
kuning jernih
Ditambah dengan reagen
wagner : larutan berwarna
merah kecoklatan dengan
endapan coklat
Ditambah dengan reagen
dargendorf : larutan
berwarna merah kecoklatan
3. Identifikasi Flavonoid Sebelum : Sampel positif
- Sampel kunyit putih : mengandung flavonoid
1 mL sampel
kuning muda
karena terdapat
- Dicampurkan 3 mL etanol 70% - Sampel daun kelor : hijau
tua + 2H2 gelmbung ketika
- Dikocok
- Dipanaskan - Mg : serbuk putih ditambahkan HCl.
- Dikocok kembali - HCl pekat : larutan tidak
- Disaring berwarna

Sesudah :
1) Sampel Kunyit Putih + 5H+
Residu Filtrat - Sampel kunyit putih +
etanol : kuning muda, jernih
- Ditambah 0,1 gram Mg
- + serbuk Mg : Mg tidak
- Ditambah 2 tetes HCl
larut
- + HCl pekat : muncul
Hasil gelembung

2) Sampel Daun Kelor


- Sampel daun kelor + etanol :
kuning muda, jernih
- + serbuk Mg : Mg tidak
larut
- + HCl pekat : muncul
gelembung
+ MgCl2

+Cl-
4. Identifikasi Saponin Sebelum : Sampel tidak terdapat
- Sampel kunyit putih : busa sehingga sampel
1 mL sampel negative mengandung
kuning muda
saponin.
- Ditambah 3 mL air - Sampel daun kelor : hijau
- Dididihkan dengan 5 mL air dalam tua
penangas air selama 10 menit Sesudah :
1) Sampel Kunyit Putih
Filtrat - Sampel kunyit putih + 3 mL
air : berwarna putih dan
- Dikocok terdapat endapan putih
- Didiamkan selama 1,5 menit - Dipanaskan : tetap berwarna
putih dan terdapat endapan
Hasil putih
- Dikocok : tidak terdapat
busa
2) Sampel Daun Kelor
- Sampel daun kelor + 3 mL
air : berwarna hijau tua
- Dipanaskan : tetap berwarna
hijau tua
- Dikocok : tidak terdapat
busa

5. Identifikasi Steroid Sebelum : Sampel mengandung


- Sampel kunyit putih : steroid karena warna
1 mL sampel
larutan berubah menjadi
kuning muda
lebih pekat (kehitaman).
- Ditambah 3 mL etanol 70% - Sampel daun kelor : hijau
- Ditambah 2 mL H2SO4 pekat tua
- Ditambah 2 mL CH3COOH anhidrat - Etanol : larutan tidak
berwarna
Perubahan warna dari - H2SO4 pekat : tidak
menjadi lebih kehitaman berwarna
- CH3COOH anhidrat : tidak

Sesudah :
1) Sampel Kunyit Putih
- Sampel kunyit putih +
etanol : berwarna hijau tua
- + H2SO4 pekat : berwarna
hijau tua
- + CH3COOH anhidrat :
terbentuk lapisan atas
berwarna coklat terang dan
lapisan bawah merah gelap

2) Sampel Daun Kelor


- Sampel daun kelor + etanol :
berwarna hijau tua
- + H2SO4 pekat : berwarna
hijau tua
- + CH3COOH anhidrat :
berwarna hijau tua (+++)
6. Identifikasi Triterpenoid Sebelum : - Pada sampel kunyit
- Sampel kunyit putih : putih positif
1 mL sampel berwarna jingga mengandung
- Sampel daun kelor : triterpenoid
berwarna hijau tua
Dimasukkan dalam tabung
- Kloroform : tidak
reaksi berwarna
Ditambah 2 mL kloroform - H2SO4 : tidak berwarna
Ditambah 3 mL H2SO4 pekat Sesudah :
- Sampel kunyit putih +
kloroform : berwarna
Terbentuk warna merah kecoklatan kuning
- + H2SO4 : terbentuk warna
merah kecoklatan pada
antar permukaan
7. Identifikasi Tanin Sebelum : Pada sampel kunyit
- Ekstrak metanol putih negatif
1 mL sampel kunyit putih : larutan mengandung tannin
Dimasukkan dalam tabung berwarna kuning
kecoklatan
reaksi
- Ekstrak daun kelor :
Dididihkan dalam penangas air hijau
Disaring - Larutan FeCl3 1%: + FeCl3
larutan tidak berwarna (aq)
Sesudah :
Filtrat Residu - 1 ml ekstrak kunyit
putih + 5 ml air :
Ditambah beberapa tetes FeCl3 1% larutan putih keruh
- + dipanaskan : putih
Coklat kehijauan/biru kehitaman
keruh
- + FeCl3 1%: larutan
putih keruh
VIII. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Pada perobaan fitokimia ini bertujuan untuk memilih peralatan yang dibutuhkan
sesuai dengan percobaan yang dikerjakan, memilih bahan-bahan yang dibutuhkan
sesuai dengan percobaan yang dikerjakan, mengidentifikasi komponen kimia tumbuhan
dari kelompok terpenoid, steroid, fenolik (antrakuinon, tannin, dan fenol), flavonoid,
dan alkaloid yang terkandung dalam ekstrak rimpang kunyit putih dan daun kelor. Hal
yang dilakukan adalah :
1. Persiapan ekstrak metanol pada kunyit putih dan daun kelor
Pada percobaan pertama yaitu menyiapkan bahan yaitu rimpang kunyit putih dan
daun kelor. Pada percobaan ini bertujuan untuk menghasilkan ekstrak metanol pada
rimpang kunyit putih dan daun kelor.
a. Ekstrak metanol pada kunyit putih
Hal yang harus dilakukan yaitu rimpang kunyit putih yang berwarna coklat
muda dibersihkan dari kulit dan kotoran yang menempel pada rimpang kunyit
putih. Tujuannya yaitu agar dihasilkan sampel yang benar-benar bersih dan tidak
tercampur dengan zat pengotor lain. lalu dipotong kecil-kecil dan dikeringkan
dibawah sinar matahari. Tujuannya yaitu agar sampel yang dikeringkan dibawah
sinar matahari dihasilkan sampel yang bagus, karena jika di oven akan dapat
menimbulkan sampel rusak jika oven terlalu panas, sehingga tidak dapat
dilakukan uji fitokimia. Kemudian di haluskan menggunakan blender hingga
halus, sehingga dihasilkan sampel serbuk kunyit putih berwarna coklat muda.
Selanjutnya menimbang serbuk kunyit putih sebanyak 5 gram menggunakan
neraca ohaus. Setelah ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam gelas kimia 100
mL. Lalu serbuk yang berada dalam gelas kimia di ekstraksi dengan cara
merendam larutan etanol 60-80% tidak berwarna sebanyak 30 mL. Fungsi
penambahan metanol yaitu metanol mempunyai ukuran molekul yang kecil
sehingga dapat menembus organel sel tempat terdapatnya senyawa metabolit
sekunder pada kunyit putih. Metanol merupakan pelarut universal yang memiliki
gugus polar (-OH) dan gugus nonpolar (-CH3) sehingga dapat menarik analit-
analit yang bersifat polar dan nonpolar, sehingga semua kandungan kimia yang
terdapat di dalam kunyit putih akan tertarik oleh metanol. Metanol dapat menarik
alkaloid, steroid, saponin, dan flavonoid dari tanaman. Ketika serbuk kunyit putih
ditambahkan dengan metanol hasilnya larutan berwarna kining kecoklatan.
Kemudian dipanaskan selama 1 menit. Fungsi pemanasan adalah untuk
mempercepat jalannya reaksi antara serbuk kunyit putih yang direndam di dalam
metanol. Lalu larutan yang sudah dipanaskan selama 1 menit disaring
menggunakan corong dan kertas saring. Sehingga dihasilkan filtrat berwarna
coklat muda dan residu berwarna coklat. Kemudian filtrat yang berwarna coklat
muda dipekatkan dengan cara diuapkan diatas penangas air. Fungsinya yaitu
untuk memperlambat proses pengendapan, sehingga filtrat yang dihasilkan akan
stabil. Ketika filtrat sudah mengental berwarna kuning kecoklatan, maka filtrat
dari rimpang kunyit putih tersebut sudah dapat digunakan untuk uji fitokimia.

Persamaan reaksinya:

b. Ekstrak metanol pada daun kelor


Hal yang harus dilakukan yaitu daun kelor yang berwarna hijau tua
dibersihkan dari tangkainya. Tujuannya yaitu agar dihasilkan sampel yang benar-
benar bersih. lalu dikeringkan dibawah sinar matahari. Tujuannya yaitu agar
sampel yang dikeringkan dibawah sinar matahari dihasilkan sampel yang bagus,
karena jika di oven akan dapat menimbulkan sampel rusak jika ovennya terlalu
panas, sehingga tidak dapat dilakukan uji fitokimia. Kemudian di haluskan
menggunakan blender hingga halus, sehingga dihasilkan sampel serbuk daun
berwarna hijau tua.
Selanjutnya menimbang serbuk daun kelor sebanyak 5 gram menggunakan
neraca ohaus. Setelah ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam gelas kimia 100
mL. Lalu serbuk yang berada dalam gelas kimia di ekstraksi dengan cara
merendam larutan etanol 60-80% tidak berwarna sebanyak 30 mL. Fungsi
penambahan metanol yaitu metanol mempunyai ukuran molekul yang kecil
sehingga dapat menembus organel sel tempat terdapatnya senyawa metabolit
sekunder pada daun kelor. Metanol merupakan pelarut universal yang memiliki
gugus polar (-OH) dan gugus nonpolar (-CH3) sehingga dapat menarik analit-
analit yang bersifat polar dan nonpolar, sehingga semua kandungan kimia yang
terdapat di dalam daun kelor akan tertarik oleh metanol. Metanol dapat menarik
alkaloid, steroid, saponin, dan flavonoid dari tanaman. Ketika serbuk daun kelor
ditambahkan dengan metanol hasilnya larutan berwarna hijau tua. Kemudian
dipanaskan selama 1 menit. Fungsi pemanasan adalah untuk mempercepat
jalannya reaksi antara serbuk daun kelor yang direndam di dalam metanol. Lalu
larutan yang sudah dipanaskan selama 1 menit disaring menggunakan corong
dan kertas saring. Sehingga dihasilkan filtrat berwarna coklat muda dan residu
berwarna coklat. Kemudian filtrat yang berwarna coklat muda dipekatkan dengan
cara diuapkan diatas penangas air. Fungsinya yaitu untuk memperlambat proses
pengendapan, sehingga filtrat yang dihasilkan akan stabil. Ketika filtrat sudah
mengental berwarna kuning kecoklatan, maka filtrat dari rimpang kunyit putih
tersebut sudah dapat digunakan untuk uji fitokimia.

Persamaan reaksinya:
2. Identifikasi Alkaloid dengan Metode Culvenor Fitzgerald
Pada percobaan identifikasi alkaloid dengan metode Colvenor-Fitzgerald ini
bertujuan untuk mengidentifikasi adanya kandungan alkaloid dalam rimpang kunyit
putih dan daun kelor. Senyawa alkaloid merupakan senyawa organik terbanyak yang
ditemukan di alam. Senyawa ini biasanya ditemukan pada daun-daunan yang
memiliki rasa pahit. Hampir semua alkaloid yang ditemukan di alam mempunyai
keaktifan biologis tertentu, ada yang sangat beracun tetapi ada juga yang sangat
berguna dalam pengobatan, misalnya kuinin, morfin, dan stiknin adalah alkaloida
yang terkenal dan mempunyai efek fisiologis serta psikologis.
Fungsi senyawa alkaloid bagi tumbuhan adalah sebagai zat racun untuk melawan
serangga atau hewan pemakan tanaman dan sebagai faktor pengaruh pertumbuhan.
Identifikasi alkaloid ini dilakukan dengan menggunakan metode Colvenor-
Fitzgerald yaitu dengan menggunakan reagen meyer, reagen wagner, dan reagen
dragendorff, reagen-reagen tersebut berfungsi untuk mengidentifikasi senyawa-
senyawa metabolit sekunder. Hal yang dilakukan adalah :
a. Identifikasi Alkaloid pada rimpang kunyit putih dengan metode culvenor fitzgerald.
Hal yang harus dilakukan yaitu menimbang sampel kunyit putih yang berwarna
kuning kecoklatan sebanyak 1 mL dengan menggunakan neraca ohaus. Kemudian
ditambahkan dengan 1 mL kloroform tidak berwarna larutan menjadi berwarna
jingga kekuningan dan larutan memisah. Lalu ditambahkan 1 mL larutan ammonia
tidak berwarna larutan terbentuk 2 lapisan, lapisan atas berwarna kuning sedangkan
larutan bawah berwarna jingga tua. Fungsi penambahan kloroform dan ammonia
yaitu, pada kloroform bertujuan untuk mengambil atau melarutkan senyawa yang
ada di dalam daun tersebut dan kemudian diekstraksi dengan kloroform amoniakal.
Proses ekstraksi dengan kloroform amoniakal ini bertujuan untuk memutuskan
ikatan antara asam tanin dan alkaloid yang terikat secara ionik dimana atom N dari
alkaloid berikatan silang stabil dengan gugus hidroksifenolik dari asam tanin
tersebut. Dengan terputusnya ikatan tersebut alkaloid akan bebas sedangkan asam
tanin akan terikat pada kloroform amoniakal. kemudian dipanaskan diatas penangas,
fungsinya pemanasan yaitu untuk mempercepat reaksi. Kemudian di saring
menggunakan kertas saring, tujuannya untuk menyaring antara filtrat dan residu.
Dihasilkan filtrat berwarna kuning muda dan residu berwarna coklat muda.
Kemudian filtrat yang berwarna kuning muda didistribusikan kedalam 3 tabung
reaksi yang telah diberi label I, II, dan III.
Pada tabung pertama ditambahkan 3 tetes H2SO4 2 N tidak berwarna sebanyak 3
tetes, sehingga larutan menjadi kuning kecoklatan. Penambahan asam sulfat 2 N ini
mengakibatkan larutan terbentuk menjadi 2 fase karena adanya perbedaan tingkat
kepolaran antara fase aquades yang polar dan kloroform yang relatif kurang polar.
Garam alkaloid akan larut pada lapisan atas (fasa aquades), sedangkan lapisan
kloroform berada pada lapisan bawah karena memiliki massa jenis yang lebih besar.
Proses pengadukan disini dimaksudkan untuk melarutkan senyawa-senyawa pada
tiap-tiap lapisan secara cepat dan sempurna. Lalu dikocok dan didiamkan beberapa
menit hingga larutan terpisah menjadi 2 bagian. Setelah terpisah menjadi dua
diambil larutan bagian atas untuk diuji dengan pereaksi meyer tidak berwarna
sehingga larutan menjadi endapan jingga dan larutan jingga. Fungsi penambahan
pereaksi meyer yaitu untuk mendeteksi alkaloid, dimana pereaksi ini akan berikatan
dengan alkaloid melalui ikatan koordinasi antara atom N alkaloid dengan Hg
pereaksi meyer sehingga menghasilkan senyawa kompleks merkuri yang non polar
yang mengendap berwarna putih kekuningan.
Persamaan reaksinya:

4 KI + HgCl2 HgI2 + 2KCl

Tabel hasil perbandingan (+) dan (-) dari Alkaloid yang terkandung dalam rimpang
kunyit putih pada percobaan kami
Pengujian Pereaksi Hasil kesimpulan
Larutan berwarna
merah
Reagen Mayer +
kecoklat
Alkaloid
an
Reagen Larutan berwarna
+
Wagner merah
kecoklat
an dan
terbentuk
endapan
coklat
Larutan
Reagen berwarna
Dragendo merah +
orff kecoklat
an

Pada tabung kedua ditambahkan 3 tetes H2SO4 2 N tidak berwarna sebanyak 3


tetes, sehingga larutan menjadi kuning kecoklatan. Fungsi penambahan H2SO4 yaitu
untuk Penambahan asam sulfat 2 N ini mengakibatkan larutan terbentuk menjadi 2
fase karena adanya perbedaan tingkat kepolaran antara fase aquades yang polar dan
kloroform yang relatif kurang polar. Garam alkaloid akan larut pada lapisan atas
(fasa aquades), sedangkan lapisan kloroform berada pada lapisan bawah karena
memiliki massa jenis yang lebih besar. Proses pengadukan disini dimaksudkan untuk
melarutkan senyawa-senyawa pada tiap-tiap lapisan secara cepat dan sempurna. Lalu
dikocok dan didiamkan beberapa menit hingga larutan terpisah menjadi 2 bagian.
Setelah terpisah menjadi dua diambil larutan bagian atas untuk diuji dengan pereaksi
wagner berwarna jingga sehingga larutan menjadi merah kecoklatan. Fungsi
penambahan pereaksi wagner yaitu untuk mendeteksi alkaloid dengan ditandai
terbentuknya endapan coklat muda sampai kuning. Diperkirakan endapan tersebut
adalah kalium-alkaloid. Pada pembuatan pereaksi Wagner, iodin bereaksi dengan
ion I- dari kalium iodide menghasilkan ion I3- yang berwarna coklat. Pada uji
Wagner, ion logam K+ akan membentuk ikatan kovalen koordinat dengan nitrogen
pada alkaloid membentuk kompleks kalium-alkaloid yang mengendap berwarna
coklat.
Persamaan reaksinya:
I2 + I- I3-
Tabel hasil perbandingan (+) dan (-) dari Alkaloid yang terkandung dalam rimpang
kunyit putih pada percobaan kami
Pengujian Pereaksi Hasil kesimpulan
Larutan berwarna
merah
Reagen Mayer +
kecoklat
an
Larutan berwarna
merah
kecoklat
Reagen
an dan +
Alkaloid Wagner
terbentuk
endapan
coklat
Larutan
Reagen berwarna
Dragendo merah +
orff kecoklat
an

Pada tabung ketiga ditambahkan 3 tetes H2SO4 2 N tidak berwarna sebanyak 3


tetes, sehingga larutan menjadi kuning kecoklatan. Penambahan asam sulfat 2 N ini
mengakibatkan larutan terbentuk menjadi 2 fase karena adanya perbedaan tingkat
kepolaran antara fase aquades yang polar dan kloroform yang relatif kurang polar.
Garam alkaloid akan larut pada lapisan atas (fasa aquades), sedangkan lapisan
kloroform berada pada lapisan bawah karena memiliki massa jenis yang lebih besar.
Proses pengadukan disini dimaksudkan untuk melarutkan senyawa-senyawa pada
tiap-tiap lapisan secara cepat dan sempurna. Lalu dikocok dan didiamkan beberapa
menit hingga larutan terpisah menjadi 2 bagian. Setelah terpisah menjadi dua
diambil larutan bagian atas untuk diuji dengan pereaksi dragendrof berwarna jingga
(++) sehingga larutan menjadi berwarna jingga. pada uji Dragendorff ditandai
dengan terbentuknya endapan coklat muda sampai kuning. Endapan tersebut adalah
kalium-alkaloid. Pada pembuatan pereaksi Dragendorff, bismut nitrat dilarutkan
dalam HCl agar tidak terjadi reaksi hidrolisis karena garam-garam bismut mudah
terhidrolisis membentuk ion bismutil (BiO+). Agar ion Bi3+ tetap berada dalam
larutan, maka larutan itu ditambah asam sehingga kesetimbangan akan bergeser ke
arah kiri. Selanjutnya ion Bi3+ dari bismut nitrat bereaksi dengan kalium iodide
membentuk endapan hitam Bismut(III) iodida yang kemudian melarut dalam kalium
iodida berlebih membentuk kalium tetraiodobismutat. Pada uji alkaloid dengan
pereaksi Dragendorff, nitrogen digunakan untuk membentuk ikatan kovalen
koordinat dengan K+ yang merupakan ion logam.
Persamaan reaksinya:

Tabel hasil perbandingan (+) dan (-) dari Alkaloid yang terkandung dalam rimpang
kunyit putih pada percobaan kami
Pengujian Pereaksi Hasil kesimpulan
Larutan berwarna
merah
kecoklat
Reagen Mayer an +

Alkaloid
Larutan berwarna
merah
kecoklat
Reagen
an dan +
Wagner
terbentuk
endapan
coklat
Larutan
Reagen berwarna
Dragendo merah +
orff kecoklat
an

b. Identifikasi Alkaloid pada rimpang daun kelor dengan metode culvenor fitzgerald.
Hal yang harus dilakukan yaitu menimbang sampel daun kelor yang berwarna hijau
tua sebanyak 1 mL dengan menggunakan neraca ohaus. Kemudian ditambahkan
dengan 1 mL kloroform tidak berwarna larutan menjadi berwarna hijau. Lalu
ditambahkan 1 mL larutan ammonia tidak berwarna larutan terbentuk 2 lapisan,
lapisan atas berwarna kuning sedangkan larutan bawah berwarna hijau. Fungsi
penambahan kloroform dan ammonia yaitu, pada kloroform bertujuan untuk
mengambil atau melarutkan senyawa yang ada di dalam daun tersebut dan kemudian
diekstraksi dengan kloroform amoniakal. Proses ekstraksi dengan kloroform
amoniakal ini bertujuan untuk memutuskan ikatan antara asam tanin dan alkaloid
yang terikat secara ionik dimana atom N dari alkaloid berikatan silang stabil dengan
gugus hidroksifenolik dari asam tanin tersebut. Dengan terputusnya ikatan tersebut
alkaloid akan bebas sedangkan asam tanin akan terikat pada kloroform amoniakal.
Kemudian dipanaskan diatas penangas, fungsinya pemanasan yaitu untuk
mempercepat reaksi. Kemudian di saring menggunakan kertas saring, tujuannya
untuk menyaring antara filtrat dan residu. Dihasilkan filtrat berwarna hijau dan
residu berwarna hijau tua. Kemudian filtrat yang berwarna hijau didistribusikan
kedalam 3 tabung reaksi yang telah diberi label I, II, dan III.
Pada tabung pertama ditambahkan 3 tetes H2SO4 2 N tidak berwarna sebanyak
3 tetes, sehingga larutan menjadi Hijau kehitaman. Penambahan asam sulfat 2 N ini
mengakibatkan larutan terbentuk menjadi 2 fase karena adanya perbedaan tingkat
kepolaran antara fase aquades yang polar dan kloroform yang relatif kurang polar.
Garam alkaloid akan larut pada lapisan atas (fasa aquades), sedangkan lapisan
kloroform berada pada lapisan bawah karena memiliki massa jenis yang lebih besar.
Proses pengadukan disini dimaksudkan untuk melarutkan senyawa-senyawa pada
tiap-tiap lapisan secara cepat dan sempurna. Lalu dikocok dan didiamkan beberapa
menit hingga larutan terpisah menjadi 2 bagian. Setelah terpisah menjadi dua
diambil larutan bagian atas untuk diuji dengan pereaksi meyer tidak berwarna
sehingga larutan menjadi kuning jernih. Fungsi penambahan pereaksi meyer yaitu
untuk mendeteksi alkaloid, dimana pereaksi ini akan berikatan dengan alkaloid
melalui ikatan koordinasi antara atom N alkaloid dengan Hg pereaksi meyer
sehingga menghasilkan senyawa kompleks merkuri yang non polar yang mengendap
berwarna putih kekuningan.
Persamaan reaksinya

4 KI + HgCl2 HgI2 + 2KCl

Tabel hasil perbandingan (+) dan (-) dari Alkaloid yang terkandung dalam daun
kelor pada percobaan kami
Pengujian Pereaksi Hasil kesimpulan
Larutan berwarna
Reagen Mayer merah -
kecoklatan
Larutan berwarna
merah
kecoklatan
Reagen Wagner +
Alkaloid dan terbentuk
endapan
coklat
Larutan
Reagen berwarna
-
Dragendoorff merah
kecoklatan
Pada tabung kedua ditambahkan 3 tetes H2SO4 2 N tidak berwarna sebanyak 3
tetes, sehingga larutan menjadi Hijau kehitaman. Penambahan asam sulfat 2 N ini
mengakibatkan larutan terbentuk menjadi 2 fase karena adanya perbedaan tingkat
kepolaran antara fase aquades yang polar dan kloroform yang relatif kurang polar.
Garam alkaloid akan larut pada lapisan atas (fasa aquades), sedangkan lapisan
kloroform berada pada lapisan bawah karena memiliki massa jenis yang lebih besar.
Proses pengadukan disini dimaksudkan untuk melarutkan senyawa-senyawa pada
tiap-tiap lapisan secara cepat dan sempurna. Lalu dikocok dan didiamkan beberapa
menit hingga larutan terpisah menjadi 2 bagian. Setelah terpisah menjadi dua
diambil larutan bagian atas untuk diuji dengan pereaksi meyer tidak berwarna
sehingga larutan menjadi merah kecoklatan Fungsi penambahan pereaksi wagner
yaitu untuk mendeteksi alkaloid dengan ditandai terbentuknya endapan coklat muda
sampai kuning. Diperkirakan endapan tersebut adalah kalium-alkaloid. Pada
pembuatan pereaksi Wagner, iodin bereaksi dengan ion I- dari kalium iodide
menghasilkan ion I3- yang berwarna coklat. Pada uji Wagner, ion logam K+ akan
membentuk ikatan kovalen koordinat dengan nitrogen pada alkaloid membentuk
kompleks kalium-alkaloid yang mengendap berwarna coklat.
Persamaan reaksinya:
I2 + I- I3-

Tabel hasil perbandingan (+) dan (-) dari Alkaloid yang terkandung dalam daun
kelor pada percobaan kami
Pengujian Pereaksi Hasil kesimpulan
Larutan berwarna
Reagen Mayer merah -
kecoklatan
Larutan berwarna
Alkaloid merah
kecoklatan
Reagen Wagner +
dan terbentuk
endapan
coklat
Larutan
Reagen berwarna
-
Dragendoorff merah
kecoklatan

Pada tabung ketiga ditambahkan 3 tetes H2SO4 2 N tidak berwarna sebanyak 3


tetes, sehingga larutan menjadi Hijau kehitaman. Penambahan asam sulfat 2 N ini
mengakibatkan larutan terbentuk menjadi 2 fase karena adanya perbedaan tingkat
kepolaran antara fase aquades yang polar dan kloroform yang relatif kurang polar.
Garam alkaloid akan larut pada lapisan atas (fasa aquades), sedangkan lapisan
kloroform berada pada lapisan bawah karena memiliki massa jenis yang lebih besar.
Proses pengadukan disini dimaksudkan untuk melarutkan senyawa-senyawa pada
tiap-tiap lapisan secara cepat dan sempurna.. lalu dikocok dan didiamkan beberapa
menit hingga larutan terpisah menjadi 2 bagian. Setelah terpisah menjadi dua
diambil larutan bagian atas untuk diuji dengan pereaksi meyer tidak berwarna
sehingga larutan menjadi larutan jingga. pada uji Dragendorff ditandai dengan
terbentuknya endapan coklat muda sampai kuning. Endapan tersebut adalah kalium-
alkaloid. Pada pembuatan pereaksi Dragendorff, bismut nitrat dilarutkan dalam HCl
agar tidak terjadi reaksi hidrolisis karena garam-garam bismut mudah terhidrolisis
membentuk ion bismutil (BiO+). Agar ion Bi3+ tetap berada dalam larutan, maka
larutan itu ditambah asam sehingga kesetimbangan akan bergeser ke arah kiri.
Selanjutnya ion Bi3+ dari bismut nitrat bereaksi dengan kalium iodide membentuk
endapan hitam Bismut(III) iodida yang kemudian melarut dalam kalium iodida
berlebih membentuk kalium tetraiodobismutat. Pada uji alkaloid dengan pereaksi
Dragendorff, nitrogen digunakan untuk membentuk ikatan kovalen koordinat dengan
K+ yang merupakan ion logam.
Persamaan reaksinya:
Tabel hasil perbandingan (+) dan (-) dari Alkaloid yang terkandung dalam daun
kelor pada percobaan kami
Pengujian Pereaksi Hasil kesimpulan
Larutan berwarna
Reagen Mayer merah -
kecoklatan
Larutan berwarna
merah
kecoklatan
Reagen Wagner +
Alkaloid dan terbentuk
endapan
coklat
Larutan
Reagen berwarna
-
Dragendoorff merah
kecoklatan

3. Identifikasi Flavonoid
a. Sampel Kunyit Putih
Pada percobaan ketiga ini bertujuan untuk mengidentifikasi komponen
kimia yaitu flavonoid yang terkandung pada sampel. Flavonoid adalah suatu
kelompok senyawa fenol yang terbesar yang ditemukan di alam. Senyawa-
senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu, biru, dan kuning yang ditemukan
banyak dalam tumbuh-tumbuhan. Sebagian besar flavonoid yang terdapat pada
tumbuhan terikat pada molekul gula sebagai glikosida, dan dalam bentuk
campuran, serta jarang sekali dijumpai berupa senyawa tunggal. Misalnya
antosianin dalam mahkota bunga yang berwarna merah, hampir selalu ditemukan
mengandung senywa flavon atau flavonol yang tak berwarna (Tim Kimia
Organik, 2017 : 43).
Langkah pertama yang dilakukan yaitu memasukkan sampel sebanyak 1
mL ke dalam tabung reaksi. Sampel kunyit putih berwarna kuning kecoklatan.
Kemudian sampel tersebut ditambahkan 3 mL etanol 70%. Penambahan etanol ini
berfungsi untuk mengekstrak senyawa tertentu yang ada dalam sampel misalnya
senyawa flavonoid. Setelah ditambahkan etanol larutan sampel menjadi lebih
jernih karena lebih encer dari yang sebelumnya. Setelah itu campuran dikocok dan
dipanaskan di atas penangas. Setelah dipanaskan, campuran larutan dikocok untuk
mempercepat larutan menjadi homogen dan kemudian disaring.
Setelah proses penyaringan diperoleh filtrat dan residu. Filtrat yang
diperoleh ditambahkan dengan 0,1 gram Mg yang berupa serbuk putih. Setelah
ditambahkan Mg, Mg tidak dapat larut dan mengendap pada dasar tabung.
Kemudian ditambahkan 2 tetes HCl yang tidak berwarna. Setelah ditambahkan
HCl pekat, timbul gelembung-gelembung pada campuran larutan. Penambahan
HCl berfungsi untuk melarutkan logam Mg, sehingga dalam larutan tersebut
terbentuk senyawa MgCl2 dan gas H2 dengan reaksi sebagai berikut.
Mg (s) + 2HCl (aq) MgCl2 (aq) + H2 (g)
Senyawa MgCl2 dan gas H2 inilah yang nantinya akan bereaksi dengan
flavonoid yang terkandung dalam sampel kunyit putih (jika ada) menghasilkan
senyawa kompleks dengan Mg yang ditunjukkan dengan terbentuknya warna
kuning pekat pada lapisan etanol. Fungsi penambahan Mg dan HCl pekat yaitu
untuk mereduksi inti benzopiron yang terdapat pada struktur flavonoid sehingga
dapat berikatan dengan Mg. Hal ini menunjukkan bahwa sampel kunyit putih
positif mengandung senyawa flavonoid. Reaksi yang terjadi adalah sebagai
berikut.

+ 2H2 + 5H+

+ MgCl2 +Cl-
b. Sampel Daun Kelor
Pada percobaan ketiga ini bertujuan untuk mengidentifikasi komponen
kimia yaitu flavonoid yang terkandung pada sampel daun kelor. Flavonoid adalah
suatu kelompok senyawa fenol yang terbesar yang ditemukan di alam. Senyawa-
senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu, biru, dan kuning yang ditemukan
banyak dalam tumbuh-tumbuhan. Sebagian besar flavonoid yang terdapat pada
tumbuhan terikat pada molekul gula sebagai glikosida, dan dalam bentuk
campuran, serta jarang sekali dijumpai berupa senyawa tunggal. Misalnya
antosianin dalam mahkota bunga yang berwarna merah, hampir selalu ditemukan
mengandung senywa flavon atau flavonol yang tak berwarna.
Langkah pertama yang dilakukan yaitu memasukkan sampel sebanyak 1
mL ke dalam tabung reaksi. Sampel daun kelor berwarna hijau tua. Kemudian
sampel tersebut ditambahkan 3 mL etanol 70%. Penambahan etanol ini berfungsi
untuk mengekstrak senyawa tertentu yang ada dalam sampel misalnya senyawa
flavonoid. Setelah ditambahkan etanol larutan sampel menjadi lebih jernih karena
lebih encer dari yang sebelumnya. Setelah itu campuran dikocok dan dipanaskan
di atas penangas. Setelah dipanaskan, campuran larutan dikocok untuk
mempercepat larutan menjadi homogen dan kemudian disaring.
Setelah proses penyaringan diperoleh filtrat dan residu. Filtrat yang
diperoleh ditambahkan dengan 0,1 gram Mg yang berupa serbuk putih. Setelah
ditambahkan Mg, Mg tidak dapat larut dan mengendap pada dasar tabung.
Kemudian ditambahkan 2 tetes HCl yang tidak berwarna. Setelah ditambahkan
HCl pekat, timbul gelembung-gelembung pada campuran larutan. Penambahan
HCl berfungsi untuk melarutkan logam Mg, sehingga dalam larutan tersebut
terbentuk senyawa MgCl2 dan gas H2 dengan reaksi sebagai berikut.
Mg (s) + 2HCl (aq) MgCl2 (aq) + H2 (g)
Senyawa MgCl2 dan gas H2 inilah yang nantinya akan bereaksi dengan
flavonoid yang terkandung dalam sampel daun kelor (jika ada) menghasilkan
senyawa kompleks dengan Mg yang ditunjukkan dengan terbentuknya warna
hijau pekat pada lapisan etanol. Fungsi penambahan Mg dan HCl pekat yaitu
untuk mereduksi inti benzopiron yang terdapat pada struktur flavonoid sehingga
dapat berikatan dengan Mg. Hal ini menunjukkan bahwa sampel daun kelor positif
mengandung senyawa flavonoid. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.
+ 2H2 + 5H+

+ MgCl2 +Cl-

4. Identifikasi Saponin
a. Sampel Kunyit Putih
Pada percobaan ketiga ini bertujuan untuk mengidentifikasi komponen
kimia yaitu saponin yang terkandung pada sampel. Menurut Tim 2017, saponin
merupakan senyawa glikosida kompleks hasil kondensasi suatu gula dengan suatu
senyawa hidroksil organik yang apabila dihidrolisis akan menghasilkan gula
(glikon) dan non-gula (aglikon) serta busa. Saponin ini terdiri dari dua kelompok:
saponin triterpenoid dan saponin steroid.
Langkah pertama yang dilakukan yaitu memasukkan sampel sebanyak
1mL ke dalam tabung reaksi. Sampel kunyit putih berwarna kuning kecoklatan.
Kemudian sampel tersebut ditambahkan 3 mL aquades agar sampel tidak cepat
menguap ketika dipanaskan. Sampel dipanaskan dengan 5 mL air dalam penangas
selama 10 menit. Setelah proses pemanasan sampel tidak mengalami perubahan
yaitu tetap berwarna kuning kecoklatan.
Setelah itu larutan dikocok dan didiamkan selama 1,5 menit. Ketika larutan
dikocok tidak terdapat busa. Hal ini menandakan uji identifikasi saponin negative
pada sampel kunyit putih karena apabila terdapat kandungan kimia saponin ketika
sampel dikocok akan terdapat buih yang stabil. Hasil uji fitokimia dipengaruhi
oleh beberapa faktor antara lain yaitu pelarut yang digunakan, suhu/perlakuan,
konsentrasi, dan lokasi tumbuhnya tanaman tersebut.
Timbulnya busa pada uji identifikasi saponin menunjukkan adanya
glikosida yang mempunyai kemampuan membentuk buih dalam air yang
terhidrolisis menjadi glukosa dan senyawa lainnya sesuai dengan reaksi di bawah
ini.

b. Sampel Daun Kelor


Pada percobaan ketiga ini bertujuan untuk mengidentifikasi komponen
kimia yaitu saponin yang terkandung pada sampel. Menurut Tim 2017, saponin
merupakan senyawa glikosida kompleks hasil kondensasi suatu gula dengan suatu
senyawa hidroksil organik yang apabila dihidrolisis akan menghasilkan gula
(glikon) dan non-gula (aglikon) serta busa. Saponin ini terdiri dari dua kelompok:
saponin triterpenoid dan saponin steroid.
Langkah pertama yang dilakukan yaitu memasukkan sampel sebanyak
1mL ke dalam tabung reaksi. Sampel daun kelor berwarna hijau tua. Kemudian
sampel tersebut ditambahkan 3 mL aquades agar sampel tidak cepat menguap
ketika dipanaskan. Sampel dipanaskan dengan 5 mL air dalam penangas selama
10 menit. Setelah proses pemanasan sampel tidak mengalami perubahan yaitu
tetap berwarna hijau tua.
Setelah itu larutan dikocok dan didiamkan selama 1,5 menit. Ketika larutan
dikocok tidak terdapat busa. Hal ini menandakan uji identifikasi saponin negative
pada sampel daun kelor karena apabila terdapat kandungan kimia saponin ketika
sampel dikocok akan terdapat buih yang stabil. Hasil uji fitokimia dipengaruhi
oleh beberapa faktor antara lain yaitu pelarut yang digunakan, suhu/perlakuan,
konsentrasi, dan lokasi tumbuhnya tanaman tersebut.
Timbulnya busa pada uji identifikasi saponin menunjukkan adanya
glikosida yang mempunyai kemampuan membentuk buih dalam air yang
terhidrolisis menjadi glukosa dan senyawa lainnya sesuai dengan reaksi di bawah
ini.
5. Identifikasi Steroid
a. Sampel Kunyit Putih
Pada percobaan ketiga ini bertujuan untuk mengidentifikasi komponen
kimia yaitu steroid yang terkandung pada sampel.
Langkah pertama yang dilakukan yaitu memasukkan sampel sebanyak
1mL ke dalam tabung reaksi. Sampel kunyit putih berwarna kuning kecoklatan.
Kemudian sampel tersebut ditambahkan 3 mL etanol 70%. Penambahan etanol ini
berfungsi untuk mengekstrak senyawa tertentu yang ada dalam sampel misalnya
senyawa flavonoid. Setelah ditambahkan etanol larutan sampel menjadi lebih
jernih karena lebih encer dari yang sebelumnya.
Setelah itu campuran larutan ditambahkan 2 mL H2SO4 pekat (tidak
berwarna). Ketika campuran larutan ditambahkan H2SO4 pekat larutan berubah
menjadi terbentuk dua lapisan, yaitu lapisan atas berwarna coklat dan lapisan
bawah berwarna merah gelap. Hal ini terjadi karena oksidasi pada golongan
senyawa steroid melalui pembentukan ikatan rangkap terkonjugasi. Pada reaksi
ditunjukkan bahwa terjadi kondensasi atau pelepasan H2O dan penggabungan
karbokation. Reaksi ini diawalai dengan proses asetilasi gugus hidroksil
menggunakan asam asetat anhidrida. Gugus asetil yang merupakan gugus pergi
yang baik akan lepas, sehingga terbentuk ikatan rangkap. Selanjutnya terjadi
pelepasan gugus hydrogen beserta elektronnya, mengakibatkan ikatan rangkap
berpindah. Senyawa ini mengalami resonansi yang bertindak sebagai elektrofil
atau karbokation. Serangan karbokation menyebabkan adisi elektrofilik, diikuti
dengan pelepasan hydrogen. Kemudian gugus hydrogen beserta elektronnya
dilepas akibatnya senyawa mengalami perpanjangan konjugasi yang
memperlihatkan munculnya perubahan warna yaitu larutan berubah menjadi
terbentuk dua lapisan, yaitu lapisan atas berwarna coklat dan lapisan bawah
berwarna merah gelap Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.
b. Sampel Daun Kelor

Pada percobaan ketiga ini bertujuan untuk mengidentifikasi komponen


kimia yaitu steroid yang terkandung pada sampel.
Langkah pertama yang dilakukan yaitu memasukkan sampel sebanyak
1mL ke dalam tabung reaksi. Sampel daun kelor berwarna hijau tua. Kemudian
sampel tersebut ditambahkan 3 mL etanol 70 Penambahan etanol ini berfungsi
untuk mengekstrak senyawa tertentu yang ada dalam sampel misalnya senyawa
flavonoid. Setelah ditambahkan etanol larutan sampel menjadi lebih jernih karena
lebih encer dari yang sebelumnya.
Setelah itu campuran larutan ditambahkan 2 mL H2SO4 pekat (tidak
berwarna). Ketika campuran larutan ditambahkan H2SO4 pekat larutan berubah
menjadi lebih pekat (kehitaman). Hal ini terjadi karena oksidasi pada golongan
senyawa steroid melalui pembentukan ikatan rangkap terkonjugasi. Pada reaksi
ditunjukkan bahwa terjadi kondensasi atau pelepasan H2O dan penggabungan
karbokation. Reaksi ini diawalai dengan proses asetilasi gugus hidroksil
menggunakan asam asetat anhidrida. Gugus asetil yang merupakan gugus pergi
yang baik akan lepas, sehingga terbentuk ikatan rangkap. Selanjutnya terjadi
pelepasan gugus hydrogen beserta elektronnya, mengakibatkan ikatan rangkap
berpindah. Senyawa ini mengalami resonansi yang bertindak sebagai elektrofil
atau karbokation. Serangan karbokation menyebabkan adisi elektrofilik, diikuti
dengan pelepasan hydrogen. Kemudian gugus hydrogen beserta elektronnya
dilepas akibatnya senyawa mengalami perpanjangan konjugasi yang
memperlihatkan munculnya perubahan warna yaitu lebih pekat (kehitaman).
Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.

6. Identifikasi Triterpenoid
Pada percobaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa triterpenoid
pada rimpang kunyit putih dan daun kelor.
Identifikasi triterpenoid pada rimpang kunyit putih
Pada percobaan ini diawali dengan memasukkan 1 mL sampel ekstrak kunyit
putih yang berwarna kuning kemudian ditambahkan 2 mL larutan kloroform yang
tidak berwarna, campuran ini menghasilkan larutan berwarna kuning. Penambahan
kloroform berfungsi untuk melarutkan triterpenoid yang mudah larut dalam senyawa
organik. Kemudian ditambahkan larutan H2SO4 pekat yang tidak berwarna melalui
dinding tabung sehingga dihasilkan larutan berwarna merah kecoklatan pada antar
permukaan. Penambahan H2SO4 pekat ini berfungsi untuk mereduksi triterpenoid
sehingga merubah warna larutan menjadi berwarna merah kecoklatan. Hasil
percobaan menghasilkan larutan berwarna merah kecoklatan, hal ini menujukkan
bahwa sampel positif mengandung senyawa triterpenoid. Secara teori adanya
kandungan senyawa triterpenoid ditandai dengan terbentuknya larutan yang berwarna
merah kecoklatan. Perubahan warna tersebut dikarenakan terjadinya oksidasi pada
golongan senyawa triterpenoid melalui pembentukan ikatan rangkap terkonjugasi.
Prinsip reaksi dalam uji triterpenoid adalah kondensasi atau pelepasa H2O dan
penggabungan karbokation. Reaksi ini diawali dengan proses asetilasi gugus hidroksil
menggunakan asam sulfat. Gugus asetil yang merupakan gugus pergi yang baik akan
lepas, sehingga terbentuk ikatan rangkap. Selanjutnya terjadi pelepasan gugus
hidrogen beserta elektronnya, mengakibatkan ikatan rangkap berpindah. Senyawa ini
mengalami resonansi yang bertindak sebagai elektrofil atau karbokation menyebabkan
adisi elektrofilik, diikuti dengan pelepasan hidrogen. Kemudian gugus hidrogen
beserta elektronnya dilepas akibat senyawanya mengalami perpanjangan konjugasi
yang memperlihatkan munculnya cincin coklat.
Reaksinya adalah adalah sebagai berikut :

Identifikasi triterpenoid pada ekstrak daun kelor


Percobaan ini diawali dengan memasukkan 1 mL sampel ekstrak daun kelor
yang berwarna hijau tua kemudian ditambahkan 2 mL larutan kloroform yang tidak
berwarna, campuran ini menghasilkan larutan berwarna hijau kecoklatan.
Penambahan kloroform berfungsi untuk melarutkan triterpenoid yang mudah larut
dalam senyawa organik. Kemudian ditambahkan larutan H2SO4 pekat yang tidak
berwarna melalui dinding tabung sehingga dihasilkan warna menjadi hijau keunguan.
Penambahan H2SO4 pekat ini berfungsi untuk mereduksi triterpenoid sehingga
merubah warna larutan menjadi hijau keunguan. Hasil percobaan menghasilkan
larutan berwarna hijau keunguan, hal ini menujukkan bahwa sampel mengandung
senyawa triterpenoid. Secara teori adanya kandungan senyawa triterpenoid ditandai
dengan terbentuknya larutan yang berwarna hijau keunguan. Triterpenoid adalah
senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan isopropena dan secara
biosintesis diturunkan dari hidrokarbon asiklik, yaitu skualena. Senyawa ini
berstruktur siklik yang rumit, kebanyakan berupa alkohol, aldehida, atau asam
karboksilat. Senyawa tersebut merupakan senyawa tanpa warna berbentuk kristal,
seringkali bertitik leleh tinggi dan aktif optik, yang umumnya sukar dicirikan karena
tidak ada kereaktifan kimianya. Senyawa triterpenoid pada tumbuhan berfungsi
sebagai pertahanan terhadap serangga pengganggu dan faktor pengaruh pertumbuhan.
Uji yang banyak digunakan adalah reaksi Lieberman-Burchard (anhidrida asetat
H2SO4 pekat) yang kebanyakan triterpena dan sterol jika terjadi perubahan warna
hijau-biru menunjukkan positif steroida dan jika perubahan warna merah-ungu, coklat
menunjukkan triterpenoida. Reaksinya adalah adalah sebagai berikut :

7. Identifikasi Tannin
Pada percobaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya senyawa tannin pada
sampel ekstrak kunyit putih dan daun kelor.
Sampel Ekstrak Kunyit Putih
Langkah awal adalah dengan memasukkan 1 ml sampel kunyit putih berwarna
kuning kecoklatan ke dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan dengan 20 ml air
menghasilkan larutan berwarna putih keruh. Kemudian larutan dipanaskan dengan
penangas air. Fungsi pemanasan adalah untuk mempercepat terbentuknya endapan.
Namun pada akhir proses pemanasan menghasilkan larutan tetap putih keruh dan
tidak terdapat endapan, maka tidak perlu disaring. Tidak terbentuknya endapan
mungkin dikarenakan pemanasan yang kurang lama sehingga endapan belum sampai
terbentuk. Kemudian larutan direaksikan dengan 2 3 tetes larutan FeCl3 1%
berwarna kuning menghasilkan larutan berwarna tetap yaitu putih keruh. Hal ini
menunjukkan bahwa kunyit putih negatif mengandung tannin karen sesuai teori jika
sampel mengandung tannin akan terbentuk warna coklat kehijaun atau biru
kehitaman. Tujuan penambahan FeCl3 1% adalah untuk merekasikan tannin dengan
ion Fe3+ sehingga membentuk senyawa kompleks. Terbentuknya warna coklat
kehijauan pada ekstrak setelah ditambahkan FeCl3 1% karena tannin akan bereaksi
dengan ion Fe3+ membentuk senyawa kompleks. Berikut reaksinya :
+ FeCl3 (aq)

Sampel ekstrak daun kelor


Langkah awal adalah dengan memasukkan 1 ml sampel ekstrak daun kelor
berwarna hijau ke dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan dengan 5 ml air
menghasilkan larutan berwarna hijau jernih. Kemudian larutan dipanaskan dengan
penangas air. Fungsi pemanasan adalah untuk mempercepat terbentuknya endapan.
Namun pada akhir proses pemanasan menghasilkan larutan hijau jernih dan tidak
terdapat endapan, maka tidak perlu disaring. Tidak terbentuknya endapan mungkin
dikarenakan pemanasan yang kurang lama sehingga endapan belum sampai terbentuk.
Kemudian larutan direaksikan dengan 2 3 tetes larutan FeCl3 1% berwarna kuning
menghasilkan larutan berwarna hijau kecoklatan. Hal ini menunjukkan bahwa daun
kelor positif mengandung tannin karen sesuai teori jika sampel mengandung tannin
akan terbentuk warna coklat kehijaun atau biru kehitaman. Uji fitokimia dengan
menggunakan FeCl3 digunakan untuk menentukan apakah sampel mengandung gugus
fenol. Adanya gugus fenol ditunjukkan dengan warna hijau kehitaman atau biru tua
setelah ditambahkan dengan FeCl3, sehingga apabila uji fitokimia dengan FeCl3
memberikan hasil positif dimungkinkan dalam sampel terdapat senyawa fenol dan
dimungkinkan salah satunya adalah tanin karena tanin merupakan senyawa polifenol.
Hal ini diperkuat oleh Harborne (1987), cara klasik untuk mendeteksi senyawa fenol
sederhana yaitu menambahkan ekstrak dengan larutan FeCl3 1 % dalam air, yang
menimbulkan warna hijau, merah, ungu, biru atau hitam yang kuat. Terbentuknya
warna hijau kehitaman atau biru kehitaman pada ekstrak
setelah ditambahkan dengan FeCl3 karena tanin akan membentuk senyawa kompleks
dengan ion Fe3+.
Senyawa kompleks adalah senyawa yang pembentukannya melibatkan
pembentukan ikatan kovalen koordinasi antara ion logam atau atom logam dengan
atom non logam. Dalam pembentukan senyawa kompleks, atom atau ion logam
disebut sebagai atom pusat, sedangkan atom yang mendonorkan elektronnya ke atom
pusat disebut atom donor. Atom donor terdapat pada suatu ion atau molekul netral.
Ion atau molekul netral yang memiliki atom-atom donor yang dikoordinasikan pada
atom pusat disebut ligan. Suatu molekul dikatakan sebagai ligan jika atomnya
memiliki pasangan elektron bebas, memiliki elektron tak berpasangan, atau atom yang
terikat melalui ikatan .
Tanin merupakan golongan senyawa aktif tumbuhan yang bersifat fenol
mempunyai rasa sepat. Senyawa-senyawa tannin tersebar luas di banyak spesies
tanaman, dan memainkan peran dalam perlindungan dari predasi, dan mungkin juga
sebagai pestisida, dan dalam regulasi pertumbuhan tanaman. Senyawa tannin
berfungsi sebagai antioksidan dan penghambat pertumbuhan tumor. Senyawa tannin
merupakan senyawa polifenol yang berada di tumbuhan, makanan dan minuman
dapat larut dalam air dan pelarut organik. Berikut reaksinya :

+ FeCl3 (aq)
Sumber: Putra, I Wayan dkk. 2016. Identifikasi Senyawa Kimia Ekstrak Etanol Daun Kelor
(Moringa oleifera L) di Bali. Bali. Indonesia Medicus Veterinus. 5(5) : 464-473.

Tabel 1. Hasil Uji Fitokimia kandungan Metabolik Sekunder Ekstrak


Metanol Kunyit Putih

Uji
No. Fitoki Pereaksi kesimpulan
mia

Pereaksi
1. Alkaloid +
Meyer

2. saponin Aquades +

Dipanaskan,
dikocok
3. Flavonoid +
+ HCl
2N
Ditambah
FeCl3
4. Terpenoid Lieberman- -
Burchar
d

5. fenolik FeCl3 -

6. Tannin FeCl3 +
Killer-
7. Glikosida +
Killiani

Sumber : Rasdiana, I Hasanuddin, dan Marning, EKSTRAK KUNYIT PUTIH(Curcuma


petiolata roxb.) DAN KUNYIT KUNING(Curcuma longa) TERHADAP
MORTALITAS LARVAAnopheles sp : UNHAS Makasar.
IX. KESIMPULAN

1. Ekstrak Metanol
- Ekstrak kunyit putih dapat dihasilkan dengan merendam serbuk kunyit putih ke
dalam metanol.
- Ekstrak daun kelor dapat dihasilkan dengan merendam serbuk daun kelor ke
dalam metanol.
2. Uji Alkaloid
- Pada sampel kunyit putih pada uji reagen wegner, reagen meyer, dan reagen
dragendrof dihasilkan uji positif (+).
- Pada sampel daun kelor putih pada uji reagen reagen meyer, dan reagen
dragendrof dihasilkan uji positif (-) sedangkan reagen wegner positif (+)
3. Uji Flavonoid
- Sampel kunyit putih positif (+) mengandung flavonoid karena terdapat
gelembung ketika ditambahkan HCl.
- Sampel daun kelor positif (+) mengandung flavonoid karena terdapat gelembung
ketika ditambahkan HCl.
4. Uji Saponin
- Sampel kunyit putih tidak terdapat busa sehingga sampel negative mengandung
saponin.
- Sampel kunyit putih tidak terdapat busa sehingga sampel negative mengandung
saponin.
5. Identifikasi Steroid
- Sampel kunyit putih mengandung steroid karena warna larutan berubah menjadi
lebih pekat (kehitaman).
- Sampel kunyit putih mengandung steroid karena warna larutan berubah menjadi
lebih pekat (kehitaman).
6. Identifikasi triterpenoid
- Pada sampel kunyit putih positif mengandung triterpenoid
- Pada sampel daun kelor positif mengandung triterpenoid
7. Identifikasi Tannin
- Pada sampel kunyit putih negatif mengandung tannin
- Pada sampel daun kelor positif mengandung triterpenoid
X. JAWABAN PERTANYAAN

1) Tulis secara lengkap reaksi setiap uji fitokimia di atas!


Alkaloid

a. Reagen Meyer

HgCl2 (aq) + 2KI (aq) HgI2 (aq) + 2KCl (aq)


HgI2 (aq) + 2KI (aq) K2[HgI2] (aq)

+ K2[HgI4] (aq) + [HgI4]


NK+
N (aq)
(aq) (s)
Kalium alkaloid
Endapan jingga
b. Reagen Wagner

I2 (aq) + I- (aq) I3 (aq)

+ KI3 (aq) + I3- (aq)


N NK+
(aq) (s)
Kalium alkaloid
Endapan cokelat
c. Reagen Dragendorff

Bi(NO3)3 (aq) + 3KI (aq) BiI3 (aq) + 3KNO3 (aq)


BiI3 (aq) + KI (aq) K[BiI4] (aq)

+ K[BiI4] (aq) + [BiI4] (aq)


N NK+
(aq) (s)
Kalium alkaloid Endapan putih
Flavonoid

Saponin

COOH

COOH
COOH O
O
COOH
OH
O
H2O
O

COOH
O COOH
O
+

(l) (aq) HO (aq)

Steroid
Triterpenoid

Tanin
HO

OH

6
OH

HO

OH

HO
OH
OH
OH
OH
OH

HO HO HO

OH O
HO OH O O + 6H+ + 3Cl-
Fe HO
O OH
O
OH
O
OH
OH OH

HO
OH
HO
HO
OH
OH
(aq)

2) Tulis struktur dasar dari masing-masing kelompok senyawa steroid,


triterpenoid, tanin, saponin, flavonoid, dan alkaloid.
Struktur Alkaloid
Struktur dasar Flavonoid

Gambar : Struktur kerangka dasar senyawa flavonoid (Sumber: Markham,


1988)
Keterangan : Struktur senyawa flavonoid terdiri dari kerangka C6-C3-C6

Struktur dasar Saponin

Strutur Dasar Steroid

Gambar : Kerangka dasar senyawa steroid (Sumber: Robinson, 1995).


Keterangan : Struktur kimia senyawa steroid memiliki 3 cincin sikloheksana
terpadu dan 1 cincin siklopentana yang tergabung pada cincin
sikloheksana tersebut.

Struktur Dasar Triterpenoid

Gambar : Contoh senyawa triterpenoid (Sumber: Robinson, 1995)


Keterangan: Secara umum senyawa triterpenoid terdiri dari unsurunsur C dan H
dengan rumus molekul (C5H8)n.

Struktur Dasar Tanin

Gambar : Struktur kimia tanin (Sumber: Harborne, 1987)


Keterangan: Senyawa tanin merupakan senyawa polifenol yang memiliki
ikatan rangkap dua yang terkonjugasi pada polifenol dan
memiliki gugus OH.

3) Sebutkan senyawa-senyawa flavonoid apa saja yang terdapat pada rimpang


temulawak berdasarkan literatur yang ada.
Dari hasil analisis secara kwantitatif rimpang temulawak kadar pati
merupakan hasil yang tertinggi yaitu sebesar 41,45% yang mempunyai
harapan dikembangkan sebagai bahan baku industri, sedangkan komponen
aktifnya kurkumin 2,24% dan kadar minyak atsiri 3,81%. Analisis kwalitatif
skrining fitokimia terdapat alkaloid, fenolik, flavonoid, triterpennoid dan
glikosida (Eni Hayani, 2006)
4) Sebutkan fungsi dan manfaat rimpang temulawak bagi kehidupan manusia!
Temulawak memiliki khasiat yaitu untuk memperbaiki nafsu makan,
memperbaiki fungsi pencernaan, memelihara fungsi hati, meredakan nyeri
sendi dan tulang, menurunkan lemak darah dan antioksidan. Temulawak dapat
digunakan sebagai obat anti jerawat karena dapat membantu membersihkan
wajah dari bakteri patogen sehingga dapat mengobati radang jerawat. Dalam
hati, zat temulawak merangsang sel hati membuat empedu, mencegah
hepatatis dan penyakit hati, membantu menurunkan kadar SGOT dan SGPT
dan sebagai antihepatotoksik. Selain itu, yang dapat merangsang fungsi
pankreas, menambah selera makan, berkemampuan merangsang perjalanan
sistem hormon metabolisme dan fisiologi tubuh.Akar berbonggol kering dari
tanaman ini digunakan sebagai bahan baku utama produk jamu. Aktivitas
senyawa aktif xanthorizol dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan
bakteri Streptococcus mutans. Senyawa aktif xanthorizol juga memiliki sifat
sebagai antimikroba.
XI. DAFTAR PUSTAKA
Fessenden & Fessenden, 1982. Kimia Organik Edisi ketiga jilid 1 dan 2. Jakarta:
Erlangga.
Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia, Penuntun Cara Modern Menganalisa
Tumbuhan. Bandung: ITB Bandung
Hart H. 2003. Kimia Organik. Erlangga: Jakarta
Matsjeh, S., Hardjono S., dan Respati S., 1996. Kimia Organik II. Yogyakarta: UGM-
Yogyakarta
Moelyono, M.W., 1996. Panduan Praktikum Analisis Fitokimia. Bandung: Universitas
Padjadjaran.
Putra, I Wayan dkk. 2016. Identifikasi Senyawa Kimia Ekstrak Etanol Daun Kelor
(Moringa oleifera L) di Bali. Bali. Indonesia Medicus Veterinus. 5(5) : 464-473.
Rasdiana, I Hasanuddin, dan Marning, EKSTRAK KUNYIT PUTIH(Curcuma petiolata
roxb.) DAN KUNYIT KUNING(Curcuma longa) TERHADAP MORTALITAS
LARVAAnopheles sp : UNHAS Makasar.
Robinson, T., 1991. The Organic Constituen of HigherPlants 6th Edition.
Massachusetts: University of Massachusetts
Tim Dosen Kimia Organik. 2015. Penentuan Praktikum Kimia Organik II. Surabaya:
UNESA Press.