Anda di halaman 1dari 22

LUKA BAKAR

I. PENDAHULUAN
Luka bakar atau combusio adalah suatu bentuk kerusakan dan kehilangan
jaringan disebabkan kontak dengan sumber suhu yang sangat tinggi seperti
koboran api di tubuh (flame), jilitan api ke tubuh (flash), terkena air panas
(scald), tersentuh benda panas (kontak panas), akibat serangan listrik, akibat
bahan-bahan kimia, serta sengatan matahari (sunburn) dan suhu yang sangat
rendah. Luka bakar merupakan cedera yang cukup sering dihadapi para dokter.
Jenis yang berat memperlihatkan morbiditas dan derajat cacat yang relatif tinggi
dibanding dengan cedera oleh sebab lain. Biaya yang dibutuhkan dalam
penangananya pun tinggi. 1,2,3,4
Luka listrik adalah luka yang disebabkan oleh trauma listrik, merupakan
jenis trauma yang disebabkan oleh adanya persentuhan dengan benda yang
memiliki arus listrik, sehingga dapat menimbulkan luka bakar sebagai akibat
berubahnya energy listrik menjadi energi panas. Pada umumnya tanda utama
trauma listrik adalah luka bakar pada listrik. Gambaran makroskopis kerusakan
electrical mark. Luka listrik biasanya dapat diamati dititik masuk (entry point)
maupun titik keluar (exit point). 1,2,3
Trauma termal menimbulkan morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi.
Menguasai prinsip-prinsip dasar resusitasi awal pada penderita trauma dan
menerapkan tindakan sederhana pada saat yang tepat dapat mengurangi
morbiditas dan mortalitas. Prinsip yang dimaksud adalah kewaspadaan yang
tinggi akan terjadinya gangguan jalan napas pada trauma inhalasi, serta
mempertahankan hemodinamik dalam batas normal melalui resusitasi cairan.
Dokter penolong juga harus waspada dalam melaksanakan tindakan untuk
mencegah dan mengobati penyulit trauma termal, seperti misalnya rhabfomiolisis
dan gangguan irama jantung yang sering terjadi pada trauma listrik. Kontrol suhu
tubuh dan menyingkirkan penderita dari lingkungan yang berbahaya juga
merupakan prinsip utama pengelolaan trauma termal. 1,2,3,4

II. EPIDEMIOLOGI

1
Dari laporan American Burn Association 2012 dikatakan bahwa angka
morbiditas 96,1% lebih banyak terjadi pada wanita (69%). Berdasarkan tempat
kejadian, 69 % di rumah tangga dan 9% di tempat kerja, 7% di jalan raya, 5% di
rekreasi atau olahraga 10% dan lain-lain.5
Jumlah kejadian cedara listrik diperkirakan menimbulkan 1000 kematian
pertahun dan sekitar 3000 orang dirawat di rumah sakit di Amerika Serikat.
Diperkirakan 20% kejadian luka listrik terjadi pada anak-anak, jumlah terbanyak
pada usia belita. Pada orang dewasa, kebanyakan kecelakaan luka bakar terjadi di
tempat kerja dan menjadi tempat keempat tertinggi yang mengancam jiwa. Lebih
dari 50% pekerja elektrik mendapat luka dari kabel listrik, dan 25% berasal dari
alat elektrik. 1,3
III. ANATOMI DAN FISIOLOGI KULIT
Kulit merupakan organ terbesar tubuh yang terdiri dari lapisan sel
dipermukaan. Kulit terdiri dari dua lapisan yaitu epidermis dan dermis. Luas kulit
orang dewasa 1.5 m2 dengan berat kira-kira 15% berat badan. Kulit merupakan
organ yang esensial dan vital serta merupakan cermin dari kesehatan dan
kehidupan. Kulit juga sangat sangat kompleks, elastis, dan sensitif, bervariasi pada
keadaan iklim, umur, seks, ras, dan juga bergantung pada lokasi tubuh.7,8
Epidermis merupakan lapisan luar kulit yang utamanya disusun oleh sel-sel
epitel. Sel sel yang terdapat dalam epidermis antara lain: keratinosit (sel
terbanyak pada lapisan epidermis), melanosit, sel merkel dan sel Langerhans.
Epidermis terdiri dari lima lapisan yang paling dalam yaitu stratum basale,
stratum spinosum, stratum granulosum, stratum lucidum dan stratum corneum. 7,8
Dermis merupakan lapisan yang kaya akan serabut saraf, pembuluh darah
dan pembuluh darah limfe. Selain itu, dermis juga tersusun atas kelenjar keringat,
kelenjar sebasea, dan folikel rambut. Dermis terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan
papillaris dan lapisan retikularis, sekitar 80% dari dermis adalah lapisan
retikularis. 7,8

2
Gambar 2:Anatomi kulit(7)
Secara fisiologis, kulit memepunyai fungsi sebagai berikut : 2,7
1). Fungsi proteksi, kulit menjaga bagian dalam terhadap gangguan fisis atau
mekanis, misalnya tekanan, gesekan, tarikan; gangguan kimiawi, misalnya
zat-zat kimiawi terutama yang bersifat iritan, misalnya lisol, karbol, asam, dan
alkali. Gangguan yang bersifat panas, misalnya radiasi, sengatan sinar ultra
violet; gangguan infeksi luar terutama kuman/bakteri maupun jamur.
2). Fungsi absorpsi, kulit yang sehat tidak mudah menyerap air, larutan dan benda
padat, tetapi cairan yang mudah menguap lebih mudah diserap, begitupun
yang larut lemak. Permeabilitas kulit terhadap O2, CO2, dan uap air
memungkinkan kulit ikut mengambil bagian pada fungsi respirasi. Penyerapan
dapat berlangsung melalui celah antar sel menembus sel-sel epidermis atau
melalui muara saluran kelenjar.
3) Fungsi ekskresi, kelenjar kulit mengeluarkan zat yang tidak berguna lagi atau
sisa metabolisme dalam tubuh berupa NaCl, Urea, asam urat, dan amonia.
Sebum yang diproduksi melindungi kulit karena lapisan ini selalu meminyaki
kulit jua menahan evaporasi air yang berlebihan sehingga kulit tidak menjadi
kering.
4) Fungsi persepsi, kulit mengandung ujung-ujung saraf sensorik di dermis dan
subkutis. Terhadap rangsangan panas diperankan oleh badan-badan
ruffinidermis dan sukutis.
5) Fungsi pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), kulit melakukan peranan ini
dengan cara mengeluarkan keringat dan mengerutkan pembuluh darah kulit.

3
6) Fungsi pembentukan pigmen, sel pembentuk pigmen (melanosit) terletak di
lapisan basal dan sel ini berasal dari rigi saraf. Pigmen disebar ke epidermis
melalui tangan-tangan dendrit. Sedangkan ke lapisan kulit di bawahnya
dibawa oleh sel melanofag.
7) Fungsi Kreatinisasi, lapisan epidermis dewasa mempunyai sel utama yaitu
keratinosit, sel langerhans, melanosis.
8) Fungsi pembentukan vitamin D, dimungkinkan dengan mengubah 7 dihidroksi
kolesterol dengan pertolongan sinar matahari.

IV. ETIOLOGI
Luka bakar pada kulit bisa disebabkan karena panas, dingin, ataupun zat
kimia.Ketika kulit terkena panas, maka kedalaman luka dipengaruhi oleh derjat
panas, durasi kontak panas pada kulit dan ketebalan kulit.1,4,7, 10
1. Luka Bakar Termal (Thermal Burns)
Luka bakar termal disebabkan oleh air panas(scald), jilitan api ke tubuh
(flash), koboran api ke tubuh (flame) dan akibat terpapar atau kontak dengan
objek-objek panas lainnya (misalnya plastik logam panas dan lain-lain).
2. Luka Bakar Zat Kimia (Chemical Burns)
Luka bakar kimia biasanya disebabaka oleh asam kuat atau alkali yang biasa
digunakan bidang industri, militer, ataupun bahan pembersih yang sering
digunakan untuk keperluan rumah tangga.
3. Luka Bakar Listrik (Electrical Burns)
Listrik menyebabkan kerusakan yang dibedakan karena arus, api, dan
ledakan. Aliran listrik menjalar disepanjang bagian tubuh yang memiliki
resistensi paling rendah; dalam hal ini cairan. Kerusakan terutama pada
pembuluh darah, khususnya tunika intima, sehingga menyebabkan
gangguan sirkulasi ke distal. Seringkali kerusakan berada jauh dari lokasi
kontak, baik kontak dengan sumber arus maupun ground. Tubuh memiliki
tahanan yang berbeda-beda. Secara umum, jaringan dengan cairan yang
tinggi dan mengandung banyak elektrolit mampu mengkonduksi listrik lebih
baik. Tulang memiliki tahanan paling tinggi. Sedangkan jaringan saraf
memiliki tahanan paling rendah, dan bersama-sama dengan pembuluh
darah, otot, dan selaput lender juga memiliki tahanan yang rendah terhadap
listrik. Kulit memberikan tahanan intermediate dan merupakan faktor
yang paling penting menghambat aliran arus. Kulit adalah resistor utama

4
terhadap arus listrik, dan derajat resistensi ditentukan oleh ketebalan dan
kelembaban. Ini bervariasi dari 1000 ohm untuk kulit tipis lembab untuk
beberapa ribu ohm untuk kulit kapalan kering.
4. Luka Bakar Radiasi (Radiation Exposure)
Luka bakar radiasi disebabkan karena terpapar dengan sumber radioaktif.
Tipe luka bakar ini sering disebabkan oleh penggunaaan radioaktif untuk
keperluan terapeutik dalam kedokteran dan industri. Akibat terpapar sinar
.1,4,7,
matahari yang terlalu lama juga dapat menyebabkan luka bakar radiasi.
10

Gambar 3: Tipe luka bakar 1,3,6.8


V. PATOFISIOLOGI
Respon Lokal

Terdapat 3 zona luka bakar menurut Jackson 1947 yaitu: 1

1. Zona Koagulasi

Merupakan daerah yang langsung mengalami kontak dengan


sumber panas dan terjadi nekrosis dan kerusakan jaringan yang irevisibel
disebabkan oleh koagulasi constituent proteins. 1

2. Zona Stasis

5
Zona stasis berada sekitar zona koagulasi, di mana zona ini
mengalami kerusakan endotel pembuluh darah, trombosit, leukosit
sehingga penurunan perfusi jaringan diikuti perubahan permeabilitas
kapiler(kebocoran vaskuler) dan respon inflamasi lokal. Proses ini
berlangsung selam 12-24 jam pasca cedera, dan mungkin berkakhir
dengan nekrosis jaringan. 1

3. Zona Hiperemia

Pada zona hiperemia terjadi vasodilatasi karena inflamasi,


jaringannya masih viable. Proses penyembuhan berawal dari zona ini
1
kecuali jika terjadi sepsi berat dan hipoperfusi yang berkepanjangan.

Gambar 4: Zona luka bakar Jackson 1947 dan efeknya terhadap resusitasi
adekuat dan inadekuat. (1)

Respon Sistemik

Perlepasan sitokin dan mediator inflamasi lainnya di tempat terjadinya


luka bakar memiliki efek sistemik jika luka bakar mencapai 30% luas permukaan
tubuh. Perubahan- perubahan yang terjadi sebagai efek sistemik tersebut berupa: 1

6
a. Gangguan Kardiovaskuler, berupa peningkatan permeabilitas vaskuler yang
menyebabkan keluarnya protein dan cairan dari intravaskuler ke interstitial.
Terjadi vasokontriksi di pembuluh darah splanchnic dan perifer. Kontratilitas
miokardium menurun, kemungkinan adanya tumor necrosis factor- (TNF-).
Perubahan ini disertai dengan kehilangan cairan dari luka bakar menyebabkan
hipotensi sistemik dan hipoperfusi oragan. 1
b. Gangguan respirasi, mediator inflamasi menyebabkan bronkokontriksi, dan
pada luka bakar yang berat dapat timbul Respiratory Distress Syndrome
(RDS). 1
c. Gangguan metabolik, terjadi peningkatan basal metabolic rate hingga 3 kali
lipat. Hal ini disertai dengan dengan adanya hipoperfusi splanchnic
menyebabkan dibutuhkannya pemberian makanan enteral secara agresif untuk
menurunkan katabolisme dan mempertahankan integritas saluran pencernaan.
d. Gangguan imunologis, terdapat penurunan sistem imun yang mempengaruhi
sistem imun humoral dan seluler. 1

Gambar 5:Respon sistemik terjadi setelah luka bakar 1


Inti dari permasalahan luka bakar adalah kerusakan endotel dan epitel
akibat dari cedera termis yang melepaskan mediator-mediator proinflamasi dan
berkembang menjadi Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS), kondisi
ini hampir selalu berlanjut dengan Mutli-system Organ Dysfunction Syndrome
(MODS). MODS terjadi karena gangguan perfusi jaringan yang berkepanjangan

7
akibat gangguan sirkulasi makro menjadi berubah orientasi pada proses perbaikan
perfusi (sirkulasi mikro) sebagai end-point dari prosedur resusitasi.1

VI. KLASIFIKASI
Berdasarkan American Burn Association luka bakar diklasifikasikan
berdasarkan kedalaman, luas permukaan, dan derajat ringan luka bakar. 1,2,4,7,10
1. Berdasarkan kedalamannya.
a. Luka bakar derajat I (superficial burns)
Luka bakar derajat ini terbatas hanya sampai lapisan epidermis.
Gejalanya berupa kemerahan pada kulit akibat vasodilatasi dari dermis,
hangat pada perabaan dan pengisian kapilernya cepat. Pada derajat ini,
fungsi kulit masih utuh. Contoh luka bakar derajat I adalah bila kulit
terpapar oleh sinar matahari terlalu lama, atau tersiram air panas. Proses
penyembuhan terjadi sekitar 5-7 hari. Luka bakar derajat ini tidak
menghasilkan jaringan parut, dan pengobatannya bertujuan agar pasien
merasa nyaman dengan mengoleskan soothing salves dengan atau tanpa
gel lidah buaya.
b. Luka bakar derajat II (partial thickness burns)
Luka bakar derajat II merupakan luka bakar yang kedalamanya
mencapai dermis. Bila luka bakar ini mengenai sebagian permukaan
dermis, luka bakar ini dikenali sebagai superficial partial thickeness
burns atau luka bakar derajat II A. Luka bakar derajat II A ini tampak
eritema, nyeri, pucat jika ditekan, dan ditandai adanya bulla berisi
cairan eksudat yang keluar dari pembuluh darah karena permeabilitas
dindingya meningkat. Luka ini mereepitelisasi dari struktur epidermis
yang tersisa pada rete ridge, folikel rambut dan kelenjar keringat dalam
7-14 hari secara spontan. Setelah penyembuhan, luka bakar ini dapat
memiliki sedikit perubahan warna kulit dalam jangka waktu yang lama.
Luka bakar derajat II yang mengenai sebagian bagian reticular
dermis (deep partial thickeness) , luka bakar ini dikenali sebagai deep
partial thickeness burns atau luka bakar derajat II B. Luka bakar
derajat II B ini tampak lebih pucat, tetapi masih nyeri jika ditusuk
degan jarum (pin prick test). Luka ini sembuh dalam 14-35 hari dengan

8
reepitelisasi dari folikel rambut, keratinosit dan kelenjar keringat,
seringkali parut muncul sebagai akibat dari hilangnya dermis.
c. Luka bakar derajat III (full-thickess burns)
Kedalaman luka bakar ini mencapai seluruh dermis dan epidermis
sampai ke lemak subkutan. Luka bakar ini ditandai dengan skar yang
keras, tidak nyeri, dan warnanya hitam, putih, atau merah ceri. Tidak
ada sisa epidermis maupun dermis sehingga luka harus sembuh dengan
reepitelisasi dari tepi luka. Full-thickness burns memerlukan eksisi
dengan skin grafting.
d. Luka bakar derjat IV
Luka bakar derajat ini bisa meluas hingga mencapai organ
dibawah kulit seperti otot dan tulang.

Gambar 6: Derajat luka bakar berdasarkan kedalaman 1


2. Berdasarkan luas permukaan luka bakar.
Luas luka tubuh dinyatakan sebagai persentase terhadap luas
permukaan tubuh atau Total Body Surface Area (TBSA). Untuk menghitung
secara cepat dipakai Rules of Nine atau Rules of Walles dari Walles.
Perhitungan cara ini hanya dapat diterapkan pada orang dewasa, karena
anak-anak mempunyai proporsi tubuh yang berbeda. Pada anak-anak
dipakai modifikasi Rule of Nines menurut Lund and Browder, yaitu
ditekankan pada umur 15 tahun, 5 tahun dan 1 tahun. 1,2, 4,7,10

9
Gambar 7: Wallence Rule of Nines 1

1
Gambar 8: Lund and Browder

3. Bedasarkan derajat ringan luka bakar menurut American Burn Association:


1,4,7,10

a. Luka Bakar Ringan


i. Luka bakar derajat II < 5%
ii. Luka bakar derajat II 10% pada anak
iii. Luka bakar derajat II < 2% 1,3.6, 8
b. Luka Bakar Sedang
i. Luka bakar derajat II 15-25% pada orang dewasa
ii. Luka bakar derajat II 10-20% pada anak-anak
iii. Luka bakar derajat III < 10% 1,3.6, 8
c. Luka Bakar Berat
i. Luka bakar derajat II 25% atau lebih pada orang dewasa
ii. Luka bakar derajat II 20% atau lebih pada anak-anak

10
iii. Luka bakar derajat III 10% atau lebih
iv. Luka bakar mengenai tangan, telinga, mata, kaki, dan
genitalia/perineum.
v. Luka bakar dengan cedera inhalasi, listrik, disertai trauma lain.
1,4,7,10

4. Jenis-Jenis Luka Bakar Listrik


Jenis Luka Bakar Listrik adalah:
Direct contact : Arus masuk melewati tubuh, menyebabkan panas
menyebabkan electrothermal burns. Luka jenis biasanya terdapat titik
kontak sumber dan titik arus keluar.
Electrical arc : biasa disebut arus pendek. Bunga api yang terpancar
antara objek listrik yang memiliki potensi berbeda ketika bersentuhan
langsung. Lalu arus juga masuk ke dalam tubuh.
Flame : biasanya disebabkan karena pakaian yang terbakar akibat
electrothermal burns atau electrical arc sehingga kulit terbakar karena
kontak dengan api langsung yang berasal dari pakaian yang terbakar
Flash : ketika panas dari electrical arc bersentuhan langsung dengan
tubuh, akan menyebabkan luka bakar. Namun pada flash, arus tidak
masuk kedalam tubuh.

VII. PENATALAKSANAAN
1. Prehospital
Hal pertama yang harus dilakukan jika menemukan pasien luka bakar
di tempat kejadian adalah menghentikan proses kebakaran. Maksudnya
adalah membebaskan pasien dari pajanan atau sumber dengan
memperhatikan keselamatan diri sendiri. Bahan yang meleleh atau
menempel pada kulit tidak bisa dilepaskan. Air suhu kamar dapat
disiriamkan ke atas luka dalam waktu 15 menit sejak kejadian, namun air
dingin tidak dapat diberikan untuk mencegah terjadinya hipotermia dan
vasokonstriksi. 1,2,4,7,10
2. Resusitasi jalan nafas
Bertujuan untuk mengupayakan suplai oksigen yang adekuat. Pada
luka bakar dengan kecurigaan cedera inhalasi, tindakan intubasi dikerjakan
sebelum edema mukosa menimbulkan manifestasi obstruksi. Sebelum
dilakukan intubasi, oksigen 100% diberikan dengan menggunakan face

11
mask. Intubasi bertujuan untuk mempertahankan patensi jalan napas,
fasilitas pemeliharaan jalan napas (penghisapan sekret) dan broncoalveolar
lavage. Krikotiroidotomi masih menjadi perdebatan karena dianggap terlalu
agresif dan morbiditasnya lebih besar dibandingkan intubasi.
Krikotiroidotomi dilakukan pada kasus yang diperkirakan akan lama
menggunakan ETT yaitu lebih dari 2 minggu pada luka bakar luas yang
disertai cedera inhalasi. Kemudian dilakukan pemberian oksigen 2-4
liter/menit melalui pipa endotracheal. Terapi inhalasi mengupayakan
suasana udara yang lebih baik disaluran napas dengan cara uap air
menurunkan suhu yang meningkat pada proses inflamasi dan mencairkan
sekret yang kental sehingga lebih mudah dikeluarkan. Pada cedera inhalasi
perlu dilakukan pemantauan gejala dan distres pernapasan. Gejala dan tanda
berupa sesak, gelisah,takipneu, pernapasan dangkal, bekerjanya otot-otot
bantu pernapasan dan stridor. Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan
adalah analisa gas darah serial dan foto thorax. 1,2,4,7,10
3. Resusitasi cairan
Tujuan resusitasi cairan pada syok luka bakar adalah:

Preservasi reperfusi yang adekuat dan seimbang diseluruh pembuluh
vaskuler regional sehingga tidak terjadi iskemia jaringan

Minimalisasi dan eliminasi pemberian cairan bebas yang tidak
diperlukan.

Optimalisasi status volume dan komposisi intravaskuler untuk menjamin
survival seluruh sel

Minimalisasi respon inflamasi dan hipermetabolik dan mengupayakan
stabilisasi pasien secepat mungkin kembali ke kondisi fisiologis. (1,4,7,10)
a. Jenis cairan
Terdapat tiga jenis cairan secara umum yaitu kristaloid, cairan
hipertonik dan koloid: 1,4,7,10
Larutan kristaloid
Larutan ini terdiri atas cairan dan elektrolit. Contoh larutan ini
adalah Ringer Laktat dan NaCl 0,9%. Komposisi elektrolit mendekati
kadarnya dalam plasma atau memiliki osmolalitas hampir sama dengan
plasma. Pada keadaan normal, cairan ini tidak hanya dipertahankan di
ruang intravaskular karena cairan ini banyak keluar ke ruang interstisial.

12
Pemberian 1 L Ringer Laktat (RL) akan meningkatkan volume
intravaskuer 300 ml. 1,4,7,10

Larutan hipertonik
Larutan ini dapat meningkatkan volume intravaskuler 2,5 kali dan
penggunaannya dapat mengurangi kebutuhan cairan kristaloid. Larutan
garam hipertonik tersedia dalam beberapa konsentrasi, yaitu NaCl
1,8%, 3%, 5 %, 7,5% dan 10%. Osmolalitas cairan ini melebihi cairan
intraseluler sehingga cairan akan berpindah dari intraseluler ke
ekstraseluler. Larutan garam hipertonik meningkatkan volume
intravaskuler melalui mekanisme penarikan cairan dari intraseluler. 1,4,7,10

Larutan koloid
Contoh larutan koloid adalah Hydroxy-ethyl starch (HES) dan
Dextran. Molekul koloid cukup besar sehingga tidak dapat melintasi
membran kapiler, oleh karena itu sebagian akan tetap dipertahankan
didalam ruang intravaskuler. Pada luka bakar dan sepsis, terjadi
peningkatan permeabilitas kapiler sehingga molekul akan berpindah ke
ruang interstisium. Hal ini akan memperburuk edema interstisium yang
ada. 1,3.6, 8
HES merupakan suatu bentuk hydroxy-substitued amilopectin
sintetik, HES berbentuk larutan 6% dan 10% dalam larutan fisiologik. T
dalam plasma selama 5 hari, tidak bersifat toksik, memiliki efek
samping koagulopati namun umumnya tidak menyebabkan masalah
klinis. HES dapat memperbaiki permeabilitas kapiler dengan cara
menutup celah interseluler pada lapisan endotel sehingga menghentikan
kebocoran cairan, elektrolit dan protein. Penelitian terakhir
mengemukakan bahwa HES memiliki efek antiinflamasi dengan
menurunkan lipid protein complex yang dihasilkan oleh endotel, hal ini
diikuti oleh perbaikan permeabilitas kapiler. Efek anti inflamasi
diharapkan dapat mencegah terjadinya SIRS. 1,4,7,10
b. Dasar pemilihan Cairan
Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan cairan
adalah efek hemodinamik, distribusi cairan dihubungkan dengan

13
permeabilitas kapiler, oksigen, PH buffering, efek hemostasis, modulasi
respon inflamasi, faktor keamanan, eliminasi praktis dan efisien. Jenis
cairan terbaik untuk resusitasi dalam berbagai kondisi klinis masih
menjadi perdebatan terus diteliti. Sebagian orang berpendapat bahwa
kristaloid adalah cairan yang paling aman digunakan untuk tujuan
resusitasi awal pada kondisi klinis tertentu. Sebagian pendapat koloid
bermanfaat untuk entitas klinik lain. Hal ini dihubungkan dengan
karakteristik masing-masing cairan yang memiliki kelebihan dan
kekurangan. Pada kasus luka bakar, terjadi kehilangan cairan di
kompartemen interstisial secara masif dan bermakna sehingga dalam 24
jam pertama resusitasi dilakukan dengan pemberian cairan kristaloid.
1,4,7,10

c. Penentuan jumlah cairan


Untuk melakukan resusitasi dengan cairan kristaloid dibutuhkan
tiga sampai empat kali jumlah defisit intravaskuler. 1 L cairan kristaloid
akan meningkatkan volume intravaskuler 300 ml. Kristaloid hanya
sedikit meningkatkan cardiac output dan memperbaiki transpor
oksigen.1,4,7,10
Penatalaksanaan dalam 24 jam pertama
Resusitasi syok menggunakan Ringer laktat atau ringer asetat,
menggunakan beberapa jalur intravena. Pemberian cairan pada syok
atau kasus luka bakar > 25-30% atau dijumpai keterlambatan > 2 jam.
Dalam <4 jam pertama diberikan cairan kristaloid sebanyak
3[25%(70%xBBkg)]ml. 70% adalah volume total cairan tubuh,
sedangkan 25% dari jumlah minimal kehilangan cairan tubuh dapat
menimbulkan gejala klinik sidrom syok. 1,4,7,10
Pada resusitasi cairan tanpa adanya syok atau kasus luka bakar
luas < 25-30%, tanpa atau dijumpai keterlambatan < 2 jam. Kebutuhan
dihitung berdasarkan rumus baxter 3-4 ml/kgBB/% LB. 1,4,7,10
Metode Parkland merupakan metode resusitasi yang paling umum
digunakan pada kasus luka bakar, menggunakan cairan kristaloid.
Metode ini mengacu pada waktu iskemik sel tubulus ginjal < 8 jam

14
sehingga lebih tepat diterapkan pada kasus luka bakar yang tidak terlalu
luas tanpa keterlambatan. 1,4,7,10
Pemberian cairan menurut formula Parkland adalah sebagai
berikut: 1,4,7,10

Pada 24 jam pertama: separuh jumlah cairan diberikan dalam 8 jam
pertama, sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya. Pada bayi,
anak dan orang tua, kebutuhan cairan adalah 4 ml. Bila dijumpai
cedera inhalasi maka kebutuhan cairan 4 ml ditambah 1% dari
kebutuhan.

Penggunaan zat vasoaktif (dopamin dan dobutamin) dengan dosis 3
mg/kgBB dengan titrasi atau dilarutkan dalam 500ml Glukosa 5%
jumlah tetesan dibagi rata dalam 24 jam.

Pemantauan untuk menilai sirkulasi sentral melalui tekanan vena
sentral (minimal 6-12cm H20) sirkulasi perifer (sirkulasi renal).
Jumlah produksi urin melalui kateter, saat resusitasi (0,5- 1ml /kg
BB/jam maka jumlah cairan ditingkatkan 50% dari jam sebelumnya.

Pemeriksaan fungsi renal (ureum, kreatinin) dan urinalisis (berat
jenis dan sedimen).

Pemantauan sirkulasi splangnikus dengan menilai kualitas dan
kuantitas cairan lambung melaui pipa nasogastrik. Jika , 200ml tidak
ada gangguan pasase lambung, 200-400ml ada gangguan ringan,
>400 ml gangguan berat. 1,4,7,10

Penatalaksanaan 24 jam kedua



Pemberian cairan yang menggunakan glukosa dan dibagi rata dalam
24 jam. Jenis cairan yang dapat diberikan adalah glukosa 5% atau
10% 1500-2000 ml. Batasan ringer laktat dapat memperberat edema
interstisial.

Pemantauan sirkulasi dengan menilai tekanan vena sentral dan
jumlah produksi urin <1-2 ml/kgBB/jam,berikan vasoaktif sampai 5
mg/kgBB

Pemantauan analisa gas darah, elektrolit 1,4,7,10

Penatalaksanaan setelah 48 jam



Cairan diberikan sesuai kebutuhan maintanance

15

Pemantauan sirkulasi dengan menilai produksi urin (3-4 ml/kgBB),
hemoglobin dan hematokrit. 1,4,7,10

Rumus Baxter:
Pada dewasa:
Hari I: 3-4 ml x kgBB x % luas luka bakar
Hari II: Koloid: 200-2000 cc + glukosa 5%
Pemberian cairan volume pada 8 jam pertama dan volume diberikan
16 jam berikutnya.

Pada anak:
Hari I:
RL: dex 5% = 17:3
(2cc x kgBB x % luas luka bakar) + keb. faal
Kebutuhan Faal:
<1 thn = kgBB X 100cc
5.15 thn = kgBB X 75cc
> 15 thn = kgBB X 50cc
Hari II: sesuai kebutuhan faal

Formula Parkland: 1,4,7,10

Hari I (24jam pertama):

8 jam pertama: [0,5 x (4 cc x kgBB x % TBSA )] / 8 jam =cc/jam

16 jam kedua: [0,5 X (4 cc x kg BB x % TBSA)] / 16 jam = cc/jam


Penambahan cairan rumatan pada anak :

4 cc/kgBB/jam dalam 10 kg pertama

2 cc/kg BB/jam dalam 10 kg kedua (11-20kg)

1 cc/kgBB/jam untuk tiap >20kg

Bila dijumpai cedera inhalasi maka kebutuhan cairan 4 ml


ditambah 1% dari kebutuhan.Pengawasan kecukupan cairan yang
diberikan dapat dilihat dari produksi urin yaitu pada dewasa 0,5-1,0
cc/kg/jam dan pada anak 1,0-1,5 cc/kg/jam. 1,4,7,10

16
4. Perawatan luka
Perawatan luka dilakukan setelah tindakan resusitasi jalan napas,
mekanisme bernapas dan resusitasi cairan dilakukan. Tindakan meliputi
debridement secara alami, mekanik (nekrotomi) atau tindakan bedah
(eksisi), pencucian luka, wound dressing dan pemberian antibiotik topikal .
Tujuan perawatan luka adalah untuk menutup luka dengan mengupaya
proses reepiteliasasi, mencegah infeksi, mengurangi jaringan parut dan
kontraktur dan untuk menyamankan pasien. Debridement diusahakan sedini
mungkin untuk membuang jaringan mati dengan jalan eksisi tangensial.
Tindakan ini dilakukan setelah keadaan penderita stabil, karena merupakan
tindakan yang cukup berat. Untuk bullae ukuran kecil tindakannya
konservatif sedangkan untuk ukuran besar(>5cm) dipecahkan tanpa
membuang lapisan epidermis diatasnya. 1,4,7,10
Pengangkatan keropeng (eskar) atau eskarotomi dilakukan juga pada
luka bakar derajat III yang melingkar pada ekstremitas atau tubuh sebab
pengerutan keropeng(eskar) da pembengkakan yang terus berlangsung dapat
mengakibatkan penjepitan (compartment syndrome) yang membahayakan
sirkulasi sehingga bagian distal iskemik dan nekrosis(mati). Tanda dini
penjepitan (compartment syndrome) berupa nyeri kemudian kehilangan daya
rasa (sensibilitas) menjadi tebal pada ujung-ujung distal. Keaadan ini harus
cepat ditolong dengan membuat irisan memanjang yang membuka keropeng
sampai penjepitan bebas. 1,4,7,10
Pencucian luka dilakukan dengan hidroterapi yaitu memandikan
pasien atau dengan air hangat mengalir dan sabun mandi bayi. Lalu luka
dibalut dengan kasa lembab steril dengan atau tanpa krim pelembap.
Perawatan luka tertutup dengan occlusive dressing untuk mencegah
penguapan berlebihan. Penggunaan tulle (antibiotik dalam bentuk sediaan
kasa) berfungsi sebagai penutup luka yang memfasilitasi drainage dan
epitelisasi. Sedangkan krim antibiotik diperlukan untuk mengatasi infeksi
pada luka. 1,4,7,10

5. Eksisi dan graft

17
Luka bakar derajat IIB dan III tidak dapat mengalami penyembuhan
spontan tanpa autografting. Jika dibiarkan, jaringan yang sudah mati ini
akan menjadi fokus inflamasi dan infeksi. Eksisi dini dan grafting saat ini
dilakukan sebagian besar ahli bedah karena memiliki lebih banyak
keuntungan dibandingkan debridement serial. Setelah dilakukan eksisi, luka
harus ditutup melalui skin graft (pencakokan kulit) dengan menggunakan
biological dressing. Terdapat 3 bahan biological dressing yaitu homografts
(kulit mayat dan penutup luka sementara), xenografts/heterografts (kulit
binatang seperti babi dan penutup luka sementara) dan autografts (kulit
pasien sendiri dan penutup luka permanen). Idealnya luka ditutup dengan
kulit pasien sendiri (autograft). Terdapat 2 tipe primer autografts kulit yaitu
split-thickness skin grafts (STSG) dan full-thickness skin grafts (FTSG).
Pada luka bakar 20-30% biasanya dapat dilakukan dalam satu kali operasi
dengan penutupan oleh STSG diambil dari bagian tubuh pasien. 1,4,7,1

Gambar: Skin Graft 1


6. Lain-lain
Pemberian antibiotik pada kasus luka bakar bertujuan sebagai
profilaksis infeksi dan mengatasi infeksi yang sudah terjadi. Dalam3-5 hari
pertana populasi kuman yang sering dijumpai adalah bakteri Gram positif

18
non-patogen.Sedangkan hari 5-10 adalah bakteri Gram negative patogen.
Dalam 1-3 hari pertama pasca cedera, luka masih dalam keadaan steril
sehingga tidak diperlukan antibiotik. Beberapa antibiotik topikal yang dapat
digunakan adalah silver sulfadiazine 1%, silver nitrate dan mafenide
(sulfamylon) dan xerofom/bacitracin. Antasida diberikan untuk pencegahan
tukak beban (tukak stress/stress ulcer), antipiretik bila suhu tinggi dan
analgetik bila nyeri. 1,4,7,10
Nutrisi harus diberikan cukup untuk menutup kebutuhan kalori dan
keseimbnagan nitrogen yang negatif pada fase katabolisme, yaitu sebanyak
2500-3000 kalori sehari dengan kadar protein tinggi. Kalau perlu makanan
diberikan melalui enteral atau ditambah dengan nutrisi parenteral.
Pemberian nutrisi enteral dini melalui nasaogastik dalam 24 jam pertama
pasca cedera bertujuan untuk mencegah terjadinya atrofi mukosa usus.
Pemberian enteral dilakukan dengan aman bila Gastric Residual Volume
(GRV) <150 ml/jam yang menandakan pasase saluran cerna baik. 1,4,7,10
Penderita yang sudah mulai stabil keadaannya perlu fisioterapi untuk
memperlancarkan peredaran darah dan mencegah kekakuan sendi. Kalau
perlu sendi diistirahatkan dalam posisi fungsional degan bidai.Penderita
luka bakar luas harus dipantau terus menerus. Keberhasilan pemberian
cairan dapat dilihat dari diuresis normal yaitu 1ml/kgBB/jam. Yang penting
juga adalah sirkulasi normal atau tidak dengan menilai produksi urin,analisa
gas darah, elektrolit, hemoglobin dan hematokrit. 1,4,7,10

VIII. KOMPLIKASI
Komplikasi pada luka bakar dibagi menjadi dua, yaitu komplikasi saat
perawatan kritis atau akut dan komplikasi yang berhubungan dengan eksisi dan
grafting.Kompilkasi yang dapat terjadi pada masa akut adalah SIRS, sepsis dan
MODS.Selain itu komplikasi pada gastrointestinal juga dapat terjadi, yaitu atrofi
mukosa, ulserasi dan perdarahan mukosa, motilitas usus menurun dan ileus. Pada
ginjal dapat terjadi acute tubular necrosis karena perfusi ke renal menurun. Skin
graft loss merupakan komplikasi yang sering terjadi, hal ini disebabkan oleh
hematoma, infeksi dan robeknya graft. Pada fase lanjut suatu luka bakar, dapat
terjadi jaringan parut pada kulit berupa jaringan parut hipertrofik., keloid dan

19
kontraktur.Kontraktur kulit dapat menganggu fungsi dan menyebabkan kekeauan
sendi. Kekakuan sendi memerlukan program fisioterapi yang intensif dan
kontraktur memerlukan tindakan bedah. 1,4,7,10
1. Rhabdomyolisis
Rhabdomyolysis adalah sindrom yang disebabkan oleh cedera pada
otot rangka dan melibatkan kebocoran cairan intraseluler dalam jumlah
besar ke dalam plasma.
2. Myoglobinuria
Myogolbinuria, diartikan dari kata pembentuknya yaitu terdapatnya
myoglobin di dalam urin. Myoglobinuria biasanya merupakan akibat dari
rhobdomyolysis yaitu perusakan sel otot. Semua proses yang mengganggu
penyimpanan atau penggunaan energy oleh sel otot dapat menyebabkan
myoglobinuria.
Dengan demikian, terjadi pengendapan mioglobin dalam tubulus
ginjal dengan obstruksi sekunder dan keracunan tubular, atau keduanya
merupakan penyebab utama untuk cedera ginjal akut selama myoglobinuria.
3. Syndrome Kompartemen
Syndrome kompartemen merupakan suatu kondisi dimana terjadi
peningkatan tekanan interstitial pada kompartemen osteofasial yang
tertutup. Sehingga mengakibatkan berkurangnya perfusi jaringan dan
tekanan oksigen jaringan.
Gejala Klinis :
a. Pain : Nyeri pada pada saat peregangan pasif pada otot-otot
yang terkena.
b. Pallor : Kulit terasa dingin jika di palpasi, warna kulit biasanya
pucat.
c. Parestesia : Biasanya terasa panas dan gatal pada daerah lesi.
d. Paralisis : Diawali dengan ketidakmampuan untuk menggerakkan
sendi.
e. Pulselesness : Berkurang atau hilangnya denyut nadi akibat adanya
gangguan perfusi arterial.
IX. PROGNOSIS
Prognosis pada luka bakar tergantung dari derajat luka bakar, luas
permukaan badan yang terkena luka bakar, adanya komplikasi seperti infeksi, dan
kecepatan pengobatan medikamentosa. Luka bakar minor ini dapat sembuh 5-10
hari tanpa adanya jaringan parut. Luka bakar moderat dapat sembuh dalam 10-14

20
hari dan mugkin dapat menimbulkan luka parut. Jaringan parut akan membatasi
gerakan dan fungsi. Dalam beberapa kasus, pembedahan dapat diperlukan untuk
membuang jaringan parut. 1,4,7,10

DAFTAR PUSTAKA

1. Wim de Jong. 2011. Bab 5 : Luka, Luka Bakar : Buku Ajar Ilmu
Bedah. Edisi 3. EGC. Jakarta. p.103-120

2. Gerrad M Doherty. Current Surgical Diagnosis and Treatment. Edisi


12. McGraw-Hill Companies. New York. p.245-259

3. Benjamin C. Wedro. Agustus 2008. First Aid for Burns.


http://www.medicinenet.com

21
4. Rubangi S. 1990. Trauma Listrik dan Halilintar. Fakultas kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta. http://eprints.ui.ac.id/13260/1/82850-
T6046-Trauma%20listrik-TOC.pdf

5. Hoediyanto H. 2008. Trauma Listrik. Universitas Airlangga. Surabaya.


http://www.fk.uwks.ac.id/elib/Arsip/Departemen/Forensik/Tr.
%20Listrik.pdf

6. James M Becker. Essentials of Surgery. Edisi 1. Saunders Elsevier.


Philadelphia. P118-129

7. Jerome FX Naradzay. November 2006. Burns, Thermal.


http://www.emedicine.com/med/

8. Mayo Clinic Staff. Januari 2008. Burns First Aids.


http://www.nlm.nih.gov/medlineplus

9. James H Holmes, David M Heimbach. 200. Burns, in : Schwartzs


Principles of Surgery. 18 ed. McGraw-Hill New York. p189-216

10. Klein MB. 2007. Thermal, Chemical and Electrical Injuries. In :


Thome CH et all (editors) Grabb & Smits Plastic Surgery. 6 Edition.
US : Lippincott Williams & Wilkins, Wolters Kluwer Business. P146-
147

22