Anda di halaman 1dari 2

1.

Tatalaksana Lainnya
a. Imunoterapi Alergen (GINA, 2016)
Terapi alergen spesifik dapat menjadi pilihan jika alergi memerankan peran
utama dalam asma, misalnya pada asma dengan rinokonjungtivitis alergika.
Terdapat dua pendekatan utama, yaitu: 1) subcutaneous immunotherapy (SCIT)
dan 2) sublingual immunotherapy (SLIT). Studi saat ini kebanyakan dilakukan
pada asma ringan, dan sebagian lainnya.
SCIT: pada pasien dengan sensitisasi alergi, SCIT terkait dengan penurunan
gejala dan kebutuhan pengobatan, dan penurunan responsivitas terhadap alergen.
Efek samping dari terapi ini adalah reaksi anafilaksis yang dapat mengancam jiwa.
SLIT: Metode ini sangat bermanfaat pada dewasa dan anak-anak. Sebuah
setudi SLIT pada rumah dengan tungau debu pada pasien dengan asma dan rinitis
alergi menunjukan penurunan bermakna penggunaan ICS pada SLIT dosis tinggi.
Efek samping yang terjadi akibat metode ini antara lain adalah gejala oral dan
gastrointestinal ringan.
b. Vaksinasi (GINA, 2016)
Influenza berkontribusi terhadap terjadinya eksaserbasi akut asma, dan pasien
dengan asma sedang-berat disarankan untuk mendapatkan vaksinasi influenza
setiap tahun. Akan tetapi, vaksinasi ini tidak dapat menurunkan frekuensi atau
keparahan serangan asma.
c. Termoplasti Bronkial (GINA, 2016)
Terapi ini menjadi terapi potensial pada pasien dewasa dengan asma yang
tetap tidak terkontrol walaupun dengan regimen terapi yang optimal. Terapi ini
dilakukan melalui tiga bronkoskopi terpisah dengan gelombang radiofrekuensi
lokal. Pada follow up jangka waktu sedang memang pasien yang diterapi dengan
metode ini akan mengalami penurunan jumlah eksaserbasi. Akan tetapi, butuh
studi yang lebih lama lagi untuk menjadi dasar bukti rekomendasi metode ini.
d. Vitamin D (GINA, 2016)
Beberapa studi cross-sectional telah memperlihatkan bahwa kadar serum
vitamin D rendah terkait dengan penurunan fungsi paru, peningkatan frekuensi
eksaserbasi dan penurunan respons kortikosteroid. Akan tetapi, sampai saat ini
suplementasi vitamin D belum bisa dikaitkan secara kuat dengan peningkatan
kontrol asma atau penurunan eksaserbasi. Indikasi merujuk ke fasilitas kesehatan
lebih lanjut:
1) Kesulitan mengonfirmasi diagnosis asma
2) Curiga asma okupasional
3) Asma persisten tidak terkontrol dan eksaserbasi frekuent
4) Adanya faktor risiko asma yang mengancam nyawa
5) Bukti yang besar adanya risiko atau efek samping terapi
6) Adanya gejala yang menunjukkan komplikasi dari subtipe asma
7) Ragu tentang diagnosis asma
8) Gejala eksaserbasi tidak terkontrol walaupun dengan ICS dosis sedang dengan
teknik yang benar dan kepatuhan yang cukup
9) Curiga efek samping terapi
10) Asma dan alergi makanan terkonfirmasi