Anda di halaman 1dari 42

PENDAPATAN

MAKALAH

diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Teori dan Seminar Akuntansi
Dosen Ampu: Dr. H. Yayat Supriyatna, M.M.
R. Dian Hardiana,S.Pd., M.Si.

Disusun oleh:
Monna Damaianti (1400351)
Novi Yanti (1406933)
Rofingah Dewi Kuswanti (1405653)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI


FAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2017
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat
dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang kami beri judul
PENDAPATAN.Makalah ini kami susun dengan tujuan untuk mememenuhi salah satu tugas
pada mata kuliah Teori dan Seminar Akuntansi.
Penulis sangat menyadari bahwa tanpa adanya bantuan dan bimbingan, arahan serta dukungan
dari berbagai pihak, penyusunan tugas ini tidak dapat terselesaikan dengan baik. Oleh karena itu,
penulis ingin menyampaikan rasa terimakasih kepada :
1. Dosen mata kuliah Teori dan Seminar Akuntansi Bapak Dr. H. Yayat Supriyatna, M. M.
serta asisten dosen Bapak R. Dian Hardiana, S.Pd., M.Si
2. Serta seluruh pihak yang turut membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa tanpa adanya bantuan mereka semua adalah tidak mungkin tugas
ini dapat terselesaikan, semoga Allah SWT memberikan balasan segala budi dan kebaikan kelak
dikemudian hari kepada kalian semua.
Dengan segala kerendahan hati dan sadar akan kekurangan, penulis mengharapkan kritik dan
saran yang membangun demi kesempurnaan tugas ini. Akhir kata, semoga tugas ini bisa
memberikan manfaat bagi diri penulis sendiri dan segenap pembaca sekalian.Amin.
Wassalamualaikum wr.wb

Bandung, 14 Maret 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................................................... i


BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ...................................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................................. 2
C. Tujuan Makalah .................................................................................................................... 2
D. Manfaat Makalah .................................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................................ 4
A. DEFINISI PENDAPATAN .................................................................................................. 4
Pandangan Perilaku terhadapPendapatan........................................................................... 11
B. PENGAKUAN PENDAPATAN ........................................................................................ 13
1. Perspektif Sejarah ........................................................................................................... 13
2. Pembentukan Dan Realisasi Pendapatan ........................................................................ 14
3. Kriteria Pengakuan Pendapatan ...................................................................................... 18
4. Analisis Kriteria Untuk Pengakuan Pendapatan .............................................................. 19
C. PENGUKURAN PENDAPATAN ..................................................................................... 25
1. Penjualan Barang ............................................................................................................ 26
2. Penjelasan penjualan ....................................................................................................... 26
3. Pengecualian untuk dasar penjualan ................................................................................ 27
4. Selama produksi ............................................................................................................... 27
5. Akhir produksi ................................................................................................................. 29
6. Kas yang diterima setelah penjualan................................................................................ 29
7. Pemberian Jasa ................................................................................................................. 30
8. Bunga, Royalti Dan Dividen. ........................................................................................... 31
D. TANTANGAN BAGI STANDARD SETTERS ................................................................... 31
1. Pengukuran Nilai Wajar .................................................................................................. 33
2. Penyajian Statemen Keuangan ........................................................................................ 33
E. MASALAH BAGI AUDITOR ........................................................................................... 36
BAB III PENUTUP ...................................................................................................................... 37
A. Kesimpulan..................................................................................................................... 37
B. Saran ............................................................................................................................... 37
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................... iv

ii
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Penyajian Laporan Keuangan ........................................................................ 30

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Ilustrasi Proses Pendapatan ........................................................................ 10

Gambar 2.1 Konsep Pembentukan Pendapatan ............................................................. 13

Gambar 2.2 Siklus Operasi ............................................................................................ 16

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Akuntasi memang sangat dibutuhkan oleh setiap perusahaan karena dengan
Akuntansi kita bisa memantau kinerja perusahaan dan kondisi perusahaan yang kita
jalani, apakah memperoleh laba atau menderita kerugian. Dengan akuntansi kitapun
dapat memperoleh informasi yang nantinya berguna untuk pemakainya,baik itu pihak
ekstern maupun intern. Dengan adanya informasi ini kita juga bisa membayar
pajak kepada pemerintah demi kesejahteraan sosial. Semua informasi diatas terkait
halnya dengan seberapa banyak pendapatan yang kita peroleh dari kegiatan
perusahaan kita, karana pendapatan adalah sesuatu yang sangat penting dalam
setiap perusahaan. Tanpa ada pendapatan mustahil akan didapat penghasilan atau
earnings. Pendapatan adalah penghasilan yang timbul dari aktivitas perusahaan yang
biasa dikenal atau disebut penjualan, penghasilan jasa (fees), bunga, dividen, royalti dan
sewa.
Pada umumnya setiap perusahaan, baik perusahaan dagang, perusahaan jasa dan
perusahaan industri dalam kegiatannya selalu mengahadapi berbagai masalah.
Sebagaimana yang telah diketahui pendapatan merupakan salah satu hal yang sangat
berkaitan dengan kegiatan operasional perusahaan. Pada perusahaan dagang maupun
manufaktur, pendapatan diperoleh dari penjualan barang yang dilakukan oleh
perusahaan-perusahaan tersebut. Sedangkan pada perusahaan jasa, pendapatan diperoleh
dari pemberian jasa atau pelayanan kepada konsumen.
Pendapatan merupakan elemen kunci dalam laporan keuangan dan cukup
penting untuk penyusun dan pengguna laporan keuangan. Laporan pendapatan
mencerminkan operasi perusahaan sebelumnya dan digunakan untuk memprediksi kinerja
di masa yang akan datang. Meskipun menentukan pendapatan adalah bagian penting
dalam pengukuran kinerja, pengukuran ini tidak selalu mudah karena banyaknya model
bisnis yang berbeda.

1
Pengakuan dan pengukuran menjadi permasalahan dalam menentukan
pendapatan.Pengakuan pendapatan merupakaan saat dimana sebuah transaksi harus
diakui sebagai pendapatan perusahaan. Sedangkan pengukuran pendapatan adalah berapa
besar jumlah pendapatan yang seharusnya diakui dari setiap transaksi yang terjadi pada
suatu periode tertentu. Permasalahan pengakuan dan pengukuran pendapatan saling
terkait satu sama lain. Permasalahan ini akan selalu muncul apabila sebuah transaksi
berhubungan dengan pendapatan. Pengakuan perlu dilakukan pada saat yang tepat atas
suatu kejadian ekonomi yang menghasilkan pendapatan, begitu juga jumlah yang diakui
haruslah diukur secara tepat dan pasti. Apabila pendapatan diakui tidak sama dengan
yang seharusnya maka ini berarti pendapatan bisa salah (apakah terlalu besar atau terlalu
kecil). Hal ini dapat mengakibatkan informasi yang disajikan dalam laporan laba rugi
tidak tepat dan dapat menyebabkan kesalahan dalam pengambilan keputusan oleh pihak
manajemen perusahaan sehingga penting sekali dalam pengakuan dan pengukuran
pendapatan.
Maka dari itu kelompok kami membahas masalah yang berkaitan dengan
pendapatan.Dan makalah ini kami beri judul PENDAPATAN

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai
berikut :
1. Apa definisi dari Pendapatan ?
2. Bagaimana pengakuan Pendapatan serta kriteria pengakuan Pendapatan tersebut?
3. Bagaimana pengukuran Pendapatan serta kriteria pengukuran Pendapatan tersebut?
4. Apa saja tantangan yang dihadapi oleh para penyusun standar (standard setter)?
5. Apa saja isu bagi auditor terkait dengan Pendapatan?

2
C. Tujuan Makalah
Makalah ini disusun dengan tujuan sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui definisi dari Pendapatan.
2. Untuk mengetahui bagaimana pengakuan Pendapatan serta kriteria pengakuan
Pendapatan tersebut.
3. Untuk mengetahui bagaimana pengukuran Pendapatan serta kriteria pengukuran
Pendapatan tersebut.
4. Untuk mengetahui apa saja tantangan yang dihadapi oleh para penyusun standar
(standard setter).
5. Untuk mengetahui apa saja isu bagi audtor terkait dengan Pendapatan.

D. Manfaat Makalah
Makalah ini disusun dengan tujuan sebagai berikut :
1. Pembaca dapat mengetahui apa definisi dari Pendapatan.
2. Pembaca dapat mengetahui bagaimana pengakuan Pendapatan serta kriteria pengakuan
Pendapatan tersebut.
3. Pembaca dapat mengetahui bagaimana pengukuran Pendapatan serta kriteria
pengukuran Pendapatan tersebut.
4. Pembaca dapat mengetahui apa saja tantangan yang dihadapi oleh para penyusun
standar (standard setter).
5. Pembaca dapat mengetahui apa saja isu bagi audtor terkait dengan Pendapatan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI PENDAPATAN
Pendapatan adalah elemen kunci akuntansi dan mendasar dari pelaporan aktivitas
suatu perusahaan, jadi defenis dari pendapatan ini sangatlah penting. Kita tahu
pendapatan berimbas kepada kenaikan nilai bruto dari aset dan modal. Dan kenaikan ini
akhirnya berhubungan dengan kas. Untuk operasi utama dari bisnis, arus masuk kas
terutama diciptakan oleh produksi dan penjualan output dari entitas. Oleh karena itu kita
dapat mengidentifikasi dua aliran utama berhubungan dengan operasi bisnis ini yaitu
aliran fisik dan aliran moneter.
Aliran fisik melibatkan peristiwa dalam memproduksi dan menjual output atau
produk perusahaan. Aliran moneter mencakup peristiwa meningkatnya nilai dari
perusahaan. Objek yang berhubungan dengan aliran moneter adalah jumlah dolar/rupiah
aset yang diproduksi atau dijual. Paton dan Littleton menyebut pendapatan sebagai
produk dari perusahaan termasuk aliran fisik dari produksi output perusahaan. Mereka
juga menambahkan bahwa pendapatan akhirnya mewakili aliran dana dari konsumen
jadi termasuk aliran moneter. Jadi kita simpulkan bahwa pendapatan secara langsung
berkaitan peristiwa moneter dari peningkatan nilai perusahaan, yang meningkatkan
produksi atau penjualan dari output.
Pendapatan didefinisikan dalam 1AS 18/AASB 118 Revenue, paragraf 7, yakni:
Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari
aktivitas normal perusahaan selama satu periode bila arus masuk itu
mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanaman
modal.
Dalam Framework IASB pendapatan (revenue) adalah bagian dari penghasilan (income):
Pendapatan adalah meningkatnya manfaat ekonomi selama periode akuntansi
dalam bentuk arus masuk atau peningkatan dari aset atau pengurangan dari
kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari
kontribusi penanaman modal.

4
Definisi penghasilan (income) meliputi baik pendapatan (revenue) dan laba. Pendapatan
timbul dari aktivitas normal perusahaan termasuk penjualan, biaya, bunga, dividen,
royalti dan sewa.
Di Amerika Serikat, FASB mendefinisikan pendapatan sebagai berikut:
Pendapatan adalah arus masuk atau tambahan lain dari aset entitas atau
pelunasan dari kewajibannya (atau kombinasi keduanya) selama periode dari
penyerahan atau produksi barang, memberikan jasa, atau kegiatan lainnya yang
dilakukan oleh operasi/aktivitas pusat atau utama yang sedang berlangsung dari
entitas.
Definisi IASB konsisten dengan definisi FASB tentang pendapatan dan
berfokus pada arus masuk atau tambahan lain dari aset entitas oleh operasi/aktivitas
pusat atau utama yang sedang berlangsung dari entitas. Aset Diterima atau
ditingkatkan dengan penghasilan mencakup kas, piutang dan barang dan jasa yang
Diterima dalam pertukaran barang dan jasa yang disediakan (Framework, paragraf
77). Definisi pendapatan mencakup juga hasil dari penyelesaian kewajiban.
Berbeda dengan pendekatan IASB, FASB membuat sebuah perbedaan antara
pendapatan dan laba, meskipun keduanya dimasukkan dalam laporan laba. Laba
adalah kenaikan aset bersih dari transaksi perifer atau insidentil dan dari peristiwa
lainnya yang mungkin sebagian besar di luar kendali perusahaan. Pendapatan
berhubungan dengan operasi utama atau sentral yang sedang berlangsung. Namun,
Martin menyarankan bahwa tidak ada alasan bahwa pendapatan dan keuntungan
seharusnya tidak mengikuti aturan yang sama dalam pengakuan dan pengukurannya.
Pada dasarnya, keduanya mewakili peningkatan dalam asset bersih dan oleh karena itu
harus diperlakukan dengan cara yang sama.
Paton dan Littleton (1970) mengkarakterisasi pendapatan sebagai berikut :
Revenues is the product of enterprise, masured by amount of new assets
received from customer; ... Steted in terms of asset the revenue of the
enterprise in presented, finally, by the flow of fund from the customer or
patrons in exchange for the product of the business, either commodities or
service (hlm. 47-47).

5
(Pendapatan adalah produk dari perusahaan, diukur dengan jumlah aset baru
yang diterima dari pelanggan; ... Lain dari segi aset pendapatan perusahaan
disajikan, akhirnya, dengan aliran dana dari pelanggan atau pelanggan dalam
pertukaran untuk produk bisnis, baik komoditas atau jasa (hlm. 47-47).)
Dari beberapa definisi di atas menurut Suwardjono (2010:354) dapat didaftar
karakteristik karakteristik atau kata kata kunci yang membentuk pengertian pendapatan
dan untung. Yang membentuk pengertian pendapatan dan untung adalah :
1. Aliran masuk atau kenaikan asset
2. Kegiatan yang mempresentasi operasi utama atau sentral yang menerus.
3. Pelunasan, penurunan, atau pengurangan kewajiban.
4. Suatu entitas
5. Produk perusahaan
6. Pertukaran Produk
7. Menyandang beberapa nama atau mengambil beberapa bentuk.
8. Mengakibatkan kenaikan ekuitas.
Beberapa karakteristik di atas dikatakan merupakan turunan/konsekuensi dari atau
dikandung secara implisit oleh kata kunci yang lain. Karakteristik (3) sampai (8)
sebenarnya merupakan penjabaran atau konsekuensi dari ketiga karakteristik
sebelumnya.Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa karakteristik (1) dan (2) merupakan
karakteristik utama sedangkan karakteristik yang lain merupakan karakteristik
konsekuensi, pendukung, atau penjelas.
1. Kenaikan Aset
Paton dan Litleton (1970:47) menyebutkan bahwa aset dapat bertambah
karena berbagai transaksi, kejadian, atau keadaan sebagai berikut:
a. Transsaksi pendanaan yang berasal dari kreditor dan investor.
b. Laba yang berasal dari kegiatan investasi, misalnya penjualan aset
tetap, surat berharga, segmen bisnis, dan anak perusahaan.
c. Hadiah, donasi atau temuan
d. Revaluasi aset yang telah ada.
e. Penyediaan dan/atau penyerahan produk (barang dan jasa)

6
Untuk disebut sebagai pendapatan, aliran aset masuk adalah jumlah rupiah
kotor. FASB mengisyaratkan jumlah kotor dengan menyatakan bahwa pendapatan
adalah jumlah rupiah yang datang dari p-enyerahan produk atau pelaksanaan
jasa.(IASC) menunjuk jumlah kotor dengan menyebutkan bahwa jumlah rupiah
pendapatan dapat berupa penjualan, imbalan jasa, bunga, dividen, royalitas, dan
sewa.
Oleh karena itu hanya kegiatan (e) diatas yang masuk kedalam kategori
sumber pendapatan. FASB dan APB tidak memasukkan kegiatan (b) sebagai
sumber pendapatan karena merupakan jumlah neto dan bukan merupakan
kegiatan operasi sehingga mereka memasukannya sebagai elemen untung (gains).
Secara konseptual IASC (IAI) tidak membedakan antara pendapatan dan untung
atas dasar jumlah kotor atau neto.
Pendefinisian pendapatan sebagai kenaikan aset merupakan pendefinisian
dengan konsep aliran masuk. Konsep ini mempunyai kelemahan karena
pendapatan dianggap baru ada setelah transaksi penjualan terjadi. Dengan kata
lain pendapatan timbul karena peristiwa atau transaksi pada saat tertentu dan
bukan karena proses selama suatu periode. Kelemahan lain adalah definisi ini
mengacaukan pengukuran dan penentuan saat pengakuan dengan proses
penciptaan pendapatan. IAI harus membatasi bahwa kenaikan aset tersebut adalah
yang menaikkan ekuitas kecuali yang berasal dari transaksi dengan pemilik.
Konsep kenaikan aset mengalami masalah dalam hal aliran masuk yang berupa
pembayaran di muka yang berasal dari pelanggan. Walaupun pembayaran
semacam ini merupakan bagian dari operasi utama perusahaan, pada
kenyataannya aliran masuk tersebut tidak atau belum dianggap pendapatan.
Demikian juga, walaupun penjualan kredit menimbulkan piutang usaha, piutang
sering dianggap buakan suatu aliranmasuk aset.
2. Operasi Utama Berlanjut
Tidak semua kenaikan aset di atas membentuk pendapatan. Kegiatan
utama atau sentral yang menerus atau berlanjut merupakan karakteristik yang
membatasi kenaikan yang dapat disebut pendapatan. Kenaikan aset harus berasal
dari kegiatan operasi dan bukan kegiatan investasi dan pendanaan. Kegiatan

7
operasi ini diwujudkan dalam bentuk memproduksi dan mengirimkan berbagai
barang kepada pelanggan atau menyerahkan atau melaksanakan berbagai jasa.
Pengertian operasi utama menunjukkan kegiatan sebagaimana pengertian
operasi dalam klasifikasi kegiatan yang membentuk statemen aliran kas yaitu,
operasi, investasi, dan pendanaan. Akan tetapi, pendapatan atau untung yang tidak
berasal dari operasi utama dengan sendirinya lalu dapat disebut sebagai pos
nonoperasi
Operasi dan Non-operasi
Produk yang dihasilkan secara tidak rutin atau insidential sering dianggap
sebagai pos pendapatan non-operasi dan dipisahkan penyajiannya. Pembedaan
memang perlu tetapi mengklasifikasinya sebagai non-operasi dapat menyesatkan
dalam pengukuran kinerja atau daya melaba perusahaan.
Paton dan Litleton (1970) berpendapat bahwa pemisahan laba atau rugi
sebagai pos operasi dan non-operasi hanya dapat dibenarkan kalau laba atau rugi
sebagai pos operasi tesebut benar benar luar biasa dan berkaitan dengan tujuan
perusahaan utama hanya secara sangat kebetulan saja.Jadi, istilah non-operasi
kurang deskriptif untuk mengklasifikasikan beberapa pendapatan atau untung
yang sebenarnya masuk dalam pengertian operasi dalam arti luas.Bila tidak
bersifat luar biasa, pos-pos tersebut lebih tepat dilaporkan sebagai pendapatan
lain-lain dan untung (other revenue and gains).
3. Penurunan Kewajiban
Hal ini terjadi bila suatu entitas telah mengalami kenaikan aset sebelumnya
misalnya menerima pembayarn di muka dari pelanggan penerimaan ini bukan
merupakan pendapatan karena perusahaan belum melakukan prestasi yang
menimbulkan hak penuh atas aset yang diterima. Oleh karena itu, jumlah rupiah
yang diterima biasanya diperlukan sebagai pendapatan tekterhak atau pendapatan
tangguhan yang statusnya adalah kewajiban sampai ada prestasi dari perusahaan
berupa pengiriman barang atau pelaksanaan jasa. Pengiriman barang atau
pelaksanaan jasa akan mengurangi kewajiban yang menimbulkan pendapatan.
Kejadian itu mengubah kewajiban menjadi pendapatan.

8
4. Suatu Entitas
Dimasukkan kata entitas atau perusahaan dalam definisi mengisyaratkan bahwa
konsep kesatuan usaha dianut dalam pendefinisian. Pendapatan didefinisikan
sebagai kenaikan aset bukannya kenaikan ekuitas bersih. Jadi, aset yang masuk
itulah yang disebut pendapatan. Aset tersebut dikuasai oleh perusahaan. Akan
tetapi, karena hubungan perusahaan dengan pemilik merupakan hubungan utang-
piutang, pada saat aset naik sebagai pendapatan, utang perusahaan kepada pemilik
juga naik dengan jumlah yang sama. Hal ini mengisyaratkan bahwa konsep
kesatuan usaha dianut dalam pendefinisian. Karena pendapatan didefinisikan
sebagai kenaikan aset bukan kenaikan ekuitas.
5. Produk Perusahaan
Paton dan Littleton menyatakan bahwa pendapatan adalah produk perusahaan. Di
sini pendapatan didefinisikan secara fisis bukan moneter. Definisi ini juga netral
terhadap saat pengakuan. Aliran aset dari pelanggan berfungsi hanya sebagai
pengukur tetapi bukan pendapatan itu sendiri; produk fisis yang dihasilkan oleh
kegiatan usaha itulah pendapatan. Pengertian semacam ini sesuai dengan konsep
upaya dan capaian (efford and accomplishment) yaitu pendapatan merupakan
capaian upaya produktif perusahaan. Produk merupakan capaian dari tiap kegiatan
produktif. Dengan pengertian ini, pendapatan terbentuk atau terhimpun bersamaan
dengan atau selama kegiatan produktif tanpa harus menunggu kejadian atau saat
penyerahan produk kepada pelanggan.
Ada dua aliran yang berkaitan dengan pendapatan yaitu aliran fisik dan aliran
moneter. Pendapatan merupakan aliran masuk aset (unit moneter dan hal tersebut
berkaitan dengan aliran fisis berupa penyerahan produk (output) perusahaan.
Dalam hal ini, Kam (1990, hlm. 237) mempertanyakan apakah pendapatan itu
objek atau kejadian. Untuk menjawab hali tersebut, Kam merinci lebih lanjut
kedua aliran tersebut yaitu:
a. Aliran fisis berupa :
Kejadian memproduksi dan menjual produk
Objek, yaitu produk fisis itu sendiri.
b. Aliran moneter berupa :

9
Kejadian menaiknya nilai aset perusahaan karena produksi atau penjualan
produk ke konsumer.
Objek, yaitu jumlah rupiah aset atau produk yang dihasilkan atau dijual.
6. Pertukaran
Ini dikarenakan pendapatan akhirnya harus dinyatakan dalam satuan moneter
untuk dicatat dalam sistem pembukuan. Satuan moneter yang paling objektif
adalah kalau jumlah rupiah tersebut merupakan hasil transaksi atau pertukaran
antara pihak independen.
7. Berbagai bentuk dan Nama
Pendapatan adalah konsep yang bersifat generik dan mencakupi semua pos
dengan berbagai bentuk dan nama apapun. Pendapatan untuk perusahaan
perdagangan misalnya disebut dengan penjualan. Untuk perusahaan jasa,
pendapatan dapat diberi pewatas untuk menunjukkan kegiatan atau jenis jasa yang
diberikan misalnya pendapatan sewa, pendapatan jasa angkutan, pendapatan
bunga, dan sebagainya. IAI (IASC) menegaskan hal tersebut dalam definisinya.
Hal yang sama dikemukakan FASB sebagai berikut (SAFC No. 6, prg 79)
the transactions and events from which revenues arise and the
revenues themselves are in many forms and are called by various
names. For example, output, deliveries, sales, fees, interest,
dividends, royalties, and rentdepending on the kinds of
operations involved and the way revenues are recognized.
IAI dan APB tidak membedakan untung dan pendapatan dan keduanya digabung
dalam konsep penghasilan. Kata kunci yang melekat pada untung adalah :
a. Kenaikan ekuitas (aset bersih)
b. Transaksi periferal atau incidental
c. Selain yang berupa pendapatan atau investasi oleh pemilik.
FASB membedakan antara untung dan pendapatan karena adanya
karakteristik sumber yang dapat dibedakan dengan operasi utama. Karakteristik
sumber dari untung itu sendiri adalah :

10
a. Periferal dan insidental: misalnya penjualan investasi dalam surat-surat
berharga, penjualan aset tetap, pelunasan utang obligasi sebelum jatuh
tempo.
b. Transfer nontimbal-balik (nonreciprocal transfer) dengan pihak lain :
misalnya hadiah dan donasi (bagi organisasi nonprofit) dan penerimaan
ganti rugi pemenangan tuntutan perkara hukum.
c. Penahanan aset (holding asset) : misalnya kenaikan harga sekuritas
investasi, kenaikan nilai tukar valuta asing, dan kenaikan karena
penahanan sediaan (holding gains)
d. Faktor lingkungan : misalnya ganti rugi asuransii musibah alam yang
melebihi kos aset yang rusak.
FASB sendiri mengakui bahwa pembedaan tersebut sebenarnya lebih
dimaksudkan untuk kepentingan penyajian pendapatan atas dasar sumbernya
daripada untuk membedakan secara tegas karakteristik antara pendapatan dan
untung.
(Sumber Suwardjono, 2005 : 351-362).

Pandangan Perilaku terhadapPendapatan


Perlu diketahui,pendapatan merupakan peningkatan total nilai dari aset (atau
penurunan nilai kewajiban) dan modal selain dari tambahan investasi dari pemilik.
Peningkatan ini biasanya terjadi karena perusahaan melakukan aktivitas tertentu;
dengan kata lain, terdapat kinerja dari perusahaan. Pendapatan umumnya diperoleh
dikarenakan entitas melakukan sesuatu untuk mewujudkannya.
Penerimaan bukan sekedar sejumlah uang. Sebagaimana Paton dan Littleton
tetapkan, pendapatan menujukkan prestasi/pencapaian dari perusahaan. Yaitu
merupakan ukuran kinerja kotor entitas sebagai penciptaan laba bisnis. Ketika beban
dipandang sebagai 'usaha' dari perusahaan, maka pencocokan pendapatan dan beban
yang menghasilkan laba merupakan 'pencapaian bersih' dari perusahaan. Ini adalah
pandangan perilaku pendapatan, beban dan laba.
Dalam nada yang sama, Bedford menekankan pandangan operasional pendapatan
dan laba, di mana, laba didefinisikan dalam hal operasi tertentu yang dilakukan oleh
entitas, bukan hanya merupakan hasil dari penerapan metode akuntansi. Laba muncul

11
hanya pada aktifitas yang dirancang oleh operasi bisnis. Dengan demikian,
peningkatan dan penurunan nilai tertentu dikecualikan, Seperti Mereka yang berasal
dari transaksi obligasi pemerintah, hadiah dan kontribusi, Karena Tidak Dianggap
sebagai aktifitas yang menghasilkan laba bisnis. Operasi bisnis umum yang
ditetapkan oleh Bedford adalah:
1. akuisisi sumber daya uang
2. akuisisi layanan
3. penggunaan layanan
4. Rekombinasi dari perolehan layanan
5. disposisi layanan
6. distribusi sumber daya uang

Berikut pendapat Myers sehubungan dengan konsep pendapatan dan laba untuk
kegiatan penting tertentu serta keputusan yang dibuat oleh para pengelola
perusahaan. Dia menunjukkan laba yang diperoleh pada saat membuat keputusan
yang paling penting atau melakukan tugas yang paling sulit dalam siklus transaksi
lengkap. Namun, ia menekankan bahwa kegiatan penting akan berada pada titik
yang berbeda tergantung pada sifat bisnis. Misalnya, kegiatan penting bagi produsen
(yaitu penjualan produk) mungkin berbeda dari kegiatan penting untuk lembaga
keuangan (membuat pinjaman). Meskipun inkonsistensi dalam praktek, teori kritis
peristiwa Myers tetap berguna dalam membantu akuntan menentukan titik di mana
pendapatan harus diakui.

Posisi ini menekankan bahwa semua pendapatan dan laba terjadi karena kegiatan
yang dilakukan perusahaan. Ini adalah pandangan perilaku pendapatan dan laba.
Semua kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk membuat keuntungan, secara
keseluruhan, yang disebut 'proses produktif'. Menerapkan operasi bisnis Bedford
untuk sebuah perusahaan manufaktur, kita menemukan proses pendapatannya terdiri
dari urutan diilustrasikan pada Gambar 1.1

Pembelian input layanan Produksi Penyimpanan produk Penjualan Kredit


Pengumpulan kas Garansi

12
Berbeda dengan Myers, Paton dan Littleton berpendapat bahwa pendapatan dan
laba bertambah sepanjang proses produktif yaitu ada perubahan terus-menerus dalam
nilai total aset dan modal perusahaan dalam melakukan kegiatan tertentu dalam proses
produksi. Dalam definisi FASB pendapatan memperhatikan "arus masuk atau perangkat
tambahan lain aset dari suatu entitas atau penyelesaian atas kewajiban 'karena' mengantar
atau memproduksi barang serta memberikan jasa '. Perhatikan bahwa definisi initidak
menentukan pendapatan hanya pada jumlah penjualan yang dilakukan kepada pelanggan.
Seperangkat aturan berdasarkan definisi diperlukan sebagai identifikasi objektif serta
untuk mengukur jumlah pendapatan dalam prakteknya. Aturan-aturan ini biasanya
disebut sebagai prinsip realisasi atau pengakuan

B. PENGAKUAN PENDAPATAN
1. Perspektif Sejarah
Selama abad kesembilan belas, penghasilan (laba) untuk bisnis ditentukan
dengan dasar suatu peningkatan terhadap kekayaan bersih. Pengakuan yang
dikenal sekarang atau prinsip realisasi tidak selalu merupakan bagian dari praktek
standar akuntansi. Sebagaimana May katakan:
Sebuah tinjauan akuntansi, hukum, dan Ekonomi menyarankan
bahwa realisasi postulat tidak diterima sebelum Perang Dunia
Pertama. Pada tahun 1913. Semua otoritas terkemuka di bidang ini
di Inggris dan Amerika Tampaknya setuju pada Peningkatan
Terhadap Kekayaan Bersih sebagai konsep penghasilan.

Meningkatnya konsep kekayaan bersih dari penghasilan secara bertahap


digantikan oleh gagasan bahwa penghasilan harus 'terealisasi'. Hal ini timbul
Karena Perubahan Penggunaan aset tidak lancar khusus oleh Perusahaan menjadi
signifikan pada periode antara Perang Dunia I dan 1930-an menentukan nilai aset
khusus ini sulit, membuat perhitungan dari perubahan nilai aset lebih sulit untuk
dipastikan.

13
2. Pembentukan Dan Realisasi Pendapatan
Pengakuan adalah pencatatan jumlah rupiah secara resmi ke dalam sistem
akuntansi sehingga jumlah tersebut terefleksi dalam statemen keuangan.
Pengertian atau definisi pendapatan harus dipisahkan dengan pengakuan
pendapatan bahkan pengertian pendapatan sebenarnya juga harus dipisahkan
dengan pengukuran pendapatan. Dengan demikian, suatu jumlah yang memenuhi
definisi pendapatan tidak dengan sendirinya jumlah tersebut diakui (dicatat secara
resmi) sebagai pendapatan.
Pendapatan sebagai produk perusahaan tidak mengisyaratkan berapa
jumlahnya dan berapa harus dicatat tetapi lebih mengisyaratkan berapa jumlahnya
dan kapan harus dicatat tetapi lebih mengisyaratkan bahwa pendapatan memang
ada atau terwujud, definisi tersebut lebih difokuskan pada eksistensi pendapatan.
Pengakuan pendapatan tidak boleh menyimpang dari landasan konseptual.
Oleh karena itu, secara konseptual pendapatan hanya dapat diakui kalau
memenuhi kualitas keterukuran (measurability), dan keterandalan (reliability).
Kualitas tersebut harus diopersionalkan dalam bentuk kriteria pengakuan
pendapatan. Sebagai produk perusahaan, kriteria keterukuran berkaitan dengan
masalah berapa jumlah rupiah produk tersebut dan kriteria keterandalan berkaitan
dengan masalah apakah jumlah tersebut objektif serta dapat diuji kebenarannya.
Kedua kriteria harus dipenuhi untuk pengakuan pendaptan. Pendapatan yang
diukur dengan jumlah penghargaan sepakatan produk yang terjual baru akan
menjadi pendapatan yang sepenuhnya setelah produk selesai diproduksi dan
penjualan benar-benar terjadi. Dengan kata lain, pendapatan belum terealisasi
sebelum terjadinya penjualan yang nyata ke pihak lain. Sebaliknya, terjadinya
kontrak penjualan belum cukup untuk menandai eksistensi pendapatan sebelum
barang/jasa sudah cukup selesai dikerjakan atau diserahkan kepada pelangan.
Dengan kata lain, pendapatan belum terbentuk sebelum perusahaan melakukan
upaya produktif. Untuk menjabarkan kriteria kualitas informasi menjadi kriteria
pengakuan pendapatan, perlu dipahami dua konsep penting yaitu pembentukan
pendapatan dan realisasi pendapatan.

14
a. Pembentukan Pendapatan (Earning Process)
Pembentukan pendapatan adalah suatu konsep yang berkaitan dengan
masalah kapan dan bagaimana sesungguhnya pendapatan itu timbul dan
menjadi ada. Dengan kata lain, apakah pendapatan itu timbul dari keadaan
produktif atau karena kejadian tertentu. Konsep ini menyatakan bahwa
pendapatan terbentuk, terhimpun atau terhal bersamaan dan dengan
melekat pada seluruh atau totalitas proses berlangsungnya operasi
perusahaan dan bukan sebagai hasil transaksi tertentu. Konsep dasar ini
sering disebut pendekatan proses pembentukan pendapatan atau pendekatan
kegiatan.
Pendekatan ini dilandasi oleh konsep dasar upaya dan hasil capaian
serta kontiuitas usaha.Biaya merepresentasikan upaya dan pendapatan
merepresentasikan capaian. Karena tujuan perusahaan adalah menciptakan
laba, manajemen atau pengusaha mengharapkan diharapkan bahwa
pendapatan selalu lebih besar dari biaya.Tanpa harapan adanya kelebihan
tersebut orang tidak bersedia melakukan usaha secara sengaja dan senang
hati.Laba merupakan imbalan untuk tenaga, pikiran, serta risiko yang
ditanggung pengusaha atau perusahaan.
Pendekatan ini juga dilandasi oleh konsep homogenesitas kos yaitu
bahwa semua tahap kegiatan atau unsur di dalamnya (direpresentasikan)
mempunyai kedudukan atau arti penting yang sama dalam menghasilkan
pendapatan (Paton dan Littleton 1970 : 67 dalam Suwardjono, 2005 : 364).
Implikasi dari konsep ini adalah semua tahap kegiatan memberi
sumbangan dalam penciptaan pendapatan yang secara proporsional sama
dengan besarnya kos. Jadi, begitu kos suatu objek biaya terjadi,
pendapatan dapat dianggap terbentuk sehingga laba juga terbentuk.

15
Rupiah

C* S W C

E* R V E

H G* Q U G

Perioda

A B* P T Bz

Gambar 2.1
Konsep Pembentukan Pendapatan
Dalam gambar tersebut, AP adalah tahap produksi yaitu mulai dari
pembelian sumber ekonomik sampai produk selesai atau masuk gudang barang
jadi, PT mempresentasi tahap penjualan yaitu mulai dari diterimanya order
pembelian sampai barang dikirim ke pembeli.Setiap titik pada tahap PT dapat
disebut atau digunakan sebagai saat penjualan.Secara konseptual (dalam
pembahasan pengakuan pendapatan), titik P dianggap sebagai saat penjualan
terjadi.TB merepresentasi tahap kegiatan pengumpulan piutang mulai dari
penagihan sampai seluruh kas diterima. Titik B dianggap saat proses
pembentukan pendapatan telah selesai penuh. Di titik ini, penjualan telah tuntas
yaitu kas dari penjualan telah terkumpul semua dan perusahaan dianggap bebas
dari kewajiban garansi.Setiap titik dalam periode AB dapat dijadikan sebagai saat
pengakuan pendapatan sehingga AB dapat disebut sebagai perioda pengakuan
pendapatan.
Asumsilah bahwa area ABCD menggambarkan rupiah pendapatan yang
diharapkan dan akhirnya terealisasi. Area ABEF merepresentasi seluruh kos yang
akhirnya dikorbankan (menjadi biaya) sebagai upaya memperoleh pendapatan
ABCD. Area HQRF adalah kos kegiatan produksi barang, QUVR adalah kos

16
semua kegiatan penjualan, UGEV adalah kos semua kegiatan administrasi.
Dianggap kegiatan administratif berlangsung secara merata dan menerus
(continuing) sepanjang waktu.
Gambar 1.1 menjelaskan bahwa karena kos mempunyai kontribusi yang
sama dalam menciptakan pendapatan maka dapat dikatakan bahwa pendapatan
terbentuk pada setiap titik pada tahap AB. Misalnya, apabila di titik B* telah
dilakukan kegiatan administratif dengan kos AB*G*H dari kegiatan produksi
dengan kos HG*E*F maka di titik itu pendapatan sebesar AB*C*D telah dapat
dikatakan terbentuk. Tentu saja pendapatan sebesar AB*C*D tersebut masih
harus diuji realisasinya nanti. Kalau kegiatan telah mencapai kos sebesar APRF
maka pendapatan sebesar APSD sudah terbentuk dan begitu seterusnya sampai
akhirnya seluruh kegiatan pembentukan pendapatan selesai tuntas di titik B. tentu
saja di titik B jumlah rupiah APSD sudah dapat ditentukan secara pasti dan
objektif karena sudah terjadi kesepakatan harga oleh pihak lain (pembeli).
b. Realisasi Pendapatan
Kosep realisasi pendapatan:
Menurut konsep ini, pendapatan baru dikatakan terjadi atau terbentuk pada saat
terjadi kesepakatan atau kontrak dengan pihak independen untuk membayar produk
baik produk telah selesai dan diserahkan atau belum dibuat sama sekali. Dengan kata
lain, pendapatan terbentuk pada saat produk selesai dikerjakan dan terjual langsusng
atau pada saat terjual atas dasar kontrak penjualan (barang mungkin belum jadi atau
belum diserahkan). Berdasarkan konsep, pendapatan sebenarnya terjadi akibat
transaksi tertentu yaitu transaksi penjualan atau kontrak sehingga sebelum transaksi
atau kontrak tersebut terjadi pendapatan belum terjadi atau terbentuk.
Konsep penghimpunan dan realisasi pendapatan sangat penting artinya dalam
pengakuan pendapatan. Berdasarkan konsep dasar upaya dan hasil, konsep
penghimpunan pendapatan secara konseptual lebih unggul dan lebih konsisten
daripada konsep realisai bila dikaitkan dengan definisi pendaptan secara umum,
karena didukung oleh konsep dasar upaya dan hasil serta konsep homogenitas kos.
Konsep realisasi lebih berkaitan dengan masalah pengukuran pemdapatan secara
objektif dan lebih bersifat kriteria pengakuan daripada bersifat makna pendapatan.

17
Konsep realisasi atau pendekatan transaksi lebih menekankan kejadian yang dapat
menandai pengakuan pendapatan yaitu :
1. Kejadian perubahan produk menjadi potensi jasa lain melalui proses penjualan
yang sah atau semacamnya.
2. Penguatan atau validassi transaksi penjualana tersebut dengan diperolehnya aset
lancar.
Dari kedua kejadian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa proses realisasi
merupakan koonfirmasi proses penghimpunan dana.

3. Kriteria Pengakuan Pendapatan


Peristiwa tersebut membuat akuntan menyadari perlunya bukti obyektif yang
cukup untuk mendukung setiap perubahan nilai jika itu harus dicatat sebagai
pendapatan. Pertanyaannya adalah: Pada poinmana pendapatan (revenue)dapat dicatat
sebagai penerimaan (earned) selama proses penerimaan (earning process) karena
tidak ada bukti yang cukup?
Pengakuan pendapatan dapat terjadi pada beberapa tahapan dalam operasi
perusahaan atau siklus pendapatan, digambarkan dalam gambar 09.2. Hal ini
diuraikan oleh Coombes dan Martin sebagai berikut:
Pendapatan yang telah diakui di beberapa poin dalam siklus pendapatan,
misalnya:
1) pada poin 5 dalam industri bangunan untuk kontrak konstruksi jangka panjang
2) pada poin 7 di mana itu adalah tanggung jawab pembeli untuk mengumpulkan
barang
3) Pada poin 8 dalam banyak kasus
4) pada poin 9 dengan beberapa praktek professional dan untuk kredit angsuran
penjualan

18
9 receipt of 1 devising
cash an idea

8 delifery of 2 making
goods to purchases
costomers

7 receipt of orders 3 receip of orders


after completing before
production commencing
production

4
6 completion commencing
of production 5 progressively production
throughout
production

Gambar 2.2 Siklus Operasi

Kita perlu merumuskan kriteria untuk membantu kita memutuskan bukti apa yang
cukup obyektif-yaitu kita perlu mengetahui jenis bukti yang kita perlukan sebelum
kita memiliki keyakinan terhadap suatu pendapatan atau laba tertentu. Selama
bertahun-tahun, berdasarkan kebutuhan akan bukti obyektif, tiga kriteria telah
dikembangkan untuk memastikan apakah pendapatan atau laba harus diakui, kriteria
pengakuan didasarkan pada kerelevanan dan kehandalan informasi akuntansi. Tiga
kriteria tersebut adalah:
1) Terukurnya nilai aset
2) Adanya transaksi
3) Penyelesaian substansial dari proses penerimaan.

Kriteria ini dibahas di bawah ini.

4. Analisis Kriteria Untuk Pengakuan Pendapatan


a. Terukurnya nilai aset
Pendapatan dapat dipandang sebagai arus kas masuk yang meningkatkan
nilai dari total asset perusahaan, bersamaan dengan peningkatan ekuitas. Kriteria

19
ini adalah masuk akal dalam pengakuan pendapatan. Jika tidak terdapat arus
masuk dari nilai asset yang dapat secara objektif ditentukan, pendapatan tidak
dapat dihitung secara obyektif. Manfaat dari pengukuran nilai wajar dalam
standar seperti IAS 39/AASB 139 financial instrument:recognition and
measurement, IAS 40/AASB 140 investment property IAS 41/AASB141
agriculture juga berfokus pada peningkatan aset, tanpa arus masuk actual atau
fisik dari asset. Dalam kasus tersebut, masalah utama adalah masih objektivitas.
Kebutuhan akan pengukuran reliable dan verifiable menyebabkan
penggunaan pendekatan konservatis dalam menilai asset.
Haruskah asset likuid?
FASB menyatakan bahwa pendapatan dan laba umumnya tidak diakui
sampai terealisai atau dapat terealisasi. sudut pandang ini didukung oleh AARF
dalam Teori Monoghraph no 3. Istilah terealisasi berarti bahwa aset yang
diterima adalah tunai atau klaim menjadi tunai dan 'dapat terealisasi berarti aset
yang diterima dengan segera dapat dikonfersi untuk mengetahui jumlah tunai atau
klaim menjadi tunai.Aset yang dapat segera dikonversi (readily convertible asset)
memiliki unit yang dipertukarkan dan memiliki harga yang tersedia di pasar aktif.
Dalam kebanyakan kasus, entitas menerima aset dari transaksi penjualan
dan nilai aset yang diterima adalah jumlah pendapatan tercatat. Paton dan
Littleton menguraikan pandangan ini:
Pendapatan direalisasikan, menurut pandangan yang dominan, bila
dibuktikan dengan penerimaan kas atau piutang, atau aset likuid baru lainnya.
Dalam Teori Monografi No 3 (hal. 12) dilaporkan bahwa literatur telah
'merasa bingung dengan jangka waktu dari realisasiberkaitan dengan pengakuan'.
Makna 'sehari-hari' dari kedua kata tersebut dianggap signifikan berbeda:
Menyadari' telah didefinisikan sebagai '... untuk mengkonversi
(sekuritas, uang kertas dll) menjadi uang tunai, atau (milik apapun)
menjadi uang ... untuk mendapatkan atau mengumpulkan (sejumlah
uang, laba dll) melalui penjualan, perdagangan atau cara serupa ...
Di sisi lain, 'mengakui' berarti 'memperlakukan sebagai valid,
karena memiliki keberadaan ...

20
Hal ini menyebabkan para penulis monografi untuk mengusulkan
rancangan definisi realisasi (hal.14) untuk mengatasi kebingungan ini:
Realisasi harus didefinisikan secara ketat dalam hal penerimaan
kas atau klaim hukum untuk kas dan tidak mengacu pada masalah
yang lebih luas dari pengakuan pendapatan.
Ini adalah sikap yang wajar untuk dipatuhi, mengingat bahwa pengakuan dapat
dibuat oleh suatu bisnis pada setiap titik yang dianggap memenuhi kriteria
pengakuan yang lebih kompleks, sedangkan realisasi akan berlangsung hanya
ketika kas atau setara kas dalam aset tersebut diterima oleh suatu bisnis .
Menurut laporan komite dari American Accounting Association, alasan untuk
posisi FASB dalam membutuhkan pendapatan akan direalisasikan atau realisasi
sebelum mereka diakui adalah untuk mencegah manajemen dari menguras modal
kerja perusahaan dengan membayar dividen ketika perusahaan itu memiliki nilai
aktiva lancar yang rendah, atau dengan membayar dividen dari modal yang
diinvestasikan. Alasan lain untuk mendesak bahwa aset yang diterima harus likuid
sebelum pendapatan bisa dicatat adalah ketentuan hukum bahwa dividen akan
dibagikan dari keuntungan. Hatfield menyatakan:
Penggunaan lain dari istilah batasan keuntungan ada karena begitu
banyak peningkatan dalam kepemilikan yang mungkin terjadi, sesuai
dengan ketentuan hukum atau prinsip-prinsip kemanfaatan bisnis,
harusdibagikan sebagai dividen dari suatu perusahaan. Dalam diskusi
hukum, keuntungan dalam korporasi sering berarti laba yang tersedia
untuk dividen.
Beberapa akuntan mempertanyakan apakah mereka harus merumuskan aturan
dasar, serta ikut campur dalam proses pengambilan keputusan manajerial
mengenai posisi modal kerja perusahaan dan kemampuannya untuk membayar
dividen. Setelah itu, jika suatu entitas ingin menjual sebagian besar produksinya
untuk aset tidak lancar, sehingga membatasi posisi kas, itu adalah masalah entitas,
bukan akuntan.Akuntansi diperlukan untuk membantu manajer membuat
keputusan, metode yang memungkinkan dalam penyerapan sebagian dari

21
keuntungan perusahaan investee ke penilaian investasi jangka panjang perusahaan
investor pada investee.
Pengakuan membutuhkan arus masuk aset atau terukur (kuantitatif) pada
perubahan nilai aset, sedangkan realisasi membutuhkan arus masuk aset likuid.
Misalnya, bank yang memiliki saham di perusahaan publik akan menandai
investasi ke pasar dan mengakui keuntungan atau kerugian pada tanggal neraca
(yaitu penggunaan nilai wajar). Sebagai contoh, sebuah bank memegang 1000
saham PT. B yang dibeli pada awal periode sebesar $ 1 per lembar saham. Pada
tanggal pelaporan, mereka memiliki nilai pasar sebesar $ 1,20 per saham. Aset
(saham perusahaan tercatat) dihargai $ 1.200 pada tanggal pelaporan dan
pendapatan meningkat dengan keuntungan sebesar $ 200. Jika nilai akhir tahun
adalah 80 sen per saham, maka biaya tambahan memegang saham sebesar $ 200
akan diakui dalam laporan laba rugi. Keuntungan / kerugian yang belum
direalisasikan, namun diakui setiap periode akuntansi. Ketika keuntungan atau
kerugian diwujudkan melalui penjualan saham maka penyesuaian tersebut secara
langsung berpengaruh terhadap aset, untuk menghapusnya dari buku, dan uang
tunai (atau aset apa pun yang diterima untuk bersama). Pendekatan ini mengarah
pada nilai-nilai yang konsisten yang dilaporkan dalam neraca, asalkan semua aset
tersebut dapat 'diukur secara andal.
Kolektibilitas
Sebuah aspek dari kriteria terukurnya adalah apakah kolektibilitas dari kas cukup
terjamin. Terukurnya nilai aset berkaitan dengan kolektibilitasnya. Kolektibilitas
berkaitan dengan judgement, biasanya didasarkan pada pengalaman sebelumnya
perusahaan. Semakin panjang periode penagihan, semakin tidak pasti semua uang
dapat terkumpulkan.Menentukan kolektibilitas adalah masalah penyelesaian
ketidakpastian terkait dengan realisasi penerimaan.
Dalam Monografi Teori No 3, penulis membahas secara rinci tes
berhubungan dengan resolusi ketidakpastian. Pada tahun 1977, Hendriksen
menguraikan masalah mendasar:

22
Ini mengenai ketidakpastian penerimaan yang diharapkan dan mencari
langkah-langkah yang dapat diverifikasi sehingga menyebabkan akuntan pada
penerapan aturan tertentu terkait waktu pendapatan.
Adanya resolusi ketidakpastian menjadi dasar untuk pengakuan
pendapatan. Coombes dan Martin memberikan pendapat berikut:
Jika resolusi ketidakpastian diterima sebagai kriteria dasar untuk
pengakuan pendapatan, tampaknya bermanfaat untuk mengadopsi terukurnya dan
keabadian sebagai syarat yang harus dipenuhi sebelum ketidakpastian
diselesaikan.
Dalam definisi ini, 'terukurnya' berkaitan dengan kemampuan tujuan untuk
memberikan nilai penjualan. Istilah 'obyektif secara luas dapat diartikan sebagai
'berisi' dan tunduk pada verifikasi oleh penyidik lain yang kompeten. Faktor
kedua 'permanen' menyiratkan bahwa, setelah diakui, seharusnya tidak ada alasan
untuk selanjutnya 'membalikkan' pendapatan dari rekening.

b. Adanya Transaksi
Ketika sebuah pihak eksternal dalam transaksi jangka panjang
menyatakan kesediaan untuk membayar harga yang diberikan untuk produk
perusahaan, transaksi ini tentu merupakan bukti obyektif dari peningkatan nilai
perusahaan. Pihak luar memberikan bukti yang menguatkan nilai output. Saat ini,
kecuali dalam kasus tertentu, perusahaan harus terlibat langsung dalam transaksi.
Perhatikan bahwa jika kita bersikeras menjadi pihak perusahaan untuk transaksi
sebelum pendapatan tersebut dapat diakui, maka biaya historis menjadi dasar
yang paling mungkin untuk penilaian aset. Hal ini tidak mengherankan, karena
itu, untuk menemukan bahwa kritik kriteria ini cenderung menjadi pendukung
current cost dan exit price accunting Mereka berpendapat bahwa, perusahaan
tidak perlu menjadi terlibat dengan transaksi tersebut, namun suatu transaksi pasar
secara umum sudah cukup. Jika ini diperbolehkan, maka aset tersebut dapat
direvaluasi danlabadicatat sebelum penjualan.

23
c. Penyelesaian substansial dari proses penerimaan

Kriteria ini, tidak secara eksplisit dinyatakan dalam Framework, berfokus pada
pengertian bahwa pendapatan tidak dihasilkan (diperoleh) sampai perusahaan
telah melakukan sebagian besar kegiatan yangperusahaan memperoleh
pendapatan. Untuk kriteria ini dapat diterapkan, pendapatan tidak dianggap telah
diperoleh sampai perusahaan telah melakukan sesuatu. Sebagai contoh,
penandatanganan kontrak dikebanyakan kasus tidak menciptakan pendapatan
karena tidak ada kinerja yang dilakukan oleh penjual.
Ketika sebagian besar operasi yang merupakan proses penerimaan telah
dilakukan oleh perusahaan, maka biaya yang terkait dengan operasi-operasi juga
dapat ditentukan. Biaya total dapat dipastikan dengan sedikit ketidakpastian,
karena apapun masa depan yang mungkin terjadi dapat dengan mudah
diperkirakan.
Myers menganggap masalah penyelesaian pendapatan ini ini dengan
menganjurkan suatu criteria critical event:
laba diperoleh pada saat pengambilan keputusan yang paling kritis atau
melakukantugas yang palingsulit dalam suatu siklus transaksi lengkap.
Kriteria Pengakuan Pendapatan

Selain kriteria diatas menurut Suwardjono (2010:367) menyebutkan


bahwa, pendapatan baru dapat diakui setelah suatu produk selesei diproduksi dan
penjualan benar-benar telah terjadi yang ditandai dengan penyerahan barang.
Dengan kata lain, pendapatan belum dapat dikatakan ada dan diakui sebelum ada
penjualan yang nyata. Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa pengakuan suatu
jumlah rupiah dalam akuntansi harus didasarkan pada konsep dasar keterukuran
dan reliabilitas; jumlah rupiah harus cukup pasti dan ditentukan secara objektif
oleh pihak independen.
Sebaliknya, terjadinya kontrak penjualan belum cukup untuk mengakui
pendapatan sebelum barang atau jasa sudah cukup selesai dikerjakan walaupun
jumlah rupiah pendapatan telah terealisasi karena belum ada upaya yang
membentuk pendapatan.Atas dasar konsep kesatuan usaha, tidak ada pendapatan

24
tanpa upaya. Tanpa upaya yang cukup pendapatan belum dapat diakui. FASB
mengajukan dua kriteria pengakuan pendapatan (dan untung) yang keduanya
harus dipenuhi yaitu berdasarkan Framework, paragraf 83 IAS 18/AASB 118
Revenue :
1. Bahwa manfaat ekonomi masa depan berkenaan dengan asset
Pendapatan baru dapat diakui bilamana jumlah rupiah pendapatan telah
terealisasi atau cukup pasti akan segera terealisasi (Realized atau
Realizable). Pendapatan dapat dikatakan telah terealisasi bilamana telah
terjadi transaksi pertukaran produk atau jasa hasil kegiatan perusahaan
dengan kas atau klaim untuk menerima kas. Pendapatan dapat dikatakan
cukup pasti akan segera terealisasi bilamana barang penukar yang
diterima dapat dengan mudah dikonversi menjadi sejumlah kas atau
setara kas yang cukup pasti.
2. Biaya atau nilai dapat diukur dengan keandalan
Pendapatan baru dapat diakui bilamana pendapatan tersebut sudah
terhimpun atau terbentuk (earned). Pendapatan dapat dikatakan telah
terhimpun bilamana kegiatan menghasilkan pendapatan tersebut telah
berjalan dan secara substansial telah selesai sehingga suatu unit usaha
berhak untuk menguasai manfaat yang terkandung dalam pendapatan.
Walaupun kedua kriteria harus dipenuhi, bobot pentingnya untuk suatu
kegiatan tertentu dapat berbeda artinya dalam keadaan tertentu perhimpun
menjadi lebih kritis daripada realisasi dan sebaliknya.Terbentuknya pendapatan,
tidak selalu harus mendahului realisasi pendapatan, dapat terjadi pendapatan
sebelum realisasi terbentuk.

C. PENGUKURAN PENDAPATAN
Pendapatan diukur dengan nilai wajar yang dapat diterima, jumlah pendapatan
biasanya ditentukan oleh persetujuan antara perusahaan dan pembeli yang diukur dengan
nilai wajar imbalan yang diterima. Atau nilai wajar yang dapat diterima perusahaan
dikurangi jumlah diskon dagang dan volume yang diperbolehkan perusahaan, umumnya
berbentuk kas dan setara kas. Bila arus masuk dari kas atau setara kas ditangguhkan nilai

25
wajar dari imbalan tersebut mungkin kurang dari jumlah nominal dari kas yang diterima
atau yang dapat diterima.
Bila barang atau jasa dipertukarkan untuk barang atau jasa dengan sifat nilai yang
sama maka pertukaran tidak dianggap sebagai transaksi yang mengakibatkan pendapatan.
Dan bila barang dijual atau jasa diberikan untuk dipertukarkan dengan barang dan jasa
yang tidak serupa, pertukaran tersebut dianggap sebagai transaksi yang mengakibatkan
pendapatan. Pendapatan tersebut diukur pada nilai wajar dari barang atau jasa yang
diserahkan, disesuaikan dengan jumlah kas atau setara kas yang ditransfer.
Dengan demikian, Framework menyediakan beberapa panduan dalam kaitannya
dengan pengakuan tetapi tidak mencakup pengukuran. IAS 18/AASB 118 revenue,
menyatakan pendapatan akan diukur pada nilai wajar dari pertimbangan yang diterima
atau piutang (paragraf 9). Selanjutnya, memberikan aturan khusus untuk pengakuan dari
berbagai jenis pendapatan, yaitu (a) penjualan barang, (b) jasa dan (c) bunga, royalti dan
dividen.

1. Penjualan Barang
Dari perspektif teoretis, penjualan paling memenuhi ketiga criteria umum
pengakuan (terukurnya nilai aset, adanya suatu transaksi, dan penyelesaian proses
penerimaan) tercantum dalam bagian sebelumnya. Oleh karena itu, penjualan
pada proses penerimaan dipilih karena umumnya waktu yang paling tepat untuk
mengakui dan mencatat pendapatan karena memenuhi kriteria untuk pengakuan.
Pada saat penjualan, sebuah transaksi dilakukan, penjual menerima aset terukur,
dan proses penerimaan secara substansial telah selesai.

2. Penjelasan penjualan
Apa itu penjualan? Bagaimana kita tahu bahwa penjualan telah terjadi?
Menggunakan hukum sebagai panduan, yang biasanya disebut sebagai penjualan
adalah bahwa barang telah diserahkan oleh penjual kepelanggan, atau jasa telah
diserahkan. Seperti yang dinyatakan oleh Marlin:
Bukti pasti dari suatu pendapatan sering terdiri dari suatutransaksi
penjualan eksternal, sehingga biasanya pendapatan tidak bisa diakui
sebelum penjualan.

26
Dalam beberapa kasus, penjual bisa melakukan pengiriman bukan dengan
memindahkan barang tetapi dengan pengiriman dokumen kepemilikan
(title).Dalam kebanyakan kasus, hak atas barang tidak lolos ke pelanggan karena
aturan hukum dari suatu penjualan mencakup transfer kepemilikan. Tetapi
penekanan harus ditempatkan pada substansi ekonomi dari transaksi bukan pada
rincian hukum teknis. Disahkannya kepemilikan merupakan salah satu aspek
untuk mempertimbangkan dan menentukan apakah penjualan telah dibuat (IAS
18/AASB 118, paragraf 15), tetapi hal tersebut tidak harus ditekankan sebagai
pertimbangan utama, setidaknya dari sudut pandang akuntansi.

3. Pengecualian untuk dasar penjualan


Terdapat situasi dimana pendapatan diperbolehkan atau harus dicatat
selain pada waktu penjualan. Ada tiga pengecualianterhadap prinsip pengakuan
penjualan. yaitu:
1) Pendapatan yang diakui selama produksi
2) Pendapatan yang diakui pada akhir produksi
3) Pendapatan diakui pada saat kas diterima setelah penjualan dibuat.
Karena kebutuhan untuk prinsip pengakuan didasarkan pada permintaan
untuk tujuan pembuktian, pengecualian berkaitan dengan ketidak cukupan bukti
sebelum penjualan atau pada saat penjualan. Pengecualian terhadap aturan umum
berkaitan dengan dasar penjualan yang dapat atau harus digunakan hanya di
bawah kondisi tersebut diatas.

4. Selama produksi
Pendapatan dapat diakui secara bertahap dalam beberapa kasus sementara
produk masih dalam proses produksi. IAS 18/AASB 118 memperbolehkan
pengakuan pendapatan berdasarkan persentase metode penyelesaian.IAS
11/AASB 111 Construction Contracts memberikan panduan untuk penggunaan
metode ini untuk jangka panjang kontrak konstruksi.Kontrak ini meliputi
konstruksi untuk proyek-proyek tertentu yang biasanya dilakukan di lokasi kerja.
Dalam beberapa kasus, pembuatan atau pembangunan termasuk kedalam item
khusus dari kontrak di perusahaan manufaktur itu sendiri.

27
Anggapan bahwa ukuran yang lebih baik dari hasil pendapatan periodik
adalah berdasarkan metode percentage-of-completion (persentase penyelesaian)
yang tidak didasarkan pada kriteria pengakuan, pembenaran yang didasarkan pada
argumen bahwa pendapatan sepanjang siklus operasi. Dosis Pendapatan tidak
tiba-tiba muncul ketika penjualan dibuat, tetapi dihasilkan secara bertahap dalam
suatu proses berkelanjutan. Oleh karena itu, wajar untuk melihat pendapatan
sebagai peningkatan secara bertahap selama periode produksi sebagai peristiwa
paling penting dari proses penerimaan, tetapi hanya jika ada bukti yang cukup
dari penerimaan pendapatan tersebut. Pendapatan dapat diakui hanya jika besar
kemungkinan bahwa economicbenefit (laba ekonomi) akan mengalir ke entitas
(IAS 18/AASB 118, Para 22). Penggunaan metode percentage of completion
(persentase penyelesaian) untuk kontrak konstruksi hanya tepat digunakan ketika
perkiraan yang cukup handal dapat dibuat dari tingkat kemajuan ke arah
penyelesaian, biaya dan pendapatan kontrak.
Dilakukan penekanan pada kriteria umum pertama untuk pengakuan, yang
harus dilakukan secara terukur dan kolektibilitas dari aset.Karena adanya kontrak
antara pembeli dan penjual, maka ditetapkan pengukuran nilai penjualan total
item.Kolektibilitas adalah permasalahan dalam penilaian.Hal ini tergantung pada
jaminan dari pembeli yang dapat diharapkan untuk memenuhi
kewajibannya.Yang menjadi perkiraan kritis adalah persentase penyelesaian. Ada
cara yang telah diidentifikasi untuk membantu menentukan tahap penyelesaian
kontrak (IAS 11/AASB 111, ayat 30)
1) Proporsi bahwa biaya kontrak yang terjadi untuk performa pekerjaan pada
tanggal neraca dengan estimasi jumlah biaya kontrak.
2) Survei pekerjaan yang dilakukan, atau
3) Penyelesaian suatu bagian secara fisik dari pekerjaan kontak
Kriteria umum kedua untuk pengakuan pendapatan (eksistensi transaksi)
dipenuhi oleh penandatanganan kontrak yang mengatur nilai total
penjualan.Meskipun ini adalah kontrak pelaksana, itu tidak obyektif untuk dapat
menetapkan harga item dan mengungkapkan kesediaan pihak luar untuk
membayar jumlah tersebut. Kontrak biasanya akan menentukan hak yang

28
dilaksanakan masing-masing pihak. Penjual memiliki hak untuk meminta
peningkatan pembayaran sebagai bunga dari kepemilikan pembeli dan
penyelesaian kontrak.Dengan asumsi percentage of completion (persentase
penyelesaian) cukup handal, maka jumlah proporsional dari total pendapatan
yang diharapkan tercatat setiap periode dapat dianggap rasional.
Jika proses produktif dianggap selesai hanya ketika proyek selesai, maka
kriteria ketiga yang berlaku umum untuk pengakuan pendapatan (penyelesaian
subtanstial dari proses laba) tidak dapat dikatakan harus dipenuhi. Namun,
maksud dari kriteria 'penyelesaian subtantional' adalah pendapatan yang dimiliki
mencerminkan tingkat kinerja dari perusahaan, yaitu, untuk memastikan bahwa
perusahaan telah melakukan operasi yang diperlukan untuk memperoleh
pendapatan saat ini.Biaya yang diasumsikan mencerminkan kinerja perusahaan.
Sebagaimana dibahas sebelumnya dalam prinsip pengakuan penjualan
tidak dapat digunakan untuk mencatat pendapatan total pada saat penjualan jika
sebagian besar operasi yang diperlukan untuk memperoleh penghasilan belum
dilakukan. Tapi untuk metode (persentase penyelesaian) jumlah proporsional
dari pendapatan yang dibukukan untuk periode saat ini berkaitan dengan jumlah
biaya yang terjadi, yang merupakan kinerja oleh perusahaan untuk periode
itu.Oleh karena itu, pendapatan untuk periode didasarkan pada penyelesaian
substansial sebagian dari pekerjaan total.

5. Akhir produksi
Pengakuan pendapatan berdasarkan akhir produksi daripada penjualan
adalah prosedur masuk akal jika produksi adalah peristiwa penting dan penjualan
berikutnya hanyalah sebuah transaksi rutin yang harus dilakukan. Situasi seperti
ini hanya ada di mana permintaan untuk output terjamin. Jelas, harus ada bukti
yang cukup bahwa permintaan untuk barang ada sebelum barang tersebut dijual.

6. Kas yang diterima setelah penjualan


Metode angsuran dan metode pemulihan biaya adalah prosedur yang tepat
dalam kaitannya dengan pengakuan pendapatan berdasarkan kas yang diterima

29
sekarang setelah penjualan dilakukan.Kas yang diterima adalah jumlah
pendapatan. Berdasarkan metode angsuran, biaya produk dialokasikan oleh rasio:
Kas dikumpulkan selama periode
Total penjualan Harga (jumlah kas yang diharapkan)

Menurut cost recovery method (metode pemulihan biaya), jumlah beban


sama dengan pendapatan sampai semua biaya tertutupi kembali. Setelah itu, uang
tunai tambahan yang diterima adalah laba.
Angsuran dan cost recovery method (metode pemulihan biaya) biaya
mengungkapkan posisi konservatif dalam kaitannya dengan pengakuan
pendapatan, karena mereka menganggap penjualan produk bukan merupakan
bukti yang cukup bahwa pendapatan telah diperoleh. Hanya penerimaan aktual
dari kas yang bersal dari pelanggan yang akan memenuhi persyaratan bukti.
Metode ini diperlukan karena baik kriteria pertama untuk pendapatan, terukurnya
pengakuan (kolektibilitas). Atau pada kriteria ketiga yaitu substansial yang tidak
terpenuhi. Berdasarkan kriteria ketiga, perusahaan tidak mencatat pendapatan
karena belum mendapatkannya dengan melakukan kegiatan yang diperlukan.
Berdasarkan kriteria pertama, penjual tidak memiliki jaminan bahwa semua uang
tunai akan dikumpulkan dari penjualan.

7. Pemberian Jasa
IAS 18/AASB II8 paragraf 20 mensyaratkan bahwa pendapatan
sehubungan dengan pemberian jasa harus diakui dengan mengacu pada tahap
penyelesaian transaksi pada tanggal pelaporan. Dengan demikian, pendapatan
diakui pada periode dimana jasa diberikan.
Pengakuan pendapatan atas dasar ini memberikan informasi berguna tentang
kegiatan jasa/pelayanan dan kinerja perusahaan pada periode, yang tidak tersedia
jika pemberian jasa diminta sebelum pendapatan diakui. Paragraf 23 menyatakan
bahwa suatu entitas umumnya mampu membuat estimasi yang handal,
memungkinkan pengakuan pendapatan, ketika telah menyetujui hal-hal berikut
dengan pihak lain:

30
1) masing-masing pihak menyepakati hak berkenaan denganpenyediaan dan
penerimaan jasa oleh para pihak
2) pertimbangan yang akan dipertukarkan; dan
3) cara dan syarat penyelesaian.

8. Bunga, Royalti Dan Dividen.


Bunga, royalti dan dividen dapat diakui pada saat diterima, memenuhi semua
kriteria pengakuan umum. Namun, untuk beberapa item,waktu lampau
menunjukkan pendapatan telah diterima. Karena itu, pendapatan yang masih
harus dibayar dicatat, meskipun tidak ada transaksi eksternal. Contohnya adalah
pendapatan bunga diakui pada akhir periode akuntansi. IAS 18/AASB 118
paragraf 30 menyatakan bunga harus diakui dengan menggunakan metode bunga
efektif; royalti harus diakui sesuai dengan substansi perjanjian yang relevan, dan
dividen harus diakui pada saat pemegang saham telah memiliki hak untuk
menerima pembayaran.

D. TANTANGAN BAGI PENYUSUN STANDAR (STANDARD SETTERS)


IASB/ dan FASB telah menekankan proyek bersama (joint project) dalam
kaitannya dengan pengakuan dan pengukuran pendapatan karena transaksi pendapatan
tidak tersedia dengan baik oleh panduan literatur yang ada. Selain itu, transaksi menjadi
lebih kompleks, misalnya. mereka dapat menggabungkan barang, jasa dan transaksi
keuangan. Standard setters telah menyatakan bahwa terdapat ketidakkonsistenan antara
framework IASB dan beberapa standar. Misalnya kriteria pengakuan dalam framework,
dalam IAS 18 mungkin terjadi deferred asset and liabilities (aset dan kewajiban
tangguhan)yang tidak sejalan dengan defenisi asset dan liabilitas dalam framework.
Selanjutnya, standar tidak menangani dengan baik dengan transaksi yang
melibatkan komponen (penyusunan multi elemen pendapatan). Misalnya, 'bundling' dari
produk pokok dengan tambahan produk dan jasa yang sedang berlangsung, seperti yang
terjadi di sector teknologi, membuat pengakuan pendapatan menjai merumitkan.
FASB dan IASB telah melakukan sebuah proyek untuk mengembangkan
seperangkat prinsip untuk pengakuan pendapatan yang akan menghilangkan

31
ketidakkonsistenan dalam literatur yang ada dan praktek-praktek yang berlaku. Proyek
ini menangani isu-isu kunci yang mendasari konseptual pelaporan keuangan, termasuk
perbedaan antara kewajiban dan ekuitas, pengakuan liabilitas (termasuk pedoman yang
berkaitan dengan kriteria definisi dan pengakuan). Dan prinsip umum untuk pengakuan
pendapatan.
FASB dan IASB telah mengajukan prinsip-prinsip dasar berikut ini untuk
pengakuan dan pengukuran pendapatan:
a. Sebuah pelaporan entitas harus mengakui pendapatan dalam periode akuntansi di
mana mereka muncul dan mengukur mereka sebesar nilai wajarnya pada tanggal
tersebut jika dapat menentukan keterjadian dan pengukurannya dengan keandalan
yang cukup.
b. Pelaporan entitas harus mengukur pendapatan yang timbul dari peningkatan aset
atau penurunan kewajiban (atau kombinasi darikeduanya) pada nilai wajar.
Prinsip-prinsip ini merupakan kelanjutan dari panduan sebelumnya. Namun, mencakup
penekanan perubahan di beberapa area, yang dapat menyebabkan perubahan dalam
praktek akuntansi. Sebagai contoh:
a. Pendapatan diakui dalam periode yang timbul. terdapat penekanan pada waktu
pengakuan pendapatan, bukan pada realisasi pendapatan
b. Pendapatan muncul dari peningkatan aset atau penurunan kewajiban. Pendapatan
dapat merupakan hasil dari perubahan nilai aset yang terjadi dalam siklus produksi
dan dari kepemilikan aset (yaitu, dari Pengukuran kembali). Kedua unsur
pendapatan termasuk dalam pengukuran pendapatan komprehensif.
c. pengakuan dan pengukuran Pendapatan mencerminkan nilai wajar. Pendekatan nilai
wajar telah diadopsi sebagai prinsip kerja, tetapi ini akan terpengaruh di masa depan
dengan keputusan dalam Proyek Pengukuran. Pendekatan nilai wajar kontroversial
dan tidak memiliki dukungan bulat dari pengatur standar. Sebagai contoh.
Pengaturan Standar Akuntansi Dewan Jepang telah menyatakan keprihatinan
tentang penggunaan nilai wajar dan meminta agar itu dihentikan.
d. Pengukuran harus dapat diandalkan. Hal ini konsisten dengan karakteristik
kualitatif informasi keuangan termasuk dalam framework.

32
Lebih lanjut, IASB untuk sementara setuju bahwa dua kriteria yang harus dipenuhi untuk
mengakui pendapatan. yaitu:
a. kriteria unsur, yang membutuhkan perubahan aset atau kewajiban untuk memiliki
cccurred, yaitu (1) semua peningkatan aset telah terjadi sehingga meningkatkan
ekuitas, tanpa investasi yang sepadan oleh pemilik, dan (2) penurunan kewajiban
telah terjadi sehingga meningkatkan ekuitas, tanpa investasi yang sepadan oleh
pemilik.
b. kriteria pengukuran, yang mengharuskan perubahan aset atau kewajiban dapat
diukur dengan tepat, yaitu (1) aset atau kewajiban diukur dengan menggunakan
atribut yang relevan, dan (2) peningkatan aset atau penurunan kewajiban dapat
diukur dengan keandalan cukup.

1. Pengukuran Nilai Wajar


Munculnya aset dengan karakteristik yang berbeda (seperti instrumen keuangan)
dan penggunaan yang lebih besar terhadap pengukuran nilai wajar dalam standar
tertentu seperti IAS 39/AASB 139 Instrumen Keuangan: Pengakuan dan
Pengukuran, IAS 140 40/AASB Properti Investasi dan IAS 41/AASB 141
agriculture telah menghasilkan bunga yang cukup besar dalam pengakuan
pendapatan dan isu-isu terkait tentang kapan dan bagaimana perubahan nilai aset dan
kewajiban harus diakui dan diukur. Dalam suatu model pengukuran atribut campuran,
semua item di ukur dengan nilai wajar pada saat akuisisi.
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, definisi pendapatan diadopsi oleh IASB
merupakan pendapatan yang dapat dihasilkan dari perubahan nilai aktiva bersih.
Beberapa standar IASB mengharuskan keuntungan dan kerugian yang timbul dari
penilaian kembali aset termasuk baik kedalam pendapatan operasional atau
'pendapatan komprehensif' (pendapatan yang mencakup semua keuntungan dan
kerugian dari periode, baik sudah terealisasi atau belum direalisasi).

2. Penyajian Statemen Keuangan


IASB memiliki proyek bersamna dengan FASB dengan kaitannya dengan
Penyediaan statemen keuangan. Proyek ini relevan terhadap diskusi pengakuan

33
pendapatan berkenaan dengan bagaimana unsure pendapatan akan dilaporkan dalam
statement keuangan.
Proyek tersebut menekankan standar penyajian informasi dalam statement
keuangan yang kemudian akan bermanfaat untuk menilai kinerja dan posisi dari
entitas. Proyek juga mencakup berkaitan dengan penyajian statement keuangan dari
setiap perubahan pengakuan asset dan liabilitas daritransaksi atau peristiwa lain,
kecuali berkenaan dengan transaksi dengan pemilik.
Dalam kaitannya dengan penyajian statement keuangan dewan telah mencapai
kesimpulan tentative berikut:
a. In-all inclusive, single income statement. Ini adalah perubahan dari praktik
sebelumnya dimana laporan laba rugi berbentuk multiple telah disajikan. Setiap
perubahan asset dan liabilitas akan ditunjukkan dalam statement keuangan.
Sementara di masa lampau hanya beberapa item yang dimasukkan dalam
laporan laba rugi
b. Realisation is not the basis for inclusion of items. Tujuan dari laporan laba rugi
adalah untuk menyediakan informasi yang bermanfaat untuk pengambilan
keputuan. Faktanya item tidak terealisasi tidak akan dikecualikan dari cakupan
statement keuangan.
c. Separate disclosure of performance and remeasurement laporan laba rugi akan
membedakan antaraarus pendapatan dan penyesuaian penilaian. Perubahan
dalam nilai wajarakan menyebabkan perubahan: kinerja selama periode,
perubahan kondisi ekonomi, atau perubahan dalam ekspektasi pasar.

34
Tabel 4.1 Penyajian Laporan Keuangan
Laporan Posisi Keuangan Laporan Arus Kas Laporan Laba Komprehensif
Bisnis Bisnis Bisnis
Aset Operasi Arus kas dari aktivitas operasi. Penghasilan dan Beban Operasi.
Kewajiban Operasi
Subtotal (A1) Subtotal (A1) Subtotal A1
Aset Investasi Arus kas dari aktivitas Penghasilan dan beban investasi.
Kewajiban Investasi investasi.
Subtotal (A2) Subtotal (A2) Subtotal (A2)
TOTAL (A)=subtotal A1 + A2 TOTAL (A) = subtotal A1 + A2 TOTAL (A) = subtotal A1 + A2
Menghentikan Operasi Menghentikan Operasi Menghentikan Operasi
TOTAL (B) jumlah dari asset TOTAL (B) jumlah dari arus TOTAL (B) jumlah dari
bersih dari operasi yang dihentikan. kas dari operasi yang pengasilan atau beban dari
dihentikan. operasi yang dihentikan.
Pendanaan Pendanaan Pendanaan
Aset Pendanaan Arus kas dari asset pendanaan Penerimaan Pendanaan
Subtotal (C1) Subtotal (C1) Subtotal (C1)
Kewajiban pendanaan Arus kas dari kewajiban Beban Pendanaan
Pendanaan
Subtotal (C2) Subtotal (C2) Subtotal (C2)
TOTAL (C) = Subtotal (C1) + (C2) TOTAL (C) = Subtotal (C1) + TOTAL (C) = Subtotal (C1) +
(C2) (C2)
Pajak Penghasilan Pajak Penghasilan Pajak Penghasilan
Aset pajak Penghasilan
Kewajiban Pajak Penghasilan
TOTAL (D) jumlah dari TOTAL (D) jumlah dari arus TOTAL (D) jumlah dari
asset/kewajiban penghasilan pajak kas dari pajak penghasilan. beban/keuntungan pajak
bersih penghasilan.
MODAL MODAL -
TOTAL (E) jumlah dari modal TOTAL (E) jumlah dari modal -

35
E. MASALAH BAGI AUDITOR
Penyajian pendapatan yang berlebihan yang pada umumnya dilakukan oleh
manajemen untuk mengelabui pengguna statemen keuangan.Ini mungkin terjadi ketika
kompensasi manajemen didasarkan peda bonus terhadap target-target pendapatan
tertentu. Manajer yang memiliki tingkat profit yang tidak realistik akan berusaha
melakukan earning management. The Public Company Accounting Oversight Board atau
PCAOB telah mencatat berbagai kegagalan auditor dalam mendeteksi kesalahan
pelaporan pendapatan.Auditor perlu untuk lebih sensitive terhadap resiko dari klien
terhadap pertumbuhan pendapatan perusahaan dan harus mengumpulkan bukti-bukti
untuk mendukung opini mereka bahwa pendapatan tidak disalahsajikan.
Catatan Public Company Accounting Oversigh Board (PCAOB) bahwa salah saji
kecurangan pelaporan keuangan karena bukti yang tidak memadai sering mengakibatkan
salah saji laporan pendapatan. Auditor perlu peka terhadap tingginya risiko diantara klien
yang mungkin akan dievaluasi lebih lanjut tentang pertumbuhan pendapatan dari pada
keuntungan, dan auditor harus mencari bukti untuk mendukung pendapat mereka
daripada mengandalkan hasil prosedur analitis atau pengujian daerah lain (piutang dan
persediaan).

36
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pendapatan adalah elemen kunci akuntansi dan mendasar dari pelaporan aktivitas
suatu perusahaan.Pendapatan menaikkan nilai bruto dari aset dan modal.Dan
kenaikkan akhirnya berhubungan dengan kas. Untuk operasi utama dari bisnis, arus
masuk kas terutama diciptakan oleh produksi dan penjualan output dari entitas.
Dalam pengakuan pendapatan terbagi menjadi berdasarkan perspektif sejarah,
kriteria pengakuan pendapatan dan analisis kriteria untuk pendapatan. Analisis
kriteria untuk pendapatan terdiri dari: terukurnya nilai aset, kolektibilitas, adanya
transaksi, penyelesaian substansial dari proses penerimaan.
. IAS 18/AASB 118 revenuememberikan aturan khusus untuk pengakuan dari
berbagai jenis pendapatan, yaitu: penjualan barang, jasa, dan bunga, royalty dan
dividen.
Standard Setters telah menyatakan bahwa terdapat ketidakkonsistenan antara
framework IASB dan beberapa standar. Misalnya kriteria pengakuan dalam
framework
, dalam IAS 18 mungkin terjadi deferred asset and liabilities (aset dan kewajiban
tangguhan) yang tidak sejalan dengan definisi aset dan kewajiban dalam framework.
Penyajian pendapatan yang berlebihan yang pada umumnya dilakukan oleh
manajemen untuk mengetahui pengguna statemen keuangan.Ini mungkin terjadi
ketika kompensasi manajemen didasarkan pada bonus terhadap target-target
pendapatan tertentu.Auditor perlu untuk lebih sensitive terhadap resiko dari klien
terhadap pertumbuhan pendapatan perusahaan dan harus mengumpulkan bukti-bukti
untuk mendukung opini mereka bahwa pendapatan tidak disalahsajikan.

B. Saran
Sebagai pelajar kita tentunya harus terus mempelajari dan mencari pemecahan
masalah yang berhubungan dengan pendapatan itu sendiri, karena sampai saat ini
masih terjadi banyak silang pendapat mengenai masalah yang berhubungan dengan
pendapatan itu sendiri baik dari segi pengertian, pengakuan, dan lain sebagainya.
37
DAFTAR PUSTAKA

Godfrey, et all. (2010). Accounting Theory 7th edition. Australia: John Wiley & Sons Australia.
Ltd
Hiwatari.(2016). Teori Akuntansi - Soewardjono - Bab 8.[Online]. Tersedia dalam:
https://www.scribd.com/doc/307070488/Teori-Akuntansi-Soewardjono-Bab-8 [Diakses
pada 28 Maret 2017].
Suwardjono.(2010). Teori Akuntansi, Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Yogyakarta: BPFE-
YOGYAKARTA
Syabana, Isya. (2016). Bab 8 Pendapatan Teori Akuntansi.[Online]. Tersedia dalam:
https://www.scribd.com/doc/310223851/Bab-8-Pendapatan-Teori-Akuntansi [Diakses
pada 28 Maret 2017].
Syabana, Isya. (2016). Bab 8 Pendapatan Teori Akuntansi.[Online]. Tersedia dalam:
https://www.scribd.com/doc/310223851/Bab-8-Pendapatan-Teori-Akuntansi [Diakses
pada 28 Maret 2017].

iv