Anda di halaman 1dari 54

Borobudur

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Untuk artikel tentang kecamatan dengan nama sama, lihat Borobudur, Magelang.
Borobudur

Arca Buddha dan stupa Borobudur

Lokasi di dalam Indonesia


Informasi umum
Gaya
stupa and candi
arsitektur
Kecamatan Borobudur, sekitar 3 km
Kota dari Kota Mungkid (ibukota
Kabupaten Magelang, Jawa Tengah)
Negara Indonesia
Koordinat 7,608LS 110,204BT
Awal
sekitar 770 Masehi
konstruksi
Selesai sekitar 825 Masehi
Klien Sailendra
Detail teknis
piramida berundak dari susunan
Sistem
blok batu andesit yang saling
struktur
mengunci
luas dasar 123123 meter, tinggi
Ukuran kini 35 meter, tinggi asli 42 meter
(termasuk chattra)
Desain dan konstruksi
Arsitek Gunadharma
Borobudur
Situs Warisan Dunia UNESCO
Negara Indonesia
Tipe Budaya
Kriteria i, ii, vi
Nomor identifikasi 592
Kawasan UNESCO Asia Pasifik
Tahun pengukuhan 1991 (sesi ke-15)

Borobudur adalah sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa
Tengah, Indonesia. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang,
86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi
berbentuk stupa ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-
an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Borobudur adalah candi atau kuil
Buddha terbesar di dunia,[1][2] sekaligus salah satu monumen Buddha terbesar di dunia.[3]

Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga
pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat
504 arca Buddha.[4] Borobudur memiliki koleksi relief Buddha terlengkap dan terbanyak di
dunia.[3] Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini,
dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca
buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan)
Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).

Monumen ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk
memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat
manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran
Buddha.[5] Para peziarah masuk melalui sisi timur memulai ritual di dasar candi dengan
berjalan melingkari bangunan suci ini searah jarum jam, sambil terus naik ke undakan
berikutnya melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Buddha. Ketiga tingkatan itu adalah
Kmadhtu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak
berwujud). Dalam perjalanannya ini peziarah berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga
dengan menyaksikan tak kurang dari 1.460 panel relief indah yang terukir pada dinding dan
pagar langkan.

Menurut bukti-bukti sejarah, Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14 seiring melemahnya
pengaruh kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa serta mulai masuknya pengaruh Islam.[6] Dunia
mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford
Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa. Sejak saat itu
Borobudur telah mengalami serangkaian upaya penyelamatan dan pemugaran. Proyek
pemugaran terbesar digelar pada kurun 1975 hingga 1982 atas upaya Pemerintah Republik
Indonesia dan UNESCO, kemudian situs bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan
Dunia.[3]

Borobudur kini masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan; tiap tahun umat Buddha
yang datang dari seluruh Indonesia dan mancanegara berkumpul di Borobudur untuk
memperingati Trisuci Waisak. Dalam dunia pariwisata, Borobudur adalah objek wisata
tunggal di Indonesia yang paling banyak dikunjungi wisatawan.[7][8][9]

Nama Borobudur

Stupa Borobudur dengan jajaran perbukitan Menoreh. Selama berabad-abad bangunan suci
ini sempat terlupakan.

Dalam Bahasa Indonesia, bangunan keagamaan purbakala disebut candi; istilah candi juga
digunakan secara lebih luas untuk merujuk kepada semua bangunan purbakala yang berasal
dari masa Hindu-Buddha di Nusantara, misalnya gerbang, gapura, dan petirtaan (kolam dan
pancuran pemandian). Asal mula nama Borobudur tidak jelas,[10] meskipun memang nama
asli dari kebanyakan candi di Indonesia tidak diketahui.[10] Nama Borobudur pertama kali
ditulis dalam buku "Sejarah Pulau Jawa" karya Sir Thomas Raffles.[11] Raffles menulis
mengenai monumen bernama borobudur, akan tetapi tidak ada dokumen yang lebih tua yang
menyebutkan nama yang sama persis.[10] Satu-satunya naskah Jawa kuno yang memberi
petunjuk mengenai adanya bangunan suci Buddha yang mungkin merujuk kepada Borobudur
adalah Nagarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada 1365.[12]

Nama Bore-Budur, yang kemudian ditulis BoroBudur, kemungkinan ditulis Raffles dalam
tata bahasa Inggris untuk menyebut desa terdekat dengan candi itu yaitu desa Bore (Boro);
kebanyakan candi memang seringkali dinamai berdasarkan desa tempat candi itu berdiri.
Raffles juga menduga bahwa istilah 'Budur' mungkin berkaitan dengan istilah Buda dalam
bahasa Jawa yang berarti "purba" maka bermakna, "Boro purba".[10] Akan tetapi arkeolog
lain beranggapan bahwa nama Budur berasal dari istilah bhudhara yang berarti gunung.[13]

Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa
nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung"
(bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa
etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang
karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal
dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada
pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya kompleks candi
atau biara dan beduhur artinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang
berarti "di atas". Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.

Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950
berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah
dan Tri Tepusan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja Mataram dari
wangsa Syailendra bernama Samaratungga, yang melakukan pembangunan sekitar tahun 824
M. Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu
Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad.
Dalam prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah
bebas pajak) oleh r Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamln yang
disebut Bhmisambhra.[14] Istilah Kamln sendiri berasal dari kata mula yang berarti
tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur dari
wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bhmi Sambhra Bhudhra dalam bahasa
Sanskerta yang berarti "Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa", adalah
nama asli Borobudur.[15]

Lingkungan sekitar

Borobudur, Pawon, dan Mendut terbujur dalam satu garis lurus yang menunjukan kesatuan
perlambang

Terletak sekitar 40 kilometre (25 mil) barat laut dari Kota Yogyakarta, Borobudur terletak di
atas bukit pada dataran yang dikeliling dua pasang gunung kembar; Gunung Sundoro-
Sumbing di sebelah barat laut dan Merbabu-Merapi di sebelah timur laut, di sebelah utaranya
terdapat bukit Tidar, lebih dekat di sebelah selatan terdapat jajaran perbukitan Menoreh, serta
candi ini terletak dekat pertemuan dua sungai yaitu Sungai Progo dan Sungai Elo di sebelah
timur. Menurut legenda Jawa, daerah yang dikenal sebagai dataran Kedu adalah tempat yang
dianggap suci dalam kepercayaan Jawa dan disanjung sebagai 'Taman pulau Jawa' karena
keindahan alam dan kesuburan tanahnya.[16]

Tiga candi serangkai

Selain Borobudur, terdapat beberapa candi Buddha dan Hindu di kawasan ini. Pada masa
penemuan dan pemugaran di awal abad ke-20 ditemukan candi Buddha lainnya yaitu Candi
Mendut dan Candi Pawon yang terbujur membentang dalam satu garis lurus.[17] Awalnya
diduga hanya suatu kebetulan, akan tetapi berdasarkan dongeng penduduk setempat, dulu
terdapat jalan berlapis batu yang dipagari pagar langkan di kedua sisinya yang
menghubungkan ketiga candi ini. Tidak ditemukan bukti fisik adanya jalan raya beralas batu
dan berpagar dan mungkin ini hanya dongeng belaka, akan tetapi para pakar menduga
memang ada kesatuan perlambang dari ketiga candi ini. Ketiga candi ini (Borobudur-Pawon-
Mendut) memiliki kemiripan langgam arsitektur dan ragam hiasnya dan memang berasal dari
periode yang sama yang memperkuat dugaan adanya keterkaitan ritual antar ketiga candi ini.
Keterkaitan suci pasti ada, akan tetapi bagaimanakah proses ritual keagamaan ziarah
dilakukan, belum diketahui secara pasti.[12]

Selain candi Mendut dan Pawon, di sekitar Borobudur juga ditemukan beberapa peninggalan
purbakala lainnya, di antaranya berbagai temuan tembikar seperti periuk dan kendi yang
menunjukkan bahwa di sekitar Borobudur dulu terdapat beberapa wilayah hunian. Temuan-
temuan purbakala di sekitar Borobudur kini disimpan di Museum Karmawibhangga
Borobudur, yang terletak di sebelah utara candi bersebelahan dengan Museum Samudra
Raksa. Tidak seberapa jauh di sebelah utara Candi Pawon ditemukan reruntuhan bekas candi
Hindu yang disebut Candi Banon. Pada candi ini ditemukan beberapa arca dewa-dewa utama
Hindu dalam keadaan cukup baik yaitu Shiwa, Wishnu, Brahma, serta Ganesha. Akan tetapi
batu asli Candi Banon amat sedikit ditemukan sehingga tidak mungkin dilakukan
rekonstruksi. Pada saat penemuannya arca-arca Banon diangkut ke Batavia (kini Jakarta) dan
kini disimpan di Museum Nasional Indonesia.

Danau purba

Borobudur di tengah kehijauan alam dataran Kedu. Diduga dulu kawasan di sekeliling
Borobudur adalah danau purba.

Tidak seperti candi lainnya yang dibangun di atas tanah datar, Borobudur dibangun di atas
bukit dengan ketinggian 265 m (869 ft) dari permukaan laut dan 15 m (49 ft) di atas dasar
danau purba yang telah mengering.[18] Keberadaan danau purba ini menjadi bahan perdebatan
yang hangat di kalangan arkeolog pada abad ke-20; dan menimbulkan dugaan bahwa
Borobudur dibangun di tepi atau bahkan di tengah danau. Pada 1931, seorang seniman dan
pakar arsitektur Hindu Buddha, W.O.J. Nieuwenkamp, mengajukan teori bahwa Dataran
Kedu dulunya adalah sebuah danau, dan Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai
yang mengapung di atas permukaan danau.[13] Bunga teratai baik dalam bentuk padma
(teratai merah), utpala (teratai biru), ataupun kumuda (teratai putih) dapat ditemukan dalam
semua ikonografi seni keagamaan Buddha. seringkali digenggam oleh Boddhisatwa sebagai
laksana (lambang regalia), menjadi alas duduk singgasana Buddha atau sebagai lapik stupa.
Bentuk arsitektur Borobudur sendiri menyerupai bunga teratai, dan postur Budha di
Borobudur melambangkan Sutra Teratai yang kebanyakan ditemui dalam naskah keagamaan
Buddha mahzab Mahayana (aliran Buddha yang kemudian menyebar ke Asia Timur). Tiga
pelataran melingkar di puncak Borobudur juga diduga melambangkan kelopak bunga
teratai.[18] Akan tetapi teori Nieuwenkamp yang terdengar luar biasa dan fantastis ini banyak
menuai bantahan dari para arkeolog. pada daratan di sekitar monumen ini telah ditemukan
bukti-bukti arkeologi yang membuktikan bahwa kawasan sekitar Borobudur pada masa
pembangunan candi ini adalah daratan kering, bukan dasar danau purba.

Sementara itu pakar geologi justru mendukung pandangan Nieuwenkamp dengan


menunjukkan bukti adanya endapan sedimen lumpur di dekat situs ini.[19] Sebuah penelitian
stratigrafi, sedimen dan analisis sampel serbuk sari yang dilakukan tahun 2000 mendukung
keberadaan danau purba di lingkungan sekitar Borobudur,[18] yang memperkuat gagasan
Nieuwenkamp. Ketinggian permukaan danau purba ini naik-turun berubah-ubah dari waktu
ke waktu, dan bukti menunjukkan bahwa dasar bukit dekat Borobudur pernah kembali
terendam air dan menjadi tepian danau sekitar abad ke-13 dan ke-14. Aliran sungai dan
aktivitas vulkanik diduga memiliki andil turut mengubah bentang alam dan topografi
lingkungan sekitar Borobudur termasuk danau nya. Salah satu gunung berapi paling aktif di
Indonesia adalah Gunung Merapi yang terletak cukup dekat dengan Borobudur dan telah aktif
sejak masa Pleistosen.[20]

Sejarah

Pembangunan

Lukisan karya G.B. Hooijer (dibuat kurun 19161919) merekonstruksi suasana di


Borobudur pada masa jayanya

Tidak ditemukan bukti tertulis yang menjelaskan siapakah yang membangun Borobudur dan
apa kegunaannya.[21] Waktu pembangunannya diperkirakan berdasarkan perbandingan antara
jenis aksara yang tertulis di kaki tertutup Karmawibhangga dengan jenis aksara yang lazim
digunakan pada prasasti kerajaan abad ke-8 dan ke-9. Diperkirakan Borobudur dibangun
sekitar tahun 800 masehi.[21] Kurun waktu ini sesuai dengan kurun antara 760 dan 830 M,
masa puncak kejayaan wangsa Syailendra di Jawa Tengah,[22] yang kala itu dipengaruhi
Kemaharajaan Sriwijaya. Pembangunan Borobudur diperkirakan menghabiskan waktu 75 -
100 tahun lebih dan benar-benar dirampungkan pada masa pemerintahan raja Samaratungga
pada tahun 825.[23][24]

Terdapat kesimpangsiuran fakta mengenai apakah raja yang berkuasa di Jawa kala itu
beragama Hindu atau Buddha. Wangsa Sailendra diketahui sebagai penganut agama Buddha
aliran Mahayana yang taat, akan tetapi melalui temuan prasasti Sojomerto menunjukkan
bahwa mereka mungkin awalnya beragama Hindu Siwa.[23] Pada kurun waktu itulah
dibangun berbagai candi Hindu dan Buddha di Dataran Kedu. Berdasarkan Prasasti Canggal,
pada tahun 732 M, raja beragama Siwa Sanjaya memerintahkan pembangunan bangunan suci
Shiwalingga yang dibangun di perbukitan Gunung Wukir, letaknya hanya 10 km (6.2 mil)
sebelah timur dari Borobudur.[25] Candi Buddha Borobudur dibangun pada kurun waktu yang
hampir bersamaan dengan candi-candi di Dataran Prambanan, meskipun demikian Borobudur
diperkirakan sudah rampung sekitar 825 M, dua puluh lima tahun lebih awal sebelum
dimulainya pembangunan candi Siwa Prambanan sekitar tahun 850 M.

Pembangunan candi-candi Buddha termasuk Borobudur saat itu dimungkinkan karena


pewaris Sanjaya, Rakai Panangkaran memberikan izin kepada umat Buddha untuk
membangun candi.[26] Bahkan untuk menunjukkan penghormatannya, Panangkaran
menganugerahkan desa Kalasan kepada sangha (komunitas Buddha), untuk pemeliharaan dan
pembiayaan Candi Kalasan yang dibangun untuk memuliakan Bodhisattwadewi Tara,
sebagaimana disebutkan dalam Prasasti Kalasan berangka tahun 778 Masehi.[26] Petunjuk ini
dipahami oleh para arkeolog, bahwa pada masyarakat Jawa kuno, agama tidak pernah
menjadi masalah yang dapat menuai konflik, dengan dicontohkan raja penganut agama Hindu
bisa saja menyokong dan mendanai pembangunan candi Buddha, demikian pula
sebaliknya.[27] Akan tetapi diduga terdapat persaingan antara dua wangsa kerajaan pada masa
itu wangsa Syailendra yang menganut Buddha dan wangsa Sanjaya yang memuja Siwa
yang kemudian wangsa Sanjaya memenangi pertempuran pada tahun 856 di perbukitan Ratu
Boko.[28] Ketidakjelasan juga timbul mengenai candi Lara Jonggrang di Prambanan, candi
megah yang dipercaya dibangun oleh sang pemenang Rakai Pikatan sebagai jawaban wangsa
Sanjaya untuk menyaingi kemegahan Borobudur milik wangsa Syailendra,[28] akan tetapi
banyak pihak percaya bahwa terdapat suasana toleransi dan kebersamaan yang penuh
kedamaian antara kedua wangsa ini yaitu pihak Sailendra juga terlibat dalam pembangunan
Candi Siwa di Prambanan.[29]

Tahapan pembangunan Borobudur

Para ahli arkeologi menduga bahwa rancangan awal Borobudur adalah stupa tunggal yang
sangat besar memahkotai puncaknya. Diduga massa stupa raksasa yang luar biasa besar dan
berat ini membahayakan tubuh dan kaki candi sehingga arsitek perancang Borobudur
memutuskan untuk membongkar stupa raksasa ini dan diganti menjadi tiga barisan stupa
kecil dan satu stupa induk seperti sekarang. Berikut adalah perkiraan tahapan pembangunan
Borobudur:

1. Tahap pertama: Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui pasti (diperkirakan


kurun 750 dan 850 M). Borobudur dibangun di atas bukit alami, bagian atas bukit
diratakan dan pelataran datar diperluas. Sesungguhnya Borobudur tidak seluruhnya
terbuat dari batu andesit, bagian bukit tanah dipadatkan dan ditutup struktur batu
sehingga menyerupai cangkang yang membungkus bukit tanah. Sisa bagian bukit
ditutup struktur batu lapis demi lapis. Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat.
Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak, tetapi kemudian diubah. Sebagai
bukti ada tata susun yang dibongkar. Dibangun tiga undakan pertama yang menutup
struktur asli piramida berundak.
2. Tahap kedua: Penambahan dua undakan persegi, pagar langkan dan satu undak
melingkar yang diatasnya langsung dibangun stupa tunggal yang sangat besar.
3. Tahap ketiga: Terjadi perubahan rancang bangun, undak atas lingkaran dengan stupa
tunggal induk besar dibongkar dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa yang
lebih kecil dibangun berbaris melingkar pada pelataran undak-undak ini dengan satu
stupa induk yang besar di tengahnya. Karena alasan tertentu pondasi diperlebar,
dibangun kaki tambahan yang membungkus kaki asli sekaligus menutup relief
Karmawibhangga. Para arkeolog menduga bahwa Borobudur semula dirancang
berupa stupa tunggal yang sangat besar memahkotai batur-batur teras bujur sangkar.
Akan tetapi stupa besar ini terlalu berat sehingga mendorong struktur bangunan
condong bergeser keluar. Patut diingat bahwa inti Borobudur hanyalah bukit tanah
sehingga tekanan pada bagian atas akan disebarkan ke sisi luar bagian bawahnya
sehingga Borobudur terancam longsor dan runtuh. Karena itulah diputuskan untuk
membongkar stupa induk tunggal yang besar dan menggantikannya dengan teras-teras
melingkar yang dihiasi deretan stupa kecil berterawang dan hanya satu stupa induk.
Untuk menopang agar dinding candi tidak longsor maka ditambahkan struktur kaki
tambahan yang membungkus kaki asli. Struktur ini adalah penguat dan berfungsi
bagaikan ikat pinggang yang mengikat agar tubuh candi tidak ambrol dan runtuh
keluar, sekaligus menyembunyikan relief Karmawibhangga pada bagian Kamadhatu
4. Tahap keempat: Ada perubahan kecil seperti penyempurnaan relief, penambahan
pagar langkan terluar, perubahan tangga dan pelengkung atas gawang pintu, serta
pelebaran ujung kaki.

Borobudur diterlantarkan

Meletusnya Gunung Merapi diduga sebagai penyebab utama diterlantarkannya Borobudur

Borobudur tersembunyi dan telantar selama berabad-abad terkubur di bawah lapisan tanah
dan debu vulkanik yang kemudian ditumbuhi pohon dan semak belukar sehingga Borobudur
kala itu benar-benar menyerupai bukit. Alasan sesungguhnya penyebab Borobudur
ditinggalkan hingga kini masih belum diketahui. Tidak diketahui secara pasti sejak kapan
bangunan suci ini tidak lagi menjadi pusat ziarah umat Buddha. Pada kurun 928 dan 1006,
Raja Mpu Sindok memindahkan ibu kota kerajaan Medang ke kawasan Jawa Timur setelah
serangkaian letusan gunung berapi; tidak dapat dipastikan apakah faktor inilah yang
menyebabkan Borobudur ditinggalkan, akan tetapi beberapa sumber menduga bahwa sangat
mungkin Borobudur mulai ditinggalkan pada periode ini.[6][18] Bangunan suci ini disebutkan
secara samar-samar sekitar tahun 1365, oleh Mpu Prapanca dalam naskahnya
Nagarakretagama yang ditulis pada masa kerajaan Majapahit. Ia menyebutkan adanya
"Wihara di Budur". Selain itu Soekmono (1976) juga mengajukan pendapat populer bahwa
candi ini mulai benar-benar ditinggalkan sejak penduduk sekitar beralih keyakinan kepada
Islam pada abad ke-15.[6]

Monumen ini tidak sepenuhnya dilupakan, melalui dongeng rakyat Borobudur beralih dari
sebagai bukti kejayaan masa lampau menjadi kisah yang lebih bersifat tahayul yang dikaitkan
dengan kesialan, kemalangan dan penderitaan. Dua Babad Jawa yang ditulis abad ke-18
menyebutkan nasib buruk yang dikaitkan dengan monumen ini. Menurut Babad Tanah Jawi
(Sejarah Jawa), monumen ini merupakan faktor fatal bagi Mas Dana, pembangkang yang
memberontak kepada Pakubuwono I, raja Kesultanan Mataram pada 1709.[6] Disebutkan
bahwa bukit "Redi Borobudur" dikepung dan para pemberontak dikalahkan dan dihukum
mati oleh raja. Dalam Babad Mataram (Sejarah Kerajaan Mataram), monumen ini dikaitkan
dengan kesialan Pangeran Monconagoro, putra mahkota Kesultanan Yogyakarta yang
mengunjungi monumen ini pada 1757.[30] Meskipun terdapat tabu yang melarang orang untuk
mengunjungi monumen ini, "Sang Pangeran datang dan mengunjungi satria yang terpenjara
di dalam kurungan (arca buddha yang terdapat di dalam stupa berterawang)". Setelah
kembali ke keraton, sang Pangeran jatuh sakit dan meninggal dunia sehari kemudian. Dalam
kepercayaan Jawa pada masa Mataram Islam, reruntuhan bangunan percandian dianggap
sebagai tempat bersemayamnya roh halus dan dianggap wingit (angker) sehingga dikaitkan
dengan kesialan atau kemalangan yang mungkin menimpa siapa saja yang mengunjungi dan
mengganggu situs ini. Meskipun secara ilmiah diduga, mungkin setelah situs ini tidak terurus
dan ditutupi semak belukar, tempat ini pernah menjadi sarang wabah penyakit seperti demam
berdarah atau malaria.
Penemuan kembali

Foto pertama Borobudur oleh Isidore van Kinsbergen (1873) setelah monumen ini
dibersihkan dari tanaman yang tumbuh pada tubuh candi. Bendera Belanda tampak pada
stupa utama candi.
Teras tertinggi setelah restorasi Van Erp. Stupa utama memiliki menara dengan chattra
(payung) susun tiga.

Setelah Perang Inggris-Belanda dalam memperebutkan pulau Jawa, Jawa dibawah


pemerintahan Britania (Inggris) pada kurun 1811 hingga 1816. Thomas Stamford Raffles
ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal, dan ia memiliki minat istimewa terhadap sejarah Jawa.
Ia mengumpulkan artefak-artefak antik kesenian Jawa kuno dan membuat catatan mengenai
sejarah dan kebudayaan Jawa yang dikumpulkannya dari perjumpaannya dengan rakyat
setempat dalam perjalanannya keliling Jawa. Pada kunjungan inspeksinya di Semarang tahun
1814, ia dikabari mengenai adanya sebuah monumen besar jauh di dalam hutan dekat desa
Bumisegoro.[30] Karena berhalangan dan tugasnya sebagai Gubernur Jenderal, ia tidak dapat
pergi sendiri untuk mencari bangunan itu dan mengutus H.C. Cornelius, seorang insinyur
Belanda, untuk menyelidiki keberadaan bangunan besar ini. Dalam dua bulan, Cornelius
beserta 200 bawahannya menebang pepohonan dan semak belukar yang tumbuh di bukit
Borobudur dan membersihkan lapisan tanah yang mengubur candi ini. Karena ancaman
longsor, ia tidak dapat menggali dan membersihkan semua lorong. Ia melaporkan
penemuannya kepada Raffles termasuk menyerahkan berbagai gambar sketsa candi
Borobudur. Meskipun penemuan ini hanya menyebutkan beberapa kalimat, Raffles dianggap
berjasa atas penemuan kembali monumen ini, serta menarik perhatian dunia atas keberadaan
monumen yang pernah hilang ini.[11]

Hartmann, seorang pejabat pemerintah Hindia Belanda di Keresidenan Kedu meneruskan


kerja Cornelius dan pada 1835 akhirnya seluruh bagian bangunan telah tergali dan terlihat.
Minatnya terhadap Borobudur lebih bersifat pribadi daripada tugas kerjanya. Hartmann tidak
menulis laporan atas kegiatannya; secara khusus, beredar kabar bahwa ia telah menemukan
arca buddha besar di stupa utama.[31] Pada 1842, Hartmann menyelidiki stupa utama
meskipun apa yang ia temukan tetap menjadi misteri karena bagian dalam stupa kosong.

Pemerintah Hindia Belanda menugaskan F.C. Wilsen, seorang insinyur pejabat Belanda
bidang teknik, ia mempelajari monumen ini dan menggambar ratusan sketsa relief. J.F.G.
Brumund juga ditunjuk untuk melakukan penelitian lebih terperinci atas monumen ini, yang
dirampungkannya pada 1859. Pemerintah berencana menerbitkan artikel berdasarkan
penelitian Brumund yang dilengkapi sketsa-sketsa karya Wilsen, tetapi Brumund menolak
untuk bekerja sama. Pemerintah Hindia Belanda kemudian menugaskan ilmuwan lain, C.
Leemans, yang mengkompilasi monografi berdasarkan sumber dari Brumund dan Wilsen.
Pada 1873, monograf pertama dan penelitian lebih detil atas Borobudur diterbitkan,
dilanjutkan edisi terjemahannya dalam bahasa Perancis setahun kemudian.[31] Foto pertama
monumen ini diambil pada 1873 oleh ahli engrafi Belanda, Isidore van Kinsbergen.[32]

Penghargaan atas situs ini tumbuh perlahan. Untuk waktu yang cukup lama Borobudur telah
menjadi sumber cenderamata dan pendapatan bagi pencuri, penjarah candi, dan kolektor
"pemburu artefak". Kepala arca Buddha adalah bagian yang paling banyak dicuri. Karena
mencuri seluruh arca buddha terlalu berat dan besar, arca sengaja dijungkirkan dan
dijatuhkan oleh pencuri agar kepalanya terpenggal. Karena itulah kini di Borobudur banyak
ditemukan arca Buddha tanpa kepala. Kepala Buddha Borobudur telah lama menjadi incaran
kolektor benda antik dan museum-museum di seluruh dunia. Pada 1882, kepala inspektur
artefak budaya menyarankan agar Borobudur dibongkar seluruhnya dan reliefnya
dipindahkan ke museum akibat kondisi yang tidak stabil, ketidakpastian dan pencurian yang
marak di monumen.[32] Akibatnya, pemerintah menunjuk Groenveldt, seorang arkeolog,
untuk menggelar penyelidikan menyeluruh atas situs dan memperhitungkan kondisi aktual
kompleks ini; laporannya menyatakan bahwa kekhawatiran ini berlebihan dan menyarankan
agar bangunan ini dibiarkan utuh dan tidak dibongkar untuk dipindahkan.

Bagian candi Borobudur dicuri sebagai benda cinderamata, arca dan ukirannya diburu
kolektor benda antik. Tindakan penjarahan situs bersejarah ini bahkan salah satunya direstui
Pemerintah Kolonial. Pada tahun 1896, Raja Thailand, Chulalongkorn ketika mengunjungi
Jawa di Hindia Belanda (kini Indonesia) menyatakan minatnya untuk memiliki beberapa
bagian dari Borobudur. Pemerintah Hindia Belanda mengizinkan dan menghadiahkan
delapan gerobak penuh arca dan bagian bangunan Borobudur. Artefak yang diboyong ke
Thailand antara lain; lima arca Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung
singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang, dan arca penjaga dwarapala yang
pernah berdiri di Bukit Dagi beberapa ratus meter di barat laut Borobudur. Beberapa
artefak ini, yaitu arca singa dan dwarapala, kini dipamerkan di Museum Nasional
Bangkok.[33]

Pemugaran

Borobudur kembali menarik perhatian pada 1885, ketika Yzerman, Ketua Masyarakat
Arkeologi di Yogyakarta, menemukan kaki tersembunyi.[34] Foto-foto yang menampilkan
relief pada kaki tersembunyi dibuat pada kurun 18901891.[35] Penemuan ini mendorong
pemerintah Hindia Belanda untuk mengambil langkah menjaga kelestarian monumen ini.
Pada 1900, pemerintah membentuk komisi yang terdiri atas tiga pejabat untuk meneliti
monumen ini: Brandes, seorang sejarawan seni, Theodoor van Erp, seorang insinyur yang
juga anggota tentara Belanda, dan Van de Kamer, insinyur ahli konstruksi bangunan dari
Departemen Pekerjaan Umum.
Penanaman beton dan pipa PVC untuk memperbaiki sistem drainase Borobudur pada
pemugaran tahun 1973

Pada 1902, komisi ini mengajukan proposal tiga langkah rencana pelestarian Borobudur
kepada pemerintah. Pertama, bahaya yang mendesak harus segera diatasi dengan mengatur
kembali sudut-sudut bangunan, memindahkan batu yang membahayakan batu lain di
sebelahnya, memperkuat pagar langkan pertama, dan memugar beberapa relung, gerbang,
stupa dan stupa utama. Kedua, memagari halaman candi, memelihara dan memperbaiki
sistem drainase dengan memperbaiki lantai dan pancuran. Ketiga, semua batuan lepas dan
longgar harus dipindahkan, monumen ini dibersihkan hingga pagar langkan pertama, batu
yang rusak dipindahkan dan stupa utama dipugar. Total biaya yang diperlukan pada saat itu
ditaksir sekitar 48.800 Gulden.

Pemugaran dilakukan pada kurun 1907 dan 1911, menggunakan prinsip anastilosis dan
dipimpin Theodor van Erp.[36] Tujuh bulan pertama dihabiskan untuk menggali tanah di
sekitar monumen untuk menemukan kepala buddha yang hilang dan panel batu. Van Erp
membongkar dan membangun kembali tiga teras melingkar dan stupa di bagian puncak.
Dalam prosesnya Van Erp menemukan banyak hal yang dapat diperbaiki; ia mengajukan
proposal lain yang disetujui dengan anggaran tambahan sebesar 34.600 gulden. Van Erp
melakukan rekonstruksi lebih lanjut, ia bahkan dengan teliti merekonstruksi chattra (payung
batu susun tiga) yang memahkotai puncak Borobudur. Pada pandangan pertama, Borobudur
telah pulih seperti pada masa kejayaannya. Akan tetapi rekonstruksi chattra hanya
menggunakan sedikit batu asli dan hanya rekaan kira-kira. Karena dianggap tidak dapat
dipertanggungjawabkan keasliannya, Van Erp membongkar sendiri bagian chattra. Kini
mastaka atau kemuncak Borobudur chattra susun tiga tersimpan di Museum
Karmawibhangga Borobudur.

Akibat anggaran yang terbatas, pemugaran ini hanya memusatkan perhatian pada
membersihkan patung dan batu, Van Erp tidak memecahkan masalah drainase dan tata air.
Dalam 15 tahun, dinding galeri miring dan relief menunjukkan retakan dan kerusakan.[36] Van
Erp menggunakan beton yang menyebabkan terbentuknya kristal garam alkali dan kalsium
hidroksida yang menyebar ke seluruh bagian bangunan dan merusak batu candi. Hal ini
menyebabkan masalah sehingga renovasi lebih lanjut diperlukan.

Pemugaran kecil-kecilan dilakukan sejak itu, tetapi tidak cukup untuk memberikan
perlindungan yang utuh. Pada akhir 1960-an, Pemerintah Indonesia telah mengajukan
permintaan kepada masyarakat internasional untuk pemugaran besar-besaran demi
melindungi monumen ini. Pada 1973, rencana induk untuk memulihkan Borobudur dibuat.[37]
Pemerintah Indonesia dan UNESCO mengambil langkah untuk perbaikan menyeluruh
monumen ini dalam suatu proyek besar antara tahun 1975 dan 1982.[36] Pondasi diperkokoh
dan segenap 1.460 panel relief dibersihkan. Pemugaran ini dilakukan dengan membongkar
seluruh lima teras bujur sangkar dan memperbaiki sistem drainase dengan menanamkan
saluran air ke dalam monumen. Lapisan saringan dan kedap air ditambahkan. Proyek kolosal
ini melibatkan 600 orang untuk memulihkan monumen dan menghabiskan biaya total sebesar
6.901.243 dollar AS.[38] Setelah renovasi, UNESCO memasukkan Borobudur ke dalam daftar
Situs Warisan Dunia pada tahun 1991.[3] Borobudur masuk dalam kriteria Budaya (i)
"mewakili mahakarya kretivitas manusia yang jenius", (ii) "menampilkan pertukaran penting
dalam nilai-nilai manusiawi dalam rentang waktu tertentu di dalam suatu wilayah budaya di
dunia, dalam pembangunan arsitektur dan teknologi, seni yang monumental, perencanaan tata
kota dan rancangan lansekap", dan (vi) "secara langsung dan jelas dihubungkan dengan suatu
peristiwa atau tradisi yang hidup, dengan gagasan atau dengan kepercayaan, dengan karya
seni artistik dan karya sastra yang memiliki makna universal yang luar biasa".[3]

Peristiwa kontemporer

Biksu peziarah tengah bermeditasi di pelataran puncak

Turis di Borobudur

Setelah pemugaran besar-besaran pada 1973 yang didukung oleh UNESCO,[37] Borobudur
kembali menjadi pusat keagamaan dan ziarah agama Buddha. Sekali setahun pada saat bulan
purnama sekitar bulan Mei atau Juni, umat Buddha di Indonesia memperingati hari suci
Waisak, hari yang memperingati kelahiran, wafat, dan terutama peristiwa pencerahan
Siddhartha Gautama yang mencapai tingkat kebijaksanaan tertinggi menjadi Buddha
Shakyamuni. Waisak adalah hari libur nasional di Indonesia[39] dan upacara peringatan
dipusatkan di tiga candi Buddha utama dengan ritual berjalan dari Candi Mendut menuju
Candi Pawon dan prosesi berakhir di Candi Borobudur.[40]

Pada 21 Januari 1985, sembilan stupa rusak parah akibat sembilan bom.[41] Pada 1991
seorang penceramah muslim beraliran ekstrem yang tunanetra, Husein Ali Al Habsyie,
dihukum penjara seumur hidup karena berperan sebagai otak serangkaian serangan bom pada
pertengahan dekade 1980-an, termasuk serangan atas Candi Borobudur.[42] Dua anggota
kelompok ekstrem sayap kanan djatuhi hukuman 20 tahun penjara pada tahun 1986 dan
seorang lainnya menerima hukuman 13 tahun penjara.
Sendratari "Mahakarya Borobudur" digelar di Borobudur

Monumen ini adalah objek wisata tunggal yang paling banyak dikunjungi di Indonesia. Pada
1974 sebanyak 260.000 wisatawan yang 36.000 di antaranya adalah wisatawan mancanegara
telah mengunjungi monumen ini.[8] Angka ini meningkat hingga mencapai 2,5 juta
pengunjung setiap tahunnya (80% adalah wisatawan domestik) pada pertengahan 1990-an,
sebelum Krisis finansial Asia 1997.[9] Akan tetapi pembangunan pariwisata dikritik tidak
melibatkan masyarakat setempat sehingga beberapa konflik lokal kerap terjadi.[8] Pada 2003,
penduduk dan wirausaha skala kecil di sekitar Borobudur menggelar pertemuan dan protes
dengan pembacaan puisi, menolak rencana pemerintah provinsi yang berencana membangun
kompleks mal berlantai tiga yang disebut 'Java World'.[43] Upaya masyarakat setempat untuk
mendapatkan penghidupan dari sektor pariwisata Borobudur telah meningkatkan jumlah
usaha kecil di sekitar Borobudur. Akan tetapi usaha mereka untuk mencari nafkah seringkali
malah mengganggu kenyamanan pengunjung. Misalnya pedagang cenderamata asongan yang
mengganggu dengan bersikeras menjual dagangannya; meluasnya lapak-lapak pasar
cenderamata sehingga saat hendak keluar kompleks candi, pengunjung malah digiring
berjalan jauh memutar memasuki labirin pasar cenderamata. Jika tidak tertata maka semua ini
membuat kompleks candi Borobudur semakin semrawut.

Pada 27 Mei 2006, gempa berkekuatan 6,2 skala mengguncang pesisir selatan Jawa Tengah.
Bencana alam ini menghancurkan kawasan dengan korban terbanyak di Yogyakarta, akan
tetapi Borobudur tetap utuh.[44]

Pada 28 Agustus 2006 simposium bertajuk Trail of Civilizations (jejak peradaban) digelar di
Borobudur atas prakarsa Gubernur Jawa Tengah dan Kementerian Pariwisata dan
Kebudayaan, juga hadir perwakilan UNESCO dan negara-negara mayoritas Buddha di Asia
Tenggara, seperti Thailand, Myanmar, Laos, Vietnam, dan Kamboja. Puncak acara ini adalah
pagelaran sendratari kolosal "Mahakarya Borobudur" di depan Candi Borobudur. Tarian ini
diciptakan dengan berdasarkan gaya tari tradisional Jawa, musik gamelan, dan busananya,
menceritakan tentang sejarah pembangunan Borobudur. Setelah simposium ini, sendratari
Mahakarya Borobudur kembali dipergelarkan beberapa kali, khususnya menjelang peringatan
Waisak yang biasanya turut dihadiri Presiden Republik Indonesia.

Batu peringatan pemugaran candi Borobudur dengan bantuan UNESCO


UNESCO mengidentifikasi tiga permasalahan penting dalam upaya pelestarian Borobudur:
(i) vandalisme atau pengrusakan oleh pengunjung; (ii) erosi tanah di bagian tenggara situs;
(iii) analisis dan pengembalian bagian-bagian yang hilang.[45] Tanah yang gembur, beberapa
kali gempa bumi, dan hujan lebat dapat menggoyahkan struktur bangunan ini. Gempa bumi
adalah faktor yang paling parah, karena tidak saja batuan dapat jatuh dan pelengkung
ambruk, tanah sendiri bergerak bergelombang yang dapat merusak struktur bangunan.[45]
Meningkatnya popularitas stupa menarik banyak pengunjung yang kebanyakan adalah warga
Indonesia. Meskipun terdapat banyak papan peringatan untuk tidak menyentuh apapun,
pengumandangan peringatan melalui pengeras suara dan adanya penjaga, vandalisme berupa
pengrusakan dan pencorat-coretan relief dan arca sering terjadi, hal ini jelas merusak situs ini.
Pada 2009, tidak ada sistem untuk membatasi jumlah wisatawan yang boleh berkunjung per
hari, atau menerapkan tiap kunjungan harus didampingi pemandu agar pengunjung selalu
dalam pengawasan.[45]

Rehabilitasi

Borobudur sangat terdampak letusan Gunung Merapi pada Oktober dan November 2010.
Debu vulkanik dari Merapi menutupi kompleks candi yang berjarak 28 kilometre (17 mil)
arah barat-baratdaya dari kawah Merapi. Lapisan debu vulkanik mencapai ketebalan 25
sentimetre (10 in)[46] menutupi bangunan candi kala letusan 35 November 2010, debu juga
mematikan tanaman di sekitar, dan para ahli mengkhawatirkan debu vulkanik yang secara
kimia bersifat asam dapat merusak batuan bangunan bersejarah ini. Kompleks candi ditutup 5
sampai 9 November 2010 untuk membersihkan luruhan debu.[47][48]

Mencermati upaya rehabilitasi Borobudur setelah letusan Merapi 2010, UNESCO telah
menyumbangkan dana sebesar 3 juta dollar AS untuk mendanai upaya rehabilitasi.
Membersihkan candi dari endapan debu vulkanik akan menghabiskan waktu sedikitnya 6
bulan, disusul penghijauan kembali dan penanaman pohon di lingkungan sekitar untuk
menstabilkan suhu, dan terakhir menghidupkan kembali kehidupan sosial dan ekonomi
masyarakat setempat.[49] Lebih dari 55.000 blok batu candi harus dibongkar untuk
memperbaiki sistem tata air dan drainase yang tersumbat adonan debu vulkanik bercampur
air hujan. Restorasi berakhir November 2011, lebih awal dari perkiraan semula.[50]

Arsitektur

Borobudur dilihat dari pelataran sudut barat laut


Denah Borobudur membentuk Mandala, lambang alam semesta dalam kosmologi Buddha.

Model Borobudur

Lorong koridor dengan galeri dinding berukir relief

Borobudur merupakan mahakarya seni rupa Buddha Indonesia, sebagai contoh puncak
pencapaian keselarasan teknik arsitektur dan estetika seni rupa Buddha di Jawa. Bangunan ini
diilhami gagasan dharma dari India, antara lain stupa, dan mandala, tetapi dipercaya juga
merupakan kelanjutan unsur lokal; struktur megalitik punden berundak atau piramida
bertingkat yang ditemukan dari periode prasejarah Indonesia. Sebagai perpaduan antara
pemujaan leluhur asli Indonesia dan perjuangan mencapai Nirwana dalam ajaran Buddha.[3]

Konsep rancang bangun

Pada hakikatnya Borobudur adalah sebuah stupa yang bila dilihat dari atas membentuk pola
Mandala besar. Mandala adalah pola rumit yang tersusun atas bujursangkar dan lingkaran
konsentris yang melambangkan kosmos atau alam semesta yang lazim ditemukan dalam
Buddha aliran Wajrayana-Mahayana. Sepuluh pelataran yang dimiliki Borobudur
menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana yang secara bersamaan
menggambarkan kosmologi yaitu konsep alam semesta, sekaligus tingkatan alam pikiran
dalam ajaran Buddha.[51] Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh
tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.
Dasar denah bujur sangkar berukuran 123 metre (404 ft) pada tiap sisinya. Bangunan ini
memiliki sembilan teras, enam teras terbawah berbentuk bujur sangkar dan tiga teras teratas
berbentuk lingkaran.

Pada tahun 1885, secara tidak disengaja ditemukan struktur tersembunyi di kaki
Borobudur.[34] Kaki tersembunyi ini terdapat relief yang 160 di antaranya adalah berkisah
tentang Karmawibhangga. Pada relief panel ini terdapat ukiran aksara yang merupakan
petunjuk bagi pengukir untuk membuat adegan dalam gambar relief.[52] Kaki asli ini tertutup
oleh penambahan struktur batu yang membentuk pelataran yang cukup luas, fungsi
sesungguhnya masih menjadi misteri. Awalnya diduga bahwa penambahan kaki ini untuk
mencegah kelongsoran monumen.[52] Teori lain mengajukan bahwa penambahan kaki ini
disebabkan kesalahan perancangan kaki asli, dan tidak sesuai dengan Wastu Sastra, kitab
India mengenai arsitektur dan tata kota.[34] Apapun alasan penambahan kaki ini, penambahan
dan pembuatan kaki tambahan ini dilakukan dengan teliti dengan mempertimbangkan alasan
keagamaan, estetik, dan teknis.

Ketiga tingkatan ranah spiritual dalam kosmologi Buddha adalah:

Kamadhatu Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih
dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan
batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian kaki asli yang
tertutup struktur tambahan ini terdapat 160 panel cerita Karmawibhangga yang kini
tersembunyi. Sebagian kecil struktur tambahan di sudut tenggara disisihkan sehingga orang
masih dapat melihat beberapa relief pada bagian ini. Struktur batu andesit kaki tambahan
yang menutupi kaki asli ini memiliki volume 13.000 meter kubik.[5]

Rupadhatu Empat undak teras yang membentuk lorong keliling yang pada dindingnya
dihiasi galeri relief oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi.
Rupadhatu terdiri dari empat lorong dengan 1.300 gambar relief. Panjang relief seluruhnya
2,5 km dengan 1.212 panel berukir dekoratif. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat
membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini
melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian
Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk atau relung dinding di atas pagar
langkan atau selasar. Aslinya terdapat 432 arca Buddha di dalam relung-relung terbuka di
sepanjang sisi luar di pagar langkan.[5] Pada pagar langkan terdapat sedikit perbedaan
rancangan yang melambangkan peralihan dari ranah Kamadhatu menuju ranah Rupadhatu;
pagar langkan paling rendah dimahkotai ratna, sedangkan empat tingkat pagar langkan
diatasnya dimahkotai stupika (stupa kecil). Bagian teras-teras bujursangkar ini kaya akan
hiasan dan ukiran relief.

Arupadhatu Berbeda dengan lorong-lorong Rupadhatu yang kaya akan relief, mulai lantai
kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang
berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini
melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan
bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Pada pelataran lingkaran terdapat 72 dua
stupa kecil berterawang yang tersusun dalam tiga barisan yang mengelilingi satu stupa besar
sebagai stupa induk. Stupa kecil berbentuk lonceng ini disusun dalam 3 teras lingkaran yang
masing-masing berjumlah 32, 24, dan 16 (total 72 stupa). Dua teras terbawah stupanya lebih
besar dengan lubang berbentuk belah ketupat, satu teras teratas stupanya sedikit lebih kecil
dan lubangnya berbentuk kotak bujur sangkar. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam
stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu
masih tampak samar-samar. Rancang bangun ini dengan cerdas menjelaskan konsep
peralihan menuju keadaan tanpa wujud, yakni arca Buddha itu ada tetapi tak terlihat.

Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud yang sempurna dilambangkan


berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di
dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut
juga Buddha yang tidak rampung, yang disalahsangkakan sebagai patung 'Adibuddha',
padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung di dalam stupa utama, patung
yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada zaman dahulu. Menurut
kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak.
Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak patung seperti
ini. Stupa utama yang dibiarkan kosong diduga bermakna kebijaksanaan tertinggi, yaitu
kasunyatan, kesunyian dan ketiadaan sempurna dimana jiwa manusia sudah tidak terikat
hasrat, keinginan, dan bentuk serta terbebas dari lingkaran samsara.

Struktur bangunan

Arca singa penjaga gerbang

Ukiran raksasa sebagai kepala pancuran drainase


Penampang candi Borobudur terdapat rasio perbandingan 4:6:9 antara bagian kaki, tubuh,
dan kepala

Tangga Borobudur mendaki melalui serangkaian gapura berukir Kala-Makara

Sekitar 55.000 meter kubik batu andesit diangkut dari tambang batu dan tempat penatahan
untuk membangun monumen ini.[53] Batu ini dipotong dalam ukuran tertentu, diangkut
menuju situs dan disatukan tanpa menggunakan semen. Struktur Borobudur tidak memakai
semen sama sekali, melainkan sistem interlock (saling kunci) yaitu seperti balok-balok lego
yang bisa menempel tanpa perekat. Batu-batu ini disatukan dengan tonjolan dan lubang yang
tepat dan muat satu sama lain, serta bentuk "ekor merpati" yang mengunci dua blok batu.
Relief dibuat di lokasi setelah struktur bangunan dan dinding rampung.

Monumen ini dilengkapi dengan sistem drainase yang cukup baik untuk wilayah dengan
curah hujan yang tinggi. Untuk mencegah genangan dan kebanjiran, 100 pancuran dipasang
disetiap sudut, masing-masing dengan rancangan yang unik berbentuk kepala raksasa kala
atau makara.

Borobudur amat berbeda dengan rancangan candi lainnya, candi ini tidak dibangun di atas
permukaan datar, tetapi di atas bukit alami. Akan tetapi teknik pembangunannya serupa
dengan candi-candi lain di Jawa. Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti
candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit.
Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Secara umum
rancang bangun Borobudur mirip dengan piramida berundak. Di lorong-lorong inilah umat
Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan.
Borobudur mungkin pada awalnya berfungsi lebih sebagai sebuah stupa, daripada kuil atau
candi.[53] Stupa memang dimaksudkan sebagai bangunan suci untuk memuliakan Buddha.
Terkadang stupa dibangun sebagai lambang penghormatan dan pemuliaan kepada Buddha.
Sementara kuil atau candi lebih berfungsi sebagai rumah ibadah. Rancangannya yang rumit
dari monumen ini menunjukkan bahwa bangunan ini memang sebuah bangunan tempat
peribadatan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur teras bertingkat-tingkat ini diduga
merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur
asli dari masa prasejarah Indonesia.

Menurut legenda setempat arsitek perancang Borobudur bernama Gunadharma, sedikit yang
diketahui tentang arsitek misterius ini.[54] Namanya lebih berdasarkan dongeng dan legenda
Jawa dan bukan berdasarkan prasasti bersejarah. Legenda Gunadharma terkait dengan cerita
rakyat mengenai perbukitan Menoreh yang bentuknya menyerupai tubuh orang berbaring.
Dongeng lokal ini menceritakan bahwa tubuh Gunadharma yang berbaring berubah menjadi
jajaran perbukitan Menoreh, tentu saja legenda ini hanya fiksi dan dongeng belaka.

Perancangan Borobudur menggunakan satuan ukur tala, yaitu panjang wajah manusia antara
ujung garis rambut di dahi hingga ujung dagu, atau jarak jengkal antara ujung ibu jari dengan
ujung jari kelingking ketika telapak tangan dikembangkan sepenuhnya.[55] Tentu saja satuan
ini bersifat relatif dan sedikit berbeda antar individu, akan tetapi satuan ini tetap pada
monumen ini. Penelitian pada 1977 mengungkapkan rasio perbandingan 4:6:9 yang
ditemukan di monumen ini. Arsitek menggunakan formula ini untuk menentukan dimensi
yang tepat dari suatu fraktal geometri perulangan swa-serupa dalam rancangan
Borobudur.[55][56] Rasio matematis ini juga ditemukan dalam rancang bangun Candi Mendut
dan Pawon di dekatnya. Arkeolog yakin bahwa rasio 4:6:9 dan satuan tala memiliki fungsi
dan makna penanggalan, astronomi, dan kosmologi. Hal yang sama juga berlaku di candi
Angkor Wat di Kamboja.[54]

Struktur bangunan dapat dibagi atas tiga bagian: dasar (kaki), tubuh, dan puncak.[54] Dasar
berukuran 123123 m (403.5 403.5 ft) dengan tinggi 4 metre (13 ft).[53] Tubuh candi terdiri
atas lima batur teras bujur sangkar yang makin mengecil di atasnya. Teras pertama mundur 7
metre (23 ft) dari ujung dasar teras. Tiap teras berikutnya mundur 2 metre (6.6 ft),
menyisakan lorong sempit pada tiap tingkatan. Bagian atas terdiri atas tiga teras melingkar,
tiap tingkatan menopang barisan stupa berterawang yang disusun secara konsentris. Terdapat
stupa utama yang terbesar di tengah; dengan pucuk mencapai ketinggian 35 metre (115 ft)
dari permukaan tanah. Tinggi asli Borobudur termasuk chattra (payung susun tiga) yang kini
dilepas adalah 42 metre (138 ft) . Tangga terletak pada bagian tengah keempat sisi mata angin
yang membawa pengunjung menuju bagian puncak monumen melalui serangkaian gerbang
pelengkung yang dijaga 32 arca singa. Gawang pintu gerbang dihiasi ukiran Kala pada
puncak tengah lowong pintu dan ukiran makara yang menonjol di kedua sisinya. Motif Kala-
Makara lazim ditemui dalam arsitektur pintu candi di Jawa. Pintu utama terletak di sisi timur,
sekaligus titik awal untuk membaca kisah relief. Tangga ini lurus terus tersambung dengan
tangga pada lereng bukit yang menghubungkan candi dengan dataran di sekitarnya.

Relief
Seni pahat Borobudur memiliki kehalusan gaya dan citarasa estetik yang anggun

Letak relief kisah-kisah naskah suci Buddha di dinding Borobudur

Putar media
Borobudur

Pada dinding candi di setiap tingkatan kecuali pada teras-teras Arupadhatu dipahatkan
panel-panel bas-relief yang dibuat dengan sangat teliti dan halus.[57] Relief dan pola hias
Borobudur bergaya naturalis dengan proporsi yang ideal dan selera estetik yang halus. Relief-
relief ini sangat indah, bahkan dianggap sebagai yang paling elegan dan anggun dalam
kesenian dunia Buddha.[58] Relief Borobudur juga menerapkan disiplin senirupa India, seperti
berbagai sikap tubuh yang memiliki makna atau nilai estetis tertentu. Relief-relief berwujud
manusia mulia seperti pertapa, raja dan wanita bangsawan, bidadari atapun makhluk yang
mencapai derajat kesucian laksana dewa, seperti tara dan boddhisatwa, seringkali
digambarkan dengan posisi tubuh tribhanga. Posisi tubuh ini disebut "lekuk tiga" yaitu
melekuk atau sedikit condong pada bagian leher, pinggul, dan pergelangan kaki dengan
beban tubuh hanya bertumpu pada satu kaki, sementara kaki yang lainnya dilekuk
beristirahat. Posisi tubuh yang luwes ini menyiratkan keanggunan, misalnya figur bidadari
Surasundari yang berdiri dengan sikap tubuh tribhanga sambil menggenggam teratai
bertangkai panjang.[59]

Relief Borobudur menampilkan banyak gambar; seperti sosok manusia baik bangsawan,
rakyat jelata, atau pertapa, aneka tumbuhan dan hewan, serta menampilkan bentuk bangunan
vernakular tradisional Nusantara. Borobudur tak ubahnya bagaikan kitab yang merekam
berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa kuno. Banyak arkeolog meneliti kehidupan masa
lampau di Jawa kuno dan Nusantara abad ke-8 dan ke-9 dengan mencermati dan merujuk
ukiran relief Borobudur. Bentuk rumah panggung, lumbung, istana dan candi, bentuk
perhiasan, busana serta persenjataan, aneka tumbuhan dan margasatwa, serta alat transportasi,
dicermati oleh para peneliti. Salah satunya adalah relief terkenal yang menggambarkan Kapal
Borobudur.[60] Kapal kayu bercadik khas Nusantara ini menunjukkan kebudayaan bahari
purbakala. Replika bahtera yang dibuat berdasarkan relief Borobudur tersimpan di Museum
Samudra Raksa yang terletak di sebelah utara Borobudur.[61]

Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa
Kuna yang berasal dari bahasa Sanskerta daksina yang artinya ialah timur. Relief-relief ini
bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita jtaka. Pembacaan cerita-cerita
relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya,
mulainya di sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata
bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak
candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.

Adapun susunan dan pembagian relief cerita pada dinding dan pagar langkan candi adalah
sebagai berikut.

Bagan Relief
Tingkat Posisi/letak Cerita Relief Jumlah Pigura
Kaki candi asli ----- Karmawibhangga 160
a. Lalitawistara 120
dinding
b. jataka/awadana 120
Tingkat I
a. jataka/awadana 372
langkan
b. jataka/awadana 128
dinding Gandawyuha 128
Tingkat II
langkan jataka/awadana 100
dinding Gandawyuha 88
Tingkat III
langkan Gandawyuha 88
dinding Gandawyuha 84
Tingkat IV
langkan Gandawyuha 72
Jumlah 1460

Secara runtutan, maka cerita pada relief candi secara singkat bermakna sebagai berikut :

Karmawibhangga
Salah satu ukiran Karmawibhangga di dinding candi Borobudur (lantai 0 sudut tenggara)

Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batur yang
terselubung tersebut menggambarkan hukum karma. Karmawibhangga adalah naskah yang
menggambarkan ajaran mengenai karma, yakni sebab-akibat perbuatan baik dan jahat.
Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri (serial), tetapi pada setiap pigura
menggambarkan suatu cerita yang mempunyai hubungan sebab akibat. Relief tersebut tidak
saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang
akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala. Secara keseluruhan
merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir - hidup - mati (samsara)
yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan di akhiri
untuk menuju kesempurnaan. Kini hanya bagian tenggara yang terbuka dan dapat dilihat oleh
pengujung. Foto lengkap relief Karmawibhangga dapat disaksikan di Museum
Karmawibhangga di sisi utara candi Borobudur.

Lalitawistara

Pangeran Siddhartha Gautama mencukur rambutnya dan menjadi pertapa

Merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan
merupakan riwayat yang lengkap) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari surga
Tushita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief
ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27
pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke-27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan,
baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan
terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya
Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan
Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang
berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran
Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti "hukum", sedangkan
dharma dilambangkan sebagai roda.

Jataka dan Awadana


Jataka adalah berbagai cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran
Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan-perbuatan baik, seperti sikap rela
berkorban dan suka menolong yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain
manapun juga. Beberapa kisah Jataka menampilkan kisah fabel yakni kisah yang melibatkan
tokoh satwa yang bersikap dan berpikir seperti manusia. Sesungguhnya, pengumpulan jasa
atau perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-
an.

Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan
Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana
yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita
Awadana. Pada relief candi Borobudur Jataka dan Awadana, diperlakukan sama, artinya
keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal
dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair
Aryasura yang hidup dalam abad ke-4 Masehi.

Gandawyuha

Merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke-2,adalah cerita Sudhana yang
berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang
Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab
suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya
berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.

Arca Buddha

Sebuah arca Buddha di dalam stupa berterawang

Selain wujud buddha dalam kosmologi buddhis yang terukir di dinding, di Borobudur
terdapat banyak arca buddha duduk bersila dalam posisi teratai serta menampilkan mudra
atau sikap tangan simbolis tertentu. Patung buddha dengan tinggi 1,5 meter ini dipahat dari
bahan batu andesit.[5]

Patung buddha dalam relung-relung di tingkat Rupadhatu, diatur berdasarkan barisan di sisi
luar pagar langkan. Jumlahnya semakin berkurang pada sisi atasnya. Barisan pagar langkan
pertama terdiri dari 104 relung, baris kedua 104 relung, baris ketiga 88 relung, baris keempat
72 relung, dan baris kelima 64 relung. Jumlah total terdapat 432 arca Buddha di tingkat
Rupadhatu.[4] Pada bagian Arupadhatu (tiga pelataran melingkar), arca Buddha diletakkan di
dalam stupa-stupa berterawang (berlubang). Pada pelataran melingkar pertama terdapat 32
stupa, pelataran kedua 24 stupa, dan pelataran ketiga terdapat 16 stupa, semuanya total 72
stupa.[4] Dari jumlah asli sebanyak 504 arca Buddha, lebih dari 300 telah rusak (kebanyakan
tanpa kepala) dan 43 hilang (sejak penemuan monumen ini, kepala buddha sering dicuri
sebagai barang koleksi, kebanyakan oleh museum luar negeri).[62]

Secara sepintas semua arca buddha ini terlihat serupa, akan tetapi terdapat perbedaan halus di
antaranya, yaitu pada mudra atau posisi sikap tangan. Terdapat lima golongan mudra: Utara,
Timur, Selatan, Barat, dan Tengah, kesemuanya berdasarkan lima arah utama kompas
menurut ajaran Mahayana. Keempat pagar langkan memiliki empat mudra: Utara, Timur,
Selatan, dan Barat, dimana masing-masing arca buddha yang menghadap arah tersebut
menampilkan mudra yang khas. Arca Buddha pada pagar langkan kelima dan arca buddha di
dalam 72 stupa berterawang di pelataran atas menampilkan mudra: Tengah atau Pusat.
Masing-masing mudra melambangkan lima Dhyani Buddha; masing-masing dengan makna
simbolisnya tersendiri.[63]

Mengikuti urutan Pradakshina yaitu gerakan mengelilingi searah jarum jam dimulai dari sisi
Timur, maka mudra arca-arca buddha di Borobudur adalah:

Arah
Dhyani Lokasi
Arca Mudra Melambangkan Mata
Buddha Arca
Angin
Relung di
pagar
Memanggil langkan 4
Bhumisparsa
bumi sebagai Aksobhya Timur baris
mudra
saksi pertama
Rupadhatu
sisi timur
Relung di
pagar
langkan 4
Wara mudra Kedermawanan Ratnasambhawa Selatan baris
pertama
Rupadhatu
sisi selatan
Relung di
pagar
langkan 4
Semadi atau
Dhyana mudra Amitabha Barat baris
meditasi
pertama
Rupadhatu
sisi barat
Relung di
pagar
Abhaya mudra Ketidakgentaran Amoghasiddhi Utara langkan 4
baris
pertama
Arah
Dhyani Lokasi
Arca Mudra Melambangkan Mata
Buddha Arca
Angin
Rupadhatu
sisi utara
Relung di
pagar
langkan
baris
Witarka mudra Akal budi Wairocana Tengah
kelima
(teratas)
Rupadhatu
semua sisi
Di dalam
72 stupa di
Dharmachakra Pemutaran roda
Wairocana Tengah 3 teras
mudra dharma
melingkar
Arupadhatu

Warisan

Presiden Sukarno mengajak Nehru mengunjungi Borobudur pada bulan Juni 1950.

Pencapaian estetika dan keahlian teknik arsitektur yang ditampilkan Borobudur, serta
ukurannya yang luar biasa, menjadi bukti keagungan masa lalu, dan telah membangkitkan
kebanggaan bagi Bangsa Indonesia. Sebagaimana peran Angkor Wat bagi Bangsa Kamboja,
Borobudur telah menjadi simbol yang kuat bagi Indonesia sebagai saksi kejayaan masa
lalu. Sukarno menegaskannya dengan mengajak tamu-tamu negara mengunjunginya.
Sementara pemerintahan Suharto menyadari makna simbolis dan potensi ekonominya
secara tekun menggelar proyek pemugaran untuk memulihkan monumen ini dengan bantuan
UNESCO. Banyak museum di Indonesia memamerkan model skala kecil atau replika
Borobudur. Monumen ini telah menjadi ikon, dikelompokkan bersama wayang dan gamelan
sebagai wujud budaya klasik Jawa yang menjadi inspirasi Indonesia.[64]

Lambang provinsi Jawa Tengah menampilkan Borobudur.

Beberapa artefak arkeologi dari Borobudur, atau replikanya, dipamerkan di beberapa museum
di Indonesia dan mancanegara. Selain Museum Karmawibhangga dalam kompleks
Borobudur, beberapa museum menyimpan relik dari Borobudur, antara lain Museum
Nasional Indonesia, Tropenmuseum di Amsterdam, British Museum di London, dan Museum
Nasional Bangkok. Sementara Museum Louvre di Paris, Museum Negara Malaysia di Kuala
Lumpur, dan Museum Agama Dunia di Taipei juga menampilkan replika Borobudur.[65]
Monumen ini telah menarik perhatian dunia kepada peradaban klasik Buddha Jawa Kuno.

Penemuan kembali dan pemugaran Borobudur telah disanjung-sanjung oleh Umat Buddha
Indonesia sebagai pertanda kebangkitan ajaran Buddha di Indonesia. Pada 1934, Narada
Thera, seorang biksu penceramah dari Sri Lanka, mengunjungi Indonesia untuk pertama
kalinya sebagai bagian dari perjalanannya menyebarkan ajaran Dharma di Asia Tenggara.
Kesempatan ini dimanfaatkan umat Buddha setempat untuk membangkitkan kembali seruan
Dharma di Indonesia. Pada kesempatan itu digelar upacara penanaman Pohon Bodhi di sisi
tenggara Borobudur, pada tanggal 10 Maret 1934 dengan diberkati oleh Narada Thera,
sekaligus pengangkatan beberapa Upasaka menjadi Bhiksu.[66] Setiap tahun, ribuan umat
Buddha dari seluruh Indonesia dan negara-negara tetangga, berkumpul di Borobudur untuk
memperingati hari Trisuci Waisak.[67]

Lambang provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Magelang, menampilkan gambar Borobudur.
Candi ini telah menjadi simbol Jawa Tengah, dan Indonesia secara luas. Borobudur telah
menjadi nama beberapa institusi dan badan usaha, seperti Universitas Borobudur, Hotel
Borobudur Jakarta, serta beberapa rumah makan Indonesia di luar negeri. Borobudur
ditampilkan dalam uang rupiah, perangko, dibahas dalam beberapa buku, berita, publikasi,
dokumenter, serta materi promosi pariwisata Indonesia. Candi ini menjadi atraksi wisata
terkemuka di Indonesia, penting untuk menggerakan roda perekonomian lokal dan di
kawasan sekitar Borobudur. Misalnya, sektor pariwisata Kota Yogyakarta tumbuh
berkembang salah satunya berkat kedekatannya dengan candi Borobudur dan Prambanan.

Ikhtisar waktu proses pemugaran Candi Borobudur

1814 - Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa,
mendengar adanya penemuan benda purbakala di desa Borobudur. Raffles
memerintahkan H.C. Cornelius untuk menyelidiki lokasi penemuan, berupa bukit
yang dipenuhi semak belukar.
1873 - monografi pertama tentang candi diterbitkan.
1900 - pemerintahan Hindia Belanda menetapkan sebuah panitia pemugaran dan
perawatan candi Borobudur.
1907 - Theodoor van Erp memimpin pemugaran hingga tahun 1911.
1926 - Borobudur dipugar kembali, tapi terhenti pada tahun 1940 akibat krisis malaise
dan Perang Dunia II.
1956 - Pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO. Prof. Dr. C. Coremans
datang ke Indonesia dari Belgia untuk meneliti sebab-sebab kerusakan Borobudur.
1963 - Pemerintah Indonesia mengeluarkan surat keputusan untuk memugar
Borobudur, tapi berantakan setelah terjadi peristiwa G-30-S.
1968 - Pada konferensi-15 di Perancis, UNESCO setuju untuk memberi bantuan
untuk menyelamatkan Borobudur.
1971 - Pemerintah Indonesia membentuk badan pemugaran Borobudur yang diketuai
Prof.Ir.Roosseno.
1972 - International Consultative Committee dibentuk dengan melibatkan berbagai
negara dan Roosseno sebagai ketuanya. Komite yang disponsori UNESCO
menyediakan 5 juta dolar Amerika Serikat dari biaya pemugaran 7.750 juta dolar
Amerika Serikat. Sisanya ditanggung Indonesia.
10 Agustus 1973 - Presiden Soeharto meresmikan dimulainya pemugaran Borobudur;
pemugaran selesai pada tahun 1984
21 Januari 1985 - terjadi serangan bom yang merusakkan beberapa stupa pada Candi
Borobudur yang kemudian segera diperbaiki kembali. Serangan dilakukan oleh
kelompok Islam ekstremis yang dipimpin oleh Husein Ali Al Habsyi.
1991 - Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO.

Galeri

Galeri relief

Relief panel kapal Borobudur.

Pemusik mempertunjukkan pagelaran musik, mungkin berupa bentuk awal gamelan.

Apsara di Borobudur.

Gambar Raja dan Ratu bersama dengan bawahan mereka.

Salah satu relief di dinding koridor.


Sebuah senjata, kemungkinan bentuk awal dari keris.

Sebuah pahatan batu relief secara mendetail.

Tara membawa Chamara

Tara memegang setangkai teratai

Sebuah relief dari jarak dekat

Galeri Borobudur
Prasasti Warisan Dunia di
depan Candi Borobudur

Papan petunjuk prosedur


mengunjungi Candi
Borobudur dalam bahasa
Indonesia dan Inggris
Inskripsi peresmian
pemugaran Borobudur
pada tahun 1973 oleh
presiden Indonesia saat
itu, yaitu Soeharto

Batu penyusun Borobudur


yang berada di halaman
Museum Borobudur.
Posisi asli batu masih
belum ditemukan.

Patung Buddha yang tidak


sempurna di dalam
museum. Di depannya
terdapat persembahan
berupa bunga dan dupa.
Stupa Borobudur

Pemandangan stupa
Borobudur dari tingkat
sembilan

Referensi

1. ^ "Largest Buddhist temple". Guinness World Records. Guinness World Records.


Diakses tanggal 27 January 2014.
2. ^ Purnomo Siswoprasetjo (Wednesday, July 04 2012, 4:50 PM). "Guinness names
Borobudur worlds largest Buddha temple". The Jakarta Post. Diakses tanggal 27
January 2014.
3. ^ a b c d e f "Borobudur Temple Compounds". UNESCO World Heritage Centre.
UNESCO. Diakses tanggal 28 December 2008.
4. ^ a b c Soekmono (1976), halaman 3536.
5. ^ a b c d Kartapranata, Gunawan (2007-06-01). "Upacara Waisak di Borobudur
(Infografik)" (Infographic) (dalam Indonesian). Harian "Kompas".
6. ^ a b c d Soekmono (1976), halaman 4.
7. ^ Mark Elliott ... (November 2003). Indonesia. Melbourne: Lonely Planet
Publications Pty Ltd. pp. 211215. ISBN 1-74059-154-2. .
8. ^ a b c Mark P. Hampton (2005). "Heritage, Local Communities and Economic
Development". Annals of Tourism Research 32 (3): 735759.
doi:10.1016/j.annals.2004.10.010.
9. ^ a b E. Sedyawati (1997). "Potential and Challenges of Tourism: Managing the
National Cultural Heritage of Indonesia". W. Nuryanti (ed.) Tourism and Heritage
Management: 2535, Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
10. ^ a b c d Soekmono (1976), halaman 13.
11. ^ a b Thomas Stamford Raffles (1817). The History of Java (1978 ed.). Oxford
University Press. ISBN 0-19-580347-7.
12. ^ a b J. L. Moens (1951). "Barabudur, Mendut en Pawon en hun onderlinge
samenhang (Barabudur, Mendut and Pawon and their mutual relationship)" (PDF).
Tijdschrift voor de Indische Taai-, Land- en Volkenkunde (Het Bataviaasch
Genootschap van Kunsten en Wetenschappen): 326386. trans. by Mark Long
13. ^ a b J.G. de Casparis, "The Dual Nature of Barabudur", in Gmez and Woodward
(1981), halaman 70 dan 83.
14. ^ Drs. R. Soekmono, (1973, 5th reprint edition in 1988). Pengantar Sejarah
Kebudayaan Indonesia 2, 2nd ed. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. p. 46.
15. ^ Walubi. "Borobudur : Candi Berbukit Kebajikan".
16. ^ Soekmono (1976), halaman 1.
17. ^ N. J. Krom (1927). Borobudur, Archaeological Description. The Hague: Nijhoff.
Diakses tanggal 17 August 2008.
18. ^ a b c d Murwanto, H.; Gunnell, Y; Suharsono, S.; Sutikno, S. and Lavigne, F (2004).
"Borobudur monument (Java, Indonesia) stood by a natural lake: chronostratigraphic
evidence and historical implications". The Holocene 14 (3): 459463.
doi:10.1191/0959683604hl721rr. Unknown parameter |unused_data= ignored
(bantuan)
19. ^ R.W. van Bemmelen (1949). The geology of Indonesia, general geology of
Indonesia and adjacent archipelago, vol 1A, The Hague, Government Printing Office,
Martinus Nijhoff. cited in Murwanto (2004).
20. ^ Newhall C.G., Bronto S., Alloway B., Banks N.G., Bahar I., del Marmol M.A.,
Hadisantono R.D., Holcomb R.T., McGeehin J., Miksic J.N., Rubin M., Sayudi S.D.,
Sukhyar R., Andreastuti S., Tilling R.I., Torley R., Trimble D., and Wirakusumah
A.D. (2000). "10,000 Years of explosive eruptions of Merapi Volcano, Central Java:
archaeological and modern implications". Journal of Volcanology and Geothermal
Research 100 (1): 950. doi:10.1016/S0377-0273(00)00132-3.
21. ^ a b Soekmono (1976), halaman 9.
22. ^ Miksic (1990)
23. ^ a b Dumaray (1991).
24. ^ Paul Michel Munoz (2007). Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the
Malay Peninsula. Singapore: Didier Millet. p. 143. ISBN 981-4155-67-5.
25. ^ W. J. van der Meulen (1977). "In Search of "Ho-Ling"". Indonesia 23: 87112.
26. ^ a b W. J. van der Meulen (1979). "King Sajaya and His Successors". Indonesia 28
(28): 1754. doi:10.2307/3350894. JSTOR 3350894.
27. ^ Soekmono (1976), halaman 10.
28. ^ a b D.G.E. Hall (1956). "Problems of Indonesian Historiography". Pacific Affairs 38
(3/4): 353359. doi:10.2307/2754037. JSTOR 2754037.
29. ^ Roy E. Jordaan (1993). Imagine Buddha in Prambanan: Reconsidering the
Buddhist Background of the Loro Jonggrang Temple Complex. Leiden: Vakgroep
Talen en Culturen van Zuidoost-Azi en Ocenani, Rijksuniversiteit te Leiden.
ISBN 90-73084-08-3.
30. ^ a b Soekmono (1976), halaman 5.
31. ^ a b Soekmono (1976), halaman 6.
32. ^ a b Soekmono (1976), halaman 42.
33. ^ John Miksic, Marcello Tranchini, Anita Tranchini (1996). "Borobudur: Golden
Tales of the Buddhas". Tuttle publishing. p. 29. Diakses tanggal 2 April 2012.
34. ^ a b c "Borobudur Pernah Salah Design?" (dalam Indonesian). Kompas. 7 April 2000.
Diarsipkan dari versi asli tanggal 26 December 2007. Diakses tanggal 23 August
2008.
35. ^ Soekmono (1976), halaman 43.
36. ^ a b c UNESCO (31 August 2004). UNESCO experts mission to Prambanan and
Borobudur Heritage Sites. Siaran pers.
37. ^ a b Caesar Voute; Voute, Caesar (1973). "The Restoration and Conservation Project
of Borobudur Temple, Indonesia. Planning: Research: Design". Studies in
Conservation 18 (3): 113130. doi:10.2307/1505654. JSTOR 1505654.
38. ^ UNESCO. Cultural heritage and partnership; 1999 (PDF). Siaran pers. Diakses
pada 17 August 2008.
39. ^ Coordinating Ministry for Public Welfare. Keputusan Bersama tentang Hari Libur
Nasional dan Cuti Bersama tahun 2006 (dalam Indonesian). Siaran pers. Diakses
pada 17 August 2008.[pranala nonaktif]
40. ^ "The Meaning of Procession". Waisak. Walubi (Buddhist Council of Indonesia).
Diakses tanggal 28 December 2008.
41. ^ "1,100-Year-Old Buddhist Temple Wrecked By Bombs in Indonesia". The Miami
Herald. 22 January 1985. Diakses tanggal 17 August 2008.
42. ^ Harold Crouch (2002). "The Key Determinants of Indonesia's Political Future"
(PDF). Institute of Southeast Asian Studies 7. ISSN 0219-3213.
43. ^ Jamie James (27 January 2003). "Battle of Borobudur". Time. Diakses tanggal 23
August 2008.
44. ^ Sebastien Berger (30 May 2006). "An ancient wonder reduced to rubble". The
Sydney Morning Herald. Diakses tanggal 23 August 2008.
45. ^ a b c "Section II: Periodic Report on the State of Conservation" (PDF). State of
Conservation of the World Heritage Properties in the Asia-Pacific Region. UNESCO
World Heritage. Diakses tanggal 23 February 2010.
46. ^ "Covered in volcanic ash, Borobudur closed temporarily". from, Magelang, C Java
(by ANTARA News). 6 November 2010. Diakses tanggal 6 November 2010.
47. ^ "Borobudur Temple Forced to Close While Workers Remove Merapi Ash". Jakarta
Globe. 7 November 2010. Diakses tanggal 7 November 2010.
48. ^ "Inilah Foto-foto Kerusakan Candi" (dalam Indonesian). Tribun News. 7 November
2010. Diakses tanggal 7 November 2010.
49. ^ "Borobudurs post-Merapi eruption rehabilitating may take three years: Official".
2011-02-17.
50. ^ http://www.thejakartapost.com/news/2011/06/28/borobudur-clean-finish-
november.html
51. ^ A. Wayman (1981). "Reflections on the Theory of Barabudur as a Mandala".
Barabudu History and Significance of a Buddhist Monument, Berkeley: Asian
Humanities Press.
52. ^ a b Soekmono (1976), halaman 18.
53. ^ a b c Soekmono (1976), halaman 16.
54. ^ a b c Caesar Vote and Mark Long. Borobudur: Pyramid of the Cosmic Buddha.
D.K. Printworld Ltd. Diakses tanggal 17 August 2008.
55. ^ a b Atmadi (1988).
56. ^ H. Situngkir (2010). "Borobudur Was Built Algorithmically". BFI Working Paper
Series WP-9-2010 (Bandung Fe Institute).
57. ^ "Borobudur" (dalam Inggris). Buddhist Travel. 2008. Diakses tanggal 2011-11-11.
58. ^ Tom Cockrem, Sydney Morening Herald, May 18, 2008 (2008). "Temple of
enlightenment" (dalam Inggris). The Buddhist Channel.tv. Diakses tanggal 2011-11-
11.
59. ^ "Surasundari" (dalam Inggris). Art and Archaeology.com. Diakses tanggal 2011-11-
11.
60. ^ "The Cinnamon Route" (dalam inggris). Borobudur Park. Diakses tanggal 2011-12-
14.
61. ^ "The Borobudur Ship Expedition, Indonesia to Africa 2003-2004" (dalam inggris).
The Borobudur Ship Expedition. 2004. Diakses tanggal 2011-12-14.
62. ^ Hiram W. Woodward Jr. (1979). "Acquisition". Critical Inquiry 6 (2): 291303.
doi:10.1086/448048.
63. ^ Roderick S. Bucknell and Martin Stuart-Fox (1995). The Twilight Language:
Explorations in Buddhist Meditation and Symbolism. UK: Routledge.
ISBN 0700702342.
64. ^ Wood, Michael. "The Borderlands of Southeast Asia Chapter 2 Archaeology,
National Histories, and National Borders in Southeast Asia" (PDF). p. 38. Diakses
tanggal 4 May 2015.
65. ^ "The Greatest Sacred Buildings". Museum of World Religions, Taipei. Diakses
tanggal 4 May 2015.
66. ^ "Buddhism in Indonesia". Buddhanet. Diakses tanggal 4 May 2015.
67. ^ "Vesak Festival: A Truly Sacred Experience". Wonderful Indonesia. Diakses
tanggal 4 May 2015.

Lihat pula

Agama Buddha di Indonesia


Agama Buddha di Asia Tenggara
Candi
Candi Prambanan

Daftar pustaka

Dr. Soekmono, Candi Borobudur - Pusaka Budaya Umat Manusia, Jakarta: Pustaka
Jaya (1978)

(Inggris) Borobudur Temple Compounds di situs UNESCO World Heritage Centre


(Inggris) UNESCO Documents: Informasi terperinci mengenai Candi Borobudur
(format PDF)
(Inggris) Dokumen foto Candi Borobudur
(Inggris) Panduan wisata Borobudur
(Indonesia) Wisata Candi Borobudur

X|i
https://id.wikipedia.org/wiki/Borobudur
ASAL USUL SEJARAH

Asal Usul Sejarah Candi Borobudur

Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Kecamatan Borobudur
Kabupaten Magelang
yang letaknya sebelah selatan + 15 km sebelah selatan kota Magelang dataran kedu yang
berbukit hampir seluruhnya di kelilingi pegunungan, pegunungan yang mengelilingi Candi
Borobudur di antaranya di sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Gunung Merapi
Barat, Laut Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro.

Dalam etnis Tionghoa, candi ini disebut juga (Hanyu Pinyin: p lu f t) dalam
bahasa Mandarin.

ASAL USUL SEJARAH SINGKAT CANDI BOROBUDUR


WAKTU DIDIRIKAN
Banyak buku buku sejarah yang menuliskan tentang Candi Borobudur akan tetapi kapan
Candi Borobudur itu di dirikan tidaklah dapat di ketahui secara pasti
namun suatu perkiraan dapat di peroleh dengan tulisan singkat yang di pahatkan di atas
pigura relief kaki asli Candi Borobudur ( Karwa Wibhangga )
menunjukan huruf sejenis dengan yang di dapatkan dari prasati di akhir abad ke 8 sampai
awal abad ke 9
dari bukti bukti tersebut dapat di tarik kesimpulan bahwa Candi Borobudur di dirikan
sekitar tahun 800 M.

Kesimpulan tersebut di atas itu ternyata sesuai benar dengan dengan kerangka sejarah
Indonesia pada umumnya dan juga sejarah yang berada di daerah jawa tengah pada
khususnya
periode antara abad ke 8 dan pertengahan abad ke 9 di terkenal dengan abad Emas
Wangsa Syailendra
kejayaan ini di tandai di bangunnya sejumlah besar candi yang di lereng lereng gunung
kebanyakan berdiri khas bangunan hindu sedangkan yang bertebaran di dataran dataran
adalah khas bangunan Budha tapi ada juga sebagian khas Hindu

Dengan demikian dapat di tarik kesimpulan bahwa Candi Borobudur di bangun oleh wangsa
Syailendra yang terkenal dalam sejarah karena karena usaha untuk menjunjung tinggi dan
mengagungkan agama Budha Mahayana.
Tahap Pembangunan Borobudur
* Tahap pertama
Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui pasti (diperkirakan antara 750 dan 850 M).
Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida
berundak. tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar.
* Tahap kedua
Pondasi Borobudur diperlebar, ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak lingkaran
yang langsung diberikan stupa induk besar.
* Tahap ketiga
Undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga
undak lingkaran. Stupa-stupa dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu stupa besar
di tengahnya.
* Tahap keempat
Ada perubahan kecil seperti pembuatan relief perubahan tangga dan lengkung atas pintu.

PENEMUAN KEMBALI
Borobudur yang menjadi keajaiban dunia menjulang tinggi antara dataran rendah di
sekelilingnya.

Tidak akan pernah masuk akal mereka melihat karya seni terbesar yang merupakan hasil
karya sangat mengagumkan dan tidak lebih masuk akal lagi bila di katakan Candi Borobudur
pernah mengalami kerusakan

Memang demikian keadaannya Candi Borobudur terlupakan selama tenggang waktu yang
cukup lama bahkan sampai berabad abad bangunan yang begitu megahnya di hadapkan
pada proses kehancuran.
Kira kira hanya 150 tahun Candi Borobudur di gunakan sebagai pusat Ziarah, waktu yang
singkat di bandingkan dengan usianya ketika pekerja menghiasi / membangun bukit alam
Candi Borobudur dengan batu batu di bawah pemerintahan yang sangat terkenal yaitu
SAMARATUNGGA,
sekitar tahun 800 an dengan berakhirnya kerajaan Mataram tahu 930 M pusat kehidupan
dan kebudayaan jawa bergeser ke timur

Demikian karena terbengkalai tak terurus maka lama lama di sana sini tumbuh macam
macam tumbuhan liar yang lama kelamaan menjadi rimbun dan menutupi bangunannya.
Pada kira kira abad ke 10 Candi Borobudur terbengkalai dan terlupakan.

Baru pada tahun 1814 M berkat usaha Sir Thomas Stamford Rafles Candi Borobudur muncul
dari kegelapan masa silam.
Rafles adalah Letnan Gubernur Jendral Inggris, ketika Indonesia di kuasai / di jajah Inggris
pada tahun 1811 M 1816 M.

Pada tahun 1835 M seluruh candi di bebaskan dari apa yang menjadi penghalang
pemandangan oleh Presiden kedua yang bernama Hartman,
karena begitu tertariknya terhadap Candi Borobudur sehingga ia mengusahakan pembersihan
lebih lanjut,
puing puing yang masih menutupi candi di singkirkan dan tanah yang menutupi lorong
lorong dari bangunan candi di singkirkan semua sehingga candi lebih baik di bandingkan
sebelumnya.
Foto Pertama Candi Borobudur dari tahun 1873, bendera Belanda nampak pada stupa
utama candi

PENYELAMATAN 1
Semenjak Candi Borobudur di temukan dimulailah usaha perbaikan dan pemugaran kembali
bangunan Candi Borobudur
mula mula hanya dilakukan secara kecil kecilan serta pembuatan gambar gambar dan
photo photo reliefnya.
Pemugaran Candi Borobudur yang pertama kali di adakan pada tahun 1907 M 1911 M di
bawah pimpinan Tuan Van erf dengan maksudnya adalah untuk menghindari kerusakan
kerusakan yang lebih besar lagi dari bangunan Candi Borobudur

Teras tertinggi setelah restorasi Van Erp

walaupun banyak bagian tembok atau dinding dinding terutama tingkat tiga dari bawah
sebelah Barat Laut, Utara dan Timur Laut yang masih tampak miring dan sangat
mengkhawatirkan bagi para pengunjung maupun bangunannya sendiri namun pekerjaan Van
Erp tersebut untuk sementara Candi Borobudur dapat di selamatkan dari kerusakan yang
lebih besar.

Mengenai gapura gapura hanya beberapa saja yang telah di kerjakan masa itu telah
mengembalikan kejayaan masa silam,
namun juga perlu di sadari bahwa tahun tahun yang di lalui borobudur selama tersembunyi
di semak semak secara tidak langsung telah menutupi dan melindungi dari cuaca buruk
yang mungkin dapat merusak bangunan Candi Borobudur,
Van Erp berpendapat miring dan meleseknya dinding dinding dari bangunan itu tidak
sangat membahayakan bangunan itu,
Pendapat itu sampai 50 tahun kemudian memang tidak salah akan tetapi sejak tahun 1960 M
pendapat Tuan Van erf itu mulai di ragukan dan di khawatirkan akan ada kerusakan yang
lebih parah

PEMUGARAN CANDI BOROBUDUR


Pemugaran Candi Borobudur di mulai tanggal 10 Agustus 1973
prasati dimulainya pekerjaan pemugaran Candi Borobudur terletak di sebelah Barat Laut
Menghadap ke timur
karyawan pemugaran tidak kurang dari 600 orang diantaranya ada tenaga tenaga muda
lulusan SMA dan SIM
bangunan yang memang diberikan pendidikan khususnya mengenai teori dan praktek dalam
bidang Chemika Arkeologi ( CA ) dan Teknologi Arkeologi ( TA )

Teknologi Arkeologi bertugas membongkar dan memasang batu - batu Candi Borobudur
sedangkan Chemika Arkeologi bertugas membersihkan serta memperbaiki batu batu yang
sudah retak dan pecah,
pekerjaan pekerjan di atas bersifat arkeologi semua di tangani oleh badan pemugaran Candi
Borobudur,
sedangkan pekerjaan yang bersifat teknis seperti penyediaan transportasi pengadaaan bahan
bahan bangunan di tangani oleh kontraktor
( PT NIDYA KARYA dan THE CONTRUCTION AND DEVELOPMENT
CORPORATION OF THE FILIPINE ).

Bagian bagian Candi Borobudur yang di pugar ialah bagian Rupadhatu yaitu tempat tingkat
dari bawah yang berbentuk bujur sangkar sedangkan kaki Candi Borobudur serta teras I, II,
III dan stupa induk ikut di pugar pemugaran selesai pada tanggal 23 Februari 1983 M di
bawah pimpinan DR Soekmono dengan di tandai sebuah batu prasati seberat + 20 Ton.

Prasasti peresmian selesainya pemugaran berada di halaman barat dengan batu yang sangat
besar di buatkan dengan dua bagian satu menghadap ke utara satu lagi menghadap ke timur
penulisan dalam prasasti tersebut di tanda tangani langsung oleh tenaga yang ahli dan
terampil dari Yogyakarta yang bekerja pada proyek pemugaran Candi Borobudur.

Ikhtisar Waktu Proses Pemugaran Candi borobudur


* 1814 - Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa, mendengar
adanya penemuan benda purbakala di desa Borobudur.
Raffles memerintahkan H.C. Cornelius untuk menyelidiki lokasi penemuan, berupa bukit
yang dipenuhi semak belukar.
* 1873 - monografi pertama tentang candi diterbitkan.
* 1900 - pemerintahan Hindia Belanda menetapkan sebuah panitia pemugaran dan perawatan
candi Borobudur.
* 1907 - Theodoor van Erp memimpin pemugaran hingga tahun 1911.
* 1926 - Borobudur dipugar kembali, tapi terhenti pada tahun 1940 akibat krisis malaise dan
Perang Dunia II.
* 1956 - Pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO.
Prof. Dr. C. Coremans datang ke Indonesia dari Belgia untuk meneliti sebab-sebab kerusakan
Borobudur.
* 1963 - Pemerintah Indonesia mengeluarkan surat keputusan untuk memugar Borobudur,
tapi berantakan setelah terjadi peristiwa G-30-S.
* 1968 - Pada konferensi-15 di Perancis, UNESCO setuju untuk memberi bantuan untuk
menyelamatkan Borobudur.
* 1971 - Pemerintah Indonesia membentuk badan pemugaran Borobudur yang diketuai
Prof.Ir.Roosseno.
* 1972 - International Consultative Committee dibentuk dengan melibatkan berbagai negara
dan Roosseno sebagai ketuanya.
Komite yang disponsori UNESCO menyediakan 5 juta dolar Amerika Serikat dari biaya
pemugaran 7.750 juta dolar Amerika Serikat.
Sisanya ditanggung Indonesia.
* 10 Agustus 1973 - Presiden Soeharto meresmikan dimulainya pemugaran Borobudur;
pemugaran selesai pada tahun 1984
* 21 Januari 1985 - terjadi serangan bom yang merusakkan beberapa stupa pada Candi
Borobudur yang kemudian segera diperbaiki kembali.
Serangan dilakukan oleh kelompok Islam ekstremis yang dipimpin oleh Husein Ali Al
Habsyi.
* 1991 - Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.

BAtu Peringatan Pemugaran candi Borobudur dengan bantuan UNESCO

ASAL USUL NAMA BOROBUDUR


Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini.
Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata
Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak
teras-teras.
Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya.

Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi
menjadi borobudur.
Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur".
Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara
berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya
ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti "di atas".
Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.

Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950
berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan.
Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan pendiri
Borobudur adalah raja Mataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga, yang
melakukan pembangunan sekitar tahun 824 M.

Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani.
Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad.
Dalam prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah
bebas pajak) oleh r Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamln yang
disebut Bhmisambhra.
Istilah Kamln sendiri berasal dari kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci
untuk memuliakan leluhur,
kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra.
Casparis memperkirakan bahwa Bhmi Sambhra Bhudhra dalam bahasa sansekerta yang
berarti "Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa", adalah nama asli
Borobudur.

BANGUNAN CANDI BOROBUDUR


URAIAN BANGUNAN CANDI BOROBUDUR
Candi Borobudur di bangun mengunakan batu Adhesit sebanyak 55.000 M3
bangunan Candi Borobudur berbentuk limas yang berundak undak dengan tangga naik pada
ke 4 sisinya ( Utara, selatan, Timur Dan Barat )
pada Candi Borobudur tidak ada ruangan di mana orang tak bisa masuk melainkan bisa naik
ke atas saja.

Lebar bangunan Candi Borobudur 123 M


Panjang bangunan Candi Borobudur 123 M
Pada sudut yang membelok 113 M
Dan tinggi bangunan Candi Borobudur 30.5 M

Pada kaki yang asli di di tutup oleh batu Adhesit sebanyak 12.750 M3 sebagai selasar
undaknya.

Candi Borobudur memiliki struktur dasar punden berundak, dengan enam pelataran
berbentuk bujur sangkar, tiga pelataran berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama
sebagai puncaknya.
Selain itu tersebar di semua pelatarannya beberapa stupa.

Sepuluh pelataran yang dimiliki Borobudur menggambarkan secara jelas filsafat mazhab
Mahayana.
Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang
harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.

Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh
kama atau "nafsu rendah".
Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat
konstruksi candi.
Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita Kammawibhangga.
Sebagian kecil struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief
pada bagian ini.
Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli dinamakan Rupadhatu.
Lantainya berbentuk persegi.
Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat
oleh rupa dan bentuk.
Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas.
Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas
ballustrade atau selasar.

Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief.


Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud).
Denah lantai berbentuk lingkaran.
Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan
dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana.
Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti
dalam kurungan.
Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar.

Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang
terbesar dan tertinggi.
Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang.
Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau
disebut juga unfinished Buddha, yang disalahsangkakan sebagai patung Adibuddha, padahal
melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung pada stupa utama, patung yang tidak
selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada zaman dahulu.
menurut kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh
dirusak.
Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak patung seperti
ini.

Di masa lalu, beberapa patung Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung
singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang dikirimkan kepada Raja Thailand,
Chulalongkorn yang mengunjungi Hindia Belanda (kini Indonesia) pada tahun 1896 sebagai
hadiah dari pemerintah Hindia Belanda ketika itu.
Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain.
Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit.
Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat.
Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki
mengelilingi candi ke arah kanan.
Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan
perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari
masa prasejarah Indonesia.

Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur Mandala.

Struktur Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock yaitu
seperti balok-balok Lego yang bisa menempel tanpa lem.

PATUNG
Di dalam bangunan Budha terdapat patung patung Budha berjumlah 504 buah diantaranya
sebagai berikut:
Patung Budha yang terdapat pada relung relung : 432 Buah
Sedangkan pada teras teras I, II, III berjumlah : 72 Buah
Jumlah : 504 Buah

Agar lebih jelas susunan susunan patung Budha pada Budha sebagai berikut:
1. Langkah I Teradapat : 104 Patung Budha
2. Langkah II Terdapat : 104 Patung Budha
3. Langkah III Terdapat : 88 Patung Budha
4. Langkah IV Terdapat : 22 Patung Budha
5. Langkah V Terdapat : 64 Patung Budha
6. Teras Bundar I Terdapat : 32 Patung Budha
7. Teras Bundar II Terdapat : 24 Patung Budha
8. Teras Bundar III Terdapat : 16 Patung Budha
Jumlah : 504 Patung Budha

Sekilas patung Budha itu tampak serupa semuanya namun sesunguhnya ada juga
perbedaannya perbedaan yang sangat jelas dan juga yang membedakan satu sama lainya
adalah dalam sikap tangannya yang di sebut Mudra dan merupakan ciri khas untuk setiap
patung
sikap tangan patung Budha di Candi Borobudur ada 6 macam hanya saja karena macam oleh
karena macam mudra yang di miliki menghadap semua arah (Timur Selatan Barat dan Utara)
pada bagian rupadhatu langkah V maupun pada bagian arupadhatu pada umumnya
menggambarkan maksud yang sama maka jumlah mudra yang pokok ada 5
kelima mudra itu adalah Bhumispara Mudra Wara Mudra, Dhayana Mudra, Abhaya
Mudra, Dharma Cakra Mudra.

PATUNG SINGA
Pada Candi Borobudur selain patung Budha juga terdapat patung singa jumlah patung singa
seharusnya tidak kurang dari 32 buah akan tetapi bila di hitung sekarang jumlahnya
berkurang karena berbagai sebab satu satunya patung singa besar berada pada halaman sisi
Barat yang juga menghadap ke barat seolah olah sedang menjaga bangunan Candi
Borobudur yang megah dan anggun.

STUPA
- Stupa Induk
Berukuran lebih besar dari stupa stupa lainya dan terletak di tengah tengah paling atas
yang merupakan mhkota dari seluruh monumen bangunan Candi Borobudur,
garis tengah Stupa induk + 9.90 M puncak yang tertinggi di sebut pinakel / Yasti Cikkara,
terletak di atas Padmaganda dan juga trletak di garis Harmika.
- Stupa Berlubang / Terawang
Yang dimaksud stupa berlubang atau terawang ialah Stupa yang terdapat pada teras I, II, III
di mana di dalamnya terdapat patung Budha.
Di Candi Borobudur jumlah stupa berlubang seluruhnya 72 Buah, stupa stupa tersebut
berada pada tingkat Arupadhatu
Teras I terdapat 32 Stupa
Teras II terdapat 24 Stupa
Teras III terdapat 16 Stupa
Jumlah 72 Stupa
- Stupa kecil
Stupa kecil berbentuk hampir sama dengan stupa yang lainya hanya saja perbedaannya yang
menojol adalah ukurannya yang lebih kecil dari stupa yang lainya, seolah olah menjadi
hiasan bangunan Candi Borobudur keberadaanstupa ini menempati relung relung pada
langkah ke II saampai langkah ke V sedangkan pada langkah I berupa Keben dan sebagian
berupa Stupa kecil jumlah stupa kecil ada 1472 Buah.

RELIEF
Di setiap tingkatan dipahat relief-relief pada dinding candi.
Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa
Kuna yang berasal dari bahasa Sansekerta daksina yang artinya ialah timur.
Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita jtaka.

Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi
timur di setiap tingkatnya, mulainya di sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu
gerbang itu.
Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan
menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya
serupa benar.
Secara runtutan, maka cerita pada relief candi secara singkat bermakna sebagai berikut :
KARMAWIBHANGGA
Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi,
relief yang menghiasi dinding batur yang terselubung tersebut menggambarkan hukum
karma.
Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri (serial),
tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai korelasi sebab akibat.
Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai
dengan hukuman yang akan diperolehnya,
tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala.
Secara keseluruhan merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir -
hidup - mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah
yang akan diakhiri untuk menuju kesempurnaan

LALITAWISTARA
Merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan
merupakan riwayat yang lengkap )
yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari sorga Tusita, dan berakhir dengan wejangan
pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras.
Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief
sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur.
Ke-27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai
persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon
Buddha.
Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran
Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu.
Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara
simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma
yang juga berarti "hukum", sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda.

JATAKA DAN AWADANA


Jataka adalah cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta.
Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan baik, yang membedakan Sang Bodhisattwa
dari makhluk lain manapun juga.
Sesungguhnya, pengumpulan jasa/perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha
menuju ketingkat ke-Buddha-an.

Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan
Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana
yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita
Awadana.
Pada relief candi Borobudur jataka dan awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya
terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan.
Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau
untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura dan jang hidup dalam abad ke-4 Masehi.

GANDAWYUHA
Merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke-2,adalah cerita Sudhana yang
berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang
Kebenaran Sejati oleh Sudhana.
Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang
berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu
Bhadracari.

ARCA BUDDHA
Selain wujud buddha dalam kosmologi buddhis yang terukir di dinding, di Borobudur
terdapat banyak arca buddha duduk bersila dalam posisi lotus serta menampilkan mudra atau
sikap tangan simbolis tertentu.

Patung buddha dalam relung-relung di tingkat Rupadhatu, diatur berdasarkan barisan di sisi
luar pagar langkan.
Jumlahnya semakin berkurang pada sisi atasnya.
Barisan pagar langkan pertama terdiri dari 104 relung, baris kedua 104 relung, baris ketiga 88
relung , baris keempat 72 relung, dan baris kelima 64 relung.
Jumlah total terdapat 432 arca Buddha di tingkat Rupadhatu.
Pada bagian Arupadhatu (tiga pelataran melingkar), arca Buddha diletakkan di dalam stupa-
stupa berterawang (berlubang).
Pada pelataran melingkar pertama terdapat 32 stupa, pelataran kedua 24 stupa, dan pelataran
ketiga terdapat 16 stupa, semuanya total 72 stupa.

Dari jumlah asli sebanyak 504 arca Buddha, lebih dari 300 telah rusak (kebanyakan tanpa
kepala) dan 43 hilang (sejak penemuan monumen ini, kepala buddha sering dicuri sebagai
barang koleksi, kebanyakan oleh museum luar negeri).

Secara sepintas semua arca buddha ini terlihat serupa, akan tetapi terdapat perbedaan halus
diantaranya, yaitu pada mudra atau posisi sikap tangan.
Terdapat lima golongan mudra: Utara, Timur, Selatan, Barat, dan Tengah, kesemuanya
berdasarkan lima arah utama kompas menurut ajaran Mahayana.

Keempat pagar langkan memiliki empat mudra: Utara, Timur, Selatan, dan Barat,
dimana masing-masing arca buddha yang menghadap arah tersebut menampilkan mudra yang
khas.
Arca Buddha pada pagar langkan kelima dan arca buddha di dalam 72 stupa berterawang di
pelataran atas menampilkan mudra: Tengah atau Pusat.
Masing-masing mudra melambangkan lima Dhyani Buddha;
masing-masing dengan makna simbolisnya tersendiri

Sedikit Foto - Foto dari Candi Borobudur


bagus gan infonya...

mebel minimalis mengatakan...


5 April 2012 10.02

informasi yang saya cari,,, terima kasih ya, ijin copas

Ahmad Shobarudin mengatakan...


18 Mei 2012 19.00

izin sedot gan..

Anonim mengatakan...
5 Juni 2012 03.57

KESALAHAN TERBESAR ADALAH MEYAKINI SEJARAH YANG TIDAK


JELAS ASAL-USULNYA. ORANG BUDHA SENDIRI TIDAK FAHAM SECARA
UTUH TENTANG BOROBUDUR, MEREKA HANYA KEBETULAN
MENEMUKAN SITUS YANG SUDAH ADA DAN DI KLAIM MENJADI MILIK
ORANG BUDHA SAAT ITU

Anonim mengatakan...
5 Juni 2012 04.00
5 November 2013 00.45
Sejarah Candi Borobudur, asal mula, penemuan dan relief Borobudur

Sejarah Candi Borobudur, asal mula, penemuan dan relief Borobudur Bangunan kuno yang
merupakan salah satu keajaiban dunia ini begitu banyak menyimpan jejak sejarah masa
lampau, terutama bagi bangsa Indonesia. Bagaimana Borobudur dibangun? Siapa yang
membangun? Kapan candi Borobudur ditemukan? Beberapa pertanyaan tersebut rasanya
menarik untuk dicari jawabannya.

Sejarah merupakan kejadian masa lampau yang kita sendiri tidak mengalaminya. Jadi kita
tidak mungkin mengetahuinya secara nyata, jelas dan pasti. Mengapa? Karena kita tidak
hidup pada zaman candi Borobudur. Jadi, jika nanti ada tulisan yang kurang pas atau bahkan
salah, alangkah senangnya jika berbagi dengan penulis. Admin menulis hanya berdasarkan
beberapa referensi baik offline (buku) maupun online (internet).

Borobudur merupakan sebuah candi peninggalan kerajaan Buddha yang letaknya sebelah
selatan Magelang, kurang lebih 40 km sebelah barat laut kota Yogyakarta. Dataran subur
yang mengelilingi bangsa Barat menyebutnya sebagai The Garden of Java yang berarti
Taman Jawa. Dataran tersebut dikelilingi 4 gunung, yaitu sebagai berikut :

1. Gunung Sumbing, tingginya 3.371 m

2. Gunung Sindoro, tingginya 3.135 m

3. Gunung Merbabu, tingginya 3.142 m, dan

4. Gunung Merapi, tingginya 2.911 m

Asal mula Borobudur

Candi Borobudur merupakan bangunan kuno yang memiliki stupa tertua dan kompleks stupa
terbesar di dunia. Oleh UNESCO namanya tercatat sebagai pewarisan budaya dunia dan
dianggap sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia. Menurut sejarahnya, Candi Borobudur
dibangun oleh Samaratungga dari Dinasti Syailendra yang pembangunannya memakan waktu
selama kurang lebih 50 tahun. Dimulai dari tahun 778 sampai 856 Masehi, 300 tahun
sebelum Angkor Wat di Kamboja, dan 200 tahun sebelum Notre Dame.

Borobudur merupakan sebuah bangunan berbentuk piramida berundak yang terbagi atas 9
lapis lantai. Enam lantai bagian bawah berbentuk platform bujur sangkar, lingkaran
terluarnya dipenuhi dengan galeri relief, yang merupakan gudang pusaka seni pahat yang
tersohor di dunia, panjang nya mencapai 2,5 km, sehingga Borobudur hampir sama dengan
piramida Mesir,

Nama Borobudur diperkirakan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu : Vihara Buddha Ur, yang
berarti Kuil Buddha dari puncak gunung.

Sebelumnya, candi peninggalan Dinasti Syailendra memiliki ketinggian 42 meter, tetapi


setelah mengalami pemugaran, tingginya berkurang menjadi 34,5 meter, dengan dimensi 123
x 123 m, lantai/tingkat 10. Lantai 1 sampai 6 berbentuk segi empat, dan lantai 7 sampai 10
berbentuk lingkaran.

Candi Borobudur menghadap ke timur, terdiri dari 1.460 panel, yang masing-masing panel
memiliki lebar 2 meter. Luas seluruh dindingnya mencapai 2.500 meter persegi, yang penuh
dengan relief. Panel yang memiliki relief berjumlah 1.212.

Menurut penelitian para ahli sejarah, jumlah patung Buddha terdapat sekitar 504, baik patung
yang masih utuh dan yang hancur. Hingga saat ini Borobudur sudah dipugar sebanyak 2x,
yaitu tahun 1905 sampai 1910, dan tahun 1973 sampai 1983.

Penemuan Candi Borobudur

Pada tahun 1006 Masehi terjadi sebuah letusan maha dahsyat gunung berapi, Borobudur
terkubur di bawah lapisan abu gunung berapi. Baru pada tahun 1814 Masehi, candi
peninggalan Buddha tersebut ditemukan dibalik hutan belantara yang lebat.

Diceritakan saat itu Raffles yang merupakan wakil gubernur Inggris yang ditugaskan di pulau
Jawa mendengar cerita dari para pemburu dan penduduk tentang ditemukannya sebuah candi
besar yang tersembunyi di dalam hutan lebat. Maka Raffles mengutus insinyur WN-Belanda
untuk menyatakan hal tersebut. Dan benar adanya, akhirnya Borobudur timbul di nusantara.
Tahun 1973 dengan bantuan UNESCO, dilakukan restorasi berskala besar terhadap Candi
Borobudur.

5 tahap pembangunan Borobudur

Candi Borobudur dibangun dalam kurun waktu kurang lebih 50 tahun, melalui beberapa
tahapan. Dari beberapa tahap pembangunannya desain candi ini mengalami beberapa kali
perubahan pula. Berikut 5 tahap pembangunan Borobudur :

Tahap pertama, dimulai sekitar tahun 780 Masehi. Pada tahap ini, masih merupakan
bangunan kecil dengan 3 buah teras bertumpuk, didirikan ketika bangunan lainnya mulai
dibangun dan kemudian dihancurkan. Kemungkinan awalnya dirancang sebagai sebuah
piramida bertingkat.
Tahap kedua. Pada tahap kedua, pondasi candi diperlebar, menutupi kaki asli. Jumlah teras
juga diperbanyak, menjadi 2 buah teras persegi empat dan 1 buah teras bundar.

Tahap Ketiga. Pada tahap ketiga ini, perubahan lebih teliti diterapkan. Puncak teras bundar
dipindah dan digantikan dengan serangkaian tiga buah teras bundar. Di puncak setiap teras
dibangun stupa juga.

Tahap keempat dan kelima. Terjadi sedikit perubahan pada monumen, penambahan relief-
relief baru dan perubahan tangga dan patung di sepanjang jalan. Simbol pada monumen tetap
sama, namun, sebagian besar dekorasinya dirubah.

Kesalahan desain Candi Borobudur

Menurut I Gusti Ngurah Anom (Dirjen Kebudayaan) dalam Simposium Rahasia di Balik
Keagungan Borobudur yang diselenggarakan oleh Dhammasena Universitas Trisakti di
Jakarta, desain candi Borobudur mengalami kesalahan, yang kemudian diperbaiki dengan
membuat kaki tambahan yang menutupi kaki aslinya. Hal ini dilakukan pada tahap kedua
pembangunan candi.

Adanya dua kaki tambahan tersebut pertama kali diketahui oleh Yzerman (tahun 1885) ketika
mengadakan penelitian penyelamatan Candi Borobudur dari bahaya kerusakan. Kaki
tambahan seperti yang terlihat sekarang, bentuknya sederhana dan acap kali disebut teras
lebar.

Teras lebar tersebut menutupi relief di kaki asli, terdiri dari 160 pigura. Di beberapa pigura
terdapat tulisan singkat sebagai petunjuk ringkas bagi pemahat candi dalam huruf Jawa Kuno.
Dan ternyata kata-kata yang dipergunakan tersebut juga terdapat dalam kitab
Mahakarmavibhangga yang memuat cerita tentang cara kerja hukum karma dalam kehidupan
manusia.

Yang menjadi polemik di kalangan para arkeolog hingga saat ini adalah : Mengapa relief di
kaki asli Candi Borobudur ditutup? Sebagian berpendapat sekedar masalah teknis agar candi
itu tidak longsor, karena kaki aslinya sangat curam. Namun, sebagian lagi mengatakan bahwa
penutupan kaki candi karena alasan keagamaan.Argumentasinya, karena relief di kaki asli
menggambarkan kehidupan nyata sehari-hari yang terkadang berkesan sadis, seronok, dan
lain sebagainya. Hal ini dianggap tidak pantas diketahui oleh umat Buddha yang berkunjung
ke Borobudur.

Apakah memang telah terjadi kesalahan desain dalam pembangunan Borobudur? Tidak ada
seorangpun yang tahu dengan pasti

6 Patung Buddha dan posisinya

Di Candi Borobudur, terdapat patung Buddha yang memiliki 6 bentuk atau mudra yang
berbeda. Keenam mudra Buddha tersebut adalah sebagai berikut :

1. Bhumisparcamudra (memanggil bumi untuk menyaksikan)

Posisinya tangan kanan Buddha menyentuh bumi, diletakkan di atas lutut kanan, jari-jari
menunjuk ke bawah. Mudra ini melambangkan permintaan Buddha kepada Dewa Bumi
untuk menyaksikan perilakunya yang benar ketika menyangkal tuduhan Mara. Mudra ini
merupakan ciri khas bagi Dhyani Buddha Aksobhya.

2. Abhayamudra

Posisinya tangan kanan Buddha di letakkan di atas paha kanan, telapak tangan menghadap ke
atas. Melambangkan upaya penghalauan terhadap rasa takut. Mudra ini merupakan Dhyani
Buddha Amoghasiddi, Buddha Utara.

3. Dhyanamudra (meditasi)

Posisinya kedua tangan Budha terbuka dan diletakkan di pangkuan, tangan kanan berada di
atas tangan kiri, dan 2 ibu jari saling menyentuh. Mudra ini dianggap berasal dari Amitabha,
Dhyani Buddha Barat.

4. Varamudra (amal)

Posisinya, tangan kanan Budha diputar ke atas, jari-jari ke bawah dan diletakkan di lutut
kanan. Dhyani Buddha tersebut adalah Ratnasambhava, Buddha Selatan.

5. Virtakamudra (posisi menimbang keputusan secara matang)

Posisi Sang Budha mengangkat tangan kanan di atas lutut kanan, telapak tangan menghadap
ke atas, dan ujung jari telunjuk menyentuh ibu jari. Dhyani Buddha adalah Budha dari semua
arah.

6. Dharmacakramudra (perputaran roda Hukum)

Posisi Sang Budha : kedua tangan ditahan di dada, tangan kiri di bawah tangan kanan, dan
diputar ke atas dengan jari manis menyentuh ibu jari, jari manis tangan kanan menyentuh jari
kelingking kiri. Posisi ini memberi kesan perputaran roda, dan dihubungkan dengan
Vairocana. Melambangkan kotbah pertama Sakyamuni di Taman Kijang di Benares. Dhyani
Buddha Puncak.

Relief Candi Borobudur

Relief yang terukir di permukaan dinding candi Borobudur merupakan karya seni yang tak
ternilai harganya. Saat pembangunan Borobudur tahap pertama, terdapat serangkaian relief
pada kaki bangunan.
Relief Candi
Borobudur

Ilustrasi teks/tulisannya diambil dari Karmavibhangga (Hukum Sebab Akibat). Teks tersebut
mencerminkan niat baik dan imbalannya, tetapi lebih menitikberatkan pada hukuman berat
bagi mereka yang berniat jahat, misalnya membunuh hewan, berkelahi dan sebagainya.

Dinding galeri pertama didekorasi oleh 4 rangkaian relief, yaitu : dua pada tembok serambi,
dan dua pada tembok utama. Kedua rangkaian relief di dinding serambi diambil dari teks
Jatakas, atau Kisah Kelahiran yang menceritakan kehidupan Sakyamuni (Buddha Gautama)
dalam berbagai inkarnasi sebelum kelahirannya sebagai manusia. Tema dari kisah tersebut
adalah pengorbanan diri sebagai sarana memperoleh kebaikan dan kelahiran yang lebih baik
pada kehidupan berikutnya, dengan mencapai nirwana sebagai tujuan akhir.

Tingkat dinding utama selanjutnya yang lebih rendah dihias dengan kisah kelahiran yang
lain. Menceritakan kehidupan orang-orang selain Sakyamuni yang juga memperoleh
pencerahan. Berbeda dengan ajaran Buddha Theravada, yang didalamnya diyakini bahwa
hanya 1 orang yang sanggup memperoleh pencerahan pada zaman ini, para pengikut Buddha
Mahayana yakin banyak makhluk yang telah mencapai tahap ini. Teks ini disebut Avadanas.

Pada tingkat dinding utama yang lebih tinggi, galeri pertamanya berupa relief-relief yang
menceritakan kehidupan Sakyamuni (Siddharta Gautama) sepanjang kehidupannya sebagai
pangeran sebagai guru bertapa. Relief-relief ini dimulai ketika Buddha berada di surga
sebelum reinkarnasi terakhirnya, dan berakhir dengan upacara pertamanya di Taman Kijang
di Benares. Teks ini dinamakan Lalitavista.

Rangkaian ke-5 dan terakhir menempati 3 galeri Borobudur bagian atas. Teks tersebut
digunakan sebagai sumber inspirasi yang disebut Gandavyuha. Ukiran tersebut menceritakan
seorang pemuda, anak pedagang yang bernama Sudhana. Ia berguru dari satu guru ke guru
lain dalam upaya mencari pencerahan. Sebagian besar relief menunjukkan
adegan Sudhana bepergian dengan berbagai alat angkutan, seperti kereta kuda dan gajah.

Juga ditunjukkan adegan ketika dia berlutut di hadapan para gurunya (kalayanamitra/teman
baik), baik laki-laki, perempuan, anak-anak dan Bodhisattvas. Penjelajahan pemuda tersebut
berakhir di Istana Maitreya, Buddha di masa depan, di puncak gunung Sumeru, dimana ia
diberi pelajaran dan memiliki berbagai pandangan.

Rangkaian terakhir relief di teras bagian atas diambil dari lanjutan teks ini, disebut
Bhadracari, dimana Sudhana bersumpah untuk menjadi Bodhisattva, dan mengikuti contoh
Bodhisattva tertentu bernama Samantabhadra.

Penempatan rangkaian relief pada tingkat paling tinggi dari candi Borobudur menunjukkan
bahwa relief tersebut merupakan teks yang paling dihormati oleh pendiri Borobudur. Adegan-
adegan relief sepertinya didesain untuk mendorong para peziarah agar mengikuti contoh
Sudhana ketika memanjat gunung, yang melambangkan tujuan dan sumber kebijaksanaan
tertinggi.

Maka dari itu pantaslah rasanya jika kita menyebut candi Candi Borobudur ajaib, hingga ia
menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Mungkin kita tidak pernah membayangkan,
bahwa di zaman dahulu yang belum ada ilmu pengetahuan secara formal, telah ada seorang
manusia yang telah mampu merancang dan membangun monumen besar rumit, kokoh dan
unik seperti Borobudur.

Batu yang sedemikian banyak ditumpuk satu per satu hingga membentuk sebuah bangunan
tinggi yang indah dan kokoh. Setiap bagian dan reliefnya pun memiliki makna cerita dari
keinginan manusia dan hukum sebab akibat.