Anda di halaman 1dari 5

Smart City, Konsep Kota

Cerdas Sebagai Alternatif


Penyelesaian Masalah
Perkotaan di Indonesia
10 months ago 2 10284 by Plimbi Editor
http://goo.gl/
Short URL :

Perkembangan teknologi yang semakin pintar membuat konsep smart tak hanya
diterapkan pada berbagai perangkat, tetapi pada berbagai sistem atau tatanan. Salah
satunya yang mencuat akhir-akhir ini adalah konsep smart city. Konsep yang disebut
sebagai kota pintar ini adalah konsep yang mengetengahkan sebuah tatanan kota cerdas
yang bisa berperan dalam memudahkan masyarakat untuk mendapatkan informasi secara
cepat dan tepat.

Selain itu, konsep kota pintar ini juga memang dihadirkan sebagai jawaban untuk
pengelolaan sumber daya secara efisien. Bisa dibilang, konsep kota cerdas ini adalah
integrasi informasi secara langsung dengan masyarakat perkotaan.

INDIKATOR SMART CITY

Konsep smart city sendiri pertama kali dikemukakan oleh IBM, perusahaan komputer
ternama di Amerika. Perusahaan tersebut memperkenalkan konsep smart city untuk
meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan. Untuk menyukseskan konsep kota
pintar ini, IBM menelurkan enam indikator yang harus dicapai. Keenam indikator
tersebut adalah masyarakat penghuni kota, lingkungan, prasarana, ekonomi, mobilitas,
serta konsep smart living.

Dengan mengoptimalkan keenam indikator tersebut, konsep smart city bukan lagi sebuah
wacana belaka. Namun, perlu diingat, keenam indikator ini bisa lebih difokuskan atau
dimaksimalkan salah satunya. Misalnya, kota Copenhagen. Kota yang ada di Denmark ini
memfokuskan diri untuk pengoptimalan bidang lingkungan. Karena hal ini, Copenhagen
dianggap sebagai salah satu kota pintar di dunia. Predikat smart city juga dimiliki oleh
Seoul. Ibu Kota Korea Selatan tersebut fokus pada pelayanan publik pada bidang
teknologi informasi. Tidak aneh jika kota ini memiliki jaringan internet tercepat di dunia.

PENERAPAN SMART CITY DI INDONESIA

Konsep smart city ini kini menjadi impian banyak kota besar di Indonesia. Konsep ini
dianggap sebagai solusi dalam mengatasi kemacetan yang merayap, sampah yang
berserakan, ataupun pemantau kondisi lingkungan di suatu tempat. Perjalanan menuju
konsep smart city ini juga sudah mulai berjalan pelan-pelan. Dukungan aplikasi yang
terus berkembang serta terciptanya ekosistem kreatif di bidang teknologi, merupakan
langkah awal yang baik menuju kota pintar. Setidaknya, hal tersebut dapat dilihat di kota
semacam Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar. Bahkan, dalam waktu
dekat, kota Bandung akan menjadi percontohan sebagai kota pintar pertama lewat konsep
Bandung Technopolis.

Untuk teknis bagaimana sebuah kota pintar bekerja, Suhono Harso Supangkat, ahli smart
city dari ITB punya pendapat. Dikutip dari Liputan6.com (1/9/2014), beliau
mengungkapkan bahwa smart city akan membuat kemacetan bisa perlahan teruraikan.
Misalnya ketika kendaraan dalam keadaan merayap, ada sensor di lampu lintas yang
nantinya akan memindai keadaan hingga membuat lampu hijau menyala lebih lama untuk
jalur yang merayap. Kondisi lain semisal ada daerah kotor, maka sensor membacanya
kemudian hadirlah alat pembersih yang membersihkan daerah kotor tersebut. Dalam hal
ini, sensor akan mendapatkan peran vital untuk menunjang sebuah konsep smart city.

Jika ada enam indikator untuk membuat kesuksesan sebuah smart city, maka hal tersebut
belum lengkap jika tidak ada elemen pendukung. Masih menurut Suhono, smart city aka
terbangun dengan dukungan lima teknologi pintar seperti sensor pintar, komunikasi dari
satu mesin ke mesin lain, komputasi awan, media sosial dan teknologi Geographical
Information System atau GIS.

Kelima teknologi ini cukup penting meski Suhono mengakui komunikasi mesin dengan
mesin lain (machine to machine) merupakan hal yang masih belum bisa diterapkan di
masa sekarang. Namun, keempat unsur lain masih memungkinkan. Setidaknya agar
masyarakat bisa mendapatkan informasi dan akses lebih cepat.

Bila melihat uraian tersebut, konsep smart city memang merupakan satu hal yang
menarik. Sebuah kota dengan dukungan teknologi pintar dalam menunjang aktivitas
sehari-hari tentu akan semakin memudahkan manusia. Hanya saja, konsep smart city ini
tampaknya masih harus didukung dengan pola pikir manusia modern di Indonesia.

Kesadaran akan lingkungan, pemanfaatan teknologi yang maksimal, serta kesadaran


pentingnya pola hidup cerdas adalah hal-hal yang perlu diperhatikan juga. Tidak lucu
bukan, jika sebuah kota mendapat predikat smart city, namun masih membuang sampah
sembarangan, merusak atau mengambil fasilitas, serta hal-hal lainnya yang sifatnya
negatif. Terlepas dari itu, smart city tampaknya bukanlah angan-angan belaka. Apalagi
jika smart city ini didukung dengan cara berpikir dan bersikap yang cerdas [HMN]

Tags

Kota-kota di dunia mengalami tantangan yang kurang lebih sama,


peningkatan pertumbuhan penduduk yang pesat harus dibarengi dengan
perencanaan yang tepat. Apalagi, jika kota menjadi sasaran urbanisasi,
seperti Yogyakarta. Tantangan tersebut dapat diatasi dengan konsep
penataan kota Smart City. Konsep Smart City merupakan konsep
penataan kota dengan peningkatkan peran infrastruktur publik serta
pembangunan yang tidak ego sektoral. Pembangunan ego sektoral
merupakan pembanguan yang cenderung tidak memperhatikan dampak
terhadap lingkungan sekitar. Smart city memiliki beberapa indikator,
diantaranya smart culture dan smart transport management. ungkap Prof
Dr. Achmad Djunaedi, guru besar Arsitektur dan Perencanan UGM, dalam
diskusi publik Tantangan Smart City untuk Yogyakarta Berbudaya, Sabtu
(2/5).
Penerapan smart culture menurut Adjun, sapaan Prof. Dr. Achmad
Djunaedi, dapat dilakukan dengan memperkuat nilai budaya pada
infrastruktur perkotaan. Nilai budaya dapat diterapkan seperti bus Trans
Jogja yang diberi hiasan motif batik. Hal ini dapat membuat kota
mempunyai identitas yang akan menarik wisatawan dan menambah
pendapatan daerah.
Lebih lanjut, Adjun menambahkan dalam mewujudkan kota cerdas perlu
transportasi yang waktu dan rutenya saling terintegrasi. Hal inilah yang
disebutsmart transport management. Menurutnya, pemerintah saat ini
dirasa kurang maksimal dalam mengurangi kemacetan. Himbauan
penggunaan transportasi publik tidak diimbangi dengan peningkatan
layanan. Sebagai contoh, masyarakat masih menyambung moda
transportasi dari bus ke angkutan untuk menjangkau rumahnya. Oleh
karena itu, jumlah kendaraan pribadi semakin bertambah dari tahun ke
tahun tutur Adjun.
Berbeda dengan Adjun yang menekankan tanggung jawab smart city pada
pemerintah. M Aditya Arief Nugroho, Presiden Gamatechno Indonesia,
menjelaskan untuk mewujudkan smart city merupakan tanggung jawab
semua, tidak harus bergantung pada pemerintah. Contohnya, komunitas
dimana pengendara mobil dapat memberi tumpangan ke orang lain yang
memiliki tujuan sama lewat sebuah group twitter, Nebengers,.
Komunitas ini mampu mengurangi kemacetan perkotaan, salah satunya
yang diterapkan di Jakarta.
Menurut Adjun, berbagai permasalahan terkait pembangunan yang
terjadi di Yogyakarta salah satunya dikarenakan karena kota ini belum
menerapkan konsep smart city. Seperti pembangunan hotel di Yogyakarta
yang menyebabkan keringnya sumur warga. Pembangunan infrastruktur
harus efisien dan membuat masyarakat nyaman, itu kuncinya kota
cerdas tutur Adjun.
Ni Made Dwipanti, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Badan
Perencanaan Daerah (Bappeda) DIY, menuturkan bahwa
implementasi Smart City harus dilakukan bertahap. Hal ini dikarenakan
dana yang dibutuhkan besar dan perlu dukungan dari masyarakat.
Namun, dukungan tersebut terkadang terkendala pemahaman yang
kurang. Untuk itu, kedepannya Bappeda akan mengusulkan
pendirian Urban Planning Exhibition. Pendirian ini dimaksudkan untuk
mengedukasi serta sebagai sarana aspirasi masyarakat tentang tata
ruang, khususnya Smart City. [Ardianto]