Anda di halaman 1dari 68

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL ............................................................................................................... iv


DAFTAR GAMBAR ...........................................................................................................v
BAB I .......................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN .............................................................................................................. 1
1.1. Latar Belakang .......................................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah ................................................................................................. 11
1.3. Tujuan Peneltian ..................................................................................................... 11
1.4. Manfaat Penelitian .................................................................................................. 12
1.5. Sistematika Penulisan ........................................................................................... 13
BAB II ........................................................................................................................ 10
2.1. Teori Keagenan ...................................................................................................... 10
2.2 Nilai Perusahaan .................................................................................................... 12
2.2.1 Tobin s Q .......................................................................................... 13

2.3 Kepemilikan Institusional ....................................................................................... 14


2.4 Kepemilikan Manajerial ......................................................................................... 18
2.5 Kepemilikan Keluarga ............................................................................................ 22
2.4 Manajemen laba ..................................................................................................... 22
2.4.1 Defenisi Manajemen Laba ................................................................. 22

2.4.2 Faktor-faktor Pendorong Manajemen Laba ........................................ 23

2.4.3 Teknik Manajemen Laba.................................................................... 24

2.4.4 Pola Manajemen Laba ....................................................................... 25

2.5 Penelitian Terdahulu .............................................................................................. 26


2.6. Kerangka Pemikiran dan Pengembangan Hipotesis ........................................ 32
2.6.1 Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung Kepemilikan Institusional
terhadap Nilai perusahaan ................................................................. 33

2.6.1.1 Pengaruh kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan .. 33

2.6.1.2 Pengaruh kepemilikan institusional terhadap Manajemen laba .. 33

2.6.1.3 Pengaruh kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan


dengan manajemen laba sebagai variabel mediasi .......................................... 33

i
2.6.1.4 Pengaruh Manajemen Laba terhadap nilai perusahaan .............. 33

2.6.2 Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung Kepemilikan Manajerial


terhadap Nilai perusahaan ................................................................. 34

2.6.2.1 Pengaruh kepemilikan Manajerial Terhadap Nilai Perusahaan .. 34

2.6.2.2 Pengaruh kepemilikan Manajerial Terhadap Manajemen Laba.. 34

2.6.2.3 Pengaruh kepemilikan Manajerial Terhadap Nilai Perusahaan


dengan Manajemen Laba sebagai Variabel Mediasi. ...................................... 34

2.6.3 Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung Kepemilikan Keluarga


terhadap Nilai perusahaan ................................................................. 34

2.6.3.1 Pengaruh kepemilikan Keluarga Terhadap Nilai Perusahaan .... 34

2.6.3.2 Pengaruh kepemilikan Keluarga Terhadap Manajemen Laba .... 35

2.6.3.3 Pengaruh kepemilikan Keluarga Terhadap Nilai Perusahaan


dengan Manajemen Laba Sebagai Variabel Mediasi ....................................... 35

2.6.2 Pengaruh manajemen laba terhadap nilai perusahaan dimoderasi oleh


kepemikan institusional ......................... Error! Bookmark not defined.

2.7. Model Penelitian ..................................................................................................... 35


BAB III ........................................................................................................................ 29
3.1. Populasi dan Sampel ............................................................................................. 29
3.2. Jenis dan Sumber Data ......................................................................................... 29
3.3. Teknik Pengumpulan Data .................................................................................... 30
3.4. Defenisi Operasional variabel dan Pengukuran Variabel................................. 30
3.4.1 Variabel Dependen ............................................................................ 31

3.4.2 Variabel Independen .......................................................................... 31

3.4.3 Variabel Mediasi ................................................................................ 33

3.4.3.1 Manajemen laba ........................................................................... 33

3.5. Teknik Analisis Data............................................................................................... 35


3.5.1. Statistik Deskriptif .............................................................................. 35

3.5.2. Analisis Partial Least Square ............................................................. 36

3.5.3. Pengujian Hipotesis .............................. Error! Bookmark not defined.

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... i

ii
iii
DAFTAR TABEL
Halaman

Tabel 2.1 : Penelitian Terdahulu .......... 60

Tabel 3.2 : Kriteria Penetapan Sampel .................................... 81


Tabel 3.3 : Daftar Nama Perusahaan Sampel....... 81
Tabel 3.4 : Definisi Operasional Variabel.................................... 90

iv
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1.1 : Nilai Perusahaan Manufaktur 2014-2015 ........ 3

Gambar 2.1 : Model Penelitian . 79

v
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perusahaan didirikan dikarenakan oleh banyaknya tujuan yang

hendak dicapai, salah satu tujuan perusahaan didirikan adalah untuk

meningkatkan nilai perusahaan atau memaksimalkan nilai perusahaan

melalui peningkatan kemakmuran pemilik atau para pemegang saham.

Brigham (2001) menyebutkan bahwa nilai perusahaaan merupakan harga

yang bersedia dibayar oleh calon pembeli apabila perusahaan tersebut

dijual. Berbagai kebijakan diambil oleh manajemen dalam upaya

meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan kemakmuran pemilik

dan pemegang saham tercermin pada harga saham. Sujoko dan

Soebiantoro (2007) mendefenisikan nilai perusahaan merupakan persepsi

investor terhadap tingkat keberhasilan perusahaan yang sering dikaitkan

dengan harga saham. Haruman (2008) menjelaskan bahwa nilai

perusahaan yang tinggi akan memiliki dampak terhadap kemakmuran bagi

para pemegang saham, sehingga para pemegang saham

menginvestasikan modalnya ke perusahaan tersebut.

Nilai perusahaan menjadi salah satu faktor fundamental yang

dipertimbangkan oleh sebagian besar investor, karena pentingnya dalam

menentukan kelangsungan hidup sebuah perusahaan (Barde dan Hamidu,

2015). Pihak investor akan lebih tertarik untuk berinvestasi pada

perusahaan yang memiliki nilai perusahaan yang tinggi untuk mendapatkan

return atas investasi yang dilakukannya.

1
Nilai perusahaan pada dasarnya dapat diukur dengan beberapa

aspek, diantaranya adalah harga pasar pasar saham. Harga pasar dari

saham perusahaan yang terbentuk antara pembeli dan penjual disaat

terjadi transaksi disebut nilai pasar perusahaan, karena harga pasar saham

dianggap cerminan dari nilai aset perusahaan sesungguhnya (Mahendra,

2011). Selain harga pasar saham dalam mengukur nilai perusahaan, PBV

biasanya juga digunakan dalam mengukur nilai perusahaan. Nilai pasar

saham dan nilai buku atau disebut dengan PBV (Price to Book Value) dapat

digunakan untuk mengukur nilai perusahaan, semakin tinggi nilai PBV

(Price to Book Value), semakin tinggi perusahaan dinilai oleh para pemodal

(Husnan, 2006).

Salah satu ukuran yang biasa digunakan dalam menilai suatu nilai

perusahaan adalah menggunakan rasio Tobins Q. Rasio Tobins Q

merupakan salah satu alternative pengukuran kinerja perusahaan yang

dapat digunakan dengan menggabungkan antara nilai buku dan nilai pasar

ekuitas. Rasio ini diukur dari nilai pasar ekuitas ditambah nilai buku total

kewajiban kemudian dibagi dengan nilai buku total asset (Hariati dan

Rihatiningtyas, 2015). Nilai perusahaan yang diukur dengan Tobins Q

merupakan gambaran dari kesejahteraan pemegang saham. Semakin

tinggi nilai perusahaan, maka dapat menggambarkan semakin sejahtera

pula pemiliknya (Putri dan Rohman, 2012).

Nilai perusahaan sering kali dikaitkan dengan harga saham suatu

perusahaan dipasar modal. Pada tahun 2015 indeks harga saham

perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia mengalami stuasi

2
dengan grafik IHSG yang menurun. Artinya pada tahun 2015 tersebut harga

saham gabungan pada perusahaan yang terdaftar di bursa efek Indonesia

mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Berikut ini merupakan

gambar IHSG perusahaan yang terdaftar di bursa efek Indonesia tahun

2005-2016.

Gambar 1.1 : Nilai IHSG perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Tahun 2005-2016
Sumber : www.idx.com

Pada gambar 1.1 diatas dapat diketahui bahwa nilai IHSG

perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2005-2016

mengalami fluktuasi yang sangat bervariasi. Akan tetapi apabila dilihat lebih

lanjut nilai IHSG perusahaan yang terdaftar di bursa efek Indonesia pada

tahun 2009 mengalami peningkatan dari nilai sekitar 1.000 hingga akhir

tahun 2014 mendekati nilai sebesar 5.500, selanjutnya pada akhir tahun

2015 nilai IHSG perusahaan yang terdaftar di bursa efek Indonesia

mengalami penurunan menjadi sebesar 4.000.

3
Disamping adanya fluktuasi nilai IHSG perusahaan yang terdaftar di

bursa efek diatas dan turunnya nilai IHSG perusahaan pada tahun 2015

tersebut, peneliti juga melihat bahwa pada tahun 2015 tersebut terdapat

pernyataan dari pihak direktur bursa saham Indonesia yaitu Ito warsito yang

menyatakan bahwa persentase kepemilikan saham di Indonesia masih di

dominasi oleh investor institusi yang mencapai 73,14% jika dibandingkan

dengan investor individu (www.suara.com). Artinya pada tahun 2015

tersebut saham perusahaan - perusahaan yang terdaftar di bursa efek

Indonesia didominasi oleh investor institusional. Akan tetapi pada akhir

tahun 2015 tersebut tingkat IHSG perusahaan manufaktur mengalami

penurunan hingga menyentuh titik 4.500 dari nilai 5.500. Hal ini tidak sesuai

dengan teori yang menyebutkan bahwa kepemilikan saham oleh investor

institusional dapat meningkatkan nilai perusahaan, karena nilai perusahaan

itu sendiri merupakan gambaran dari harga saham perusahaan.

Perusahaan manufaktur merupakan perusahaan yang jumlahnya

mendominasi di bursa efek Indonesia. Perusahaan manufaktur merupakan

perusahaan yang memproduksi barang-barang kebutuhan sehari-hari

masyarakat, artinya produk perusahaan manufaktur akan selalu dibutuhkan

oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari dan ini akan menyebabkan

perusahaan manufaktur akan selalu dibutuhkan oleh masyarakat.

Disamping banyaknya jumlah perusahaan manufaktur hal ini akan memicu

terjadinya persaingan dalam menarik perhatian investor agar berinvestasi

pada perusahaan tersebut. sehingga pada akhirnya perusahaan akan

menggunakan manajemen laba dalam penyusunan laporan keuangan yang

4
bertujuan untuk menarik perhatian investor untuk berinvestasi pada

perusahaan tersebut. Perusahaan manufaktur juga merupakan perusahaan

yang memiliki kerja operasi yang sangat kompleks dibandingkan dengan

perusahaan lainnya. Sehingga hal ini akan mempermudah manajemen

dalam melakukan tindakan manajemen laba dalam penyusunan laporan

keuangan.

Tindakan manajemen laba yang dilakukan oleh pihak manajemen

dapat menyebabkan kualitas laporan keuangan menjadi rendah. Hal ini

akan menyebabkan investor salah dalam membuat keputusan investasi

sehingga menyebabkan investor akan menarik kembali dana yang telah di

investasikan yang pada akhirnya akan menyebabkan nilai perusahaan

menjadi rendah.

Siahan (2013) menyatakan bahwa dalam peningkatan nilai

perusahaan dapat tercapai apabila terdapat kerja sama antara manajemen

perusahaan dengan pihak lain yang meliputi shareholder dan stakeholder

dalam membuat keputusan-keputusan keuangan dengan tujuan

memaksimumkan modal kerja yang dimiliki. Apabila tindakan antara

manajer dengan pihak lain tersebut berjalan sesuai, maka masalah diantara

kedua pihak tersebut tidak akan terjadi. Dalam kenyataanya penyatuan

kepentingan kedua pihak tersebut sering kali menimbulkan masalah.

Perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (lebih-lebih yang

terdaftar di pasar modal), seringkali terjadi pemisahan antara pengelola

perusahaan (pihak manajemen, disebut juga sebagai agent) dengan

pemilik perusahaan (pemegang saham, disebut juga sebagai principal).

5
Pengelolaan yang terpisah dari pemilik (pemegang saham) memungkinkan

terjadi perbedaan kepentingan antara pihak pengelola (manajemen) dan

pemilik (pemegang saham tersebut) (Husnan, 2006) Perbedaan

kepentingan ini sering disebut sebagai agency problem.

Herawaty (2008) menjelaskan bahwa salah satu bentuk

penyimpangan yang dilakukan oleh manajemen sebagai agen yaitu dalam

proses penyusunan laporan keuangan manajemen dapat mempengaruhi

tingkat yang ditampilkan dalama laporan keuangan atau sering disebut

manajemen laba (earnings management). Tujuan manajemen laba adalah

untuk meningkatkan kesejahteraan pihak tetentu walaupun dalam jangka

panjang tidak terdapat perbedaan laba kumulatif perusahaan dengan laba

yang didapat diidentifikasikan sebagai keuntungan.

Terdapat beberapa kasus yang mencerminkan adanya

permasalahan keagenan (agency problem) yang terjadi yaitu skandal

laporan keuangan berskala besar seperti Enron dan Worldcom. Modus

kecurangan yang dilakukan oleh Enron seperti melakukan trik akuntansi

dengan mencatat produksi yang akan dikirim tahun depan sebagai

pendapatan hari ini dan tidak membukukan biaya yang ditanggung atas

produksi tersebut, sehingga pendapatan mengelembung. Penjualan tahun

depan harus selalu lebih tinggi dari produksi tahun ini untuk

mempertahankan pendapatan tersebut. Selain itu, menciptakan

perusahaan fiktif, lalu menjual produksi kepadanya. Selanjutnya, Enron

membuat komitmen membeli kembali apa yang telah dijualnya kepada

perusahaan fiktif tersebut dan banyak manipulasi lainnya yang telah

6
dilakukan oleh Enron. Modus kecurangan yang terjadi pada WorldCom

seperti menggolongkan pengeluaran biasa menjadi investasi dalam

pembukuan, sehingga pengeluaran tidak harus dikurangi dari pendapatan

dan keuntungan pun menjadi tampak jauh lebih besar. Selain itu,

membukukan tagihan yang tidak diakui oleh kliennya sebagai pendapatan,

dan membuat jalinan rumit transaksi-transaksi tidak terpuji antara

perusahaan dengan para eksekutifnya (www.kabarindonesia.com) dalam

Herawaty, dkk (2016).

Sedangkan di Indonesia permasalahan keageanan yang telah

diketahui yaitu pada kasus PT Kimia Farma Tbk yang merupakan salah

satu perusahaan manufaktur yang terindikasi melakukan manipulasi berupa

oversated dalam menilai persediaan barang jadi serta overstated dalam

mencatat nilai penjualan. Fenomena ini mengakibatkan overstated laba

pada laba bersih untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2001 (Bapepam,

2002).

Siallagan dan Machfoed (2006) menyatakan bahwa tindakan

manajemen laba yang dilakukan oleh pihak manajer akan menyebabkan

kualitas laba yang terkandung dalam laporan keuangan akan menurun,

sehingga menyebabkan pemakai laporan keuangan salah dalam membuat

keputusan investasi dan pada akhir akan menyebabkan nilai perusahaan

menjadi menurun.

Menurut Jensen dan Meckling (1976), salah satu metode untuk

meminimalkan masalah keagenan adalah dengan kepemilikan saham yang

besar, dimana mayortitas pemegang saham dapat melakukan kontrol dan

7
fungsi monitoring terhadap manajemen. Kepemilikan saham yang besar ini

biasanya identik dengan kepemilikan institusional yang merupakan salah

satu mekanisme eksternal good corporate governance yang efektif dan

sangat penting. Kelompok investor institusional memiliki posisi untuk

mempengaruhi praktek bisnis yang diadopsi perusahaan dan kehadiran

mereka dapat menyebabkan perubahan perilaku dalam perusahaan. Hal ini

akibat dari pengawasan yang lebih efektif yang dilakukan oleh investor

insitusional (Velury and Jenkins, 2006).

Menurut Alves (2012) investor institusional memiliki kesempatan,

sumber daya, dan kemampuan yang lebih besar untuk memantau tindakan

manajer. Oleh karena itu, pemantauan yang efisien menunjukkan bahwa

kepemilikan institusional adalah pemantauan yang lebih baik dari kegiatan

manajemen, sehingga dapat mengurangi kemampuan manajer untuk

melakukan tindakan oportunistik memanipulasi laba.

Selain kepemilikan institusional, kepemilikan oleh pihak manajerial

juga dipercaya mampu meningkatkan nilai perusahaaan melalui

pengawasan yang dilakukan oleh pihak manajemen sendiri. Kepemilikan

manajerial diartikan sebagai persentase kepemilikan saham yang dimiliki

oleh manajer dalam suatu perusahaan (Boediono, 2005). Menurut teori

keagenan, kepemilikan saham manajerial mendorong manajer untuk

meningkatkan nilai perusahaan, karena manajer menanggung proporsi efek

kekayaan sebagai pemegang saham. Akibatnya, kepemilikan saham oleh

manajemen dapat menyebabkan konvergensi kepentingan antara manajer

dengan pemegang saham. Sebagai konsekuensinya, semakin

8
meningkatnya kepemilikan saham manajerial maka insentif untuk

melakukan manajemen laba akan menurun (Alves, 2012). Penelitian

Muryati dan Suardikha (2014) membuktikan bahwa kepemilikan oleh pihak

manajerial berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Kepemilikan

saham oleh pihak manajemen yang tinggi dapat menyatukan kepentingan

manajer dengan pemegang saham sehingga berdampak positif pada

peningkatan nilai perusahaan.

Struktur kepemilikan yang dipandang mampu untuk mengurangi

permasalahan keagenan selanjutnya adalah kepemilikan pihak keluarga

Penelitian mengenai struktur kepemilikan dalam hal ini kepemilikan

institusional, kepemilikan manajerial dan kepemilikan keluarga, terhadap

nilai perusahaan telah diteliti oleh beberapa peneliti sebelumnya. Akan

tetapi masih banyak terdapat perbedaan hasil peneltian antara satu peneliti

dengan peneliti yang lain. Muryati dan Suardikha, (2014) dalam

penelitiannya membuktikan bahwa kepemilikan saham oleh pihak institusi

berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Kepemilikan saham oleh

pihak institusional mampu menjadi mekanisme pemantauan yang efektif

terhadap kinerja manajemen yang pada akhirnya akan meningkatkan nilai

perusahaan.

Berbeda dengan hasil penelitian yang oleh Zurriah (2016) yang

meneliti tentang analisis factor yang mempengaruhi nilai perusahaan

melalui praktek manajemen laba: studi pada perusahaan yang terdaftar di

9
JII membuktikan bahwa kepemilikan saham oleh pihak insititusional tidak

berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Artinya kepemilikan saham oleh

pihak institusi tidak dapat meningkatkan nilai perusahaan yang terdaftar di

JII.

Selain pengujian pengaruh langsung kepemilikan institusi terhadap

nilai perusahaan beberapa peneliti juga melakukan penelitian mengenai

pengaruh tidak langsung variabel kepemilikan institusional terhadap nilai

perusahaan dengan manajemen laba sebagai variabel mediasi. Hasil dari

penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya juga masih banyak

terdapat perbedaan hasil peneliti dengan peneliti lainnya.

Nasser (2008) menguji pengaruh struktur kepemilikan dan corporate

governance terhadap nilai perusahaan dengan manajemen laba dan

kebijakan hutang sebagai variabel intervening, membuktikan bahwa

manajemen laba dan hutang merupakan variable intervening pada

hubungan struktur kepemilikan dalam hal ini kepemilikan institusional

terhadap nilai perusahaan.

Berbeda dengan hasil penelitian Pinayungan (2015) yang melakukan

penelitian yang berjudul corporate governance, manajemen laba, leverage

dan nilia perusahaan studi empiris pada perusahaan manufaktur yang

terdaftar di bursa efek Indonesia tahun 2010-2013, membuktikan bahwa

manajemen laba tidak memediasi pengaruh kepemilikan institusional

terhadap nilai perusahaan,

Penelitian ini merupakan penggabungan dari penelitian yang

dilakukan oleh Thanatawee (2014) yang mana pada penelitian yang

10
dilakukan oleh Thanatawee (2014) menguji pengaruh kepemilikan

institusional terhadap nilai perusahaan dengan penelitian yang dilakukan

oleh Alves (2011) yang menguji pengaruh struktur kepemilikan terhadap

manajemen laba. Alasan peneliti mengambil variabel struktur kepemilikan,

manajemen laba dan nilai perusahaan diteliti adalah disebabkan oleh masih

banyak terdapat perbedaan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti

sebelumnya mengenai hubungan variabel tersebut. oleh karena itu peniliti

tertarik untuk meneliti bagaimana pengaruh dari variabel-variabel tersebut.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka peneliti mengambil

judul : Pengaruh Struktur Kepemilikan Terhadap Nilai Perusahaan

Dengan Manajemen Laba Sebagai Variabel Mediasi Studi pada

perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek indonesia Tahun

2014-2015.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uarian latar belakang masalah, rumusan masalah yang

diajukan pada penelitian ini adalah:

Apakah terdapat pengaruh struktur kepemilikan dalam hal ini

kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, dan keluarga kepemilikan

terhadap nilai perusahaan dengan manajemen laba sebagai variabel

mediasi?

1.3. Tujuan Peneltian

Penelitian tentang hubungan antara kepemilikan institusional,

manajemen laba dan nilai perusahaan memiliki tujuan sebagai berikut:

11
a. Untuk mengetahui pengaruh langsung dan tidak langsung

kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan dengan

manajemen laba sebagai variabel mediasi

b. Untuk mengetahui pengaruh langsung dan tidak langsung

kepemilikan manajerial terhadap nilai perusahaan dengan

manajemen laba sebagai variabel mediasi

c. Untuk mengetahui pengaruh langsung dan tidak langsung

kepemilkan keluarga terhadap nilai perusahaan dengan

manajemekeluargan laba sebagai variabel mediasi

d. Untuk mengetahui pengaruh langsung manajemen laba terhadap

nilai persuahaan.

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini sebagai berikut:

a. Bagi penulis dapat menambah ilmu pengetahuan, wawasan dan

lebih memahami mengenai bagaimana pengaruh antara variabel

struktur kepemilikan dalam hal ini kepemilikan institusional,

kepemilikan manajerial, dan keluarga kepemilikan terhadap

manajemen laba dan nilai perusahaan.

b. Bagi peneliti selanjutnya, dapat dijadikan sebagai bahan referensi

tambahan dan pembanding untuk penelitian selanjutnya dengan

menggunakan topik yang sama atau variabel dependen yang

sama.

12
1.5. Sistematika Penulisan

Untuk memperoleh gambaran secara umum mengenai bagian-

bagian yang akan dibahas dalam penelitian ini, maka penulis

menguraikan secara singkat isi masing-masing bab dengan

sistematika sebagai berikut:

BAB I : Pendahuluan

Bab ini merupakan pendahuluan yang menjelaskan tentang

hal-hal pokok dalam penelitian yang meliputi: latar

belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian,

manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II : Tinjauan Pustaka

Bab ini akan diuraikan teori-teori yang melandasi penelitian

ini.

BAB III : Metodologi Penelitian

Bab ini menjelaskan metode-metode penelitian yang

digunakan dalam penulisan penelitian, meliputi :

populasi dan sampel, jenis dan sumber data, teknik

pengumpulan data, definisi operasional variabel, metode

analisis data dan pengujian hipotesis

13
BAB II

TELAAH PUSTAKA

2.1. Teori Keagenan

Anthony dan Govindarajan (2005: 269) mendefinisikan konsep teori

keagenan adalah hubungan agensi ada ketika salah satu pihak (prinsipal)

menyewa pihak lain (agen) untuk melaksanakan suatu jasa dan, dalam

melakukan hal itu, mendelegasikan wewenang untuk membuat keputusan

kepada agen tersebut. Dalam suatu korporasi, pemegang saham

merupakan principal dan CEO adalah agen mereka. Pemegang saham

mempekerjakan CEO untuk bertindak sesuai dengan kepentingan principal.

Salah satu elemen kunci dari teori agensi ialah bahwa principal dan agen

memiliki preferensi atau tujuan yang berbeda. Agency theory memiliki

asumsi bahwa masing-masing individu semata-mata termotivasi oleh

kepentingan dirinya sendiri sehingga menimbulkan konflik kepentingan

antara principal dan agent. Pihak principal termotivasi mengadakan kontrak

untuk menyejahterakan dirinya dengan profitabilitas perusahaannya yang

selalu meningkat.

Teori keagenan menganalisis kepentingan dan perilaku dari pihak

yang bertindak sebagai pembuat keputusan bagi pihak lain yang bertindak

sebagai pemberi wewenang kepada pihak pertama dengan maksud agar

pihak pertama bertindak dan membuat keputusan sesuai dengan

kepentingannya selaku pemberi wewenang. Jensen dan Meckling (1976)

mendefinisikan hubungan keagenan (agency relationship) sebagai kontrak

di mana satu atau lebih orang (pemilik atau principal) mengikat orang lain

10
(agent) untuk melakukan beberapa jasa atas kepentingannya dan

melibatkan pendelegasian beberapa otoritas pembuat keputusan kepada

agen. Asumsi yang mendasari teori keagenan adalah pihak manajemen

digaji tetap dengan kurangnya aktivitas pengawasan (monitoring) serta

kurangnya kesediaan agen membatasi aktivitasnya agar sesuai kontrak.

Agen secara moral bertanggung jawab untuk mengoptimalkan

keuntungan para prinsipal. Namun disisi kepentingan pribadi, agen juga

mempunyai kepentingan memaksimumkan kesejahteraan mereka.

Sehingga ada kemungkinan besar agen tidak selalu bertindak demi

kepentingan terbaik prinsipal (Jensen dan Meckling, 1976).

Konflik kepentingan yang mungkin terjadi karena perbedaan

kepentingan antara principal dan agen dapat menyebabkan timbulnya biaya

keagenan. Menurut Jensen & Meckling (1976) terdapat tiga jenis biaya

keagenan yaitu :

1. Biaya pengawasan (monitoring cost) : biaya yang dikeluarkan

oleh principal untuk mengawasi agen sehingga dapat membatasi

aktivitas yang menyimpang dari agen yang disebabkan

perbedaan kepentingan antara agen dan principal.

2. Biaya yang mengikat (bonding cost) : sumber daya perusahaan

yang dibelanjakan agen untuk menjamin bahwa agen tidak akan

bertindak yang dapat merugikan principal atau untuk meyakinkan

bahwa principal akan memberikan kompensasi jika dia benar

benar melakukan tindakan tersebut.

11
3. Biaya residu ( residual cost) : nilai uang yang ekuivalen dengan

pengurangan kesejahteraan yang dialami principal jika terjadi

divergensi antara keputusan keputusan yang dapat

memaksimalkan kesejahteraan agen

Agen sebagai pihak yang menghasilkan laporan keuangan memiliki

keinginan untuk mengoptimalisasi kepentingannya, sehingga dimungkinkan

agen melakukan manipulasi data atas kondisi perusahaan. Optimalisasi

kepentingan baik prinsipal maupun agen yang tidak sesuai dapat

menimbulkan terjadinya asimetri informasi. Asimetri informasi dan konflik

kepentingan ini mendorong agen untuk menyajikan informasi yang tidak

sebenarnya kepada prinsipal, terutama jika informasi tersebut berkaitan

dengan kinerja agen (Widyaningdyah, 2001).

2.2 Nilai Perusahaan

Sujoko dan Soebiantoro, (2007) mendefiniskan nilai perusahaan

sebagai persepsi investor terhadap tingkat keberhasilan perusahaan yang

sering dikaitkan dengan harga saham. Harga saham yang tinggi membuat

nilai perusahaan juga tinggi. Nilai perusahaan yang tinggi akan membuat

pasar percaya tidak hanya pada kinerja perusahaan saat ini namun juga

pada prospek perusahaan di masa depan. Sedangkan Sukirni (2012)

menjelaskan bahwa nilai perusahaan merupakan kondisi tertentu yang

telah dicapai oleh suatu perusahaan sebagai gambaran dari kepercayaan

masyarakat terhadap perusahaan setelah melalui suatu proses kegiatan

selama beberapa tahun, yaitu sejak perusahaan tersebut didirikan sampai

dengan saat ini.

12
Menurut Permanasari (2010), Tujuan utama perusahaan adalah

untuk meningkatkan nilai perusahaan. Nilai perusahaan yang tinggi dapat

meningkatkan kemakmuran bagi para pemegang saham, dan para

pemegang saham akan menginvestasikan modalnya kepada perusahaan

tersebut.

2.2.1 Tobin s Q

Nilai perusahaan pada penelitian ini menggunakan rasio Tobins Q.

Tobins Q merupakan salah satu rasio yang digunakan perusahaan dalam

mengukur nilai pasar perusahaan. Rasio Tobins Q merupakan salah satu

alternative yang digunakan dalam menentukan nilai perusahaan yang

dikembangkan`oleh Professor James Tobin. Rasio ini merupakan konsep

yang penting karena menunjukan estimasi pasar keuangan saat ini tentang

nilai pengembalian dari setiap rupiah investasi incremental. Penjelasan dari

nilai rasio - Q ini adalah:

1. Jika rasio-q di atas satu, ini menunjukkan bahwa investasi dalam

aset menghasilkan laba yang memberikan nilai yang lebih tinggi

daripada pengeluaran investasi, hal ini akan meransang investasi

baru karena investor menilai perusahaan tinggi dan mempunyai

kinerja baik dan dinilai mampu menghasilkan aliran kas yang lebih

baik dimasa yang akan datang.

2. Jika rasio-q dibawah satu, investasi dalam aset dinilai rendah oleh

pasar. Hal ini akan menyebabkan investor enggan untuk

melakukan investasi pada perusahaan tersebut.

13
Mokhtari, et al (2013) menyebutkan bahwa rasio Tobins Q

digunakan sebagai salah satu indikator untuk menilai kinerja perusahaan.

Apabila rasio hasil perhitungan Tobins Q > 1, artinya terdapat insentif yang

kuat untuk melakukan investasi, yang berarti peluang pertumbuhan yang

berharga bagi perusahaan. Penurunan rasio Tobins Q dari waktu ke waktu

merupakan pencerminan penurunan nilai perusahaan.

Tobins Q memasukkan semua unsur hutang dan modal saham

perusahaan, tidak hanya unsur saham biasa. Brealey dan Myers (2000)

dalam Sukamulja (2004) menyebutkan bahwa perusahaan dengan Tobins

Q yang tinggi biasanya memiliki brand image perusahaan yang sangat kuat.

Perusahaan sebagai entitas ekonomi tidak hanya menggunakan ekuitas

dalam mendanai kegiatan operasionalnya, namun juga dari sumber lain

seperti hutang, baik jangka panjang maupun jangka pendek. Oleh karena

itu, penilaian yang dibutuhkan perusahaan tidak hanya dari investor saja,

namun juga dari kreditur. Semakin besar pinjaman yang diberikan oleh

kreditur, menunjukkan bahwa semakin tinggi kepercayaan yang diberikan,

hal ini menunjukkan perusahaan memiliki nilai perusahaan yang lebih besar

2.3 Kepemilikan Institusional

Kepemilikan institutional merupakan persentase kepemilikan saham

oleh investor institutional, seperti perusahaan investasi, bank, perusahaan

asuransi maupun kepemilikan lembaga dan perusahaan lain (Tarjo, 2008)

Struktur kepemilikan (kepemilikan manajerial dan institusional) oleh

beberapa peneliti dipercaya mampu mempengaruhi jalannya perusahaan

yang pada akhirnya berpengaruh pada kinerja perusahaan dalam mencapai

14
tujuan perusahaan yaitu peningkatan nilai perusahaan. Menurut Jensen

dan Meckling (1976), kepemilikan institusional merupakan salah satu alat

yang dapat digunakan untuk mengurangi agency conflict. Dengan kata lain

semakin tinggi tingkat kepemilikan institusional, semakin kuat tingkat

pengendalian yang dilakukan oleh pihak eksternal terhadap perusahaan,

sehingga agency cost yang terjadi di dalam perusahaan semakin berkurang

dan nilai perusahaan juga semakin meningkat.

Menurut Pozen (1994) investor institusi dapat dibedakan menjadi

dua yaitu investor pasif dan investor aktif. Investor aktif ingin terlibat dan

aktif dalam pengambilan keputusan manajerial sedangkan investor pasif

tidak terlalu ingin terlibat atau pasif dalam pengambilan keputusan

manajerial. Keberadaan institusional ini mampu menjadi alat monitoring

efektif bagi perusahaan.

Dalam hubungannya dengan fungsi monitor, investor institusional

diyakini memiliki kemampuan untuk memonitor tindakan manajemen lebih

baik dibandingkan investor individual. Kepemilikan institusional mewakili

suatu sumber kekuasaan (source of power) yang dapat digunakan untuk

mendukung atau sebaliknya terhadap keberadaan manajemen.

Kepemilikan saham oleh investor iinstitusional seperti bank,

asuransi, dan insititusi lainnya memiliki kemampuan dan pengalaman yang

baik di bidang bisnis dan keuangan, sehingga akan mendorong

peningkatan efektifitas pengawasan kinerja manajemen, dimana fungsi

pengendalian akan semakin efektif. Semakin besar kepemilikan saham oleh

investor institusional, maka semakin besar kekuatan suara dan dorongan

15
institusi keuangan untuk mengawasi manajemen, sehingga dapat

mendisiplinkan kinerja manajer untuk bertindak memaksimalkan

kesejahteraan pemegang saham dan memberikan dorongan yang lebih

besar untuk mengoptimalkan nilai perusahaan (Haryono, dkk. 2015).

Investor institusional merupakan salah satu komponen dalam

mekanisme good corporate governance. Thantawee (2014) menyatakan

bahwa dengan besarnya kepemilikan saham institusional, investor

institusional akan memiliki insentif yang kuat untuk memantau perilaku

manajer dalam menjalankan perusahaan serta memberikan peran

pengawasan yang efektif, sehingga dapat meningkatkan kinerja dan nilai

perusahaan.

Penelitian Wening (2009) membuktikan bahwa semakin besar

kepemilikan oleh institusi keuangan maka semakin besar pula kekuatan

suara dan dorongan untuk mengoptimalkan nilai perusahaan. Kepemilkan

Institusional memiliki kelebihan antara lain:

1. Memiliki profesionalisme dalam menganalisis informasi sehingga

dapat menguji keandalan informasi.

2. Memiliki motivasi yang kuat untuk melaksanakan pengawasan lebih

ketat atas aktivitas yang terjadi di dalam perusahaan.

Kepemilikan oleh pihak institusional menurut Hassan (2011) dapat

mengurangi tindakan opportunistic pihak manajemen dalam menjalankan

perusahaan, hal ini disebabkan oleh pihak institusional memiliki sumber

daya yang lebih untuk mengawasi dan mendisiplinkan manajer untuk

bertindak sesuai dengan kepentingan pemegang saham minoritas, serta

16
pihak institusional juga memiliki keahlian dalam keuangan yang

memungkinkan mereka untuk mendeteksi prilaku opportunistic manajer.

Beberapa peneliti telah melakukan penelitian mengenai kepemilikan

institusional. Baik itu pengaruhnya terhadap nilai perusahaan atau pun

terhadap manajemen laba. Beberapa peneliti tersebut meyakini bahwa

dengan kepemilkan institusi yang besar mampu mempengaruhi jalannya

perusahaan yang pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja perusahaan

dengan kinerja yang baik, maka nilai perusahaan akan meningkat.

Thanatawee (2014) dalam penelitiannya membuktikan bahwa bahwa

investor institusional memberikan peran pengawasan yang efektif,

sehingga meningkatkan nilai perusahaan bagi perusahaan-perusahaan

Thailand. Hal ini berarti semakin tinggi kepemilikan institusional dalam

suatu perusahaan maka hal ini akan meningkatkan nilai perusahaan

disebabkan efektifnya pengawasan yang dilakukan oleh pihak institusi.

Menurut Alves (2012) investor institusi memiliki kesempatan, sumber

daya, dan kemampuan yang lebih besar untuk memantau tindakan

manajer. Oleh karena itu, pemantauan yang efisien menunjukkan bahwa

kepemilikan institusional adalah pemantauan yang lebih baik dari kegiatan

manajemen, mengurangi kemampuan manajer untuk melakukan tindakan

oportunistik memanipulasi laba.

Cornet et al. (2008) dalam penelitiannya membuktikan bahwa

manajemen laba secara signifikan dikurangi dengan pemegang saham

institusional apakah pemegang saham institusional diukur berdasarkan

17
proporsi saham yang dimiliki oleh semua institusi pemegang saham atau

dengan keterlibatan institusional dalam perusahaan.

Gideon (2005) menyatakan melalui mekanisme kepemilikan

institusional, efektivitas pengelolaan sumber daya perusahaan oleh

manajemen dapat diketahui dari informasi yang dihasilkan melalui reaksi

pasar atas pengumuman laba. Kepemilikan institusional memiliki

kemampuan untuk mengendalikan pihak manajemen melalui proses

monitoring secara efektif sehingga mengurangi tindakan manajemen untuk

melakukan manajemen laba. Persentase saham tertentu yang dimiliki oleh

institusi dapat mempengaruhi proses penyusunan laporan keuangan yang

tidak menutup kemungkinan terdapat akrualisasi sesuai kepentingan pihak

manajemen.

Kepemilikan institusional dapat diukur dengan menggunakan

indikator persentase jumlah saham yang dimiliki pihak institusional dari

seluruh jumlah saham perusahaan (Gideon, 2005)

2.4 Kepemilikan Manajerial

Kepemilikan manajerial adalah jumlah kepemilikan saham oleh pihak

manajemen dari seluruh modal saham perusahaan (Boediono, 2005).

Kepemilikan manajerial dapat diartikan sebagai pemegang saham dari

pihak manajemen yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan

perusahaan (Direktur dan Komisaris).

Penelitian mengenai kepemilikan manajerial telah banyak dilakukan

oleh beberapa peneliti. Kepemilikan manajerial dipercaya mampu

mempengaruhi operasi perusahaan baik itu mempengaruhi kinerja atau

18
nilai perusahaan dan tindakan manajemen untuk melakukan manajemen

laba.

Berdasarkan teori keagenan, perbedaan kepentingan antara

manajer danpemegang saham ini mengakibatkan timbulnya konflik yang

biasa disebut agency conflict. Konflik kepentingan yang sangat potensial ini

menyebabkan pentingnya suatu mekanisme yang diterapkan guna

melindungi kepentingan pemegang saham (Jensen dan Meckling, 1976).

Shleifer dan Vishny dalam Siallagan dan Machfoedz, (2006)

menyatakan bahwa kepemilikan saham yang besar dari segi nilai

ekonomisnya memiliki insentif untuk memonitor. Secara teoritis ketika

kepemilikan manajemen rendah, maka insentif terhadap kemungkinan

terjadinya perilaku oportunistik manajer akan meningkat. Menurut Jensen

dan Meckling (1976) kepemilikan manajemen terhadap saham perusahaan

dipandang dapat menyelaraskan potensi perbedaan kepentingan antara

pemegang saham luar dengan manajemen. Dengan adanya kepemilikan

manajemen dalam sebuah perusahaan akan menimbulkan dugaan yang

menarik bahwa nilai perusahaan meningkat sebagai akibat kepemilikan

manajemen yang meningkat. Kepemilikan oleh manajemen yang besar

akan efektif memonitoring aktivitas perusahaan (Permanasari, 2010)

Ruan (2011) dalam penelitian yang dilakukannya membuktikan

bahwa kepemilikan manajerial memiliki hubungan nonlinier terhadap nilai

perusahaan. penelitian tersebut membuktikan bahwa Tobin Q meningkat

ketika kepemilikan saham oleh pihak manajerial sebesar 17,5 %, kemudian

menurun ketika kepemilkan manajerial mencapai 64,3%. Setelah itu tobin

19
Q mengalami sedikit peningkatan ketika kepemilikan pihak manajerial

mencapai lebih dari 64,3%.

Alves (2012) menyatakan bahwa dalam teori keagenan, kepemilikan

saham manajerial dapat mendorong manajer untuk meningkatkan nilai

perusahaan, karena manajer menanggung proporsi efek kekayaan sebagai

pemegang saham. Akibatnya, kepemilikan saham oleh manajemen dapat

menyebabkan menyamakan kepentingan antara manajer dengan

pemegang saham. Sebagai konsekuensinya, semakin meningkatnya

kepemilikan saham oleh pihak manajerial maka insentif untuk melakukan

manajemen laba akan menurun.

Jensen dan Meckling (1976) menyatakan salah satu cara untuk

mengurangi agency cost adalah dengan meningkatkan kepemilikan saham

oleh manajemen. Proporsi kepemilikan saham yang dikontrol oleh manajer

dapat mempengaruhi kebijakan perusahaan. Kepemilikan manajerial akan

mensejajarkan kepentingan manajamen dan pemegang saham (outsider

ownership), sehingga akan memperoleh manfaat langsung dari keputusan

yang diambil serta menanggung kerugian sebagai konsekuensi dari

pengambilan keputusan yang salah. Pernyataan tersebut menyatakan

bahwa semakin besar proporsi kepemilikan manajemen pada perusahaan,

maka manajemen cenderung lebih giat untuk kepentingan pemegang

saham yang notabene adalah dirinya sendiri (Wahyudi dan Pawestri, 2006).

Kepemilikan manajerial akan mensejajarkan manajer dengan

pemegang saham sehingga manajer akan bertindak sesuai dengan

keinginan pemegang saham. Dengan adanya kepemilikan manajerial maka

20
manajer akan lebih termotivasi untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Hal

ini karena manajer merupakan salah satu pemilik perusahaan dan bukan

hanya sebagai pihak eksternal yang dipekerjakan untuk memenuhi

kepentingan pemilik perusahaan. Manajer memegang peranan penting

karena manajer melaksanakan perencanaan, pengorganisasian,

pengarahan, pengawasan serta pengambil keputusan (Sukirni, 2012)

Menurut Boediono (2005) Dari sudut pandang teori akuntansi,

manajemen laba sangat ditentukan oleh motivasi manajer perusahaan.

Motivasi yang berbeda akan menghasilkan besaran manajemen laba yang

berbeda, seperti antara manajer yang juga sekaligus sebagai pemegang

saham dan manajer yang tidak sebagai pemegang saham. Hal ini sesuai

dengan sistem pengelolaan perusahaan dalam dua kriteria: perusahaan

dipimpin oleh manajer dan pemilik (owner-manager); dan perusahaan yang

dipimpin oleh manajer dan non pemilik (non owners-manager). Dua kriteria

ini akan mempengaruhi manajemen laba, sebab kepemilikan seorang

manajer akan ikut menentukan kebijakan dan pengambilan keputusan

terhadap metode akuntansi yang diterapkan pada perusahaan yang

mereka kelola. Secara umum dapat dikatakan bahwa persentase tertentu

kepemilikan saham oleh pihak manajemen cenderung mempengaruhi

tindakan manajemen laba.

Dalam penelitian yang dilakukan Ujiyantho dan Pramuka (2007)

membuktikan bahwa kepemilikan oleh pihak manajerial mampu menjadi

mekanisme corporate governance yang dapat mengurangi

21
ketidakselarasan kepentingan anatara manajemen dengan pemilik atau

pemegang saham.

2.5 Kepemilikan Keluarga

2.4 Manajemen laba

2.4.1 Defenisi Manajemen Laba

Manajemen laba adalah suatu tindakan intervensi yang dilakukan

manajemen dengan sengaja dalam proses penentuan laba, biasanya untuk

memenuhi kebutuhan pribadi. Sering kali proses ini mencakup

mempercantik laporan keuangan terutama angka yang paling bawah, yaitu

laba (Schipper (1989) dalam Subramanyam (2010)

Scott (2000) dalam Rahmawati dkk. (2006) membagi cara

pemahaman atas manajemen laba menjadi dua.

1. Pertama, melihatnya sebagai perilaku oportunistik manajer untuk

memaksimumkan utilitasnya dalam menghadapi kontrak

kompensasi, kontrak utang, dan political costs (opportunistic

earnings management).

2. Kedua, dengan memandang manajemen laba dari perspektif

efficient contracting (efficient earnings management), dimana

manajemen laba memberi manajer suatu fleksibilitas untuk

melindungi diri mereka dan perusahaan dalam mengantisipasi

kejadian-kejadian yang tak terduga untuk keuntungan pihak-pihak

22
yang terlibat dalam kontrak. Dengan demikian, manajer dapat

mempengaruhi nilai pasar perusahaannya melalui manajemen laba,

misalnya dengan membuat perataan laba (income smoothing) dan

pertumbuhan laba sepanjang waktu.

2.4.2 Faktor-faktor Pendorong Manajemen Laba

Positive Accounting Theory menjelaskan tiga hipotesis yang

mendorong manajer perusahaan melakukan tindakan manajemen yang

dirumuskan oleh Watts dan Zimmerman (1986) dalam Halim (2005) adalah

a. The bonus plan hypothesis

Pada perusahaan yang memiliki rencana pemberian bonus,

manajemen perusahaan akan lebih memilih metode akuntansi yang

dapat menggeser laba dari masa depan ke masa kini sehingga dapat

menaikkan laba saat ini. Hal ini dikarenakan manajer lebih menyukai

pemberian upah yang lebih tinggi untuk masa kini. Dalam kontrak bonus

dikenal dua istilah yaitu bogey (tingkat laba terendah untuk

mendapatkan bonus) dan cap (tingkat laba tertinggi). Pada saat laba

berada di bawah atau bogey, tidak ada bonus yang diperoleh manajer.

Sedangkan pada laba berada di atas atau cap, manajer tidak akan

mendapat bonus tambahan. Sehingga jika laba bersih berada di atas

atau cap, maka manajer cenderung memperkecil laba dengan harapan

memperoleh bonus pada periode berikutnya, sebaliknya jika laba

berada di bawah atau bogey. Jadi hanya jika laba bersih berada di

23
antara bogey dan cap, manajer akan berusaha menaikkan laba bersih

perusahaan

b. The debt to equity hypothesis (debt covenant hypothesis)

Pada perusahaan yang mempunyai rasio debt to equity tinggi,

manajer perusahaan cenderung menggunakan metode akuntansi yang

dapat meningkatkan pendapatan atau laba. Perusahaan yang memiliki

rasio debt to equity yang tinggi akan mengalami kesulitan dalam

memperoleh dana tambahan dari pihak kreditor bahkan perusahaan

terancam melanggar perjanjian utang.

c. The political cost hypothesis (size hypothesis)

Pada perusahaan besar yang memiliki biaya tinggi, manajer

akan lebih memilih metode akuntansi yang menangguhkan laba yang

dilaporkan dari periode sekarang ke periode masa mendatang sehingga

dapat memperkecil laba yang dilaporkan. Biaya ini muncul dikarenakan

profitabilitas perusahaan yang tinggi dapat menarik perhatian media dan

konsumen.

2.4.3 Teknik Manajemen Laba

Menurut Setiawati dan Naim (2000), teknik dan pola manajemen

laba dapat dilakukan dengan tiga teknik antara lain:

a. Memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi.

Cara manajemen mempengaruhi laba melalui judgement

(perkiraan) terhadap estimasi akuntansi antara lain: estimasi tingkat

piutang tak tertagih, estimasi kurun waktu depresiasi aktiva tetap atau

amortisasi aktiva tak berwujud, estimasi biaya garansi dan lain-lain.

24
b. Mengubah metode akuntansi.

Perubahan metode akuntansi yang digunakan untuk mencatat

suatu transaksi, contohnya mengubah metode depresiasi aktiva tetap

dengan cara perhitungan dan pencatatan depresiasi aktiva tetap dari

metode depresiasi angka tahun menjadi metode depresiasi garis lurus.

c. Menggeser periode biaya atau pendapatan.

Rekayasa periode atas biaya atau pendapatan, dapat dicontohkan

dengan mempercepat atau menunda pengeluaran untuk penelitian dan

pengembangan sampai pada periode akuntansi berikutnya,

mempercepat atau menunda pengeluaran promosi sampai periode

berikutnya, mempercepat atau menunda pengiriman produk ke

pelanggan, mengatur saat penjualan aktiva tetap yang sudah tidak

terpakai.

2.4.4 Pola Manajemen Laba

Manajemen memiliki beragam strategi dalam melakukan manajemen

laba. Subramanyam (2010 : 131) membagi 3 jenis strategi manajemen laba

yang sering dilakukan oleh manajemen untuk mencapai tujuan manajemen

laba jangka panjang dengan memilih satu atau kombinasi dari 3 strtegi ini,

yaitu:

a. Meningkatkan laba

Salah satu teknik manajemen laba adalah meningkatkan laba yang

dilaporkan pada periode kini untuk membuat perusahaan dipandang

lebih baik. Cara ini juga memungkinkan peningkatan laba selama

beberapa periode.

25
b. Big bath

Strategi big bath dilakukan melalui penghapusan (write off) aktiva

sebanyak mungkin pada suatu periode. Periode ini yang dipilih

biasanya periode dengan kinerja yang buruk atau peristiwa saat terjadi

satu kejadian yang tidak biasa seperti perubahan manajemen, marger

atau restrukturisasi.

c. Perataan laba

Perataan laba merupakan bentuk umum manajemen laba. Pada

strategi ini, manejer meningkatkan atau menurunkan laba yang

dilaporkan untuk mengurangi fluktuasinya. Perataan laba juga

mencakup tidak melaporkan bagian laba pada periode baik dengan

menciptakan cadangan atau bank laba dan kemudian melaporkan laba

ini pada periode yang buruk.

2.5 Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai hubungan kepemilikan institusional,kepemilikan

manajerial dan kepemilikan keluarga terhadap manajemen laba dan nilai

perusahaan telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Berikut ini

merupakan beberapa penelitian yang berkaitan dengan judul penelitian

yang akan peneliti teliti.

Thanatawee (2014) melakukan penelitian yang berjudul kepemilikan

institusional dan nilai perusahaan di Thailand. Penelitian tersebut dilakukan

pada perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Thailand tahun 2007-2011

membuktikan bahwa kepemilikan saham oleh pihak institusional dapat

meningkatkan tatakelola perusahaan yang baik melalui pengawasan yang

26
efektif yang dilakukan oleh pihak investor institusional, sedangkan

kepemilikan institusional asing tidak aktif dalam memantau para manajer

dan bahkan bisa jadi mengambil alih sumber daya perusahaan dengan

mengorbankan pemegang saham minoritas.

Purwaningtyas dan Pengestuti (2010) meneliti pengaruh mekanisme

good corporate governance (kepemilikan institusional, kepemilikan

manajemen, dewan komisaris, komite audit dan dewan direksi) terhadap

nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI pada

tahun 2007-2009. Pada penelitian tersebut menunjukan bahwa kepemilikan

institusional, kepemilikan manajerial dan ukuran dewan direksi

berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.

Boediono, (2005) meneliti tentang pengaruh mekanisme corporate

governance dalam hal ini kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial

dan komposisi dewan komisaris independen terhadap manajemen laba dan

dampaknya pada kualitas laba. Hasil ini menunjukkan bahwa secara

individu variabel kepemilikan institusional memberikan tingkat pengaruh

terhadap manajemen laba yang cukup kuat, variabel mekanisme

kepemilikan manajerial memberikan tingkat pengaruh terhadap manajemen

laba yang lemah dan mekanisme komposisi dewan komisaris memberikan

tingkat pengaruh terhadap manajemen laba yang sangat lemah.

Nasser (2008) meneliti pengaruh struktur kepemilikan dan dewan

komisaris independen terhadap nilai perusahaan dengan manajemen laba

dan kebijakan hutang sebagai variable intervening. Pada penelitian tersebut

menunjukan bahwa kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional

27
berpengaruh positif terhadap manajemen laba, variable komisaris

independen berpengaruh negative terhadap manajemen laba. Penelitian

tersebut juga menunjukan bahwa variabel corporate governance dalam hal

ini kepemilikan manaajerial dan dewan komisaris tidak berpengaruh

signifikan terhadap nilai perusahaan dan variabel kepemilikan institusional

berpengaruh negative signifikan terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian

Nasser (2008) juga menunjukan bahwa manajeme laba merupakan

variabel intervening pada pengaruh variabel kepemilikan manajerial,

kepemilkan institusional dan komisaris independen terhadap nilai

perusahaan.

Pinayungan (2015), meneliti tentang Corprate governance dalam hal

ini (kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial), manajemen laba,

leverage dan nilai perusahaan dengan sampel perusahaan ,manufaktur

yang terdaftar di BEI tahun 2010-2013. Hasil penelitian tersebut

menemukan bahwa kepemilikan institusional dan kepemilikan manajerial

berpengaruh negative terhadap manajemen laba. Selanjutnya kepemilikan

institusional, manajemen laba dan leverage berpengaruh positif terhadap

nilai perusahaan. pada penelitian tersebut juga menunjukan bahwa

manajemen tidak memediasi hubungan antara mekanisme corporate

governance terhadap nilai perusahaan.

Zurriah (2016) meneliti analisis factor yang mempengaruhi nilai

perusahaan melalui praktek manajemen laba, studi pada perusahaan yang

terdaftar di Jakarta Islamic Index. Penelitian tersebut membuktikan bahwa

kepemilikan institusional, komisaris independen, ukuran dewan komisaris,

28
arus kas bebeas, ukuran perusahaan dan leverage secara simultan

berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Secara parsial

kepemilikan institusional, komisaris independen, ukuran dewan komisaris

dan leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan

sedangkan arus kas bebas dan ukuran perusahaan berpengaruh positif dan

signifikan terhadap nilai perusahaan. Menajemen laba rill berpengaruh

negatif dan siginifikan terhadap nilai perusahaan. Berdasarkan hasil uji

Sobel pada variabel kepemilikan institusional, komisaris independen,

ukuran dewan komisaris, arus kas bebas dan ukuran perusahaan

menunjukkan bahwa manajemen laba rill tidak terbukti sebagai variable

intervening. Sedangkan hasil uji Sobel pada varibael leverage menunjukkan

bahwa manajemen laba rill terbukti sebagai variabel intervening.

Berikut ini merupakan table ringkasan penelitian terdahulu yang

berkaitan dengan penelitian akan peneliti laksanakan:

Tabel 2.5 : Penelitian Terdahulu


Peneliti Persamaan dan
No Judul Variabel Hasil
(tahun) Perbedaan

1 Thanatawe Institutional Dependen: Persamaan :


e (2014) Owneship - Firm value - Variabel
and Firm dependen yaitu
Value in Independen: nilai
Thailand - Institusional - Berpengaruh perusahaan.
(2014) ownsership positif - Variabel
independen nya
yaitu :
kepemilikan
institusional

Perbedaan :
- Variable
independen
yang digunakan
adalah
kepemilikan
isntitusional,

29
kepemilikan
manajerial dan
kepemilikan
keluarga
- Pada penelitian
ini terdapat
variabel mediasi
yaitu
manajemen
laba
- Analisis yang
digunakan
adalah analisis
jalur

2 Purwaning Analisis Dependen: Persamaan :


tyas dan pengaruh - Nilai - Variabel
Pengestuti mekanisme Perusahaan dependen yaitu
(2010) good nilai
corporate Independen: perusahaan.
governance - kepemilikan - Berpengaruh(+) - Variabel
terhadap nilai institusional independen nya
perusahaan. - Kepemilikan - Berpengaruh(+) yaitu :
manajerial kepemilikan
- dewan - Tidak institusional,
komisaris berpengaruh kepemilikan
independen manajerial

- dewan - Berpengaruh(+)
direksi Perbedaan :
- Pada penelitian
- komite audit - Tidak ini
berpengaruh menggunakan
variabel
independen ny
adalah
kepemilikan
keluarga
- Pada penelitian
ini terdapat
variabel mediasi
yaitu
manajemen
laba
- Analisis yang
digunakan
adalah analisis
jalur

4 Ferdawati Pengaruh Dependen: Persamaan :


(2009) manajemen - Nilai - Variabel
laba real Perusahaan dependen yakni
terhadap nilai nilai
perusahaan Independen: perusahaan.
- manajemen - Berpengaruh(+)
laba real Perbedaan :
- Pada penelitian
ini

30
menggunakan
variabel
independen
kepemilikan
instiotusional,
kepemilikan
manajerial dan
kepemilikan
keluarga
- Pada penelitian
ini terdapat
variabel mediasi
yaitu
manajemen
laba
- Analisis yang
digunakan
adalah analisis
jalur

5 Pinayunga Corporate Dependen: - Kepemilikan Persamaan :


n (2015) Governance, - Nilai manajerial dan - Variabel
Manajemen Perusahaan institusional dependen yakni
Laba, berpengaruh nilai
Leverage Independen: negative perusahaan.
Dan Nilai - Kepemilikan terhadap - Variabel
Perusahaan institusional manajemen independe :
- Kepemilikan laba. kepemilikan
Manajerial institusional dan
- Komite audit - Kepemilikan keoemilikan
- Manajemen institusional, manajerial
laba manajemen
- Leverage. laba dan Perbedaan :
. leverage - Variabel
berpengaruh independennya
postif terhadap penleitia
nilai menggunakan
perusahaan. variabel
kepemilikan
- Manajemen keluarga.
laba bukan - Tahun
variabel pengamatan
intervening. yaitu tahun
2010-2013.

6 Etty M. Pengaruh Dependen: Persamaan :


Nasser Struktur - Nilai - Variabel
(2008) Kepemilikan Perusahaan dependen yakni
dan Dewan nilai
Komsiaris Independen: perusahaan.
independen - Kepemilikan - Berpengaruh (-) - Variabel
Terhadap institusional independen :
nilai - Kepemilikan - Tidak kepemilikan
perusahaan Manajerial Berpengaruh institusional dan
dengan - Dewan - Tidak kepemilikan
manajemen komisaris Berpengaruh manajerial
laba dan independen, - Varibel
kebijakan intervening :

31
hutang Intervening: manajemen
sebagai - Manajemen - Kepemilikan laba
variable laba manajerial Perbedaan :
intervening - Kebijakan ,Kepemilikan - Tidak terdapat
hutang. institusional variabel
berpengaruh kepemilikan
positif signifikan keluarga pada
terhadap variabel
manajemen independennya.
laba.
- Sample yang
- Manajemen digunakan oleh
laba dan hutang Nasser adalah
merupakan perusahaan
variabel manufactur
intervening yang terdapat
pada JSE.

- Tahun
pengamatan
2002-2004

Berdasarkan penelitian - penelitian terdahulu mengenai variabel

yang mempengaruhi nilai perusahaan membuktikan bahwa banyak

terdapat perbedaan hasil dari satu peneliti dengan peneliti lainnya dan

dengan banyaknya peneliti melakukan penelitian yang berkaitan dengan

nilai perusahaan, hal ini berarti begitu pentingnya nilai perusahaan ini bagi

para investor atau masyarakat untuk mendapatkan pengembalian atas

investasi yang dilakukan karena dengan nilai perusahaan yang tinggi dapat

memberikan kemakmuran kepada investor atau pemegang saham. Maka

dari itu pada penelitian ini peneliti ingin menguji bagaiaman sebetulnya

pengaruh dari variable struktur kepemilikan dalam hal ini kepemilikan

institusional, kepemilikan manajerial dan kepemilikan keluarga terhadap

nilai perusahaan dengan manajemen laba sebagai variabel mediasi..

2.6. Kerangka Pemikiran dan Pengembangan Hipotesis

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel dari

mekanisme corporate governance terhadap nilai perusahaan dengan

32
manajemen laba sebagai variable mediasi. Bentuk Pengaruh yang

ditimbulkan oleh masing-masing variable tersebut secara teoritis adalah

sebagai berikut:

2.6.1 Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung Kepemilikan

Institusional terhadap Nilai perusahaan

2.6.1.1 Pengaruh kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan

H1 : Kepemilikan Institusional berpengaruh terhadap Nilai

Perusahaan

2.6.1.2 Pengaruh kepemilikan institusional terhadap Manajemen laba

H2 : Kepemilikan Institusional berpengaruh terhadap

Manajemen Laba

2.6.1.3 Pengaruh kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan

dengan manajemen laba sebagai variabel mediasi

H3 : Kepemilikan Institusional berpengaruh terhadap Nilai

Perusahaan Dengan Manajemen Laba Sebagai Variabel

Mediasi

2.6.1.4 Pengaruh Manajemen Laba terhadap nilai perusahaan

H4 : Manajemen Laba berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan

33
2.6.2 Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung Kepemilikan

Manajerial terhadap Nilai perusahaan

2.6.2.1 Pengaruh kepemilikan Manajerial Terhadap Nilai Perusahaan

H5 : Kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap Nilai

Perusahaan

2.6.2.2 Pengaruh kepemilikan Manajerial Terhadap Manajemen Laba

H6 : Kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap Manajemen

Laba

2.6.2.3 Pengaruh kepemilikan Manajerial Terhadap Nilai Perusahaan

dengan Manajemen Laba sebagai Variabel Mediasi.

H7 : Kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap nilai

perusahaan dengan Manajemen Laba sebagai variabel

mediasi

2.6.3 Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung Kepemilikan

Keluarga terhadap Nilai perusahaan

2.6.3.1 Pengaruh kepemilikan Keluarga Terhadap Nilai Perusahaan

H8 : Kepemilikan keluarga berpengaruh terhadap nilai

perusahaan

34
2.6.3.2 Pengaruh kepemilikan keluarga Terhadap Manajemen Laba

H9 : Kepemilikan keluarga berpengaruh terhadap Manajemen

Laba

2.6.3.3 Pengaruh kepemilikan keluarga Terhadap Nilai Perusahaan

dengan Manajemen Laba Sebagai Variabel Mediasi

H10 : Kepemilikan keluarga berpengaruh terhadap Nilai

Perusahaan dengan Manajemen Laba sebagai variabel

mediasi.

2.7. Model Penelitian

Dari penjelasan-penjelasan yang telah diuraikan, dapat digambarkan

model penelitian pada pengaruh struktur kepemilikan dalam hal ini

kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial dan kepemilikan keluarga

terhadap nilai perusahaan dengan manajemen laba sebagai varibel mediasi

adalah sebagai berikut:

Gambar 2. 1 : Model Penelitian

35
Kepemilikan
Institusional (X1)

Kepemilikan Nilai Perusahaan


Manajemen laba
Manajerial (Z)
(Y)
(X2)

Kepemilkan
Keluarga
(X3)

Sumber : Dibangun untuk tujuan penelitian

36
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Populasi dan Sampel

Populasi yang digunakan pada penelitian ini adalah perusahaan-

perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia untuk

periode 2013-2015.

Pemilihan sampel pada penelitian ini menggunakan Metode

purposive sampling, yaitu penentuan sampel berdasarkan kriteria dan

karakteristik tertentu (Sugiyono, 2010). Adapun kriteria yang digunakan

untuk memilih sampel dalam penelitian ini adalah:

a. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada

tahun 2013-2015.

b. Menerbitkan laporan keuangan untuk periode yang berakhir 31

Desember tahun 2013-2015.

c. Memiliki laporan keuangan tahunan dan data yang berkaitan dengan

variabel penelitian yang lengkap.

3.2. Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder

berupa data laporan keuangan dan laporan tahunan 2013-2015. Data

sekunder adalah sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara

tidak langsung melalui media perantara.

Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini berupa laporan

keuangan tahunan / Annual report perusahaan manufaktur yang terdaftar

29
di BEI pada tahun 2013-2015 yang diperoleh dari Indonesia Capital Market

Directory (ICMD) dan IDX Statistik tahun 2013-2015 yang diakses melalui

situs (www.idx.co.id)

3.3. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan langkah yang amat penting, karena

data yang dikumpulkan akan digunakan untuk pemecahan masalah yang

sedang diteliti atau untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan. Dalam

mendapatkan data sekunder yang di perlukan untuk penelitian ini, penulis

memperolehnya dengan metode observasi data di Bursa Efek Indonesia

(www.idx.co.id).

3.4. Defenisi Operasional variabel dan Pengukuran Variabel

Dalam penelitian ini terdapat 3 jenis variabel yang digunakan, yaitu

variabel dependen, variabel independen, dan variabel mediasi. Variabel

dependen adalah tipe variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi oleh

variabel independen. Variabel independen adalah tipe variabel yang

menjelaskan atau mempengaruhi variabel yang lain. Variabel intervening

merupakan variabel antara atau mediasi yang berfungsi memediasi

hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen (Ghozali,

2005).

Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah

struktur kepemilikan dalam hal ini (kepemilikan institusional, kepemilikan

manjerial dan kepemilikan keluarga), variabel dependennya adalah nilai

perusahaan dan variabel intervening adalah manajemen laba.

30
3.4.1Variabel Dependen

Variabel dependen atau variabel terikat merupakan variabel yang

dipengaruhi atau menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono,

2008:59). Variabel dependen pada penelitian ini adalah nilai perusahaan.

Sujoko dan Soebiantoro (2007) mendifinisikan nilai perusahaan merupakan

persepsi investor mengenai tingkat kemakmuran pemegang saham yang

berkaitan dengan harga pasar saham perusahaan. Nilai perusahaan pada

penelitian ini diukur menggunakan rasio Tobins Q. yang di kembangkan

oleh Profesor James Tobin yang dihitung menggunakan rumus seperti pada

penelitian Nasser (2008):

(+)
= (+)

Keterangan :

Q = Nilai Perusahaan

MVE = Nilai pasar Ekuitas (Equity Market Value),


Merupakan dari hasil perkalian harga saham
penutupan (closing price) akhir tahun dengan jumlah
saham yang beredar pada akhir tahun.

D = Nilai buku dari total utang perusahaan

EBV = Nilai buku dari total Ekuitas

3.4.2 Variabel Independen

Sugiyono,(2008) menjelaskan variabel independen atau variabel

bebas merupakan variabel yang mempengaruhi ataau menjadi sebab

perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Variabel

independen dalam penelitian ini adalah struktur kepemilikan yang

31
diantaranya yaitu: kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, dan

kepemilikan keluarga.

3.4.2.1Kepemilikan Institusional

Kepemilikan institusional adalah saham perusahaan yang dimiliki

oleh institusi atau lembaga (perusahaan asuransi, bank, perusahaan

investasi dan kepemilikan institusi lain). Kepemilikan institusional dipercaya

oleh beberapa peneliti dapat mempengaruhi jalannya perusahaan yang

pada akhirnya akan berpengaruh pada kinerja perusahaan dalam mencapai

tujuan perusahaan yaitu maksimalisasi nilai perusahaan (Praditia, 2010).

Kepemilikan institusional dapat dihitung dengan cara sebagai berikut

(Susanti, 2014) :

Jumlah saham pihak institusi dan Perusahaan lain


= x 100%
Jumlah saham perusahaan yang beredar

3.4.2.2Kepemilikan Manajerial

Kepemilikan manajerial adalah jumlah kepemilikan saham oleh pihak

manajemen dari seluruh modal saham perusahaan yang dikelola

(Boediono, 2005). Kepemilikan manajerial dalam penelitian ini diukur

dengan persentase jumlah saham yang dimiliki pihak manajemen dari

seluruh modal saham perusahaan yang beredar.


= %

3.4.2.3Kepemilikan Keluarga

32
s

3.4.3 Variabel Mediasi

3.4.3.1 Manajemen laba

Variabel mediasi yang digunakan pada penelitian ini, yaitu

Manajemen Laba. Manajemen laba adalah suatu tindakan intervensi yang

dilakukan manajemen dengan sengaja dalam proses penentuan laba,

biasanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi (Schipper,1989) dalam

Subramanyam (2010)

Manajemen laba pada penelitian ini diukur menggunakan

discretionary accruals (DA), dihitung dengan Modified Jones Model . Alasan

penggunaan Model Modified Jones karena model ini dianggap lebih baik

diantara model yang lain untuk mengukur manajemen laba dibandingkan

dengan model yang lain, serta memberikan hasil yang paling akurat

(Dechow et all,1995 dalam Kawatu, 2009). Beberapa peneliti berpendapat

bahwa discretionary accrual saat ini merupakan model paling kuat diantara

model-model yang ada untuk mengukur manajemen laba (Alves, 2012).

rumus menghitung discretionary accrual adalah sebagai berikut:

1. Menghitung Total Accrual

Total akrual yang diterapkan dalam penelitian ini mengunakan

data arus kas dari aktivitas operasi yang langsung diambil dari

laporan arus kas. Dengan pendekatan laporan arus kas maka total

akrual dihitung sebagai berikut:

= ...................................................... (1)

Dimana:

33
TAccit = Total Accrual perusahaan i pada periode t

EBXTit = Laba perusahaan i sebelum pos-pos luar operasi

yang dihentikan untuk periode t

OCFit = Operating Cash Flow perusahaan i untuk periode

tetap

2. Menghitung Nondiscretionary Accrual

Untuk melihat manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan,

nilai total akrual selanjutnya dibedakan menjadi akrual non

diskresi dan akrual diskresi. Dan selisih antara total akrual dengan

nondiscretionary accrual akan menggambarkan discretionary

accrual atau akrual yang sengaja diterapkan manajemen untuk

tujuan tertentu.

Untuk menghitung nondiscretionary accrual sebagai berikut:

( )
= + + + ... (2)
, , ,

Dimana :

NDAccit = Nondiscretionary Accrual perusahaani pada periode

(1-3) = Koefisien regresi

TAi,t-1 = Total aset untuk perusahaan i pada akhir tahun t-1

REVit = Perubahan dalam pendapatan untuk perusahaan i

pada akhir tahun t, dibagi total aset perusahaan i

pada akhir tahun t-1

34
RECit = Perubahan dalam piutang bersih untuk perusahaan

i pada tahun t, dibagi total aset untuk perusahaan i

pada akhir tahun t-1

PPEit = Aktiva tetap perusahaan i pada tahun t dibagi total

asset perusahaan i pada akhir tahun t-1

it = Error perusahaan i pada tahun t

3. Menghitung Discretionary Accrual

Discretionary accrual diestimasi dengan cara sebagai berikut:

( )
= ................................................... (3)
,

3.5. Teknik Analisis Data

3.5.1. Statistik Deskriptif

Dalam penelitian ini statistik deskriptif digunakan sebagai teknik

analisis dengan tujuan untuk menjelaskan atau memberikan informasi

deskripsi mengenai variabel kepemilikan institusional, kepemilikan

manajerial, dewan komisaris independen dan komite audit (jumlah komite

audit, jumlah rapat dalam satu tahun dan jumlah anggota komite audit yang

memiliki keahlian di bidang akuntansi ) yang terdapat pada penelitian.

Statistik deskriptif ini digunakan untuk memberikan informasi

mengenai variabel - variabel penelitian. Statistik deskriptif memberikan

gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari rata rata (mean),

standar deviasi, varian, maksimum dan minimum, sum, range, kurtosis dan

skewness (Gozali, 2011).

35
3.5.2. Analisis

3.3.1 Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi,

variabel dependen dan independen keduanya mempunyai distribusi normal

atau tidak (Ghozali, 2011). Model regresi yang baik adalah memiliki

distribusi data normal atau mendekati normal.

3.5.2 Metode Anlisis Data

Untuk melakukan analisis data, pengolahan data dilakukan

menggunakan analisis jalur (path analysis). Path analysis merupakan pola

hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk mengethaui pengaruh

langsung dan tidak langsung seperangkat variabel bebas (eksogen)

terhadap variabel terikat (endogen) (Riduwan & Kuncoro 2014).Langkah-

langkah menguju path analysis sebagai berikut :

1. Merumuskan hiipotesis dan persamaan struktural

a. Merumuskan Hipotesis

1. Kepemilikan institusional, kepemilikan Manajerial dan

Kepemilikan keluarga berpengaruh terhadap manajemen laba.

2. Kepemilikan institusional, kepemilikan Manajerial, Kepemilikan

keluarga berpengaruh terhadap nilai perusahaan melalui

manajemen laba.

b. Merumuskan persamaan struktural.

Sesuai dengan kerangka pemikiran maka dapat membuat dua

persamaan struktural yaitu persamaan regresi yang menunjukan

36
hubungan yang dihipotesiskan. Dua persamaan tersebut sebagai

berikut:

Y = yx1 X1 + yx2 X2 + yx3 X3 + y 1

Z = zx1 X1 + zx2 X2 + zx3 X3 + zy Y + z 2

Dimana:

X1 = Kepemilikan institusional

X2 = Kepemilikan Manajerial

X3 = Kepemilikan keluarga

Y = Manajemen laba

Z = Nilai perusahaan

= Koefisien korelasi

Pada kedua persamaan tersebut terdapat unexplained variance

yang dimiliki oleh 1 dan 2. Simbol 1 dan 2 digunakan untuk

mewakili variabel lain yang berpengaruh terhadap Y1 dan Y2 tetapi

variabel tersebut tidak dilibatkan dalam model penelitian. Dalam

mengidentifi kepemilikan Manajeriali besarnya nilai didapatkan dari

(1-adjusted R).

2. Menghitung koefisien jalur yang didasarkan pada koefisien regresi.

37
a. Menggambar diagram jalur lengkap, menentukan sub-sub

strukturnya dan merumuskan persamaan strukturalnya yang sesuai

hipotesis yang diajukan.

Diagram Jalur

Kepemilikan
Institusional (X1)

Kepemilikan Nilai Perusahaan


Manajemen laba
Manajerial (Z)
(Y)
(X2)

Kepemilkan
Keluarga
(X3)

Sub-Struktur 1

Y = yx1 X1 + yx2 X2 + yx3 X3 + y 1


Kepemilikan
Institusional (X1)
yx1

Kepemilikan
Manajerial Manajemen laba (Y)
(X2) yx2

Kepemilkan Keluarga
yx3
(X3)

Hubungan Sub-Struktur X1, X2 dan X3 terhadap Y

38
Sub-Struktur 2

zx1

zx2

(Y) zy
(Z)

zx3

Hubungan Sub-Struktur X1, X2, X3 dan Y terhadap Z

b. Menghitung koefisien regresi untuk struktur yang telah dirumuskan.

Perhitungan menggunakan persamaan regresi berganda : Y = a

=bx +bx + bx +

Pada dasarnya koefisien jalur (path) adalah koefisien regresi yang

distandarkan yaitu koefisien regresi yang dihitung dari basis data yang

telah diset dalam angka baku atau Zscore (data yang diset dengan nilai

rata-rata = 0 dan standar deviasi = 1). Koefisien jalur yang distandarkan

(standardized path coefficient) ini digunakan untuk menjelaskan

besarnya pengaruh (bukan memprediksi) variabel bebas (eksogen)

39
terhadap variabel lain yang diberlakukan sebagai variabel terikat

(endogen).

3. Menghitung koefisien jalur secara simultan

Uji secara keseluruhan hipotesis statistik dirumuska sebagai berikut :

Ha: yx = yx =yx =......... = yxk O

Ho: yx = yx = yx = ......... = yxk = O

a. Pengujian signifikansi manual menggunakan Tabel F

F = ( n k 1) R2 yx k

k ( 1 R2 yx k )

Keterangan :

n : Jumlah Sampel

k : Jumlah Variabel Eksogen

R2yx k : R Square

Jika F hitung F tabel, maka Ho ditolak dan artinya signifikan

Jika F hitung F tabel, maka Ho diterima dan artinya tida signifikan

Dengan tarif signifikan () = 0,05

b. Pengujian signifikansi menggunakan program SPSS

40
Untuk mengetahui signifikasi analisis jalur bandingkan antara

nilai probabilitas 0,05 dengan nilai probabilitas Sig dengan dasar

pengambilan keputusan sebagai berikut:

1. Jika nilai probabilitas 0,05 lebih kecil atau sama dengan nilai

probabilitas Sig atau [0,05 Sig], maka Ho diterima dan H ditolak,

artinya tidak signifikan.

2. Jika nilai probabilitas 0,05 lebih besar atau sama dengan nilai

probabilitas Sig atau [0,05 Sig], maka Ho ditolak dan H

diterima, artinya signifikan.

4. Menghitung koefisien jalur secara individu

Hipotesis penelititan yang akan diuji dirumuskan menjadi hipotesis

statistik berikut :

Ha : yx> O

Ho : yx = O

Secara individual uji statistik yang digunakan adalah uji t yang dihitung

dengan rumus :

tk =k ; ( dk = n k 1 )

se k

Statistik se x diperoleh dari hasil komputasi pada spss untuk analisis

regresi setelah data ordinal ditransformasi ke interval.

Selanjutnya, utnutk mengetahui analisis jalur bandingkan antara nilai

probabilitas 0,05 dengan nilai probabilitas Sig dengan dasar

pengambilan keputusan sebagai berikut:

41
1. Jika nilai probabilitas 0,05 lebih kecil atau sama dengan nilai

probabilitas Sig atau [0,05 Sig], maka Ho diterima dan H ditolak,

artinya tidak signifikan.

2. Jika nilai probabilitas 0,05 lebih besar atau sama dengan nilai

probabilitas Sig atau [0,05 Sig], maka Ho ditolak dan H diterima,

artinya signifikan.

5. Meringakas dan menyimpulkan.

3.5.2 Model Penelitian

Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah Model

Dekomposisi. Model dekomposisi merupakan suatu model yang

menekankan pada pengaruh yang bersifat kausalitas antar variabel, baik

pengaruh langsung maupun tidak langsung dalam kerangka path analysis,

sementara hubungan yang bersifat nonkausalitas atau hubungan korelasi

yang terjadi antarvariabel eksogen tidak termasuk dalam perhitungan ini

(Riduwan & Kuncoro, 2014).

Perhitungan analisis jalur mengguanakn model dekomposisi

pengaruh kausal antarvariabel dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :

1) Direct Causal Effects (Pengaruh Kausal Langsung = PKL) adalah

pengaruh satu variabel eksogen terhadap variabel endogen yang

terjadi tanpa melalui variabel endogen lain.

2) Indirect Causal Effects (Pengaruh Kausal Tidak Langsung = PTKL)

adalah pengaruh satu variabel eksogen terhadap variabel endogen

42
yang terjadi melalui variabel endogen lain yang terdapat dalam satu

model kausalitas yang sedang dianalisis.

3.5.3 Uji Hipotesis

Untuk menjawab hipotesis yang telah dibuat dapat digunakan metode

analisis sebagai berikut :

1. Uji Koefisien Determinasi ( R2 )

Koefisien Determinasi (R2 ) berguna untuk mengukur seberapa besar

peranan variabel independen secara simultan mempengaruhi perubahan

yang terjadi pada variabel dependen.

2. Uji koefisien jalur secara menyeluruh.

Uji koefisien jalur secara menyeluruh menggunakan uji F. Uji F

digunakan untuk melihat pengaruh variabel-variabel independen secara

keseluruhan terhadap variabel dependen. Rumusan hipotesis dalam

pengujian ini adalah:

Ho1 : yx1 = yx2 = yx3= 0 Kepemilikan institusional, kepemilikan

Manajerial dan Kepemilikan keluarga secara simultan tidak

berpengaruh terhadap manajemen laba.

Ho2 : zy = zx1 = zx2 = zx3= 0 Kepemilikan institusional, kepemilikan

Manajerial, Kepemilikan keluarga dan manajemen laba secara

simultan tidak berpengaruh terhadap Islamic Social Reporting.

Ha1 : yx1 = yx2 = yx3 0 Kepemilikan institusional, kepemilikan

Manajerial dan Kepemilikan keluarga secara simultan berpengaruh

terhadap manajemen laba.

43
Ha2 : zy = zx1 = zx2 = zx3 0 Kepemilikan institusional, kepemilikan

Manajerial, Kepemilikan keluarga dan manajemen laba secara

simultan berpengaruh signifikan terhadap Islamic Social Reporting.

Uji signifikansi analisis jalur dicari yaitu membandingkan antara nilai

probabilitas 0,05 dengan nilai probabilitas Sig. Dasar pengambilan

keputusan sebagai berikut:

a. Jika nilai probabilitas 0,05 lebih kecil atau sama dengan nilai

probabilitas Sig atau [ 0,05 Sig ], maka Ho diterima dan Ha ditolak,

artinya tidak signifikan.

b. Jika nilai probabilitas 0,05 lebih besar atau sama dengan nilai

probabilitas Sig atau [ 0,05 Sig ], maka Ho ditolak dan Ha diterima,

artinya signifikan.

3. Uji koefisien jalur secara individu.

Uji koefisien jalur secara individu menggunakan uji t. Uji t dipakai untuk

mengetahui signifikansi pengaruh variabel independen secara individu

terhadap variabel dependen. Rumusan hipotesis dalam pengujian ini

adalah sebagai berikut:

a. Kepemilikan institusional mempunyai pengaruh terhadap manajemen

laba.

Ho : yx1 = 0 Kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap

manajemen laba.

Ha : yx1>0 Kepemilikan institusional berpengaruh terhadap

manajemen laba.

44
b. Kepemilikan Manajerial mempunyai pengaruh terhadap manajemen

laba.

Ho : yx2=0 Kepemilikan Manajerial tidak berpengaruh terhadap

manajemen laba.

Ha : yx2 >0 Kepemilikan Manajerial berpengaruh terhadap

manajemen laba.

c. Kepemilikan keluarga mempunyai pengaruh terhadap manajemen laba.

Ho : yx3 = 0 Kepemilikan keluarga tidak berpengaruh terhadap

manajemen laba.

Ha : yx3 >0 Kepemilikan keluarga berpengaruh terhadap manajemen

laba.

d. Kepemilikan institusional mempunyai pengaruh terhadap nilai

perusahaan.

ho : zx1 = 0 kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap nilai

perusahaan.

ha : zx1 > 0 kepemilikan institusional berpengaruh terhadap nilai

perusahaan

e. Kepemilikan manajerial mempunyai pengaruh terhadap nilai

perusahaan.

ho : zx2 = 0 kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap nilai

perusahaan.

ha : zx2>0 kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap nilai

perusahaan.

f. Kepemilikan keluarga mempunyai pengaruh terhadap nilai perusahaan

45
ho : zx3 = 0 kepemilikan keluarga tidak berpengaruh terhadap nilai

perusahaan.

ha : zx3>0 kepemilikan keluarga berpengaruh terhadap nilai

perusahaan.

g. Manajemen laba mempunyai pengaruh terhadap nilai perusahaan.

ho : zy = 0 manajemen laba tidak berpengaruh terhadap nilai

perusahaan.

ha : zy >0 manajemen laba berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

h. Kepemilikan institusional mempunyai pengaruh terhadap nilai

perusahaan melalui manajemen laba.

Ho : pzy.pyx1 = 0 kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap

nilai perusahaan melalui manajemen laba.

Ha : pzy.pyx1 > 0 kepemilikan institusional berpengaruh terhadap nilai

perusahaan melalui manajemen laba.

i. Kepemilikan manajerial mempunyai pengaruh terhadap nilai

perusahaan melalui manajemen laba.

Ho : pzy.p.yx2 = 0 kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap

nilai perusahaan melalui manajemen laba.

Ha : pzy.pyx2 > 0 kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap nilai

perusahaan melalui manajemen laba.

j. Kepemilikan keluarga mempunyai pengaruh terhadap nilai perusahaan

melalui manajemen laba.

Ho : pzy.pyx3 = 0 kepemilikan keluarga tidak berpengaruh terhadap

nilai perusahaan melalui manajemen laba.

46
Ha : pzy.pyx3 > 0 kepemilikan keluarga berpengaruh terhadap nilai

perusahaan melalui manajemen laba.

Uji signifikansi analisis jalur dicari yaitu membandingkan antara nilai

probabilitas 0,05 dengan nilai probabilitas sig. Dasar pengambilan

keputusan sebagai berikut:

a. Jika nilai probabilitas 0,05 lebih kecil atau sama dengan nilai

probabilitas sig atau [ 0,05 sig ], maka ho diterima dan ha ditolak,

artinya tidak signifikan.

b. Jika nilai probabilitas 0,05 lebih besar atau sama dengan nilai

probabilitas sig atau [ 0,05 sig ], maka ho ditolak dan ha diterima,

artinya signifikan.

47
DAFTAR PUSTAKA

Alfinur . 2016. Pengaruh Mekanisme Good Corporate Governance


Terhadap Nilai Perushaan pada Perusahaan Yang Listing di BEI.
Jurnal Ekonomi Modernisasi. Vol. 12, No.1, pp : 44 50

Ali Yahya, Al-Matari., Kaid Abdullah Al-Swidi., Hanim Faudziah Bt Fadzil.,


Mohammed Ebrahim Al-Matari., 2012, Board of Directors, Audit
Committee Characteristics and Performance of Saudi Arabia Listed
Companies, International Review of Management and Marketing,
Vol. 2, No.4, 2012 pp. 241-251. ISSN:2146-4405.
www.ecojournals.com

Anthony, Robert N dan Govindarajan, Vijay. 2005. Management Control


System. Buku 2. Jakarta: Salemba Empat.

Barde, Ibrahim Magaji & Hamidu, Ibrahim. 2015. Corporate Governance


and Market Value of Firm in the Nigerian Chamical and Paints
Industry. Proceedings of 11th International Business and Social
Science Research Conference 8 - 9 January, 2015, Crowne Plaza
Hotel, Dubai, UAE, ISBN: 978-1-922069-70-2: 1-10.

Ferdawati. 2009. Pengaruh Manajemen Laba Riil Terhadap Nilai


Perusahaan. Jurnal Akuntansi dan Manajemen, Vol. 4, No. 1 Juni
2009, hal. 59-74.

Gideon SB, Boediono. (2005). Kualitas Laba: Studi Pengaruh Mekanisme


Corporate Governace dan Dampak Manajemen Laba dengan
Menggunakan Analisis Jalur. Simposium Nasional Akuntansi VIII

Ghozali, Imam. 2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS,


Edisi 3. Badan Penerbit UNDIP.

Haryono, Selly Anggreini, dkk 2015. Analisis pengaruh struktur modal dan
struktur kepemilikan terhadap nilai perusahaan. Simposium
Nasional Akuntansi XVII. Medan

Herawati, Vinola (2008).Peran Praktek Corporate Governance sebagai


Moderating Variable dari Pengaruh Earnings Management
terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol.
10 No. 2 Nopember 2008: 97-108.

Herawaty, Netty, dkk (2016) Pengaruh Struktur Kepemilikan dan Struktur


Pengelolaan Terhadap Kinerja Keuangan Serta Implikasinya

i
Terhadap Nilai Perusahaan pada Perusahaan LQ 45 di Bursa Efek
Indonesia Tahun 2012-2014

Julianti, Defi Kurnia. 2015. Pengaruh Mekanisme Good Corporate


Governance Terhadap Nilai Perushaan Dengan Profitabilitas
Sebagai Variabel Intervening. Pada perusahaan manufaktur yang
terdaftar di BEI tahun 2010-2013. Skripsi. Fakultas Ekonomi,
Universitas Negeri Semarang.

Latan, Hengky. Imam Ghozali, 2012. Partial Least Squares Konsep, Metode
Dan Aplikasi Menggunakan Program Warppls 2.0. Badan Penerbit
UNDIP

Linda, Lilis Maryasih dan Nuraini. 2011. Komite Audit Dan Kinerja
Perusahaan: Agency Theory atau Stewardship Theory. Simposium
Nasional Akuntansi XIV.

Man, Chi-Keung. Brossa Wong, 2013. Corporate Governance And


Earnings Mangement A Survey and Literature The Journal of
Applied Business Research March/April 2013, Volume 29,
Number 2.

Mokhtari, Zobeideh., Makerani Khosro Faghani., 2013. Relationship of


Institutional Ownership with Firm Value and Earnings Quality:
Evidence from Tehran Stock Exchange., International Journal of
Economy, Management and Social Sciences, 2 (7) July 2013,
Pages 495-502.

Nasution, Marihot dan Doddy Setiawan. 2007. Pengaruh Corporate


governance Terhadap Manajemen Laba di Industri Perbankan
Indonesia, Simposium Nasional Akuntansi X.

Nasser, Etti M. 2008. Pengaruh Struktur Kepemilikan dan Dewan


Komisaris Independen Terhadap Nilai Perusahaan Dengan
Manajemen Laba Sebagai Variabel Intervening. Media Riset
Akuntansi, Audititng dan Informasi, Vol. 8 No.1, April 2008 : 1-27.

Nuryaman. 2008. Pengaruh Keluarga Kepemilikan, Ukuran Perusahaan,


dan Mekanisme Corporate governance Terhadap Manajemen
Laba. Simposium Nasional Akuntansi XI. Pontianak.

Priambodo, R. E. A dan E. Suprayitno, 2007, Penerapan Good Corporate


Governance Sebagai Landasan Kinerja Perbankan Nasional,
Usahawan,No.05,Th.XXXVI.

ii
Rapilu, Wilsna. 2011. Pengaruh Mekanisme Corporate Governance
Terhadap Kualitas Laba Dan Nilai Perusahaan Pada Perusahaan
Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Jurnal
Akuntansi, manajemen Bisnis dan Sektor Publik. ISSN 1829-9857.

Sari ,Enggar Fibria Verdana dan Akhmad Riduwan. 2013 Pengaruh


Corporate Governance Terhadap Nilai Perusahaan: Kualitas Laba
Sebagai Variable Intervening, Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi Vol
1 nomor 1.Sartono, Agus. 2004. Manajemen Keuangan, Teori dan
Aplikasi. Edisi Keempat. Yogyakarta : BPFE.

Sholihin, Mahfud & Ratmono, Dwi. 2013. Analisis SEM-PLS dengan


WarpPLS 3.0. Yogyakarta: Andi.

Siahaan, Melina Risomas. 2013.Pengaruh Kepemilikan Manajerial Dan


Institusional Serta Kebijakan Utang Terhadap Kebijakan Dividend
An Nilai Perusahaan Pada Perusahaan Manufaktur Penanaman
Modal Asing di BEI. Thesis. Sekolah Pascasarjana Universitas
Sumatra Utara Medan.

Siallagan, Hamonangan dan Masud Machfoedz. 2006. Mekanisme


Corporate Governance, Kualitas Laba dan Nilai Perusahaan.
Simposium Nasional Akuntansi IX, 23-26 Agustus 2006, Padang.

Siswantaya, I Gede, 2007. Mekanisme Corporate Governance dan


Manajemen laba Studi pada perusahaan perusahaan yang
terdaftar di Bursa Efek Jakarta Thesis Magister Sains Akuntansi
Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro Semarang.

Subramanyam,dkk. 2010. Analisi laporan keuangan. Edisi 10 jakarta :


selemba empat.

Sugiyono, 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Alfabeta,


Bandung.

Sujoko dan Soebiantoro, U., 2007. Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham,


Leverage, Faktor Intern dan Faktor Ekstern terhadap Nilai
Perusahaan, Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, Vol 9, 47.

Sukirni, Dwi. 2012. Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional,


Kebijakan Dividen dan Kebijakan Hutang Analisis terhadap Nilai
Perusahaan. Accounting Analysis Journal. Jurnal Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang 1 (2): 1-12, ISSN
2252-6765.

iii
Surya, Indra dan Yustiavandana Ivan. 2006. Penerapan Good Corporate
Governance : mengesampingkan hak istimewa demi kelangsungan
usaha. Edisi pertama - jakarta : kencana

Susanti, Niken Angraheni, Rahmawati, dan Anni Aryani. 2010. Analisis


Pengaruh Mekanisme Corporate Governance Terhadap Nilai
Perusahaan dengan Kualitas Laba sebagai Variabel Intervening
pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia Periode 2004-2007. Simposium Nasional Keuangan I,
2010.

Susanti, Serli Ike Ari. 2011. Pengaruh Kualitas Corporate Governance,


Kualitas Audit, dan Earnings Management Terhadap Kinerja
Perusahaan. Jurnal ekonomi dan bisnis, 5(2): h: 145-161.

Ujiyantho, Moh. Arief dan Bambang Agus P. 2007. Mekanisme Corporate


governance, Manajemen Laba dan Kinerja Keuangan ,Simposium
Nasional Akuntansi X

Tarjo. 2008. Pengaruh Keluarga Kepemilikan Institusional dan Leverage


terhadap Manajemen Laba, Nilai Pemegang Saham serta Cost of
Equity Capital. Simposium Nasional Akuntansi XI, Pontianak

Thanatawee, Yordying. 2014. Institutional Ownership and Firm Value in


Thailand. Asian Journal of Business and Accounting 7(2), 2014.
ISSN 1985-4064

Zurriah. 2016. Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Perusahaan


Melalui Praktek Manajemen Laba studi pada perusahaan yang
terdaftar di Jakarta Islam Index. Thesis. Magister Akuntansi
Fakultas dan Bisnis Universitas Sumatra Utara. (Diakses Tanggal
19 Nopember 2016).

iv