Anda di halaman 1dari 6

NAMA : MUFLIKHAH (6662150038)

KELAS : 5D HUMAS

MATA KULIAH : MANAJEMEN KRISIS

KASUS TELUK BUYAT (2004) Kasus pencemaran di Teluk Buyat, Minahasa Selatan,Sulawesi
Utara, merupakan ''wadah'' pembuangan limbahperusahaan tambang PT. Newmont Minahasa Raya
(NMR) ari kajian Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi),setiap hari PT NMR membuang
sekitar 2.000 metrikton limbah tambang ke perairan Teluk Buyatsejak tahun 1996.

DAMPAK PENCEMARAN PT. NMRLimbah mencemari biota laut dan lingkungan di sekitar Teluk
Buyat. Bahkan, empat dari enam sumur milikwarga Buyat mengandung arsen sebesar 0,07
mikrogram.Kandungan ini dinilai lebih dari standar baku mutuair minum sesuai ketetapan
Departemen Kesehatan,yaitu 0,01 mikrogram.WALHI MENGUGAT PT. NMRDengan tuduhan telah
melakukan perbuatan melawanhukum atas pasal 41 (1) junto pasal 45,46,47Undang-undang No. 23
Tahun 1997 tentangPencemaran Lingkungan, dan Peraturan PemerintahNo 27 Tahun 1999 tentang
Analisis MengenaiDampak Lingkungan Hidup

Prosedur dan lokasi Sistem Pembuangan Tailing Dasar Laut (SPDTL)yang berada di lapisan awal
zona termoklin yaitu pada kedalaman 82(delapan puluh dua) meter. Padahal sesuai analisa dampak
lingkungan,lokasi pembuangan limbah harus sedalam 150 meter di bawah termoklin.2.Pembuangan
tailing yang salah, menyebabkan kerusakanekosistem laut berupa:(a) kekeruhan yaitu pada zona
euphotic, di mana pada zona tersebutterdapat lingkungan fitoplankton (produsen) yang butuh sinar
mataharisebagai proses fotosintesis;(b) Penurunan jumlah dan kualitas keberadaan terumbu karang
diTeluk Buyat;(c) Bioakumulasi (penumpukan terus menerus di dalam tubuh mahklukhidup) dari
sedimen pada biota laut di daerah euphotic;(d) Penurunan kandungan bentos dan plankton
(fitoplankton danzooplankton) akibat tingginya kadar Arsen (As) pada sedimen diTeluk Buyat; dan(e)
Kematian ikan dalam jumlah lebih dari 100 (seratus) ekor di sekitar pipa pembuangan tailing di Teluk
Buyat maupun terdampar di pantai

3.Kesehatan masyarakat Buyat yang menurun dan berbagai macampenyakit menyerang tubuh mereka,
akibat konsumsi air minum danikan yang mengandung logam berat (As dan Mn).4.Tidak adanya surat
ijin dari Kementerian Lingkungan HIdupdalam pembuangan limbah ke laut maupun pengolahan
limbah (B3)

Dalam proses persidangan, tepatnya pada tanggal 12 Juni 2007,PT. NMR justru menggugat balik
Walhi senilai US$ 100.000(sekitar Rp 9 Miliar, dengan asumsi 1 US$ = Rp 9.000).Menanggapi
gugatan balik PT NMR, Walhi menyatakan bahwagugatan legal standing-nya merupakan ikhtiar
konkretpenegakan hukum demi melindungi warga dari kerusakan lingkungan

Pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya atau dimasukkannyamakhluk hidup, zat,energi dan
atau komponen lain ke dalam lingkunganhidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun
sampai tingkattertentu yang menyebabkan lingkungan tidak dapat berfungsisesuai
peruntukkannya(Undang-Undang Pengelolaan Lingkungan Hidup Ps 1 angka 12)
Krisis adalah situasi yang merupakan titik balik (turning point) yang dapatmembuat sesuatu tambah
baik atau tambah buruk.Jika dipandang dalam persfektif sosil, krisis lingkungan akan
menimbulkanhal-hal seperti berikut :1. Intensitas permasalahan akan bertambah.2. Masalah akan
dibawah sorotan publik baik melalui media masa,atau informasi dari mulut ke mulut.3. Korban adalah
masyarakat yang di sekitar lingkungan4. Masalah dapat merusak sistim kerja dan menggoncangkan
perusahaansecara keseluruhan.5. Masalah akan membuat pemerintah ikut melakukan intervensi

Adanya penelitian LBH Kesehatan pimpinan Iskandar Sitorus,gustus 2004 kepada 10 warga Teluk
Buyat. Ditemukan dua unsur ogam berat yaitu Arsen dan Merkuri. Berdasarkan data-data sbb:Meneg
Lingkungan Hidup Nabil Lakarim (31-07-2004),mengatakan kepada publik, Teluk Buyat tercemar
limbah logam beratberbahaya (B3).Banyak penduduk menderita gatal-gatal, akibat konsumsi ikan
laut.Tercemarnya air sungai akibat bahan-bahan kimia dan keluar daricerobong pabrik, dipakai
mengairi sawah. Sekitar 3000 lebih wargaBuyat Kampung yang tinggal 1 km ke darat dari Buyat
Pante, didugamenderita penyakit yang sama. Sampai saat ini lebih dari 100 orangtelah
terdeteksi.Empat orang dewasa meninggal dengan ciri-ciri sekarat yang sama,aitu dada kepanasan dan
sulit bernafas.Empat bayi meninggal (4-5 April 2005, meninggal dengan sekujurnyamengelupas.
Kasus ini dibawa oleh Yayasan Nurani. Dua bayi lagi meninggalkarena kesulitan bernafas dan satu
bayi meninggal karena hydrosepalus

DAMPAK BAGI MANUSIA & EKOSISTEM LAUT

Sebanyak 80% warga menderita penyakit aneh, seperti benjolan,sakit kepala, kelumpuhan. Benjolan
yang keluar dari tubuh warga,yang telah dioperasi tetapi tetap muncul, dan penyakit lain yang
tidakdapat sembuh total, tidak dapat hilang selama 10 generasi.

Beberapa perempuan mengalami keguguran berulang, di usiakehamilan 5-6 bulan.

Kadar arsen total rata-rata pada ikan (1,37 mg/kg) sudah melampauibaku mutu kadar total arsen yang
ditetapkan oleh Dirjen POM sebesar 1mg/kg. Dari fakta-fakta yang terkumpul telah terjadi perubahan
kualitasair sumur gali, air sumur bor, sedimen bentos, plankton, phitoplankton.Kondisi ini telah
menimbulkan dampak terhadap kualitas lingkunganserta kesehatan manusia.

Telah adanya penanganan dari Pemerintah, hingga dibentuk,Tim Penanganan Kasus Pencemaran
Dan Atau Perusakan Lingkungan Hidupdi Desa Buyat Pantai Dan Desa Ratotok Kecamatan Totok
Timur KabupatenMinahasa Selatan Propinsi Sulawesi Utara, melalui Keputusan Mentri
NegaraLingkungan Hidup Nomor 97 Tahun 2004 akan kasusu pencemaran dan perusakanlingkungan
hidup. Didukung juga LBH Kesehatan Pimpinan Iskandar Sitorus,LBH Kesehatan ICEL, Wahana
Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), JaringanAdvokasi Tambang (Jatam), Lembaga Studi dan
Advokasi Masyarakat (Elsam),Tim Pembela Aktivis Lingkungan (Tapal), FMIPA UI jugaIPCS
(International Programme oc Chemical Safety)

PELANGGARAN IZIN

PT. NMR melanggar standar baku mutu lingkungan dan limbah berdasarkan laporanRencana Kelola
Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).Khususnya pada parameter arsenic,
mercury dan sianida. Yang dilakukan PT. NMRadalah memberikan informasi tidak benar mengenai
Thermocline tidak sesuai dengandokumen AMDAL . Sehingga mengakibatkan
pencemaran/pengrusakan lingkunganhidup yang dikategorikan sebagai tindak pidana, sebagaimana
diatur dan diancamdalam pasal 42 (1) dan ayat (2) UU No 23 tahun 1997. Pemberian informasi
jugatersandung pasal 43 ayat (2) dan ayat (3) UU no.23 tahun 1997.

PT. NMR tidak melakukan pengelolaan B3 dan Pembuangan/Dumpling Tailing ke lautsejak tahun
1996-2004 tidak memiliki izin. Melanggar pasal 20 ayat (1) UU no 23tahun 1997, pasal 9 ayat (1) PP
No.19 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemarandan Perusakan Laut. Terkena pasal 40 ayat (1)
huruf (a) PP No.18 tahun 1999Jo.PP No.85 tahun 1999.

Kasus lain di luar pencemaran lingkungan, PT. NMR menurut LSM Manado, terkenakasus
penggelapan pajak. Gugatan perdata ini dilakukkan oleh Bupati Minahasa,bahwa pajak yang
dihasilkan PTNMR tidak sesuai dnegan yang dilaporkan ke negara.

Meneg Lingkungan Hidup Nabil Lakarim (31-07-2004), mengatakan kepada publik,Teluk Buyat
tercemar limbah logam berat berbahaya (B3).

Banyak penduduk menderita gatal-gatal, akibat konsumsi ikan laut. Tercemarnya air sungai akibat
bahan-bahan kimia dan keluar dari cerobong pabrik, dipakai mengairi sawah.Sekitar 3000 lebih warga
Buyat Kampung yang tinggal 1 km ke darat dari Buyat Pante,diduga menderita penyakit yang sama.
Sampai saat ini lebih dari 100 orang telah terdeteksi.

Empat orang dewasa meninggal dengan ciri-ciri sekarat yang sama, yaitu dada kepanasandan sulit
bernafas.

Empat bayi meninggal (4-5 April 2005, meninggal dengan sekujurnya mengelupas.Kasus ini dibawa
oleh Yayasan Nurani. Dua bayi lagi meninggal karena kesulitanbernafas dan satu bayi meninggal
karena hydrosepalus

1. Tahap Prodromal
2. Tahap Akut
3. Tahap Kronik
4. Tahap Resolusi (penyembuhan)
1. Periode Krisis Akut
(Acute Crisis)
Tahap ini sering disebut
the point of no return
. Artinya,ika sinyal-sinyal yang muncul pada tahap prodromal tidak digubris,maka ia akan
masuk ke tahap akut dan tidak bisa kembali lagi.Kerusakan sudah mulai bermunculan, reaksi
mulai berdatangan,issue menyebar luas.Tahap akut adalah tahap antara yang paling pendek
waktunyadibanding dengan tahap-tahap lainnya, tetapi merupakan masa yangcukup
menegangkan dan paling melelahkan bagi tim yang menanganimasalah krisis tersebut. Bila ia
lewat, maka umumnya akan segeramemasuki tahap kronis
PT. Newmont Minahasa Raya (NMR).
Hal ini terjadi pada PT. Newmont Minahasa Raya (NMR).Periode Krisis Akut benar-benar
sudah terjadi, Komunikasi adanyakrisis yang ditempuh PT Newmont Minahasa Raya dalam
menanganikasus pencemaran di Teluk Buyat tidak mengindahkan konsep-konsepkomunikasi
yang baik sehingga dapat dikatakan komunikasikorporat perusahaan pertambangan emas ini
tidak berhasil.Adanya keterlambatan dalam mengambil keputusan yang dilakukanPT. NMR
dalam menerapkan komunikasi sejak awal, yaitu ketika mediamemberitakan masalah dugaan
pencemaran Teluk Buyat oleh PT. NMRpada Juli 2004. Komunikasi tentang krisis yang
semestinya ditempuhharus bersifat proaktif dan tidak defensif.

Cara penyelesaian yang ditempuh PT. NMR pun tidak ditemukan dalamteori komunikasi
krisis, yang semestinya ditempuh adalahpendekatan komunikasi organisasi.Selanjutnya,
petugas
public relation
juga harus digunakan dalammencapai solusi dan juga harus melakukan pendekatan
community relation.
Selain itu penyelesaian krisis PT. NMR tidak melewati tahappengumpulan pendapat dan
keterlibatan masyarakat juga melihatbelum adanya teori-teori manajemen komunikasi krisis
dalampenyelesaian kasus pencemaran Teluk Buyat
a. Tahap Prodomal
Tahap prodomal sering disebut pula
warning stage karena ia memberi
sirine tanda bahaya mengenai sintomsintom
yang harus segera diatasi.
Mengacu pada definisi krisis, tahap ini juga merupakan bagian dari turning point bila
manajemen gagal
mengartikan atau menangkap signal
ini, krisis akan bergeser ke tahap yang
lebih serius: tahap akut. Sering pula
tahap prodomal sebagai tahap sebelum
krisis atau precrisis. Tetapi sebutan ini
hanya dapat dipakai untuk melihat
krisis secara keseluruhan dan disebut
demikian setelah krisis memasuki
tahap akut sebagai retrospeksi.

b. Tahap Akut
Inilah tahap ketika orang mengatakan
: telah terjadi krisis. Meski bukan
disini awal mulanya krisis, orang
menganggap suatu krisis dimulai dari
sini karena gejala yang samar-samar
atau sama sekali tidak jelas itu mulai
kelihatan jelas. Dalam banyak hal,
krisis yang akut sering disebut sebagai
the point of no return. Artinya, sekali
signal-signal yang muncul pada tahap
peringatan atau prodomal stage tidak
digubris, ia akan masuk ke tahap akut
dan tidak bisa kembali lagi. Kerusakan
sudah mulai bermunculan, reaksi
mulai berdatangan, dan isu menyebar
luas.
Namun, beberapa kerugian lain yang
akan muncul amat bergantung dari
aktor yang mengendalikan krisis.
Salah satu kesulitan besar dalam
menghadapi krisis pada tahap akut
sekalipun sangat siap adalah intensitas
dan kecepatan serangan yang datang
dari berbagai pihak yang menyertai
tahap ini. Kecepatan ditentukan oleh
jenis krisis yang menimpa perusahaan,
sedangkan intensitas ditentukan oleh
kompleksnya permasalahan. Tahap
akut adalah tahap antara, yang paling
pendek waktunya bila dibandingkan
dengan tahap lainnya. Bila ia
lewat, maka umumnya akan segera
memasuki tahap kronis.

c. Tahap Kronik
Strategi Penanganan krisis NMR,
diantaranya;
Strategi terkait dengan Kebijakan
Pemerintah
PT. NMR, Berusaha untuk meminta pemerintah agar menata kesesuaian kebijakan antara
pusat dengan daerah.
Bersama-sama membantu pemerintah untuk proses pendanaan dalam melaksanakan
pengawasan dan pembinaan Teluk Buyat.
Bersama-sama pemerintah, membuat sebuah peraturan yang jelas, untuk pemantauan
lingkungan dan pengkajian ulang mekanisme izin pembuangan tailing ke laut, serta
mekanisme pemberian rekomendasi
d. Tahap Resolusi atau (Penyembuhan) Pelajaran yang dapat dipetik dari krisis teluk Buyat
ini untuk kedepannya, supaya NMR dapat mendeteksi tandatanda akan adanya isu-isu
ditahap awal, dan untuk tidak membiarkan isuisu berkembang menjadi krisis. Untuk NMR
supaya lebih paham bahwa masyarakatpun mengalami perubahanperubahan, dimana
secara demokratis mereka dapat menyuarakan serta mengekspresikan isi suara hati
mereka, terutama jika menyangkut kesejahteraan rnasyarakat. Untuk supaya NMR lebih
mengerti bahwa setiap stakeholder mempunyai agenda masing-masing. Oleh karena itu
selain re-active, NMR dituntut untuk lebih pro-active, selalu dalam keadaan siap. Untuk
menghadapi krisis, diperlu perencanaan yang matang, oleh karena hal itu expect the
unexpected.