Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG.


Cacing merupakan organisme parasit yang hidup pada organisme yang lain. Cacing
merupakan binatang kecil, melata, tidak berkaki, tubuhnya bulat atau pipih panjang dan
tidak beranggota (ada yg hidup dalam air, tanah, perut manusia, atau perut binatang),
namun ketika cacing sudah berkembang biak maka bentuk tubuh cacing dapat menjadi
besar.
Organisme cacing ini kadang banyak di anggap sepele oleh masyarakat, mereka
menganggap cacing hanya hewan kecil yang tidak memiliki resiko timggi bagi manusia.
Namun pada kenyataannya cacing merupakan organisme yang berbahaya yang dapat
menyebabkan sistem organ kita terganggu di karenakan keparasitan cacing tersebut yang
dengan senang hati hidup di dalam tubuh manusia. Cacing dapat masuk ke dalam tubuh
melalui berbagai hal diantaranya, cacing dapat masuk melalui luka yang terdapat pada
bagian tubuh, cacing dapat masuk melalui makanan yang kita makan, cacing dapat masuk
ketika kita jarang mencuci tangan dan ketika kita terlalu sering memegang tanah atau
bermain-main dengan tanah.
Cacing terbagi menjadi beberapa kelas, yaitu Nematoda, Cestoda, dan Trematoda,
kemudian dari ketiga kelas tersebut terbagi lagi menjadi beberapa jenis cacing.
1.2 Tujuan
1. Dapat mengetahui dan mengenali cacing
2. Dapat mengetahui ciri-ciri cacing berdasarkan kelasnya
3. Dapat mengetahui morfologi cacing
4. Dapat mengetahui siklus hidup cacing
5. Dapat mengetahui Hospes dari cacing.
6. Dapat mengetahui patologi dari cacing

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN CACING( HELMINTHES ).


Cacing merupakan organisme parasit yang hidup pada organisme yang lain.
Cacing merupakan binatang kecil, melata, tidak berkaki, tubuhnya bulat atau pipih
panjang dan tidak beranggota (ada yg hidup dl air, tanah, perut manusia, atau perut
binatang), namun ketika cacing sudah berkembang biak maka bentuk tubuh cacing dapat
menjadi besar.
Cacing merupakan salah satu organisme yang menjadi parasit di dalalm tubuh
manusia. Cacing terdiri dari tiga kelas, yang dimana kelas tersebut antara lain :
Nematoda, Cestoda, dan Trematoda. Cacing merupakan organisme parasit yang hidup
pada organisme yang lain.
Helminth (cacing) termasuk dalam golongan Metazoa (binatang bersel banyak)
yang dilengkapi dengan jaringan ikat dan organ-organ yang berasal dari ektoderm,
endodermdan mesoderm.
Kulit cacing atau kutikula dapat keras atau kuat dan elastis, relatif lembut.
Kebanyakan resisten terhadap pencemaan. Dapat dilengkapai oleh spine (spina), Hooks
(kait-kait),cutting plate, stylet, untuk melekat, menembus dan merusak jaringan host
(inang). Bentukan-bentukan tersebot biasanya terdapat disekitar mulut. Beberapa spesies
dilengkapi dengan kelenjer yang sektesinya masuk kedalam mulut cacing dan berfungsi
mencema jaringan host(inang) yang digunakan sebagai makanannya atau dapatjuga
menyebabkan cacing bermigrasi dalam jaringan host (inang).
2.2 Nematoda.
2.2.1 Pengertian Nematoda.
Nematoda berasal dari bahasa yunani Nema yang artinya benang.
Nematoda adalah cacing yang bentuknya panjang, silindrik ( gilig ) tidak
bersegmen dan tubuhnya bilateral simetrik. Panjang cacing ini mulai dari 2 mm
sampai 1 meter. Nematode yang ditemukan pada manusia terdapat dalam organ
usus, jaringan, dan system peredaran darah Keberadaaan cacing ini menimbulkan

2
manifestasi klinik yang berbeda-beda bergantung pada spesisnya dan organ yang
dihinggapi.
2.2.2 Ciri Ciri Nematoda.
o Merupakan hewan multiseluler avertebrata
o Hidup parasit di dalam tubuh makhluk hidup lain, dan ada juga yang hidup
bebas
o Merupakan hewan Triploblasik Pseudoselomata
o Bentuk tubuhnya gilik panjang dengan simetri bilateral
o Tubuh dilapisi kutikula yang berfungsi untuk melindung diri
o Memiliki sistem pencernaan
o Tidak memiliki pembuluh darah dan jantung, tetapi tubuhnya mengandung
cairan semacam darah yang dapat merembes ke bagian tubh akibat
kontaksi tubuh.
o Organ reproduksi jantan dan betina terpisah dalam individu yang berbeda
o Reproduksi secara seksual
o Telurnya dapat membentuk kista.
2.2.3 Penggolongan Nematoda.
Nematoda Jaringan Atau Darah,terdiri dari :
1. Wuchereria bancrofi.
2. Brugia malayi
3. Manzonella ozzardi
4. Onchocerca volvulus
5. Loa loa
6. Dracunulus
Nematoda Interstinialis ( usus ), terdiri dari :
1. Ascaris lumbricoides

Nama Askariasis
Penyakit
Hospes Manusia
Morfologi Bentuk silindris

3
Cacing Kepala & ekor lancip
Dewasa Kutikula bergaris-garis melintang
Mulut mempunyai 3 buah bibir, 1 dorsal-2 papil peraba, 2
ventrolateral 1 papil peraba
: panjang 15-31 cm, diameter 2-4 mm,ekor melingkar, memiliki
2 spikula
: panjang 22-35cm, diameter 3-6mm,ekor lurus, pada 1/3 bagian
anterior memiliki cincin kopulasi, uterus 2/3 posterior

Telur cacing betina mengandung 27 juta telur dan mampu bertelur


200.000 butir tiap harinya.
Berdasarkan jumlah lapisannya, terdapat 2 jenis telur:
o Telur corticated : memiliki 3 lapisan, dari luar ke dalam
:albumin,hyaline, vitteline
o Telur decorticated : memiliki 2 lapisan, karena lapisan
albumin terlepas
Telur fertile : ukuran 60x45 mikron,oval,dinding tebal, corticated
atau decorticated ,berisi embrio
Telur infertile : ukuran 90x40 mikron, bentuk bulat lonjong atau
tidak teratur, corticated atau decorticated, dalamnya bergranula
Telur fertile berkembang menjadi bentuk infektif dalam waktu 3
minggu
Telur berkembang baik pada tanah liat, kelembaban tinggi, dan
suhu antara 250-300

Patologi Larva dapat menyebabkan sindrom Loeffler , bronkopneumonia


Klinis Cacing dewasa menyebabkan gangguan ringan seperti mual, nafsu
makan berkurang, diare atau konstipasi
Pada infeksi berat, terutama pada anak-anak dapat terjadi
malabsorbsi
Cacing dewasa dapat menyebabkan ileus obstruktif

4
Infeksi ektopik ( infeksi di tempat tidak biasa, seperti
apendiks,peritoneum,saluran empedu,trakea)

Diagnosis Ada telur dalam tinja


Cacing dewasa keluar dari mulut, hidung, atau tinja

Terapi Piperazin sitrat,pirantel pamoat,mebendazol, dan albendazol

2. Trichuris trichuira
Nama populer : cacing tambang, hookworm, new world hookworm
(Necator americanus), old world hookworm (Ancylostoma duodenale)

Nama Ankilostomiasis dan nekatoriasis


penyakit
Hospes Manusia
Morfologi Ancylostoma duodenale
cacing
Bentuk menyerupai huruf C
dewasa
Dimulutnya terdapat 2 pasang gigi ventral, 1 pasang gigi dorsal
semilunar
: panjang 1,0-1,3 cm, diameter 0,6 mm,memiliki bursa
kopulatriks, 2 buah spikula yang sejajar
: panjang 0,8-1,1 cm, diameter 0,45 mm,ekor runcing
Warna putih kecoklatan atau agak merah muda

Necator americanus

Bentuk menyerupai huruf S


Dimulutnya terdapat 2 pasang gigi semilunar (ventral dan dorsal)
, terdapat benda kitin
: panjang 1,0-1,3 cm, diameter 0,6 mm,memiliki bursa
kopulatriks, 2 buah spikula yang menyatu

5
: panjang 0,8-1,1 cm, diameter 0,45 mm,ekor runcing
Warna putih kecoklatan atau agak merah muda

Telur Necator amricanus bertelur 9000 butir per hari


Ancylostoma duodenale bertelur 10000 buitr per hari
Ukuran 70x 45 mikron
bulat lonjong
dinding tipis
kedua kutub mendatar
didalamnya terdapat 2-8 sel
Telur berkembang baik pada tanah gembur (pasir,humus) dengan
suhu optimum untuk N. americanus 280-320, sedangkan untuk
A.duodenale lebih rendah (230-250).
Telur menetas dalam waktu 1-1,5 hari

Larva Telur menetas menjadi larva rabditiform


Dalam waktu 3 hari larva rabditiform tumbuh menjadi larva
filariform
Larva rabditiform panjangnya 250 mikron, rongga mulut
panjang dan sempit, esophagus dengan 2 bulbus dan menempati
1/3 panjang badan bagian anterior.
Larva filariform panjangnya 500 mikron, ruang mulut tertutup,
esophagus menempati 1/ 4 panjang badan anterior.
Larva flariform merupakan bentuk yang infektif, dapat hidup 7-8
minggu di tanah, dan masuk ke tubuh manusia melalui kulit
Larva memiliki siklus paru

Patologi Stadium larva : ground itch berupa bintik merah dan gatal,
Klinis pada siklus paru dapat menyebabkan pneumonia
Stadium dewasa : anemia hipokrom mikrositer dan eosinofilia

Diagnosis Telur dan larva dan tinja

6
Terapi Mebendazol, pirantel pamoat, dan tetramisol
3. Trichuris Trichiura
Nama populer : cacing cambuk, whipworm
Nama Trikuriasis
penyakit
Hospes Manusia
Morfologi Bentuk menyerupai cambuk dan gagangnya
cacing : panjang 4cm, 3/5 bagian anterior halus sperti cambuk,2/5
dewasa bagian posterior gemuk,bagian ekor melingkar dengan sebuah
spikulum
: panjang 5cm, 3/5 bagian anterior halus seperti cambuk, 2/5
bagian posterior gemuk, ekor lurus berujung tumpul

Telur Betina bertelur 3000-10.000 buitr per hari


Ukuran 50-54x 32 mikron
Berbentuk seperti tempayan dengan kedua ujung (operculum)
menonjol
dinding tebal
kulit telur bagian luar berwarna kekuningan, dan bagian dalam
jernih
Telur berkembang baik pada tanah liat,tempat lembabdan teduh
dengan suhu optimum kira-kira 300
Telur matang dalam waktu 3-6 minggu

Larva Tidak memiliki siklus paru, langsung masuk ke daerah kolon


Patologi Infeksi ringan tidak menyebabkan gejala klinis yang khas
Klinis Infeksi berat dan menahun menyebabkan disentri, prolapsus
rekti, apendisitis, anemia berat, akit perut,mual, dan muntah

Diagnosis Telur dalam tinja


Terapi Mebendazol, oksantel pamoat

7
4. Strongyloides stercoralis
Nama populer : cacing benang, threadworm
Nama Strongiloidiasis
penyakit
Hospes Manusia
Morfologi Terdapat 2 macam bentuk :
cacing o Bentuk parasit
dewasa o Bentuk bebas (non parasit)
hanya hidup sebagai parasit : panjang 2 mm,filiform, halus,
tidak berwarna
cacing dewasa bentuk bebas : panjang 1 mm, esophagus
pendek dengan 2 bulbus, ekor melingkar dengan spikulum
cacing dewasa bentuk bebas : panjang 1 mm, esophagus
pendek dengan 2 bulbus, ekor lurus

Telur Betina bentuk parasit bertelur dengan cara parthenogenesis


Generasi rabditiform
o Telur dalam uterus 30-40 butir (70x40 mikro meter)
o Menetas menjadi larva rabditiform
Generasi filariform
o Telur dalam uterus 50x40 mikro meter
o Dibebaskan beberapa butir/hari
o Menetas menjadi larva rabditiform dalam jarinagn
mukosa
Telur berkembang baik pada tanah gembur, berpasir, dan humus

Larva Larva rabditiform


o Panjang 225 mikron
o Ruang mulut terbuka, pendek, dan lebar
o Esophagus dengan 2 bulbus

8
o Ekor runcing

Larva filariform
o Panjang 700 mikron
o langsing,tanpa sarung
o ruang mulut tertutup
o esophagus menempati panjang badan
o bagian ekor berujung tumpul berlekuk
Larva rabditiform dapat menjadi bentuk filariform jika kondisi
sekitar tidak menguntungkan. Larva ini akan menembus kulit
untuk memulai siklus paru. Siklus kehidupan ini disebut siklus
langsung
Larva rabditiform dapat menjadi bentuk dewasa bebas bila
kondisi sekitar menguntunkan. Siklus ini disebut siklus tidak
langsung

Patologi Stadium larva :


Klinis o Kulit :cutaneus larva migrans
o Paru-paru : pneumonitis,bronkopneumonia
Stadium dewasa : hiperinfeksi,autoinfeksi,hipereosinofilia,
hepatitis,ileus paralitik

Diagnosis larva dalam tinja, biakan, atau aspirasi duodenum


Terapi Tiabendazol,pirvinium pamoat

5. Enterobius vermicularis (Oxyuris vermicularis)


Nama popular :cacing kremi,cacing peniti, cacing benang, pinworm
Nama Oksiuriasis atau enterobiasis
Penyakit
Hospes Manusia
Morfologi Kutikula bergaris-garis melintang

9
Cacing Mempunyai chepalic alae
Dewasa : panjang 2-5mm,ekor melengkung, memiliki sebuah spikula
: panjang 10 mm,ekor runcing

Telur cacing betina gravid mengandung 11.000-15.000 telur dan


bermigrasi dari kolon ke daerah perianal untuk bertelur
Telur berukuran 55x25 mikron,lonjong asimetris,dinding tebal
Telur jarang dijumpai di feses
Dapat masuk ke hospes melalui tangan yang terkontaminasi,
debu, retroinfeksi

Patologi Priritus ani terutama pada malam hati, gejala intestinal biasanya ringan,
Klinis peradngan pada vagina atau tuba fallopi
Diagnosis Adanya telur dan cacing dewasa. Telur cacing dapat diambil dengan
anal swab
Terapi Piperazin sitrat,pirvinium pamoat,mebendazol, dan tiabendazol

2.3 Trematoda.
2.3.1 Pengertian Trematoda.
Trematoda berasal dari bahasa yunani Trematodaes yang berarti punya
lobang, bentuk tubuh pipih dorso ventral sperti daun.Umumnya semua organ
tubuh tak punya ronggat tubuh dan mempunyai Sucker atau kait untuk menempel
pada parasit ini di luar atau di organ dalam induk semang. Saluran pencernaaan
mempunyai mulut, pharink, usus bercabang cabang. tapi tak punya anus.
2.3.2 Jenis-jenis Trematoda
Berbagai macam hewan dapat berperan sebagai hospes definitife cacing
Trematoda, antara lain : kucing, anjing, kambing, sapi , babi, tikus, burun, luak,
harimau, dan manusia.
Menurut tempat hidup cacing dewasa dalam tubuh hospes , maka
Trematoda dapat dibagi dalam
1. Trematoda Hati ( Clonorchis sinensis )

10
Cacing ini pertama kali ditemukan oleh Mc Connell tahun 1874 di saluran
empedu pada seorang cina di Kalkuta.\
o Hospes dan Nama Penyakit
Manusia, Kucing, Anjing, Beruang Kutub , dan Babi merupakan Hospes
parasit Trematoda Hati, penyakit yang disebabkannya disebut
Klonorkiasis.
o Morfologi dan daur hidup
Cacing dewasa hidup di saluran empedu, kadang-kadang disaluran
prankeas. ukuran cacing dewasa 10-25 mm x 3-5 mm, bentuknya pipih,
lonjong, menyerupai daun. telur berukuran kira-kira 30x 16 mikron,
bentuknya seperti bola lampu pijar dan berisi mirasidium, ditemukan
dalam saluran empedu. telur dikeluarkan dengan tinja. telur menetas bila
dimakan keong air ( Bulinus, Semisulcopira) . dalam keong air ,
mirasidium berkembang menjadi sporakista, redia induk, redia anak, lalu
serkaria. serkaria keluar dari keong air dan mencari hospes perantara II,
yaitu ikan (family cyprinidae). setelah menembus masuk tubuh ikan
serkaria melepaskan ekornya dan membentuk kista didalam kulit dibawah
sisik. kista ini disebut metaserkaria.Infeksi terjadi dengan makan ikan
yang mengandung metaserkaria yang dimasak kurang matang. ekskistasi
terjadi di duodenum. kemudian larva masuk di duktus koledokus, lalu
menuju ke saluran empedu yang lebih kecil dan menjadi dewasa dalam
waktu sebulan. seluruh daur hidup berlangsung selama 3 bulan.
o Patologi dan Gejala KliniK.
Sejak larva masuk di saluran empedu sampai menjadi dewasa. parasit ini
dapat menyebabkan iritasi pada saluran empedu dan penebalan dinding
saluran. selain itu dapat terjadi perubahan jaringan hati yang berupa
radang sel hati. pada keadaaan lebih lanjut dapat timbul sirosis, hati di
sertai asites dan edema. luasnya organ yang mengalami kerusakan
bergantung pada jumlah cacing yang terdapat di saluran empedu dan
lamanya infeksi. gejala dapat dibagi menjadi 3 stadium. pada stadium
ringan tidak di temukan gejala. stadium progresif di tandai dengan

11
menurunnya nafsu makan, perut rasa penuh, diare, edema, dan
pembesaran hati. pada stadium lanjut di dapatkan sindrom hipertensi fortal
yang terdiri dari pembesaran hati, ikterus,asites,edema, sirosis hepatis.
kadang-kadang dapat menimbulkan keganasan dalam hati.
o Diagnosis
Diagnosis di tegakkkan dengan menemukan telur yang berbentuk khas
dalam tinja atau dalam cairan duodenum.
o Pengobatan
penyakit ini dapat diobati dengan prazikuantel.
o Epidemiologi
Kebiasaan makan ikan yang diolah kuarang matang merupakan faktor
penting dalam penyebaran penyakit. selain itu, cara pemeliharaan ikan dan
cara pembuangan tinja di kolam ikan penting dalam penyebaran penyakit
kegiatan pemberantasan lebih di tujukan untuk mencegah infeksi pada
manusia. misalnya penyuluhan kesehatan agar orang makan ikan yang
sudah di masak dengan baik serta pemakaian jamban yang tidak
mencemari air sungai. tetapi hal ini agak lambat diterima oleh masyarakat
desa.
2. Trematoda Paru ( paragonimus westermani )
o Hospes Dan Nama PenyakiT.
manusia dan binatang yang memakan ketam atau udang batu, seperti
kucing, luak, anjing, harimau, serigala dan lain-lain merupakan hospes
cacing ini. Pada manusia parasit ini menyebabkan paragonomiasis.
o Morfologi Dan Daur Hidup
Cacing dewasa hidup dalam kista di paru. bentuknya bundar lonjong
menyerupai biji kopi, dengan ukuran 8 12 x 4 6 mm dan berwarna
coklat tua. batil isap mulut hampir sama besar dengan batil isap perut.
testis berlobus terletak berdampingan antara batil isap perut dan ekor.
ovarium terletak di belakang batil isap perut. Telur berbentuk lonjong
berukuran 80-118 mikron x 40-60 miron dengan operculum agak tertekan
ke dalam. waktu keluar bersama tinja atau sputum, telurnya belum berisi

12
mirasidium.Telur menjadi matangdalam waktu kira-kira16 hari, lalu
menetasmirasidiummencari keong air dan dalam keong air terjadi
perkembangan
Serkaria keluar dari keong air, berenang mencari hospes perantara II ,
yaitu ketam atau udang batu, lalu membentuk metaserkaria didalam
tubuhnya. Infeksi terjadi dengan makan ketam atau udang batu yang tidak
dimasak sampai matang. Dalam Hospes definitif, meta serkaria menjadi
cacing dewasa muda di duodenum. cacing dewasa muda berimigrasi
menembus dinding usus, masuk ke rongga perut, menembus diafragma
dan menuju keparu. jaringan hospes mengadakan reaksi jaringan sehingga
cacing dewasa terbungkus dalam kista, biasanya ditemukan 2 ekor
didalamnya.
o Patologi dan Gejala Klinis
karena cacing dewasa berada dalam kista di paru, maka gejala dimulai
dengan adanya batuk kering yang lama kelamaan menjadi batuk darah.
keadaan ini disebut endemic hemoptysis. cacing dewasa dapat pula
berimigrasi kealat-alat laindan menimbulkan abses pada alat tersebut (
antara lain hati, limpa, otak, otot, dinding usus ).
o Diagnosis
Diagnosis dibuat dengan menemukan telur dalam sputum atau cairan
pleura. kadang-kadang telur juga ditemukan dalam tinja. reaksi serologi
sangat mmbantu untuk menegakan diagnosis.
o Pengobatan
Prazikuantel dan bitionel merupakan obat pilhan.
o Epidemiologi
Penyakit ini berhubungan erat dengan kebiasaan makan ketam dan
pemakain jamban yang tidak mencemari air sungai dan sawah dapat
mengurangi transmisi paragonimiasis.
3. Trematoda Usus
o Hospes dan Nama Penyakit

13
Hospes cacing keluarga Echinostomatidae sangat beraneka ragam. yaitu
manusia, tikus, anjing, burung, ikan dan lain-lain (poliksen). Nama
o Morfologi dan Daur Hidup
Cacing trematoda dari keluarga Echinostomatidae, dapat dibedakan dari
cacing trematoda lain, dengan adanya cirri-ciri khas berupa duri-duri leher
dengan jumlah antara 37 buah sampai kira-kira 51 buah, letaknya dalam
dua baris berupa tapal kuda, melingkari bagian belakang serta samping
batil isap kepala. cacing tersebut berbentuk lonjong, berukuran panjang
dari 2,5 mm hingga 13-15 mm dan lebar 0,4 0,7 mm hingga 2,5 3,5
mm.
Testis berbentuk agak bulat, berlekuk-lekuk, letaknya bersusun tandem
pada bagian posterior cacing. Vitelaria letaknya sebelah lateral, meliputi
2/3 badan cacing dan melanjut hingga bagian posterior. cacing dewasa
hidup diusus halus, mempunyai warna agak merah ke abu-abuan. telur
mempunyai operculum, besarnya berkisar antara 103-137 x 59 75
mikron. telur setelah 3 minggu dalam air, berisi tempayak yang disebut
mirasidium. bila telur menetas, mirasidium keluar dan berenang bebas
untuk hinggap pada hospes perantara I yang berupa keong jenis kecil
seperti genus anisus, gyraulus, lymnae, dan sebagainya.
Dalam hospes perantara I, mirasidium tumbuh menjadi sporokista,
kemudian melanjut menjadi redia induk, redia anak yang kemudian
membentuk serkaria yang pada suatu saat berjumlah banyak. dilepaskan
kedalam air oleh redia yang berada dalam keong . serkaria ini kemudian
hinggap pada hospes perantara II untuk menjadi metaserkaria yang efektif
. hospes perantara II adalah jenis keong yang besar, seperti genus
vivivar/bellamya, pila atau corbicula.
Ukuran Besar cacing , jumlah duri-duri sirkumoral, bentuk testis, ukuran
telur, dan jenis hospes perantara, digunakan untuk mengidentifikasi
spesies cacing.
o Patologi dan Gejala Klinis

14
Biasanya cacing Echinostema menyebabkan kerusakan ringan pada
mukosa usus dan tidak menimbulakan timbulnya radang kataral pada
dinding usus, atau ulserari. pada anak dapat menimbulkan gejala diare ,
sakit perut, anemia, dan sembab (edema).
o Diagnosis
Diagnosis ditegakkandengan menemukan telur dalam tinja.
o Pengobatan
Tetraklorotilenn adalah obat yang dianjurkan akan tetapi penggunaan
obat-obat baru yang lebih aman, seperti prazikuantel dapat
dipertimbangkan.
o Prognosis
Penderita biasanya tidak menunjukkan gejala yang berat, dapat sembuh
setelah pengobatan.
o Epidemiologi
o Keong sawah yang digunakan untuk konsumsi sebaiknya dimasaki sampai
matang, sebab bila tidak, meta serkaria dapat hidup dan tumbuh menjadi
cacing dewasa.
4. Trematoda Darah ( Schistosoma japonicum)
o Hospes dan Nama Penyakit
Hospes definitive adalah manusia. berbagai macam binatang dapat
berperan sebagai hospes reservoar. Pada manusia, cacing ini menyebabkan
penyakit skistomiasis atau bilharziasis.
o Morfologi dan Daur Hidup
Cacing darah ini parasit pada manusia, babi, biri-biri, kucing dan binatang
pengerat lainnya. Cacing dewasa dapat hidup dalam pembuluh balik
(vena) perut.Tubuh cacing jantan lebih lebar dan dapat menggulung
sehingga menutupi tubuh betina yang lebih ramping, Cacing jantan
panjangnya 9 22 mm, sedangkan panjang cacing betina adalah 14 26
cm.Cacing darah ini bertelur pada pembuluh balik (vena) manusia
kemudian menuju keporos usus (rectum) dan kantong air seni (vesica
urinaria), lalu telur keluar bersama tinja dan urine.

15
Telur akan berkembang menjadi mirasidium dan masuk kedaalam tubuh
siput. kemudian dalam tubuh siput akan berkembang menjadi serkaria
yang berekor bercabang. serkaria dapat masuk kedalam tubuh manusia
melalui makanan dan minuman atau menembus kulit dan dapat
menimbulkan penyakit schistomiasis ( banyak terdapat di afrika dan Asia).
penyakit ini menyebabkan kerusakan dan kelainan fungsi pada hati,
jantung limpa , kantong urine dan ginjal.
o Gejala Klinis
Terasa gatal-gatal yang nyata, terjadi pembengkakan, serangan ashma dan
hati terasa sakit bila disentuh (bila terjadi peradangan), demam berkeringat
dan disentry, dan berat badan bekurang dan hilang nafsu makan.
o Diagnosis
Minum air yang sudah terdapat parasit cacing, mandi atau berenang pada
air yang kotor.
o Epidemiologi
Penampungan tinja jangan sembarangan tempat dan sediakanlah tempat
tertentu yang sesuai dengan kesehatan.
2.4 Cestoda.
2.4.1 Pengertian Cestoda.
Isitlah Cestoda berasal dari bahasa yunani, yaitu kestos, artinya ikat pinggang.
Golongan cacing ini lazim disebut cacing pita. Cacing dewasa hidup di saluran
pencernaan manusia dan hewan-hewan vetebrata, sedangkan larvanya ditemukan
pada vetrebarata dan invetrebatra. Tubuh cacing : panjang seperti pita , pipih
dorso ventral, tidak mempunyai saluran percernaan dan saluran pembulluh darah,
tubuhnya beruas-ruas terdiri dari skoleks, leher dan strobila. Strobila terdiri dari
ruas-ruas ( segmen ) yang disebut proglotid yang terdapat alat kelamin betina dan
jantan sehingga bersifat hermafrodit ( biseksual ). Proglotid terdiri dari tiga
macam :
a. Proglotid muda ( immature )
b. Proglotid dewasa ( mature )
c. Proglotid matang ( gravid )

16
2.4.2 Ciri-Ciri Cestoda.
Cacing pita (Cestoda) memiliki tubuh bentuk pipih, panjang antara 2 - 3m
dan terdiri dari bagian kepala (skoleks) dan tubuh (strobila). Kepala (skoleks)
dilengkapi dengan lebih dari dua alat pengisap. Sedangkan setiap segmen yang
menyusun strobila mengandung alat perkembangbiakan. Makin ke posterior
segmen makin melebar dan setiap segmen (proglotid) merupakan satu individu
dan bersifat hermafrodit.
Cacing ini biasanya hidup sebagai parasit dalam usus vertebrata dan tanpa
alat pencernaan. Sistem eksresi terdiri dari saluran pengeluaran yang berakhir
dengan sel api. Sistem saraf sama seperti Planaria dan cacing hati, tetapi kurang
berkembang.
2.4.3 Penggolongan Nematoda.
1. Cestoda Intestinal bentuk Dewasa.
Cestoda tipe ini hidup di dalam rongga usus dengan melekatkan diri pada
mukosa. Spesies-spesies yang penting dalam bidang kesehatan manusia
adalah :Diphyllobothrium latum, Taenia solium, Hymenolepis nana,
Hymeolepis diminuta, Dipylidium canium.
Taenia saginata Taenia solium
Penyakit : taeniasis saginata Penyakit : taeniasis solium (karena cacing
Hospes : manusia dewasa) sistiserkosis (karena larvanya)
Hospes perantara : sapi, kerbau dll Hospes : manusia
Distribusi geografik: kosmopolit Hospes perantara : babi & manusia
Habitat : usus halus Distribusi geografik: kosmopolit
Morfologi : Habitat : usus halus
cacing dewasa : ukuran 4-8 m, skoleks 1-2 Morfologi :
mm dgn batil isap tanpa kait2, proglotid cacing dewasa : ukuran 2-7 m, skoleks 1
gravid ukuran 7 x 20 mm dengan uterus 15 mm dgn batil isap dan kait2, proglotid gravid
30 pasang, produksi telur 100.000 ukuran 11 x 15 mm dengan uterus 7-12 pasang,
telur : bentuk bulat dengan dinding produksi telur 30.000 50.000
membentuk gambaran radier, ukuran 30 x telur : bentuk bulat dengan dinding
40, isi : onkosfer (embrio heksakan) membentuk gambaran radier, ukuran 30 x 40,

17
larva : bentuk oval, terbentuk dalam jaringan isi : onkosfer (embrio heksakan)
HP disebut sistiserkus bovis larva : bentuk oval, terbentuk dalam jaringan
Siklus hidup : HP disebut sistiserkus selulose
proglotid gravid (100.000 telur) aktif Siklus hidup : proglotid gravid (100.000
keluar telur (embrio heksakan) tertelan HP telur) keluar bersama tinja
(sapi) larva (sistiserkus bovis) termakan telur tertelan manusia sistiserkosis di
manusia skoleks keluar melekat pada mukosa otot,mata, otak, kulit dll
usus halus dewasa (8-10 minggu) telur tertelan HP (babi) , larva
Gejala klinis : (sistiserkus selulose) , termakan manusia ,
disebabkan cacing dewasa : bersifat ringan skoleks keluar , melekat pada mukosa usus
(ulu hati sakit, perut tidak enak,mual & halus , dewasa (8-10 minggu)
muntah, pusing) bersifat berat (apendisitis Gejala klinis :
karena proglotid masuk apendiks, obstruksi Disebabkan cacing dewasa : = T. saginata
usus ileus) disebabkan larva : gejala berat, kelainan pada
Diagnosis : otak (epilepsi, meningoensefalitis, kelainan
telur / proglotid dalam tinja jiwa, kematian), kelainan subkutis, jaringan
proglotid keluar spontan hati, rongga perut
telur dalam usap anus Diagnosis :
Epidemiologi : Taeniasis solium : menemukan telur /proglotid
kasusnya banyak pada penduduk pemakan dalam tinja
daging sapi/kerbau Sistiserkosis : CT scan, MRI, ELISA,Western
cara makan daging berperan dalam penularan Blot, PCR. coproantigen
penyakit Epidemiologi :
banyak ditemukan pada penduduk pemakan
babi
cara makan daging berperan
cara beternak babi penting

2. Cestoda Jaringan Bentuk Larva.

18
Kelompok cacing ini larvanya terdapat di dalam jaringan hospes. Umummnya
cacing dewasa berukuran sangat kecil yaitu 3-6 mm. spesies-spesies yang
penting dalam bidang kesehatan manusia :
a. Echinococcus granulosu
o Hospes dan Nama Penyakit
Hospes definitif cacing ini adalah anjing, anjing hutan, srigala dan hewan
karnivora lainnya. Hospes perantaranya adalah manusia, sapi, kambing,
biri-biri dan kuda. Hospes perantara utamanya adalah biri-biri. Hospes
perantara ini hanya dihinggapi stadium larva. Penyakit yang disebabkan
oleh cacing ini adalah hidatidosis granulosus, sedangkan pada hospes
perantaranya disebut ekinokokiasis granulosus. (Onggowaluyo,2002)
o Morfologi
Ukuran 5 mm.
Cacing dewasa memiliki 4 proglotid.
Rostellum dielngkapi dengan mahkota rangkap.
Mempunyai 4 batil pengisap yang terdapat pada scolex.
Stadium larva yang menimbulkan infeksi adalah dalam bentuk
kistaHydatid
o Siklus Hidup
Telur dikeluarkan bersama tinja anjing atau carnivora lainnya. Bila telur
tertelan oleh hospes perantara yang sesuai seperti kambing, domba, babi,
onta, juga manusia, maka embrio yang dikeluarkan menembus dinding
usus, masuk ke dalam saluran limfe atau vena kecil di mesentrium, dan
dengan aliran darah di bawa ke berbagai bagian tubuh terutama hati, paru,
otak, ginjal, limpa, otot, tulang, dan lain-lain. Bila tidak dirusak oleh sel
fagosit, kait-kaitnya menghilang, embrio tersebut mengalami vesikulasi di
tengah, dan dalam waktu lima bulan menjadi kista hidatid dengan ukuran
diameter kira-kira 10mm. Bila kista hidatid ini termakan anjing, maka
kista ini akan mengeluarkan protoscolex yang berkembang di usus halus
menjadi cacing dewasa (Onggowaluyo,2002).

19
Manusia juga dapat mengandung stadium kista Echinococcus granulosus
yang sangat merugikan tetapi tidak turut serta dalam lingkaran hidupnya
yang lengkap karena organ-organ tubuh yang mengandung parasit tidak
dimakan oleh anjing sebagai hospes definitifnya. Kista hidatid pada
manusia ada tiga bentuk, yakni unilokuler, di dalam tulang (osseous) dan
alveoler pada Echinococcus multilocularis (Onggowaluyo,2002).
Kista yang unilokuler adalah bentuk yang paling banyak ditemukan pada
manusia dan binatang golongan rendah. Kista unilokuler tumbuhnya
perlahan-lahan dan memerlukan beberapa tahun untuk perkembangannya.
Pada manusia, kista yang perkembangannya sudah sempurna, bila tidak
dipengaruhi oleh tekanan, mempunyai bentuk yang kurang lebih bulat, dan
biasanya mempunyai ukuran diameter 1 sampai 7 cm tetapi dapat
mencapai 20 cm.
o Patologi
Patologi pada manusia tergantung pada letak kista. Distribusi kista pada
manusia adalah didalam hepar termasuk invasi peritoneum sekunder 66%,
paru-paru 22%, ginjal 3%, tulang 2%, otak 1%, dan jaringan lain 6% (otot,
limpa, mata, jantung, kelenjar thyroid). Kista unilokuler menimbulkan
reaksi peradangan pada jaringan sekitarnya yang membuat lapisan
jaringan ikat yang mengelilingi kista. Erosi pada pembuluh darah
menyebabkan perdarahan, dan torsi pada omentum menyebabkan kontriksi
vaskuler. Sel-sel jaringan di sekitarnya, tergantung pada kepadatan
jaringan, mengalami atrofi dan nekrosis tekanan bila kistanya bertambah
besar (Brown, H.W., 1979).
Gejalanya dapat dibandingkan dengan gejala tumor yang tumbuh
perlahan-lahan, tergantung pada letak kista hidatid. Di dalam abdomen
kista menimbulkan rasa tidak enak yang makin bertambah, tetapi tidak
tampak gejala sampai kista telah mencapai ukuran yang besar. Kista
memiliki pengaruh yang luas pada alat-alat dalam. Kista di dalam hati
pada hakekatnya adalah yang terpenting. Lebih dari tiga perempat bagian
ditemukan di lobus kanan, kebanyakan dekat permukaan bawah, sehingga

20
meluasnya ke bawah ke dalam rongga perut. Kista di lengkung hepar
tumbuh perlahan-lahan, bahkan menetap selama 30 tahun sebelum
menimbulkan gejala nyata. Tekanan pada saluran empedu dapat
menyebabkan ikterus obstruktif (Brown, H.W., 1979).
b. Echinococcus multilocularis
o Hospes dan Nama Penyakit
Hospes definitif cacing ini adalah anjing, anjing hutan, musang, kucing,
serigala, dan hewan karnivora lainnya. Hospes perantaranya adalah tikus,
tikus ladang, mencit ladang dan tupai tanah. Penyakit yang disebabkan
cacing ini adalah hidatidosis multilokularis (Onggowaluyu, 2002).
o Morfologi
Cacing dewasa sangat mirip dengan E.granulosus, tetapi
ukurannya lebih kecil, panjangnya hanya 1,2-3,7 mm.
Sedikit menghasilkan proto scolex.
Kista berupa Hydati dalveolaris dengan ciri-ciri:
Membranberlapistipis
Berlubangsepertibungakarang
Terdapatzatsepertiaga.
o Siklus Hidup
Siklus hidup Echinococcus multilocularis hampir sama dengan
Echinococcus. granulosus hanya saja hospes perantaranya yang berbeda.
Telur dikeluarkan bersama tinja anjing atau carnivora lainnya. Bila telur
tertelan oleh hospes perantara yang sesuai seperti mencit lading, tupai
tanah atau manusia maka embrio yang dikeluarkan menembus dinding
usus, masuk ke dalam saluran limfe atau vena kecil di mesentrium, dan
dengan aliran darah di bawa ke berbagai bagian tubuh terutama hati, paru,
otak, ginjal, limpa, otot, tulang, dan lain-lain. Bila tidak dirusak oleh sel
fagosit, kait-kaitnya menghilang, embrio tersebut mengalami vesikulasi di
tengah, dan dalam waktu lima bulan menjadi kista hidatid dengan ukuran
diameter kira-kira 10mm. Bila kista hidatid ini termakan anjing atau

21
kucing, maka kista ini akan mengeluarkan protoscolex yang berkembang
di usus halus menjadi cacing dewasa (Onggowaluyu, 2002).
o Patologi
Kista hidatid tumbuh seperti tumor ganas. Skoleks tersebar ke seluruh
tubuh sehingga gejalanya lebih berat daripada hidatidosis yang disebabkan
oleh Echinococcus granulosus (Onggowaluyo,2002)
c. Multiceps multiceps
o Hospes dan Nama Penyakit
Hospes definitif cacing ini adalah anjing, anjing hutan, dan hewan
karnivora lainnya. Hospes perantaranya adalah domba, kambing, dan
hewan herbivora lainnya. Penyakit yang disebabkan oleh cacing ini adalah
senurosis (Onggowaluyo, 2002).
o Morfologi
Panjang cacing dapat mencapai 9 m.
Tubuhnya panjang yang terdiri dari segmen-segmen disebut
proglotida (lebihdari4000) yang berisi testes dan folicel.
Memilikisepasangcelahpenghisap.
Daerahleherpendek.
Larvaberupaplerocercoid
o Siklus Hidup
Telur cacing ditemukan dalam tinja anjing atau carnivora lainnya. Telur
atau proglotid gravid tersebut bila termakan oleh hospes perantara yang
sesuai maka onkosfer menetas dalam usus hospes perantara dan masuk
jaringan tubuh dan berkembang terutama di otak dan sumsum tulang
belakang. Di sini larva berubah menjadi coenurus, yaitu gelembung yang
mempunyai banyak skoleks. Hospes perantara cacing ini adalah ternak
(domba, kambing, dan herbivora lainnya), kadang-kadang juga manusia.
Bila hospes perantara yang mengandung coenurus dimakan oleh hospes
definitif yaitu anjing atau karnivora lainnya maka akan berkembang
menjadi cacing dewasa di dalam usus halus (Onggowaluyo,2002).
o Patologi

22
Parasit ini dapat menyebabkan gejala otak misalnya seperti kesulitan
dalam berbicara (afasia), lumpuh anggota badan (paraplegia), hemiplegia
dan muntah-muntah. Gejala-gejala yang memerlukan beberapa tahun
untuk menjadi nyata, tergantung dari lokalisasi yang tepat dari coenurus
tersebut. Biasanya ada gejala-gejala kenaikan tekanan intracranium,
termasuk kehilangan kesadaran, kejang-kejang, anestesi sementara,
paresis, kadang-kadang diplopi, jalan terhuyung-huyung (Onggowaluyo,
2002).

23
BAB III

PENUTUP

1.1 Kesimpulan.
Cacing merupakan organisme parasit yang hidup pada organisme yang
lain. Cacing merupakan binatang kecil, melata, tidak berkaki, tubuhnya
bulat atau pipih panjang dan tidak beranggota (ada yg hidup di air, tanah,
perut manusia, atau perut binatang), namun ketika cacing sudah
berkembang biak maka bentuk tubuh cacing dapat menjadi besar.
Cacing merupakan salah satu organisme yang menjadi parasit di
dalalm tubuh manusia. Cacing terdiri dari tiga kelas, yang dimana kelas
tersebut antara lain: Nematoda, Cestoda, dan Trematoda. Cacing
merupakan organisme parasit yang hidup pada organisme yang lain.
Pemabagian Cacing ada 3 yaitu Nematoda, Trematoda, dan Cestoda.
Diman ketiga cacing ini merupakan tipe cacing parasit yang dapat
merugikan manusia salah satunya dari segi kesehatan manusia.

24
DAFTAR PUSTAKA

Onggowaluyo, Jangkung Samidjo. 2002. Parasitologi Medik 1 Helmintologi. Jakarta. EGC

Gandahusada, Prof.dr. Srisasi, Illahude, Drs.H. Herry, & dll. Parasitologi Kedokteran.
Jakarta.EGC

MPH, dr. Widoyono. 2001. Penyakit Tropis. Jakarta. Erlangga.

http://beequinn.wordpress.com/nursing/mikrobiologi-dan-parasitologi/cestoda-cacing-pita/

25