Anda di halaman 1dari 5

Peraih Nobel Fisika 2017

Akhirnya keluar juga nama pemenang Nobel


Fisika tahun 2017 pada hari Selasa, 3 Oktober 2017 lalu.

Kalau Anda pernah menonton film 'Interstellar' yang


super membingungkan tapi sangat seru itu, mereka
bertiga inilah bagian dari orang-orang keren yang
bertanggung jawab dibalik segala penjelasan ilmiah jalan
cerita film tersebut.

Pencapaian Nobel fisika tahun ini adalah tentang


terbuktinya gelombang gravitasi di alam semesta
yaaaannggg...kurang lebih seratus tahun lalu (tepatnya
pada tahun 1916) Albert Einstein telah
memprediksikannya secara matematis melalui teori
relativitas umumnya. Awal ceritanya sih Eintein hanya
menerka-nerka dari konsekuensi hasil hitung-hitungan
rumitnya.

Penerima Nobel Fisika 2017 itu adalah tiga peneliti


dari Laser Interferometer Gravitational-Wave
Observatory (LIGO) (sebuah tempat dengan
instrumentasi detektor supeerrrrrrr sensitif) yaitu Rainer
Weiss, Barry C Barish, dan Kip S Thorne. Ketiganya
secara serius berkomitmen selama puluhan tahun
berkutat dalam pencarian gelombang gravitasi.

Perlu dicatat, 14 September 2015, untuk pertama kalinya


keberadaan gelombang gravitasi dapat tangkap. Para
fisikawan menyebutnya sebagai "kicauan" alam semesta,
walau pun sesungguhnya gelombang gravitasi bukanlah
gelombang suara. LIGO berhasil menangkap wujud
gelombang gravitasi itu beberapa kali, kemudian
dikonfirmasi pusat riset lainnya.
Sebentar, apa sih sebenarnya gelombang gravitasi yang dimaksud ini? Kan kita taunya gravitasi selama
ini adalah bentuk gaya dari hukum Newton kan? Nah, kalau dalam teori relativitas umum, gravitasi bukan
lagi dilihat sebagai gaya melainkan manifestasi dari kelengkungan ruang dan waktu (nah loh!) ruang-
waktu melengkung?

Einstein menyatakan, alam semesta sejatinya ibarat kain empat dimensi. Gelombang gravitasi
dalam teorinya digambarkan sebagai kerutan-kerutan yang muncul karena keberadaan benda yang
melintasi kain empat dimensi itu. (bayangin aja trampolin yang dijatuhkan bola boling terus dia berputar)
andai kerutan ini dikonversi jadi bunyi, bentuk fisik yang ketangkep berupa kresek-
kresek alias noise yang biasa muncul seperti saat dahulu orang mencari gelombang radio.

Pemicu gelombang gravitasi ini sebenarnya adalah sembarang obyek di alam semesta yang
mengalami perubahan kecepatan. Besar gelombang yang dihasilkan dari perubahan itu tentu sangat
bervariasi, tergantung dari ukuran si obyek pemicunya.

Karena Bumi juga bergerak mengelilingi matahari dengan kecepatan yang bervariasi, Bumi juga
menghasilkan gelombang gravitasi ini. Keberadaan gelombang gravitasi yang terjadi ketika obyek
dengan bobot massa tertentu bergerak dengan variasi kecepatan dan arah tertentu akan membuat
"jarak" di antara obyek besar itu dan benda lain di semesta pun menjadi gak pasti atau relatif--bisa
mengerut dan melar.

Bingung kan? Gapapa. Namanya juga belajar.

Yuk kita tarik sedikit ke belakang ceritanya.

Semua bermula dari sebuah paper ilmiah yang Einstein ajukan pada tahun 1911 ke
Jurnal Annalen der Physik, dengan judul: "On the Influence of Gravity on the Propagation of
light". Sebenarnya gagasan di paper ini sudah mulai di tahun 1907, namun Einstein sempat
meninggalkannya.

Paper tersebut mengusulkan gagasannya yang masih mentah tentang pembelokan cahaya
akibat gravitasi. Apakah perambatan cahaya dipengaruhi oleh gravitasi? Gagasan ini tentu menimbulkan
pertanyaan menarik. Kita tahu selama ini dalam pengalaman sehari-hari kalau kita menembakkan lampu
senter cahayanya selalu mengarah lurus. Laser pointer untuk menandai garis lurus saat membangun
rumah/gedung, dan Anda ingat lampu 'Batman' juga kan? Semua cahaya merambat lurus. Nah, jika
berkas cahaya-cahaya itu melengkung saat memasuki wilayah medan gravitasi yang berubah,
bagaimana mungkin garis lurus ditentukan? Konsekuensinya adalah bahwa garis lurus itu selama ini
tidaklah ada! He he he.

Solusinya adalah bagaimana kita menyamakan jalur cahaya melalui medan gravitasi yang
berubah dengan garis yang di gambar di atas bola atau permukaan yang melengkung (bayangin aja trek
mobil-mobilan tamiya. Mobil akan belok kalau kita bikin trek jalurnya belok).

Dalam skala yang lebih besar, mungkin pelengkungan cahaya berarti bahan penyusun ruang
angkasa, tempat di mana cahaya melintas, dilengkungkan oleh gravitasi sehingga nampaklah lurus!
Kalau sudah begini, ilmu geometri Euclidan yang telah kita pelajari selama ini tidaklah berguna banyak.
Ada petunjuk bahwa bentuk ilmu geometri baru mungkin sangat diperlukan.

Nah loh, apa itu geometri Euclid? Sederhananya seperti ini, kita tahu total jumlah sudut segitiga
yang kita gambar di buku tulis pastilah berjumlah 180 derajat (catatan gambarnya harus bagus dan
presisi yah). Coba gambar di atas globe, hitung sudutnya? Gak akan berjumlah 180 derajat! Coba cek
kalau tidak percaya. Gambar segitiga di buku tulis datar itulah geometri Euclidan. Kalau di Globe
termasuk geometri Non-Eucildan. Perlu perhitungan baru! Nilai Pi yang kita kenal sekarang (3.14) tidak
sama nilainya pada geometri non-Euclidan.

Maka dari itu, Einstein sadar bahwa geomeri non-Euclidan diperlukan untuk menjelaskan jenis
gravitasi tersebut. Dan dia sadar kalau ilmu tersebut bukanlah kekuatannya, maka dia datangi kawan
lamanya yang lebih jago, nama orang itu adalah Marcel Grossman(1878 - 1936). (Tahu tidak, Grossman
inilah yang rajin mencacat materi kuliah matematika ketika Einstein sering bolos. Einstein dapat nilai 4.5
dari skala 6 pada dua kuliah geometri di Politeknik Zurich. Sebaliknya, Grossman mendapat nilai 6
sempurna.) Saat bertemu Grossman itulah Einsten menyadari bahwa matematika dapat menjadi alat
paling ampuh untuk menemukan, tidak hanya menjelaskan berbagai hukum alam.

Tujuan Einstein sudah jelas, ia ingin menemukan persamaan matematis yang menjelaskan dua
proses yang saling melengkapi,

Pertama, cara medan gravitasi mempengaruhi materi, memberi tahu materi caranya bergerak.

Kedua, sebaliknya, cara materi membangkitkan medan gravitasi dalam ruang-waktu, memberi
tahu gravitasi caranya melengkung.

Singkat cerita, Ia dan Grossman mengulik-nguliknya dengan menggunakan pendekatan geometri


non-Euclidan yang dikembangkan oleh Bernhard Reimann (1826 - 1866). Reimann sendiri adalah
seorang matematikawan jenius murid dari Carl Friedrich Gauss atau kita sering kenal di buku
matematika dasar sebagai teorema Gauss. Einstein dan Grossmann juga mangadopsi konsep
matematikawan Italia yaitu Gregorio Ricci-Curastro dan Tullio Levi-Civita.

Setelah beberapa tahun mengulik-ngulik dan sempat berlomba sengit dengan matematikawan
yang tak kalah hebat bernama David Hilbert(1862 - 1943), akhirnya Einstein menemukan persamaan
relativitas umumnya yang lengkap.

Teorinya tersebut menunjukkan bahwa unsur-unsur ruang-waktu tidak sekedar menjadi wadah
objek dan kejadian. Alih-alih, unsur tersebut memiliki dinamikanya sendiri, yang ditentukan dan kemudian
membantu menentukan gerakan objek di dalamnya, sekali lagi, persis seperti kain lentur trampolin yang
melengkung dan beriak (seperti bentuk gelombang dalam permukaan air ketika kita melempar batu) saat
bola boling dan beberapa bola biliar menggelinding melintasinya, kemudian dinamika lengkungan dan
riak kain lentur trampolin menentukan jalur gelindingan bola dan menyebabkan bola biliar bergerak
menuju bola boling. Bola biliar akan bergerak ke arah bola boling bukan karena bola boling
mengeluarkan gaya tarik misterius, melainkan karena bola boling tersebut melengkungkan kain trampolin
dan membentuk riak. Nah, riak-riak inilah yang kiranya kita identifikasikan sebagai gelombang gravitasi!

Sekarang coba bayangkan hal itu terjadi pada permukaan empat dimensi ruang dan waktu di
alam semesta. Memang bukan perkara mudah. Itulah sebabnya Anda dan saya bukan Einstein dan ia
yang menjadi Einstein. He he.

"Teori ini adalah keindahan tiada taranya" ujar Eintein kepada salah seorang kawannya.

Saat itu Einstein berusia 36 tahun. Einstein telah mengasilkan suatu karya revisi paling imajinatif
dan dramatis dalam sejarah atas pemahaman kita tentang alam semesta. Teorinya tersebut adalah cara
yang benar-benar baru untuk kita dalam memandang realitas alam semesta.

Newton, yang telah mewariskan kepada kita dan Einstein bahwa alam semesta yang di dalamnya
waktu memiliki eksistensi mutlak yang berjalan tanpa bergantung objek dan pengamat, dan ruang juga
memiliki eksistensi yang mutlak. Melalui hukum-hukumnya, Newton menunjukkan bahwa gravitasi adalah
gaya yang mengakibatkan massa saling tarik menarik secara agak misterius di seluruh ruang kosong dan
objek mematuhi hukum mekanika secara akurat. Ternyata itu semua adalah...

Kasus khusus dari medan gravitasi statis dan lemah teori relativitas umum Einstein!
Namun demikian, teori relativitas umum Einstein tersebut tetap perlu pembuktian secara
eksperimen yang ketat.

Satu persatu selama seratus tahun belakangan berbagai hasil eksperimen membuktikan
kebenaran teori Einstein. Dan di tahun ini, dunia modern mengakui semakin kokohnya teori relativitas
umum Einstein dengan ditemukannya secara fisis apa yang dahulu Einstein berceloteh tentang
gelombang gravitasi.

"Mimpiku yang paling berani sekarang telah menjadi kenyataan", tulis Einstein melalui surat kepada
sahabat dekat seumur hidupnya, Michele Besso(1873 - 1955) di tahun 1916.

Eintein meinggal pada tahun 1955, sebelum sempat menyaksikan teorinya yang lagi-lagi terbukti
benar.

(Oky Fajar Trimaryana)